Anda di halaman 1dari 42

Laporan Kasus

Fimbroadenoma

Pembimbing :
dr. Erin Arsianti, SpM. M.Sc

Disusun oleh:
Yoseph Renaldy Ndapa
NIM : 11.2014.259

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RS. HUSADA,JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
1

BAB I
STATUS PASIEN
I. IDENTITAS
Nama

: Ny.P

Umur

: 47 tahun

Status

: Menikah

Agama

: Budha

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Alamat

: Diketahui

Suku Bangsa

: Indonesia

Tanggal Masuk RS Husada : 16 Juli 2015 Jam 13.00


II. ANAMNESIS
Dilakukan Autoanamnesis pada tanggal 16 Juli 2015, jam 13.20 WIB.
1.Keluhan Utama:
Benjolan di payudara kiri sejak 2 bulan SMRS Husada
2.Keluhan Tambahan:
Terkadang Sakit pada payudara kiri pada saat mens
3.Riwayat Perjalanan Penyakit:

Sejak 2 bulan SMRS pasien mengeluh adanya benjolan pada payudara


kiri.Pasien mengatakan bahwa benjolannya teraba berbentuk bulat dengan ukuran
sekitar 2 cm, yang ukurannya tetap dan tidak bertambah besar sejak muncul.Pada saat
mau mengalami menstruasi benjolannya terasa semakin membesar dan pada saat
setelah menstruasi benjolannya menjadi mengecil ke ukuran semula.Benjolan ini baru
yang pertama kalinya terjadi pada pasien.
Pasien juga mengeluhkan bahwa kadang kadang ia merasa sakit cenat-cenut
pada payudara kirinya pada saat menstruasi.pasien belum pernah minum obat untuk
mengatasi rasa sakitnya itu.
2

Pasien sudah mempunyai 4 orang anak,dengan usia kehamilan pertama pada


saat pasien berusia 24 tahun.pasien mengatakann bahwa semua anaknya mendapatkan
ASI yang cukup dari dirinya pada saat lahir.Keadaan menstruasi pasien lancar dan
teratur setiap bulannya dengan durasi 4 - 5 hari.
4.Riwayat Penyakit Dahulu:
-

Hipertensi

: Tidak Ada

Kencing Manis

: Tidak Ada

Asma

: Tidak Ada

Gastritis

: Tidak Ada

Alergi Obat

: Tidak Ada

Trauma

: Tidak Ada

5.Riwayat Penyakit Keluarga:


-

Hipertensi

: Tidak Ada

Kencing Manis

: Tidak Ada

Asma

: Tidak Ada

Gastritis

: Tidak Ada

Alergi Obat

: Tidak Ada

Trauma

: Tidak Ada

Di keluarga,kakak pasien pernah menderita gangguan kista dirahim.


6.Riwayat Kebiasaan
Pasien tidak mempunyai riwayat merokok maupun konsumsi alkohol

III.Status Presens
1.Status umum tanggal 16 juli 2015 Jam 13.20
Keadaan umum

: tampak baik

Kesadaran

: compos mentis

Tanda-tanda vital

: TD: 120/80 N: 88x /menit

Kepala

: normocephali

Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Telinga

: normotia, tidak ada sekret, membran timpani utuh, refleks cahaya +

Hidung

: normosepta, tidak ada deviasi, tidak ada sekret

Tenggorokan

: T1-T1, faring tidak hiperemis

Gilut

: baik

Leher

: KGB dan tiroid tidak teraba membesardantidakterababenjolan

Thorax

RR:

20x/menit

S: 36,5oC

Paru-paru :
Inspeksi : tidak terlihat lesi kulit, simetris dalam keadaan statis maupun
dinamis, tidak ada retraksi sela iga
Palpasi : fremitus +, simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada retraksi sela iga
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara nafas vesikuler, tidak ada suara paru patologis
Jantung :
Inspeksi : Pulsasi iktus cordis tidak terlihat
Palpasi

:Teraba iktus cordis pada sela iga V linea midclavicula kiri,


kuatangkat,
reguler

Perkusi :Batas atas Kiri kanan


Auskultasi: BJ I-II murni, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen :
Inspeksi : abdomen datar, tidak ada lesi, tidak ada pembuluh kolateral, striae, caput
medusa.
Auskultasi : bising usus +
Perkusi : tidak ada nyeri ketuk
Palpasi :
Hati : tidak teraba
Limpa : tidak teraba
Ginjal : tidak teraba
4

Alat kelamin :
Wanita
Fluor albus/darah : tidak ada
2.Status Lokalis Bedah
mammae sinistra :

Inspeksi : Payudara simetris, retraksi puting susu (-), edema (-), ulserasi (-),
nodul satelit (-), discharge (-), kulit hiperemis (-).

Palpasi

Kuadran lateral tengah teraba 1 buah massa berukuran 2 x 2 x 1 cm,


permukaan rata, batas tegas, kenyal, mobile, nyeri tekan (-)
mammae dekstra:

Inspeksi : Payudara simetris, retraksi puting susu (-), edema (-), ulserasi (-),
nodul satelit (-), discharge (-), kulit hiperemis (-).

Palpasi

: Tidak teraba adanya massa maupun benjolan

IV.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan USG tanggal 16 Juli 2015. Jam 13.20
Mammae kanan:
FAM pk 7-8 2 jari dari papilla berukuran 0,97 x 0,45 x 0,56 cm
Mammae kiri:
FAM pk 3 1 jari dari papilla berukuran :2,14 x 1,46 x 2,01 cm
Kesimpulan
FAM mammae kanan : pk 7-8
FAM mamme kiri: pk 3
Mammary fibrous dysplasia ringan pada ke 2 mammae
V.Resume
Telah pasien diperiksa seorang wanita berusia 47 tahun dengan keluhan adanya benjolan pada
payudara kiri.Pasien mengatakan bahwa benjolannya teraba berbentuk bulat dengan ukuran
sekitar 2 cm, yang ukurannya tetap dan tidak bertambah besar sejak muncul.Pada saat mau
mengalami menstruasi benjolannya terasa semakin membesar dan pada saat setelah
menstruasi benjolannya menjadi mengecil ke ukuran semula.Benjolan ini baru yang pertama
kalinya terjadi pada pasien.Pasien juga mengeluhkan bahwa kadang kadang ia merasa sakit
cenat-cenut pada payudara kirinya pada saat menstruasi.pasien belum pernah minum obat
5

untuk mengatasi rasa sakitnya itu.Pasien sudah mempunyai 4 orang anak,dengan usia
kehamilan pertama pada saat pasien berusia 24 tahun.pasien mengatakann bahwa semua
anaknya mendapatkan ASI yang cukup dari dirinya pada saat lahir.Keadaan menstruasi pasien
lancar dan teratur setiap bulannya dengan durasi 4 - 5 hari.Dari hasil pemeriksaan fisik
didapatkan keadaan umum pasien tampak baik,kesadaran kompos mentis, TTV (TD:
120/80 ,N: 88x /menit,RR:20x/menit,S: 36,5oC).Pemeriksaan umum dada,paru dam abdomen
dalam batas normal.Pada status lokalis pada mammae sinistra di kuadran lateral tengah teraba
1 buah massa berukuran 2 x 2 x 1 cm, permukaan rata, batas tegas, kenyal, mobile, nyeri
tekan (-).Dari pemeriksaan USG didapatkan pada Mammae kanan:FAM pk 7-8,2 jari dari
papilla berukuran 0,97 x 0,45 x 0,56 cm dan pada Mammae kiri:FAM pk 3,1 jari dari papilla
berukuran :2,14 x 1,46 x 2,01 cm.
VI.Diagnosis Kerja
Fibroadenoma mammae bilateral
VII.Diagnosis banding
-

Ca mammae bilateral
Kista mammae bilateral
Papilloma bilateral

VIII.Usulan Pemeriksaan

Mammography

Biopsi eksisi

Laboratorium : Hb, jumlah leukosit, trombosit, hematokrit

Foto Thorax PA

IX.Terapi

Umum :
o Edukasi penderita mengenai penyakitnya dan hal-hal yang dapat
dilakukan penderita untuk mendeteksi dini kelainan pada payudara.

Khusus :
o Eksisi massa tumor

X.Prognosa
ad vitam

: bonam

ad functionam

: bonam

ad sanationam

: bonam
6

Bab II
Tinjauan Pustaka
Fibroadenoma
Pendahuluan
Fibroadenoma merupakan neoplasma jinak yang terutama terdapat pada wanita
muda. Setelah menopause, tumor tersebut sudah tidak lagi ditemukan. Fibroadenoma teraba
sebagai benjolan bulat atau berbenjol-benjol, dengan simpai licin dan konsistensi kenyal
padat. Tumor ini tidak melekat pada jaringan sekitarnya dan amat mudah digerakkan.
Bisaanya fibroadenoma tidak nyeri, tetapi kadang dirasakan nyeri bila di tekan. Kadangkadang fibroadenoma tumbuh multiple. Pada masa adolesens, fibroadenoma bisa terdapat
dalam ukuran lebih besar. Pertumbuhan bisa cepat sekali selama kehamilan dan laktasi atau
menjelang menopause, saat terangsang estrogen meninggi. Fibroadenoma harus diekstirpasi
karena tumor jinak ini akan terus membesar.1
I. Anatomi dan Fisiologi Payudara

A. Anatomi
Kelenjar susu merupakan sukumpulan kelenjar kulit. Pada bagian lateral atasnya,
jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya ke arah axial, disebut penonjolan Spence atau
ekor payudara. Setiap payudara terdiri dari 12-20 lobulus kelenjar yang masing-masing
mempunyai saluran ke papilla mama, yang disebut duktus laktiferus. Di antara kelenjar
susu dan fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat
jaringan lemak. Di antara lobulus tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamen cooper
yang memberi rangka untuk payudara.
Pendarahan payudara terutama berasal dari cabang a.perforantes anterior dari
a.mamaria interna, a.torakalis lateralis yang bercabang dari a.aksilaris dan beberapa
a.interkostalis.
7

Persarafan kulit payudara diatur oleh cabang plexus servikalis dan n.interkostalis.
Jaringan kelenjar payudara sendiri diatur oleh saraf simpatik. Saraf pektoralis yang
mengatur m.pektoralis mayor dan minor, n.torakodorsalis yang mengatur m.latissimus dorsi
dan n.torakalis longus mengatur m.serratus anterior.
Penyalian limfe dari payudara + 75 % ke axial, sebagian sebagian lagi ke kelenjar
parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial, dan ada pula penyaliran ke arah
kelenjar interpektoralis. Pada aksila terdapat rata-rata 50 (10-90) buah kelenjar getah
bening yang berada di sepanjang arteri dan vena brakialis. Saluran limfe dari seluruh
payudara menyalir ke kelompok anterior aksila, kelompok sentral aksila, kelenjar aksila
bagian dalam, yang lewat sepanjang v.aksilaris dan yang berlanjut langsung ke kelenjar
servikal bagian kaudal dalam di fossa supraklavikuler.
Jalur limfe lain berasal dari daerah sentral dan medial yang selain menuju ke
kelenjar sepanjang pembuluh mamaria interna, juga menuju ke aksila kontralateral, ke
m.rektus abdominis lewat ligamentum falsiparum hepatic ke hati, pleura, dan payudara
kontralateral.1

Gambar 1. Anatomi payudara2


Payudara dibagi menjadi empat kuadran, yaitu upper inner quadrant (UIQ), lower
inner quadrant (LIQ), upper outer quadrant (UOQ) dan lower outer quadrant (LOQ).

Upper inner
quadrant (UIQ)

Upper outer
quadrant (UOQ)

Upper lower
quadrant (UIQ)

Lower outer
quadrant (UIQ)

Gambar 2. Pembagian Kuadran Payudara2


B. Fisiologi
Payudara mengalami 3 macam perubahan yang dipengaruhi hormon.
Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa
fertilitas, sampai klimakterium, dan menopause. Sejak pubertas pengaruh estrogen dan
progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormone hipofise, telah mengakibatkan
duktus berkembang dan timbul asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai daur haid. Sekitar hari ke 8 haid,
payudara menjadi lebih besar dan beberapa hari sebelum haid berikutnya terjadi
pembesaran maksimal. Kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama
beberapa hari menjelang haid, payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga
pemeriksaan fisik, terutama palpasi tidak bisa dilakukan. Pada waktu itu, pemeriksaan
foto mamografi tidak berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu haid mulai,
semuanya berkurang.
Perubahan ketiga terjadi pada hamil dan menyusui. Pada kehamilan, payudara
menjadi besar karena epitel duktus lobus dan duktus alveolus berproliferasi, dan
tumbuh duktus baru.
Sekresi hormon prolaktin dari hipofise anterior memicu laktasi. Air susu
diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus
ke putting susu.2
Definisi fibroadenoma

Fibroadenoma adalah tumor jinak tersering pada wanita usia muda. Insidensi
puncak adalah usia 30-an tahun. Bentuknya kecil berwarna coklat berkapsul. Bisaanya
tunggal, mudah digerakan dan bergaris tengah 1- 10 cm. tumor bisa multiple dan menjadi
raksasa. Secara makroskopis, semua tumor dapat teraba padat dengan warna seragam
coklat-putih pada irisan, dengan bercak kuning merah muda yang mencerminkan daerah
kelenjar. Secara histologik, tampak stroma fibroblastic longgar yang mengandung rongga
mirip duktus berlapis epitel dengan ukuran dan bentuk beragam. Rongga mirip duktus
atau kelenjar ini dilapisi oleh satu atau lebih lapisan sel yang regular dengan membrane
basal jelas dan utuh. Meskipun di sebagian lesi rongga duktus terbuka, bundar sampai
oval dan cukup teratur (fibroadenoma perikanalikuler), sebagian tertekan oleh proliferasi
ekstensif stroma sehingga pada potongan melintang rongga tersebut tampak sebagai celah
atau struktur ireguler mirip bintang (fibroadenoma intrakanalikularis)
Gambaran klinis
Secara klinis, fibroadenoma biasanya bermanifestasi sebagai masaa soliter,
diskret, dan mudah digerakkan. Lesi mungkin membesar pada akhir daur haid dan selama
hamil. Pascamenopause, lesi mungkin mengecil dan mengalami kalsifikasi. Pemeriksaan
sitogenik memperlihatkan bahwa sel stroma bersifat monoklonal sehingga mencerminkan
elemen neoplastik dari tumor ini. Penyebab dari proliferasi duktus tidak diketahui,
mungkin sel stroma neoplastik mengeluarkan faktor pertumbuhan yang mempengaruhi
sel epitel. Fibroadenoma hampir tidak pernah menjadi ganas.2
Epidemiologi
Di Amerika Serikat, fibroadenoma merupakan lesi payudara yang paling umum,
yang terjadi pada wanita dengan usia di bawah 40 tahun. Fibroadenoma dapat terjadi pada
wanita segala usia, selama masa reproduksi aktif dan mengecil setelah menopause.
Fibroadenoma jarang terjadi pada wanita postmenopause. Prevalensi fibroadenoma pada
wanita usia di atas 40 tahun kira-kira hanya 8 10 %. Sekitar 10 15 % kasus fibroadenoma
merupakan multipel. Pada wanita berkulit gelap, fibroadenoma lebih sering terjadi di usia
lebih muda dibandingkan wanita berkulit putih.(4,6)
Fibroadenoma merupakan hasil biopsi yang paling sering ditemukan di Jamaica,
yaitu sekitar 39,4% dari seluruh biopsi yang dilakukan, yang diikuti oleh penyakit fibrokistik,
sekitar 19, 3 %.(7)
10

Menurut WHO 8-9% wanita akan mengalami kanker payudara. Ini menjadikan
kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak ditemui pada wanita. Setiap tahun
lebih dari 250.000 kasus baru kanker payudara terdiagnosa di Eropa dan kurang lebih
175.000 di Amerika Serikat. Masih menurut WHO, tahun 2000 diperkirakan 1,2 juta wanita
terdiagnosis kanker payudara dan lebih dari 700.000 meninggal karenanya. Belum ada data
statistik yang akurat di Indonesia, namun data yang terkumpul dari rumah sakit menunjukkan
bahwa kanker payudara menduduki ranking pertama di antara kanker lainnya pada wanita.1
Etiologi
Penyebab pasti fibroadenoma tidak diketahui. Namun, terdapat beberapa faktor
yang dikaitkan dengan penyakit ini, antara lain peningkatan mutlak aktivitas estrogen, yang
diperkirakan berperan dalam pembentukannya. Selain itu, diperkirakan terdapat prekursor
embrional yang dormant di kelenjar mammaria yang dapat memicu pembentukan
fibroadenoma yang akan berkembang mengikuti aktivitas ovarium.
Patofisiologi
Fibroadenoma adalah tumor jinak yang menggambarkan suatu proses hiperplasia
dan proliferasi pada satu duktus terminal, perkembangannya dihubungkan dengan suatu
proses aberasi perkembangan normal. Penyebab proliferasi duktus tidak diketahui,
diperkirakan sel stroma neoplastik mengeluarkan faktor pertumbuhan yang memengaruhi sel
epitel. Peningkatan mutlak aktivitas estrogen, diperkirakan berperan dalam pembentukannya.
Kira kira 10% fibroadenoma akan menghilang secara spontan tiap tahunnya dan
kebanyakan perkembangan fibroadenoma berhenti setelah mencapai diameter 2 3 cm.
Fibroadenoma hampir tidak pernah menjadi ganas.
Fibroadenoma jarang ditemukan pada wanita yang telah mengalami postmenopause
dan dapat terbentuk gambaran kalsifikasi kasar. Sebaliknya, fibroadenoma dapat berkembang
dengan cepat selama proses kehamilan, pada terapi pergantian hormon, dan pada orang
orang yang mengalami penurunan kekebalan imunitas, bahkan pada beberapa kasus, dapat
menyebabkan keganasan. Fibroadenoma mamae bukan merupakan satu-satunya penyakit
pada payudara, namun insiden kasus tersebut tinggi, tergantung pada jaringan payudara yang
terkena, estrogen dan usia permulaan. Tumor dapat terjadi karena mutasi dalam DNA sel.
Penimbunan mutasi merupakan pemicu munculnya tumor. Penimbunan mutasi di jaringan
fibrosa dan jaringan epitel dapat menyebabkan proliferasi sel yang abnormal sehingga akan
11

tampak tumor yang membentuk lobus- lobus hal ini dikarenakan terjadi gangguan pada
nukleus sel yang menyebabkan sel kehilangan fungsi deferensiasi yang disebut anaplasia.
Dengan rangsangan estrogen fibroadenoma mamae ukurannya akan lebih meningkat hal ini
terlihat saat menstruasi dan hamil. Nyeri pada payudara disebabkan karena ukuran dan
tempat pertumbuhan fibroadenoma mamae. Karena fibroadenoma mamae tumor jinak maka
pengobatan yang dilakukan adalah dengan mengangkat tumor tersebut, untuk mengetahui
apakah tumor itu ganas atau tidak tumor yang sudah di ambil akan di bawa ke laboratorium
patologi untuk pemeriksaan lebih lanjut.3
Diagnosis
1.Gambaran Klinis
Fibroadenoma pada sebagian besar penderita tidak menunjukkan gejala dan
terdeteksi setelah dilakukan pemeriksaan fisik. Pertumbuhan fibroadenoma relatif lambat dan
hanya menunjukkan sedikit perubahan ukuran dan tekstur dalam beberapa bulan.
Fibroadenoma memiliki gejala berupa benjolan dengan permukaan yang licin dan merah.
Biasanya fibroadenoma tidak nyeri, tetapi kadang dirasakan nyeri bila ditekan.(3,5)
2.Pemeriksaan fisik
Secara klinik, fibroadenoma biasanya bermanifestasi sebagai massa soliter,
diskret, dan mudah digerakkan, selama tidak terbentuk jaringan fibroblast di sekitar jaringan
payudara, dengan diameter kira-kira 1 3 cm, tetapi ukurannya dapat bertambah sehingga
membentuk nodul dan lobus. Fibroadenoma dapat ditemukan di seluruh bagian payudara,
tetapi lokasi tersering adalah pada quadran lateral atas payudara. Tidak terlihat perubahan
kontur payudara. Penarikan kulit dan axillary adenopathy yang signifikan pun tidak
ditemukan.
3.Pemeriksaan Penunjang
a.Periksaan Histopatologik
Secara makroskopis, semua tumor teraba padat dengan warna cokelat putih pada
irisan, dengan bercak bercak kuning merah muda yang mencerminkan daerah kelenjar.

12

Secara histologis, tumor terdiri atas jaringan ikat dan kelenjar dengan berbagai
proporsi dan variasi. Tampak storma fibroblastik longgar yang mengandung rongga mirip
duktus berlapis sel epitel dengan ukuran dan bentuk yang beragam. Rongga yang mirip
duktus atau kelenjar ini dilapisi oleh satu atau lebih lapisan sel yang reguler dengan membran
basal jelas dan utuh. Meskipun di sebagian lesi duktus terbuka, bulat hingga oval dan cukup
teratur (fibroadenoma perikanalikularis), sebagian lainnya tertekan oleh proliferasi ekstensif
stroma sehingga pada potongan melintang rongga tersebut tampak sebagi celah atau struktur
ireguler mirip bintang (fibroadenoma intrakanalikularis).
b.Pemeriksaan Radiologi
1.Mamografi
Pada pemeriksaan mamografi, fibroadenoma digambarkan sebagai massa
berbentuk bulat atau oval dengan batas yang halus dan berukuran sekitas 4 100 mm.
Fibrodenoma biasanya memiliki densitas yang sama dengan jaringan kelenjar sekitarnya,
tetapi, pada fibroadenoma yang besar, dapat menunjukkan densitas yang lebih tinggi.
Kadang-kadang, tumor terdiri atas gambaran kalisifikasi yang kasar, yang diduga sebagai
infraksi atau involusi. Gambaran kalsifikasi pada fibroadenoma biasanya di tepi atau di
tengah berbentuk bulat, oval atau berlobus lobus. Pada wanita postmenopause, komponen
fibroglandular dari fibroadenoma akan berkurang dan hanya meninggalkan gambaran
kalsifikasi dengan sedikit atau tanpa komponen jaringan ikat.
2.Ultrashonographi (USG)
Dalam pemeriksaan USG, fibroadenoma terlihat rata, berbatas tegas, berbentuk
bulat, oval atau berupa nodul dan lebarnya lebih besar dibandingkan dengan diameter
anteroposteriornya. Internal echogenicnya homogen dan ditemukan gambaran dari isoechoic
sampai hypoechoic. Gambaran echogenic kapsul yang tipis, merupakan gambaran khas dari
fibroadenoma dan mengindikasikan lesi tersebut jinak. Fibroadenoma tidak memiliki kapsul,
gambaran kapsul yang terlihat pada pemeriksaan USG merupakan pseudocapsule yang
disebabkan oleh penekanan dari jaringan di sekitarnya.
3.Magneting Resourging imaging (MRI)

13

Dalam pemeriksaan MRI, fibroadenoma tampak sebagi massa bulat atau oval
yang rata dan dibandingkan dengan menggunakan kontras gadolinium-based. Fibroadenoma
digambarkan sebagai lesi yang hypointense atau isointense, jika dibandingkan dengan
jaringan sekitarnya dalam gambaran T1-weighted dan hypointense and hyperintense dalam
gambaran T2-weighted.2
Diagnosis banding
Diagnosis banding dari fibroadenoma, antara lain :
a.Cystosarcoma Phyllodes.
Tumor ini jauh lebih jarang ditemukan dan diperkirakan berasal dari stroma
intralobulus. Tumor ini berdiameter kecil, sekitar 3 4 cm, tetapi sebagian besar terus
tumbuh dan membesar sehingga menyebabkan payudara membesar. Tumor ini terdapat pada
semua usia, namun kebanyakan ditemukan pada usia 45 tahun. Gambaran radiologis
(mammografi) dari tumor ini berupa massa berbentuk bulat dan berbatas tegas.
b.Kista Payudara
Kista payudara dapat berasal dari adenosis, ketika lamina duktus dan acini
mengalami dilatasi dan dibatasi oleh jaringan epitel. Gambaran mamografinya berupa massa
bulat atau oval yang berbatas tegas. Tepi kista ini dapat berbatasan dengan jaringan
fibroglandular, baik sebagian maupun seluruhnya.Gambaran USG pada kista adalah lesi
dengan bentuk bulat atau oval, mempunyai batas tegas dan teratur, an-echoic dan adanya
penyangatan akustik posterior.

c.Papilloma
Merupakan lesi jinak yang berasal dari duktus laktiferus dan 75% tumbuh di
bawah areola mamma. Papilloma memberikan gejala berupa sekresi cairan serous atau
berdarah, adanya tumor subareola kecil dengan diameter beberapa milimeter atau retraksi
puting payudara (jarang ditemukan). Biasanya, ukuran lesi papilloma sangat kecil, hanya
beberapa milimeter, sehingga pada mamografi, terlihat gambaran sedikit pengembungan atau

14

normal dari duktus retro-areolar.Gambaran USG kelainan ini adalah suatu lesi intraduktal
dengan pelebaran duktus laktiferus.
Penatalaksaan
Karena fibroadenoma mammae adalah tumor jinak maka pengobatan yang
dilakukan tidak perlu dengan pengangkatan mammae. Yang perlu diperhatikan adalah bentuk
dan ukurannya saja. Pengangkatan mammae harus memperhatikan beberapa faktor yaitu
faktor fisik dan psikologi pasien. Apabila ukuran dan lokasi tumor tersebut menyebabkan rasa
sakit dan tidak nyaman pada pasien maka diperlukan pengangkatan Terapi dari fibroadenoma
mammae dapat dilakukan dengan operasi pengangkatan tumor tersebut, biasanya dilakukan
general anaesthetic pada operasi ini. Operasi ini tidak akan merubah bentuk dari payudara,
tetapi hanya akan meninggalkan luka atau jaringan parut yang nanti akan diganti oleh
jaringan normal secara perlahan.
Teknik Operasi
Operasi eksisi merupakan satu-satunya pengobatan untuk fibroadenoma. Operasi
dilakukan sejak dini, hal ini bertujuan untuk memelihara fungsi payudara dan untuk
menghindari bekas luka. Pemilihan tipe insisi dilakukan berdasarkan ukuran dan lokasi dari
lesi di payudara. terdapat 3 tipe insisi yang biasa digunakan, yaitu:
1. Radial Incision, yaitu dengan menggunakan sinar.
2. Circumareolar Incision
3. Curve/Semicircular Incision
Tipe insisi yang paling sering digunakan adalag tipe radial. Tipe circumareolar,
hanya meninggalkan sedikit bekas luka dan deformitas, tetapi hanya memberikan pembukaan
yang terbatas. Tipe ini digunakan hanya untuk fibroadenoma yang tunggal dan kecil dan
lokasinya sekitar 2 cm di sekitar batas areola. Semicircular incision biasanya digunakan
untuk mengangkat tumor yang besar dan berada di daerah lateral payudara.(3)
Dengan pembiusan general, punggung penderita diganjal bantal tipis, sendi bahu
diabduksikan ke arah kranial. Lokasi tumor ditandai dengan spidol/ tinta. Desinfeksi
lapangan operasi (dibawah klavikula), midsternal, linea aksilaris posterior, sela iga ke / clan
8, dengan larutan desinfektan povidone iodine 105. Lapangan operasi dipersempit dengan
15

duk steril. Bila memungkinkan insisi dikerjakan sirkumareolar, tetapi bila lokasi tumor cukup
jauh dari areola (>4 cm), maka insisi dikerjakan di atas tumor sesuai dengan garis Langer
atau diletakkan pada daerah-daerah yang tersembunyi. Untuk insisi sirkumarelar maka puting
susu dipegang dengan jari telunjuk dan ibu jari, dilakukan marker insisi. Dengan pisau
dilakukan insisi periareolar sampai fasia superfisialis subkutan. Flap kulit diangkat keatas
dengan bantuan hak tajam, dengan gunting dilakukan undermining sepanjang fasia superfisial
kearah lokasi tumor. Rawat perdarahan, lalu identifikasi tumor. Jepit jaringan sekitar tumor
pada 3 tempat dengan kocher, lalu dilakukan eksisi tumor sesuai tuntunan kocher. Rawat
perdarahan lagi, orientasi seluruh bed tumor lalu dipasang redon drain dengan lubang di
kuadran lateral bawah (bila menggunakan penrose drain, darin dikeluarkan di garis insisi).
Jahit subkutan fat dengan plain cat gut 3.0. Jahit kulit dengan. prolene 4.0. Luka operasi
ditutup dengan kasa betadine. Dilakukan dressing luka operasi dengan teknik suspensi
payudara (BH buatan) tanpa mengganggu gerakan sendi bahu.

Prognosis
Prognosis dari penyakit ini baik, walaupun penderita mempunyai resiko yang
tinggi untuk menderita kanker payudara. bagian yang tidak diangkat harus diperiksa secara
teratur.3
Daftar Pustaka

1. Kuijper Arno., Mommers Ellen C.M., Van der Wall Elsken., Van Diest Paul J.
Histopathology

of

Fibroadenoma

of

The

Breast.

Available

from

http://ajcp.ascpjournals.org/.
2. Crum Christoper P., Lester Susan C., Cotran Ramzi S. Sistem Genitalia Perempuan dan
Payudara. Dalam : Robbins, Stanley L., Kumar Vinay., Cotran Ramzi S. Robbins Buku
Ajar Patologi. Volume 2. Edisi 7. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2007. Hal.
793 794.

16

3.

Farrow

Joseph

H.

Fibroadenoma

of

The

Breast.

Available

from

http://caonline.amcancersoc.org/

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
TUMOR PAYUDARA
I.

DEFINISI
Tumor yang berarti pembengkakan (latin) menunjuk pada massa jaringan yang tidak

normal. Dapat berupa suatu keganasan (bersifat kanker) atau jinak (tidak bersifat kanker).
Hanya pada tumor ganas yang mampu menyerang jaringan lainnya atau bermetastasis.
II.

ANATOMI
a. Gambaran umum (1,2)
Mammae dextra dan mammae sinistra berisi glandula mammaria dan terdapat dalam

fascia superficialis dinding thorax ventral. Pada wanita dan pria memiliki sepasang mamma,
namun pada pria glandula mamma tersebut tidak berkembang dan mengalami rudimenter.

17

Mammae

terletak

di

bagian anterior dan termasuk


bagian

dari

lateral

thoraks.

Kelenjar susu yang bentuknya


bulat

ini

terletak

di

fasia

pektoralis. Mammae melebar ke


arah

superior

dari

iga

dua,

inferior dari kartilago kosta enam


dan medial dari sternum serta
lateral linea midaksilanis. Pada
bagian mammae yang paling
menonjol terdapat sebuah papilla,
dikelilingi oleh daerah yang lebih gelap yang disebut areola. Terdapat Langer lines pada
kompleks nipple(papilla)-areola yang melebar ke luar secara sirkumfranse (melingkar).
Langer lines ini signifikan secara klinis kepada ahli bedah dalam menentukan area insisi pada
biopsi mammae. Pada bagian lateral atasnya jaringan kelenjar ini keluar dari lingkarannya ke
arah aksila, disebut penonjolan Spence atau ekor payudara.
Mammae berisi 15-20 lobus glandula mammaria yang tiap lobusnya terdiri dari
bebrapa lobulus. Tiap-tiap lobulus memiliki saluran kearah papilla yang disebut ductus
laktiferus. Diantara kelenjar susu dan fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut
mungkin terdapat jaringan lemak yang disebut ruang retromamer. Diantara lobulus tersebut
ada jaringan ikat yang disebut ligamentum suspensorium Cooper yang berfungsi sebagai
penyangga.
Struktur payudara terdiri atas:
-

Parenkim epithelial

Lemak, pembuluh darah, syaraf dan saluran getah bening

Otot dan fasia


b. Vaskularisasi (1,3)
1. Arteri
Payudara mendapat perdarahan dari:
a. Rami intercostales arterioles dari anteria thoracica interna, yaitu salah satu
cabang dari arteri subclavia

18

b. Arteri

thoracica

lateralis

(a.

mamania

ekstema)

dan

arteri

thoracoacromialis, yaitu cabang dari arteri axillanis


c. Arteni intercostales posterior, cabang pars thoracica aortae dalam spatial
intercostales I, II. dan IV
2. Vena
Pada payudara terdapat tiga grup vena:
a. Cabang-cabang perforantes v. mammaria intema
b. Cabang-cabang v. aksilaris
c. Vena-vena kecil yang bermuara pada v. interkostalis
3. Limfe
Penyaluran limfe dan mammae sangat penting peranannya dalam metastases el
kanker.
a. Bagian terbesar disalurkan ke nodi lymphoidei axillares, terutama ke
kelompok pectoral, tetapi ada juga yang disalurkan ke kelompok apical,
subskapular, lateral, dan sentral.
Terdapat enam grup kelenjar getah bening axilla:

1. Kelenjar getah bening mammaria eksterna, terletak dibawah tepi lateral m.


pectorals mayor, sepanjang tepi medial aksila.
19

2. Kelenjar getah bening scapula, terletak sepanjang vasa subskapularis dan


thorakodorsalis, mulai dari percabangan v. aksilaris menjadi v.
subskapularis sampai ke tempat masuknya v. thorako-dorsalis ke dalani m.
latissimus dorsi.
3. Keleniar getah bening sentral (Central node), terletak dalam jaringan
lemak di pusat ketiak. Kelenjar getah bening ini relatif mudah diraba dan
merupakan kelenjar getah bening yang terbesar dan terbanyak.
4. Kelenlar getah bening interpectoral (Rotters node), terletak diantara m.
pektoralis

mayor

dan

minor,

sepanjang

rami

pektoralis

v.

thorakoakromialis.
5. Kelenjar getah bening v. aksilaris, terletak sepanjang v. aksilaris bagian
lateral, mulai dari white tendon m. lattisimus dorsi sampai ke medial dan
percabangan v. aksilanis v. thorako-akromalis.
6. Kelenjar getah bening subklavikula, mulai dari medial percabangan v.
aksilanis v. thorako-akromialis sampai dimana v. aksilanis menghilang
dibawah tendon m. subklavius. Kelenjar ini merupakan kelenjar axial yang
tertinggi dan termedial letaknya. Semua getah bening yang berasal dan
kelenjar-kelenjar getah bening aksila masuk ke dalam

kelenjar ini.

b. Sisanya disalurkan ke nodi limphoidei infraclaviculares, supraclaviculares, dan


parasternales.
c. Persyarafan (3)
Persarafan kulit mammae diurus oleh cabang pleksus servikalis dan nervus
interkostalis. Jaringan kelenjar mammae sendiri dipersarafi oleh saraf simpatik.
Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubung dengan penyulit
paralisis dan mati rasa pasca bedah, yakni nervus interkostobrakialis, nervus
kutaneus brakialis medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian
medial lengan atas. Pada diseksi aksila, saraf ini sukar disingkirkan sehingga
sering terjadi mati rasa pada daerah tersebut. 4 syaraf nervus pektoralis yang
menginervasi muskulus pektoralis mayor dan minor, nervus torakodorsalis yang
menginervasi muskulus latissimus dorsi, dan nervus torakalis longus yang
menginervasi muskulus serratus anterior sedapat mungkin dipertahankan pada
mastektomi dengan diseksi aksila.
20

III.

FISIOLOGI (2,3)
Perkembangan dan fungsi payudara dimulai oleh berbagai hormon. Estrogen

diketahui

merangsang

perkembangan

duktus

mamilaris.

Progesterone

memulai

perkembangan lobules-lobulus payudara juga deferensiasi sd epitel. Prolaktin merangsang


laktogenesis.
1. Pubertas terjadi pembesaran payudara yang diakibatkan karena bertambahnya jaringan
kelenjar dan deposit jaringan lemak.
2. Siklus menstruasi pada fase premestruasi akan terjadi pembesaran vascular dan
pembesaran kelenjar, kemudian akan terjadi regresi kelenjar pada fase pasca menstruasi.
3. Kehamilan dan laktasi : pada kehamilan tua dan setelah melahirkan, payudara kolostrum
sampai sekitar 3-4 han postpartum, kemudian sekresi susu dimulai sebagai respon
terhadap rangsang penghisapan dan bayi (sucking refleks).
4. Monopouse : Lobulus beinvolusi. Lemak menggantikan
IV. PENILAIAN PENYAKIT PAYUDARA (3)
a. Anamnesis
Anamnesis yang baik dan terarah harus dilakukan sebelum pemeriksaan fisik.
Anamnesis ini meliputi pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggali terperinci tentang faktor
resiko yang menyertai, seperti usia menarche, riwayat menstruasi, paritas dan menyusui. Usia
menarche dan perubahan pada fase menstruasi berkorelasi bermakna dengan penyakit jinak
dan ganas. Pertanyaan tentang terapi hormone yang mencakup kontrasepsi, tindakan bedah
sebelumnya perlu ditanyakan untuk memastikan kemungkinan keterlibatan hormonal dalam
penyakit payudara.
b. Pemeriksaan fisik
Inspeksi visual
Dokter sebaiknya duduk menghadapi pasien yang sudah membuka pakaiannya sampai
sebatas pinggang kemudian diamati simetri dan perubahan kulit seperti fiksasi, elevasi,
retraksi dan wama payudara.
Palpasi payudara dan axilla
Palpasi lebih baik dilakukan pada pasien yang berbaring dengan bantal tipis
dipunggung sehingga payudara itu terbentang rata. Palpasi dilakukan dengan telapak tangan
kanan yang digerakkan perlahan-lahan tanpa tekanan pada setiap kuadran payudara. Pada
sikap duduk, benjolan yang tak teraba, ketika penderita berbaring kadang lebih mudah
21

ditemukan. Dengan memijat halus puting susu dapat diketahui adanya pengeluaran cairan,
darah, atau nanah. Cairan yang keluar dari kedua puting selalu harus dibandingkan.
Pengeluaran cairan dari puting susu diluar masa laktasi dapat disebabkan oleh berbagai
kelainan, seperti karsinoma, papiloma di salah satu duktus dan kelainan yang disertai ektasi
duktus.
Lesi jinak condong lebih lunak, berbatas tegas, dan mobil di antara jaringan
sekitarnya. Sangat sering ia mempunyai bentuk elips atau bundar yang regular. Sayangnya,
kanker payudara yang dini, kecil, pula mempunyai sifat-sifat seperti ini pula. Tanda-tanda
klasik kanker payudara seperti pembesaran massa tak regular, edema pada kulit diatasnya,
fiksasi pada kulit atau jaringan dibawalmya, pelebaran vena-vena superficial, atau ulserasi,
secara ekstrim mencerminkan penyakit yang telah lanjut.
Meskipun pemeriksaan fisik yang terbaik, tetapi tidak dapat meneuntukan secara pasti
setiap gumpalan pada payudara. Pemeriksaan fisik dapat menentukan ada atau tidaknya
gumpalan dan konsistensi, pergerakan kekerasan dan perkiraan ukuran. Akan tetapi, satusatunya jalan untuk mendapatkan diagnose patologik adalah dengan teknik sampel yang
memakai jaringan untuk pemeriksaan patologik.

22

V.

TUMOR JINAK PAYUDARA (4,6,7,9)


1. Kelainan Fibrokistik
Kelainan fibrokistik pada payudara ini sering pula disebut sebagai kista mammae.

Kista mammae merupakan suatu kelainan dari fisiologi normal lobular. Penyebab utama
terjadinya kelainan ini masih belum diketahui pasti walaupun terdapat bukti yang mengaitkan
pembentukan kista ini dengan hiperestrogenism akibat penggunaan terapi pengganti hormon.

23

Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kista mammae terjadi karena distensi duktus
atau involusi lobus. Sewaktu proses ini terjadi, lobus membentuk mikrokista yang akan
bergabung menjadi kista yang lebih besar, perubahan ini terjadi karena adanya obstruksi dari
aliran lobus dan jaringan fibrous yang menggantikan stroma.
Kista bisa terbentuk pada satu mammae saja tetapi biasanya kista ditemukan
multifokal dan bilateral. Kista ini berukuran antara kurang dari 1 cm sehingga mencapai 5
cm. Karekteristiknya adalah licin dan teraba kenyal pada palpasi. Kista berwama coklat
kebiruan (blue dome cyst) dan dipenuhi dengan serous dan cairan keruh. Produk sekretori di
dalam kista ini bisa mengalami kalsifikasi dan terlihat sebagai mikrokalsifikasi pada
pemeriksaan mammogram. Secara histologi, epitelium pada kista berukuran kecil biasanya
kuboidal dan berlapis-lapis.
Secara klasik, kista dialami wanita perimenopausal antara usia 45 dan 55 tahun,
walaupun terdapat juga insidens yang diluar batas usia ini terutamanya pada individu yang
menggunakan terapi pengganti hormon. Kebiasaannya kista ini soliter tetapi tidak jarang
ditemukan kista yang multiple. Pada kasus yang ekstrim, keseluruhan mammae dapat
dipenuhi dengan kista. Kista dapat memberikan rasa tidak nyaman dan nyeri. Dikatakan
bahwa terdapat hubungan antara ketidak nyamanan dan nyeri ini dengan sikius menstruasi
dimana perasaan tidak nyaman dan nyeri ini meningkat sebelum menstruasi. Kista ini
biasanya dapat dilihat.
2. Fibroadenoma

24

Fibroadenoma adalah tumor jinak yang merupakan suatu proses hiperplastik atau
proliferasi terdiri dari unsur-unsur stroma dan epitel sebagai suatu penyimpangan dan
perkembangan normal. Penyebab tumor ini tidak diketahui. Fibroadenoma sering terjadi pada
usia awal reproduktif dan waktu puncaknya adalah antara usia 15 dan 35 tahun.
Fibroadenoma

biasanya

licin,

berbentuk bulat atau lobulated dengan


diameter 2 sampai 3 cm, berbenjol-benjol
dengan konsistensi kenyal padat. Tumor
ini tidak melekat pada jaringan sekitarnya
dan amat mudah digerakkan kecuali yang
terletak berdekatan nipple. Mayoritas dari
tumor ini terdapat pada kuadran lateral
superior dan mammae. Pada wanita muda,
istilah breast mouse digunakan untuk
tumor ini. Pertambahan usia membuatkan mobilitas dan tumor berkurang karena restraining
effects dan jaringan fibrotik. Pada wanita yang berusia, fibroadenoma membeni gambaran
massa kecil, keras dan masih bisa mobil. Biasanya fibroadenoma tidak nyeni, tetapi kadang
dirasakan nyeri apabila ditekan
3. Papiloma Intraductus
Papilloma Intraduktus merupakan tumor benigna pada epithelium duktus mamae
dimana terjadinya hipertrofi pada epithelium dan mioepithelial. Tumor ini bisa terjadi di
sepanjang sistem duktus dan predileksinya adalah pada ujung dan sistem duktus yakni sinus
lactiferous dan duktus terminalis.
Tumor

ini

biasanya

soliter

dengan diametemya 2-3 cm Hampir


90% dari Papilloma Intraduktus adalah
dan tipe soliter. Papilloma Intraduktus
soliter sering timbul pada duktus
laktiferus dan hampir 70% dari pasien
datang dengan nipple discharge yang
serous dan bercampur darah. Ada juga
pasien yang datang dengan keluhan massa pada area subareola walaupun massa ini lebih
sering ditemukan pada pemeriksaan fisik. Massa yang teraba sebenarnya adalah duktus yang
berdilatasi. Apabila fibroadenoma ini tidak diterapi, kebanyakan akan berkembang secara
25

perlahan dari 1 cm menjadi 3 cm dalam jangka waktu 5 tahun. Fase aktif perkembangannya
adalah antara 6 sampai 12 bulan dimana ukurannya bisa berganda dari asal. Setelah itu, massa
ini akan menjadi statik dan pada hampir 1/3 kasus, massa ini akan menjadi semakin kecil.
4. Tumor Filoides
Tumor Filoides merupakan suatu neoplasma jinak yang menyusup secara lokal dan
mungkin dapat menjadi suatu keganasan. Pertumbuhannya cepat dan dapat ditemukan dalam
ukuran besar. Tumor ini kebanyakan terdapat pada usia sekitar 45 tahun. Penatalaksaan pada
tumor ini adalah dengan eksisi luas. Bila tumor sudah sangat besar biasanya diperlukan
tindakan mastektomi simpleks. Bila tumor ternyata ganas, harus dilakukan mastektomi
radikal.
5. Mastitis sel Plasma
Mastitis dibegi menjadi tigajenis,
1. Mastitis periductal, sering muncul pada wanita menjelang menopause. Terjadi pelebaran
saluran yang diakibatkan oleh sumbatan yang berupa jaringan mati dan air susu.
2. Mastitis puerpuralis, muncul pada wanita hamil dan sesudah melahirkan. Terjadi akibat
terinfeksinya air susu oleh bakteri Staphylococcus aureus.
3. Mastitis supurativa

6. Nekrosis lemak
Nekrosis lemak biasanya disebabkan akibat cedera, berupa massa keras yang sering agak
nyeri, namun tidak membesar. Kadang terdapat retraksi kulit dan batasnya tidak rata. Secara
26

klinis kelainan ini sulit dibedakan dengan karsinoma. Secara histopatologis terdapat jaringan
lemak yang mengalami fibrosis.

27

VI.

TUMOR GANAS PAYUDARA (3,4,5,6)


a. Insiden
Menurut

payudara

penelitian,

menempati

urutan

kanker
ke

dua

penyebab kematian pada wanita setelah


kanker mulut rahim.
Kurva insiden-umur bergerak naik

sejak

usia 30 tahun. Kanker ini jarang ditemukan

pada

wanita usia dibawah 20 tahun. Angka


tertinggi terdapat pada usia 45-60 tahun.

b. Etiologi dan Faktor Resiko (3,4)


Sejauh ini belum diketahui etiologi pasti dari kanker payudara, namun ada beberapa
faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya kanker payudara:

Riwayat keluarga
Terdapat resiko peningkatan keganasan pada wanita yang dalam keluarganya (ibu, nenek
atau saudara perempuannya) menderita kanker payudara.

Hormon
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan dan Harvard
School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker payudara yang
signifikan pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu metaanalisis
menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna
kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai
risiko tinggi untuk mengalami kanker payudara sebelum menopause. Sel-sel yang
sensitive terhadap rangsangan hormonal mungkin mengalami perubahan degenerasi jinak
atau menjadi ganas.

Usia
Sekitar 60% kanker payudara terjadi di usia 60 tahun. Resiko terbesar usia 75 tahun.

Reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker payudara
adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan
28

kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya
umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan
pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara. Secara anatomi
dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur.

Diet
Kelebihan berat badan atau obesitas ditemukan dapat meningkatkan resiko terkena kanker
payudara, terutama bagi perempuan paska menopause. Sebelum menopause, ovarium
Anda menghasilkan sebagian besar estrogen. Setelah menopause, sebagian besar estrogen
wanita berasal dari jaringan lemak. Memiliki jaringan lemak berlebihan setelah
menopause dapat meningkatkan probabilitas Anda terkena kanker payudara akibat tingkat
estrogen.

Radiasi:
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan terjadinya
risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa
risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya
eksposur.
c. Patofisiologi (3,4,5)
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-se! normal dalam suatu proses rumit yang disebut

transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi.


Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing
sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen yang
disebut yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. Tetapi
tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kelainan genetik
dalam sel atau bahan lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap
suatu karsinogen. Bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih peka
untuk mengalami suatu keganasan.
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi sel
ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh dalam tahap promosi,
karena diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan, yaitu gabungan dari sel-sel
yang peka dan suatu karsinogen.
d. Klasifikasi (3,4)
Berdasarkan WHO Histological Classification of breast tumor, kanker payudara
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Non-invasif karsinoma
29

Non-invasif duktal karsinoma

Lobular karsinoma in situ

2. Invasif karsinoma
o

Invasif duktal karsinoma

Papilobular karsinoma Solid-tubular karsinoma

Scirrhous karsinoma

Special types

Mucinous karsinoma

Medulare karsinoma

Invasif lobular karsinoma

Adenoid cystic karsinoma

karsinoma sel squamos

karsinoma sel spindel

Apocrin karsinoma

Karsinoma dengan metaplasia kartilago atau osseus metaplasia

Tubular karsinoma

Sekretori karsinoma

3. Pagets Disease
Penyakit Paget puting susu (mammary pagets) adalah suatu lesi eritematosa berbatas
disertai skuama yang menunjukkan adanya karsinoma saluran kelenjar lapisan dalam
payudara. Gejala awal yang sering adalah gatal atau rasa terbakar pada puting disertai erosi
permukaan atau ulkus. Diagnosa ditegakkan dengan biopsi pada daerah erosi. Sering lesi
didiagnosis dan ditangani sebagai dermatitis atau infeksi bakteri. Sir James Paget 15 kasus
ulkus puting susu kronik pada tahun 1874. Ia menemukan adanya warna muda terang pada
permukaan ulkus yang terlihat seperti eksim kulit difus yang akut mengemukakan bahwa
adanya iritasi kronik merupakan salah satu diagnosis keganasan pada wanita dengan 2 tahun
menderita tumor payudara. Keadaan pada kasus yang jarang ini dinamakan Pagets disease.
Kejadian Pagets disease dilaporkan sekitar I %-3% dari keganasan payudara. Gambaran
klasik histologi ditemukan pada epidermis puting susu dan areola mamma.
e. Stadium (3,4)
Stadium penyakit kanker adalah suatu keadaan dari hasil penilaian saat mendiagnosis
suatu penyakit kanker yang diderita pasiennya, sudah sejauh manakah tingkat penyebaran
kanker tersebut baik ke organ atau jaringan sekitar maupun penyebaran ketempat lain.
30

Stadium hanya dikenal pada tumor ganas atau kanker dan tidak ada pada tumor jinak.
Untuk menentukan suatu stadium, harus dilakukan pemeriksaan klinis dan ditunjang dengan
pemeriksaan penunjang lain. Banyak sekali cara untuk menentukan stadium, namun yang
paling banyak dianut saat ini adalah stadium kanker berdasarkan klasifikasi sistem TNM
yang direkomendasikan oleh UICC (International Union Against Cancer dan World Health
Organization)/AJCC (American Joint Committee On cancer yang disponsori oleh American
Cancer Society dan American College of Surgeons).
STADIUM 0
Disebut juga Non-invasive Cancer. Yaitu kanker tidak menyebar keluar dari pembuluh
/ saluran payudara dan kelenjar-kelenjar (lobules) susu pada payudara. Dalam stadium ini
dibagi menjadi 2:
1. Ductal carcinoma in situ : tipe kanker payudara non-invasive paling umum> pada DCIS,
kanker berada di dalam duktus dan belum menyebar ke dinding duktus ke jaringan
payudara sekitarnya.
2. Lobular carcinoma in situ : terdapat pada kelenjar yang memproduksi air susu, namun
tidak berkembang melewati dinding lobules.
STADIUM I
Tumor masih sangat kecil dan tidak
menyebar serta tidak ada titik pada pembuluh
getah bening
STADIUM II a:
Pasien pada kondisi ini:

Diameter tumor 2 cm dan telah ditemukan


pada titik-titik pada saluran getah bening di
ketiak (axillary 11mph nodes)

Diameter tumor 2 5 cm. Belum menyebar ke


titik-titik pembuluh getah bening pada ketiak.

Tidak ada tanda-tanda tumor pada payudara., tapi ditemukan pada titik-titik di pembuluh
getah bening ketiak.

31

STADIUM IIB:
Pasien pada kondisi ini:
1. Diameter tumor 2 - 5 cm. Telah menyebar pada titik-titik di pembuluh getah bening
ketiak.
2. Diameter tumor lebih lebar dari 5 cm tapi belum menyebar.

STADIUM III A:
Pasien pada kondisi ini:

Diameter tumor lebih kecil dari 5 cm dan telah menyebar ke titik-titik pada pembuluh
getah ketiak.

Diameter tumor lebih besar dari 5 cm dan telah menyebar ke titik-titik pada pembuluh
getah bening ketiak.

32

STADIUM III B:
Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa juga luka
bemanah di payudara. Atau didiagnosis sebagai Inflammatory Breast Cancer. Bisa sudah atau
bisajuga belum menyebar ke titik-titik pada pembuluh getah bening di ketiak dan lengan atas,
tapi tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh.

STADIUM IIIC:
Sebagaimana stadium IIIB, tetapi telah menyebar ke titik-titik pada pembuluh getah bening
dalam group N3 (Kanker telah menyebar lebih dari 10 titik disaluran getah bening dibawah
tulang selangka).

33

STADIUM IV:
Ukuran tumor bisa berapa saja, tetapi telah menyebar ke lokasi yang jauh, yaitu:
Tulang, paru-paru, liver.

Pada sistem TNM


TNM merupakan singkatan dan Tt yaitu tumor size atau ukuran tumor, N yaitu
atau kelenjar getah bening regional dan M yaitu metastasis atau penyebaran jauh. Ketiga
faktor T, N, dan M dinilai baik secara klinis sebelum dilakukan operasi, juga sesudah operasi
dan dilakukan pemeriksaan histopatologi (PA). Pada kanker payudara, peniiaian TNM
sebagai berikut:

T (tumor size), ukuran tumor:


o

T 0: tidak ditemukan tumor primer

T 1: ukuran tumor diameter 2 cm atau kurang

T 2: ukuran tumor diameter antara 2-5 cm

T 3: ukuran tumor diameter> 5 cm

34

T 4: ukuran tumor berapa saja, tetapi sudah ada penyebaran ke kulit atau dinding dada
atau pada keduanya, dapat berupa borok, edema atau bengkak, kulit payudara
kemerahan atau ada benjolan kecil di kulit di luar tumor utama

N (node), kelenjar getah bening regional (kgb):


o

N 0: tidak terdapat metastasis pada kgb regional di ketiaklaksilla

N I: ada metastasis ke kgb aksilla yang masih dapat digerakkan

N 2: ada metastasis ke kgb aksilla yang sulit digerakkan

N 3: ada metastasis ke kgb di atas tulang selangka (supraclavicula) atau pada kgb di
mammary interna di dekat tulang sternum

M (metastasis), penyebaran jauh:


o

M x: metastasis jauh belum dapat dinilai

M 0: tidak terdapat metastasis jauh

M I: terdapat metastasis jauh


Setelah masing-masing faktor T, N, dan M didapatkan, ketiga faktor tersebut

kemudian digabung dan akan diperoleh stadium kanker sebagai berikut:

Stadium 0: TO NO MO

Stadium 1: T1 NO MO

Stadium II A: TO N1 MO/T1 N1 MO/T2 NO MO

Stadium II B: T2 NI MO / T3 NO MO

Stadium III A: TO N2 MO/T1 N2 MO/T2 N2 MO/T3 N1 MO/T2 N2 MO

Stadium Ill B: T4 NO MO/T4 N1 MO/T4 N2 MO

Stadium III C: Tiap T N3 MO

Stadium IV: Tiap T-Tiap N-M1

Menurut American joint committee dalam kaitanya stadium klinik karsinoma mamma
kaitan dengan daya hidup yaitu:
Stadium klinik
Daya hidup
Stadium. I :Garis tengah tumor < 2cm nodus (-), tidak 85 %
metastase
Stadium II: garis tengah tumor < 5cm nodus (+), tidak 66 %
melekat, metastase (-)
Stadium III: Tumor> 5cm , tumor dengan ukuran 41 %
35

tertentu disertai dengan invasi kulit atau melekat pada


dinding dada., nodus pada supracivikular (+)
Stadium IV : Metastase jauh

10%

f. Gejala Minis
Gejala klinis kanker payudara dapat berupa:
1.

Benjolan pada payudara


Umumnya berupa benjolan yang tidak ncri pada payudara. Benjolan itu mulamula

kecil, semakin lama akan semakin besar, lalu melekat pada kulit atau menimbulkan
perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu.
2.

Erosi atau eksema puting susu


Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwama merah

muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit
jeruk (peau dorange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu
semakin lama akan semakin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan
payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah. Ciri-ciri lainnya antara lain:

Pendarahan pada puting susu.

Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul apabila tumor sudah besar, sudah
timbul borok, atau bila sudah muncul metastase ke tulang-tulang.

Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (edema) pada
lengan, dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh.

3.

Nipple discharge
Nipple discharge adalah keluarnya cairan dari puting susu secara spontan dan

tidak normal. Cairan tersebut normal apabila terjadi saat kehamilan, menyusui atau saat
mengkonsumsi pil kontrasepsi. Wanita harus waspada bila dari puting susunya keluar
cairan darah, cairan encer dengan warna merah atau coklat, keluar sendiri tanpa harus
memijat puting susu, berlangsung terus-menerus, hanya pada satu payudara dan cairan
selain air susu.
Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali dengan mengetahui kriteria
operbilitas Heagensen sebagai berikut:

terdapat edema luas pada kulit payudara (lebih 1/3 luas kulit payudara);

adanya nodul satelit pada kulit payudara;


36

kanker payudara jenis mastitis karsinimatosa;

terdapat model parasternal;

terdapat nodul suprakiavikula;

adanya edema lengan;

adanya metastasejauh;

serta terdapat dua dari tanda-tanda locally advanced, yaitu ulserasi kulit, edema kulit,
kulit terfiksasi pada dinding toraks, kelenjar getah bening aksila berdiameter lebih 2,5
cm, dan kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain

g. Pemeriksaan Penunjang
1. Mammografi
Mammografi adalah pemeriksaan yang menggunakan sinar X dengan dosis yang
rendah untuk menemukan kanker payudara sedini mungkin. Dengan mammografi dapat
ditemukan benjolan yang sangat kecil sekalipun. Tanda berupa mikrokalsifikasi tidak khas
untuk kanker. Bila secara klinis dicurigai ada tumor dan pada mammografi tidak ditemukan
apa-apa, pemeriksaan harus dilanjutkan dengan biopsy, sebab karsinoma sering tidak tampak
pada mammogram. Selain itu apabila pada mammografi positif namun klinis tidak terdapat
tumor, pemeriksaan biopsy harus tetap dilakukan pada daerah yang ditunjukkan oleh foto
tersebut.
2. USG
USG adalah tes yang baik digunakan bersama dengan mammografi, USG dapat
membantu membedakan antara kista dan massa padat pada payudara.
3. Biopsi
Biopsi dilakukan apabila tes lain menunjukkan indikasi kuat terdapatnya kanker
payudara. Biopsy ada beberapa jenis:
a. Fine Needle Aspiration Biopsy, cairan atau jaringan dikeluarkan dan benjolan jarum halus
kemudian di petiksa oleh ahli patologi anatomi
b. Core Needle Biopsy, jarum yang digunakan dalam biopsy ini lebih besar dan FNAB. Hal
ini digunakan untuk mengangkat satu atau lebih janingan inti.
h. Pengobatan (3,5,8)

37

Pengobatan kanker pada stadium dini akan member harapan kesembuhan dan harapan
hidup yang baik. Pada stadium I, II, dan awal stadium III stadium pengobatan adalah kuratif.
Pengobatan pada stadium I, II, dan IIIa adalah operasi primer, terapi lainnya hanya
bersifat ajuvant.
1. Pembedahan
a) Lumpektomi operasi ini hanya menghilangkan benjolan payudara dan beberapa
jaringan normal di sekitarnya. Pengobatan radiasi biasanya diberikan setelah operasi
jenis ini. Jika kemoterapi juga akan digunakan, radiasi dapat dinunda sampai
kemoterapi selesai. Jika ada kanker di batas tepi dari potongan jaringan yang telah
diangkat, ahli bedah mungkin perlu kembali dan mengambil lebih banyak jaringan.
b) Mastekiomi Parsial (segmental) atau quadrantectomy: operasi/pembedahan ini
menghapus lebih dari jaringan payudara yang dilakukan pada lumpektomi. Hal ini
biasanya diikuti dengan terapi radiasi. Tapi radiasi mungkin tertunda jika kemoterapi
juga akan diberikan.
c) Mastektomi : Mastektomi melibatkan mengangkat semua jaringan payudara,
kadangkadang jaringan terdekat lainnyajuga ikut diangkat.

Mastektomi Total atau Sederhana: Dalam operasi ini seluruh payudara diangkat,
tetapi tidak termasuk kelenjar getah bening di bawah lengan atau jaringan otot di
bawah payudara. Kadang-kadang kedua buah payudara diangkat, terutama bila
dilakukan mastektomi untuk mencegah terjadinya kanker.

Mastektomi radikal termodifikasi: Operasi ini melibatkan pengangkatan seluruh


payudara serta beberapa kelenjar getah bening di bawah lengan ini adalah operasi
yang paling umum untuk wanita dengan kanker payudara yang seluruh
payudaranya diangkat.

Mastektomi radikal: ini adalah operasi besar di mana ahli bedah menghapus
seluruh payudara, kelenjar getah bening di bawah ketiak (aksila) , dan otot dinding
dada di bawah. Operasi ini dulu sangat umum, tetapi jarang dilakukan sekarang
karena mastektomi radikal termodifikasi telah terbukti bekerja sama baiknya.
Namun operasi ini masih dapat dilakukan untuk tumor besar yang tumbuh ke
dalam otot di bawah payudara.

38

2. Radiasi
Penyinaran/radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan
menggunakan sinar X dan sinar Gamma yang bertujuan membunuli sel kanker yang masih
tersisa di payudara setelah operasi (Denton, 1996). Efek pengobatan ini tubuh menjadi lemah,
nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit
cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.
3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pembenian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair
atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Tidak hanya sel kanker
pada payudara, tapi juga di seluruh tubuh (Denton, 1996). Efek dari kemoterapi adalah pasien
mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang
diberikan pada saat kemoterapi.
4. Terapi Hormonal
Indikasi pembenian terapi hormonal adalah bila penyakit menjadi sistemik akibat
metastasis jauh. Terapi hormonal biasanya diberikan secara paliatif sebelum kemoterapi
karena efek terapinya lebih lama dan efek samping yang relatif sedikit. Tapi tidak semua
karsinoma mamma peka terhadap terapi hormonal. Kurang lebih 60% saja yang bereaksi
baik. Terapi hormonal paliatif dapat dilakukan pada penderita yang premenopause dengan
cara ovarektomi bilateral atau dengan pemberian antiestrogen.
i. Pencegahan (8,9,10)
Pada pninsipnya, strategi pencegahan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar,
yaitu pencegahan pada lingkungan, pada pejamu, dan milestone. Hampir setiap epidemiolog
sepakat bahwa pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit tidak menular adalah
promosi kesehatan dan deteksi dini. Begitu pula pada kanker payudara, pencegahan yang
dilakukan antara lain berupa:
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi
kesehatan karena dilakukan pada orang yang sehat melalui upaya menghindarkan diri dari
keterpaparan pada berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat. Pencegahan

39

primer ini juga bisa berupa pemeriksaan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) yang
dilakukan secara rutin sehingga bisa memperkecil faktor resiko terkena kanker payudara.
Sebaiknya pemeriksaan ini dilakukan pada saat pengaruh hormonal (progesterone dan
estrogen) seminimal mungkin, sekitar hari ke 5 10 setelah menstruasi.
Teknik SADARI (3):
1. Berdiri didepan cermin dengan bagian atas terbuka, perhatikan:

Ukuran, bentuk, warna payudara

Apakah ada kelainan payudara (perubahan putting, edema payudara, benjolan, retraksi
kulit atau eritema)

2. Kedua tangan diangkat keatas, telunjuk dan jempol diletakkan diantara putting, pencet
dengan lembut apakah ada secret yang keluar.
3. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan berbaring, gunakan tangan kanan untuk meraba
payudara kiri dan sebaliknya. Rasakan apakah ada benjolan, dapat digerakkan atau tidak,
apakah ada nyeri tekan.

2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena
kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki sikius haid normal merupakan
populasi at risk dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan
deteksi dini. Beberapa metode deteksi dini terus mengalami perkembangan. Skrining melalui
40

mammografi diklaim memiliki akurasi 90% dari semua penderita kanker payudara, tetapi
keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada wanita yang sehat merupakan salah satu
faktor risiko terjadinya kanker payudara. Karena itu, skrining dengan mammografi tetap
dapat dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan antara lain:

Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer risk
assessement survey.

Pada wanita dengan faktor risiko mendapat rujukan untuk dilakukan mammografi setiap
tahun.

Wanita normal mendapat rujukan mammografi setiap 2 tahun sampai mencapai usia 50
tahun.
Foster dan Constanta menemukan bahwa kematian oleh kanker payudara lebih sedikit

padawanita yang melakukan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)


dibandingkan yang tidak. Walaupun sensitivitas SADARI untuk mendeteksi kanker payudara
hanya 26%, bila dikombinasikan dengan mammografi maka sensitivitas mendeteksi secara
dini menjadi 75%.
3. Pencegahan tertier
Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita
kanker payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuai dengan
stadiumnya akan dapat mengurangi kecatatan dan memperpanjang harapan hidup penderita.
Pencegahan tertier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah
komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa operasi
walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap ketahanan hidup penderita. Bila kanker telah
jauh bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi dengan sitostatika. Pada stadium tertentu,
pengobatan yang diberikan hanya berupa simptomatik dan dianjurkan untuk mencari
pengobatan altematif.

41

Daftar Pustaka
1. De Jong Wim, Sjamsuhidajat R, Editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta.
Penerbit buku kedokteran EGC. 2005;p. 392.
2. Anderson Silvia, McCarty Lorraine, et al. Patofisiologi. Edisi VI. Jakarta. Penerbit
buku kedokteran EGC. 2006; p. 1302.
3. Sabiston C David jr. Buku Ajar Bedah. Edisi II. Jakarta. Penerbit buku kedokteran
EGC. 1995; p. 383-384.
4. Ramli HM; Kanker Payudara. Dalam : Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta.
Binarupa Aksara. 1995; p 342-62.
5. Benson Ralph C, Pernoll Martin L. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Edisi IX.
Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. 2009; p 487-91.

42