Anda di halaman 1dari 22

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD

KUDUS

LAPORAN KASUS
UVEITIS OS
DISUSUN OLEH: NATASHA ALEXANDRA
(406138084)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


TARUMANAGARA JAKARTA
2014

I.

Status penderita
Identitas pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Pendidikan terakhir
Pekerjaan
Alamat
Nomor CM
Tanggal pemeriksaan

II.

: Ny. I
: 41 tahun
: Perempuan
: Islam
: Sarjana S1
: Guru SMA Swasta
: Mejobo, Kudus
: 214868
: 10 Juli 2014

Anamnesis
Autoanamnesis dan alloanamnesis pada tanggal 10 Juli 2014 di poli mata RSUD Kudus.
Keluhan Utama:
Pasien mengeluhkan mata kiri semakin tidak jelas untuk membaca, silau dan terasa perih
sejak 1 minggu yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengeluhkan mata kiri semakin tidak jelas untuk membaca, silau dan terasa perih
sejak 1 minggu yang lalu.
Pasien belum memakai obat untuk mengurangi keluhan. Pasien tidak merokok, obatobatan, dan minum alkohol.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Belum pernah sakit serupa sebelumnya
Riwayat Hipertensi (-)
Riwayat DM (-)
Riwayat alergi (+) terhadap penicilin
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit serupa
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat diabetes melitus (-)
Riwayat alergi (-)
Riwayat Sosial Ekonomi
Ekonomi yang terkesan cukup.

III.

Pemeriksaan fisik
Status Generalis
Vital sign
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernafasan

: 110/80 mmHg
: 73x/menit
: 37OC
: 20x/menit
2

Keadaan Umum
Kesadaran
Status Gizi

: baik
: compos mentis
: cukup

Status Ophtalmologi
OD

OS

Keterangan :
OD: dbn
OS: keratic precipitate pada kornea, injeksi siliar
OCULI DEXTRA(OD)
6/6
S: +0,75
C: -0,50
A: 177
6/6
Gerak bola mata
enoftalmus (-)
eksoftalmus (-)
strabismus (-)
Edema (-)
hiperemis(-)
nyeri tekan (-)
blefarospasme(-)
lagoftalmus (-)
ektropion (-)
entropion (-)
Edema (-)
injeksi konjungtiva (-)
injeksi siliar (-)
infiltrat (-)
hiperemis (-)
anemis (-)

normal,

PEMERIKSAAN
Visus

OCULI SINISTRA(OS)

Koreksi

S: +1,75
C: -0.50
A: 140
6/15

Bulbus okuli

Palpebra

Konjungtiva

6/15

Gerak
bola
enoftalmus (-),
eksoftalmus (-)
strabismus (-)

mata

normal,

Edema (-)
hiperemis(-)
nyeri tekan (-)
blefarospasme (-)
lagoftalmus (-)
ektropion (-)
entropion (-)
Edema (-)
injeksi konjungtiva (-)
injeksi siliar (-)
infiltrat (-)
hiperemis (-)
anemis (-)

Putih,
Tidak Ikterik

Sklera

Putih,
Tidak Ikterik
Injeksi siliar (+)
oedem (-)
Kornea
Oedem (-)
infiltrat (-)
Infiltrat (-)
ulkus (-)
Ulkus (-)
Sikatriks (-)
Sikatriks (-)
Keratic precipitate (+)
Jernih
Camera Oculi Anterior Jernih
kedalaman cukup
(COA)
kedalaman cukup
hipopion (-)
hipopion (-)
hifema (-)
hifema (-)
edema(-)
Iris
edema(-)
synekia (-)
synekia (-)
Bulat, diameter 3mm, letak Pupil
Bulat, diameter 3mm, letak sentral,
sentral, refleks pupil langsung
refleks pupil langsung (+/+),
(+/+), refleks pupil tak lgsg (+/+)
refleks pupil tak lgsg (+/+)
Jernih
Jernih
Tidak dilakukan pemeriksaan

Lensa
Viterus
Retina

Jernih
Jernih
Tidak dilakukan pemeriksaan

Tidak dilakukan pemeriksaan


N
Epifora (-)
Lakrimasi (-)

Fundus Refleks
TIO
Sistem Lakrimasi

Tidak dilakukan pemeriksaan


N
Epifora (-)
Lakrimasi (-)

IV.

Resume
Subyektif
Keluhan
Pasien mengeluhkan mata kiri semakin tidak jelas untuk membaca, silau dan terasa perih
sejak 1 minggu yang lalu.
Objektif

OCULI DEXTRA(OD)

V.

PEMERIKSAAN

OCULI SINISTRA(OS)

6/6

Visus

6/15

S: +0,75
C: -0,50
A: 177
6/6
Jernih, pseudophakia

Koreksi

S: +1,75
C: -0.50
A: 140
6/15
Keruh

Putih,
Tidak Ikterik

Sklera

oedem (-)
infiltrat (-)
ulkus (-)
Sikatriks (-)

Kornea

Lensa

Putih,
Tidak Ikterik
Injeksi siliar (+)
Oedem (-)
Infiltrat (-)
Ulkus (-)
Sikatriks (-)
Keratic precipitate (+)

Diagnosis Banding
OS konjunctivitis
OS keratitis
OS glaucoma sudut tertutup
OS uveitis

VI.

Diagnosis Kerja
OS uveitis
Dasar diagnosa
OS uveitis:
Unilateral
Onset akut 1 minggu
Gejala: fotofobia dan penglihatan kabur
Pada pemeriksaan ditemukan keratic precipitate dan injeksi siliar
DD:
5

OS konjunctivitis (dibedakan dengan adanya secret dan kemerahan pada konjunctiva


palpebralis/bulbaris).
OS keratitis (dibedakan dengan adanya defek pada epitel, penebalan infiltrate pada
stroma).
OS glaucoma sudut tertutup (pemingkatan TIO,edema kornea, sudut COA sempit.).

VII.

Terapi
Neomycin
Polymyxin B sulfate
Dexamethasone

6 x 1 tetes OS

6-Methyprednisolon oral 4 mg

2x2

Homatropin 2-5% 2-4x/hari

VIII.

IX.

Prognosis
Okuli dekstra

Okuli sinistra

Ad vitam

Ad bonam

Ad bonam

Ad sanam

Ad bonam

Ad bonam

Ad kosmetikam

Ad bonam

Ad bonam

Ad functionam

Ad bonam

Ad bonam

SARAN
Teratur dalam memakai obat

TINJAUAN PUSTAKA
UVEITIS

I.

Anatomi mata
Mata terdiri atas rongga orbita, bola mata, dan adneksa (yang terdiri dari kelopak
mata dan sistem lakrimalis).

Bola mata
Bola mata terdiri atas ; dinding dan isi bola mata
a.

1.
2.
3.
4.
5.

b.

Dinding bola mata: Dinding bola mata terdiri atas sklera dan kornea.
Bagian luar sklera dilapisi oleh satu lapisan tipis yang disebut kapsul Tenon, bagian
belakangnya ditembusi oleh saraf kranial dan tempat ini disebut Lamina kribosa.
Diantara kapsul tendon dan sklera terdapat episklera.
Kornea terdiri dari 5 lapisan, yaitu :
Epitel, merupakan lapisa paling luar dan berbentuk epitel gepeng berlapis tanduk.. Daya
regenerasi epitel cukup besar sehingga apabila terjadi kerusakan akan diperbaiki beberapa
hari tanpa membentuk jaringan parut.
Membran Bowman, terletak dibawah epitel dan berfungsi mempertahankan bentuk
kornea. Bila terjadi kerusakan akan terbentuk jaringan parut.
Stroma, merupakan lapisan yang paling tebal, bersifat higroskopis yang menarik air dari
bilik mata depan. Pengaturan kadar airnya diatur oleh pompa sel endotel. Jika fungsi ini
terganggu maka akan terjadi kelebihan kadar air sehingga timbul edema kornea.
Membran Descment, merupakan lapisan pelindung terhadap infeksi dan masuknya
pembuluh darah.
Endotel, berfungsi mempertahankan kejernihan kornea, mengatur cairan dalam stroma
kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi sehingga bila terjadi kerusakan,
endotel tidak akan normal lagi.
Isi bola mata
Isi bola mata terdiri atas:

1.

Lensa, merupakan badan yang bening, bikonveks, difiksasi oleh zonula zinnii, dan
pada orang dewasa terdiri dari nukleus dan korteks. Fungsi lensa adalah untuk membias
cahaya agar difokuskan pada retina.
2.
Uvea, merupan lapisan bagian dalam setelah sklera dan kapsul tendon, terdiri atas
iris, badan siliar dan koroid.
Iris merupakan membran berwarna, berbentuk sirkular yang ditengahnya terdapat
lubang yang dinamakan pupil. Berfungsi mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk
ke dalam mata. Iris berpangkal pada badan siliar merupakan pemisah antara bilik mata
depan dengan milik mata belakang. Jaringan otot iris tersusun longgar dengan otot polos
berjalan melingkari pupil dan radial tegak lurus pupil. Iris menipis didekat
7

perlengketannya di badan siliar dan menebal dekat pupil. Pembuluh darah disekeliling
pupil disebut sirkulus minor dan yang berada dekat badan siliar disebut sirkulus mayor.
Iris dipersarafi oleh nervus nasosiliar cabang dari saraf kranial III yang bersifat simpatik
untuk midriasis dan parasimpatik untuk miosis. Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke
belakang sampai koroid terdiri atas otot-otot siliar dan prosesus siliar. Otot siliar
berfungsi untuk akomodasi. Fungsi prosesus siliar adalah memproduksi cairan matahumor aquos.
Koroid adalah suatu membran yang berwarna coklat tua yang terletak antara
sklera dan retina terbentang dari ora serata sampai papil saraf optik. Koroid kaya
pembuluh darah dan berfungsi terutama memberi nutrisi kepada retina bagian luar.
3.

Badan kaca, mengisi sebagian besar bola mata di belakang lensa, tidak berwarna,
bening dan konsistensinya lunak. Bagian luar merupakan lapisan tipis. Struktur badan
kaca tidak mempunyai pembuluh darah dan menerima nutrisinya dari jaringan
sekitarnya : koroid, badan siliar dan retina.
4.
Retina, adalah suatu membran yang tipis dan bening, terdiri atas serabut-serabut
saraf optik letaknya antara kaca dan koroid. Retina mempunyai ketebalan sekitar 1 mm
terdiri atas 10 lapisan :
Membran limitan dalam
Lapisan serabut saraf
Lapisan sel ganglion
Lapisan pleksiform dalam
Lapisan nukleus dalam
Lapisan pleksiform luar
Lapisan nukleus luar
Membran limitan luar
Lapisan batang dan kerucut
Lapisan epitel pigmen
Adneksa
Terdiri atas kelopak mata dan sistem lakrimal.
II.

Penyakit uveitis
Banyak penyebabnya, dan dapat mengenai satu atau ketiga bagian secara
bersamaan. Bentuk uveitis tersering adalah uveitis anterior akut ( iritis ). Penyakit
peradangan traktus uvealis umumnya unilateral, biasanya terjadi pada dewasa muda dan
usia pertengahan. Pada kebanyakan kasus tidak diketahui penyebabnya. Penyakit
peradangan traktus uvealis ini digolongkan berdasarkan patologi, lokasi dan
morfologinya, meskipun masih saling tumpah tindih. Berdasarkan lokasinya, uveitis
dibedakan atas uveitis anterior, intermediete, posterior dan difus.
Uvetitis anterior (iritis) yang merupakan peradangan pada iris dan badan siliar
adalah tipe uveitis yang paling sering ditemukan. Uveitis intermediet merupakan
peradangan yang melibatkan badan siliar, badan vitreus dan retina.Sedangkan uveitis
posterior adalahperadangan pada retina, koroid dan nervus optikus. 5Uveitis difus
melibatkan struktur bola mata depan dan belakang.

Tanda-tanda dan gejala dari uveitis tergantung dari lokasi dan berat-ringannya
peradangan.
Uveitis anterior paling sering memberikan gejala-gejala, biasanya berupa
sakit, kemerahan pada mata, fotofobia, dan penurunan penglihatan. Tanda-tanda uveitis
anterior berupa miosis pupil dan injeksi konjungtiva yang berbatasan dengan kornea
(kemerahan perilimbus).Dengan slit-lamp dapat ditemukan adanya sel-sel radang dan
flare pada humor akueus dan keratik presipitat.
Uvetitis intermediet biasanya tidak memberikan rasa sakit pada mata.Biasanya
gejala hanya berupa floaters dan kekaburan penglihatan. Sel-sel radang pada humor
vitreus, kumpulan sel dan kondensasi pada pars plana terutama pada bagian bawah
merupakan tanda-tanda yang dapat ditemukan pada uveitis intermediate.
Uveitis intermediet paling baik diperiksa dengan menggunakan oftalmoskopi
indirek. Nama lain uveitis intermediet idiopatik adalah pars planitis.
Uvetitis posterior biasanya memberikan gejala yang sama seperti uveitis
intermediet. Sel-sel radang pada humor vitreus, lesi berwarna putih atau putih
kekuningan pada retina dan atau koriod, eksudat pada retina, vaskulitis retina dan edema
nervus optikus dapat ditemukan pada uveitis posterior.
Pada uveitis difus, salah satu atau semua gejala dan tanda-tanda dapat ditemukan.
III.

Klasifikasi Uveitis Dan Pembahasannya


Berdasarkan patologi, dapat dibedakan dua jenis besar uveitis: yang nongranulomatosa (lebih umum) dan granulomatosa.
Uveitis non-granulomatosa.
Umumnya tidak ditemukan organisme patogen dan berespon baik terhadap terapi
kortikosteroid, sehingga jenis ini diduga merupakan semacam fenomena hipersensitivitas.
Uveitis non-granulomatosa ini terutama timbul di bagian anterior traktus ini, yakni iris
dan badan siliar. Menurut patologinya, ditemukan reaksi radang, dengan terlihatnya
infiltrasi sel-sel limfosit dan sel plasma dalam jumlah banyak dan sedikit sel
mononuklear. Pada kasus berat dapat sampai ditemukan bekuan fibrin besar atau
hipopion di dalam kamera okuli anterior.
Penyebab uveitis non-granulomatosa akut yakni trauma, diare kronis, penyakit
Reiter, herpes simpleks, Sindroma Bechet, Sindroma Posner Schlosman, pascabedah,
adenovirus, parotitis, influenza, dan chlamydia. Sedangkan penyebab uveitis nongranulomatosa kronis ialah artritis reumatoid dan iridosiklitis heterokromik Fuchs.
Gejala dan tanda berupa onsetnya khas akut, dengan rasa sakit, reaksi vaskular
lebih hebat dari reaksi seluler sehingga injeksinya hebat (banyak pembuluh darah),
fotofobia, penglihatan kabur, badan kaca tak banyak kekeruhan. Jika terdapat sinekia
posterior, bentuk pupil tidak teratur.
Terapinya diberikan analgetika sistemik secukupnya untuk rasa sakit dan kaca
mata gelap untuk fotofobia. Pupil harus tetap dilebarkan dengan atropin, yaitu mula-mula
diberikan setiap 2 jam satu tetes, sampai pupil lebar dan tetap lebar, kemudian cukup 3
9

kali sehari. Pemberian sulfas atropin ini dapat menyebabkan glaukoma sehingga perlu
pengukuran tekanan intraokuler secara teratur. Pada anak-anak sebaiknya diberikan
dalam bentuk salep karena obat tetes akan cepat keluar saat anak menangis. Jika sudah
reda, dapat diberikan cyclopentolate untuk mencegah spasme dan terbentuknya sinekia
posterior. Tetes steroid lokal biasanya cukup efektif untuk kerja anti radangnya, secara;
tetes mata: siang hari diberikan setiap jam satu tetes, salep mata : diberikan pada pagi dan
malam hari, suntikan subkonjungtival : 2 kali seminggu 0,3-0,5 cc , sejauh mungkin dari
forniks (arah pukul 12) untuk menghindarkan gangguan kosmetik. Pada kasus berat dapat
diberikan steroid sistemik, yaitu : diberikan 6-8 tablet sekaligus pada pagi hari, sebaiknya
sebelum pukul 8, dimana kadar streoid dalam darah paling rendah.
Perjalanan penyakit dan prognosisnya, dengan pengobatan, serangan uveitis nongranulomatosa umumnya berlangsung beberapa hari sampai minggu. Sering kambuh.

Uveitis granulomatosa.
Umumnya mengikuti invasi mikroba aktif ke jaringan oleh organisme penyebab,
misalnya Mycobacterium tuberculosis atau Toxoplasma gondii. Meskipun demikian,
patogen ini jarang ditemukan sehingga diagnosis etiologik jarang ditegakkan. Dapat
mengenai sembarang bagian traktus uvealis namun paling sering pada uvea posterior,
yakni koroidea. Secara histologis, ditemukan kelompok nodular sel-sel epitelial dan selsel raksasa yang dikelilingi limfosit di daerah yang terkena. Deposit radang tersebut
sebagian besar terdiri atas makrofag dan sel epiteloid. Untuk menegakkan diagnosis
etiologi sering kali harus menggunakan pemeriksaan laboratoris atau histologis.
Penyebabnya ialah sarkoiditis, sifilis, tuberkulosis, virus, histoplasmosis, dan
toksoplasmosis.
Gejala dan tanda biasanya onset tidak kentara. Penglihatan berangsur kabur dan
mata merah secara difus di daerah sirkumkornea, reaksi seluler lebih hebat dari reaksi
vaskular. Sakitnya minimal dan fotofobia tidak seberat pada non-granulomatosa. Pupil
sering mengecil dan terdapat kekeruhan pada badan kaca. Tampak kemerahan (flare) dan
sel-sel di kamera okuli anterior, dan nodul-nodul yang terdiri atas kelompok sel-sel putih
di tepian iris, disebut juga nodul Koeppe.
Harus ditanyakan riwayat terpajan toksoplasmosis, histoplasmosis, tuberkulosis,
dan sifilis dalam hal kepentingan terapi etiologi. Juga perlu diperiksa apakah pasien
sedang mengalami infeksi pada organ atau bagian tubuh lain.

10

Gambar II.5. deposit sel radang pada koroid karena Toxoplasma


(diambil dari www.atlas-of-ophthalmology.com)

Terapinya diberikan regimen sesuai organisme penyebab. 1,2 Jika segmen


anterior terkena, pelebaran pupil harus dilakukan dengan pemberian sulfas atropin.
Perjalanan penyakit dan prognosis uveitis granulomatosa berlangsung
berbulan-bulan sampai tahunan, kadang-kadang dengan remisi dan eksaserbasi, dan dapat
menimbulkan kerusakan permanen dengan penurunan penglihatan nyata walau dengan
pengobatan terbaik.
Berikut tabel perbedaan uveitis granulomatosa dan non-granulomatosa
Gejala dan Tanda

Nongranulomatosa

Granulomatosa

Onset

Akut

Tersembunyi

Sakit

Nyata

Tidak
ringan

Fotofobia

Nyata

Ringan

Penglihatan kabur

Sedang

Nyata

Merah
sirkumkorneal

Nyata

Ringan

Presipitat keratik

Putih halus

Kelabu besar

Pupil

Kecil dan tak teratur

Kecil dan tak teratur

Synechiae posterior

Kadang-kadang

Kadang-kadang

Nodul iris

Kadang-kadang

Kadang-kadang

Tempat

Uvea anterior

Uvea

ada

anterior

atau

&
11

posterior
Perjalanan

Akut

Menahun

Rekurens

Sering

Kadang-kadang

Pembagian penyakit radang traktus uvealis berdasarkan letaknya :


A. Uveitis Anterior

Gambar A.2. uveitis anterior akut (diambil dari www.atlas-of-ophthalmology.com)

Uveitis anterior adalah radang pada iris (iritis) atau badan siliar (siklitis) dan dapat
terjadi bersamaan, yang disebut sebagai iridosiklitis.
1.

Iritis akut
Iritis akan memberikan gejala berupa rasa sakit, merah, fotofobia, kesukaran
melihat dekat karena mengakibatkan gangguan pada otot akomodasi.
Tanda yang didapat, yaitu pupil kecil akibat rangsangan proses peradangan pada
otot sfingter dan terdapatnya edem iris. Pada proses akut, miopisasi terjadi akibat
rangsangan badan siliar dan edem lensa; terdapat flare dalam bilik mata depan, bahkan
pada yang sangat akut akan terlihat hifema dan hipopion; dapat ditemukan tekanan bola
mata yang tinggi ataupun rendah. Tekanan bola mata yang tinggi terjadi karena adanya
gangguan pengaliran keluar cairan mata oleh sel radang atau perlengketan sudut bilik
mata.Sedangkan tekanan bola mata yang rendah terjadi karena adanya gangguan fungsi
pembentukan cairan mata oleh badan siliar.Ini berarti telah terjadi siklitis
iridosiklitis.Tekanan bola mata yang rendah ditemukan pada siklitis sendiri.
Perjalanan penyakit iritis sangat khas, yaitu berlangsung antara 2-4 minggu.Bisa
terjadi kekambuhan sehingga prosesnya menjadi menahun.
Prinsip pengobatannya adalah terhadap organisme penyebab, jika dicurigai
merupakan kasus invasi dari organisme patogen atau pemberian steroid pada kasus yang
merupakan reaksi hipersensitivitas.Steroid diberikan pada siang hari dalam bentuk tetes
dan malam hari dalam bentuk salep.Bila kasusnya berat dapat dipertimbangkan
pemberian steroid sistemik yang diberikan dalam dosis tunggal seling sehari yang tinggi
kemudian dosis diturunkan sampai dosisi terendah yang efektif.
12

Pemberian steroid bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, melepas sinekia yang terjadi,
dan membri istirahat pada iris yang meradang.
Penyulit yang sering terjadi yaitu sinekia anterior perifer dan sinekia posterior,
glaukoma sekunder akibat tertutupnya trabekulum oleh sel radang atau sisa sel
radang.Pada peradangan yang menahun dapat terjadi edem makula yang kadang berlanjut
menjadi ablasi retina nonregmatogenos atau serosa.

Gambar
A.1.
Uveitis anterior
kronik
(www.atlas-of-

ophthalmology.com)

2. Iridosiklitis akut
Merupakan bentuk penyakit radang yang paling sering terjadi pada uveitis
anterior.Penyakit ini dapat akut dan menahun.Pada yang menahun biasanya merupakan
kekambuhan dari reaksi imunologik.
Penyebab dari iridosiklitis :

Autoimun
1.
Artritis reumatoid juvenilis
2.
Spondilitis ankilosa Sindroma Reiter
3.
Kolitis ulserativa
4.
Uveitis terinduksi lensa
5.
Sarkoidosis
6.
Penyakit Chron
7.
Psoriasis

Infeksi
1.
Sifilis
2.
Tuberkulosis
3.
Lepra
4.
Herpes zoster
5.
Herpes simpleks
6.
Onkoserkiasis
7.
Adenovirus

Keganasan
1. Sindroma Masquerade
13

2.
3.
4.
5.

Retinoblastoma
Leukimia
Limfoma
Melanoma maligna

Lain-lain
1.
Idiopatik
2.
Uveitis traumatika, termasuk cedera menembus
3.
Ablasio retina
4.
Iridosiklitis heterokromik Fuchs
5.
Gout
6.
Krisis glaukomatositik

Gambar A.2.1. iridosiklitis rekurens, irregular pupil


(diambil dari www.atlas-of-ophthalmology.com)

Gambar A.2.2. Perbedaan warna iris pada penderita iridosiklitis heterokromik


Fuchs.Warna sisi yang terkena menjadi lebih terang karena adanya kolaret.
(diambil dari www.atlas-of-ophthalmology.com)

14

Diagnosis Banding
Uveitis anterior perlu dibedakan dengan konjungtivitis, keratitis dan glaukoma
akut. Adapun secara ringkas dan sistematis telah dibuat perbedaan antara ketiganya dalam
bentuk tabel berikut ini :
Iridosiklitis
akut

Glaukoma
akut

Keratitis akut

Sakit

Sakit
rasa
tertekan

Sakit
sekali

Sakit sedikit

Visus

Berkurang

Sangat
berkurang

Berkurang

Merah

Injeksi
perikorneal

Injeksi
episkleral

Injeksiperikorne
al

Iris

Warna kotor

Warna
kotor

Normal

Pupil

Mengecil

Sedikit
melebar

Normal/kecil

Reaksi

Lambat

Kaku

Kuat

Komplikasi
Uveitis anterior dapat menimbulkan sinekia anterior perifer yang manghalangi
humor akueis keluar dari sudut kamera anterior dan berakibat glaukoma. Sinekia
posterior dapat menimbulkan glaukoma dengan memungkinkan berkumpulnya humor
aqueus di belakang iris, sehingga menonjolkan iris ke depan. Pelebaran pupil sejak dini
dan terus menerus mengurangi kemungkinan timbulnya sinekia posterior.Gangguan
metabolisme lensa dapat menimbulkan katarak.Ablasio retina kadang-kadang timbul
akibat tarikan pada retina oleh benang-benang vitreus.Edema kistoid makular dan
degenerasi dapat terjadi pada uveitis anterior yang berkepanjangan.

B. Uveitis Intermediet
Uveitis intermediet adalah pembagian berdasarkan anatomi yang telah ditetapkan
oleh International Uvetitis Study Group (IUSG).Uveitis intermediet merupakan
peradangan yang terutama melibatkan retina bagian perifer, pars plana dan badan
vitreus.Nama lain dari uvetitis intermediet adalah siklitis kronik, uveitis periferal dan pars
planitis.

15

Di Amerika, kasus uveitis intermediet mencapai 8-15 % dari keseluruhan kasus


uveitis. Rodriguez et al melakukan penelitian dengan menggunakan IUSG dan
menemukan adanya 162 pasien dengan uveitis intermediet (13%) dari 1237 pasien.
Biasanya gejala yang dirasakan pasien adalah kekaburan penglihatan dan floaters
yang tidak disertai dengan rasa sakit.Mata merah dan fotofobia tidak selalu ditemukan
pada pasien dengan uveitis intermediet.
Ditemukan adanya peradangan yang ringan sampai berat pada segmen anterior
yang lebih jelas pada anak-anak dan pasien dengan multipel skerosis. Kehilangan daya
penglihatan dapat terjadi bila terdapat sel-sel radang yang berasal dari badan vitreus pada
sin qua non dan adanya peradangan yang berat pada badan vitreus.
Berdasarkan hasil penelitian Rodriguez et al dapat disimpulkan bahwa pada 162
pasien dengan uveitis intermediet 69% tidak diketahui penyebabnya (idiopatik), terdapat
sarkoidosis pada 22% pasien, multiple sklerosis pada 8 % pasien, dan Lyme disease pada
1 pasien.
Uveitis intermediet sering berkaitan dengan beberapa kelainan sistemik. Maka
dari itu pada evaluasi diagnostik awal harus disingkirkan adanya Sindroma Marsquerade
dan penyakit-penyakit infeksi yang merupakan kontraindikasi pemberian imunosupresan.

C. Uveitis Posterior

Gambar C.1. Uveitis posterior


(diambil dari www.atlas-of-ophthalmology.com)

Uveitis posterior merupakan peradangan pada bagian posterior dari uvea, yaitu pada
lapisan koroid, sehingga sering disebut koroiditis. Pada uveitis posterior, retina hampir
selalu terinfeksi secara sekunder. Ini dikenal sebagai koriorenitis. Berdasar patologinya,
uveitis posterior juga dapat dibedakan menjadi uveitis granulomatosa dan uveitis non
granulomatosa. Pada jenis non granulomatosa umumnya tidak dapat ditemukan
16

organisme patogen dan berespon baik dengan terapi kortikosteriod sehingga sering
dianggap semacam fenomena hipersensitivitas. Pada jenis granulomatosa umumnya
mengikuti invasi mikroba aktif ke jaringan oleh organisme penyebab. Pada uveitis
posterior umumnya lebih sering terjadi uveitis jenis granulomatosa. Onset uveitis
posterior bisa akut dan mendadak atau lambat tanpa gejala, tapi biasanya berkembang
menjadi proses granulomatosa kronis.

Uveitis posterior dapat ditemui dalam bentuk-bentuk berikut ini :


Koroiditis anterior, radang koroid purifier
Koroiditis areolar, koroiditis bermula di daerah makula lutea dan
menyebar ke perifer
o
Koroiditis difusa / diseminata,bercak peradangan koroid tersebar di
seluruh fundus okuli
o
Koroiditis eksudatif, koroiditis disertai bercak-bercak eksudatif
o
Koroiditis juksta papil
o
o

Penyebab uveitis posterior dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

penyakit infeksi (uveitis granulomatosa)


virus : virus sitomegalo, herpes simpleks, herpes zoster, rubella, rubeola, HIV,
virus Epstein-Barr, virus coxsackie.
bakteri : Mycobacterium tuberculosis, brucellosis, sifilis sporadik dan endemik,
Nocardia, Neisseria meningitides, Mycobacterium avium-intracellulare, Yersinia, dan
Borrelia.
fungus : Candidia, Histoplasma, Cryptococcus, dan Aspergillus.
parasit : Toxoplasma, Toxocara, Cysticercus, dan Onchocerca.
penyakit non infeksi (uveitis non granulomatosa)
autoimun : penyakit Behcet, Sindroma Vogt-Koyanagi-Harada, poliarteritis nodosa,
ofthalmia simpatis, vaskulitis retina.
keganasan : sarkoma sel retikulum, melanoma maligna, leukemia, lesi metastatik.
etiologi tak diketahui : sarkoidosis, koroiditis geografik, epiteliopati pigmen plakoid
multifokal akut, retinopati birdshot, epiteliopati pigmen retina.
Untuk mempermudah diagnosis, uveitis posterior dapat dikelompokkan sebagai
berikut :

Uveitis posterior pada pasien sampai 3 tahun dapat disebabkan oleh infeksi virus
sitomegalo, toksoplasmosis, sifilis, retinitis herpes, dan infeksi rubella.

Uveitis posterior pada kelompok usia 4-15 tahun dapat disebabkan oleh toksokariasis,
toksoplasmosis, uveitis intermediet, infeksi sitomegalovirus, panensefalitis sklerosis subakut, dan
jarang infeksi bakteri atau fungus.

17


Pada kelompok umur 16-40 tahun, disebabkan oleh toksoplasmosis, penyakit Behcet,
Sindroma Vogt-Koyanagi-Harada, sifilis, endoftalmia kandida, dan jarang infeksi bakteri
endogen seperti meningitis meningokokus.

Kelompok usia lebih dari 40 tahun mungkin menderita sindroma nekrosis retina akut,
toksoplasmosis, infeksi virus sitomegalo, retinitis, sarkoma sel retikulum, atau kriptokokosis.

Apabila terjadi uveitis posterior unilateral, biasanya lebih condong akibat toksoplasmosis,
kandidiasis, toksokariasis, sindroma nekrosis retina akut, atau infeksi bakteri endogen.
Gejala Uveitis Posterior:
1.

Penurunan ketajaman penglihatan, dapat terjadi pada semua jenis uveitis


posterior.
2.
Injeksi matakemerahan mata tidak terjadi bila hanya segmen posterior yang
terkena, jadi gejala ini jarang pada toksoplasmosis dan tidak ada pada histoplasmosis.
3.
Rasa sakit pada mata terdapat pada pasien dengan sindrom nekrosis retina akut,
sifilis, infeksi bakteri endogen, skleritis posterior, dan pada kondisi-kondisi yang
mengenai nervus optikus. Pasien toksoplasmosis, toksokariasis, dan retinitis
sitomegalovirus yang tidak disertai glaukoma umumnya tanpa rasa sakit pada mata.
Penyakit segmen posterior noninfeksi lain yang khas tidak sakit adalah epiteliopati
pigmen plakoid multifokal akut, koroiditis geografik, dan Sindroma Vogt-KoyanagiHarada.
Tanda yang penting untuk diagnosis uveitis posterior adalah :
1. HipopionUveitis posterior dengan hipopion misalnya pada leukemia, penyakit Behcet,
sifilis, toksokariasis, dan infeksi bakteri endogen.
2. Pembentukan granulomaJenis granulomatosa biasanya pada uveitis granulomatosa
anterior yang juga mengenai retina posterior dan koroid, sarkoidosis, tuberkulosis,
toksoplasmosis, sifilis, Sindroma Vogt-Koyanagi-Harada, dan oftalmia simpatis. Sebaliknya,
jenis non granulomatosa dapat menyertai penyakit Behcet, epiteliopati pigmen plakoid
multifokal akut, bruselosis, sarkoma sel retikulum, dan sindrom nekrosis retina akut.
3. Glaukoma yang terjadi sekunder mungkin terjadi pada pasien nekrosis retina akut,
toksoplasmosis, tuberkulosis, atau sarkoidosis.
4. VitritisPeradangan korpus vitreum dapat menyertai uveitis posterior. Peradangan dalam
vitreum berasal dari fokus-fokus radang di segmen posterior mata. Vitritis tidak terjadi pada
koroiditis geografik atau histoplasmosis. Peradangan ringan terjadi pada pasien sarcoma sel
retikulum, infeksi virus sitomegalo, rubella, dan beberapa kasus toksoplasmosis dengan fokusfokus infeksi kecil pada retina. Sebaliknya, peradangan berat dengan banyak sel dan eksudat
terdapat pada tuberkulosis, toksokariasis, sifilis, penyakit Behcet, nokardiosis, toksoplasmosis,
dan pada pasien endoftalmitis bakteri atau kandida endogen.
5. Morfologi dan lokasi lesiToksoplasmosis adalah contoh khas yang menimbulkan
retinitis dengan peradangan koroid di dekatnya. Infeksi virus sitomegalo, herpes, rubella, dan
rubeolla umumnya mengenai retina secara primer dan lebih banyak menyebabkan retinitis
daripada koroiditis. Pada pasien tuberkulosis, koroid merupakan sasaran utama proses
granulomatosa, yang juga mengenai retina. Koroiditis geografik terutama mengenai koroid
18

dengan sedikit atau tanpa merusak retina dan pasien tidak menderita pasien sistemik. Sebaliknya,
koroid terlibat secara primer pada oftalmia simpatis dan penyakit Lyme. Ciri morfologiknya
dapat berupa lesi geografik, lesi punctata, nodul Dalen-Fuchs.
6. Vaskulitis.
7. Hemoragik retina.
8. Parut lama.
Patologi Uveitis Posterior
Pada stadium awal terjadi kongestif dan inviltrasi dari sel-sel radang seperti PMN,
limfosit, dan fibrin pada koroid dan retina yang terkena.PMN lebih banyak berperan pada
uveitis jenis granulomatosa sampai terjadinya supurasi. Sebaliknya pada uveitis non
granulomatosa limfosit lebih dominan. Apabila inflamasi berlanjut, lamina vitrea akan
robek sehingga lekosit pada retina akan menginvasi rongga vitreum yang menyebabkan
timbulnya proses supurasi di dalamnya. Pada uveitis granulomatosa kronis tampak sel
mononuclear, sel epiteloid, dan giant cell sebagai nodul granulomatosa yang tipikal.
Kemudian exudat menghilang dengan disertai atrofi dan melekatnya lapisan koroid dan
retina yang terkena.Eksudat dapat menjadi jaringan parut. Keluarnya granula pigmen
akibat nekrosis atau atrofi dari kromatofor dan sel epitelia pigmen akan difagositosis oleh
makrofag dan akan terkonsentrasi pada tepi lesi.

Gambar C.2. cell depocits pada uveitis


(diambil dari www.atlas-of-ophthalmology.com)
Komplikasi
1.
Dapat mengenai daerah sekitar koroid, misalnya retina, vitreus humour, badan siliar, iris,
nervus optikus, dan sklera.
2.
Uveitis posterior dapat menyebabkan katarak sisi posterior.
Penatalaksanaan uveitis posterior pada prinsipnya sama dengan
anterior atau uveitis lainnya, yaitu mengatasi penyebabnya. Karena penyebab
posterior juga merupakan penyebab yang sama pada hampir semua kasus uveitis
maka penatalaksanaan uveitis posterior akan dibahas lebih lanjut pada bagian
difusa.

uveitis
uveitis
difusa,
uveitis

19

Prognosis
Prognosis pasien tergantung pada lokasi dan luasnya eksudasi dan atrofi daerah
lesi. Lesi yang kecil tetapi jika mengenai daerah makula lutea akan berpengaruh pada
fungsi penglihatan. Sebaliknya lesi yang meluas sepanjang fundus tidak mempengaruhi
penglihatan apabila tidak mengenai area makula.

IV.

OPERASI PADA PASIEN UVEITIS


Indikasi operasi pada pasien dengan uveitis mencakup rehabilitasi visual, biopsi
diagnostik (hasil penemuan dari biopsi menyebabkan adanya perubahan pada rencana
pengobatan), dan pengeluaran Opacities media untuk memonitor segmen posterior.
Apabila timbul perubahan struktur pada mata (katarak, glukoma sekunder) maka
terapi terbaik adalah dengan operasi.
Persiapan yang harus dilakukan sebelum operasi adalah dengan memberikan
pengobatan medis minimum 3 bulan sebelum pembedahan yang bertujuan untuk
mengurangi peradangan dan pemberian prednisolon asetat 1% tiap 1-2 jam 24 48 jam
sebelum operasi dilakukan. Selama operasi dapat diberikan steroid intraokular dan atau
periokular.Setelah pengobatan topikal dan sistemik dapat dikurangi secara bertahap
tergantung dari tingkat peradangannya.

Indikasi vitrektomi pada pasien uveitis


Vitrektomi berfungsi untuk menentukan diagnosa dan pengobatan.
Indikasi vitrektomi adalah peradangan intraokular yang tidak sembuh pada
pengobatan, dugaan adanya keganasan dan infeksi pada mata.
Uveitis posterior dan intermediate berkaitan dengan kekeruhan vitreus yang tidak
dapat disembuhkan dengan obat-obatan. Dengan adanya vaskulitis dan oklusi vascular
pada pars planitis, penyakit Behcet dan sarkoidosis neovaskularisasi retina atau pada
diskus optikus (pada pasien uveitis) menyebabkan timbulnya perdarahan pada vitreus.
Vitrektomi merupakan salah satu pilihan untuk situasi tersebut.

V.

Pemeriksaan Penunjang
1.
Flouresence Angiografi
FA merupakan pencitraan yang penting dalam mengevaluasi penyakit korioretinal
dan komplikasi Jntraocula dari uveitis posterior.FA sangat berguna baik untuk
Jntraocula maupun untuk pemantauan hasil terapi pada pasien. Pada FA, yang dapat
dinilai adalah edema Jntrao, vaskulitis retina, neovaskularisasi sekunder pada koroid
atau retina, N. optikus dan radang pada koroid.
20

2.
USG
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan keopakan vitreus, penebalan retina dan pelepasan
retina
3.

Biopsi Korioretinal
Pemeriksaan ini dilakukan jika diagnosis belum dapat ditegakkan dari gejala dan
pemeriksaan laboratorium lainnya.
VI.

Diagnosis
Diagnosis uveitis ditegakkan berdasarkan anamnesa yang lengkap, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang yang menyokong.

VII.

Diagnosis Banding

1.

Konjungtivitis
Pada konjungtivitis penglihatan tidak kabur, respon pupil normal, terdapat sekret dan
umumnya tidak disertai rasa sakit, fotofobia atau injeksi silier

2.

Keratitis/ keratokonjungtivitis
Penglihatan dapat kabur pada keratitis, ada rasa sakit serta fotofobia.

3.

Glaukoma akut
Terdapat pupil yang melebar, tidak ada sinekia posterior dan korneanya beruap/ keruh.

4.

Neoplasma
Large-cell lymphoma, retinoblastoma, leukemia dan melanoma maligna bisa
terdiagnosa sebagai uveitis.

VIII. Pengobatan
Pengobatan uveitis pada umumnya digunakan obat-obatan Jntraoc.Seperti
sikloplegik, OAINS atau kortikosteroid. Pada OAINS dan kortikosteroid, dapat juga
digunakan obat-obatan secara sistemik. Selain itu, pada pengobatan yang tidak
beresponsif terhadap kortikosteroid, dapat digunakan imunomodulator.
a.

Mydriatik dan Sikloplegik


Midriatik dan sikloplegik berfungsi dalam pencegahan terjadinya sinekia posterior
dan menghilangkan efek fotofobia sekunder yang yang diakibatkan oleh spasme dari otot
siliaris.Semakin berat reaksi inflamasi yang terjadi, maka dosis sikloplegik yang
dibutuhkan semakin tinggi.

b. OAINS
Dapat berguna sebagai terapi pada inflamasi post operatif, tapi kegunaan OAINS
dalam mengobati uveitis anterior endogen masih belum dapat dibuktikan.Pemakaian
OAINS yang lama dapat mengakibatkan komplikasi seperti ulkus peptikum, perdarahan
traktus digestivus, nefrotoksik dan hepatotoksik.
c.

Kortikosteroid

21

d.

1.
2.
3.

IX.

Merupakan terapi utama pada uveitis. Digunakan pada inflamasi yang berat.
Namun, karena efek sampingnya yang potensial, pemakaian kortikosteroid harus dengan
indikasi yang spesifik, seperti:
Pengobatan inflamasi aktif di mata
Mengurangi Jntraocular inflamasi di retina, koroid dan N. Optik
Imunomodulator
Terapi imunomodulator digunakan pada pasien uveitis berat yang mengancam
penglihatan yang sudah tidak beresponsif terhadap kortikosteroid. Imunomodulator
bekerja dengan cara membunuh sel limfoid yang membelah dengan cepat akibat reaksi
inflamasi. Indikasi digunakannya imunomodulator adalah
Inflamasi Jntraocular yang mengancam penglihatan pasien
Gagal dengan terapi kortikosteroid
Kontra indikasi terhadap kortikosteroid
Sebelum diberikan imunomodulator, harus benar-benar dipastikan bahwa uveitis
pasien tidak disebabkan infeksi, atau infeksi di tempat lain, atau kelainan hepar atau
kelainan darah. Dan, sebelum dilakukan informed concent.
Komplikasi
Apabila uveitis tidak mendapatkan pengobatan maka dapat terjadi komplikasi berupa:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

X.

Glaukoma, peninggian tekanan bola mata.


Katarak.
Neovaskularisasi.
Ablatio retina.
Kerusakan nervus optikus.
Atropi bola mata.
Namun terkadang peninggian tekanan bola mata dan katarak dapat muncul pada
sebagian pasien yang telah mendapatkan pengobatan, tetapi hal ini dapat diatasi dengan
terapi obat-obatan ataupun operasi. Komplikasi yang lain dapat muncul namun tidak
selalu ada pada pasien dengan uveitis, komplikasi ini dapat dicegah dengan pemberian
terapi yang sesuai untuk penderita uveitis.
Prognosis
Pada uveitis anterior gejala klinis dapat hilang selama beberapa hari hingga
beberapa minggu dengan pengobatan, tetapi sering terjadi kekambuhan. Pada uveitis
posterior, reaksi inflamasi dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga tahunan dan
juga dapat menyebabkan kelainan penglihatan walaupun telah diberikan pengobatan.

22