Anda di halaman 1dari 35

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Judul ....
Kata Pengantar.....
Daftar Isi..
Bab I Pendahuluan...........................................................
1.1 Latar belakang.........................................................
1.2 Rumusan Masalah...................................................
1.3 Tujuan Penulisan....................................................
1.4 Metode Penulisan....................................................
Bab II Pembahasan..........................................................
2.1 Filosofi Arsitektur Tradisional Bali.......................
2.1.1 Filosofi Manik Ring Cecupu........................
2.1.2 Filosofi Tri Hita Karana................................
2.1.3 Filosofi Bahan Bangunan.............................
2.2 Bentuk bangunan Rumah Tradisional Bali...............
2.2.1 Geria.............................................................
2.2.2 Puri................................................................
2.2.3 Jero................................................................
2.2.4 Umah.............................................................
2.2.5 Ragam Hias...................................................
2.3 Sejarah Lombok........................................................
2.4 Bentuk bangunan Rumah tradisional Lombok.........
Bab III Penutup...............................................................
3.1 Kesimpulan...............................................................
Daftar Pustaka

iii

i
ii
iii
1
1
2
2
2
3
3
3
4
5
6
6
6
8
8
19
26
26
32
33

nusantaraknowledge.blogspot.com

DAFTAR ISI

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Arsitektur Nusantara adalah ilmu yang mempelajari tentang arsitektur

pembahasannya pada Bangunan Tradisional Bali Dan Bangunan Tradisional Lombok.


Bangunan Tradisional Bali

dapat dipandang sebagai Arsitektur yang

dilimpahturunkan dari generasi ke generasi, serta tetap dipakai dan diterima


masyarakatnya karena masih dianggap baik dan benar.Arsitektur Tradisional Bali
telah mengakar dalam masyarakat , dijiwai oleh Agama Hindu , merupakan salah satu
puncak kebudayaan Bali yang dapat memberikan identitas dan citra Bali yang cukup
kuat.Arsitektur Bali adalah arsitektur yang eksis dan berkembang di Bali terdiri atas
arsitektur kuno/ warisan, arsitektur tradisional dan arsitektur yang berkembang di Bali
yang tetap memiliki identitas dan gaya Arsitektur Tradisional Bali.
Selain itu hal yang sama terjadi di daerah Lombok, arsitektur Lombok
merupakan salah satu warisan budaya yang harus tetap dipertahankan karena
merupakan kekeyaan dari Budaya Lombok itu sendiri.
Oleh kerena itu, perlu adanya suatu pembinaan terhadap bentuk-bentuk
pengembangan Arsitektur Nusantara dalam hubungannya dengan peningkatan
apresiasi budaya, nilai-nilai tradisional dan keserasian lingkungan buatan. Dengan
demikian untuk mengimbangi pengaruh-pengaruh dari luar yang dapat merombak
serta menghancurkan nilai-nilai budaya tradisional diperlukan suatu penerapan
terhadap nilai-nilai hakiki yang terkandung dalam bentuk-bentuk perwujudan
Arsitektur Tradisiona di Bali dan Lombok.

nusantaraknowledge.blogspot.com

bangunan tradisional dari seluruh Indonesia. Namun pada paper ini mengkhususkan

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

1.2 Rumusan Masalah


Sesuai dengan latar belakang yang dijelaskan diatas, maka adapun rumusan
masalah yang akan dibahas pada pembahasan ini antara lain :
1.

Apa saja filosofi Arsitektur Tradisional Bali?

2.

Bagaimana bentuk dari Bangunan Tradisional Bali?

3.

Bagaimana bentuk rumah Tradisional Lombok?

Adapun tujuan dari penulisan paper ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Untuk

mengetahui apa saja yang mendasari atau menjadi filososfi dari

Arsitektur Tradisional Bali


2. Untuk mengetahui bentuk dari Bangunan Tradisional Bali
3. Untuk mengetahui bentuk dan pembagian ruang dalam Rumah Tradisional
Lombok.

1.4 Metode Penulisan


Adapun metode penulisan yang digunakan dalam penulisan paper ini adalah
dengan dua metode antara lain :
1. Metode Observasi
Dalam metode ini kami langsung melakukkan penelitian ke lapangan
untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dalam
penyusunan paper ini
2. Metode Kepustakaan
Dalam metode ini kami menggunakan tinjauan kepustakaan untuk
menyusun paper ini. Dengan menelaah beberapa pengertian pengertian
untuk menjelaskan isi pokok permasalahan pada bab selanjutnya serta
jelajah internet.

nusantaraknowledge.blogspot.com

1.3 Tujuan Penulisan

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Filosofi Arsitektur Tradisional Bali


Dalam Arsitektur Tradisional Bali ada beberapa filosofi yang dapat dipakai

Filosofi Manik Ring Cecupu

Filosofi Tri Hita Karana

Filosofi Bahan Bahan Bangunan

2.1.1 Filosofi Manik Ring Cecupu


a. Alam sebagi lingkungan hidup
Keharmonisan hubungan alam semesta dengan manusia sebagai penghuni
diibaratkan sebagai hubungan antara janin dengan rahim atau antara manik dengan
cecupu., dimana rahim memberikan ruang, makanan, kesempatan untuk hidup namun
dalam keadaan terbatas karena pada waktunya janin akan meninggalkan rahim. Demikian
juga manusia menempati alam sebagai tempat tinggal.

b. Alam sebagai sumberdaya kehidupan dan penghidupan


semua hal, baik itu makan, minuman, udara dan semua yang kita butuhkan untuk
bertahan hidup sudah tersedi di alam. Jadi kita tidak dapat lepas dan selalu tergantung
akan potensi yang ada di alam ini untuk dapat bertahan hidup.

c. Alam sebagai tujuan hidup


manusia yang sudah meninggal juga dikatakan kembali keasalnya. Alam
merupakan sumber keberadaan manusia baik dilihat dari segi fisik (stula sarira), zat
penghidup (atma), dan energi (prana). Tujuan akhirat manusia adalah untuk kembali
menyatu dengan unsur-unsur alam yaitu, fisik manusia yang terdiri atas unsure-unsur
panca maha buta kembali ke unsure panca maha buta alam semesta, atma kenbali

nusantaraknowledge.blogspot.com

sebagai acuan antara lain :

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

menyatu dengan tuhan selku parama atma, dan prana manusia kembali menyatu dengan
prana alam semesta.
Demikian besar makna alam semesta bagi manusia, maka dalam membangun
lingkungan hidup buatan atau dalam membangun arsitektur untuk wadah kehidupannya
berkehendak untuk meniru atau meminiaturkan alam semesta. Namun yang menjadi
pertanyaan adalah bagaimana manusia yang serba terbatas dapat meniru alam semesta
yang tidak terbatas dan tidak terukur tersebut agar dapat meminiaturkan alam semesta

dan alam semesta memiliki susunan unsur yang sama yaitu unsur-unsur jiwa tenaga dan
fisik namun skalanya jauh berbeda. Susunan bagian-bagian fisik manusia dibagi atas 3
bagian yaitu bagian badan, kaki dan kepala (Tri Angga), sepadan dengan unsur fisik alam
semesta yang terdiri atas Bhur Loka, Bwah Loka dan Swah Loka (Tri Loka) yang
masing-masing memiliki nilai nista madya dan utama. Unsur-unsur pembentuk fisik
manusia sama dengan unsure-unsur pembangun alam semesta yang terdiri atas unsureunsur Panca Maha Bhuta yaitu Apah, Pertiwi, Teja, Bayu dan Akasa (zat cair, zat padat,
udara, sinar, dan ether)
Menyadari dan meyakini adanya kesepadanan ini maka untuk meniru alam
semesta dalam pembangunan arsitektur sebagai lingkungan hidup buatan, sama dengan
meniru manusia itu sendiri. Arsitektur sebagai wadah kehidupan manusia adalah
pancaran dari diri manusia atau miniature alam semesta. Dengan demikian arsitektur
dalam segala aspekny berada dalam dua kutub yaitu kutub manusia dan kutub alam
semesta. Menurut aspek fisik menjadi tidak sulit namun menerapkan unsur jiwa, tenaga
(energi) dalam arsitektur memerlukan pendekatan khusus terkait dengan proses
pembangunan tradisional bali.

nusantaraknowledge.blogspot.com

maka dilakukan pendekatan kesempadanan antara manusia dan alam semesta, manusia

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

2.1.2 Filosofi Tri Hita Karana


Istilah Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada
keharmonisan hubungan antara :
-

manusia dengan Tuhannya

manusia dengan alam lingkungan

manusia dengan sesamanya

Sanghyang Jagatkarana (Tuhan)

Bhuana (alam semesta)

Manusia

nusantaraknowledge.blogspot.com

Unsur-unsur Tri Hita Karana dalam totalitas alam semesta terdiri dari :

Unsur-unsur Tri Hita Karana dalam satuan lingkungan di Bali :


-

Parhyangan

Palemahan

Pawongan

Unsur-unsur Tri Hita Karana dalam diri manusia terdiri atas :


-

Atma

Stula sarira

Prana

2.1.3 Filosofi Bahan Bangunan


Bahan utama bangunan tradisional Bali adalah kayu untuk struktur utama
bangunan sangat diperhitungkan dalam pembangunannya. Secara etimologis, kata ka
berarti budi. Dengan kata lain diartikan bahwa budilah yang menentukan. Penggunaan
kayu disesuaikan dengan peruntukkan. Untuk bangunan suci atau parhyangan yang
memiliki fungsi tertinggi menggunakan kayu cendana, menengen, cempaka, majagau,
dan suren. Untuk fungsi perumahan terdiri atas kayu nangka, jati, sentul, teep,sukun, dan
timbul. Sedangkan untuk dapur dan lumbung menggunakan kayu wangkal, kutat, blalu,
bentenu, dan andep

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

2.2 Bentuk bangunan Rumah Tradisional Bali


2.2.1 Geria
Rumah tempat tinggal untuk kasta Brahmana disebut Geria yang umumnya
menempati bagian utama dari suatu pola longkungan. Sesuai dengan peranan Brahmana
selaku pengemban bidang spiritual, maka bentuk dan pola ruang Geria sebagai rumah

nusantaraknowledge.blogspot.com

tempat tinggal Brahmana disesuaikan dengan keperluan-keperluan aktivitasnya.

Griya Batan Poh, Buduk

2.2.2 Puri
Rumah tempat tinggal untuk kasta Ksatria yang memegang pemerintahan disebut
Puri yang umumnya menempati bagian kaja-kangin di sudut perempatan agung di
pusat desa. Penghuni Puri berperan sebagai pelaksana pemerintahan dan Puri merupakan
pusat pemerintahan. Umumya Puri dibangun dengan tata zoning yang berpola Sanga
Mandala semacam widegrid/papan catur berpetak sembilan. Adapun fungsi masingmasing bagian antara lain untuk:
Ancak saji, halaman pertama untuk mempersiapkan diri masuk ke
puri, dibagian kelod-kauh.

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Semanggen,

bagian

kelod

untuk

area

upacara

pitra

yadnya/kematian.
Rangki, bagian kauh untuk area tamu-tamu paseban/persiapan
sidang, pemeriksaan dan pengamanan.
Pewaregan, bagian kelod-kangin untuk area dapur dan perbekalan.
Lumbung, bagian kaja-kauh untuk area penyimpanan dan
pengolahan bahan perbekalan/padi dan prosesnya.
Saren kangin, zoning kangin disebut juga saren agung untuk
tempat tinggal raja.
Paseban, bagian tengah untuk area pertemuan atau sidang kerajaan.
Pemerajan agung, bagian kaja-kangin untuk area tempat suci
parhyangan.

Denah Puri
7

nusantaraknowledge.blogspot.com

Saren kaja, zoning kaja untuk tempat tinggal istri-istri raja.

Kori Agung di Puri Ubud

2.2.3 Jero
Rumah tinggal untuk kasta Ksatria yang tidak memegang pemerintahan secara
langsung. Pola ruang dan tata zoning, juga bangunan-bangunannya umumnya lebih
sederhana dari Puri. Sesuai fungsinya, pola ruang Jero dirancang dengan Tri Angga :
Pemerajan sebagai parhyangan, Jeroan sebagai area rumah tempat tinggal dan jabaan
sebagai pelayanan umum atau halaman depan. Sebagaimana Puri, Jero menempati zoning
utama kaja, kangin atau kaja-kangin yang umumnya di pusat desa.

2.2.4 Umah
Umah diperuntukkan bagi golongan Waisya dan Sudra. Dalam satu areal umah
tradisional Bali terdiri atas beberapa masa bangunan antara lain :

1. Natah (Halaman)
Biasanya diperuntukkan sebagai tempat melakukan kegiatan-kegiatan
yadnya yang sering melibatkan orang banyak. Seperti upacara yadnya yang
mengundang orang banyak

nusantaraknowledge.blogspot.com

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

2. Merajan
Merajan

diperuntukkan

sebagai

tempat

melakukan

kegiatan

persembahyangan untuk mempererat hubungan manusia dengan Tuhan.


Merajan biasanya terdiri dari sanggah taksu, sanggah kemulan, penglurah, dan

nusantaraknowledge.blogspot.com

bale piasan

Sanggah Kemulan

nusantaraknowledge.blogspot.com

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Taksu

Tugu Penglura

10

Bale Piasan
3. Bale Daja/Meten
Adalah nama yang didasarkan atas letaknya yang ada di badaja (utara)
atau di arah gunung. Nama laina adalah meten atau bale pesarean. Fungsi
utama adalah untuk tidur dan fungsi tambahannnya adalah menyimpan benda
berharga.. Variasi bentuk bangunan Bale Daja ini dapat diklasifikasikan
berdasarkan jumlah tiang sebagai stuktur utama :
1. Meten Sekutus ( Tiang pokok 8 = kutus)
2. Meten Sekutus Bandung (tiang pokok 8 + 4 tiang serambi / amben)
3. Bale Gede / Meten Bandung ( tiang pokok 12 )
4. Meten Gunung Rata ( lantai di kamar lebih tinggi dari di serambi,
tiang pokok 12 +4-12 tiang serambi)
Meten sekutus menggunakan atau pelana ( trojan ), sedangkan Meten
Bandung menggunakan atap limasan. Seluruh Meten pasti memiliki ruang
yang dikelilingi dinding dengan rapat dengan bukaan yang sangat minim.

11

nusantaraknowledge.blogspot.com

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

nusantaraknowledge.blogspot.com

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Bale Daja Sekutus

Meten Sekutus Bandung (tiang pokok 8 + 4 tiang serambi / amben)

12

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

4. Bale Dangin
bale dangin letaknya di sisi sebelah timur pada pekarangan sebuah rumah.
Bale dangin yang terbuka biasanya difungsikan sebagai tempat persiapan
upacara dewa yadnya dan bila tertutup sebagian bisa difungsikan sebagai
tempat menyimpan benda pusaka atau untuk tempat tidur. Jumlah tiang
pokok biasanya berjumlah 6 dan tidak jarang pula ada yang bersaka 8,9

nusantaraknowledge.blogspot.com

hingga 12.

Bale Dangin

13

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

5. Bale Dauh
Bale dauh terletak disisi barat pekarangan umumnya dibiarkan terbuka
namun ada pula yang menutup sebagian untuk tambahan ruang tidur.
Sesuai dengan jumlah tiang dan variasinya Bale Dauh diberi nama:
1. Bale SakaNem
2. Bale Tiang sanga, bertiang 9 dan bila terdapat hiasan singa sebagai
sendi tugeh disebut bale singasari

nusantaraknowledge.blogspot.com

3. adapula bale dauh yang bertiang sampai 12

Bale Dauh

6. Bale Delod
Disebut Bale Delod karena letaknya disisi selatan (kelod) berdasarkan
jumlah tiang dan juga penataan ruang dalamnya bale delod ini diberi nama :

14

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

1. Bale Saka Nem/Bale Mundak dengan tiang pokok 6 batang


2. Bale Sekutus (Asta Pada) bertiang delapan
3. Bale Gede bertiang 12
7. Paon
Paon berarti perabuhan atau dapur atau pewaregan yang berarti tempat
untuk mengenyangkan perut. Dapur biasanya bertiang pokok 4 namun ada
juga yang bertiang 6. dinding dapur umumnya dibangun ditiga sisi yaitu

8. Jineng
Jineng pada rumah tradisional Bali yang merupakan stana Dewi Sri yang
digunakan sebagi tempat menyimpan hasil pertanian berupa padi, yang
diletakkan bersebelahan dengan dapur yang pada umumnya berada pada
bagian depan areal umah.

15

nusantaraknowledge.blogspot.com

diselatan timur dan barat.

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

9. Angkul-angkul
Angkul-angkul merupakan pintu masuk paling sederhana yang digunakan

nusantaraknowledge.blogspot.com

pada rumah tradidional Bali.

16

nusantaraknowledge.blogspot.com

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

17

nusantaraknowledge.blogspot.com

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

18

Perspektif Umah

2.5 Ragam Hias


Arsitektur tradisional Bali merupakan perwujudan keindahan manusia dan
alamnya yang mengeras ke dalam bentuk-bentuk bangunan dengan ragam hias
yang digunakan. Benda-benda alam yang diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk
ragam hias, tumbuh-tumbuhan, bintang unsur alam, nilai-nilai agama dan
kepercayaan disarikan ke dalam suatu perwujudan keindahan yang harmonis.
Ciri-ciri hakiki dari benda-benda alam yang dijadikan bentuk-bentuk
hiasan masih menampakan identitas walaupun diolah dalam usaha penonjolan
nilai-nilai keindahannya.

19

nusantaraknowledge.blogspot.com

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Estetika, etika dan logika merupakan dasar-dasar pertimbangan dalam


mencari,

mengolah dan menempatkan ragam hias yang mengambil tiga

kehidupan di bumi, manusia, binatang (fauna) dan tumbuhan (flora).

Berbagai macam flora yang ditampilkan sebagai hiasan dalam bentuk


simbolis atau pendekatan bentuk-bentuk tumbuh-tumbuhan dipolakan dalam
bentuk-bentuk pepatran dengan macam-macam ungkapan masing-masing.
Ragam hias yang dikenakan pada bagian-bagian bangunan atau peralatan
dan perlengkapan bangunan dari jenis-jenis flora dinamakan sesuai jenis dan
keadaannya.

20

nusantaraknowledge.blogspot.com

2.5.1. Flora

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

a. Keketusan
Mengambil sebagian terpenting dari suatu tumbuh-tumbuhan yang
dipolakan berulang dengan pengolahan untuk memperindah penonjolannya.
Keketusan Wangga melukiskan bunga-bunga besar yang mekar dari jenis
berdaun lebar dengan lengkung-lengkung keindahan. Keketusan Bunga tuwung,
hiasan berpola bunga terung dipolakan dalam bentuk liku-liku segi banyak
berulang atau bertumpuk menyerupai bentuk bunga terung. Keketusan Bun-

jajar-jajar jalaran dan sulur-aulur di sela-sela bunga-bunga dan dedaunan.


b. Kekarangan
Menampilkan suatu bentuk hiasan dengan karangan atau rancangan yang
berusaha mendekati bentuk-bentuk flora yang ada dengan penekanan pada
keindahan.
Karang simbar, dipakai untuk hiasan-hiasan sudut bebaturan di bagian
atas pada pasangan batu atau tatahan kertas pada bangunan Bade Wadah, Bukur
atau hiasan-hiasan sementara lainnya.
Karang Bunga, digunakan untuk hiasan sudut-sudut bebaturan atau hiasan
pononjolan bidang-bidang.
Karang Suring, difungsikan untuk sendi alas tiang tugeh yang dalam
bentuk lain dipakai singa bersayap atau garuda.
c. Pepatran
Mewujudkan gubahan-gubahan keindahan hiasan dalam patern-patern
yang disebut Patra atau Pepatran. Ragam hias yang tergolong pepatran
merupakan pola yang berulang yang dapat pula diwujudkan dalam pola
berkembang.
Patra Wangga, kembang mekar atau kuncup dengan daun lebar divariasi
lengkung-lengkung keserasian yang harmonis.
Patra Sari, bentuknya menyerupai flora dari jenis berbatang jalar
melingkar-lingkar timbal balik berulang.
Patra Bun-bunan, dapat divariasikan dalam berbagai jenis flora yang
tergolong bun-bunan (tumbuh-tumbuhan berbatang jalar).

21

nusantaraknowledge.blogspot.com

bunan, hiasan berpola tumbuh-tumbuhan jalar atau jalar bersulur, memperlihatkan

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Patra Pidpid, melukiskan flora dari jenis daun bertulang tengah dengan
daun-daun simetris yang dapat bervariasi sesuai dengan jenis daun yang

Patra Punggel, mengambil bentuk dasar liking paku, bagian-bagiannya


ada yang disebut batun poh, kuping guling, util sebagai identitas Patra Punggel.

Patra Samblung, pohon jalar dengan daun-daun lebar dipolakan dalam


bentuk patern yang disebut Patra Samblung.

Patra Sae, mengambil bentuk sejenis kapu-kapu yang dipolakan berulang


dalam dereta memanjang.
Patra Ganggong, menyerupai bentuk ganggang air yang dipolakan dalam
bentuk berulang berjajar memanjang.
Patra Batun Timun, bentuk dasar serupa biji mentimun yang dipolakan
dalam susunan diagonal berulang.

22

nusantaraknowledge.blogspot.com

dilukiskan penempatannya pada bidang-bidang sempit.

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Patra Sulur, melukiskan pohon jalar jenis beruas-ruas dengan daun-daun

2.5.2. Fauna
Dijadikan materi

hiasan dalam bentuk-bentuk ukiran, pepulasan atau

tatahan. Sebagai materi hiasan, fauna dipahat dalam bentuk-bentuk kekarangan


yang merupakan pola tetap, relief yang bervariasi dari berbagai macam binatang
dan patung dari beberapa macam binatang.
Fauna sebagai patung hiasan pada bangunan umumnya mengambil dari
cerita Ramayana, fauna sebagai hiasan dan juga berfungsi sebagai simbol-simbol
ritual ditampilkan dalam bentuk-bentuk patung yang disebut Pratima, patung
sebagai bagian dari bangunan berbentuk Bedawang Nala.
Bentuk-bentuk penampilan berupa patung, kekarangan atau relief-relief
yang dilengkapi pepatran dari berbagai jenis flora.
a. Kekarangan
Penampilan ekspresionis, meninggalkan bentuk sebenarnya dari fauna
yang diekspresikan secara abstrak.
Karang Boma, berbentuk kepala raksasa yang dilukiskan dari leher keatas
lengkap dengan hiasan dan mahkota.ditempatkan sebagai hiasan di atas lubang
pintu dari kori agung.

23

nusantaraknowledge.blogspot.com

sulur bercabang-cabang tersusun berulang.

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

runcing. Karang sae ditempatkan di atas pintu kori atau pintu rumah tinggal.

Karang Asti, bentuknya mengambil bentuk gajah yang diabstrakkan sesuai


dengan seni hias yang diekspresikan dengan bentuk kekarangan, biasanya
ditempatkan sebagai hiasan pada sudut-sudut bebaturan di bagian bawah.

24

nusantaraknowledge.blogspot.com

Karang Sae, berbentuk kelelawar raksasa seakan bertanduk dengan gigi

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Karang Goak, bentuknya menyerupai kepala burung gagak atau goak.


Karang manuk yang disebut juga karang goak ditempatkan pada sudut-sudut

b. Patung
Untuk patung-patung hiasan permanen umumnya mengambil bentukbentuk dewa-dewa dalam imajinasi manifestasinya, manusia dari dunia
pewayangan, raksasa dalam ekspresi wajah dan sifatnya dan binatang dalam
berbagai bentuk. Patung-patung dari jenis-jenis fauna yang dijadikan sebagai
hiasan atau sebagai elemen bangunan umumnya merupakan patung-patung
ekspresionis yang dilengkapi dengan elemen-elemen hiasan dari jenis-jenis
pepatran.
Patung Garuda, perwujudannya merupakan garuda dengan sikap tegak
siap terbang, sayap dan ekor mengepak melebar. Penempatannya pada bangunan
sebagi sendi alas tiang tugeh yang menyangga konstruksi puncak atap.
Patung Singa, wujudnya singa bersayap yang disebut juga Singa Ambara
Raja. Patung singa difungsikan juga untuk sendi alas tugeh seperti patung garuda,
digunakan pula untuk sendi alas tiang pada tiang-tiang struktur atau tiang-tiang
jajar dengan bahan dari batu padas keras, atau batu karang laut yang putih masif
dan keras.
Patung Naga, perwujudan ular naga dengan mahkota kebesaran hiasan
gelung kepala, bebadong leher, anting-anting telinga, rambut terurai, rahang
terbuka, taring gigi runcing, lidah api bercabang. Patung naga sebagai penghias
bangunan ditempatkan sebagai pengapit tangga menghadap ke depan, lekuk-lekuk
ekor mengikuti tingkat-tingkat tangga ke arah atas.

25

nusantaraknowledge.blogspot.com

bebaturan di bagian atas.

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Mataram, salah satu kota besar di


Indonesia , terletak di pantai barat pulau Lombok, di Kepulauan Melayu. Nusatenggara
Barat. Mataram adalah ibukota Lombok utama, meliputi kota pelabuhan Ampenan , kota
Mataram Dan Cakranegara, dan penyelesaian Sweta. Cakranegara adalah Pusat komersil
Mataram sedangkan Ampenan adalah lokasi Universitas Mataram

(yang ditemukan

1962) dan sebagai pusat administrasi pemerintah, Mataram mempunyai banyak gedung
pemerintah besar dan mengesankan serta rumah substansiil. Mataram juga menjadi pusat
transportasi dan perbelanjaan fasilitas yang utama digunakan untuk pameran seni, teater,
tarian, dan wayang kulit ( teater boneka). Di sisi lain Mataram, ada berbagai old-style
pasar dan lingkungan meliputi craftwork tradisional seperti basketware dan emas dan
sarong silver-threaded, atau pakaian pakaian yang dililitkan. Pelabuhan Ampenan
merupakan pelabuhan utama Lombok, tetapi sekarang dijadikan persinggahan kapal
nelayan dan barang ekspor lembu ke Pulau Jawa. Cakranegara mempunyai populasi
orang Cina dan orang Bali. Orang Cina dibawa oleh orang Belanda untuk dijadikan
tenaga kerja.

2.7 Rumah Tradisional Lombok


Penduduk asli Lombok adalah suku sasak. Mereka menganut agama Islam dengan
dua aliran yaitu Islam Tiga (Pengaruh Bali) dan Islam Lima (Jawa, Makasar dan
Sumbawa). Pada masa kekuasaan raja Karangasem-Bali di Lombok banyak peninggalan
asrsitektur dengan corak Bali. Arsitektur Bali di Lombok diumpamakan sebagai

26

nusantaraknowledge.blogspot.com

2.6 Sejarah Lombok

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

arsitektur untuk orang atasan (elit). Rumah sebagai media variasi bentuk corak bali
dengan Lombok memang tidak jauh berbeda baik dari segi pemakaian ornamen dan
bahan.
Peralatan yang harus dipersiapkan untuk membangun rumah, diantaranya adalah:
- Kayu-kayu penyangga.
- Bambu.
- Bedek, anyaman dari bambu untuk dinding.

- Kotaran kerbau atau kuda, sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.
- Getah pohon kayu banten dan bajur.
- Abu jerami, digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.
Bagian rumah terdiri atas atap yang umumnya berbentuk gunungan, menukik ke
bawah jarak 1,5-2 meter dari permukaan tanah (fondasi). Bangunan yang ada meliputi
bale (rumah), berugak (bale-bale bertiang empat disebut sekepat atau bertiang enam atau
sekenem), lumbung dan kandang (bare) ternak. Bangunan-bangunan itu mengikuti kontur
tanah, khusus bangunan rumah seluas 7 x 6 meter (dihitung dari luar) dan 6 x 5 meter
(dihitung dari dalam) per unit.
Atap dan bubungan (bungus)-nya adalah alang-alang yang umumnya menghadap
Gunung Rinjani dan berdinding anyaman bambu (kampu). Ruangannya (rong) dibagi
menjadi inan bale (ruang induk meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa
tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya
jenazah bila ada penghuninya sebelum dimakamkan. Konstruksi rumah tradisional Sasak
agaknya terkait pula dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi
adalah simbol daur hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati, simbol keluarga batih
(ayah, ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Quran, Hadis,
Ijma, Qiyas).
Selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan
kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya
alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah.

27

nusantaraknowledge.blogspot.com

- Jerami dan alang-alang, digunakan untuk membuat atap.

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah
lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar,
kemudian diolesi dengan kotoran sapi di bagian permukaan lantai.
Ruangan bale dalem dilengkapi amben dan dapur, sempare (tempat menyimpan
makanan, peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi
atau bisa empat persegi panjang. Kemudian ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk

(tiga anak tangga) tanpa jendela. Lantai rumah umumnya tanah yang dicampur dengan
kotoran kuda, getah, dan abu jerami.
Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap
rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu,
juga menjadi alat kontrol bagi warga.
Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri
diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri, tinggi
penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan lebar pintu
rumah seukuran tubuh istri. Membangun dan merehabilitasi rumah dilakukan secara
gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan, disediakan tuan rumah.
Rumah mempunyai fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Sasak, oleh
karena itu perlu perhitungan yang cermat tentang waktu, hari, tanggal dan bulan yang
baik untuk memulai pembangunannya. Untuk mencari waktu yang tepat,

mereka

berpedoman pada papan warige yang berasal dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq.
Oleh karena tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk menentukan hari baik,
biasanya orang yang hendak membangun rumah bertanya kepada pemimpin adat. Bentuk
rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang Asem (abad
17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali. Misalnya, ruang
tamunya terbuka tanpa dinding, tiang penyangga bangunan bagian atas diberi ukiran.
Orang Sasak di Lombok meyakini bahwa waktu yang baik untuk memulai
membangun rumah adalah pada bulan ketiga dan bulan kedua belas penanggalan Sasak,

28

nusantaraknowledge.blogspot.com

dengan sistem sorong (geser). Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

yaitu bulan Rabiul Awal dan bulan Zulhijjah pada kalender Islam. Ada juga yang
menentukan hari baik berdasarkan nama orang yang akan membangun rumah. Sedangkan
bulan yang paling dihindari (pantangan) untuk membangun rumah adalah pada bulan
Muharram dan bulan Ramadlan. Pada kedua bulan ini, menurut kepercayaan masyarakat
setempat, rumah yang dibangun cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit,
kebakaran, sulit rizqi, dan sebagainya.

selektif dalam menentukan lokasi tempat pendirian rumah. Mereka meyakini bahwa
lokasi yang tidak tepat dapat berakibat kurang baik kepada yang menempatinya.
Misalnya, mereka tidak akan membangun tumah di atas bekas perapian, bekas tempat
pembuangan sampah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau susur gubug.
Selain itu, orang Sasak tidak akan membangun rumah berlawanan arah dan ukurannya
berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka, melanggar konsep
tersebut merupakan perbuatan melawan tabu.
Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi rumahnya. Rumah
orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak sulung dan anak bungsu berada di
tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan
berperilaku hendaknya menjadi panutan sang adik.
Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih
dulu menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara
fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah,
manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui shalat, dan hal itu sudah
diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau berlawanan dengan arah
matahari terbenam (barat/kiblat). Tamu pun harus merunduk bila memasuki pintu rumah
yang relatif pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung
mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang
tamu.

29

nusantaraknowledge.blogspot.com

Selain persoalan waktu baik untuk memulai pembangunan, orang Sasak juga

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak
boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu
tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu tidak boleh
dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak, umpamanya guna
mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang merusak tanaman

nusantaraknowledge.blogspot.com

atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu anggota keluarga meninggal.

30

nusantaraknowledge.blogspot.com

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

31

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Arsitektur tradisional adalah perwujudan ruang untuk menampung

ke generasi berikutnya dengan sedikit atau tanpa perubahan, yang dilatarbelakangi oleh
norma-norma agama dan dilandasi oleh adat kebiasaan setempat dijiwai kondisi dan
potensi alam lingkungannya. Begitu pula yang terjadi pada arsitektur Bali dan Lombok,
arsitekturnya bersumber dari budaya masyarakat setempat.
Meskipun Bali dengan Lombok terpisah, dari segi Arsitektur masih
terdapat kaitan antara yang satu dengan yang lain, karena sebagian penduduk daerah
Lombok juga menganut agama Hindu. Banyak kebudayaan dan adat istiadat Bali dan
Lombok yang sama. Hal ini tercermin dari bentuk-bentuk bangunan yang hampir
menyerupai bangunan tradisional di Bali yang menggunakan orientasi gunung. Begitu
juga pola perkampungannya memiliki pola yang sama antara yang ada di Bali dengan
yang ada di lombok. Akan tetapi terdapat sedikit perbedaan antara arsitektur Bali dengan
Lombok, yaitu dari segi bahan sebagai penutup atap dimana pada arsitektur Bali
menggunakan bahan yang alami seperti ijuk, alang-alang, sedangkan di Lombok
mayoritas menggunakan atap seng.

32

nusantaraknowledge.blogspot.com

perwujudan aktivitas kehidupan manusia dengan pengulangan dari bentuk dari generasi

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

Daftar Pustaka
Gelebet, I Nyoman. 1982. Arsitektur Tradisional Bali. Denpasar. Depdikbud
Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Sularto, Robbi. 1976. Linuh Bali. Denpasar. Pusat Informasi Teknik
Pembangunan (BIC) Bali. Dit. Jen. Ciptakarya, Dept. P.U.
Sumintardja, Djauhari. 1978. Kompedium Sejarah Arsitektur. Bandung.
Microsoft Encarta 2006

nusantaraknowledge.blogspot.com

Jelajah internet, www.google.com

33

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI & LOMBOK

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang
Hyang Widhi Wasa karena berkat rahmat-Nyalah kami diberikan kesehatan untuk
dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik dan tepat waktu.

penyusunan tugas ini yaitu Arsitektur Tradisional Bali dan Lombok.


Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
proses penyelesaian tugas ini baik secara moral maupun material. Dengan
keterbatasan waktu dan kemampuan maka kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan yang terdapat pada tugas ini, untuk itu kritik dan saran yang membangun
sangat kami harapkan untuk menyempurnakan tugas ini. Tidak lupa kami mohon
maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan bagi pembaca.
Demikianlah tugas kami ini, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun serta
bagi para pembaca.

Denpasar, Oktober 2008

Penyusun

ii

nusantaraknowledge.blogspot.com

Tugas dari Mata Kuliah Arsitektur Nusantara dengan judul yang dipilih pada