Anda di halaman 1dari 134

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Struktur modal atau keputusan pendanaan akan sangat berpengaruh

pada kinerja perusahaan. Keputusan apakah dana yang akan digunakan

oleh perusahaan dengan hutang atau dengan penjualan saham akan sangat

berpengaruh terhadap kinerja perusahaan khususnya dalam rangka

memaksimalkan kemakmuran atau kekayaan para pemegang saham atau

pemilik yang akan tercermin melalui harga saham perusahaan. Dengan

demikian perusahaan perlu mengusahakan suatu keseimbangan yang

optimal dalam menggunakan kedua sumber tersebut sehingga dapat

memaksimalkan nilai perusahaan.

Perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemilik

melalui keputusan atau kebijakan investasi, keputusan pendanaan dan

keputusan dividen yang tercermin dalam harga saham di pasar modal,

demikian jika dilihat berdasarkan sudut pandang manajemen keuangan.

Tujuan ini sering diterjemahkan sebagai suatu usaha untuk

memaksimumkan nilai perusahaan. Dalam mencapai tujuan tersebut,

banyak shareholder yang menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada

para profesional yang bertanggung jawab mengelola perusahaan, yang

disebut manajer. Para manajer yang diangkat oleh shareholder diharapkan

akan bertindak atas nama shareholder tersebut, yakni memaksimumkan

nilai perusahaan sehingga kemakmuran shareholder akan dapat tercapai.

1
Para manajer dalam menjalankan operasi perusahaan, sering kali

tindakannya bukan memaksimumkan shareholder, melainkan justru

tergoda untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri. Kondisi ini akan

mengakibatkan munculnya perbedaan kepentingan antara external

shareholder dengan manajer. Konflik yang disebabkan oleh pemisahan

antara kepemilikan dan fungsi pengelolaan dalam teori keuangan disebut

konflik keagenaan atau Agency conflik.

Peningkatan kepemilikan manajerial dapat digunakan sebagai cara

untuk mengurangi konflik keagenan (Crutchley dan hansen: 1989, Jensen,

Solberg dan Zorn: 1992). Perusahaan meningkatkan kepemilikan

manajerial untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang

saham sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham.

Dengan meningkatnya persentase kepemilikan, manajer termotivasi untuk

meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran

pemegang saham. Pada kepemilikan yang menyebar, masalah keagenan

terjadi antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Hal ini

menyebabkan kekuasaan pemegang saham dan menyerahkan kepada

manajer. Sebagai konsekuensinya, manajer menuntut kompensasi yang

tinggi sehingga meningkatkan biaya keagenan. Pada kondisi ini, konflik

keagenan diatasi dengan meningkatkan kepemilikan manajerial.

Sebaliknya pada kepemilikan yang berkonsentrasi masalah keagenan

disebabkan oleh hubungan antara pemegang saham dan kreditor. Masalah

ini dijumpai pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Pada kepemilikan

2
terpusat terdapat dua kelompok pemegang saham, yaitu controlling

mayority stockholder dan minority stockholder. Manajer diangkat dan

diberhentikan oleh controlling mayority stockholder sehingga

menunjukkan kinerja baik dihadapkan pemegang saham. Kondisi ini

memperkecil biaya keagenan ekuitas tetapi menimbulkan biaya keagenan

baru yaitu biaya keagenan hutang ( Husnan : 2000).

Peningkatan dividen diharapkan dapat mengurangi biaya keagenan.

Hal ini disebabkan dimana dividen yang besar menyebabkan rasio laba

ditahan akan kecil sehingga perusahaan membutuhkan tambahan dana dari

sumber eksternal, seperti emisi saham baru. Penambahan dana

menyebabkan kinerja manajer dimonitor oleh bursa dan penyediaan dana

baru. Pengawasan kinerja menyebabkan manajer bertindak sesuai dengan

kepentingan pemegang saham sehingga mengurangi biaya yang berkaitan

dengan emisi saham baru (floating cost). (Crutchley dan Hansen : 1989).

Perkembangan riset pasar modal telah memotivasi penulis untuk

melakukan penelitian bidang keuangan. Beberapa penelitian tentang

struktur modal terhadap nilai perusahaan telah banyak dilakukan oleh

peneliti dan hasilnya saling kontradiksi. Jensen dan Meckling (1976)

beragumentasi bahwa konflik keagenan terjadi karena adanya pemisahan

kepemilikan dan pengendalian. Konflik keagenan menyebabkan

penurunan nilai perusahaan. Penurunan nilai perusahaan akan

mempengaruhi kekayaan dari pemegang saham sehingga pemegang saham

akan melakukan tindakan pengawasan terhadap perilaku manajemen.

3
Dalam teori keagenan dijelaskan bahwa kepentingan manajemen dan

kepentingan pemegang saham mungkin bertentangan. Hal tersebut

disebabkan manajer mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya

pemegang saham tidak menyukai kepentingan pribadi manajer tersebut,

karena pengeluaran tersebut akan menambah kos perusahaan yang

menyebabkan penurunan keuntungan perusahaan dan penurunan dividen

yang akan diterima. Pemegang saham menginginkan agar kos tersebut

dibiayai oleh utang, tetapi manajer tidak menyukai dengan alasan bahwa

utang mengandung risiko yang tinggi. Perbedaan kepentingan itu

menimbulkan konflik yaag biasa disebut konflik agensi. Konflik

kepentingan dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan

yang dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan yang terkait tersebut.

Akibat dari munculnya mekanisme pengawasan tersebut menyebabkan

timbulnya suatu kos yang disebut agency cost.

Ada beberapa alternatif untuk mengurangi kos keagenan tersebut

yaitu : pertama, dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh

manajemen (Jensen dan Meckling 1976). Analisisnya menyatakan bahwa

proporsi kepemilikan saham dikontrol manajer dapat mempengaruhi

kebijakan-kebijakan perusahaan. Selain itu kepemilikan manajerial akan

mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sehingga

manajer akan merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil

dengan benar dan akan merasakan kerugian sebagai konsekwensi dari

pengambilan keputusan yang salah. Kedua, dengan meningkatkan dividen

4
payout ratio (Crutley dan Hansen, 1989; Easterbrook, 1989; Leland dan

Pyle, 1977). Penelitian mereka menyatakan bahwa pembayaran dividen

akan mempengaruhi kebijakan pendanaan, karena dengan pembayaran

dividen akan mengurangi cash flow perusahaan akibatnya perusahaan

dalam memenuhi kebutuhan operasinya akan mencari alternatif sumber

pendanaan yang relevan, Ketiga, meningkatkan pendanaan dengan utang.

Penurunan utang akan menurunkan besarnya konflik antara pemegang

saham dengan manajemen. Disamping itu utang akan menurunkan exess

cash flow yang ada dalam perusahaan, sehingga akan menurunkan

kemungkinan pemborosan yang dilakukan oleh manajemen. Keempat,

institusional investor sebagai pihak yang memonitor agen, Moh’d et al.

(1998) menyatakan bahwa distribusi saham antara pemegang saham dari

luar seperti institusional investor dapat mengurangi agency cost. Hal ini

disebabkan karena kepemilikan mewakili sumber kekuasaan yang dapat

digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan

manajemen. Jadi dengan adanya investor institusional akan mendorong

peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen.

Ada dua pandangan yang terus diperdebatkan oleh ahli-ahli

keuangan di dunia. Pandangan pertama dikenal dengan pandangan

tradisional yang menyatakan bahwa struktur modal mempengaruhi nilai

perusahaan. Pandangan tradisional diwakili oleh dua teori yaitu Trade off

Theory dan Pecking Order Theory, Myers (1984). Pandangan kedua

dikemukakan oleh Modigliani dan Miller yang menyatakan bahwa struktur

5
modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Myers dan Majluf (1984),

menyatakan bahwa perusahaan cenderung mempergunakan internal equity

terlebih dahulu, dan apabila memerlukan external financing, maka

perusahaan akan mengeluarkan debt sebelum menggunakan external

equity.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada perusahaan-

perusahaan di Indonesia ditemukan bahwa perusahaan-perusahaan di

Indonesia cenderung mengikuti pecking order theory. Santoso (2001) telah

menemukan bahwa pada umumnya para manajer perusahaan di Indonesia

cenderung mengikuti hirarki pendanaan (pecking order theory). Struktur

modal perusahaan diprediksi juga dipengaruhi oleh faktor ekstern dan

faktor intern perusahaan. Struktur kepemilikan menjadi penting dalam

teori keagenan karena sebagian besar argumentasi konflik keagenan

disebabkan oleh adanya pemisahan kepemilikan dan pengelolaan. Konflik

keagenan tidak terjadi pada perusahaan dengan kepemilikan seratus persen

oleh manajemen (Jensen dan Meckling, 1976). Struktur kepemilikan

saham diprediksi berpengaruh dalam penentuan struktur modal. Semakin

terkonsentrasi kepemilikan saham perusahaan cenderung akan mengurangi

utang. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham, maka akan terjadi

pengawasan yang efektif terhadap manjemen. Manajemen akan semakin

berhati-hati dalam melakukan peminjaman, sebab jumlah utang yang

terlalu tinggi akan menimbulkan risiko financial distress sehingga nilai

perusahaan akan menurun. Jumlah utang yang melewati titik optimalnya

6
akan membuat penghematan pajak dari penggunaan utang lebih rendah

dari pada nilai sekarang dari financial distress dan agency cost (model

trade off). Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham perusahaan juga

diprediksi akan menigkatkan nilai perusahaan.

Pentingnya penelitian ini dari jurnal sebelumnya penelitian ini

menggunakan bantuan software Lisrel 8.54, sedangkan dalam jurnal

sebelumnya menggunakan bantuan software Amos 4.0 dan juga dalam

penelitian ini menambahkan dua variabel manifest yaitu DAR (Debt to

Asset Ratio) dan PER (Price Earning Ratio).

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dan evaluasi peneliti

sebelumnya maka penulis tertarik mengadakan penelitian mengenai

“Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Faktor Intern

Dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut peneliti mengidentifikasi

sebagai berikut :

1. Pengaruh kepemilikan saham, faktor ekstern dan faktor intern

terhadap leverage.

2. Pengaruh kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern dan

leverage terhadap nilai perusahaan.

7
C. Pembatasan Masalah

Untuk membatasi masalah agar tidak terlalu meluas

pembahasannya maka penulis membatasi masalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini menggunakan variabel endogen dan eksogen.

2. Peneliti dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di

BEI. Periode penelitian per 31 Desember 2003 sampai 31

Desember 2006.

D. Perumusan Masalah

1. Apakah struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap

leverage?

2. Apakah faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage?

3. Apakah faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage?

4. Apakah struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap

nilai perusahaan?

5. Apakah faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan?

6. Apakah faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan?

7. Apakah leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan?

8
E. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

E.1 Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk menguji pengaruh

struktur kepemilikan, leverage, faktor ekstern, dan faktor intern terhadap

perusahaan di Bursa Efek Jakarta.

1 Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan saham

terhadap leverage.

2 Untuk menganalisis pengaruh faktor ekstern terhadap leverage.

3 Untuk menganalisis pengaruh faktor intern terhadap leverage.

4 Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap

nilai perusahaan.

5 Untuk menganalisis pengaruh faktor eksren terhadap nilai perusahaan.

6 Untuk menganalisis pengaruh faktor intern terhadap nilai perusahaan.

7 Untuk menganalisis pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan.

E.2 Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis

Dapat menerapkan Ilmu Ekonomi, khususnya dlam Manajemen

Keuangan dan Pasar Modal yang telah diperoleh selama masa

perkuliahan.

2. Bagi Investor

Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi untuk

mengetahui keadaan keuangan perusahaan sehingga dapat

9
dimanfaatkan oleh para investor dalam pengambilan keputusan

investor dari pasar modal.

3. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan publik

dalam hal pengambilan keputusan keuangannya terutama dalam

menentukan berapa besar proporsi sumber pembiayaan struktur

modalnya, dimana diharapkan dengan proporsi struktur modal

tersebut perusahaan dapat meningkatkan harga sahamnya.

4. Bagi Akademisi

Sebagai penambah kepustakaan dibidang keuangan dan pasar modal.

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Leverage (Struktur Modal)

Struktur modal / capital structure : berkaitan dengan struktur

pembelanjaan permanen perusahaan yang terdiri dari hutang jangka panjang

dan modal sendiri. Ahmad Rodoni dan Indo Yama Nasaruddin (2007).

Struktur modal adalah perbandingan nilai hutang dengan nilai modal

sendiri yang tercermin pada laporan keuangan akhir tahun.

Struktur modal merupakan perimbangan antara utang dengan modal

yang dimiliki perusahaan. Salah satu isi penting yang sering dihadapi oleh

manajer suatu perusahaan adalah menentukan perimbangan yang tepat antara

utang dengan modal.

Terdapat tiga teori utama dalam menjelaskan tujuan perusahaan dalam

memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham. Ketiga teori tersebut

berusaha menjelaskan bagaimana struktur modal dapat memaksimumkan

nilai perusahaan. Ketiga teori tersebut adalah :

a) Teori Tradisional atau Teori Klasik

Menyatakan bahwa struktur modal yang optimal yang dapat

memaksimumkan nilai perusahaan adalah dengan cara

meminimumkan biaya modal rata-rata (average cost of capital). Salah

satu versi teori ini dikembangkan oleh Ezra Solomon yang

menyatakan bahwa struktur modal yang optimal terjadi apabila

11
terdapat kelebihan antara debt equity ratio dengan average cost of

capital.

b) Teori yang dikembangkan oleh Miller dan Modigliani

Menyatakan bahwa pasar modal itu adalah sempurna dan tidak

ada pajak. Mereka menyatakan nilai perusahaan tidak dipengaruhi

oleh struktur modal.

c) Teori yang juga dikembangkan oleh Miller dan Modigliani.

Dengan memperhatikan tingkat pajak mereka menyatakan

bahwa penggunaan utang dapat memaksimumkan nilai perusahaan

dan kemakmuran pemegang saham.

Weston (1963) dalam Napa (1999), menggunakan analisis regresi

berganda untuk menguji leverage. Hasilnya mendukung teori leverage

tradisional. Barger (1963) dalam Napa (1999) menggunakan fungsi kuadrat

untuk mempelajari pengaruh perubahan leverage terhadap nilai pasar

perusahaan .hasilnya mendukung teori tradisional Myers (1984) dalam

penelitiannya menemukan bahwa profitabilitas perusahaan mempunyai

hubungan yang positif secara signifikan dengan utang perusahaan. Myers

dalam Sutiati (2001) menunjukan bahwa perusahaan yang profitabilitas tinggi

lebih dipercaya untuk memperoleh utang. Myers juga berpendapat bahwa

apabila harga saham dipasaran terlalu mahal maka perusahaan harus menolak

menerbitkan saham baru karena harga saham tersebut akan turun melalui

proses penilaian.

12
1. Pengertian Struktur Modal

Struktur modal merupakan komposisi pendanaan ekuitas (modal

sendiri) dan utang pada suatu perusahaan (Wild et al., 2005). Struktur modal

sering kali dihitung berdasarkan besaran relatif berbagai sumber pendanaan.

Stabilitas keuangan perusahaan serta risiko gagal melunasi utang tergantung

pada sumber pendanaan serta jenis dan jumlah berbagai aktiva yang dimiliki

perusahaan. Struktur modal dapat diartikan sebagai paduan sumber dana

jangka panjang yang digunakan oleh perusahaan (Keown et al., 2000).

Sedangkan menurut Awat (1999) struktur modal adalah proporsi antara utang

jangka panjang dan modal sendiri. Demikian pula menurut Riyanto (2001)

bahwa struktur modal adalah perimbangan antara utang jangka panjang

dengan modal sendiri.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal

Menurut Riyanto (2001) besar kecilnya struktur modal yang digunakan

perusahaan dipengaruhi oleh banyak faktor. Adapun faktor-faktor tersebut

antara lain:

a) Tingkat bunga

Tingkat bunga yang berlaku saat manajemen akan menentukan struktur

modal akan mempengaruhi jenis modal apa yang akan digunakan, apakah

menggunakan saham atau obligasi. Penggunaan obligasi hanya dibenarkan

jika tingkat bunga obligasi lebih rendah daripada earning power dari

tambahan modal tersebut.

13
b) Stabilitas earning

Stabilitas dan besarnya earning yang diperoleh perusahaan akan

menentukan apakah perusahan dibenarkan untuk menggunakan modal

dengan beban tetap (utang) atau tidak. Jika perusahaan memiliki earning

yang stabil maka perusahaan akan mampu memenuhi kewajiban finan-

sialnya, sebaliknya perusahaan yang memiliki earning tidak stabil akan

menghadapi risiko tidak dapat membayar beban bunga atau angsuran

utangnya pada tahun-tahun atau kondisi yang buruk.

c) Susunan aktiva

Pada kebanyakan perusahaan industri atau manufaktur di mana

sebagian besar dari modalnya tertanam dalam aktiva tetap, akan cenderung

mengutamakan penggunaan modal sendiri sedang modal asing atau utang

hanya sebagai pelengkap. Sedangkan perusahaan yang sebagian besar

aktivanya terdiri atas aktiva lancar akan menggutamakan pemenuhan ke-

butuhan dananya dengan utang jangka pendek.

d) Risiko aktiva

Risiko yang melekat pada setiap aktiva perusahaan belum tentu sama.

Semakin panjang jangka waktu penggunaannya maka risikonya semakin

besar. Jika perusahaan memiliki aktiva yang peka terhadap risiko maka

perusahaan harus memilih banyak menggunakan modal sendiri yang relatif

tahan risiko, dan sedapat mungkin mengurangi penggunaan modal asing

(utang) yang memiliki risiko lebih tinggi dibanding modal sendiri.

14
e) Jumlah modal yang dibutuhkan

Jumlah modal yang dibutuhkan atau diperlukan dapat mempengaruhi

struktur modal. Jika modal yang dibutuhkan sangat besar maka dirasakan

perlu bagi perusahaan untuk menggunakan beberapa sekuritas secara ber-

samaan, misalnya mengeluarkan saham dan obligasi secara bersamaan.

f) Keadaan pasar modal

Kondisi pasar sering mengalami perubahan yang disebabkan oleh

banyak faktor. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh dana melalui

penjualan sekuritas perusahaan harus memperhatikan kondisi pasar modal.

Ketika investor menyukai menanamkan dananya dalam pembelian saham,

maka pada waktu itu perusahaan lebih baik melakukan penerbitan saham.

g) Sifat manajemen

Bagi manajemen yang optimis terhadap masa depan perusahaan,

umumnya akan berani menangung risiko yang besar (risk seeker),

sehingga akan lebih berani menggunakan utang untuk memenuhi

kebutuhan dana perusahaan. Sebaliknya manajer yang bersifat pesimis dan

tidak menyenangi risiko (risk averter) akan lebih suka menggunakan

sumber dana intern untuk memenuhi kebutuhan dananya.

h) Besarnya perusahaan

Suatu perusahaan yang tergolong besar di mana sahamnya tersebar

sangat luas, penambahan saham untuk memenuhi kebutuhan dana tidak

banyak mempengaruhi kekuasan atau pengendalian pemegang saham

mayoritas. Oleh karena itu, perusahaan besar umumnya lebih menyukai

15
melakukan penerbitan saham baru untuk memenuhi kebutuhan dananya.

Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2001) besarnya kecilnya

struktur modal atau utang suatu perusahaan ditentukan oleh empat faktor

berikut :

a. Risiko bisnis

Risiko bisnis atau tingkat risiko yang terkandung dalam

operasi perusahaan apabila perusahaan tersebut menggunakan

utang. Makin besar atau makin tinggi risiko perusahaan, maka

perusahaan akan cenderung menggunakan utang yang rendah.

b. Pajak perusahaan

Alasan utama penggunaan utang oleh perusahaan adalah

karena biaya bunga dapat dikurangkan dalam perhitungan pajak.

c. Fleksibilitas keuangan

Fleksibilitas keuangan atau kemampuan perusahaan untuk

menambah modal dengan persyaratan yang wajar dalam keadaan

yang memburuk. Ketersediaan modal yang cukup merupakan hal

yang penting guna mendukung operasi perusahaan yang stabil serta

menentukan keberhasilan perusahan dalam jangka panjang. Oleh

karena itu dalam kondisi perekonomian yang sulit, atau apabila

perusahaan mengalami kesulitan operasi maka kemungkinan

perusahaan tersebut memperoleh pinjaman dari investor relatif

kecil, sehingga kondisi tersebut akan mempengaruhi struktur modal

atau utang perusahaan.

16
d. Agresivitas manajemen

Pada perusahaan-perusahaan dengan manajer yang agresif

pada umumnya lebih cenderung menggunakan utang untuk

meningkatkan laba.

3. Utang

1) Pengertian utang

Utang atau sering disebut dengan istilah kewajiban adalah "tuntutan-

tuntutan dari pihak luar", yaitu kewajiban ekonomis yang harus dibayar

kepada pihak luar. Pihak-pihak di luar perusahaan tersebut disebut kreditur

(Horngren et al., 1997). Sedangkan menurut Munawir (2001), utang

adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang

belum terpenuhi, di mana utang ini merupakan sumber dana atau modal

perusahaan yang berasal dari kreditur.

2) Jenis utang

Utang atau kewajiban perusahaan dapat dikelompokkan menjadi utang

jangka pendek (utang lancar) dan utang jangka panjang.

2a) Utang jangka pendek atau utang lancar

Utang jangka pendek atau utang lancar adalah utang perusahaan

yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka

pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva

lancar yang dimiliki oleh perusahaan (Munawir, 2001). Utang lancar

tersebut meliputi beberapa utang sebagai berikut :

(a) Utang dagang, yaitu utang yang timbul karena adanya pembelian

17
barang dagangan secara kredit.

(b) Utang wesel, yaitu utang yang disertai dengan janji tertulis untuk

melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di

masa yang akan datang.

(c) Utang pajak, yaitu utang pajak yang belum disetorkan ke kas

negara.

(d) Biaya yang masih harus dibayar, yaitu biaya-biaya yang sudah

terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya.

(e) Utang jangka panjang yang segera jatuh tempo, yaitu sebagian

(seluruh) utang jangka panjang yang sudah mejadi utang jangka

pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya.

(f) Penghasilan yang diterima di muka (deferred revenue), yaitu

Penerimaan uang untuk penjualan barang/jasa yang belum di

realisir.

2b) Utang jangka panjang

Utang jangka panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka

waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang (lebih

dari satu tahun sejak tanggal neraca) (Munawir, 2001). Utang jangka

panjang tersebut meliputi:

a. Utang obligasi

b. Utang hipotik yaitu utang yang dijamin dengan aktiva tetap

tertentu.

c. Pinjaman jangka panjang yang lain.

18
4. Modal

Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik Perusahaan

yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang

ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap

seluruh utang-utangnya (Munawir, 2001). Dalam praktek kadang-kadang

nampak adanya suatu klasifikasi di dalam neraca yang pada umumnya

membingungkan pembaca (sulit untuk ditafsirkan) dengan nama reserve

(cadangan). Seharusnya cadangan ini diklasifikasikan sesuai dengan

klasifikasi neraca yaitu aktiva, utang dan milik sendiri (modal) sehingga

cadangan pada prinsipnya juga terdiri dari tiga golongan yaitu: (Munawir,

2001).

1. Cadangan sebagai pengurang aktiva (reserve that offseting assets). Misal-

nya cadangan penyusutan (reserve for depreciation), cadangan ini

meupakan pengurangan terhadap aktiva yang disusut, sehingga dalam

neraca nampak di sebelah debet mengurangi aktiva yang bersangkutan.

Cadangan penyusutan itu akan lebih tepat bila diberi nama lain yaitu

akumulasi penyusutan, atau akumulasi depresiasi (Munawir, 2001).

2. Cadangan sebagai utang (liability reserve), misalnya reserve for taxes

(cadangan untuk pajak) merupakan suatu utang yang dicatat sebagai

cadangan, ini tidak benar, seharusnya cadangan untuk pajak ini

dimasukkan dalam utang lancar (current liability), yaitu Utang Pajak atau

Taksiran Utang Pajak.

19
3. Cadangan yang merupakan surplus, yang betul-betul merupakan hak para

pemilik perusahaan, misalnya cadangan untuk ekspansi adalah merupakan

pemisahan sebagian dari laba yang ditahan (retained earning), dan dalam

neraca masuk dalam klasifikasi modal (appropriated surplus).

B. Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan adalah sangat penting karena dengan nilai perusahaan

yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham

(Bringham Gapensi, 1996). Semakin tinggi harga saham semakin tinggi nilai

perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik

perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukan kemakmuran

pemegang saham juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan

dipresentasikan oleh harga pasar dari saham yang merupakan cerminan dari

keputusan investasi, pendanaan (financing), dan manajemen asset.

Menurut Fama (1978) dalam Untung wahyudi et.al , nilai perusahaan

akan tercermin dari harga sahamnya. Harga pasar dari saham perusahaan yang

terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar

perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai asset

perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator

nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya

peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan

perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga akan meningkatkan harga

saham, dengan meningkatnya harga saham maka nilai perusahaan pun akan

meningkat.

20
Indikator- indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan diantaranya

adalah :

1. PER (Price Earning Ratio)

PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara harga

saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para pemegang saham.

( Sutrisno, 2000 dalam Mohammad Usman,2001 dalam Malla Bahagia,2008).

Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar Saham


PER= -------------------------------

Laba per Lembar Saham

Faktor-faktor yang mempengaruhi PER adalah :

• Tingkat pertumbuhan laba

• Dividend Payout Ratio

• Tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal.

Menurut Basuku Yusuf, 2005 dalam Malla Bahagia, 2008, hubungan faktor-

faktor tersebut terhadap PER dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Semakin tinggi Pertumbuhan laba semakin tinggi PER nya, dengan kata

lain hubungan antara pertumbuhan laba dengan PER nya bersifat positif.

Hal ini dikarenakan bahwa prospek perusahaan dimasa yang akan datang

dilihat dari pertumbuhan laba, dengan laba perusahaan yang tinggi

menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya yang

dikeluarkan secara efisien. Laba bersih yang tinggi menunjukkan earning

per share yang tinggi, yang berarti perusahaan mempunyai tingkat


21
profitabilitas yang baik, dengan tingkat profitabilitas yang tinggi dapat

meningkatkan kepercayaan pemodal untuk berinvestasi pada perusahaan

tersebut sehingga saham-saham dari perusahaan yang memiliki tingkat

profitabilitas dan pertumbuhan laba yang tinggi akan memiliki PER yang

tinggi pula, karena saham-saham akan lebih diminati di bursa sehingga

kecenderungan harganya meningkat lebih besar.

2. Semakin tinggi Dividend Payout Ratio (DPR), semakin tinggi PER nya.

DPR memiliki hubungan positif dengan PER, dimana DPR menentukan

besarnya dividen yang diterima oleh pemilik saham dan besarnya dividen

ini secara positif dapat mempengaruhi harga saham terutama pada pasar

modal didominasi yang mempunyai strategi mangejar dividen sebagai

target utama, maka semakin tinggi dividen semakin tinggi PER.

3. Semakin tinggi required rate of return (r) semakin rendah PER, r

merupakan tingkat keuntungan yang dianggap layak bagi investasi saham,

atau disebut juga sebagai tingkat keuntungan yang disyaratkan. Jika

keuntungan yang diperoleh dari investasi tersebut ternyata lebih kecil dari

tingkat keuntungan yang disyaratkan, berarti hal ini menunjukkan

investasi tersebut kurang menarik, sehingga dapat menyebabkan turunnya

harga saham tersebut dan sebaliknya. Dengan begitu r memiliki hubungan

yang negatif dengan PER, semakin tinggi tingkat keuntungan yang

diisyaratkan semakin rendah nilai PER nya.

PER adalah fungsi dari perubahan kemampuan laba yang

diharapkan di masa yang akan datang. Semakin besar PER, maka semakin

22
besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga dapat

meningkatkan nilai perusahaan.

PBV (Price Book Value)

Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada

manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang

terus tumbuh (Brigham, 1999: 92).

Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar per Lembar Saham


PBV = ---------------------------------------

Nilai Buku per Lembar Saham

C. Struktur Kepemilikan Saham

Struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan institusional dan

manjemen dalam kepemilikan saham perusahaan.

Kepemilikan Manajerial

Shleifer dan Vishny (1986) dalam Theresia (2002) menemukan

kepemilikan institusional secara positif terhadap kepemilikan manajerial.

Kepemilikan institusional secara mayoritas akan mengurangi kemungkinan

perusahaan untuk diakuisisi, sehingga meningkatkan keinginan manajer untuk

memperbasar kepemilikan pada perusahaan. Namun sebaliknya, menurut Fitri

dan Manduh (2003) semakin tinggi kepemilikan institusioanal maka akan

semakin meningkatkan kepengawasan pihak eksternal terhadap perusahaan.

23
Proporsi hutang yang besar akan menempatkan manajer di bawah

pengawasan debtholders dan manajer cenderung tidak menyukai pengawasan

oleh debtholders tersebut, sehingga pengaruh kebijakan hutang terhadap

kepemilikan manajerial adalah negatif. Kontras dengan pernyataan diatas,

Fitri dan Mamduh (2003) menyatakan adanya pengaruh positif. Pernyataan

ini berdasarkan pada asumsi bahwa penggunaan hutang akan mengurangi

kebutuhan penerbitan saham baru sehingga meningkatkan proporsi

kepemilikan manajerial.

Hubungan antara dividend dan kepemilikan manajerial dapat

dijelaskan melalui free cash flow hypothesis (FCF) (Jensen, 1986). Melalui

hipotesis ini kebijakan dividen digunakan untuk mempengaruhi kepemilikan

manajerial sehingga mengurangi biaya keagenan yang berkaitan dengan FCF.

Penelitian tersebut membuktikan bahwa terdapat hubungan subtitusi antara

kebijakan dividend dan kepemilikan manajerial.

Kepemilikan Institusional

Dengan tingginya kepemilikan manajerial, para investor institusional

akan mendapatkan kesempatan kontrol perusahaan yang lebih sedikit. Ini

berarti bahwa hubungan antara kepemilikan manajerial dan kepemilikan

institusional adalah negatif. Hubungan ini sesuai dengan penelitian Fitri dan

Mamduh (2003).

Risiko mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap

kepemilikan institusional. Tingginya risiko yang dihadapi perusahaan

meningkatkan risiko kebangkrutan dan volatilitas dari pendapatan, hal ini

24
akan mengurangi minat institusi untuk melakukan investasi pada saham

perusahaan itu karena institusi lebih mementingkan pada stabilitas

pendapatan (Fitri dan Mamduh,2003).

Menurut Crutchley et al (1999), pengaruh kebijakan hutang terhadap

kepemilikan institusional adalah positif. Kebijakan hutang yang tinggi

menyebabkan perusahaan dimonitor oleh pihak debtholders, karena

monitoring dalam perusahaan yang ketat tadi menyebab manajer akan

bertindak sesuai dengan kepentingan debtholders dan shareholders, sehingga

kondisi ini akan menarik masuknya kepemilikan institusional.

Kebijakan dividen mempunyai pengaruh positif terhadap kepemilikan

institusional. Dari sudut pandang investor, investor institusional mungkin

akan lebih tertarik untuk berinvestasi pada saham dengan dividen yang tinggi

dan mekanisme yang ketat.

Semakin banyak saham yang dimiliki manajer akan semakin

menurunkan masalah keagenan sehingga membuat dividen tidak perlu

dibayarkan pada risiko yang tinggi dalam hal ini berarti kepemilikan

manajerial mempengaruhi kebijakan dividen secara negatif.

Dengan jumlah investasi yang tinggi, investor institusional melakukan

monitoring yang semakin ketat dan menghalangi perilaku oportunis manajer.

Monitoring oleh investor institusional ini dapat mengurangi agency cost

dalam hal ini yaitu biaya yang ditanggung pemilik untuk mengawasi agen

seperti biaya audit, sehingga dividen yang dibayarkan juga menurun.

25
Kehadiran kepemilikan institusional memiliki efek subtitusi bagi pembayaran

dividen untuk mengurangi biaya keagenan.

Menurut Chen dan Steiner (1999), variabe risiko mempunyai hubungan

negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Dengan tingginya risiko

bisnis yang dihadapi perusahaan akan diantisipasi dengan kebijakan

pembayaran dividen yang rendah. Dividen yang rendah dapat digunakan

untuk menghindari pemotongan dividen dimasa mendatang sehingga

penalokasian sebagian keuntungan pada laba ditahan dapat digunakan untuk

investasi lebih lanjut.

Malalui penjelasan balancing model of agency cost, Megginson (1997)

dalam Mahadwarta (2002) menyatakan bahwa kebijakan hutang

mempengaruhi kebijakan dividen dengan hubungan yang negatif. Perusahaan

dengan tingkat hutang yang tinggi akan berusaha untuk mengurangi agency

cost of debt-nya dengan mengurangi hutang, sehingga untuk membiayai

investasinya digunakan pendanaan dari aliran cost internal. Pemegang saham

akan merelakan aliran kas internal yang sebelumnya dapat digunakan untuk

pembayaran dividen untuk membiayai investasi

26
D. Faktor Ekstern

Faktor ekstern merupakan pengelompokan dari variablel-variabel yang

tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk faktor ekstern

adalah :

1. Tingkat suku bunga

Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat

bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank

Umum rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas

penggunaan modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana

investasi dalam bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun. Suku

bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga yang

tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga

perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya

leverage akan menurun.

2. Keadaan Pasar Modal

Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih

tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage

akan menurun. Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai

transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun

sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal diukur

dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir tahun.

27
3. Pertumbuhan Pasar

Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia

dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini

diukur dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan

volume penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan

industri pada tahun t-1. Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja

perusahaan membaik sehingga investor akan merespon positif dan nilai

perusahan akan meningkat. Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan

prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif

sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat.

E. Faktor Intern

Faktor intern merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan

oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel faktor intern

adalah :

1. Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba

operasi dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun.

Rasio profitabilitas dapat diukur dari dua pendekatan yakni

pendekatan penjualan dan pendekatan investasi (Horne 1992). Ukuran

yang banyak digunakan adalah return on assets (ROA) dan return on

equity (ROE).

28
Tingkat profitabilitas masa lalu di suatu perusahaan harus

merupakan pene tu atau determinan penting atas struktur modal

perusahaan yang bersangkutan dengan besarnya jumlah laba ditahan,

suatu perusahaan mungkin cenderung memilih pendanaan dari sunber

tersebut dari pada peminjaman. Hal ini sejalan dengan hipotesa

pecking order theory yang digunakan oleh Myers, yang menyatakan

bahwa cara-cara yang dipergunakan oleh perusahaan dalam

memperoleh dana adalah dengan urutan sebagai berikut :

Pertama, dari laba di tahan. Kedua, dari pendanaan hutang dan

Ketiga, dari ekuitas baru. Profitabilitas yang mempunyai pengaruh

penting pada kebijakan dividen perusahaan. Perusahaan yang memiliki

tingkat keuntungan yang tinggi cenderung akan membayarkan sebagai

besar hasil keuntungan tersebut dalam bentuk dividen. Untuk menilai

tingkat profit ini digunakan perhitungan tingkat rata-rata atas asset

(ROA) (Hang and Rhee, 1990. Hal 2a).

Dengan formula :

Laba Bersih yg Tersedia bagi Pemegang Saham Biasa


ROA = -------------------------------------------------------------------
Rata-rata Total Aktiva

sumber. Brigham Gapenski dan Daves (1999, hal. 77).

29
2. Pembayaran dividen

1.) Definisi kebijakan dividen

Kebijakan dividen adalah kebijakan dalam menentukan pembagian

laba antara pembayaran kepada pemegang saham dan investasi kembali ke

perusahaan (Copeland, 1997 : 125). Kebijakan dividen mempengaruhi baik

pembelajaan jangka panjang ataupun penghasilan yang dibagikan kepada

pemegang saham, maka perusahaan memiliki dua kemungkinan sudut

pandang untuk membayar dividen :

a. Sebagai keputusan pembelanjaan jangka panjang dengan pendekatan

ini, semua laba sesudah pajak yang diperoleh perusahaan dapat

dipandang sebagai sumber dana jangka panjang. Suatu pengumpulan

dividen kas mengurangi jumlah dana yang tersedia untuk membelanjai

pertumbuhan, membatasi pertumbuhan, atau memaksa perusahaan

memperoleh sumber dana yang lain. Perusahaan akan menahan

pendapatanya, bila : a) tersedia proyek-proyek yang menguntungkan,

b) struktur modal membutuhkan modal sendiri.

b. Sebagai suatu keputusan kesejahteraan maksimum dengan pendekatan

ini perusahaan mengakui bahwa pembayaran dividen mempunyai

pengaruh terhadap harga pasar saham biasa. Perusahaan harus

memaksimumkan rasa kesejahteraan dengan mendeklarasikan dividen

yang cukup untuk memenuhi harapan investor dan pemegang saham.

(Sarwoko, 1995 : 206) kebijakan dividen yang optimal adalah

kebijakan yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini

30
dan pertumbuhan dimasa mendatang sehingga memaksimumkan harga

saham (Brigham, 1994 : 198).

2.) Jenis-jenis dividen

Jenis-jenis dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada para

pemegang saham adalah :

a. Cash dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

bentuk tunai atau kas.

b. Property dividend, dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

bentuk aktiva selain kas, misalnya mesin, inventory, dll.

c. Script dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

dua kali pembayaran atau lebih karena perusahaan dalam kesulitan

likuiditas.

d. Liquidating dividend, yaitu dividen dibagikan dengan tidak

berdasarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan tetapi merupakan

pengurangan modal perusahan.

Stock dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

bentuk sham. Hal ini dimaksudkan untuk mengkapitalisasi pendapatan

perusahaan sehingga tidak ada aset yang diberikan.

3.) Jenis kebijakan dividen

a. kebijakan dividen yang stabil

jumlah dividen per lembar yang dibayarkan setiap tahunnya relatif

tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan per lembar

saham pertahunnya berfluktuasi.

31
b. kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus

jumlah ekstra tertentu.

Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar

saham tiap tahunnya. Dalam keadaan keuangan yang lebih baik

perusahaan akan membayarkan dividen ekstra diatas jumlah minimal

tersebut.

c. kebijakan dividen dengan penetapan dividend payout ratio yang

konstan.

Kebijakan ini membayarkan dividen berdasarkan persentase tertentu

dari laba. Ini berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang

dibayarkan setiap tahunnya akan berfluktuasi sesuai dengan

perkembangan keuntungan neto yang diperoleh setiap tahunnya.

d. kebijakan dividen fleksibel.

Pembayaran besarnya dividen setiap tahunnya disesuaikan dengan

posisi financial dan kebijakan financial perusahan tersebut.

3. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total

aktiva.

Ukuran perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki

perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar

32
aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang

sehingga leverage akan meningkat.

Sebuah perusahaan yang besar dan mampu mempertahankan

keberadaannya dengan baik akan memiliki akses yang mudah pada

pasar modal bila dibandingkan dengan perusahaan yang kecil. Karena

aksebilitas yang mudah terhadap pasar modal berarti memiliki

fleksibilitas yang besar dan kemampuan untuk mengumpulkan dana

dalam waktu singkat, dengan demikian perusahaan besar biasanya

mampu membayarkan rasio dividen yang lebih tinggi dibandingkan

perusahaan kecil.

F. Peneliti Sebelumnya

Peneliti sebelumnya telah dilakukan oleh Sujoko dan Ugy Soebiantoro

(2007) yang menguji tentang pengaruh struktur kepemilikan, leverage, faktor

ekstern dan faktor intern terhadap nilai perusahaan di Bursa Efek Jakarta.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis apakah ada

pengaruh struktur kepemilikan, faktor ekstern, dan faktor intern berpengaruh

signifikan terhadap leverage, dan untuk mengetahui serta menganalisis

apakah ada strukrur kepemilikan, faktor ekstern,faktor intern dan leverage

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahan. Populasi dalam studi ini

adalah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Sebanyak 134

perusahaan diambil sebagai sampel dengan menggunakan purposive

sampling. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini


33
adalah dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling. Hasil

studi ini menunjukan bahwa struktur kepemilikan, faktor ekstern dan faktor

intern berpengaruh signifikan terhadap leverage. Struktur kepemilikan, faktor

ekstern, faktor intern dan leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan. Studi ini menguji teori keagenan Jensen dan Meckling (1971).

Pecking Order Theory Myers (1984), Trade Off Model dan Signaling Theory,

Bhattacarya (1979).

Peneliti lainnya dilakukan oleh Siti Khodijah (2006) analisa faktor-

faktor determinan struktur modal dan price earning ratio serta pengujian

terhadap harga saham studi empiris perusahaan Jakarta Islamic Index dengan

pendekatan Path Analysis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-

faktor apa saja yang mempengaruhi struktur modal baik secara langsung dan

tidak tidak langsung dalam hal struktur aktiva, operating leverage (DOL),

total leverage (DCC), profitabilitas (ROI), penjualan (sales) dan tingkat

pertumbuhan (grow rates), untuk menganalisa dari variabel-variabel tersebut.

Variabel apa saja yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap

struktur modal perusahaan,untuk memperoleh bukti empiris tentang faktor-

faktor apa saja yang memperngaruhi price earning ratio (PER) , seperti total

leverage (DCL), profitabilitas (ROI), penjualan (sales), dan tingkat

pertumbuhan (grow rates), baik secara langsung dan tidak langsung, untuk

menganalisa dari keempat variabel tersebut, variabel apa saja yang

mempunyai pengaruh paling dominan terhadap price earning ratio (PER) dan

untuk memperoleh bukti empiris tentang faktor apa saja dari kedua faktor,
34
yakni struktur modal dan price earning ratio (PER) yang mempengaruhi harga

saham, serta mencari faktor apa yang dimiliki pengaruh paling dominan.

Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis Path Analysis.

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahan-perusahaan yang terdaftar

dalam JII di BEJ dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil

studi ini menunjukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal

adalah struktur aktiva dan profitabilitas yang mempunyai pengaruh paling

dominan terhadap struktur modal ialah profitabilitasnya, total pengaruh dari

total leverage dan penjualan maka total leverage mempunyai pengaruh yang

paling dominan terhadap PER dan hasil penelitian selanjutnya yakni antara

pengaruh struktur modal dan PER terhadap harga saham hasil menunjukan

bahwa kedua variabel tersebut mempunyai pengaruh.

Peneliti lainnya dilakukan oleh Cyrillius Martono (2002). Analisa

pengaruh profitabilitas industri, rasio leverage keuangan tertimbang dan

itensitas modal tertimbang serta pangsa pasar terhadap ROA dan ROE

perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia. Studi ini meneliti empat

proksi rasio-rasio persaingan yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan.

Proksi tersebut meliputi profitabilitas industry, rasio leverage keuangan

tertimbang dan pangsa pasar. Penelitian ini menggunakan data laporan

keuangan perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia sejak 1994-

1997 dengan total sampel per tahun sebanyak 41 perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Jakarta. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi

berganda dengan menggunakan pooling data. Uji t dan uji F digunakan untuk
35
menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa : pertama,

tiga variabel, yaitu ROA industri, intensitas modal tertimbang, dan leverage

keuangan tertimbang terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROA

perusahaan. Kedua, tiga variabel, yaitu ROE industri, leverage keuangan

tertimbang, dan pangsa pasar terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROE.

Ketiga, berdasarkan nilai R2, hasil analisis regresi ROE. Keempat,

profitabilitas industri, terbukti superior dalam menjelaskan ROA, sedangkan

variabel yang superior dalam menjelaskan ROE adalah rasio leverage

keuangan tertimbang.

Peneliti lainnya dilakukan oleh Ardi Murdoko Sudarmadji dan Lana

Sularto (2007). Pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dan tipe

kepemilikan perusahaan terhadap luas voluntary disclosure aporan keuangan

tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah variabel ukuran

perusahaan, profitabilitas dan tipe kepemilikan perusahaan berpengaruh

terhadap luas voluntary disclosure laporan tahuanan. Jumlah sampel yang

digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari 8 perusahaan yang bergerak

dalam manufaktur. Pengolahan dan analisis data menggunakan regeresi linier

berganda dengan bantuan program SPSS. Pengujian data digunakan untuk

regresi linier berganda yaitu uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini didapat

bahwa variabel ukuran perusahaan, profitabilitas dan tipe kepemilikan

perusahaan tidak berpengaruh terhadap luas voluntary disclosure laporan

tahunan.

36
Peneliti lainnya dilakukan oleh Etty M. Nasser dan Fielyandi F.

(2006) meneliti tentang pengaruh kepemilikan institusional, ukuran

perusahaan, profitabilitas, dan hutang sebagai variabel intervening terhadap

nilai perusahaan. Pengujian hipotesis menggunakan path analysis (structural

equation model) dengan bantuan software Amos 4.0. Penelitian ini bertujuan

untuk menguji apakah ada pengaruh ukuran perusahaan dan kepemilikan

institusional terhadap kebijakan hutang dan menguji apakah ada pengaruh

ukuran perusahaan, kepemilikan institusional, profitabilitas dan kebijakan

hutang terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini didapat bahwa variabel

ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap

kebijakan hutang. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh negatif

signifikan terhadap kebijakan hutang. Hasil analisa pengaruh ukuran

perusahaan terhadap nilai perusahaan ditemukan bahwa size mempunyai

pengaruh yang positif signifikan terhadap nilai perusahaan, variabel

profitabilitas juga memiliki pengaruh positif signifikan terhadap nilai

perusahaan.

37
G. Kerangka pemikiran

Struktur kepemilikan secara teoritis mempunyai hubungan dengan

leverage. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham maka pengawasan

pemilik terhadap manjemen akan semakin efektif. Manajemen akan semakin

berhati-hati dalam memperoleh pinjaman sebab jumlah utang yang semakin

meningkat akan menimbulkan financial distress. Terjadinya financial distress

akan mengakibatkan nilai perusahaan akan mengalami penurunan sehingga

mengurangi kemakmuran pemilik.

Suku bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga

yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi dehingga

perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage

akan menurun. Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi

minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih

tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan

menurun. Pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang pasar yang

bagus sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan peminjaman

sehingga leverage akan meningkat. Profitabilitas yang meningkat akan

meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan

untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Pembayaran

dividen yang meningkat akan mengurangi laba yang ditahan sehingga sumber

dana intern akan menurun dan perusahaan akan tertarik melakukan

peminjaman dan leverage akan meningkat. Ukuran perusahaan menunjukan

aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran

38
perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk

memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Kepemilikan

institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada

manajemen sehingga manajemen terdorong untuk meningkatkan kinerjanya,

selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Kepemilikan manajerial akan

mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena

mereka juga memiliki perusahaan. Kinerja perusahaan yang meningkat akan

meningkatkan nilai perusahaan. Suku bunga yang tinggi akan mengurangi

minat investor untuk menginvestasikan dananya kepasar modal sehingga

aktifitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan akan menurun.

Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja perusahaan membaik sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahan akan meningkat.

Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik

sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan

meningkat. Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan

prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk

membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan

yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor

akan merespon positif sehingga perusahaan akan meningkat. Leverage yang

39
semakin tinggi menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan

akan menurun. Balancing theory (1976), Stigliz (1976) menyatakan bahwa

ada keseimbangan antara manfaat dan pengorbanan dalam kaitannya dengan

utang.

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang

disesuaikan dengan konsep jalur, maka secara sistematis dapat dibuat

kerangka pemikiran sebagai berikut :

e1 X.
11
Struktur Kepemilikan J
Saham (X 1) Cru e nsen
t ch , e ta
1
1
e2 X.1 2 iey
, e t ll (19
Ste

all 92)
in

(1 9 , ( -
er

92) )
19
Su , I ttu

, (-
)
e9
96
da
rm r ig a

Y1.1
a( &

Struktur Modal
2 3) (-)nz (200
20 Sa
0

Leverage
( ) (Y1)
e3 X.
21 3 (+ )
03) 1) (-)
Y1.2 e10
1)

(20
( +)

a st r i ( 20 0
Sul aw ati
tn
Ra
e4 X.
22 Faktor Ekstern (X2) Su
la st r 4
Trade off Theory (Rubenstein)(1973)
Pecking Order Theory (Myers)(1984)(-)
i (2 0 Steiner (2004)(+)
03
(+)

) (+
)
4)
98

e5 X.2 3
(1
(M (-)
rs)

e11
ry 992)
ye

Y2.1
Th rn ( 1

Nilai Perusahaan
Or g & 5
d er Z o
eo

(+) (Y2)
n g olber

6 9)(+) (1979) Y2.2 e12


e6 X.
Pe sen,S

31 1 99 y a
k o ( ch ar
ck i

jo ta
Jen

S u B at
r y
eo
Th
i ng
n al
e7 X.
32 Faktor Intern (X3) S ig
2

e8 X.3 3
Keterangan :

X1.1 : Kepemilikan Manajerial

X1.2 : Kepemilikan Institusional

X2.1 : Tingkat Suku Bunga

X2.2 : Keadaaan Pasar Modal

40
X2.3 : Pertumbuhan Pasar

X3.1 : Profitabilitas

X3.2 : Pembayaran Dividen

X3.3 : Ukuran Perusahaan

Y1.1 : DER (Debt to Equity Ratio)

Y1.2 : DAR (Debt to asset Ratio)

Y2.1 : PER (Price Earning Ratio)

Y2.2 : PBV (Price Book Value)

β : (beta) koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel endogen ke

variabel endogen

γ : (gama) koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel eksogen

ke variabel endogen

ε : (error) error term yang berkaitan dengan latent variabel endogen

Bentuk persamaan struktural sebagai berikut :

Y1 : γ1 X1 + γ3X2+ γ5 X3+ε1

Y2 : γ2 X1 + γ4X2+ γ6 X3+ε2

Y2 : βY1+ε2

Pada persamaan struktural pertama, X1 (Struktur Kepemilikan Saham), X2

( Faktor Ekstern) dan X3 ( Faktor Intern) merupakan variabel eksogen, Y1

(Struktur Modal) sebagai variabel endogen, ε1 merupakan residual variabel yang

berkaitan dengan variabel endogen, dan γ1,γ3,dan γ5 koefisien jalur yang

menjelaskan pengaruh dari variabel eksogen ke variabel endogen. Pada persamaan

41
struktural kedua X1 (Struktur Kepemilikan Saham), X2 ( Faktor Ekstern) dan X3

( Faktor Intern) merupakan variabel eksogen, Y2 ( Nilai Perusahaan) sebagai

variabel endogen, ε2 merupakan residual variabel yang berkaitan dengan variabel

endogen, dan γ2,γ4,dan γ6 koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel

eksogen ke variable endogen. Pada persamaan struktural ketiga Y1 (Struktur

Modal) dan Y2 (Nilai Perusahaan) sebagai variabel endogen, β (beta) yaitu

koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel endogen (Y2)( Nilai

Perusahaan) ke variabel endogen lainnya (Y1)(Nilai Perusahaan. Sedangkan ε2

merupakan residual variabel yang berkaitan dengan variabel endogen.

Awal penelitian ini dilakukan dengan mengamati perusahaan-perusahaan

yang tergabung dalam Bursa Efek Indonesia dan menyeleksi perusahan-

perusahaan yang secara terus menerus membagikan dividen masuk didalamnya

selama empat periode yaitu tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. Selanjutnya

dari perusahaan tersebut peneliti mengambil data laporan keuangan akhir tahun

per 31 Desember yang berupa modal saham (share capital), nilai perdagangan

saham (value trade), total sales industry, ROA, DPR, total asset, DER, DAR,

PER dan PBV. Data tersebut akan diolah untuk mendapatkan variabel-variabel

yang diperlukan dalam penelitian. Dalam penelitian ini melibatkan variabel latent

dan beberapa indikator sebagai variabel manifest. variabel latent yaitu variabel

yang tidak bisa diukur secara langsung dan memerlukan beberapa indikator

sebagai proksi dan variabel manifest adalah variabel yang secara langsung daoat

diukur.

42
Variabel latent terdiri dari variabel endogen dan variabel eksogen.

Variabel endogen dalam penelitian ini diantaranya adalah Struktur Modal

(Leverage) (Y1), dan Nilai Perusahaan (Y2), dan variabel eksogennya diantaranya

Struktur Kepemilikan Saham (X1), Faktor Ekstern (X2), Faktor Intern (X2).

Setelah variabel manifest/indikator tersebut diperoleh maka dilakukan

pengujian dengan menggunakan metode structural equation modeling (SEM),

metode ini dibantu dengan menggunakan program Lisrel (Linear Structural

Relationships) 8.54.

H. Rumusan Hipotesis

Secara teoritis, pembiayaan perusahaan dihadapkan oleh berbagai

macam pertimbangan. Salah satu teori yang mendasari keputusan pendanaan

perusahaan adalah pecking order theory, Myers (1984) yang mengemukakan

adanya kecenderungan perusahaan untuk menentukan pemilihan sumber

pendanaan atas dasar hirarki risiko (pecking order theory). Pecking Order

Theory adalah salah satu teori yang mendasarakan pada asimetri informasi.

Asimetri informasi akan mempengaruhi struktur modal perusahaan dengan

cara membatasi akses pada sumber pendanaan dari luar. Myers dan Majluf

(1984) menunjukan bahwa dengan adanya asimetri informasi investor

biasanya akan menginterpretasikan sebagai berita buruk apabila perusahaan

mendanai investasinya dengan menerbitkan equitas. Dengan demikian,

perusahaan akan lebih memilih mendanai investasinya berdasarkan urutan

resiko. Bayless dan Diltz (1994) mengemukakan bahwa pecking order

43
theory cenderung akan memilih internal fund, riskless debt, risky debt dan

equity. Myers dan Majluf (1984), dan Myers (1984) mengacu terhadap

masalah ini sebagai hipotesis pecking order yang menyatakan bahwa

perusahaan cenderung menggunakan internal equity terlebih dahulu, dan

apabila memerlukan external finance, maka perusahaan akan mengeluarkan

debt sebelum menggunakan external equity.

Struktur kepemilikan secara teoritis mempunyai hubungan dengan

leverage. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham maka pengawasan

pemilik terhadap manjemen akan semakin efektif. Manajemen akan semakin

berhati-hati dalam memperoleh pinjaman sebab jumlah utang yang semakin

meningkat akan menimbulkan financial distress. Terjadinya financial distress

akan mengakibatkan nilai perusahaan akan mengalami penurunan sehingga

mengurangi kemakmuran pemilik.

Suku bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga

yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi dehingga

perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage

akan menurun. Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi

minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih

tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan

menurun. Pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang pasar yang

bagus sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan peminjaman

sehingga leverage akan meningkat. Profitabilitas yang meningkat akan

meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan

44
untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Pembayaran

dividen yang meningkat akan mengurangi laba yang ditahan sehingga sumber

dana intern akan menurun dan perusahaan akan tertarik melakukan

peminjaman dan leverage akan meningkat. Ukuran perusahaan menunjukan

aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran

perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk

memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Kepemilikan

institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada

manajemen sehingga manajemen terdorong untuk meningkatkan kinerjanya,

selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Kepemilikan manajerial akan

mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena

mereka juga memiliki perusahaan. Kinerja perusahaan yang meningkat akan

meningkatkan nilai perusahaan. Suku bunga yang tinggi akan mengurangi

minat investor untuk menginvestasikan dananya kepasar modal sehingga

aktifitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan akan menurun.

Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja perusahaan membaik sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahan akan meningkat.

Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik

sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan

meningkat. Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan

45
prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk

membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan

yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor

akan merespon positif sehingga perusahaan akan meningkat. Leverage yang

semakin tinggi menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan

akan menurun. Balancing theory (1976), Stigliz (1976) menyatakan bahwa

ada keseimbangan antara manfaat dan pengorbanan dalam kaitannya dengan

utang.

Hipotesis penelitian

H1= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap leverage

H2= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H3= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H4= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan

H5= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H6= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H7= Leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

46
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan go public

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2003 sampai dengan

tahun 2006. Ditetapkan penelitian dimulai tahun 2003 karena pada tahun

2003 keadaan perekonomian mulai pulih kembali setelah terjadi krisis.

Ditetapkan BEI sebagai tempat penelitian karena BEI penulis anggap sebagai

tempat untuk memperoleh data yang diperlukan berupa laporan keuangan dan

harga saham yang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Adapun variabel

yang diteliti adalah struktur kepemilikan saham, struktur modal (leverage),

faktor ekstern, faktor intern, dan nilai perusahaan.

B. Metode Penentuan Sampel

1. Populasi

Penelitian ini mengambil populasi perusahaan-perusahaan go public yang

terdaftar di BEI tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 melalui proses

screaning.

2. Sampel

Metode penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling,

yaitu sampel yang memiliki kriteria sebagai berikut :

a. Perusahaan tercatat di BEI tahun 2003 sampai dengan tahun 2006.

b. Data laporan keuangan tersedia berturut-turut untuk laporan tahun

2003 sampai dengan tahun 2006.

47
c. Perusahaan mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit

dengan menggunakan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31

Desember.

d. Perusahaan harus membagikan dividen pada tahun 2003, 2004, 2005,

dan 2006 secara terus menerus.

C. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh hasil penelitian yang diharapkan, dibutuhkan data

dan informasi yang mendukung penelitian ini. Data sekunder dan informasi

yang dibutuhkan penulis diperoleh dari :

a). Penelitian Laporan

1. Laporan keuangan 31 Desember 2003, 31 Desember 2004, 31

Desember 2005, 31 Desember 2006.

2. Harga saham akhir tahun pada tahun 2003 sampai dengan

tahun 2006.

3. Rata-rata tingkat suku bunga modal kerja akhir bulan dan rata-

rata tingkat suku bunga investor akhir bulan dari Bank Umum

untuk tahun 2003 sampai dengan tahun 2006.

b). Metode Kepustakaan

Penelitian ini juga dilakukan melalui studi kepustakaan seperti jurnal,

literature, buku, website dan lain-lain yang behubungan dengan penelitian

ini.

48
D. Metode Analisis

Rancangan penelitian yang dipilih berupa model persamaan struktural

atau structural equation modeling (SEM) dan untuk pengujian hipotesis

menggunakan path analysis. Path analysis digunakan untuk mengetahui

hubungan antara masing-masing variabel.

 Identifikasi Variabel

Terdapat dua variabel yaitu :

a. Variabel Endogen

Variabel endogen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel

eksogen dan merupakan variabel antara. Ada dua variabel endogen

dalam penelitian yaitu : Leverage (Y1) dan Nilai Perusahaan (Y2).

b. Variabel Eksogen

Variabel Eksogen adalah variabel yang diduga secara bebas

berpengaruh terhadap variabel endogen yaitu : struktur kepemilikan

saham (X1), factor ekstern (X2), dan faktor intern (X3).

c. Variabel Manifest (variabel observed /indikator)

Variabel Manifest (variabel observed /indikator) adalah variabel

yang dapat diukur secara langsung. variabel manifest dalam

penelitian ini meliputi struktur kepemilikan saham manajerial (X1.1),

struktur kepemilikan institusional (X1.2), tingkat suku bunga (X2.1),

keadaan pasar modal (X2.2), pertumbuhan pasar (X2.3), profitabilitas

(X3.1), pembayaran dividen (X3.2), ukuran perusahaan (X3.3), debt to

49
equity ratio (DER) (Y1.1), debt to asset ratio (DAR) (Y1.2), price

earning ratio (PER) (Y2.1), dan price book value (PBV) (Y2.2).

 Structural Equation Modeling (SEM)

Model persamaan struktural (structural equation modeling) adalah

generasi kedua teknik analisis multivariate (Bagozzi dan Fornell 1982)

yang memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan antara variabel

yang kompleks baik recursive maupun non recursive untuk

memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keseluruhan model.

Selain itu menurut Bollen (1989), SEM juga dapat menguji secara

bersama-sama :

1. Model struktural. Yaitu hubungan antara

variabel laten baik variabel laten endogen maupun eksogen.

2. Model measurement. Yaitu hubungan (nilai

loading) antar indikator dengan variabel latennya.

Dengan adanya pengujian model struktural dan pengukuran

memungkinkan peneliti untuk menguji kesalahan pengukuran

(measurement error) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari

Structural Equation Modeling dan melakukan analisis faktor

bersamaan dengan pengujian hipotesis. Proses Structural Equation

Modeling mencakup beberapa langkah yang harus dilakukan

antaranya adalah :

50
1 . Konseptualisasi Model

Tahap ini berhubungan dengan pengembangan hipotesis berdasarkan

teori sebagai dasar dalam menghubungkan variabel laten dengan

variabel laten lainnya, dan juga dengan indikator-indikatornya. Teori

dalam konseptualisasi model bukan hanya berasal dari para akademisi,

tetapi juga dapat berasal pengalaman dan praktek yang diperoleh dari

para praktisi. Selain itu konseptualisasi model juga harus

merefleksikan pengukuran variabel laten melalui berbagai indikator

yang dapat diukur.

2. Penyusunan Diagram Jalur

Tahap ini akan memudahkan kita dalam memvisualisasikan

hipotesis yang telah diajukan dalam konseptualisasi model. Path

diagram merupakan representasi grafis mengenai bagaimana beberapa

variabel pada suatu model berhubungan satu sama lain, yang

memberikan suatu pandangan menyeluruh mengenai struktur model

3. Spesifikasi Model

Tahap ketiga ini memungkinkan kita untuk menggambarkan sifat

dan jumlah parameter yang diestimasi

4. Identifikasi Model

Informasi yang diperoleh dari data yang diuji untuk menentukan

apakah cukup untuk mengestimasi parameter dalam model, disini kita

dapat memperoleh nilai yang unik untuk seluruh parameter dari data

yang telah kita peroleh.

51
Untuk menentukan apakah model kita mengandung atau tidak

masalah identifikasi, maka harus dipenuhi keadaan berikut :

t < s/2

dimana :

t : jumlah parameter yang diestimasi

s : jumlah varians dan kovarians antara variable manifest

(observed/manifest) : yang merupakan (p+q) (p+q+1)

p : jumlah variabel y (indikator variabel endogen)

q : jumlah variabel x (indikator variabel eksogen)

Jika t > 2, maka model tersebut adalah unidentified.

Masalah ini dapat terjadi pada SEM, dimana informasi yang

terdapat pada data empiris (varians dan kovarians variabel

manifest) tidak cukup untuk menghasilkan solusi yang unik untuk

memperoleh parameter model. Masalah unidentifest tersebut dapat

diatasi dengan mengkonstraint model dengan cara menambah

indikator (variabel manifest) ke dalam model, menentukan (fix)

parameter tambahan menjadi 0 dan mengasumsikan bahwa

parameter yang satu dengan parameter yang lain sama.

Jika t = s/2, maka model disebut just-identified, sehingga solusi

yang unik, tunggal, dapat diestimasi untuk megestimasi parameter.

Model yang just-identified, seluruh informasi yang tersedia telah

digunakan untuk mengestimasi parameter, sehinggga tidak ada

52
informasi yang tersisa untuk menguji model ( derajat kepercayaan

adalah 0).

Jika t < s/2, maka model tersebut adalah over-identified.

Dalam hal ini lebih dari satu estimasi masing-masing dapat

diperoleh (karena jumlah persamaan yang tersedia melebihi jumlah

parameter yang diestimasi).

5. Estimasi Parameter

Tahap ini, kita melakukan pengujian signifikansi yaitu menentukan

apakah parameter yang dihasilkan secara signifikan berbeda dari nol.

Estimasi parameter dalam LISREL mempunyai tiga informasi yang

berguna yaitu koefisien regresi standar error dan nilai t. Standar error

yang digunakan untuk mengukur ketepatan dari setiap estimasi

parameter. Untuk mengetahui signifikan tidaknya hubungan antara

variabel laten maupun antara variabel laten dengan indikatornya, maka

nilai t harus lebih besar dari nilai t-tabel pada level tertentu yang

tergantung dari ukuran sampel dan level signifikan tersebut.

6. Penilaian Model Fit

 Uji Keseluruhan

Salah satu tujuan dari Structural Equation Modeling adalah

menentukan apakah model plausible (masuk akal) atau fit. Suatu model

penelitian dikatakan baik, apaabila memiliki model fit yang baik pula.

Tingkat kesesuaian model secara keseluruhan terdiri dari:

53
• Absolute Fit Measures

Absolut fit Measures digunakan untuk memiliki kesesuaian model

secara keseluruhan (baik model pengukuran maupun model

struktural), tanpa menyesuaikan kepada degree of freedom-nya.

Indikator-indikator dalam absolut fit Measures adalah sebagai berikut:

a. Chi-Square dan Probabilitas

Chi-square merupakan ukuran mengenai buruknya fit suatu

model. Nilai Chi-square sebesar nol menunjukkan bahwa model

memiliki fit yang sempurna (perfect fit). Nilai chi-square yang

signifikan (kurang dari 0.05) menunjukkan bahwa data empiris

yang diperoleh memiliki perbedaan dengan teori yang telah

dibangun berdasarkan struktural equation modeling. Sedangkan

probabilitas adalah untuk memperoleh penyimpangan (deviasi)

besar yang ditunjukkan oleh chi-square. Nilai probabilitas yang

tidak signifikan (p≥0) adalah yang diharapkan, yang menunjukkan

bahwa data empiris sesuai dengan model.

Nilai probabilitas chi-square memiliki permasalahan yang

fundamental dalam validitasnya. Menurut Cochran (1952) dalam

Imam Ghozali (2005) probabilitas ini sangat sensitif dimana

ketidaksesuaian antara data dengan teori (model) sangat

dipengaruhi oleh besarnya ukuran sampel. Jika ukuran sampel

kecil, maka chi-square ini akan menunjukkan data secara signifikan

tidak berbeda dengan model dan teori-teori yang mendasarinya.

54
Sedangkan jika ukuran sampel adalah besar, maka uji chi-square

akan menunjukkan bahwa data secara signifikan berbeda dengan

teori, meskipun perbedaan tersebut adalah sangat kecil

b. Goodness of Fit Indices (GFI)

Goodness of Fit Indices (GFI) merupakan suatu ukuran

mengenai ketepatan model dalam menghasilkan observed matriks

kovarians. Nilai GFI ini harus berkisar antara 0 dan 1. Menurut

Diamantopaulus dan Siguaw (2000) dalam Imam Ghozali (2005),

nilai GFI yang lebih besar dari 0,9 menunjukkan fit suatu model

yang baik.

c. Adjusted Goodness of Fit Index

Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) adalah sama dengan

GFI, tetapi telah menyesuaikan pengaruh degress of freedom pada

suatu model. Model yang fit adalah yang memiliki nilai AGFI 0.9

(Diamantopaulus dan Sigauw (2000) dalam Imam Ghozali (2005),.

Ukuran yang hampir sama dengan GFI dan AGFI adalah

Parsimony goodness of fit indexs (PGFI) yang diperkenalkan oleh

Mulaik et.al (1989), yang juga telah menyesuaikan adanya dampak

dari degree of freedom dan kompleksitas model. Model yang baik

apabila memiliki nilai PGFI jauh lebih besar daripada 0.6 (Byrne,

1998 dalam Imam Ghozali, 2005).

55
d. Root Mean Square Errors of Approximation (RMSEA)

Ukuran model fit telah lama diperkenalkan oleh Steiger dan

Lind pada tahun 1980. Nilai RMSEA yang kurang daripada 0.05

mengindikasikan adanya model fit, dan nilai RMSEA yang berkisar

antara 0.08 menyatakan bahwa model memiliki perkiraan

permasalahan yang reasonable (Byrne, 1998 dalam Imam Ghozali,

2005). Sedangkan menurut Maccallum et.al (1996) dalam Imam

Ghozali (2005) menyatakan bahwa model memiliki nilai yang

cukup fit jika RMSEA berkisar 0.08 sampai dengan 0.1 dan jika

RMSEA lebih besar dari 0.1 mengindikasikan model memiliki nilai

fit yang jelek.

P-value for test of Close juga merupakan indikator yang

menilai fit aatau tidaknya suatu model yang dapat dilihat dari

kedekatannya terhadap model fit. Joreskog (1996) dalam Imam

Ghozali (2005) menganjurkan bahwa P-value for test of Close

(RMSEA < 0.05) haruslah lebih besar daripada 0.5 sehingga

mengindikasikan bahwa model adalah fit.

e. Normed Chi-Square (X2 /df)

Normed Chi-Square (X2 /df) merupakan indikator goodness of

fit adalah rasio perbandingan antara nilai chi-square dengan

degrees of freedom. Menurut Wheaton (1977) dalam Imam Ghozali

(2005) cut-off model fit sebesar 5 dan sedikit lebih tinggi daripada

56
yang dianjurkan oleh Carmines dan Melver (1981) dalam Imam

Ghozali (2005) yaitu sebesar 2).

• Comparative Fit Measures

Comparative fit Measures berkaitan dengan pertanyaan

seberapa baikkah kesesuaian model yang dibuat dibandingkan

dengan beberapa model alternatif. Indikator-indikator dari

comparative fit Measures dianataranya adalah:

a. Normed Fit Index (NFI)

Normed Fit Index (NFI) yang ditemukan oleh Bentler dan Bonetts

(1980), merupakan salah satu alternatif untuk menentukan model

fit. Namun, karena NFI memiliki tendensi untuk merendahkan fit

dalam sampel yang kecil, sehingga merevisi index ini dengan nama

Comparative Fit Index (CFI). Nilai NFI dan CFI berkisar antara 0

dan 1. Tetapi suatu model dikatakan fit apabila memiliki nilai NFI

dan CFI lebih besar dari 0.9 (Bentler,1992).

b. Non-Normed Fit Index (NNFI)

Non-Normed Fit Index (NNFI) digunakan untuk mengatasi

permasalahan yang timbul akibat kompleksitas model. Menurut

Kelloway (1998) dalam Didi Achjari (2003) dalam Malla Bahagia

(2008) menyatakan bahwa model dikatakan fit jika nilai NNFI

0.90.

c. Relative Fit Index (RFI)

57
Relative Fit Index (RFI) digunakan untuk mengukur fit dimana

nilainya 0 sampai 1, nilai yang lebih besar menunjukkan adanya

superior fit. Menurut Kelloway (1998) menyatakan bahwa model

dikatakan fit jika nilai NNFI 0.90.

d. Comparative Fit Index (CFI)

Comparative Fit Index (CFI) suatu model dikatakan fit apabila

memiliki Comparative Fit Index (CFI) lebih besar dari 0.90.

(Bentler, 1992 dalam Imam Ghozali,205).

• Parsimonius Fit Measures

a. Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI)

Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) yang diperkenalkan

oleh Mulaik et.al. (1998) dalam Imam Ghozali (2005). PGFI telah

menyesuaikan adanya dampak dari degree of freedom dan

kompleksitas model. Model yang baik apabila memiliki nilai

PGFI jauh lebih besar daripada 0.6. (Byrne,1998 dalam Imam

Ghozali, 2005). Lain halnya menurut Kelloway (1998) nilai PGFI

berkisar antara 0-1, dimana lebih besar nilai tersebut lebih baik.

b. Parsimony Normed Fit Index (PNFI)

Menurut Kelloway (1998) nilai PNFI berkisar antara 0-1, dimana

lebih besar nilai tersebut lebih baik.

58
Tabel 3.1
Standar Penilaian Kesesuaian (Fit )
Nilai Yang Direkomendasikan
Laporan Statistik Holmes- Smith
(2002) Kelloway (1998)
Absolut Fit
χ² p > 0.05 Tidak Signifikan
Normed Chi-Square
(χ²⁄df) 1<χ²⁄df<2 2<χ²⁄df<5
Nilai 2-3 →reasonable
good fit < 2 → over fitting
Nilai < 1 →overfit
RMR < 0.05 < 0.05
RMSEA < 0.05 < 0.10 → good fit
0.05-
0.08→reasonable fit <0.05 → very good fit
< 0.01 →outstanding
fit
GFI > 0.95 >0.90→ good fit
> 0.90 →reasonable
fit
AGFI >0.95 >0.90→ good fit
>0.90 →reasonable
fit
Comparative Fit
NFI - 0.9 → good fit
NNFI >0.95 0.9 → good fit
>0.90 →reasonable
fit
>1 → lack of
parsimony
CFI >0.95 0.9 → good fit
>0.90 →reasonable
fit
RFI - 0.9 → good fit
Parsimonious Fit
0-1 (lebih besar lebih
PNFI - baik)
0-1 (lebih besar lebih
PGFI - baik)
0-1 (lebih besar lebih
AIC Nilai sekecil mungkin baik)
0-1 (lebih besar lebih
CAIC Nilai sekecil mungkin baik)

 Uji Individual Measurement Model

59
Bila Kecocokan model secara keseluruhan telah terpenuhi,

selanjutnya adalah memperhatikan kecocokan measurement model

untuk setiap model. Bila model telah memenuhi criteria yang

ditetapkan pada uji keseluruhan, maka langkah selanjutnya menguji

setiap construct secara terpisah , dengan Uji signifiakansi setiap

indikator dengan uji – t, variabel indikator diaktakan signifikan

apabila nilai t yang diperoleh minimal sebesar 1.96 untuk taraf α =

5%, dan 2.58 untuk taraf α = 1% .

 Uji Individual Struktural Model

Langkah selanjutnya adalah menguji structural model. Pada

pengujian ini terdapat dual hal yang harus dilakukan , yaitu :

a. Uji koefisien gamma dan beta

Seperti halnya uji signifikansi untuk indikator, parameter Gamma

atau Beta dikatakan diaktakan signifikan apabila nilai t yang

diperoleh minimal sebesar 1.96 untuk taraf α = 5%, dan 2.58 untuk

taraf α = 1% .

b. Uji keseluruhan structural model

Untuk menilai kebaikan dari keseluruhan structural model,

perhatikanlah nilai Squared Multiple Correlation (R²). Semakin

besar nilai tersebut semakin baik model yang dihasilkan.

7. Modifikai Model

Modifikasi model dilakukan jika hasil yang diperoleh tidak fit.

Model yang tidak fit dapat dilihat dari beberapa indikator goodness of fit

60
yang tidak menunjukan batas dan syarat tertentu misalkan nilai p yang

lebih kecil dari 0.05 sehingga menunjukkan model tidak fit padahal

model dikatakan fit apabila memiliki p yang tidak signifikan (lebih besar

dari 0.05). dalam Lisrel, terdapat modification index yang merupakan

salah satu alternatif terbaik untuk memodifikasi model. Namun harus

diperhatikan juga bahwa segala modifikasi (walaupun sangat sedikit),

harus berdasarkan teori yang mendukung.

Beberapa modifikasi model dapat dilakukan dengan cara :

1. Mengkorelasikan antara dua indikator.

2. Menambah hubungan (path) antara indikator dan variabel laten.

3. Merubah indikator dari suatu variabel.

Setelah melakukan modifikasi tersebut, maka yang seharusnya kita

lakukan adalah mempertimbangkan dan mencari justifikasi teori yang

kuat terhadap dilakukannya modifikasi tersebut.

8. Validasi Silang Model

Validasi silang model merupakan tahap terakhir dari analisis SEM

yaitu menguji fit tidaknya model terhadap suatu data baru (validasi sub-

sampel yang diperoleh melalui pemecahan sampel). Validasi silang ini

penting apabila terdapat modifikasi yang substansial yang dilakukan

terhadap model asli yang dilakukan pada tahap sebelumnya.

 Uji Hipotesis

61
Pengujian hipotesis pada SEM dimulai dengan penyusunan hipotesa

berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian terdahulu, sehingga dapat

ditarik inferensi terhadap masalah penelitian dalam bentuk hipotesis alternatif

sebgai jawaban sementara penelitian sebagai berikut :

H1= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap leverage

H2= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H3= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H4=Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan

H5= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H6= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H7= Leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

 Uji Signifikan

Uji signifikan dapat dilakukan dengan cara melihat jalur-jalur pada model

pengukuran dan model struktural yamg signifikan. Pada model pengukuran,

jalur–jalur (pengaruh) yang dapat dilihat adalah pengaruh yang

menghubungkan antara variabel laten dan indikatornya, apakah mempunyai

tingkat signifikan terhadap variabel latennya atau tidak. Uji signifikan pada

model pengukuran bertujuan untuk menentukan kemampuan suatu indikator

dalam mengukur variabel latennya. Pada model struktural pengaruh dapat

dilihat dari pengaruh yang menghubungkan antara variabel eksogen dengan

62
variabel endogen dan antara variabel endogen dengan variabel endogen.

Untuk mengetahui jalur-jalur hubungan dapat dilihat uji koefisien secara

parsial. Uji secara parsial terhadap koefisien path pada setiap jalur model

pengukuran maupun struktural dapat ditunjukkan dari t-value (nilai t) sebagai

berikut :

Jika t-hitung > t-tabel, maka terdapat koefisien jalur yang signifikan.

Jika t-hitung < t-tabel, maka tidak terdapat koefisien jalur yang tidak

signifikan.

E. Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Endogen

a. Leverage ( Struktur Modal )

Indikator-indikator yang mempengaruhi leverage diantaranya

adalah :

1. DER (Debt to Equity Ratio)

DER yaitu rasio yang mencerminkan besarnya modal sendiri dijadikan

jaminan utang, yang diukur dengan formulasi sebagai berikut :

Hutang Jangka Panjang


DER = ---------------------------------------
Modal Sendiri

2. DAR (Debt to Asset Ratio)

DAR yaitu perbandingan antara utang jangka panjang dengan total

aktiva.

Hutang Jangka Panjang


63
DAR = ---------------------------------------
Total Aktiva

b. Nilai Perusahaan

Indikator-indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan

diantaranya adalah :

1. PER (Price Earning Ratio)

PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara

harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para

pemegang saham. ( sutrisno,2000 dalam Mohammad Usman,2001

dalam Malla Bahagia,2008).

Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar Saham


PER= -------------------------------

Laba per Lembar Saham

2. PBV(Price Book Value) Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar

keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai

sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham, 1999: 92).

Harga Pasar per Lembar Saham


PBV = ---------------------------------------

Nilai Buku per Lembar Saham

2. Variabel Eksogen

a. Struktur kepemilikan saham


64
Struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan institusional

dan manjemen dalam kepemilikan saham perusahaan.

1) Kepemilikan Istitusional

Kepemilikan Institusional merupakan proporsi kepemilikan

saham oleh institusi dalam hal ini institusi pendiri perusahaan, bukan

institusi pemegang saham publik yang diukur dengan prosentase jumlah

saham yang dimiliki oleh investor institusi intern. Pengukuran ini

mengacu dari penelitian Sudarma (2003) dalam Sujoko (2007).

Inst Shrs it
Institusional (X ) = ---------------------------
Total Shrs it
Keterangan :

Inst Shrs it=Saham yang dimiliki oleh institusi pada perusahaan i

periode t.

Total Shrs it= Jumlah total saham beredar perusahaan I periode t

2) Kepemilikan Manjerial

Kepemilikan Manajerial merupakan kepemilikan terbesar oleh

manjemen perusahaan yang diukur dengan prosentase jumlah saham yang

dimiliki manajemen. Pengukuran ini mengaju dari Sudarma (2003) dalam

Sujoko (2007).

D + C Shrs it
Managerial Ownership (X ) = -------------------------
Total Shrs it

Keterangan :
D & C Shrs it = Saham yang dimiliki perusahaan I pada periode t
Total Shrs it = Jumlah total saham beredar perusahaan I pada periode t
65
b. Faktor Ekstern

Faktor Ekstern merupakan pengelompokan dari variabel-variabel yang

tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk faktor

ekstern adalah:

1) Tingkat Suku Bunga

Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat

bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank Umum

rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas penggunaan

modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana investasi dalam

bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun.

2) Keadaan Pasar Modal

Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai transaksi

perdagangan di BEI pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI.

Variabel pasar modal diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham

di BEI pada akhir tahun.

3) Pertumbuhan Pasar

Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia

dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur

dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume
66
penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada

tahun t-1.

vol penj pada th t – volpenj pada th t-1


Pertum pasar = ---------------------------------------
volume penjualan pada tahun t-1

c. Faktor Intern

Faktor intern merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh

perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel faktor intern adalah :

1) Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba operasi

dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun.

2) Pembayaran Dividen

Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan

kepada pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan

besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun. Variabel

ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan laba

perlembar saham akhir rahun.

Dividen per lembar saham


DPR = -------------------------------------------
Laba per lembar saham

3) Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.
67
SIZE = Ln Total Assets it

Keterangan :

Total Assets it = Total assets yang dimiliki perusahaan i

periode t

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

A.1 Pasar Modal

Pasar modal adalah pasar yang memperjualbelikan instrument keuangan

jangka panjang baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang

dibentuk oleh pemerintah, public authorities maupun perusahaan swasta,artinya

pasar modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan

perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrument

keuangan jangka panjang seperti obligasi, saham dan lainnya.

Selain itu pasar modal memiliki peran dan manfaat diantaranya :

1. Pasar modal merupakan wahana pengalokasian dana secara efisien.

Artinya investor dapat melakukan investasi pada perusahaan melalui

pembelian efek-efek baru yang ditawarkan/diperdagangkan pasar modal, dan

sebaliknya perusahaan dapat memperoleh dana yang dibutuhkan dengan

menawarkan instrument keuangan melalui pasar modal tersebut.

2. Pasar modal sebagai alternative investasi.

68
Yaitu pasar modal memudahkan alternatif investasi untuk memperoleh

keuntungan dengan risiko tertentu.

3. Memungkinkan para investor untuk memiliki perusahaan yang sehat dan

berprospek baik.

Hal ini dikarenakan penyebaran kepemilikan secara luas (tidak hanya

dimiliki oleh sejumlah orang tertentu saja) akan mendorong perkembambangan

perusahaan menjadi transparan.

4. Pelaksanaan manejemen perusahaan secara profesional dan transfaran

5. Peningkatan aktivitas ekonomi nasional.

Dengan keberadaan pasar modal perusahaan akan lebih mudah

memperoleh dana sehingga akan mendorong perekonomian nasional menjadi

lebih maju, terciptanya kesempatan kerja yang luas dan meningkatkan pendapatan

pajak bagi pemerintah.

A.2 Organisasi Yang Terkait di Pasar Modal.

1. Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM).

BAPEPAM melakukan kewenangan untuk melakukan pembinaan,

pengaturan, pengawasan pasar modal, di Indonesia dan keberadaan BAPEPAM

dibawah Menteri Keuangan sekaligus bertanggung jawab kepadanya

2.Perusahaan (Emiten).

Memperoleh dana di pasar modal dengan melaksanakan penawaran umum

atau investasi langsung.

3.Self Regulatory Organization (SRO).

69
SRO adalah organisasi yang mewakili kewenangan untuk membuat peraturan

yang berhubungan dengan aktivitas usahanya. SRO terdiri dari :

• Burasa Efek.

Adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan system dan

sarana mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain

dengan tujuan memperdagangkan efek antara mereka.

• Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP).

Adalah pihak yang menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminana

trqansaksi bursa agar terlaksana secara teratur, wajar, dan efisien. Setiap

trnasaksi akan melewati lembaga ini untuk diselesaikan transaksinya,

apakah seorang pemodal akan bertambah jumlah saham yang dimilikinya

karena menjual saham yang dimilikinya dan menerima pembayaran.

Lembaga yang telah memperoleh izin usaha sebagai LKP oleh BAPEPAM

adalah PT.KPEI (PT. Kliring Penjaminan Efek Indonesia).

• Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaiana (LPP).

Adalah pihak yang menyelenggarakan kegiatan custodian sentral

(penyimpanan efek) bagi Bank custodian, perusahaan efek dan lainnya.

Lembaga yang telah memperoleh izin usaha sebagai (LPP) oleh

BAPEPAM adalah PT. KSEI (PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia).

4. Perusahaan Efek.

70
Perusahaan efek adalah yang mempunyai aktivitas sebagai

perantara pedagang efek yaitu bahwa perusahaan efek melakukan jual beli

saham atas kepentingan pihak lain, atau dirinya sendiri, sebagai penjamin

emisi efek yaitu menjamin agar penerbitan emisi sekuritas yang dilakukan

oleh suatu perusahaan dapat terjual smua, dan sebagai manajer iivestasi

yaitu mengelola dana nasabah untuk diinvestasikan keberbagai sekuritas

atau gabungan dari ketiga tersebut.

5. Penasehat Investasi

Penasihat investasi yaitu pihak yang member nasihat kepada pihak

lain mengenai penjualan dan pembelian efek.

A.3 Sejarah Pasar Modal di Indonesia

Kegiatan jual beli saham dan obligasi sebenarnya telah dimulai pada abad

XIX. Pada tanggal 14 Desember 1912, Amserdamse Effectenbueurs mendirikan

cabang bursa di Batavia. Bursa ini merupakan bursa tertua keempat di Asia,

setelah Bombay, Hongkong dan Tokyo. Bursa yang dinamakan Vereniging voor

de Effectenhandel, memperjualbelikan saham dan obligasi

perusahaan/perkebunan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang

diterbitkan pemerintah (propinsi dan kotapraja), sertifikat saham perusahaan-

perusahaan Amerika yang diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda

serta efek perusahaan Belanda lainnya (Rusdin, Pasar Modal, Bandung; Alfabeta,

2006, hal 4).

71
Minat masyarakat terhadap pasar modal mendorong didirikannya bursa di

kota Surabaya (11 Juni 1925) dan Semarang (1 Agustus 1925). Perkembangan

pasar modal pada saat itu, terlihat dari nilai efek yang mencapai NIF 1,4 milyar,

pun demikian perkembangan pasar modal ini mengalami penyurutan akibat

Perang Dunia II.

Akibatnya, pemerintah Hindia Belanda mengambil kebijakan untuk

memusatkan perdagangan efeknya di Batavia dan menutup bursa efek di

Semarang dan Surabaya. Pada tanggal 17 Mei 1940, secara keseluruhan kegiatan

perdagangan efek ditutup. Di masa kemerdekaan, pada tahun 1950, pemerintah

mengeluarkan obligasi Republik Indonesia, yang menandakan mulai aktifnya

Pasar Modal Indonesia.

Pada tanggal 31 Juni 1952, Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali.

Penyelenggaraan tersebut kemudian diserahkan kepada Perserikatan Perdagangan

Uang dan Efek-efeknya (PPUE). Namun pada tahun 1958, terjadi kelesuan dan

kemunduran perdagangan di Bursa, akibat konfrontasi pemerintah dengan

Belanda. Pemerintah di masa Orde Baru, berusaha untuk mengembalikan

kepercayaan rakyat terhadap nilai mata uang Rupiah.

Pemerintah melakukan persiapan khusus untuk membentuk pasar modal.

Pada tahun 1976, pemerintah membentuk Bapepam (Badan Pembina Pasar

Modal) dan PT Danareksa. Hal tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah

untuk membentuk Pasar Uang dan Pasar Modal. Pada tanggal 10 Agustus 1977,

berdasarkan Keppres RI No 52/ 1976, pasar modal diaktifkan kembali.

Perkembangan pasar modal selama tahun 1977–1987, mengalami kelesuan. Pada

72
tahun 1987-1988, pemerintah menerbitkan paket-paket deregulasi. Paket

deregulasi ini adalah: Paket Desember 1987 (Pakdes 87), Paket Desember 1988

(Pakto 88), dan Paket Desember 1988 (Pakdes 88). Penerbitan paket deregulasi ini

menandai liberalisasi ekonomi Indonesia. Dampak dari adanya ketiga kebijakan

tersebut, pasar modal Indonesia menjadi aktif hingga sekarang.

Pakdes 1987 .

Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi saham dan

obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelumnya dipungut oleh Bapepam, seperti

biaya pendaftaran emisi efek. Selain itu dibuka pula kesempatan bagi pemodal

asing untuk membeli efek maksimal 49% dari total emisi. Pakdes 87 juga

menghapus batasan fluktuasi harga saham di bursa efek dan memperkenalkan

bursa paralel. Sebagai pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk

memasuki bursa efek.

Pakto 88

Pakto 88 ditujukan pada sektor perbankkan, namun mempunyai dampak terhadap

perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang ketentuan 3 L (Legal,

Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas bunga deposito. Pengenaan pajak ini

berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal. Sebab dengan keluarnya

kebijaksanaan ini berarti pemerintah memberi perlakuan yang sama antara sektor

perbankan dan sektor pasar modal.

Pakdes 88

73
Pakdes 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh pada pasar modal

dengan membuka peluang bagi swasta untuk menyelenggarakan bursa.

A.4 Perkembangan Pasar Modal

Minggu keempat Februari 2006, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa

Efek Jakarta (BEJ) cenderung menurun. Indeks ditutup pada level 1.216,140 atau

turun 27,335 poin (2,19%) dibandingkan akhir minggu sebelumnya yang

mencapai level 1.243,475. Pada perdagangan saham hari pertama, indeks

mengalami peningkatan sebesar 3,939 poin (0,32%) ke posisi 1.247,414.

Peningkatan indeks ini antara lain didorong oleh adanya aksi beli para pemodal

atas saham PT Semen Gresik. Hal ini juga dipengaruhi oleh adanya sentimen

positif pasar atas pernyataan dari Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi

akan tumbuh secara cepat dalam semester pertama tahun 2006 ini, dan

pertumbuhan PDB tahun 2006 diperkirakan akan mencapai antara 5% dan 5,7%.

Pada perdagangan saham hari berikutnya indeks melemah 11,325 poin

(0,91%) ke level 1.236,089. Para pemodal cenderung melakukan aksi jual atas

saham-saham unggulan seperti saham PT. Astra Int, PT Bank BRI dan PT. Bank

Mandiri berkenaan dengan kekhawatiran akan kembali naiknya tingkat suku

bunga perbankan. Kondisi tersebut tidak terlepas dari rencana pemerintah yang

74
akan menaikkan tariff dasar listrik yang akan berdampak pada naiknya tingkat

inflasi. Aksi jual juga terjadi pada saham PT. Indosat dan PT. Telkom berkenaan

dengan adanya laporan dari Morgan Stanley yang memberikan rekomendasi

industri telekomunikasi di Indonesia dari “attractive” menjadi “cautious” seiring

dengan semakin ketatnya persaingan di industri telekomunikasi.

Penurunan indeks terus berlanjut pada pertengahan minggu, dimana indeks

ditutup pada posisi 1.231,250 atau turun 4,839 poin (0,39%). Para pemodal

cenderung melakukan aksi jual atas saham-saham perbankan seiring dengan

adanya pernyataan dari US Federal Reserve yang mengindikasikan akan

melanjutkan menaikkan tingkat suku bunga. Tingginya tingkat suku bunga di

Amerika Serikat akan mendorong Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga

sebagai upaya mencegah penurunan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut masih

berlanjut pada perdagangan saham hari Kamis, dimana indeks mengalami

penurunan sebesar 7,086 poin (0,58%) menjadi 1.224,164.

Pada akhir pekan indeks turun 8, 024 poin ke level 1.215,140 yang dipicu

oleh aksi jual saham PNG yang dinilai harga sahamnya naik terlalu cepat,

disamping adanya kekhawatiran investor terhadap laporan keuangan emiten tahun

2005 yang diprediksi belum menunjukan perbaikan, terutama emiten

perbankan. Nilai rata-rata perdagangan saham perhari di BEJ pada minggu ini Rp.

1.045,99 miliar, turun 23,64% dibandingkan minggu sebelumnya Rp. 1.369,78

miliar. Sementara itu, proporsi perdagangan lebih didominasi oleh pemodal

domestik yang mencapai 73, 60% dibandingkan dengan pemodal asing 26,40%

dari total perdagangan saham. Pemodal asing lebih banyak melakukan penjualan,

75
terlihat dari total posisi jual yang lebih besar daripada posisi belinya sehingga

terjadi aliran dana keluar sekitar Rp. 311.812 miliar. (Sumber:Bapepam).

B. Deskriptif Analisis

B.1 Deskripsi Data Sampel

Berdasarkan pengambilan sampel secara Purposive Sampling maka dapat

diperoleh sebagai berikut :

• Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (Bursa Efek Indonesia) dan

mengeluarkan laporan keuangan per 31 desember pada tahun 2003-2006

berjumlah 389 perusahaan.

• Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (Bursa Efek Indonesia)

listing sebelum tahun 2003 berjumlah 318 perusahaan.

• Perusahaan yang membagikan dividen secara terus-menerus selama tahun

2003-2006 berjumlah 58 perusahaan.

• Perusahaan yang tidak memiliki struktur kepemilikan baik kepemilikan

manajerial maupun kepemilikan institusional berjumlah 40 perusahaan.

Dari keterangan-keterangan tersebut, maka dapat diperoleh sampel penelitian

yaitu 24 perusahaan dengan nama perusahaan sebagai berikut :

76
Tabel 4.1
Sampel Data Penelitian

No Nama Perusahaan
1 AKR Corporatian Tbk.
2 Asuransi Bintang Tbk.
3 Asuransi International Tbk.
4 Astra Graphia Tbk.
5 Astra Otoparts Tbk.
6 Berlian Laju Tanker Tbk.
7 Bank UOB Buana Tbk.
8 Ekhadarma International Tbk.
9 Gudang Garam Tbk.
10 Hexindo Adiperkasa Tbk.
11 Indorama Sythentic Tbk.
12 Indosat Tbk.
13 Intel Nickel Indonesia Tbk.
14 Kimia Farma Tbk.
15 Lautan Luas Tbk.
16 Panin Sekuritas Tbk.
17 Ramayana Lestari Tbk.
18 Rig Tenders Tbk.
19 Selamat Sempurna Tbk.
20 Sorini Corporation Tbk.
21 Sepatu Bata Tbk.
22 Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk.
23 Tempo Scan Pasific Tbk.
24 Tunas Baru Lampung Tbk.
Sumber : Bursa Efek Indonesia

77
B.2 Deskripsi Analisis Data

Perolehan data-data dari variabel observed/indicator yang diteliti,

diantaranya adalah :

a. Struktur Kepemilikan Saham

Struktur kepemilikan saham (X1) merupakan distribusi saham antara pihak

manjemen perusahaan (manajer dan staf) (X1.1), dan kepemilikan

institusional (X1.2). Manajer Ownership (X1.1) menggambarkan

kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan yang diukur dengan

persentase jumlah saham yang dimiliki manajemen. Rasio ini digunakan

untuk mengetahui proporsi kepemilikan saham oleh manajer terhadap total

saham beredar. Institusioanl Ownership (X1.2) menggambarkan

kepemilikan saham oleh investor institusi yang diukur dengan persentase

jumlah saham yang dimiliki investor institusi, adapun rasio yang diperoleh

dari indikator-indikator yang diteliti dapat dilihat dari table yaitu sebagai

berikut :

78
Tabel 4.2
Struktur Kepemilikan Saham (X1).
No. Nama Perusahaan Mjr. Own Inst. Own
2003 2004 2005 2006 2003 2004 2005 2006
0,733 0,712 0,712 0,712
1 AKR Corporatian Tbk. 0,0048 0,0014 0,0014 0,0014 5 4 4 4
0,614 0,812 0,861 0,864
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,0448 0,0717 0,0800 0,0950 6 8 3 8
Asuransi International 0,475 0,475 0,501 0,501
3 Tbk. 0,0009 0,0009 0,0044 0,0002 5 5 1 1
0,769 0,768 0,768 0,768
4 Astra Graphia Tbk. 0,0001 0,0001 0,0001 0,0001 5 7 7 7
0,873 0,850 0,867 0,867
5 Astra Otoparts Tbk. 0,0001 0,0004 0,0009 0,0005 1 4 2 2
0,632 0,522 0,454 0,454
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0,0006 0,0006 0,0006 0,0006 5 8 1 2
0,681 0,718 0,878 0,878
7 Bank UOB Buana Tbk. 0,0066 0,0065 0,0061 0,0061 4 5 5 8
Ekhadarma International 0,728 0,728 0,732 0,743
8 Tbk. 0,0505 0,0549 0,0638 0,0588 2 2 6 7
0,721 0,721 0,721 0,721
9 Gudang Garam Tbk. 0,0174 0,0174 0,0206 0,0206 2 2 2 2
0,762 0,813 0,172 0,762
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,0021 0,0021 0,0508 0,0001 4 1 1 1
0,451 0,451 0,451 0,537
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,1318 0,1318 0,1318 0,1937 6 6 6 9
0,569 0,557 0,550 0,551
12 Indosat Tbk. 0,0002 0,0002 0,0002 0,0003 4 7 4 0
Intel Nickel Indonesia 0,788 0,820 0,820 0,820
13 Tbk. 0,0122 0,0004 0,0004 0,0004 2 7 7 7
0,900 0,900 0,900 0,900
14 Kimia Farma Tbk. 0,0097 0,0097 0,0040 0,0039 3 3 3 3
0,630 0,630 0,630 0,681
15 Lautan Luas Tbk. 0,0364 0,0364 0,0364 0,0364 3 3 3 8
0,334 0,334 0,334 0,334
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,0400 0,0400 0,0400 0,0400 4 4 4 4
0,640 0,640 0,637 0,575
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,0371 0,0371 0,0370 0,0368 7 7 8 5
0,774 0,774 0,968 0,968
18 Rig Tenders Tbk. 0,0011 0,0011 0,0011 0,0011 6 7 5 4

79
0,680 0,680 0,680 0,613
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,0448 0,0649 0,0666 0,0822 2 2 2 6
0,646 0,646 0,646 0,646
20 Sorini Corporation Tbk. 0,0005 0,0005 0,0005 0,0005 2 2 2 2
0,842 0,788 0,841 0,839
21 Sepatu Bata Tbk. 0,0011 0,0001 0,0001 0,0001 0 0 0 0
Tambang Batu Bara 0,837 0,701 0,650 0,650
22 Bukit Tbk 0,0122 0,0125 0,0070 0,0035 4 9 2 2
0,765 0,662 0,663 0,141
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,0006 0,0010 0,0011 0,0010 6 8 3 3
Tunas Baru Lampung 0,826 0,782 0,782 0,595
24 Tbk. 0,0010 0,0010 0,0010 0,0010 9 0 0 7
0,019 0,020 0,023 0,024 0,695 0,687 0,676 0,672
Rata-rata per tahun 0 5 2 3 0 3 1 1
Sumber : Laporan Keuangan Tiap Perusahaan BEI

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hampir sebagian besar perusahaan

memiliki nilai struktur kepemilikan institusional dari tahun ketahun selama

periode 2003-2006 yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai struktur

kepemilikan saham manajerial.

Rata-rata struktur kepemilikan saham manajerial pada tabel tersebut

menunjukan jumlah kecil yaitu sekitar 0.0190 (1.90%) pada tahun 2003, 0.0205

(2.05%) pada tahun 2004, 0.0232 (2.32%) pada tahun 2005, dan 0.0243 (2.43%)

pada tahun 2006, dimana struktur kepemilikan saham manajerial tertinggi dimiliki

oleh perusahaan Indorama Synthetic Tbk. yaitu sebesar 0.1937 (19.37%) dan

0.0950 (9.50%) oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. Tetapi tidak hanya pada

tahun 2006, perusahaan Indorama Synthetic Tbk. dan Perusahaan Asuransi

Bintang Tbk. mempunyai struktur saham manajerial yang sama besar pada tahun

2003, 2004, dan 2005 yaitu 0.1318 (13.18%) yang dimiliki perusahaan

IndoramaSynthetic Tbk. dan 0.08 (8%) yang dimiliki oleh perusahaan Asuransi

Bintang Tbk. Sementara itu perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan

saham manajerial terendah pada tahun 2003 adalah perusahaan astra Graphia Tbk.

80
dan Astra Otoparts Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%). Selanjutnya

tahun 2004 struktur kepemilikan saham manajerial terendah dimiliki oleh

perusahaan Astra graphia Tbk. dan Sepatu BataTbk. yaitu sama-sama sebesar

0.0001 (0.01%). Selanjutnya tahun 2005 yang memiliki struktur kepemilikan

saham manajerial terendah adalah perusahaan Astra Graphia Tbk. dan Sepatu

Bata Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%), dan tahun 2006 yang

memiliki struktur kepemilikan saham manajerial terendah adalah perusahaan

Perusahaaan Astra Graphia Tbk., perusahaan Hexindo Adiperkasa Tbk., dan

perusahaan Sepatu bata Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%).

Rata-rata struktur kepemilikan saham Institusional pada tabel tersebut

menunjukan jumlah yang besar yaitu sekitar 0.6950 (69.5%) pada tahun 2003,

0.6873 (68.73%) pada tahun 2004, 0.6761 (67.61%) pada tahun 2005, dan 0.6721

(67.21%) pada tahun 2006. Dimana struktur kepemilikan saham institusi tertinggi

dmiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk. yaitu sebesar 0.9685 (96,85%) pada

tahun 2005, dan perusahaan Kimia Farma Tbk. yaitu sebesar 0.9003 (90.03%).

Sementara itu perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan saham

institusional terendah pada tahun 2003, 2004, dan 2005 adalah perusahaan panin

Sekuritas Tbk. yaitu sebesar 0.3344 (33.44%), selanjutnya pada tahun 2006

struktur kepemilikan saham institusional terendah dimiliki oleh perusahaan

Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar 0.1413 (14.13%).

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar

(bahkan seluruh) perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia periode 2003-

2006 mempunyai jumlah kepemilikan saham manajerial yang kecil atau kurang

81
dari 5%, ini menunjukan bahwa dengan kepemilikan manajerial yang rendah,

kekuasaan yang dimiliki oleh pihak manajemen atas perusahaan yang semakin

rendah. Hal ini juga menyebabkan segala tindakan dan keputusan yang dilakukan

oleh manajer diawasi oleh pihak institusi. Dengan kepemilikan saham

Institusioanal yang besar akan menimbulkan usaha pengawasan dan kontrol yang

lebih besar oleh pihak investor Institusi terhadap opportunistic manajer sehingga

pemanfaatan akan aktiva perusahaan semakin besar.

b. Faktor Ekstern

Faktor ekstern (X2), yaitu merupakan pengelompokan dari variabel-

variabel yang tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk dalam

faktor ekstern adalah tingkat suku bunga, keadaan pasar modal, dan pertumbuhan

pasar.

1) Tingkat Suku Bunga (X2.1)

Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat

bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank Umum

rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas penggunaan

modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana investasi dalam

bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun.

2) Keadaan Pasar Modal (X2.2)

82
Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai transaksi

perdagangan di BEI pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI.

Variabel pasar modal diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham

di BEI pada akhir tahun.

3) Pertumbuhan Pasar (X2.3)

Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia

dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur

dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume

penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada

tahun t-1.

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti

dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.3
Faktor Ekstern (X2).
No
. Nama Perusahaan Tingkat Suku Bunga
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
Asuransi International
3 Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
4 Astra Graphia Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
5 Astra Otoparts Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
7 Bank UOB Buana Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
Ekhadarma International
8 Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
9 Gudang Garam Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
12 Indosat Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
Intel Nickel Indonesia
13 Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
14 Kimia Farma Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585

83
15 Lautan Luas Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
18 Rig Tenders Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
20 Sorini Corporation Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
21 Sepatu Bata Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
Tambang Batu Bara
22 Bukit Tbk 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
Tunas Baru Lampung
24 Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
Rata-rata per tahun 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
Sumber : Data diolah

Dari tabel 4.3 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata tingkat suku

bunga per tahun yaitu pada tahun 2003 tingkat suku bunga sebesar 0.1699

(16.99%), pada tahun 2004 sebesar 0.1440 (14.4%), pada tahun 2005

sebesar 0.1413 (14.13%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.1585 (15.85%).

Dimana tingkat suku bunga tertinggi yaitu pada tahun 2003 sebesar 0.1699

(16.99%), dan tingkat suku bunga terendah yaitu pada tahun 2005 sebesar

0.1413 (14.13%). Semakin tinggi suku bunga berarti biaya penggunaan

dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk melakukan

peminjaman dan selanjutunya leverage akan menurun, dan sebaliknya

semakin rendah suku bunga berarti biaya penggunaan dana semakin

rendah sehingga perusahaan melakukan peminjaman yang tinggi dan

selanjutunya leverage akan meningkat. Semakin tinggi suku bunga akan

mengurangi minat investor untuk menginvestasikan dananya ke pasar

modal sehingga aktivitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan

akan menurun, begitu juga sebaliknya semakin rendah suku bunga akan

menambah minat investor untuk menginvestasikan dananya ke pasar


84
modal sehingga aktivitas perdagangan akan meningkat dan nilai

perusahaan akan meningkat.

Selanjutnya adalah tabel 4.4 keadaan pasar modal (X2.2) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X2)

yang merupakan besarnya nilai transaksi perdagangan di Bursa Efek

Indonesia , yang diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di

Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun 2003-2006.

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.4
Faktor Ekstern (X2).
No
. Nama Perusahaan Value Trade
2003 2004 2005 2006
1,098 6,660
1 AKR Corporatian Tbk. 6 5,1417 6,1356 6
1,757 0,182
2 Asuransi Bintang Tbk. 9 2,3514 0,6931 3
Asuransi International 9,330 10,16
3 Tbk. 4 9,7491 9,9166 28
6,021 5,505
4 Astra Graphia Tbk. 0 5,3660 6,2005 3
5,823 5,187
5 Astra Otoparts Tbk. 0 6,4968 5,6312 4
5,327 9,634
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 9 6,9147 8,4451 6
4,779 3,828
7 Bank UOB Buana Tbk. 1 7,0792 7,8120 6
Ekhadarma 1,609 0,693
8 International Tbk. 4 2,5649 1,6094 1
1,609 0,693
9 Gudang Garam Tbk. 4 2,5649 1,6094 1
Hexindo Adiperkasa 3,258 5,379
10 Tbk. 1 5,7683 5,0626 9

85
5,147 3,295
11 Indorama Sythentic Tbk. 5 5,3033 4,4659 8
8,740 9,942
12 Indosat Tbk. 7 9,3927 9,6366 6
Intel Nickel Indonesia 5,886 8,400
13 Tbk. 1 7,8002 7,8364 2
5,433 4,219
14 Kimia Farma Tbk. 7 4,9488 4,7362 5
4,644 4,499
15 Lautan Luas Tbk. 4 5,0814 6,3613 8
3,091 2,484
16 Panin Sekuritas Tbk. 0 2,1972 2,0794 9
7,084 7,550
17 Ramayana Lestari Tbk. 2 7,2392 7,2004 1
4,276 0,693
18 Rig Tenders Tbk. 7 3,4340 6,2558 1
3,850 1,386
19 Selamat Sempurna Tbk. 1 1,9459 1,9459 3
1,791 1,945
20 Sorini Corporation Tbk. 8 3,8501 2,8904 9
2,828 2,532
21 Sepatu Bata Tbk. 5 2,2439 2,1211 1
Tambang Batu Bara 4,110 6,413
22 Bukit Tbk 9 4,9345 4,3438 5
6,350 7,341
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 9 6,5425 5,6168 5
Tunas Baru Lampung 4,110 6,413
24 Tbk. 9 4,9345 4,3438 5
4,498 5,122 4,793
Rata-rata per tahun 4 5,1602 9 6
Sumber : Data diolah

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata per tahun keadaan

pasar modal yang diukur dari besarnya nilai transaksi perdagangan di BEI

pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal

diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir

tahun, pada tahun 2003 sebesar 4.4984, pada tahun 2004 rata-rata per

tahun sebesar 5.1602, pada tahun 2005 rata-rata per tahun sebesar 5.1229,

dan pada tahun 2006 rata-rata per tahun 4.7936. Dimana rata-rata pertahun

tertinggi yaitu pada tahun 2004 sebesar 5.1602, dan rata-rata pertahun

terendah yaitu pada tahun 2003 sebesar 4.4984. Semakin tinggi keadaan

86
pasar modal akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan

peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan

melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun

Selanjutnya adalah table 4.5 Pertumbuhan pasar (X2.3) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X2),

Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia dipasar

yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur dari

nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume penjualan

pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada tahun t-1.

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.5
Faktor Ekstern (X2).
No
. Nama Perusahaan Pertumbuhan Pasar
2003 2004 2005 2006
10,54 10,709 11,011 11,159
1 AKR Corporatian Tbk. 43 9 5 0
11,17 11,248 11,108 11,663
2 Asuransi Bintang Tbk. 94 8 7 0
Asuransi International 10,81 11,056 11,352 11,237
3 Tbk. 90 6 6 7

87
10,54 10,709 11,011 11,159
4 Astra Graphia Tbk. 43 9 5 0
10,81 11,056 11,352 11,237
5 Astra Otoparts Tbk. 90 6 6 7
10,38 10,647 10,909 11,077
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 66 0 0 1
11,17 11,248 11,108 11,663
7 Bank UOB Buana Tbk. 94 8 7 0
Ekhadarma International 10,98 10,894 11,041 11,074
8 Tbk. 04 6 8 7
10,98 10,894 11,041 11,074
9 Gudang Garam Tbk. 04 6 8 7
10,54 10,709 11,011 11,159
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 43 9 5 0
10,81 11,056 11,352 11,237
11 Indorama Sythentic Tbk. 90 6 6 7
10,38 10,647 10,909 11,077
12 Indosat Tbk. 66 0 0 1
Intel Nickel Indonesia 9,421 10,033 10,368 10,487
13 Tbk. 2 0 6 3
10,76 11,227 11,309 11,458
14 Kimia Farma Tbk. 49 4 3 2
10,54 10,709 11,011 11,159
15 Lautan Luas Tbk. 43 9 5 0
11,17 11,248 11,108 11,663
16 Panin Sekuritas Tbk. 94 8 7 0
10,54 10,709 11,011 11,159
17 Ramayana Lestari Tbk. 43 9 5 0
10,38 10,647 10,909 11,077
18 Rig Tenders Tbk. 66 0 0 1
10,81 11,056 11,352 11,237
19 Selamat Sempurna Tbk. 90 6 6 7
10,98 10,894 11,041 11,074
20 Sorini Corporation Tbk. 04 6 8 7
10,81 11,056 11,352 11,237
21 Sepatu Bata Tbk. 90 6 6 7
Tambang Batu Bara 10,76 11,227 11,309 11,458
22 Bukit Tbk 49 4 3 2
10,54 10,709 11,011 11,159
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 43 9 5 0
Tunas Baru Lampung 10,76 11,227 11,309 11,458
24 Tbk. 49 4 3 2
10,69 10,901 11,096 11,227
Rata-rata per tahun 65 2 1 0
Sumber : Data diolah

Dari tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan

pasar tertinggi pada tahun 2006 sebesar 11.2270 dan rata-rata

pertumbuhan pasar terendah adalah pada tahun 2003 yaitu sebesar

88
10.6965, dimana pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang

pasar bagus sehingga akan mendorong perusahaan untuk melakukan

pinjaman sehingga leverage akan meningkat, pertumbuhan pasar

menunjukan kinerja perusahaan menbaiksehingga investor akan merespon

positif dan nilai perusahaan akan meningkat.

c. Faktor Intern

Faktor intern (X3) merupakan variabel-variabel yang dapat

dikendalikan oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel

faktor intern adalah :

a. Profitabilitas (X3.1)

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba

operasi dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun.

b. Pembayaran Dividen (X3.2)

Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan

kepada pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan

besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun.

Variabel ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan

laba perlembar saham akhir rahun.

c. Ukuran Perusahaan

89
Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.

SIZE = Ln Total Assets it.

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti

dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel
Faktor Intern 4.6
No. Nama Perusahaan ROA(Return On Asset)
2003 2004 2005 2006
0,097 0,092
1 AKR Corporatian Tbk. 0,0880 5 5 0,0796
0,019 0,012
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,0304 8 7 0,0031
Asuransi International 0,204 0,174
3 Tbk. 0,2569 6 6 0,1014
0,104 0,105
4 Astra Graphia Tbk. 0,0367 0 4 0,1395
0,135 0,141
5 Astra Otoparts Tbk. 0,1512 1 6 0,1278
0,056 0,082
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0,0513 8 6 0,1479
0,025 0,030
7 Bank UOB Buana Tbk. 0,0223 5 8 0,0348
Ekhadarma International 0,098 0,086
8 Tbk. 0,0887 9 2 0,0862
0,124 0,122
9 Gudang Garam Tbk. 0,1516 8 5 0,0738
0,207 0,132
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,1075 7 5 0,0481
0,013 0,005
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,0132 0 0 0,0049
0,085 0,071
12 Indosat Tbk. 0,0600 5 8 0,0591
Intel Nickel Indonesia 0,252 0,234
13 Tbk. 0,1151 2 1 0,3509
0,105 0,070
14 Kimia Farma Tbk. 0,0560 3 0 0,0536
0,060 0,051
15 Lautan Luas Tbk. 0,0195 4 8 0,0344
0,085 0,069
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,0693 9 6 0,0834
0,161 0,167
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,1603 8 7 0,1584
18 Rig Tenders Tbk. 0,0697 0,103 0,089 0,0242
90
4 6
0,150 0,153
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,1299 6 9 0,1470
0,117 0,099
20 Sorini Corporation Tbk. 0,0952 2 9 0,0694
0,201 0,125
21 Sepatu Bata Tbk. 0,2339 9 8 0,1194
Tambang Batu Bara Bukit 0,241 0,230
22 Tbk 0,1553 9 0 0,2153
0,203 0,172
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,2236 5 6 0,1475
Tunas Baru Lampung 0,021 0,012
24 Tbk. 0,0407 7 8 0,0386
0,120 0,105 0,097
Rata-rata per tahun 0,1011 0 7 8
Sumber : data diolah

Dari tabel 4.6 tersebut dapat kita lihat bahwa rata-rata pertahun

ROA pada tahun 2003 sebesar 0.1011 (10.11%), pada tahun 2004 sebesar

0.1200 (12%), pada tahun 2005 0.1057 (10.57%), dan pada tahun 2006

sebesar 0.0978 (9.78%). Dimana rata-rata pertahun tertingggi yaitu pada

tahun 2004 sebesar 0.1200 (12%),dan rata-rata pertahun terendah yaitu

pada tahun 2006 sebesar 0.0978 (9.78%). Pada tahun 2003 ROA tertinggi

dimiliki oleh perusahaan Asuransi Internasional Tbk. yaitu sebesar 0.2569

(25.69%), untuk tahun 2004, 2005, dan 2006 ROA tertinggi dimiliki oleh

perusahaan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu masing-masing sebesar

0.2522 (25.22%) untuk tahun 2004, 0.2341 (23.41%) untuk tahun 2005,

dan 0.3509 (35.09%) untuk tahun 2006. Pada tahun 2003, 2004, dan 2005

ROA terendah dimiliki perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar

0.0132 (1.32%) untuk tahun 2003, 0.0130 (1.3%) untuk tahun 2004, dan

0.0050 (0.5%) untuk tahun 2005. Pada tahun 2006 ROA terendah dimiliki

oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. yaitu sebesar 0.0031 (0.31%).

91
Profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba ditahan sehingga

akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan pinjaman dan

leverage akan menurun. Probabilitas yang tinggi menunjukkan prospek

perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal

tersebut dan nilai perusahaan meningkat.

Selanjutnya adalah tabel 4.7 dividen payout ratio (X3.2) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X3).

Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan kepada

pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan

besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun.

Variabel ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan

laba perlembar saham akhir tahun.

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.7
Faktor Intern (X3)
No. Nama Perusahaan DPR(Dividen Payout Ratio)
2003 2004 2005 2006
0,19 0,327 0,313 0,316
1 AKR Corporatian Tbk. 31 9 9 7
0,40 0,832 0,502 0,676
2 Asuransi Bintang Tbk. 83 8 2 0
Asuransi International 0,00 0,005 0,004 0,005
3 Tbk. 51 0 8 4
0,75 2,817 0,934 1,165
4 Astra Graphia Tbk. 50 9 9 1
0,18 0,206 0,276 0,205
5 Astra Otoparts Tbk. 30 5 4 1
0,20 0,127 0,128 0,138
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 80 8 9 0
0,36 0,300 0,300 0,300
7 Bank UOB Buana Tbk. 49 1 2 0
Ekhadarma International 0,10 0,500 0,539 0,291
8 Tbk. 30 1 1 0

92
0,31 0,537 0,509 0,477
9 Gudang Garam Tbk. 39 4 1 3
0,35 0,395 0,395 0,362
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 56 1 2 2
0,25 0,256 0,481 0,506
11 Indorama Sythentic Tbk. 61 0 0 8
0,09 0,499 0,492 0,500
12 Indosat Tbk. 53 1 6 0
Intel Nickel Indonesia 0,35 0,412 0,372 1,023
13 Tbk. 76 3 5 1
0,40 0,298 0,300 0,299
14 Kimia Farma Tbk. 00 2 0 2
0,20 0,255 0,252 0,210
15 Lautan Luas Tbk. 40 4 9 3
0,18 0,146 0,171 0,172
16 Panin Sekuritas Tbk. 56 9 3 9
0,55 0,134 0,511 0,495
17 Ramayana Lestari Tbk. 53 7 7 0
1,05 0,528 0,675 0,786
18 Rig Tenders Tbk. 04 6 5 6
0,94 0,452 0,863 3,216
19 Selamat Sempurna Tbk. 90 7 8 3
0,13 0,205 0,303 0,388
20 Sorini Corporation Tbk. 61 2 5 7
0,54 0,556 0,518 0,499
21 Sepatu Bata Tbk. 27 1 2 7
Tambang Batu Bara Bukit 0,50 0,474 0,500 0,500
22 Tbk 32 2 9 0
0,55 0,554 0,454 0,041
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 78 8 8 3
Tunas Baru Lampung 0,31 0,294 0,202 0,298
24 Tbk. 94 5 5 1
0,37 0,463 0,416 0,536
Rata-rata per tahun 51 3 9 5
Sumber : data diolah

Pada tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa rata-rata rasio

pembayaran dividen yang dilakukan perusahaan pada tahun 2003 sebesar

0.3751 (37.51%), pada tahun 2004 sebesar 0.4633 (46.33%), pada tahun

2005 sebesar 0.4169 (41.69%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.5365

(53.65%). Rata-rata rasio pembayaran dividen tertinggi pada tahun 2006

sebesar 0.5365 (53.65%), dan rata-rata rasio pembayaran dividen

terendah pada tahun 2003 sebesar 0.3751 (37.51%). Pada tahun 2003

rasio pembayaran dividen (dividen payout ratio) tertinggi dimiliki oleh


93
perusahaan Rig Tenders Tbk. yaitu sebesar 1.0504 (105.04%), untuk

tahun 2004 DPR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra Graphia Tbk.

yaitu sebesar 2.8179 (281.79%), untuk tahun 2005 DPR tertinggi

dimiliki oleg perusahaan Astra Graphia Tbk. yaitu sebesar 0.9349

(93.49%), dan DPR tertinggi untuk tahun 2006 dimiliki oleh perusahaan

Selamat Sempurna Tbk. yaitu sebesar 3.2163 (321.63%). Ini dapat

dibuktikan bahwa hampir atau lebih dari 100% keuntungan yang

diperoleh perusahaan dibagikan kepada para pemegang saham dalam

bentuk dividen, sementara itu DPR terendah yang dibayarkan perusahaan

kepada pemegang saham adalah Asuransi Internasional Tbk. pada tahun

2003 yaitu sebesar 0.0051 (0.51%), tahun 2004 sebesar 0.0050 (0.5%),

tahun 2005 sebesar 0.0048 (0.48%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.0054

(0.54%).

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan-

perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia selama 2003 sampai

dengan 2006 memiliki rata-rata DPR yang cukup tinggi sekitar (44.7%).

Ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari keuntungan yang diperoleh

perusahaan digunakan untuk membayar dividen kepada pemegang saham

dan sisanya akan diinvestasikan kembali kedalam perusahaan dalam

bentuk laba ditahan. Peningkatan pembayaran dividen akan mengurangi

laba yang ditahan sehingga sumber dana intern akan menurun dan

perusahaan akan tertarik untuk melakukan pinjaman sehingga leverage

akan meningkat, dan pembayaran dividen yang semakin meningkat

94
menunjukkan prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan

tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan meningkat.

Selanjutnya adalah tabel 4.8 ukuran perusahaan (X3.3) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X3).

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.8
Faktor Intern (X3).
No. Nama Perusahaan Total Asset
2003 2004 2005 2006
13,44 14,340 14,498 14,681
1 AKR Corporatian Tbk. 77 4 5 5
12,16 12,019 12,070 12,114
2 Asuransi Bintang Tbk. 35 1 7 7
Asuransi International 17,12 17,482 17,482 17,665
3 Tbk. 62 8 8 4
4 Astra Graphia Tbk. 13,46 13,255 13,159 13,279
95
55 2 3 1
14,48 14,706 14,923 14,923
5 Astra Otoparts Tbk. 71 1 6 5
14,91 15,288 15,883 15,883
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 76 4 5 5
16,47 16,610 16,588 16,640
7 Bank UOB Buana Tbk. 82 0 1 2
Ekhadarma International 11,01 11,052 11,227 11,220
8 Tbk. 58 3 4 5
16,66 16,840 16,912 16,894
9 Gudang Garam Tbk. 85 4 4 3
13,27 13,363 13,882 14,001
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 85 1 7 2
15,32 15,412 15,520 15,493
11 Indorama Sythentic Tbk. 63 4 9 0
17,07 17,143 17,305 17,348
12 Indosat Tbk. 95 1 5 6
Intel Nickel Indonesia 16,20 16,459 16,598 16,768
13 Tbk. 75 2 0 2
14,12 13,975 13,975 13,979
14 Kimia Farma Tbk. 80 4 4 0
14,02 14,169 14,291 14,420
15 Lautan Luas Tbk. 15 7 0 1
12,61 12,611 13,081 13,568
16 Panin Sekuritas Tbk. 69 5 5 9
14,73 14,755 14,664 14,742
17 Ramayana Lestari Tbk. 67 0 9 9
13,02 13,325 13,415 13,758
18 Rig Tenders Tbk. 93 4 6 6
13,35 13,386 13,404 13,482
19 Selamat Sempurna Tbk. 76 2 7 4
13,18 13,187 13,372 12,355
20 Sorini Corporation Tbk. 25 2 8 6
12,35 12,478 12,630 12,511
21 Sepatu Bata Tbk. 56 1 6 6
Tambang Batu Bara Bukit 14,52 14,684 14,859 14,949
22 Tbk 36 8 2 4
14,47 14,577 14,668 14,723
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 99 0 1 5
Tunas Baru Lampung 13,95 14,117 14,188 14,532
24 Tbk. 64 2 1 9
14,25 14,38 14,52 14,58
Rata-rata per tahun 21 50 52 08
Sumber : data diolah

Pada tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa rata-rata pertahun total

asset pada tahun 2003 sebesar 14.2521, pada tahun 2004 sebesar 14.3850,

tahun 2005 sebesar 14.5252, dan tahun 2006 sebesar 14.5808. Rata-rata

total asset tertinggi pada tahun 2006 yaitu sebesar 14.5808, dan rata-rata
96
terendah pada tahun 2003 yaitu sebesar 14.2521. Pada tahun 2003, 2004,

2005, dan 2006 total asset tertinggi dimiliki oleh perusahaan Asuransi

International Tbk. yaitu sebesar 17,1262, untuk tahun 2003, sebesar

17.4828 untuk tahun 2004 dan 2005, dan sebesar 17.6654 untuk tahun

2006. Pada tahun 2003, 2004, 2005, dan 2006 total asset terendah dimiliki

oleh perusahaan Ekhadarma International Tbk. yaitu sebesar 11,0158

untuk tahun 2003, sebesar 11,0523 untuk tahun 2004, sebesar 11,2274

untuk tahun 2005, dan sebesar 11,2205 untuk tahun 2006. Ukuran

perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan.

Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa

dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang sehingga leverage akan

meningkat. Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan

mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan

nilai perusahaan akan meningkat.

d. Struktur Modal (leverage)

Struktur modal dapat diukur melalui beberapa indikator

diantaranya Debt to Equity Ratio (DER), dan Debt to Asset Ratio (DAR).

Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari beberapa indikator tersebut dapat

ditunjukkan pada tabel 4.9 sebagai berikut :

97
Tabel
Leverage 4.9
No
. Nama Perusahaan DER
2003 2004 2005 2006
0,450 0,860
1 AKR Corporatian Tbk. 0 0,7800 0 1,0900
1,380 1,350
2 Asuransi Bintang Tbk. 0 1,1300 0 1,1100
Asuransi International 1,190 1,110
3 Tbk. 0 1,1800 0 1,4100
1,120 0,820
4 Astra Graphia Tbk. 0 0,7200 0 0,9800
0,520 0,710
5 Astra Otoparts Tbk. 0 0,6200 0 0,5700
1,780 2,940
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0 1,6200 0 1,6200
7,520 6,380
7 Bank UOB Buana Tbk. 0 7,6000 0 4,1600
Ekhadarma International 0,220 0,370
8 Tbk. 0 0,1800 0 0,2900
0,580 0,690
9 Gudang Garam Tbk. 0 0,6900 0 0,6500
1,830 2,100
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0 1,2500 0 2,4800
25,61 48,10 50,680
11 Indorama Sythentic Tbk. 00 25,6000 00 0
1,130 1,280
12 Indosat Tbk. 0 1,1000 0 1,2400
Intel Nickel Indonesia 0,500 0,270
13 Tbk. 0 0,4000 0 0,2600
0,810 0,390
14 Kimia Farma Tbk. 0 0,4400 0 0,4500
1,940 2,100
15 Lautan Luas Tbk. 0 1,9700 0 2,4300
1,930 2,150
16 Panin Sekuritas Tbk. 0 1,4200 0 2,7300
0,650 0,330
17 Ramayana Lestari Tbk. 0 0,5400 0 0,3000
0,040 0,040
18 Rig Tenders Tbk. 0 0,0400 0 0,6600
0,590 0,610
19 Selamat Sempurna Tbk. 0 0,7100 0 0,5300
0,710 0,670
20 Sorini Corporation Tbk. 0 0,6000 0 0,7200
0,470 0,730
21 Sepatu Bata Tbk. 0 0,5000 0 0,4300
Tambang Batu Bara Bukit 0,340 0,380
22 Tbk 0 0,4100 0 0,3500
0,190 0,260
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0 0,2000 0 0,2300
Tunas Baru Lampung 1,280 1,830
24 Tbk. 0 1,6500 0 1,3700
2,199 3,186
Rata-rata per tahun 2 2,1396 3 3,1975
Sumber : data diolah

Dari tabel 4.9 diatas menunjukkan bahwa rata-rata debt to equity

ratio (DER) pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun
98
2003, 2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata debt to equity ratio (DER)

mencapai 2.1992 dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 25.6100 dan terendah dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2004

rata-rata debt to equity ratio (DER) mencapai 2.1396 dimana nilai DER

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar

25.6000 dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu

sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2005 rata-rata debt to equity ratio (DER)

mencapai 3.1863, dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 48.1000, dan terendah dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400,dan tahun 2006 rata-rata

debt to equity ratio (DER) mencapai 3.1975, dimana nilai DER tertinggi

dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 50.6800,

dan terendah dimiliki oleh perusahaan Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu

sebesar 0.2300.

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa dalam membiayai hutang

jangka panjang perusahaan-perusahaan yang listed di Bursa Efek

Indonesia selama periode 2003-2006 menggunakan equity yang dimiliki.

Selanjutnya adalah tabel 4.10 Debt to Asset Ratio (DAR) (Y1.2)

yang merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi struktur modal

(leverage) (Y1). Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti

dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

99
Tabel
Leverage 4.10
No
. Nama Perusahaan DAR
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,3000 0,4000 0,4200 0,4800
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,5700 0,5300 0,5700 0,5300
Asuransi International
3 Tbk. 0,5100 0,5000 0,4800 0,5400
4 Astra Graphia Tbk. 0,5300 0,4200 0,4500 0,4900
5 Astra Otoparts Tbk. 0,5700 0,5300 0,5700 0,5300
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0,6400 0,6200 0,7500 0,6200
7 Bank UOB Buana Tbk. 0,8800 0,8800 0,8600 0,8100
Ekhadarma International
8 Tbk. 0,1800 0,1500 0,2700 0,2200
9 Gudang Garam Tbk. 0,3700 0,4100 0,4100 0,3900
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,6500 0,5500 0,6800 0,7100
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,5700 0,5600 0,5800 0,6000
12 Indosat Tbk. 0,5300 0,5200 0,5600 0,5500
Intel Nickel Indonesia
13 Tbk. 0,3300 0,2900 0,2200 0,2100
14 Kimia Farma Tbk. 0,4500 0,3100 0,2800 0,3100
15 Lautan Luas Tbk. 0,6300 0,6300 0,6500 0,6700
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,6600 0,5900 0,6800 0,7300
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,3900 0,3500 0,2500 0,2300
18 Rig Tenders Tbk. 0,0400 0,0400 0,0400 0,4000
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,3400 0,3800 0,3400 0,3300
20 Sorini Corporation Tbk. 0,3800 0,3600 0,3800 0,4000
21 Sepatu Bata Tbk. 0,3200 0,3300 0,4200 0,3000
Tambang Batu Bara Bukit
22 Tbk 0,2500 0,2900 0,2700 0,2600
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,1600 0,1600 0,2000 0,1800
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 0,5600 0,6200 0,6500 0,5800
Rata-rata per tahun 0,4504 0,4342 0,4575 0,4613
Sumber : data diolah

100
Dari tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa rata-rata debt to asset

ratio (DAR) pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun

2003, 2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata debt to asset ratio (DAR)

mencapai 0.4504 dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8800 dan terendah dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2004

rata-rata debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4342 dimana nilai DAR

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar

0.8800 dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu

sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2005 rata-rata debt to asset ratio (DAR)

mencapai 0.4575, dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8600, dan terendah dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400,dan tahun 2006 rata-rata

debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4613, dimana nilai DAR tertinggi

dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8100, dan

terendah dimiliki oleh perusahaan Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar

0.1800.

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa dalam membiayai hutang

jangka panjang perusahaan-perusahaan yang listed di Bursa Efek

Indonesia selama periode 2003-2006 menggunakan aktiva yang dimiliki.

e. Nilai Perusahaan

101
Nilai perusahaan dapat diukur dari beberapa indicator diantaranya

Price Earning Ratio (PER), dan Price Book Value (PBV).

Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang

diteliti dapat ditunjukkan pada tabel 4.11 sebagai berikut :

Tabel
Nilai Perusahaan 4.11
No
. Nama Perusahaan PER
2003 2004 2005 2006
13,280
1 AKR Corporatian Tbk. 3,4800 9,4300 7,7400 0
19,780 11,800 67,600
2 Asuransi Bintang Tbk. 5,0400 0 0 0
Asuransi International 17,120
3 Tbk. 4,5600 7,1900 7,5700 0
11,560 11,030
4 Astra Graphia Tbk. 20,7600 0 0 7,4000
5 Astra Otoparts Tbk. 5,6700 6,6200 7,7400 8,0000
11,930
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 13,8700 0 6,7000 6,0000
14,510 15,840 15,770
7 Bank UOB Buana Tbk. 12,3700 0 0 0
Ekhadarma International 12,250 14,660 15,520
8 Tbk. 9,7800 0 0 0
14,560 11,860 19,470
9 Gudang Garam Tbk. 14,2300 0 0 0
19,170
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 3,6600 5,6500 8,2500 0
15,070 17,380
11 Indorama Sythentic Tbk. 8,4000 8,8900 0 0
12 Indosat Tbk. 9,8500 4,6300 4,9400 6,6500
Intel Nickel Indonesia
13 Tbk. 9,8500 4,6300 4,9400 6,6500
14,640 15,240 20,830
14 Kimia Farma Tbk. 27,1700 0 0 0
10,640
15 Lautan Luas Tbk. 29,0700 5,5600 7,1400 0
16 Panin Sekuritas Tbk. 5,1500 4,7000 3,0300 2,6800
17,400 18,840 19,660
17 Ramayana Lestari Tbk. 20,1300 0 0 0
11,150 39,330
18 Rig Tenders Tbk. 12,8200 8,7200 0 0
19 Selamat Sempurna Tbk. 7,1800 6,5600 6,5900 6,8700
11,660
20 Sorini Corporation Tbk. 4,0800 5,5100 5,7700 0
21 Sepatu Bata Tbk. 5,1000 5,1900 7,5100 9,0300
22 Tambang Batu Bara 7,5900 7,7500 8,8800 16,720
0

102
Bukit Tbk
10,540 14,860
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 8,2300 0 8,5700 0
Tunas Baru Lampung 22,580 51,950 18,720
24 Tbk. 10,2200 0 0 0
10,032 11,367 16,292
Rata-rata per tahun 10,7608 5 1 1
Sumber : data diolah

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa rata-rata PER dari semua industri

pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan tahun 2003, 2004, dan 2005.

Tahun 2003 rata-rata PER dari semua industri sebesar 10.7608, dimana

nilai tertinggi PER dimiliki oleh perusahaan Lautan Luas Tbk. yaitu

sebesar 29.0700 sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan AKR

Corporation Tbk. yaitu sebesar 3.4800. Sementara itu rata-rata PER tahun

2004 rata-rata PER dari semua industri sebesar 10.0325, dimana nilai

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tunas Baru Lampung Tbk. yaitu

sebesar 22.5800, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indosat

Tbk. dan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu sebesar 4.6300. Sementara itu

rata-rata PER tahun 2005 rata-rata PER dari semua industri sebesar

11.3671, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tunas Baru

Lampung Tbk. yaitu sebesar 51.9500, sedangkan terendah dimiliki oleh

perusahaan Indosat Tbk. dan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu sebesar

4.9400. Selanjutnya rata-rata PER tahun 2006 rata-rata PER dari semua

industri sebesar 16.2921, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Asuransi Bintang Tbk. yaitu sebesar 67.6000, sedangkan terendah

dimiliki oleh perusahaan Panin Sekuritas Tbk. yaitu sebesar 2.6800.

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi PER maka

semakin tinggi pula prospek pertumbuhan dimasa depan, karena menurut


103
Foster (1986) dalam Yetti Iswahyuni (2002) dalam Malla Bahagia (2008),

PER dapat mempresentasikan aliran laba masa depan. Semakin besar PER,

maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh

sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Selanjutnya adalah tabel 4.12 Price Book Value (Y2.2) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan

(Y2). Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel
Nilai Perusahaan 4.12
No. Nama Perusahaan PBV
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,4000 0,8400 0,9500 1,6400
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,3700 0,4900 0,5100 1,0100
Asuransi International
3 Tbk. 1,7200 2,3600 2,0600 2,8400
4 Astra Graphia Tbk. 1,3400 1,3000 1,4000 1,3900
5 Astra Otoparts Tbk. 0,9800 1,0600 1,3200 1,2100
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 1,9100 1,7400 2,1500 2,3100
7 Bank UOB Buana Tbk. 1,6300 2,1600 2,5300 1,9700
Ekhadarma
8 International Tbk. 0,8500 1,0200 1,3900 1,5500
9 Gudang Garam Tbk. 2,3900 2,1400 1,7100 1,4900
Hexindo Adiperkasa
10 Tbk. 0,7500 1,8200 2,3400 2,1900
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,1800 0,1900 0,1300 0,1500
12 Indosat Tbk. 1,2700 2,3000 2,0800 2,4100
Intel Nickel Indonesia
13 Tbk. 1,1900 1,1400 1,0300 2,0300
14 Kimia Farma Tbk. 1,5500 1,4000 0,9500 1,0500
15 Lautan Luas Tbk. 0,5600 0,6300 0,7500 0,6200
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,9500 0,9300 0,6300 0,8000
17 Ramayana Lestari Tbk. 3,9900 3,2700 3,2300 3,1600
18 Rig Tenders Tbk. 0,8500 0,8500 0,9400 1,0700
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,9600 1,1000 1,0700 1,0100
20 Sorini Corporation Tbk. 0,4800 0,6200 0,6000 0,9100

104
21 Sepatu Bata Tbk. 1,1600 1,0400 1,0700 0,9600
Tambang Batu Bara
22 Bukit Tbk 1,2300 1,9300 2,0200 3,5400
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 1,7000 2,0000 1,4200 2,0900
Tunas Baru Lampung
24 Tbk. 0,5100 0,7300 0,6300 1,1500
Rata-rata per tahun 1,2050 1,3775 1,3713 1,6063
Sumber : data diolah

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa rata-rata PBV dari semua industri

pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan tahun 2003, 2004, dan 2005.

Tahun 2003 rata-rata PBV dari semua industri sebesar 1.2050, dimana

nilai tertinggi PBV dimiliki oleh perusahaan Ramayana Lestari Tbk. yaitu

sebesar 3.9900 sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama

Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1800. Sementara itu rata-rata PBV tahun

2004 dari semua industri sebesar 1.3775 dimana nilai tertinggi dimiliki

oleh perusahaan Ramayana Lestari Tbk. yaitu sebesar 3.2700, sedangkan

terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar

0.1900. Sementara itu rata-rata PBV tahun 2005 dari semua industri

sebesar 1.3713, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Ramayana

Lestari Tbk. yaitu sebesar 3.2300 sedangkan terendah dimiliki oleh

perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1300. Selanjutnya

rata-rata PBV tahun 2006 dari semua industri sebesar 1.6063, dimana nilai

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tambang Batu Bara Bukit Tbk. yaitu

sebesar 3.5400, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama

Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1500. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa

semakin tinggi PBV maka semakin tinggi pula prospek pertumbuhan

dimasa depan.

105
C. Pengujian dan Pembahasan

1. Pengujian Model Secara Keseluruhan

Berdasarkan pada output analisis SEM yang menggunakan software

Lisrel diperoleh nilai-nilai yang digunakan sebagai acuan dalam pengujian

model secara keseluruhan. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 4.13
Uji kecocokan pada beberapa Kriteria Goodness of Fit Index

Goodness of Fit Cut Off Value Hasil Penelitian Evaluasi Model


Index
Degree Of Freedom Positif 44
Normed Chi Square <2 1.25 Over fitting
(X²⁄df)
RMR < 0.05 0.048 Good fit
RMSEA < 0.05 0.040 Good fit
GFI > 0.90 0.92 Good fit
AGFI > 0.90 0.86 Cukup fit
NFI 0.9 0.90 Good fit
NNFI 0.9 0.97 Good fit
CFI 0.9 0.98 Good fit
RFI 0.9 0.86 Good fit
PNFI 0-1 0.60 Cukup fit
PGFI 0-1 0.52 Cukup fit

Koefisien Goodness of Fit Index diatas menunjukkan adanya kecocokan

model dengan tingkat kecocokan yang baik. Dari beberapa indikator yang

digunakan dalam menilai kecocokan model ini, seluruhnya terpenuhi dengan baik.

Hal ini dapat ditujukan dari beberapa indikator fit diantaranya adalah :

106
• Normed Chi-Square (X²⁄df) yang mempunyai nilai sebesar 1.25, karena

nilai tersebut mendekati nilai yang direkomendasikan yaitu 1 < X²⁄df < 2,

maka dapat dikatakan bahwa model tersebut Over fitting. Hal ini

disesuaikan dengan standar penilaian kesesuaian yang dilakukan oleh

beberapa peneliti yaitu Holmes Smith (2002) dalam Didi Achjari (2003)

menyatakan bahwa nilai normed chi-square antara 2-3 merupakan

reasonable good fit. Kelloway (1998) menyatakan bahwa model dikatakan

fit jika 2 < X²⁄df < 5 dan dikatakan overfitting nilai normed chi-square < 2.

• RMR ( Root Mean Square Residual ) yang menunjukkan good fit karena

RMR mempunyai nilai 0.048, nilai tersebut lebih dari yang

direkomendasikan yaitu 0.050.

• RMSEA ( Root Mean Square Error of Appoximation ) yang menunjukkan

bahwa model adalah good fit, karena RMSEA mempunyai nilai 0.040

yang mendekati 0.05.

• GFI ( Goodness of Fit Index ) yang mempunyai nilai sebesar 0.92, yang

menunjukkan bahwa model adalah good fit karena mendekati nilai yang

direkomendasikan sebesar 0.90.

• AGFI ( Adjusted Goodness of Fit Index ) yang mempunyai nilai sebesar

0.86 lebih kecil dari nilai yang direkomendasikan yaitu 0.90, sehingga

dapat dikatakan bahwa model adalah cukup fit.

107
• NFI ( Normed Fit Index ) menunjukkan bahwa model adalah good fit. Ini

dapat dilihat dari nilai NFI yaitu sebesar 0.90, nilai tersebut sama dengan

nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90.

• NNFI / Tucker Lewis Index (TLI) yang mempunyai nilai sebesar 0.97,

menunjukkan bahwa model adalah good fit, karena nilai tersebut

mendekati dari yang direkomendasikan yaitu 0.90.

• CFI ( Comparative Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.98 lebih besar

dari nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90, sehingga dapat

dikatakan bahwa model adalah good fit.

• RFI ( Relative Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.86 lebih kecil dari

nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90, sehingga dapat dikatakan

bahwa model adalah good fit.

• PNFI ( Parsimony Normed Fit Index ) menunjukkan bahwa model adalah

cukup fit, ini dapat dilihat dari nilai PNFI yang sebesar 0.60, nilai tersebut

berkisar 0-1 dimana nilai yang mendekati 1 tersebut menunjukkan model

cukup fit.

• PGFI ( Parsimony Goodness Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.52

sehingga dikatakan bahwa model cukup fit karena nilai tersebut berkisar 0-

1 dimana nilai yang mendekati 1 tersebut menunjukkan model cukup fit.

Berdasarkan pada nilai-nilai koefisien diatas yang memenuhi

pesyaratan kecocokan sebuah model, maka dapat disimpulkan bahwa

secara umum, model yang diperoleh memiliki tingkat kecocokan yang

baik.

108
2. Pengujian Jalur Individual – Measurement Model

Setelah dilakukan pengujian secara keseluruhan, langkah

selanjutnya adalah melakukan pengujian secara individual, yaitu untuk

melihat apakah seluruh jalur yang dihipotesiskan memiliki tingkat

signifikansi yang baik atau tidak. Untuk mengetahui apakah masing-

masing jalur memiliki tingkat signifikansi yang tinggi atau tidak dilakukan

dengan melihat nilai t-hitung yang diperoleh. Sebuah jalur dikatakan

signifikans jika nilai t-hitung untuk jalur tersebut lebih besar dari 1,96.

Berikut diagram yang berisikan nilai-nilai T-Value dan Standardized

Solution untuk seluruh koefisien jalur :

Gambar 4.1

T-Value

109
Gambar 4.2

Koefisien Path

110
Dari path diagram diatas dapat menunjukkan hubungan indikator

terhadap variabel latennya yaitu sebagai berikut :

1. Kepemilikan Manajerial (X1.1) terhadap Struktur Kepemilikan Saham.

Kepemilikan manajerial mempunyai koefisien path (jalur) positif

dan hubungan yang signifikan terhadap struktur kepemilikan saham, hal

ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.91 dan nilai-t hitung

yang sebesar 6.28 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar

1.96, sehingga indikator kepemilikan manajerial mempunyai tingkat

signifikan yang baik. Kepemilikan manajerial mempunyai koefisien path

sebesar 0.91 (91%) terhadap struktur kepemilikan saham.

2. Kepemilikan Institusional (X1.2) terhadap Struktur Kepemilikan Saham.

111
Kepemilikan institusional mempunyai koefisien path (jalur) positif

dan hubungan yang signifikan terhadap struktur kepemilikan saham, hal

ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.75 dan nilai-t hitung

yang sebesar 5.62 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar

1.96, sehingga indikator kepemilikan institusional mempunyai tingkat

signifikan yang baik. Kepemilikan Institusional mempunyai koefisien path

sebesar 0.75 (75%) terhadap struktur kepemilikan saham. Kepemilikan

Institusional merupkan indikator dari Struktur Kepemilikan Saham dimana

indikator ini paling mewakili variabel latennya. Kepemilikan institusional

mempunyai koefisien path sebesar 0.75 (75%) terhadap struktur

kepemilikan saham.

3. Tingkat Suku Bunga (X2.1) terhadap Faktor Ekstern.

Tingkat suku bunga merupakan indikator dari faktor ekstern.

Tingkat suku bunga mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

hubungan yang signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan

dari koefisien jalur yang sebesar 0.97 dan nilai-t hitung yang sebesar 12.51

yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

indikator tingkat suku bunga mempunyai tingkat signifikan yang baik.

Tingkat suku bunga mempunyai koefisien path sebesar 0.97 (97%)

terhadap factor ekstern.

4. Keadaan Pasar Modal (X2.2) terhadap faktor Ekstern.

112
Keadaan Pasar Modal merupakan indikator dari Faktor Ekstern,

dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Keadaan pasar

modal mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang

signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien

jalur yang sebesar 0.94 dan nilai-t hitung yang sebesar 11.99 yang lebih

besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator

keadaan pasar modal mempunyai tingkat signifikan yang baik. Keadaan

pasar modal mempunyai koefisien path sebesar 0.94 (94%) terhadap factor

ekstern.

5. Pertumbuhan Pasar (X2.3) terhadap Faktor Ekstern.

Pertumbuhan pasar mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

hubungan yang signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan

dari koefisien jalur yang sebesar 0.75 dan nilai-t hitung yang sebesar 8.56

yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

indikator pertumbuhan pasar mempunyai tingkat signifikan yang baik.

Pertumbuhan pasar mempunyai koefisien path sebesar 0.75 (75%)

terhadap factor ekstern.

6. Profitabilitas (X3.1) terhadap Faktor Intern.

Profitabilitas merupakan indikator dari Faktor Intern, dimana

indikator ini paling mewakili variabel latennya. Profitabilitas mempunyai

koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap faktor

intern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.81 dan

nilai-t hitung yang sebesar 8.19 yang lebih besar dibandingkan dengan t-

113
tabel sebesar 1.96, sehingga indikator probabilitas mempunyai tingkat

signifikan yang baik. Profitabilitas mempunyai koefisien path sebesar 0.81

(81%) terhadap factor intern.

7. Pembayaran Dividen (X3.2) terhadap Faktor Intern.

Pembayaran dividen mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

hubungan yang signifikan terhadap faktor intern, hal ini dapat ditujukan

dari koefisien jalur yang sebesar 0.52 dan nilai-t hitung yang sebesar 5.02

yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

indikator pembayaran dividen mempunyai tingkat signifikan yang baik.

Pembayaran dividen mempunyai koefisien path sebesar 0.52 (52%)

terhadap factor intern.

8. Ukuran Perusahaan (X3.3) terhadap Faktor Intern.

Ukuran Perusahaan mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

hubungan yang signifikan terhadap faktor intern, hal ini dapat ditujukan

dari koefisien jalur yang sebesar 0.86 dan nilai-t hitung yang sebesar 8.77

yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

indikator ukuran perusahaan mempunyai tingkat signifikan yang baik.

Ukuran Perusahaan mempunyai koefisien path sebesar 0.88 (86%)

terhadap factor intern.

9. Debt to Asset Ratio (Y1.2) terhadap Leverage.

Debt to Asset Ratio merupakan indikator dari Leverage, dimana

indikator ini paling mewakili variabel latennya. Debt to Asset Ratio

114
mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan

terhadap leverage, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar

0.92 dan nilai-t hitung yang sebesar 5.84 yang lebih besar dibandingkan

dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator Debt to Asset Ratio

mempunyai tingkat signifikan yang baik. Debt to Asset Ratio mempunyai

koefisien path sebesar 0.92 (92%) terhadap Leverage.

10. Price Book Value (Y2.2) terhadap Nilai Perusahaan.

Price Book Value merupakan indikator dari nilai perusahaan,

dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Price Book Value

mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan

terhadap nilai perusahaan, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang

sebesar 0.87 dan nilai-t hitung yang sebesar 3.32 yang lebih besar

dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator Price Book

Value mempunyai tingkat signifikan yang baik. Price Book Value

mempunyai koefisien path sebesar 0.87 (87%) terhadap Nilai Perusahaan.

Dari gambar 4.1 diatas terlihat bahwa jalur dari indikator terhadap

latennya yang dihipotesiskan nilai t-hitung yang lebih besar dari 1.96 dan

dapat disimpulkan bahwa seluruh koefisien jalur tersebut signifikan,

kecuali indikator Y1.1 dan Y2.2 tidak memiliki t-value, karena didalam

SEM indikator pertama dari variabel endogen tidak memiliki nilai t (t-

value).

3. Pengujian Jalur Individual – Stuctrural Model

115
Langkah berikutnya adalah menguji struktural model. Ada dua hal yang

harus diperhatikan, yaitu :

1.Signifikansi koefisien Beta dan Gamma dengan uji t

2.Kecocokan dari model structural dengan memperhatikan nilai R²

(Squared Multiple Correlation).

Tabel 4.14
Hubungan Beta dan Gamma
Koefisien Path
Hipotesis Variabel indipenden Variabel Dependen (t-value)
Struktur Modal
H₁ Struktur Kepemilikan Saham (leverage) -0.30 (-2.47)
H₂ Struktur Kepemilikan Saham Nilai Perusahaan 0.12 (0.94)
Struktur Modal
H₃ Faktor Ekstern (leverage) -0.24 (-2.16)
H₄ Faktor Ekstern Nilai Perusahaan 0.05 (0.49)
Struktur Modal
H₅ Faktor Intern (leverage) -0.38 (-2.95)
H₆ Faktor Intern Nilai Perusahaan 0.18 (1.28)
H₇ Struktur Modal (leverage) Nilai Perusahaan -0.52 (-2.61)
Sumber : data diolah

Dari output yang ditampilkan dengan path diagram dan

ditunjukkan dengan tabel, maka didapatlah hubungan dan pengaruh

sebagai berikut :

H₁ Struktur Kepemilikan Saham terhadap Struktur Modal.

Dari tabel 4.14 diatas menujukkan adanya koefisien path negatif

dan berpengaruh signifikan antara struktur kepemilikan saham terhadap

struktur modal, ini dapat dilihat dari koefisien path sebesar -0.30 dan nilai

t-hitung sebesar -2.47 lebih besar dari 1.96, hubungan tersebut menyatakan

bahwa variabel struktur kepemilikan saham berpengaruh negatif terhadap

struktur modal (leverage), artinya semakin tinggi struktur kepemilikan

116
saham perusahaan, maka pengawasan yang dilakukan pemilik terhadap

managemen akan semakin efektif, manajemen akan berhati-hati dalam

melakukan pinjaman sehingga leverage akan menurun. Hasil ini sesuai

dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa struktur

kepemilikan saham mempunyai pengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage).

H₂ Struktur Kepemilikan Saham terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan

tidak berpengaruh signifikan antara struktur kepemilikan saham terhadap

nilai perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien

path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.12 dan hubungan yamg

tidak signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 0.94 lebih kecil

dari 1.96. hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel struktur

kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan, artinya semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan

maka nilai perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan kepemilikan

saham institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan

peminjaman kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan

kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Dan kepemilikan

manajerial akan mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja

perusahaan, karena mereka juga memiliki perusahaan, kinerja perusahaan

yang meningkat akan meningkatkan perusahaan. Hasil ini sesuai dengan

penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur

117
kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan.

H₃ Faktor Ekstern terhadap Struktur Modal.

Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan

berpengaruh signifikan antara faktor ekstern terhadap struktur modal

(leverage). Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.24 dan hubungan yamg

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.16 lebih besar dari

1.96. Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor ekstern

berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin

tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun, faktor ekstern dapat

dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang tinggi berarti

biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk

melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun, indikator

lainnya yaitu keadaan pasar modal yang tinggi, akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik

melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan

menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang

membuktikan bahwa variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap

struktur modal (leverage).

H₄ Faktor Ekstern terhadap Nilai Perusahaan.

118
Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan

tidak berpengaruh signifikan antara faktor ekstern terhadap nilai

perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.05 dan hubungan yamg tidak

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 0.49 lebih besar dari

1.96.

Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor ekstern

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi

faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor ekstern dapat

dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal mempunyai pengaruh

positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan

bahwa para pemodal secara umum akan mempertimbangkan faktor

perkembangan pasar modal dalam membeli saham, indikator lainnya yaitu

pertumbuhan pasar mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatnya

pertumbuhan pasar akan mempengaruhi earning perusahaan, earning

perusahaan yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang bagus

dimasa yang akan datang, prospek bagus tersebut akan direspon positif

oleh investor, respon positif oleh investor tersebut akan meningkatkan

harga sahamuntuk selanjutnya akan meningkatkan nilai perusahaan.

H₅ Faktor Intern terhadap Struktur Modal.

119
Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan

berpengaruh signifikan antara faktor intern terhadap struktur modal

(leverage). Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.38 dan hubungan yamg

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.95 lebih besar dari

1.96. Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor intern

berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin

tinggi faktor intern maka leverage akan menurun, faktor intern dapat

dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang meningkat akan

meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun.

Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan

bahwa variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage).

H₆ Faktor Intern terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan

tidak berpengaruh signifikan antara faktor intern terhadap nilai

perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.18 dan hubungan yamg tidak

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 1.28 lebih besar dari

1.96.

Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor intern

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi faktor

120
intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor intern dapat dilihat

dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan

prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif

sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Singnally theory,

Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa profitabilitas yang tinggi

menunjukan prospek perusahaan yang bagus sehingga investor akan

merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Pembayaran

dividen yang semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan

semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan

nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan yang besar

menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan

merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Hasil ini sesuai

dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor

intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

H₇ Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan

berpengaruh signifikan antara struktur modal (leverage) terhadap nilai

perusahaan. Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien

path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.52 dan hubungan yamg

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.61 lebih besar dari

1.96. hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel struktur modal

(leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan artinya, semakin

tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun, karena leverage yang

121
semakin tinggi akan menimbulkan financial distress sehingga nilai

perusahaan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007)

yang membuktikan bahwa variabel struktur modal (leverage) berpengaruh

negatif terhadap nilai perusahaan.

Pada tabel 4.14 Gamma di atas, terlihat bahwa pada model yang

dihipotesiskan, variabel Struktur Kepemilikan Saham, Faktor Ekstern, dan

Faktor Intern mempengaruhi Struktur Modal secara signifikans. Ini

ditunjukkan dengan nilai t-hitung nya masing-masing yang lebih besar dari

1,96. Sementara itu, tidak terdapat satupun variabel yang mempengaruhi

Nilai Perusahaan, dimana Struktur Kepemilikan Saham, Faktor Ekstern,

dan Faktor Iintern tidak mempengaruhi secara signifikans karena memiliki

nilai t-hitng yang lebih kecil dari 1,96. Sementara pada tabel Beta terlihat

bahwa Struktur Modal secara signifikans mempengaruhi Nilai Perusahaan.

Ini diperlihatkan oleh nilai t-hitung yang lebih besar dari 1,96.

Selanjutnya, kecocokan dari model structural dengan

memperhatikan nilai R² (Squared Multiple Correlation).

Tabel 4.15
Squared Multiple Correlations (R²)
122
Variabel Laten Indikator R²
Struktur X₁.₁ 0.83
Kepemilikan Saham X₁.₂ 0.56
X₂.₁ 0.93
Faktor Ekstern X₂.₂ 0.89
X₂.₃ 0.57
X₃.₁ 0.65
Faktor Intern X₃.₂ 0.27
X₃.₃ 0.74
Struktur Modal Y₁.₁ 0.52
(leverage) Y₁.₂ 0.85
Nilai Y₂.₁ 0.25
Perusahaan Y₂.₂ 0.76
Sumber : data diolah

Dari tabel 4.15 diatas, dapat dilihat bahwa X₂.₁ (tingkat suku bunga)

memiliki R² tertinggi yaitu sebesar 0.93, artinya faktor ekstern (variabel laten

endogen) berkontribusi besar terhadap varians tingkat suku bunga yaitu sebesar

93% sedangkan sisanya sebesar 7% dijelaskan oleh measurement error, sehingga

dapat dikatakan bahwa tingkat suku bunga merupakan indicator yang paling baik

dari variable latennya yaitu factor ekstern, sedangkan Y₂.₁ (price earning ratio)

merupakan indiaktor yang paling kurang baik dari variable laten endogennya yaitu

nilai perusahaan karena mempunyai nilai R² yang paling kecil dibanding dengan

indikator variabel endogen yang lain.

D. Interpretasi

Berdasarkan pembahasan hipotesis diatas terdapat pengaruh negatif antara

struktur kepemilikan saham terhadap struktur modal. Hal ini terjadi karena

kepemilikan saham yang tinggi dapat mengurangi penggunaan leverage artinya,


123
kepemilikan institusi yang tinggi akan meningkatkan pengawasan dan kontro

lterhadap tindakan dan keputusan yang dibuat oleh pihak manjemen sedangkan

jika kepemilikan saham manajerial meningkat maka akan menimbulkan sikap

berhati-hati bagi pihak manajemen untuk bertindak dan mengambil keputusan.

Variabel struktur kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif

terhadap nilai perusahaan, artinya semakin tinggi struktur kepemilikan saham

perusahaan maka nilai perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan

kepemilikan saham institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan

peminjaman kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan

kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat.

Variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage), artinya semakin tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun,

faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang

tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan

untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun, indikator

lainnya yaitu keadaan pasar modal yang tinggi, akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik

melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun.

Variabel faktor ekstern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan

artinya semakin tinggi faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat,

faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal

mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini

124
menunjukkan bahwa para pemodal secara umum akan mempertimbangkan faktor

perkembangan pasar modal dalam membeli saham

Variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage), artinya semakin tinggi faktor intern maka leverage akan menurun,

faktor intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang meningkat

akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Hasil ini

sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor

intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage).

Variabel faktor intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan

artinya semakin tinggi faktor intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor

intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi akan

menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon

positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Pembayaran dividen yang

semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan semakin bagus sehingga

investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat.

Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami

perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

meningkat.

Variabel struktur modal (leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai

perusahaan artinya, semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun,

karena leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress

sehingga nilai perusahaan menurun.

125
BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan

126
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah dijelaskan

pada bab sebelumnya, maka penelitian ini dapat diambil kesimpulan yaitu

sebagai berikut :

1. Struktur Kepemilikan Saham mempunyai koefisien path (jalur) negatif

dan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Ini

menggambarkan semakin tinggi kepemilikan kepemilikan saham baik

kepemilikan saham manjerial maupun institusional maka semakin

rendah tingkat hutang (leverage) yang digunakan. Hasil penelitian ini

sesuai dengan yang dilakukan oleh Sujoko (2007) yang menyatakan

bahwa semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan, maka

pengawasan yang dilakukan pemilik terhadap managemen akan

semakin efektif, manajemen akan berhati-hati dalam melakukan

pinjaman sehingga leverage akan menurun. Temuan penelitian ini juga

tidak mendukung Agency Theory, Jensen dan Meckling (1979) yang

menjelaskan tentang adanya pemisahan yang jelas antara fungsi

kepemilikan dengan fungsi pengelolaan. Manajemen tidak mempunyai

kendali dalam menentukan hutang karena banyak dikendalikan oleh

mayoritas.

2. Struktur kepemilikan Saham

Struktur kepemilikan saham mempunyai koefisien path (jalur) positif

dan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya,

semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan maka nilai

127
perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan kepemilikan saham

institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman

kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan

kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Dan

kepemilikan manajerial akan mendorong manajemen untuk

meningkatkan kinerja perusahaan, karena mereka juga memiliki

perusahaan, kinerja perusahaan yang meningkat akan meningkatkan

perusahaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang

membuktikan bahwa variabel struktur kepemilikan saham mempunyai

pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini sesuai

dengan temuan penelitian Sudarma (2003) yang menemukan bahwa

Struktur kepemilikan saham tidak berpengaruh signifikan terhadap

nilai perusahaan.

3. Faktor Ekstern mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan

berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Artinya,

semakin tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun, faktor

ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang

tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga

perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya

leverage akan menurun, indikator lainnya yaitu keadaan pasar modal

yang tinggi, akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan

peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan

melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun. Hasil ini sesuai

128
dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel

faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage).

4. Faktor Ekstern mempunyai koefisien path (jalur) positif dan tidak

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin

tinggi faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor

ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal

mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan

penelitian ini menunjukkan bahwa para pemodal secara umum akan

mempertimbangkan faktor perkembangan pasar modaldalam membeli

saham, indikator lainnya yaitu pertumbuhan pasar mempunyai

pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini

menunjukkan bahwa meningkatnya pertumbuhan pasar akan

mempengaruhi earning perusahaan, earning perusahaan yang tinggi

menunjukkan prospek perusahaan yang bagus dimasa yang akan

datang, prospek bagus tersebut akan direspon positif oleh investor,

respon positif oleh investor tersebut akan meningkatkan harga

sahamuntuk selanjutnya akan meningkatkan nilai perusahaan

5. Faktor Intern mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan

berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Artinya,

semakin tinggi faktor intern maka leverage akan menurun, faktor

intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang

meningkat akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan

mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman dan

129
leverage akan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko

(2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh

negatif terhadap struktur modal (leverage). Hasil penelitian ini

mendukung Pecking Order Theory, Myers (1984) dimana dalam

melakukan pembiayaan, perusahaan mendasarkan pada urutan dari

laba yang ditahan , kemudian hutang dan yang terakhir adalah emisi

saham baru.

6. Faktor Intern mempunyai koefisien path (jalur) positif dan tidak

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin

tinggi faktor intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor

intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi

akan menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor

akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat.

Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan

prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik

untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran

perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami

perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai

perusahaan akan meningkat. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko

130
(2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh

positif terhadap nilai perusahaan.

7. Struktur Modal (leverage) mempunyai koefisien path (jalur) negatif

dan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya,

semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun, karena

leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress

sehingga nilai perusahaan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian

Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur modal

(leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Hasil

penelitian ini mendukung teori struktur modal Trade off Model yang

menyatakan bahwa jumlah hutang yang semakin meningkat akan

menurunkan nilai perusahaan.

B. Implikasi

Penelitian ini belum menggunakan kepemilikan saham public

sebagai indikator dari variabel laten eksogen struktur kepemilikan

saham, peneliti mendatang perlu memasukan kepemilikan public

sebagai dari indicator struktur kepemilikan saham.

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, maka penulis

mencoba mengemukakan implikasi yang mungkin bermanfaat

diantaranya :

1. Bagi Perusahaan

131
Adanya pengaruh-pengaruh yang terjadi antara struktur

kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern terhadap struktur

modal (leverage), dan struktur kepemilikan saham, faktor ekstern,

faktor intern terhadap nilai perusahaan, dapat membantu pihak

perusahaan dalam mengambil keputusan yang amat penting,

karena keputusan yang nantinya diambil dapat menentukan

kemajuan dan kelangsungan hidup perusahaan.

2. Bagi Investor

Dengaan adanya struktur modal (leverage) pengaruh-pengaruh

yang terjadi dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan dan

memutuskan investasi yang akan dilakukan karena setiap investor

menginginkan prospek yang amat baik bagi perusahaan di masa

depan.

3. Bagi Akademisi

Perlu diadakan penelitian selanjutnya mngenai pengaruh-pengaruh

variable endogen dan variable eksogen dengan menambahkan

sample yang lebih banyak dan juga menggunakan analisis SEM

dengan konseptualisasi model yang berbeda dan menggunakan

software lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Almilia, Luciana Spica, dan Meliza Silvy, ”Analisis Kebijakan Dividen dan
Kebijakan Leverage Terhadap Prediksi Kepemilikan Manajerial Dengan
Tehnik Analisis Multinomial logit”, Jurnal Akuntansi dan Bisnis, Vol.6,
No. 1, hal. 1 – 19, 2006.

132
Achjari, Didi. “Pelaporan statistic Structural Equation Modeling : Temuan Tiga
Jurnal Bisnis”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Volume 6, No.
3,September 2003.

Bahagia, Malla, “Analisis Struktur Kepemilikan, Kebijakan Dividen dan


Kwbijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan dengan Pendekatan
Structural Equation Modeling (SEM)”, Jakarta: UIN Syarifhidayatullah,
2008.

Christianti, Ari, “Penentuan Prilaku Kebijakan Struktural Modal pada


Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta : Hipotesis Static Trade
Off atau Pecking Order Theory”, Simposium Nasional Akuntansi 9
Padang. 2006.

Ghozali, Imam. “Structural Equatin Modeling Theory, Konsep n Aplikasi dengan


Program Lisrel 8.54”, Semarang : Universitas Diponegoro, 2005.

Hamid, Abdul. “Panduan Penulisan Skripsi”. Jakarta : FEIS UIN Syarif


Hidayatullah Press, 2007.

Muslimin, “Analisis Struktur Kepemilikan, Kebijakan Dividend an kebijakan


Utang Terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Ekonomi dan Manajemen,
volume 7, No. 2, Juni, 2006.

Nasser, Etty M., dan Fielyandi F., “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Ukuran
Perusahaan, Profitabilitas, dan Hutang Sebagai Variabel Intervening
Terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Ekonomi STEI, No.2. 2006.

Putra, AA GP Widana, “Pengaruh Free Cash Flows Terhadap Hubungan Antara


Struktur Modal dan Kebijakan Dividend an Return Saham” Yogyakarta :
Tesis S2, Universitas Gajah Mada, 2003.

Putri, Imanda, dan Moh. Nasir, “Analisis Persamaan Simultan Kepemilikan


Manajerial, Kepemilikan Institusional, Risiko, Kebijakan Hutang, dan
Kebijakan Dividen Dalam Perpektif Teori Keagenan”, Simposium
Nasional Akuntansi, Ikatan Akuntansi Indonesia. 2006.

Riyanto, Bambang. “Dasar- Dasar Pembelanjaan Perusahaan”. Yogyakarta :


Yayasan Penerbit Gajah Mada, 1998.

Rodoni, Ahmad dan Nasaruddin, Indo Yama, “Modul Manajemen Keuangan”,


Jakarta : Bab IX Capital Sstructure and Leverage, 2007.

Sholihah, Maratush. Engujian Empiris Balance Theory, Pecking Order Theory


dan Signaling Theory pada Struktur Modal Perusahaan di Indonesia”.
Skripsi S1 FEIS UIN Syarif Hidayatullah. 2006.
133
Sudana, I Made, dan Wiayaningrum, M Enny, “Analisis Kebijakan Investasi
Modal Kerja Hubungannya dengan Profitabilitas pada Kondisi Ekonomi
SebelumKrisis dan Masa Krisis”, Majalah Ekonomi, Fak. Ekonomi
Unair dan Fak. Ekonomi Ubhara, 2003.

Sudarmadji, Ardi Murdoko dan Sularto, Lana, “Pengaruh Ukuran Perusahaan,


Profitabilitas, Leverage, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap
luas Voluntary disclosure laporan Keuangan Tahunan”, Proceeding
PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek dan Sipil), Auditorium
Kampus Gunadarma, 2007.

Suhartoro, “Pengaruh Insider Ownership Net Organizational Capital dan Risiko


Pasar terhadap Kebijakan Dividen”, Yogyakarta : Tesis S2, Universitas
Gajah Mada, 2002.

Sujoko,”Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Lverage,Faktor Intern dan


Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan.
Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Vol. 9 no. 1, Surabaya :
Universitas Kristen petra, 2007.

Suranta, Eddy, dan Pratana P. Midiastuti, ”Analisis Hubungan Kepemilikan


Manajerial, Nilai Perusahaan, dan Investasi dengan Model Persamaan
Linier Simultan”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.6, No.1. 2003.

Utami, Sih Widhi. “Asosiasi Investment Opportunity Set dengan Kebijakan


Pendanaan, Kebijakan Dividen, dan Implikasinya pada Perubahan
Harga Saham”. Simposium Nasional Akuntansi, IAI. 2006.

Wahyudi, Untung, dan Hartini P.Pawesti, “Implikasi Struktur Keuangan


Terhadap Nilai Perusahaan : Dengan Keputusan Keuangan Sebagai
Variabel Intervening”, Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. 2006.

134