Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN
Tuli mendadak atau sudden deafness merupakan keadaan emergensi di
telinga, dimana telinga mengalami ketulian secara mendadak, kadang tanpa
disertai keluhan, umumnya mengenai satu telinga dengan kehilangan pendengaran
30 dB atau lebih pada 3 frekuensi dan berlangsung selama kurang dari 3 hari.
Dikatakan emergensi karena keadaan ini sering kali menetap, jika tidak diketahui
cepat penyebabnya.
Tuli mendadak merupakan tuli sensorineural, umumnya unilateral dan
dapat disertai tinitus dan vertigo. terjadinya secara progresif dalam beberapa detik
sampai 5 -7 hari. Penyakit ini rnemerlukan diagnosis sedini mungkin dan terapi
segera sehingga prognosis menjadi lebih baik. Penyebab pasti kadang sulit untuk
diketahui, umumnya diakibatkan gangguan pada saraf telinga ( pada rumah siput /
koklea ) oleh berbagai hal seperti trauma kepala, trauma bising yang keras, infeksi
virus, perubahan tekanan atmosfir dan adanya kelainan darah., autoimun, obat
ototoksik, Meniere dan neroma akustik.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi
Pendengaran normal ialah dapat mendengar pembicaraan biasa dan tidak

ada kesukaran mendengar suara perlahan. Secara fisiologis telinga manusia dapat
mendengar suara dengan interval 20 20000 Hz.
Sudden Deafness atau tuli mendadak adalah tuli yang terjadi secara tibatiba. Jenis ketuliannya adalah sensorineural, penyebabnya tidak langsung dapat
diketahui, biasanya terjadi pada satu telinga. Para ahli otolaringologis
mendefinisikan tuli mendadak sebabagai penurunan pendengaran sensorineural
30db atau lebih, paling sedikit tiga frekuensi berturut-turut pada pemeriksaan
audiometri, dalam waktu kurang dari tiga hari.1
2.2

Epidemiologi
Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 15.000 kasus per tahun kejadian tuli

mendadak di seluruh dunia, dengan 4.000 kasus terjadi di Amerika Serikat.


Jumlah kasus tuli mendadak diperkirakan lebih tinggi dari jumlah kasus yang
dilaporkan, karena beberapa pasien pendengarannya bisa kembali normal sebelum
mendapat tindakan medis. Tuli mendadak dapat terjadi pada semua umur,
meskipun kejadian pada anak jarang dilaporkan. Kasus tuli mendadak meningkat
sesuai dengan pertambahan umur, di Amerika Serikat terdapat 4,7 kasus tuli
mendadak per 100.000 penduduk yang berusia 20-30 tahun, dan 15, 8 kasus per
100.000 penduduk yang berusia 50-60 tahun. Secara keseluruhan tuli mendadak
banyak terjadi pada usia 46-49 tahun. Perbandingan kejadian tuli mendadak antara

pria dan wanita sama. Jenis kelamin diperkirakan bukan merupakan suatu faktor
risiko. 1, 4, 5
2.3

Etiologi
Sebanyak 85% kasus tuli mendadak tidak diketahui penyebabnya,

sementara hanya 15% kasus yang dapat diketahui penyebabnya ini. Tuli
mendadak disebabkan oleh berbagai hal, antara lain oleh infeksi, trauma kepala,
pajanan bising yang keras, perubahan tekanan atmosfir, penyakit autoimun, obat
ototoksik, penyakit meniere, masalah sirkulatorik, neuroma akustik.1, 3
Infeksi Virus terlihat pada hampir sepertiga kasus tuli mendadak,
meningitis merupakan penyebab terbanyak tuli mendadak oleh karena infeksi
virus, terutama pada anak-anak setelah sembuh dari meningitis dianjurkan untuk
dilakukan tes audiometri. Campak dan cacar juga dihubungkan dengan tuli
mendadak, pada penderita cacar kehilangan pendengaran biasanya sedang sampai
berat dan bilateral sedangkan penderita campak dapat mengalami kehilangan
pendengaran unilateral saja.3
Cedera kepala, terutama yang dihubungkan dengan fraktur kranium dapat
mengakibatkan kehilangan pendengaran yang berat dan sering permanen.
Walaupun tidak terdapat fraktur, tuli mendadak dapat terjadi akibat cedara SSP
atau pada telinga dalam.3
Tuli mendadak dapat terjadi akibat pajanan terhadap bising yang kuat
misalnya ledakan yang kuat atau bunyi petasan dan senjata api dalam ruang
tertutup. Kerasnya suara maupun lamanya paparan memegang peranan dalam
kasus ini, Occupational Safety and Help Administration (OSHA) telah

menetapkan standar yang dipercaya menggambarkan hubungan antara ketulian


dengan paparan pekerja terhadap bising yang keras saat di tempat kerja. Tingkat
bising 80 db untuk 8 jam diperkirakan aman, maka paparan terhadap bising 110
db untuk waktu relatif singkat dianggap berbahaya terhadap keselamatan
mekanisme pendengaran.3, 4
Tuli mendadak pada operasi telinga juga dapat terjadi. Derajat risiko
tergantung berbagai faktor yaitu prosedur operasi, dan ketrampilan dari operator
sendiri.3 Gangguan vaskuler juga dikenal sebagai salah satu penyebab tuli
mendadak. Spasme, perdarahan arteri auditiva interna atau trombosis dapat
mengakibatkan iskemik koklea yang berujung pada tuli mendadak.1
Tuli mendadak juga dapat disebabkan oleh obat-obat ototoksik. Tuli ini
biasanya didahului oleh tinitus.1,3
Tabel 1. Obat-obat ototoksik
Golongan obat

Contoh Obat

Salisilat

Aspirin

Kuinolin

Klorokuin
NSAID

Loop Diuretik

Bumetamid
Furosemid
Asam Etackrinat

Aminoglikosida

Amikasin
Gentamisin

Efek terhadap
pendegaran
Tuli dapat terjadi pada
dosis tinggi, tetapi biasanya
reversivel
Tuli dapat terjadi pada
dosis tinggi atau pemakaian
jangka panjang, tetapi
biasanya reversibel apabila
obat dihentikan
Dapat menyebabkan tuli
sementara atau permanen.
Jika dikombinasikan
dengan obat-obat ototoksik
lainnya, resiko kerusakan
permanen meningkat.
Tuli dapat terjadi pada
dosis tinggi atau pemakaian
jangka panjang. Tuli dapat
bersifat permanen.

2.4

Patogenesis

Etiologi Vaskuler
Pembuluh darah koklea merupakan ujung arteri (end artery), sehingga bila
terjadi gangguan pada pembuluh darah ini koklea sangat mudah mengalami
kerusakan, Pada kasus emboli, trombosis, vasospasme, dan hiperkoagulasi atau
viskositas yang meningkat.terjadi iskemia yang berakibat degenerasi luas pada
sel-sel ganglion stria vaskularis dan ligament spiralis. Kemudian diikuti oleh
pembentukan jaringan ikat dan penulangan.
Ruptur Membran Labirin
Ruptur membran labirin berpotensial

menyebabkan

kehilangan

pendengaran sensorineural yang tiba-tiba, membran basalis dan membran reissner


merupakan selaput tipis yang membatasi endolimfe dan perilimfe. Ruptur salah
satu dari membran atau keduanya dapat menyebabkan ketulian mendadak.
Penyakit Autoimun Pada Telinga Dalam
Ketulian sensorineural yang disebabkan oleh proses autoimun telinga
dalam masih belum jelas, tapi aktivitas imunologik koklea menunjukkan fakta
yang tinggi.
Terdapat 4 teori yang dipostulasikan bagi terjadinya tuli mendadak yaitu
infeksi viral labirin, gangguan vaskuler labirin, ruptur membran intrakoklear dan
penyakit telinga dalam yang berhubungan dengan imun. Suatu proses penyakit
yang melibatkan salah satu dari kemungkinan teoiritis ini dapat berakhir dengan
tuli mendadak, namun tak satupun yang dapat menjelaskan secara menyeluruh.5
Penelitian terhadap penderita tuli mendadak menunjukkan adanya suatu
prevalensi sedang penyakit viral. Juga ditemukan bukti serokonversi virus dan
histopatologi telinga dalam yang konsisten dengan infeksi virus. Beberapa
penelitian mencatat 17-33% penderita tuli mendadak baru menderita penyakit

virus. Pada pemeriksaan histopatologis tulang temporal, gambaran kehilangan sel


rambut dan sel penyokong, atrofi membrana tektoria, atrofi stria vaskularis dan
kehilangan neuron sesuai dengan kerusakan akibat virus. Pola kerusakan ini mirip
dengan gambaran yang ditemukan pada tuli sekunder akibat cacar,campak dan
rubella maternal.5
Teori kedua menyangkut gangguan vaskular yang terjadi pada koklea.
Koklea merupakan suatu end organ karena suplai darahnya tidak ada kolateralnya.
Fungsi koklea sensitif terhadap perobahan suplai darah. Gangguan vaskuler
koklea akibat trombosis, embolus, penurunan aliran darah atau vasospasme adalah
etiologi tuli mendadak. Penurunan oksigenasi koklea kemungkinan akibat dari
perubahan aliran darah koklea. Perdarahan intrakoklea merupakan manifestasi
awal yang diikuti fibrosis dan osifikasi koklea. Pada suatu studi ditemukan
kesamaan antara faktor risiko koroner iskemik dan faktor risiko tuli mendadak.
Penemuan keterlibatan vaskuler dalam patogenesis tuli mendadak dapat dijadikan
sebagai strategi preventif dan terapeutik.5
Teori lainnya terjadi tuli adalah akibat ruptur membran intrakoklea.
Membran ini memisah telinga tengan dan telinga dalam. Di dalam koklea juga
terdapat membran-membran halus memisah ruang perilimfe dan endolimfe.
Secara teoritis, ruptur dari salah satu atau kedua jenis membran ini dapat
mengakibatkan tuli mendadak. Kebocoran cairan perilimfe ke ruang telinga
tengah lewat round window dan oval window telah diyakini sebagai mekanisme
penyebab tuli. Ruptur membran intrakoklea membolehkan bercampurnya perilmfe
dan endolimfe dan merobah potensi endokoklea secara efektif.5

2.5

Diagnosis
Diagnosis didapatkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta

pemeriksaan penunjang audiologi dan laboratorium serta pemeriksaan penunjang


lain. Anamnesis yang teliti mengenai proses terjadinya ketulian, gejala yang
menyertai serta faktor predisposisi penting untuk mengarahkan diagnosis.
Pemeriksaan fisik termasuk tekanan darah sangat diperlukan. Pada pemeriksaan
otoskopi tidak dijumpai kelainan pada telinga yang sakit.
a. Anamnesis
1. Kehilangan pendengaran tiba-tiba biasanya satu telinga yang tidak
jelas

penyebabnya berlangsung dalam waktu kurang dari 3 hari.1

2. Pasien biasanya mengingat dengan jelas kapan tepatnya mereka


kehilangan pendengaran, pasien seperti mendengar bunyi klik atau
pop kemudian pasien kehilangan pendengaran.3
3. Pusing mendadak (vertigo) merupakan gejala awal terbanyak dari tuli
mendadak yang disebabkan oleh iskemik koklear dan infeksi virus,
dan vertigo akan lebih hebat pada penyakit meniere, tapi vertigo tidak
ditemukan atau jarang pada tuli mendadak akibat neuroma akustik,
obat ototoksik.3
5. Riwayat infeksi virus seperti parotis, mumps, campak, herpes zooster,
CMV, influenza B. 1
6. Riwayat penyakit metabolik seperti DM.7
7. Telinga terasa penuh, biasanya pada penyakit meniere.3
8. Riwayat berpergian dengan pesawat atau menyelam ke dasar laut.7

9. Riwayat trauma kepala dan bising keras.1, 5


b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dengan otoskop, tidak ditemukan kelainan pada
telinga yang sakit. Sementara dengan pemeriksaan pendengaran didapatkan
hasil sebagai berikut:1
Tes penala :
Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran udara dinilai dengan
menempatkan garputala yang telah digetarkan di dekat telinga sehingga suara
harus melewati udara agar sampai ke telinga.
Penurunan fungsi pendengaran atau ambang pendengaran subnormal bisa
menunjukkan adanya kelainan pada saluaran telinga, telinga tengah, telinga
dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak.
Pendengaran melalui hantaran tulang dinilai dengan menempatkan ujung
pegangan garputala yang telah digetarkan pada prosesus mastoideus (tulang yang
menonjol di belakang telinga). Getaran akan diteruskan ke seluruh tulang
tengkorak, termasuk tulang koklea di telinga dalam, koklea mengandung sel
rambut yang merubah getaran menjadi gelombang saraf yang selanjutnya akan
berjalan di sepanjang saraf pendengaran. Pemeriksaan ini hanya menilai telinga
dalam, saraf pendengaran dan jalur saraf pendengaran di otak.
Jika pendengaran melalui hantaran udara menurun, tetapi pendengaran
melalui hantaran tulang normal, dikatakan terjadi tuli konduktif
Jika pendengaran melalui hantaran udara dan tulang menurun, maka terjadi tuli
sensorineural.
Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang sehat, Schwabach
memendek. Kesan : Tuli sensorieural

Audiometri nada murni :


Tuli sensorineural ringan sampai berat.
c. Pemeriksaan penunjang 1
Audiometri khusus
Menggunakan suatu alat audiometer yang menghasilkan suara dengan
ketinggian dan volume tertentu.
Ambang pendengaran untuk serangkaian nada ditentukan dengan
mengurangi volume dari setiap nada sehingga penderita tidak lagi dapat
mendengarnya. Untuk mengukur pendengaran melalui hantaran udara digunakan
earphone, sedangkan untuk mengukur pendengaran melalui hantaran tulang
digunakan sebuah alat yang digetarkan yang kemudian diletakkan pada prosesus
mastoideus.
-

Tes SISI (Short Increment Sensitivity Index) dengan skor : 100% atau
kurang dari 70%

Tes Tone decay atau reflek kelelahan negatif.


Kesan : Bukan tuli retrokoklea

Audiometri tutur (speech audiometry)


mengukur seberapa keras suara harus diucapkan supaya bisa dimengerti.
Kepada penderita diperdengarkan kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata yang
memiliki aksentuasi yang sama, pada volume tertentu. Dilakukan perekaman
terhadap volume dimana penderita dapat mengulang separuh kata-kata yang
diucapkan dengan benar.
-

SDS (speech discrimination score): kurang dari 100%


Kesan : Tuli sensorineural

Audiometri impedans :
Merupakan sejenis audiometri yang mengukur impedansi (tahanan
terhadap tekanan) pada telinga tengah. Timpanometri digunakan untuk membantu
menentukan penyebab dari tuli konduktif.
Dengan alat ini bisa diketahui berapa banyak suara yang melalui telinga
tengah dan berapa banyak suara yang dipantulkan kembali sebagai perubahan
tekanan di saluran telinga. Hasil pemeriksaan menunjukkan apakah masalahnya
berupa :

Penyumbatan tuba eustacheus


Cairan di dalam telinga tengah
Kelainan pada rantai ketiga tulang pendengaran yang menghantarkan suara
melalui telinga tengah.
Timpanometri juga bisa menunjukkan adanya perubahan pada kontraksi

otot stapedius, yang melekat pada tulang stapes. Jika terjadi penurunan fungsi
pendengaran neural, maka refleks akustik akan berubah atau menjadi lambat.
Dengan refleks yang lambat otot stapedius tidak dapat berkontraksi selama telinga
menerima suara yang gaduh.
-

Timpanogram tipe A (normal) reflek stapedius ipsilateral negatif atau


positif sedangkan kolateral positif.
Kesan : Tuli sensorineural Koklea

BERA ( Brainstem Evolved Responce Audiometry)


Pemeriksaan ini mengukur gelombang saraf di otak yang timbul akibat
rangsangan pada saraf pendengaran.
Respon auditoris batang otak juga dapat digunakan untuk memantau fungsi otak
tertentu pada penderita koma atau penderita yang menjalani pembedahan otak.

10

Menunjukkan tuli sencori neural ringan sampai berat.

d. Pemeriksaan Laboratorium
Hitung sel darah lengkap.
LED.
Faal Hemotasis dan faktor kuagalasi (PTT.
Kultur bakterik.
Eletrolit pada kadar glukosa .
Kolesterol dan trigliserida
Uji fungsi tiroid
Tes autoimun seperti antibodi antinuklear dan reumatic
e. ENG ( Electtronistagmografi)

2.6

Radiologi
Arteriografi
Penatalaksanaan
Terapi untuk tuli mendadak adalah1
1.

Tiarah baring yang sempurna (total bed rest) istirahat baik fisik
dan mental selama 2 minggu untuk menghilangkan atau
mengurangi stress yang besar pengaruhnya pada keadaan
kegagalan neovaskular.

2.

Vasodilatansia injeksi yang cukup kuat disertai dengan pemberian


tablet vasodilator oral tiap hari.

3.

Prednison 4x10 mg (2 tablet),tappering off tiap 3 hari (hati hati


pada penderita DM)

11

4.

Vitamin C 500 mg 1x1 tablet/hari

5.

Neurobion 3x1 tablet /hari

6.

Diit rendah garam dan rendah kolesterol

7.

Inhalasi oksigen 4x15 menit (2 liter/menit), obat antivirus sesuai


dengan virus penyebab

Kortikosteroid merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk


mengobati ketulian sensorineural mendadak idiopatik. Mekanisme kerjanya
terhadap ketulian mendadak belum diketahi dengan pasti, meskipun terjadi
reduksi inflamasi koklea dan saraf auditorius setelah pemberian obat ini. Dalam
sebuah penelitian baru-baru ini ditemukan bahwa injeksi dexamethason
intratimpani efektif untuk memperbaiki pendengran pasien yang mengalami tuli
mendadak setelah sebelumnya gagal ditatalaksana dengan terapi standar.5
Vasodilator digunakan untuk meningkatkan aliran darah ke koklea,
sehingga dapat memperbaiki oksigenasi di daerah tersebut. Untuk meningkatkan
perfusi vaskuler, mikrosirkulasi dan menurunkan viskositas darah dapat diberikan
anti koagulan seperti heparin, warfarin, bila terdapat gangguan hematologi.
Sebagai terapi penunjang dapat diberikan vitamin atau neurotropik lainnya.1, 5
Terapi inhalasi carbogen adalah pengobatan untuk tuli mendadak dengan
menggunakan gas campuran, 95% oksigen dan 5% karbondioksida untuk
memperbaiki oksigenasi di koklea. Fisch menyatakan bahwa tekanan oksigen
dalam cairan perilimfe manusia akan meningkat dengan pemberian inhalasi
carbogen.5

12

Saat ini telah dikenal terapi oksigen bertekanan tinggi dengan teknik
pemberian oksigen hiperbarik, yaitu dengan memasukkan pasien ke dalam suatu
ruangan yang bertekanan 2 ATM.1
Definisi perbaikan pendengaran pada tuli mendadak adalah:1
1. Dikatakan sembuh bila perbaikan ambang pendengaran kurang
dari 30 db pada frekuensi 250 hz,500 hz,1000 hz dan di bawah
25 db pada frekuensi 4000 hz.
2. Perbaikan sangat baik terjadi bila perbaikannya lebih dari 30 db
pada 5 frekuensi
3. Perbaikan baik bila rata-rata perbaikannya berkisar antara 10-30
db pada 5 frekuensi
4. Tidak ada perbaikan bila perbaikan kurang dari 10 db pada 5
frekuensi
2.7

Prognosis
Prognosis tuli mendadak tergantung pada beberapa faktorr yaitu :

kecepatan pemberian obat, respon 2 minggu pengobatan pertama, usia, derajat


tuli saraf, dan adanya faktor-faktor predisposisi.1
Pada umumnya makin cepat diberikan pengobatan makin besar
kemungkinan untuk sembuh, bila sudah lebih 2 minggu kemungkinan sembuh
menjadi lebih kecil. Penyembuhan dapat sebagian atau lengkap, tetapi dapat
juga tidak sembuh, hal ini disebabkan oleh karena faktor konstitusi pasien
seperti pasien yang pernah mendapat pengobatan obat ototoksik yang cukup
lama, pasien diabetes melitus, pasien dengan kadar lemak darah yang tinggi,

13

pasien dengan viskositas darah yang tinggi dan sebagainya, walaupun


pengobatan diberikan pada stadium yang dini.1
Pasien yang cepat mendapat pemberian kortikosteroid atau vasodilator
mempunyai angka kesembuhan yang lebih tinggi, demikian pula dengan
kombinasi pemberian steroid dengan heparinisasi dan karbogen serta steroid
dengan obat fibrinolitik.1
Usia muda mempunyai angka perbaikan yang lebih besar dibandingkan
usia tua, tuli sensorineural berat dan sangat berat mempunyai prognosis lebih
buruk dibandingkan dengan tuli sensorineural nada rendah dan menengah.
Tinitus adalah gejala yang paling sering menyertai dan paling mengganggu
disamping vertigo dan perasaan telinga penuh. Gejala vertigo dan perasaan
telinga penuh lebih mudah hilang dibandingkan dengan gejala tinitus. Ada ahli
yang berpendapat bahwa adanya tinitus menunjukkan prognosis yang lebih
baik.1

14

BAB 3
KESIMPULAN
Tuli mendadak bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti infeksi, trauma
kepala, pajanan bising yang keras, perubahan tekanan atmosfir, penyakit
autoimun, obat ototoksik, penyakit meniere, masalah sirkulatorik, neuroma
akustik. Menurut teori bahwa sebanyak 85% kasus tuli mendadak tidak diketahui
penyebabnya, sementara hanya 15% kasus yang dapat diketahui penyebabnya.
Pemeriksaan

anjuran

yaitu

tes

penala,

audiometri,

BERA dan

timpanometri.
Terapi yang diberikan yaitu terapi bed rest total fisik dan mental selama 2
minggu untuk menghilangkan atau mengurangi stress yang besar pengaruhnya
pada keadaan kegagalan neurovaskular. Tujuan pemberian oksigen adalah untuk
memperbaiki oksigenasi di koklea. Prednison diberikan karena kortikosteroid
merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk mengobati ketulian
sensorineural mendadak idiopatik. Tarontal adalah vasodilator yang diberikan
untuk meningkatkan aliran darah ke koklea, sehingga dapat memperbaiki
oksigenasi di daerah tersebut. Neurobion dan Vitamin C sebagai multivitamin dan
pada pasien dianjurkan terapi Hiperbarik Oksigen dengan tujuan meningkatkan
konsentrasi oksigen di dalam darah.

15

Prognosis tuli mendadak tergantung pada beberapa faktorr yaitu :


kecepatan pemberian obat, respon 2 minggu pengobatan pertama, usia, derajat tuli
saraf, dan adanya faktor-faktor predisposisi.

16