Anda di halaman 1dari 32

Case Report Session

Morbus Hansen

OLEH :

Fatimah Putri Az Zahra

1010311014

Reki Wijaya

1110312129

Meilani

1110312136

PRESEPTOR :
dr. Qaira Anum, Sp.KK, FINSDV

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2015

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Morbus Hansen (MH) adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh
Mycobacterium leprae yang pertama-tama menyerang saraf tepi selanjutnya dapat menyerang
kulit, mukosamulut, saluran nafas bagian atas, system retikuloendotelial, mata, otot, tulang,
cuping telinga, dan testis. Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimpomatis, namun
pada sebagian kecil memperlihatkan gejala dan mempunyai kecendrungan untuk menjadi
cacat, khususnya tangan dan kaki.1,2

Epidemiologi
Kusta terdapat di sekitar 120 negara di seluruh dunia,terutama di daerah tropis dan
subtropis dengan hotspot diAfrika Tengah, sebagian Asia dan Brasil. Tujuan WHO adalah
untuk mengurangi (yaitu kurang dari 1kasus terdaftar per 10000 penduduk) penyakit di
seluruh duniapada tahun 2000 belum terpenuhi, namun kejadian ini perlahan-lahan menurun,
dan kurang dari seperempat juta diagnosa barudibuat setiap tahun.

Etiologi
Disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae ditemukan pertama kali oleh sarjana
Norwegia GH Armauer Hansen pada tahun 1873. Kuman ini bersifat gram positif, tidak
bergerak dan tidak berspora, tahan asam, berbentuk batang, dengan ukuran 1-8, lebar 0,20,5 , bias anya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, basil intraseluler obligat yang
terutama dapat berkembang biak dalam sel Schwann saraf, makrofag kulit, dan tidak dapat
dikultur dalam media buatan. Adanya distribusi lesi yang secara klinik predominan pada

kulit, mukosa hidung, dan saraf perifer superficial menunjukkan pertumbuhan basil ini
cenderung menyukai temperature kurang dari 37C. Masa belah diri kuman ini memerlukan
waktu yang sangat lama dibandingkan dengan kuman lain yaitu 12-21 hari,.Oleh karena itu
masa tunas menjadi lama yaitu rata-rata 2-5 tahun.2

Patogenesis
Meskipun cara masuk M.leprae ke dalam tubuh masih belum diketahui dengan pasti,
beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa yang tersering ialah melalui kulit yang lecet
pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal. Bila kuman masuk
kedalam

tubuh

maka

tubuh

akan

bereaksi dengan

mengeluarkan

makrofag

untuk

memfagositnya.
Pada MH tipe LL terjadi kelumpuhan sistem imunitas selular, dengan demikian
makrofag tidak mampu menghancurkan kuman sehingga kuman dapat bermultifkasi dengan
bebas yang kemudian dapat merusak jaringan.
Pada

MH tipe TT kemampuan fungsi sistem imunitas seluler tinggi, sehingga

makrofag sanggup menghancurkan kuman. Sayangnya setelah semua kuman difagositosis,


makrofag akan berubah menjadi sel epiteloid yang tidak bergerak aktif dan kadang kadang
bersatu membentuk sel datia Langhans, bila infeksi ini tidak segera diatasi akan terjadi reaksi
berlebihan dan masa epiteloid akan menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan sekitarnya.
Sel Schwann merupakan sel target untuk pertumbuhan M.leprae, disamping itu sel
Schwann berfungsi sebagai demielinisasi dan hanya sedikit fungsinya sebagai fagositosis.
Jadi, bila terjadi gangguan imunitas tubuh dalam sel Schwann, kuman dapat bermigrasi dan
beraktivasi. Akibatnya aktifitas regenerasi saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang
progresif.4

Kontak

Infeksi

non infeksi

Subklinis
95%
sembuh
70%
Intermediate (I)
30 %

Determinate

TT

Ti

BT

BB

BL

Li

LL

Gambar 1. patogenesis MH

Klasifikasi 2
Klasifikasi umum :
Klasifikasi Madrid
-

Intermediet

Tuberkuloid

Borderline-dimorphous

Lepromatosa

Klasifikasi Ridley-jopling
-

Tuberkuloid

Boderline tuberkuloid

Mid-borderline

Borderline lepromatous

Lepromatosa

Klasifikasi WHO dan Modifikasi WHO


-

Pausibasilar (PB)
Hanya MH tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan BTA negatif menurut
kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi madrid.

Multibasilar (MB)
Termasuk MH tipe LL, BL, BB dan sebagian BT menurut kriteria Ridley dan
Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe MH dengan BTA
positif.

Tabel 1. perbedaan tipe PB dan MB menurut klasifikasi WHO 1


PB
1. Lesi kulit (makula

1-5 lesi

yang datar, papul yang

Hipopigmentasi/eritema

meninggi, infiltrat, plak

MB

> 5 lesi

Distribusi tidak simetris

Distribusi simetris

Hilangnya sensasi yang

Hilangnya sensasi

eritem, nodus)
2. Kerusakan saraf
(menyebabkan hilangnya

jelas

kurang jelas

sensasi/kelemahan otot

yang dipersarafi oleh

saraf yang terkena)

Hanya satu cabang

Banyak cabang saraf

saraf

Manifestasi klinis 4,5


Manifestasi klinis penyakit MH pada pasien mencerminkan tingkat kekebalan selular
pasien tersebut. Gejala dan keluhannya tergantung pada :

multifikasi dan diseminasi kuman M.leprae

respon imun penderita terhadap kuman M.leprae

komplikasi yang diakibatkan oleh kerusakan saraf perifer.

Ada 3 tanda kardinal, jika salah satunya ada, tanda tersebut telah cukup untuk
menetapkan diagnosis penyakit MH ini.
1. lesi kulit yang anestesi
2. penebalan saraf perifer
3. ditemukan M.leprae (bakteriologis positif)
Adapun klasifikasi yang banyak dipakai dalam bidang penelitian adalah klasifikasi
menurut Ridley dan Jopling yang mengelompokan penyakit MH menjadi 5 kelompok
berdasarkan gambaran klinis, bakteriologis, histopatologis, dan imunologis.

1. Tipe Tuberkuloid (TT)


Lesi ini mengenai baik kulit maupun saraf. Lesi kulit bisa satu atau beberapa, dapat
berupa makula atau plakat, batas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi
yang regrasi atau central healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang
meninggi bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis atau tinea sirsinata. Dapat
disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan otot, dan sedikit rasa
gatal. Adanya infiltrasi tuberkuloid dan tidak adanya kuman merupakan tanda
terdapatnya respon imun pejamu yang adekuat terhadap kuman MH
6

2. Tipe Boderline Tuberkuloid (BT)


Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT, yakni berupa makula atau plak yang sering
disertai lesi satelit di tepinya. Jumlah lesi dapat satu atau beberapa, tetapi
hipopigmentasi,

kekeringan

kulit

atau

skuama

tidak

sejelas

tipe tuberkuloid.

Gangguan saraf tidak seberat tipe tuberkuloid, dan biasanya asimetris. Lesi satelit
biasanya ada dan terletak dekat saraf perifer yang menebal.
3. Tipe Mid Borderline (BB)
Merupakan tipe yang paling tidak stabil dari semua tipe dalam spektrum penyakit
MH. Merupakan bentuk dimorfik. Lesi dapat berupa makula infiltratif, permukaan
lesi dapat berkilap, batas lesi kurang jelas dengan jumlah lesi yang melebihi tipe BT
dan cenderung simetris. Lesi sangat bervariasi baik dalam ukuran, bentuk, ataupun
distribusinya. Bisa didapatkan lesi punched out yang merupakan ciri khas tipe ini.
4. Tipe Borderline Lepromatous (BL)
Lesi dimulai dengan makula. Awalnya hanya dalam jumlah sedikit dan dengan cepat
menyebar ke seluruh badan. Makula lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya. Papul
dan nodus lebih tegas dengan distribusi lesi yang hampir simetris dan beberapa nodus
tampaknya melekuk pada bagian tengah. Lesi bagian tengah sering tampak normal
dengan bagian pinggir dalam infiltrat lebih jelas dibandingkan dengan pingir luarnya,
dan beberapa plak tampak seperti punched out. Tanda-tanda kerusakan saraf berupa
kerusakan sensasi, hipopigmentasi, berkurangnya keringat, dan hilangnya rambut
lebih cepat muncul dibandingkan dengan tipe LL. Penebalan saraf dapat teraba pada
tempat-tempat penebalan saraf.
5. Tipe Lepromatosa (LL)
Jumlah lesi sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritematosa, berkilap,
berbatas tidak tegas, dan pada stadium dini tidak ditemukan anestesi dan anhidrosis.

Distribusi lesi khas, yakni di wajah, mengenai dahi, pelipis, dagu, cuping telinga,
sedangkan di badan mengenai bagian yang dingin, lengan, punggung tangan, dan
permukaan ekstensor tungkai bawah. Pada stadium lanjut terdapat penebalan kulit
yang progresif, cuping telinga menebal, garis muka menjadi kasar, dan cekung
membentuk facies leonina yang dapat disertai dengan madarosis, iritis, keratitis.
Lebih lanjut dapat terjadi deformitas hidung. Dapat dijumpai pembesaran kelenjar
limfe, orkitis yang selanjutnya dapat terjadi atrofi testis. Kerusakan saraf yang luas
menyebabkan gejala stocking and glove anaesthesia. Bila menjadi progresif, muncul
makula dan papula baru sedangkan lesi lama menjadi plakat dan nodus. Pada stadium
lanjut serabut-serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang
menyebabkan anestesi dan pengecilan otot tangan dan kaki.

Tanda tanda Penyakit Kusta


Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari
penyakit tersebut, yaitu:

Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia

Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar
dan banyak.

Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris,

medianus,

auricularis,

magnusserta peroneus.

Kelenjar keringat kurang bekerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.

Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit

Alis rambut rontok

Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leonina (mukasinga).

Diagnosa Penyakit Kusta


Menyatakan

(mendiagnosa

seseorang

menderita

penyakit

kusta

menimbulkan

berbagai masalah baik bagi penderita, keluarga ataupun masyarakat disekitarnya). Bila ada
keraguan-raguan sedikit saja pada diagnosa, penderita harus berada dibawah pengamatan
hingga timbul gejala-gejala yang jelas, yang mendukung bahwa penyakit itu benar-benar
kusta. Diagnosa kusta dan klasifikasi harus dilihat secara menyeluruh dari segi :
a. Klinis
b. Bakteriologis
c. Immunologis
d. Histopatologis
Namun untuk diagnosis kusta di lapangan cukup dengan anamnesis dan pemeriksaan
klinis. Bila ada keraguan dan fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan pemeriksaan
bakteriologis. Kerokan dengan pisau scalpel dari kulit, selaput lender hidung bawah atau dari
biopsi cuping telinga, dibuat sediaan mikrokopis padagelas alas dan diwarnai dengan teknis
Ziehl Neelsen. Biopsi kulit atau saraf yang menebal memberikan gambaran histologis yang
khas. Tes-tes serologic bukan treponema untuk sifilis sering menghasilkan positif palsu pada
lepra.

Pemeriksaan penunjang:
1.

Pemeriksaan bakterioskopik

Pemeriksaan BTA dengan Ziehl-Nielsen


Bahan pemeriksaan diambil dari 4-6 tempat, yaitu kedua cuping telinga bagian bawah
dan 2 atau 4 lesi lain yang paling aktif berarti yang paling eritematosa dan paling
infiltratif.

Indeks Morfologi
Untuk menentukan persentasi BTA hidup atau mati
Rumus:
Jumlah BTA solid x 100 % = X %
Jumlah BTA solid + non solid
Guna: Untuk melihat keberhasilan terapi
Untuk melihat resistensi kuman BTA
Untuk melihat infeksiositas penyakit

Indeks Bakteri
UntukmenentukanklasifikasipenyakitLepra,

denganmelihatkepadatan

BTA

tanpamelihatkumanhidup (solid) ataumati (fragmented/ granular).


0

BTA -

1 10/ 100 L.P

+1

1 10/ 10 L.P

+2

1 10/ 1 L.P

+3

10 100/ 1 L.P

+4

100 1000/ 1 L.P

+5

> 1000/ 1 L.P

+6

10

2.

Pemeriksaan histopatologik
Untuk membedakan tipe TT & LL
Pada tipe TT ditemukan Tuberkel (Giant cell, limfosit)
Pada tipe LL ditemukan sel busa (Virchow cell/ sel lepra) yi histiosit dimana di
dalamnya BTA tidak mati, tapi berkembang biak membentuk gelembung. Ditemukan
lini tenang (subepidermal clear zone).

3.

Pemeriksaan serologik
Tes ELISA
Uji MLPA (Mycobacterium Leprae Partikel Aglutination)
ML dipstick

Pengobatan5
Paket terapi multiobat (MDT/Multi Drug Therapy)
Sampai pengembangan dapson, rifampin, dan klofazimin pada 1940an, tidak ada
pengobatan yang efektif untuk kusta. Namun, dapson hanyalah obat bakterisidal (pembasmi
bakteri) yang lemah terhadap M. leprae. Penggunaan tunggal dapson menyebabkan populasi
bakteri menjadi kebal. Pada 1960an, dapson tidak digunakan lagi.
Pencarian terhadap obat anti kusta yang lebih baik dari dapson, akhirnya menemukan
klofazimin dan rifampisin pada 1960an dan 1970an.Kemudian, Shantaram Yawalkar dan
rekannya merumuskan terapi kombinasi dengan rifampisin dan dapson, untuk mengakali
kekebalan bakteri. Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat di atas pertama kali
direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada 1981. Cara ini menjadi standar pengobatan
multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan sebagai obat tunggal untuk mencegah kekebalan
atau resistensi bakteri.

11

Terapi di atas lumayan mahal, maka dari itu cukup sulit untuk masuk ke negara yang
endemik. Pada 1985, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di 122 negara. Pada
Pertemuan Kesehatan Dunia

ke-44 di Jenewa, 1991, menelurkan sebuah resolusi untuk

menghapus kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000, dan berusaha
untuk ditekan menjadi 1 kasus per 100.000. WHO diberikan mandat untuk mengembangkan
strategi penghapusan kusta.
Kelompok

Kerja

WHO

melaporkan

Kemoterapi

Kusta

pada

1993

dan

merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar. Yang pertama adalah pengobatan
selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang
kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.

Reaksi Kusta
Reaksi kusta : suatu keadaan gejala dan tanda radang akut lesi penderita kusta yang terjadi
dalam perjalanan penyakitnya, yang diduga disebabkan hipersensitivitas akut terhadap Ag
basil yang menimbulkan gangguan keseimbangan imunitas yang telah ada. Ada dua tipe
reaksi berdasarkan hipersensitivitas yang menyebabkannya:
12

1. Tipe 1

: disebabkanolehhipersensitivitasseluler (Reversal Reaction)

2. Tipe 2

: disebabkanolehhipersensitivitas humoral(Eritema Leprosum Nodosum)

Manifestasi / gambaranklinisreaksikusta:
REAKSI TIPE 1
Organ yang
diserang
Kulit

Saraf

Kulit dan saraf


bersama-sama

Reaksi ringan
Lesi kulit yang telah ada
dan menjadi eritematosa.

Membesar, tidak nyeri


fungsi tidak terganggu,
berlangsung kurang dari
6 rainggu.
Lesi yang telah ada
menjadi lebih
eritematosa, nyeri pada
saraf berlangsung kurang
dari 6 minggu.

Reaksi berat
Lesi yang telah ada menjadi
eritematosa, timbul lesi baru yang
kadang-kadang disertai panas dan
malaise
Membesar, nyeri, fungsi
terganggu, berlangsung lebih dari
6 minggu.
Lesi kulit yang eritematosa
disertai ulserasi atau edem pada
tangan / kaki. Saraf membesar,
nyeri, dan fungsinya terganggu,
Berlangsung sampai 6 minggu
atau lebih.

REAKSI TIPE 2
Organ yang diserang
Kulit

Mata

Reaksi ringan
Timbul sedikit nodus
yang beberapa
diantaranya terjadi
ulserasi. Disertai demam
ringan dan malaise.
Saraf membesar tetapi
nyeri dan fungsinya
tidak terganggu.
Tidak ada gangguan

Testis

Lunak, tidak nyeri.

Kulit, saraf mata, dan


testis bersama-sama

Gejalanya seperti
tersebut diatas.

Saraf

Reaksi berat
Banyak nodus yang nyeri
dan mengalamt ulserasi
disertai demam tinggi dan
malaise.
Saraf membesar, nyeri,
dan fungsinya terganggu.
Nyeri, penumnan visus,
dan merah di sekitar
limbus.
Lunak, nyeri, dan
membesar.
Gejalanya seperti
tersebut diatas disertai
keadaan sakit yang keras
dan nyeri yang sangat.
13

BAB II
ILUSTRASI KASUS

IDENTITAS PASIEN :

Nama

: Tn. A

Umur

: 64 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Petani Gambir (berhenti sejak 2 tahun yang lalu)

Status

: Sudah menikah

Alamat

: Sawah Baliak Laweh, Kec. Bungo Tanjuang

Agama

: Islam

Suku

: Minangkabau

Tanggal Pemeriksaan : 10 Oktober 2015


Nomor HP

: 082285106002

Seorang pasien laki-laki berumur 64 tahun datang ke Balai Pengobatan Pengabdian


Masyarakat Bagian IK. Kulit dan Kelamin FK UNAND/PERDOSKI Cabang Padang dengan:

KELUHAN UTAMA:
Tukak yang tidak sembuh-sembuh pada telapak kaki kanan dan kiri sejak 2 tahun yang lalu.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG:


-

Tukak yang tidak sembuh-sembuh pada telapak kaki kanan dan kiri sejak 2 tahun
yang lalu. Keluhan ini diawali dengan kesemutan dan mati rasa pada kedua kaki sejak
3 tahun yang lalu, kemudian diikuti dengan retak-retak pada kaki pasien, hingga
akhirnya muncul tukak pertama kali pada telapak kaki kanan dan kemudian muncul
tukak di telapak kaki kiri pasien.

Kesemutan dan mati rasa mula-mula dirasakan pada tangan kanan sejak 3 tahun yang
lalu, kemudian meluas ke tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri.

Keluarga pasien juga mengeluhkan pasien sering tidak sadar jika sendalnya terlepas
ketika menaiki sepeda motor.

Keluhan kesemutan dan mati rasa ini diawali dengan munculnya bercak-bercak putih
14

yang semakin lama semakin meluas sejak 4 tahun yang lalu. Bercak-bercak putih
tersebut awalnya muncul di bagian punggung lalu semakin lama semakin meluas
hingga ke pinggang kiri dan kanan, dada, leher, lengan atas kanan, dan lengan atas
kiri.
-

Riwayat alis mata rontok ada sejak 2 tahun yang lalu.

Riwayat rambut dan bulu mata rontok tidak ada.

Riwayat kelopak mata tidak dapat menutup sempurna dan mata kering tidak ada.

Riwayat penglihatan berkurang ada sejak 1 tahun yang lalu.

Riwayat kontak dengan penderita bercak-bercak putih mati rasa ada, yaitu dengan
tetangga pasien.

Riwayat kontak dengan penderita jari kaki dan tangan bengkok/buntung ada, yaitu
dengan tetangga pasien.

Riwayat kontak dengan orang yang minum obat paket ada, yaitu dengan tetangga
pasien.

Riwayat demam yang disertai bentol-bentol merah yang nyeri di kulit tidak ada.

Riwayat nyeri sendi tidak ada.

Penurunan berat badan ada, tetapi pasien tidak tahu berapa kg penurunannya.

Riwayat mendapat pengobatan jangka lama tidak ada.

Pasien lahir dan tinggal di Nenan selama 18 tahun dan pindah ke Pekanbaru selama 1
tahun, kemudian pindah ke Maek pada tahun 1970 dan tinggal di Maek hingga
sekarang.

RIWAYAT PENGOBATAN:
-

Pasien menaburkan isi kapsul warna hijau dan putih untuk pengobatan tukak pada
telapak kakinya. Kapsul tersebut dibelinya sendiri, dan pasien telah menggunakannya
selama 2 tahun, rutin 1x sehari, dan masih digunakan hingga sekarang. Akan tetapi,
tukak pada telapak kaki pasien tidak kunjung sembuh.

Pasien juga mengoleskan propolis pada tukak di telapak kakinya tersebut. Pasien
mengoleskannya 2x sehari, dan sudah menggunakannya selama 3 bulan, akan tetapi,
tukak pada telapak kaki pasien tidak kunjung sembuh.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU:


-

Pasien tidak pernah menderita bercak-bercak putih yang disertai hilang rasa
15

sebelumnya.
-

Riwayat menderita batuk-batuk lama tidak ada.

Riwayat hipertensi disangkal.

Riwayat DM disangkal.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA/ ATOPI / ALERGI:


-

Tidak ada anggota keluarga yang menderita bercak-bercak putih yang disertai hilang
rasa.

Tidak ada anggota keluarga yang menderita kelainan berupa pemendekan, kaku,
bengkok, ataupun buntung pada jari-jari tangan dan kaki.

Tidak ada anggota keluarga yang menderita luka/ulkus yang tidak sembuh-sembuh.

Tidak ada anggota keluarga yang menderita batuk-batuk lama.

Riwayat bersin-bersin pada pagi hari tidak ada.

Riwayat asma tidak ada.

Riwayat alergi makanan tidak ada.

Riwayat alergi obat tidak ada.

Riwayat serbuk sari atau debu tidak ada.

Riwayat mata merah, berarir, dan gatal tidak ada.

Riwayat biring susu tidak ada.

Riwayat galigato tidak ada.

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI, PEKERJAAN DAN LINGKUNGAN:


-

Pasien lahir di Nenan, dan pindah ke Pekanbaru pada usia 18 tahun. Setelah 1 tahun
tinggal di Pekanbaru, pasien pindah ke Maek, dan menetap di Maek sampai sekarang.

Pasien sudah menikah, memiliki 1 orang istri, 4 orang anak (1 laki-laki dan 3
perempuan), serta 6 orang cucu (3 laki-laki dan 3 perempuan).

Pasien tinggal di rumah berukuran 10 x 8 m, lantai rumah semen, dinding tembok,


atap seng. Jumlah kamar 3, ventilasi dan pencahayaan kurang.

Jamban di luar rumah, sumber air dari sumur.

Pasien tinggal di rumah berdua bersama istrinya.

Pasien adalah seorang petani gambir di Maek, dan sudah berhenti bekerja sejak 2
tahun yang lalu.

Istri pasien bekerja sebagai petani dan peternak ayam dengan penghasilan Rp
500.000 per bulan.
16

PEMERIKSAAN FISIK

STATUS GENERALISATA:
Keadaan Umum

: tampak sakit ringan

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Status gizi

: BB

= 55 kg

TB

= 160 cm

BMI

= 21,48 kg/m2

Kesan = normoweight
Frekuensi nadi

: diharapkan dalam batas normal

Frekuensi nafas

: diharapkan dalam batas normal

Tekanan darah

: diharapkan dalam batas normal

Suhu

: diharapkan dalam batas normal

Rambut

: tidak mudah dicabut dan tidak rontok

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,


lagoftalmus tidak ada, madarosis ada

Hidung

: tidak ada deformitas

Pemeriksaan thorak

: diharapkan dalam batas normal

Pemeriksaan abdomen

: diharapkan dalam batas normal

Ekstremitas

: terdapat lesi pada lengan atas kiri, lengan atas kanan,


kaki kiri, dan kaki kanan.

Kelenjar getah bening

: diharapkan tidak terdapat perbesaran kgb

STATUS DERMATOLOGIKUS:
-

Lokasi

: dada, lengan atas kanan, lengan atas kiri, leher samping kiri, leher
samping kanan, leher belakang, punggung, pinggang kiri, pinggang
kanan, kaki kiri, dan kaki kanan.

Distribusi

: terlokalisir

Bentuk

: khas, tidak khas

Susunan

: tidak khas

Batas

: tegas, tidak tegas

Ukuran

: lentikuler sampai plakat

Efloresensi

:
17

a. Makula hipopigmentasi pada dada, lengan atas kanan, lengan atas kiri,
leher samping kiri, leher samping kanan, leher belakang, punggung,
pinggang kiri, pinggang kanan, punggung kaki kiri, dan pergelangan kaki
kiri.
b. Ulkus berukuran 3 cm x 2,5 cm, bentuk tidak khas, tepi tidak rata, dinding
bergaung, dasar jaringan granulasi, jaringan di sekitarnya tidak terdapat
tanda-tanda radang, pada sisi medial telapak kaki kanan.
c. Ulkus berukuran 0,5 cm x 1 cm, bentuk lonjong, tepi rata, dinding tidak
bergaung, dasar jaringan granulasi, jaringan di sekitarnya tidak terdapat
tanda-tanda radang, pada telapak ibu jari kaki kiri.
d. Ulkus berukuran 2 cm x 1 cm, bentuk tidak khas, tepi tidak rata, dinding
bergaung, dasar jaringan granulasi, jaringan di sekitarnya tidak terdapat
tanda-tanda radang, di antara ibu jari kaki kiri dan telunjuk kaki kiri.
e. Likenifikasi pada punggung kaki kiri.
-

Jumlah lesi

:>5

18

Foto Pasien

19

20

21

Pemeriksaan Sensibilitas:

Rasa raba

: anestesi di tangan kanan, tangan kiri, kaki kiri, dan


kaki kanan.

Rasa nyeri

: anestesi di tangan kanan, tangan kiri, kaki kiri, dan


kaki kanan.

Rasa suhu

: diharapkan terdapat anestesi di tangan kanan,


tangan kiri, kaki kiri, dan kaki kanan..

Pembesaran Saraf Perifer:


Nervus

Kanan

Kiri

N. aurikularis

tidak ada pembesaran dan tidak ada pembesaran dan

magnus

tidak nyeri

N. Ulnaris

terdapat

tidak nyeri
pembesaran

nyeri
N. peroneus komunis

pembesaran

dan

nyeri

tidak ada pembesaran dan tidak ada pembesaran dan


tidak nyeri

N. tibialis posterior

dan terdapat

tidak nyeri

tidak ada pembesaran dan tidak ada pembesaran dan


tidak nyeri

tidak nyeri

Pemeriksaan Kekuatan Otot:


Musculus

Kanan

Kiri

M. Orbicularis oculi

Kuat

Kuat

M. Abductor digiti

Lemah

Lemah

M. Interoseus dorsalis

Kuat

Kuat

M. Abductor policis

Kuat

Kuat

Lemah

Lemah

minimi

brevis
M. Tibialis anterior

Pemeriksaan Saraf Otonom:


Anhidrosis

: diharapkan tinta lebih tebal pada kulit normal.

22

Pemeriksaan kecacatan:

Kontraktur

: ada, pada sendi pergelangan kaki kanan dan kiri

Mutilasi

: tidak ada

Atrofi otot

: tidak ada

Xerosis kutis

: tidak ada

Absorbsi

: tidak ada

Ulkus trofik

: ada, pada telapak kaki kanan dan kiri

Madarosis

: ada, pada alis mata kanan dan kiri

Lagoftalmus

: tidak ada

Claw hand

: tidak ada

Wrist drop

: tidak ada

Dropped foot

: tidak ada

Facies leonina

: tidak ada

Status Venereologikus

: diharapkan tidak ada kelainan

Kelainan selaput

: Tidak ditemukan kelainan

Kelainan kuku

: seluruh kuku jari kaki kanan, kuku jari I

Lokasi

kaki kiri, dan kuku III kaki kiri.


-

Efloresensi

: onycodistrofi (+), warna kuku kekuningan,


jaringan di sekitar kuku tidak terdapat tandatanda peradangan.

Kelainan rambut

: Tidak ditemukan kelainan

RESUME:
-

Tukak yang tidak sembuh-sembuh pada telapak kaki kanan dan kiri sejak 2
tahun yang lalu. Keluhan ini diawali dengan kesemutan dan mati rasa pada
kedua kaki sejak 3 tahun yang lalu, kemudian diikuti dengan retak-retak
pada kaki pasien, hingga akhirnya muncul tukak pertama kali pada telapak
kaki kanan dan kemudian muncul tukak di telapak kaki kiri pasien.

Kesemutan dan mati rasa mula-mula dirasakan pada tangan kanan sejak 3
tahun yang lalu, kemudian meluas ke tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri.

23

Keluarga pasien juga mengeluhkan pasien sering tidak

sadar jika

sendalnya terlepas ketika menaiki sepeda motor.


-

Keluhan kesemutan dan mati rasa ini diawali dengan munculnya bercakbercak putih yang semakin lama semakin meluas sejak 4 tahun yang lalu.
Bercak-bercak putih tersebut awalnya muncul di bagian punggung lalu
semakin lama semakin meluas hingga ke pinggang kiri dan kanan, dada,
leher, lengan atas kanan, dan lengan atas kiri.

Riwayat alis mata rontok ada sejak 2 tahun yang lalu.

Riwayat penglihatan berkurang ada sejak 1 tahun yang lalu.

Riwayat kontak dengan penderita bercak-bercak putih mati rasa ada, yaitu
dengan tetangga pasien.

Riwayat kontak dengan penderita jari kaki dan tangan bengkok/buntung


ada, yaitu dengan tetangga pasien.

Riwayat kontak dengan orang yang minum obat paket ada, yaitu dengan
tetangga pasien.

Riwayat nyeri sendi tidak ada.

Penurunan berat badan ada,

tetapi pasien tidak

tahu berapa kg

penurunannya.
-

Pasien menaburkan isi kapsul warna hijau dan putih untuk pengobatan
tukak pada telapak kakinya. Kapsul tersebut dibelinya sendiri, dan pasien
telah menggunakannya selama 2 tahun, rutin 1x sehari, dan masih
digunakan hingga sekarang. Akan tetapi, tukak pada telapak kaki pasien
tidak kunjung sembuh.

Pasien juga mengoleskan propolis pada tukak di telapak kakinya


tersebut. Pasien mengoleskannya 2x sehari, dan sudah menggunakannya
selama 3 bulan, akan tetapi, tukak pada telapak kaki pasien tidak kunjung
sembuh.

Pasien lahir di Nenan, dan pindah ke Pekanbaru pada usia 18 tahun.


Setelah 1 tahun tinggal di Pekanbaru, pasien pindah ke Maek, dan menetap
di Maek sampai sekarang.

Pasien sudah menikah, memiliki 1 orang istri, 4 orang anak (1 laki-laki dan
3 perempuan), serta 6 orang cucu (3 laki-laki dan 3 perempuan).

24

Pasien tinggal di rumah berukuran 10 x 8 m, lantai rumah semen,


dinding tembok, atap seng. Jumlah kamar 3, ventilasi dan pencahayaan
kurang.

Jamban di luar rumah, sumber air dari sumur.

Pasien tinggal di rumah berdua bersama istrinya.

Pasien adalah seorang petani gambir di Maek, dan sudah berhenti bekerja
sejak 2 tahun yang lalu.

Istri pasien bekerja sebagai petani dan peternak ayam dengan penghasilan
Rp 500.000 per bulan.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan lesi pada dada, lengan atas kanan,
lengan atas kiri, leher samping kiri, leher samping kanan, leher belakang,
punggung,

pinggang

kiri,

dan

pinggang

kanan

dengan

distribusi

terlokalisir, bentuk khas dan tidak khas, susunan tidak khas, batas tegas
dan tidak tegas, ukuran lentikular sampai plakat, dan efloresensi berupa
makula hipopigmentasi. Jumlah > 5.
-

Ditemukan ulkus berukuran 3 cm x 2,5 cm, bentuk tidak khas, tepi tidak
rata, dinding bergaung, dasar jaringan granulasi, jaringan di sekitarnya
tidak terdapat tanda-tanda radang, pada sisi medial telapak kaki kanan.

Ditemukan ulkus berukuran 0,5 cm x 1 cm, tepi rata, bentuk lonjong,


dinding tidak bergaung, dasar jaringan granulasi, jaringan di sekitarnya
tidak terdapat tanda-tanda radang, pada telapak ibu jari kaki kiri.

Ditemukan ulkus berukuran 2 cm x 1 cm, bentuk tidak khas tepi tidak rata,
dinding bergaung, dasar jaringan granulasi, jaringan di sekitarnya tidak
terdapat tanda-tanda radang, di antara ibu jari kaki kiri dan telunjuk kaki
kiri.

Likenifikasi pada punggung kaki kiri.

Ditemukan onicodystrophy dan warna kuku kekuningan dengan jaringan


di sekitar kuku tidak terdapat tanda-tanda peradangan pada seluruh kuku
jari kaki kanan, kuku I kaki kiri, dan kuku III kaki kiri.

Dari pemeriksaan sensibilitas raba dan nyeri, didapatkan anestesi pada


tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri.

Didapatkan pembesaran dan nyeri tekan pada n. ulnaris kiri dan kanan.

25

Dari pemeriksaan kekuatan otot didapatkan kelemahan pada m. abductor


digiti minimi kiri dan kanan serta m. tibialis anterior kiri dan kanan.

Ditemukan kontraktur pada sendi pergelangan kaki kanan dan kiri, serta
ulkus trofik.

DIAGNOSIS KERJA:
Morbus Hansen tipe LL + kecacatan derajat 1

DIAGNOSIS BANDING:
Morbus Hansen tipe BL + kecacatan derajat 1

PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN RUTIN:

Pemeriksaan BTA:
Pewarnaan Ziehl Neelsen: dari cuping telinga dextra (-), dari cuping telinga
sinistra (-)
Hasil: 0 BTA dalam 100 lapangan pandang
Kesan: BTA (-)

26

PEMERIKSAAN ANJURAN:

Pemeriksaan histopatologik

Pemeriksaan serologik

Lepromin test

DIAGNOSIS:
Morbus Hansen tipe LL + kecacatan derajat I

TERAPI
Umum:

Menjelasan mengenai penyakit (penyebab, penularan dan komplikasi) dan


pengobatan pada pasien, serta kontrol rutin tiap bulan ke Puskesmas,
berobat teratur sampai dinyatakan sembuh.

Mengistirahatkan kaki yang memiliki tukak.

Untuk mencegah terjadinya luka baru, menjelaskan pada pasien bahwa


daerah yang mati rasa merupakan tempat risiko terjadinya luka, dan luka
merupakan tempat masuknya kuman sehingga hindari luka dengan cara
selalu memakai alas kaki saat berdiri dan berjalan, jangan berjalan terlalu
lama, bila ingin berpergian jauh dianjurkan untuk memakai kendaraan,
serta berhati - hati terhadap api, air panas, dan benda-benda panas lainnya

Menjelaskan pada pasien bahwa efek samping obat menyebabkan warna


buang air kecil berwarna merah, mata menjadi kuning, warna kulit
menjadi merah kecokelatan sehingga pasien tidak perlu khawatir.

Memberitahu pada pasien jika terdapat efek samping obat seperti nyeri
perut, mual muntah, berat badan yang menurun drastis dalam waktu
singkat segera kembali ke Puskesmas untuk mendapat penanganan
selanjutnya.

Segera kembali ke Puskesmas jika penyakit bertambah parah, seperti lesi


menjadi merah disertai nyeri.

27

Menerangkan kepada pasien, jika ada keluarga yang menderita keluhan


yang sama segera dibawa berobat.

Khusus:
Paket MH tipe MB warna merah selama 12 18 bulan

hari 1

: Rifampisin 600 mg (2 x 300 mg)


Klofazimin 300 mg (3 x 100 mg)
Dapson 100 mg

hari 2-28

: Klofazimin 50 mg/hari
Dapson 100 mg/hari

Diberikan sebanyak 12 paket. Setiap bulannya diberikan 1 paket.

PROGNOSIS:
Quo Ad Vitam

: dubia ad bonam

Quo Ad Sanationam

: dubia ad bonam

Quo Ad Kosmetikum

: dubia ad malam

Quo Ad Functionam

: dubia ad malam

28

Resep

dr. Zahra Reki Mei


Praktek Umum
SIP : 1234567890
Hari : Senin- Jumat
Jam: 19.00 21.00
Alamat : Jl. Pemuda no. 198 Padang
No Telp : (0751) 12345
Padang, 10 Oktober 2015

R/ MDT MB No. I
S.i.m.m

Pro

: Tn. A

Umur

: 64 Tahun

Alamat

: Maek, Payakumbuh

29

BAB III
DISKUSI

Seorang pasien laki-laki berusia 64 tahun datang ke Balai Pengobatan


Pengabdian Masyarakat Bagian IK. Kulit dan Kelamin FK UNAND/PERDOSKI
Cabang Padang dengan keluhan tukak yang tidak sembuh-sembuh pada telapak
kaki kanan dan kiri sejak 2 tahun yang lalu. Berdasarkan anamnesis, dan
pemeriksaan fisik, diagnosis yang mungkin ditegakkan adalah morbus Hansen
tipe LL.
Faktor risiko yang dimiliki pasien adalah pasien pindah dan telah tinggal
selama 45 tahun di Maek yang sudah dikenal sebagai daerah endemik kusta.
Pasien juga memiliki riwayat kontak dengan penderita bercak-bercak putih mati
rasa, penderita jari kaki dan tangan bengkok/buntung, dan dengan orang yang
minum obat paket, yaitu tetangga pasien. Pasien juga tergolong ke dalam sosial
ekonomi rendah, yang selain merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit
kusta juga dapat memperberat penyakitnya.
Berdasarkan teori, lesi morbus Hansen tipe LL dapat berupa makula,
infiltrat difus, papul, ataupun nodus, dengan jumlah yang tidak terhitung, dan
distribusi simetris. Permukaan lesi halus berkilat, batas tidak jelas, dan anesthesia
tidak ada sampai tidak jelas. Pada pasien ini ditemukan lesi pada dada, lengan atas
kanan, lengan atas kiri, leher samping kiri, leher samping kanan, leher belakang,
punggung, pinggang kiri, dan pinggang kanan dengan distribusi terlokalisir,
bentuk khas dan tidak khas, susunan tidak khas, batas tegas dan tidak tegas,
ukuran lentikular sampai plakat, dan efloresensi berupa makula hipopigmentasi,
dengan jumlah sangat banyak (>5). Pada pasien ini juga didapatkan anestesi pada
kedua tangan dan kakinya (stocking gloves anesthesia) yang merupakan tanda
khas pada morbus Hansen tipe LL. Selain itu, juga didapatkan pembesaran dan
nyeri tekan pada n. ulnaris kiri dan kanan, kelemahan pada m. abductor digiti
minimi kiri dan kanan, m. tibialis anterior kiri dan kanan, serta madarosis yang
artinya telah terjadi penekanan dan pendesakan jaringan sekitar oleh granuloma
yang terbentuk sebagai reaksi terhadap M. leprae (deformitas primer). Pada pasien
juga ditemukan kontraktur pada sendi pergelangan kaki kanan dan kiri serta ulkus

30

di telapak kaki kanan dan kirinya, yang merupakan deformitas sekunder yang
terjadi akibat deformitas primer (terutama kerusakan saraf).
Diagnosis banding yang mungkin adalah morbus Hansen tipe BL, dimana
lesinya juga dapat berupa makula, jumlahnya sukar dihitung, hampir simetris,
dengan anesthesia tidak jelas.
Berdasarkan pemeriksaan BTA didapatkan hasil negatif, padahal menurut
teori, hasil pemeriksaan BTA pada morbus Hansen tipe LL yaitu ditemukan
banyak kuman (terdapat globus). Hal ini mungkin dikarenakan pengambilan
sampel yang salah dan sampel tidak langsung diperiksa.
Untuk penatalaksaan pada pasien ini meliputi penjelasan mengenai penyakit
(penyebab, penularan dan komplikasi), pengobatan pada pasien dan keluarga,
serta kontrol rutin tiap bulan ke Puskesmas, berobat teratur sampai dinyatakan
sembuh, dan mengistirahatkan kaki yang memiliki tukak. Untuk mencegah
terjadinya luka baru, dijelaskan pada pasien bahwa daerah yang mati rasa
merupakan tempat risiko terjadinya luka, dan luka merupakan tempat masuknya
kuman sehingga hindari luka dengan cara selalu memakai alas kaki saat berdiri
dan berjalan, jangan berjalan terlalu lama, dan bila ingin berpergian jauh
dianjurkan untuk memakai kendaraan, serta berhati - hati terhadap api, air panas,
dan benda-benda panas lainnya. Menjelaskan pada pasien bahwa penggunaan
rifampisin menyebabkan warna buang air kecil berwarna merah sehingga pasien
tidak perlu khawatir, memberitahu pada pasien jika terdapat efek samping obat
segera kembali ke dokter untuk

mendapat penanganan selanjutnya, serta

menerangkan kepada pasien, untuk segera kembali ke Puskesmas jika penyakit


bertambah parah, seperti lesi menjadi merah disertai nyeri, dan jika ada keluarga
yang menderita keluhan yang sama segera dibawa berobat.
Terapi khusus yang diberikan berupa Paket MH tipe MB yang berwarna
merah selama 12 18 bulan, yang terdiri dari rifampicin 600 mg pada hari
pertama, klofazimin 300 mg pada hari pertama, dan dilanjutkan 50 mg setiap
harinya, serta dapson 100 mg setiap hari. Prognosis pada pasien ini adalah dubia
ad bonam untuk quo ad vitam dan sanationam, serta dubia ad malam untuk quo ad
functionam dan kosmetikumnya.

31

DAFTAR PUSTAKA

1. Kosasih A, dkk. 2007. Kusta dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Jakarta: FKUI. Hal 73-88
2. Wolff, Klaus.Richard Allen Johnson.Arturo P. Saavedra. 2013. Leprosy
dalam Fitzpatricks Color Atlas and Synopsis Of Clinical Dermatology
Seventh Edition. . New York: Mc Graw Hill. Hal 569-574.
3. James, William D. Timothy G. Berger. Dirk M Elston. Isaac M Neuhaus.
2011. Hansens disease dalam Andrews Diseases ofthe SkinClinical
Dermatology. Philadelphia : Elsevier.
4. Delphine J. Lee, Thomas H. Rea, &Robert L. Modlin. 2012. Leprosy
dalam FitzpatricksDermatology inGeneral MedicineEighth Edition. New
York: Mc Graw Hill. Hal 2253-2263
5. Siregar Prof Dr RS, SpKK. 2002. Kusta (Lepra) dalam Atlas Berwarna
Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC. Hal 154-163

32