Anda di halaman 1dari 18

FORMULASI SEDIAAN SEMISOLID

SALEP GENTAMISIN

Untuk memenuhi sebagai persyaratan dalam menempuh mata kuliah FTS Semisolid
Yang dibina oleh Dwi Andayani

Oleh:
Dewi Ari Kusrini

12.026

Disacikita Putri Edhelwaise

12.032

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG


JANUARI 2014

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit
atau selaput lendir (FI ed IV). Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen dalam dasar
salep yang cocok (FI ed III). Salep yang baik tidak boleh berbau tengik. Kecuali
dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotik
adalah 10 %.
Pengaplikasian sediaan setengah padat ini tidak menggunakan banyak tenaga dan
sangat mudah digunakan. Salep umumnya diaplikasikan pada permukaan kulit, dan salep
akan terabsopsi di bagian epidermis, kelenjar rambut, kelenjar keringat serta kelenjar
minyak.
Sediaan salep yang baik dan layak digunakan harus mempertimbangkan beberapa
aspek yang harus dipenuhi, yaitu salep harus stabil, tidak terpengaruh oleh suhu dan
kelembaban dalam ruangan, dan semua zat yang tercampur dalam salep harus halus, oleh
karena itu pada saat proses pembuatan salep harus digerus dengan homogen agar semua
bahan, baik itu zat aktif maupun zat tambahan dapat tercampurkan dan bisa meresap ke
dalam kulit secara maksimal,dan terkadang hal itulah yang menjadi salah satu masalah
dalam pembuatan salep.
Para ahli farmasi harus paham dan mengerti cara pembuatan sediaan setengah padat
khususnya salep, karena dewasa ini masyarakat sangat menyukai obat yang berbentuk salep
untuk penggunaan topikal karena sangat mudah digunakan. Selain itu, keahlian ini juga
dapat digunakan saat memberikan pelayanan kefarmasian, baik itu di apotek, puskesmas,
atau di rumah sakit, dan juga saat bekerja di pabrik farmasi yang memproduksi salep.
1.2 Tujuan
Mengetahui cara pembuatan sediaan salep yang baik dan tepat.
1.3 Manfaat
1. Dapat memahami langkah-langkah dalam pembuatan sediaan salep.
2. Dapat mengaplikasikan di dunia kerja.
3. Menambah pengetahuan dalam dunia farmasi
4. Bisa menjadi formulator dalam pembuatan sediaan semisolid khususnya salep

BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1 Macam-Macam Sediaan Farmasi
1. Aerosol
Sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapeutik
yang dilepas pada saat sIstem katup yang sesuai di tekan. Sedian ini digunakan untuk
pemakaian topikal pada kulit dan juga untuk pemakaian lokal pada hidung.
2.

Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak
yang dapat larut. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:

Menutupi bau dan rasa yang tidak enak

Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari

Lebih enak dipandang

Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan
pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian
dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar

Mudah ditelan

3. Tablet (Compressi)
Sedian padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung
pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat
atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.

Tablet Kempa : paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk


serta penandaannya tergantung design cetakan.

Tablet Cetak : dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab
dalam lubang cetakan.

Tablet Trikurat : tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris.
Sudah jarang ditemukan

Tablet Hipodermik : dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut
sempurna dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik,
sekarang diberikan secara oral.

Tablet Sublingual : dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan


dengan meletakkan tablet di bawah lidah.

Tablet Bukal : digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.

Tablet Efervescen : tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup
rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis tidak untuk langsung
ditelan.

Tablet Kunyah : cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak


di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak
enak.

4. Krim
Sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau
terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
5. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem
dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan
lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi.
6. Ekstrak
Sediaan pekat yang di peroleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simpliisia
nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai kemudian semua atau
hamper semua pelarut di uapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan
sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat yang ditetapkan.
7. Gel (geli)
Sistem semi padat terdiri dari suspense yang di buat partikel anorganik yang
kecil atau molekul organic yang besar, terpenetrsai oleh suatu cairan.
8. Immunosera (Imunoserum)
Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas yang diperoleh dari
serum hewan dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular)
dan mengikat kuman/virus/antigen.
9. Implan atau Pelet
Sedian dengan massa padat berukuran kecil, berisi obat dengan kemurnian
tinggi (dengan atau tanpa eksipien), dibuat dengan cara pengempaan atau pencetakan.
10. Infusa
Sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air
pada suhu 90 selama 15 menit.
11. Inhalasi
Sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri dari satu atau lebih bahan obat
yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau mulut untuk memperoleh efek local
atau sistemik.

12. Injectiones (Injeksi)


Sediaan steril untuk kegunaan parenteral, yaitu dibawah atau menembus kulit
atau selaput lender.Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan,
yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau
selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien
yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.
13. Irigasi
Larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka
atau rongga tubuh, penggunaan adalah secara topical.
14. Lozenges atau tablet hisap
Sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan
bahan dasar beraroma manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan
dalam mulut.
15. Sediaan Obat mata
-Salep mata
Salep steril yang digunakan pada mata.
-Larutan Obat mata
Larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas
sedimikian rupa hingga sesuai di gunakan untuk mata.
16. Pasta
Sediaan semi padata yang mengandung satu atau lebih bahan yang di tujukan untuk
pemakaiaan topical.
17. Plester
Bahan yang digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan yang dapat melekat
pada kulit dan menempel pada pembalut.
18. Serbuk
Campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, berupa serbuk
yang dibagi bagi (pulveres) atau serbuk yang tak terbagi. (pulvis).
a.Pulvis (Serbuk) Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang
dihaluskan,ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.
b.Pulveres Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama,
dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
19. Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara

peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya


(Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia
yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau
campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral
(diminum) dan larutan topikal (kulit).
20. Solutio atau larutan
Sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Terbagi atas :
1. Larutan Oral : Sediaan cair yang dimasukan untuk pemberian oral.
2. Larutan topikal : Sediaan cair yang dimasukan untuk penggunaan topical atau
mukosa.
3. Larutan Otik : Sediaan cair yang dimasukan untuk penggunaan dalam telinga.
4. Larutan Optalmik : Sediaan cair yang digunakan pada mata.
5. Spirit : Larutan mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat yang mudah
menguap.
6. Tingtur : Larutan mengandung etanol atau hidro alcohol di buat dari bahan
tumbuhan atau senyawa kimia.
21. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang diberikan
melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu
tubuh. Tujuan pengobatan yaitu:
-Penggunaan lokal >> memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan
inflamasi karena hemoroid.
-Penggunaan sistemik >> aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk
anti muntah, chloral hydrat untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik
antipiretik.
22. Pilulae (PIL)
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat
dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena
tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.
23. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut
terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk
susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga
bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.
24. Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau
tumbuhan yang disari.

25. Unguenta (Salep)


Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada
kulit atau selaput lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah
dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi
homogen dalam dasar salep yang cocok.
26. Guttae (Obat Tetes)
Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan
untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan
penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes
beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara
lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tetes mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga),
Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
2.2 Sediaan Salep
Salep dan cream adalah sediaan yang berbentuk setengah padat, terutama untuk
pemakaian lokal. Sediaan setengah padat ini diformulasikan dengan konsistensi
sedemikian rupa, sehingga diperoleh produk yang halus dan lembek yang mudah
dioleskan pada permukaan kulit. Bagian kulit yang paling berpengaruh untuk absorpsi
obat adalah : bagian epidermis, kelenjar rambut, kelenjar keringat serta kelenjar minyak.
Epidermis adalah lapisan kulit paling luar di mana salep/cream tersebut dioleskan. Tebal
epidermis
tersebut
berlain-lainan
tergantung
dari
letak
kulit,
sehingga sangat berpengaruh pada daya penyerapan obat. Bagian epidermis ini dilapisi
oleh suatu lapisan film yang terdiri dari lemak-lemak, yang mempunyai pH sekitar 4,56,5 dengan akibat diperoleh absorpsi yang berbeda pula. Telah terbukti bahwa absorpsi
obat ke dalam kulit selain melalui lapisan epidermis tadi, juga melalui saluransaluran di dalam kulit, seperti kelenjar rambut dan kelenjar keringat.
Faktor-faktor yang memegang peranan di dalam proses absorpsi melalui kulit antara
lain adalah:
1. Koefisien partisi dari pada obat.
2. Kelembaban dan suhu kulit.
3. Jenis penyakit yang terdapat pada kulit.
4. Konsentrasi bahan berkhasiat.
5. Dasar salep/cream yang dipakai.
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai
obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lender (Anonim, 1979).
Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok: dasar salep
senyawa hidrokarbon, dasar saleop serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan dasar
salep yang dapat larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep
tersebut (Anonim, 1995)
1.

Macam-macam dasar salep antara lain :


Dasar salep hidrokarbon

Dasar salep ini yaitu terdiri antara lain vaselin putih, Vaselin kuning, Paravin encer, Paravin
padat, Jelene, Minyak tumbuh-tumbuhan, Campuran Vaselin dengan malam putih, malam
kuning.
Dasar salep hidrokarbon (dasar bersifat lemak) bebas air, preparat yang berair mungkin dapat
dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja, bila lebih minyak sukar bercampur. Dasar
hidrokarbon dipakai terutama untuk efek emolien. Dasar salep tersebut bertahan pada kulit
untuk waktu yang lama dan tidak memungkinkan larinya lembab ke udara dan sukar dicuci.
Kerjanya sebagai bahan penutup saja. Tidak mengering atau tidak ada perubahan dengan
berjalannya waktu (Ansel, 1989).
2.

Dasar salep serap


Dasar salep ini dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar
yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (Paraffin hidrofilik
dan Lanolin anhidrat) dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat
bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (Lanolin) (Ansel, 1989).

3.

Dasar salep yang dapat dicuci dengan air


Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air antara lain salep hidrofilik dan lebih
tepatnya disebut krim. dasar salep ini mudah dicuci dari kulit atau dilap basah, sehingga lebih
dapat diterima untuk bahan dasar kosmetik. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif
dengan menggunakan dasar salep ini. Keuntungan lain adalah dapat diencerkan dengan air
dan mudah menyerap air pada kelainan dermatologik (Ansel, 1989).
4. Dasar salep larut dalam air
Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air.
Sama halnya dengan dasar salep yang dapat dicuci dengan air dasar salep ini banyak
memiliki keuntungan (Ansel, 1989).
Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor seperti khasiat yang diinginkan, sifat
bahan obat yang dicampurkan, ketersediaan hayati, serta stabilitas dan ketahanan sediaan
jadi. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk
mendapatkan stabilitas yang diinginkan. Misalnya obat-obat yang dapat terhidrolisis, lebih
stabil dalam dasar salep hidrokarbondaripada dasar salep yang mengandung air meskipun
obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mengandung air (Anief, 2003).
2.3
1.

Metode Pembuatan Salep


Metode Pelelehan
Zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersama dan diaduk sampai membentuk
fasa yang homogen
2. Metode Triturasi
Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan dipakai atau dengan
salah satu zat pembantu, kemudian dilanjutkan dengan penambahan sisa basis
3. Zat yang mudah larut dalam air dan stabil
Bila masa salep mengandung air dan obatnya dapat larut dalam air yang tersedia,
maka obatnya dilarutkan dulu dalam air dan dicampur dengan basis salep yang
dapat menyerap air,
4. Salep yang dibuat dengan peleburan
a. Dalam cawan porselen

b. Salep yang mengandung air tidak ikut dilelehkan tetapi diambil bagian lemaknya
(air ditambahkan terakhir)
C. Bila bahan-bahan dari salep mengandung kotoran, maka masa salep yang meleleh perlu
dikolir (disaring dengan kasa) dilebihkan 10-20%
1.
2.
3.
4.

Basis salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok :


basis hidrokarbon,
basis absorpsi (basis serap),
basis yang dapat dicuci dengan air, dan
basis larut dalam air.
Basis salep yang lain seperti basis lemak dan minyak lemak serta basis silikon. Setiap
salep obat menggunakan salah satu basis salep tersebut
1.
2.
3.

1.
2.

Basis hidrokarbon
sifat inert
umumnya merupakan senyawa turunan minyak bumi (Petrolatum) yang
memiliki bentuk fisik semisolid dan dapat juga dimodifikasi dengan wax atau
senyawa turunan minyak bumi yang cair (Liquid Petrolatum)
Basis ini digolongkan sebagai basis berminyak bersama dengan basis salep yang
terbuat dari minyak nabati atau hewani
Sifat minyak yang dominan pada basis hidrokarbon menyebabkan basis ini sulit
tercuci oleh air dan tidak terabsorbsi oleh kulit. Sifat minyak yang hampir anhidrat
juga menguntungkan karena memberikan kestabilan optimum pada beberapa zat aktif
seperti antibiotik.
Basis ini juga hanya menyerap atau mengabsorbsi sedikit air dari formulasi serta
menghambat hilangnya kandungan air dari sel-sel kulit dengan membentuk lapisan
film yang waterproff.
Basis ini juga mampu meningkatkan hidrasi pada kulit. Sifat-sifat tersebut sangat
menguntungkan karena mampu mempertahankan kelembaban kulit sehingga basis ini
juga memiliki sifat moisturizer dan emollient.
Selain mempertahankan kadar air, basis ini juga mampu meningkatkan hidrasi pada
kulit (horny layer) dan hal ini dapat meningkatkan absorbsi dari zat aktif secara
perkutan. Hal ini terbukti dengan mengukur peningkatan efek vasokonstriksi pada
pemberian steroid secara topikal dengan basis hidrokarbon.

Kerugian Basis Hidrokarbon


Sifatnya yang berminyak dapat meninggalkan noda pada pakaian serta sulit tercuci
oleh air sehingga sulit dibersihkan dari permukaan kulit.
Hal ini menyebabkan penerimaan pasien yang rendah terhadap basis hidrokarbon jika
dibandingkan dengan basis yang menggunakan emulsi seperti krim dan lotion.

Beberapa contoh kandungan basis hidrokarbon


1. Soft Paraffin
Basis diperoleh melalui pemurnian hidrokarbon semisolid dari minyak bumi.
Jenis sof paraffin yaitu :
berwarna kuning digunakan untuk zat aktif yang berwarna

berwarna putih (melalui proses pemutihan) digunakan untuk zat aktif yang tidak berwarna,
berwarna putih, atau berwarna pucat.
Proses pemutihan menyebabkan sebagian pasien sensitif terhadap soft paraffin yang
berwarna putih
2. Hard Paraffin
Merupakan campuran bahan-bahan hidrokar-bon solid yang diperoleh dari minyak
bumi. Sifat fisiknya tidak berwarna s/d berwarna putih, tidak berbau, memiliki tekstur
berminyak seperti wax, dan memiliki struktur kristalin.
Hard paraffin biasanya digunakan untuk memadatkan basis salep.
3. Liquid Paraffin
Merupakan campuran hidrokarbon cair dari minyak bumi. Umumnya transparan dan
tidak berbau. Mudah mengalami oksidasi sehingga dalam penyimpanannya
ditambahkan antioksidan seperti Butil hidroksi toluene (BHT), digunakan untuk
menghaluskan basis salep dan mengurangi viskositas sediaan krim. Jika dicampur
dengan 5% low density polietilen, lalu dipanaskan dan dilakukan pendinginan secara
cepat, akan menghasilkan massa gel yang mampu mempertahankan konsistensinya
dalam rentang suhu yang cukup luas (-155 C hingga 605 C).
Sifatnya stabil pada perubahan suhu, kompatibel terhadap banyak zat aktif, mudah
digunakan, mudah disebar, melekat pada kulit, tidak terasa berminyak dan mudah
dibersihkan.
Pertimbangan Pemilihan Bahan :
Pemilihan basis salep disesuaikan dengan sifat zat aktif dan tujuan penggunaan. Sifat :
1. Basis hidrokarbon bersifat kompatibel dengan banyak zat aktif karena inert,
2. Sedikit atau tidak mengandung air,
3. Tidak mengabsorbsi air dari lingkungannya.
4. Kandungan airnya yang sangat sedikit dapat mencegah hidrolisis zat aktif seperti
beberapa antibiotik.
5. Kemampuan menyerap air yang rendah menyebabkan basis ini dapat digunakan
pada eksudat (luka terbuka).
6. Meskipun demikian, basis ini tetap meningkatkan hidrasi kulit sehingga
meningkatkan absorbsi zat aktif secara perkutan.
Oleh karena itu, basis hidrokarbon merupakan basis dari salep dasar dan jika tidak
disebutkan apa-apa maka basis hidrokarbon yang digunakan sebagai salep dasar
adalah vaselin putih.
Dasar salep Hidrokarbon ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, bebas air,
dimana preparat berair mungkin dapat dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja.
Bila lebih, akan susah bercampur. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang
kontak obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut/penutup. Dasar salep ini
digunakan sebagai emolien dan sifatnya sukar dicuci, tidak mengering dan tidak
tampak berubah dalam waktu lama. Contoh : vaselin kuning dan putih, salep kuning
dan putih, paraffin dan minyak mineral. Vaselin kuning boleh digunakan untuk mata,
sedangkan yang putih tidak boleh karena masih mengandung H2SO4.
1.

Vaselin Kuning/Flavum
Vaselin kuning adalah campuran yang dimurnikan dari hidrokarbon setengah
padat yang diperoleh dari minyak bumi. Dapat mengandung zat penstabil yang

sesuai. Pemerian : massa seperti lemak, kekuningan hingga amber lemah;


berfluoresensi sangat lemah walaupun setelah melebur, dalam lapisan tipis transparan,
tidak atau hampir tidak berbau dan berasa. Kelarutan : tidak larut dalam air, mudah
larut dalam benzena, dalam karbon disulfida, dalam kloroform dan dalam minyak
terpentin; larutdalam eter, dalam heksana, dan umumnya dalam minyak lemak dan
minyak atsiri; praktis tidak larut dalam etanol dingin dan etanol panas dan dalam
etanol mutlak dingin.
2.

Vaselin Putih/Album
Vaselin putih adalah campuran yang dimurnikan dari hidrokarbon setengah
padat yang diperoleh dari minyak bumi dan keseluruhan atau hampir keseluruhan
dihilangkan warnan ya. Dapat mengandung zat penstabil yang sesuai. Pemerian :
putih atau kekuningan pucat, massa berminyak transparan dalam lapisan tipis setelah
didinginkan pada suhu 0 derajat C. Kelarutan : tidak larut dalam air; mudah larut
dalam benzena, dalam karbon disulfida, dalam kloroform, larut dalam heksana, dan
dalam sebagian besar minyak lemak dan minyak atsiri, sukar larut dalam etanol
dingin dan etanol panas dan dalam etanol mutlak dingin.

3.

Parafin
Parafin adalah campuran hidrokarbon padat yang dimurnikan, yang diperoleh dari
minyak tanah. Pemerian : hablur tembus cahaya atau agak buram, tidak berwarna
atau
putih, tidak berbau, tidak berasa, agak berminyak. Kelarutan : tidak larut dalam air dan dalam
etanol, mudah larut dalam kloroform, dalam eter, dalam
minyak menguap, dalam hampir
semua jenis minyak lemak hangat, sukar larut dalam etanol mutlak.

4.

Salep Kuning
Tiap 1000 g mengandung 50 g lilin dan 950 g vaselin kuning. Lilin kuning
adalah lilin yang dimurnikan yang dihasilkan dari sarang tawon (Apis
mellifera).Lelehkan lilin kuning dalam steam bath, tambahkan vaselin kuning,
hangatkan hingga menjadi cair. Hentikan pemanasan dan aduk campuran sampai
mengental.

5.

Salep putih
Tiap 1000 g mengandung 50 g lilin putih dan 950 g vaselin putih. Lilin putih
adalah lilin lebah murni yang diputihkan. Lelehkan lilin putih dalam steam bath,
tambahkan vaselin putih, hangatkan hingga menjadi cair. Hentikan pemanasan dan
aduk campuran sampai mengental.

6.

Minyak mineral
Minyak mineral adalah campuran hidrokarbon cair yang diperoleh dari
tanah. Berguna untuk menggerus bahan yang tidak larut pada preparat salep
dasar berlemak. Dapat mengandung bahan penstabil yang sesuai.

minyak
dengan

Metode pembuatan salep


Menurut Ansel (1989), salep dibuat dengan dua metode umum, yaitu:
metodepencampuran dan metode peleburan. Metode untuk pembuatan tertentu tre
utama tergantung pada sifat-sifat bahannya.
1. Pencampuran

2.

Dalam metode pencampuran, komponen dari salep dicampur dengan segala cara
sampai sediaan yang rata tercapai.
Peleburan
Pada metode peleburan, semua atau beberapa komponen dari salepdicampurkan
dengan melebur bersama-sama dan didinginkan dengan pengadukanyang konstan
sampai mengental.
Komponen-komponen yang tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada cairan
yang sedang mengental setelah didinginkan.
Bahan yang mudah menguap ditambahkan terakhir bila temperatur dari campuran
telah cukup rendah tidak menyebabkan penguraian atau penguapan dari komponen.
2.4 Evaluasi Sediaan
Meliputi uji sifat fisik dan kecepatan pelepasan obat dari salep.
1. Uji sifat fisik salep terdiri dari:
a.
Viskositas
Viskositas menyatakan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi akan
semakin besar tegangan. (Martin dkk, 1993).
b.
Daya melekat
Untuk mengetahui lamanya salep melekat pada kulit.
c.
Daya menyebar
Untuk mengetahui kelunakan massa salep pada waktu dioleskan pada kulit yang
diobati.
d.
Daya proteksi
Untuk mengetahui kekuatan salep melindungi kulit dari pengaruh luar pada waktu
pengobatan.
2.
Kecepatan pelepasan obat
Untuk mengetahui pelepasan obat pada kulit dengan membran selofan (Voigt, 1984).
Metode pelepasan obat dari basis dapat dilakukan dengan
1.
Metode in-vitro
Metode in-vitro terdiri dari:
a.
Metode pelepasan tanpa batas membran
b.
Metode difusi dengan kontrol membran, yang terdiri dari:
1)
Membran kulit tiruan
2)
Membran kulit alami
3)
Sel difusi
4)
Kondisi sel difusi tiruan secara in-vitro (Barry, 1983)
Uji pelarutan in-vitro mengukur laju dan jumlah pelarutan obat dalam suatu media
dengan adanya satu atau lebih bahan tambahan yang terkandung dalam produk obat.
Sifat medium pelarutan juga akan mempengaruhi uji pelarutan. Kelarutan maupun
jumlah obat dalam bentuk sediaan harus dipertimbangkan. Dalam melakukan uji invitro ini perlu diperhatikan beberapa faktor, yaitu
a.
Ukuran dan bentuk wadah yang mempengaruhi laju dan tingkat pelarutan.
b.
Jumlah pengadukan dan sifat pengadukan. Kenaikan pengadukan dari media
pelarut akan menurunkan tebal stagnant layer mengakibatkan kelarutan obat lebih
cepat (Shargel dan Yu, 2005). Pengadukan terlalu lemah ada resiko cuplikan dalam

medium tidak homogen dan pengadukan terlalu kuat menyebabkan turbulensi


(Aiache,1982).
c.
Suhu.
Dalam medium percobaan suhu harus dikendalikan pada keadaan yang konstan yaitu
dilakukan pada suhu 37 oC sesuai dengan suhu tubuh manusia. Adanya kenaikan suhu
selain dapat meningkatkan gradien konsentrasi juga akan meningkatkan energi kinetik
molekul dan meningkatkan tetapan difusi sehingga akan menaikkan kecepatan
disolusi (Shargel dan Yu, 2005).
d.
Medium pelarutan
Sifat medium pelarutan akan mempengaruhi uji pelarutan obat. Medium disolusi
hendaknya tidak jenuh dengan obat. Medium yang baik merupakan persoalan
tersendiri dalam penelitian. Dalam uji, biasanya digunakan suatu media yang lebih
besar daripada jumlah pelarut yang diperlukan untuk melarutkan obat secara
sempurna (Shargel dan Yu, 2005).
2.
a.
b.
c.
d.
e.

Metode in-vivo
Penelitian respon fisiologis dan farmakologi pada hewan uji.
Sifat fisika kulit
Metode histologi
Analisis pada cairan badan atau jaringan
Kehilangan permukaan (Barry, 1983)

BAB III
METODOLOGI KERJA

3.1 Formulasi
(FORNAS hal 136-137 )
Rancangan Formulasi
Tiap 10 g mengandung :
Gentamycini Sulfas setara dengan
Gentamycinum

10.000 UI

Methylis Parabenum

500 g

Buthylis Parabenum

100 g

Paraffinum Liquidum

1g

Vaselinum Album hingga

10 g

3.2 Monografi

Gentamycini sulfas
Gentamisin sulfat

Pemerian
: serbuk, putih sampai kekuning-kuningan
Kelarutan
: larut dalam air; tidak larut dalam etanol, dalam aseton, dalam
kloroform, dalam eter dan dalam benzena
Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat dan terhindar dari
panas yang berlebihan. (FI IV : 406)
Khasiat
: antibiotikum (FI III : 267)

Methylis parabenum
Metilparaben
Nipagin M

Pemerian
: hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih; tidak
berbau atau berbau khas lemah; mempunyai sedikit rasa terbakar.
Kelarutan
: sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam karbon
tetraklorida; mudah larut dalam etanol dan dalam eter.
Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup baik. (FI IV : 551)

: zat tambahan; zat pengawet (FI III: 378)

Buthylis parabenum
Butilparaben

Khasiat

Pemerian
: hablur halus tidak berwarna atau serbuk putih.
Kelarutan
: sangat sukar larut dalam air dan dalam gliserin; mudah larut
dalam aseton, dalam etanol, dalam eter dan dalam propilen glikol.
Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup baik. (FI IV : 158)
Khasiat
: zat pengawet

parrafinum liquidum
parafin cair

pemerian
: cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi, tidak berwarna;
hampir tidak berbau; hampir tidak mempunyai rasa.
Kelarutan
: praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut
dalam kloroform P dan dalam eter P.
Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup baik dan terlindung dari
cahaya.
Khasiat
: laksativum (FI III : 474)

5. Vaselinum Album

( FI IV hal 822)

Nama lain : vaselin album. Vaselin putih


Pemerian : putih atau kekuningan pucat, massa berminyak trasparan dalam
lapisan tipis, setelah di dingikan pada suhu 0o .
Kelarutan : tidak larut dalam air, sukar larut dalam etanol dingin atau panas
dan dalam etanol mutlak dingin; mudah larut dalam benzena,dalam karbon
disulfida,dalam kloroform,larut dalam heksana, dan dalam sebagian besar
minyak lemak dan minyak atsiri.
Khasiat : basis salep

3.3 Perhitungan Pengambilan Bahan

Gentamisin
2UI/10g x 20g = 4UI

Metil paraben
1000 g/10g x 20g = 2000 g

Butil paraben

200g/ 10g x 20g = 400 g

Parafinum liquidum
2g/ 10g x 20g = 4g

Vaselinum album ad. 20g

3.4 Alat yang digunakan

Mortir

Stemper

Cawan/Beaker glass

Spatula/Batang pengaduk

Kaki tiga

Kawat Kasa

3.5 Prosedur Kerja


3.5.1

Metode peleburan

Semua atau beberapa komponen dari salep dicampurkan dengan melebur bersama
Dinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental. Komponen yang
tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada campuran yang sedang mengental
Setelah didinginkan dan kemudian diaduk.
NB:
Pada metode peleburan, karena titik lebur masing-masing bahan berbeda, maka akan
mempengaruhi bagaimana proses pembuatannya, karena suhu untuk melebur
berbeda.Bahan dengan titik lebur paling tinggi dileburkan terlebih dahulu, baru
komponen lain ditambahkan pada cairan yang panas, maka semua komponen akan
terkena temperatur ini, sehingga pemilihan titik lebur berdasarkan titik lebur
tertinggi dari bahan salep
3.5.2

Metode Kerja Praktis


Disetarakan timbangan dan disiapkan alat dan bahan.
Disiapkan mortir panas ditimbang vaselin album dan di masukkan dalam mortir dan
digerus sampai rata.
Ditimbang paraffin liquid dimasukkan dalam cawan
Ditimbang gentamisin dimasukkan dalam cawan aduk sampai homogen.

Ditimbang metilparaben dimasukkan dalam mortir aduk sampai homogen


Ditimbang butilparaben dimasukkan dalam mortir aduk sampai homogen
Bahan dalam cawan dimasukkan dalam mortir di aduk sampai homogen.
Usahakan mortir tetap panas sehingga homogenitasnya bagus.
Timbang hasil saleb, masukkan dalam pot beri etiket.

Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan:1995.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan:1979.
Ansel HC. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta: UI-Press; 1998
Martin, Alfred, dkk, 1993, Farmasi Fisik. Dasar-Dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetik,
UI-Press, Jakarta
Shargel, Leon, B.C.YU, Andrew.2005. Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan,
Airlangga University Press, Surabaya
Anonim, 1978, Formularium Nasional II, Depkes RI, Jakarta
Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat Teori Dan Praktik. Yogyakarta: UGM-Press; 1997
http://selfiamona.blogspot.com/2013/10/formulasi-dan-teknologi-sediaan-semi_4817.html
http://ayuputricipit.wordpress.com/2013/01/13/macam-macam-bentuk-sediaan-obat/
http://themaseko.blogspot.com/2012/09/makalah-sediaan-salep.html#.UotQQ9J8Lp4