Anda di halaman 1dari 9

Teori Belajar Menurut Skinner

Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih


mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan
konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut
Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi
dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah
laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh
sebelumnya. Untuk lebih lengkapnya penulis akan membahas teori
kondisioning operan pada bagian berikut ini.
B. Teori Kondisioning Operan Menurut B.F.Skiner.
1. Sejarah teori Kondisioning Operan menurut B.F. Skinner
Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada
waktu keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. pada
waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh
yang kuat pada pelaksanaan penelitian
Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex
bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak
mengendur. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan
tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme
berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku
menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang
mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah
kemungkinan organisme itu merespon nanti.
Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan
oleh John Watson. Artinya, agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu, maka
studi tingkah laku harus dijadikan fokus penelitian psikologi. Tidak seperti
halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya, Skinner menghindari kontradiksi
yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan
kondisioning instrumental dari Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma
yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas
kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau
tingkah laku operan.
2. Kajian Teori Kondisioning Operan Menurut B.F.Skiner
Kondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensikonsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas
prilaku itu akan diulangi. Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah
Pengkondisian operan (kondisioning operan). Ada 6 asumsi yang

membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler,


hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
a. Belajar itu adalah tingkah laku.
b. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan
adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi
lingkungan.
c. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya
dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya
di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi
yang di control secara seksama.
d. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya
sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah
laku.
Menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar
adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman
(punishment).Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah
konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan
terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang
menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat, penguatan dibagi menjadi
dua bagian yaitu :
a. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa
frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang
mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa
hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan
kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau
penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
b. Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa
frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus
yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif
antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas
tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening
berkerut, muka kecewa dll).
Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan
penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang
ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang

dikurangi atau di hilangkan. Adalah mudah mengacaukan penguatan


negatif dengan hukuman. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa
penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku,
sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.
Contoh dari konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman (J.W
Santrock, 274).
A.Penguatan positif
Perilaku

Konsekuensi

Murid mengajukan Guru menguji murid


pertanyaan yang
bagus

Prilaku kedepan
Murid mengajukan
lebih banyak
pertanyaan

B.Penguatan negatif
Perilaku

Konsekuensi

Prilaku kedepan

Murid
menyerahkan PR
tepat waktu

Guru berhenti
menegur murid

Murid makin sering


menyerahkan PR
tepat waktu

Perilaku

Konsekuensi

Prilaku kedepan

Murid menyela
guru

Guru mengajar murid Murid berhenti


langsung
menyela guru

C.Hukuman

Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif.


Dalam kedua bentuk itu, konsekuensi meningkatkan prilaku.
Dalam hukuman, perilakunya berkurang.

Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat diterapkan pada


dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di dalam
kelas. Belajar, yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan
respons, diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf).
Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang percobaan
dalam kontigensi terminal. Maksudnya, binatang itu harus berusaha
penuh resiko, berhasil atau gagal, dalam mencari jalan lepas dari kurungan
atau makanan. Bukannya demikian itu prosedur yang mengena ialah
membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulus-responpenguatan yang diatur secara seksama.
Skinner menggambarkan praktek tugas dan ujian sebagai suatu contoh
menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga.
Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan komponen

tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan melakukan


studi yang cocok terhadap tingkah laku. Hukuman harus dihindari karena
adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin
timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Analisa yang dilakukan
Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi dan alami,
penguat positif dan negative, dan penguat umum.
Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh
Skinner antara lain:
a. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah
dibetulkan, jika benar diberi penguat.
b. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
c. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
d. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
e. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini
lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
f. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya.
Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforce
g. Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap
tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukumhukum belajar, diantaranya :
a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi
dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan
meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah
diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan
musnah.
3. Aplikasi Skinner terhadap pembelajaran.
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah
sebagai berikut:

a. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.


b. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah
dibetulkan dan jika benar diperkuat.
c. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran
digunakan sistem modul.
d. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
e. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
f. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
g. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk
mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
h. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
i. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
j. Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat
mencapai tujuan.
k. Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan pembentukan (shaping).
l. Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
m. Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
n. Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas
menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda
iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbedabeda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.
4. Analisa Perilaku terapan dalam pendidikan
Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan
untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku
yang penting dalam bidang pendidikan yaitu
1. Meningkatkan perilaku yang diharapkan
Ada lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan
perilaku anak yang diharapkan yaitu:

a. Memilih Penguatan yang efektif


Tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak. Analisis perilaku
terapan menganjurkan agar guru mencari tahu penguat apa yang paling
baik untuk anak, yakni mengindividualisasikan penggunaan penguat
tertentu. Untuk mencari penguatan yang efektif bagi seorang anak,
disarankan untuk meneliti apa yang memotivasi anak dimasa lalu, apa
yang dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak
terhadap manfaat dan nilai penguatan. Penguatan alamiah seperti pujian
lebih dianjurkan ketimbang penguat imbalan materi, seperti permen,
mainan dan uang.
b. Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu
Agar penguatan dapat efektif, guru harus memberikan hanya setelah murid
melakukan perilaku tertentu. Analisis perilaku terapan seringkali
menganjurkan agar guru membuat pernyataan jikamaka. penguatan
akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, sesegera mungkin
setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. Ini akan membantu
anak melihat hubungan kontingensi antar-imbalan dan perilaku mereka.
Jika anak menyelesaikan perilaku sasaran (seperti mengerjakan sepuluh
soal matematika) tapi guru tidak memberikan waktu bermain pada anak,
maka anak itu mungkin akan kesulitan membuat hubungan kontingensi.
c. Memilih jadwal penguatan terbaik
Menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan
diperkuat. Empat jadwal penguatan utama adalah
1). Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah
respon.
2). Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi
sejumlah respon, akan tetapi tidak berdasarkan basis yang dapat
diperidiksi.
3). Jadwal interval - tetap : respons tepat pertama setelah beberapa
waktu akan diperkuat.
4). Jadwal interval - variabel : suatu respons diperkuat setelah
sejumlah variabel waktu berlalu.

d. Menggunakan Perjanjian. Perjanjian (contracting)


adalah menempatkan kontigensi penguatan dalam tulisan. Jika muncul
problem dan anak tidak bertindak sesuai harapan, guru dapat merujuk
anak pada perjanjian yang mereka sepakati. Analisis perilaku terapan
menyatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan
murid. Kontrak kelas mengandung pernyataan jika maka dan di
tandatangani oleh guru dan murid, dan kemudian diberi tanggal.
e. Menggunakan penguatan negatif secara efektif
Dalam penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena respon
tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari.seorang guru
mengatakanPepeng, kamu harus menyelesaikan PR mu dulu diluar kelas
sebelum kamu boleh masuk kelas ikut pembelajaran ini berarti seorang
guru menggunakan penguatan negatif.
2. Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping).
Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang
diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respon
tersebut akan terjadi.Shapping (pembentukan) adalah mengajari perilaku
baru dengan memperkuat perilaku sasaran.
3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti
mengejek, mengganggu diskusi kelas, atau sok pintar) yang harus
dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah
a. Menggunakan Penguatan Diferensial.
b. Menghentikan penguatan (pelenyapan)
c. Menghilangkan stimuli yang diinginkan.
d. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman)
5. Kelebihan dan kekurangan Menurut B.F. Skinner
a. Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya.
hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu
didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga
dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.

b. Kekurangan
Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret
E. B. G. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks
tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan
teknologis, (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku
kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Disamping itu pula, tanpa
adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak
didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat
akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan
melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan
hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut
Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi
dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan
merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun
fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat
buruk pada siswa.
KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diberikan setelah mengkaji teori belajar
B.F Skinner adalah sebagai berikut:
1. Beberapa unsur dasar dalam teori operan kondisioning Skinner
dijelaskan pada tabel berikut:
Unsur Dasar

Definisi

Asumsi

Perubahan tingkah laku ialah fungsi dari


kondisi dari lingkungan dan peristiwa

Belajar

Perubahan tingkah laku ditunjukkan


meningkatnya keseringan respon.

Hasil belajar

Respons yang baru (tingkah laku)

Komponen Belajar

(SD)-(R)-(R Reinsf)

oleh

Perancangan pembelajaranMerancang urutan stimulus - respon untuk


belajar
yangpenguatan untuk mengembangkan himpunan

kompleks

respons kompleks.

Isi pokok dalam merancangPemindahan


kendali
stimulus,
waktu
pembelajaran
penguatan; menghindarkan hukuman.

1. Teori belajar operan kondisioning Skinner memberi banyak


kontribusi untuk praktik pengajaran. Konsekuensi penguatan dan
hukuman adalah bagian dari kehidupan dan murid. Jika dipakai
secara efektif, pandangan teori ini akan mendapat membantu para
guru dalam pengelolaan kelas. Demikian pula prinsip-prinsip dan
hukum-hukum belajar yang tertuang dalam teori ini akan membantu
guru dalam menggunakan pendekatan pengajaran yang cocok untuk
mencapai hasil belajar dan perubahan tingkah laku yang positif bagi
anak didik.
2. Kritik terhadap teori pengkondisian operan Skinner adalah seluruh
pendekatan itu terlalu banyak menekankan pada control eksternal
atas perilaku murid. Teori ini berpandangan bahwa strategi yang
lebih baik adalah membantu murid belajar mengontrol perilaku
mereka sendiri dan menjadi termotivasi secara internal. Beberapa
kritikus mengatakan bahwa bukan ganjaran dan hukuman yang akan
mengubah perilaku, namun keyakinan atau ekspektasi bahwa
perbuatan tertentu akan diberi ganjaran atau hukuman. atau dengan
kata lain teori behaviorisme tidak memberi cukup perhatian pada
proses kognitif dalam proses belajar.

Daftar pustaka
Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV.
Rajawali