Anda di halaman 1dari 19

Referat

Hidrops Fetalis

Oleh :
Maretha Antya Tamimi
1010312076

Preseptor :
Dr. Benny Oktora, Sp.OG

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUD ACHMAD MOCHTAR
BUKITTINGGI
2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya
sehingga referat berjudul Hidrops Fetalis ini dapat penulis selesaikan. Laporan kasus ini
merupakan salah satu syarat untuk mengikuti kepaniteraan klinik di Bagian Obstetri dan
Ginekologi RSUD. Achmad Mochtar, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah banyak membantu
menyusun laporan kasus ini, khususnya kepada dr. Benny Oktora, Sp.OG selaku preseptor dan
juga kepada rekan-rekan dokter muda.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran sebagai masukan untuk perbaikan demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam
menambah pengetahuan dan pemahaman serta dapat meningkatkan pelayanan khususnya di
bidang Obstetri dan Ginekologi pada masa yang akan datang.

Padang, Maret 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii


DAFTAR ISI.................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang....................................................................................................

1.2. Batasan Masalah.................................................................................................

1.3. Tujuan Penulisan................................................................................................

1.4. Metode penulisan................................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Definisi..............................................................................................................

2.2. Epidemiologi......................................................................................................

2.3. Klasifikasi...........................................................................................................

2.4. Patofisiologi........................................................................................................ 10
2.5. GejalaKlinis........................................................................................................ 14
2.6. Diagnosis ...........................................................................................................

14

2.7. Penatalaksanaan.................................................................................................. 15
2.8. Komplikasi,........................................................................................................ 17
2.9. Prognosis............................................................................................................
BAB III : PENUTUP....................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA
3

18

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Patofisiologi Hidrops fetalis non-imun......................................................

12

Gambar 2.2 Patofisiologi Hidrops Fetalis imun dan non imun.....................................

13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kata hydrops berarti akumulasi berlebihan dari cairan serosa dalam tubuh, maka Hidrops

Fetalis adalah janin yang edema, dimana ditemukan efusi pada 2 lokasi atau lebih pleura,
perikardium, atau asites- atau satu efusi dengan edema anasarka.1
Pada umumnya, diagnosis dibuat setelah kelahiran dimana janin membengkak dan
biasanya lahir mati. Dengan sonografi hydrops dapat didiagnosis lebih awal. Hydrops dapat
dikenali dengan pemeriksaan ultrasound pada kehamilan trimester pertama atau kedua.2
Hidrops Fetalis bukanlah penemuan yang spesifik dan merupakan stadium akhir dari
berbagai gangguan. Hidrops Fetalis ini dapat disebabkan oleh faktor imun dan imun. Saat ini,
Hidrops Fetalis non-imun lebih sering, yang terdiri dari 76-87% dari semua kasus HIDROPS
FETALIS yang ada. Sisanya adalah kasus non imun. Di masa lalu, sebelum imunisasi rutin
Rhesus ibu (Rh)-negatif, sebagian besar kasus hidrops adalah karena eritroblastosis dari
alloimmunization Rh.3
Nonimmune Hidrops Fetalis memiliki penyebab multifaktorial, terdiri dari gangguan
janin, plasenta, dan ibu. Meskipun diagnosis dan manajemen telah meningkat dalam beberapa
tahun terakhir, Nonimmune Hidrops Fetalis masih terkait dengan tingkat kematian yang tinggi.3
Diagnosis dan pengelolaan hidrops fetalis menjadi tantangan tersendiri bagi perinatologis
dan neonatologis. Tingkat kematian yang tinggi, dan pilihan pengobatan yang terbatas. Faktor
yang paling penting untuk memastikan pengobatan yang tepat dari janin dengan hidrops adalah
diagnosis yang tepat dan rinci. Sampai patofisiologi yang mendasari, dipahami dan luasnya

kelainan memimpin pengembangan hidrops benar-benar didefinisikan, segala upaya pengobatan


adalah sia-sia dan berpotensi membahayakan.1

1.2

Batasan Masalah
Tulisan ini membahas tentang Hidrops fetalis, mulai dari definisi, epidemiologi,

klasifikasi, patofisiologi, gejala klinis, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi, dan prognosis.

1.3

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini untuk menambah pengetahuan dan memahami tentang Hidrops

Fetalis.

1.4

Metode Penulisan
Tulisan ini merupakan tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Istilah hidrops merujuk kepada akumulasi berlebihan cairan serosa pada pada dua atau

lebih area tubuh janin, seperti seperti pada toraks, abdomen, atau kulit. Hidrops Fetalis ini
ditandai oleh ketebalan kulit umumnya > 5 mm, pembesaran plasenta, perikardial, efusi pleura,
atau ascites.3 Hidrops Fetalis sering pula dikenal sebagai edema fetus.1
Hidrops Fetalis bukanlah penemuan yang spesifik dan merupakan stadium akhir dari
berbagai gangguan. Di masa lalu, sebelum imunisasi rutin Rhesus ibu (Rh)-negatif, sebagian
besar kasus hidrops adalah karena eritroblastosis dari alloimmunization Rh. Saat ini, Hidrops
Fetalis non-imun lebih sering, yang terdiri dari 76-87% dari semua kasus Hidrops Fetalis yang
ada.3

2.2

Epidemiologi
Insiden tepat hidrops fetalis sulit untuk dijelaskan, karena banyak kasus tidak terdeteksi

sebelum kematian janin intrauterin dan beberapa kasus mungkin berakhir secara spontan di
dalam Rahim. Perkiraan secara umum hidrops fetalis di Amerika Serikat adalah sekitar 1 dalam
1400 kehamilan.4
Hidrops Fetalis bukanlah penemuan yang spesifik dan merupakan stadium akhir dari
berbagai gangguan. Di masa lalu, sebelum imunisasi rutin Rhesus ibu (Rh)-negatif, sebagian
besar kasus hidrops adalah karena eritroblastosis dari alloimmunization Rh. Saat ini, Hidrops
Fetalis non-imun lebih sering, yang terdiri dari 76-87% dari semua kasus HF yang ada 3

Pengaruh jenis kelamin pada hidrops fetalis sebagian besar berkaitan dengan penyebab
kondisi tertentu. Bagian penting dari hidrops berhubungan dengan kelainan kromosom. Resiko
pria yang lebih besar adalah peningkatan hampir 13 kali lipat pada hidrops janin laki-laki dengan
penyakit hemolitik Rh D.4
Penyebab non.imun merupakan penyebab tersering, yaitu sebesar 87 persen-dan dua
per.tiganya akibat abnormalitas janin intrinsik atau plasenta. Prevalensi Hidrops Fetalis non imun
berkisar 1 1500 kehamilan trimester kedua. Angka kejadian dari Hidrops Fetalis imun secara
dramatis menurun dengan adanya imun globulin anti-D, penelitian tentang Doppler MCA dalam
mendeteksi anemia berat, dan transfusi fetus segera ketika dibutuhkan. Hanya sekitar 10 % dari
kasus Hidrops Fetalis yang disebabkan oleh alloimmunisasi sel darah merah.1

2.3

Klasifikasi
Ada dua jenis hidrops fetalis:5
1. Hidrops fetalis imun
Hidrops fetalis imun merupakan komplikasi dari inkompatibilitas Rh.
Kompatibilitas Rh menyebabkan kerusakan besar sel darah merah, yang mengarah ke
beberapa masalah, termasuk pembengkakan tubuh total. Pembengkakan parah dapat
mengganggu bagaimana organ-organ tubuh bekerja. Berasal dari penyakit hemolitik
alloimun (Rhesus Isoimmunization)
Hidrops fetalis ini dikenal pula sebagai eritroblastosis fetalis atau penyakit
hemolitik. Hidrops Fetalis imun terjadi ketika sel darah merah janin mengekspresikan
protein yang tidak terdapat didalam eritrosit ibu. terjadi sensitisasi sitem imunologi ibu.
menimbulkan antibodi IgG untuk melawan protein asing tersebut. IgG melintasi plasenta
dan menghancurkan eritrosit janin, mengakibatkan anemia dan gagal jantung pada janin.

Hidrops Fetalis imun biasa disertai dengan hematokrit janin < 15% (normal = 50%)
Patogenesis Hidrops Fetalis imun ini dikaitkan dengan Isoimunisasi Rh. Antigen
D (Rh) hanya ada pada eritrosit primata. Mutasi gen D menyebabkan tidak adanya
ekspresi antigen D pada eritrosit. Individu semacam ini dianggap sebagai Rh negatif. Jika
janin berasal dari ibu yang Rh negatif maka tidak terjadi sensitisasi Rh. Meskipun
demikian 60% ibu Rh negatif akan memiliki janin dengan Rh positif. Paparan darah Rh
positif pada ibu Rh negatif akan memicu respon antibodi.
2. Hidrops fetalis Non-Imun
Hidrops fetalis Non-imun terjadi ketika kondisi penyakit atau medis mengganggu
kemampuan tubuh untuk mengelola cairan. Etiologi utama Hidrops fetalis Non-imun
adalah kelainan jantung bawaan.
Beberapa penyebab hidrop fetalis non imun adalah sebagai berikut:5
a. kelainan Jantung: defek septum atrial atau ventricular, hypoplasia jantung kiri,
unsufisiensi katup pulmonal, dilatasi jantung, tetralogi fallot, penutupan dini foramen
ovale.
b. kelainan

pernafasan:

herna diagframatika, malformasi

adenomatosa kistik,

hypoplasia pulmonal, hemartoma pulmonal.


c. kelainan gastrointestinal: atresia jejuni, volvulus usus halus, malrotasi usus halus,
peritonitis mekonium.
d. Kelainan urologi : stenosis atau atresia uretra, obstruksi leher kandung kemih
posterior, perforasi kandung kemih, prune belly, neurogenic bladder, ureterokel.
e. Sindrom malformasi: dwarfisme tanatoforik, artrogriposis multipleks kongenital,
osteogenesis imperfect, hipofosfatasia, akondroplasia, higroma kistik.
f. Kromosom: sindrom down (trisomi 21), sindrom turner, triploidi
g. Lain lain : higroma kistik, limfedema kongenital, sindrom

polisplenia,

neuroblastoma, talasemia, kista ovarium terpuntir, trauma janin, anemia, sialidosis.


h. Infeksi : cytomegalovirus, toksoplasmosis, sifilis, hepatitis, rubella, parvovirus,
penyakit chagas.
i. Kehamilan kembar: sindrom transfuse antarkembar, sindrom kembar parabiotik
(akardiak).
9

2.4

Patofisiologi Hidrops Fetalis Imun dan Non-imun


Patofisiologi hidrops secara tepat masih belum diketahui. Teori meliputi gagal jantung

akibat anemia dan hipoksi. berat, hipertensi portal akibat gangguan parenkim hepar yang
disebabkan oleh hemopoesis ekstramedular, dan penurunan tekanan onkotik koloid akibat
disfungsi hepar dan hipoproteinemia. Faktor sekunder meliputi hipoproteinemia yang disebabkan
oleh disfungsi hepar darr rembesan endotel kapiler akibat hipoksia jaringan. Keduanya
mengakibatkan hilangnya protein dan penurunan tekanan onkotik koloid, yang memperburuk
hidrops. 5
Mekanisme dasar dari hidrops fetalis adalah ketidakseimbangan produksi cairan
interstitial dengan aliran balik limfatik. Akumulasi cairan pada janin dapat merupakan akibat dari
penyakit jantung kongestif, obstruksi aliran limfatik, atau penurunan tekanan osmotik plasma.
Janin lebih rentan terhadap akumulasi cairan interstitial karena permeabilitas kapiler yang besar,
komplians kompartemen interstitial dan kerentanan aliran balik limfatik terhadap tekanan vena.6
Mekanisme kompensasi untuk mempertahankan homeostasis selama hipoksia akibat dari
penyakit penyerta meliputi peningkatan efisiensi ekstrasi oksigen, redistribusi aliran darah ke
otak , jantung dan adrenal yang lama kelamaan menyebabkan gangguan ginjal, peningkatan
volume untuk meningkatkan cardiac output dan aktivasi sistem RAA. Namun mekanisme ini
juga menyebabkan peningkatan tekanan vena dan peningkatan akumulasi cairan interstitial dan
memberikan karakteristik hidrops pada janin. Peningkatan tekanan vena dan kontribusinya
terhadap terjadinya edema dan efusi melalui peningkatan tekanan hidrostatik kapiler dan
penurunan aliran balik limfatik. Gangguan fungsi renal menyebabkan oliguria atau anuria dan
lama kelamaan hidrops.6

10

osmotik plasma rendah

Mekanisme patofisiologi hidrops dibagi terpisah menjadi 4 berdasarkan hukum


Starlings:7
Penumpukan cairan interstisial

a. Peningktan tekanan hidrostatik vena sebagai hasil gagal jantung. Gagal jantung
dapat
Tekanan vena sentral ting
terjadi karena obstruksi atau pengalihan outflow , defisiensi aliran balik jantung,dan
insufisiensi kekuatan inotropik.
b. Penurunan tekanan osmotic plasma.
c. Obstuksi aliran limfatik.
d. Peningkatan permeabilitas kapiler

HIDROPS FETALIS

11

NON I

Gagal Fungsi Hati

Gambar 2.1 Patofisiologi Hidrops Fetalis non-imun

Pada Hidrops Fetalis imun, patofisiologi berkaitan dengan penyakit inkompabilitas Rh


dan ABO, dimana pada keadaan tersebut, sistem imun ibu menghasilkan antibodi yang
melawan sel darah merah janin yang dikandungnya. Pada saat ibu hamil, eritrosit janin dalam
beberapa insiden dapat masuk kedalam sirkulasi darah ibu yang dinamakan fetomaternal
microtransfusion. Bila ibu tidak memiliki antigen seperti yang terdapat pada eritrosit janin,
maka ibu akan distimulasi untuk membentuk imun antibodi. Imun anti bodi tipe IgG tersebut
dapat melewati plasenta dan kemudian masuk kedalam peredaran darah janin sehingga selsel eritrosit janin akan diselimuti (coated) dengan antibodi tersebut dan akhirnya terjadi
aglutinasi dan hemolisis, yang kemudian akan menyebabkan anemia (reaksi hipersensitivitas
tipe II). Hal ini akan dikompensasi oleh tubuh bayi dengan cara memproduksi dan
melepaskan sel-sel darah merah yang imatur yang berinti banyak, disebut dengan eritroblas
(yang berasal dari sumsum tulang) secara berlebihan.7

12

Gangguan metabolic j
Infeksi
Gangguan hematolog

G
G
O

Gambar 2.2 Patofisiologi Hidrops Fetalis imun dan non imun


2.5 Gejala Klinis
Gejala tergantung pada keparahan kondisi. Bentuk ringan dapat menyebabkan:5
a. Pembengkakan hati
b. Perubahan warna kulit (pucat)
c. Gangguan pernapasan
d. Memar atau memar keunguan seperti bintik-bintik pada kulit
e. Gagal jantung
f. Anemia berat
g. Ikterus berat
h. Pembengkakan tubuh
2.6

Diagnosis

13

Dulu, Hidrops Fetalis sering baru terdiagnosa setelah bayi lahir dengan manifestasi
berupa nenonatus dengan edema yang masif. Namun, dengan sonography, hydrops saat ini sudah
bisa didiagnosa pada masa prenatal. Kecurigaan adanya Hidrops Fetalis ditegakkan bila ada
riwayat dalam keluarga dan adanya hidramnion.
Pemeriksaan USG untuk menegakkan Hidrops Fetalis ini ditegakkan dengan adanya
abnormalitas atau peningkatan sedikitnya di 2 organ tubuh bayi. Contohnya efusi pericardial,
efusi pleura, ascites, edema subcutan, cystic higroma, polyhidramnion, dan penebalan placenta.
Secara umum, penebalan kulit minimal 5 mm, sudah dapat untuk mendiagnosa edema subcutis,
dan penebalan plasenta minimal 6 cm, sudah dapat ditegakkan plasentomegali. Gambaran ini
tidak memberikan informasi pasti Hidrops Fetalis, karena hal ini bisa didapatkan pada bayi
dengan makrosomiA.6
Selain pemeriksaan diatas, dapat pula dilakukan skrining terhadap antibodi Rh .Riwayat
sebelumnya yang mengenai bayi dalam keluarga adalah sangat penting. Sekali diduga Hidrops
fetalis imun, tipe darah ibu dan skrining antibody Rh (CDE) dan penentuan tipe darah minor
(contoh, Kell, Duffy, MNSs) sebaiknya diperiksa. Pada ibu yang IgM terdeteksi, tidak ada
pemeriksaan lanjut, tapi bila igG terdeteksi, titer dari Rh-positif pada darah ibu perlu ditentukan.
Titer yang lebih besar 1:16 adalah signifikan dan menyebabkan hemolitik berat. Jika titer
signifikan, amniosintesis sebaiknya diperiksa untuk menilai keparahan dari hemolisis dan anemia
pada fetus.9
Berdasarkan kecurigaan etiologi, pemeriksaan awal dapat berupa:1
a. Indirect Coomb test untuk menilai alloimunisasi
b. Pemeriksaan sonografi janin dan plasenta secara spesifik meliputi
- Penilaian anatomi untuk melihat kelainan struktural
- MCA Doppler velocimetry untuk menilai anemia pada janin
- Ekokardiografi janin dengan evaluasi mode-M

14

c. Amniosentesis untuk menilai kariotipe janin dan parvovirus B19, CMV, toxoplasmosis.
Pemeriksaan kromosom diperlukan jika terdapat anomali pada janin.
d. Jika terdapat perdarahan fetomaternal dan disangka anemia, perlu dilakukan pemeriksaan
Kleihauer-Betke.
e. Dipertimbangkan pula pemeriksaan -thallasemia dan/atau kelainan metabolisme.

2.7

Penatalaksanaan
Hidrops fetalis membutuhkan rujukan cepat ke spesialis untuk mendapatkan evaluasi

cepat karena dalam beberapa kondisi harus dapat dipertimbangkan dalam kedaruratan prenatal,
terutama pada usia gestasi 16-18 minggu. Triase bergantung pada usia kehamilan, etiologi dan
tingkat keparahan penyakit. Pemeriksaan ulrasonografi termasuk pemeriksaan arteri umbilikal
dan Doppler arteri serebral tengah dapat menuntun kita dalam memilih tatalaksana yang tepat
seperti transfusi intrauterin, kardioversi janin, atau pemasangan shunt. 10
Pengobatan pada hidrops fetalis tergantung pada penyebabnya. Hanya pada beberapa
keadaan tertentu hidrops fetalis memerlukan terapi. Misalnya, takiaritmia dapat direrapi secara
farmakologis. Anemia berat dapat diatasi dengan transfusi darah. Selain itu, hidrops pada salah
satu janin pada sindrom twin-twin transfusion dapat ditangani dengan ablasi laser pada
anastomosis vaskular yang abnormal. Namun, pada sebagian besar kasus, hidrops tidak dapat
diobati dan pada akhimya terbukti fatal unruk janin atau neonatus. Secara umum' jika hidrops
non.imun menetap dan abnormalitas jantung serta aneuploidi telah dieksklusi serta janin cukup
matur sehingga kemungkinan dapat selamat, sebaiknya dilakukan pelahiran. Janin yang sangat
kurang bulan biasanya mendapat tatalaksana yang cermat.5
Selama kehamilan, pengobatan dapat mencakup :

15

a. Terminasi kehamilan, kortikosteroid Prenatal harus diberikan jika terjadi pada hamil
preterm
b. Sectio sesaria dini jika kondisi janin dan ibu semakin memburuk
c. Transfusi darah ke bayi saat masih dalam kandungan (intrauterine transfusi darah janin).
Tingkat kelangsungan hidup untuk transfusi intrauterin adalah 89%, tingkat komplikasi
adalah 3%. Komplikasi termasuk pecahnya membran dan kelahiran prematur, infeksi,
gangguan janin merupakan indikasi dilakukan Sectio sesaria cito.
Selain itu, pengobatan untuk bayi yang baru lahir dapat meliputi:
a. Transfusi langsung sel darah merah (kompatibel dengan jenis darah bayi) dan transfusi
tukar untuk membersihkan tubuh bayi dari antibodi IgG yang merusak sel-sel darah
merah
b. Jika janin terjadi efusi pleura maka ditangani dengan thoracenteses janin dan efusi
perikardial dikelola dengan pericardiocenteses tunggal atau serial atau manuver drainase
berkelanjutan.
c. Obat-obatan untuk mengontrol gagal jantung dan membantu ginjal membuang cairan.
Obat yang digunakan diantaranya digitalis, furosemid, flecainide, verapamil, amiodaron,
propanolol, prokainamid, quinidine, adenosin, sotalol, terbutaline, kortikosteroid, dan
imunoglobulin; berbagai kombinasi obat ini juga telah digunakan.
d. Metode untuk membantu bayi bernapas, seperti mesin pernapasan,pasang sungkup O 2 4
liter/menit
2.8

Komplikasi Hidrop Fetalis7


a. Ibu
Komplikasi pada ibu adalah sindrom cermin ibu (maternal mirror syndrom). Karena
dianggap disebabkan oleh perubahan-perubahan vaskular pada plasenta hidropik yang
membengkak, disebut sindrom cermin karena ibu mengalami preeklamsi disertai edema
berat yang mirip dengan edema pada janin. Persalinan preterm sering terjadi akibat
16

hidramnion. Perdarahan pascapartum kadang-kadang terjadi akibat dekompresi mendadak


uterus yang teregang berlebihan, dan sering terjadi retensi plasenta.
b. Janin
Komplikasi Hidrops Fetalis pada janin dapat berupa Kernikterus. Kernikterus adalah
sindrom neurologis akibat pengendapan bilirubin tak terkonjugasi di dalam sel-sel otak.
Kernikterus ialah kerusakan otak akibat perlekatan bilirubin indirek pada otak terutama
pada korpus striatum, thalamus, nucleus subtalamus, hipokampus dan nucleus pada dasar
ventrikel IV .7

2.9

Prognosis
Secara keseluruhan, hasil akhir untuk hidrops fetalis dengan penyebab apapun buruk,

namun, semakin tua usia terbentuknya, prognosisnya semakin baik. Janin dengan hidrops dapat
meninggal in utero akibat anemia berat dan gagal sirkulasi. Satu tanda anemia berat dan ancaman
kematian adalah pola denyut jantung janin sinusoidal. Selain itu, perubahan plasenta hidropik
yang menyebabkan plasentomegali dapat menimbulkan preeklampsia.5
Bayi hidropik yang lahir hidup terlihat pucat, edematosa, dan lumpuh saat lahir serta
biasanya memerlukan resusitasi. Limpa dan hepar membesar, dan mungkin terjadi ekimosis yang
tersebar luas atau ptekie yang tersebar. Dispneu dan gagal sirkulasi sering terjadi.5

17

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Hidrops fetalis adalah kondisi janin serius dengan menifestasi akumulasi abnormal cairan

dalam dua atau lebih kompartemen janin, termasuk ascites, efusi pleura, efusi perikardial, dan
edema kulit.
Insiden tepat hidrops fetalis sulit untuk dijelaskan, karena banyak kasus tidak terdeteksi
sebelum kematian janin intrauterin dan beberapa kasus mungkin berakhir secara spontan di
dalam rahim. Hidrops fetalis merupakan penyakit yang masih membutuhkan penelitian lebih
lanjut mengenai penegakan diagnosis serta tatalaksananya, mengingat berbagai macam
etiologinya. Pemeriksaan lebih akurat dan lebih baik dibutuhkan untuk memastikan etiologi
sehingga memudahkan dalam penatalaksanaannya serta untuk kehamilan selanjutnya.
Hidrops fetalis tetap menjadi kondisi yang kompleks dengan mortalitas dan morbiditas
yang tinggi. Prognosis sebagian tergantung pada penyakit yang mendasarinya, tetapi dengan
perawatan postnatal agresif, tingkat kelangsungan hidup meningkat pada kasus tertentu.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY. William Obstetrics. Edisi 24. United
State: Mc Graw Hill; 2014.
2. Hamdan AH. Pediatric Hydrops Foetalis. Medscape. 2014. (Diunduh 21 Maret 2015).
Tersedia dari: http://emedicine.medscape.com/article/974571-overview
3. Abrams ME, Meredith KS, Kinnard P, Clark RH. Hydrops Fetalis: A Retrospective Review
of Cases Reported to a Large National Database and Identification of Risk Factors
Associated With Death. Jul 2007;120(1):84-9.
4. Keeling, Jean W. Khong T Yee. Fetal and Neonatal Pathology. Springer. 2007
5. Cunningham, et.al. Penyakit dan cedera pada neonatus. Obstetri William. Edisi 23. Jakarta:
EGC; 2010. Hlm.632-66.
6. Bellini C, Hennekam RC. Non-immune hydrops fetalis: a short review of etiology and
pathophysiology. Am J Med Genet A. 2012 Mar;158A(3):597-605.
7. Sindu E. Hemolytic disease of the newborn. Jakarta: Direktorat Laboratorium Kesehatan
Dirjen. Pelayanan Medik Depkes dan Kessos RI. 2005.
8. Bellini C,et al. Etyologi Of Non-immune Hydrops Fetalis: Systemic Review. Am J Med
Genet Part A. 2007; 149a:844-851
9. Durre Sabih. Hydrops Fetalis. 2011. (Diunduh 21 Maret 2015). Tersedia dari : http://www.
403962-overview
10. Desilet V. Investigation and Management of Non-Immune Hydrops Foetalis. SOGC. 2014.

(Diunduh

21

Maret

2015).

Tersedia

dari

content/uploads/2013/09/October2013-CPG297-ENG-Online_Final.pdf.

19

http://sogc.org/wp-