Anda di halaman 1dari 11

PENENTUAN KADAR GLUKOSA DAN FRUKTOSA PADA MADU

KELENGKENG DENGAN HPLC

A. Pendahuluan

Kimia analitik adalah cabang ilmu kimia yang berfokus pada analisis cuplikan material
untuk mengetahui komposisi, struktur, dan fungsi kimiawinya. Secara tradisional, kimia analitik
dibagi menjadi dua jenis, kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif bertujuan untuk
mengetahui keberadaan suatu unsur atau senyawa kimia, baik organik maupun anorganik,
sedangkan analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui jumlah suatu unsur atau senyawa
dalam suatu cuplikan.

Kimia analitik modern dikategorisasikan melalui dua pendekatan, target dan metode.
Berdasarkan targetnya, kimia analitik dapat dibagi menjadi kimia bioanalitik, analisis material,
analisis kimia, analisis lingkungan, dan forensik. Berdasarkan metodenya, kimia analitik dapat
dibagi menjadi spektroskopi, spektrometri massa, kromatografi dan elektroforesis, kristalografi,
mikroskopi, dan elektrokimia.

Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan


kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen-
komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam
akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen
campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan
komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat.

B. Pembahasan

1. Mengenal Kromatografi

Walaupun agak tidak terlalu jelas, kontribusi kromatografi pada perkembangan kimia
modern tidak dapat dipandang rendah. Tanpa teknik kromatografi, sintesis senyawa murni (atau
hampir murni) akan sangat sukar , dan dalam banyak kasus, hampir tidak mungkin.

Di awal abad ke-20, kimiawan Rusia Mikhail Semënovich Tsvet (1872-1919)


menyiapkan kolom yang diisi dengan serbuk kalsium karbonat, dan kedalamnya dituangkan
campuran pigmen tanaman yang dilarutkan dalam eter. Secara mengejutkan, pigmen
memisahkan dan membentuk lapisan berwarna di sepanjang kolom. Ia menamakan kromatografi
pada teknik pemisahan baru ini (1906). Kemudian kimiawan dari Swiss Richard Martin
Willstätter (1872-1942) menerapkan teknik ini untuk risetnya yakni khlorofil untuk
menunjukkan manfaat teknik ini, dan sejak itu banyak perhatian diberikan pada kromatografi.

Kromatografi adalah teknik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya dengan


bantuan perbedaan sifat fisik masing-masing komponen. Alat yang digunakan terdiri atas kolom
yang di dalamnya diisikan fasa stasioner (padatan atau cairan). Campuran ditambahkan ke kolom
dari ujung satu dan campuran akan bergerak dengan bantuan pengemban yang cocok (fasa
mobil). Pemisahan dicapai oleh perbedaan laju turun masing-masing komponen dalam kolom,
yang ditentukan oleh kekuatan adsorpsi atau koefisien partisi antara fasa mobil dan fasa diam
(stationer).

Komponen utama kromatografi adalah fasa stationer dan fasa mobil dan kromatografi
dibagi menjadi beberapa jenis bergantung pada jenis fasa mobil dan mekanisme pemisahannya,
seperti ditunjukkan di bawah ini.

Tabel Klasifikasi kromatografi

Kriteria Nama
Kromatografi cair, kromatografi gas
Fasa mobil
Kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi
Kromatografi pertukaran ion
Mekanisme
kromatografi gel
Kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis,
Fasa stationer
kromatografi kertas

Beberapa contoh kromatografi yang sering digunakan di laboratorium diberikan di bawah ini.

a) Kromatografi partisi

Prinsip kromatografi partisi dapat dijelaskan dengan hukum partisi yang dapat diterapkan
pada sistem multikomponen yang dibahas di bagian sebelumnya. Dalam kromatografi partisi,
ekstraksi terjadi berulang dalam satu kali proses. Dalam percobaan, zat terlarut didistribusikan
antara fasa stationer dan fasa mobil. Fasa stationer dalam banyak kasus pelarut diadsorbsi pada
adsorben dan fasa mobil adalah molekul pelarut yang mengisi ruang antar partikel yang ter
adsorbsi.Contoh khas kromatografi partisi adalah kromatografi kolom yang digunakan luas
karena merupakan sangat efisien untuk pemisahan senyawa organic.

Kolomnya (tabung gela) diisi dengan bahan seperti alumina, silika gel atau pati yang
dicampur dengan adsorben, dan pastanya diisikan kedalam kolom. Larutan sampel kemudian
diisikan kedalam kolom dari atas sehingga sammpel diasorbsi oleh adsorben. Kemudian pelarut
(fasa mobil; pembawa) ditambahkan tetes demi tetes dari atas kolom.

Partisi zat terlarut berlangsung di pelarut yang turun ke bawah (fasa mobil) dan pelarut
yang teradsorbsi oleh adsorben (fasa stationer). Selama perjalanan turun, zat terlarut akan
mengalami proses adsorpsi dan partisi berulang-ulang. Laju penurunan berbeda untuk masing-
masing zat terlarut dan bergantung pada koefisien partisi masing-masing zat terlarut. Akhirnya,
zat terlarut akan terpisahkan membentuk beberapa lapisan.

Akhirnya, masing-masing lapisan dielusi dengan pelarut yang cocok untuk memberikan
spesimen murninya. Nilai R didefinisikan untuk tiap zat etralrut dengan persamaan berikut.
R = (jarak yang ditempuh zat terlarut) / (jarak yang ditempuh pelarut/fasa mobil).

Gambar Diagram skematik kromatografi

b) Kromatografi kertas

Mekanisme pemisahan dengan kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme


pada kromatografi kolom. Adsorben dalam kromatografi kertas adalah kertas saring, yakni
selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan ke ujung kertas yang kemudian digantung
dalam wadah. Kemudian dasar kertas saring dicelupkan kedalam pelarut yang mengisi dasar
wadah. Fasa mobil (pelarut) dapat saja beragam. Air, etanol, asam asetat atau campuran zat-zat
ini dapat digunakan.

Kromatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amino dengan sukses
besar. Karena asam amino memiliki sifat yang sangat mirip, dan asam-asam amino larut dalam
air dan tidak mudah menguap (tidak mungkin didistilasi), pemisahan asam amino adalah masalah
paling sukar yang dihadapi kimiawan di akhir abad 19 dan awal abad 20. Jadi penemuan
kromatografi kertas merupakan berita sangat baik bagi mereka.

Kimiawan Inggris Richard Laurence Millington Synge (1914-1994) adalah orang


pertama yang menggunakan metoda analisis asam amino dengan kromatografi kertas. Saat
campuran asam amino menaiki lembaran kertas secara vertikal karena ada fenomena kapiler,
partisi asam amino antara fasa mobil dan fasa diam (air) yang teradsorbsi pada selulosa
berlangsung berulang-ulang. Ketiak pelarut mencapai ujung atas kertas proses dihentikan. Setiap
asam amino bergerak dari titik awal sepanjang jarak tertentu. Dari nilai R, masing-masing asam
amino diidentifikasi.

Kromatografi kertas dua-dimensi (2D) menggunakan kertas yang luas bukan lembaran
kecil, dan sampelnya diproses secara dua dimensi dengan dua pelarut.

c) Kromatografi gas

Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer dapat berupa
padatan (kromatografi gas-padat) atau cairan (kromatografi gas-cair). Umumnya, untuk
kromatografi gas-padat, sejumlah kecil padatan inert misalnya karbon teraktivasi, alumina
teraktivasi, silika gel atau saringan molekular diisikan ke dalam tabung logam gulung yang
panjang (2-10 m) dan tipis. Fasa mobil adalah gas semacam hidrogen, nitrogen atau argon dan
disebut gas pembawa. Pemisahan gas bertitik didih rendah seperti oksigen, karbon monoksida
dan karbon dioksida dimungkinkan dengan teknik ini.

Dalam kasus kromatografi gas-cair, ester seperti ftalil dodesilsulfat yang diadsorbsi di
permukaan alumina teraktivasi, silika gel atau penyaring molekular, digunakan sebagai fasa diam
dan diisikan ke dalam kolom. Campuran senyawa yang mudah menguap dicampur dengan gas
pembawa disuntikkan ke dalam kolom, dan setiap senyawa akan dipartisi antara fasa gas (mobil)
dan fasa cair (diam) mengikuti hukum partisi. Senyawa yang kurang larut dalam fasa diam akan
keluar lebih dahulu.
Metode ini khususnya sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap
seperti hidrokarbon dan ester. Analisis minyak mentah dan minyak atsiri dalam buah telah
dengan sukses dilakukan dengan teknik ini.

Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan cairannya.
Disarankan untuk mencoba fasa cair standar yang diketahui efektif untuk berbagai senyawa.
Berdasarkan hasil ini, cairan yang lebih khusus kemudian dapat dipilih. Metoda deteksinya, akan
mempengaruhi kesensitifan teknik ini. Metoda yang dipilih akan bergantung apakah tujuannya
analisik atau preparatif.

d) HPLC

Akhir-akhir ini, untuk pemurnian (misalnya untuk keperluan sintesis) senyawa organik
skala besar, HPLC (high precision liquid chromatography atau high performance liquid
chromatography) secara ekstensif digunakan. Bi la zat melarut dengan pelarut yang cocok, zat
tersebut dapat dianalisis. Ciri teknik ini adalah penggunaan tekanan tinggi untuk mengirim fasa
mobil kedalam kolom. Dengan memberikan tekanan tinggi, laju dan efisiensi pemisahan dapat
ditingkatkan dengan besar.Silika gel atau oktadesilsilan yang terikat pada silika gel digunakan
sebagai fasa stationer. Fasa stationer cair tidak populer. Kolom yang digunakan untuk HPLC
lebih pendek daripada kolom yang digunakan untuk kromatografi gas. Sebagian besar kolom
lebih pendek dari 1 m.

Kromatografi penukar ion menggunakan bahan penukar ion sebagai fasa diam dan telah
berhasil digunakan untuk analisis kation, anion dan ion organik.

1. Mengenal Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

HPLC adalah alat yang sangat bermanfaat dalam analisis. Bagian ini menjelaskan
bagaimana pelaksanaan dan penggunaan serta prinsip HPLC yang sama dengan kromatografi
lapis tipis dan kromatografi kolom.

Pelaksanaan HPLC. HPLC secara mendasar merupakan perkembangan tingkat tinggi


dari kromatografi kolom. Selain dari pelarut yang menetes melalui kolom dibawah grafitasi,
didukung melalui tekanan tinggi sampai dengan 400 atm. Ini membuatnya lebih cepat.HPLC
memperbolehkan penggunaan partikel yang berukuran sangat kecil untuk material terpadatkan
dalam kolom yang mana akan memberi luas permukaan yang lebih besar berinteraksi antara fase
diam dan molekul-molekul yang melintasinya. Hal ini memungkinkan pemisahan yang lebih
baik dari komponen-komponen dalam campuran Perkembangan yang lebih luas melalui
kromatografi kolom mempertimbangkan metode pendeteksian yang dapat digunakan. Metode-
metode ini sangat otomatis dan sangat peka. Kolom dan pelarut. Membingungkan, ada dua
perbedaan dalam HPLC, yang mana tergantung pada polaritas relatif dari pelarut dan fase diam.
Fase normal HPLC. Ini secara esensial sama dengan apa yang sudah anda baca tentang
kromatografi lapis tipis atau kromatografi kolom. Meskipun disebut sebagai “normal”, ini
bukan merupakan bentuk yang biasa dari HPLC.
Kolom diisi dengan partikel silika yang sangat kecil dan pelarut non polar misalnya heksan.
Sebuah kolom sederhana memiliki diameter internal 4.6 mm (dan mungkin kurang dari nilai ini)
dengan panjang 150 sampai 250 mm. Senyawa-senyawa polar dalam campuran melalui kolom
akan melekat lebih lama pada silika yang polar dibanding degan senyawa-senyawa non polar.
Oleh karena itu, senyawa yang non polar kemudian akan lebih cepat melewati kolom.

Fase balik HPLC. Dalam kasus ini, ukuran kolom sama, tetapi silika dimodifikasi
menjadi non polar melalui pelekatan rantai-rantai hidrokarbon panjang pada permukaannya
secara sederhana baik berupa atom karbon 8 atau 18. Sebagai contoh, pelarut polar digunakan
berupa campuran air dan alkohol seperti metanol. Dalam kasus ini, akan terdapat atraksi yang
kuat antara pelarut polar dan molekul polar dalam campuran yang melalui kolom. Atraksi yang
terjadi tidak akan sekuat atraksi antara rantai-rantai hidrokarbon yang berlekatan pada silika (fase
diam) dan molekul-molekul polar dalam larutan. Oleh karena itu, molekul-molekul polar dalam
campuran akan menghabiskan waktunya untuk bergerak bersama dengan pelarut.

Senyawa-senyawa non polar dalam campuran akan cenderung membentuk atraksi dengan
gugus hidrokarbon karena adanya dispersi gaya van der Waals. Senyawa-senyawa ini juga akan
kurang larut dalam pelarut karena membutuhkan pemutusan ikatan hydrogen sebagaimana
halnya senyawa-senyawa tersebut berada dalam molekul-molekul air atau metanol misalnya.
Oleh karenanya, senyawa-senyawa ini akan menghabiskan waktu dalam larutan dan akan
bergerak lambat dalam kolom.Ini berarti bahwa molekul-molekul polar akan bergerak lebih cepat
melalui kolom. Fase balik HPLC adalah bentuk yang biasa digunakan dalam HPLC.

Melihat seluruh proses Diagram alir HPLC

Injeksi sample. Injeksi sample seluruhnya otomatis dan anda tidak akan mengharapkan
bagaimana mengetahui apa yang terjadi pada tingkat dasar. Karena proses ini meliputi tekanan,
tidak sama halnya dengan kromatografi gas (jika anda telah mempelajarinya).

Waktu retensi. Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju
detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel
diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu.
Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa,
waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:

• tekanan yang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut)
• kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa, tetapi juga pada ukuran
partikel)
• komposisi yang tepat dari pelarut
• temperatur pada kolom

Itu berarti bahwa kondisi harus dikontrol secara hati-hati, jika anda menggunakan waktu retensi
sebagai sarana untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa.

Detektor. Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode
umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra-violet.
Banyak senyawa-senyawa organik menyerap sinar UV dari beberapa panjang gelombang.
Jika anda menyinarkan sinar UV pada larutan yang keluar melalui kolom dan sebuah detektor
pada sisi yang berlawanan, anda akan mendapatkan pembacaan langsung berapa besar sinar yang
diserap.

Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang
melewati melalui berkas pada waktu itu. Anda akan heran mengapa pelarut yang digunakan tidak
mengabsorbsi sinar UV. Pelarut menyerapnya! Tetapi berbeda, senyawa-senyawa akan
menyerap dengan sangat kuat bagian-bagian yang berbeda dari specktrum UV.

Misalnya, metanol, menyerap pada panjang gelombang dibawah 205 nm dan air pada
gelombang dibawah 190 nm. Jika anda menggunakan campuran metanol-air sebagai pelarut,
anda sebaiknya menggunakan panjang gelombang yang lebih besar dari 205 nm untuk mencegah
pembacaan yang salah dari pelarut.

Interpretasi output dari detector. Output akan direkam sebagai rangkaian puncak-
puncak, dimana masing-masing puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui
detektor dan menerap sinar UV. Sepanjang anda mengontrol kondisi kolom, anda dapat
menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi senyawa yang diperoleh,
tentunya, anda (atau orang lain) sudah mengukur senyawa-senyawa murninya dari berbagai
senyawa pada kondisi yang sama.Anda juga dapat menggunakan puncak sebagai jalan untuk
mengukur kuanti?tas dari senyawa yang dihasilkan. Mari beranggapan bahwa tertarik dalam
senyawa tertentu, X.Jika anda menginjeksi suatu larutan yang mengandung senyawa murni X
yang telah diketahui jumlahnya pada instrumen, anda tidak hanya dapat merekam waktu retensi
dari senyawa tersebut, tetapi anda juga dapat menghubungkan jumlah dari senyawa X dengan
puncak dari senyawa yang dihasilkan.Area yang berada dibawah puncak sebanding dengan
jumlah X yang melalui detektor, dan area ini dapat dihitung secara otomatis melalui layar
komputer. Area dihitung sebagai bagian yang berwarna hijau dalam gambar (sangat sederhana).

Jika larutan X kurang pekat, area dibawah puncak akan berkurang meskipun waktu
retensi akan sama. Misalnya,Ini berarti dimungkinkan mengkalibrasi instrumen sehingga dapat
digunakan untuk mengetahu berapa jumlah substansi yang dihasilkan meskipun dalam jumlah
kecil.Meskipun demikian, harus berhati-hati. Jika anda mempunyai dua substansi yang berbeda
dalam sebuah campuran (X dan Y), dapatkah anda mengatakan jumlah relatifnya? Anda tidak
dapat mengatakannya jika anda menggunakan serapan UV sebagai metode pendeteksinya.Dalam
gambar, area di bawah puncak Y lebih kecil dibanding dengan area dibawah puncak X. Ini
mungkin disebabkan oleh karena Y lebih sedikit dari X, tetapi dapat sama karena Y
mengabsorbsi sinar UV pada panjang gelombang lebih sedikit dibanding dengan X. Ini mungkin
ada jumlah besar Y yang tampak, tetapi jika diserap lemah, ini akan hanya memberikan puncak
yang kecil.

Rangkaian HPLC pada spektrometer massa. Ini menunjukkan hal yang sangat
menakjubkan! Pada saat detektor menunjukkan puncak, beberapa senyawa sementara
melewati detektor dan pada waktu yang sama dapat dialihkan pada spektrometer massa.
Pengalihan ini akan memberikan pola fragmentasi yang dapat dibandingkan pada data
komputer dari senyawa yang polanya telah diketahui. Ini berarti bahwa identifikasi senyawa
dalam jumlah besar dapat ditemukan tanpa harus mengetahui waktu retensinya.

1. Mengenal Analisis Kualitatif Karbohidrat

Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid atau keton atau senyawa yang menghasilkan senyawa-
senyawa ini bila dihidrolisa. Molekul karbohidrat terdiri atas atmo-atom karbon, hidrogen dan
oksigen. Pada senyawa yang termasuk karbohidrat terdapat gugus –OH, gugus aldehid atau
gugus keton.

Terdapat tiga golongan utama karbohidrat, yaitu :

• Monosakarida, atau disebut gula sederhana, terdiri dari satu unit polihidroksi aldehid atau
keton.
• Oligosakarida, terdiri dari rantai pendek unit monosakarida yang digabungkan bersama-
sama oleh ikatan kovalen.
• Polisakarida, terdiri dari rantai panjang yang mempunyai ratusan atau ribuan unit
monosakarida.

Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat
memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam glukosa terdapat dalam buah-buahan dan
madu lebah. Dalam alam glukosa dihasilkan dari reaksi antara karbondioksida dan air dengan
bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun.
Fruktosa adalah suatu ketoheksosa yang mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kiri
dan karenanya disebut juga levulosa. Fruktosa mempunyai rasa lebih manis dari pada gula tebu
atau sukrosa. Fruktosa dapat dibedakan dari glukosa dengan pereaksi seliwanoff, yaitu larutan
resorsinol (1,3 dhidroksi-benzena) dalam asam clorida.
Umumnya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu.
Galaktosa mempunyai sifat memutar bidang cahaya terpolarisasi ke kanan. Pada proses oksidasi
oleh asam nitrat pekat dan dalam keadaan panas galaktosa menghasilkan asam musat yang
kurang larut dalam air bila dibandingkan dengan asam sakarat yang dihasilkan oleh oksidasi
glukosa.
Laktosa memiliki gugus karbonil yang berpotensi bebas pda residu glukosa. Laktosa adalah
disakarida pereduksi. Selama proses pencernaan, laktosa mengalami proses hidrolisis enzimatik
oleh laktase dari sel-sel mukosa usus.
Sukrosa atau gula tebu adalah disakarida dari glukosa dan fruktosa. Sukrosa dibentuk oleh
banyak tanaman tetapi tidak terdapat pada hewan tingkat tinggi. Sukrosa mempunyai sifat
memutar cahaya terpolarisasi ke kanan. Hasil yang diperoleh dari reaksi hidrolisis adalah
glukosa dan fruktosa dalam jumlah yang ekuimolekular.

Amilum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan


glukosa. Hidrolisi dapat juga dibantu dengan bantuan enzim amilase.

Karbohidrat secara kualitatif dapat dikenali dengan melakukan beberapa uji. Karbohidrat
memberikan reaksi positif dengan uji molish. Prinsip reaksi ini adalah dehidrasi senyawa
karbohidrat oleh asam sulfat pekat. Dehidrasi heksosa menghasilkan senyawa hidroksi metil
furfural, sedangkan dehidrasi pentosa menghasilkan senyawa fulfural. Uji positif jika timbul
cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan
naftol dalam pereaksi molish.

Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat yang memiliki gugus aldehid atau
keton bebas, seperti yang terdapat pada laktosa dan maltosa. Uji benedict berdasarkan reduksi
Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam suasana alkalis, biasanya
ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya pengendapan
CuCO3. uji positif ditandai dengan terbentuknya larutan hijau, merah, orange atau merah bata
serta adanya endapan.Uji seliwanoff merupakan uji spesifik untuk karbohidrat yang mengandung
gugus keton atau disebut juga ketosa. Pada pereaksi seliwanoff, terjadi perubahan oleh HCl
panas menjadi asm levulinat dan hidroksilmetil furfural. Jika dipanaskan karbohidrat yang
mengandung gugus keton akan menghasikan warna merah pada larutannya.

Pada uji iodine, kondensasi iodine dengan karbohidrat, selain monosakarida dapat menghasilkan
warna yang khas. Amilum dengan iodine dapat membentuk kompleks biru, sedangkan dengan
glikogen akan membentuk warna merah.

1. Penerapan Penelitian HPCL

Penelitian berjudul penentuan kadar glukosa dan fruktosa pada madu randu dan madu
kelengkeng dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi pernah dilakukan oleh K. Ratnayani
dan kawan-wan di jurusan kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: air deionisasi, larutan
standar glukosa 5% dan larutan standar fruktosa 5%. Sampel penelitian adalah madu randu dan
madu kelengkeng yang telah memenuhi standar SII dari merk yang sama. Tiap jenis madu
digunakan dua buah sampel dan tiap sampel dilakukan pengukuran sebanyak dua kali.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: seperangkat alat KCKT (buatan
ICI Instruments) yang dilengkapi dengan detektor indeks bias (Shodex RI SE-61) serta integrator
merek (Shimadzu CR6A Chromatopac; labu ukur 20 mL, 25 mL; pipet volume 1,0 mL, 2,5 mL,
5 mL, 10 mL, 25 mL; alat sentrifugasi; kertas saring 0,45 mikrometer.

Cara kerja pembuatan larutan standar. Larutan standar glukosa dan fruktosa dibuat dengan
konsentrasi masing-masing 5% b/v. Adapun cara pembuatannya adalah sebagai berikut:

1. masing-masing senyawa (glukosa dan fruktosa) ditimbang sebanyak 1 g.


2. Senyawa-senyawa tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 20 mL, kemudian ditambah
aquades sampai tanda batas (kadar glukosa dan fruktosa masing-masing 5% b/v).

Dari konsentrasi tersebut dapat dibuat campuran dengan konsentrasi masing-masing 1%, o,5%,
0,25%, dan 0,125% dengan cara:
1. campurkan glukosa dan fruktosa 1% ke dalam labu ukur 50 mL, dipipet masing-masing
10,0 mL larutan fruktosa 5%, ditambah 10,0 mL larutan glukosa 5%. Ditambah dengan
aquades sampai tanda batas.
2. campurkan glukosa dan fruktosa 0,5% ke dalam labu ukur 50 mL, dipipet masing-masing
5,0 mL larutan fruktosa 5%, ditambah 5,0 mL larutan glukosa 5%. Ditambah dengan
aquades sampai tanda batas.
3. campurkan glukosa dan fruktosa 0,25% ke dalam labu ukur 50 mL, dipipet masing-
masing 2,5 mL larutan fruktosa 5%, ditambah 5,0 mL larutan glukosa 5%. Ditambah
dengan aquades sampai tanda batas.
4. campurkan glukosa dan fruktosa 0,125%. Campuran glukosa dan fruktosa 0,25% pada(c)
dipipet 25,0% mL, dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL. Campuran tersebut ditambah
dengan aquades sampai tanda batas.

Masing-masing campuran glukosa dan fruktosa tersebut disaring dengan kertas saring 0,45
mikrometer.

Penentuan kondisi HPCL untuk pemisahan glukosa dan fruktosa. Kondisi analisis untuk
penentuan kandungan gglukosa dan fruktosa pada sampel madu adalah pada kondisi pemisahan
yang terbaik. Kondisi tersebut tercapai jika hasil kromatogram masing-masing komponen tidak
tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat dicapai dengan mengatur suhu kolom
dan laju alir dari eluen. Kondisi pemisahan dapat ditentukan pada saat pengukuran larutan
standar, di mana eluen yang digunakanadalah air deionisasi pada kolom metacarb 87 C dan
dideteksi dengan mengunakan detektor indeks bias.

Pembuatan kurva standar. Larutan standar glukosa dan fruktosa 0,125% diinjeksikan
sebanyak 20 mikroliter dengan menggunakan auto syringe injector. Biarkan sampai semua
komponen keluar dan terpisah dari kolom. Waktu retensi untuk masing-masing komponen
(glukosa dan fruktosa) dicatat. Langkah tersebut diulangi dengan menginjeksikan 20 mikroliter
larutan standar glukosa da fruktosa 0,25% kemudian dengan larutan standar 0,5% dan 1%. Plot
hubungan antara konsentrasi larutan standar dengan luas puncak dari masing-masing komponen.

C. Penutup

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :

1. Pemisahan dan analisis kadar glukosa dan fruktosa pada madu randu dan madu
kelengkeng dapat dilakukan menggunakan teknik KCKT. Kolom yang digunakan adalah
kolom metacarb 87C dengan eluen air deionisasi. Kondisi operasional yang terbaik
diperoleh pada suhu kolom 80ºC dan laju alir 1 mL/menit dengan menggunakan detektor
indeks bias.
2. Kadar glukosa pada madu randu adalah sebesar 27,31 % dan pada madu kelengkeng
sebesar 28,09 %. Sedangkan kadar fruktosa pada madu randu sebesar 40,99 % dan pada
madu kelengkeng sebesar 40,03 %.
3. Kadar glukosa dan fruktosa dari tiap-tiap sampel madu telah memenuhi syarat mutu
madu nasional (SII) dimana kadar gula pereduksi total pada madu randu sebesar 68,12%
dan pada madu kelengkeng sebesar 68,12%.
Daftar Pustaka

http://aboutchemistry21.blogspot.com/2008/12/analisa-kualitatif-karbohidrat.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_analitik

http://www.chem-is-try.org/kategori/materi_kimia/instrumen_analisis/

http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/kromatografi1/kromatografi_cair_kinerja_tinggi_hplc/

K. Ratnayani, N. M. A. Dwi Adhi S., dan I G. A. M. A. S. Gitadewi. Penentuan Kadar Glukosa


dan Fluktosa Pada Madu Randu dan Madu Kelengkeng Dengan Metode Kromatografi Cair
Kinerja Tinggi. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran. Jurnal Kimia 2 (2),
Juli 2008: 77-86.