Anda di halaman 1dari 16

Mengenali Gejala dan Penanganan Impetigo Krustosa

Ira Vini Gloria Franky


10.2013.103 / F8
Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6
ira.2013fk103@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak
Impetigo adalah infeksi kulit yang umum pada anak-anak antara usia 2 dan 5
tahun. Impetigo krustosa, juga disebut sebagai pyoderma, adalah infeksi kulit
dangkal yang sangat menular yang biasa terjadi di seluruh dunia pada anak-anak
antara usia 2 dan 5 tahun. Penyakit ini menular dan disebabkan oleh bakteri gram
positif, terutama Staphylococcus aureus dan kelompok streptococcus hemolitik
beta.1 Lesi karakteristik, muncul sebagai bullae yang kering untuk membentuk
berwarna madu, tebal kerak yang dapat menyebabkan gatal. Sebagian besar
infeksi impetigo sembuh tanpa memerlukan antibiotik. Namun, untuk mengurangi
durasi dan penyebaran penyakit, antibiotik topikal digunakan.

Antibiotik oral

umumnya digunakan untuk pasien dengan infeksi lebih parah atau pengobatantahan api dan termasuk penisilin penicillinase-tahan atau sefalosporin generasi
pertama.1 Impetigo disebabkan oleh bakteri gram-positif, paling sering
Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes (kelompok streptococcus
beta-hemolitik [GABHS]), baik sendiri atau dalam kombinasi. 1 Prognosis
biasanya baik, penyembuhan terjadi dalam waktu 2 minggu. 1
Kata kunci: impetigo, pyoderma
Abtract
Impetigo is a common skin infection in children between the ages of 2 and 5 years
old. Impetigo crust, also referred to as pyoderma, is a highly communicable
superficial skin infection that commonly occurs worldwide in children between
ages 2 and 5 years. It is highly infectious and is caused primarily by grampositive bacteria, mainly Staphylococcus aureus and group A beta-hemolytic

streptococcus.

The lesions are characteristic, appearing as bullae that dry to

form a honey-colored, thick crust that may cause pruritus. Most impetigo
infections resolve without requiring antibiotics; however, to reduce the duration
and spread of the disease, topical antibiotics are used. Oral antibiotics are
generally reserved for patients with more severe or treatment-refractory infection
and

include

penicillinase-resistant

penicillins

or

first-generation

cephalosporins.1 - Impetigo is caused by gram-positive bacteria, most


commonly Staphylococcus aureus and Streptococcus pyogenes (group A betahemolytic streptococcus [GABHS]), either alone or in combination.

The

prognosis is usually good, with healing occurring within 2 weeks if left untreated.1
Keywords: impetigo, pyoderma
Pendahuluan
Kulit adalah organ tubuh yang paling luar dan membatasinya dari
lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira
15% dari berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta
merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis
dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan juga bergantung
pada lokasi tubuh. Bakteri, jamur dan virus, dapat menyebabkan banyak penyakit
kulit. Manifestasi morfologik penyakit-penyakit infeksi bakteri pada kulit sangat
bervariasi. Infeksi pada kulit oleh bakteri piogenik biasanya berasal dari luar
tubuh. Pioderma merupakan penyakit yang sering dijumpai. Pioderma juga
merupakan infeksi purulen pada kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus dan
Streptococcus atau keduanya.

Pioderma memiliki banyak bentuk diantaranya

impetigo, folikulitis, furunkel, eritrasma, erysipelas, selulitis, abses, dan lain-lain. 1


Bakteri yang menyerang epidermis dapat menyebabkan impetigo. Dinamakan
impetigo menurut bahsa Perancis dan Latin yang berarti erupsi keropeng yang
menyerang. Impetigo adalah penyakit kulit superfisial yang disebabkan infeksi
piogenik oleh bakteri Gram positif. Impetigo lebih sering terjadi pada usia anakanak walaupun pada orang dewasa dapat terjadi. 1 Penularan impetigo tergolong
tinggi, terutama melalui kontak langsung. Individu yang terinfeksi dapat
menginfeksi dirinya sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi. Infeksi

seringkali menyebar dengan cepat di sekolah, tempat penitipan anak atau pada
tempat dengan hygiene buruk atau juga tempat tinggal yang padat penduduk.
Anamnesis
Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan
cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien atau keluarga pasien.
Anamnesis yang ditanyakan sebagai berikut. Identitas pasien: nama, usia, alamat,
pekerjaan. Keluhan utama: gatal/nyeri disertai bercak (merah/putih/coklat),
bersisik/baal dan tanyakan sejak kapan. 2 Riwayat penyakit sekarang: Jika gatal
tanyakan lokasinya, apakah ada faktor memperberat keluhan utama? Waktu kapan
gatalnya? Jika disertai bersisik: halus/tebal. Jika bercak merah/putih: ada
gatal/tidak. Apakah sudah diobati sebelumnya? Tanyakan juga keluhan lainnya
misalnya demam, lemas, berat badan turun dan sebagainya. Riwayat penyakit
dahulu :Apakah pasien sebelumnya pernah menderita penyakit yang sama?
Apakah ada riwayat alergi pada makanan ataupun obat? Apakah ada riwayat
penyakit diabetes melitus? Riwayat keluarga : Apakah keluarga atau teman
serumah ada yang mengalami keluhan yang sama?Riwayat sosial dan kebiasaan:
Bagaimana kondisi tempat tinggal? Bagaimana dengan kebersihan pasien?
Permeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk pemeriksaan fisik kulit; warna kulit serta
skinphototype, suhu kulit (hipotermi/normotermi/hipertermi), kelembapan kulit
(kering/normal/lembab/berminyak),

tekstur

kulit

(kasar/normal/lembut).

Efloresensi makula eritematosa miliar sampai lentikular merah atau papul sebagai
lesi awal. Lesi dengan bula yang ruptur dan tepi dengan krusta., difus, anular,
sirsinar, vesika dan bula lentikular difus; pustula miliar sampai lentikular; krusta
kuning kecoklatan, berlapis-lapis, mudah diangkat.3 Lokalisasi: daerah yang
terpajan, terutama wajah (sekitar hidung dan mulut), tangan dan leher dan
ekstremitas. 3
Pemeriksaan Penunjang
Pada keadaan khusus, dimana diagnosis impetigo masih diragukan, atau pada
suatu daerah dimana impetigo sedang mewabah, atau pada kasus yang kurang

berespons terhadap pengobatan, maka diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan


sebagai berikut: 3
Pewarnaan gram. Pada pemeriksaan ini akan mengungkapkan adanya neutropil
dengan kuman coccus gram positif berbentuk rantai atau kelompok.
Kultur cairan. Pada pemeriksaan ini umumnya akan mengungkapkan adanya
Streptococcus aureus, atau kombinasi antara Streptococcus pyogenes dengan
Streptococcus beta hemolyticus grup A (GABHS), atau kadang-kadang dapat
berdiri sendiri. Biopsi dapat juga dilakukan jika ada indikasi. 3
Laboratorium rutin: pada pemeriksaan darah rutin, lekositosis ringan hanya
ditemukan

pada

50%

kasus

pasien

dengan

impetigo.

Pemeriksaan mikrobiologis: eksudat yang diambil di bagian bawah krusta dan


cairan yang berasal dari bulla dapat dikultur dan dilakukan tes sensititas. Hasil
kultur bisa memperlihatkan S. pyogenes, S. aureus atau keduanya.3 Tes
sensitivitas

antibiotic

dilakukan

untuk

mengisolasi

methicilin-

resistant

staphylococcus aureus (MRSA) serta membantu dalam pemberian antibiotic yang


sesuai. Pewarnaan gram pada eksudat memberikan hasil gram positif. Pada blood
agar koloni kuman mengalami hemolisis dan memperlihatkan daerah yang
hemolisis di sekitarnya meskipun dengan blood agar telah cukup untuk isolasi
kuman, manitol salt agar atau medium Baierd-Parker egg Yolk-tellurite
direkomendasikan jika lesi juga terkontaminasi oleh organism lain. Kemampuan
untuk mengkoagulasi plasma adalah tes paling penting dalam mengidentifikasi S.
aureus. 3
Diagnosis Kerja
Impetigo adalah suatu infeksi/peradangan kulit yang terutama disebabkan
oleh bakteri Streptococcus pyogenes, yang dikenal dengan Streptococcus beta
hemolyticus grup A.

Kadang-kadang disebabkan oleh bakteri lain seperti

Staphylococcus aureus pada isolasi lesi impetigo.

Istilah impetigo berasal dari

bahasa Latin yang berarti serangan, dan telah digunakan untuk menjelaskan
gambaran seperti letusan berkeropeng yang biasa nampak pada daerah permukaan
kulit. 2 Impetigo mengenai kulit bagian atas ( epidermis superfisial) dengan dua
macam gambaran klinis, impetigo krustosa ( tanpa gelembung, cairan dengan
krusta, keropeng, koreng) dan impetigo bulosa ( dengan gelembung berisi cairan).

Impetigo krustosa disebut juga impetigo kontagiosa, impetigo vulgaris, dan


impetigo Tillbury Fox.Impetigo krustosa merupakan bentuk pioderma yang paling
sederhana. 2 Biasanya pasiennya adalah anak-anak. Frekuensi laki-laki dan wanita
sama. 2
Epidemiologi
Di Amerika Serikat, kurang lebih 9 10 % dari anak-anak yang datang ke klinik
kulit menderita impetigo. Perbandingan antara jenis kelamin laki-laki dan
perempuan adalah sama. Terjadinya penyakit impetigo krustosa di seluruh dunia
tergolong relatif sering. 4 Penyakit ini banyak terjadi pada anak - anak kisaran usia
2-5 tahun dengan rasio yang sama antara laki-laki dan perempuan. Di Inggris
kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8% pertahun dan
1,6% pada anak usia 5-15 tahun. 4 Impetigo krustosa banyak terjadi pada musim
panas dan daerah lembab, seperti Amerika Selatan yang merupakan daerah
endemik dan predominan, dengan puncak insiden di akhir musim panas. Anakanak prasekolah dan sekolah paling sering terinfeksi. Pada usia dewasa, laki-laki
lebih banyak dibanding perempuan. Disamping itu, ada beberapa faktor yang
dapat mendukung terjadinya impetigo krustosa seperti hunian padat, higiene
buruk, dan hewan peliharaan. Lebih sering terjadi pada daerah tropis dan
bermusim panas atau cuaca panas dan lembab. 4 Keadaan yang mengganggu
epidermis kulit seperti gigitan serangga, herpes simpleks, varisela, abrasi, atau
luka bakar.
Etiologi
Mikroorganisme

penyebab

Streptococcus B hemoliticus.

impetigo
4

adalah

Staphylococcus

aureus

dan

Pada negara maju, impetigo krustosa banyak

disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan sedikit oleh Streptococcus group A


beta-hemolitikus (Streptococcus pyogenes). Banyak penelitian yang menemukan
50-60% kasus impetigo krustosa penyebabnya adalah Staphylococcus aureus dan
20-45%

kasus

merupakan

kombinasi

Staphylococcus

aureus

dengan

Streptococcus pyogenes. 5 Namun di negara berkembang, yang menjadi penyebab


utama impetigo krustosa adalah Streptococcus pyogenes. Staphylococcus aureus

banyak terdapat pada faring, hidung, aksila dan perineal merupakan tempat
berkembangnya penyakit impetigo krustosa

Gambar1 . Impetigo krustosa di ekstremitas superior pada anak-anak. 3


Impetigo krustosa dimulai ketika trauma kecil terjadi pada kulit normal
sebagai portal of

entry yang terpapar oleh kuman melalui kontak langsung

dengan pasien atau dengan seseorang yang menjadi carrier. Kuman tersebut
berkembang biak dikulit dan akan menyebabkan terbentuknya lesi dalam satu
sampai dua minggu. 6
Cara infeksi pada impetigo krustosa ada 2, yaitu infeksi primer dan infeksi
sekunder.
Infeksi Primer
Infeksi primer, biasanya terjadi pada anak-anak. Awalnya, kuman menyebar dari
hidung ke kulit normal (kira-kira 11 hari), kemudian berkembang menjadi lesi
pada kulit. Lesi biasanya timbul di atas kulit wajah (terutama sekitar lubang
hidung) atau ekstremitas setelah trauma. 6
Infeksi sekunder
Infeksi sekunder terjadi bila telah ada penyakit kulit lain sebelumnya
(impetiginisasi) seperti dermatitis atopik, dermatitis statis, psoariasis vulgaris,
SLE kronik, pioderma gangrenosum, herpes simpleks, varisela, herpes zoster,
pedikulosis, skabies, infeksi jamur dermatofita, gigitan serangga, luka lecet, luka
goresan, dan luka bakar, dapat terjadi pada semua umur. 6
Impetigo krustosa biasanya terjadi akibat trauma superfisialis dan robekan
pada epidermis, akibatnya kulit yang mengalami trauma tersebut menghasilkan
suatu protein yang mengakibatkan bakteri dapat melekat dan membentuk suatu
infeksi impetigo krustosa. 6 Keluhan biasanya gatal dan nyeri. Impetigo krustosa
6

sangat menular, berkembang dengan cepat melalui kontak langsung dari orang ke
orang. Impetigo banyak terjadi pada musim panas dan cuaca yang lembab. 4 Pada
anak-anak sumber infeksinya yaitu binatang peliharaan, kuku tangan yang kotor,
anak-anak lainnya di sekolah, daerah rumah kumuh, sedangkan pada dewasa
sumbernya yaitu tukang cukur, salon kecantikan, kolam renang, dan dari anakanak yang telah terinfeksi..4
Manifestasi Klinis
Impetigo krustosa dapat terjadi di mana saja pada tubuh, tetapi biasanya
pada bagian tubuh yang sering terpapar dari luar misalnya wajah, leher, dan
ekstremitas. Impetigo krustosa diawali dengan munculnya eritema berukuran
kurang lebih 2 mm yang dengan cepat membentuk vesikel, bula atau pustul
berdinding tipis.

Kemudian vesikel, bula atau pustul tersebut ruptur menjadi

erosi kemudian eksudat seropurulen mengering dan menjadi krusta yang berwarna
kuning keemasan (honey-colored) dan dapat meluas lebih dari 2 cm. Lesi biasanya
berkelompok dan sering konfluen meluas secara irreguler.

Pada kulit dengan

banyak pigmen, lesi dapat disertai hipopigmentasi atau hiperpigmentasi. Krusta


pada akhirnya mengering dan lepas dari dasar yang eritema tanpa pembentukan
jaringan scar.
Lesi dapat membesar dan meluas mengenai lokasi baru dalam waktu
beberapa minggu apabila tidak diobati. Pada beberapa orang lesi dapat remisi
spontan dalam 2-3 minggu atau lebih lama terutama bila terdapat penyakit akibat
parasit atau pada iklim panas dan lembab, namun lesi juga dapat meluas ke dermis
membentuk ulkus (ektima). 1
Patofisiologi
Impetigo adalah infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus beta hemolyticus
grup A dan/atau Streptococcus aureus. 1 Organisme tersebut masuk melalui kulit
yang terluka melalui transmisi kontak langsung. Setelah infeksi, lesi yang baru
mungkin terlihat pada pasien tanpa adanya kerusakan pada kulit. Seringnya lesi
ini menunjukkan beberapa kerusakan fisik yang tidak terlihat (mikrolesi) pada
saat dilakukan pemeriksaan. Impetigo memiliki lebih dari satu bentuk. 1 Beberapa
penulis menerangkan perbedaan bentuk impetigo dari strain Staphylococcus yang

menyerang

dan

aktivitas

eksotoksin

yang

dihasilkan.8

Streptococcus masuk melalui kulit yang terluka dan melalui transmisi kontak
langsung, setelah infeksi, lesi yang baru mungkin terlihat pada pasien tanpa
adanya kerusakan pada kulit. Bentuk lesi mulai dari makula eritema yang
berukuran 2 4 mm. Secara cepat berubah menjadi vesikel atau pustula. 8 Vesikel
dapat pecah spontan dalam beberapa jam atau jika digaruk maka akan
meninggalkan krusta yang tebal, karena proses dibawahnya terus berlangsung
sehingga akan menimbulkan kesan seperti bertumpuk-tumpuk, warnanya
kekuning-kuningan. Karena secara klinik lebih sering dilihat krusta maka disebut
impetigo krustosa. 8 Krusta sukar diangkat, tetapi bila berhasil akan tampak kulit
yang erosif.
Gejala Klinis
Gejala klinis impetigo dimulai dari munculnya kelainan kulit berupa eritema dan
vesikel yang cepat menyebar dan memecah dalam waktu 24 jam. Lesi yang pecah
akan mengeluarkan sekret/cairan berwarna kuning encer. 3 Lesi ini paling sering
ditemukan di daerah kaki, tangan, wajah dan leher. Pada umumnya tidak dijumpai
demam. Pada awalnya, kemungkinan akan dijumpai; ruam merah yang lembut,
kulit mengeras/krusta (Honey-colored crusts), gatal, luka yang sulit menyembuh.
Awalnya berupa warna kemerahan pada kulit (makula) atau papul (penonjolan
padat dengan diameter <0,5cm) yang berukuran 2-5 mm.

Lesi papul segera

menjadi menjadi vesikel atau pustul (papula yang berwarna keruh/mengandung


nanah/pus) yang mudah pecah dan menjadi papul dengan keropeng/koreng
berwarna kunig madu dan lengket yang berukuran <2cm dengan kemerahan
minimal atau tidak ada kemerahan disekelilingnya.

Lesi muncul pada kulit

normal atau kulit yang kena trauma sebelumnya atau mengikuti kelainan kulit
sebelumnya (skabies, vasisela, dermatitis atopi) dan dapat menyebar dengan
cepat. Lesi berada sekitar hidung, mulut dan daerah tubuh yang sering terbuka
( tangan dan kaki). 3 Kelenjar getah bening dapat menbesar dan dapat nyeri. Lesi
juga menyebar ke daerah sekitar dengan sendirinya (autoinokulasi). Jika dibiarkan
tidak diobati maka lesi dapat menyebar terus karena tindakan diri sendiri (digaruk
lalu tangan memegang tempat lain sehingga mengenai tempat lain). Lalu dapat
sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu tanpa jaringan parut. 3

Walaupun jarang, bengkak pada kaki dan tekanan darah tinggi dapat ditemukan
pada orang dengan impetigo krustosa sebagai tanda glomerulonefritis (radang
pada ginjal) akibat reaksi tubuh terhadap infeksi oleh kuman Streptokokus
penyebab impetigo.
Diagnosis Banding
Impetigo Bulosa
Impetigo bulosa atau cacar monyet adalah suatu bentuk impetigo dengan gejala
utama berupa lepuh-lepuh berisi cairan kekuningan dengan dinding tegang,
terkadang tampak hipopion.Mula-mula berupa vesikel, lama kelamaan akan
membesar menjadi bula yang sifatnya tidak mudah pecah, karena dindingnya
relatif tebal dari impetigo krustosa. Isinya berupa cairan yang lama kelamaan akan
berubah menjadi keruh karena invasi leukosit dan akan mengendap. 3 Bila
pengendapan terjadi pada bula disebut hipopion yaitu ruangan yang berisi pus
yang mengendap, bila letaknya di punggung, maka akan tampak seperti
menggantung.

Penyebabnya adalah bakteri Staphylococcus. Pasiennya sering

pada anak-anak, dewasapun juga. Frekuensi sama laki-laki dan perempuan. Lepuh
tiba-tiba muncul pada kulit sehat, bervariasi mulai dari miliar hingga lentikular,
biasanya dapat bertahan 2 3 hari. Pemeriksaan kulit:lokalisasi: ketiak, dada,
punggung, dan ekstremitas atas atau bawah.Efloresensi: tampak bula dengan
dinding tepal dan tipis, miliar hingga lentikular, kulit sekitarnya tidak
menunjukkan peradangan, terkadang-kadang tampak hipopion. Tempat predileksi
di ketiak, dada, punggung. Sering bersama-sama miliaria.
Penyakit ini lebih banyak terjadi di daerah tropis dengan musim panas dan banyak
debu. 7 Faktor yang mempengaruhi timbulnya impetigo bulosa anatara lain gizi
kurang dan anemia. Kebersihan/higiene kurang dan lingkungan yang kotor. 7
Gambaran

khas

dari

impetigo

seperti: 9

bulosa

Vesikel ( gelembung berisi cairan dengan diameter < 0,5 cm) yang timbul
sampai bulla ( gelembung berisi cairan dengan diameter >0,5 cm) kurang dari 1
cm pada kulit yang utuh, dengan kulit sekitar normal atau kemerahan. Pada
awalnya vesikel berisi cairan yang jernih yang berubah menjadi vesikel berisi
cairan

Bulla

yang
yang

jernih
utuh

yang
jarang

berubah
ditemukan

menjadi
karena

warna
sangat

keruh. 9
rapuh

Bila impetigo menyertai kelainan kulit lainnya, maka kelainan itu dapat
menyertai

dermatitis

atopi,

varisela,

gigitan

binatang

dan

lain-lain.9

Lesi dapat lokal atau tersebar, sering kali di wajah atau tempat lain, seperti
tempat

yag

lembab,

lipatan

kulit,

ketiak

atau

lipatan

leher.

Atap dari bula pecah dan meninggalkan gambaran collarette pada pinggirnya.
Krusta varnishlike terbentuk pada bagian tengah yang jika disingkirkan
memperlihatkan

Tidak

ada

dasar

yang

pembengkakan

kelenjar

merah
getah

bening

dan
di

basah.
dekat

lesi.

Pada bayi, lesi yang luas dapat disertai dengan gejala demam, lemah, diare.
Jarang sekali disertai dengan radang paru, infeksi sendi atau tulang
Ektima
Ektima atau sinonimnya impetigo ulseratif adalah pioderma ulseratif kulit yang
umumnya disebabkan oleh Streptococcus -hemolyticus. 10 Penyebab lainnya bisa
Staphylococcus aureus atau kombinasi dari keduanya. Bakteri biasanya
menyerang epidermis dan dermis sehingga membentuk ulkus dangkal yang
ditutupi oleh krusta berlapis, sering terdapat pada tungkai bawah. Pemeriksaan
fisis efloresensi dari ektima awalnya berupa pustul kemudian pecah membentuk
ulkus yang tertutupi krusta. 10 Lokalisasi lesi pada ekstremitas bawah, wajah, dan
ketiak. Ektima merupakan suatu infeksi kulit yang mirip dengan impetigo
krustosa, namun kerusakan dan daya invasifnya pada kulit lebih dalam. 10 Infeksi
diawali pada lesi yang disebabkan karena garukan atau gigitan serangga. Lesi
pada ektima awalnya berbentuk vesikel atau pustul pada daerah inflamasi kulit,
kemudian langsung ditutupi dengan krusta yang lebih keras dan tebal daripada
krusta impetigo. Ektima sering ditemukan pada anak-anak, orang tua serta orangorang dengan gangguan fungsi imun (Human Imunodeficiency Virus).
Penatalaksanaan pada ektima ialah pemberian antibiotik oral.

10

Penggunaan

sabun antiseptik atau bahan peroksida yang dicuci pada luka dapat mengurangi
infeksi. Lesi yang direndam pada air panas juga dapat membantu terlepasnya
krusta. Dengan penatalaksanaan tersebut ektima dapat sembuh sempurna. Jika
keadaan umum baik akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 3 minggu dan
meninggalkan jaringan parut yang tidak berarti. 10 Jika keadaan umum buruk dapat
menjadi gangren. Komplikasi dari ektima dapat berupa infeksi sistemik yang

10

akhirnya dapat membawa pada suatu keadaan gagal ginjal (glomerulonefritis post
streptokokus). 10

Gambar 2. Lesi tipikal ektima pada ektremitas bawah5

Pencegahan
Kebersihan sederhana dan perhatian terhadap kecil dapat mencegah timbulnya
impetigo.

Seseorang

yang

sudah

terkena

impetigo

atau

gejala-gejala

infeksi/peradangan Streptococcus beta hemolyticus grup A (GABHS) perlu


mencari perawatan medik dan jika perlu dimulai dengan pemberian antibiotik
secepat mungkin untuk mencegah menyebarnya infeksi ini ke orang lain.

11

Penderita impetigo harus diisolasi, dan dicegah agar tidak terjadi kontak dengan
orang lain minimal dalam 24 jam setelah pemberian antibiotik.

11

Pemakaian

barang-barang atau alat pribadi seperti handuk, pakaian, sarung bantal dan seprai
harus dipisahkan dengan orang-orang sehat. Pada umumnya akhir periode
penularan adalah setelah dua hari permulaan pengobatan, jika impetigo tidak
menyembuh dalam satu minggu, maka harus dievaluasi. 11
Komplikasi
Selulitis dan Erisepelas
Impetigo krustosa dapat menjadi infeksi invasif menyebabkan terjadinya selulitis
dan erisepelas, meskipun jarang terjadi. Selulitis merupakan peradangan akut kulit
yang mengenai jaringan subkutan (jaringan ikat longgar) yang ditandai dengan
eritema setempat, ketegangan kulit disertai malaise, menggigil dan demam.
Sedangkan erisepelas merupakan peradangan kulit yang melibatkan pembuluh

11

limfe superfisial ditandai dengan eritema dan tepi meninggi, panas, bengkak, dan
biasanya disertai gejala prodromal. 3
Glomerulonefritis Post Streptococcal
Komplikasi utama dan serius dari impetigo krustosa yang umumnya disebabkan
oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus ini yaitu glomerulonefritis akut (2%5%).3 Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak usia kurang dari 6 tahun.
Tidak ada bukti yang menyatakan glomerulonefritis terjadi pada impetigo yang
disebabkan oleh Staphylococcus. Insiden glomerulonefritis (GNA) berbeda pada
setiap individu, tergantung dari strain potensial yang menginfeksi nefritogenik.
Faktor yang berperan penting atas terjadinya GNAPS yaitu serotipe Streptococcus
strain 49, 55, 57. 3
Rheumatic Fever.
Sebuah kelainan inflamasi yang dapat terjadi karena komplikasi infeksi
streptokokus yang tidak diobati strep throat atau scarlet fever. Kondisi tersebut
dapat mempengaruhi otak, kulit, jantung,dan sendi tulang. 3
Pneumonia.
Pneumonia merupakan penyakit yang banyak ditemui setiap tahun. Penyakit ini
biasa terjadi pada perokok dan seseorang yang menggunakan obat yang menekan
sistem imunitas. 3
Meningitis
Sebuah inflamasi pada membran dan cairan serebrospinal yang melingkupi otak
dan medula spinalis. Meningitis merupakan sebuah penyakit serius yang dapat
mempengaruhi kehidupan dan menghasilkan komplikasi permanen seperti koma,
syok, dan kematian. 3
Penatalaksanaan
Umum
Menjaga kebersihan agar tetap sehat dan terhindar dari infeksi kulit.
Menindaklanjuti luka akibat gigitan serangga dengan mencuci area kulit yang
terkena untuk mencegah infeksi. 11
Mengurangi kontak dekat dengan penderita

12

Bila diantara anggota keluarga ada yang mengalami impetigo diharapkan dapat
melakukan beberapa tindakan pencegahan berupa: 11
-Mencuci bersih area lesi (membersihkan krusta) dengan sabun dan air mengalir
serta membalut lesi.
-Mencuci pakaian, kain, atau handuk penderita setiap hari dan tidak menggunakan
peralatan harian bersama-sama.
-Menggunakan sarung tangan ketika mengolesi obat topikal dan setelah itu
mencuci tangan sampai bersih.
-Memotong kuku untuk menghindari penggarukan yang memperberat lesi.
-Memotivasi penderita untuk sering mencuci tangan.
Khusus
Pada prinsipnya, pengobatan impetigo krustosa bertujuan untuk memberikan
kenyamanan dan perbaikan pada lesi serta mencegah penularan infeksi dan
kekambuhan.
Terapi Sistemik
Pemberian antibiotik sistemik pada impetigo diindikasikan bila terdapat lesi yang
luas atau berat, limfadenopati, atau gejala sistemik. 11
a.Pilihan Pertama (Golongan Lactam)
Golongan Penicilin (bakterisid)
Amoksisilin+ Asam klavulanat
Dosis 2x 250-500 mg/hari (25 mg/kgBB) selama 10 hari.
Golongan Sefalosporin generasi-ke1 (bakterisid)
Sefaleksin
Dosis 4x 250-500 mg/hari (40-50 mg/kgBB/hari) selama 10 hari.3
Kloksasilin
Dosis 4x 250-500 mg/hari selama 10 hari.
b.Pilihan Kedua
Golongan Makrolida (bakteriostatik)
Eritromisin
Dosis 30-50mg/kgBB/hari.
Azitromisin

13

Dosis 500 mg/hari untuk hari ke-1 dan dosis 250 mg/hari untuk hari ke-2
sampai hari ke-4. 11
Terapi Topikal
Penderita diberikan antibiotik topikal bila lesi terbatas, terutama pada wajah dan
penderita sehat secara fisik. Pemberian obat topikal ini dapat sebagai profilaksis
terhadap penularan infeksi pada saat anak melakukan aktivitas disekolah atau
tempat lainnya. Antibiotik topikal diberikan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari. 11
Mupirocin
Mupirocin (pseudomonic acid) merupakan antibiotik yang berasal dari
Pseudomonas fluorescent .Mekanisme kerja mupirocin yaitu menghambat sintesis
protein (asam amino) dengan mengikat isoleusil-tRNA sintetase sehingga
menghambat aktivitas coccus Gram positif seperti Staphylococcus dan sebagian
besar Streptococcus. Salap mupirocin 2% diindikasikan untuk pengobatan
impetigo yang disebabkan Staphylococcus dan Streptococcus pyogenes. 11
Asam Fusidat
Asam Fusidat merupakan antibiotik yang berasal dari Fusidium coccineum.
Mekanisme kerja asam fusidat yaitu menghambat sintesis protein. Salap atau krim
asam fusidat 2% aktif melawan kuman gram positif dan telah teruji sama efektif
dengan mupirocin topikal. 11
Bacitracin
Baciracin merupakan antibiotik polipeptida siklik yang berasal dari Strain
Bacillus Subtilis. Mekanisme kerja bacitracin yaitu menghambat sintesis dinding
sel bakteri dengan menghambat defosforilasi ikatan membran lipid pirofosfat
sehingga aktif melawan coccus Gram positif seperti Staphylococcus dan
Streptococcus. Bacitracin topikal efektif untuk pengobatan infeksi bakteri
superfisial kulit seperti impetigo. 11
Retapamulin
Retapamulin bekerja menghambat sintesis protein dengan berikatan dengan
subunit 50S ribosom pada protein L3 dekat dengan peptidil transferase. Salap
Retapamulin 1% telah diterima oleh Food and Drug Administraion (FDA) pada
tahun 2007 sebagai terapi impetigo pada remaja dan anak-anak diatas 9 bulan dan
telah menunjukkan aktivitasnya melawan kuman yang resisten terhadap beberapa
obat seperti metisilin, eritromisin, asam fusidat, mupirosin, azitromisin. 11

14

Prognosis
Pada beberapa individu, bila tidak ada penyakit lain sebelumnya impetigo
krustosa dapat membaik spontan dalam 2-3 minggu. Namun, bila tidak diobati
impetigo krustosa dapat bertahan dan menyebabkan lesi pada tempat baru serta
menyebabkan komplikasi berupa ektima, dan dapat menjadi erisepelas, selulitis,
atau bakteriemi.

10

Dapat pula terjadi Staphylococcal Scalded Skin Syndrome

(SSSS) pada bayi dan dewasa yang mengalami immunocompromised atau


gangguan fungsi ginjal bila terjadi komplikasi glomerulonefritis akut. 11

Kesimpulan
Impetigo krustosa atau impetigo kantagiosa merupakan penyakit kulit pada anakanak yang menyerang epidermis dengan gambaran dominan krusta yang khas
berwarna kuning kecoklatan seperti madu berlapis-lapis. Penyebab utamanya oleh
bakteri Streptococcus beta hemolyticus grup A dan/atau Streptococcus aureus.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan pewarnaan Gram, biakan kuman, dan kultur
cairan. Prognosis baik apabila segera ditangani dan diobati.

15

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda, Adhi. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi keenam).
Balai Penerbit FKUI: Jakarta. h. 57-60.
2.
Sukanto, martodihardjo, dan Zulkarnain. 2010. Pedoman Diagnosis dan
Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi III. RSU dr.
Soetomo: Surabaya.
Murtiastutik, Dewi; et al. 2011. Penyakit Kulit dan kelamin Edisi 2.

3.

DEP/SMF Kesehatan Kulit dan kelamin FK UNAIR RSUD dr. Soetomo:


Surabaya.
Wolff, Goldsmith, Katz, David. 2010. Fitzpatricks Dermatology in

4.

General Medicine Seventh Edition. The Mc graw Hill Companies: New


York.
5. Cevasco N.C. Common Skin Infection, Bacterial Infection. Available from:
URL: http://www.clevelandclinicmeded.com. Dikutip pada tanggal 21
April 2015.
6. Ratih,Eunike. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit dan Kelamin
RSUP Sanglah Denpasar tahun 2007.
7. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 3. Jakarta:
EGC;2015.hlm.45-62.
8.

Warouw, Winsy F. Infeksi Bakteri Lain. Dalam: Harahap Marwali, editor.


Ilmu Penyakit Kulit. Edisi 1. Jakarta: Penerbit Hipokrates; 2010. h. 61-2

9. Craft N, et al. Superficial Cutaneous Infections and Pyoderma, In: Wolff


Klause, Goldsmith Lowell, Katz Stephen, eds. Fitzpatricks Dermatology
in General Medicine 7th ed. New York: McGraw-Hill Companies; 2010. p.
1694-701.
10. Loretta

D.

Ecthyma.

Available

from:

URL:

http://emedicine.medscape.com. Dikutip pada tanggal 21 April 2015.


11. Lewis, Lisa. 2012. Impetigo: Treatment & Medication. Virginia. Dept of

Pediatrics, Professor of Pediatrics, Virginia Commonwealth University.

16