Anda di halaman 1dari 13

PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA

DENGAN AKTIVATOR NaOH


I.

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan maka mampu
a. Membuat karbon aktif batubara dengan proses karbonisasi
b. Mengetahui pengaruh macam-macam aktivator
c. Mengetahui pengaruh ukuran partikel batubara terhadap karbon aktif.

II.

III.

ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


Alat yang digunakan :
Jaw Crusher
Ball Mill
Ayakan Tailer
Furnace
Neraca Analitik
Pipet ukur + Bola karet
Oven
Erlenmeyer
Gelas Kimia + Labu Takar
Desikator
Kaca Arloji
Spatula
Cawan Silika + Crussible
Buret
Bahan yang digunakan
Barubara lignit
Larutan NaOH
Larutan CH3COOH
Indikator PP
DASAR TEORI
Batubara muda (lignit) memiliki kandungan karbon dan energi yang rendah

kadar air, zat volatil dan mineral anorganik yang tinggi sehingga pemanfaatannya
sebagai sumber energi menjadi tidak menguntungkan, sebagian energi yang
dihasilkan dipakai menguapkan air dan mengurangi energi bersih yang diperoleh.
Mencari alternatif pemanfaatan lignit yang melimpah di alam perlu dilakukan.
Salah satunya pemanfaatan lignit adalah sebagai absorben karbon aktif pada
pengolahan limbah.

Indonesia termasuk negara dengan sumber tambang batu bara terbesar di


dunia. Cadangannya diperkirakan 36,3 milyar ton. Hanya saja 50-85 persennya
berkualitas rendah. Ini dilihat dari nilai kalori pembakarannya yang rendah, dan
kadar sulfur serta airnya yang tergolong tinggi. Karena itu, batu bara muda yang
disebut juga batu bara lignit atau batu bara cokelat tidak ekonomis dimanfaatkan
sebagai bahan bakar.Bila sumber energi ini dibawa ke lokasi yang jauh dari areal
tambang, maka biaya transportasinya menjadi mahal. Karena ongkos angkut itu
sebenarnya dikeluarkan untuk membawa air dan abu yang nantinya harus dibuang
dalam proses pemanfaatan batu bara.
Ketika dibakar, banyak energi yang terbuang untuk menguapkan air,
sedangkan nilai kalori yang diperoleh relatif rendah. Selain itu, kandungan sulfur
yang tinggi akan menjadi gas pencemar. Kualitas batubara adalah sifat kimia dan
fisika dari batubara yang mempengaruhi potensi penggunanya. Kualitas batubara
ditentukan oleh maseral dan mineral matter penyusunnya serta oleh derajat
coalification.
Analisis proksimat untuk menentukan jumlah air (moisture), zat terbang
(voaltile matter), karbon padat (fixed carbon) dan kadar abu (ash). Sedangkan
analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada
batubara seperti : Karbon, Hidrogen, Oksigen , Nitrogen, sulfur, unsur tambahan
dan juga unsur karbon.

Tabel Data dan Kualitas Batubara

Parameter

Basis

Persentase (%)

Nilai Kalor

Kualitas
Total Moisture

Ar

2,93 31,3

(Kkal/Kg)
-

Inherent

Adb

14,5 16,8

Moisture
Ash

Adb

4,3 4,5

Vollatile Matter

Adb

40,7 42,4

Fixed Carbon

Adb

41,2 45,3

Total Sulfur

Adb

0,20 0,9

Calorific Value

Adb

5300 - 5900

Karbon Aktif
Karbon atau arang aktif adalah material yang berbentuk butiran atau bubuk
yang berasal dari material yang mengandung karbon misalnya batubara, kulit
kelapa, dan sebagainya. Dengan pengolahan tertentu yaitu proses aktivasi seperti
perlakuan dengan tekanan dan suhu tinggi, dapat diperoleh karbon aktif yang
memiliki permukaan dalam yang luas.
Karbon aktif yang berasal dari serbuk gergaji dan lignite mempunyai
struktur yang rapuh dan berbentuk bubuk. Sedangkan carbon aktif yang berbentuk
granule, keras, dan dipakai sebagai pengadsorb vapor biasanya berasal dari
tempurung kelapa, biji buah-buahan, atau briket batubara.
Setelah karbon aktif terpakai dan telah jenuh (dengan vapor atau warna),
maka zat-zat penyebab jenuh tersebut dapat disteaming, dikondensasi, direcovery
(bila diperlukan), dan dihilangkan (bila tidak diinginkan), sehingga karbon aktif
siap digunakan kembali. Perlakuan ini disebut regenerasi.
Karbon selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai
adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan
kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap karbon tersebut dilakukan
aktifasi dengan bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur
tinggi. Dengan demikian, karbon akan mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan
kimia.
Dalam satu gram karbon aktif, pada umumnya memiliki luas permukaan
seluas 500-1500 m2, sehingga sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel
yang sangat halus berukuran 0.01-0.0000001 mm. Karbon aktif bersifat sangat
aktif dan akan menyerap apa saja yang kontak dengan karbon tersebut.
Dalam waktu 60 jam biasanya karbon aktif tersebut manjadi jenuh dan tidak
aktif lagi.. Reaktifasi karbon aktif sangat tergantung dari metode aktivasi.Karbon
aktif tersedia dalam berbagai bentuk misalnya gravel, pelet (0.8-5 mm) lembaran

fiber, bubuk (PAC : powder active carbon, .18 mm atau US mesh 80) dan butiranbutiran kecil (GAC : Granular Active carbon, 0.2-5 mm) dsb.
Secara umum proses pembuatan arang aktif dapat dibagi dua yaitu:
1. Proses Kimia.
Bahan baku dicampur dengan bahan-bahan kimia tertentu, kemudian dibuat
padat. Selanjutnya padatan tersebut dibentuk menjadi batangan dan dikeringkan
serta dipotong-potong. Aktifasi dilakukan pada temperatur 100 C. Arang aktif
yang dihasilkan, dicuci dengan air selanjutnya dikeringkan pada temperatur 300
C. Dengan proses kimia, bahan baku dapat dikarbonisasi terlebih dahulu,
kemudian dicampur dengan bahan-bahan kimia.
2. Proses Fisika
Bahan baku terlebih dahulu dibuat arang. Selanjutnya arang tersebut
digiling, diayak untuk selanjutnya diaktifasi dengan cara pemanasan pada
temperatur 1000 C yang disertai pengaliran uap. Proses fisika banyak digunakan
dalam aktifasi arang antara lain :
a. Proses Briket: bahan baku atau arang terlebih dahulu dibuat briket, dengan
cara mencampurkan bahan baku atau arang halus dengan ter. Kemudian,
briket yang dihasilkan dikeringkan pada 550 C untuk selanjutnya diaktifasi
dengan uap.
b. Destilasi kering: merupakan suatu proses penguraian suatu bahan akibat
adanya pemanasan pada temperatur tinggi dalam keadaan sedikit maupun
tanpa udara. Hasil yang diperoleh berupa residu yaitu arang dan destilat
yang terdiri dari campuran metanol dan asam asetat. Residu yang dihasilkan
bukan merupakan karbon murni, tetapi masih mengandung abu dan ter.
Hasil yang diperoleh seperti metanol, asam asetat dan arang tergantung pada
bahan baku yang digunakan dan metoda destilasi. Diharapkan daya serap
arang aktif yang dihasilkan dapat menyerupai atau lebih baik dari pada daya
serap arang aktif yang diaktifkan dengan menyertakan bahan-bahan kimia.
Juga dengan cara ini, pencemaran lingkungan sebagai akibat adanya
penguraian senyawa-lenyawa kimia dari bahan-bahan pada saat proses
pengarangan dapat diihindari. Selain itu, dapat dihasilkan asap cair sebagai
hasil pengembunan uap hasil penguraian senyawa-senyawa organik dari
bahan baku.

Namun secara umum dan sederhana proses pembuatan arang aktif terdiri
dari tiga tahap yaitu:
a. Dehidrasi : proses penghilangan air dimana bahan baku dipanaskan sampai
temperatur 170 C.
b. Karbonisasi : pemecahan bahan-bahan organik menjadi karbon. Suhu diatas
170C akan menghasilkan CO, CO2 dan asam asetat. Pada suhu 275C,
dekomposisi menghasilkan ter, metanol dan hasil samping lainnya.
Pembentukan karbon terjadi pada temperatur 400 600 0C
c. Aktifasi : dekomposisi tar dan perluasan pori-pori. Dapat dilakukan dengan
uap atau CO2 sebagai aktifator.Proses aktifasi merupakan hal yang penting
diperhatikan disamping bahan baku yang digunakan. Yang dimaksud dengan
aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang bertujuan untuk
memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau
mengoksidasi molekul molekul permukaan sehingga arang mengalami
perubahan sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya
bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorpsi.
Metoda aktifasi yang umum digunakan dalam pembuatan arang aktif adalah:
a. Aktifasi Kimia.
Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa
organik dengan pemakaian bahan-bahan kimia. Aktifator yang digunakan
adalah bahan-bahan kimia seperti: hidroksida logam alkali garam-garam
karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khususnya
ZnCl2, asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan H3PO4.
b. Aktifasi Fisika.
Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa
organik dengan bantuan panas, uap dan CO2. Umumnya arang dipanaskan
didalam tanur pada temperatur 800-900C. Oksidasi dengan udara pada
temperatur rendah merupakan reaksi eksoterm sehingga sulit untuk
mengontrolnya. Sedangkan pemanasan dengan uap atau CO2 pada
temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm, sehingga lebih mudah
dikontrol dan paling umum digunakan.
Karbon aktif terbagi atas 2 tipe yaitu arang aktif sebagai pemucat dan arang
aktif sebagai penyerap uap.
a. Arang aktif sebagai pemucat.

Biasanya berbentuk serbuk yang sangat halus dengan diameter pori


mencapai 1000 A0 yang digunakan dalam fase cair. Umumnya berfungsi untuk
memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan warna dan bau yang tidak
diharapkan dan membebaskan pelarut dari zat zat penganggu dan kegunaan
yang lainnya pada industri kimia dan industri baru. Arang aktif ini diperoleh dari
serbuk serbuk gergaji, ampas pembuatan kertas atau dari bahan baku yang
mempunyai densitas kecil dan mempunyai struktur yang lemah.
b. Arang aktif sebagai penyerap uap.
Biasanya berbentuk granula atau pellet yang sangat keras dengan diameter
pori berkisar antara 10-200 A0. Tipe porinya lebih halus dan digunakan dalam
fase gas yang berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut atau katalis pada
pemisahan dan pemurnian gas. Umumnya arang ini dapat diperoleh dari
tempurung kelapa, tulang, batu bata atau bahan baku yang mempunyai struktur
keras.Sehubungan dengan bahan baku yang digunakan dalam pembuatan arang
aktif untuk masing- masing tipe, pernyataan diatas bukan merupakan suatu
keharusan.

IV.

LANGKAH KERJA

1. Tahap persiapan bahan baku


a. Lakukan proses grinding untuk memperkecil ukuran batubara
b. Lakukan proses sieving untuk memperoleh ukuran batubara sesuai
kebutuhan
2. Proses Karbonisasi
a. Menyiapkan sampel batubara lignit yang telah di grinding dan sieving
b. Menyiapkan lembar kerja untuk pengisian data
c. Mengatur suhu furnace pada suhu 3000C
d. Menimbang cawan kosong dan tutup pada neraca analitik (W1)
e. Menimbang sampel sebanyak 9 gr
f. Menimbang cawan yang berisi sampel beserta tutupnya (W2)
g. Menimbang cawan yang berisi sampel beserta tutupnya ke dalam
furnace bersuhu 3000C selama 10 menit
h. Memasukkan cawan berisi residu beserta tutupnya ke dalam desikator
i. Menimbang cawan berisi residu berserta tutupnya (W3)
j. Mnegulangi proses ini sampai diperoleh jumlah produk yang
diinginkan
3. Proses aktivasi tanpa karbonisasi
a. Menyiapkan sampel seberat 10 gr ke dalam erlenmeyer
b. Memipet 50 mL larutan NaOH 2M dan 3M ke dalam erlenmeyer lalu
rendam selama 3 jam
c. Menyaring sampel menggunakan kertas saring dan mencuci cokenya
dengan aquadest
d. Mengeringkan dalan oven bersuhu 1100C sampai sampel benar-benar
kering
4. Proses aktivasi dengan karbonisasi
a. Menyiapkan sampel sebanyak 1 gr ke dalam erlenmeyer
b. Memipet 50 mL larutan NaOH 2M dan 3M ke dalam erlenmeyer lalu
merendamnya selama 3 jam
c. Menyaring sampel dengan kertas saring dan mencuci cokenyadengan
aquadest
d. Mengeringkan di dalam oven bersuhu 1100C sampel sampelnya benarbenar kering.

5. Proses Adsorbsi
a. Menyiapkan 5 buah erlenmeyer
b. Memasukkan masing-masing 0,5 gr karbon aktif, sebelumnya
dipanaskan 15 menit pada suhu 600C
c. Pada tiap erlenmeyer memasukkan 50 mL asam asetat untuk masingmasing komponen
d. Mengocok campuran

tersebut

dengan

10

menit

kemudian

mendiamkannya selama 1 jam


e. Mengocok lagi selama 1 menit
f. Menyaring larutan tersebut dengan kertas saring, kemudian mengukur
volume filtratnya
g. Mentitrasi filtrat dengan larutan NaOH 0,2 N (boleh alikot saja,
misalnya 10 ml) dan menambahkan indikator phenolphtalin (PP)
sampai terjadi perubahan warna .

VII.

ANALISA DATA
Percobaan ini adalah pembuatan karbon aktif dengan aktivator NaOH.

Sampel karbon aktif yang digunakan berupa batubara yang telah dilakukan
pengecilan ukuran yaitu -60 mesh +170 mesh, -170 mesh +200 mesh dan -200
mesh. Karbon aktif merupakan bahan yang berupa karobon bebas yang masingmasing berikatan secara kovalen atau arang yang telah dibuat dan diolah secara
khusus melalui 3 tahapan yaitu Dehidrasi, Karbonisasi dan Aktivasi. Dehidrasi
merupakan proses penghilangan air dimana bahan baku dipanaskan sampai
temperatur 1100C . Karbonisasi adalah suatu proses dimana unsur oksigen
dan hidrogen dihilangkan dari karbon dan akan menghasilkan rangka
karbon yang memiliki struktur tertentu, dengan temperatur 300 0C. Pada
proses karbonisasi diperoleh % Kehilangan atau % Losses dari masing-masing
ukuran yaitu untuk -60 mesh +170 mesh % Losses = 10,48 %, ukuran -170 mesh
+200 mesh % Losses = 9,04 %, dan ukuran -200 mesh = 8,49 %. Dari data
tersebut dapat diketahui bahwa semakin kecil ukuran partikel bahan yang
dikarbonisasi maka semakin kecil juga % Losses-nya.
Aktivasi adalah suatu perlakuan terhadap bahan yang bertujuan untuk
memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau
mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga bahan mengalimi
perubahan fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar
dan berpengaruh terhadap daya adsorbsi. Aktivator yang digunakan pada
percobaan ini adalah NaOHdengan konsentrasi masing-masing yaitu 1M, 2M dan
3M. Pada proses aktivasi diperoleh % Losses dari masing-masing perlakuan yaitu

pada aktivasi tanpa karbonisasi dengan konsentrasi aktivator NaOH 1M yaitu


ukuran -60 mesh +170 mesh % Losses = 24,08 %, ukuran -170 mesh +200 mesh
% Losses = 32,6 %, dan ukuran -200 mesh = 50,8 %. Untuk konsentrasi aktivator
NaOH 2M yaitu ukuran -60 mesh +170 mesh % Losses = 20,36 %, ukuran -170
mesh +200 mesh % Losses = 18,84 %, dan ukuran -200 mesh = 23,34 % dan
untuk konsentrasi aktivator NaOH 3M yaitu ukuran -60 mesh +170 mesh %
Losses = 15,6 %, ukuran -170 mesh +200 mesh % Losses = 23,58 %, dan ukuran
-200 mesh = 27,21 %. Sedangkan pada proses aktivasi dengan karbonisasi %
Losses yang didapatkan dari masing-masing perlakuan yaitu konsentrasi aktivator
NaOH 1M yaitu ukuran -60 mesh +170 mesh % Losses = 22,76 %, ukuran -170
mesh +200 mesh % Losses = 29,24 %, dan ukuran -200 mesh = 32,56 %. Untuk
konsentrasi aktivator NaOH 2M yaitu ukuran -60 mesh +170 mesh % Losses =
16,26 %, ukuran -170 mesh +200 mesh % Losses = 17,40 %, dan ukuran -200
mesh = 19,04 % dan untuk konsentrasi aktivator NaOH 3M yaitu ukuran -60
mesh +170 mesh % Losses = 21,11 %, ukuran -170 mesh +200 mesh % Losses =
26,97 %, dan ukuran -200 mesh = 14,07 %. Pada proses aktivasi ini % Losses
yang dihasilkan dari berbagai perlakuan cukuplah besar hal ini dikarenakan pada
proses penyaringan masih terdapat sampel yang tertinggal pada kertas saring
maupun pada erlenmeyer.
Langkah selanjutnya adalah analisa karbon aktif yaitu adsorbsi Isoterm
Freunlich dengan adsorbat yaitu asam asetat ( CH 3COOH) dan NaOH sebagai
titran. Adsorbat asam asetat dibuat dengan berbagai konsentrasi yaitu 1N, 0,8 N,
0,6 N dan 0,4 N, kemudian memasukkan 0,5 gr karbon aktif pada masing-masing
konsentrasi, mencampurkannya dan mendiamkannya selama 1 jam. Selanjutnya
menyaring campuran, dihasilkan filtrat yang akan dititran dengan NaOH 0,2 N
dengan indikator penolphtalein (PP) yang nantinya akan terjadi perubahan warna
dari bening menjadi warna merah muda. Sampel karbon aktif yang akan dilakukan
untuk analisa adalah tanpa karbonisasi dengan aktivasi NaOH 1M dan karbonisasi
dengan aktivasi 1 M. Perubahan konsentrasi asam asetat setalah adsrobsi dapat
diketahui dengan volume titran NaOH 0,2 N yang digunakan saat menitrasi filtrat.
Dari data percobaan diketahui bahwa semakin besar konsentrasi adsorbat maka

semakin banyak volume titran yang dihasilkan. Dari volume titran yang
dihasilkan akan didapatkan konsentrasi adsorbat akhir (setelah adsorbsi), dan
kemudian didapatkan massa zat yang terserap. Dari data diketahui bahwa karbon
aktif tanpa karbonisasi memiliki konsentrasi adsorbat lebih tinggi dibandingkan
dengan karbon aktif dengan karbonisasi. Untuk perbedaan ukuran, konsentrasi
adsorbat akhir pada sampel karbon aktif tanpa karbonisasi yang memiliki
konsentrasi tertinggi yaitu -60 mesh +170 mesh, sedangkan pada sampel karbon
aktif dengan karbonisasi yang memiliki konsentrasi tertinggi adalah ukuran -200
mesh. Sehingga dapat diketahui bahwa sampel karbon aktif dengan karbonisasi
memiliki daya serap (adsorbsi) yang lebih maksimal dan baik dibandingkan
sampel karbon aktif tanpa karbonisasi, dan sampel karbon aktifukuran -200 mesh
memiliki daya serap(adsorbsi) lebih maksimal dan baik dibandingkan sampel -60
mesh +170 mesh atau 170 mesh +200 mesh. Percobaan analisa ini dipengaruhi
oleh volume titran yang dihasilkan, namun dalam percobaan yang dilakukan
proses titrasi tidak optimal dikarenakan buret yang digunakan mengalami
kebocoran sehinggan pembacaan volume titran kurang akurat.
Untuk perbedaan konsentrasi adsorbat, bahwa yang memiliki daya serap/
adsorbsi yang maksimal adalah dengan konsentrasi 1 N, sehingga dapat dikatakan
bahwa semakin besar konsentrasi adsorbat maka semkin maksimal juga daya
serapnya.
Selanjutnya adalah penentuan nilai tetapan adsorbsi Isoterm Freunlich
menggunakan tabel Isotern Freunlich yang kemudian didapatnilai log x/m dan log
c untuk dibuat grafik, dimana log x/m sebagai sumbu x dan log c sebagai sumbu y.
Dari grafik tersebut didapat persamaan linier yang akan dianologikan dengan
persamaan Isoterm Freunlich yaitu log (x/m) = 1/n log C + log K sehingga akan
didapatkan nilai n dan perlakuan menggunakan karbonisasi dan tanpa karbonisasi
dan tanpa karbonisasi. Dari diagram harga tetapan adsorbsi Isoterm Freunlich
dapat dianalisa bahwa karbon aktif dengan karbonisasi semakin kecil ukuran
karbon aktif maka nilai tetapannya makin tinggi sedangkan pada karbon aktif
tanpa karbonisasi semakin kecil ukuran karbon aktif maka nilai tetapannya makin
kecil.

VIII.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan :
1. Karbon aktif adalah karbon berupa karbon bebas yang masing-masing
keterikatan secara kovalen atau orang yang telah dibuat dan diolah secara
khusus melalui 3 tahapan yaitu Dehidrasi, karbonisasi dan aktivasi
2. Pada proses karbonisasi diperoleh % losses, bahwa semakin kecil ukuran
partikel sampel bahan yang digunakan maka semakin kecil juga %
lossesnya
3. Proses aktivasi menggunakan aktivator NaOH 1M, 2M, dan 3M antara
bahan atau karbon aktif dengan karbonisasi dan karbon aktif tanpa
karbonisasi.
%loses yang dihasilkan akibat partikel karbon aktif masih ada yang
tertinggal di kertas saring atau erlenmeyer.
4. Analisa karbon aktif dengan adsorbsi isoterm freundlich ,asam asetat 1N;
0,8 N ; 0,6 N ; 0,4 N. Sebagai adsorbat.filtrat akan dititrasi dengan NaOH
0,2 N
Karbon aktif tanpa karbonisasi memiliki konsetrasi adsorbat yang
lebih tinggi dibandingkan karbon aktif dengan karbonisasi, sehingga
karbon aktif dengan karbonisasi memiliki daya serap yang lebih

baik.
Semakin kecil ukuran karbon aktif ,maka semakin besar pula daya

serap yang lebih baik.


Semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula daya adsorbsi

nya.
5. Nilai tetapan adsorbsi isoterm freundlich berdasarkan grafik log x/m sebagai
sumbu x dan log c sebagai c didapatkan persamaan linear yang dianalogikan
dengan persamaan adsorbsi isoterm freunlich log x/m = 1/n log c + log k
6. Dari diagram harga tetapan adsorbsi isoterm freunlich (n dan k)
Karbon aktif dengan karbonisasi bahwa semakin kecil ukurannya maka nilai
tetapannya makin tinggi, sedangkan karbon aktif tanpa karbonisasi
berbanding terbalik.

DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet. 2015. Penuntun Praktikum Teknologi Pemanfaatan batubara. Politeknik


Negeri Sriwijaya : Palembang.
www.google.com
www.wikipedia.com

www.blogspot.com