Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu tujuan dari diadakannya praktikum kimia dasar ini adalah
untuk meningkatkan pengetahuan dan keaktifan siswa karena dalam
pelaksanaannya siswa dituntun untuk bekerja, mengamati dan menyimpulkan
sendiri secara langsung apa yang dilihat pada saat praktikum dilaksanakan.
Selain itu, laporan ini dibuat untuk memenuhi kewajiban kami
sebagai siswa dalam menunjang nilai kami dalam mata pelajaran Kimia.

B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Bagaimana membuktikan Reaksi Redoks ?


Bagaimana proses terjadinya Reaksi Redoks ?
Apa zat yang dihasilkan dari Reaksi Redoks ?
Apa yang ditimbulkan dari Reaksi Redoks terhadap zat yang
direaksikan?

C. Tujuan
1.
2.
3.
4.

Membuktikan Reaksi Redoks.


Mengamati proses terjadinya Reaksi Redoks
Mengetahui zat yang dihasilkan dari Reaksi Redoks tersebut.
Mengamati yang ditimbulkan Reaksi Redoks terhadap zat yang
direaksikan.

D. Manfaat
1. Menambah wawasan tentang Reaksi Oksidasi dan Reduksi.
2. Mengetahui bagaimana Reaksi Redoks pada suatu zat terjadi.
3. Melatih kami agar lebih teliti dalam melakukan praktikum serta
memahami hasil dari praktikum.

BAB II
DASAR TEORI
A. Pengertian Reaksi Reduksi Oksidasi (Redoks)
Berdasarkan perkembangannya, reaksi redoks dimulai dari
pemahaman batasan tradisional, yaitu reaksi oksidasi adalah reaksi
pengikatan oksigen, atau pelepasan hidrogen, atau pelepasan elektron.
Sedangkan sebaliknya, reaksi reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen, atau
pengikatan hidrogen, atau pengikatan elektron. Batasan lain yaitu bahwa
reaksi oksidasi adalah reaksi penaikan bilangan oksidasi dan reaksi reduksi
adalah reaksi penurunan bilangan oksidasi.
Kedua reaksi ini selalu terjadi secara bersamaan, serentak, artinya ada
spesies yang teroksidasi dan spesies lainnya tereduksi. Oleh karena itu, lebih
tepat dinyatakan sebagai rekasi reduksi-oksidasi atau disingkat reaksi redoks.

B. Oksidator dan Reduktor


Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengoksidasi
senyawa lain dikatakan sebagai oksidatif dan dikenal sebagai oksidator atau
agen oksidasi. Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain, sehingga
dirinya sendiri tereduksi. Oleh karena ia "menerima" elektron, ia juga disebut
sebagai penerima elektron. Oksidator bisanya adalah senyawa-senyawa yang
memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi yang tinggi (seperti H2O2,
MnO4, CrO3, Cr2O72, OsO4) atau senyawa-senyawa yang sangat
elektronegatif, sehingga dapat mendapatkan satu atau dua elektron yang lebih
dengan mengoksidasi sebuah senyawa (misalnya oksigen, fluorin, klorin, dan
bromin).
Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mereduksi
senyawa lain dikatakan sebagai reduktif dan dikenal sebagai reduktor atau
agen reduksi. Reduktor melepaskan elektronnya ke senyawa lain, sehingga
ia sendiri teroksidasi. Oleh karena ia "mendonorkan" elektronnya, ia juga
disebut sebagai penderma elektron. Senyawa-senyawa yang berupa reduktor
sangat bervariasi. Unsur-unsur logam seperti Li, Na, Mg, Fe, Zn, dan Al
dapat digunakan sebagai reduktor. Logam-logam ini akan memberikan
elektronnya dengan mudah. Reduktor jenus lainnya adalah reagen transfer
2

hidrida, misalnya NaBH4 dan LiAlH4), reagen-reagen ini digunakan dengan


luas dalam kimia organik[1][2], terutama dalam reduksi senyawa-senyawa
karbonil menjadi alkohol. Metode reduksi lainnya yang juga berguna
melibatkan gas hidrogen (H2) dengan katalis paladium, platinum, atau nikel,
Reduksi katalitik ini utamanya digunakan pada reduksi ikatan rangkap dua ata
tiga karbon-karbon.
Cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah, reduktor
mentransfer elektronnya ke oksidator. Sehingga dalam reaksi, reduktor
melepaskan elektron dan teroksidasi, dan oksidator mendapatkan elektron
dan tereduksi. Pasangan oksidator dan reduktor yang terlibat dalam sebuah
reaksi disebut sebagai pasangan redoks.

C. Penentuan Bilangan Oksidasi (Biloks)


1. Biloks atom dalam unsur tunggal = 0 . Contoh Biloks Cu, Fe, H2, O2 dll
=0
2. Golongan IA ( Li, Na, K, Rb, Cs dan Fr ) biloksnya selalu +1
3. Golongan IIA ( Be, Mg, Ca, Sr dan Ba ) biloksnya selalu +2
4. Biloks H dalam senyawa = +1, Contoh H2O, kecuali dalam senyawa
hidrida Logam (Hidrogen yang berikatan dengan golongan IA atau IIA)
Biloks H = -1, misalnya: NaH, CaH2 dll
5. Biloks O dalam senyawa = -2, Contoh H2O, kecuali OF2 biloksnya = + 2
dan pada senyawa peroksida (H2O2, Na2O2, BaO2) biloksnya = -1 serta
dalam senyawa superoksida, misal KO2 biloksnya = -1/2. untuk
mempermudah tanpa banyak hafalan....bila atom O atau H berikatan
dengan Logam IA atau IIA maka biloks logamnyalah yang ditentukan
terlebih dahulu dan biloks O dan H nya yang menyesuaikan (besarnya
dapat berubah - ubah)
6. Total Biloks dalam senyawa tidak bermuatan = 0, Contoh HNO3 :
(Biloks H) + (Biloks N) + (3.Biloks O) = 0 maka dengan mengisi biloks
H = +1 dan O = -2 diperoleh biloks N = +5
7. Total BO dalam ion = muatan ion, Contoh SO4 2- = (Biloks S) +
(4.Biloks O) = -2 maka dengan mengisi biloks O = -2 diperoleh biloks S
= +6
3

Selain hafalan di atas kita juga sebaiknya menghafal beberapa ion


Poliatom yang sering keluar dalam soal sebab hafalan ion Poliatom
tersebut juga diperlukan dalam menentukan harga biloks.
Tabel Ion Poliatom yang Penting :
Misal : biloks Cu dalam CuSO4 dapat dihitung dengan (1 x biloks
Cu) + (1 x biloks total ion SO4) = 0 maka dengan mengisi biloks ion SO4 =
-2 diperoleh :
Biloks Cu + (-2) = 0 ---> sehingga biloks Cu = +2
Contoh lainnya.... untuk menentukan biloks P dan Fe dalam Fe3(PO4)2 kita
harus bentuk anion poliatomnya, yakni PO43- sehingga :
(1 x biloks P) + (4 x biloks O) = -3
biloks P + (-8) = -3 sehingga biloks P = + 5
Kemudian biloks Fe dapat dicari dengan :
(3 x biloks Fe) + (2 x muatan PO4) = 0
(3 x biloks Fe) + (-6) = 0
3 x biloks Fe = + 6 ---> sehingga biloks Fe = + 6/3 = +2
Namun untuk mencari biloks salah satu unsur saja.....sedangkan biloks
unsur2 yang lainnya sudah diketahui (ada hafalannya) maka biloks unsur
tersebut dapat ditentukan secara langsung tanpa harus menghafal muatan ion
poliatomnya :
Misalnya : Tentukan biloks Cr dalam H2Cr2O7...?
(2 x biloks H) + (2 x biloks Cr) + (7 x biloks 7) = 0
(2 x (+ 1)) + (2 x biloks Cr) + (7 x (-2)) = 0
(2 x biloks Cr) + (-12) = 0 ---> sehingga biloks Cr = +12/2 = +6
Dalam reaksi redoks juga dikenal istilah reduktor dan oksidator :
Reduktor zat yang mengalami oksidasi (Biloks naik)
Oksidator zat yang mengalami reduksi (Biloks turun)

D. Contoh Reaksi Redoks

Contoh reaksi redoks adalah apabila batang tembaga dicelupkan


dalam larutan perak nitrat, maka lapisan putih mengkilat akan terjadi pada
permukaan batang tembaga dan larutan berubah menjadi biru.

Reaksi redoks terjadi antara logam tembaga dan larutan perak nitrat
Dalam hal ini bilangan oksidasi tembaga naik dari 0 menjadi +2 dan
bilangan oksidasi perak turun dari +1 menjadi 0. Tembaga mengalami
oksidasi dan perak mengalami reduksi. Persamaan reaksi antara keduanya
dapat dituliskan sebagai berikut:
Cu (s) + 2 AgNO3 (aq)

Cu(NO)3 (aq) + 2 Ag (s)


atau
+
Cu (s) + 2 Ag (aq)
Cu2+ (aq) + 2 Ag (s)

Reaksi redoks ini sering dinyatakan dengan penulisan setengah reaksi secara
terpisah, pelepasan elektron sebagai oksidasi dan penangkapan elektron
sebagai
reduksi:
Oksidasi: Cu (s)
Reduksi: 2 Ag+ (aq) + 2 e

Cu2+ (aq) + 2 e
2 Ag (s)

Reaksi redoks yang sedikit lebih rumit ditemui antara gas hidrogen sulfida
dengan larutan ion besi(III) yang menghasilkan padatan belerang, ion besi(II)
dan ion hidronium menurut persamaan reaksi:
H2S (g) + 2 Fe3+ (aq) + 2 H2O (l)

S (s) + 2 Fe2+ (aq) + 2 H3O+ (aq)

Dalam reaksi tersebut, besi telah mengalami reduksi dari +3 menjadi +2 dan
belerang mengalami oksidasi dari -2 menjadi nol, Jadi persamaan redoks
tersebut dapat dipisahkan menjadi dua setengah reaksi sebagai berikut:
5

Oksidasi: H2S (g) + 2 H2O (l)


Reduksi: 2 Fe3+ (aq) + 2 e

S (s) + 2 H3O+ (aq) + 2 e


2 Fe2+ (aq)

Contoh reaksi redoks adalah antara hidrogen dan fluorin:

Kita dapat menulis keseluruhan reaksi ini sebagai dua reaksi setengah: reaksi
oksidasi

dan reaksi reduksi

Penganalisaan masing-masing reaksi setengah akan menjadikan keseluruhan


proses kimia lebih jelas. Karena tidak terdapat perbuahan total muatan
selama reaksi redoks, jumlah elektron yang berlebihan pada reaksi oksidasi
haruslah sama dengan jumlah yang dikonsumsi pada reaksi reduksi.
Unsur-unsur, bahkan dalam bentuk molekul, sering kali memiliki bilangan
oksidasi nol. Pada reaksi di atas, hidrogen teroksidasi dari bilangan oksidasi 0
menjadi +1, sedangkan fluorin tereduksi dari bilangan oksidasi 0 menjadi -1.
Ketika reaksi oksidasi dan reduksi digabungkan, elektron-elektron yang
terlibat akan saling mengurangi:

Dan ion-ion akan bergabung membentuk hidrogen fluorida:

Reaksi penggantian
Redoks terjadi pada reaksi penggantian tunggal atau reaksi substitusi.
Komponen redoks dalam tipe reaksi ini ada pada perubahan keadaan oksidasi

(muatan) pada atom-atom tertentu, dan bukanlah pada pergantian atom dalam
senyawa.
Sebagai contoh, reaksi antara larutan besi dan tembaga(II) sulfat:

Persamaan ion dari reaksi ini adalah:

Terlihat bahwa besi teroksidasi:

dan tembaga tereduksi:

E. Penerapan Reaksi Redoks


Beberapa contoh reaksi redoks dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai
berikut:
1. Peristiwa korosi
2. Pemakaian sel baterai
3. Pemakaian sel aki
4. Pemakaian sel bahan bakar
Reaksi Redoks dalam Industry
Proses utama pereduksi bijih logam untuk menghasilkan logam
didiskusikan dalam artikel peleburan. Oksidasi digunakan dalam berbagai
industri seperti pada produksi produk-produk pembersih. Reaksi redoks juga
merupakan dasar dari sel elektrokimia.
Reaksi Redoks dalam Biologi

Kiri : Asam askorbat (bentuk tereduksi Vitamin C)


Kanan : Asam dehidroaskorbat (bentuk teroksidasi Vitamin C)
Banyak proses biologi yang melibatkan reaksi redoks. Reaksi ini
berlangsung secara simultan karena sel, sebagai tempat berlangsungnya
reaksi-reaksi biokimia, harus melangsungkan semua fungsi hidup. Agen
biokimia yang mendorong terjadinya oksidasi terhadap substansi berguna
dikenal dalam ilmu pangan dan kesehatan sebagai oksidan. Zat yang
mencegah aktivitas oksidan disebut antioksidan.
Pernapasan sel, contohnya, adalah oksidasi glukosa (C6H12O6) menjadi CO2
dan reduksi oksigen menjadi air. Persamaan ringkas dari pernapasan sel
adalah:
C6H12O6 + 6 O2 6 CO2 + 6 H2O
Proses pernapasan sel juga sangat bergantung pada reduksi NAD+ menjadi
NADH dan reaksi baliknya (oksidasi NADH menjadu NAD +). Fotosintesis
secara esensial merupakan kebalikan dari reaksi redoks pada pernapasan sel:
CO2 + 6 H2O + light energy C6H12O6 + 6 O2
Energi biologi sering disimpan dan dilepaskan dengan menggunakan
reaksi redoks. Fotosintesis melibatkan reduksi karbon dioksida menjadi gula
dan oksidasi air menjadi oksigen. Reaksi baliknya, pernapasan, mengoksidasi
gula, menghasilkan karbon dioksida dan air. Sebagai langkah antara, senyawa
karbon yang direduksi digunakan untuk mereduksi nikotinamida adenina
dinukleotida (NAD+), yang kemudian berkontribusi dalam pembentukan
gradien proton, yang akan mendorong sintesis adenosina trifosfat (ATP) dan
dijaga oleh reduksi oksigen. Pada sel-sel hewan, mitokondria menjalankan
fungsi yang sama. Lihat pula Potensial membran.
Istilah keadaan redoks juga sering digunakan untuk menjelaskan
keseimbangan antara NAD+/NADH dengan NADP+/NADPH dalam sistem
8

biologi seperti pada sel dan organ. Keadaan redoksi direfleksikan pada
keseimbangan beberapa set metabolit (misalnya laktat dan piruvat, betahidroksibutirat dan asetoasetat) yang antarubahannya sangat bergantung pada
rasio ini. Keadaan redoks yang tidak normal akan berakibat buruk, seperti
hipoksia, guncangan (shock), dan sepsis.
Siklus Redoks
Berbagai macam senyawa aromatik direduksi oleh enzim untuk
membentuk senyawa radikal bebas. Secara umum, penderma elektronnya
adalah berbagai jenis flavoenzim dan koenzim-koenzimnya. Seketika
terbentuk, radikal-radikal bebas anion ini akan mereduksi oskigen menjadi
superoksida. Reaksi bersihnya adalah oksidasi koenzim flavoenzim dan
reduksi oksigen menjadi superoksida. Tingkah laku katalitik ini dijelaskan
sebagai siklus redoks.
Contoh molekul-molekul yang menginduksi siklus redoks adalah herbisida
parakuat, dan viologen dan kuinon lainnya seperti menadion

F. Menyeimbangkan Reaksi Redoks


Untuk menuliskan keseluruhan reaksi elektrokimia sebuah proses
redoks, diperlukan penyeimbangan komponen-komponen dalam reaksi
setengah. Untuk reaksi dalam larutan, hal ini umumnya melibatkan
penambahan ion H+, ion OH-, H2O, dan elektron untuk menutupi perubahan
oksidasi.
Media Asam
Pada media asam, ion H+ dan air ditambahkan pada reaksi setengah
untuk menyeimbangkan keseluruhan reaksi. Sebagai contoh, ketika
mangan(II) bereaksi dengan natrium bismutat :
Reaksi Tak Seimbang : Mn2+(aq) + NaBiO3(s) Bi3+(aq) + MnO4-(aq)
Oksidasi

: 4H2O(l) + Mn2+(aq)

MnO4-(aq) + 8H+ (aq) +

5eReduksi

: 2e- + 6H+(aq) + BiO3-(s) Bi3+ (aq) + 3H2O (l)


9

Reaksi ini diseimbangkan dengan mengatur reaksi sedemikian rupa


sehingga dua setengah reaksi tersebut melibatkan jumlah elektron yang sama
(yakni mengalikan reaksi oksidasi dengan jumlah elektron pada langkah
reduksi, demikian juga sebaliknya).

Reaksi diseimbangkan:
14H+(aq) + 2Mn2+(Aq) +5NaBiO3(s) 7H2O(l) + 2MnO4-(aq) + 5Bi3+
(aq) + 5Na+(aq)
Hal yang sama juga berlaku untuk sel bahan bakar propana di bawah kondisi
asam:

Dengan menyeimbangkan jumlah elektron yang terlibat:

Persamaan diseimbangkan:

Media Basa
Pada media basa, ion OH- dan air ditambahkan ke reaksi setengah
untuk menyeimbangkan keseluruhan reaksi.Sebagai contoh, reaksi antara
kalium permanganat dan natrium sulfit:
Reaksi Tak Seimbang : KMnO4 + Na2SO3 + H2O

MnO2 + Na2SO4 +

KOH
10

Oksidasi

: 3e- + 2H2O + MnO4- MnO2 + 4OH-

Reduksi

2
: 2OH + SO 3
-

2
SO 4 + H2O + 2e-

Dengan menyeimbangkan jumlah elektron pada kedua reaksi setengah di


atas:

Persamaan diseimbangkan:

BAB III
METODELOGI EKSPERIMEN
A. Waktu dan Tempat
Waktu

: Rabu, 08 Mei 2013.


Jam 08.30 10.00
Tempat: Laboratorium IPA

B. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum ini antara lain:

11

1. Tembaga Bubuk
2. Karbon
3. Statif
4. Tabung Reaksi
5. Gelas Kimia
6. Bunsen
7. Korek Api
8. Sedotan
9. Air
10. Sterofoam

12

11.

C. Langkah Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Campurkan karbon dan bubuk tembaga kedalam tabung reaksi.
3. Setelah itu jepit tabung reaksi tersebut dengan satif dengan posisi
menggantung.
4. Nyalakan bunsen dengan korek api lalu letakkan tepat dibawah tabung
reaksi.
5. Kemudian isi gelas kimia dengan air secukupnya letakkan disekitar statif.
6. Lalu tutup tabung reaksi dengan sterofoam dan salurkan udara yang di
hasilkan dalam tabung reaksi ke gelas kimia dengan sedotan.
7. Terakhir, amati reaksi yang ditimbulkan oleh reaksi karbon dan tembaga
bubuk tersebut.
8. Catat setiap perubahan yang terjadi selama proses reaksi terjadi.

12.
13.
14.
15. BAB IV
16. HASIL PEMBAHASAN
A. Data dan Pembahasan
17.
1. Apa zat yang dihasilkan dari reaksi karbon dan tembaga bubuk?
18. Cu(s) + O CuO + O
2

19. Reaksi karbon dan tembaga bubuk yang direaksikan dengan cara
dipanaskan menghasilkan berupa H2O, CO dan O2 dalam waktu yang
singkat. Hal itu disebabkan karena karbon memiliki titik didih yang
sangat rendah (31,1 C).
20. Jadi, dapat dituliskan : Cu(s) + O Cu + CO + O + H O + C
2

21.
2. Apakah terjadi Oksidasi dan Reduksi?
22. Dalam reaksi tersebut terjadi Oksidasi dan Reduksi karena zat yang
dihasilkan dari reaksi tersebut berupa Cu + CO + O2 + H2O + C.
23. Dan hal itu berarti bahwa dalam reaksi tersebut terjadi peristiwa
pelepasan O2 dan penggabungan suatu unsure dengan O2.

24.

3. Mengapa setelah tabung reaksi ditutup strerofoam dan kadar tembaga


yang diberika lebih banyak uap yang dihasilkan lebih sedikit ?
25. Perkiraanya adalah karena tidak ada oksigen yang masuk kedalam
tabung reaksi. Namun, setelah sterofoam dibuka uap dan gelembungyang
dihasilkan tetap sama.
26.
4. Mengapa setelah strerofoam pada tabung reaksi dibuka uap dan
gelembung yang dihasilkan tetap sama?
27. Perkiraan kami bahwa karena tembaga yang direaksikan terlalu
banyak, karena tembaga juga memiliki titik didih yang tinggi yaitu
2593C. Sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan
hasil reaksi. Dan setelah cukup lama dipanaskan tembaga berubah warna
menjadi putih silver.
28.
5. Apa yang terjadi jika karbon ditambahkan lagi kedalam kadar reaksi
dimana tembaga lebih banyak?
29. Setelah ditambahkan karbon dengan kadar yang lebih banyak dari
tembaga, reaksi yang dihasilkan adalah zat seperti uap air dengan jangka
waktu yang relatif cepat seperti percobaan awal.
30.
6. Mengapa tidak ada reaksi yang ditimbulkan air dalam gelas kimia pada
percobaan kelompok kami?
31. Hal tersebut karena penyaluran udara hasil reaksi ke air dalam gelas
kimia tidak sempurna dikarenakan adanya kebocoran sedotan sebagai
penyaluran, sehingga hasil reaksi terbuang ke udara dan tidak seluruhnya
masuk ke air dalam gelas kimia.

32. BAB V
33. KESIMPULAN DAN SARAN
34.
A. Kesimpulan
35. Dari percobaan yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
36.
Reaksi Oksidasi Reduksi dapat terjadi jika ada oksigen yang diterima
dan dilepaskan untuk menghasilkan zat yang baru. Dan dalam percobaan
hasil yang didapatkan tidak selalu sama dari kelompok satu denga
kelompok lain atau dengan hasil percobaan yang sudah ada sebelumnya.

37.

Hal itu disebabkan karena adanya faktor-faktor tertentu yang dapat


mempengaruhi saat percobaan berlangsung ataupun saat sebelum
percobaan. Dan hasil percobaan sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara
kita melakukan percobaan tersebut.
38.

B. Saran
1. Campurkan karbon dan tembaga bubuk dengan perbandingan 3:1 agar
reaksi yang ditimbulkan lebih cepat.
2. Rapatkan sedotan agar udara yang disalurkan ke gelas kimia tidak bocor
ataupun berkurang.
3. Catat setiap perubahan yang terjadi dan zat-zat yang dihasilkan pada saat
proses reaksi berlangsung.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.

50. BAB VI
51.
DAFTAR PUSTAKA
52.

53. http://id.wikipedia.org/wiki/redoks.

54. http://www.google.co.id
55. ^ Hudlick, Milo (1996). Reductions in Organic Chemistry. Washington,
D.C.: American Chemical Society. p. 429. ISBN 0-8412-3344-6.
56. ^ Hudlick, Milo (1990). Oxidations in Organic Chemistry. Washington,
D.C.: American Chemical Society. p. 456. ISBN 0-8412-1780-7.
57. Buku Catatan Kimia dan LKS Kimia Semester Genap.