Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

KERACUNAN METANOL

Disusun Oleh :
1. Aldi Setyo

012116316

2. Ardanti Putri

01210

3. Fadhli Rizal Makarim

012106151

4. Rezky Agustin

012116501

5. Sokatria Utami

012116533

Pembimbing : dr. Istiqomah, Sp.KF, M.H

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOETIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
Periode 6 Juni 27 Juni 2015

LEMBAR PENGESAHAN
Telah dipresentasikan pada
Hari/tanggal : ........................Juni 2015

REFERAT
KERACUNAN METANOL

Disusun Oleh :
1.

Aldi Setyo

012116316

2.

Ardanti Putri

3. Fadhli Rizal Makarim

012106151

4. Rezky Agustin

012116501

5. Sokatria Utami

012116533

Telah disetujui dan disahkan :


Pembimbing

Dr. Istiqomah, Sp.KF,M.H

DAFTAR ISI
VISUM ET REPERTUM.................................................................................................................4
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................................10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................................12
BAB III KESIMPULAN...............................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................22

LAPORAN KASUS
A. Kasus
Tn. S meninggal dunia setelah menurut keterangan kepolisian minum minuman keras di
warung kaki lima. Ditemukan dua botol miras oplosan di dekat warung tempat Tn. S
membeli miras. Tn. S sebelumnya sempat mual dan muntah muntah sebelum akhirnya
meninggal. Pekerjaan Tn. S sebelum meninggal adalah kuli pekerja gorong gorong.
B. Visum et Repertum

BAGIAN INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK


DAN PEMULASARAN JENAZAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SOEDJATI PURWODADI
Jl.D.I. Panjaitan No. 36 Purwodadi, Grobogan
PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
No: ___/___/___/___

Atas permintaan tertulis dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Tengah Resor
Grobogan, melalui suratnya tanggal 2 Juni 2015 Nomor Polisi Resi _____________,
ditandatangani oleh _____________, Pangkat ___________, NRP _____ dan diterima tanggal 2
Juni 2015, jam 09.30 WIB, maka dengan ini saya, dr. Setyo Trisnadi, Sp. KF, SH, sebagai dokter
yang bekerja pada Rumah Sakit Dr. R. Soedjati Kabupaten Grobogan menerangkan bahwa pada
tanggal 2 Juni 2015, jam 09.30 WIB, di Instalasi Kamar Jenazah Rumah Sakit Dr. R. Soedjati
Kabupaten Grobogan telah memeriksa jenazah, yang berdasarkan surat permintaan tersebut di
atas bernama ________, umur __ tahun, jenis kelamin laki-laki, pekerjaan sebelum meninggal
mandor pabrik plastik, alamat ____________, bahwa orang tersebut ditemukan meninggal di
______________, pada hari Senin, tanggal 1 juni 2015, jam 17.00 WIB. Korban diduga
meninggal dunia akibat keracunan minuman keras----------------------------------------------HASIL PEMERIKSAAN :---------------------------------------------------------------------------------Dari pemeriksaan luar atas tubuh jenazah tersebut diatas didapatkan temuan-temuan sebagai
berikut :---------------------------------------------------------------------------------------------------------A. TEMUAN YANG BERKAITAN DENGAN IDENTITAS JENAZAH :----------------------1. Identitas Umum Jenazah :------------------------------------------------------------------------------a. Jenis Kelamin: Laki-laki----------------------------------------------------------------------------b. Umur: kurang lebih tiga puluh tahun -------------------------------------------c. Berat Badan: Tidak ditimbang --------------------------------------------------------------------d. Panjang Badan : Seratus enam puluh delapan sentimeter------------------------------------------e. Warna kulit : Sawo matang------------------------------------------------------------------------f. Warna pelangi Mata : Hitam--------------------------------------------------------------------------g. Ciri rambut : hitam, ikal, panjang ---------------------------------------------------- ------------h. Keadaan Gizi : Kesan gizi cukup---------------------------------------------------------------------2. Identitas Khusus Jenazah:------------------------------------------------------------------------------a. Tato : Tidak ada----------------------------------------------------------------------------------------b. Jaringan parut : Tidak ada----------------------------------------------------------------------------c. Tanda lahir : Tidak ada--------------------------------------------------------------------------------d. Cacat lahir : Tidak ada---------------------------------------------------------------------------------e. Penutup Jenazah : Terdapat pembungkus luar kain berwarna putih bertuliskan RSUD dr.
Soedjati Kabupaten Grobogan 2009--------------------------------------------------------------f. Kantong Jenazah : tidak ada---------------------------------------------------------------------------g. Benda disamping jenazah: ---------------------------------------------------------------------------h. Pakaian : ------------------------------------------------------------------------------------------------ Celana dalam warna merah marun, bahan kaos, ukuran L, merk Baratex-----------i. Perhiasan : Tidak ada--------------------------------------------------------------------------------B. TEMUAN YANG BERKAITAN DENGAN WAKTU TERJADINYA KEMATIAN :----1. Lebam Mayat : Terdapat pada punggung, pinggang, bokong, paha atas bagian belakang,
tungkai atas bagian belakang warna merah keunguan, tidak hilang dengan penekanan-------2. Kaku mayat : kaku mayat didapatkan pada kelopak mata atas, rahang atas, rahang bawah,
jari-jari kedua tangan, lengan kanan dan kiri, tungkai kanan dan tungkai kiri sukar dilawan
3. Pembusukan : Tidak ada-------------------------------------------------------------------------------C. TEMUAN DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN LUAR :-------------------------------1. Permukaan Kulit Tubuh :------------------------------------------------------------------------------5

a. Kepala :------------------------------------------------------------------------------------------------- Daerah berambut : Rambut terpanjang tiga sentimeter, terpendek nol koma lima
sentimeter.Tidak teraba derik tulang, tidak ada tanda kekerasan---------------------- Wajah : ---------------------------------------------------------------------------------------- Tidak ditemukan kelainan pada wajah-----------------------------------------------------b. Leher : tidak terdapat kelainan pada leher----------------------------------------------------------c.
Bahu
:
Tidak
ada
kelainan----------------------------------------------------------------------------d. Dada : Tidak ada kelainan---------------------------------------------------------------------------e. Punggung : Tidak ada kelainan ----------------------------------------------------------------------f. Perut : Tidak ada kelainan----------------------------------------------------------------------------g. Bokong :-------------------------------------------------------------------------------------------------a. Bokong kanan : Tidak ada kelainan-------------------------------------------------------------b. Bokong kiri : Tidak ada kelainan----------------------------------------------------------------h. Dubur :---------------------------------------------------------------------------------------------------a. Lingkaran dubur : Tidak ada kelainan----------------------------------------------------------b. Liang dubur : Tidak ada kelainan----------------------------------------------------------------i. Anggota gerak :-----------------------------------------------------------------------------------------a. Anggota gerak atas :-------------------------------------------------------------------------------i. Kiri :Tidak ada kelainan--------------------------------------------------------------------ii. Kanan : Tidak ada kelainan-----------------------------------------------------------------b. Anggota gerak bawah :----------------------------------------------------------------------------i. Kanan :Tidak ada kelainan-----------------------------------------------------------------ii. Kiri : Tidak ada kelainan---------------------------------------------------------------------2. Bagian Tubuh tertentu:---------------------------------------------------------------------------------1. Mata :----------------------------------------------------------------------------------------------------a. Alis mata : Warna hitam , tidak ada kelainan------------------------------------------------b. Bulu mata : Tidak ada kelainan, hitam, lurus-------------------------------------------------c. Kelopak mata : Tidak ada kelainan, terdiri atas kulit yang masih utuh, warna sawo
matang ---------------------------------------------------------------------------------------------d. Selaput kelopak mata : Tidak ada kelainan----------------------------------------------------e. Selaput biji mata : tidak ada kelainan----------------------------------------------------------f. Selaput bening mata :terdapat kekeruhan dan lecet pada kedua selaput bening mata--g. Pupil mata : tidak terindentifikasi-------------------------------------------------------------h. Pelangi mata : Hitam-----------------------------------------------------------------------------2. Hidung :-------------------------------------------------------------------------------------------------o Bentuk hidung : Tidak ada kelainan------------------------------------------------------------o Permukaan kulit hidung : Tidak ada kelainan-------------------------------------------------o Lubang Hidung: Tidak ada kelainan---------------------------------------------------------3. Telinga :-------------------------------------------------------------------------------------------------o Bentuk telinga : Tidak ada kelainan------------------------------------------------------------o Permukaan daun telinga : Tidak ada kelainan----------------------------------------------o Lubang telinga : ----------------------------------------------------------------------------------i. Kanan : Tidak ada kelainan------------------------------------------------------------------ii. Kiri : Tidak ada kelainan-------------------------------------------------------------------6

4. Mulut :--------------------------------------------------------------------------------------------------o Rongga mulut : mengeluarkan darah merah kehitaman encer------------------------------o Bibir atas : Tidak ada kelainan------------------------------------------------------------------o Bibir bawah :Tidak ada kelainan----------------------------------------------------------------o Selaput lendir mulut atas : Tampak pucat-----------------------------------------------------o Selaput lendir mulut bawah : Tampak pucat--------------------------------------------------o Lidah : Tampak pucat--------------------------------------------------------------------------o Gigi geligi :------------------------------------------------------------------------------------- Gigi rahang atas :Jumlah enam belas, geraham belakang ketiga kanan dan kiri
sudah tumbuh--------------------------------------------------------------------------------- Gigi rahang bawah : Jumlah enam belas, geraham belakang pertama kanan tidak
ada dan geraham belakang pertama dan kedua kiri tidak ada--------------------------o Langit langit mulut : Tidak ada kelainan----------------------------------------------------5. Alat kelamin : Laki-laki------------------------------------------------------------------------------o Kantung pelir : tidak ada kelainan-------------------------------------------------------------o Buah pelir : terdapat dua buah pelir------------------------------------------------------------o Rambut batang penis : terdapat rambut warna hitam kecoklatan, keriting dan distribusi
merata-----------------------------------------------------------------------------------------------o Lubang kelamin : Tampak air mani------------------------------------------------------------3. Tulang - Tulang :------------------------------------------------------------------------------------------a. Tulangtengkorak : Tidak ada kelainan-------------------------------------------------------------b. Tulang belakang : Tidak ada kelainan--------------------------------------------------------------c. Tulang-tulang dada : Tidak ada kelainan-----------------------------------------------------------d. Tulang-tulangpunggung : Tidak ada kelainan----------------------------------------------------e. Tulang-tulang panggul : Tidak ada kelainan-------------------------------------------------------f. Tulang anggota gerak : Tidak ada kelainan--------------------------------------------------------D. TEMUAN DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN DALAM : ---------------------------1. Rongga Kepala : ------------------------------------------------------------------------------------------a.
Kulit kepala bagian dalam : tidak terdapat resapan darah pada kulit kepala
bagian dalam. Tidak terdapat pelebaran pembuluh darah pada seluruh
otak.---------------------------------b.
Tulang Tengkorak : Utuh, tidak ada
kelainan----------------------------------------------------c.
Selaput
otak
:
perdarahan
di
bawah
selaput
-----------------------------------------------------d.
Otak besar : ukuran panjang delapan belas sentimeter, lebar enam belas
sentimeter, tinggi tujuh sentimeter. Perabaan lunak. Terdapat resapan darah dan
pelebaran pembuluh darah pada otak kanan Terdapat gambaran berkabut pada otak kanan
dan
kiri
bagian
frontal.
-----------------------------------------------------------------------------------e.
Otak kecil : ukuran panjang sebelas sentimeter, lebar tujuh sentimeter,
tinggi tiga koma lima sentimeter. Perabaan lunak. Pada pengirisan terdapat bintik
perdarahan
dan
pelebaran
pembuluh
darah
7

-----------------------------------------------------------------------f. Batang otak : tidak ada kelainan--------------------------------------------------------------------g. Dasar Tengkorak : Tidak ada kelainan------------------------------------------------------------2. Leher bagian dalam :------------------------------------------------------------------------------------a. Lidah : Tidak ada kelainan--------------------------------------------------------------------------b. Pada kulit leher bagian dalam: Tidak terdapat resapan darah---------------------------------c. Otot leher bagian dalam : Tidak ada kelainan----------------------------------------------------d. Tenggorokan : Terdapat buih halus di saluran pernapasan-------------------------------------e. Kerongkongan : Tampak kemerahan pada ujung bawah dan bagian luar kerongkongan--f. Tulang rawan cincin : Tidak ada kelainan-------------------------------------------------------3. Rongga dada:tidak terdapat kelainan------------------------------------------------------------------a. Otot dinding dada : Tidak ada kelainan-----------------------------------------------------------b. Tulang dada : Tidak ada kelainan------------------------------------------------------------------c. Paru : -------------------------------------------------------------------------------------------------- Paru kanan : Terdapat tiga bagian. Tampak bercak berwarna kehitaman pada
permukaan bagian bawah. Terdapat perlengketan paru kanan dengan dinding
dada kanan bagian atas, ukuran panjang dua puluh empat sentimeter, lebar
empat belas sentimeter, tinggi enam sentimeter, terdapat buih halus berwarna
merah gelap ----------------------------------------------------- Paru kiri : Terdapat dua bagian, permukaan licin, tidak terdapat perlengketan,
dengan ukuran panjang sembilan belas sentimeter, lebar sepuluh sentimeter,
tinggi lima sentimeter. --------------------------------------------------------------d. Jantung: ---------------------------------------------------------------------------------------------- Kantung jantung : tidak ada kelainan, cairan jantung warna jernih kekuningan,
jumlah lima milliliter-------------------------------------------------------------------- Jantung : Permukaan jantung tampak kemerahan, ditutupi lemak, perabaan kenyal,
jantung bagian kanan lebih tipis dari jantung bagian kiri, ukuran panjang jantung
lima belas sentimeter, lebar dua belas sentimeter, tinggi tiga sentimeter. Terdapat
penyumbatan pembuluh darah pada beberapa tempat-------------------------------------- Jantung kanan : katup antara serambi bilik kanan terdiri dari tiga buah katup, ukuran
lingkar katup jantung sebelas sentimeter, tidak ada kelainan. Tebal otot jantung kanan
satu sentimeter--------------------------------------------------------------------------- Jantung kiri : katup antara serambi biliki kiri terdiri dari dua buah katup. Lingkar
katup jantung kiri sebelas sentimeter. Tebal otot jantung kiri satu koma lima
sentimeter-----------------------------------------------------------------------------------------4.

Rongga
Perut:--------------------------------------------------------------------------------------------a. Kulit perut bagian dalam : Tidak ada kelainan--------------------------------------------------b. Rongga perut : Tidak Terdapat pelebaran pembuluh darah pada usus dan penggantung
usus ------------------------------------------------------------------------------------------------c. Tirai Usus: Menutupi sebagian besar usus--------------------------------------------------------d. Lambung : Berwarna pucat, permukaan licin tepi rata teraba kenyal------------------------e. Usus : Tidak ada kelainan-------------------------------------------------------------------------a. Hati : Permukaan licin, warna merah kecoklatan, perabaan kenyal, tepi tajam, tampak
membesar. Ukuran panjang hati bagian kanan delapan belas sentimeter, lebar dua puluh
8

empat sentimeter, tinggi lima sentimeter. Ukuran panjang hati bagian kiri empat belas
sentimeter, lebar dua belas sentimeter, tinggi empat sentimeter.
b. Limpa : Tampak merah kecoklatan, perabaan kenyal, ukuran panjang empat puluh dua
sentimeter, lebar sepuluh sentimeter, tinggi lima sentimeter,---------------------------------c. Kantung empedu : warna hijau keabuan, perabaan lunak, panjang sebelas sentimeter,
lebar lima sentimeter, tinggi empat sentimeter, tidak tampak kelainan-----------------------5. Rongga Panggul:------------------------------------------------------------------------------------------ Kandung kencing : tampak penuh----------------------------------------------------------KESIMPULAN :---------------------------------------------------------------------------------------------Berdasarkan temuan yang didapatkan dari pemeriksaan luar dan dalam atas jenazah tersebut
maka saya simpulkan bahwa telah diperiksa jenazah seorang laki-laki umur kurang lebih tiga
puluh tahun, warna kulit sawo matang, kesan gizi cukup. Saat kematian diperkirakan dua belas
jam hingga tiga puluh enam jam sebelum dilakukan pemeriksaan luar. Pada pemeriksaan
didapatkan darah merah kehitaman encer yang keluar dari mulut. Pada tenggorokan ditemukan
bih halus. Didapatkan resapan darah dan pelebaran pembuluh darah pada otak kanan serta
gambaran berkabut pada otak kanan dan kiri bagian frontal. Ditemukan kekeruhan dan luka lecet
pada selaput bening mata kanan dan kiri. Dari hasil pemeriksaan laboratorium darah
ditemukan____________________.Sebab kematian adalah keracunan minuman keras, sehingga
menyebabkan mati lemas--------------------------------------------------------------------------------------PENUTUP:----------------------------------------------------------------------------------------------------Demikianlah keterangan tertulis ini saya buat dengan sesungguhnya, dengan mengingat sumpah
sewaktu menerima jabatan sebagai dokter---------------------------------------------------------------Semarang , Juni 2015
Dokter yang memeriksa

dr. Setyo Trisnadi, Sp.KF, SH.

BAB I
PENDAHULUAN
Keracunan Methanol merupakan masalah di bidang medis, sosial dan ekonomi yang
terjadi di negara berkembang maupun negara yang sedang berkembang (Paasma, 2009). Metanol
(CH3OH;metyl alchohol;carbinol;alchohol kayu) merupakan alkohol yang paling sederhana,
bersifat ringan, mudah menguap, tak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau khas.
Metanol termasuk golongan bahan toksik karena dapat merusak jaringan terutama jaringan saraf
pusat.1 Penggunaan metanol banyak digunakan untuk cat, pelarut dalam industri, pembuatan
formaldehid, asam asetat, derivat metil, sebagai penguat bahan bakar (fuel octane booster) dan
bahan bakar pada kompor portable (Andersen et al., 2008; Karayel et al., 2010; Liu et al., 1999;
Yayci et al., 2003).
Bahaya metanol terhadap kesehatan tergantung dari organ sasaran, rute paparan dan
lamanya paparan. Metanol dapat diabsorbsi ke dalam kulit melalui saluran pernafasan atau
pencernaan, didistribusikan ke dalam cairan tubuh dan dalam jumlah kecil diekskresikan melalui
pernafasan, keringat dan urin (Bertram, 2007). Metanol memiliki toksisitas yang relatif rendah
tetapi karena adanya proses metabolisme akan mengubah metanol menjadi metabolit beracun,
terutama asam format (Barceloux, 2002).
Dosis mematikan metanol sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Beberapa
orang setelah mengkonsumsi sebanyak 15 mL 40% metanol dapat menyebabkan kematian,
sedangkan beberapa orang lainnya mengkonsumsi sebanyak 500 mL metanol tidak menyebabkan
kematian. Hal ini dimungkinkan karena perbedaan frekuensi konsumsi, kandungan folat atau
aktivitas sistem metabolisme (Salek, 2014).
Manifestasi dari keracunan metanol adalah sakit kepala, sakit kepala, nyeri ulu hati,
muntah, dyspneu, bradikardia dan hipotensi. Bisa terjadi delirium kemudian pasien akan segera
menjadi koma. Asidosis metabolik sangat khas terjadi pada keracunan metanol, yang disebabkan
karena terbentuknya asam format yang merupakan metabolit dari metanol yang telah mengalami
metabolisme di dalam hati. Toksisitas yang spesifik yaitu kerusakan pada retina. Penglihatan
kabur, pelebaran pembuluh darah diskus optikus selalu mendahului kematian yang disebabkan
oleh gagal nafas (Bertram, 2007).
10

Tujuan

Mengetahui farmakodinamik dan farmakokinetik dari metanol


Mengetahui patofisiologi intoksikasi metanol
Mengetahui penampakan post mortem korban intoksikasi metanol
Menambah pengetahuan mengenai medikolegal intoksikasi metanol

Manfaat

11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Farmokinetik dan Farmakodinamik Metanol


Metanol (CH3OH;metyl alchohol;carbinol;alchohol kayu) merupakan alkohol
yang paling sederhana, bersifat ringan, mudah menguap, tak berwarna, beracun, mudah
terbakar dan berbau khas (Andersen et al., 2008; Karayel et al., 2010; Liu et al., 1999;
Yayci et al., 2003). Metanol diproduksi menjadi uap metanol (dalam jumlah kecil) di
udara secara alami oleh bakteri melalui metabolisme anaerob. Setelah beberapa hari,
dengan bantuan matahari uap metanol tersebut akan teroksidasi oleh oksigen menjadi
karbon dioksida dan air (Miller, 2007). Reaksi kimia metanol terbakar di udara dan
membentuk karbon dioksida dan air adalah sebagai berikut:
2 CH3OH + 3 O2 2 CO2 + 4 H2O
Absorbsi metanol di dalam tubuh dilakukan oleh saluran pernafasan atau
pencernaan dan kulit. Bila tertelan, metanol cepat diabsrobsi dalam saluran pencernaan.
Metanol dalam bentuk larutan lebih lambat diserap dibanding dengan metanol murni.
Kecepatan absorsi metanol dipengaruhi oleh konsentrasi metanol dan ada tidaknya
makanan dalam saluran cerna. Adanya makanan dalam saluran cerna tertama lemak dan
protein akan memperlambat absorbsi metanol dalam saluran cerna (Kraut, 2008; Chan,
2007; Brent, 2009). Dosis berbahaya dapat terjadi bila seseorang terpapar terus menerus
terhadap uap metanol atau cairan metanol tanpa menggunakan pelindung yaitu 100-125
mL (4fl oz).
Metanol didistribusikan secara luas dalam cairan tubuh dengan volume distribusi
0,6 L/kg (Methanol Poisoning Overview, 2010). Kadar dalam darah cepat meningkat
dalam waktu 30-60 menit setelah masuk tergantung ada tidaknya makanan dalam
lambung. Waktu paruh metanol sekitar 12 jam (Tjokroprawiro, 2007).
Metanol yang telah di absorbsi, dimetabolisme di dalam hepar melalui proses
oksidasi. Secara normal, tubuh dapat memetabolisme 10 gms metanol murni, jika
dikonsumsi berlebihan, konsentrasi metanol dalam darah akan meningkat dan orang
tersebut mulai menunjukkan keluhan dan gejala keracunan alkohol, kecuali orang
tersebut telah mengalami toleransi terhadap metanol.
Sekitar 2-10% metanol diekskresikan tanpa mengalami perubahan baik melalui
paru maupun ginjal. Sebagian kecil dikeluarkan melalui keringan, air mata, empedu,
12

cairan lambung dan air ludah. Metanol diekskresikan dan masih bisa didapatkan didalam
tubuh selama 4 hari setelah pemberian dosis tunggal. Bila dalam darah kadar metanol
rendah maka waktu paruhnya adalah 2-3 jam. Pada intoksikasi ringan, waktu paruh 14-20
jam. Namun apabila kadar dalam darahnya meningkat sampai lebih dari 300 mg/dl
(intoksikasi berat), waktu paruhnya menjadi 27 jam (24-30 jam) (Gonzales, 1995).
2.2.

Patofisiologi Intoksikasi Metanol


Keracunan metanol khas ditandai oleh asidosis metabolik, hiperosmolalitas,
peningkatan osmolar gap, kerusakan retina sampai kebutaan, kerusakan putamen dan
lobus caudatus dengan disfungsi neurologis. Asidosis metabolik disebabkan oleh asam
format, asam laktat dan keton. Metanol dioksidasi oleh alkohol dehydrogenase (ADH)
menjadi formaldehyde yang kemudian dimetabolisme oleh formaldehyde dehydrogenase
menjadi asam format. Asam format kemudian dioksidasi menjadi karbondioksida dan air
oleh tetrahidrofolat. Metabolisme dari asam format sangat lambat sehingga dapat
terakumulasi di dalam tubuh yang menimbulkan asidosis metabolic. Asam format juga
menghambat respirasi seluler sehingga terjadi asidosis laktat. Asam format merupakan
inhibitor sitokrom c oksidase sehingga akan menyebabkan hipoksia histotoksik. Keadaan
ini menurunkan produksi adenosin triphosphate (ATP) (Salek, 2014).
Efek neurotoksik asam fromat pada neuron dan sel glial ditunjukan dengan
adanya perubahan neuron. Asam format dan formaldehide juga memiliki efek toksik pada
sel retina dengan menghambat enzim cytochrome oxidase dalam saraf mata dan
menghambat aliran axoplasma (Treichel, 2003). Nervus opticus sensitif terhadap
penurunan produksi ATP karena neuron pada N. Opticus memliki akson yang panjang dan
diameter yang sangat kecil (Sadun, 1998). Pasien biasanya mengalami penglihatan kabur,
penglihatan ganda atau perubahan persepsi warna, pengecilan lapang pandang dan
terkadang kehilangan penglihatan secara total. Tanda khas dari disfungsi penglihatan
termasuk dilatasi pupil dan hilangnya reflek pupil (Metanol Poisoning Overview, 2010).
Tanda dan gejala lanjut dapat terjadi pernafasan dangkal, sianosis, takipneu,
gangguan memori, koma, kejang, gangguan elektrolit dan perubahan hemodunamik
termasuk hipertensi dan cardiac arrest.

2.3.

Pemeriksaan Korban Meninggal Akibat Keracunan Metanol


TKP

13

Pada TKP dapat ditemukan sisa-sisa metanol, bisa juga didapatkan muntahan
korban dan baju korban yang berbau metanol, biasanya bau metanol ini cepat hilang oleh
karena terjadi proses penguapan.
Pemeriksaan Luar
Didapatkan perubahan warna kulit menjadi gelap, terdapat petechie pada
konjungtiva mata dan mukosa mulut.
Pemeriksaan Dalam
Pada pemeriksaan korban postmortem akibat keracunan metanol secara
makroskopis dapat dilihat perubahannya pada berbagai macam organ yaitu antara lain :
a. Sistem Saraf Pusat (SSP)
Pada seseorang yang mengalami keracunan metil alkohol, pada pemeriksaan SSP
dapat ditemukan edema serebri, pola kerusakan otak yang khas yaitu berupa
nekrosis putamen bilateral, terutama mengenai bagian lateral dari nuclei. Pada
beberapa kasus dapat juga ditemukan nekrosis hemoragik yang melibatkan
centrum semiovale, khususnya bagian subkortikal. Selain itu dapat juga terjadi
kerusakan pada substansia alba dan putamen. Pada pemeriksaan postmortem pada
keracunan metanol yang kronis yaitu tampak perubahan morfologik otak yang
menyeluruh yaitu atropi kortikal dan subkortikal. Kelainan lain yang mungkin
terjadi pada keracunan metanol adalah nekrosis dan perdarahan pada substansia
alba. Namun lesi pada substansia alba ini kurang spesifik pada keracunan
metanol.
b. Mata
Lesi pada mata meliputi destruksi dari sel-sel ganglion retina, edema dari diskus
optikus dan atrofi pada nervus optikus.
c. Jantung
Degenerasi vacuolar pada sel-sel jantung, cloudy changes pada myocardium.
d. Paru-paru
Pada paru-paru akan tampak kongesti dan odema, hiperemis dan deskuamasi dari
epitel bronkhus yang emfisematus.
e. Hati
Terjadi kongesti dan degenerasi parenkimatus.
f. Pankreas
Terjadi nekrosis dan perdarahan.
g. Ginjal
Pada ginjal menunjukkan adanya degenerasi tubular dengan patchy nekrosis,
kongesti dan dilatasi pada kapiler glomerular, terjadi kongesti berat pada kapiler
peritubular.
14

h. Vesica urinaria
Pada mukosa vesica urinaria terjadi kongesti.
(Gonzales, 1995).
2.4.

Toksikologi
Bahan-bahan yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi adalah darah,
otak, hati, ginjal dan urin. Dalam urin dapat ditemukan metanol dan asam formiat sampai
12 hari setelah keracunan. Formaldehide tidak pernah terdeteksi dalam cairan tubuh
korban karena formaldehide yang terbentuk sangat cepat diubah menjadi asam format
(waktu paruh 1-2 menit) dan selanjutnya diperlukan waktu yang lama (kurang lebih 20
jam) oleh enzim 10-formyltetrahydrofolate synthetase (F-THF-S) untuk mengoksidasi
asam format menjadi senyawa karbon dioksida dan air, sehingga ditemukan adanya
korelasi antara konsentrasi asam format dalam cairan tubuh dengan kasus keracunan
metanol.
Berat ringannya gejala akibat keracunan metanol tergantung dari besarnya kadar
metanol yang tertelan. Dosis toksik minimun metanol kurang lebih 100 mg/kg dan dosis
fatal keracunan metanol diperkirakan 20-240 ml (20-150 g).
Secara kualitatif, pada korban dapat ditemukan formaldehide dan asam format
pada pemeriksaan toksikologi, dan secara kuantitatif menggunakan teknik kromatografi
yang dikombinasi dengan teknik detektor lainnya, seperti kromatografi gas spektrofotometri massa (GCMS), kromatografi cair kenerja tinggi (HPLC) dengan diodearray

detektor,

kromatografi

cair

spektrofotometri

massa

(LC-MS),

KLT-

Spektrofotodensitometri, dan teknik lainnya. Meningkatnya derajat spesifisitas pada uji


ini akan sangat memungkinkan mengenali identitas analit, sehingga dapat menentukan
secara spesifik tolsikan yang ada. Interpretasi tingkat konsentrasi dalam darah dan
jaringan dapat dibagi menjadi tiga katagori: normal atau terapeutik, toksik, dan lethal.
Tingkat konsentrasi normal dinyatakan sebagai keadaan, dimana tidak menimbulkan efek
toksik pada organisme. Tingkat konsentrasi toksik berhubungan dengan gejala
membahayankan nyawa, seperti: koma, kejang-kejang, kerusakan hati atau ginjal. Tingkat
konsentrasi kematian dinyatakan sebagai konsentrasi yang dapat menyebabkan kematian
(Wirasuta, 2008).
2.5.

Diagnosis
Pemeriksaan lab
15

Pemeriksaan lab pada ginjal didapatkan rendahnya kadar bikarbonat serum karena
terjadi asidosis metabolik. Peningkatan anion gap disebabkan karena peningkatan kadar
laktat dan keton, hal ini dapat terjadi kemungkinan karena akumulasi asam format. Dapat
juga terjadi peningkatan osmolar gap, hal ini bukan merupakan temuan yang spesifik
karena menunjukkan adanya suatu larutan dengan berat molekul rendah seperti etanol,
alkohol lain, mannitol, glisin, lemak atau protein. Diagnosis definitive dari keracunan
metanol dapat dilihat dari peningkatan kadar metanol serum yang dapat diukur dengan
gas chromathography namun hal ini tidak berkorelasi dengan tingkat keracunan dan
merupakan indikator yang baik untuk prognosis.
Imaging
CT scan dapat menunjukkan perubahan karakteristik dari nekrosis putamen
bilateral dengan derajat perdarahan yang bervariasi. Namun lebih sering hasil CT scan
normal. MRI adalah metode imaging yang lebih sensitive dalam mendiagnosa keracunan
metanol. Pada keracunan metanol yang baru berlangsung selama empat minggu, MRI
telah dapat menunjukkan adanya perubahan pada putamen dan juga lesi yang berwarna
putih pada lobus frontal atau oksipital. MRI dapat digunakan untuk membedakan
keracunan metanol dengan kondisi lain seperti hipoglikemik dan keracunan
karbonmonoksida.
Temuan patologis paling karakteristik setelah keracunan metanol adalah adanya
daerah nekrosis pada putamen, dimana juga terdapat perdarahan dengan derajat yang
bervariasi. Gambaran ini bisa terlihat pada pasien yang bertahan setelah 24 jam, nekrosis
juga dapat terlihat pada substansia alba pada pasien yang bertahan lebih dari beberapa
hari.

16

Gambar 2 CT scan pada hari ke lima menunjukkan adanya perdarahan pada putamen.

Gambar 3 CT Scan Pre (A) dan Post kontras (B) pada hari ke 24 menunjukkan
Hilangnya volume putamen secara bilateral dan adanya lesi putamen dan subkortikal.

17

Gambar 4 fotografi fundus 2 bulan setelah


intoksikasi methanol memperlihatkan
atropi optic dengan cakram optic yang
terlihat glaucomatous dan penyempitan
lingkaran neuroretina dengan 0,9 cup pada
(a) mata kanan, dan 0,7 cup pada (b) mata
kiri.

(Tjokroprawiro, 2007).
2.6.
Aspek Medikolegal
Aspek medikolegal minum minuman beralkohol tidak dilarang
oleh undang-undang. KUHP yang mengatur mengenai alkohol:
Pasal 300:
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda
paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:
1.
Barang siapa dengan sengaja menjual atau memberikan
minuman yang memabukkan kepada seseorang yang
telah kelihatan mabuk; Perdagangan wanita dan
perdagangan anak laki-laki yang belum dewasa,
diancam dengan pidana penjara paling lama enam
2.

tahun.
Barang siapa dengan sengaja membikin mabuk seorang

3.

anak yang umurnya belum cukum enam belas tahun;


Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman
kekerasan memeksa orang untuk minum minuman yang

memabukkan.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah
diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(3) Jika perbuatan mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam
pidana penjara paling lama sembilan tahun.

18

(4) Jika

yang

menjalankan

bersalah

melakukan

pencariannya,

dapat

kejahatan

tersebut

dalam

dicabut

haknya

untuk

menjalankan pencarian itu.


Pasal 492
(1) Barang siapa dalam keadaan mabuk di muka umum merintangi lalu
lintas, atau mengganggu ketertiban, atau mengancam keamanan
orang lain, atau melakukan sesuatu yang harus dilakukan dengan
hati-hati atau dengan mengadakan tindakan penjagaan tertentu
lebih dahulu agar jangan membahayakan nyawa atau kesehatan
orang lain, diancam dengan pidana kurungan paling lama enam
hari, atau pidana denda paling banyak tida ratus tujuh puluh lima
rupiah.
(2) Jika ketika melakukan pelanggaran belum lewat satu tahun sejak
adanya pemndanaan yang menjadi tetap karena pelanggaran yang
sama, atau karena hal yang dirumuskan dalam pasal 536,
dijatuhkan pidana kurangan paling lama dua minggu.
Pasal 493
Barang siapa melawan hukum di jalan umum membahayakan kebebasan
bergerak orang lain, atau terus mendesakkan dirinya bersama dengan
seorang atau lebih kepada orang lain yang tidak menghendaki itu dan
sudah tegas dinyatakan, atau mengikuti orang lain secara mengganggu,
diancam dengan pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah.
Pasal 536
(1) Barang siapa terang dalam keadaan mabuk berada di jalan umum,
diancam dengan pidana denda paling banyak dua ratus dua puluh
lima rupiah.
(2) Jika ketika melakukan pelanggaran belum lewat satu tahun sejak
adanya pemindanaan yang menjadi tetap karena pelanggaran yang
sama atau yang dirumuskan dalam pasal 492, pidana denda dapat
diganti dengan pidana kurungan paling lama tiga hari.

19

(3) Jika terjadi pengulangan kedua dalam satu tahun setelah


pemindanaan pertama berakhir dan menjadi tetap, dikenakan
pidana kurungan paling lama dua minggu.
(4) Pada pengulangan ketiga kalinya atau lebih dalam satu tahun,
setelah pemindanaan yang kemudian sekali karena pengulangan
kedua kalinya atau lebih menjadi tetap, dikenakan pidana kurungan
paling lama tiga bulan.
Pasal 537
Barang siapa di luar kantin tentara menjual atau memberikan minuman
keras atau arak kepada anggota Angkatan Bersenjata di bawah pangkat
letnan atau kepada istrinya, anak atau pelayan, diancam dengan pidana
kurungan paling lama tiga minggu atau pidana denda paling tinggi seribu
lima ratus rupiah
Pasal 538
Penjual atau wakilnya yang menjual minuman keras yang dalam
menjalankan pekerjaan memberikan atau menjual minuman keras atau
arak kepada seorang anak di bawah umur enam belas tahun, diancam
dengan pidana kurungan paling lama tiga minggu atau pidana denda paling
tinggi empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 539
Barang siapa pada kesempatan diadakan pesta keramaian untuk umum
atau pertunjukkan rakyat atau diselenggarakan arak-arakan untuk umum,
menyediakan secara cuma-cuma minuman keras atau arak dan atau
menjajikan sebagai hadiah, diancam dengan pidana kurungan paling lama
dua belas hari atau pidanan denda paling tinggi tiga ratus tujuh puluh lima
rupiah.

BAB III
KESIMPULAN

20

Keracunan metanol merupakan suatu keracunan yang menimbulkan


kegawatan medis yang akut, dan sering terjadi di negara kita yang dapat
menyebabkan morbiditas dan bahkan kematian. Metanol mempengaruhi berbagai
sistem organ di dalam tubuh. Metanol dapat diabsorpsi ke dalam kulit, saluran
pernafasan atau pencernaan dan didistribusikan ke dalam cairan tubuh.
Mekanisme utama metanol di dalam tubuh manusia adalah dengan oksidasi
menjadi formaldehid, asam format, dan CO2.
Metanol mempengaruhi berbagai sistem organ di dalam tubuh. Gejala
awal berupa depresi sistem saraf pusat seperti sakit kepala, pusing, mual,
koordinasi terganggu, kebingungan dan pada dosis yang tinggi tidak sadarkan diri
dan kematian. Gejala lebih lanjut berupa gangguan penglihatan, asidosis sampai
dapat terjadi pernafasan dangkal, sianosis, takipneu, koma, kejang, gangguan
elektrolit dan perubahan hemodinamik yang bervariasi termasuk hipertensi dan
cardiac arrest.
Ada tiga cara yang spesifik untuk keracunan metanol berat; penekanan
metabolism oleh alkohol dehidrogenase untuk pembentukan produk-produk
toksiknya, dialisis untuk meningkatkan bersihan metanol dan produk toksiknya,
serta alkalinasi untuk menetralkan asidosis metabolik
Pada keracunan metanol dapat terjadi perubahan akut sekunder akibat
hipoksia/iskemia pada substansia grisea berupa edema serebri dan injuri neuronal
akut. Pada seseorang yang mengalami keracunan metil alkohol selama beberapa
hari atau beberapa minggu akan menunjukkan pola kerusakan otak yang khas
yaitu nekrosis putamen bilateral, terutama mengenai bagian lateral dari nuclei.
Pada beberapa kasus dapat juga ditemukan nekrosis hemoragik yang melibatkan
centrum semiovale, khususnya bagian subkortikal. Selain itu dapat juga terjadi
kerusakan pada substansia alba dan putamen.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Paasma R, Hovda KE, Jacobsen D. Methanol Poisoning and Long Term
Sequelae - a Six Years Follow-up after a Large Methanol Outbreak. BMC
Clinical Pharmacology 2009;9:5. doi:10.1186/1472- 6904-9-5
2. Bertram G Katzung (2007), Alkohol. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi
VI, EGC, PP.369-379
3. Andersen H, Schmoldt H, Matschke J, Flachskampf FA, and Turk EE
(2008) Fatal methanol intoxication with different survival timesmorphological findings and postmortem methanol distribution. Forensic
Science International 179(23): 206210.
4. Karayel F, Turan AA, Sav A, Pakis I, Akiyildiz EU, and Ersoy G (2010)
Methanol intoxication: pathological changes of central nervous system (17
cases). American Journal of Forensic Medicine and Pathology 31(1): 34
36.
5. Liu JJ, Daya MR, and Mann NC (1999) Methanol-related deaths in
Ontario. Clinical Toxicology 37(1): 6973.
6. Yayci N, Agritmis H, Turla A, and Koc S (2003) Fatalities due to methyl
alcohol intoxication in Turkey: an 8-year study. Forensic Science
International 131(1): 3641.
7. Barceloux DG, Bond GR, Krenzelok EP, Cooper H, Vale JA. American
Academy of Clinical Toxicology Ad Hoc Committee on the Treatment
Guidelines for Methanol Poisoning. American Academy of Clinical
Toxicology Practice Guidelines on the Treatment of Methanol Poisoning
Journal of Toxicology. Clinical Toxicology 2002;40:415-46.
8. Salek T, Humpolicek P, Ponizil P. Metabolic Disorders due to Methanol
Poisoning. Biomed Pap Med Fa Univ Palacktu Olomouc Czezh Repub.
2014 Dec; 158(4):635-640.
9. Miller JE. Initial Case for Splitting Carbon Dioxide to Carbon Monoxide
and Oxygen. Sandia Report. Sand2007-8012.
10. Kraut JA, Krautz I. Toxic alcohol ingestion: Clinical feature, diagnosis,
and management. Clin J Am Soe Nephrol 2008; 3: 20825.
11. Chan JW. Nutritional and toxic optic neuropathy. Optic nerve disoroder
diagnosis and management. 9 ed. Kentucky: Spinger; 2007
12. Brent J. Fomepizole for ethylene glycol and methanol poisoning. The New
England Journal of Medicine 2009; 360: 2213.
13. Tjokroprawiro, A. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya:
Airlangga University Press.
22

14. Sadun A. Acquired Mitochondrial Impairment as a Cause of Optic Nerve


Disease. Transactions of the American Ophthalmological Society 1998;96:
881-923.
15. Treichel JL, Henry MM, Skumatz CM, Eells JT, Burke JM. Formate, the
Toxic Metabolite of Methanol, in Cultured Ocular Cells. NeuroToxicology
2003;24:825-34. doi:10.1016/S0161-813X(03)00059-7.
16. Gonzales TA et.all., Legal Medicine Pathology and Toxicology, Appleton
Century, Crofts, Inc. New York, 1995.
17. Wirasuta, Made Agus Gelgel. 2008. Forensik dan Interpretasi Temuan
Analisi. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/abstrac%2010.pdf

23