Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM UJI KETERATOGENIKAN

1. Berikut ini merupakan dampak-dampak yang ditimbulkan dari uji teratogenik adalah sebagai
berikut.
Kematian intrauterus (resorbsi dan fetus mati)
Resorbsi ditandai oleh adanya gumpalan merah pada uterus yang tidak memberi respon bila
disentuh. Resorbsi berarti tidak berkembangnya embrio menjadi fetus normal, hal ini terjadi akibat
kesalahan morfologi dengan berbagai cacat tubuh yang berakhir dengan kematian. Apabila ada
teratogen yang mengenai embrio pada stadium pra diferensiasi, maka pengaruhnya ialah semua atau
sebagian besar sel-sel embrio akan rusak dan berakhir dengan kematian embrio. Semua teratogen
apabila diberikan pada dosis yang tinggi atau pada awal perkembangan embrio dapat menyebabkan
kematian yang diikuti aborsi atau pada Rodensia khususnya tikus menyebabkan resorbsi. Fetus mati
kemungkinan disebabkan kematian sel-sel pada tahap akhir proliferasi sehingga hanya sebagian sel
yang dapat diperbaiki dan pada saat pembedahan proses resorbsi oleh induk belum sempurna
sehingga biasanya fetus yang mati ditemukan dalam keadaan cacat. Fetus yang hidup mempunyai
daya tahan paling tinggi terhadap zat asing yang masuk. Fetus ini mampu mengadakan perbaikan
kembali sel-sel yang rusak atau mati dengan sel yang baru sehingga memungkinkan fetus untuk
bertahan hidup (Widyastuti et al., 2006).
Hemoragi
Hemoragi atau perdarahan sebenarnya adalah suatu peristiwa keluarnya darah dari sistem
kardiovaskular yang disertai dengan penimbunan di dalam ruangan tubuh atau di dalam jaringan
tubuh karena gangguan tekanan viskositas cairan pada bagian fetus yang berbeda yaitu plasma darah
dan ruang ekstra kapiler. Hemoragi yang terjadi dapat berupa hemoragi di kepala, leher, punggung,
kaki, perut dan seluruh tubuh. Pada keadaan yang normal, embrio berkembang dalam amnion yang
isotonis terhadap cairan tubuh, adanya alkaloid flavonoid dan saponin dari bahan teratogen yang
mampu menembus barier plasenta mungkin mengakibatkan terganggunya keseimbangan osmotik
tersebut. Kegagalan dalam menjaga keadaan isotonis antara amnion dan cairan tubuh embrio
kemungkinan diakibatkan karena belum sempurnanya fungsi-fungsi organ, terutama organ
metabolisme dan sekresi sehingga zat-zat kimia dalam peredaran darah embrio bertahan lebih lama
dan kadarnya menjadi lebih tinggi (Widyastuti et al., 2006).
Tubuh bongkok, punggung fleksi, mikromelia dan kinkey
Senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin yang terkandung dalalam teratogen
dapat bersifat sitotoksik sehingga dapat menyebabkan kematian beberapa sel penyusun vertebrae,
akibatnya kecepatan pertumbuhan tulang tidak sama sehingga tulang menjadi bengkok. Selain itu
senyawa-senyawa tersebut juga meningkatkan kontraksi otot polos uterus yang menyebabkan
terjadinya tekanan mekanik pada embrio yang dapat menyebabkan perubahan arah pertumbuhan
(Widyastuti et al., 2006).
Mikromelia yang terjadi berupa ekstremitas anterior dan posterior yang kecil, dimana fase
organogenesis merupakan masa yang paling rentan terjadinya cacat. Pada periode ini terjadi

diferensiasi sel yang sangat intensif untuk membentuk alat-alat tubuh, sehingga fetus sangat peka
terhadap zat teratogenik yang masuk. Senyawa anti tumor bersifat mengganggu pembelahan sel dan
menghambat aktivitas proliferasi (Widyastuti et al., 2006).
Selain itu, teratogen dosis rendah akan mengakibatkan kematian beberapa sel atau dapat pula
terjadi penggantian sel karena fetus mempunyai kemampuan regenerasi yang tinggi sehingga fetus
tersebut normal morfologinya tapi ukurannya kecil. Alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin yang
terkandung dalam teratogen dapat mempunyai sifat sitotoksik sehingga dapat mengakibatkan
kematian sel pada bagian area tertentu (ekstremitas anterior dan posterior) sehingga menyebabkan
bentuk ekstremitas menjadi tidak sempurna (Widyastuti et al., 2006).
Kelainan kinkey berupa ekor melingkar dikarenakan adanya senyawa alkaloid, flavonoid dan
saponin mengakibatkan kecepatan pertumbuhan pada tulang ekor tidak sama sehingga terjadi bentuk
ekor kinkey (melingkar) (Widyastuti et al., 2006).
Kelainan perkembangan rangka yang terjadi akibat teratogen dapat berupa vertebrae
caudalis yang melingkar, os parietal tidak terbentuk, vertebrae lurus atau fleksi. Kemungkinan
bentuk vertebrae yang fleksi dan lurus diakibatkan adanya kematian sel pada tempat tertentu
sehingga kecepatan pertumbuhan antar ruas pada vertebrae menjadi tidak sama. Adanya tekanan
mekanik berupa kontraksi otot polos uterus akibat alkaloid dari mahkota dewa selama fetus masih
dalam uterus induk juga dapat mengubah arah pertumbuhan tulang (Widyastuti et al., 2006).

Gambar 1. A.fetus
resorbsi B. dan C. fetus
mati. 1. mikromelia ekstremitas anterior, 2. mikromelia ekstremitas posterior (Widyastuti et al.,
2006).

Gambar 2. 1. Hemoragi di kepala, 2. Hemoragi di punggung, 3. Hemoragi seluruh badan (Widyastuti


et al., 2006).

Gambar 3. Fetus dengan kelainan mikromelia. Keterangan: 1. Mikromelia ekstremitas posterior


(Widyastuti et al., 2006).

Gambar 4. Fetus dengan kelainan kinkey (Widyastuti et al., 2006).

Gambar 5. Perbandingan kerangka fetus kelompok dengan kelompok dosis dosis 0 g/200 g BB.
Keterangan: A. Kerangka fetus kontrol, B. Kerangka fetus dari kelompok dosis 0,025 g/200 g BB. 1.
Vertebrae 2. Vertebrae caudalis 3. Os parietal 4. Fleksi lordosis (Widyastuti et al., 2006).

2. Berikut ini merupakan dampak yang ditimbulkan dari uji kopi dan tape sebagai zat teratogenik
dan senyawa yang dikandung sebagai zat teratogenik adalah sebagai berikut.

a. Kopi
Kopi mengandung senyawa kafein. Walaupun kafein memiliki manfaat sebagai antioksidan
namun kafein merupakan zat teratogenik pada janin. Kafein berfungsi untuk merangsang
aktivitas susunan saraf dan meningkatkan kerja jantung, sehingga jika dikonsumsi dalam
jumlah berlebihan akan bersifat racun dengan menghambat mekanisme susunan saraf
manusia. Selain itu, kafein merupakan penyebab utama penyakit jantung. Pada janin dapat
menyerang plasenta dan masuk dalam sirkulasi darah janin. Apabila konsentrasinya berlebih,
akan mengakibatkan keguguran. Rumus kimia untuk kafein yaitu C 8H10N4O2, kafein
murni berbentuk kristal panjang, berwarna putih, tidak berbau dan rasanya pahit,
merupakan alkaloid methylxantine family. Di dalam biji kopi kafein berfungsi sebagai unsur
rasa dan aroma. Kafein murni memiliki berat molekul 194.19 gr, titik leleh 236C dan titik didih
178C (Ali et al., 2012 ; Fuferti et al., 2013 ; Mumin et al., 2006).

(Ali

et al., 2012 ; Mumin et al., 2006).

Menurut Gilbert dan Rice


(1991), kafein merupakan zat
kimia
yang
berpotensi
menyebabkan
gangguan
perkembangan janin, tetapi masih dikonsumsi oleh sebagian besar ibu hamil di Amerika Serikat.
Kenyataan serupa mungkin juga terjadi di Indonesia. Selain itu, kafein memiliki sifat
sebagai agensia teratogenik yang tidak spesifik sehingga dimungkinkan menyebabkan
timbulkan jenis cacat lain yang dijumpai pada berbagai sistem organ (Fuferti et al., 2013).
b. Tape (Tapai)
Tapai atau tape adalah kudapan yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan pangan
karbohidrat sebagai substrat oleh ragi. Substrat ini biasanya dari umbi singkong dan beras
ketan. Tapai hasil fermentasi dengan ragi yang didominasi Saccharomyces cerevisiae umumnya
berbentuk semi-cair, lunak, berasa manis keasaman, mengandung alkohol, memiliki tekstur
lengke. Kandungan alkohol dalam tapai tidak baik dikonsumsi ibu hamil, karena rentan
menyebabkan keguguran. Efek yang ditumbulkan adalah kandungan alkoholnya bisa
menghambat pertumbuhan bayi dan membuat janin keracunan (Marlisa, 2014).

3. Bahan-bahan yang dapat bersifat teratogenik adalah sebagai berikut.


a. Buah Nanas muda

Hewan uji yang digunakan


Senyawa yang menyebabkan
Metode

: Mencit (Mus musculus L.)


: Enzim bromelin
: Ekstrak buah nanas muda (Ananas comosus) yang
diberikan pada induk mencit selama masa
organogenesis terhadap penampilan reproduksi dan
perkembangan skeleton fetus. Dua puluh ekor mencit
bunting dibagi acak menjadi empat kelompok. Ekstrak
diberikan secara oral (gavage) dengan dosis : 0%
(kontrol), 20%, 40%, dan 80%. Perlakuan diberikan
hari ke 6-15 kebuntingan, pada hari ke-18 mencit
dikorbankan nyawanya untuk pengambilan fetus.

Dampak yang ditimbulkan

a. Bobot dan Panjang Fetus. Rataan bobot dan panjang fetus cenderung menurun
dengan meningkatnya dosis. Penurunan bobot badan fetus merupakan bentuk teringan
dari ekspresi teratogenik dan merupakan parameter yang lebih sensitif untuk uji
teratogenik. Pengamatan terhadap tubuh fetus juga menunjukkan adanya kelainan
fetus kerdil yang tubuhnya sangat lunak yang disebabkan oleh kolagen yang
terhidrolisis oleh enzim bromelin.
b. Hemoragi spontan dapat disebabkan akibat disfungsi trombosit yang sejalan dengan
potensi bromelin sebagai antitrombotik atau sebagai substansi inhibisi trombosit, yang
dapat menyebabkan disfungsi trombosit.
c. Hambatan pertumbuhan dan penulangan metakarpus dan metatarsus.
Terhambatnya pertumbuhan tulang yang ditandai penurunan jumlah ruas penulangan
metakarpus dan metatarsus pada kelompok perlakuan terutama dosis tinggi mungkin
terjadi karena akumulasi enzim bromelin dalam darah induk tinggi. Kadar bromelin
yang tinggi dengan kemungkinan bobot molekul (BM)<600 Dalton sehingga enzim
dapat melewati sawar plasenta.
d. Kelainan bentuk costae berupa costae fusi serta adanya jembatan costae .
(Setyawati and Yulihastuti, 2011).
b. Kulit Batang Pule
Hewan uji yang digunakan
Senyawa yang menyebabkan
Metode

Dampak

: Tikus Wistar
: sulfadoksin dan pirimetamin
: Diberikan dosis berulang 490 dan 980 mg/kg bobot
badan yang diberikan secara oral pada tikus Wistar
bunting selama 19 hari.
: Tikus Wistar bunting menyebabkan keguguran pada
masing-masing 9,1% induk tikus, hidrosefalus ringan
pada 23,1% janin (dosis 490 mg/kg bb) dan 12% janin
(dosis 980 mg/kg bb).

(Kumolosasi et al., 2004).


c. Mahkota Dewa
Hewan uji yang digunakan
Senyawa yang menyebabkan
Metode

Dampak

d. Daun binahong
Hewan uji yang digunakan
Senyawa yang menyebabkan
Metode

Dampak

e. Daun alpukat

: Mencit putih (Mus musculus L.)


: fraksi butanol
: Pemberian fraksi butanol buah mahkota dewa secara
oral dilakukan terhadap 24 ekor mencit yang terbagi
dalam 4 kelompok perlakuan yaitu kelompok normal
(KN) dengan aquadest; kelompok perlakuan 0,5 g/kg
BB (KE1); 1 g/kg BB (KE2); 2 g/kg BB (KE3). Mencit
diaklimatisasi selama 2 minggu,dikawinkan pada masa
estrus lalu dipisah. Pemberian fraksi butanol dilakukan
pada hari ke-1 sampai hari ke-17 kehamilan. Pada hari
ke-18 kehamilan,mencit dibedah untuk pengambilan
fetus,lalu diamati satu persatu
: Pada pemberian fraksi butanol buah mahkota dewa
terhadap mencit terlihat adanya efek teratogenik karena
fetus-fetus yang diperolehmengalami penurunan
jumlah, berat badan dan panjang seiring dengan
meningkatnya dosis yang diberikan jumlah fetus hidup
menurun dengan meningkatnya dosis fraksi yang di
berikan. Selain itu juga terjadi kelainan morfologi
(kerdil) dan resorpsi.
(Rinayati et al., 2013).

: Tikus Wistar
: etanol
: tes teratogenik dilakukan di 5 kelompok tikus
kelompok kontrol, trimetoprim dengan dosis 360 mg /
kg bb, ekstrak etanol binahong pada dosis 100, 400, dan
1000 mg / kg bb. Tes substansi diberikan secara oral
pada hari ke 6 sampai hari 15 tikus hamil. Pada hari 20
kehamilan, laparoctomy dilakukan untuk mengambil
janin.
: kelainan vertebra sacral, stuktur costae, langit-langit,
rongga kepala, rongga hidung, rongga mata, telinga
dan hati
yang diamati hanya dalam kelompok
trimetoprim.
(Sukandar et al., 2014).

Hewan uji yang digunakan


Senyawa yang menyebabkan
Metode

Dampak

: Mencit (Mus musculus L.)


: etanol
: mencit betina hamil selama periode organogenesis hari
ke-6 sampai ke-15 kehamilan yang sebagai uji
diberiekstrak etanol daun alpukat dengan berbagai dosis
kemudian dilakukan pembedahan pada hari ke-18
kehamilan dan morfologi fetus diamati satu persatu.
: ekstrak etanol daun alpukat memberikan efek
pengurangan jumlah fetus. Jumlah fetus menurun
dengan meningkatnya dosis ekstrak etanol daun alpukat
yang diberikan. Hal ini dikarenakan semakin tinggi
dosis akan mempengaruhi pembelahan sel fetus
sehingga frekuensi pembelahan sel menurun.
(Kristiani, 2013).

DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. M., M. Eisa, M. I. Taha, B. A. Zakaria, A. Elbashir. 2012. Determination of Caffeine in Some
Sudanese Beverages by High Performance Liquid Chromatography. Pakistan Journal of
Nutrition. Vol. 11, No. 4.pp: 336-342.
Fuferti, M. A., Syakbaniah, Ratnawulan. 2013. Perbandingan Karakteristik Fisis Kopi Luwak (Civet
coffee) dan Kopi Biasa Jenis Arabica. Pillar of Physics. Vol. 2, No. 1.pp: 68-75.
Kumolosasi, E., Andreanus, A., Soemardji, Komar, W., Yuliani, H. 2004. Efek Teratogenik Ekstrak
Etanol Kulit Batang Pule (Alstonia scholaris R.Br) pada Tikus Wistar. Jurnal
Matematika dan Sains. Vol. 9 No. 2.pp: 223-227

Kristiani, A. 2013. Uji Teratogenik Ekstrak Etanol daun Alpukat (Persea Americana Mill) pada
Mencit betina (Mus musculus). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. Vol. 2.
No. 1.
Marlisa, R. Sistem Pakar Mendiagnosa Keguguran pada Ibu Hamil Berdasarkan Jenis Makanan
dengan Metode Teorema Bayes. Jurnal Informasi dan Teknologi Ilmiah. Vol. 4, No. 3.pp:
24-32.
Mumin, Md. A., K. F. Akhter, Md. Z. Abedin, Md. Z. Hossain. 2006. Determination and
Characterization of Caffeine in Tea, Coffee and Soft Drinks by Solid Phase Extraction
and High Performance Liquid Chromatography (SPE-HPLC). Malaysian Journal of
Chemistry. Vol. 8, No. 1.pp: 045-051.
Rinayanti, A., Dewanti, E., Vera. 2013. Uji Efek Teratogenik Fraksi Butanol Buah Mahkota Dewa
[Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] terhadap Mencit Putih (Mus Musculus L).
Setyawati, I. dan Yulihastuti, D. A. 2011. Penampilan Reproduksi dan Perkembangan Skeleton Fetus
Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Buah Nanas Muda. Jurnal Veteriner. Vol. 12 No. 3.pp:
192-199. ISSN : 1411 8327
Sukandar, e., Kurniati, N. F., Fitria V. 2014. Evaluation of Teratogenicity Effects of Ethanolic
Extracts of Binahong Leaves (Anredera cordifolia (ten) Steenis) in Wistar Rat.
International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. ISSN- 0975-1491 Vol
6, Issue 11.
Widyastuti, N., Widiyani, T., Listyawati, S. 2006. Efek Teratogenik Ekstrak Buah Mahkota Dewa
(Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Galur
Winstar. Jurnal Bioteknologi. Vol. 3, No. 2.pp: 56-62. ISSN: 0216-6887