Anda di halaman 1dari 18

[2014]

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

Disusun oleh :

[2014] SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA Disusun oleh : 1.Alfin Anugerah Zaidan (03) 2.Bayu Prabowo (06) 3.Indriani

1.Alfin Anugerah Zaidan (03)

2.Bayu Prabowo

(06)

3.Indriani Natasya

(17)

4.Rahmat Stiady

(22)

0 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

[TEORI AKUNTANSI]

Chapter 2 – Accounting Theory Construction

1 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

CHAPTER 2 ACCOUNTING THEORY CONSTRUCTION

Cara yang baik dalam mempelajari teori akuntansi ialah dengan mengklasifikasi teori- teori tersebut berdasarkan asumsi, bagaimana teori tersebut terbentuk, dan pendekatan teori- teori dalam menjelaskan dan memprediksi kejadian actual. Beberapa klasifikasi yang telah terbukti berguna ialah pendekatan pragmatic, sintatik, semantic, normative, positif dan naturalistic.

  • I. TEORI PRAGMATIK

Pendekatan pragmatik didasarkan pada pengamatan atas perilaku akuntan atau pihak- pihak yang menggunakan informasi yang dihasilkan oleh akuntan. Teori pragmatik membahas berbagai hal yang berkaitan dengan pengujian kebermanfaatan informasi baik dalam konteks pelaporan keuangan eksternal maupun manajerial.

Pendekatan Pragmatik Deskriptif

Pendekatan pragmatis deskriptif merupakan suatu pendekatan induktif. Perilaku

akuntansi diamati terus menerus dengan tujuan untuk meniru prosedur dan prinsip-prinsip akuntansi. Teori ini dapat dikembangkan dari pengamatan bagaimana akuntan bertindak dalam situasi tertentu serta diuji dengan mengamati apakah pada kenyataannya apakah akuntan melakukan yang dianjurkan oleh teori tersebut. Beberapa kritik terhadap pendekatan pragmatik deskriptif:

  • a. tidak ada dilakukan analisis penilaian terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan akuntan.

  • b. metode tersebut tidak menyediakan sarana untuk dilakukan perubahan.

  • c. Pendekatan pragmatik cenderung fokus pada perilaku-perilaku akuntan, bukan pada pengukuran atribut-atribut perusahaan seperti aktiva, hutang, pendapatan dll. Sterling menyimpulan bahwa pendekatan pragmatic tidak tepat untuk pengembangan

teori akuntansi.

Pendekatan Pragmatik Psikologis

Berbeda dengan pendekatan pragmatic deskriptif dimana pembuat teori mengamati perilaku akuntan, pendekatan pragmatik psikologis mengharuskan pembuat teori membentuk

2 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

suatu teori akuntansi yang didasarkan pada pengamatan atas reaksi para pengguna output yang dihasilkan oleh akuntan. Kelemahan pendekatan ini yaitu beberapa pengguna output akuntan mungkin bereaksi secara tidak logis, sedang yang lain mungkin memilik respon khusus yang sudah mereka lakukan sebelum laporan tersebut diterbitkan. Yang lainnya lagi mungkin tidak bereaksi walau mereka seharusnya bereaksi. Kekurangan ini dapat dicarikan solusi dengan cara berkonsentrasi pada teori keputusan dan menguji teori tersebut pada sekelompok orang daripada berkonsentrasi pada respon individual.

II.

TEORI SINTAKTIK DAN SEMANTIK

Satu intepretasi teori dari akuntansi biaya historis tradisional ialah teori sintaktik. Intepretasi tersebut ialah: input dari semantik sistem ialah transaksi dan pertukaran pencatatan bisnis dalam vouchers, jurnal, dan buku besar. Intepretasi ini kemudian dibuat (dibagi dan

dirangkum) berdasarkan premis dan asumsi atas akuntansi biaya historikal. Sebagai contoh, kita berasumsi bahwa inflasi tidak dicatat dan nilai pasar atas aset dan

utang diabaikan. Kita kemudian menggunakan akuntansi double entrydan prinsip akuntansi biaya historis untuk menghitung untung rugi (LR) dan neraca. Usulan individual diverifikasi setiap kali laporan diaudit dengan cara memeriksa perhitungan dan manipulasi. Meskipun begitu, akun akun jarang diaudit secara spesifik dalam hal apa dan bagaimana akun-akun digunakan (tes pragmatik) atau dalam hal pemaknaan (tes semantik). Dengan begitu, teori biaya historis telah ditegaskan selama beberapa tahun. Beberapa pembuat teori kritis terhadap pendekatan ini. Mereka berargumentasi bahwa teori mempunya isi semantik jika hanya pada basis dari input. Tidak ada praktik empiris independen yang memverifikasi perhitungan output seperti ‘untung’ dan ‘total aset’. Jumlah tersebut bukan hasil pengamatan, tetapi hasil penjumlahan dari saldo akun dan proses auditpun berintisarikan hanya sebagai penghitungan ulang. Proses audit memverifikasi input dengan memeriksa dokumen dan perhitungan matematika. Akan tetapi hal tersbut tidak memverfikasi output final. Ini berarti bahwa walaupun laporan keuangan disediakan menggunakan sintak secara sempurna, tetapi mungkin hanya memiliki sedikit nilai-nilai dalam praktik. Akuntansi biaya historis juga telah dikritik pada basis element sintaktiknya, sebagai

contoh:

Jumlah dari dua bobot tidak berarti apa-apa kecuali mereka dihitung dengan aturan

yang sama

...

kemudian, bagaimana dengan prosedur penambahan jumlah kas yang dilakukan

oleh perusahaan hari ini kepada jumlah uang yang telah dibayar 20 tahun lalu untuk pembayaran tanah yang sampai saat ini masih dimiliki.

Kritik :

3 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

Pengaruh pertama dari inkonsistensi internal dari banyak argumen dimana pembenaran

dari akuntansi konvensional ialah pengenangan terhadap filosofi George Orwell’s Nineteen Eighty-Four. Fitur khusus dari filosofi ini ialah doublethink yang artinya kekuatan untuk memiliki dua kepercayaan yang kontradiktif dalam satu pikiran secara simultan dan menerima keduanya.

Contohnya, penilaian adalah penggabungan saldo akun

tetapi

saldo akun bukan laporan

 

dalam

akun historis dimana

biaya perolehan tidak lagi berarti. Pertanyaan muncul terkait ketidaksamaan atas definis akuntansi. Pada pendekatan Popperian, banyak usul atas akuntansi konvensional tidak dapat dipalsukan. Contohnya, definisi yang tidak dapat diterima yang mengandung bahwa depresiasi suatu tahun ialah perhitungan – disajikan dalam satuan moneter – dari kemunduran fisik selama tahun bersangkutan, atau penurunan dalam satuan nilai moneter selama tahun berjalan, atau apapun yang terjadi selama tahun berjalan. Sterling membawa poin ini lebih jauh dengan menyatakan bahwa masalah terletak pada cara bagaimana akuntan menentukan biaya dan keuntungan sebagai pilihan diantara konfeksi yang mana menetapkan bahwa besarnya nilai kini bergantung pada besarnya nilai dimasa mendatang. Sebagai contoh, depresiasi bergantung pada alokasi, yang bergantung pada penjualan di masa mendatang dan harapan hidup aset. Begitu juga dengan keuntungan. Dengan logika ini, keuntungan sebenarnya tidak dapat ditetapkan sampai perusahaan dilikuidasi. Teori-teori berdasarkan biaya historis mengarah kepada hipotesis yang perlu kehati- hatian lebih jauh. Hipotesis ini kemudian tidak dapat diuji dan sebagai pendekatan falsufucationist, hipotesis tersebut tidak berguna untuk pengambilan keputusan keuangan kecuali untuk sekedar memverifikasi jurnal entri. Dengan begitu, hipotesis tersebut tidak informatif dan tidak memberi pengetahuan dalam proses akuntansi. Kritik atas biaya historis intinya mengkritik pengukuran nilai kini dan merupakan pelopor nilai wajar yang diusung IFRS. Sebagai bentuk pertahanan atas sistem biaya historis, akuntan berpendapat bahwa tidak ada kebutuhan akan output akuntansi harus memiliki konten semantik atau menjadi subjek peraturan falsification. Akuntan tersebut berpendapat bahwa peran akuntasi adalah untuk mengalokasikan sumber dari biaya historis untuk ditandingkan dengan pendapatan (matching concept). Dalam hal ini, aset, utang, dan ekuitas ialah residual dari proses ini dan bukan dimaksudkan untuk diukur atau dihitung nilainya untuk kepentingan keuangan. Jika pendekatan alokasi ini diadopsi, definisi depresiasi akan sesuai dengan matching concept.

TEORI SINTAKTIK

4 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

Teori sintaktik berusaha menjelaskan praktik akuntansi dan memprediksi bagaimana akuntan akan bereaksi pada situasi tertentu atau bagaimana mereka melaporkan peristiwa tertentu. Teori akuntansi sintaktik adalah teori yang berorientasi untuk membahas masalah- masalah tentang bagaimana kegiatan-kegiatan perusahaan yang telah dirumuskan secara semantik dalam elemen-elemen keuangan dapat diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan. Teori sintaktik meliputi pula hubungan antara unsur-unsur yang memebentuk struktur pelaporan keuangan atau struktur akuntansi dalam suatu negara yaitu manajemen, entitas pelapor, pemakai informasi, sistem akuntansi,dan pedoman penyusunan laporan.

TEORI SEMANTIK

Teori semantik berkaitan dengan penjelasan mengenai fenomena (obyek atau peristiwa) dan istilah atau simbol yang mewakilinya. Teori akuntansi semantik menekankan pembahasan pada masalah penyimbolan dunia nyata atau realitas (kegiatan perusahaan) ke dalam tanda- tanda bahasa akuntansi (elemen statement akuntansi) sehingga orang dapat membayangkan kegiatan fisik perusahaan tanpa harus secara langsung menyaksikan kegiatan tersebut. Teori ini berusaha untuk menemukan dan merumuskan makna-makna penting pelaporan keuangan sehingga teori ini banyak membahas pendefinisian makna elemen (objek), pengidentifikasian atribut, dan penentuan jumlah rupiah (pengukuran) elemen sebagai sebuah atribut.

Dari aspek bahasa, kerangka teori akuntansi yang lengkap seharusnya memiliki 3 komponen di atas, pragmatik, sintatik, dan semantik (Hendriksen, 1989). Kerangka teoris yang diperlukan untuk mengembangkan praktik akuntansi yang sehat harus mempertimbangkan faktor berikut ini:

pernyataan tentang sifat entitas akuntansi dan lingkungannya.

 

pernyataan tentang tujuan dasar akuntansi keuangan.

evaluasi

terhadap

kebutuhan

pemakai

dan

batasan

kemampuan

pemakai

dalam

memahami, menginterpretasikan, dan menganalisis informasi yang disajikan. pemilihan tentang apa yang seharusnya disajikan.

evaluasi terhadap proses pengukuran untuk mengkomunikasikan informasi.

evaluasi terhadap batasan yang berkaitan dengan pengukuran dan gambaran

perusahaan. pengembangan prinsip atau proposisi umum yang dapat digunakan sebagai pedoman

dalam merumuskan prosedur dan aturan. perumusan struktur dan format pencarian dan pemrosesan data, peringkasan dan

pelaporan informasi yang relevan.

5 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

TEORI NORMATIF

Tahun 1950 sampai dengan 1960-an adalah apa yang sering dideskripsikan sebagai “masa keemasan”nya riset akuntansi normatif. Selama periode ini, peneliti akuntansi menjadi lebih tertarik dengan rekomendasi kebijakan dan apa yang seharusnya dilakukan, ketimbang menganalisis dan menjelaskan praktik yang diterima saat ini. Teori normatif periode ini terkonsentrasi baik di dalam menurunkan “true income” (profit) dalam sebuah periode akuntansi atau mendiskusikan jenis informasi akuntansi yang akan berguna dalam membuat keputusan ekonomi.

True Income: Ahli teori true income berkonsentasi untuk mendapatkan pengukuran tunggal untuk asset dan sebuah angka profit yang unik (dan tepat). Namun, tidak tercapai sebuah kesepakatan tentang apayang ditetapkan sebagai pengukuran yang benar atau tepat mengenai nilai dan profit. Sebagian besar literature selama periode ini terdiri atas perdebatan akademis tentang keuntungan dan kerugian atas sistem pengukuran alternatif.

Decision-usefulness: Pendekatan decision-usefulness mengasumsikan bahwa tujuan dasar dari akuntansi adalah untuk membantu proses pengambilan keputusan dari “users” tertentu atas laporan akuntansi dengan cara menyediakan data akuntansi (sebagai contoh) yang berguna dan relevan untuk membantu investor (investor yang sudah ada dan investor potensial) dalam memutuskan apakah akan membeli, menahan, atau menjual saham. Sebuah tes kegunaan telah didiskusikan adalah reaksi pragmatis-psikologis atas data. Pihak lain tidak dapat mengidentifikasi grup tertentu tetapi berpendapat bahwa semua pengguna memiliki kebutuhan yang sama atas data akuntansi.

Dalam kebanyakan kasus, decision-usefulness theories akuntansi didasarkan pada konsep ekonomi klasik atas keuntungan dan kekayaan atau pengambilan keputusan rasional. Decision-usefulness theories ini biasanya melakukan penyesuaian pada pengukuran biaya historis terhadap penghitungan atas inflasi atau nilai pasar atas asset. Decision-usefulness theories pada dasarnya adalah teori pengukuran akuntansi. Teori ini biasanya normatif karena teori ini membuat beberapa asumsi berikut:

Akuntansi harus menjadi sebuah sistem pengukuran.

6 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

Profit dan value dapat diukur dengan tepat/andal.

Akuntansi keuangan berguna untuk membuat keputusan ekonomis.

Pasar tidak efisien atau dapat tertipu oleh “akuntan kreatif”

Akuntansi konvensional tidak efisien (dalam arti informasi)

Ada satu pengukuran profit yang unik.

Asumsi ini jarang digunakan sebagai subjek pada pengujian empiris manapun. Para pendukungnya biasanya menggambarkan informasi akuntansi mereka sebagai sesuatu yang “ideal”. Mereka merekomendasikannya untuk menggantikan biaya historis dan digunakan oleh semua orang sekaligus.

Peneliti normatif melabeli pendekatan mereka kepada teori formulasi ilmiah, dan pada umumnya, berdasarkan teori mereka tentang pernyataan dalam bentuk analitis (sintaksis) dan empiris (induktif). Secara konseptual, teori normatif tahun 1950-an dan 1960-an dimulai dengna pernyataan atas domain (ruang lingkup) dan tujuan dari akuntansi, asumsi yang mendasari sistem, dan definisi dari semua konsep kunci. Domain dari akuntansi adalah umum, mencakup relasi atas seluruh income statement dan balance sheet, tidak hanya item-item akuntansi yang spesifik seperti sebatas akuntansi atas piutang tidak tertagih saja. Juga, hal ini memiliki hubungan dengan seluruh pengguna laporan keuangan dan tidak terbatas pada pengguna atau kelompok pengguna tertentu.

Para ahli teori normatif juga membuat asumsi tentang sifat dari operasi perusahaan berdasarkan hasil observasi. Prinsip akuntansi yang detil dan andal serta aturan dan penjelasan logis atas outputs akuntansi telah diikhtisarkan. Kerangka kerja deduktif akan lebih ketat dan konsisten dalam konsep analitisnya. Laporan keuangan harus memiliki arti yang sesuai dengan apa yang seharusnya “dikatakan”, mereka harus memiliki hubungan semantik dengan dunia sebenarnya. Meskipun meskipun laporan keuangan adalah abstraksi dan pengurangan dari economic affair perusahaan, karena mereka meringkas akun saham dan pergerakan dari sumber daya ekonomi, mereka seharusnya hanya pragmatis sejauh bahwa laporan keuangan adalah pengganti dari pengalaman langsung. Pengujian pragmatis adalah bahwa, ketika mengobservasi laporan keuangan, pengguna harus bertindak seolah-olah mereka benar-benar mengobservasi kejadian atas laporan keuangan yang disajikan. Meskipun metodologi ini telah memiliki komponen baik sintaksis dan semantik , namun masih bergantung utamanya pada hubungan sintaksis dan dengan demikian diberi label “hipotesis-deduktif”.

7 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

Sebuah pertanyaan penting dalam penelitian akuntansi ini terkait kegunaan data akuntansi. Apakah data kuantitatif yang kita peroleh dari suatu kumpulan operasi yang berbasis kepada teori akuntansi secara keseluruhan berguna untuk pengguna laporan keuangan? Untuk menemukan jawabannya, apa yang biasanya dilakukan adalah mengambil data output dari sistem akuntansi spesifik dan menentukan apakah data ini membantu pengambil keputusan dalam membuat kebijakan finansial. Ini adalah pengujian teori akuntansi secara langsung.

Dalam ilmu pengetahuan, pendekatan decision-usefulness ini diartikan sebagai financial instrumentalism atau financial realism. Sugesti bahwa sistem akuntansi alternatif harus dinilai sesuai dengan kemampuan prediksinya adalah perpanjangan dari logical positivismdan disebut instrumentalism. Yaitu teori yang tidak memiliki kegunaan kecuali sebagai instrumen prediksi. Menurut Friedman, teori tidak dapat diuji oleh konsep atas asumsinya. Mereka hanya bisa dinilai hanya dengan kemampuan prediksinya. Bagaimanapun, beberapa masalah terlibat pula dalam mengaplikasikan pengujian ini. Pertama, ketika prediksi terverifikasi, hal ini memverifikasi model prediksi dari pengguna, bukan dari sistem akuntansi. Ada, tentu saja, variable lainnya selain data akuntansi yang memprediksi laporan keuangan. Kita tidak mengetahui secara tepat bagaimana data akuntansi digunakan. Kedua, jika keputusan ternyata adalah yang benar, hal ini memverifikasi model keputusan, bukan sistem akuntansi. Dengan demikian, silit untuk menafsirkan validitas dari model akuntansi yang berdasarkan pada pengambilan keputusan semata.

Di sisi lain, realism menekankan peran penjelas dari ilmu, pada dasarnya, prediksi secara terbalik. Sudut pandang metodologi ini menekankan peran umpan balik dati akuntansi. Pendekatan realisme pada akuntansi berarti bahwa untuk teori akuntansi valid itu harus lebih dari sekadar alat untuk meramalkan, akuntansi juga harus dipegang sebagai deskripsi realitas yang mendasari fenomena akuntansi. Akuntansi, di bawah pendekatan ini, mendapatkan kemampuan prediktif hanya karena memberikan umpan balik yang relevan atau penjelasan deskriptif atas apa yang telah terjadi. Kita juga dapat mempertanyakan tentang validitas logika dalam penggunaan prediksi (peramalan) sebagai suatu pengujian ilmiahuntuk sebuah teori akuntansi dalam lingkungan dinamis di mana variable lain yang terlibat tidak dapat dikontrol. Prediksi secara ilmiah lebih valid ketika kita dapat mengontrol variabel tersebut seperti tekanan udara, panas, berat dan lain sebagainya. Ketika kita tidak dapat mengontrol variabel dalam lingkungan ekonomi, seperti inflasi dan persentase bunga atau kepuasan pelanggan, kita harus

8 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

mengukur prediksi dengan statistic, sesuai dengan seberapa mungkin kejadian tersebut mempengaruhi prediksi.

TEORI POSITIF

Pada tahun 1970-an, teori akuntansi menatap kembali ke metodologi empiris, yang biasa disebut sebagai metodologi positif. Positivisme dan empirisme berarti mengetes atau menghubungkan hipotesis atau teori akuntansi kepada fakta atau pengalaman di dunia nyata. Penelitian akuntansi positif pertama kali difokuskan pada pengujian bebarapa asumsi yang dibuat oleh ahli teori normatif secara empiris. Umumnya pendekatan dilakukan dengan mengsurvey pendapat dari analisis keuangan, pegawai bank, dan akuntan tentang kegunaan dari metode inflasi akuntansi yang berbeda dalam hal pembuatan keputusan mereka (seperti memprediksi kebangkrutan atau memutuskan apakah mereka harus membeli atau menjual saham). Pendekatan lainnya adalah dengan menguji kepentingan yang diasumsukan dari output akuntansi pada pasar. Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah :

Akuntansi inflasi meningkatkan efisiensi informasi pada pasar saham

Profit adalah penentu penting dalam perhitungan saham

Biaya

untuk

mengumpulkan

data

akuntansi

yang

lebih baik lebih penting dari

keuntungannya, atau Penggunaan teknik akuntansi yang berbeda berpengaruh pada nilai

Sekarang ini, sejumlah besar teori positif umumnya mempedulikan penjelasan dari alasan pada praktik di masa kini dan memprediksi peran dari akuntansi dan informasi terkait dalam keputusan ekonomis individu, perusahaan, dan pihak lain yang berkontribusi pada operasi pasar dan ekonomi. Penelitian ini menguji teori-teori yang menganggap bahwa informasi akuntansi merupakan komoditas ekonomi dan politik, dan bahwa orang bertindak dalam kepentingan mereka sendiri.

Perbedaan utama antara teori normatif dan positif adalah bahwa teori-teori normatif

preskriptif,

sedangkan

teori

positif

deskriptif,

penjelasan

atau prediksi. Teori normatif

menjelaskan bagaimana orang seperti akuntan harus bersikap untuk mencapai suatu hasil yang

dinilai tidak benar, moral, adil, atau hasil 'baik'. Teori positif tidak mengatur bagaimana orang (misalnya akuntan) harus bersikap untuk mencapai suatu hasil yang dinilai menjadi 'baik'.

Sebaliknya,

mereka menghindari membuat penjelasan yang sarat akannilai. Mereka

9 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

menggambarkan bagaimana orang berperilaku (terlepas dari apakah itu adalah 'benar'); mereka menjelaskan mengapa orang berperilaku dengan cara tertentu, atau mereka memprediksi apa yang telah orang lakukan atau akan lakukan

Banyak peneliti teori positif yang meremehkan sudut pandang normatif. Demikian pula, banyak ahli teori normatif yang tidak menerima nilai penelitian akuntansi positif. Kenyataannya, teori teori tersebut dapat berdampingan, dan dapat saling melengkapi. Teori akuntansi positif dapat membantu memberikan pemahaman tentang peran akuntansi yang, pada gilirannya, dapat membentuk dasar untuk mengembangkan teori-teori normatif untuk meningkatkan praktek akuntansi.

PERSPEKTIF YANG BERBEDA

Sejauh ini, orang cenderung untuk berfokus pada apa yang dapat dianggap sebagai pendekatan yang sangat terstruktur untuk formulasi teori atau disebut juga pendekatan ilmiah. Dimulai dari teori yang didasarkan pada pengetahuan sebelumnya atau diterima secara 'ilmiah' atas teori Konstruksi. Ketika kita mendapati perilaku yang tidak setuju dengan teori, maka kita memperlakukan anomali itu sebagai masalah penelitian dan menyatakannya sebagai masalah penelitian yang akan dijelaskan kemudian. Pengembangkan teori untuk menjelaskan perilaku yang diamati dan menggunakan teori itu untuk menghasilkan hipotesis diuji yang akan dikuatkan hanya jika teori dapat dipertahankan. Kemudian mengikuti prosedur yang tepat dan terstruktur atau yang telah ditentukan untuk pengumpulan data, setelah memproses data (yag biasanya) dengan teknik matematika atau statistik, data tersebut divalidasi dan diuji. Jenis penelitian seperti ini dilakukan dengan hipotesis tambahan yang kemudian memberikan pemahaman yang lebih mendalam, atau prediksi yang lebih baik, dari sisi akuntansi. Teori yang baik adalah teori yang dapat diberlakukan dalam lintas perusahaan, industri, dan waktu.

Pendekatan ini pada umumnya digambarkan sebagai pendekatan 'ilmiah' dan merupakan pendekatan yang saat ini digunakan oleh sebagian besar peneliti di bidang akuntansi, dan pendekatan yang diterbitkan dalam jurnal akuntansi di bidang akademis. Hal ini didasarkan pada asumsi ontologis tertentu (cara kita melihat seuatu), yang menyiratkan epistemologi yang berbeda (cara kita mengumpulkan pengetahuan, atau pembelajaran) dan metode penelitian yang berbeda. Hal ini penting untuk mengenali asumsi yang mendasari penelitian mereka dan untuk mempertimbangkan apakah ada pendekatan penelitian alternatif yang lebih tepat.

10 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

Beberapa peneliti menyarankan agar fokus penelitian secara naturalis lebih tepat untuk memperoleh pengetahuan tentang perilaku akuntansi dalam pengaturan secara natural. Salah satu idenya adalah bahwa kita dapat melakukan penelitian sealami mungkin. Pendekatan ini memiliki dua implikasi. Pertama, kita tidak memiliki asumsi yang terbentuk sebelumnya atau teori. Kedua, kita fokus pada masalah spesifik perusahaan. Hal ini dilakukan dengan mengambil pendekatan penelitian secara fleksibel menggunakan pengamatan dan tidak terlalu menggunakan analisis matematika, pemodelan, uji statistik, survei dan pemeriksaan laboratorium. Hal yang dapat dilakukan untuk melakukan penelitian naturalistik adalah dengan menggunakan studi kasus individu dan kerja lapangan yang lebih rinci.

Pendekatan naturalistik dapat dibandingkan dengan penelitian 'ilmiah' akuntansi, yang lebih rentan terhadap penggabungan hasil dari pengujian sejumlah hipotesis untuk membentuk 'teori umum akuntansi'. Penelitian naturalistik dimulai dari situasi sebenarnya; dengan tujuan utama adalah untuk menjawab pertanyaan "Apakah yang sedang terjadi? ', dengan tidak memberikan kondisi secara umum untuk segmen masyarakat yang luas.

Pendekatan studi kasus dipandang oleh beberapa peneliti sebagai cara terbaik untuk mengexplore atau kristalisasi masalah penelitian untuk penelitian naturalistik. Sebagai contoh:

tidak layak untuk mengembangkan model teoritis sebelum melakukan pengamatan

. . . secara empiris, alternatif terbaik selanjutnya adalah dengan cara pendekatan eksplorasi yang

dapat diikuti.

Tomkins dan Groves tidak setuju dengan sudut pandang ini. Mereka melihat pendekatan penelitian naturalistik lebih tepat sebagai perbedaan asumsi ontologis. Asumsi ontologis menyiratkan bahwa gaya penelitian yang berbeda dapat mempengaruhi pertanyaan penelitian. Sebagai contoh, kita dapat melihat akuntansi sebagai konstruksi sosial. Kita mungkin ingin memahami apa yang dicitrakan dari orang lain, apa asumsi yang dapat dipertahankan.

Enam kategori asumsi dasar antologi (Tomkins and Groves)

 

K

   

ategori

Asumsi

11 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

 

Reality as a concrete structure

1

(Realitas sebagai sebuah struktur

konkret)

 

Reality as a concrete process

2

(Realitas sebagai sebuah proses

konkret)

 

Reality as a contextual field of

3

information (Realitas sebagai sebuah

bidang informasi yang kontekstual)

 

Reality as symbolic discourse

4

(Realitas sebagai wacana simbolik)

 

Reality as social construction

5

(Realitas sebagai konstruksi sosial)

 

Reality as projection of human

6

imagination (Realitas sebagai proyeksi

dari imajinasi manusia)

Dapat dijelaskan bahwa Kategori 1 adalah menurut sudut pandang objektif yang baku, di mana praktik akan selalu sesuai dengan struktur konkritnya, dan outcome berupa keputusan dan tindakan yang diambil dapat dengan cara yang mudah diprediksi. Semakin ke bawah, unsur konkrit dari objek penelitian semakin hilang. Seperti kategori 1 yang berasumsi bahwa dunia ini konkret dan stabil, sementara kategori 6 berasumsi bahwa dunia tidak stabil, tergantung pada asumsi masing-masing manusia (individualis). Oleh karena itu, untuk memahami sebuah proses pengambilan keputusan dari asumsi yang individualis ini, peneliti perlu untuk memahami persepsi dan kecenderungan dari setiap individu.

Untuk kategori 1 – 3, pendekatan ilmiah lebih cocok digunakan, sementara untuk kategori 4 – 6, Tomkins dan Grove menganjurkan dilakukannya pendekatan naturalistik. Kategori 4 – 6 (symbolic interactionist) melihat dunia sebagai hasil dari pembentukan anggapan setiap manusia melalui proses interaksi dan negosiasi.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perbedaan asumsi ontologi yang ada berimplikasi pada perbedaan pendekatan epistemologi dan metode penelitian. Hal ini kemudian mempengaruhi jenis masalah penelitian yang diajukan serta hipotesis yang diuji. Untuk

12 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

membantu pemahaman, berikut disajikan perbandingan antara penelitian ilmiah dan penelitian naturalistik.

Perbedaan antara penelitian ilmiah dan penelitian naturalistik :

 

Penelitian Ilmiah

Penelitian Naturalistik

 

Asumsi

Melihat

realita

secara

Melihat realita sebagai hasil konstruksi sosial

Ontologi

objektif

dan

konkret

dan imajinasi manusia

(berwujud)

Melihat

akuntansi

Melihat akuntansi sebagai konstruksi.

 

sebagai objek.

 

Pendekatan

Pengembangan

Holistik (realita sebagai sesuatu yang utuh,

Epistemolog

pengetahuan secara

bukan merupakan kesatuan dari bagian-bagian

i

sedikit demi sedikit

 

yang terpisah

13 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

 

Reduksionisme

(realita

Kompleksitas

dunia

tidak

bisa

dipecahkan

terdiri

dari

jumlah

melalui reduksionisme

 

minimum

dari

beberapa

 

jenis

entitas

atau

substansi)

Pengujian

hipotesis

Hukum tidak dapat direduksi

 

individu

Hukum

yang

dapat

 

tergeneralisasi

Metodologi

Terstruktur

 

Tidak terstruktur

 

Menggunakan teoritis sebelumnya

dasar

Tidak ada dasar teoritis sebelumnya

 

Validasi

empiris

atau

ekstensi

Metode

Model

formulasi

Studi kasus

sintaksis pembuatan kalimat)

(prinsip

Hipotesis

dibuat

Eksplorasi yang fleksibel

 

berdasarkan

induksi

 

empiris

Penggunaan metode statistik yang sesuai

Mengalami peristiwa

 

Tujuan Pembelajaran 6 – PENERAPAN PENDEKATAN ILMIAH PADA AKUNTANSI

Kesalahan Konsepsi Tujuan

Dalam penerapan pendekatan ilmiah pada praktek akuntansi seringkali masih ditemui adanya kesalahpahaman konsep oleh sebagian orang. Kesalahpahaman pertama terjadi pada konsep tujuan penerapan pendekatan ilmiah itu sendiri. Beberapa pihak berpikir bahwa tujuan penerapan pendekatan ilmiah ini akan menjadikan seorang akuntan serta merta juga menjadi seorang ilmuwan, padahal akuntan adalah praktisi sementara ilmuwan adalah peneliti. Analogi

untuk membedakan kedua jenis profesi di atas dapat ditemukan di bidang kedokteran, yaitu ilmuwan diwakili oleh peneliti masalah kedokteran sedangkan dokter merupakan perwujudan dari praktisi. Para dokter akan menggunakan alat-alat atau tools dalam menghadapi permasalahan medis, yang salah satu “alat” tersebut adalah hasil penelitian para peneliti di bidang kedokteran. Namun tidak semua masalah medis dapat dijawab oleh hasil penelitian yang ada, karena biasanya hasil penelitian tersebut bersifat umum, sedangkan masalah medis yang dihadapi dokter akan sangat beragam untuk masing-masing pasien. Oleh karena itu yang

14 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

terpenting adalah para praktisi harus mengambil sikap ilmiah dalam menghadapi setiap masalah yang muncul, yaitu adanya bukti yang kuat dalam mendukung diagnosis dan perawatan yang dilakukan. Begitu pula dengan akuntan, adanya bukti empiris dan penjelasan yang logis dalam mendukung praktek akuntansi harus digunakan sebagai dasar pemberian rekomendasi metode akuntansi yang akan digunakan berdasarkan situasi dan bukti yang ada. Dengan begitu orang akan lebih percaya dibandingkan rekomendasi yang hanya didasari rasionalisasi yang masih dapat diperdebatkan. Kesalahpahaman kedua adalah adanya anggapan bahwa kebenaran absolut akan didapatkan dengan penerapan pendekatan ilmiah pada praktek akuntansi. Kesalahpahaman tersebut didasari pemikiran bahwa ilmu pengetahuan dapat menunjukkan kebenaran absolut, yang argumen tersebut tidak benar adanya. Ilmu pengetahuan digunakan untuk membantu manusia dalam menentukan logis atau tidaknya suatu pernyataan. Ilmu pengetahuan tidaklah sempurna, dan tidak mungkin menemukan kebenaran absolut di dalamnya. Sejarah menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan selalu berevolusi seiring ditemukannya bukti-bukti baru yang lebih relevan.

Tujuan Pembelajaran 7 – MASALAH DALAM KONSTRUKSI TEORI AUDITING

Secara umum, konstruksi teori auditing mengikuti perkembangan teori akuntansi meskipun ada jeda di antara keduanya. Sumber-sumber awal auditing menunjukkan fokus terhadap masalah yang muncul pada pelaksanaan audit, seperti deteksi kecurangan, penemuan kesalahan penerapan prinsip dan verifikasi asal suatu akun. Pendekatan pragmatis dalam pengembangan teori auditing tampak dalam tulisan-tulisan awal mengenai proses dan prinsip auditing. Pendekatan pragmatis terhadap perkembangan teori audit dibuktikan dalam naskah awal yang menjelaskan proses dan prinsip-prinsip audit. Sebagai contoh, konsep skeptisme profesional berakar dari prinsip-prinsip yang diterapkan pada kasus hukum di abad ke-19, seperti Kingston Cotton Mill (pada 1896) dan London and General Bank (pada 1895). Pada tahun 1961, terdapat usaha untuk mengeneralisir naskah yang telah ada dan memberikan teori audit yang komprehensif yang dilakukan oleh Mautz dan Sharaf. Mereka berpendapat bahwa permasalahan praktis dapat diselesaikan hanya dengan perkembangan dan penggunaaan teori. Mereka memberikan delapan postulat sebagai dasar bagi teori audit dan mengembangkan konsep dasar dari teori tersebut yaitu bukti, kecermatan audit, presentasi wajar, independensi dan sikap etis.

15 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

Era normatif dalam teori akuntansi dan penelitian juga terjadi bersamaan dengan era pendekatan normatif pada teori audit pada permulaan 1970-an, yang pada tahun tersebut American Accounting Association mendirikan Comitee on Basic Auditing Concepts untuk menyelidiki peranan dan fungsi audit untuk memberikan rekomendasi bagi proyek penelitian, memeriksa permasalahan dari bukti dan menerbitkan position paper dalam ruang lingkup audit oleh akuntan. Pertumbuhan teori akuntansi positif di tahun 1970-an diiringi dengan perubahan arah dalam penelitian audit yang meskipun terpecah menjadi dua namun keduanya sama-sama memegang teguh data empiris dan didesain dalam kerangka positif atau ilmiah. Eksperimentalis berfokus pada pemahaman tingkat-kecil dari proses penilaian audit, yang berusaha mencari tahu bagaimana auditor membuat penilaian dan keputusan sehingga mereka dapat memperkirakan bagaimana auditor mungkin bertindak ketika ditempatkan pada situasi tertentu.Metode berikutnya yaitu riset audit empiris yang berkembang pada era ini menelaah pemilihan auditor oleh perusahaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat upah yang dibayarkan perusahaan kepada auditor. De Angelo berpendapat bahwa kualitas audit secara garis lurus berhubungan dengan ukuran perusahaan auditor karena auditor yang lebih besar memiliki resiko yang lebih besar jika gagal melaporkan pelanggaran yang ditemukan dalam laporan milik klien.

KESIMPULAN

Tinjauan terhadap pembentukan teori akuntansi mengungkapkan bahwa terdapat berbagai pendekatan dalam pengembangan suatu teori akuntansi. Bab ini mengklasifikasikan dan menjelaskan beberapa pendekatan tersebut. Jika bab sebelumnya fokus pada teori secara umum, maka bab ini mengembangkan pembahasan tersebut kepada pengembangan teori berkaitan dengan akuntansi. Berikut ini merupakan beberapa hal yang dapat ditemukan pada pembahasan bab ini antara lain (1) Bagaimana pendekatan pragmatis diterapkan pada pengembangan teori akuntansi, (2) Kritik terhadap historical cost accounting sebagai sebuah model teoritis, (3) Teori pendapatan nyata normatif dan pendekatan decision-usefulness (keguanaan dalam pengambilan keputusan) dalam teori akuntansi, (4) Bagaimana teori positif dibangun, (5) Pedekatan natural alternatif dan pentingnya ontologi, (6) Kesalahpahaman terkait dengan pendekatan ilmiah untuk penelitianakuntansi, dan penjelasan mengapa hal tersebut merupakan suatu kesalahpahaman, dan (7) Masalah dalam pembentukan teori auditing.

16 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I

DAFTAR PUSTAKA

Jayne Godfrey, et.al. 2010. Accounting Theory 7th Edition. Australia : John Wiley &Sons

17 | P a g e C H A P T E R

2

T E O R I

A K U N T A N S I