Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI

UJI KETOKSIKAN AKUT

Dosen Pengampu :
Yane Dila Keswara, M.Sc,. Apt.
Disusun oleh:

Kelompok J-1
Yoga Andoyo Aji
(19133981A)
Hardono
(19133999A)
Dian Christivan
(19134000A)
Adelia Aven
(19134005A)
Elsyadha Wahyu P.Z(19134015A)
Claudhy Fitria
(19133
)

S-1 FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2015

I.

JUDUL
Uji Ketoksikan Akut

II.

TUJUAN
Mampu memahami tujuan, sasaran, tata cara pelaksanaan, luaran, dan manfaat uji
ketoksikan akut suatu obat.

III. DASAR TEORI


Toksikologi adalah pengetahuan tentang efek racun dari
obat terhadap tubuh dan sebenarnya termasuk pula dalam
kelompok
farmakodinamika,
karena
efek
terapeutis
obat
berhubungan erat dengan efek toksisnya. Pada hakikatnya setiap
obat dalam dosis yang cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun
dan merusak organisme (Sola dosis facit venenum: hanya dosis
membuat racun, Paracelsus). Pada umumnya, hebatnya reaksi
toksis berhubungan langsung dengan tingginya dosis: bila dosis
diturunkan, efek toksis dapat dikurangi pula (Tjay & Rahardja,
2002).
Ada beberapa kemungkinan untuk menggolongkan toksikologi.
Antara lain dapat dibedakan atas:
1. Efek toksik akut, yang langsung berhubungan dengan
pengambilan zat toksik
2. Efek toksik kronis, yang pada umumnya zat dalam jumlah
sedikit diterima tubuh dalam jangka waktu yang lama sehingga
akan terakumulasi mencapai konsentrasi toksik dan dengan
demikian menyebabkan terjadinya gejala keracunan (Tjay &
Rahardja, 2002).
Efek teratogen merupakan salah satu bagian dari efek
toksis, yang bekerja dari peredaran darah ibu hamil semua zat gizi
dan zat pertumbuan masuk kedalam sirkulasi janin dengan melintasi
urin. Plasma dapat disamakan dengan rintangan darah-otak dengan
membran semipermeabel pula, maka zat-zat lipofil dapat melaluinya
dengan lancar. Zat-zat hidrofil, bila kadar plasmanya tinggi, akhirnya
akan melintasi plasenta juga. Dalam peredaran janin obat akan
bertahan lebih lama, karena sistem eliminasinya belum berkembang
secukupnya. Obat teratogen adalah obat pada dosis terapeutis
untuk ibu hamil dapat menyebabkan cacat pada janin, seperti
focomelia. Toksoid atau anatoksin adalah suatu toksin yang telah
diubah strukturnya, sehingga tidak terjadi toksik lagi. Sifat
antingennya
tidak
dihilangkan,
yakni
kemampuan
untuk
menstimulasi pembentukan antibodi (Tjay & Rahardja, 2002).

Sebelum percobaan toksikologi dilakukan sebaiknya


telah ada data mengenai identifikasi, sifat obat dan rencana
penggunaannya. Data ini dapat dipakai untuk mengarahkan
percobaan
toksisitas
yang
akan
dilakukan. Hal
ini
memerlukan judgement seorang yang berpengalaman dalam bidang
ini. Respon berbagai hewan coba terhadap uji toksisitas sangat
berbeda, tetapi hewan coba yang lazim digunakan ialah salah satu
strain tikus putih. Kadang-kadang digunakan mencit dan satu dua
spesies yang lebih besar seperti anjing, babi atau kera. Batas dosis
harus dipilih sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh suatu
kurva dosis respons yang dapat berwujud respons bertahap
(misalnya mengukur lamanya waktu tidur) atau suatu respons
kuantal (misalnya mati). Biasanya digunkan 4-6 kelompok terdiri
dari sedikitnya 4 ekor tikus. Cara pemberian obat harus dipilih
sesuai dengan yang digunAkan di klinik. Jadi untuk obat yang akan
dipakai sebagai obat suntik perlu diuji dengan cara parenteral dan
obat yang digunakan sebagai salep terutama harus diuji terhadap
kulit (Katzung, 2001).
Efek samping toksik bergantung kepada dosis dan
sfesifik bagi obat. Sepanjang diberikan dosis yang cukup tinggi, Efek
samping toksis terjadi pada setiap orang karena toleransi
perorangan terhadap suatu obat sangat beragam, selalu terdapat
kemungkinan bahwa akibat dosis yang dapat diterima kebanyakan
pasien, pada beberapa penderita terjadi efek samping. Penyebab
pokok jenis variasi biologi kini mirip dengan perbedaan kerja dalam
percobaan hewan mungkin adalah perbedan perbedaan akibat
konstitusi atau genetic dalam absorpsi, distribusi, biotransformasi
dan /atau eliminasi, yaitu dalam farmakokinetika bahan obat, serta
dalam kerapatan reseptor termasuk ditribusi reseptor. Di samping
perbedaan penerimaan obat terhadap tubuh oleh perorangan, juga
terdapat perbedaan kelompok akibat genetik (Mutschler, 1991).
Toksisitas
akut
merupakan
percobaan
yang
meliputi Single Dose Experiments yang dievaluasi 3-14 hari
sesudahnya tergantung dari gejala yang ditimbulkan. Batas dosis
harus dipilih sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh suatu
kurva dosis respons yang dapat berwujud respons bertahap
(misalnya mengukur lamanya waktu tidur) atau suatu respon
skuantal (misalnya mati). Biasanya digunakan 4-6 kelompok terdiri
dari sedikitnya 4 ekor tikus. Kematian yang timbul oleh kerusakan
pada hati, ginjal atau system hemopoetik tidak akan terjadi pada
hari pertama. Kematian yang ditimbulkan karena kerusakan alat
tersebut, baru timbul paling cepat pada hari ketiga (Ganiswarna,
1995).

Prediksi metabolisme atau toksisitas obat secara in vitro


terhadap manusia selama ini menggunakan sistem in vivo pada
hewan uji, genomik yang tinggi dan metode proteomik, dan barubaru ini dilakukan pendekatan komputasi. Memahami kompleksitas
sistem biologis membutuhkan perspektif yang lebih luas daripada
berfokus hanya pada satu metode dalam isolasi untuk prediksi. Oleh
karena
itu
beberapa
metode
mungkin
diperlukan
dan
dikombinasikan untuk lebih akurat prediksi. Di bidang metabolisme
obat dan toksikologi, kita telah melihat pertumbuhan, dalam
beberapa tahun terakhir, dari struktur-aktivitas hubungan (QSARs),
sebagai serta data empiris dari mikroarray. Dalam studi saat ini
telah dikembangkan lebih lanjut pendekatan komputasi dengan
memprediksi metabolit untuk molekul berdasarkan struktur kimia,
memprediksi aktivitas asli metabolitnya dengan absopsi, distribusi,
metabolisme, excretion, and toxicity models, menggabungkan
sinyal sel manusia dan jalur metabolik dan mengintegrasikan
jaringan-jaringan dan metabolitnya (Ekins et al., 2005).
Tolak ukur kuantitatif yang paling sering digunakan untuk menyatakan kisaran
dosis letal atau toksik, berturut-turut adalah dosis letal tengah (LD 50) atau dosis toksik
tengah (TD50) yaitu suatu besaran yang diturunkan secara statistik, guna menyatakan
dosis tunggal suatu senyawa yang diperkirakan dapat mematikan atau menimbulkan
efek toksik yang berarti pada 50% hewan uji. (Ningsih dan Yane, 2015). Harga LD 50
merupakan tolak ukur toksisitas akut racun. Semakin kecil harga LD 50, racun berarti
semakin besar potensi toksik atau toksisitas akut racun. (Wirasuta dan Rasmaya,
2007)
Pada dasarnya uji ketoksikan akut suatu obat merupakan salah satu mata rantai
uji toksikologi dalam kaitannya dengan penilaian keamanan obat terkait bila
digunakan oleh manusia. Jadi, hasil uji ketoksikan akut, terutama potensi
ketoksikannya (LD50), bersama-sama dengan hasil uji potensi keefektifan (ED 50),
bermanfaat sekali untuk mengevaluasi batas aman dan indeks terapi (LD 50/ED50) obat
terkait. Selain itu, pengetahuan tentang potensi ketoksikan akut juga dapat
dimanfaatkan untuk merancang uji ketoksikan subkronis/kronis, maupun untuk
memperkirakan dosis awal atau dosis terapi penelitian yang lain (5-10% LD 50)
(Ningsih dan Yane, 2015).
KRITERIA
1 Luar biasa toksik
2 Sangat toksik
3 Cukup toksik
4 Sedikit toksik 500 5000
5 Praktis tidak toksik 5000
15000
6 Relatif Kurang berbahaya

LD50 (mg/kg)
1 atau kurang
1 50
50 500

Lebih dari 15000

Tabel 1. Kriteria Ketoksikan akut xenobiotika (Wirasuta dan Rasmaya, 2007)


IV.

V.

ALAT DAN BAHAN


Alat :
1. Spuit
2. Timbangan

Bahan :
1. Mencit 5 ekor
2. Suspensi parasetamol

CARA KERJA
Uji ketoksikan akut parasetamol
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Kelas dibagi menjadi 4-5 kelompok.
3. Masing-masing kelompok mendapatkan 5 ekor.
4. Masing-masing mencit diberi suspensi parasetamol secara per oral dengan
dosis 125 mg/kgBB, 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB, dan 1000 mg/kgBB.
5. Kemudian mengamati gejala-gejala klinis yang timbul.
6. Mencatat jumlah mencit yang mati dalam waktu 24 jam.
7. Menggunakan data seluruh kelompok untuk menghitung harga LD50

VI.

HASIL PERCOBAAN
Daftar mencit mati:
-

Kelompok 1 = no.2 dan no.4


Kelompok 2 = no.3 dan no.4
Kelompok 3 = Kelompok 4 = no.3
Kelompok 5 = no.3 dan no.4
Dosis
125

Jumlah mati (ekor)


-

% mati
5%

Probit (x)
3,36

Log Dosis (y)


2,0969

mg/kgBB
250

1 (satu)

20 %

4,16

2,3979

mg/kgBB
500

3 (tiga)

60 %

5,25

2,6989

mg/kgBB
1000

3 (tiga)

60 %

5,25

mg/kgBB
LD50 = 50 % probit 5 Y
Y=5
A = 0,7439
B = 0,4
r = 0,9484
Y = A + Bx
5 = 0,7439 + 0,4x
x = 5 0,7439 = 10,64

0,4
LD50 = antilog x
= antilog 10,64
= 43652000000 43652 mg 43,652 gram 15 g/kg (relatif tidak
berbahaya)

VII.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami melakukan uji toksisitas akut
pada 5 kelompok mencit yang masing-masing kelompok terdiri dari
4 ekor mencit, diuji ini masing-masing mencit hanya diberi dosis
tunggal/sekali suspensi paracetamol 5% yaitu 125 mg/kgBB, 250
mg/kgBB, 500 mg/kgBB, dan 1000 mg/kgBB secara peroral lalu
diamati perilaku masing-masing mencit dalam waktu 24 jam sambil
mencatat jumlah mencit yang mati. Perlu diketahui uji tosisitas akut
dilakukan untuk menilai derajat efek toksik suatu senyawa yang
terjadi dalam waktu singkat (24 jam) setelah pemberiannya dalam
dosis tunggal/sekali. Setelah masing-masing mencit diberikan dosis
tunggal seketika perilaku beberapa mencit berubah seperti mencit
no. 4 (1000 mg/kgBB) yang langsung terlihat seperti sakit dengan
kedua mata hampir menutup dan kurang bergairah (pasif) dalam
bergerak tetapi masih mau makan dan minum. mencit 3 (500
mg/kgBB), mencit 2 (250 mg/kgBB ), mencit 1 (125 mg/kgBB )
terlihat masih semangat bergerak, mata terbuka penuh, dan masih
mau makan minum. Perilaku mencit-mencit tersebut berlangsung
terus hingga setelah 7 jam pemberian dosis terlihat mencit 4 (1000
mg/kgBB) mengalami kejang-kejang, malas bergerak, tidak mau
makan minum yang diikuti dengan kematian. Sementara mencit 1
(125 mg/kgBB ) dan mencit 3 (500 mg/kgBB) tidak mengalami
perubahan perilaku akan tetapi mencit 2 (250 mg/kgBB ) mulai
malas bergerak (pasif), tidak refleks menerima rangsangan
sentuhan, mata hampir menutup, masih mau makan minum.
Perilaku tersebut berlangsung terus hingga pada 20 jam 30 menit
setelah pemberian dosis terlihat mencit 2 (250 mg/kgBB ) terdiam
tidak mau makan minum mata hampir menutup lalu pada 21 jam
setelah pemberian dosis mencit 2 (250 mg/kgBB ) mengalami
kematian sedangkan mencit 1 (125 mg/kgBB ) dan mencit 3 (500
mg/kgBB) masih bergerak aktif sehat, perilaku ini berlangsung terus
hingga pengamatan selesai 24 jam.
Mencit yang mati berjumlah 2 ekor yaitu mencit 2 (250
mg/kgBB ) dan mencit 4 (1000 mg/kgBB). mencit 1 (125 mg/kgBB )
dan mencit 3 (500 mg/kgBB) yang masih hidup kemudian

dikumpulkan bersama mencit kelompok lain yang masih hidup. Data


mencit kelompok kami yang mati digabungkan dengan data
kelompok lain yang juga mati kemudian melakukan perhitungan,
untuk mencit yang tidak mati pada semua kelompok seperti mencit
1 (125 mg/kgBB ) itu % matinya dibuat 5% lalu mencari nilai probit
dengan melihat pada tabel probit persentase sesuai dengan % mati.
Lalu regresi linear antara probit dengan log dosis, untuk nilai pada
persamaan regresi digunakan angka 5 sesuai dengan harga LD 50
50 %, kemudian setelah mendapat harga LD 50 yaitu antilog x yang
diubah ke satuan gram maka dapat digolongkan potensi ketoksikan
akut senyawa ujinya yaitu relatif tidak berbahaya ( 15 g/kg)
artinya suspensi paracetamol 5% relatif tidak toksik bagi makhluk
hidup terutama manusia.

VIII.

KESIMPULAN
Terdapat perubahan perilaku pada beberapa mencit setelah
pemberian dosis senyawa uji suspensi parasetamol 5% secara
peroral
Data mencit yang mati pada dosis :
- 125 mg/kgBB = tidak ada
- 250 mg/kgBB = 1 ekor
- 500 mg/kgBB = 3 ekor
- 1000 mg/kgBB = 3 ekor
Harga LD50 yaitu 43652 = 43,652 gram 15 g/kg (relatif tidak

IX.

berbahaya)
Potensi ketoksikan akut Senyawa uji suspensi paracetamol 5% relatif
tidak toksik bagi makhluk hidup terutama manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Ekins, S. et al. 2005. Techniques: Application of Systems Biology to Absorption,


Distribution, Metabolism, Excretion, and Toxicity. England: Trends Pharmacol
Science.
Ganiswarna, 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Penerbit EGC Kedokteran.
Katzung, Bertram G. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi ketiga. Jakarta: Salemba
Medika.
Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi. Edisi Kelima.
Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Ningsih, Dwi dan Yane D.K., 2015. Petunjuk Praktikum Toksikologi. Surakarta: Universitas
Setia Budi.

Tjay dan Rahardja, 2002. Obat-obat Penting, Khasiat, Pengunaaan dan Efek Sampingnya.
Edisi V. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.
Wirasuta, I Made A.G. dan Rasmaya N., 2006. Buku Ajar Toksikologi Umum. Bali:
Universitas Udayana.
X.

LAMPIRAN

Tabel Nilai Probit Persentase


%
0

0
-

1
2.6

2
2.9

3
3.1

4
3.2

5
3.3

6
3.4

7
3.5

8
3.5

9
3.6

10

3.7

7
3.7

5
3.8

2
3.8

5
3.9

6
3.9

5
4.0

2
4.0

9
4.0

6
4.1

20

2
4.1

7
4.1

2
4.2

7
4.2

2
4.2

6
4.3

1
4.3

5
4.3

8
4.4

2
4.4

30

6
4.4

9
4.5

3
4.5

6
4.5

9
4.5

3
4.6

6
4.6

9
4.6

2
4.6

5
4.7

40

8
4.7

0
4.7

3
4.8

6
4.8

9
4.8

1
4.8

4
4.9

7
4.9

9
4.9

2
4.9

50

5
5.0

7
5.0

0
5.0

2
5.0

5
5.1

7
5.1

0
5.1

2
5.1

5
5.2

7
5.2

60

0
5.2

3
5.2

5
5.3

8
5.3

0
5.3

3
5.3

5
5.4

8
5.4

0
5.4

3
5.5

70

5
5.5

8
5.5

1
5.5

3
5.6

6
5.6

9
5.6

1
5.7

4
5.7

7
5.7

0
5.8

80

2
5.8

5
5.8

8
5.9

1
5.9

4
5.9

7
6.0

1
6.0

4
6.1

7
6.1

1
6.2

90

4
6.2

8
6.3

2
6.4

5
6.4

9
6.5

4
6.6

8
6.7

3
6.8

8
7.0

3
7.3

99

8
0.0
7.3

4
0.1
7.3

1
0.2
7.4

8
0.3
7.4

5
0.4
7.5

4
0.5
7.5

5
0.6
7.6

8
0.7
7.7

5
0.8
7.8

3
0.9
8.0

Anda mungkin juga menyukai