Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA

(Operational Amplifier)

Oleh :

Kelompok / Shift

: 3 /B2

Nama

: Andre Pangestu

(240110140074)

Muhamad Masud

(240110140078)

Maharani Listiafitri

(240110140084)

Lia Genesya Sinuraya

(240110140086)

Hari, Tgl Praktikum

: Rabu, 11 November 2015

Asisten

: 1. Haris Setiawan
2. Niar Suwiarti Sugana
3. Andi Abdul Halim

LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN ELEKTRONIKA


DEPARTEMEN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebuah op-amp merupakan sebuah rangkaian integrasi ( IC ) linear yang
mampu memberikan penguatan yang sangat besar dan dapat dioperasikan pada
interval tegangan yang cukup lebar.
Penguat operasional (operational amplifier) atau yang biasa disebut op-amp
merupakan suatu jenis penguat elektronika dengan hambatan (coupling) arus
searah yang memiliki bati (faktor penguatan) sangat besar dengan dua masukan
dan satu keluaran. Contoh penggunaan penguat operasional adalah untuk operasi
matematika sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan terhadap tegangan
listrik hingga dikembangkan kepada penggunaan aplikatif seperti komparator dan
osilator dengan distorsi rendah serta pengembangan alat komunikasi. Selain itu,
aplikasi pemakaian op-amp juga meliputi bidang elektronika audio, pengatur
tegangan DC, tapis aktif, penyearah presisi, pengubah analog digital dan
pengubah digital ke analog, pengolah isyarat seperti cuplik tahan, penguat
pengunci, kendali otomatik, computer analog, elektronika nuklir, dan lain-lain.
Pemakaian op-amp amatlah luas meliputi bidang elektronika audio, pengatur
tegangan dc, tapi aktif, penyerah presisi, pengubah analog ke digital dan
pengubah digital ke analog, pengolah isyarat seperti cuplik tahan, penguat
pengunci, pengi tegral, kendali otomatik, computer analog, elektronika nuklir, dan
lain- lain.
Pada praktikum kali ini, akan dilakukan beberapa penggunaan op-amp dalam
kasus sederhana yang meliputi sifat-sifat dasar op-amp, yakni sebagai penguat
membalik, penguat tidak membalik, integrator dan differensiator.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah :
1. memahami sifat-sifat dasar op-amp baik secara teori maupun secara aplikatif
2. Menggunakan op-amp sebagai buffer untuk mengatasi ketidakcocokan
impedansi
3. Menggunakan op-amp sebagai penguat membalik dan tidak membalik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penguat Operasional (Operational Amplifier)
Penguat Operasional adalah sebuah IC (Integrated Circuit) dari susunan
transistor yang disusun sebagai penguat. Op amp memiliki gain yang tinggi
(biasanya A=105). Op amp juga memiliki input impedansi yang tinggi (biasanya
R=4 M) dan output impedansi yang kecil. Op amp merupakan suatu jenis
penguat elektronika dengan coupling arus searah dengan dua masukan dan satu
keluaran. Seperti op-amp LM 741 dengan tegangan keluaran sebanding dengan
beda tegangan antara kedua isyarat masukan.
Bila isyarat masukan dihubungkan dengan masukan inverting, maka pada
daerah frekuensi tengah isyarat keluaran akan berlawanan fasa dengan isyarat
masukan. Sebaliknya bila masukan dihubungkan dengan masukan non-inverting,
maka isyarat keluaran sefasa dengan isyarat masukan.
Penguat

operasional

dalam

bentuk

rangkaian

terpadu

memiliki

karakteristik yang mendekati karakteristik penguat operasional ideal tanpa perlu


memperhatikan apa yang terdapat di dalamnya. Karakteristik ideal pada op amp
yaitu:
1. Gain tegangan tak berhingga.
2. Impedansi keluaran adalah nol dengan impedansi masukan tak terhingga.
4. Lebar pita (bandwidth) tak berhingga.
5. Common mode rejection (CMMR) tak berhingga.
6. Tegangan ofset nol (keluaran akan nol jika masukan nol) (William, 1985).
Aplikasi op-amp yang paling sering dipakai antara lain adalah rangkaian
inverter, non-inverter, integrator dan differensiator. Pada pokok bahasan kali ini
akan dipaparkan beberapa aplikasi op-amp yang paling dasar, yaitu rangkaian
penguat inverting, non-inverting differensiator dan integrator.
2.2 Op-amp Ideal
Op-amp pada dasarnya adalah sebuah differential amplifier (penguat
diferensial) yang memiliki dua masukan. Input (masukan) op-amp ada yang

dinamakan input inverting dan non-inverting. Op-amp ideal memiliki open loop
gain (penguatan loop terbuka) yang tak terhingga besarnya. Seperti misalnya opamp LM741 yang sering digunakan oleh banyak praktisi elektronika, memiliki
karakteristik tipikal open loop gain sebesar 104 ~ 105. Penguatan yang sebesar ini
membuat op-amp menjadi tidak stabil, dan penguatannya menjadi tidak terukur
(infinite). Disinilah peran rangkaian negative feedback (umpanbalik negatif)
diperlukan, sehingga op-amp dapat dirangkai menjadi aplikasi dengan nilai
penguatan yang terukur (finite).
Impedasi input op-amp ideal mestinya adalah tak terhingga, sehingga
mestinya arus input pada tiap masukannya adalah 0. Sebagai perbandingan
praktis, op-amp LM741 memiliki impedansi input Zin = 106 Ohm. Nilai
impedansi ini masih relatif sangat besar sehingga arus input op-amp LM741
mestinya sangat kecil.
Ada dua aturan penting dalam melakukan analisa rangkaian op-amp
berdasarkan karakteristik op-amp ideal. Aturan ini dalam beberapa literatur
dinamakan golden rule, yaitu :

Aturan 1: Perbedaan tegangan antara input v+ dan v- adalah nol (v+ - v- =

0 atau v+ = v- )
Aturan 2: Arus pada input Op-amp adalah nol (i+ = i- = 0)

Inilah dua aturan penting op-amp ideal yang digunakan untuk menganalisa
rangkaian op-amp.
2.3 Karakteristik Dasar Op Amp
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pada dasarnya Op-amp
adalah sebuah differential amplifier (penguat diferensial), yang mana memiliki 2
input masukan yaitu input inverting (V-) dan input non-inverting(V+), Rangkaian
dasar dari penguat diferensial dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini:

Gambar 1. Penguat Differensial


(Sumber: Okky, 2011)
Pada rangkaian diatas, dapat diketahui tegangan output (Vout) adalah Vout =
A(v1-v2) dengan A adalah penguatan dari penguat diferensial ini. Titik input v1
dikatakan sebagai input non-iverting, sebab tegangan vout satu phase dengan v1.
Sedangkan sebaliknya titik v2 dikatakan input inverting sebab berlawanan phasa
dengan tengangan vout.
Op-amp di dalamnya terdiri dari beberapa bagian, yang pertama adalah
penguat diferensial, lalu ada tahap penguatan (gain), selanjutnya ada rangkaian
penggeser level (level shifter) dan kemudian penguat akhir yang biasanya dibuat
dengan penguat push-pull kelas B. Gambar 2 berikut menunjukkan diagram dari
op-amp yang terdiri dari beberapa bagian tersebut.

Gambar 2. Diagram Blok Op-amp


(Sumber: Okky, 2011)

Gambar 3. Diagram Schematic Simbol Op-amp


(Sumber: Okky, 2011)
Simbol op-amp adalah seperti pada gambar 3 dengan 2 input, non-inverting
(+) dan input inverting (-). Umumnya op-amp bekerja dengan dual supply (+Vcc
dan Vee) namun banyak juga op-amp dibuat dengan single supply (Vcc
ground). Simbol rangkaian di dalam op-amp pada gambar 2 (b) adalah parameter
umum dari sebuah op-amp. Rin adalah resitansi input yang nilai idealnya infinit
(tak terhingga). Rout adalah resistansi output dan besar resistansi idealnya 0 (nol).
Sedangkan AOL adalah nilai penguatan open loop dan nilai idealnya tak
terhingga.
Saat ini banyak terdapat tipe-tipe op-amp dengan karakterisktik yang spesifik.
Op-amp standard type 741 dalam kemasan IC DIP 8 pin. Untuk tipe yang sama,
tiap pabrikan mengeluarkan seri IC dengan insial atau nama yang berbeda.
Misalnya dikenal MC1741 dari motorola, LM741 buatan National Semiconductor,
SN741 dari Texas Instrument dan lain sebagainya. Tergantung dari teknologi
pembuatan dan desain IC-nya, karakteristik satu op-amp dapat berbeda dengan
op-amp lain.
2.4 Fungsi Op Amp
Penguat operasional (operational amplifier) atau yang biasa disebut op-amp
merupakan suatu jenis penguat elektronika dengan hambatan arus searah yang
memiliki faktor penguatan (gain) sangat besar dengan dua masukan dan satu
keluaran.Penguat operasional pada umumnya tersedia dalam bentuk sirkuit
terpadu dan yang paling banyak digunakan adalah seri 741.
Fungsi dari Op-amp adalah sebagai pengindra dan penguat sinyal masukan
baik DC maupun AC juga sebagai penguat diferensiasi impedansi masukan tinggi,
penguat tegangan penguatan tinggi dan penguat keluaran impedansi rendah.
OpAmp banyak dimanfaatkan dalam peralatan-peralatan elektronik sebagai

penguat tinggi dc yang berbeda penguatan (berbeda maksudnya bahwa beberapa


sinyal yang tidak sama pada kedua inputannya adalah penguat yang baik).
Sebagian besar sinyal bioelectric memiliki sebuah besaran yang sangat kecil
yaitu dalam besaran milivolt bahkan dalam besaran mikrovolt dan oleh karena itu
membutuhkan

tambahan

sehingga

pengguna

dapat

melakukan

proses.

Penambahan tersebut berupa penguatan atau sering disebut Op-Amp. Penerapan


Op-Amp yang sering di jumpai adalah sebagai penguat audio, pengatur nada,
osilator atau pembangkit gelombang, sensor circuit.

2.5 Impedansi Masukan


Impedansi masukan (input resistance) RI dari opamp adalah besar hambatan
diantara kedua masukan op-amp. Secara ideal hambatan masukan op-amp adalah
tak berhingga. Tetapi dalam kondisi praktis, harga hambatan masukan op-amp
adalah antara 5kOhm hingga 20 kOhm tergantung pada tipe op-amp. Harga ini
biasanya diukur pada kondisi op-amp tanpa umpan balik. Apabila suatu umpan
balik negative (negative feedback) diterapkan pada op-amp, maka hambatan
masukan opamp akan meningkat. Dalam suatu penguat, hambatan masukan yang
besar adalah suatu hal yang diterapkan. Semakin besar hambatan masukan suatu
penguat, semakin baik penguat tersebut dalam menguatkan sinyal yang
amplitudonya sangat kecil. Dengan hambatan masukan yang besar, maka sumber
sinyal masukan tidak terbebani terlalu besar.
2.6 Impedansi Keluaran
Impedansi keluaran (output resistance) RO dari op-amp adalah besarnya
hambatan dalam yang timbul pada saat op-amp bekerja sebagai pembangkit
sinyal. Secara ideal harga hambatan keluaran RO op-amp adalah =0. Apabila hal
ini tercapai, maka seluruh tegangan keluaran op-amp akan timbul pada beban
keluaran (RL), sehingga dalam suatu penguat, hambatan keluaran yang kecil
sangat diharapkan. Dalam kondisi praktis harga hambatan keluaran op-amp adalah
antara beberapa Ohm hingga ratusan Ohm pada kondisi tanpa umpan balik.

Dengan diterapkannya umpan balik, maka harga hambatan keluaran akan


menurun hingga mendekati kondisi ideal.
Output offset voltage ( tegangan offset keluaran) adalah harga tegangan
keluaran dari op-amp terhadap tanah (ground) pada kondisi tegangan masukan
Vid=0. secara ideal, harga VOO = 0Volt. Op-amp yang dapat memenuhi harga tsb
disebut sebagai opamp dengan CMR (common mode Rejection) ideal.
Adapun jenis op-amp yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:
2.1.1 Penguat Pembalik

Gambar 4. Penguat Pembalik


(sumber: http://ahmadnahyudin.blogspot.co.id/2013/01/op-amplifier_935.html)
Sebuah penguat pembalik menggunakan umpan balik negatif untuk membalik
dan menguatkan suatu tegangan. Resistor Rf melewatkan sebagian sinyal keluaran
kembali ke masukan. Karena keluaran memiliki beda fase 180, maka nilai
keluaran tersebut secara efektif mengurangi besar masukan.
2.1.2 Penguat non-pembalik

Gambar 5. Penguat non-pembalik


(sumber: http://ahmadnahyudin.blogspot.co.id/2013/01/op-amplifier_935.html)

Sebuah penguat pembalik yang memiliki gain minimum bernilai 1. Karena


tegangan sinyal masukan terhubung langsung dengan masukan pada penguat
operasional maka impedansi masukan bernilai tak berhingga.
2.1.3 Penguat Diferensial

Gambar 6. Penguat Diferensial


(sumber: http://ahmadnahyudin.blogspot.co.id/2013/01/op-amplifier_935.html)
Penguat diferensial digunakan untuk mencari selisih dari dua tegangan yang
telah dikalikan dengan konstanta tertentu yang ditentukan oleh nilai resistansi.
2.1.4 Integrator
Penguat ini mengintegrasikan tegangan masukan terhadap waktu. Sebuah
integrator dapat juga dipandang sebagai tapis pelewat-tinggi dan dapat digunakan
untuk rangkaian tapis aktif.
2.1.5 Diferensiator
Mendiferensiasikan sinyal hasil pembalikan terhadap waktu. Pada dasarnya
diferensiator dapat juga dibangun dari integrator dengan cara mengganti kapasitor
dengan induktor, namun tidak dilakukan karena harga induktor yang mahal dan
bentuknya yang besar. Diferensiator dapat juga dilihat sebagai tapis pelewatrendah dan dapat digunakan sebagai tapis aktif.
2.1.6 Komparator
Comparator adalah penggunaan op amp sebagai pembanding antara
tegangan yang masuk pada input (+) dan input (-).

Jika input (+) lebih tinggi dari input (-) maka op amp akan mengeluarkan
tegangan positif dan jika input (-) lebih tinggi dari input (+) maka op amp akan
mengeluarkan tegangan negatif. Dengan demikian op amp dapat dipakai untuk
membandingkan dua buah tegangan yang berbeda.
2.1.7 Buffer
Buffer adalah rangkaian yang inputnya sama dengan hasil outputnya. Besar
nilainya tergantung dari indikasi dari komponennya, biasanya tidak dipasang alias
arus dimaksimalkan sesuai dengan kemampuan op-ampnya.
2.1.8 Penguat Penjumlah
Penguat

penjumlah

merupakan

rangkaian

penjumlah

yang

dasar

rangkaiannya adalah rangkaian inverting amplifier dan hasil outputnya adalah


dikalikan dengan penguatan seperti pada rangkaian inverting. Pada dasarnya nilai
outputnya adalah jumlah dari penguatan masing masing dari inverting. Penguat
penjumlah berfungsi menjumlahkan level masing masing sinyal input yang masuk
ke op amp. Penggunanan op amp sebagai penjumlah sering dijumpai pada
rangkaian mixer audio.
2.2 Multimeter
Mulitimeter atau multi tester adalah alat untuk mengukur tegangan AC/DC,
arus DC dan tahanan. Untuk mengukur tegangan, saklar pilih multimeter
dikembalikan pada posisi ACV atau DCV dan alat ukur dipasang secara parallel
dengan beban (yang akan dikur). Bila yang diukur adalah arus DC maka saklar
pemilih diatur pada posisi DC mA dan alat ukur dipasang seri dengan beban.
Sedangkan untuk mengukur tahanan, sakalar pemilih diatur pada posisi Ohm dan
alat ukur dipasang secara pararel dengan beban(perlu diingat beban dalam
keadaan tidak berarus listrik). Hasil pengukuran dapat diketahui dengan membaca
skala yang sesuai dengan penempatan posisi skala pemilih. (Ghofarudin, 2012)
Digital multimeter mempunyai switch dimana kita dapat memilih fungsi
dan

range

untuk pengukuran elektrikal. Fungsi pengetesan biasaya berupa

singkatan atau diwakili dengan suatu simbol. Simbol-simbol yang tanpak pada
layar

adalah yang

biasanya

umum

dipakai,

namun tidak

menutup

kemungkinan bahwa simbol yang ada pada alat pengukur lain. (Ghofarudin,
2012)

Gambar 7. Bagian-bagian Multimeter


Cara membaca tegangan pada multimeter. Tampilan pada layar dapat dibaca
dalam dua cara, dalam volt dibaca 0.325 volts , dan dalam millivolts dibaca
352 millivolts.

Gambar 8. membaca tegangan pada Multimeter


Multimeter digunakan untuk mengukur resistansi Untuk mengukur resistansi
suatu resistor, posisi saklar pemilih multimeter diatur pada kedudukan W dengan
batas ukur x 1. Test lead merah dan test lead hitam saling dihubungkan dengan
tangan kiri, kemudian tangan kanan mengatur tombol pengatur kedudukan jarum
pada posisi nol pada skala W. Jika jarum penunjuk meter tidak dapat diatur pada
posisi nol, berarti baterainya sudah lemah dan harus diganti dengan baterai yang
baru. Langkah selanjutnya kedua ujung test lead dihubungkan pada ujung- ujung
resistor yang akan diukur resistansinya. Cara membaca penunjukan jarum meter
sedemikian rupa sehingga mata kita tegak lurus dengan jarum meter dan tidak
terlihat garis bayangan jarum meter. Supaya ketelitian tinggi kedudukan jarum

penunjuk meter berada pada bagian tengah daerah tahanan. Jika jarum penunjuk
meter berada pada bagian kiri (mendekati maksimum), maka batas ukurnya di
ubah dengan memutar saklar pemilih pada posisi x 10. Selanjutnya dilakukan lagi
pengaturan jarum penunjuk meter pada kedudukan nol, kemudian dilakukan lagi
pengukuran terhadap resistor tersebut dan hasil pengukurannya adalah
penunjukan jarum meter dikalikan 10 W. Apabila dengan batas ukur x 10 jarum
penunjuk meter masih berada di bagian kiri daerah tahanan, maka batas ukurnya
diubah lagi menjadi K W dan dilakukan proses yang sama seperti waktu
mengganti batas ukur x 10. Pembacaan hasilnya pada skala KW, yaitu angka
penunjukan jarum meter dikalikan dengan 1 K W .
Multimeter digunakan untuk mengukur tegangan DCUntuk mengukur
tegangan DC (misal dari baterai atau power supply DC), saklar pemilih
multimeter diatur pada kedudukan DCV dengan batas ukur yang lebih besar dari
tegangan yang akan diukur. Test lead merah pada kutub (+) multimeter
dihubungkan ke kutub positip sumber tegangan DC yang akan diukur, dan test
lead hitam pada kutub (-) multimeter dihubungkan ke kutub negatip (-) dari
sumber tegangan yang akan diukur. Hubungan semacam ini disebut hubungan
paralel.

Untuk mendapatkan ketelitian yang paling tinggi, usahakan jarum

penunjuk meter berada pada kedudukan paling maksimum, caranya dengan


memperkecil batas ukurnya secara bertahap dari 1000 V ke 500 V; 250 V dan
seterusnya. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan

adalah bila jarum sudah

didapatkan kedudukan maksimal jangan sampai batas ukurnya diperkecil lagi,


karena dapat merusakkan multimeter.
Multimeter digunakan untuk mengukur tegangan AC. Untuk mengukur
tegangan AC dari suatu sumber listrik AC, saklar pemilih multimeter diputar pada
kedudukan ACV dengan batas ukur yang paling besar misal 1000 V. Kedua test
lead multimeter dihubungkan ke kedua kutub sumber listrik AC tanpa
memandang kutub positif atau negatif. Selanjutnya caranya sama dengan cara
mengukur tegangan DC di atas.
Multimeter digunakan untuk mengukur arus DC . Untuk mengukur arus DC
dari suatu sumber arus DC, saklar pemilih pada multimeter diputar ke posisi
DCmA dengan batas ukur 500 mA. Kedua test lead multimeter dihubungkan
secara seri pada rangkaian sumber DC

Gambar 9. Pengukuran arus DC


Sumber: https://ghofarudin.wordpress.com/2012/08/18/pengertian-dan-fungsimultimeter.html
2.2 Breadboard
Breadboard adalah papan yang digunakan untuk membuat rangkaian
elektronik sementara dengan tujuan uji coba atau prototipe tanpa harus menyolder.
Dengan memanfaatkan breadboard, komponen-komponen elektronik yang dipakai
tidak akan rusak dan dapat digunakan kembali untuk membuat rangkaian yang
lain. Breadboard umumnya terbuat dari plastik dengan banyak lubang-lubang
diatasnya. Lubang-lubang pada breadboard diatur sedemikian rupa membentuk
pola sesuai dengan pola jaringan koneksi di dalamnya. (Ahmad, 2011)
Breadboard yang tersedia di pasaran umumnya terbagi atas 3 ukuran: mini
breadboard, medium breadboard atau large breadboard. Mini breadboard memiliki
170 titik koneksi (bisa juga lebih). Kemudian medium breaboard memiliki 400
titik koneksi. Dan large breadboard memiliki 830 titik koneksi. (Ahmad, 2011)
Breadboard

digunakan

untuk

membuat

rangkaian

sementara

tanpa

menggunakan solder dan hanya menggunakan kabel jumper. Untuk para pemula,
disarankan untuk membuat rangkaian menggunakan breadboard karena sangat
mudah untuk mengganti komponen dan merubah sambungan antar kaki
komponen. (Ahmad, 2011)
Breadbord memiliki banyak lubang (holes) dengan diameter sekitar 0.1 cm.
Kaki komponen dapat langsung masuk kedalam lubang pada breadboard. Untuk
IC dapat dihubungkan seperti gambar dibawah. Kabel yang digunakan sebagai
jumper adalah kabel tunggal yang biasa digunakan untuk kabel telepon.

Gambar 10. Ilustrasi Breadboard


Sumber: http:// http://collegerlearn.blogspot.co.id/2013/06/perkenalanbreadboard-untuk-simulasi.html

Gambar 11. Indeks Breadboard


Sumber: http:// http://collegerlearn.blogspot.co.id/2013/06/perkenalanbreadboard-untuk-simulasi.html

Gambar 12. Mini Breadboard dan Layout koneksi (Connection Layout)


Sumber: http:// http://collegerlearn.blogspot.co.id/2013/06/perkenalanbreadboard-untuk-simulasi.html
Perhatikan gambar diatas, sebuah mini breadboard dengan 200 titik koneksi.
Pada bagian kanan dapat dilihat pola layout koneksi yang digambar dengan garis

berwarna biru. Pada breadboard tersebut dapat dilihat penulisan huruf A, B, C, D,


E, F, G, H, I dan J.
Kemudian ada angka 1, 5, 10, 15 dan 20. Huruf dan angka ini membentuk
semacam koordinat. A1, B1, C1, D1 dan E1 saling berhubungan sesuai pola
koneksinya (lihat kembali garis berwarna biru). Begitu juga A2 > E2, A3 > E3,
F1 > J1, F2 > J2 dan seterusnya. Dengan memahami pola koneksi ini kita sudah
bisa memakai breadboard untuk keperluan prototipe rangkaian sehingga dapat
menempatkan komponen elektronik secara tepat sesuai gambar rangkaian yang
dimaksud.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1
1
2
3

Alat
2 Power Supply Unir (PSU)
Breadboard
Multimeter

1
2
3

Bahan
Intergrated Circuit (IC) LM-741
Jumper
Resistor 10 k dan 100 k

3.2 Prosedur Percobaan


Prosedur yang dilakukan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
3
Rangkaian Inverting Amplifier
1 Menyiapkan alat dan bahan.
2 Memasang IC pada breadboard, memasang di bagian tengah
3 Memasang RI pada bagian inverting IC atau kaki nomer dua pada IC
searah vertikal dan pasangkan kaki RI yang satunya ke positif pada
4

breadboard. Dengan Nilai RI sesuai pada tabel.


Memasang Rf pada bagian inverting IC atau kaki nomer dua pada IC
searah vertikal sama dengan RI, lalu memasangkan kaki yang satunya ke

bagian output kaki nomer enam IC. Dengan Nilai Rf sesuai pada tabel.
Memasang jumper di bagian inverting kaki nomer tiga IC dan di bagian V

6
7
8
9

kaki nomer empat IC, lalu menghubungkan ke ground.


Memasangkan jumper diVT kaki nomer tujuh ICsebagai V input.
Memasangkan jumper di bagian output kaki nomer enam IC.
Memasangkan jumper di bagian positif dan bagian negatif breadboard.
Menghubungkan rangkaian ke PSU dengan ketentuan PSU pertama
bertegangan 13 volt dan yang kedua seusai dengan data pada tabel Vf.
Untuk nilai tegangan pada PSU kedua ukur dengan multimeter terlebih

dahulu sudah sesuai atau belum.


10 PSU pertama menghubungkan kabel positif (kabel warna merah) ke
jumper yang berada di VT kaki nomer tujuh IC dan memasangkan kabel
negatifnya (kabel warna hitam) ke input yang ada di ground

11 PSU kedua dengan nilai yang sudah ditentukan menghubungkan kabel


positif (kabel warna merah) ke jumper yang berada di bagian positif
breadboard dan memasangkan kabel negatifnya (kabel warna hitam) ke
jumper bagian negatif breadboard.
12 Ukurlah memakai multimeter berapa tegangan yang keluat Vout inverting
dan bandingkan dengan pengukuran teoritis dengan rumus:
V Out R f
=
Vf
RI
13 Buatlah grafik inverting-nya sesuai dengan data yang diperoleh.
4
1
2
3

Rangkaian Non-Inverting Amplifier


Menyiapkan alat dan bahan.
Memasang IC pada breadboard, memasang di bagian tengah
Memasang RI pada bagian inverting IC atau kaki nomer dua pada IC
searah vertikal dan pasangkan kaki RI yang satunya ke negatif pada

breadboard. Dengan Nilai RI sesuai pada tabel.


Memasang Rf pada bagian inverting IC atau kaki nomer dua pada IC
searah vertikal sama dengan RI, lalu memasangkan kaki yang satunya ke

bagian output kaki nomer enam IC. Dengan Nilai Rf sesuai pada tabel.
Memasang jumper di bagian inverting kaki nomer tiga IC, lalu

menghubungkan ke bagian positif breadboard.


Memasang jumper di bagian V kaki nomer empat IC, lalu

7
8
9
10

menghubungkan ke ground.
Memasangkan jumper diVT kaki nomer tujuh IC sebagai V input.
Memasangkan jumper di bagian output kaki nomer enam IC.
Memasangkan jumper di bagian positif breadboard.
Menghubungkan rangkaian ke PSU dengan ketentuan PSU pertama
bertegangan 13 volt dan yang kedua seusai dengan data pada tabel Vf.
Untuk nilai tegangan pada PSU kedua ukur dengan multimeter terlebih

dahulu sudah sesuai atau belum.


11 PSU pertama menghubungkan kabel positif (kabel warna merah) ke
jumper yang berada di VT kaki nomer tujuh IC dan memasangkan kabel
negatifnya (kabel warna hitam) ke bagian kaki resistor yang ada pada
bagian negative breadboard
12 PSU kedua dengan nilai yang sudah ditentukan menghubungkan kabel
positif (kabel warna merah) ke jumper yang berada di bagian positif

breadboard dan memasangkan kabel negatifnya (kabel warna hitam) ke


jumper bagian negatif breadboard.
13 Ukurlah memakai multimeter berapa tegangan yang keluat Vout inverting
dan bandingkan dengan pengukuran teoritis dengan rumus:
V Out R f
=
Vf
RI + 1
14 Buatlah grafik non-inverting-nya sesuai dengan data yang diperoleh..

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan
RF

No

R1

(Ohm)

1.
2.
3.
4.
5.
6.

10 K
10 K
10 K
10 K
10 K
10 K

(Ohm
)
10 K
100 K
10 K
100 K
100 K
10 K

VOut Inverting

VOut Non - Inverting

(Volt)

(Volt)

VS
(Volt)

Kel.

Kel.

Kel.

Kel.

Kel.

Kel.

Kel.

Kel.

1,2
1,2
1,25
1,25
1,3
1,3

1
2,48
8,33
2,49
8,18
2,46
7,66

2
-2,57
-8,65
-2,53
-8.4
-2,46
-7,69

3
3,17
12,43
2,55
8,50
2,52
7,94

4
2,48
8,33
2,49
8,18
2,46
7,66

1
3,78
12,33
3,79
12,32
3,79
12,31

2
3,78
12,33
3,79
12,32
3,79
12,31

3
3,76
12,23
3,65
12,20
3,79
13,01

4
3,74
12,2
3,8
12,31
3,79
12,31

Perhitungan
100
6. Vout = - 10

Inverting
RF
Vout = - R 1

VS

10
1. Vout = - 10

1,2

= -1,2 Volt
100
2. Vout = - 10
1,2
= -12 Volt
10
3. Vout = - 10 1,25
= -1,25 Volt
100
4. Vout = - 10
1,25
= -12,5 Volt
10
5. Vout = - 10 1,3
= -12,5 Volt

1,3

= -12,5 Volt
Non - Inverting
RF
Vout = 1 + R 1

VS

10
1. Vout = 1 + 10

1,2

= 2,2 Volt
100
2. Vout = 1 + 10

1,2

= 13 Volt
10
3. Vout = 1 + 10

1,25

= 2,25 Volt
100
4. Vout = 1 + 10
= 13,5 Volt

1,2

10
5. Vout = 1 + 10
= 2,3 Volt

1,3

100
6. Vout = 1 + 10
= 14 Volt

1,3

Andre Pangestu
240110140074
4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini, praktikan akan mengenal mengenai
integrated circuit LM741. LM741 adalah salah satu IC (Integrated
Circuit) Op-Amp (Operational Amplifier) yang memiliki 8 pin. Op-Amp
banyak digunakan dalam sistem analog komputer, penguat video/gambar,
penguat audio, osilator, detector dan lainnya. Dari ke delapan kaki IC
LM741 memiliki fungsi tersendiri, yaitu kaki pertama dan kelima sebagai
zero offset, kaki kedua sebagai input, kaki ketiga sebagai input non
inverting, kaki keempat sebagai catu daya negatif, kaki keenam sebagai
output, kaki ketujuh sebagai catu daya positif, dan kaki ke delapan tidak
memiliki koneksi.
Dalam praktikum kali ini, praktikan mencoba membuat dua rangkaian
elektronika dengan menggunakan IC LM741, yaitu Inverting Amp dan
Non Inverting Amp. Rangkaian penguat inverting merupakan rangkaiaan
elektronika yang berfungsi untuk memperkuat dan membalik polaritas
sinyal masukan. Penguat non-inverting amplier merupakan kebalikan dari
penguat inverting, dimana input dimasukkan pada input non-inverting
sehingga polaritas output akan sama dengan polaritas input tapi memiliki
penguatan yang tergantung dari besarnya hambatan feedback dan
hambatan input. Adapun yang harus dipersiapkan adalah satu unit IC
LM741, dua buah Resistor 10k, jumper secukupnya, PSU yang akan diatur
voltasenya sebagai percobaan, PSU 13VDC, breadboard, dan multimeter.
Inverting Amp diasari dengan rumus Vout/Vs= -Rf/Ri, dan Non Inverting
Amp didasari rumus Vout/Vs= 1+Rf/Ri.
Percobaan diawali dengan percobaan rangkaian inverting amp dan
non inverting amp, rangkaian disusun sedemikian rupa dan menggunakan
jumper secukupnya sehingga rangkaian berhasil dibuat. Rangkaian yang
sudah selesai dibuat akan dialiri arus dengan PSU pertama sebesar
13VDC. Untuk PSU kedua akan diatur sedemikian rupa untuk tiga
percobaan, yaitu 1,2VDC, 1,25VDC, 1,3VDC. Jumlah Vout pada
multimeter secara aktual yang tercatat adalah 2,53 V dan secara teoritis
sebesar 2,56 V. Nilai regresi pada grafik Vout terhadap Vs untuk Rf 10K
dan Ri 10K pada inverting adalah 0,9643 Nilai regresi pada grafik Vout

terhadap Vs untuk Rf 100K dan Ri 10K pada inverting adalah 0,7265.


Nilai regresi pada grafik Vout terhadap Vs untuk Rf 10K dan Ri 10K pada
kasus non-inverting adalah 0,7345. Nilai regresi pada grafik Vout terhadap
Vs untuk Rf 100K dan Ri 10K pada kasus non-inverting adalah 0,4996.
Nilai relatif inverting lebih tinggi dari pada non-inverting. Nilai regresi pada
praktikum kali ini, hampir mendekati 1 karena itu maka akurasinya bisa di
katakana tinggi. Nilai yang di peroleh praktikan banyak mengalami kesalahan,
karena kekurang telitian praktikan. Ada juga masalah pada pemasangan
komponen dan juga pengecekan komponen.

Maharani Listiafitri
240110140084
4.2 Pembahasan
Pada praktikum elektronika industri kali ini, praktikan membuat
rangkaian elektronik dengan komponen Operational Amplifier sebagai
fokus pengamatan. Komponen rangkaian tersebut antara lain breadboard,
jumper, Op-amp LM 741, resistor dengan resistansi 100 ohm dan 10 ohm,
dan PSU DC 13 V.
Operational Amplifier merupakan jenis dari transistor arus searah,
memiliki 2 input dan 1 output, serta 8 buah kaki. Dengan komponen ini,
praktikan membuat 2 jenis rangkaian, yakni rangkaian inverting dan noninverting. Rangkaian inverting dimaksudkan sebagai penguat tegangan
pembalik dengan umpan balik negatif. Keluaran yang didapat dari
rangkaian tersebut memiliki beda fase sebesar 180, sehingga pada
formulanya terdapat nilai negative. Sementara rangkaian non-inverting
merupakan penguat tegangan pembalik yang memiliki gain minimum
bernilai 1. Pada rangkaian ini, masukan akan bernilai tak terhingga karena
sinyal masukan terhubung secara langsung dengan masukan pada penguat
operasional.
Setelah rangkaian selesai dirangkai, praktikan menguji tegangan
output yang keluar baik dari rangkaian inverting maupun non inverting.
Pada pengukuran tegangan ini, jepit buaya dari power supply DC 13 V dan
Vs dihubungkan dengan kabel jumper input pada rangkaian. Sementara
kabel jumper output dihubungkan dengan multimeter. Perhitungan arus
output teoritis pun dilakukan guna membandingkan akurasi dari praktikum
tersebut. Pada uji arus rangkaian inverting terlihat bahwa tegangan output
pada rangkaian bernilai negatif. Hal ini sesuai dengan literatur dengan
pembahasan yang telah dibahas sebelumnya.
Pada tabel hasil percobaan, terlihat bahwa dengan R i, RF, dan Vs yang
berupa variabel tetap terhadap setiap percobaan kelompok menghasilkan
nilai tegangan keluaran yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh
kurangnya presisi dari pengaturan tegangan input. Kelompok 1 dan 2
menggunakan Vs berturut-turut tepat 1,2 Volt, 1,2 Volt, 1,25 Volt, 1,25
Volt, 1,3 Volt, dan 1,3 Volt. Berbeda dengan kelompok 1 yang
menggunakan Vs sebesar 1,22 Volt, 1,22 Volt, 1,24 Volt, 1,24 Volt, 1,30

Volt, dan 1,30 Volt. Berbeda pula dengan kelompok 4 yang menggunakan
Vs sebesar 1,22 Volt, 1,22 Volt, 1,25 Volt, 1,25 Volt, 1,30 Volt, dan 1,30
Volt. Selain itu terdapat nilai-nilai yang cukup signifikan dari setiap
kelompok. Misalnya pada Vout inverting dengan Ri 10 K Ohm, RF 100 K Ohm,
dan Vs 1,2 Volt yang didapatkan oleh kelompok 1,2, dan 4 ialah berkisar
pada -8 Volt, sementara kelompok 3 bernilai -12,43 Volt. Maka kelompok
3 menunjukkan angka yang lebih akurat karena lebih mendekati nilai
teoritis sebesar -12 Volt. Hal tersebut terjadi karena berbagai hal. Seperti
kurang presisinya praktikan dalam mengatur knob pada power supply Vs,
perbedaan kondisi alat yang digunakan, dan lain-lain. Namun secara
keseluruhan, perbandingan nilai yang tertera pada hasil pengukuran
tegangan keluaran rangkaian inverting dan non inverting dengan
perhitungan teoritis pun tidak signifikan, sehingga dapat diabaikan.
Hasil percobaan yang terlampir pada bab hasil tersebut bukanlah hasil
dari percobaan pertama yang dilakukan praktikan. Sebelumnya praktikan
melakukan dua kali percobaan, namun kedua percobaan tersebut
menggunakan prosedur yang salah. Pada percobaan pertama, praktikan
kurang teliti dalam menghubungkan kabel jumper dengan input dan
output, jepit buaya saling tertukar. Pada percobaan kedua, diduga terdapat
kekurangan pada kondisi alat praktikum, tepatnya multimeter yang error.
Praktikum ini membuktikan teori mengenai operational amplifier sebagai
penguat tegangan. Terbukti bahwa jika Ri bernilai kecil, nilai RF yang diteruskan
pada nilai penguatan, akan membesar. Namun jika R i bernilai besar sementara RF
bernilai kecil, maka nilai penguat juga kecil. Sehingga, penguatan tegangan dapat
dilakukan jika nilai RF lebih besar dari Ri
..

Lia Genesya Sinuraya


240110140086
4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini praktikan melakukan pembahasan dan
pengukuran Op-amp yang merupakan sebuah differential amplifier
(penguat diferensial) yang memiliki dua masukan. Input (masukan) opamp ada yang dinamakan input inverting dan non-inverting.
Rangkaian penguat inverting merupakan rangkaiaan elektronika yang
berfungsi untuk memperkuat dan membalik polaritas sinyal masukan. Jadi,
ada tanda minus pada rumus penguatannya. Penguatan inverting amplier
adalah bisa lebih kecil nilai besaran dari 1.
Penguat non-inverting amplier merupakan kebalikan dari penguat
inverting, dimana input dimasukkan pada input non-inverting sehingga
polaritas output akan sama dengan polaritas input tapi memiliki penguatan
yang tergantung dari besarnya hambatan feedback dan hambatan input
Diawali dengan penjelasan singkat mengenai Op-amp, setelah itu
praktikan membuat rangkaian Op-amp (LM 741) baik inverting maupun
non-inverting. Tiap rangkaian diukur dengan resistor yang berbeda.
Contoh: pada pengukuran pertama yang digunakan adalah Ri=10k,
Rf=10k, pada pengukuran kedua yang digunakan adalah Ri=10k,
Rf=100k, pada pengukuran ketiga yang digunakan adalah Ri=100k,
Rf=10k, dan begitu seterusnya. Pada rangkaian diberikan pula arus yang
mengalir. Pada tiap pengukuran Vs yang ada berbeda.
Op-amp memiliki 8 kaki yang terhubung pada kondisi berbeda.
Sehingga pengukuran juga harus memperhatikan letak tiap kaki-kaki opamp yang terhubung dengan komponen-komponen yang ada.
Dari pengukuran didapat hasil yang tidak jauh berbeda jika dihitung
dengan rumus yang ada. Jumlah Vout yang ada pada rangkaian inverting
didapat dengan membagi Rf dan Ri lalu dikalikan dengan Vs yang ada.
Sedangkan pada rangkaian non-inverting ada faktor penambah 1.
Pengukuran yang didapat pada rangkaian inverting adalah 3,17;
12,43; 2,55; 8,50; 2,52; 7,94;. Sedangkan secara teoristis hasil Vout yang
didapat pada rangkaian inverting adalah -1,2; -12; -1,25; -12,5; -1,3; -13.
Tanda negatif melambangkan arus yang mengalir. Pada pengukuran non
inverting secara praktiknya didapat hasil 3,76; 12,23; 3,65;12,20; 3,79;
13,01. Sedangkan secara teoristis hasil yang didapat seharusnya 2,2; 13;

2,25; 13,5; 2,3; 14. Perbedaan hasil yang didapat antara pengukuran pada
rangkaian dan perhitungan menggunakan rumus yang ada dapat terjadi
dikarenakan beberapa kendala yang diantaranya kesalahan perhitungan
dan kurang telitinya praktikan dalam membaca multimeter. Kesalahan lain
dapat pula terjadi pada rangkaian yang ada. Letak capit buaya juga harus
benar, jika tidak maka akan memberikan hasil yang berbeda. Selain itu,
input arus yang ada tidak konsisten sehingga hasil yang didapat berubahubah. Meskipun data yang didapat tidak begitu akurat, namun masih dapat
diterima karena praktikan sudah mengikuti praktikum sesuai prosedur
yang ada.

Muhamad Masud
240110140078
4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini, praktikan ditugaskan untuk menghitung
impedansi masukan dan menghitung tegangan masukan serta keluaran
(input dan output). Praktikan menghitung tegangan dengan menggunakan
OP-AMP. Operational Amplifier atau di singkat OP-AMP merupakan
salah satu komponen analog yang sering digunakan dalam berbagai
aplikasi rangkaian elektronika. Fungsi dari Op-amp adalah sebagai
penguat sinyal masukan baik DC maupun AC. Selain itu, fungsi OP-AMP
adalah untuk penguat diferensiasi impedansi masukan tinggi, tagangan
penguatan tinggi, dan keluaran impedansi rendah. OP-AMP yang
digunakan pada praktikum ini merupakan IC 741 yang merupakan OPAMP yang paling sering digunakan.
Dalam rangkaian ini, menggunakan

ground,

untuk

menghubungkan dengan Multimeter, 1 untuk menghubungkan dengan


tegangan positif (+V) dan 1 untuk menghubungkan dengan tegangan
negatif (-V). Op-Amp yang digunakan memiliki 8 pin, beberapa dari kaki
pin Op-Amp ini akan dihubungkan dengan rangkaian.
Impedansi masukan dari OP-AMP adalah besar hambatan diantara
kedua masukan OP-AMP. Secara ideal hambatan masukan OP-AMP
adalah tak berhingga. Tetapi dalam kondisi praktis, harga hambatan
masukan OP-AMP adalah antara 10kOhm hingga 100 kOhm tergantung
pada tipe OP-AMP. Namun, dari hasil yang didapat dapat dilihat bahwa
nilai impedansi masukan pada berbagai pemberian perlakuan mempunyai
nilai yang kecil. Nilai tersebut lebih kecil dari nilai ideal impedansi pada
OP-AMP. Nilai ini menunjukkan bahwa penguat atau OP-AMP tidak
berfungsi dengan baik. Dikarenakan semakin kecil hambatan masukan
suatu penguat, maka semakin buruk penguat tersebut dalam menguatkan
sinyal yang amplitude nya sangat kecil.
Nilai impedansi yang sangat kecil ini dapat dipengaruhi oleh berbagai
hal. Misalnya perawatan komponen elektronika yang tidak baik, Selain itu,
impedansi masukan tidak berubah sama sekali nilainya dikarenakan

hambatan masukan pada potesiometer tetap atau tidak berubah pada


masing-masing frekuensi.
Selain ada impedansi masukan, pada rangkaian OP-AMP terdapat
impedansi keluaran. Impedansi keluaran (output resistance) RO dari opamp adalah besarnya hambatan dalam yang timbul pada saat op-amp
bekerja sebagai pembangkit sinyal. Secara ideal harga hambatan keluaran
RO op-amp adalah =0. Apabila hal ini tercapai, maka seluruh tegangan
keluaran op-amp akan timbul pada beban keluaran (RL), sehingga dalam
suatu penguat, hambatan keluaran yang kecil sangat diharapkan. Output
offset voltage ( tegangan offset keluaran) adalah harga tegangan keluaran
dari op-amp terhadap tanah (ground) pada kondisi tegangan masukan
Vid=0. secara ideal, harga VO = 0Volt. Op-amp yang dapat memenuhi
harga tsb disebut sebagai opamp dengan CMR (common mode Rejection)
ideal.

Andre Pangestu
240110140074
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum kali ini adalah:
1. Dari ke delapan kaki IC LM741 memiliki fungsi tersendiri, yaitu kaki
pertama dan kelima sebagai zero offset, kaki kedua sebagai input, kaki ketiga
sebagai input non inverting, kaki keempat sebagai catu daya negatif, kaki
keenam sebagai output, kaki ketujuh sebagai catu daya positif, dan kaki ke
delapan tidak memiliki koneksi.
2. LM741 adalah salah satu IC (Integrated Circuit) Op-Amp (Operational
Amplifier) yang banyak digunakan dalam sistem analog komputer, penguat
video/gambar, penguat audio, osilator, detector dan lainnya.
3. Rangkaian penguat inverting merupakan rangkaiaan elektronika yang
berfungsi untuk memperkuat dan membalik polaritas sinyal masukan.
4. Penguat non-inverting amplier merupakan kebalikan dari penguat inverting,
dimana input dimasukkan pada input non-inverting sehingga polaritas output
akan sama dengan polaritas input tapi memiliki penguatan yang tergantung
dari besarnya hambatan feedback dan hambatan input.
5.2 Saran
Saran yang dapat dianjurkan dari praktikum kali ini adalah:
1. Praktikan seharusnya ebih memahami tentang bagaimana cara dalam
membuat rangkaian inverting amp maupun non inverting amp.
2. Praktikan lebih berhati-hati dalam penggunaan alat yang tersedia pada
laboratorium.
3. Bertanya jika ada yang kurang mengerti kepada asisten, agar tidak terjadi
kesalahan.

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh,
maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Operational

Amplifier

berfungsi

sebagai

penguat

Maharani Listiafitri
240110140084

operasional.
2. Kaki IC LM741 memiliki fungsi yang berbeda-beda.Kaki pertama dan
kelima sebagai zero offset, kaki kedua sebagai input, kaki ketiga sebagai
input non inverting, kaki keempat sebagai catu daya negatif, kaki keenam
sebagai output, kaki ketujuh sebagai catu daya positif, dan kaki ke delapan
sebagai pelengkap dudukan IC yang tidak memiliki koneksi.
3. Tegangan keluaran pada rangkaian inverting bernilai negatif.
4. Tegangan keluaran pada rangkaian non - inverting bernilai positif.
5. Nilai Vout rangkaian Operational Amplifier lebih kecil dibandingkan
dengan Vin. Hal ini dipengaruhi oleh adanya nilai resistor yang termasuk
dalam komponen rangkaian.
6. Nilai pembacaan sebuah besaran pada suatu alat ukur tidak akan selalu
sama, tergantung oleh ketelitian praktikan.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan dalam praktikum ini adalah :
1. Mulailah dari batas ukur yang paling besar pada multimeter jika besaran
tegangan tidak dapat dipastikan. Setelah itu selektor dapat dipindahkan ke
batas ukur yang lebih rendah untuk memperoleh ketelitian yang lebih baik.
2. Praktikan mempelajari dan memahami terlebih dahulu materi praktikum.
3. Pastikan peralatan yang digunakan dalam keadaan baik, peralatan harus
ditata dengan benar sesuai dengan ketentuan praktikum dan dilakukan
beberapa kali agar data yang didapat akurat.

Lia Genesya Sinuraya


240110140086
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat adalah sebagai berikut:
1. Salah satu fungsi Op-amp adalah sebagai penguat operasional.
2. Rangkaian penguat inverting merupakan rangkaiaan elektronika yang
berfungsi untuk memperkuat dan membalik polaritas sinyal masukan.
3. Penguat non-inverting amplier berupa input dimasukkan pada input noninverting sehingga polaritas output akan sama dengan polaritas input.
4. Pengukuran yang didapat pada rangkaian inverting adalah 3,17; 12,43; 2,55;
8,50; 2,52; 7,94;. Sedangkan secara teoristis hasil Vout yang didapat pada
rangkaian inverting adalah -1,2; -12; -1,25; -12,5; -1,3; -13.
5. Pada pengukuran non inverting secara praktiknya didapat hasil 3,76; 12,23;
3,65;12,20; 3,79; 13,01. Sedangkan secara teoristis hasil yang didapat
seharusnya 2,2; 13; 2,25; 13,5; 2,3; 14.
6. Terjadi selisih nilai pada pengukuran dengan alat dan perhitungan dengan
rumus dikarenakan kekurang telitian praktikan.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan dalam praktikum ini adalah :
1. Diharapkan praktikan sudah mempelajari atau memahami materi terlebih
dahulu sebelum praktikum dimulai.
2. Sebaiknya praktikan memperhatikan dan melalukan praktikum dengan
serius dan cermat.
3. Praktikan diharapkan berhati-hati dan menggunakan alat yang ada dengan
sesuai prosedur.

Muhamad Masud
240110140078
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum kali ini yaitu:
1. Fungsi dari Op-amp adalah sebagai penguat sinyal masukan baik DC maupun
AC. Selain itu, fungsi OP-AMP adalah untuk penguat diferensiasi impedansi
masukan tinggi, tagangan penguatan tinggi, dan keluaran impedansi rendah
2. Pada hasil yang diperoleh, dapat dilihat bahwa nilai Vout lebih kecil
dibandingkan dengan Vin. Hal ini dipengaruhi oleh adanya nilai resistor yang
termasuk dalam komponen rangkaian.
3. Nilai impedansi yang sangat kecil ini dapat dipengaruhi oleh berbagai hal.
Misalnya perawatan komponen elektronika yang tidak baik,
4. Impedansi keluaran (output resistance) RO dari op-amp adalah besarnya
hambatan dalam yang timbul pada saat op-amp bekerja sebagai pembangkit
sinyal.
5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum kali ini yaitu:
1. Ketelitian dan kerjasama antar anggota kelompok sangat dibutuhkan dalam
praktikum ini
2. Dalam melaksanakan praktikum, praktikan harus memahami prosedur serta
cara kerja percobaan
3. Peralatan dan bahan yang memadai sangat mendukung hasil yang sesuai
dalam praktikum

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Adi. 2013. Perkenalan Breadboard Untuk Simulasi. Terdapat pada:
http://collegerlearn.blogspot.co.id/2013/06/perkenalan-breadboard-untuksimulasi.html (Diakses pada tanggal 10 November 2015 pukul 14.28 WIB)
Ahmad

Nahyudin.

2013.

Op-Amp.

Terdapat

pada:

http://ahmadnahyudin.blogspot.co.id/2013/01/op-amplifier_935.html
(Diakses pada tanggal 16 November 2015 pukul 23.54 WIB)
Anonim I. 2008. Definisi Dari Rangkaian Op Amp Operational Amplifier.
Terdapat pada : http://elektrokita.blogspot.com/2008/10/op-amp-operationalamplifier.html. (di akses pada tanggal 17 November 2015 pukul 11.24 WIB)
Anonim I. 2011. Teori Dasar Dari Penguat Operasional . Terdapat pada :
http://www.ilmu.8k.com/pengetahuan/opamp.html (diakses pada tanggal 17
November 2015 pukul 11.16 WIB)
Elka. 2011. Op - Amp sebagai komparator tegangan. Terdapat pada: http://belajarelka.blogspot.com/2011/11/op-amp-sebagai-komparator-tegangan.html
(diakses pada tanggal 17 November 2015 pukul 11.19 WIB)
Ghofarudin. 2012. Pengertian dan Fungsi Multimeter. Terdapat pada:
https://ghofarudin.wordpress.com/2012/08/18/pengertian-dan-fungsimultimeter.html (Diakses pada tanggal 10 November 2015 pukul 14.31 WIB)
Okky. 2011.

Macam-macam

Aplikasi

Dari

Op

Amp.

Terdapat

pada:

http://elkaanalogitn.wordpress.com/2011/11/23/macam-macam-aplikasi-dariop-amp/. (diakses pada tanggal 17 November 2015 pukul 11.20 WIB)


Red Angle. 2011. Definisi Dari Rangkaian Op Amp. Terdapat pada: http://redpatra.blogspot.com/2011/12/op-amp.html.

(diakses

pada

tanggal

17

November 2015 pukul 11.24 WIB)


William, D. Cooper. 1985. INSTRUMENTASI ELEKTRONIK DAN TEKNIK
PENGUKURAN, Jakarta: Erlangga
ZirUlul. 2012. Op Amp. Terdapat pada: http://blog.ub.ac.id/ziruzui/2012/09/24/opamp-adalah/. (diakses pada tanggal 17 November 2015 pukul 11.14 WIB)

LAMPIRAN

Gambar 13. Breadboard

Gambar 15. Power Supply

Gambar 14. Power Supply

Gambar 16. Multi Meter