Anda di halaman 1dari 14

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Gangguan

perkembangan

pervasif

atau

disebut

juga

Pervasive

Developmental Disorder (PDD) merupakan kelompok gangguan yang ditandai


dengan terganggunya interaksi sosial yang timbal-balik secara kualitatif, kelainan
perkembangan bahasa dan pola komunikasi, serta minat dan aktivitas yang
terbatas. PDD umumnya timbul pada anak sebelum berumur 3 tahun. Beberapa
anak dengan PDD bisa tidak teridentifikasi hingga memasuki masa sekolah
dikarenakan mereka umumnya tidak banyak menuntut, cenderung pasif dan tidak
berkonflik dengan orang lain dikarenakan jarang melakukan hubungan sosial.
Gangguan ini mempengaruhi banyak area perkembangan, bermanifestasi di awal
kehidupan, dan menyebabkan disfungsi yang persisten. Salah satu PDD yang akan
saya bahas disini adalah Sindrom Rett atau disebut juga Rett Syndrome (RS).1,2
Rett Syndrome (RS) merupakan suatu sindroma yang tergolong ke dalam
PDD. RS pertama sekali dilaporkan oleh Andreas Rett, seorang neurologis
pediatrik yang berasal dari Austria, pada tahun 1966. RS timbul secara khusus
pada perempuan dan bersifat degeneratif sehingga sebelum ditemukannya RS,
banyak praktisi klinis yang menganggap penyakit tersebut sebagai kelainan
neurologis. RS sendiri merupakan penyakit yang bersifat genetik, hal ini
dibuktikan dengan ditemukannya gen yang berhubungan langsung dengan RS
yaitu methyl-CpG Binding Protein-2 (MECP2).3
Meskipun baru dilakukan sedikit survei, namun survei yang tersedia
menunjukkan prevalensi 6 hingga 7 kasus RS per 100.000 anak perempuan dan
hal ini tidak menutup kemungkinan terjadinya peningkatan prevalensi kasus untuk
ke depannya3. Pada negara Indonesia sendiri, belum ada survei langsung yang
dilakukan terhadap RS sehingga berapa banyak jumlah kasus yang ditemukan
tidak dapat dipastikan secara pasti dan tidak menutup kemungkinan adanya
kesalahan diagnosis mengingat dekatnya gambaran klinis pada RS dengan
penyakit neurologis lainnya.

Pedoman untuk mendiagnosa RS hingga saat ini masih menggunakan


kriteria diagnosa yang tertera pada buku DSM-IV-TR4. PAda negara Indonesia
sendiri, kriteria diagnosa untuk menegakkan RS masih menggunakan pedoman
PPDGJ-III1.
1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan kasus ini adalah untuk lebih mengerti dan
memahami tentang Sindroma Rett serta untuk memenuhi persyaratan dalam
mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Departemen Psikiatri,
Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.
1.3. Manfaat
Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis
dan pembaca khususnya yang terlibat dalam bidang medis dan masyarakat secara
umumnya agar dapat lebih mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai
Sindroma Rett.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Sindroma Rett (RS) merupakan sebuah gangguan perkembangan pervasif
yang mengenai substansia grisea serebri, hanya terjadi pada wanita dan timbul
sejak lahir. Sindrom ini bersifat progresif dan ditandai dengan tingkah laku
autistik, ataksia, demensia, kejang, dan kehilangan kegunaan tangan dengan
fungsi tertentu, dengan atrofi serebral, hiperamonemia ringan, dan penurunan
kadar amin biogenik. RS juga dikenal dengan nama cerebroatrophic
hyperammonemia.5
WHO dalam International Classification of Disease (ICD) mendefinisikan
RS sebagai suatu kondisi, yang sejauh ini ditemukan hanya pada perempuan,
dengan perkembangan awal yang normal, diikuti dengan kehilangan parsial atau
komplit pada kemampuan berbicara dan pada kemampuan dalam menggunakan
tangan, bersama dengan deselerasi pada perkembangan kepala, umumnya dengan
onset antara umur 7 hingga 24 bulan. Retardasi mental yang berat hampir selalu
menjadi hasil akhir dari perjalanan RS.6
2.2. Epidemiologi
Berdasarkan data dari Amerika Serikat, didapatkan bahwa RS diderita oleh
1 dari 23.000 anak perempuan yang dilahirkan per tahunnya, sementara secara
internasional, survei lama menyatakan bahwa ditemukan sebanyak 6-7 kasus per
100.000 anak perempuan per tahunnya.2,3 Namun pada beberapa negara tertentu
dilaporkan bahwa insidensi RS didapati sebanyak 1 dari 10.000 anak perempuan
didapati menderita RS per tahunnya. Didapati peningkatan yang signifikan secara
internasional dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Studi mortalitas
mendapatkan bahwa angka bertahan hidup pada anak berumur di atas 10 tahun
sangatlah rendah. 35 years Survival Rate pada pasien dengan RS didapati senilai
70%, namun bila diikuti dengan retardasi mental didapati nilai sebesar 27% saja.
Hingga saat ini penderita masih dominan perempuan dikarenakan RS merupakan

X-linked.3 Di Indonesia masih belum terdapat studi epidemiologi tentang insidensi


dan prevalensi penderita RS secara nasional.
2.3. Etiologi
Berdasarkan penelitian pada tahun 1999, didapat bahwa RS merupakan
penyakit yang timbul akibat mutasi spesifik pada gen methyl-CpG Binding
Protein-2 (MECP2) yang terletak pada kromosom X. Mutasi tersebut umumnya
sporadik. Pada 10% kasus didapati pula mutasi pada gen CDKL5 ataupun FOXG1
yang juga diduga sebagai penyebab dari RS, namun pada beberapa kasus langka
dapat pula dijumpai tidak adanya mutasi gen. Hingga saat ini penelitian mengenai
etiologi RS masih terus dilakukan.3
2.4. Patofisiologi
RS merupakan penyakit yang diakibatkan oleh gangguan genetik, berupa
mutasi pada gen MECP2 yang terletak pada kromosom X, sehingga menyebabkan
gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang bersifat
progresif seumur hidup. Gejala dan keparahan mungkin bergantung gen cacat
yang diaktifkan dan jenis mutasi. Beberapa jenis mutasi telah ditemukan di 3
daerah pengkode gen MECP2, dengan jenis mutasi yang paling umum adalah
truncations dan missense protein. Mutasi ditemukan pada 80% RS klasik.3
Protein MECP2 dapat bertindak sebagai represor transkripsi atau aktivator
tergantung pada gen target. Pada 70% kasus, RS disebabkan oleh mutasi missense
4 (yaitu, R106W, R133C, T158M, R306C) dan 4 nonsense protein-truncating
mutations (yaitu, R168X, R255X, R270X, R294X), yang merupakan suatu
penghapusan besar, menimbulkan kerusakan gen yang signifikan sehingga
menghasilkan tingkat keparahan yang sangat besar.3
Pada keadaan normal gen MECP2 mengkode protein (juga disebut MeCP2)
yang

berikatan

dengan

methylated

DNA dalam

hubungannya

dengan

corepressor. Hal ini menyebabkan aktivasi histone deacetylase. Mutasi pada gen
MECP2 menimbulkan hilangnya fungsi protein ini dan ekspresi protein yang tidak
teratur. Hal ini mempengaruhi perkembangan sistem saraf pada tahap awal

kehidupan. Abnormalitas fungsi pada astrosit dijumpai RS dan hal ini mungkin
dikarenakan disfungsi pada gen MECP2.3
2.5. Manifestasi Klinis
Manistasi klinis RS bervariasi dari anak ke anak. Beberapa bayi
menunjukkan tanda-tanda dari gangguan sejak lahir tanpa periode perkembangan
normal. Penderita lain memiliki gejala lebih ringan dan dapat mempertahankan
kemampuan untuk berbicara. Beberapa anak bahkan mengalami kejang-kejang.
Secara umum sindroma rett dibagi atas empat tahapan yang kesemuanya bersifat
progresif. 1,3,6
Tahap pertama biasanya terabaikan. Pada sebagian besar kasus, onset
gangguan terjadi pada usia 7-24 bulan.1,6 Beberapa literatur bahkan menyatakan
bahwa onset timbul pada usia 6-18 bulan.3 Pola perkembangan awal tampak
normal ataupun mendekati normal. Pada bayi bisa dijumpai tanda-tanda berupa
kurangnya kontak mata dan mulai kehilangan minat bermain. Penundaan dalam
duduk dan merangkak juga dapat dijumpai. Hal ini diikuti pula dengan
perlambatan pertumbuhan kepala.1,3,6
Pada tahap kedua, kehilangan sebagian atau seluruhnya keterampilan
tangan dan berbicara yang telah didapat dapat dijumpai.

1,6

Gejala khas yang

paling menonjol adalah hilangnya kemampuan gerakan tangan yang bertujuan


dan keterampilan manipulatif dari motorik halus yang terlatih (fine motoric
skills) disertai dengan kehilangan atau hambatan perkembangan bahasa. Gejala
khas lainnya adalah gerakan seperti mencuci tangan yang stereotipik dengan
fleksi lengan di depan dada atau dagu dan membasahi tangan secara stereotipik
dengan ludah, adanya hambatan dalam mengunyah makanan yang baik, sering
terjadi episode hiperventilasi, hampir selalu gagal dalam pengaturan buang air
besar dan buang air kecil, serta sering terdapat penjuluran lidah dan air liur yang
menetas.1 Kehilangan ikatan sosial kerap terjadi pada anak-anak dengan RS.
Secara khas, anak tetap dapat menunjukkan senyum social (social smile) dan
menatap sesorang dengan kosong, namun hal ini tidak diikuti dengan adanya
interaksi sosial.1,2,3

Pada perkembangan selanjutnya, memasuki tahap ketiga (umur 2-10 tahun)


perkembangan pada tingkah laku, penggunaan tangan, dan kemampuan
komunikasi-interaksi dapat dijumpai. Pasien bisa melakukan kontak mata
dengan baik dan mampu menyatakan keinginannya dengan cara berkomunikasi
semampu dia. Meskipun terjadi perkembangan yang baik, gangguan mental dan
gerakan tangan stereotipik dapat terus terjadi.3 Cara berdiri dan berjalan yang
cenderung melebar (broad-based), otot-otot yang hipotonik, koordinasi gerak
tubuh yang memburuk (ataksia), serta skoliosis atau kifoskoliosis dapat
dijumpai. Pada lebih dari 50% kasus dapat dijumpai atrofi spinal dengan
disabilitas motorik yang berat pada saat remaja atau dewasa. 1,2,3 Spastisitas dan
rigiditas dapat timbul dimana hal ini umumnya terjadi pada ekstremitas bawah
dibandingkan dengan ekstremitas atas. Serangan epileptik yang mendadak
(epileptic fits) dalam bentuk yang kecil-kecil dapat timbul sebelum usia
penderita mencapai 8 tahun. Kedua hal ini terjadi pada sebagian besar kasus.
Pemberian makan dapat menjadi masalah pada pasien dengan RS dikarenakan
adanya disfungsi motorik oral. 3
Pada tahap keempat (>10 tahun) umumnya tidak dijumpai lagi deteriorasi
dari kemampuan kognitif, komunikasi, dan penggunaan tangan. Gangguan pada
fungsi motorik masih dapat dijumpai termasuk gejala-gejala seperti Parkinson.
Beberapa pasien dapat kehilangan kemampuan berjalan yang diakibatkan
spastisitas dan disabilitas motorik pada ekstremitas bawah yang menetap.
Episode kejang umumnya didapati berkurang. 3
2.6. Kriteria Diagnosis
Diagnosis dari RS ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yang timbul.
Untuk memudahkan penegakkan diagnosis, DSM-IV-TR menyusun suatu kriteria
diagnosis RS. Di negara Indonesia sendiri, panduan dari PPDGJ-III digunakan
untuk menegakkan diagnosis RS namun kriteria diagnosisnya tidaklah jauh
berbeda dengan kriteria dari DSM-IV-TR. Kriteria diagnosis RS berdasarkan
DSM-IV-TR adalah sebagai berikut2,4 :

Tabel 2.1. Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR Sindroma Rett

A. Semua hal berikut ini :


1. Perkembangan prenatal dan perinatal tampak normal
2. Perkembangan psikomoto tampak normal pada 5 bulan pertama setelah lahir
3. Lingkar kepala normal saat lahir
B. Onset semua hal ini setelah periode perkembangan normal :
1. Pertumbuhan kepala yang melambat antara usia 5-48 bulan
2. Hilangnya ketrampilan tangan yang bertujuan yang telah dicapai sebelumnya
pada usia antara 5 dan 30 bulan, dan kemudian timbul gerakan tangan
stereotipik
3. Hilangnya keterikatan sosial di awal perjalanan gangguan (meskipun interaksi
sosial sering terjadi kemudian)
4. Munculnya langkah yang terkoordinasi dengan buruk atau gerakan batang
tubuh
5. Perkembangan bahasa reseptif dan ekspresif yang sangat terganggu dengan
retardasi psikomotor yang berat.
2.7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan

penunjang

dapat

dilakukan

untuk

membantu

dalam

menegakkan diagnosis ataupun menyingkirkan diagnosis banding. Pemeriksaan


genetik untuk memeriksa sekuensi gen MECP2 dianjurkan pada pasien berjenis
kelamin perempuan yang memiliki manifestasi klinis seperti RS. Bila didapati
hasilnya positif terjadi mutasi spesifik pada gen MECP2, pemeriksaan
laboratorium lebih lanjut tidak perlu dilakukan lagi. Bila hasil yang didapat
negatif, maka pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan seperti pemeriksaan serum
laktat, ammonia, piruvat, dan asam amino serta asam organic urin dan studi
kromosom.3 Pemeriksaan seperti ini mungkin sulit dilakukan di Indonesia
dikarenakan keterbatasan biaya, peralatan, dan tenaga medis yang mumpuni
sehingga melakukan pemeriksaan di tempat yang mumpuni cukup dianjurkan.
Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan pencintraan Neuroimaging dapat
membantu. Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat membantu untuk
menyingkirkan diagnosis banding dari pasien dengan RS. Pada pasien RS sendiri

dapat dijumpai adanya penurunan ada ukuran korteks serebri, atrofi serebellar, dan
penurunan berat total daripada jaringan otak. 3
Pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dapat dijumpai gelombang T
inverted dan Interval QT yang memanjang. Dapat pula dijumpai nilai denyut
jantung

yang

rendah

pada

sebagian

besar

pasien.

Pada

pemeriksaan

elektroensefalografi (EEG) hasil yang abnormal umum dijumpai terutama pada


bagian epileptiform.3
2.8. Diagnosis Banding
Beberapa anak dengan gangguan Rett mendapatkan diagnosis awal
gangguan autistik karena adanya ketidakmampuan yang jelas dalam interaksi
sosial pada gangguan tersebut. Tetapi kedua gangguan memiliki perbedaan yang
dapat diramalkan. Pada gangguan Rett, anak menunjukkan pemburukan kejadian
perkembangan, lingkaran kepala, dan pertumbuhan keseluruhan; pada gangguan
autistik; penyimpangan perkembangan pada sebagian besar kasus terjadi sejak
awal. Pada gangguan Rett, gerakan tangan yang spesifik dan karakteristik selalu
ditemukan; pada gangguan autistik, berbagai manerisme tangan mungkin terjadi
atau tidak. Koordinasi yang buruk, ataksia, dan apraksia, merupakan bagian dari
gangguan Rett yang ditemukan; banyak orang dengan gangguan autistik meiliki
fungsi motorik kasar yang tidak istimewa. Pada gangguan Rett, kemampuan
verbal biasanya hilang sama sekali; pada gangguan autistik, pasien menggunakan
bahasa yang menyimpang secara karakteristik. Iregularitas pernafasan adalah
karakteristik untuk gangguan Rett, dan kejang seringkali ditemukan sejak awal;
pada gangguan autistik, tidak ada disorganisasi pernafasan yang ditemukan, dan
kejang tidak berkembang pada sebagian besar pasien; jika kejang berkembang,
kemungkinan lebih sering terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa
anak-anak.2

2.9. Penatalaksanaan

Terapi ditujukan pada intervensi gejala. Fisioterapi memberikan keuntungan


untuk disfungsi otot, dan terapi antikonvulsan biasanya diperlukan untuk
mengendalikan episode bangkita. Terapi perilaku, sama dengan obat, dapat
membantu untuk mengendalikan perilaku mencederai diri, seperti di dalam terapi
gangguan autistic, serta dapat membantu mengatur ketidakteraturan pernafasan.
Terapi fisik juga dapat membantu mempertahankan kemampuan berjalan,
mengatur keseimbangan dan fleksibilitas. Terapi okupasi (occupational therapy)
dapat membantu dalam penggunaan tangan. Terapi wicara dapat membantu
meningkatkan kualitas kehidupan anak dengan cara mengajarkan cara-cara
berkomunikasi nonverbal. Pemberian gizi yang tepat sangat penting bagi
pertumbuhan normal dan untuk meningkatkan fungsi mental serta sosial penderita
RS. Konsumsi lemak tinggi dan makanan berkalori tinggi umumnya diperlukan.
Pemberian nutrisi juga dapat diberikan melalui hidung via pipa nasogastrik bila
terjadi difungsi motorik oral yang sudah cukup sulit.2,3
2.10. Prognosis
Faktanya, RS merupakan penyakit yang progresif. Prognosis bervariasi pada
setiap pasien dan tidak benar-benar diketahui. Pasien yang hidup hingga masa
dewasa tetap memiliki tingkat sosial dan kognitif yang setara pada saat tahun
pertama kehidupannya. Umumnya pasien bertahan hidup hingga umur 40-50
tahun dengan tingkat deteriorisasi yang bervariasi namun secara umum dijumpai
kemampuan komunikasi dan motorik yang lebih baik daripada tahun pertama
kehidupannya. Hasil studi 35 years Survival Rate untuk pasien dengan RS
didapati 70% namun bila diikuti dengan retardasi mental, nilai yang didapat
menjadi 27%. Lebih dari 50% pasien bertahan hidup hingga usia dewasa.
Kematian pada pasien RS dapat timbul mendadak, terutama ketika sedang tidur.1,3.

BAB 3

10

KESIMPULAN
Retts Syndrome (RS) merupakan penyakit gangguan perkembangan pervasif
yang mengenai substansia grisea serebri dan telah timbul sejak lahir. Sindrom ini
bersifat progresif dan ditandai dengan tingkah laku autistik, ataksia, demensia,
kejang, dan kehilangan kegunaan tangan dengan fungsi tertentu. RS disebabkan
oleh mutasi pada gen MECP2 yang terletak pada kromosom X sehingga penyakit
ini hanya dijumpai pada wanita. Diagnosis ditegakkan berdasarkan identifikasi
daripada manifestasi klinis sementara pemeriksaan penunjang yang dapat
membantu penegakan diagnosis adalah melalui pemeriksaan genetik, yaitu
ditemukannya mutasi pada gen MECP2. Belum ditemukan adanya terapi spesifik
terhadap RS sehingga sejauh ini terapi yang dilakukan hanyalah terapi suportif,
baik menggunakan obat-obatan dan menggunakan metode rehabilitatif untuk
meningkatkan kualitas hidup penderita. Prognosis dari penyakit ini berdasarkan
35 years survival rate adalah 70% dan bila diikuti dengan adanya retardasi mental
nilai yang didapat adalah 27%.

BAB 4

11

SARAN
Saran yang dapat diberikan kepada penderita RS, terutama kepada keluarga
pasien adalah agar pasien dan keluarga pasien dapat bersabar dengan kondisi yang
dialami pasien dan kooperatif dalam melakukan penatalaksanaan yang telah
disusun oleh dokter.
Saran yang dapat diberikan kepada praktisi klinis adalah agar mampu
mendiagnosis RS dengan tepat, dalam hal ini dokter harus mengetahui manifestasi
klinis dan perjalanan penyakit daripada RS sehingga dapat merencanakan terapi
yang diberikan kepada pasien, dan mampu mengedukasi pasien agar mengetahui
tentang kondisi pasien dan mau bekerjasama dalam menangani kondisi pasien.
Hal-hal ini perlu dilakukan agar dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan
mencegah terjadinya komplikasi daripada RS itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

12

1. Maslim, Rusdi. 2001. F84 Gangguan Perkembangan Pervasif. Dalam :


Maslim, Rusdi, editor. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan
Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta : PT. Nuh Jaya. hal. 129-130
2. Sadock, B.J., Sadock, V.A. 2007. Pervasive Developmental Disorder.
Dalam : Grebb, J.A., Pataki, C.S., dan Sussman, N., editor. Kaplan &
Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry,
10th Edition. Philadelpia : Lippincott Williams & Wilkins. hal. 1191.
3. Bernstein, B., et al. 2011. Rett Syndrome. Dalam : Pataki, C.S., editor.
Medscape Reference Drugs, Diseases, & Procedures. New York. Didapat
dari :
http://emedicine.medscape.com/article/916377-overview#showall [diakses
pada tanggal 21 Agustus 2011]
4. American Psychiatric Association. 2000. 299.80 Retts Disorder. Dalam :
Campbell, M., Shaeffer, D., editor. Diagnostic and Statistic Manual of
Mental Disorders Fourth Edition Text Revision (DSM-IV-TR).
Washington : R.R. Donneley & Sons Company. hal. 76-77
5. Dorland, W.A., 2002. S : Syndrome. Dalam : Henni, K., Huriawati, H., Ivo,
N.S., et al, editor. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC. hal. 2148
6. WHO. 2007. F84.2. Retts Syndrome. Dalam : WHO, editor. International
Classification of Disease 10. Geneva, Switzerland. Didapat dari :
http://apps.who.int/classifications/apps/icd/icd10online/?gf80.htm+f84
[diakses pada tanggal 21 Agustus 2011]

13

RETT SYNDROME
Rett syndrome (RS) is a pervasive developmental disorder first reported in 1966 by Andreas Rett, an Austrian pediatric
neurologist. Rett syndrome occurs almost exclusively in females and has a typically degenerative course. Before the
discovery of Rett syndrome, incidents were mistaken for many other neurologic disorders, especially in females. The specific
mutation on the gene related to Rett syndrome (methyl-CpG binding protein-2 [MECP2]) was identified late in 1999.
Patients with Rett syndrome initially have seemingly healthy development. However, in retrospect, girls are frequently
reported to have been placid as infants, with low tone and subtle slowing of development. An early clinical feature is
deceleration of head growth that begins when the individual is aged 2-4 months. A period of developmental stagnation is
followed by a period of regression. Males with this disorder also manifest a spectrum of symptomatology, ranging from
severe congenital encephalopathy, dystonia apraxia, and retardation to psychiatric illness with mild mental retardation.
Individuals who are less severely affected may tolerate or even prefer interpersonal contact, show affection to others, and
suffer from learning disabilities and speech fragmentation related to breathing irregularity.
Rett syndrome can be differentiated into two typesclassic or variant. At least 200 different mutations have been found to
be associated with the disease, including missense and truncating mutations. The common BDNF polymorphism may modify
disease severity in Rett syndrome, and the severity of the phenotype varies depending on the MECP2 mutation type and
locations. The BDNF functional polymorphism (p.Val66Met; valine substitution with methionine at codon 66) may protect
against early seizures in Rett syndrome.
The regression phase in individuals with Rett syndrome may occur acutely over a period of days or, more insidiously, over
months. Regression is characterized by loss of purposeful hand skills and oral language and the development of hand
stereotypies and gait dyspraxia. Other problems include breath holding and apnea during wakefulness with normal breathing
during sleep, epilepsy, oral-motor dysfunction with gut motility problems (eg,constipation, gastroesophageal reflux [GER]),
scoliosis, autonomic dysfunction (cold, blue extremities), and somatic growth failure. During the regression period,
individuals with Rett syndrome demonstrate screaming episodes, sleep disturbances, and poor social interactions.
Following the regression period, people with Rett syndrome demonstrate no further cognitive decline, become more
interactive with their environment and other persons, and may demonstrate some improvements in hand and communication
skills. They progress through puberty and survive to adulthood; however, they never regain significant purposeful hand use
or oral language skills.
Currently, diagnosis of Rett syndrome is made if the patient meets defined clinical criteria; molecular genetic testing does not
make the diagnosis, although mutations in the MECP2 gene are frequently identified in individuals meeting the clinical
criteria for this diagnosis. However, as many as 20% of females who meet the full clinical criteria for Rett syndrome may
have no identified mutation. Because no cure is available, treatment is palliative and supportive. A multidisciplinary
approach to care for persons with Rett syndrome is recommended.

Pathophysiology
Rett syndrome is a genetic disorder of neurodevelopmental arrest rather than a progressive process. The gene for Rett
syndrome is located on the X chromosome. Females with one mutated MECP2 gene are more likely to survive because one
X chromosome is activated randomly in each cell. The symptoms and severity of Rett syndrome may depend on both the
percentage of activated defective genes and the type of mutation. Multiple mutation types have been found in the 3 coding
regions of the MECP2 gene, with most mutation types causing truncations and missense proteins. Mutations have been found
in as many as 80% of analyzed cases of classic Rett syndrome. The MECP2 protein may act as a transcriptional repressor or
activator depending on the target gene with which it associates
About 70% of Rett syndrome cases are due to 4 missense mutations (ie, R106W, R133C, T158M, R306C) and 4 nonsense

14

F84.2. RETTs SYNDROME


A condition, so far found only in girls, in which apparently normal early
development is followed by partial or complete loss of speech and of
skills in locomotion and use of hands, together with deceleration in
head growth, usually with an onset between seven and 24 months of
age. Loss of purposive hand movements, hand-wringing stereotypies,
and hyperventilation are characteristic. Social and play development
are arrested but social interest tends to be maintained. Trunk ataxia
and apraxia start to develop by age four years and choreoathetoid
movements frequently follow. Severe mental retardation almost
invariably results.