Anda di halaman 1dari 13

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Pengguanaan Lahan
Lahan menurut FAO (1976) dalam Hardjowigeno (1993) adalah suatu lingkungan
fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi, dan vegetasi dimana faktor-faktor
tersebut mempengaruhi potensi penggunaannya, termasuk di dalamnya akibat
kegiatannkegiatan manusia baik masa lalu maupun sekarang.
Penggunaan lahan menurut Arsyad (2000) merupakan sebagai setiap bentuk
campur tangan manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan
hidupnya.Penggunaan lahan merupakan hasil dari upaya manusia yang sifatnya terus
menerus dalam memenuhi kebutuhannya terhadap sumberdaya lahan yang tersedia. Oleh
karena itu, penggunaan lahan sifatnya dinamis mengikuti perkembangan kehidupan
manusia dan budayanya (Sitorus, 1989).
Berikut ini merupakan penjelasan beberapa jenis penggunaan lahan berdasarkan
pedoman survai yang digunakan oleh Direktorat Tata Guna Tanah Departemen Dalam
Negeri (Sitorus 1989):
1. Hutan:
Areal yang ditumbuhi berbagai jenis pepohonan besar dan kecil dengan tingkat
pertumbuhan yang maksimum, dapat meliputi hutan heterogen yang merupakan hutan
alam atau hutan homogen yang ditumbuhi pepohonan dengan didominasi oleh satu
jenis saja.
2. Perkebunan:
Areal yang ditanami jenis tanaman keras atau tanaman tahunan, baik untuk usaha
perkebunan besar maupun perkebunan rakyat.
3. Kebun Campuran:
Areal yang ditanami berbagai macam tanaman, jenis tanaman keras, atau kombinasi
tanaman keras dan tanaman semusim yang tidak jelas jenis mana yang lebih dominan.
4. Tegalan:
Areal pertanian lahan kering, biasanya tanaman yang diusahakan adalah tanaman
berumur pendek.
5. Sawah:
Areal pertanian lahan basah yang secara periodik atau terus-menerus ditanami padi.
6. Areal Pertanian Tanaman Kering Semusim:
Areal pertanian yang tidak pernah diairi dan hanya ditanami dengan jenis tanaman
berumur pendek, meliputi tegalan, ladang, dan kebun sayur.
7. Danau:
Areal penggenangan permanen yang dalam dan terjadi secara alami.
8. Rawa:
Areal dengan penggenangan permanen yang dangkal tetapi belum cukup dangkal
untuk dapat ditumbuhi tumbuhan besar, sehingga pada umumnya ditumbuhi
rerumputan rawa.
9. Perkampungan atau Pemukiman:
Bagian dari permukaan bumi yang dihuni oleh manusia, meliputi segala (sarana dan
prasarana) yang menunjang kehidupan penduduk.
2.2 Gulma

Gulma ialah tanaman yang tumbuhnya tidak diinginkan. Gulma di suatu


tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan, makanan ternak atau sebagai bahan
obat-obatan. Dengan demikian, suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan
sebagai gulma pada semua kondisi. Namun demikian, banyak juga tumbuhan
diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut
umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sembodo, 2010).
Kebanyakan Gulma adalah tanaman yang cepat tumbuh dan dapat
menghasilkan sejumlah besar biji dalam waktu singkat perkembangbiakan gulma
sangat mudah baik secara generatif maupun secara vegetatif. Secara generatif, biji-biji
gulma yang halus, ringan, dan berjumlah sangat banyak dapat disebarkan oleh angin,
air, hewan, maupun manusia. Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena
bagian batang yang berada di dalam tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan
membentuk tumbuhan baru. Demikian juga, bagian akar tanaman, misalnya stolon,
rhizomma, dan umbi, akan bertunas dan membentuk tumbuhan baru (Barus, 2003).
2.3 Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi
vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur
struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk
keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk
menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan
analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi
suatu komunitas tumbuhan (Greig-Smith,1983).
Konsepsi dari metode analisa vegetasi sesungguhnya sangat
bervariasi,tergantung keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannnya misalnya untuk
mengevaluasi hasil pengendalian gulma. Metode yang digunakan untuk analisa
vegetasi harus disesuaikan dengan struktur dan komposisi. Ada empat metode yang
lazim dalam analisa vegetasi yaitu metode estimasi visual, metode kuadrat, metode
garis dan metode titik (Surasana, 1990).
2.4 Metode Kuadrat
Metode kuadrat merupakan bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi
empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa
bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya.
Untuk analisis yang menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap
variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990).
Metode kauadrat adalah metode yang dilakukan dengan melakukan
pengamatan pada suatu areal dalam satuan kuadrat (m 2, cm2) danbentuk petak contoh
dapat berupa segi empat, segi panjang atau lingkara. Metode garis adalah dengan
meletakkan petak contoh yang memanjang diatas sebuah komunitas vegetasi
(Yernelis.1995)

2.3 Metode non plot/jalur atau Transek

Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan dipelajari/diselidiki.


Tujuannya untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungan
(Syafei, 1990). Tujuannya untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan
lingkungan. Terdiri dari :
a) Belt transect (transek sabuk)
Belt transek merupakan jalur vegetasi yang lebarnya sama dan sangat panjang.
Lebar jalur ditentukan oleh sifat-sifat vegetasinya untuk menunjukkan bagan yang
sebenarnya. Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan jika semak
dan tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang dewasa yang
dipetakan, transek 10 m dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung
pada struktur dan yang baik. Panjang transek tergantung tujuan penelitian. Setiap
segment dipelajari vegetasinya (Kershaw,1979).
Metode ini biasa digunakan untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas
dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini juga paling efektif untuk
mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topograpi, dan
elevasi. Transek dibuat memotong garis-garis topograpi, dari tepi laut kepedalaman,
memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng pegunungan. Lebar transek yang
umum digunakan adalah 10-20 meter, dengan jarak antar antar transek 200-1000
meter tergantung pada intensitas yang dikehendaki. Untuk kelompok hutan yang
luasnya 10.000 ha, intensitas yang dikendaki 2 %, dan hutan yang luasnya 1.000 ha
intensitasnya 10 %. Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan
jika semak dan tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang
dewasa yang dipetakan, transek 10 m yang baik.
b) Line transect (transek garis).
Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang
berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/dijumpai. Pada
metode garis ini, sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan
frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan
digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai
jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar
panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase
perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap
garis yang dibuat (Syafei, 1990).
Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada
setiap garis yang disebar. Metode line intercept biasa digunakan oleh ahli ekologi
untuk mempelajari komunitas padang rumput. Dalam cara ini terlebih dahulu
ditentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 m, 25
m, 50 m, 100 m. Tebal garis transek biasanya 1 cm. Pada garis transek itu kemudian
dibuat segmen-segmen yang panjangnya bisa 1 m, 5 m, 10 m. Dalam metode ini garisgaris merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat
jenisnya dan berapa kali terdapat/ dijumpai. Metode transek-kuadrat dilakukan dengan
cara menarik garis tegak lurus, kemudian di atas garis tersebut ditempatkan kuadrat
ukuran 10 X 10 m, jarak antar kuadrat ditetapkan secara sistematis terutama
berdasarkan perbedaan struktur vegetasi. Selanjutnya, pada setiap kuadrat dilakukan

perhitungan jumlah individual (pohon dewasa, pohon remaja, anakan), diameter


pohon, dan prediksi tinggi pohon untuk setiap jenis. pengamatan terhadap tumbuhan
dilakukan pada segmen-segmen tersebut. Selanjutnya mencatat, menghitung dan
mengukur panjang penutupan semua spesies tumbuhan pada segmen-segmen tersebut.
Cara mengukur panjang penutupan adalah memproyeksikan tegak lurus bagian basal
atau aerial coverage yang terpotong garis transek ketanah.
c) Metode Jarak
Salah satu metode jarak adalah metode PCQ (Point Center Quarter). Yaitu
metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan disepanjanggaris
transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis.
Masing-masing titik dianggap sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik
didapat empat buah kuadran. Pada masing-masing kuadran inilah dilakukan
pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat dengan pusat
titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat
kuadran. Adapun langkah-langkah dalam metode PCQ (Point Center Quarter) adalah
sebagai berikut :
1. Tentukan titik secara random sepanjang transek Tarik garis lurus melalui titik
tersebut sehingga terbentuk 4 kuadran semu
2. Tentukan pohon terdekat ke titik pd setiap kuadran
3. Tentukan pohon terdekat ke titik pd masing-masing kuadran
4. Ukur jarak pohon ke titik
5. Catat spesies dan diameter pohon tsb
6. Hasil pengukuran lapangan dilakukan dianalisis data untuk mengetahui kondisi
kawasan yang diukur secara kuantitatif. Beberapa rumus yang penting
diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu :
a) Kerapatan (Density)
Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon
dan tumbuhan lain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung. Secara kualitatif
dibedakan menjadi jarang terdapat, kadang - kadang terdapat, sering terdapat
dan banyak sekali terdapat jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan
ruang disebut kerapatan yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau
biomassa populasi persatuan areal atau volume,misalnya 200 pohon per Ha.
b) Dominasi
Dominasi dapat diartikan sebagai penguasaan dari satu jenis terhadap
jenis lain (bisa dalam hal ruang, cahaya dan lainnya), sehingga dominasi dapat
dinyatakan dalam besaran : 1. Banyaknya Individu (abudance) dan kerapatan
(density) 2. Persen penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar (LBD) /
Basal area (BA) 3. Volume 4. Biomassa 5. Indek nilai penting (importance
value-IV) 6. Kesempatan ini besaran dominan yang digunakan adalah LBH
dengan pertimbangan lebih mudah dan cepat, yaitu dengan melakukan
pengukuran diameter pohon pada ketinggian setinggi dada (diameter breas
heigt-dbh).

c) Frekuensi

Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas


terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagaimana pola
penyebaran suatu jenis, apakah menyebar ke seluruh kawasan atau kelompok.
Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan.
d) Indek Nilai Penting (importance value Indeks)
Merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies
dalam komunitas. Nilainya diperoleh dari menjumlahkan nilai kerapatan relatif,
dominasi relatif dan frekuensi relatif, sehingga jumlah maksimalnya 300%

BAB IIIMETODE PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu 14 November 2015,pukul 08.0009.30, bertempat di lahan tanaman Tahunan,Lahan Tanaman Musiman dan perumahan di
lingkungan Omah Kampus,Malang.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan antara lain : patok-patok kayu, meteran, Pengaris,
alat-alat tulis,kamera dan objek yang diamati.
3.3 Prosedur Kerja
Menyiapkan Alat dan Bahan
Menentukan Lahan Pengamatan
Mentukan 5 (lima) titik pengambilan sampel pada masing-masing tutupan lahan
dalam hamparan lanskap secara acak (dengan melempar petak kuadrat 1x1m);
Mendokumentasikan petak kuadrat dengan kamera sehingga seluruh gulma didalam
petak kuadrat dapat terlihat jelas;
Mengidentifikasi gulma yang ada didalam petak kuadrat;
Menghitung jumlah populasi gulma dan d1 (diameter tajuk terlebar) dan d2 (diameter
tajuk yang tegak lurus d1)
Mencatat Hasil Pengamatan
Menulis Laporan
VINA INI BUATEN DIAGRAM ALIR

Informasi tutupan Lahan &


Tanaman dalam lanskap
Biodiversitas
Tanaman

Jenis Lahan

Luas

Jarak tanam

Populasi

Sebaran

Tegalan

Singkong

2000x260 cm

20x90 cm

260 Tanaman

Rata

Tegalan

Tanaman Sengon

30x10 m

2x5 m

60 Tanaman

Rata

Lahan kosong di Rumput liar


Pemukiman

10x20 m

Tidak teratur

Banyak

Rapat Merata

Singkong

Gulma
Nama Lokal

Jumlah Gulma Plot keNama Ilmiah

D1

D2

Total

Alang-alang

11

22

10

Loseh

28

10

Jajagoan

Bunga Ketul

12

Sengon

Gulma
Nama Lokal
Alang-alang

Perumahan

Jumlah Gulma Plot keNama Ilmiah

1
20

2
-

3
-

4
-

5
-

D1

D2

Total
20

18

Gulma
Nama Lokal

Jumlah Gulma Plot keNama Ilmiah

D1

D2

Total

Alang-alang

15

21

44

10

Bunga Ketul

12

21

25

Rumput karpet

16

27

30

Bunga Putri Malu

15

35

10

Tabel Perhitungan:

No

Gulma

Plot-

K. Mutlak

K. Nisbi (%)

10

11

12

13

14

15

15

21

75

57,07
%

3.85%

Bunga ketul

2
0
-

Rumput
karpet
Bunga Putri
Malu

16

27

20.76%

15

11.53%

2.30%

3.85%

1
3

2
0

29

23

10

21

130

100%

F. Mutlak

F. Nisbi (%)

4
5
6

Alang-alang

Loseh
Jajagoan
Total

No

Gulma

Plot-

10

11

12

13

14

15

Alang-alang

0.53

45.30%

Bunga ketul

0.06

5.12%

Rumput
karpet
Bunga Putri
Malu

0.2

17.09%

0.26

22.22%

0.06

5.12%

0.06

5.12%

1.17

100%

4
5
6

Loseh
Jajagoan

Total

No Gulma
1
Alang-alang
2
Bunga ketul
3
Rumput karpet
4
Bunga Putri Malu
5
Loseh
6
Jajagoan

K.Nisbi
57.07%
3.85%
20.76%
11.53%
2.30%
3.85%

F.Nisbi
45.30%
5.12%
17.09%
22.22%
5.12%
5.12%

Nilai Penting
1.26
0.75
1.21
0.51
0.44
0.75

SDR
0.63
0.36
0.60
0.26
0.22
0.38

Pembahasan
Dari tabel hasil pengamatan diatas dapat dilihat bahwa gulma yang memiliki

kerapatan mutlak dan nisbi paling tinggi dan paling rendah adalah Alang-alang dengan nilai
kerapatan mutlak 75 dan kerapatan nisbi 57.07%, dan Loseh dengan nilai kerapatan mutlak 3
dan kerapatan nisbi 2.30%. Gulma yang memiliki frekuensi paling tinggi dan rendah adalah
Alang-alang, loseh dan jajagoan. Dengan nilai frekuensi mutlak Alang-alang 0.53 dan
frekuensi nisbi 45.30%; Loseh dengan nilai frekuensi mutlak 0.06 dan frekuensi nisbi 5.12%;
serta jajagoan dengan nilai frekuensi mutlak 0.06 dan frekuensi nisbi 5.12%. Gulma Alangalang memiliki nilai penting 1.26 dan SDR 0.63, loseh memiliki nilai penting 0.44 dan SDR
0.22, jajagoan memiliki nilai penting 0.75 dan SDR 0.38, Bunga ketul memiliki nilai
penting 0.75 dan SDR 0.36, Rumput karpet memiliki nilai penting 1.21 dan SDR 0.60,
Bunga putri malu memiliki nilai penting 0.51 dan SDR 0.26
Pengelolaan Gulma :

Mengendalikan/membunuh jenis gulma yang mempunyai nilai negatif dan


melestarikan gulma yang mempunyai arti positif. Pengelolaan gulma pada lahan dibedakan
menjadi 3 macam, yaitu:
1. Pencegahan:
a. Sortasi benih
b. Media tanam bersih
c. Seed law
d. Karantina
2. Pengendalian:
a. Mekanis:
1. Cultivation
2. Hand weeding
3. Hoeing
4. Slashing/mowing
5. Flaming/burning
6. Mulching
b. Kultur teknis:
1. Varietas unggul
2. Jarak tanam
3. Pemupukan
4. Flooding
5. Drying
6. Multiple croping
c. Hayati/biologi:
1. Cover crops (Creeping, perdu, pohion)
2. Pemangsa (Mamalia, ikan, siput, tungau, serangga, nematoda)
3. Pemberantasan:
a. Kimiawi
b. Terpadu (Vertikal, horizontal)

Perhitungan:

a. Kerapatan Mutlak
= individu suatu jenis dalam tiap petak contoh
1. Alang-alang: (5+1+2+3+20+15+8+21)
= 75
2. Bunga Ketul: 5
3. Rumput Karpet: (9+16+2)
= 27
4. Bunga Putri Malu: (5+7+2+1)
= 15
5. Loseh: 3
6. Jajagoan: 5
b. Kerapatan Nisbi
={K. Mutlak jenis gulma/ K. Mutlak semua jenis gulma} x 100%

1. Alang-alang: (75/130) x100%


= 57.07%
2. Bunga Ketul: (5/130) x100%
= 3.85%
3. Rumput Karpet: (27/130) x100%
= 20.67%
4. Bunga Putri Malu: (15/130) x100%
= 11.53%
5. Loseh: (3/130) x100%
= 2.30%
6. Jajagoan: (5/130) x100%
= 3.85%

c. Frekuensi Mutlak
= Petak contoh yang berisi gulma tertentu/ semua petak contoh

1. Alang-alang: 8/15
= 0.53
2. Bunga Ketul: 5/15
= 0.06
3. Rumput Karpet: 3/15
= 0.2
4. Bunga Putri Malu: 4/15
= 0.26
5. Loseh: 1/15
= 0.06
6. Jajagoan: 1/15
= 0.06
d. Frekuensi Nisbi
={F. Mutlak gulma tertentu/ nilai F. Mutlak semua jenis} x 100%

1. Alang-alang: (0.53/1.17) x100%


= 45.30%
2. Bunga Ketul: (0.06/1.17) x100%
= 5.12%
3. Rumput Karpet: (0.2/1.17) x100%
= 17.09%
4. Bunga Putri Malu: (0.26/1.17) x100%
= 22.22%
5. Loseh: (0.06/1.17) x100%
= 5.12%
6. Jajagoan: (0.06/1.17) x100%
= 5.12%
e. Nilai penting
=Kerapatan Nisbi + Frekuensi Nisbi

1. Alang-alang: 57.07/45.30
= 1.26
2. Bunga Ketul: 3.85/5.12
= 0.75
3. Rumput Karpet: 20.76/17.09
= 1.21
4. Bunga Putri Malu: 11.53/22.22
= 0.51

f.

5. Loseh: 2.30/5.12
= 0.44
6. Jajagoan: 3.85/5.12
= 0.75

Summed Dominance Ratio (SDR)


=Nilai penting/2

1. Alang-alang: 1.26/2
= 0.63
2. Bunga Ketul: 0.75/2
= 0.36
3. Rumput Karpet: 1.21/2
= 0.60
4. Bunga Putri Malu: 0.51/2
= 0.26
5. Loseh: 0.44/2
= 0.22
6. Jajagoan: 0.75/2
= 0.38

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Cetakan Ketiga. Institut Pertanian Bogor Press,
Bogor
Barus, Emanuel .2003.Pengendalian Gulma Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta.
Greig-Smith, P. 1983.Quantitative Plant Ecology, Studies in Ecology. Volume 9.Oxford:
Blackwell Scientific Publications.
Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta.
Kershaw, K.A. 1979.Quantitatif and Dynamic Plant Ecology. London: Edward Arnold
Publishers Sembodo, D.R.J. 2010. Gulma dan Pengelolaannya. Graha Ilmu.
Yogyakarta.
Sembodo, D.R.J. 2010.Gulma dan Pengelolaannya.Graha Ilmu. Yogyakarta
Sitorus, S.R.P. 1989. Survai Tanah dan Penggunaan Lahan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor
Surasana, Eden . 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB: Bandung
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.
Yernelis.1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Pers, Jakarta.