Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A LATAR BELAKANG
Di Indonesia sampai saat ini penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat. Malaria dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi
yaitu bayi, anak balita, ibu hamil, selain itu malaria secara langsung menyebabkan anemia
dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Penyakit ini juga masih endemis di sebagian
besar wilayah Indonesia. Angka kesakitan penyakit ini pun masih cukup tinggi, terutama di
daerah Indonesia bagian timur. Di daerah trasmigrasi dimana terdapat campuran penduduk
yang berasal dari daerah yang endemis dan tidak endemis malaria, di daerah endemis
malaria masih sering terjadi letusan kejadian luar biasa (KLB) malaria Oleh karena kejadian
luar biasa ini menyebabkan insiden rate penyakit malaria masih tinggi di daerah tersebut. Di
Indonesia penderita malaria mencapai 1-2 juta orang pertahun, dengan angka kematian
sebanyak 100 ribu jiwa. Kasus tertinggi penyakit malaria adalah daerah papua, akan tapi
sekitar 107 juta orang Indonesia tinggal di daerah endemis malaria yang tersebar dari Aceh
sampai Papua, termasuk di Jawa yang padat penduduknya(Adiputro,2008).
B RUMUSAN MASALAH
1 Apa definisi malaria ?
2 Bagaimana anatomi fisiologi malaria ?
3 Apa saja penyebab/etiologi penyakit malaria ?
4 Bagaimana epidemiologi malaria ?
5 Bagaimana patofisiologi malari ?
6 Apa manifestasi klinis dari malaria ?
7 Apa saja klasifikasi malaria ?
8 Pemeriksaan diagnostic apa saja yang dilakukan untuk pemeriksaan malaria ?
9 Bagaimana penatalaksanaan medis malaria ?
10 Komplikasi apa saja yang ditimbulkan dari penyakit malaria ?
11 Bagaimana prognosis dari malaria ?
12 Bagaimana pencegahan penyakit malaria ?
13 Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan malaria ?
C TUJUAN
1 Mengetahui dan memahami definisi malaria.
2 Mengetahui dan memahami anatomi fisiologi malaria.
3 Mengetahui dan memahami penyebab/etiologi malaria.

4
5
6
7
8

Mengetahui dan memahami epidemiologi malaria.


Mengetahui dan memahami patofisiologi malari.
Mengetahui dan memahami manifestasi klinis malaria.
Mengetahui dan memahami klasifikasi malaria.
Mengetahui dan memahami macam-macam pemeriksaan diagnostik yang dilakukan

9
10
11
12
13

untuk pemeriksaan malaria.


Mengetahui dan memahami penatalaksanaan medis malaria.
Mengetahui dan memahami Komplikasi malaria.
Mengetahui dan memahami prognosis dari malaria.
Mengetahui dan memahami pencegahan dari malaria.
Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan malaria.

BAB II
PEMBAHASAN

A DEFINISI MALARIA

Kata malaria berasal dari bahasa Itali Mal yang artinya buruk dan Aria yang artinya
udara. Sehingga malaria berarti udara buruk (bad air). Hal ini disebabkan karena malaria
terjadi secara musiman di daerah yang kotor dan banyak tumpukan air (koalisi (a) koalisi org
2001).
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dan genus
plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles.(Prabowo,2004:2)
Penyakit malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa dan genus
plasmodium masa tunas atau inkubasi penyakit dapat beberapa hari atau beberapa bulan.
(Dinas kesehatan DKI Jakarta)
Malaria adalah penyakit yang bersifat akut maupun kronik yang disebabkan oleh protozoa
genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemia dan splenomegali (Mansjoer,
2001, hal 406).
Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa
spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui air liur nyamuk (Corwin, 2000,
hal 125). Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler
dari genus plasmodium (Harijanto, 2000, hal 1). Malaria adalah penyakit infeksi dengan
demam berkala, yang disebabkan oleh parasit plasmodium dan ditularkan oleh sejenis
nyamuk Anopeles (Tjay & Raharja, 2000).

Berdasarkan pengertian diatas penyakit malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh
infeksi protozoa dan genus plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles
yang masa inkubasi penyakit dapat beberapa hari sampai beberapa bulan.
WHO mencatat setiap tahunnya tidak kurang dari 1 hingga 2 juta penduduk meninggal
karena penyakit yang disebarluaskan nyamuk Anopheles. Penyakit malaria juga dapat
diakibatkan karena perubahan lingkungan sekitar seperti adanya Pemanasan global yang
terjadi saat ini mengakibatkan penyebaran penyakit parasitik yang ditularkan melalui
nyamuk dan serangga lainnya semakin mengganas. Perubahan temperatur, kelembaban

nisbi, dan curah hujan yang ekstrim mengakibatkan nyamuk lebih sering bertelur sehingga
vector sebagai penular penyakit pun bertambah dan sebagai dampak muncul berbagai
penyakit, diantaranya demam berdarah dan malaria.
B ANATOMO FISIOLOGI MALARIA
Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen
yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh.
Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa
metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan
mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga
diedarkan melalui darah.
Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua
apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein
pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang
merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Manusia memiliki sistem peredaran
darah tertutup yang berarti darah mengalir dalam pembuluh darah dan disirkulasikan oleh
jantung. Darah dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme
berupa karbon dioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis, lalu
dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh
tubuh oleh saluran pembuluh darah aorta.
Darah mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh melalui saluran halus darah yang disebut
pembuluh kapiler. Darah kemudian kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena cava
superior dan vena cava inferior. Darah juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme,
obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang
sebagai air seni.
1

Komposisi Darah Manusia


Terdiri dari dua komponen:
Korpuskuler adalah unsur padat darah yaitu sel-sel darah eritrosit, lekosit, trombosit.
a Eritrosit (Sel Darah Merah)
Merupakan bagian utama dari sel darah. Jumlah pada pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc
darah dan pada wanita sekitar 4 juta sel/cc darah. Berbentuk Bikonkaf, warna merah
disebabkan oleh Hemoglobin (Hb) fungsinya adalah untuk mengikat Oksigen. Kadar
1 Hb inilah yang dijadikan patokan dalain menentukan penyakit Anemia. Eritrosit

berusia sekitar 120 hari. Sel yang telah tua dihancurkan di Limpa. Hemoglobin
b

dirombak kemudian dijadikan pigmen Bilirubin (pigmen empedu).


Leukosit (Sel Darah Putih)
Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000 9000 sel/cc darah. Fungsi
utama dari sel tersebut adalah untuk Fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing
yang masuk ke dalam tubuh. Maka jumlah sel tersebut bergantung dari bibit
penyakit/benda asing yang masuk tubuh.
1 Peningkatan jumlah leukosit merupakan petunjuk adanya infeksi misalnya
2

radang paru-paru.
Leukopenia - Berkurangnya

sel/cc darah.
Leukositosis Bertambahnya jumlah lekosit yang melebihi batas normal (di

jumlah

lekosit

sampai

di

bawah

6000

atas 9000 sel/cc darah).


Fungsi fagosit sel darah tersebut terkadang harus mencapai benda asing/kuman jauh
di luar pembuluh darah. Kemampuan lekosit untuk menembus dinding pembuluh
darah (kapiler) untuk mencapai daerah tertentu disebut Diapedesis. Gerakan leukosit
mirip dengan amoeba Gerak Amuboid.
Jenis Leukosit
a Granulosit.
Leukosit yang di dalam sitoplasmanya memiliki butir-butir kasar (granula).
Jenisnya adalah eosinofil, basofil dan netrofil. Eosinofil mengandung granola
berwama merah (Warna Eosin) disebut juga Asidofil. Berfungsi pada reaksi
alergi (terutama infeksi cacing). Basofil mengandung granula berwarna biru
(Warna Basa). Berfungsi pada reaksi alergi. Neutrofil (ada dua jenis sel yaitu
Neutrofil Batang dan Netrofil Segmen). Disebut juga sebagai sel-sel PMN (Poly
b

Morpho Nuclear). Berfungsi sebagai fagosit.


Agranulosit.
Leukosit yang sitoplasmanya tidak memiliki granula. Jenisnya adalah limfosit
dan monosit. Limfosit (ada dua jenis sel yaitu sel T dan sel B). Keduanya
berfungsi untuk menyelenggarakan imunitas (kekebalan) tubuh. Sel T4 imunitas
seluler sel B4 imunitas humoral. Monosit merupakan leukosit dengan ukuran
paling besar.

Trombosit/keping darah.

Disebut pula sel darah pembeku. Jumlah sel pada orang dewasa sekitar 200.000
500.000 sel/cc. Di dalam trombosit terdapat banyak sekali faktor pembeku
d

(Hemostasis) antara lain adalah Faktor VIII (Anti Haemophilic Factor).


Plasma Darah.
Terdiri dari air dan protein darah Albumin, Globulin dan Fibrinogen. Cairan
yang tidak mengandung unsur fibrinogen disebut Serum Darah. Protein dalam
serum inilah yang bertindak sebagai Antibodi terhadap adanya benda asing
(Antigen). Zat antibodi adalah senyawa Gama Globulin. Tiap antibodi bersifat
spesifik terhadap antigen dan reaksinya bermacam-macam.
1 Antibodi yang dapat menggumpalkan antigen Presipitin.
2 Antibodi yang dapat menguraikan antigen Lisin.
3 Antibodi yang dapat menawarkan racun Antitoksin.

C ETIOLOGI MALARIA
Menurut Harijanto (2000) ada empat jenis plasmodium yang dapat menyebabkan infeksi
yaitu,
1 Plasmodium vivax, merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria
2

tertiana/ vivaks (demam pada tiap hari ke tiga).


Plasmodium falciparum, memberikan banyak

komplikasi

dan

mempunyai

perlangsungan yang cukup ganas, mudah resisten dengan pengobatan dan menyebabkan
3

malaria tropika/ falsiparum (demam tiap 24-48 jam).


Plasmodium malariae, jarang ditemukan dan menyebabkan malaria quartana/malariae

(demam tiap hari empat).


Plasmodium ovale, dijumpai pada daerah Afrika dan Pasifik Barat, diIndonesia dijumpai
di Nusa Tenggara dan Irian, memberikan infeksi yang paling ringan dan dapat sembuh
spontan tanpa pengobatan, menyebabkan malaria ovale
Masa inkubasi malaria bervariasi tergantung pada daya tahan tubuh dan spesies
plasmodiumnya. Masa inkubasi Plasmodium vivax 14-17 hari, Plasmodium ovale 11-16
hari, Plasmodium malariae 12-14 hari dan Plasmodium falciparum 10-12 hari
(Mansjoer, 2001).

pola curah air hujan, kedekatan antara lokasi perkembangbiakan nyamuk dengan manusia,
dan jenis nyamuk di wilayah tersebut.

Dikenal istilah endemis malaria dan musim malaria Epidemik yang luas dan berbahaya
dapat terjadi ketika parasit yang bersumber dari nyamuk masuk ke wilayah di mana
masyaratnya memiliki kontak dengan parasit namun memiliki sedikit atau bahkan sama
sekali tidak memiliki kekebalan terhadapa malaria. Atau, ketika orang dengan tingkat
kekebalan rendah pindah ke wilayah yang memiliki kasus malaria tetap. Epidemik ini
dapat dipicu dengan kondisi iklim basah dan banjir, atau perpindahan masyarakat akibat
konflik.
D EPIDEMIOLOGI MALARIA
Malaria disebabkan oleh parasite dari genus plasmodium dan merupakan infeksi protozoa
paling penting diseluruh dunia.
a. 300 juta orang terkena malaria setiap tahun dan 1 juta orang meninggal, terutama anakanak berusia <5 tahun di sub- Sahara Afrika.
b. Antara 10.000 samapai 30.000 penduduk Negara industri juga mendapatkan malaria
setiap tahun melalui perjalanan ke daerah endemic.
c. Sekitar 2000 kasus terjadi setiap tahun di inggris dengan 10-15 kematian .
Pada Negara yang beriklim dingin sudah tidak ditemukan lagi derah endemic malaria.
Namun demikian, malaria masih merupakan persoalaan kesehatan yang besar didaerah
tropis dan subtropis seperti berzil, asia tenggara, dan seluruh sub-asia afrika.
Di Indonesia, malaria ditemukan hamper disemua wilayah. Pada tahun 1996 di temukan
kasus malaria di Jawa-Bali dengan jumlah penderita sebanyak 2.341.401 orang, sebagian
besar disebabkan oleh plasmodium falciparum dan plasmodium vivax. Angka prevalensi
malaria di provinsi Jawa Tengah terus menurun dari tahun ke tahun, mulai dari 0,51 pada
tahun 2003, menurun menjadi 0,15 dan berkurang lagi menjadi 0,07 pada tahun 2005.
Plasmodium malariae banyak di temukan di Indonesia Timur, sedangkan plasmodium ovale
banyak di temukan di Papua dan NTT.
Permasalah restitensi terhadap obat malaria semakin lama semakin bertambah. Plasmodium
falciparum di laporkan resisten terhadap klorokuin dan sulfadoksin-pirimetamin di wilayah
Amazon dan Asia tenggara. P.Vivax yang resisten klorokuin di temukan di Papua Nugini,
provinsi Papua, Papua Barat, dan Sumatera. Resisten obat mentebabkan semakin
kompleksnya pengobatan dan penanggulangan malaria. Professional kesehatan harus
mengetahui dari mana seorang penderita berasal.
E PATOFISIOLOGI MALARIA
Terjadinya infeksi oleh parasit Plasmodium ke dalam tubuh manusia dapat terjadi melalui
dua cara yaitu : Secara alami melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung
parasit malaria. Induksi yaitu jika stadium aseksual dalam eritrosit masuk ke dalam darah

manusia, misalnya melalui transfuse darah, suntikan, atau pada bayi yang baru lahir melalui
plasenta ibu yang terinfeksi (congenital).
Patofisiologi malaria sangat kompleks dan mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai
berikut :
1

Penghancuran eritrosit yang terjadi oleh karena : pecahnya eritrosit yang mengandung
parasit, fagositosis eritrosit yang mengandung dan tidak mengandung parasit, akibatnya
terjadi anemia dan anoksia jaringan dan hemolisis intravaskuler. Dengan hemolisis intra
vaskular yang berat, dapat terjadi hemoglobinuria (blackwater fever) dan dapat

mengakibatkan gagal ginjal.


Pelepasan mediator Endotoksin-makrofag
Pada saat skizogoni, eritrosit yang mengandung parasit memicu makrofag yang sensitif
untuk melepaskan berbagai mediator endotoksin yang berperan dalam perubahan
patofisiologi malaria. Endotoksin tidak terdapat pada parasit malaria, mungkin berasal
dari rongga saluran cerna. Parasit malaria itu sendiri dapat melepaskan faktor neksoris
tumor (TNF).

Pelepasan TNF
Merupakan suatu monokin yang dilepas oleh adanya parasit malaria. TNF, ditemukan
dalam darah hewan dan manusia yang terjangkit parasit malaria. TNF dan sitokin lain
yang berhubungan, menimbulkan demam, hipoglimkemia dan sindrom penyakit
pernafasan pada orang dewasa (ARDS = adult respiratory distress syndrome) dengan
sekuestrasi sel neutrofil dalam pembuluh darah paru. TNF dapat juga menghancurkan
plasmodium falciparum in vitro dan dapat meningkatkan perlekatan eritrosit yang
dihinggapi parasit pada endotelium kapiler. Konsentrasi TNF dalam serum pada anak
dengan malaria falciparum akut berhubungan langsung dengan mortalitas, hipoglikemia,
hiperparasitemia dan beratnya penyakit.

Sekuetrasi eritrosit
Eritrosit yang terinfeksi dapat membentuk knob di permukaannya. Knob ini mengandung
antigen malaria yang kemudian akan bereaksi dengan antibody. Eritrosit yang terinfeksi
akan menempel pada endotel kapiler darah bagian dalam dan membentuk gumpalan
sehingga terjadi bendungan (sludge). Protein dan cairan merembes melalui membran

kapiler yang bocor (menjadi permeabel) dan menimbulkan anoksia dan edema jaringan.
Anoksia jaringan yang cukup meluas dapat menyebabkan kematian.
Daur hidup spesies malaria pada manusia yaitu:
1

Fase Seksual
Fase ini terjadi di dalam tubuh manusia (Skizogoni), dan di dalam tubuh nyamuk
(Sporogoni). Setelah beberapa siklus, sebagian merozoit di dalam eritrosit dapat
berkembang menjadi bentuk- bentuk seksual jantan dan betina. Gametosit ini tidak
berkembang akan mati bila tidak di hisap oleh Anopeles betina. Di dalam lambung
nyamuk terjadi penggabungan dari gametosit jantan dan betina menjadi zigote, yang
kemudian mempenetrasi dinding lambung dan berkembang menjadi Ookista. Dalam
waktu 3 minggu, sporozoit kecil yang memasuki kelenjar ludah nyamuk.
(Tjay & Rahardja, 2002, hal .162-163).
Fase eritrosit dimulai dan merozoid dalam darah menyerang eritrosit membentuk
tropozoid. Proses berlanjut menjadi trofozoit- skizonmerozoit. Setelah 2- 3 generasi
merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual. Masa antara
permulaan infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah tepi adalah masa prapaten,
sedangkan masa tunas/ incubasi intrinsik dimulai dari masuknya sporozoit dalam badan

hospes sampai timbulnya gejala klinis demam. (Mansjoer, 2001, hal. 409).
Fase Aseksual
Terjadi di dalam hati, penularan terjadi bila nyamuk betina yang terinfeksi parasit,
menyengat manusia dan dengan ludahnya menyuntikkan sporozoit ke dalam
peredaran darah yang untuk selanjutnya bermukim di sel-sel parenchym hati (Preeritrositer). Parasit tumbuh dan mengalami pembelahan (proses skizogoni dengan
menghasilakn skizon) 6-9 hari kemudian skizon masak dan melepaskan beribu-ribu
merozoit. Fase di dalam hati ini di namakan Pra -eritrositer primer. Terjadi di dalam
darah. Sel darah merah berada dalam sirkulasi lebih kurang 120 hari. Sel darah
mengandung hemoglobin yang dapat mengangkut 20 ml O2 dalam 100 ml darah.
Eritrosit diproduksi oleh hormon eritropoitin di dalam ginjal dan hati. Sel darah di
hancurkan di limpa yang mana proses penghancuran yang di keluarkan diproses kembali
untuk mensintesa sel eritrosit yang baru dan pigmen bilirubin yang dikelurkan
bersamaan dari usus halus. Dari sebagian merozoit memasuki sel-sel darah merah dan

berkembang di sini menjadi trofozoit. Sebagian lainnya memasuki jaringan lain, antara
lain limpa atau terdiam di hati dan di sebut ekso-eritrositer sekunder. Dalam waktu 48
-72 jam, sel-sel darah merah pecah dan merozoit yang di lepaskan dapat memasuki
siklus di mulai kembali. Setiap saat sel darah merah pecah, penderita merasa kedinginan
dan demam, hal ini di sebabkan oleh merozoit dan protein asing yang di pisahkan.
Secara garis besar semua jenis Plasmodium memiliki siklus hidup yang sama yaitu tetap
sebagian di tubuh manusia (aseksual) dan sebagian ditubuh nyamuk.

F MANIFESTASI KLINIS MALARIA


Tanda dan gejala yang di temukan pada klien dngan malaria secara umum menurut Mansjoer
(1999) antara lain sebagai berikut :
1 Demam

Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporolasi). Pada
Malaria Tertiana (P.Vivax dan P. Ovale), pematangan skizon tiap 48 jam maka
periodisitas demamnya setiap hari ke-3, sedangkan Malaria Kuartana (P. Malariae)
pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan di
tandai dengan beberapa serangan demam yang bersifat periodik.
Gejala umum (gejala klasik) yaitu terjadinya Trias Malaria (malaria proxysm) secara
berurutan :
a Periode dingin.

Mulai menggigil, kulit kering dan dingin, penderita sering membungkus diri dengan
selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigigigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti orang kedinginan. Periode ini
b

berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur.


Periode panas
Muka merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tetap tinggi sampai 40oC
atau lebih, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntah-muntah, dapat
terjadi syok (tekanan darah turun), kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak).
Periode ini lebih lama dari fase dingin, dapat sampai 2 jam atau lebih, diikuti dengan

keadaan berkeringat.
Periode berkeringat.
Penderita berkeringat mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah,
temperatur turun, penderita merasa capai dan sering tertidur. Bila penderita bangun
akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan biasa.

2 Splenomegali

Splenomegali adalah pembesaran limpa yang merupakan gejala khas Malaria Kronik.
Limpa mengalami kongesti, menghitam dan menjadi keras karena timbunan pigmen
eritrosit parasit dan jaringan ikat bertambah (Corwin , 2000, hal. 571). Pembesaran limpa
terjadi pada beberapa infeksi ketika membesar sekitar 3 kali lipat. Lien dapat teraba di
bawah arkus costa kiri, lekukan pada batas anterior. Pada batasan anteriornya merupakan
gambaran pada palpasi yang membedakan jika lien membesar lebih lanjut. Lien akan
3

terdorong ke bawah ke kanan, mendekat umbilicus dan fossa iliaca dekstra.


Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia
karena Falcifarum. Anemia di sebabkan oleh penghancuran eritrosit yang berlebihan
Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time). Gangguan pembentukan

eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang (Mansjoer. dkk, Hal. 411).
Ikterus
Ikterus adalah diskolorasi kuning pada kulit dan skIera mata akibat kelebihan bilirubin
dalam darah. Bilirubin adalah produk penguraian sel darah merah. Terdapat tiga jenis
ikterus antara lain :
a Ikterus hemolitik

Disebabkan oleh lisisnya (penguraian) sel darah merah yang berlebihan. Ikterus ini
dapat terjadi pada destruksi sel darah merah yang berlebihan dan hati dapat
b

mengkonjugasikan semua bilirubin yang di hasilkan.


Ikterus hepatoseluler
Penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin oleh hati terjadi pada disfungsi

hepatosit dan di sebut dengan hepatoseluler.


Ikterus Obstruktif
Sumbatan terhadap aliran darah ke empedu keluar hati atau melalui duktus biliaris di

sebut dengan ikterus obstuktif (Corwin, 2000, hal. 571).


G KLASIFIKASI MALARIA
Menurut Harijanto (2000) pembagian jenis-jenis malaria berdasarkan jenis plasmodiumnya
antara lain sebagai berikut :
1 Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum)
Malaria tropika/ falciparum malaria tropika merupakan bentuk yang paling berat, ditandai
dengan panas yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemia yang banyak dan sering
terjadi komplikasi. Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria tropika menyerang semua bentuk
eritrosit. Disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Plasmodium ini berupa Ring/cincin
kecil yang berdiameter 1/3 diameter eritrosit normal dan merupakan satu-satunya spesies
yang memiliki 2 kromatin inti (Double Chromatin).
Klasifikasi penyebaran Malaria Tropika:
Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup. Infeksi Plasmodium
Falcifarum sering kali menyebabkan sel darah merah yang mengandung parasit
menghasilkan banyak tonjolan untuk melekat pada lapisan endotel dinding kapiler
dengan akibat obstruksi trombosis dan iskemik lokal. Infeksi ini sering kali lebih berat
dari infeksi lainnya dengan angka komplikasi tinggi (Malaria Serebral, gangguan
gastrointestinal, Algid Malaria, dan Black Water Fever).
2 Malaria Kwartana (Plasmoduim Malariae)
Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan Plasmoduim vivax,
lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih biru. Tropozoit matur mempunyai
granula coklat tua sampai hitam dan kadang-kadang mengumpul sampai membentuk pita.
Skizon Plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoit yang tersusun seperti kelopak
bunga/ rossete. Bentuk gametosit sangat mirip dengan Plasmodium vivax tetapi lebih
kecil. Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain nyeri pada
kepala dan punggung, mual, pembesaran limpa, dan malaise umum. Komplikasi yang
jarang terjadi namun dapat terjadi seperti sindrom nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal

lainnya. Pada pemeriksaan akan di temukan edema, asites, proteinuria, hipoproteinemia,


tanpa uremia dan hipertensi.
3 Malaria Ovale (Plasmodium Ovale)
Malaria Tersiana (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium malariae, skizonnya
hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa pigmen hitam di tengah. Karakteristik yang
dapat di pakai untuk identifikasi adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi Plasmodium
Ovale biasanya oval atau ireguler dan fibriated. Malaria ovale merupakan bentuk yang
paling ringan dari semua malaria disebabkan oleh Plasmodium ovale. Masa inkubasi 1116 hari, walau pun periode laten sampai 4 tahun. Serangan paroksismal 3-4 hari dan
jarang terjadi lebih dari 10 kali walau pun tanpa terapi dan terjadi pada malam hari.
4 Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)
Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit muda yang
diameternya lebih besar dari eritrosit normal. Bentuknya mirip dengan plasmodium
Falcifarum, namun seiring dengan maturasi, tropozoit vivax berubah menjadi amoeboid.
Terdiri dari 12-24 merozoit ovale dan pigmen kuning tengguli. Gametosit berbentuk oval
hampir memenuhi seluruh eritrosit, kromatinin eksentris, pigmen kuning. Gejala malaria
jenis ini secara periodik 48 jam dengan gejala klasik trias malaria dan mengakibatkan
demam berkala 4 hari sekali dengan puncak demam setiap 72 jam.
Dari semua jenis malaria dan jenis plasmodium yang menyerang sistem tubuh, malaria
tropika merupakan malaria yang paling berat di tandai dengan panas yang ireguler,
anemia, splenomegali, parasitemis yang banyak, dan sering terjadinya komplikasi.
Penularan penyakit malaria dari orang yang sakit kepada orang sehat, sebagian besar
melalui gigitan nyamuk. Bibit penyakit malaria dalam darah manusia dapat terhisap oleh
nyamuk, berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, dan ditularkan kembali kepada orang
sehat yang digigit nyamuk tersebut.
Jenis-jenis vektor (perantara) malaria yaitu:
1 Anopheles Sundaicus, nyamuk perantara malaria di daerah pantai.
2 Anopheles Aconitus, nyamuk perantara malaria daerah persawahan.
3 Anopheles Maculatus, nyamuk perantara malaria daerah perkebunan, kehutanan dan
pegunungan.
4 Penularan yang lain adalah melalu transfusi darah. Namun kemungkinannya sangat kecil.
H PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK MALARIA
1 Pemeriksaan mikroskopis malaria

Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan pada manifestasi
klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya parasit (plasmodium)
di dalam penderita. Uji imunoserologis yang dirancang dengan bermacam-macam target
dianjurkan sebagai pelengkap pemeriksaan mikroskopis dalam menunjang diagnosis
malaria atau ditujukan untuk survey epidemiologi di mana pemeriksaan mikrokopis tidak
dapat dilakukan. Diagnosis definitif demam malaria ditegakan dengan ditemukannya
parasit plasmodium dalam darah penderita. Pemeriksaan mikrokropis satu kali yang
memberi hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis deman malaria. Untuk itu
diperlukan pemeriksaan serial dengan interval antara pemeriksaan satu hari.
Pemeriksaan mikroskropis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar mempunyai nilai
diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas mencapai 100%).
a Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periodedemam memasuki
periode berkeringat. Pada periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi dalam
mencapai maksimal dan cukup matur sehingga memudahkan identifikasi spesies
parasit.
b Volume yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler (finger prick)
dengan volume 3,0-4,0 mikro liter untuk sediaan tebal dan 1,0-1,5 mikro liter untuk
c

sedian tipis.
Kualitas perparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies plasmodium yang

d
e

tepat.
Identifikasi spesies plasmodium
Identifikasi morfologi sangat penting untuk menentukan spesies plasmodium dan

selanjutnya digunakan sebagai dasar pemilihan obat.


2 QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)
Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang dapat mengikat
acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi plasmodium. QBC merupakan
teknik pemeriksaan dengan menggunakan tabung kapiler dengan diameter tertentu yang
dilapisi acridine orange tetapi cara ini tidak dapat membedakan spesies plasmodium dan
kurang tepat sebagai instrumen hitung parasit.
3 Pemeriksaan imunoserologis
Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap
parasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau eritrosit yang terinfeksi
plasmodium

teknik

ini

terus

dikembangkan

radioimmunoassay dan enzim immunoassay.


4 Pemeriksan Biomolekuler

terutama

menggunakan

teknik

Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik parasit/


plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan DNA lengkap yaitu
dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak DNA.
I

PENATALAKSANAAN MALARIA
Terapi dibagi menjadi 4 kelompok :
1 Kemoterapi spesifik untuk serangan , apakah infeksi baru : obat digunakan sebelum
infeksi terjadi untuk mencegah timbulnya infeksi. Penyembuhan klinis semua jenis
malaria dan penyembuhan radikal malaria falcifarum dan kuartana dapat dicapai dengan
menggunakan regimen obat berikut :
a Klorokuin fosfat atau hidroklorokuin sulfat 10 mg basa/kg secara oral, kemudian 5
b

mg basa/kg 6 jam kemudian, kemudian 5 mg basa/kg setiap hari selama 2 hari.


Kuinin sulfat 25 mg/kg/24 jam, oral, dan dalam dosis terbagi setiap 8 jam, selama

10-14 hari.
Walaupun pengobatan spesifik biasanya tidak boleh dilakukan sampai diagnosis telah
ditegakkan, banyak dokter yang berpengalaman, bila dihadapkan dengan anak yang sakit
berat atau koma dengan riwayat memberi kesan malaria atau pemajanan terhadap
malaria, atas pertimbangan tersebut menganjurkan untuk memberi kuinin atau klorokuin
secara parenteral sementara menunggu hasil pemeriksaan apusan darah.
a Kuinin dehidroklorida diberikan secara intravena pada loading dose 20 mg gram/kg
dalam 10mg/kg dekstrose 5 % selama 4 jam, disertai dengan 10 mg/kg selama 2-4
b

jam sampai terapi oral dimulai.


Klorokuin hidroklorida dapat diberikan secara intravena dengan tetesan lambat dalam
jumlah 5 mg basa/kg dalam 10 mL/kg salin isotonis, diinfus selama masa 3 samapai 4

jam.
Pengobatan pendukung dan menjemen komplikasi/ pengobatan supresif
penggunaan obat untuk mencegah timbulnya gejala klinis dan komplikasi. Kebutuhan
metabolisme parasit dengan cepat mengosongkan cadangan glukosa, vitamin, dan
koenzim juga hemoglobin. Vitamin B1 dapat diberikan dan bila fase akut telah lewat.
Tranfusi packed red sell dapat bermanfaat pada anak dengan anemia berat yang
disebabkan oleh infeksi yang lama. Pada stadium koma malaria serebral, disamping
pengobatan malaria spesifik, dextran 75 mungkin berguna untuk mencegah pengendapan

intravaskuler.
Kemoterapi spesifik untuk mencegah relaps lambat infeksi vivax atau ovale.
Disebut juga pengobatan kuratif ; obat digunakan untuk terapi infeksi yang sudah
berlangsung dan terdiri dari pengobatan terhadap serangan akut dan pengobatan radikal.

Primakuin diberikan selama 14 hari dengan dosis harian 0,3 mg basa/kg; karena takut
kemungkinan reaksi sampingan, beberapa ahli lebih suka tidak memberikan obat ini pada
anak kurang dari umur 3 tahun, tetapi untuk mengobati serangan akut bersama klorokuin
dan kemudian menempatkan penderita padaregimen kemoprofilaksis selama beberapa
4

bulan.
Kemoterapi spesifik untuk menghancurkan dan mensterilisasi gametosit dan dengan
demikian melindungi komunitas jika nyamuk ada. Disebut juga pengobatan untuk
mencegah transmisi/penularan. Gametosit dapat dihancurkan dengan dosis tunggal
primakuin, 7,5 mg basauntuk anak umur 1-3 tahun, 15 mg untuk mereka yang berumur 46 tahun, 30 mg untuk mereka yang berumur 6-12 tahun, dan 45 mg untuk anak yang lebih
tua ; perkembangannya yang lebih lanjut pada nyamuk dapat dihambat dengan dosis

tunggal kloroguanid atau primetamin.


penggolongan obat malaria, berdasarkan suspetibilitas berbagai macam stadium parasit
malaria terhadap obat antimalaria :
a Skizontisida jaringan primer yang dapat membunuh parasit stadium praeritrossitik
b
c

dalam hati sehingga mencegah parasit masuk ke dalam eritrosit.


Skizontisida jaringan sekunder dapat membunuh parasit siklus eksosritrositik.
Skisontisida darah yang membunuh parasit stadium eritrositik, yang berhubungan

d
e

dengan penyakit akut disertai gejala klinis.


Gametositosida yang mengahncurkan semua bentuk seksual termasuk gametosit.
Sporontosida yang dapat mencegah dan menghambat gametosit dalamdarah untuk
membentuk ookista dan sporozoit dalam nyamuk.

Penatalaksanaan khusus pada kasus- kasus malaria


Penatalaksanaan khusus pada kasus-kasus malaria dapat diberikan tergantung dari jenis
plasmodium, menurut Tjay & Rahardja (2002) antara lain sebagai berikut:
a. Malaria Tersiana/ Kuartana
Biasanya di tanggulangi dengan kloroquin namun jika resisten perlu di tambahkan
mefloquin single dose 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-7 hari). Terapi
ini disusul dengan pemberian primaquin 15 mg /hari selama 14 hari).
b. Malaria Ovale
Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg selama 6 hari).
Atau mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/ kg dengan interval 4-6
jam). Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet ) yang biasanya di
c.

kombinasikan dengan kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari).


Malaria Falcifarum

Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam dosis


tunggal sebanyak 2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari. Antibiotik seperti
tetrasiklin 4 x 250 mg/ hari selama 7-10 hari dan aminosiklin 2 x 100 mg/ hari
selama 7 hari.
J

KOMPLIKASI MALARIA
Menurut Gandahusa, Ilahude dan Pribadi (2000) beberapa komplikasi yang dapat terjadi
pada penyakit malaria adalah :
a Malaria Otak
Malaria otak merupakan penyulit yang menyebabkan kematian tertinggi (80%) bila
dibandingkan dengan penyakit malaria lainnya. Gejala klinisnya dimulai secara lambat
atau setelah gejala permulaan. Sakit kepala dan rasa ngantuk disusul dengan gangguan
kesadaran, kelainan saraf dan kejang-kejang bersifat fokal atau menyeluruh.
b Anemia berat
Komplikasi ini ditandai dengan menurunnya hematokrit secara mendadak (<> 3 mg/ dl.
Seringkali penyulit ini disertai edema paru. Angka kematian mencapai 50%. Gangguan
ginjal diduga disebabkan adanya Anoksia, penurunan aliran darah keginjal, yang
dikarenakan sumbatan kapiler, sebagai akibatnya terjadi penurunan filtrasi pada
c

glomerulus.
Edema paru
Komplikasi ini biasanya terjadi pada wanita hamil dan setelah melahirkan. Frekuensi
pernapasan meningkat. Merupakan komplikasi yang berat yang menyebabkan kematian.
Biasanya disebabkan oleh kelebihan cairan dan Adult Respiratory Distress Syndrome

(ARDS).
Hipoglikemia
Konsentrasi gula pada penderita turun.

K PROGNOSIS MALARIA
Prognosis malaria tergantung kepada jenis malaria yang menginfeksi. Malaria tanpa
komplikasi biasanya akan membaik dengan pengobatan yang tepat. Tanpa pengobatan,
infeksi Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale dapat Universitas Sumatera Utara
berlanjut dan menyebabkan relaps sampai 5 tahun. Infeksi Plasmodium malariae bisa
bertahan lebih lama daripada Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale. Infeksi Plasmodium
falciparum dapat menyebabkan malaria serebral yang selanjutnya dapat mengakibatkan
kebingungan mental, kejang dan koma. Prognosis untuk infeksi Plasmodium falciparum

lebih buruk dan dapat berakhir dengan kematian dalam 24 jam sekiranya tidak ditangani
dengan cepat dan tepat. (Medical Disability Guidelines, 2009).
L PENCEGAHAN MALARIA
1 Usahakan tidur dengan kelambu, memberi kawat kasa, memakai obat nyamuk bakar,
menyemprot ruang tidur, dan tindakan lain untuk mencegah nyamuk berkembang di
2
3

rumah.
Usaha pengobatan pencegahan secara berkala, terutama di daerah endemis malaria.
Menjaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan ruang tidur, semak-semak

sekitar rumah, genangan air, dan kandang-kandang ternak.


Memperbanyak jumlah ternak seperti sapi, kerbau, kambing, kelinci dengan

menempatkan mereka di luar rumah di dekat tempat nyamuk bertelur.


Memelihara ikan pada air yang tergenang, seperti kolam, sawah dan parit. Atau dengan

memberi sedikit minyak pada air yang tergenang.


Menanam padi secara serempak atau diselingi dengan tanaman kering atau pengeringan

sawah secara berkala.


Menyemprot rumah dengan DDT.

BAB III
TINJAUAN KASUS
KASUS
Nn.Rita (30tahun) sebagai guru sukarelawan di tempatkan di daerah endemik malaria. Nn.Rita
sudah bekerja 1 tahun dan suatu hari Nn.Rita mengalami demam disertai mengigil setiap 24 jam
dan sudah 1 minggu, sehingga Nn Rita datang berobat ke puskesmas. Perawat memeriksa
keadaan fisik Nn Rita didapatkan suhu 390 C, anemia, nyeri retroorbital dan hasil pemeriksaan
laboratorium Hb 10g/dl, sediaan darah tipis dan tebal positip 4 malaria. Anda sebagai mahasiswa
keperawatan asuhan keperawatan seperti apakah yang seharusnya di berikan kepada Nn.Rita?
PENGKAJIAN FOKUS
Identitas Pasien
Nama

: Nn.Rita

Umur

:30 tahun.

Pekerjaan

:guru.

Alasan klien masuk rumah sakit


DS
a

Klien mengatakan mengalami demam disertai mengigil setiap 24 jam dan sudah 1 minggu.

DO
a
b
c
d

suhu 390 C.
anemia.
nyeri retroorbital .
hasil pemeriksaan laboratorium Hb 10g/dl.

Analisa data
No

Pengelompokan data
DS:

Masalah

Penyebab.

Klien

mengatakan

mengalami

demam disertai mengigil setiap 24


jam dan sudah 1 minggu.
DO:
suhu 390 C.

Tanggal/No

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Rencana

30/4/2015

Keperawatan
Hipertermi

Hasil
Setelah

berhubungan

tindakan keperawatan

dengan

selama 3 X 24 jam

mencegah

peningkatan

pasien menunjukan :

terjadinya

metabolism.

suhu

peningkatan suhu

keperwatan
dilakukan a Monitor

tubuh

suhu

tiap jam.

kriteria hasil:

Monitor

intake

yang lebih tinggi

dan output.
b

suhu tubuh 36-37

dalam

rentang

Respirasi:
c

16-24

respirasi.
d

tanda-tanda vital

Berikan kompres
hangat.

rentang

yang normal.
Menurunkan
panas

warna

pusing,merasa

dalam

tubuh.
Memastikan
dalam

ada

kulit dan tidak ada


nyaman.

dan

X/menit.

X/menit.
Tidak
perubahan

cairan

Monitor tekanan
darah,nadi

normal. Nadi: 60100

lagi.
Memastikan
keseimbanggan

C.
nadi dan respirasi

Memantau
perubahan suhu

dalam

batas normal dengan


a

Tindakan Rasional

klien.
e

Beritahukan
tentang indikasi
terjadinya

Mencegah
terjadinya

tubuh

keletihan

dan

kecemasan pada

penangannnya.
f

kolaborasi
dengan

dokter

Setelah

berhubungan

tindakan keperawatan

klien .
a. Mengetahui

Observasi

pasien dapat mangatsi

dalam

melakukan

keletihan

melakukan

aktivitas.

jam

dengan
b

energi

dan

merasa

lebih

aktivitas.
Bantu aktivitas
sehari hari sesuai

peningkatan

baik.

dengan
kebutuhan.

b. Memberikan
bantuan

sesuai

keterbatasan
gerak klien.

Konsultasikan

penyembuhan

meningkatkan
asupan makanan
yang

c. Membantu
proses

dalam

cidera fisik.

dalam

dengan

dengan ahli gizi

dengan

tubuh

klien

an

berhubungan

Menurunkan

pembatasan klien

3X24

a. Istirahat cukup.
b. Memverbalisasik

Nyeri

keterbatasan

kriteria hasil:

30/1/2015

samping

adanya

dengan fisiologis selama


anemia.

dilakukan

efek

panas

piretik.
Keletihan

mengenai

dari hipertermi.

pemberian
30/4/2015

klien

berenergi

dan peningkatan
metabolism
klien.

dilakukan

tinggi.
a. Observasi reaksi

tindakan keperawatan

non verbal dari

ketidaknyamana

ketidaknyamana

n yang dialami

akut Setelah

agen selama 3 X 24 jam


pasien

tidak

mengalami

nyeri

n.
b. Ajarkan tentang

dengan kriteria hasil:

tehnik

a. Meelaporkan

farmakologi

non
:

a. Mengetahu

klien.
b. Agar klien dapat
mengatasi nyeri
secara

mandiri

nyeri

berkurang

dengan

nafas dalam.

dengan

c. Berikan informasi

menggunakan

tentang penyebab

manajemen

nyeri,

nyeri

nafas

berapa

lama nyeri akan

dalam.
b. Mampu

berkurang

dan

mengenali nyeri :

ketidaknyamana

sekala, insensitas,
frekuensi

dan

setelah

nyeri berkurang.
d. Tidak
menggalami
gangguan tidur.

pengetahuan
pada

klien

mengenai
nyeri

dan

cara

mengantisipasi

n.

nyeri.

tanda nyeri.
c. Menyatakan rasa
nyaman

non farmakologi.
c. Memberikan

penyebab

antisipasi

tehnik

Kolaborasikan
denagn
pemberian
analgesik.

dokter

d. Mengurangi
rasa nyeri klien
secara
farmakologi.