Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penghambat ACE menghambat konversi angiotensin I (Ang I) menjadi
Angiotensin II (Ang II). Tetapi Ang II juga dibentuk oeh enzim-enzim non-ACE.
Misalnya kimase yang banyak terdapat di jantung. Kebanyakan efek biologik Ang
II diperantarai oleh reseptor angiotensin tipe 1 ( AT1). Stimulasi reseptor AT1
menyebabkan vasokontriksi, stimulasi dan pelepasan endosteron, peningkatan
aktifitas simpati dan hipertropi miokard. Aldosteron menyebabkan reabsorpsi Na
dan air di tubulus ginjal, sedangkan aktivitas simpatis menyebabkan sekresi renin
dari sel justaglomerular di ginjal. Reseptor AT2 memperantarai stimulasi apoptosis
dan antiproliferasi. Penghambat ACE dengan mengurangi pembentukan Ang II
akan menghambat aktivitas Ang II di reseptor AT 1 , maupun AT 2. Pengurangan
hipertropi miokard dan penurunan preload jatung akan menghambat progresi
remodelling jantung. Disamping itu, penurunan aktivasi neurohormonal endogen
( Ang II, aldosteron, neroninefrin) akan mengurangi efek langsungnya dalam
menstimulasi remodelling jantung. Enzim ACE adalah kinase II, maka penghambat
ace akan menghambat degradasi bradikinin sehingga kadar bradikinin yang
dibentuk lokal di endotel vaskuler akan meningkat. Bradikinin bekerja lokal pada
reseptor BK2 di sel endotel dan menghasilkan nitric oxide (NO) dan Prostasiklin
(PGI2), keduanya merupakan vasolidator, antiagregasi trombosit dan
antiproliferasi. Efek samping batuk kering yang terjadi pada pemberian
penghambat ACE (dengan insiden sampai >30%) diduga terjadi di jalur
KKP(kalikrein-bradikinin-prostagandin) dengan melibatkan bradikinin, substansi
P, prostagandin dam leukotrien. Disamping itu, efeksamping angioedema (dengan
insiden 0,1-1%) juga diduga akibat akumulasi bradikinin.
Penghambat ACE merupakan terapi lini pertama untuk fungsi dengan fungsi
sistolik ventrikel kiri yang menurun, yakni dengan fraksi ejeksi di bawah normal (<
40-45%), dengan atau tanpa gejala. Pada pasien tanpa gejala, bat ini diberikan
untuk menunda atau mencegah terjadinya gagal jantung, dan juga untuk
mengurangi resiko infark miokard dan kematian mendadak. Pada pasien dengan
gejala gagal jantung tanpa retensi cairan. Penghambat ACE harus diberikan sebagai
terapi awal, pada pasien dengan retensi cairan, obat ini harus diberikan berikan
bersama diuretik. Penghambat ACE harus dimulai setelah fase akut infark miokard,
meskipun gejalanya transien untuk mengurangi moralitas dan infark ulang serta
hospitalisasi karena gagal jantung. Pada pasien gagal jatung sedang dan berat
dengan disfungsi sistolik ventrikel kiri, penghambat ACE mengurangi moralitas

dan gejala-gejala gagal jantung. Meningkatkan kapasitas fungsional, an


mengurangi hospitalisasi.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah mengenai Penghambat ACE / ACE inhibitor ini terdapat
beberapa rumusan masalah :
1. Apa yang dimaksud dengan ACE inhibitor?
2. Afa fungsi dari ACE inhibitor ?
3. Apa Manfaat ACE inhibitor bagi kardiovaskuler ?
4. Mengapa ACE inhibitor dianjurkan sebagai obat hypertensi ?
5. Kelompok Golongan abat yang terdapat dalam ACE inhibitor !
6. Jelaskan farmakodinamik dan farmakokinetik dari golongan obat tersebut ?
7. Mekanisme kerja dari obat obat ace inhibitor ?
8. Indikasi dan kontra indikasi obat obat penghambat ace ?
9. Efek samping dan interaksi dari obat obat penghambat ACE ?
10.
Dosis dan Frekuensi Pemberian ?
C. Ruang lingkup Masalah
ACE
Inhibitor
adalah
Sekelompok obat-obat yang
memperlambat (menghalangi) aktivitas dari enzim ACE.
ACE memiliki dua fungsi utama di tubuh, fungsi pertama adalah sebagai
katalisator angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II merupakan
senyawa vasokonstriktor kuat. Sedangkan fungsi ACE yang kedua adalah sebagai
pengurai bradikinin, yang merupakan vasodilator kuat.
Manfaat ACE- I untuk pengobatan hipertensi, gagal jantung dan proteksi
terhadap terjadinya disfungsi endotel didasarkan pada pengetahuan tentang sistem
renin-angiotensin aldosteron (RAA).
Obat ACE inhibitor efektif untuk hipertensi yang ringan, sedang maupun
berat.
Sebagai monoterapi, obat ACE inhibitor sama efektivitasnya dengan
golongan antihipertensi lainnya. Obat ACE inhibitor efektif sebagai antihipertensi
pada sekitar 70% penderita.
Penurunan tekanan darah sekitar 10/5 sampai 15/12 mm HG. Besarnya
penurunan tekanan darah ini sebanding dengan tingginya tekanan darah sebelum
pengobatan.
Obat ACE inhibitor terutama efektif pada hipertensi dengan PRA (aktivitas
renin plasma) yang tinggi, yaitu pada kebanyakan hipertensi maligna dan

hipertensi renovaskuler, dan pada kira-kira 1/5 populasi hipertensi esensial, tetapi
obat ini juga efektif pada hipertensi dengan aktivitas renin plasma (PRA) yang
normal dan yang rendah, karena itu penentuan aktivitas renin plasma (PRA) tidak
berguna untuk individualisasi terapi.
Farmakodinamik ACE Inhibitor :
1. Inhibitor ACE menghambat konversi Ang I menjadi Ang II.
2. Inhibitor ACE juga menghambat aktivitas Ang II di AT1 maupun AT2.
3. Selanjutnya inhibitor ACE akan menghambat degradasi bradikinin sehingga kadar
bradikinin yg terbentuk lokal di endotel vaskular akan meningkat.
Farmakokinetik ACE Inhibitor :
Obat-obatan penghambat ACE (ACE inhibitor) adalah segolongan obat yang
menghambat kinerja angiotensin-converting enzyme (ACE), yakni enzim yang
berperan dalam sistem renin-angiotensin tubuh yang mengatur volume
ekstraseluler (misalnya plasma darah, limfa, dan cairan jaringan tubuh), dan
vasokonstriksi arteri.
ACE memiliki dua fungsi utama di tubuh, fungsi pertama adalah sebagai
katalisator angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II merupakan
senyawa vasokonstriktor kuat. Sedangkan fungsi ACE yang kedua adalah sebagai
pengurai bradikinin, yang merupakan vasodilator kuat.
Kedua fungsi ACE tersebut menjadikan penghambatan ACE penting
perannya dalam perawatan penyakit tekanan darah tinggi, gagal jantung, dan
diabetes mellitus tipe 2. Penghambatan ACE akan berakibat menurunnya
pembentukan angiotensin II dan menurunnya metabolisme bradikinin, dengan
demikian akan terjadi dilasi (pelebaran) sistematik pada arteri dan vena, serta
penurunan tekanan darah arteri.
Akan tetapi penghambatan ACE, yang juga secara langsung akan
menghambat pembentukan angiotensin II dapat menyebabkan pengurangan sekresi
aldosteron (yang dimediasi angiotensin II) dari korteks adrenal. Hal ini akan
mengakibatkan penurunan penyerapan kembali air dan natrium, serta pengurangan
volume ekstraseluler.
Mekanisme Aksi ACE Inhibitor
Beberapa bukti menunjukkan bahwa ACE jaringan berkontribusi signifikan
pada respon seluler remodeling ventrikel, dan inhibisi pada ACE jaringan penting
kaitannya

dengan

aktivitas ACE jaringan

efek

antiremodeling

miokard

ACE

dan level ACE

inhibitor.

Pada

tikus,

mRNA post miokard infark

meningkat dua kali lipat. Karena ACE inhibitor memiliki kemampuan yang

beragam dalam menghambat ACE lokal dan jaringan, beberapa agen mungkin
tidak secara adekuat menekan peningkatan lokal dari angiotensin II, sehingga
mengurangi kemampuannya sebagai antiremodeling. Salah satu studi melaporkan
bahwa prevensi dari hipertrofi ventrikel kiri pada tikus dengan volume overload
tergantung dari inhibisi ACE lokal (miokard). Pada tikus dengan miokard infark,
ditemukan

bahwa

inhibisi

peningkatan survival dan

poten

reduksi

dari

massa

aktivitas ACEjaringan
ventrikel

kiri

dan

terkait
ekspresi

gen ANP ventrikel yang lebih besar. Studi ini menunjukkan bahwa derajat dari
inhibisi ACE jaringan penting untuk prevensi remodeling pada beberapa hewan
percobaan.8
ACE inhibitor merupakan obat pertama yang secara konsisten dan
substansial

sukses

inhibitor berperan

berperan
dalam

dalam

terapi

gagal

pengobatan

gagal

jantung

jantung
melalui

kronik.ACE
mekanisme

pencegahan remodeling yang dimediasi oleh angiotensin II.8


Menurut studi dari ELITE II (Evaluation of Losartan in the Eldery Study
II) jalur ACE merupakan jalur yang lebih dominan dalam pembentukan angiotensin
II pada jantung manusia. Pada penggunaan ACE inhibitor, peningkatan level
bradikinin perlu diperhatikan. Studi pada gagal jantung menunjukkan bahwa
genACE, ekspresi protein ACE, dan aktivitas enzim ACE meningkat, namun
ekspresi gen chymase tidak meningkat. Ventrikel pada jantung yang gagal akan
mengambil renin sistemik yang meningkat dalam jumlah yang lebih banyak
daripada ventrikel yang sehat. Jantung yang gagal juga menunjukkan level protein
angiotensinogen yang lebih rendah, sesuai dengan penurunan substrat. Akhirnya,
pada gagal jantung, reseptor angiotensin II tipe 1 (AT 1) secara selektif
mengalami downregulation pada level protein dan mRNA, mungkin karena
paparan terhadap peningkatan angiotensin II. Hal ini mengindikasikan bahwa local
myocardial renin-angiotensin system (RAS) pada gagal jantung terinduksi,
sehingga terjadi aktivasi sistemik. Induksi ini tidak terjadi pada sistem chymase.
Peningkatan level angiotensin II memiliki beberapa efek pada system

kardiovaskular, meliputi hipertroficardiac myocyte, apoptosis myocyte, fasilitasi


pelepasan norepinefrin presinaps, dan efek mitogenik pada fibroblast. Kebanyakan
dari efek biologis angiotensin II ini berkontribusi pada terjadinya hipertrofi
dan remodeling.8
ACE inhibitor dipertimbangkan sebagai terapi mandatory pada gagal jantung
dan disfungsi sistolik ventrikel kiri asimptomatik. Menurut studi trial pada gagal
jantung dan post mikard infark, dosis yang dipakai harus dosis rata-rata untuk
menurunkan angka kematian. Satu-satunya efek samping yang menetap pada
penggunaan ACE inhibitor adalah sedikit peningkatan terjadinya batuk ( 5% lebih
tinggi daripada plasebo), pada pasien semacam ini dapat diganti dengan
angiotensin II AT 1 receptor blocker.9
Tabel 6. Target dosis ACE inhibitor6

Drug

Starting Dose

Target
Maintenance Dose

Benazapril

Cilazapril

2.5mgdaily
6.25mgtwice
daily
0.5mgdaily

Enalapril

2.5mgdaily

Lisinopril

2.5mgdaily

10-20mgtwice
daily
20-40mgdaily

Perindopril
Quinapril

2mg daily
2.5mgdaily

2mg daily
20-40mgdaily

Ramipril

1.25mgdaily

5-10mgdaily

Trandolapril

0.4mgdaily

4mg daily

Captopril

20mgdaily
50mgthree
times daily
0.5mgdaily

ACE inhibitor dapat dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan struktur


molekul mereka:
1. Sulfhidril yang mengandung agen :
Captopril (perdagangan Capoten nama), penghambat ACE yang pertama
Zofenopril
2. Dicarboxylate yang mengandung agen :
Ini adalah kelompok terbesar, termasuk:
Enalapril (Vasotec / Renitec)
Ramipril (Altace / Tritace / Ramace / Ramiwin)
Quinapril (Accupril)
Perindopril (Coversyl / Aceon)
Lisinopril (Lisodur / Lopril / Novatec / Prinivil / Zestril)
Benazepril (Lotensin)
3. Fosfonat yang mengandung agen
Fosinopril (Monopril) adalah satu-satunya anggota kelompok ini

D. TUJUAN PENULISAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Penulis memiliki beberapa tujuan dalam penulisan makalah mengenai ACE


Inhibitor ini. Diantaranya ?:
Dapat mengetahui Definidi ACE inhibitor
Mengetahui manfaat dan fungsi ACE inhibitor
Mengetahui kelompok golongan ACE inhibitor.
Menejelaskan farmakodinamik dan farmakokinetik dari golongan obat golongan
ACE Inhibitor.
Mengetahui Mekanisme kerja dari obat obat ACE inhibitor.
Mengetahui Indikasi dan kontra indikasi obat obat penghambat ACE.
Mengetahui Efek samping dan interaksi dari obat obat penghambat ACE.
Mengetahui Dosis dan Frekuensi Pemberian .

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian ACE Inhibitor
Obat-obatan penghambat ACE (ACE inhibitor) adalah segolongan obat
yang menghambat kinerja angiotensin-converting enzyme (ACE), yakni enzim
yang berperan dalam sistem renin-angiotensin tubuh yang mengatur volume
ekstraseluler (misalnya plasma darah, limfa, dan cairan jaringan tubuh), dan
vasokonstriksi arteri.
ACE memiliki dua fungsi utama di tubuh, fungsi pertama adalah sebagai
katalisator angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II merupakan
senyawa vasokonstriktor kuat. Sedangkan fungsi ACE yang kedua adalah sebagai
pengurai bradikinin, yang merupakan vasodilator kuat.
Kedua fungsi ACE tersebut menjadikan penghambatan ACE penting
perannya dalam perawatan penyakit tekanan darah tinggi, gagal jantung, dan
diabetes mellitus tipe 2. Penghambatan ACE akan berakibat menurunnya
pembentukan angiotensin II dan menurunnya metabolisme bradikinin, dengan
demikian akan terjadi dilasi (pelebaran) sistematik pada arteri dan vena, serta
penurunan tekanan darah arteri.
Akan tetapi penghambatan ACE, yang juga secara langsung akan
menghambat pembentukan angiotensin II dapat menyebabkan pengurangan sekresi
aldosteron (yang dimediasi angiotensin II) dari korteks adrenal. Hal ini akan
mengakibatkan penurunan penyerapan kembali air dan natrium, serta pengurangan
volume ekstraseluler.
B. Fungsi ACE Inhibitor
ACE memiliki dua fungsi utama di tubuh, fungsi pertama adalah sebagai
katalisator angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II merupakan
senyawa vasokonstriktor kuat. Sedangkan fungsi ACE yang kedua adalah sebagai
pengurai bradikinin, yang merupakan vasodilator kuat.
Kedua fungsi ACE tersebut menjadikan penghambatan ACE penting
perannya dalam perawatan penyakit tekanan darah tinggi, gagal jantung, dan
diabetes mellitus tipe 2. Penghambatan ACE akan berakibat menurunnya

pembentukan angiotensin II dan menurunnya metabolisme bradikinin, dengan


demikian akan terjadi dilasi (pelebaran) sistematik pada arteri dan vena, serta
penurunan tekanan darah arteri.
ACE-inhibitor yang baik adalah yang memiliki trough to peak ratio 5066%. Perindopril memenuhi syarat tersebut karena memiliki trough to peak
ratio mendekati 75-100%. Selain itu, perindopril juga memiliki ikatan yang cukup
baik dalam plasma dan jaringan, yakni sebesar 17%. Dalam pengobatan seharihari, peredaran ACE dalam plasma hanya 10% dan efek ACE yang utama adalah
dalam jaringan. Inilah kenyataan yang cukup penting, yakni kadar ACE dalam
jaringan yang sangat tinggi. Tercatat ACE terdapat diberbagai jaringan seperti
vaskulatur (endotel), adrenal, jantung, ginjal, paru, dan organ reproduktif.
C. Manfaat ACE Inhibitor
1. Mengurangi Moralitas dan mordabilitas pada semua pasien gagal jantung sistolik
(semua derajat keparahan, termasuk yang asistomatik).
2. ACE-inhibitor sangat berpengaruh positif pada penderita hipertensi. Pada
penderita hipertensi, kelainan utama akan terlihat pada media dinding pembuluh
darah.
D. Kelompok Obat Penghambat ACE

1.
2.
3.
1.
2.

Terdapat 3 kelompok obat penghambat ACE, yang dibagi berdasarkan


struktur molekulnya, yakni:
Kelompok yang mengandung sulfidril, contohnya kaptopril danzofenopril
Kelompok
yang
mengandung
dikarboksilat,
contohnyaenalapril, ramipril, quinapril, perindopril, lisinopril, danbenazepril.
Kelompok yang mengandung fosfonat, contohnya adalahfosinopril.
Secara umum obat ACE inhibitor dapat dibedakan atas :
Obat ACE inhibitor yang bekerja langsung yaitu ; kaptopril dan lisinopril
Obat ACE inhibitor yang bekerja tidak langsung (merupakan prodrug) yaitu semua
yang lain.

E. Farmakodinamik dan Farmakokinetik Kelompok Obat Kardiovaskuler


- Katopril : CAPTOPRIL-12,5 DAN CAPTOPRIL-25
a. Farmakodinamik

Captopril adalh D-3 mercaptomethyl-propionyl-L-proline. Captopril


mempunyai efek yang menguntungkan pada hipertensi dan gagal jantung, yaitu
penekanan sistem renin-angiotensin-aldosterone.
Captopril mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II oleh inhibisi
ACE (angiotensin Converting Enzym) .

b. Farmakokinetik
Setelah pemberian secara oral captopril secara cepat diabsorpsi dan adanya
makanan dalam saluran gastrointestinal berkurang 30-40%. Dalam periode 24 jam
lebih dari 95% dosis yang diabsorpsi dieliminasi ke dalam urin dan 40-50%nya
dalam bentuk tidak berubah.
- Zefenopril
a. Farmakodinamik
Kalsium Zofenopril (CAS 81938-43-4) adalah angiotensin baru converting
enzyme (ACE) inhibitor, yang selain kegiatan khas kelas, terbukti memiliki efek
kardioprotektif spesifik karena juga untuk kehadiran kelompok sulfhidril. Dalam
kalsium zofenopril percobaan dan maleat enalapril (CAS 76095-16-4) diberikan
kepada 20 sukarelawan sehat dari kedua jenis kelamin di resimen dosis diulang
pada dua tingkat dosis: 30 mg dan 60 mg kalsium zofenopril dan 10 mg dan 20 mg
enalapril maleat.
Penelitian dilakukan sesuai dengan jangka waktu dua, dua-urutan, desain
crossover, dengan washout. ACE aktivitas di serum dan zofenopril, zofenoprilat,
enalapril dan konsentrasi plasma enalaprilat ditentukan selama dan pada hari
terakhir dari dua periode studi. Kedua zofenopril dan enalapril secara luas
dikonversi melalui hidrolisis untuk aktif metabolit zofenoprilat dan enalaprilat,
masing-masing. Zofenopril dipamerkan lengkap dan tingkat hidrolisis lebih cepat
dibandingkan dengan enalapril, yang tercermin oleh tinggi untuk rasio metabolit
orangtua obat Cmax dan AUCss, tau ditunjukkan oleh senyawa ini. Meskipun
hanya dua tingkat dosis diselidiki dalam sidang ini, farmakokinetik kedua obat
tampaknya linear.
Sejalan dengan percobaan sebelumnya, kedua senyawa pada kedua tingkat
dosis diselidiki menghasilkan inhibisi lengkap atau hampir lengkap dari aktivitas
ACE dalam serum, untuk periode yang berlangsung 6-8 jam setelah pemberian,
penghambatan yang masih relevan 24 jam setelahnya. The tolerabilitas dua obat

pada kedua tingkat dosis terbukti sangat baik seperti yang ditunjukkan oleh gejala
subyektif dan obyektif, dengan tidak adanya efek samping yang relevan, dan
dengan parameter laboratorium biokimia dan tanda-tanda vital dievaluasi sebelum
dan setelah sidang. Tekanan darah menunjukkan tren penurunan yang cukup
dengan kedua obat, sistolik dan nilai tekanan darah diastolik yang namun dalam
batas normal dalam semua mata pelajaran. Dalam hal tidak ada gejala hipotensi
yang dialami. Dalam kesimpulan, zofenopril kalsium dan maleat enalapril
menunjukkan toleransi yang sangat baik dan tampaknya mengerahkan kegiatan
serupa di ACE serum. Perbedaan utama dalam farmakokinetik dua senyawa adalah
konversi dari pro-obat untuk metabolit aktif yang lebih cepat dengan zofenopril.
b. Farmakokinetik
Zofenopril adalah obat yang sekali di absorpsi mengalami hidrolisis yang
cepat dan lengkap dengan zofenoprilat sulfhidril yang mengandung metabolit aktif.
Pada orang sehat, dosis oral tunggal zofenopril 10mg akan cepat dihidrolisis,
dengan bioavailabilitas rata-rata 93%. Berarti memerlukan waktu 3,3 jam, berarti
waktu absorpsi 1,4 jam dan waktu untuk puncak konsentrasi plasma (tmax) selama
0.4 jam.
Setelah pemberian oral obat zofenoprilat, untuk ginjal adalah 0,19 L / h / kg
(3,1 ml / menit / kg), non-ginjal izin 0.5 L / h / kg (8,3 ml / menit / kg), volume
distribusi pada steady state ( Vdss) 1.3L/kg, eliminasi paruh (t1 / 2) 5,5 jam dan
rata-rata waktu tinggal 1,9 jam. Bioavailabilitas mutlak zofenoprilat adalah 78%
jika dihitung dari area di bawah konsentrasi plasma-time curve (AUC) nilai darah
dan 65% jika dihitung dari nilai ekskresi urin. Zofenopril dan zofenoprilat secara
luas terikat dengan protein plasma, dan eliminasi adalah baik hati dan ginjal.
Dalam studi lain dosis tunggal pada pasien, administrasi zofenopril 60mg
mengakibatkan nilai waktu maksimal dari 1,19 dan 1,36 jam untuk zofenopril dan
zofenoprilat, Esterases memediasi biotransformasi zofenopril ke zofenoprilat.
ACE-hambat efek zofenopril, melalui zofenoprilat, ditemukan in vitro dan in
vivo menjadi 3 sampai 10 kali lebih tinggi pada basis molar daripada kaptopril.
Mungkin., Properti yang paling relevan adalah zofenopril lipofilisitas tinggi
( oktanol-air koefisien distribusizofenopril 3,5, zofenoprilat 0,22), yang
memungkinkan penetrasi jaringan yang luas dan berkepanjangan, dan mengikat
jaringan ACE.
- Ramipril
a. Farmakokinetik
Ramipril adalah kerja lama angiotensin converting bukan golongan sudrifil.
enzyme (ACE) inhibitor diperkenalkan untukpenggunaan klinis sekitar satu dekade

lalu.Ramipril adalah obat yang


mengalami de-esterifikasi dalam
hati untuk
membentukramiprilat, metabolit aktif. Ramipril cepatmendistribusikan ke seluruh
jaringan, denganginjal hati, dan paru-paru menunjukkankonsentrasi nyata lebih
tinggi dari obat daridarah. Setelah penyerapan
dari
saluranpencernaan, hidrolisis cepat ramipril terjadi
di
hati. Dalam rentang
konsentrasi terapeutik,protein pengikatan ramipril dan ramiprilatadalah 73 dan
56%, masing-masing. Ramiprilatmengikat ACE dengan afinitas
tinggi pada
konsentrasi yang
sama
dengan enzim dan
menetapkan keseimbangan perlahan. Meskipunramipril dimetabolisme oleh hati da
n
mekanismeginjal untuk
kedua konjugat glucuronate danturunan diketopiperazine, sebagian
besar obatdiekskresikan
dalam
urin sebagai ramiprilat dankonjugat glucuronate dari ramiprilat. Eliminasi
dari
tubuh ditandai
dengan fase awal
yang
relatifcepat
dengan waktu
paruh dari 7 jam dan fase akhir dengan waktu paruh sekitar 120 jam.Tidak
ada interaksi farmakokinetik klinissignifikan antara obat ramipril dan lainnya telah
dilaporkan. Obat telah umum
ditoleransi denganefek
samping yang
paling
umum menjadi pusing(3,4%), sakit
kepala (3,2%), kelemahan (1.9%)dan
mual (1,7%). Ramipril adalah obat yang efektif dan ditoleransi dengan baik untuk
pengobatan hipertensi dan gagal jantungkongestif pada semua pasien, termasuk
merekadengan ginjal atau disfungsi hati, dan orang tua.
b. Farmakodinamik
Ramipril adalah jenis obat yang disebut ACE (angiotensin converting enzyme)
inhibitors yang bekerja dengan cara mengendurkan pembuluh darah. Hal ini
membantu mengecilkan tekanan darah.
Indikasi:
Untuk mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi), gagal jantung, dan untuk
meningkatkan kemampuan bertahan setelah serangan jantung.
Dosis:
1. Pemberian dosis melalui mulut (per oral) 2.5 mg sehari saru kali.
2. Dosis lanjutan: 10 mg melalui mulut (per oral) sehari satu kali.
Efek Samping:
Efek CV (hipotensi, angioedema); Efek CNS (kelelahan, sakit kepala); Efek GI
(gangguan perasa); Efek berturut-turut (batuk tidak berdahak; upper resp tract
symptoms); Efek Dermatologis (ruam, erythema multiforme, toxic epidermal

necrolysis); reaksi hipersensitivitas; Efek ginjal (kerusakan ginjal); Gangguan


electrolyte (hiperkalemia, hiponatremia,); gangguan darah.
1.

2.
3.
4.

Instruksi Khusus:
Pasien dengan HF dan mereka yang kekurangan gula atau air
(melakukandiuretic atau dialysis) mungkin mengalami hipotensi selama tahapan
pemberian dosis dalam terapi ACE inhibitor. (Mulai pengobatan atas pengawasan
medis; pada pasien ini gunakan dosis rendah dan lakukan dengan posisi terlentang)
Hindari pada pasien dengan aortic stenosis atau outflow tract obstruction dan harus
terhindar dari penyakit actual renovascular.
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat keturunan atau idiophatic
angioedema.
Fungsi ginjal harus diukur sebelum pemberian ACE inhibitor dan harus diawasi
selama terapi. (Pasien dengan penyakit ginjal atau yang menggunakan dosis tinggi
harus diawasi secara reguler untuk mencegah proteinuria)