Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN HASIL DISKUSI KELOMPOK KECIL

BLOK 14 PEMULIHAN SISTEM STOMATOGNATIK 2


MODUL 2 ANESTESI LOKAL

Disusun oleh : Kelompok 3


Tutor : drg. Verry M. Kes
Madherisa Paulita

1310015099

Marini Andriyana

1310015092

Raisa Debrina C.

1310015111

Jumiati

1310015097

Dzulhiyana Laili T.

1310015098

Aji Ayu Nurbiati

1310015108

Jamilah Ibrahim

1310015110

Andronikus Sulupadang

1310015117

Wilman Rante M.

1310015118
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
terselesaikannya laporan DKK (Diskusi Kelompok Kecil) mengenai Belajar Efektif.
Laporan ini dibuat sesuai dengan gambaran jalannya proses DKK kami,
lengkap dengan pertanyaan pertanyaan dan jawaban yang disepakati oleh kelompok
kami.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
kami dalam proses pembuatan laporan DKK ini. Pertama, kami berterima kasih
kepada drg. Verry M.Kes selaku tutor kami yang telah dengan sabar menuntun kami
selama proses DKK.Terima kasih pula kami ucapkan atas kerja sama rekan
sekelompok di Kelompok 3. Tidak lupa juga kami berterima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu kami dalam mencari informasi maupun membuat laporan
DKK.
Akhir kata, kami sadar bahwa kesempuranaan tidak ada pada manusia oleh
sebab itu, kami mohon kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan di kemudian
hari. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca, baik sebagai referensi atau
perkembangan pengetahuan.
Hormat Kami,

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman judul

Kata pengantar

ii

Daftar isi

iii

BAB I Pendahuluan
1.
2.
3.

Latar Belakang
Tujuan
Manfaat

BAB II Pembahasan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Step 1 : Identifikasi Istilah Asing


Step 2 : Identifikasi Masalah
Step 3 : Curah Pendapat
Step 4 : Analisis Masalah
Step 5 : Merumuskan Tujuan Belajar
Step 6 : Belajar Mandiri
Step 7 : Sintesis

BAB III Penutup


3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
Daftar Pustaka

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anestesi (pembiusan;

berasal

dari

bahasa

Yunani an-"tidak,

tanpa"

dan aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti


suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan
berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.
(Wikipedia, 2007). Penggunaan anastesi lokal untuk pencegahan rasa sakit
selama operasi, dimulai lebih dari 100 tahun yang lalu sewaktu Kaller (1884)
seorang opthalmologist di Wina, mencatat kegunaan dari kokain suatu ester
dari asam para amino benzoat (PABA), dalam menghasilkan anstesi korneal.
(Rusda, 2004)
B. Tujuan
Untuk mengetahui anestesi lokal berupa jenis, alat dan bahan, mekanisme,
serta factor yang mempengaruhi anestesi lokal.
C. Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengetahui lebih dalam tentang ilmu anestesi lokal.

BAB 2
PEMBAHASAN

BLOK 14 MODUL 2
SKENARIO
Seorang laki-laki (45 th) datang ke Pusat Kesehatan Masyarakat setempat
untuk mencabutkan geraham bawah kanan yang 5 hari sebelumnya menjadi focal
infection dan mendapatkan medikasi. Gigi tersebut sering sakit, cekot cekot hingga
tidak bisa tidur. Sesuai SOP, dokter gigi melakukan anamnesis dan pemeriksaan
lengkap diikuti control of pain. Namun , setelah 10 menit pasca deponer agen
anastesi, belum tampak tanda tanda obat bekerja. Namun setelah ditambahkan
setengah ampul, 5 menit kemudian muncul efek pada area yang diinervasi.
1.1 STEP 1
1. Focal Infection : merupakan sumber suatu penyakit umum yang melibatkan
bagian kecil dari tubuh pasien
2. Anastesi

: merupakan suatu tindakan pembiusan untuk menghilangkan

rasa sakit ketika melakukan tindakan pembedahan dan berbagai prosedur


lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh
3. Medikasi

: merupakan zat / obat yang diberikan untuk pasien yang

bertujuan untuk terapi dan penyembuhan


4. Ampul

: merupakan wadah silindris terbuat dari kaca yang memiliki

ujung runcing dan bidang dasar


5. SOP

: merupakan panduan hasil kerja yang diinginkan serta proses

kerja yang harus dilaksanakan


6. Control of Pain

: merupakan tindakan penghilangan rasa sakit dengan

memberikan obat kepada pasien


7. Innervasi
8. Anamnesis

: sistem persyarafan
: merupakan suatu wawancara antara dokter dengan pasien

untuk mendapatkan data pasien dan membantu dalam diagnosa


1.2 STEP 2
1. Mengapa harus mengikuti prosedur SOP?
2. a) indikasi dan kontraindikasi pada anastesi?
b) bagaimana cara melakukan control of pain?

3. a) mengapa pada skenario stelah 10 menit deponer belum ada tanda


tanda reaksi? Dan mengapa setelah ditambah / ampul baru berefek?
1

b) apa ada faktor tertentu yang menyebabkan ditambahnya / ampul ?


1

4. Jenis dari anastesi lokal?


5. Apa saja instrumen dari anastesi lokal?
6. Komplikasi yang timbul ketika dilakukan control of pain?

1.3 STEP 3
1. Prosedur pemeriksaan :

Anamnesis

Pemeriksaan IO dan EO

Pemeriksaan penunjang seperti foto Rontgen

Rencana perawatan

Menyiapkan bahan dan instrumen


Sebelum melakukan anastesi kepada pasien, dokter harus memberikan
obat terlebih dahulu seperti analgesik, antipireutik, antiinflamasi
kemudian pasien diminta kembali setelah 3 hari. Tujuan pemberian
medikamen adalah untuk menghilangkan keluhan pada pasien

2.

Jenis anastesi :

Umum : pembiusan untuk menghilangkan rasa sakit secara umum /


seluruh tubuh , pasien dalam kondisi tidak sadar

Lokal

: pembiusan yang dilakukan pada lokal area atau daerah

tertentu tetapi pasien dalam keadaan sadar


Jenis anastesi lokal :
a. Topikal : dioleskan pada permukaan mukosa , mata hidung
b. Infiltrasi : penyuntikan larutan analgetik lokal langsung diarahkan ke
lesi
c. Nerve block : blockade langsung ke saraf utama
3.

Karena :

dosis obat anastesi yang kurang

anastesi yang tidak adekuat

teknik anastesi yang kurang tepat

kemampuan operator yang kurang mahir

4.

Telah terjawab

4.

Instrumen anastesi lokal :


a.

Syringe : terdiri dari kotak logam dan plugger yg disatukan melalui

mekanisme hinge spring.


b.

Catridge : biasanya terbuat dari kaca bebas alkali dan pirogen untuk

menghindari pecah / kontaminasi dari larutan


c.

Jarum : jarum yg biasa digunakan untuk anastesi infiltrasi biasanya

panjangnya 2 / 2,5 cm . sedangkan jarum yang digunakan untuk teknik blok


biasanya panjangnya 3,5 cm

1.4 STEP 4

1.5 STEP 5

1. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui Anatesi Lokal yang meliputi :


a.

Jenis ( teknik, alat dan bahan , indikasi dan kontraindikasi)

b.

Mekanisme (farmakokinetik dan farmakokinetik)

c.

Faktor yang mempengaruhi anastesi lokal ( dosis , umur , berat badan)

1.6 STEP 6
Belajar Mandiri
1.7 STEP 7
1. Jenis Anestetik Lokal
Anestesi dalam Kedokteran Gigi:
Dalam kedokteran gigi dikenal dua tekhnik anestesi local yaitu:
a. Anestesi infiltrasi
Larutan anestesi didepositkan di dekat serabut terminal dari saraf dan akan
terifiltrasi di sepanjang jaringan untuk mencapai serabut saraf dan
menimbulkan efek anestesi dari daerah terlokalisir yang disuplai oleh saraf
tersebut. Tekhnik infiltrasi dibagi menjadi:
1. Suntikan submukosa
Istilah ini diterapkan bila larutan didepositkan tepat di balik membrane
mukosa. Walaupun cenderung tidak menimbulkan anestesi pada pulpa gigi,
suntikan ini sering digunakan baik untuk menganestesi saraf bukal panjang
sebelum pencabutan molar bawah atau operasi jaringan lunak.
2. Suntikan supraperiosteal
Dengan cara ini, anestesi pulpa gigi dapat diperoleh dengan penyuntikan
di sepanjang apeks gigi. Suntikan ini merupakan suntikan yang paling sering
digunakan dan sering disebut sebagai suntikan infiltrasi.
3. Suntikan subperiosteal
Tekhnik ini, larutan anestesi didepositkan antara periosteum dan bidang
kortikal. Tekhnik ini digunakan apabila tidak ada alternative lain karena akan
terasa sangat sakit. Tekhnik ini biasa digunakan pada palatum dan bermanfaat

bila suntikan supraperiosteal gagal untuk memberikan efek anestesi walaupun


biasanya pada situasi ini lebih sering digunakan suntikan intraligamen.
4. Suntikan intraoseous
Suntikan ini larutan didepositkan pada tulang medularis. Setelah suntikan
supraperiosteal diberikan dengan cara biasa, dibuat insisi kecil melalui
mukoperiosteum pada daerah suntikan yang sudah ditentukan untuk mendapat
jalan masuk bur dan reamer kecil pada perawatan endodontic. Dewasa ini,
tekhnik suntikan ini sudah sangat jarang digunakan.
5. Suntikan intraseptal
Merupakan modifikasi dari tekhnik intraoseous yang kadang-kadang
digunakan bila anestesi yang menyeluruh sulit diperoleh atau bila dipasang
gigi geligi tiruan imediat serta bila tekhnik supraperiosteal tidak mungkin
digunakan. Tekhnik ini hanya dapat digunakan setelah diperoleh anestesi
superficial. atau ligament periodontal.
Jarum diinsersikan pada sulkus gingival dengen bevel mengarah menjauhi
gigi. Jarum kemudian didorong ke membrane periodontal bersudut 30
terhadap sumbu panjang gigi. Jarum ditahan dengan jari untuk mencegah
pembengkokan dan didorong ke penetrasi maksimal sehingga terletak antara
akar-akar gigi dan tulang interkrestal.
b. Anestesi Blok
Anestesi blok juga dapat dibedakan menjadi anestesi blok pada maksila
dan anestesi blok mandibula. Secara garis besar, terdapat beberapa jenis
anestesi lokal yang sering digunakan di mandibula, yaitu lingual nerve
block, incisive nerve block, mental nerve block, long buccal nerve block,
dan inferior alveolar nerve block.

Nervus

lingualis

biasanya

diblokade

di

ruang

pterygomandibular yang terletak pada anteromedial syaraf


alveolaris inferior mandibula, sekitar 1 cm dari permukaan
mukosa. Oleh karena itu, anestesi blok syaraf lingualis bisa
dilakukan

sebelum

atau

sesudah

inferior mandibula dilakukan.

anestesi

blok alveolaris

Incisive nerve

block

merupakan

salah

satu pilihan

pada

anestesi lokal mandibula yang terbatas pada gigi anterior.


Anestesi blok syaraf insisivus memberikan anestesi pulpa pada
sekitar gigi anterior seperti insisivus dan kaninus sampai

foramen mental.
Mental nerve block bertujuan untuk menganestesi syaraf mental
dan ujung dari cabang syaraf inferior alveolar mandibula.
Syaraf mental terletak pada foramen mental yang berada di
antara apikal premolar satu dan premolar dua. Daerah yang
dianestesi oleh teknik ini adalah mukosa bukal bagian anterior,
daerah foramen mental sekitar gigi premolar dua, midline dan

kulit dari bibir bawah.


Long buccal nerve block atau sering disebut buccal nerve block
dan buccinators nerve block menganestesi nervus buccal yang
merupakan cabang dari syaraf mandibula bagian anterior. Daerah
yang dianestesi adalah jaringan lunak dan periosteum bagian
bukal sampai gigi molar mandibula. Anestesi ini sering
digunakan pada perawatan yang melibatkan daerah gigi molar.
Keuntungan dari teknik long buccal nerve block adalah mudah

dilakukan dan tingkat keberhasilannya tinggi.


Pada anestesi blok syaraf alveolaris inferior, terdapat tiga
metode yang sering digunakan, yaitu Inferior Alveolar Nervus
Block (IANB), Gow-Gates Technique, dan Akinosi ClosedMouth Mandibular

Block.

Inferior Alveolar Nervus Block

(IANB) terdiri dari dua metode, yaitu direct dan indirect.


Metode

indirect

IANB

sering

disebut

dengan

metode

Fischer. Menurut hasil penelitian Neeta Mohanty dan Susant


Mohanty, tingkat keberhasilan anestesi blok mandibula paling
tinggi yang dilakukan kepada 120 orang berusia 16-50 tahun
adalah Gow-Gates Technique sebesar 92,5%.
Lalu ada juga anestetik berdasarkan:
Anastetik Lokal berdasarkan Durasi Anestetik
Anestetik lokal dapat digolongkan berdasarkan durasi anestesia yang

ditimbulkannya. Berdasar penggolongan ini terdapat anestetik lokal berdurasi

kerja singkat (30-60 menit), berdurasi sedang (60-90 menit), dan golongan
anestetik lokal yang berdurasi lama atau panjang (90 menit atau lebih).
Jenis Anestetik Lokal Berdasarkan Struktur Kimia
Anestetik lokal secara garis besar tersusun atas tiga gugus yaitu gugus

lipofilik, gugus hidrofilik, dan gugus perangkai atau gugus antara, yakni gugus
yang menyambungkan gugus lipofilik dan hidrofilik. Gugus lipofilik biasanya
suatu gugus aromatik sedangkan hidrofilik biasanya suatu gugus amino.
Gugus perangkai bisa berupa gugus ester atau gugus amida.
Berdasarkan jenis perangkainya ini, dikenal pembagian anestetik lokal
menjadi golongan ester dan golongan amida. Ada pula yang membaginya
menjadi golongan amida, golongan ester dan golongan amida-ester.
Anestetik Golongan Amida
Golongan ini merupakan golongan anestetik lokal yang banyak dipakai

mungkin karena alergenisitasnya yang relatif kurang. Golongan amida terbagi


atas tiga golongan yakni xylidine, toluidine, dan thiopene.
Lidokain
Lidokain adalah anestetik lokal golongan amida derivat xylidine. Obat ini

dipasarkan dengan nama dagang xylocaine atau octacaine. Awitan obat ini
tergolong cepat (2-3 menit). Sifat vasodilator lidokain tidak sebesar prokain
namun lebih kuat daripada prilokain dan mepivakain. Lidokain digunakan
untuk anestesi topikal, infiltrasi, blok, spinal, epidural dan kaudal.

Mepivakain
Mepavikain adalah anestetik golongan amida derivat xylidine. Nama

dagang obat ini carbocaine, polocaine dan isocaine. Kecepatan awitan, durasi,
potensi dan toksisitasnya sama dengan lidokain. Secara topikal, obat ini tidak
efektif tetapi obat ini digunakan untuk anestesi infiltrasi, blok, spinal, epidural
dan kaudal.

Prilokain
Formula kimia prilokain adalah 2-Propylamino-o-propio-notoluidide

hydrochloride. Prilocaine atau disebut juga propitocaine, dipasarkan dengan


nama citanest dan citanest forte. Secara kimia, lidokain dan mepivakain adalah
derivat xylidine sedangkan prilokain adalah derivat toluidine yakni 2propylamino-o-propionotoluidide hydrochoride. Prilokain biasanya dipakai
untuk anestesia blok, infiltrasi, epidural, dan kaudal.

Bupivakain
Bupivakain adalah anestetik lokal golongan amida memiliki formula 1

butyl-2,6-pipecoloxylidine hydrochloride. Bupivakain lebih poten dari


lidokain, mepivakain, prilokain dan sangat kurang toksik dibandingkan dengan
lidokain dan mepivakain. Keunggulan utama bupivakain adalah durasi
anestesia yang ditimbulkan lebih lama. Bupivakain dapat diperoleh di pasaran
dengan merek dagang marcaine.

Anestetik Golongan Ester


Prokain
Rumus kimianya adalah 2-diethylaminoethyl 4 aminobenzoate. Obat ini

merupakan anestetik lokal suntikan yang pertama kali dibuat. Nama


dagangnya adalah novocaine. Sekitar 50 tahun, prokain merupakan obat
anestetik lokal satu-satunya yang dapat diperoleh di pasaran sampai keluarnya
lidokain pada tahun 1940. Lidokain kemudian ternyata lebih aman daripada
prokain.

Propoksikain

Propoksikain adalah anestetik lokal golongan ester dengan rumus kimia 2dietgylaminoethy-4-amino-2-propoxybenzoate

gydrochloride.

Nama

dagangnya adalah ravocaine. Obat ini memilki awitan yang cepat (2-3 menit)
namun dengan toksisitas tinggi (7-8 kali prokain). Oleh karena itu, berhubung
toksisitasnya yang tinggi, obat ini tidak diberikan secara tunggal melainkan
dikombinasikan dengan prokain

Anestetik Lokal Golongan Amida-Ester

Artikain
Formula kimia artikain adalah 3-n-propyl-amino-proprioniylamino-2

carbomethoxy-4-methylthiophene hydrochloride. Artikain adalah anestetik


lokal yang bisa masuk golongan amida tetapi juga mengandung gugus ester
sehingga ada yang menggolongkannya pada golongan amida atau pada
golongan amida-ester. Artikain dijumpai dengan nama dagang ultracaine
(Hoechst Laboratory, Kanada) atau septocaine, banyak dipakai di Eropa.

2. Alat
Peralatan yang dibutuhkan untuk menyuntikan obat anestesik lokal meliputi
semprit anastesi (syringe),jarum suntik dan kartrid.
Semprit Anestesi (syringe)
Syringe adalah alat bersama-sama dengan katrid dan jarum yang digunakan

untuk menyuntikan obat anestesi.


ADA(American Dental Association) telah menetapakan kriteria yang harus
dipenuhi oleh syringe .

a.

tahan lama dan tidak mudah rusak jika disterilkan beryla-ulang.Untuk

b.

semprit sekali pakai (disposibel),harus dipak didalam suatu wadah steril.


cocok dengan berbagi jarum dan kartrid dan bermacam-macam pabrik dan

harus tahan dipakai berulang-ulang,


c. murah,ringan dan mudah digunakan
Jarum (Needle)
Jarum ini biasanya dibagi menjadi panjang dan pendek. Jarum suntik
yang pendek biasanya digunakan untuk teknik infiltrasi, biasanya
panjang 2 atau 2,5 cm. Sedangkan jarum yang digunakan untuk teknik

blok adalah jarum yang panjangnya 3,5 cm.


Catridge
Catridge biasanya terbuat dari kaca bebas alkali dan pirogen untuk

menghindari pecah atau kontaminasi dari larutan.


3. IndikasidanKontraindikasi
Indikasi anestesi lokal, yaitu :
Penderita dalam keadaan sadar serta kooperatif.
Tekniknya relatif sederhana dan presentase kegagalan dalam penggunaanya
relatif kecil.
Pada daerah yang diinjeksi tidak terdapat pembengkakan.
Peralatan yang digunakan, sedikit sekali dan sederhana serta obat yang
digunakan relatif murah.
Dapat digunakan sesuai dengan yang dikehendaki pada daerah anatomi
tertentu.
Kontrindikasi anestesi lokal, yaitu :
Operato merasa kesulitan bekerja sama dengan penderita, misalnya

penderitamenolak di suntik karena takut


Terdapat suatu infeksi/ peradangan
Usia penderita terlalu tua atau dibawah umur
Alergi terhadap semua anastetikum
Anomali rahang
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN ANESTESI LOKAL
Keuntungan Anestesia Lokal
Alat minim dan teknik relatif sederhana sehingga biaya relatif lebih murah.
Tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi.
Perawatan post operasi lebih ringan/murah
Kehilangan darah sedikit.
Kerugian anestesia Lokal
Tidak semua penderita mau
Membutuhkan kerjasama penderita
Sulit diterapkan pada anak-anak
Tidak semua ahli bedah menyukai anestesi lokal
Pasien lebih suka dalam keadaan tidak sadar

Ketakutan bahwa efek obat menghilang ketika pembedahan belum selesai


4. Farmakologi Anestesi Lokal
1.

Struktur kimia

Hampir semua obat anestesi mengandung grup lipofilik yang dihubungkan


dengan bagian yang terionisasi oleh rantai ester atau amida. Obat anestesi
lokal terbagi menjadi dua kelompok. Rantai aminoester dan rantai
aminoamide. Rantai aminoeseter lebih mudah terhidrolisis daripada rantai
aminoamide, sehingga obat anestesi golongan aminoester memiliki durasi
kerja yang lebih pendek.

Gambar 1. Struktur dari dua prototype anestesi lokal, aminoester procaine


dan aminoamide lidocaine

Baik aminoester maupun aminoamide sama-sama memiliki grup lipophilic


aromatik yang berhubungan dengan hydrophilic tertiary amine base, oleh
sebuah ikatan ester atau amida.

2.

Farmakokinetik

Data farmakokinetik obat anestesi umum dapat dilihat pada tabel berikut:

Jeni

Half

s Obat

Life

Elim
inasi t

Distribusi
nya

1/2

(Jam

dss

(Li
ter)

Clear
ance
(L/m
enit)

(menit)
Bupi

28

3.5

72

0.47

vacaine
Lido

10

1.6

91

0.95

caine
Mepi

1.9

84

0.78

vacaine
Prilo

1.5

261

2.84

caine
Ropi

23

4.2

47

0.44

vacaine
L=klirens; V =volume distribusi
dss

Tabel . Karakteristik Farmakokinetik Beberapa Obat Anestesi Lokal


Golongan Amida

Farmakokinetik obat anestesi lokal rantai ester tidak terlalu dibahas


mendalam karena mereka secara cepat diurai dalam plasma (waktu paruh <
1menit). Anestesi lokal biasa digunakan untuk kulit atau jaringan lunak di
sekitar saraf.
a.

Penyerapan (absorpsi)

Absorpsi sistemik dari injeksi anestesi lokal ditentukan oleh beberapa


faktor, yaitu dosis lokasi pemberian, jumlah ikatan yang terjadi antara obat
dengan protein plasma, jumlah aliran darah sekitar tempat pemberian,
penggunaan vasokonstriktor, dan karakteristik obat itu sendiri.
Pemberian anestesi lokal di area yang memiliki vaskularisasi tinggi, seperti
di mukosa trakea atau jaringan sekitar saraf interkostal, absorpsinya lebih
cepat dibanding dengan daerah yang memiliki vaskularisasi lebih sedikit,

seperti di tendon, dermis atau lemak subkutan. Jadi, semakin tinggi


vaskularisasi, semakin cepat absorpsinya.
Vasokonstriktor, seperti epinephrine (5g/mL atau 1: 200.000) membuat
vasokonstriksi pembuluh darah pada tempat suntikan sehingga dapat
menurunkan absorpsi sistemik dengan menurunkan jumlah aliran darah yang
mengalir ke daerah pemberian. Kombinasi vasokonstriktor biasa digunakan
untuk obat anestesi durasi sedang atau pendek (procaine, lidocaine dan
mepivacaine). Dengan pemberian vasokonstriktor, jumlah aliran darah akan
menurun sampai 30%, sehingga obat anestesi lebih banyak diabsorpsi oleh sel
saraf sekitar ketimbang masuk ke aliran darah. Hal ini, secara otomatis
menurunkan efek toksik sistemiknya. Vasokonstriktor kurang efektif jika
dikombinasikan dengan obat anestesi durasi kerja lama (bupivacaine dan
ropivacaine), hal ini dikarenakan obat anestesi durasi kerja lama, banyak
berikatan dengan jaringan ketimbang dalam bentuk bebas.
b.

Distribusi

Obat anestesi golongan amida lebih banyak didistribusikan jika pemberian


dilakukan via intravena. Fase awal yang terjadi adalah fase distribusi cepat,
dimana terjadi pengambilan obat di organ-organ yang memiliki daya perfusi
tinggi (otak, hati, ginjal dan jantung). Kemudian diikuti oleh fase distribusi
lambat, dimana terjadi pengambilan oleh organ yang memiliki daya perfusi
sedang (otot dan saluran gastrointestinal).
c.

Metabolisme dan ekskresi

Obat-obat anestesi lokal, diubah menjadi lebih water-soluble di hati (tipe


amida) atau plasma (tipe ester). Dimana kemudian obat tersebut akan dibuang
lewat urine. Karena bentuk tak bermuatan dari obat dapat berdifusi langsung
melewati membran lipid, maka hanya sedikit obat anestesi dalam bentuk tak
bermuatan yang terekskresi.
Tipe ester, mengalami hidrolisa sangat cepat oleh butyrylcholinesterase
(pseudocholinesetrase) dalam plasma menjadi metabolit inaktif. Karena itu,
procaine dan chloroprocaine memiliki waktu paruh dalam plasma yang sangat
pendek (<1menit).

Tipe amida dihidrolisis di hati oleh mikrosomal sitokrom p-450 isoenzym.


Lama hidrolisis obat-obatan anestesi tipe amida berbeda-beda tergantung
karakteristik molekulnya. Jika diurutkan, dari yang tercepat maka urutannya
seperti ini; prilocaine, lidocaine, mepivacaine, bupivacaine, levobupivacaine.
Karena dihidrolisis di hati, maka pemberian semua obat tipe amida harus
dibatasi pada penderita dengan penyakit hati. Sebagai gambaran, waktu paruh
lidocaine akan meningkat dari 1,6 jam pada pasien dengan fungsi hati normal,
menjadi 6 jam pada pasien dengan gangguan fungsi hati lanjut. Penggunaan
obat-obat lain yang sama-sama dihidrolisis oleh sitokrom p-450, otomatis juga
akan menurunkan kecepatan metabolisme golongan amida.
Penurunan kecepatan eliminasi juga harus diantisipasi pada pasien yang
mengalami penurunan aliran darah hepar. Sebagai contoh, eliminasi lidocaine
pada pasien yang juga dianestesi dengan volatile anestesi lebih lambat
daripada yang dianestesi dengan intravena anestesi.

3.

Farmakodinamik

Mekanisme aksi
Mekanisme primer dari anestesi lokal adalah memblok voltage gated
channel sodium. Membran eksitasi dari axon sel saraf memiliki karakteristik
yang mirip dengan membrane dari sel otot jantung, dimana potensial
transmembran saat keadaan istirahat adalah -90 sampai -60mV. Sedangkan,
saat terjadi eksitasi, maka channel sodium akan terbuka, ion-ion sodium akan
memasuki sel tersebut via channel. Menyebabkan membran terdepolarisasi
menjadi +40mV. Di akhir depolarisasi, pintu sodium akan menutup dan pintu
potassium akan terbuka, menyebabkan ion-ion potassium keluar dari dalam
sel. Sehingga potensial membran turun sampai -95mV. Setelah itu, membran
kembali dalam keadaan istirahat. Gradien transmembran dijaga oleh pompa
sodium. Mekanisme diatas sama dengan yang terjadi di otot jantung, sehingga
anestesi lokal memiliki efek yang sama terhadap serabut saraf maupun otot
jantung.
Fungsi sodium channel bisa terganggu karena beberapa sebab. Racun
biologis seperti bactrachotoxin, aconitine, veratridine dan beberapa racun

kalajengking yang dapat berikatan dengan reseptor di dalam channel dan


mencegah inaktivasi channel tersebut. Hal ini menyebabkan influk sodium
menjadi lebih lama dan depolarisasi terjadi berlebihan. Racun organisme laut,
seperti tetrodotoxin (TTX) dan saxitoxin bekerja dengan memblok channel
sodium dengan mengikat reseptor yang dekat dengan permukaan extraseluler.
Efek TTX ini sama dengan efek anestesi lokal, walaupun reseptornya berbeda.
Saraf-saraf spinal dapat digolongan menjadi dua, yang TTX-sensitif dan TTXresisten. Beberapa penelitian mengatakan bahwa TTX resistenlah yang
bertanggung jawab untuk transmisi nyeri dan sebagai target utama untuk
anestesi lokal dalam membuat anestesi spinal. Anestesi lokal, berikatan dengan
reseptor sodium channel yang dekat dengan bagian intraseluler. Saat ini,
channel sodium telah dapat ditiru dan struktur primer untuk transmisi nyeri
telah dapat ditemukan karakteristiknya, sehingga analisis mutasi bisa
dilakukan untuk mengidentifikasi bagian mana yang berikatan dengan anestesi
lokal.
Saat konsentrasi anestesi lokal meningkat di serabut saraf, maka nilai
ambang untuk terjadinya eksitasi juga meningkat, kecepatan penghantaran
impuls melambat, frekuensi dan amplitudo terjadinya potensial aksi
berkurang. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya channel sodium yang
terikat dengan obat anestesi lokal.
Blokade channel sodium oleh kebanyakan anestesi lokal menggunakan
mekanisme voltage and time dependent : channel dalam kondisi istirahat,
dimana membran bermuatan lebih negatif, memiliki afinitas jauh lebih rendah
daripada channel yang berada dalam keadaan teraktivasi ataupun yang
terinaktivasi.

Gambar 2. Diagram yang menunjukkan mekanisme obat anestesi lokal dalam


memblok

chnannel

sodium.

Gambar di atas menunjukkan cara kerja dari channel tanpa pengaruh obat
anestesi : R (istirahat) A (aktivasi) i (inaktivasi). Fase pemulihan adalah
dari I R. Obat anestesi yang memblok channel sodium akan berikatan
dengan reseprotnya dalam channel, seperti digambarkan dengan panah
vertikal, untuk membentuk ikatan kompleks obat-channel, R-D, A-D, dan I-D.
Afinitas ikatan obat dengan channel yang teraktivasi/terinaktivasi jauh lebih
tinggi daripada dengan channel yang berada dalam keadaan istirahat. Sehingga
waktu pulih dari keadaan I-D ke R-D lebih lama daripada dari I ke R.
Sehingga, semakin banyak channel yang teraktivasi, semakin banyaklah yang
terblok. Sehingga efek anestesi lokal lebih cepat terjadi pada axon yang sering
mengalami depolarisasi.
Meskipun channel sodium telah diblok oleh anestesi lokal, aksi potensial
tetap terjadi, hanya saja frekuensinya yang diperpanjang sekitar 10-1000 kali
lebih lambat daripada channel tanpa anestesi. Sehingga menghasilkan periode
refraksi yang lebih lama dan impuls yang dihasilkan lebih sedikit.
Peningkatan kalsium ekstrasel secara parsial menyebabkan efek antagonis
terhadap kerja anestesi lokal. Karena ion kalsium dapat menyebabkan
peningkatan potensial permukaan membran, sehingga membran cenderung
berada dalam kondisi istirahat. Sedangkan peningkatan potasium ekstrasel
menyebabkan membran cenderung terdepolarisasi dan berada dalam keadaan
inaktivasi, sehingga mempercepat ikatan obat dengan reseptornya.

Struktur-Aktivitas Karakteristik Dari Obat Anestesi Lokal


Semakin kecil dan lipofilik suatu anestesi lokal, maka semakin cepat
intreraksinya dengan reseptor channel sodium. Lidocaine, Procaine dan
Mepivacaine lebih water soluble ketimbang Tetracaine, Bupivacaine dan
Ropivacaine. Dimana Tetracaine, Bupivacaine dan Ropivacaine, lebih ampuh
dan memilki durasi kerja yang lebih lama. Obat anestesi lokal yang long acting
juga berikatan lebih erat dengan protein binding sitenya dan dapat dilepas
secara paksa dengan memberikan obat lain yang juga pengikat protein. Untuk
bupivacaine, S(+) isomer lebih potent daripada R(-) isomer.
5. Faktoryangmempengaruhi(dosis)
Dosis anestetikum lokal dihitung berdasarkan miligram per unit berat badan
yaitu miligram per kilogram (mg / kg) atau miligram per pon (mg / lb).
Pemberian dosis maksimum tergantung pada usia, berat badan, jenis
anestetikum yang digunakan dan apakah menggunakan vasokonstriktor atau
tidak. Pemberian dosis anestetikum lokal berdasarkan jenis anestetikumnya:
1.

Lidokain

Dosis maksimum dewasa yang aman adalah 4x2,2 ml ampul atau 3 mg/kg.
Penambahan 1:80 000 epinefrin memperpanjang efektivitasnya lebih dari 90
menit dan meningkatkan dosis maksimum dewasa yang aman sampai 10x2,2
ml ampul atau 7 mg/kg.25 Menurut Malamed SF, dosis maksimum lidokain
yang disarankan oleh FDA dengan atau tanpa epinefrin adalah 3,2 mg / lb atau
7,0 mg / kg berat badan untuk dewasa dan anak-anak pasien, tidak melebihi
dosis maksimum absolut yaitu 500 mg.
2.

Mepivakain

Menurut Malamed SF, dosis maksimum mepivakain adalah 6,6 mg / kg


atau 3,0 mg / lb berat badan dan tidak melebihi 400 mg. Satu ampul
mepivakain biasanya sudah cukup untuk anestesi infiltrasi atau blok regional.
3.

Artikain

Untuk orang dewasa sehat, dosis maksimum artikain HCl diadministrasikan


pada submukosa atau blok saraf tidak boleh melebihi 7mg/kg (0,175 mL / kg)
atau 3,2 mg / lb (0,0795 mL / lb) berat badan untuk pasien 150 pon.13,25,27
Untuk anak-anak di bawah 10 tahun yang memiliki massa tubuh normal, dosis
maksimum tidak boleh melebihi setara dengan 7 mg / kg (0,175 mL / kg) atau

3,2 mg / lb (0,0795 mL / lb) berat badan. Pasien yang berumur antara 65-75
tahun, dosis maksimumnya sekitar 0,43-4,76 mg / kg (0,9-11,9 mL) untuk
prosedur sederhana, dan dosis sekitar 1,05-4,27 mg / kg (1,3-6,8 mL)
diberikan kepada pasien untuk prosedur yang kompleks. Di antara pasien 75
tahun atau lebih tua, dosis 0,78-4,76 mg / kg (1,3- 11,9 mL) diberikan kepada
pasien untuk prosedur sederhana, dan dosis 1,12-2,17 mg / kg yang aman
diberikan kepada pasien untuk prosedur yang kompleks.
4.

Bupivakain

Dosis maksimum bupivakain yang direkomendasikan adalah 90 mg. Tidak


ada dosis yang disarankan untuk bupivakain berdasarkan berat badan di
Amerika Serikat tapi di Kanada, dosis maksimum adalah berdasarkan 2,0 mg /
kg (0,9 mg / lb). Bupivakain tidak dianjurkan pada pasien yang berusia muda
atau mereka yang berisiko mencedera jaringan lunak pasca operasi akibat dari
melukai diri sendiri, seperti fisik dan mental penyandang cacat. Bupivakain
jarang diindikasikan pada anak-anak karena prosedur gigi pediatrik biasanya
berlangsung singkat. Bupivakain larutan polos yang berkonsentrasi antara
0.25-0.5% digunakan untuk anestesi blok dan infiltrasi dimana efek anestesi
sampai 8 jam diperlukan. Dosis maksimum yang aman adalah 2 mg/kg.
5.

Prilokain

Dosis maksimum yang direkomendasikan untuk prilokain adalah 8,0 mg /


kg atau 3,6 mg / lb berat badan untuk pasien dewasa dan maksimum dosis
yang direkomendasikan adalah 600 mg. Efek toksisitas sistemik prilokain
kurang dibandingkan lidokain tapi efek anestesinya kurang kuat.
6.

Etidokain

Menurut

Malamad,

dosis

maksimum

yang

direkomendasikan untuk pasien dewasa adalah 3,6 mg/lb atau 8,0 mg/kg berat
badan, dengan dosis maksimum absolut tidak melebihi 400 mg.
Tabel 2. Dosis maksimum anestetikum lokal yang direkomendasikan
Anestesium Lokal

Dosis Maksimum

Lidokain

7,0 mg/kgBB ( 3,2 mg/lb BB )

Mepivakain

6,6 mg/kgBB ( 3,0 mg/lb BB )

Artikain

7,0 mg/kgBB ( 3,2 mg/lb BB )

Bupivakain

2,0 mg/kgBB ( 0,9 mg/lb BB )

Prilokain

8,0 mg/kgBB ( 3,6 mg/lb BB )

Etidokain

8,0 mg/kgBB ( 3,6 mg/lb BB )

BAB 3
Penutup
A. Kesimpulan
Istilah anestesia dikemukakan pertama kali oleh Oliver Wendell Holmes, yang
artinya tidak ada rasa sakit. Istilah ini menggambarkan keadaan tidak sadar
yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk
menghilangkan nyeri pembedahan.
Anestesia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Anestesia lokal hilang rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran
b. Anestesia umum hilang rasa sakit disertai hilang kesadaran
Anestetik lokal atau penghilang rasa setempat adalah obat yang pada
penggunaan lokal merintangi secara reversibel penerusan impuls saraf ke SSP
dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal
rasa panas atau dingin. Banyak persenyawaan lain juga memiliki daya kerja
demikian, tetapi efeknya tidak reversibel dan menyebabkan kerusakan
permanen terhadap sel-sel saraf. Ada kalangan medis yang membatasi istilah
anestesi lokal hanya untuk pembiusan di bagian kecil tubuh seperti gigi atau
area kulit.
B. Saran

Diharapkan makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam proses


pembelajaran dan semoga bisa menambah ilmu pengetahuan mengenai obatobat anestesi lokal sehingga materi yang disampaikan dapat dimengerti
dan dapat diterima dengan baik.

DAFTAR PUSAKA
Sumawinta, N. 2013. Anestesi Lokal dalam Perawatan Konservasi Gigi. Jakarta.
EGC.
Rathmell James et al. Pharmacology of Local Anesthethic. In: Natasha Andjelkovic,
editor. Regional Anesthesia The Requisites in Anesthesiology. Philadelphia: Elsevier
Mosby;2004

David E. Longnecker., David L Brown., Mark F. Newman., Warren M. Zapol.,(2008).


Pharmacology of Local Anesthetics. McGraw-Hill Companies, Inc.