Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

FILTRASI
Dosen Pembimbing : Ir. Emma Hermawati, MT

Tanggal Praktikum

: 27 Oktober 2015

Tanggal Pengumpulan : 28 Oktober 2015

Disusun Oleh :
Astri Fera K

131411004

Desi Supiyanti

131411005

Fajar M Ramadhan

131411006

Kelompok : 2 (Dua)
Kelas : 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Operasi filtrasi dengan alatfiltermedia butiran secara luas digunakan untuk
memindahkan padatan tersuspensi dari dalam air yang merupakan komponen utama
penyebab sifat keruh pada air. Bentuk padatan tersuspensi dapatberasal dari sumberair
ataupun sebagai hasil dari proses kimia seperti proses koagulasi-flokulasi, presipitasi
kimia dan lainnya. Pemindahan padatan tersuspensi dari dalam air denganoperasi filtrasi
media butiran merupakan lanjutan dari pemindahan suspensi masih mengandung suspensi
cukup tinggi. Selain itu operasi filtrasi media butiran juga digunakan untuk keperluan
pemindahan suspensi yang terkandung dari sumberair langsung pada kasus-kasus tertentu,
ataupun untuk pemindahan yang terkandung dalam efluen proses biologi dalam
pengolahan air limbah.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai pada percobaan ini adalah:
1. Mempelajari proses filtrasi.
2. Menentukan nilai kekeruhan dan TSS influent dan effluent dari proses filtrasi.
3. Menentukan efisiensi proses filtrasi dengan menggunakan media filter pasir kwarsa.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Filtrasi
Filtrasi merupakan proses penyaringan padatan yang tersuspensi dalam fluida gas
atau cair dengan media filter. Proses industri sendiri terdiri dari filtrasi sederhana dan
filtrasi kompleks. Media filtrasi yang biasa digunakan yaitu silica, zeolit, gravel dan
karbon aktif. Pada penyusunan media filtrasi dapat ditempatkan terpisah ataupun
digabung. Ukuran media filtrasi sangat berpengaruh pada hasil filtrasi. Semakin kecil
media filtrasi maka semakin jernih air yang dihasilkan.
Pada saat pengoperasian, influent dialirkan dari atas media filtrasi. Laju alir aliran
disesuaikan dengan media filtrasi. Apabila terlalu besar laju alir akan menyebabkan
rusak media filtrasi atau bolong. Media filtrasi suatu saat akan mengalami kejenuhan
sehingga media filtrasi terlau tebal dengan filtrat yang dihasilkan. Sehingga
permasalahan tersebut perlu dilakukan tindakan dengan cara regenerasi media filtrasi
dengan menggunakan air bersih.
Untuk pengolahan air, susunan media filter yaitu ijuk, silika ukuran kecil, silika
ukuran besar, karbon aktif dan gravel.
Adapun ukuran media filter yang tertera di atas sebagai berikut;
Silica

= 8-12 Mesh

Zeolit

= 8-12 Mesh

Karbon Aktif

= 8-12 Mesh

Gravel

= 0,5-2,0 cm

2.2 Bagian-bagian Alat Filtrasi

a.

Bak filter, merupakan tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak
tergantung debit pengolahan.

b.

Media filter, merupakan bahan berbutir / granular yang membentuk pori-pori di


antara butiran media. Pada pori-pori inilah air mengalir dan terjadi proses
penyaringan.

c.

Sistem underdrain, merupakan sistem pengaliran air yang telah melewati proses
filtrasi yang terletak di bawah media filter.

2.3 Medium filter

SlurryFiltrat

V m3/s

Cs Kg/m3

dL
L

Gambar 5.1 Penampang irisan aliran slurry melalui filter

Untuk

merancang

system

penyaringan

ini

perlu

penelitian

terlebih

dahuluterhadap beberapa factor sebagai berikut:


1. Jenis limbah padat (terapung atau tenggelam)
2. Ukuran padatan: ukuran yang terkecil dan ukuran yang terbesar
3. Perbandingan ukuran kotoran padatan besar dan kecil
4. Debit air olahan yang akan diolah
Bentuk dan jenis saringan bermacam-macam. Penyaringan bahan padatan kasar
menggunakan saringan berukuran 5 -20 mm, sedangkan padatan yang halus(hiperfiltrasi)
dapat menggunakan saringan yang lebih halus lagi. Saringan inidiusahakan mudah
diangkat dan dibersihkan.Bahan untuk penyaringan kasar dapat terbuat dari logam tahan
karat sepertistainless steel, kawat tembaga, batu kerikil, batu bara, karbon aktif.
Penyaringan untuk padatan yang halus dapat menggunakan kain polyester atau
pasir.Jenis saringan yang biasa digunakan adalah saringan bergetar, barscreen racks,dan
bak penyaringan saringan pasir lambat. Jenis saringan yang banyak digunakan
adalahsaringan bak pasir dan batuan. Saringan pasir menggunakanbatu kerikil dan pasir.
Pasir yang baik untuk penyaringan adalah pasir kuarsa.Jenis saringan menurut
konstruksinya dibedakan menjadi saringan miring,saringan pembawa, saringan
sentrifugal dan drum berputar. Kecepatanpenyaringan dikelompokan menjadi tiga:
1. Single medium: saringan untuk menyaring air yang mengandung padatandengan
ukuran seragam2.

2. Dual medium: saringan untuk menyaring air limbah yang didominasi oleh duaukuran
padat.
3. Three medium: saringan untuk menyaring air limbah yang mengandung 3ukuran
padatan
Gambarnya seperti berikut ini:

Ukuran filter dibagi menjadi:


1. Pasir sangat kasar (very coarse sand) : 2 1 mm
2. Pasir kasar (coarse sand) : 1 0,5 mm
3. Pasir sedang (medium sand) : 0,5 0,25 mm
4. Pasir halus (fine sand) : 0,25 0,1 mm
5. Pasir sangat halus (very fine sand) : 0,1 0,05 mm
Sistem aliran air olahan dalam system filtrasi terdiri dari beberapa
macam.Penentuan aliran ini memperhatikan sifat dari limbah padat yang akan
difiltrasi.Sistem aliran tersebut dibagi menjadi empat system, yaitu aliran horizontal,
alirangravitasi, aliran dari bawah ke atas dan aliran ganda.Gambar model aliran filter:

2.4 Tahap-tahap Operasi Filtrasi


Operasi media butiran melibatkan 2 (dua) tahap yaitu : tahap filtrasi dantahap
pencucian balik.
1. Tahap Filtrasi
Terdapat pedoman untuk melakukan operasi filtrasi media butiran dalam duacara
yang berbeda, yaitu :
a. Constant Head, merupakan operasi filtrasi pada mana permukaan air diatas
unggun media butiran (yang digunakan sebagai gaya dorong) selama
operasiberlangsung hingga operasi pencucian balik harus dilakukan, dijaga
konstan.
b. Constant Flow, merupakan operasi filtrasi pada mana laju alir umpanmasuk unit
filter selama operasi berlangsung hingga operasi pencucian balik harus
dilakukan, dijaga konstan.
Untuk menjaga agar laju alir umpan atau laju alir filtrasi dapat konstan, makaharus
diberikan suatu tambahan gaya dorong secara bertahap yang bertujuanuntuk
mengimbangi tumbuhnya hilang tekan yang ada selama operasi filtrasiakibat adanya

penurunan porositas unggun media filter. Sebaliknya apabiladigunakan besar gaya dorong
konstan, maka laju filtrasi akan berkurangsebagaimana porositas unggun media filter juga
berkurang.

Berkaitan

dengankedua

pedoman

tersebut

pada

umumnya

dalam

pengoperasian unit filter mediabutiran maka operasi filtrasi akan diakhiri apabila padatan
tersuspensi telah cukupbanyak terakumulasi hingga pada kondisi :
1. Penggunaan habis terhadap gaya dorong yang tersedia.
2. Laju filtrasi telah menurun hingga di bawah tingkat yang telahditentukan
sebelumnya.
3. Unggun media filter telah jenuh sehingga padatan tersuspensi mulai masuk
terbawa aliran efluen operasi filtrasi menandakan titik breakthroughtelahtercapai.
Apabila salah satu kondisi di atas telah tercapai maka unit filter harusdilakukan
pencucian balik.

2. Tahap Pencucian Balik


Tahap pencucian balik bertujuan untuk membersihkan padatan tersuspensiyang telah
terakumulasi pada media butiran. Pada umumnya dilakukan denganmengalirkan air
bersih dengan arah ke atas dengan laju alir tertentu sehinggamedia filter akan berada
dalam kondisi terfluidisasi atau terekspansi minimalsebesar 50 %. Tahap pencucian balik
ini diakhiri apabila efluen dari operasipencucian balik ini telah jernih atau telah mencapai
nilai kekeruhan pada tingkatyang telah ditentukan. Dengan demikian media filter akan
menjadi bersih dansiap untuk dioperasikan kembali.

2.5 Operasi filtrasi dijalankan dengan dua cara yaitu :


a.

Filtrasi batch
Proses secara batch memerlukan waktu yang lebih lama dan memerlukan biaya yang
lebih mahal.

b.

Filtrasi kontinu
Proses filtrasi secara kontinu banyak diterapkan pada industri kimia.

2.6 Analisis operasi filtrasi ini dibagi dalam 3 tahap, yaitu :


a.

Pembentukan cake

b.

Pencucian cake untuk membuang larutan

c.

Pelepasan cake dari filter

Menurut prinsip kerjanya filtrasi dapat dibedakan atas beberapa cara, yaitu:
a. Gravity Filtration : Filtrasi yang cairannya mengalir karena gaya berat.
b. Pressure Filtration : Filtrasi yang dilakukan dengan menggunakan tekanan.
c. Vacum Filtration : Filtrasi dengan cairan mengalir karena prinsip hampa udara.
Dalam proses filtrasi terjadi reaksi kimia dan fisika, sehingga banyak faktorfaktor
yang saling berkaitan yang akan mempengaruhi pula kualitas air hasil filtrasi, efisiensinya,
dan sebagainya.

2.6 Faktorfaktor yang mempengaruhi filtrasi


1. Debit Filtrasi
Debit yang terlalu besar akan menyebabkan tidak berfungsinya filter secara
efisien. Sehingga proses filtrasi tidak dapat terjadi dengan sempurna, akibat adanya
aliran air yang terlalu cepat dalam melewati rongga diantara butiran media pasir. Hal
ini menyebabkan berkurangnya waktu kontak antara permukaan butiran media
penyaring dengan air yang akan disaring. Kecepatan aliran yang terlalu tinggi saat
melewati rongga antar butiran menyebabkan partikelpartikel yang terlalu halus yang
tersaring akan lolos.
2. Konsentrasi Kekeruhan
Konsentrasi kekeruhan sangat mempengaruhi efisiensi dari filtrasi. Konsentrasi
kekeruhan air baku yang sangat tinggi akan menyebabkan tersumbatnya lubang pori
dari media atau akan terjadi clogging. Sehingga dalam melakukan filtrasi sering
dibatasi seberapa besar konsentrasi kekeruhan dari air baku (konsentrasi air influen)
yang boleh masuk. Jika konsentrasi kekeruhan yang terlalu tinggi, harus dilakukan
pengolahan terlebih dahulu, seperti misalnya dilakukan proses koagulasi flokulasi
dan sedimentasi.
3. Temperatur
Adanya perubahan suhu atau temperatur dari air yang akan difiltrasi,
menyebabkan massa jenis (density), viskositas absolut, dan viskositas kinematis dari
air akan mengalami perubahan. Selain itu juga akan mempengaruhi daya tarik
menarik diantara partikel halus penyebab kekeruhan, sehingga terjadi perbedaan
dalam ukuan besar partikel yang akan disaring. Akibat ini juga akan mempengaruhi
daya adsorpsi. Akibat dari keduanya ini, akan mempengaruhi terhadap efisiensi daya
saring filter.

4. Kedalaman media, Ukuran, dan Material


Pemilihan media

dan ukuran merupakan keputusan penting dalam

perencanaan bangunan filter. Tebal tipisnya media akan menentukan lamanya


pengaliran dan daya saring. Media yang terlalu tebal biasanya mempunyai daya saring
yang sangat tinggi, tetapi membutuhkan waktu pengaliran yang lama. Selain itu
ditinjau daris segi biaya, media yang terlalu tebal tidaklah menguntungkan dari segi
ekonomis. Sebaliknya media yang terlalu tipis selain memiliki waktu pengaliran yang
pendek, kemungkinan juga memiliki daya saring yang rendah. Demikian pula dengan
ukuran besar kecilnya diameter butiran media filtrasi berpengaruh pada porositas, laju
filtrasi, dan juga kemampuan daya saring, baik itu komposisisnya, proporsinya,
maupun bentuk susunan dari diameter butiran media.
Keadaan media yang terlalu kasar atau terlalu halus akan menimbulkan variasi
dalam ukuran rongga antar butir. Ukuran pori sendiri menentukan besarnya tingkat
porositas dan kemampuan menyaring partikel halus yang terdapat dalam air baku.
Lubang pori yang terlalu besar akan meningkatkan rate dari filtrasi dan juga akan
menyebabkan lolosnya partikelpartikel halus yang akan disaring. Sebaliknya lubang
pori yang terlalu halus akan meningkatkan kemampuan menyaring partikel dan juga
dapat menyebabkan clogging (penyumbatan lubang pori oleh partikelpartikel halus
yang tertahan) yang terlalu cepat.
5. Tinggi Muka Air Di Atas Media dan Kehilangan Tekanan
Keadaan tinggi muka air di atas media berpengaruh terhadap besarnya debit
atau laju filtrasi dalam media. Tersedianya muka air yang cukup tinggi diatas media
akan meningkatkan daya tekan air untuk masuk kedalam pori. Dengan muka air
yang tinggi akan meningkatkan laju filtrasi (bila filter dalam keadaan bersih). Muka
air diatas media akan naik bila lubang pori tersumbat (terjadi clogging) terjadi pada
saat filter dalam keadaan kotor.
Untuk melewati lubang pori, dibutuhkan aliran yang memiliki tekanan yang
cukup. Besarnya tekanan air yang ada diatas media dengan yang ada didasar media
akan berbeda di saat proses filtrasi berlangsung. Perbedaan inilah yang sering
disebut dengan kehilangan tekanan (headloss). Kehilangan tekanan akan meningkat
atau bertambah besar pada saat filter semakin kotor atau telah dioperasikan selama
beberapa waktu. Friksi akan semakin besar bila kehilangan tekanan bertambah besar,
hal ini dapat diakibatkan karena semakin kecilnya lubang pori (tersumbat) sehingga
terjadi clogging.

Koagulan
Koagulan adalah zat kimia yang menyebabkan destabilisasi muatan negatif
partikel di dalam suspensi. Zat ini merupakan donor muatan positip yang digunakan
untuk mendestabilisasi muatan negatip partikel.
Proses kagulasi menggunakan larutan tawas / aluminium sulfat, Al2(SO4)nH2O
untuk mengikat kotoran atau memutus rantai pada ikatan senyawa zat warna sehingga
membentuk gumpalan.
Turbiditas
Turbiditas atau kekeruhan adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya
sebagai dasar untuk mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (nephelo metrix
turbidity unit) atau JTU (jackson turbidity unit) atau FTU (formazin turbidity unit),
kekeruhan ini disebabkan oleh adanya benda tercampur atau benda koloid di dalam air.
Hal ini membuat perbedaan nyata dari segi estetika maupun dari segi kualitas air itu
sendiri. Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan
organik yang terkandung dalam air seperti lempung, lumpur dan bahan yang dihasilkan
oleh buangan industri. Dan akibatnya bagi budidaya perairan adalah dapat mengganggu
masuknya sinar matahari, membahayakan bagi ikan maupun bagi organisme makanan
ikan. dan juga dapat mempengaruhi corak dan sifat optis dari suatu perairan.
Silika
Silika atau dikenal dengan silikon dioksida (SiO2) merupakan senyawa yang
banyak ditemui dalam bahan galian yang disebut pasir kuarsa, terdiri atas kristal-kristal
silika (SiO2) dan mengandung senyawa pengotor yang terbawa selama proses
pengendapan. Pasir kuarsa juga dikenal dengan nama pasir putih merupakan hasil
pelapukan batuan yang mengandung mineral utama seperti kuarsa dan feldsfar. Pasir
kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari SiO2, Al2O3, CaO, Fe2O3, TiO2, CaO,
MgO, dan K2O, berwarna putih bening atau warna lain bergantung pada senyawa
pengotornya. Pasir silika ini berfungsi untuk menyaring kekeruhan yang diakibatkan
oleh pasir, lumpur, endapan dan partikel dalam air. Silika bersifat inert sehingga tidak
merubah sifat kimia air.

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

Tabel 3.1 Alat yang digunakan


Nama Alat

Spesifikasi

Jumlah

Unit kolom filter

1 set

Turbiditimeter

1 set

Gelas ukur

1000 ml

1 buah

Stopwatch
Beker glass

1 buah
250 ml

1 buah

Batang pengaduk
Beker plastik

1 buah
2L

2 buah

Botol plastik (untuk sampling)

20 buah

Kertas saring

2 lembar

pH meter

1 buah

Neraca

1 set

Tabel 3.2 Bahan yang digunakan


Nama Bahan

Jumlah

Air kran

20 L

Bentonit

10 gram

3.2 Langkah Kerja

Pencampuran air dengan bentonit (Pembuatan air baku)

Pengadukan air baku hingga homogen

Memasukkan air baku ke bak filtrasi

Mengukur nilai kekeruhan, pH, dan TSS air baku

Mengambil sampel setiap 10 menit sebanyak 8 kali

Mengukur nilai kekeruhan dan pH sampel

Mengukur TSS air baku hasil filtrasi

BAB 4
HASIL PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengolahan Nilai Kekeruhan dan TSS influent dan effluent

Tabel 4.1 Nilai Turbiditas air baku dan air baku hasil filtrasi
Turbiditas
(NTU)
Air baku

32,36

Air baku hasil filtrasi

4,2

Tabel 4.2 Nilai TSS air baku dan air baku hasil filtrasi
TSS
(mg/L)
Air baku

1,2225

Air baku hasil filtrasi

0,1425

4.2 Hasil Pengolahan Efisiensi Filtrasi


Efisiensi filtrasi = 87,02 %

4.3 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan proses filtrasi dengan media filter (media penyaring)
berupa pasir kwarsa. Praktikum ini bertujuan untuk menentukan efisiensi proses filtrasi
menggunakan media media filter pasir kwarsa dan menentukan nilai kekeruhan serta nilai
total padatan tersuspensi (TSS) pada influent dan effluent dari proses filtrasi.
Filtrasi merupakan salah satu cara pengolahan air limbah yang menggunakan media
filter, dimana pada proses tersebut terjadi pemisahan zat padat dari suatu sampel air baku.
Media filter yang digunakan dalam percobaan ini adalah pasir kwarsa dengan ukuran
keseragaman yang sama yaitu 0,35 0,8 cm. Keseragaman media filter berpengaruh pada

hasil effluen air filtrasi yang dihasilkan, karena semakin kecil ukuran partikel maka proses
filtrasi semakin baik atau air yang dihasilkan semakin jernih.
Proses filtrasi yang dilakukan pada praktikum ini adalah filtrasi secara batch tanpa
koagulan dengan air umpan (air baku) merupakan campuran bentonit 10 gram dalam 20 L air
kran. Konsentrasi influent yang digunakan tidak lebih dari 6 % dikarenakan konsentrasi yang
tinggi menghasilkan kekeruhan yang tinggi sehingga menyebabkan tersumbatnya lubang pori
dari media filter (clogging). Baik tidaknya effluen yang dihasilkan dari proses filtrasi
biasanya dinyatakan dalam satuan kekeruhan (NTU). Dimana semakin kecil nilai kekeruhan
pada effluen, maka efisiensi proses filtrasi yang berlangsung semakin baik.
Berdasarkan kurva turbiditas terhadap waktu filtrasi, diketahui bahwa nilai kekeruhan
akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya waktu filtrasi. Karena semakin lama
waktu filtrasi maka peluang lolosnya partikel halus dari media filtrasi akan semakin kecil

Turbidity (NTU)

sehingga nilai kekeruhan effluen akan semakin kecil.


32.5
30
27.5
25
22.5
20
17.5
15
12.5
10
7.5
5
2.5
0
0

10

20

30

40

50

60

70

80

Waktu Filtrasi (menit)

Gambar 4.1 Kurva turbiditas vs waktu filtrasi


Sedangkan berdasarkan kurva pH terhadap waktu filtrasi, diketahui bahwa nilai pH
berbanding lurus dengan waktu filtrasi. Semakin lama waktu filtrasi maka pH air baku
semakin mendekati pH air keran (pH air keran 6,8). Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa
semakin lama waktu filtrasi maka semakin baik air baku hasil filtrasi yang dihasilkan.

6.85

6.8

PH

6.75
6.7
6.65
6.6

6.55
0

10

20

30

40

50

60

70

80

Waktu Filtrasi (menit)

Gambar 4.2 Kurva PH vs waktu


Partikel pengotor yang tersuspensi didalam air baku akan menimbulkan TSS yang
tinggi secara teoritis nilai TSS akan berkontribusi terhadap turbidity (kekeruhan) suatu
larutan. Kemampuan media filter untuk memisahkan padatan tersuspensi dari air baku adalah
selisih antara TSS influen (air baku) dengan TSS effluen (air baku hasil filtrasi). Partikel
pengotor yang tersuspensi didalam air baku (influen) akan tertahan oleh medium filtrasi
sehingga air baku hasil filtrasi (effluen) akan memiliki suspensi pengotor yang sedikit. Pada
praktikum ini selisih antara TSS influen (air baku) dengan TSS effluen (air baku hasil filtrasi)
adalah 1,08 mg/L
Proses filtrasi yang berlangsung menghasilkan nilai efisiensi filtrasi sebesar 87,02%.
Efisiensi filtrasi ini dipengaruhi oleh efektifitas ukuran media filter serta kemurnian medium
filter yang digunakan. Proses filtrasi yang kami lakukan menghasilkan efisiensi yang baik, itu
berarti ukuran media filter yang digunakan cocok untuk melakukan filtrasi air baku sebanyak
20L. Pasir kuarsa yang dijadikan medium filter juga dapat disimpulkan memiliki kemurnian
yang masih tinggi.

BAB 5
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan :

Nilai TSS air baku adalah1,2225 mg/L

Nilai TSS air baku hasil filtrasi adalah 0,1425 mg/L

Nilai efisiensi filtrasi sebesar 87,02%

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Water Treatment Filtration Media. http://waterindoenvironment.wix.com/watertreatment#!water-treatment-filtration-media/c24go.


Jobsheet Praktikum Pengolahan Air dan Limbah Industri. Filtrasi. Bandung : Jurusan
Teknik Kimia Polteknik Negeri Bandung
Semprong,

Atmo.

2014.

Apa

Itu

Pasir

http://edukasi.kompasiana.com/2014/08/19/apa-itu-pasir-silikapasir-kuarsa673917.html.

Silika?.

LAMPIRAN

Pengamatan
Volume air baku
Massa Bentonit

= 20 L
= 10 gram

Kondisi air baku:


Temperatur
PH air
TSS
Turbiditas

= 25 0C
= 6,6
= 1,2225 mg/L
= 32,36 NTU

Tabel 1. Turbiditas dan pH air baku dan sampling air baku tiap 10 menit
Umpan

10

20

30

40

50

60

70

80

Waktu (menit)
Turbidity

32,36

(NTU)
pH

7,12 8,79 4,56 5,43 5,81 5,35 4,33

4,2

6,6

6,8

6,6

6,8

6,7

6,7

6,7

6,6

6,8

Tabel 2. Pengukuran dimensi Medium Filter dan Bak Filtrasi yang terisi air

Medium
Filter
Air umpan

h
(cm)

p
(cm)

l
(cm)

A
(cm2)

V
(cm3)

12,6

61

24,6

1500,6

18907,56

25,5

61

24,6

1500,6

38265,3

Kondisi air baku hasil filtrasi :


Temperatur

= 25 0C

PH air

= 6,8

TSS

= 0,1425 mg/L

Turbiditas

= 4,2 NTU

Penentuan Total Suspended Solid


Tabel 3. Data Penentuan Total Suspended Solid
Awal
0,97558 g
0,9762 g
1,0003 g
1,0006 g
0,0245 g
0,0244 g

Kertas saring
Kertas saring + Endapan
Endapan
Massa air baku

=
= 0,02445 gram
= 24,45 mg

TSS air baku

=
= 1,2225 mg/l

Massa air baku hasil filrasi

=
= 0,00285 gram
= 2,85 mg

TSS air baku hasil filtrasi

=
= 0,1425 mg/l

Efisiensi Filtrasi
Efisiensi Filtrasi

= 87,02 %

Akhir
0,9244 g
0,9252 g
0,9272 g
0,9281 g
0,0028 g
0,0029 g