Anda di halaman 1dari 102

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian dan Penetapan Kawasan

BAB I
1.1 Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
bahwa penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama
kawasan, wilayah administratif, kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan.
Penjabaran klasifikasi penataan ruang lebih lanjut dijabarkan pada Pasal 5.
Direktur Jenderal Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Permukiman
berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor.
6 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Desa,
Pembangunan Tertinggal dan Transmigrasi bertugas menyelenggarakan
perumusan pelaksanaan kebijakan di bidang penyiapan kawasan dan
pembangunan permukiman transmigrasi. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun
2014 tentan Pelaksanaan UU Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian
sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan
Atas UU Nomor 15 Tahun 1997 Pasal 3 ayat (5) tahapan pelaksanaan
transmigrasi meliputi : perencanaan kawasan, pembangunan kawasan dan
pengembangan masyarakat dan kawasan transmigrasi
Dalam rangka perwujudan pengembangan kawasan transmigrasi secara
efisien dan efektif yang penyusunan rencana tata ruang (RTR)-nya sebagiaman
yang diamanatkan oleh PP Nomor 3 Tahun 2014 perlu Rencana Kawasan
Transmigrasi (RKT) secara baik dan benar serta implementasi RKT yang
disepakati oleh semua pemangku kepentingan baik di pusat maupun daerah. Oleh
karena itu, diperlukan acuan penyusunan RKT dengan memperhatikan berbagai
peraturan perundang-undangan terkait.
Dengan
adanya
pedoman
penyusunan
RKT, diharapkan
dapat
mengakomodasi kebutuhan peraturan pelaksanaan dalam rangka implementasi
UU Nomor: 26/2007 tentang Penataan Ruang dan Undang-Undang 29 Tahun
2009 tentang Perubahan UU Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian.
1.2 Maksud dan Tujuan
a.

Maksud
Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan dalam penyusunan RKT oleh
Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta para pemangku kepentingan
lainnya.

b.

Tujuan

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian dan Penetapan Kawasan

Pedoman ini bertujuan mewujudkan RKT yang sesuai dengan ketentuan UU


26/2007 tentang Penataan Ruang dan Undang-Undang 29 Tahun 2009
tentang Perubahan UU Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian serta
peraturan pelaksanaannya.

1.3 Ruang Lingkup


Pedoman ini memuat ketentuan umum muatan RKT, ketentuan teknis
muatan RKT, dan prosedur penyusunan RKT.
1.4 Istilah dan Definisi
a)
b)

c)
d)

e)

f)

g)

h)

i)

Ketransmigrasian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan


penyelenggaraan transmigrasi.
Transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara sukarela untuk
meningkatkan kesejahteraan dan menetap di kawasan transmigrasi yang
diselenggarakan oleh Pemerintah.
Transmigran adalah warga negara Republik Indonesia yang berpindah
secara sukarela ke kawasan transmigrasi.
Kawasan Transmigrasi adalah kawasan budidaya yang memiliki fungsi
sebagai permukiman dan tempat usaha masyarakat dalam satu sistem
pengembangan berupa wilayah pengembangan transmigrasi atau lokasi
permukiman transmigrasi.
Wilayah Pengembangan Transmigrasi yang selanjutnya disingkat WPT
adalah wilayah potensial yang ditetapkan sebagai pengembangan
permukiman transmigrasi yang terdiri atas beberapa satuan kawasan
pengembangan yang salah satu di antaranya direncanakan untuk
mewujudkan pusat pertumbuhan wilayah baru sebagai kawasan perkotaan
baru sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.
Lokasi Permukiman
Transmigrasi yang selanjutnya disingkat LPT
adalah lokasi potensial yang ditetapkan sebagai permukiman transmigrasi
untuk mendukung pusat pertumbuhan wilayah yang sudah ada atau yang
sedang berkembang sebagai kawasan perkotaan baru sesuai dengan
rencana tata ruang wilayah.
Satuan Kawasan Pengembangan yang selanjutnya disingkat SKP adalah
satu kawasan yang terdiri atas beberapa satuan permukiman yang salah
satu diantaranya merupakan permukiman yang disiapkan menjadi desa
utama atau pusat kawasan perkotaan baru.
Kawasan Perkotaan Baru yang selanjutnya disingkat KPB adalah bagian
dari kawasan transmigrasi yang ditetapkan menjadi pusat pertumbuhan
dan berfungsi sebagai Pusat Pelayanan Kawasan.
Permukiman Transmigrasi adalah satu kesatuan permukiman atau bagian
dari satuan permukiman yang diperuntukkan bagi tempat tinggal dan
tempat usaha transmigran.
2

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian dan Penetapan Kawasan

j)

Satuan Permukiman yang selanjutnya disingkat SP adalah bagian dari


SKP berupa satu kesatuan permukiman atau beberapa permukiman
sebagai satu kesatuan dengan daya tampung 300-500 (tiga ratus sampai
dengan lima ratus) keluarga.
k) Satuan Permukiman Baru yang selanjutnya disebut SP Baru adalah
bagian dari SKP berupa satu kesatuan permukiman atau beberapa
permukiman sebagai satu kesatuan dengan daya tampung 300-500 (tiga
ratus sampai dengan lima ratus) keluarga yang merupakan hasil
pembangunan baru.
l) Satuan Permukiman Pemugaran yang selanjutnya disebut SP-Pugar
adalah bagian dari SKP berupa permukiman penduduk setempat yang
dipugar menjadi satu kesatuan dengan permukiman baru dengan daya
tampung 300-500 (tiga ratus sampai dengan lima ratus) keluarga.
m) Satuan Permukiman Penduduk Setempat yang selanjutnya disebut SPTempatan adalah permukiman penduduk setempat dalam deliniasi
kawasan transmigrasi yang diperlakukan sebagai SP.
n) Kawasan Perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan
fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
o) Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
p) Permukiman dalam KPB adalah satuan perumahan yang mempunyai
prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan
fungsi lain di kawasan perkotaan baru.
q) Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disingkat PPK adalah
kawasan perkotaan baru yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala
kawasan transmigrasi.
r) Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disingkat PPL adalah desa
utama yang disiapkan menjadi pusat SKP yang berfungsi untuk melayani
kegiatan skala SKP.
s) Masyarakat Transmigrasi adalah transmigran dan penduduk setempat
yang ditetapkan sebagai transmigran serta penduduk setempat yang
bertempat tinggal di SP-Tempatan.
t) Transmigrasi Umum yang selanjutnya disingkat TU adalah jenis
transmigrasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah
daerah bagi penduduk yang mengalami keterbatasan dalam mendapatkan
peluang kerja dan usaha.
u) Transmigrasi Swakarsa Berbantuan yang selanjutnya disingkat TSB
adalah jenis transmigrasi yang dirancang oleh Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah dengan mengikutsertakan badan usaha sebagai mitra
3

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian dan Penetapan Kawasan

v)

w)

x)

y)

z)

aa)

bb)
cc)
dd)
ee)

ff)

usaha transmigran bagi penduduk yang berpotensi berkembang untuk


maju.
Transmigrasi Swakarsa Mandiri yang selanjutnya disingkat TSM adalah
jenis transmigrasi yang merupakan prakarsa transmigran yang
bersangkutan atas arahan, layanan, dan bantuan Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah bagi penduduk yang telah memiliki kemampuan.
Daerah Asal Calon Transmigran yang selanjutnya disebut Daerah Asal
adalah daerah kabupaten/kota tempat tinggal calon transmigransebelum
pindah ke Kawasan Transmigrasi.
Daerah Tujuan Transmigran yang selanjutnya disebut Daerah Tujuan
adalah daerah kabupaten/kota yang di wilayahnya dibangun dan
dikembangkan Kawasan Transmigrasi.
Pencadangan tanah adalah penunjukan area tanah oleh bupati/walikota
atau gubernur yang disediakan untuk pembangunan kawasan
transmigrasi.
Konsolidasi tanah adalah penataan kembali penguasaan, pemilikan,
penggunaan, dan pemanfaatan tanah sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah dalam usaha penyediaan tanah untuk kepentingan pembangunan
kawasan transmigrasi guna meningkatkan kualitas lingkungan dan
pemeliharaan sumber daya alam dengan partisipasi aktif masyarakat.
Rencana Kawasan Transmigrasi yang selanjutnya disingkat RKT adalah
rencana struktur dan pemanfaatan kawasan transmigrasi sebagai dasar
perencanaan perwujudan kawasan transmigrasi.
Hak Pengelolaan adalah hak menguasai dari negara yang, kewenangan
pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya.
Badan usaha adalah badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah,
badan usaha swasta yang berbadan hukum, termasuk koperasi.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang ketransmigrasian.
Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional yang selanjutnya
disingkat RTR KSN adalah rencana rinci dari Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (RTRWN) yang memuat tujuan, kebijakan dan strategi
penataan ruang, rencana struktur ruang, rencana pola ruang, arahan
pemanfaatan ruang, arahan pengendalian pemanfaatan ruang, serta
pengelolaan kawasan.
Kawasan Strategis Nasional yang selanjutnya disingkat KSN adalah
wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai
pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara,
pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau
lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia.

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian dan Penetapan Kawasan

gg) Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya
alam dan sumber daya buatan.
hh) Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
ii) Kawasan Sumber Daya Alam adalah kawasan yang muncul secara alami
yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia berupa
komponen biotik (hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme) dan abiotik
(minyak bumi, gas alam, berbagai jenis logam, air, dan tanah).
jj) Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata
air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan
memelihara kesuburan tanah.
kk) Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk
tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budi daya,
pariwisata, dan rekreasi.
ll) Rawan Bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis,
hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan
teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang
mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan
mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya
tertentu.
mm)Kawasan Kritis Lingkungan adalah kawasan yang berpotensi mengalami
masalah dan berdampak kepada kerusakan lingkungan nasional dan
global sebagai akibat (a) dampak kegiatan manusia yang berlebihan
dalam memanfaatkan sumber daya alam, (b) dampak proses kegiatan
geologi dan perubahan ekosistem serta terjadinya bencana alam secara
alami, dan (c) dampak kegiatan manusia dan perubahan alam yang sangat
rentan dan mempunyai risiko tinggi.
nn) Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan
kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk
keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.
oo) Kawasan Penyangga adalah kawasan sekitar kawasan inti KSN, yang
mempengaruhi fungsi kawasan inti atau dipengaruhi oleh kawasan inti baik
secara langsung maupun tidak langsung.
pp) Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH adalah area
memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih
bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara
alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian dan Penetapan Kawasan

qq) Arahan Peraturan Zonasi adalah arahan yang merupakan ketentuan


zonasi sektoral yang berfungsi sebagai dasar dalam menyusun indikasi
arahan peraturan zonasi sistem provinsi pada RTRW provinsi beserta
rencana rincinya, ketentuan umum peraturan zonasi pada RTRW
kabupaten/kota beserta rencana rincinya, termasuk peraturan zonasi pada
rencana detail tata ruang.
rr) Arahan Perizinan adalah arahan yang berfungsi sebagai dasar dalam
menyusun ketentuan perizinan oleh pemerintah daerah provinsi dan
pemerintah daerah kabupaten/kota, yang harus dipenuhi oleh setiap pihak
sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang.
ss) Arahan Pemberian Insentif dan Disinsentif adalah arahan yang berfungsi
sebagai dasar dalam menyusun ketentuan insentif dan disinsentif dalam
RTRW provinsi dan RTRW kabupaten/kota.
tt) Arahan Pengenaan Sanksi adalah arahan yang berfungsi sebagai dasar
dalam menyusun ketentuan sanksi dalam RTRW provinsi dan RTRW
kabupaten/kota.
1.5. Landasan Hukum
Pedoman ini disusun dengan memperhatikan antara lain:
a) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
b) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
c) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
d) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;
e) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana;
f) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
g) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
h) Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara;
i) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
j) UU 29 / 2009 tentang perubahan UU 15 / 1997 tentang
Ketransmigrasian;
k) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi
Khusus;
l) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;
m) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial;
n) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan;

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian dan Penetapan Kawasan

o) PP 2 /1999 Tentang Penyelenggraan Transmigrasi;


p) PP Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor
15 Tahun 1997 Tentang Ketransmigrasian sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang perubahan atas
Undang-Undang No 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian;
q) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Tingkat Ketelitian
Peta untuk Penataan Ruang Wilayah;
r) Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlakuan
Perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu;
s) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat
Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia;
t) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
u) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana;
v) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional; Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2008
tentang Kawasan Perkotaan Baru;
w) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang;
x) Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan
Pulau-Pulau Kecil Terluar;
y) Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata
Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang;
z) Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan
Kawasan Ekonomi Khusus;
a) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan
Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam;
b) Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan PulauPulau Kecil Terluar;
c) Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung;
d) Keputusan Presiden Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu.
e) Permen PU Nomor : 15/PRT/M/2012, tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis.
f) Peraturan Presiden RI Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
2011-2025.

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian dan Penetapan Kawasan

1.6. Kedudukan Pedoman


Pedoman bidang penataan ruang saling terkait satu sama lain sehingga
masing-masing mempunyai fungsi tersendiri dan bersifat komplementer. Secara
diagramatis, keterkaitan pedoman RKT dengan peraturan perundang-undangan
bidang penataan ruang termasuk pedoman bidang penataan ruang lainnya
ditunjukkan pada Gambar 1.1 sebagai berikut:

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian dan Penetapan Kawasan

Gambar 1.1
Kedudukan Pedoman RKT terhadap Peraturan Perundang-Undangan
Bidang Penataan Ruang
UU
UU No.
No. 26/2007
26/2007 tentang
tentang
Penataan
Penataan Ruang
Ruang

UU
UU 29
29 // 2009
2009 tentang
tentang
perubahan
perubahan UU
UU 15
15 // 1997
1997
tentang
tentang Ketransmigrasian
Ketransmigrasian

PP
PP No.
No. 15
15 Th
Th 2010,
2010, tentang
tentang
Penyelenggaraan
Penyelenggaraan Penataan
Penataan
Ruang
Ruang

PP
PP 22 /1999
/1999 Tentang
Tentang
Penyelenggaraan
Penyelenggaraan
Transmigrasi
Transmigrasi

Pedoman
Pedoman
Penyusunan
Penyusunan RTR
RTR
KSN
KSN

Pedoman
Pedoman Bidang
Bidang
Penataan
Penataan Ruang
Ruang
Lainnya
Lainnya

Pedoman
Pedoman
Penyusunan
Penyusunan RTRW
RTRW
Provinsi
Provinsi

Pedoman
RTR
Pedoman
RTR
Kawasan
Strategis
Kawasan
Strategis
Provinsi
Provinsi
Pedoman
RTR
Pedoman
RTR
Kawasan
Strategis
Kawasan
Strategis
Kabupaten
Kabupaten
Pedoman
Penyusunan
Pedoman
Penyusunan
RDTR
RDTR Kabupaten/Kota
Kabupaten/Kota
Pedoman
Terkait
Pedoman
Terkait

Lainnya.
Lainnya.
PEDOMAN RKT

Pedoman
Pedoman
Penyusunan
Penyusunan RTRW
RTRW
Kabupaten/Kota
Kabupaten/Kota

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Fungsi dan Manfaat Pedoman


a. Fungsi
Fungsi pedoman penyusunan RKT yaitu
sebagai:
1) Acuan
yang
secara
umum
memberikan pengertian dan wawasan
aspek ketataruangan serta koridor
dalam penyusunan RKT; dan
2) Acuan
yang
secara
khusus
memberikan prinsip-prinsip, konsep
pendekatan, arahan muatan teknis,
arahan proses dan prosedur, serta
dasar
hukum
yang
melandasi
penyusunan RKT.
b. Manfaat
Manfaat pedoman penyusunan RKT yaitu
untuk:
1) Memberikan panduan untuk mencapai
standardisasi kualitas RKT;
2) Memberikan
kemudahan
dalam
menginterpretasikan
persoalan
dan
keanekaragaman setiap RKT; dan
3) Membantu percepatan penyusunan RKT.

1.7

10

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

1.8. Pengguna Pedoman


Pengguna pedoman ini adalah seluruh
pemangku kepentingan dalam penyusunan dan
penetapan RKT, khususnya instansi pemerintah
yang berwenang menyusun RKT, pemerintah
daerah, dan masyarakat dalam rangka
pemahaman pokok-pokok pengaturan RKT.

11

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

BAB II
KETENTUAN UMUM MUATAN
RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI/RTRKT
2.1 Kedudukan RKT
Dalam sistem perencanaan tata ruang dan
sistem perencanaan pembangunan nasional,
kedudukan RKT dapat ditunjukkan pada Gambar
2.1. sebagai berikut:

12

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Gambar 2.1.
Kedudukan RKT dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang
dan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

RKT

RKT
RTKP

RTKP

RKT merupakan rencana rinci tata ruang


sebagai penjabaran RTR KSN yang disusun sesuai
dengan tujuan penetapan masing-masing RTR
KSProv dan RTR KSKab. Muatan RKT ditentukan
oleh nilai strategis yang menjadi kepentingan
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan
berisi aturan terkait dengan hal-hal spesifik tentang
ketransmigrasian. Kepentingan Rencana Kawasan
13

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Strategis Nasional, Provinsi dan Kabupaten


merupakan dasar pertimbangan utama dalam
penyusunan dan penetapan RKT. RKT juga
menjadi acuan teknis bagi penyelenggaraan
penataan ruang SKP, KPB dan SP.
2.2. Fungsi dan Manfaat RKT
a. Fungsi
Fungsi RKT yaitu sebagai:
1) Alat koordinasi dalam penyelenggaraan
penataan pada Kawasan Transmigrasi
yang diselenggarakan oleh seluruh
pemangku kepentingan;
2) Acuan dalam sinkronisasi program
Pemerintah
dengan
pemerintah
provinsi dan kabupaten/kota, serta
swasta dan masyarakat dalam rangka
pelaksanaan
pembangunan
untuk
mewujudkan RKT;
3) Dasar
pengendalian
pemanfaatan
kawasan transmigrasi, termasuk acuan
penentuan
ketentuan
perizinan
pemanfaatan
dalam
kawasan
transmigrasi dapat dijadikan dasar

14

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

b.

penerbitan perizinan sepanjang skala


informasi
RKT
setara
dengan
kedalaman RDTR Kabupaten yang
seharusnya menjadi dasar perizinan
dalam hal peraturan daerah (perda)
tentang RDTR Kabupaten belum
berlaku.
Manfaat
Manfaat RKT yaitu untuk:
1) Mewujudkan
keterpaduan
pembangunan dalam lingkup RTRW
Kabupaten;
2) Mewujudkan keserasian pembangunan
RKT dengan Kawasan Strategis
provinsi dan kabupaten dimana RKT
berada; dan
3) Menjamin
terwujudnya
pola
pemanfaatan kawasan transmigrasi
yang berkualitas.

2.3. Isu Strategis RKT


Isu strategis RKT merupakan hal-hal yang
menjadi kepentingan nasional, provinsi dan
Kabupaten sehingga kawasan tersebut perlu

15

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

ditetapkan sebagai Kawasan Transmigrasi. Isu


strategis RKT dapat berasal dari cara pandang
pemerintah
terhadap
potensi
maupun
permasalahan di daerah yang dianggap memiliki
nilai strategis (pendekatan top down), dan/atau
berdasarkan permasalahan yang diusulkan oleh
daerah yang menjadi kewenangan pemerintah
untuk diangkat menjadi isu strategis (pendekatan
bottom up).
Isu strategis RKT tersebut dapat dikategorikan
pada isu RTR KS Kabupaten yang meliputi:
a) Berbentuk kawasan perdesaan yang merupakan
bagian wilayah kabupaten atau mencakup 2
(dua) atau lebih wilayah kabupaten pada satu
atau lebih wilayah provinsi;
b) Potensi kawasan produksi pertanian;
c) Sistem jaringan prasarana pendukung kegiatan
pertanian;
d) Aglomerasi
penduduk
yang
bermata
pencaharian petani, nelayan, penambang rakyat,
atau pengrajin kecil;
e) Kegiatan utama pertanian dan pengelolaan
sumber daya alam termasuk perikanan tangkap;

16

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

f) Tempat permukiman perdesaan termasuk


kawasan
transmigrasi,
pelayanan
jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan
ekonomi;
g) Kerapatan sistem permukiman dan penduduk
yang rendah; dan
h) Bentang alam berciri pola ruang pertanian dan
lingkungan alami.
2.4. Tipologi RKT
RKT disusun berdasarkan tipologi Kawasan
Transmigrasi yang diatur pada Undang-Undang
No. 29 Tahun 2009 Tentang Ketransmigrasian.
Tipologi RKT dimaksudkan untuk menentukan
muatan RKT yang harus dimuat sesuai dengan
kebutuhan pengembangan kawasan.
Tipologi
RKT
ditetapkan
dengan
mempertimbangkan:
a. Sudut kepentingan dan kriteria nilai
strategis menurut PP 26/2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
b. Sudut
kepentingan pengembangan
kawasan transmigrasi; dan

17

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

c.

Mengacu pada RTRW N, RTRW P dan


RTRW Kab/Kota.

Dengan mempertimbangkan 3 poin tersebut


diatas, terdapat 2 (dua) tipologi RKT sebagai
berikut:
1. WPT, adalah wilayah potensial yang
ditetapkan
sebagai
pengembangan
permukiman transmigrasi yang terdiri atas
beberapa satuan kawasan pengembangan
yang salah satu di antaranya direncanakan
untuk mewujudkan pusat pertumbuhan
wilayah baru sebagai kawasan perkotaan
baru sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah.
2. LPT, adalah: lokasi potensial yang ditetapkan
sebagai permukiman transmigrasi untuk
mendukung pusat
pertumbuhan wilayah
yang sudah ada atau yang sedang
berkembang sebagai kawasan perkotaan
baru sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah.

18

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Gambar 2.2
Ilustrasi Gambar RKT

Ketentuan Umum Penentuan Muatan RKT


Ketentuan umum penentuan muatan RKT
memberikan informasi mengenai kerangka pikir
penentuan muatan RKT sesuai dengan tipologi
RKT, meliputi:
2.5

19

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

a.

Bentuk
Penentuan bentuk RKT didasarkan pada basis
kawasan dan basis objek strategis. RKT
berbasis kawasan merupakan RKT yang
dicirikan dengan isu kawasan strategis dalam
satu kesatuan kawasan fungsional, dapat
meliputi satu atau lebih wilayah administrasi
Kecamatan atau bahkan satu atau lebih wilayah
administrasi Kabupaten.
RKT berbasis objek strategis merupakan RKT
yang dicirikan oleh keberadaan objek strategis
berkaitan dengan fungsi strategis objek yang
ditetapkan sebagai Kawasan Transmigrasi .

b.

c.

Fokus Penanganan
Penentuan fokus penanganan RKT dilakukan
dengan mempertimbangkan upaya yang perlu
diprioritaskan untuk mewujudkan fungsi
kawasan berdasarkan nilai dan isu strategis
kawasan sesuai dengan tipologi RKT.
Skala Peta
Penentuan skala peta RKT disesuaikan
dengan informasi yang dibutuhkan dalam
proses perencanaan RKT dan penggunaan
RKT, serta kebutuhan muatan materi yang
20

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

d.

e.

f.

akan diatur di dalam RKT yaitu kedalaman


informasi 1 : 25.000 dan dilandasi dengan
Data Dasar Citra Satelit.
Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan
Kawasan Transmigrasi
Penentuan tujuan, kebijakan, dan strategi
penataan ruang kawasan transmigrasi dilakukan
dengan mempertimbangkan isu strategis dan
fokus penanganan RKT.
Konsep Pengembangan
Penentuan konsep pengembangan kawasan
transmigrasi dalam rangka pencapaian tujuan
RKT.
Arahan Pemanfaatan Kawasan Transmigrasi
Penentuan arahan pemanfaatan Kawasan
Transmigrasi
dilakukan
dengan
mempertimbangkan
perwujudan
konsep
pengembangan Kawasan Transmigrasi yang
dilaksanakan melalui penyusunan indikasi
program utama 5 (lima) tahunan sampai akhir
tahun perencanaan (yang tahapan waktu
pelaksanaannya disesuaikan dengan tahapan
waktu pelaksanaan RTRW Kabupaten) beserta
indikasi sumber pembiayaan.

21

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

g.

h.

Arahan
Pengendalian
Pemanfaatan
Kawasan Transmigrasi
Penentuan arahan pengendalian pemanfaatan
Kawasan Transmigrasi dilakukan dengan
mempertimbangkan upaya yang diperlukan agar
pemanfaatan kawasan dilaksanakan sesuai
dengan RKT.
Pengelolaan
Penentuan pengelolaan Kawasan Transmigrasi
dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan
penanganan kawasan sesuai dengan tipologi
RKT.

Penentuan muatan RKT dapat dilihat pada Gambar


2.2 berikut:

22

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Gambar 2.3
Penentuan Muatan RKT
PENETAPAN TIPOLOGI RKT

UU
UU No.
No. 26
26 Th
Th 2007
2007
tentang
tentang Penataan
Penataan Ruang
Ruang

UU
UU 29
29 // 2009
2009 tentang
tentang
perubahan
perubahan UU
UU 15
15 // 1997
1997
tentang
Ketransmigrasian
tentang Ketransmigrasian
PP
PP 22 /1999
/1999 Tentang
Tentang

PP
PP No.
No. 15
15 Th
Th 2010,
2010, tentang
tentang
Penyelenggaraan
Penyelenggaraan Penataan
Penataan
Ruang
Ruang

Penyelenggaraan
Penyelenggaraan Transmigrasi
Transmigrasi

TIPOLOGI
TIPOLOGI RTR
RTR KS
KS
KK

PENYUSUNAN KERANGKA MUATAN RKT

Identifikasi
Identifikasi
Identifikasi
Identifikasi
Bentuk
Bentuk
Bentuk

DELINIASI
DELINIASI

Bentuk

PENETAPAN
PENETAPAN
PENETAPAN
PENETAPAN
FOKUS
FOKUS
FOKUSFOKUS

Penentuan
Penentuan Skala
Skala
Peta
Peta

PENANGANA
PENANGANA
PENANGANAN
PENANGANAN
N
N

Tujuan,
Tujuan, Kebijakan
Kebijakan
dan
dan Strategi
Strategi

Konsep
Konsep
Pengembangan
Pengembangan

Arah
Arah
Pengendalian
Pengendalian
Kawasan
Kawasan
Transmigrasi
Transmigrasi
Pengelolaan
Pengelolaan

Arah
Arah
Pemanfaatan
Pemanfaatan
Kawasan
Kawasan
Transmigrasi
Transmigrasi
Perumusan
RKT

Muatan

23

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

BAB III
KETENTUAN TEKNIS
MUATAN RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI
(RKT)

3.1. Delineasi RKT


Delineasi merupakan batas yang ditetapkan
berdasarkan kriteria tertentu yang digunakan
sebagai batas Rencana Kawasan Transmigrasi
(RKT). Kriteria tertentu yang dimaksud disesuaikan
dengan tipologi RKT. Delineasi RKT mencakup
kawasan yang mempunyai kawasan inti dan
kawasan penyangga atau yang tidak mempunyai
kawasan inti dan kawasan penyangga yang
penetapannya
didasarkan
pada
ketentuan
peraturan.
Pertimbangan dalam penentuan delineasi
RKT mengacu kepada tipologi kawasan pedesaan
yang ditetapkan oleh RTR KS, mencakup:
a. Intreraksi sosial budaya masyarakat.
b. Daya dukung fisik lingkungan, ekologis dan
sumber daya air.

24

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

c. Sebaran fasilitas perekonomian kawasan.


d. Ketentuan peraturan perundang-undangan.

3.2. Dasar Pertimbangan Muatan RKT


Dasar pertimbangan muatan yang diatur
dalam
RKT
dirumuskan
dengan
mempertimbangkan:
a. Posisi geografis kawasan terhadap pusatpusat pertumbuhan di sekitar kawasan;
b. Kondisi
lingkungan
nonterbangun,
terbangun, dan kegiatan di sekitar
kawasan;
c. Daya dukung fisik dasar terkait dengan
potensi
bencana
yang
mengancam
kawasan;
d. Kondisi sosisl ekonomi masyarakat;
e. Kondisi
sistem
jaringan
prasarana
pendukung kawasan;
f. Aspek budaya.
Muatan RKT
Muatan Rencana Kawasan Transmigrasi
(RKT) dimaksudkan sebagai upaya untuk
3.3.

25

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

mengatur hal-hal penting yang perlu ditangani


dalam dokumen RKT merujuk kepada PP No. 3
Tahun 2014 Pasal 36 dan penyesuaian materi
berdasarkan UU No 26 Tahun 2007 tentang
Tata Ruang, yaitu mencakup:
a. Tujuan, kebijakan, dan strategi pembangunan
kawasan transmigrasi;
b. Luasan kawasan transmigrasi;
c. Rencana struktur dan pemanfaatan kawasan
transmigrasi;
d. Arahan pengembangan pola usaha pokok;
e. Arahan penataan persebaran penduduk dan
kebutuhan sumber daya manusia;
f. Arahan indikasi program utama;
g. Ketentuan
pengendalian
pemanfaatan
kawasan transmigrasi.
h. Pengelolaan Rencana Kawasan Transmigrasi.
3.3.1 Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan
Kawasan serta Konsep
Pengembangan
Muatan pengaturan tujuan, kebijakan, dan
strategi adalah sebagai berikut;
a) Tujuan:
Aspek tujuan difokuskan pada perwujudan
kawasan perdesaan dalam batas area

26

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

tertentu
melalui
dukungan
jaringan
prasarana yang memadai.
b)
Kebijakan
Kebijakan disusun sebagai arah tindakan
dalam rangka mencapai tujuan. Perumusan
kebijakan difokuskan pada:
1. Kebijakan penetapan kegiatan;
2. Kebijakan
ketenagakerjaan
dan
penyediaan permukiman;
3. Kebijakan
penetapan
aksesibilitas
kawasan;
4. Kebijakan penetapan standar pelayanan
minimum
sarana
dan
prasarana
pendukung;
5. Kebijakan
perlindungan
kawasan
(termasuk di dalamnya RTH kawasan).
c) Strategi
Perumusan strategi terkait kebijakan
penetapan jenis kegiatan yang akan
dikembangkan pada kawasan, meliputi :
(1) Menetapkan jenis kegiatan ekonomi
yang memiliki keterkaitan bahan baku
atau potensi ke pasar lokal, regional
dan internasional;

27

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

(2) Perumusan strategi terkait kebijakan


penataan kawasan dan penyediaan
permukiman;
(3) Perumusan strategi terkait kebijakan
dukungan sistem jaringan prasarana
utama kawasan meliputi penetapan
standar pelayanan minimum pelayanan
sistem jaringan transportasi
(4) Perumusan strategi terkait kebijakan
penetapan standar pelayanan minimum
sarana dan prasarana pendukung
kawasan termasuk hunian khusus,
meliputi:
- Penyediaan permukiman;
- Penyediaan sistem transportasi;
- Penyediaan sistem jaringan energi;
- Penyediaan
sistem
jaringan
telekomunikasi;
- Penyediaan sistem jaringan sumber
daya air;
- Penyediaan sistem penyediaan air
minum;
- Penyediaan sistem jaringan air
limbah.

28

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

(5) Perumusan strategi terkait kebijakan


perlindungan
kawasan
(termasuk
didalamnya RTH kawasan) meliputi:
Pengaturan ruang sekitar kawasan
mempertimbangkan
dampak
keberadaan terhadap kawasan sekitar
sekaligus perlindungan kawasan dari
kegiatan disekitar kawasan yang
berpotensi mengganggu.
3.3.2 Luasan Kawasan Transmigrasi
Luasan RKT berdasarkan UU No. 29 Tahun
2009 dan Permen No. 3 Tahun 2014 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun
1997 tentang Ketransmigrasian sebagaimana
diubah dengan Undang-Undang Nomor 29
Tahun 2009 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 15 Tahun 1997 tentang
Ketransmigrasian, maka ditetapkan sebagai
berikut :
SKP Pusat di dalam RKT adalah sebagai KPB
adalah kawasan perdesaan yang direncanakan
menjadi kawasan berfungsi perkotaan dan
berbasis usaha nonpertanian dengan Luasan
areal KPB ini berkisar antara 400 - 1000 ha.
29

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

SKP Hinterland dari SKP - KPB merupakan SKP


berbasis Pertanian adalah SKP yang terdiri atas
beberapa Satuan pemukiman (SP) , minimal 3
SP dan maksimal 6 SP dengan daya tampung
masing-masing SP antara 300 - 500 KK. Luas SP
adalah 1200 - 1600 Ha.
Satuan pemukiman dalam SKP dapat berupa
SP baru, SP Pugar dan SP Tempatan. Salah satu
SP akan berfungsi sebagai Pusat SKP disebut
Desa Utama.
3.3.3 Arahan
Rencana
Struktur
dan
Pemanfaatan Kawasan Transmigrasi
Arahan rencana struktur dan pemanfaatan
kawasan transmigrasi mencakup:
a. Mewujudkan permukiman di kawasan
transmigrasi yang berfungsi sebagai
tempat tinggal, tempat berusaha, dan
tempat bekerja serta
b. menyediakan
prasarana
dansarana
dasar kawasan transmigrasi.
3.3.4 Arahan
Pokok

Pengembangan

Pola

30

Usaha

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Menetapkan jenis kegiatan ekonomi lokal


yang memiliki keterkaitan bahan baku atau potensi
ke pasar lokal, regional dan internasional serta
menjadi sumber usaha utama penduduk kawasan
transmigrasi.
3.3.5 Arahan Penataan Persebaran Penduduk
dan Kebutuhan Sumber Daya Manusia
Arahan Penataan Persebaran Penduduk dan
Kebutuhan
Sumber
Daya
Manusia
yaitu
mewujudkan persebaran penduduk di kawasan
transmigrasi yang serasi dan seimbang dengan
daya dukung alam dan daya tampung lingkungan.
3.3.6 Arahan
Pengendalian
Pemanfaatan
Kawasan
Arahan pengendalian pemanfaatan kawasan,
mencakup:
a. Arahan pengendalian pembangunan dan
pengembangan SKP;
b. Arahan pengendalian pembangunan dan
pengembangan SP;
c. Arahan pengendalian pembangunan dan
pengembangan KPB; dan

31

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

d. Arahan pengendalian pembangunan dan


pengembangan jaringan prasarana dan
sarana dasar Kawasan Transmigrasi.
3.3.7 Pengelolaan RKT
Ketentuan terkait dengan pengelolaan RKT
disusun dengan memperhatikan:
a. Kelembagaan yang telah diatur sesuai dengan
peraturan perundang-undangan;
b. Keterkaitan
RKT
dengan
kewenangan
Pemerintah pusat;
c. Keterkaitan
RKT
dengan
kewenangan
pemerintah daerah (propinsi/kabupaten); dan
d. Pemangku kepentingan lainnya.
3.4. Skala Peta
Penetapan skala peta RKT dilakukan dengan
mempertimbangkan kebutuhan informasi yang
diperlukan dalam proses perencanaan kawasan
serta mempertimbangkan luasan geografis yang
dinilai strategis. Skala peta RKT yaitu skala yang
memiliki informasi spasial 1:25.000.
3.5 Hak, Kewajiban, dan Peran Masyarakat

32

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Pelibatan peran masyarakat dalam proses


perencanaan dimulai sejak awal hingga akhir
kegiatan
meliputi:
persiapan
penyusunan,
pengumpulan data dan informasi, pengolahan dan
analisis data serta perumusan konsep rencana.
Hak, kewajiban, dan peran masyarakat diatur
sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan
yang berlaku. Masyarakat sebagai pemangku
kepentingan meliputi :
a. Orang perseorangan atau kelompok orang;
b. Organisasi masyarakat di tingkat kabupaten;
c. Perwakilan organisasi masyarakat kabupaten;
d. Perwakilan organisasi masyarakat kabupaten
yang secara sistemik dengan wilayah yang
sedang disusun RKT.
3.6 Format Penyajian
Konsep RKT disajikan
sebagai berikut:

dalam

dokumen

a. Materi teknis RKT, meliputi:


1) Buku data dan analisis yang dilengkapi
dengan peta-peta;
2) Buku rencana yang disajikan dalam
format A4; dan
33

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

3) Album peta yang disajikan dengan skala


minimal dalam format A1 yang dilengkapi
dengan peta digital yang disusun sesuai
dengan ketentuan Sistem Informasi
Geografis (SIG) yang dikeluarkan oleh
lembaga yang berwenang.
b. Naskah rancangan pengesahan tentang
RKT, meliputi:
1) Naskah
Surat
Keputusan
Bupati/Walikota yang berupa rumusan
pasal per pasal yang disajikan dalam
format A4; dan
2) Lampiran yang terdiri atas peta rencana
struktur dan pemanfaatan kawasan
transmigrasi yang disajikan dalam format
A3 serta tabel indikasi program utama.
3.7 Masa Berlaku
RKT berlaku dalam jangka waktu 15 (lima
belas) tahun dan dapat ditinjau kembali setiap 5
(lima) tahun.
Peninjauan kembali RKT dapat
dilakukan lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima)
tahun apabila terjadi perubahan lingkungan
strategis berupa:
34

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

a. Bencana alam skala besar yang ditetapkan


dengan peraturan perundang-undangan;
b. Perubahan batas teritorial negara yang
ditetapkan dengan undang-undang;
c. Perubahan batas wilayah daerah yang
ditetapkan
dengan
undang-undang;
dan/atau
d. Perubahan
RTRW Propinsi/kabupaten
yang menuntut perubahan terhadap RKT.

35

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

BAB IV
PROSES DAN PROSEDUR
PENYUSUNAN RENCANA KAWASAN
TRANSMIGRASI (RKT)
Pelaksanaan
perencanaan
kawasan
transmigrasi meliputi serangkaian prosedur
penyusunan dan penetapan RKT. Proses
penyusunan RKT meliputi:
1. Persiapan penyusunan;
2. Pengumpulan data dan informasi;
3. Pengolahan dan analisis data;
4. Perumusan konsepsi rencana; dan
5. Penyusunan Konsep Naskah Raperda

36

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Prosedur penetapan RKT merupakan


tindak lanjut dari prosedur penyusunan RKT
sebagai satu kesatuan proses. Prosedur
penetapan RKT dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Waktu yang dibutuhkan untuk setiap tahap
penyusunan RKT disesuaikan dengan situasi
dan kondisi kawasan transmigrasi yang
bersangkutan. Situasi dan kondisi dimaksud
dapat terkait dengan aspek politik, sosial,
budaya,
pertahanan,
keamanan,
keuangan/pembiayaan pembangunan daerah,
ketersediaan data, dan faktor-faktor lainnya, baik
yang berada di dalam maupun di luar/sekitar
kawasan transmigrasi bersangkutan. Adapun
waktu yang dibutuhkan untuk tahap penetapan
disesuaikan
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan. Total jangka waktu yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan perencanaan
RKT diperkirakan yaitu 6 (enam) bulan yang
secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Jangka Waktu Penyusunan RKT
TAHAPAN

PROSES PENYUSUNAN RKT

37

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Uraian
Kegiatan
Perkiraan
Waktu
yang
Dibutuhka
n

Persiapan
Pengumpulan Pengolahan Perumusan Penyusunan
Penyusunan Data dan
dan
Konsep
Konsep
Informasi
Analisis
RKT
Naskah
Data
Raperda
1 bulan

1 bulan

2 bulan

1 bulan

1 bulan

6 bulan

Proses Penyusunan RKT


Proses penyusunan RKT dilaksanakan
setelah dilakukan identifikasi potensi kawasan
sesuai dengan bagan alir pada gambar di bawah.
4.1.

4.1.1. Persiapan Penyusunan


a.
Kegiatan Persiapan Penyusunan
meliputi:
(1) Persiapan Administrasi RKT, mencakup :
a) Kajian potensi lokasi kawasan mencakup
penyediaan tanah untuk pembangunan
kawasan
transmigrasi
dilaksanakan
melalui
proses
pencadangan
tanah/penegasan fungsi lahan oleh
pemerintah
daerah.
Pencadangan
tanah/penegasan
fungsi
lahan
38

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan yang
ditetapkan
dengan
keputusan
bupati/walikota melalui gubernur serta
disetujui oleh kementerian sebagai berikut
:
Apabila
kawasan
calon
RKT
merupakan kawasan strategis nasional
maka kewenangan penyusunan RKT
menjadi kewenangan pusat.
Apabila lokasi pencadangan tanah
kawasan transmigrasi terdeliniasi pada
dua atau lebih wilayah administrasi
kabupaten dan atau merupakan
kawasan strategis propinsi maka
usulan
kawasan
transmigrasi
disampaikan oleh gubernur kepada
menteri untuk ditetapkan menjadi
kawasan
transmigrasi.
Usulan
kawasan
transmigrasi
dilengkapi
dengan dokumen potensi kawasan dan
penyusunannya menjadi kewenangan
pusat/propinsi.
Apabila lokasi pencadangan tanah
kawasan transmigrasi dalam satu
39

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

wilayah administrasi kabupaten, maka


usulan
kawasan
transmigrasi
disampaikan
oleh
Bupati/Walikota
kepada menteri untuk ditetapkan
menjadi kawasan transmigrasi melalui
gubernur.
Usulan
kawasan
transmigrasi
dilengkapi
dengan
dokumen potensi calon kawasan
transmigrasi.
Berdasarkan
usulan
kawasan
transmigrasi maka gubernur melakukan
sinkronisasi
dengan
kebijakan
pembangunan
daerah
provinsi.
Berdasarkan hasil sinkronisasi maka
gubernur dapat :
Meneruskan
usulan
kawasan
transmigrasi yang sesuai dengan
kebijakan pembangunan daerah
provinsi kepada menteri
Mengembalikan usulan kawasan
transmigrasi dengan penjelasan
tertulis kepada Bupati/Walikota untuk
dilakukan perbaikan paling lama 60
(enam puluh) hari kerja.

40

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Usulan kawasan transmigrasi dilakukan


penilaian oleh menteri sehingga
menteri dapat :
Menetapkan kawasan transmigrasi
Mengembalikan usulan kawasan
transmigrasi
disertai
dengan
penjelasan tertulis kepada gubernur
untuk dilakukan perbaikan paling
lama 60 (enam puluh) hari kerja.
Menteri
menyampaikan
usulan
kawasan transmigrasi yang telah
ditetapkan
menjadi
kawasan
transmigrasi kepada menteri yang
menyelenggarakan
urusan
pemerintahan di bidang penataan
ruang sebagai bahan penetapan
rencana tata ruang.
Kawasan transmigrasi yang telah
ditetapkan oleh menteri kemudian
dibuat surat keputusan Bupati/Walikota
sebagai pencadangan tanah untuk
kawasan tranmigrasi.
(2) Persiapan

administrasi RKT
41

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

a. Menyusun kerangka acuan kerja


dengan memberikan pesan kuat
terhadap arahan kebijakan dan
strategi
pembangunan
kawasan
transmigrasi :
a) Perumusan
arahan pengembangan
kawasan diarahkan agar menjaga
keserasian dan keterpaduan antara
rencana RTRW dengan RKT;
b) Menjaga keserasian dan keterpaduan
antara kegiatan sektoral;
c) Pengembangan kawasan diarahkan
untuk pengendalian dan perlindungan
kawasan
dan
bangunan
yang
mempunyai nilai historis atau sejarah,
perlindungan setempat, dll;
d) Pengembangan kawasan diarahkan
pula untuk memenuhi standar baku
mutu
lingkungan
kawasan
perencanaan;
e) Pengembangan kawasan diarahkan
untuk mendorong secara aktif peran
masyarakat
dalam
perencanaan,

42

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

pemanfaatan
dan
pembanguan
kawasan.
b. Perumusan Pengelolaan Pembangunan
Kawasan
a) Membuat sumber dan pembiayaan
kegiatan;
b) Mobilisasi
sumber daya manusia
dengan
membentuk
tim
penasehat/pengarah, tim teknis, tim
supervisi sesuai kebutuhan daerah;
c) Menyiapkan kelengkapan administrasi
dan kontrak;
d) Menyiapkan program kerja yang lebih
rinci, sebagai arahan bagi pelaksana
untuk menyusun rencana.
(3) Persiapan

Teknis/Penyusunan Proposal
yang meliputi:
a) Kajian awal potensi lahan kawasan
dengan mengacu pada kajian RTRW
provinsi dan RTRW kabupaten serta
kebijakan dan peraturan lainnya.
1. Identifikasi informasi dan data awal
kajian potensi kawasan;

43

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

2. Penyiapan metodologi pendekatan


pelaksanaan kegiatan;
3. Penyiapan rencana kerja rinci; dan
4. Penyiapan perangkat survei (checklist
data yang
dibutuhkan, panduan
wawancara,
kuesioner,
panduan
observasi dan dokumentasi, dll) serta
mobilisasi peralatan dan personil yang
dibutuhkan.
b) Materi yang dihasilkan adalah Proposal
Teknis/Hasil Kajian Awal Lokasi Kawasan
Transmigrasi.
b. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Persiapan
Administrasi dan Teknis
Hasil kegiatan persiapan administrasi dan
teknis penyusunan RKT paling sedikit
meliputi:
a) SK Bupati/Walikota atau Gubernur tentang
pencadangan
lahan
untuk
kawasan
transmigrasi. Pencadangan tanah dalam
hal ini berarti penunjukan area tanah oleh
bupati/walikota
atau
gubernur
yang

44

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

b)

disediakan untuk pembangunan kawasan


transmigrasi.
Hasil
kajian
awal
lokasi
kawasan
transmigrasi yang terdiri atas:
Gambaran umum wilayah perencanaan;
Identifikasi
nilai strategis kawasan
transmigrasi;
Identifikasi dan perumusan isu strategis
perlunya penyusunan RKT;
Identifikasi kebijakan terkait dengan
wilayah perencanaan;
Potensi dan permasalahan awal wilayah
perencanaan serta gagasan awal
pengembangan wilayah perencanaan;
dan
Identifikasi
awal
batas
delineasi
kawasan.

c. Waktu Pelaksanaan Kegiatan


Waktu pelaksanaan kegiatan persiapan yaitu
1 (satu) bulan, yang disesuaikan dengan
kondisi kawasan dan pendekatan yang
digunakan.

45

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

4.1.2. Tahap Pengumpulan Data dan Informasi


a. Kegiatan
Pengumpulan
Data
dan
Informasi
Untuk keperluan pengenalan karakteristik
kawasan
dan
penyusunan
rencana
kawasan
transmigrasi,
dilakukan
pengumpulan data primer dan data
sekunder. Pengumpulan data primer dapat
meliputi:
1) Penjaringan aspirasi masyarakat yang
dapat dilaksanakan melalui penyebaran
angket, temu wicara, wawancara orang
per-orang, dan lain sebagainya;
2) Pengenalan kondisi fisik dan sosial
ekonomi wilayah secara langsung
melalui kunjungan ke semua bagian
wilayah kawasan transmigrasi.
Data sekunder yang harus dikumpulkan
sekurang-kurangnya meliputi:
1) Peta-peta, meliputi:
a) Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) atau
peta topografi skala 1:50.000 sebagai
peta dasar;

46

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Citra satelit untuk memperbaharui


(update) peta dasar dan membuat peta
tutupan lahan; Citra satelit yang
digunakan harus berumur tidak lebih dari
tiga tahun pada saat penyusunan
rencana dengan menggunakan citra
satelit resolusi 10 m 15 m.
c) Peta batas wilayah administrasi;
d) Peta batas kawasan hutan;
e) Peta-peta
masukan untuk analisis
kebencanaan;
f) Peta-peta masukan untuk identifikasi
potensi sumber daya alam;
g) Peta-peta jaringan jalan.
2) Data dan informasi yang harus ada mampu
menyajikan data spasial 1:25.000, meliputi:
a) Data kebijakan penataan ruang (RTRW
provinsi, RTRW kabupaten/kota, dan
rencana rincinya) serta kebijakan
sektoral terkait;
b) Data kondisi fisik lingkungan dan SDA
meliputi:
Iklim dari stasiun klimatologi terdekat
minimal 10 tahun;
b)

47

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Tanah yang telah diklasifikasikan


hingga tingkat Great Group menurut
USDA;
Hidrologi
dan
Geologi
yang
dikeluarkan oleh Badan Geologi
Nasional Bandung.
c) Data
penggunaan
lahan
(Hasil
interpretasi citra satelit dan sudah
merupakan hasil pengecekan lapangan);
d) Data tentang kependudukan (minimal
data pada tingkat kecamatan minimal 5
tahun), meliputi jumlah penduduk
berdasarkan:
Jenis kelamin
Usia/umur
jenis pekerjaan
e) Data tentang prasarana dan sarana
kawasan meliputi:
Sistem jaringan transportasi, jaringan
telekomunikasi, jaringan air bersih,
jaringan
listrik,
pengembangan
permukiman
dan
pengelolaan
persampahan,
pendidikan
dan
kesehatan serta perdagangan.

48

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

f) Data tentang pertumbuhan ekonomi


kawasan, meliputi:
Produksi masing-masing subsektor
berdasarkan PDRB Kabupaten/Kota;
PDRB kabupaten/kota dan propinsi
minimal meliputi 22 subsektor selama
5 tahun.
g) Data tentang kemampuan keuangan
pembangunan daerah diperoleh dari
data APBD 5 tahun terakhir;
h) Data
dan
informasi
tentang
kelembagaan pembangunan daerah;
i) Data dan informasi tentang kebijakan
penataan
ruang
terkait
(RTRW
kabupaten yang sebelumnya, RTRW
provinsi, RTRW Nasional dan RTR pulau
terkait);
j) Data dan informasi tentang kebijakan
pembangunan sektoral, terutama yang
merupakan kebijakan pemerintah pusat;
dan
k) Peraturan-perundang undangan terkait.
Tingkat akurasi data, sumber penyedia data,
kewenangan sumber atau instansi penyedia data,

49

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

tingkat kesalahan, variabel ketidakpastian, serta


variabel-variabel lainnya yang mungkin ada perlu
diperhatikan dalam pengumpulan data. Data dalam
bentuk data statistik dan peta, serta informasi yang
dikumpulkan berupa data tahunan (time series)
minimal 5 (lima) tahun terakhir dengan kedalaman
data setingkat kelurahan/desa. Dengan data
berdasarkan kurun waktu tersebut diharapkan
dapat memberikan gambaran perubahan apa yang
terjadi pada kawasan. Data yang menyangkut
informasi spasial diperoleh dari informasi dengan
tingkat kedetailan 1:25.000.
b. Hasil
Pelaksanaan
Kegiatan
Pengumpulan Data dan Informasi
Hasil kegiatan pengumpulan data dan
informasi dihimpun dalam buku data dan
analisis.
c.

Waktu Pelaksanaan Kegiatan


Waktu pelaksanaan kegiatan pengumpulan
data dan informasi adalah 2 (dua) bulan.

4.1.3. Tahap Pengolahan dan Analisa Data


a) Analisis Kebijakan Pembangunan
Kawasan Transmigrasi
50

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

(1)
Tujuan dan Manfaat
Pekerjaan analisis dimaksudkan untuk
mengkaji daya dukung dan daya tampung
lahan lokasi perencanaan sebagai sistem
produksi pertanian dan pengelolaan
sumber daya
alam yang
memiliki
keterkaitan
fungsional
dan
hierarki
keruangan dengan pusat pertumbuhan
dalam
satu
kesatuan
sistem
pengembangan.
(2)
Prinsip Dasar
Metode yang dapat digunakan dalam
analisis potensi dan masalah kawasan
perencanaan adalah dengan menggunakan
prinsip analisis SWOT:
1. Potensi/kekuatan; kekuatan yang dimiliki
oleh indikator perkembangan kawasan
perencanaan
untuk
tumbuh
dan
berkembang, sehingga diperlukan suatu
kebijakan
dan
strategi
peningkatan/penambahan nilai (value
added) dari indikator tersebut;
2. Kelemahan/Permasalahan;
kelemahan
atau kekurangan yang dimiliki oleh

51

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

3.

4.

kawasan
perencanaan
sehingga
menghambat kawasan perencanaan
untuk tumbuh dan berkembang;
Kesempatan/peluang yang lebih luas
yang memberikan dampak tumbuh dan
berkembangnya kawasan perencanaan
seperti meningkatnya ekonomi makro,
investasi yang tumbuh cepat, terbuka
akses kawasan dengan luar, sehingga
diperlukan kebijakan dan strategi
penguatan akses dan kemudahankemudahan
bagi
pengembangan
kawasan;
Ancaman; indikator eksternal yang
dapat
menghambat
tumbuh
dan
berkembangnya kawasan perencanaan,
sehingga diperlukan kebijakan dan
strategi
penguatan
koordinasi,
kerjasama,
dan
sikronisasi
pembangunan.

Setiap komponen atau variabel SWOT


harus terukur secara kuantitatif, bila
kualitatif
dapat
menunjukan
faktor

52

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

keterkaitan
antara
kecenderungannya.

data

dan

b) Analisis Struktur dan Pemanfaatan


Kawasan Transmigrasi
Analisis struktur dan pemanfaatan kawasan
dilakukan dengan mengamati dan mengkaji
struktur dan pemanfaatan kawasan, baik pada
masa sekarang, masa lalu, maupun
kecenderungannya di masa depan, akan
tetapi dalam lingkup internal wilayah.
Penentuan orde kota, skala wilayah
pelayanan, dan penstrukturan wilayah agar
lebih
efektif
dan
efisien
merupakan
kesimpulan yang didapat dari hasil analisis
aspek ini.
1. Ketentuan Analisis
a. Ketentuan analisis struktur kawasan
perencanaan mengikuti kebijakan yang
telah digariskan oleh RTRWN, RTRWP,
dan RTRW;
b. Kedudukan
dan skala dari sistem
pergerakan, pemusatan kegiatan, dan
peruntukan lahan;
53

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

c.
d.

e.

2.

Arah
perkembangan
pembangunan
kawasan;
Memperhatikan karakteristik dan daya
dukung fisik lingkungan serta dikaitkan
dengan tingkat kerawanan terhadap
bencana.
Standar
minimum
untuk
analisis
prasarana dan sarana, kependudukan
serta kondisi lahan mengacu pada
Standar PU Nomor : 01/PRT/M/2014,
tentang Standar Pelayanan Minimal
Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang.

Analisis Fungsi Ruang meliputi:


a. Tujuan, membentuk pola kawasan yang
terstruktur dalam peran dan fungsi
bagian-bagian
kawasan
yang
memperlihatkan konsentrasi dan skala
kegiatan binaan manusia dan alami.
b. Komponen Analisis;

54

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Perkembangan

pembangunan,
merupakan
kebijakan
rencana
pembangunan yang telah ditetapkan
oleh pemerintah maupun swasta;
Pusat-pusat
kegiatan,
dengan
melakukan
kajian
terhadap
pemusatan kegiatan yang ada atau
direncanakan oleh rencana diatasnya;
Kesesuaian dan daya dukung lahan,
sebagai daya tampung dan daya
hambat ruang kawasan dalam
berkembang;
Pembagian
fungsi
ruang
pengembangan, merupakan struktur
kawasan yang dibagi dalam fungsi
dan peran bagian-bagian kawasan.
c) Analisis Sumberdaya dan Kemampuan
Lahan
Analisis
fisik
dasar
dilakukan
untuk
memperoleh informasi mengenai daya dukung
lingkungan fisik. Informasi ini diperlukan di dalam
merumuskan dan menempatkan zonasi ruang di
wilayah perencanaan seperti kawasan lindung

55

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

dan kawasan budidaya, hutan lindung, hutan


produksi dll.
Aspek fisik dasar yang dijadikan sebagai input
di dalam analisis adalah topografi wilayah, jenis
tanah, iklim, hidrologi, geologi, pola arus. Selain
itu di dalam tahap analisis juga dipertimbangkan
aspek ketersediaan SDA dan Pola Ruang yang
ada (existing).
Analisis evaluasi lahan dilakukan untuk
memperoleh gambaran mengenai tingkat
kesesuaian, tingkat kemampuan, dan tingkat
ketersediaan lahan untuk kawasan lindung dan
budidaya. Teknik analisis yang dipergunakan di
dalam evaluasi lahan ini adalah teknik scoring
dan teknik overlay peta yang didasarkan kepada
kriteria penetapan kawasan lindung dan
budidaya. Nilai akhir dari kesesuaian lahan
diperoleh dengan operasi matematis scoring dan
overlay peta tersebut.

56

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Gambar 4.1
Alur Analisis Aspek Fisik Dasar

Karateristik Fisik Dasar


Yaitu: Topografi, Jenis
Tanah, Iklim dll

Ketersediaan SDA: Jenis


Dan Jumlah

Analisis Kesesuaian
Lahan

Analisis Ketersediaan Dan


Pola Sebaran

Analisis Ketersediaan Dan


Pola Sebaran

Potensi Pengembangan

Informasi Mengenai Daya Dukung


Lingkungan Untuk Berbagai
Kebutuhan Pengembangan Wilayah

57

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Gambar 4.2
Skema Analisis Kesesuaian Lahan

58

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Kriteria-kriteria yang menjadi model persyaratan penggunaan


lahan bagi jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan
melalui metoda pohon keputusan. Pohon keputusan ini terdiri
dari seperangkat persyaratan penggunaan lahan dengan masingmasing karakteristik-karakteristik pencirinya, di mana satu sama
lain (karakteristik pendiri) saling berpengaruh terhadap potensi
lahan bagi jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan.
Secara umum untuk menilai kelas kesesuaian lahan agregat
(satuan lahan) ditentukan berdasarkan faktor pembatas yang
paling berat (maximum limiting factors, FAO, 1976). Evaluasi
dilakukan pada satuan lahan (skala 1 : 25.000) sesuai dengan
ketersediaan data. Masing-masing satuan lahan di wilayah studi
59

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

terdiri dari campuran dua jenis tanah atau lebih. Batasan antara
dua jenis tanah atau lebih ini tidak dapat didelineasi pada peta
yang digunakan, sehingga perlu dilakukan kajian survey
pemetaan tanah lebih lanjut pada tingkat kedetilan yang lebih
tinggi. Jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan
berdasarkan pengelompokkan jenis komoditas yang mempunyai
kemiripan (similar land use requirements).
Stratifikasi hasil evaluasi lahan disesuaikan dengan
kedalaman data yang tersedia yaitu pada tingkat subkelas
dengan disertai pencantuman faktor pembatas masing-masing
kelas :
1) Sesuai (S)
2) Sesuai bersyarat (CS)
3) Tidak bersyarat (N)
Kualitas lahan yang menjadi faktor pembatas kesesuaian
diantaranya sebagai berikut :
1) Hidrologi (h) 5)
Tipe Iklim (i)
2) Elevasi (k) 6)
Media perakaran (r)
3) Terrain (s) 7)
Temperatur Udara (t)
4) Ketersediaan air (w)
8)
Toksisitas (x)
Setiap faktor pembatas tersebut ditentukan oleh karakteristikkarakteristik penciri masing-masing kualitas lahan dan signifikan
menjadi pembatas dalam pengembangan jenis penggunaan
lahan yang dipertimbangkan.
d) Analisis Pengembangan Ekonomi Kawasan Transmigrasi
1. Analisis Sektor dan Komoditas Unggulan
Analisis sektor dan komoditas unggulan diperlukan untuk
mengetahui sumbangan/kontribusi sektor dan komoditas
terhadap PDRB pada Rencana Kawasan Transmigrasi
(RKT). Sektor yang memberikan sumbangan relatif yang
cukup besar terhadap PDRB di suatu kawasan sehingga
sektor tersebut dikatakan sebagai sektor basis (dominan).
60

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Variabel yang dapat digunakan sebagai indikator


keunggulan suatu sektor diantaranya: penyerapan tenaga
kerja masing-masing sektor, luas usaha dan produktivitas
masing-masing sektor, serta kontribusi tiap-tiap sektor
terhadap PDRB di RKT.
Sektor unggulan dapat pula diartikan sebagai sektor yang
dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi wilayah
sekitar yang ditunjukkan dengan parameter-parameter,
seperti:
1) Sumbangan
sektor
perekonomian
terhadap
perekonomian wilayah yang cukup tinggi,
2) Komoditas yang mempunyai multiplier effect yang
cukup tinggi,
3) Komoditas dengan kandungan deposit yang
melimpah,
4) Memiliki potensi value added yang cukup baik.
Untuk mengidentifikasi sektor dan komoditas unggulan
dapat digunakan beberapa analisis, diantaranya: Analisis
Location Quotient (LQ), Shift Share, dan Input Output
(IO). Untuk menentukan sektor atau komoditas unggulan
dapat menggunakan salah satu analisis tersebut.
2. Analisis Potensi dan Peluang Pengembangan
Komoditas Unggulan
Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) memiliki potensi
perkonomian yang besar dan membutuhkan adanya
dukungan dari seluruh pihak agar potensi pekonomian
dapat berjalan lancar. Hal ini mengakibatkan bahwa
potensi perekonomian suatu daerah dipengaruhi oleh
berbagai faktor, baik dalam masa kini maupun masa
depan. Salah satu daerah yang potensinya dipengaruhi
oleh berbagai keadaan yang berkembang adalah
61

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

perekonomian daerah tersebut yang secara langsung


maupun tidak langsung dipengaruhi oleh fenomenafenomena yang berkembang saat ini dan yang akan
datang, baik pada tatanan perkembangan lingkungan
eksternal maupun internal. Perkembangan lingkungan
eksternal perekonomian RKT sangat dipengaruhi oleh
kebijakan perekonomian regional dan nasional.
Lingkungan internal dapat digambarkan melalui besarnya
potensi pengembangan komoditas unggulan di RKT,
sedangkan lingkungan eksternal digambarkan melalui
peluang-peluang pengembangan komoditas unggulan di
RKT. Untuk menilai besarnya potensi dan peluang
komoditas unggulan di RKT dapat digunakan beberapa
metode, diantaranya dengan menggunakan Analisis
Matriks SWOT, Matriks QSP (Quantitative Strategy
Planning), dan metode Analytical Hierarchy Process
(AHP).
3. Analisis Sistem Pemasaran
Setiap daerah/kawasan harus mampu memenuhi
kebutuhan dari penduduknya. Oleh karena itu, setiap
daerah/kawasan perlu memiliki sistem pemasaran produk
yang telah dihasilkan. Pemasaran merupakan upaya
untuk
mempromosikan,
menginformasikan
dan
menawarkan kepada konsumen mengenai sebuah produk
usaha atau layanan jasa yang dikelola oleh sebuah usaha
sebagai upaya untuk meningkatkan angka penjualan dari
produk yang dihasilkan. Analisis sistem pemasaran
penting dilakukan untuk mengembangkan suatu
komoditas unggulan di wilayah RKT. Peranan pemasaran
dalam pengembangan komoditas unggulan di wilayah
RKT, antara lain:

62

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

a. Pemasaran untuk mempromosikan komoditas


unggulan kepada masyarakat sekitar wilayah RKT;
b. Menjelaskan fungsi, manfaat dan keunggulan
sebuah komoditas unggulan di wilayah RKT.
Efektivitas dan keberhasilan dari sistem pemasaran dalam
arti luas harus dievaluasi dalam hubungannya dengan
tujuan masyarakat di wilayah RKT tersebut. Pemasaran
yang efektif berarti mendistribusikan barang dan jasa
yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen di wilayah
RKT. Pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai
keefektifan suatu sistem pemasaran produk unggulan di
kawsan RKT, yaitu: pembelian, penjualan, pengangkutan,
penyimpanan, pembuatan standar dan pengelompokkan,
keuangan, pengambilan risiko dan informasi pasar.
4. Analisis Studi Kelayakan Komoditas Unggulan
Studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan dalam
mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau
menolak dari suatu kegiatan yang direncanakan dengan
mempertimbangkan aspek-aspek yang saling berkaitan
yang secara bersama-sama menentukan bagaimana
keuntungan yang diperoleh dari suatu penanaman
investasi tertentu dan mempertimbangkan seluruh aspek
tersebut pada setiap tahap dalam perencanaan proyek
dan siklus pelaksanaannya.
Aspek-aspek analisis kelayakan meliputi aspek teknis,
aspek manajerial dan administratif, aspek organisasi,
aspek komersial, aspek finansial, dan aspek ekonomis.
Jadi kelayakan suatu komoditas unggulan pada Rencana
Kawasan Transmigrasi (RKT) sangat ditentukan oleh
aspek-aspek tersebut.
1) Aspek Teknis
63

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Aspek teknis yaitu analisa yang berkaitan dengan


input dan output suatu komoditas unggulan berupa
barang dan jasa. Aspek teknis memiliki pengaruh yang
besar terhadap kelancaran jalannya kegiatan
pengembangan usaha komoditas unggulan di RKT.
Evaluasi ini mempelajari kebutuhan teknis usaha,
seperti karakteristik produk yang diusahakan, lokasi
dimana
usaha
akan
didirikan
dan
sarana
pendukungnya, serta layout bangunan yang dipilih.
2) Aspek Institusional-Organisasi-Manajemen
Mempertimbangkan pola sosial, budaya dan lembaga
yang akan dilayani oleh proyek, struktur kelembagaan
disesuaikan dengan negara atau daerah. Pekerjaanpekerjaan apa yang diperlukan untuk menjalankan
operasi tersebut, persyaratan-persyaratan yang
diperlukan untuk bisa menjalankan pekerjaanpekerjaan tersebut dan juga struktur organisasi yang
akan dipergunakan dalam suatu pengembangan
usaha komoditas unggulan di RKT.
3) Aspek Sosial
Aspek sosial mempertimbangkan pola dan kebiasaankebiasaan baru yang lebih luas dari investasi yang
diusulkan. Pengembangan komoditas unggulan harus
tanggap pada keadaan sosial dan dampak lingkungan
yang merugikan. Pertimbangan mengenai aspek
sosial dalam komoditas unggulan di RKT penting
untuk kelangsungan usaha, dikarenakan tidak ada
usaha yang bertahan lama jika tidak ramah terhadap
lingkungan.
4) Aspek Finansial
Aspek-aspek finansial dari persiapan dan analisis
komoditas unggulan menerapkan pengaruh-pengaruh
finansial dari suatu komoditas unggulan yang
64

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

diusulkan terhadap para peserta yang tergabung di


dalamnya. Tujuan utama analisis finansial terhadap
usaha tani adalah untuk menentukan berapa banyak
keluarga produsen komoditas unggulan yang
menggantungkan kehidupan mereka kepada usaha
dari komoditas unggulan tersebut, untuk membuat
proyeksi mengenai anggaran yang akan mengestimasi
penerimaan dan pengeluaran pada masa akan datang
setiap tahun.
5) Aspek Ekonomi
Aspek-aspek ekonomi persiapan dan analisis proyek
membutuhkan pengetahuan mengenai komoditas
unggulan apa yang diusulkan akan memberikan
kontribusi yang nyata terhadap pembangunan
perekonomi secara keseluruhan. Sudut pandangan
yang diambil dalam analisis ekonomi adalah
masyarakat secara keseluruhan. Pelaksanaan analisis
ekonomi dari suatu komoditas unggulan dapat
menggunakan metode-metode atau kriteria-kriteria
penilaian investasi tersebut di atas. Melalui metodemetode ini dapat diketahui apakah suatu komoditas
unggulan untuk dilaksanakan dilihat dari aspek
profitabilitas komersialnya di RKT. Terdapat beberapa
indikator yang dapat digunakan untuk mengukur
kelayakan dari suatu komoditas unggulan di RKT,
yaitu: Net Present Value (NPV), Internal Rate Of
Return (IRR), Net/Gross Benefit Cost Ratio(B/C),
Profitability Ratio (PV IK), Least Cost Method, dan Pay
Back Period.
e) Analisis Sosial dan Kependudukan
1. Analisis Sosial

65

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Dalam upaya untuk mencapai pemanfaatan sumberdaya


alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat, perlu dilakukan analisis aspek sosial dan
pendudukan suatu Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT).
Analisis sosial dan kependudukan pada hakekatnya adalah
suatu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam
mengembangkan kawasan untuk mencapai pemanfaatan
sumberdaya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Pada hakekatnya pengukuran
indikator sosial kependudukan tidak berdiri sendiri melainkan
terkait erat dengan kegiatan lainnya, yaitu aspek ekonomi
dan kelembagaan. Seringkali sulit untuk menemukan
indikator yang sederhana dan hanya mengukur satu aspek
saja karena keberhasilan pengembangan suatu kawasan
sangat ditentukan oleh kinerja sektoral dan berbagai pelaku
utama pembangunan (stakeholders) seperti pemerintah,
swasta dan masyarakat sendiri. Analisis sosial dapat
diperoleh melalui hasil pengukuran beberapa indikator sosial
(urban social indicator) yaitu berupa kualitas sumberdaya
manusia.
Salah satu indikator yang dipakai pada pedoman ini
adalah indikator komposit objektif yaitu indikator tunggal
yang merupakan gabungan dari beberapa indikator
kesejahteraan rakyat dari berbagai data sensus dan survei.
Indikator komposit dipakai untuk membandingkan tingkat
indikator tertentu atau tingkat kesejahteraan rakyat antar
daerah di kawasan.
Indikator komposit objektif yang
digunakan
adalah
Indeks
Pembangunan
Manusia
(IPM)/Human Development Index (HDI) yang merupakan
gabungan dari tiga indikator tunggal yaitu angka harapan
hidup (life expectancy), angka melek huruf (adult literacy rate)
dan rata-rata lamanya pendidikan yang diperoleh (mean

66

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

years of schooling). Analisis sosial dapat digunakan antara


lain dengan analisis deskriptif kuantitatif.
2. Analisis Kependudukan
Analisis kependudukan di RKT dilakukan untuk
memperoleh gambaran potensi penduduk, sebagai acuan
dalam menentukan kebijakan penyebaran penduduk, dan
untuk mendapatkan gambaran situasi dan kondisi objektif dari
perencanaan pengembangan/pemberdayaan masyarakat.
Analisis Kependudukan dapat diperoleh melalui hasil
pengukuran beberapa indikator sosial (urban social indicator)
misalnya: jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, dan
kepadatan permukiman. Analisis kependudukan dapat
digunakan antara lain dengan analisis deskriptif kuantitatif
dan analisis regresi.
f). Analisis Prasarana dan Sarana
Analisis kebutuhan prasarana dan sarana dilakukan untuk
mengetahui jenis dan tingkat kebutuhan prasarana dan sarana
berdasarkan pekembangan kawasan. Penilaian atas kondisi
prasarana dan sarana ini dilakukan berdasarkan fungsi dan
tingkat pelayanan dari sarana yang bersangkutan. Prasarana dan
sarana yang dimaksudkan di sini adalah prasarana dan sarana
transportasi, fasilitas umum dan utilitas. Seluruh kebutuhan
sarana dan prasarana ini disesuaikan dengan kebutuhan
perkembangan wilayah untuk masa 10 tahun ke depan sesuai
dengan hasil proyeksi pada aspek demografi. Alur analisis
sarana dan prasarana dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Pada dasarnya analisis kebutuhan prasarana dan sarana
akan terkait erat dengan beberapa hal yaitu jumlah penduduk
dan hasil proyeksi yang nantinya akan dirumuskan berdasarkan

67

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

standar jumlah minimal fasilitas yang dimaksud, dan standar


kebutuhan ruang untuk masing-masing standar.

Gambar 4.3
Alur Analisis Sarana dan Prasarana Wilayah

Proyeksi Jumlah
Penduduk 15 tahun ke depan

Kebutuhan Fasilitas:
Transportasi, Air
Bersih, Jaringan
Listrik,
Jaringan
Telekomunikasi
Persampahan
Permukiman

Standar

Kebutuhan Ruang

Perencanaan
Penyediaan
Prasarana

Rencana Sistem Jaringan


Dan Prasarana:Transportasi,
Jaringan Telekomunikasi,
Jaringan Air Bersih, Jaringan
Listrik, Pengembangan
Permukiman Dan
Pengelolaan Persampahan

68

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

g). Analisis Transportasi


Transportasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari
sarana/prasarana dan sistem pelayanan yang memungkinkan adanya
pergerakan ke seluruh wilayah. Tujuan adanya transportasi adalah :
1) Terakomodasinya mobilitas penduduk
2) Dimungkinkan adanya pergerakan barang
3) Dimungkinkannya akses ke seluruh wilayah
4) Sistem transportasi merupakan suatu bentuk keterikatan dan
keterkaitan antara penumpang/barang, sarana dan prasarana yang
berinteraksi dalam suatu operasi yang tercakup dalam suatu tatanan,
baik secara alami maupun buatan/rekayasa.
Analisis sistem prasarana transportasi yang meliputi
transportasi darat, air, dan udara dilakukan untuk memperoleh
gambaran mengenai :

Keterkaitan fungsional dan ekonomi antar kota,


antar kawasan baik dalam wilayah maupun antar wilayah
kabupaten, dengan melihat pengumpul hasil produksi,
pusat kegiatan transportasi, dan pusat distribusi barang
dan jasa;

Kecenderungan
perkembangan
prasarana
transportasi yang ada;

Aksesibilitas lokasi-lokasi kegiatan di wilayah


kabupaten.
Muatan Analisis Transportasi terdiri dari :
Analisis Pola Pergerakan (pola pergerakan angkutan
penumpang dan barang)
Analisis Sistem Transportasi meliputi : jaringan jalan,
hirarki jalan dan jaringan non jalan.
Analisis Sarana dan Prasarana Transportasi meliputi :
kondisi jalan dan kebutuhan pengembangan.

69

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

4.1.4. Tahap Perumusan Konsepsi Rencana


A. Tujuan, Sasaran Dan Konsep Perwujudan RKT
Rencana perwujudan Kawasan Transmigrasi digunakan
sebagai dasar dalam menentukan peruntukan tanah bagi :
a. Pembangunan SP baru
b. Pembangunan pemukiman baru sebagai bagian dari SP
Pugar
c. Pembangunan prasarana dan sarana kawasan
transmigrasi
d. Pengembangan investasi
e. Pemugaran pemukiman penduduk setempat sebagai
bagian dari SP pugar dan/atau
f. SP tempatan
B. Rencana Struktur dan Pemanfaatan Kawasan
Transmigrasi
Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) adalah rencana
struktur ruang dan pola ruang kawasan transmigrasi sebagai
dasar perencanaan perwujudan kawasan transmigrasi,
mencakup:
1. Rencana Perwujudan Kawasan Transmigrasi
Rencana perwujudan kawasan transmigrasi merupakan
rencana pelaksanaan kegiatan pembangunan dan
pengembangan untuk mewujudkan kawasan transmigrasi
menjadi satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi
wilayah. Rencana perwujudan kawasan transmigrasi
meliputi:
a. Rencana pembangunan dan pengembangan SKP;
b. Rencana pembangunan dan pengembangan KPB;
c. Rencana pembangunan dan pengembangan SP;
d. Rencana pembangunan dan pengembangan pusat
SKP;

70

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

e. Rencana pembangunan dan pengembangan prasarana


dan sarana;
f. Rencana pengembangan masyarakat transmigrasi dan
kawasan transmigrasi;
g. Rencana Sistem Transportasi;
h. Rencana Penataan Persebaran Penduduk;
i. Rencana Pola Pengembangan Usaha Pokok;
j. Indikasi Program.

2. Rencana Pembangunan dan Pengembangan SKP


Rencana pembangunan dan pengembangan SKP
merupakan Rencana Rinci SKP. Rencana Rinci SKP
sebagai perangkat operasional RKT. Rencana Rinci SKP
paling sedikit memuat:
a. Tujuan, sasaran, dan konsep perwujudan SKP;
b. Luasan SKP;
c. Rencana struktur SKP;
d. Rencana peruntukkan SKP;
e. Rencana pengembangan pola usaha pokok
f. Rencana jenis transmigrasi yang akan dilaksanakan;
g. Rencana penataan persebaran penduduk dan
kebutuhan sumber daya manusia sesuai dengan daya
dukung alam dan daya tampung lingkungan SKP;
h. Indikasi program utama pembangunan SKP; dan
i. Tahapan pembangunan SP.
3. Rencana Pembangunan dan Pengembangan KPB
Rencana pembangunan dan pengembangan KPB
merupakan Rencana Detail KPB. Rencana Detail KPB
merupakan bahan pertimbangan dalam penyusunan
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan bagi zona-zona
yang pada rencana detail tata ruang ditentukan sebagai

71

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

zona yang penanganannya diprioritaskan. Rencana Detail


KPB paling sedikit memuat:
a. Tujuan, sasaran, dan konsep perwujudan KPB;
b. Luasan KPB;
c. Rencana peruntukkan KPB;
d. Rencana prasarana dan sarana KPB;
e. Penetapan subbagian wilayah perencanaan KPB yang
diprioritaskan penanganannya;
f. Ketentuan pemanfaatan ruang KPB;
g. Rencana
pola
usaha
pokok
dan/atau
pola
pengembangan usaha;
h. Rencana jenis transmigrasi yang dapat dilaksanakan;
i. Rencana penataan persebaran penduduk dan rencana
peningkatan kapasitas sumber daya manusia;
j. Rencana detail pembentukan, peningkatan, dan
penguatan kelembagaan sosial dan ekonomi;
k. Rencana program pembangunan KP.
4. Rencana pembangunan dan pengembangan SP
Rencana
pembangunan
dan
pengembangan
SP
merupakan rencana teknis SP. Rencana teknis SP paling
sedikit memuat:
a. Luas SP;
b. Rencana detail pemanfaatan ruang SP;
c. Rencana detail pola usaha pokok dan pengembangan
usaha yang dapat dikembangkan;
d. Rencana jenis transmigrasi yang akan dilaksanakan;
e. Rencana daya tampung penduduk; dan
f. Rencana kebutuhan biaya pembangunan SP.
5. Rencana Pembangunan dan Pengembangan Pusat SKP
Rencana pembangunan dan pengembangan pusat SKP
merupakan rencana teknis pusat SKP.
72

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

(1) Rencana teknis pusat dilaksanakan pada salah satu


SP yang dirancang menjadi Desa Utama.
(2) Rencana teknis pusat SKP sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) disusun berdasarkan Rencana Rinci
SKP.
(3) Rencana teknis pusat SKP sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) paling sedikit memuat:
a. Luas pusat SKP;
b. Rencana detail pemanfaatan ruang pusat SKP;
c. Rencana pola usaha pokok dan pengembangan
usaha yang dapat dikembangkan;
d. Rencana pelayanan dan pengembangan usaha
jasa, industri, dan perdagangan yang dapat
dikembangkan;
e. Rencana
jenis
transmigrasi
yang
akan
dilaksanakan;
f. Rencana daya tampung penduduk; dan
g. Rencana kebutuhan biaya pembangunan Pusat
SKP;
(4) Rencana teknis pusat SKP sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) dituangkan dalam dokumen rencana
teknis pusat SKP.
C. Rencana Pembangunan dan Pengembangan Prasarana
dan Sarana
Rencana pembangunan dan pengembangan prasarana dan
sarana merupakan rencana teknik detail prasarana dan sarana.
Rencana teknik detail prasarana dan sarana mencakup :
a. Prasarana dan sarana SP;
b. Prasarana dan sarana pusat SKP;
c. Prasarana dan saranaKPB; dan
d. Prasarana intra dan antar-kawasan.

73

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

D. Rencana Pembangunan dan Pengembangan Sistem


Transportasi
a. Rencana sistem jaringan jalan (hirarki dan kelas jalan);
b. Rencana peningkatan aksesibilitas, dalam hal ini
pengembangan jaringan jalan;
c. Rencana pengembangan simpul jaringan transportasi.

E. Rencana Penataan Persebaran Penduduk


Rencana Penataan Persebaran Penduduk didasarkan
kepada hasil analisis struktur dan pemanfaatan kawasan
transmigrasi serta analisis sumberdaya, kemampuan lahan dan
daya dukung lahan.
F. Rencana Pola Pengembangan Usaha Pokok
Rencana Pola Pengembangan Usaha Pokok, di dasarkan
kepada hasil analisis sektor unggulan yang diarahkan untuk
mempercepat keterkaitan fungsional intrakawasan dan
antarkawasan serta mengoptimalkan pemanfaatan ruang
secara konsisten guna mendukung pengembangan komoditas
unggulan dengan pendekatan agroindustri dan agribisnis.
G. Indikasi Program
Tujuan Penyusunan Indikasi Program adalah untuk
penanganan prasarana lingkungan yang akan dilaksanakan
dalam
kawasan,
baik
kebutuhan
akan
konservasi,
pengembangan baru pemugaran atau penanganan khusus
dengan kriteria sebagai berikut :
1) Program yang dikelola pemerintah, kegiatan yang
menyangkut pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya manusia.
2) Program yang dikerjasamakan, kegiatan yang
menyangkut pengelolaan fasilitas publik.
74

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

3) Program yang dipihak ketigakan/swasta, kegiatan yang


bersifat
mencari
keuntungan,
khususnya
bagi
pemerintah daerah adalah berkonstribusi kepada APBD.
4) Sistem pembiayaan : APBD Kabupaten, APBD Propinsi,
dan APBN.
5) Program yang dipihak ketigakan/swasta, kegiatan yang
bersifat
mencari
keuntungan,
khususnya
bagi
pemerintah daerah adalah berkonstribusi kepada APBD.
6) Sistem pembiayaan :
a) APBD Kabupaten, APBD Propinsi, dan APBN.
b) BOT (Build, Operate and Transfer), artinya dibangun
swasta, dioperasikan swasta dan pada suatu saat
diserahkan kepada pemerintah.
c) BOO (Build, Own, Operate), yaitu suatu cara
penyertaan swasta.
d) Modifikasi.
4.1.5.

Tahap Penyusunan Konsep Naskah Pengesahan


Dokumen RKT
a. Kegiatan Penyusunan Naskah Pengesahan Dokumen
RKT
Kegiatan penyusunan naskah Raperda tentang RKT
merupakan proses penuangan naskah teknis RKT ke
dalam bentuk pasal-pasal dan mengikuti kaidah
penyusunan
peraturan
perundang-undangan,
khususnya ketentuan-ketentuan dalam UU No. 10 tahun
2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan.
b. Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Produk yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah naskah
Rancangan Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang
RKT.

75

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

c. Waktu Kegiatan
Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyusunan
rancangan Naskah Pengesahan tentang Dokumen RKT
adalah 1 (satu) bulan, dan dapat dilakukan secara
simultan dengan penyusunan naskah teknis RKT.
4.2

Prosedur Penyusunan RKT


Prosedur penyusunan RKT merupakan pentahapan yang
harus dilalui dalam penyusunan RKT sampai dengan pembahasan
naskah pengesahan tentang Dokumen RKT yang melibatkan
pemangku kepentingan di tingkat kabupaten termasuk masyarakat.
Masyarakat yang menjadi pemangku kepentingan dalam
penyusunan RKT meliputi:
a. Orang perorangan atau sekelompok orang;
b. Organisasi masyarakat tingkat wilayah kabupaten atau yang
memiliki cakupan wilayah layanan satu kabupaten atau lebih
dari wilayah kabupaten yang sedang melakukan penyusunan
RKT;
c. Perwakilan organisasi masyarakat tingkat kabupaten dan
kabupaten/kota yang berdekatan secara sistemik (memiliki
hubungan interaksi langsung) yang dapat terkena dampak dari
penataan ruang di daerah yang sedang disusun RKT-nya; dan
d. Perwakilan organisasi masyarakat tingkat kabupaten dan
kabupaten/kota dari daerah yang dapat memberikan dampak
bagi penataan ruang di daerah yang sedang disusun RKT-nya.
Prosedur penyusunan RKT meliputi:
a. Pembentukan tim penyusunan RKT yang beranggotakan unsurunsur dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah kabupaten,
khususnya dalam lingkup Badan Koordinasi Penataan Ruang
Daerah (BKPRD) kabupaten yang bersangkutan;
b. Pelaksanaan penyusunan RKT;

76

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

c.

Pelibatan peran masyarakat di tingkat kabupaten dalam


penyusunan RKT melalui:
1) Pada tahap persiapan, pemerintah melibatkan masyarakat
secara pasif dengan pemberitaan mengenai informasi
penataan ruang melalui:

Media massa (televisi, radio, surat kabar, dan majalah);

Brosur, leaflet, flyers, surat edaran, buletin, jurnal, dan


buku;

Kegiatan pameran, pemasangan


papan pengumuman, billboard;

Kegiatan kebudayaan (misal: pagelaran wayang


dengan menyisipkan informasi yang ingin disampaikan
di dalamnya);

Multimedia (video, VCD, dan DVD);

Website;

poster, pamflet,

Ruang pamer atau pusat informasi; dan/atau

Pertemuan terbuka dengan masyarakat/kelompok


masyarakat.
2) Pada
tahap
pengumpulan
data
dan
informasi,
masyarakat/organisasi masyarakat berperan lebih aktif
dalam bentuk:

Pemberian data & informasi


diketahui/dimiliki datanya;

Pendataan untuk kepentingan penatan ruang yang


diperlukan;

Pemberian masukan, aspirasi, dan opini awal usulan


rencana penataan ruang; dan

Identifikasi potensi dan masalah penataan ruang.

kewilayahan

77

yang

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

Media
yang
digunakan
infomasi/masukan dapat melalui:

untuk

mendapatkan

Kotak aduan;

Pengisian kuesioner, wawancara;

Pertemuan terbuka atau public hearings;

Penyelenggaraan konferensi; dan/atau

Website, surat elektronik, form aduan, polling, telepon,


dan pesan singkat/sms;
Kegiatan workshop, focus group disscussion (FGD);
Ruang pamer atau pusat informasi.

3) Pada tahap perumusan konsep RKT, masyarakat terlibat


secara aktif dan bersifat dialogis/komunikasi dua arah.
Dialog dilakukan antara lain melalui konsultasi publik,
workshop, FGD, seminar, dan bentuk komunikasi dua arah
lainnya.
Pada
kondisi
keterlibatan
masyarakat
dalam
penyelenggaraan penataan ruang telah lebih aktif, maka
dalam penyusunan RKT dapat memanfaatkan
lembaga/forum yang telah ada seperti:

Satuan kerja (task force/technical advisory committee);

Steering committee;

Forum pertemuan antar pemangku kepentingan.

Forum delegasi; dan/atau

d. Pembahasan Naskah Pengesahan tentang Dokumen RKT oleh


pemangku kepentingan di tingkat kabupaten. Pada tahap
pembahasan ini, masyarakat dapat berperan dalam bentuk
pengajuan usulan, keberatan, atau sanggahan terhadap naskah
pengesahan tentang RKT melalui:
1) Media massa (televisi, radio, surat kabar, dan majalah);
78

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

2) Website resmi lembaga pemerintah yang berkewenangan


menyusun RKT;
3) Surat terbuka di media massa;
4) Kelompok kerja (working group/public advisory group);
dan/atau
5) Diskusi/temu warga (public hearings/meetings), konsultasi
publik, workshop, focus group disscussion (FGD), seminar,
konferensi, dan panel.
AMBAR 4.4
PROSEDUR PERSETUJUAN RENCANA LOKASI KAWASAN
TRANSMIGRASI
Persiapan Administrasi
Kajian potensi lokasi
kawasan mencakup
penyediaan tanah untuk
pembangunan kawasan
transmigrasi dilaksanakan
melalui proses pencadangan
tanah/penegasan fungsi
lahan oleh pemerintah
daerah baik Bupati atau
Gubernur

Persiapan Teknis
Kajian awal potensi lahan kawasan dengan mengacu pada kajian
RTRW provinsi dan RTRW kabupaten/kota serta kebijakan dan
peraturan lainnya.
Identifikasi informasi dan data awal kajian potensi kawasan;
Penyiapan metodologi pendekatan pelaksanaan kegiatan;
Penyiapan rencana kerja rinci; dan
Penyiapan perangkat survei (checklist data yang dibutuhkan,
panduan wawancara, kuesioner, panduan observasi dan
dokumentasi, dll) serta mobilisasi peralatan dan personil yang
dibutuhkan.
Materi yang dihasilkan adalah Proposal Teknis/Hasil Kajian
Awal Lokasi Kawasan Transmigrasi

Hasil Persiapan Administrasi dan Teknis


SK Bupati/Walikota atau Gubernur tentang pencad
untuk kawasan transmigrasi. Pencadangan tanah
berarti penunjukan area tanah oleh bupati/w
gubernur yang disediakan untuk pembangun
transmigrasi.
Hasil kajian awal lokasi kawasan transmigrasi yang ter
Gambaran umum wilayah perencanaan
Identifikasi nilai strategis kawasan transmigrasi;
Identifikasi dan perumusan isu strategis perlunya
RKT;
Identifikasi kebijakan terkait dengan wilayah peren
Potensi dan permasalahan awal wilayah perenc
gagasan awal pengembangan wilayah perenca
Identifikasi awal batas delineasi kawasan.

PROSES PENILAIAN DAN


PROSES PENYUSUNAN RKT,
sampai Pengesahan Dokumen RKT
melalui Peraturan Daerah
(pada tahapan proses penyusunan
RKT, maka Pemerintah
Pusat/Kementerian Terkait bersama
Pemerintah Daerah adalah sebagai
unsur teknis dalam penyusunan
materi RKT

TIDAK DISETUJUI

PERSETUJUAN CALON LOKASI


KAWASAN TRANSMIGRASI oleh
KEMENTERIAN TERKAIT melalui
GUBERNUR

DISETUJUI

(waktu proses maksimal 6 bulan)

PROSES PERSETUJUAN

79

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

GAMBAR 4.5
PROSEDUR PENYUSUNAN RENCANA KAWASAN
TRANSMIGRASI (RKT)

80

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

BAB V
PENGENDALIAN RENCANA KAWASAN
TRANSMIGRASI (RKT)
Ketentuan pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi
memiliki fungsi:
1. Sebagai alat pengendali pengembangan kawasan transmigrasi;
2. Menjaga kesesuaian pemanfaatan kawasan dengan rencana
kawasan transmigrasi;
3. Menjamin agar pembangunan baru tidak mengganggu
pemanfaatan kawasan transmigrasi yang telah sesuai dengan
rencana tata ruang baik RTRW Kabupaten maupun RTRW
Provinsi;
4. Meminimalkan pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan
rencana kawasan transmigrasi;
5. Mencegah dampak pembangunan yang merugikan; dan
6. Melindungi kepentingan umum
Ketentuan pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi
terdiri dari ketentuan umum pengendalian struktur kawasan
transmigrasi, ketentuan umum peraturan kawasan transmigrasi,
ketentuan perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif serta arahan
sanksi.
5.1

Ketentuan Umum
Pengendalian
pemanfaatan
kawasan
transmigrasi
diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban
terhadap pemanfaatan kawasan transmigrasi.
Pengawasan diselenggarakan melalui kegiatan sebagai
berikut :
a)
Pelaporan yang menyangkut segala hal yang tentang
pemanfaatan kawasan transmigrasi;
b)
Pemantauan terhadap perubahan pemanfaatan kawasan
transmigrasi; serta

81

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

c)

Evaluasi sebagai upaya menilai kemajuan kegiatan


pemanfaatan kawasan transmigrasi dalam mencapai tujuan
rencana kawasan transmigrasi (RKT).

Dalam
pelaksanaannya,
kegiatan
pengendalian
pemanfaatan kawasan transmigrasi tersebut dilaksanakan secara
terintegrasi dan terkoordinasi. Penertiban merupakan tindakan yang
dilakukan bila terdapat indikasi pelanggaran pemanfaatan kawasan
transmigrasi.
5.1.1

Pengawasan
Berdasarkan waktu pelaksanaannya, pengawasan dibedakan
menjadi 2 (dua) yaitu :
a) Pengawasan selama proses pembangunan (construction),
bertujuan untuk mencegah terjadinya kelambatan atau masa idle
(non-performing) yang berdampak negatif.
b) Pengawasan pasca-pembangunan, bertujuan untuk mencegah
terjadinya penyimpangan kegiatan yang dilaksanakan terhadap
perijinan yang telah diterbitkan.

5.1.2 Pelaporan
a) Fungsi pelaporan adalah sebagai salah satu sumber
informasi bagi pemerintah atau instansi yang berwenang
dalam memantau dan mengevaluasi pemanfaatan kawasan
transmigrasi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam
rencana kawasan transmigrasi.
b) Pelaporan tidak hanya berupa laporan pelanggaran atas
rencana kawasan transmigrasi, tetapi juga segala hal yang
menyangkut kegiatan pemanfaatan kawasan transmigrasi,
baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana
kawasan transmigrasi.
c) Subyek pelaporan terdiri dari pihak-pihak yang memiliki hak
dan/atau kewajiban untuk melaporkan hal-hal yang
menyangkut pemanfaatan kawasan transmigrasi. Subyek
yang memiliki kewajiban untuk melaporkan adalah pihak
pengguna kawasan transmigrasi, sedangkan subyek yang
82

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

memiliki hak untuk melaporkan adalah masyarakat luas


dengan perincian sebagai berikut:
1) Pengguna kawasan transmigrasi :
berupa laporan
kegiatan pembangunan yang akan digunakan untuk
menilai sampai sejauh mana pelaksanaan pemanfaatan
kawasan transmigrasi direalisasikan sesuai dengan
rencana kawasan transmigrasi yang berlaku;
2) Masyarakat luas (pihak-pihak di luar pengguna baik yang
berada maupun tidak berada di sekitar kawasan
pemanfaatan kawasan transmigrasi): berguna sebagai
penyeimbang informasi sekaligus sebagai kontrol
terhadap laporan yang dibuat oleh pengguna kawasan
transmigrasi.
d) Pelaporan disampaikan kepada: instansi yang berwenang
yaitu Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja/Dinas Tata
Ruang/Dinas Pekerjaan Umum atau instansi lain yang
berfungsi mengendalikan pemanfaatan kawasan transmigrasi
untuk ditindaklanjuti dalam proses pemantauan dan/atau
evaluasi.
e) Obyek pelaporan terdiri dari aspek-aspek yang terkait dengan
pemanfaatan kawasan transmigrasi, baik itu aspek fisik
maupun non-fisik. Aspek fisik menyangkut konstruksi
bangunan,
sedangkan
non-fisik
menyangkut
pengaruh/dampak negatif dan positif dari pemanfaatan
kawasan transmigrasi terhadap kehidupan sosial-ekonomi
masyarakat. Hal-hal yang dilaporkan dalam aspek non-fisik
menyangkut tanggapan dan penilaian masyarakat, serta
pengaruh yang ditimbulkan oleh pemanfaatan kawasan
transmigrasi terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.
f) Bentuk pelaporan berupa standar-formal (format baku) yang
diberlakukan oleh instansi pemerintah dan instansi terkait
lainnya yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan
kawasan transmigrasi. Bentuk pelaporan dapat disampaikan
secara tertulis maupun tidak tertulis. Pelaporan tertulis
disampaikan oleh pihak pengguna kawasan transmigrasi,

83

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

sedangkan pelaporan tertulis atau tidak tertulis disampaikan


oleh masyarakat umum.
g) Mekanisme pelaporan merupakan proses dan prosedur
pelaporan yang harus dilalui oleh pelapor, baik pengguna
kawasan transmigrasi itu sendiri maupun masyarakat umum.
h) Tahapan pelaporan terdiri dari tahap-tahap pelaporan yang
harus dilakukan oleh pengguna kawasan transmigrasi
maupun masyarakat selama proses pelaksanaan kegiatan
pembangunan dilakukan.
i) Pelaporan oleh pengguna kawasan transmigrasi dilakukan
dalam 3 (tiga) tahap:
1) Tahap Pra Konstruksi, yakni pelaporan rencana final
pembangunan. Dalam tahap ini pihak pengguna kawasan
transmigrasi menyampaikan semua rencana pemanfaatan
kawasan transmigrasi yang telah mendapat persetujuan
atau ijin dari pemerintah atau instansi yang berwenang.
Pada tahap ini pihak pengguna diharuskan mengisi
formulir yang telah disediakan oleh pemerintah atau
instansi terkait.
2) Tahap Konstruksi, yakni pelaporan yang disampaikan
pada tahap pelaksanaan pemanfaatan kawasan
transmigrasi. Pelaporan pada tahap ini berguna sebagai
input bagi pelaksanaan evaluasi terhadap kegiatan
pemanfaatan kawasan transmigrasi yang sesuai dengan
rencana kawasan transmigrasi. Itu artinya, hasil laporan
pada tahap ini akan menentukan apakah pelaksanaan
pemanfaatan kawasan transmigrasi perlu ditinjau kembali
untuk disesuaikan dengan rencana atau terus dilanjutkan.
3) Tahap Pasca-Konstruksi, yakni pelaporan hasil akhir dari
pelaksanaan
pemanfaatan
kawasan
transmigrasi.
Pelaporan yang disampaikan pada tahap ini berupa hasil
akhir dari kegiatan pembangunan. Pelaporan ini berguna
sebagai input bagi proses evaluasi dan peninjauan
kembali terhadap kesesuaian antara rencana dan
pelaksanaan akhir pemanfaatan kawasan transmigrasi.

84

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

j) Pelaporan oleh masyarakat umum dapat dilakukan kapan


pun selama dalam pelaksanaan kegiatan pemanfaatan
kawasan transmigrasi dinilai ada hal-hal yang tidak sesuai
dengan Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) yang berlaku.
Prosedur pelaporan yang disampaikan oleh masyarakat
umum dapat dilakukan melalu dua cara, yaitu tertulis dan
tidak tertulis.
5.1.3 Pemantauan
a) Pemantauan adalah aktivitas yang bertujuan mengamati,
mengikuti dan mendokumentasikan perubahan status/kondisi
suatu kegiatan pemanfaatan kawasan transmigrasi suatu
kawasan/obyek tertentu dalam periode waktu tertentu.
Pemantauan merupakan kegiatan rutin dari instansi terkait
dan merupakan tindak lanjut adanya laporan dari masyarakat,
pengguna ruang, atau instansi terkait perihal adanya dugaan
pelanggaran pemanfaatan kawasan transmigrasi.
b) Fungsi pemantauan adalah agar pelaksanaan pemanfaatan
kawasan transmigrasi dapat sesuai dengan Rencana
Kawasan Transmigrasi dan merupakan salah satu upaya
untuk mencegah pelanggaran pemanfaatan kawasan
transmigrasi yang dapat merugikan masyarakat.
c) Subyek pemantauan terdiri dari instansi pemerintah yang
berwenang di bidang tata kawasan transmigrasi di wilayah
administrasi kabupaten seperti Dinas Transmigrasi dan
Tenaga Kerja, Dinas Tata Kota, Dinas Permukiman dan Tata
Ruang, Dinas Pekerjaan Umum, dan dinas lain yang terkait.
d) Pemantauan dilakukan secara berkala minimal 1 tahun sekali
dan merupakan :
1) Kegiatan rutin;
2) Kegiatan lanjutan setelah adanya laporan dari masyarakat
atau
instansi
terkait
perihal
adanya
dugaan
penyimpangan/ketidaksesuaian
pembangunan
fisik
dengan rencana kawasan transmigrasi.
e) Penentuan lokasi wilayah pemantauan pemanfaatan ruang
dilakukan berdasarkan :
85

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

1) Wilayah administrasi, yakni kabupaten;


2) Kondisi lahan terakhir :

- wilayah terbangun (built up areas) misalnya untuk


memantau kegiatan renovasi, revitalisasi/peremajaan,
atau perubahan fungsi kawasan seperti dari kawasan
perumahan ke kawasan perdagangan, dan lain-lain.

- Wilayah/lahan

kosong (misalnya dari kawasan


pertanian menjadi kawasan industri atau tanah
kosong/telantar menjadi kawasan perumahan dan
permukiman)
f) Pemantauan pemanfaatan ruang dilakukan berdasarkan 3
(tiga) tahapan, yaitu :
1) Masa pra-konstruksi, dilaksanakan bersamaan dalam
masa studi kelayakan;
2) Masa konstruksi, dilaksanakan pada saat kegiatan
pembangunan dimulai hingga siap dimanfaatkan;
3) Masa pasca-konstruksi, dilaksanakan pada saat
bangunan telah dipakai/digunakan untuk suatu kegiatan.
g) Pemantauan dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu :
1) Pemantauan yang dilakukan secara rutin/periodik, yaitu
pemantauan yang dilakukan oleh aparat instansi yang
berwenang berdasarkan prosedur yang berlaku.
Pemantauan formal ini menghasilkan laporan periodik.
2) Pemantauan yang dilakukan secara insidentil, yaitu
pemantauan yang dilakukan oleh aparat instansi yang
berwenang untuk memecahkan masalah lokal atau
masalah yang mendapat perhatian masyarakat.
h) Hasil pemantauan dikelompokkan ke dalam 2 tipologi
pemanfaatan kawasan :
1) Revitalisasi Lahan (Tipologi A).
2) Konflik Pemanfaatan Lahan dalam Satu Kawasan
Transmigrasi (Tipologi B).
5.1.4 Evaluasi
a) Evaluasi merupakan tindak lanjut dari kegiatan pelaporan dan
pemantauan. Evaluasi merupakan bagian dari tindakan
86

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

b)

c)

d)
e)

f)

g)

pengawasan
yang
menghasilkan
kesimpulan
dan
rekomendasi pemanfaatan kawasan transmigrasi untuk
ditindaklanjuti.
Tujuan evaluasi adalah penilaian tentang pencapaian manfaat
yang
telah
ditetapkan
dalam
Rencana
Kawasan
Transmigrasi, termasuk penemuan faktor-faktor yang
menyebabkan pencapaian lebih dan atau kurang dari
manfaat yang telah ditetapkan dalam Rencana Kawasan
Transmigrasi (RKT).
Subyek evaluasi terdiri dari lembaga atau instansi yang
berwenang di bidang penataan kawasan transmigrasi (Dinas
Transmigrasi dan Tenaga Kerja, Dinas Tata Ruang &
Permukiman atau Dinas Tata Kota atau Dinas Pekerjaan
Umum), serta unsur masyarakat yang dapat dilakukan oleh
suatu
forum
yang
merepresentasikan
kepentingan
masyarakat (dewan pakar, tokoh masyarakat, dsb).
Indikator yang digunakan dalam evaluasi, adalah : Alat atau
instrumen yang digunakan dalam evaluasi.
Ringkasan Tahap Evaluasi adalah :
1) RTRW (yang telah disahkan dengan Perda) atau
Rencana Detil yang telah disahkan oleh Bupati/ Walikota;
2) Ijin-ijin tentang lokasi yang dikeluarkan oleh
pemerintah/dinas terkait;
3) Ijin tentang bangunan yang dikeluarkan oleh pemerintah/
dinas terkait;
4) Analisa mengenai dampak lingkungan (jika ada);
5) Kriteria lokasi dan standar teknis yang berlaku di bidang
penataan ruang.
Hasil evaluasi merupakan laporan yang berisi rekomendasi
untuk ditindaklanjuti. Dari hasil evaluasi dapat diketahui
sampai sejauh mana penyimpangan pemanfaatan kawasan
transmigrasi terjadi dan berada pada indikator tipologi yang
meliputi : revitalisasi lahan dan konflik pemanfaatan lahan
dalam satu kawasan transmigrasi.
Obyek yang dievaluasi adalah hasil pelaporan dan analisa
pencapaian manfaat yang disusun secara profesional,
87

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

kemudian dibandingkan dengan dokumen rencana dan


laporan pemantauan pelaksanaan penataan kawasan
transmigrasi yang disusun oleh dinas/instansi terkait.
h) Tata cara pelaksanaan evaluasi akan diuraikan dalam
Ketentuan Teknis.
5.1.5 Penertiban
a) Penertiban merupakan tindakan yang harus dilakukan sesuai
peraturan perundangan yang berlaku dan berdasarkan hasil
rekomendasi pada tahap evaluasi.
b) Penertiban dilakukan karena hasil rekomendasi dalam tahap
evaluasi
menunjukkan
bahwa
telah
terjadi
pelanggaran/ketidaksesuaian/penyimpangan
terhadap
Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) yang berlaku.
c) Penertiban dilakukan melalui pemeriksaan (penyidikan) dan
penyelidikan atas pemanfaatan kawasan transmigrasi yang
tidak sesuai dengan rencana kawasan transmigrasi yang
berlaku.
d) Subyek penertiban terdiri dari lembaga/instansi yang
berwenang dalam bidang pengaturan dan pemanfaatan
ruang seperti : Dinas Tata Kota, Dinas Pengawasan
Pembangunan Kota, Dinas Penertiban, dan sebagainya.
e) Bentuk penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak
sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam
bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan
yang
berlaku
berupa
sanksi
administrasi, sanksi perdata, dan sanksi pidana. Pengenaan
sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang
sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f) Waktu penertiban dilakukan selama tahap konstruksi
maupun tahap pasca konstruksi.
g) Metode penertiban adalah secara langsung di tempat
pelanggaran pemanfaatan kawasan transmigrasi (on site)
atau melalui proses pengadilan.

88

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

h) Perijinan merupakan salah satu alat dalam pengendalian


pemanfaatan
kawasan
transmigrasi.
Suatu
ijin
pembangunan diberikan kepada pemohon dengan dasar
rencana kawasan transmigrasi. Berdasarkan perijinan itulah
maka kegiatan pengawasan dan penertiban dalam
pemanfaatan kawasan transmigrasi dapat dilaksanakan
sampai dengan pengenaan sanksi atau dengan insentif dan
disinsentif.
5.2
Ketentuan Teknis
5.2.1 Pengawasan
a) Kegiatan yang dilakukan dalam pengawasan :
1) Pelaku
pembangunan/pengguna
kawasan
transmigrasi melaporkan kegiatan yang dilakukan
secara berkala kepada instansi/lembaga yang
berwenang memberikan ijin pemanfaatan kawasan
transmigrasi;
2) Lembaga/instansi yang berwenang memberikan ijin
pemanfaatan kawasan transmigrasi melakukan
pengecekan
lapangan
terhadap
realisasi
pembangunan yang dilakukan.
3) Pemerintah
daerah
kabupaten/kota
menyelenggarakan (melalui instansi yang berwenang)
sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya
kegiatan pengawasan, yang meliputi maksud dan
tujuan, mekanisme, serta proses dan prosedur
pengawasan dengan bahasa yang dapat dipahami
oleh masyarakat luas.
b) Pemberian wewenang pengawasan pada tingkat
kecamatan sampai kelurahan yang meliputi:
1) Mekanisme
pengawasan
secara
formal
di
kecamatan/kelurahan;
2) Pemberian wewenang untuk memberikan surat
peringatan ;

89

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

3) Pemberian wewenang untuk


mekanisme
penertiban
pelanggaran.
5.2.2

mengusulkan
untuk
pelanggaran-

Pelaporan
Prosedur pelaporan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :
a) Prosedur
Pelaporan
oleh
Pengguna
Kawasan
Transmigrasi
1) Pra-Konstruksi

Pihak

pengguna
kawasan
transmigrasi
menyampaikan laporan rencana pemanfaatan
kawasan transmigrasi secara lengkap (detil)
kepada instansi pemerintah dan instansi terkait
lainnya yang berwenang dalam pengendalian
pemanfaatan kawasan transmigrasi.

Pihak

pengguna/pemanfaat
berkewajiban
mempublikasikan/ menginformasikan rencana
kegiatan pembangunan kepada masyarakat luas
melalui kegiatan uji publik dan semacamnya
(mekanismenya dapat disesuaikan dengan daerah
masing-masing atau memanfaatkan mekanisme
yang sudah ada).

Format pelaporan pada tahap pra konstruksi


mengikuti ketentuan yang telah dibuat oleh instansi
pemerintah atau instansi terkait yang berwenang
dalam pengendalian pemanfaatan kawasan
transmigrasi.
2) Konstruksi
(a) Pihak pengguna ruang menyampaikan laporan
pelaksanaan kegiatan pembangunan kepada
instansi pemerintah dan instansi terkait lainnya
yang
berwenang
dalam
pengendalian
pemanfaatan kawasan transmigrasi.
(b) Pihak pengguna juga berkewajiban melaporkan
tanggapan masyarakat baik tertulis/tidak
90

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

(c)

tertulis yang bersifat negatif maupun positif


terhadap kegiatan pelaksanaan pembangunan.
Format pelaporan pada tahap pra-konstruksi
mengikuti ketentuan yang telah dibuat oleh
instansi pemerintah atau instansi terkait yang
berwenang dalam pengendalian pemanfaatan
kawasan transmigrasi.

3) Pasca-Konstruksi
(a) Pihak
pengguna
kawasan
transmigrasi
menyampaikan laporan hasil akhir pelaksanaan
kegiatan
pembangunan
kepada
instansi
pemerintah dan instansi terkait lainnya yang
berwenang dalam pengendalian pemanfaatan
kawasan transmigrasi.
(b) Selain kepada pemerintah dan instansi terkait
lainnya, pihak pengguna juga berkewajiban
mempublikasikan/menginformasikan hasil akhir
pelaksanaan kegiatan pemanfaatan kawasan
transmigrasi kepada masyarakat luas.
(c) Format pelaporan pada tahap pasca-konstruksi
dan mekanisme publikasi kepada masyarakat
mengikuti ketentuan yang telah dibuat oleh
instansi pemerintah atau instansi terkait yang
berwenang dalam pengendalian pemanfaatan
kawasan transmigrasi.
b) Prosedur Pelaporan oleh Masyarakat Umum
1) Pelaporan oleh masyarakat umum dapat dilakukan
kapan pun selama dalam pelaksanaan kegiatan
pembangunan bila dinilai ada hal-hal yang tidak sesuai
dengan rencana pemanfaatan kawasan transmigrasi
yang berlaku. Prosedur pelaporan yang dilakukan oleh
masyarakat umum dapat dilakukan melalui dua cara :
(a) Pelaporan tertulis.
(b) Pelaporan tidak tertulis.
91

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

2) Pelaporan tertulis dilakukan melalui dua tahap :


(a) Mengisi formulir pelaporan yang telah disediakan
oleh instansi pemerintah atau instansi terkait
lainnya yang berwenang dalam pengendalian
pemanfaatan kawasan transmigrasi.
(b) Menyampaikan laporan berdasarkan format surat
penulisan laporan sendiri. Media pelaporan
tertulis yang kedua bisa menggunakan teknologi
internet atau membuka kotak pos pengaduan.
3) Pelaporan tidak tertulis dilakukan melalui media
interaktif yang dibuat oleh instansi pemerintah dan
instansi terkait lainnya yang berwenang dalam
pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi.
5.2.3

Pemantauan
a) Alat kerja (instrumen) yang digunakan dalam kegiatan
pemantauan adalah :
1) Peta RTRW Kabupaten;
2) Peta Rencana Detail Tata Ruang (bila ada);
3) Peta Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT);
4) Dokumen petunjuk pelaksanaan rencana tata ruang;
5) Dokumen
Peraturan
Daerah
tentang
RTRW
Kabupaten atau RKT;
6) Peta penggunaan lahan tahun terakhir;
7) Peta dasar wilayah kabupaten;
8) Ketentuan yang dikeluarkan instansi yang berwenang
(menyangkut pembangunan fisik di lokasi tertentu)
antara lain :
(a) Ijin lokasi
(b) Ijin peruntukan penggunaan lahan
(c) Ijin mendirikan bangunan
(d) Sertifikat laik fungsi (khusus untuk bangunan
gedung)
(e) AMDAL

92

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

b) Tingkat ketelitian peta yang digunakan dalam kegiatan


pemantauan disesuaikan dengan kebutuhan dengan
mengacu pada ketelitian peta RKT yang berlaku.
c) Informasi yang diperlukan dalam pemantauan yaitu :
1) Pengumpulan informasi mengenai tolok ukur tertentu.
2) Pengumpulan informasi mengenai data sosial ekonomi
dan kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, dan
sebagainya.
3) Pengumpulan
informasi
mengenai
persepsi
masyarakat pengguna dan penerima manfaat melalui
metode kuesioner.
d) Pengambilan
data
pemantauan
mengandalkan
pengumpulan data sekunder, berbentuk dokumen
termasuk juga catatan pada saat studi, perencanaan,
penilaian, dan perancangan kegiatan-kegiatan evaluasi
sebelum dan selama pelaksanaan/ penyelenggaraan
kegiatan.
e) Tata cara pemantauan yang dilakukan secara
rutin/periodik adalah sebagai berikut :
1) Mengkaji peta guna lahan eksisting;
2) Membandingkan peta rencana dengan hasil kajian
peta guna lahan eksisting pada butir
a) Menyusun laporan hasil perbandingan pada butir;
b) Untuk melihat apakah terjadi perubahan
pemanfaatan kawasan atau tidak;
3) Bila terjadi perubahan pemanfaatan kawasan, lakukan
analisa untuk menentukan perubahan pemanfaatan
kawasan tersebut termasuk dalam tipologi A atau B;
4) Menyusun laporan hasil analisa pada butir d) kepada
Kepala Dinas terkait (Dinas Transmigrasi dan Tenaga
Kerja/Dinas Tata Ruang & Permukiman / Dinas Tata
Kota / Dinas Pekerjaan Umum).
f) Tata cara pemantauan yang dilakukan secara insidentil
adalah sebagai berikut :
1) Mempelajari laporan yang masuk dari masyarakat;
2) Mengkaji peta pemanfaatan kawasan eksisting;
93

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

3) Membandingkan kondisi di lapangan dengan laporan


masyarakat pada butir a) dan hasil kajian peta
pemanfaatan kawasan eksisting pada butir b);
4) Menyusun laporan hasil perbandingan pada butir c)
untuk melihat apakah terjadi perubahan pemanfaatan
kawasan atau tidak;
5) Bila terjadi perubahan pemanfaatan kawasan, lakukan
analisa untuk menentukan perubahan pemanfaatan
kawasan tersebut termasuk dalam tipologi A atau B;
6) Menyusun laporan hasil analisa pada butir e) kepada
Kepala Dinas terkait (Dinas Transmigrasi dan Tenaga
Kerja/Dinas Tata Ruang & Permukiman / Dinas Tata
Kota / Dinas Pekerjaan Umum).

5.2.4 Evaluasi
a) Tata Cara Evaluasi
1) Analisis kasus yang terjadi di lapangan dengan
memilih tipologi A/B untuk mengetahui indikator yang
dievaluasi.
2) Mengisi format evaluasi sesuai dengan hasil
pelaporan dan/atau pemantauan.
3) Alat evaluasi yang digunakan yaitu :
(a) RTRW Kabupaten yang telah disahkan
(b) RDTR Kawasan di dalam Kabupaten, jika telah
tersedia.
(c) Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT)
(d) Ijin lokasi/ijin mendirikan bangunan
(e) Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
(1) RKL (Rencana Kelola Lingkungan)
(2) RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan)
(3) ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan)
(f) Kriteria lokasi dan standar teknis kawasan
budidaya

94

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

b) Mekanisme Evaluasi
1) Kepala Dinas terkait (Dinas Transmigrasi dan Tenaga
Kerja/Dinas Tata Ruang dan Permukiman / Dinas Tata
Kota / Dinas Pekerjaan Umum) membentuk suatu Tim
Evaluasi yang terdiri dari unsur dinas terkait serta
unsur masyarakat (dewan pakar, tokoh masyarakat,
dsb).
2) Kegiatan
evaluasi
dilakukan
segera
setelah
pemantauan dilakukan dan diselesaikan dalam waktu
maksimal 2 bulan;
3) Tim Evaluasi menyusun laporan hasil evaluasi;
4) Laporan hasil evaluasi disampaikan kepada Kepala
Dinas terkait;
5) Hasil evaluasi diumumkan kepada masyarakat,
dengan cara ditempel pada papan pengumuman di
lembaga yang berwenang di bidang penataan ruang;
6) Menyampaikan laporan hasil evaluasi secara resmi
kepada pelapor;
7) Apabila dalam proses evaluasi terdapat hal-hal yang
tidak dapat ditangani di tingkat kabupaten/kota, maka
laporan hasil evaluasi disampaikan pula kepada
instansi terkait di tingkat Provinsiuntuk ditindaklanjuti.
5.2.5

Penertiban
a) Tahap-tahap yang dilakukan dalam proses penertiban
adalah :
1) Peringatan
(a) Penerbitan lembar evaluasi yang berisikan
perbedaan antara perijinan dan realisasi.
(b) Pemberitahuan tindakan perbaikan yang harus
dilakukan oleh pelaku pembangunan.

2) Sanksi

95

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

(a) Biaya tambahan dikenakan dalam jangka waktu


tertentu sampai dengan pelaku pembangunan
memperbaiki penyimpangan yang terjadi.
(b) Peniadaan fasilitas yang diperlukan bagi
keberlangsungan kegiatan yang diberikan sanksi.
3) Pencabutan Ijin dan Proses Hukum (Legal Action)
(a) Pencabutan dilakukan melalui serangkaian
proses peringatan sebelumnya.
(b) Pencabutan
dilakukan
secara
sepihak
berdasarkan dokumen perijinan dan hasil
evaluasi/pengawasan.
(c) Proses banding dimungkinkan bagi kedua belah
pihak.
4) Rekomendasi yang tertuang dalam laporan ini akan
ditindaklanjuti oleh Kepala Dinas terkait.
5) Rekomendasi dapat berupa kajian lebih lanjut yang
harus dilakukan oleh tim yang lebih besar. Kepala
Dinas terkait akan menjadi Ketua Tim Evaluasi
lanjutan ini.
b) Tingkatan penindakan dalam penertiban :
1) Peringatan Tertulis
(a) Penindakan terhadap pelanggaran aktivitas
industri yang secara nyata dan terbukti sah telah
menyalahi ketentuan perijinan.
(b) Pelaku pelanggaran hanya diberi surat
peringatan sekali dan diharuskan memperbaiki
kerusakan yang dihasilkan dalam tempo waktu
yang telah ditetapkan sebelumnya.
(c) Bila sampai jatuh tempo belum dilakukan
perbaikan maka penindakan dapat ditingkatkan
ke penindakan berikutnya.
2) Pengenaan Denda Langsung
(a) Penindakan yang berupa penjatuhan denda
secara langsung begitu diketahui pelanggaran
yang dilakukan sudah terkategorikan berat dan
berbahaya.
96

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

(b) Pengenaan denda langsung juga bisa diberikan


ketika pelaku pelanggaran terbukti tidak
mengindahkan surat peringatan tertulis.
3) Pemutusan Sanksi Pengadilan, yaitu penindakan bagi
pelaku pelanggaran berat dan berbahaya serta
menimbulkan kerusakan yang luas.
4) Pencabutan Ijin Lokasi dan Ijin Usaha.
(a) Tingkatan penindakan terberat yang memiliki
konsekuensi pada penutupan usaha.
(b) Dilakukan jika pelaku pelanggaran yang sudah
diganjar putusan pengadilan masih tetap saja
melakukannya.
c) Lokasi penindakan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :
1) Penindakan di tempat kejadian (on site punishment)
(a) Dilakukan begitu hasil pengawasan menunjukkan
pelaku industri melakukan pelanggaran.
(b) Kriteria penindakan : kategori pelanggaran relatif
ringan sampai dengan berat/berbahaya, namun
pelakunya menunjukkan itikad baik untuk
memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan dan
tidak akan mengulangi kesalahannya.
(c) Jenis penindakan : pemberian surat peringatan
dan pengenaan denda langsung.
2) Penindakan di majelis pengadilan (trial by court)
(a) Dilakukan ketika indikasi pelanggaran yang telah
dilakukan tergolong berat dan pelakunya tidak
menunjukkan itikad baik memperbaiki kerusakan
lingkungan dan kesalahannya.
(b) Jenis penindakan : pemutusan sanksi pengadilan
serta pemutusan ijin lokasi dan ijin usaha.
d) Bentuk-bentuk kegiatan penertiban adalah sebagai berikut
:
1) Penerbitan Surat Peringatan yang disertai lembar
evaluasi yang berisikan pelanggaran yang dilakukan;

97

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

10)
11)
12)
13)
14)
15)
16)

5.3

Pemberitahuan tindakan perbaikan yang harus


dilakukan;
Penyusunan dan penetapan kriteria pelanggaran
yang berdampak penting;
Penyusunan dan penetapan kriteria pelanggaran
yang berdampak strategis;
Penetapan jenis sanksi finansial;
Penetapan sanksi kegiatan yang bertingkat;
Penetapan besaran denda atas ketidakberhasilan
pembangunan;
Penetapan kriteria yang dapat diperpanjang masa
ijin lokasinya;
Membentuk otoritas kelembagaan yang jelas untuk
penanganan masalah transportasi kawasan dan
pinggiran kota;
Pemberlakuan standar peralatan dan prosedur
instalasi;
Pemasangan alat pengukur konsumsi energi dan air
bersih;
Pemberian prioritas/penundaan ijin kepada industri
yang memenuhi ketentuan;
Pemberlakuan standar manajemen industri;
Pengenaan tarif pajak dan retribusi perbaikan
lingkungan;
Penetapan kewajiban perbaikan lingkungan dan
pembangunan infrastruktur publik;
Penentuan batas maksimum wilayah terkena
dampak.

Kelembagaan dan Peran Serta Masyarakat


5.3.1 Kelembagaan
a) Kelembagaan mencakup lembaga-lembaga yang memiliki
wewenang dalam pengendalian pemanfaatan kawasan
transmigrasi. Lembaga-lembaga yang dimaksud meliputi
instansi pemerintah dan institusi-institusi terkait lainnya

98

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan


ruang.
b) Lembaga
atau
institusi
pengelola
pengendalian
pemanfaatan kawasan transmigrasi yang terkait dengan
kewenangan pemerintah daerah kabupaten, dalam
pelaksanaannya dilaksanakan secara terkoordinasi
dengan melibatkan institusi terkait dengan pembinaan
perencanaan daerah (Bappeda), Dinas Pekerjaan
Umum/Tata Ruang/Tata Kota, Badan Pertanahan,
termasuk BKPRD, serta instansi bidang hukum serta
aparat kecamatan/desa, serta kerjasama dengan
pemerintah kabupaten tetangga jika diperlukan.
c) Tugas dan fungsi kelembagaan pengelola pengendalian
atau Tim Koordinasi, meliputi:
1) Menyiapkan dan menerima laporan serta melakukan
inventarisasi laporan;
2) Melakukan peninjauan ke lapangan atau lokasi kasus;
3) Memeriksa kesesuaian antara kondisi fisik lapangan
dengan rencana pemanfaatan kawasan transmigrasi
sesuai dengan RKT/RTRW Kabupaten;
4) Menyusun
temuan
masalah/penyimpangan,
membahas temuan dalam rapat koordinasi dan
merumuskan rekomendasi ;
5) Menyusun laporan hasil pemantauan kepada instansi
yang berwenang;
6) Melakukan evaluasi temuan;
7) Menyelenggarakan evaluasi progam pembangunan
dan kinerja instansi perijinan;
8) Menyiapkan langkah penertiban dengan melakukan
koordinasi pelaksanaan penertiban.
5.3.2 Peran Serta Masyarakat
a) Pengendalian
pemanfaatan
kawasan
transmigrasi
diselenggarakan oleh pemerintah dengan melibatkan
masyarakat yang dilaksanakan secara terkoordinasi
antara pemerintah dan masyarakat. Peran serta
99

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

b)

c)

d)

e)

masyarakat merupakan hal yang penting karena hasil


kegiatan penataan kawasan transmigrasi adalah untuk
kepentingan
masyarakat
serta
terselenggaranya
pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi.
Peran
serta
masyarakat
dalam
pengendalian
pemanfaatan kawasan transmigrasi adalah berbagai
kegiatan masyarakat yang terkait dengan fungsi
pelaporan, pemantauan, dan evaluasi serta penertiban.
Dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan kawasan
transmigrasi, masyarakat memiliki hak dan kewajiban
untuk memperbaiki kualitas dan mendukung terwujudnya
pemanfaatan kawasan transmigrasi yang sesuai dengan
rencana kawasan transmigrasi, serta dalam rangka
penertiban
pemanfaatan
kawasan
transmigrasi.
Masyarakat
sebagai
mitra
pemerintah
dapat
mendayagunakan kemampuan secara aktif sebagai
perwujudan hak dan kewajibannya. Peran serta
masyarakat dapat dilakukan oleh seorang, kelompok
orang, badan hukum dan badan usaha swasta.
Hak masyarakat adalah :
1) Mengetahui secara terbuka peraturan perundangan
yang berlaku dan kebijakan penataan kawasan
transmigrasi seperti Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten, Rencana Kawasan Transmigrasi, melalui
penyebarluasan rencana kawasan transmigrasi yang
telah ditetapkan pada tempat-tempat dimana
masyarakat dapat mengetahui dengan mudah.
2) Memperoleh penggantian yang layak sesuai
perundangan yang berlaku atas kondisi yang dialami
masyarakat sebagai akibat pelaksanaan kegiatan
pembangunan
yang
dilaksanakan.
Besarnya
penggantian sesuai dengan peraturan perundangan
hukum yang berlaku.
Kewajiban masyarakat adalah :
1) Berperan serta dalam proses penyelenggaraan
pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi.
100

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

2) Berperan serta di dalam memelihara kualitas kawasan


transmigrasi dan mentaati ketentuan rencana kawasan
transmigrasi yang telah ditetapkan.
3) Berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam kegiatan
pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi.
f) Bentuk peran serta masyarakat dalam kegiatan
pemanfaatan kawasan transmigrasi adalah :
1) Mengajukan usul, saran atau keberatan kepada
pemerintah melalui media massa, asosiasi profesi,
LSM, dan lembaga formal kemasyarakatan.
2) Berpartisipasi aktif dalam menjaga, memelihara dan
meningkatkan kualitas lingkungan sesuai arahan
rencana pemanfaatan kawasan transmigrasi.
3) Melaksanakan
pembangunan
sesuai
rencana
pemanfaatan kawasan transmigrasi yang telah
ditetapkan.
4) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengawasan agar
dihindari
pelaksanaan
pembangunan
yang
menyimpang dari tatacara/ kriteria yang telah
ditetapkan.
5) Dalam menyusun Tim Evaluasi pemerintah akan
melibatkan masyarakat sebagai anggota tim, minimal
dari masyarakat pelapor.

101

Lampiran 4 Peraturan Menteri ttg Penilaian


dan Penetapan Kawasan

BAB VI
PENUTUP
Pedoman ini telah disusun dengan memperhatikan peraturan
perundangan-undangan terkait dan perkiraan penambahan ataupun
perkembangan Kawasan Transmigrasi di masa datang.
Pedoman ini juga bersifat fleksibel dengan tetap memperhatikan
pentingnya faktor dan karakteristik lokal yang ada di setiap Kawasan
Transmigrasi. Oleh karenanya, setiap penyusunan Rencana
Kawasan Transmigrasi (RKT) tetap harus memperhatikan faktor dan
karakteristik lokal.

102