Anda di halaman 1dari 46

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) SOSIALISASI

DI RUANG KUTILANG
RUMAH SAKIT JIWA DR. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG

OLEH:
SARDI MUHAMAD
WAHYUNI JAYANTI
RIKA DWI FATMAWATI
ANITA FEBRIANTI
NOVI SUSANTI

135070209111013
135070209111015
135070209111011
135070209111016
135070209111019

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

LEMBAR PENGESAHAN
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) SOSIALISASI
Tempat Praktik : Ruang Kutilang
RSJ .Dr.Radjiman Wedyodiningrat, Lawang - Malang
Tanggal Praktik : 09 - 21 November 2015
Diajukan untuk Memenuhi Kompetensi Praktek Profesi Departemen Keperawatan Jiwa
Oleh:
Sardi Muhamad
Wahyuni Jayanti
Rika Dwi Fatmawati
Anita Febrianti
Novi Susanti

135070209111013
135070209111015
135070209111011
135070209111016
135070209111019

Mengetahui,
Perseptor Akademik

Perseptor Klinik Ruang Kutilang

Ns. Lilik Supriati, S.Kep,Mkep


NIP. 19830505 201012 2 006

Ns. Safi'i, S.Kep


NIP. 19701105 199203 1 002

Kepala Ruang Kutilang

A. Khoiro IM, S.ST


NIP. 19621120 198603 1 003

KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
karunia-Nya kelompok kami dapat menyelesaikan proposal Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
sosialisasi. Proposal ini disusun untuk memenuhi tugas profesi departemen keperawatan
jiwa.
Atas segala bimbingan dan bantuan yang diberikan dari berbagai pihak tersebut,
maka penulis mengucap terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. dr. Kusworini., M.Kes., Sp.PK selaku Ketua Jurusan Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.
2. Ns. Lilik Supriati, S.Kep, Mkep selaku dosen pembimbing dalam asuhan
keperawatan jiwa.
3. Direktur RSJ .Dr.Radjiman Wedyodiningrat, Lawang yang telah memberikan ijin
untuk praktik profesi keperawatan jiwa.
4. A. Khoiro IM, S.ST selaku kepala ruang kutilang RSJ .Dr.Radjiman Wedyodiningrat,
Lawang yang telah memberikan ijin untuk praktik profesi keperawatan jiwa.
5. Ns. Safi'i, S.Kep

selaku pembimbing klinik di ruang kutilang. yang telah

membimbing dan memberikan masukan dalam pembuatan TAK.


6. Anggota Kelompok 2 Profesi Program B angkatan 2013 yang telah berperan aktif
dalam penyelesaian dan pelaksanaan TAK ini mulai awal sampai akhir.
Akhirnya kelompok menyadari bahwa proposal terapi aktivitas kelompok sosialisasi
ini ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis menerima kritik maupun saran guna
menyempurnakan proposal ini.

Malang,

November 2015

Kelompok 2

DAFTAR ISI

Halaman
Judul.........................................................................................................

Halaman Pengesahan...............................................................................

ii

Kata Pengantar.........................................................................................

iii

Daftar Isi....................................................................................................

iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.....................................................................................
1.2 Tujuan...................................................................................................
1.2.1 Tujuan Umum..............................................................................
1.2.2 Tujuan Khusus.............................................................................
1.3 Manfaat ...............................................................................................

1
1
1
1
2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Isolasi Sosial.........................................................................................
2.1.1 Definisi.........................................................................................
2.1.2 Karakteristik.................................................................................
2.1.3 Proses Keperawatan...................................................................
2.1.4 Diagnosa Keperawatan................................................................
2.1.3 Tindakan Keperawatan...............................................................

3
3
3
4
7
8

2.2 Terapi Aktivitas Kelompok..................................................................... 8


2.2.1 Definisi Kelompok........................................................................ 9
2.2.2 Tujuan dan Definisi Kelompok..................................................... 10
2.2.3 Jenis Terapi kelompok................................................................. 10
2.3 Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi................................................... 11
BAB 3 PELAKSANAAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI
3.1
3.2
3.3
3.4

Aktivitas dan Indikasi............................................................................


Tugas dan Wewenang..........................................................................
Peraturan Kegiatan...............................................................................
Tehnik Pelaksanaan..............................................................................

12
12
13
14

BAB 5 PENUTUP ....................................................................................... 40


DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 41

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dari studi pendahuluan dan pengkajian yang telah kelompok lakukan, didapatkan data

bahwa masalah terbanyak yang terdapat di

Ruang Kenari adalah menarik diri. Pasien

dengan menarik diri baik sebagai core problem ataupun sebagai masalah tambahan dari
harga diri rendah adalah sebesar 38% dari 32 pasien. Hal ini mendorong kelompok untuk
melakukan terapi aktivitas kelompok (TAK) yang merupakan salah satu terapi modalitas
keperawatan untuk mendukung dan mengoptimalkan Strategi Pelaksanaan

yang telah

dilakukan oleh perawat.


Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) merupakan terapi modalitas yang ditujukan pada
kelompok klien dengan masalah yang sama, yang dalam hal ini adalah isolasi sosial. Terapi
modalitas ini merupakan terapi yang dikembangkan pada kelompok klien yang merupakan
tanda bahwa asuhan keperawatan jiwa adalah asuhan keperawatan spesialistik namun
tetap holistik.
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu bentuk kegiatan terapi psikologik
yang dilakukan dalam sebuah aktivitas dan diselenggarakan secara kolektif dalam rangka
pencapaian penyesuaian psikologis, perilaku dan pencapaian adaptasi optimal pasien.
Dalam kegiatan aktivitas kelompok; tujuan ditetapkan berdasarkan kebutuhan dan masalah
yang dihadapi oleh sebagian besar klien dan sedikit banyak dapat diatasi dengan
pendekatan terapi aktivitas kolektif.
Terapi aktivitas kelompok yang ditujukan untuk masalah dalam interaksi sosial adalah
Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi. Terapi aktivitas kelompok (TAK) sosialisasi
merupakan upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi klien dengan masalah hubungan
sosial. Sehingga klien diharapkan mampu berinteraksi dan meningkatkan aspek positif
dirinya. Berbagai penelitian telah dilakukan terhadap TAK Sosialisasi, menunjukkan bahwa
TAK sosialisasi memberi dampak pada kemampuan klien dalam bersosialisasi. Sehingga
pada proposal ini kelompok berkeinginan mengajukan TAK sosialisasi untuk klien dengan
Isolasi Sosial sebagai terapi modalitas untuk mengurangi hambatan interaksi sosial pada
klien dengan Menarik Diri di Ruang Kutilang.
1.2

Tujuan
Tujuan umum TAK sosialisasi yaitu klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam

kelompok secara bertahap. Sementara, tujuan khususnya adalah:


1.

Klien mampu memperkenalkan diri

2.

Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok

3.

Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok

4.

Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topik percakapan

5.

Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada orang lain

6.

Klien mampu bekerjasama dalam permainan sosialisasi kelompok

7.

Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAKS yang telah
dilakukan

1.3
1.3.1

Manfaat
Manfaat Bagi Klien

Sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan klien dengan menarik diri


untuk berinteraksi dengan orang lain dalam kelompok secara bertahap

1.3.2

Sebagai jembatan klien untuk mendapatkan teman dalam memulai interaksi

Manfaat Bagi Terapis

Sebagai upaya untuk memberikan asuhan keperawatan jiwa secara holistik

Sebagai terapi modalitas yang dapat dipilih untuk mengoptimalkan Strategi


Pelaksanaan dalam implementasi rencana tindakan keperawatan klien

1.3.3

Manfaat Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai informasi untuk pihak akademisi,

pengelola dan sebagai bahan

kepustakaan, khususnya bagi mahasiswa PSIK sebagai aplikasi dari


pelayanan Mental Health Nurse yang optimal pada klien dengan Isolasi
Sosial.
1.3.4

Manfaat Bagi Rumah Sakit Jiwa Radjiman Widyoningrat

Sebagai masukkan dalam implementasi asuhan keperawatan yang holistik


pada pasien dengan isolasi sosial pada khususnya, sehingga diharapkan
keberhasilan terapi lebih optimal dan waktu rawat lebih singkat.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Isolasi Sosial
2.1. 1 Definisi
Manusia adalah makhluk sosial. Untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan
harus membina hubungan interpersonal yang positif. Bila dalam hubungan interpersonal
yang dimiliki individu kurang maka seseorang akan menarik dirinya dari lingkungan
sekitar (Stuart dan Sundeen, 1998). Menarik diri adalah suatu keadaan pasien yang
mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau
dengan lingkungan disekitarnya secara wajar dan hidup pada khayalan sendiri yang
tidak realistik. Pada pasien dengan perilaku menarik diri sering melakukan kegiatan
yang ditujukan untuk mencapai pemuasan diri, dimana pasien melakukan usaha untuk
melindungi diri sehingga ia jadi pasif dan berkepribadian kaku, pasien menarik diri juga
melakukan pembatasan (isolasi diri), termasuk juga kehidupan emosionalnya, semakin
sering

pasien

menarik

diri,

semakin

banyak

kesulitan

yang

dialami

dalam

mengembangkan hubungan sosial dan emosional dengan orang lain (Nasution, 2004).
2.1. 2 Karakteristik
Karakteristik pada klien dengan menarik diri adalah sikap yang diperlihatkan
kurang sopan, apatis, ekspresi wajah kurang berseri, afek tumpul, tidak merawat dan
memperhatikan kebersihan diri, komunikasi verbal menurun atau tidak ada, mengisolasi
diri, kurang sadar dengan lingkungan sekitar, pemasukan makan dan minuman
terganggu, aktivitas menurun, kurang energik (tenaga), harga diri rendah, dan menolak
berhubungan dengan orang lain.
Menurut buku panduan diagnosa keperawatan NANDA (2005), isolasi sosial
memiliki batasan karakteristik meliputi:
Obyektif
a. Tidak ada dukungan dari orang yang penting (keluarga, teman, kelompok).
b. Perilaku bermusuhan.
c. Menarik diri.
d. Tidak komunikatif.
e. Menunjukkan perilaku tidak diterima oleh kelompok kultural dominan.
f.

Mencari kesendirian atau merasa diakui di dalam sub kultur.

g. Senang dengan pikirannya sendiri.


h. Kontak mata tidak ada.

i.

Aktivitas tidak sesuai dengan umur perkembangan.

j.

Keterbatasan fisik, mental,atau perubahan keadaan sejahtera.

k. Sedih, efek tumpul.


Subyektif
a. Mengekpresikan perasaan kesendirian.
b. Mengekpresikan perasaan penolakan.
c. Minat tidak sesuai dengan umur perkembangan.
d. Tujuan hidup tidak ada atau tidak adekuat.
e. Tidak mampu memenuhi harapan orang lain.
f.

Ekspresi permintaan tidak sesuai dengan umur perkembangan.

g. Perubahan penampilan fisik.


h. Tidak merasa aman di masyarakat.
2.1. 3 Proses Keperawatan
Pengkajian meliputi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap
kecemasan, sumber koping dan mekanisme koping. Pengkajian meliputi:
1. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi merupakan sifat dasar dan faktor resiko yang akan
mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dibangkitkan oleh individu dalam
menghadapi stresor. Faktor-faktor tersebut dibagi dalam 3 aspek yaitu biologis,
psikologis dan sosial budaya. Berikut penjabaran masing-masing aspek tersebut
meliputi:
Biologis
Faktor biologis merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan
dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya
gangguan hubungan sosial adalah otak. Misalnya pada klien skizofrenia yang
mengalami masalah dalam hubungan sosial, memiliki struktur yang abnormal
pada otak serta perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbik dan daerah

kortikal (Fitria, 2009).


Psikologis
Aspek psikologis yang perlu dikaji adalah Riwayat tahap tumbuh kembang
klien. Pada setiap tahap tumbuh kembang individu terdapat tugas perkembangan
yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Bila
tugas perkembangan ini tidak terpenuhi maka akan menghambat fase
perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah.
Tahap Perkembangan
Masa Bayi
Masa Bermain

Tugas
Menetapkan rasa percaya
Mengembangkan otonomi dan awal perilaku
7

mandiri
Masa Prasekolah
Belajar menunjukkan inisiatif, rasa tanggung
jawab dan hati nurani
Masa Sekolah
Belajar berkompetisi, bekerjasama dan
berkompromi
Masa Praremaja
Menjalin hubungan intim dengan teman sesama
jenis kelamin
Masa Remaja
Menjadi intim dengan teman lawan jenis atau
bergantung pada orang tua
Masa Dewasa Muda
Menjadi saling bergantung antara orangtua dan
teman, mencari pasangan, menikah dan
mempunyai anak.
Masa Tengah Baya
Belajar menerima hasil kehidupan yang sudah
dilalui
Masa Dewasa Tua
Berduka karena kehilangan dan
mengembangkan perasaan keterikatan dengan
budaya
Sumber: Stuart & Sundeen (1995)
Sosial Budaya
Isolasi sosial atau menarik diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor
pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh
norma-norma yang salah dan dianut keluarga, dimana setiap anggota keluarga
yang tidak produktif seperti lanjut usia, berpenyakit kronis atau penyandang cacat
akan diasingkan dari lingkungannya.
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung
terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk
masalah dalam berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan yaitu suatu
keadaan dimana seseorang anggota keluarga menerima pesan yang saling
bertentangan dalam waktu yang bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi
dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar
keluarga.
2. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi merupakan penyebab langsung yang dapat memicu munculnya
isolasi sosial, dengan rentang maksimal 3 bulan sebelum masalah kesehatan
muncul.
Sifat stresor
Terdiri dari 4 aspek

yaitu biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Isolasi

sosial yang bersifat biologis misalnya isolasi sosial yang diakibatkan adanya
gangguan pada otak, misalnya pada klien dengan skizofrenia. Isolasi sosial yang
bersifat psikologis mungkin dapat muncul akibat adanya gangguan pemenuhan
tugas perkembangan saat ini maupun sebelumnya. Isolasi sosial yang bersifat
sosial berarti ada keterkaitannya dengan hubungan klien dengan teman, keluarga,
dan masyarakat lain. Misalnya pada pasien HIV yang merasa tidak akan diterima
keluarga dan masyarakat, sehingga ia memilih untuk mengasingkan diri dari
9

lingkungan. Bersifat spritual dapat muncul pada klien yang merasa Tuhan sedang

melupakannya disaat klien mendapat masalah yang berat (Fitria, 2009).


Asal stresor
o
Eksternal
: stressor sosial budaya
o
Internal
: stressor psikologis, yaitu stress yang terjadi
akibat kecemasan yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan
keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat
terjadi

akibat

tuntutan

untuk

berpisah

dengan

orang

terdekat

atau

terpenuhinya kebutuhan individu.


Waktu
Yang perlu dikaji antara lain lamanya klien mengalami isolasi sosial dan

frekwensi terjadinya isolasi sosial.


Jumlah
Pengkajian mengenai kuantitas isolasi sosial yang dialami klien dalam satu
periode.

3. Penilaian terhadap Stresor


Penilaian stresor merupakan bagian dari pengkajian keperawatan untuk
mengidentifikasi tingkat stres. Komponen dalam penilaian stresor ada lima, yaitu
perilaku, sosial, kognitif, afektif, dan fisiologis.
Perilaku
o Komunikasi verbal berkurang atau hilang sepenuhnya.
o Kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya.
o Penurunan aktifitas.
o Perubahan postur tubuh.
Sosial
o Menarik diri
o Menghindar
Kognitif
o Produktifitas menurun
o Bingung
o Obyektifitas menghilang
Afektif
o Rendah diri
o Apatis
Fisiologis
o
Terjadi penurunan reflek dan tidak spontan

pada

sistem

neuromuskuler.
Penurunan nafsu makan, kurangnya nutrisi, serta retensi feses pada

sistem gastrointestinal.
Terjadi retensi urine pada saluran kemih.

4. Sumber Koping
Sumber koping dapat berasal dari kemampuan personal, aset materi,
keyakinan positif, dan dukungan sosial. Kemampuan personal merupakan suatu
keterampilan yang dimiliki klien. Aset materi dapat dilihat dari ada tidaknya modal
11

ekonomi yang dimiliki klien. Keyakinan positif merupakan teknik pertahanan dan
motivasi klien. Ini merupakan faktor penting yang harus dikaji perawat yang dapat
menentukan berhasil atau tdaknya terapi yang akan diberikan. Yang terakhir adalah
adanya dukungan sosial, dukungan emosional dan bantuan yang didapatkan untuk
penyelesaian tugas.
5. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang digunakan klien untuk mengatasi stressor, baik yang
berorientasi pada tugas maupun mekanisme pertahanan ego.
Reaksi yang berorientasi pada tugas (Task Oriented Reaction).
Merupakan pemecahan masalah secara sadar yang digunakan untuk
menanggulangi ancaman stressor yang ada secara realistis, yaitu: perilaku

menyerang, menarik diri dan kompromi.


Mekanisme pertahanan Ego (Ego Oriented Reaction)
Mekanisme ini digunakan untuk melindungi diri dan dilakukan secara sadar
atau tidak sadar untuk mempertahankan keseimbangan. Misalnya rasionalisasi,
kompensasi, disosiasi, isolasi dan lain-lain.

2.1. 4 Diagnosa Keperawatan


Berdasarkan penilaian stressor pada tahap pengkajian, didapatkan data objektif
dan subjektif mengenai tanda dan gejala yang menunjang ditegakkannya diagnosa
keperawatan sehingga diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan menarik
diri adalah Isolasi Sosial (Fitria, 2009).
2.1. 5

Tindakan Keperawatan

1. Tindakan keperawatan untuk pasien


a. Tujuan:
Setelah tindakan keperawatan, pasien mampu
1) Menyadari penyebab isolasi sosial
2) Berinteraksi dengan orang lain
b. Tindakan:
1) Membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial
Langkah-langkah untuk melaksanakan tindakan ini adalah sebagai berikut:

Menanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi


dengan orang lain

Menanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin


berinteraksi dengan orang lain

2) Membantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dengan orang lain

13

Dilakukan dengan cara mendiskusikan keuntungan bila pasien memiliki


banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka
3) Membantu pasien mengenal kerugian tidak berhubungan dengan orang
lain
Dilakukan dengan cara:

Mendiskusikan kerugian bila pasien hanya mengurung diri dan


tidak bergaul dengan orang lain

Menjelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik


pasien

4) Membantu pasien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap


Secara rinci tahapan melatih pasien berinteraksi sebagai berikut:

Beri kesempatan pasien mempraktekkan cara berinteraksi dengan orang


lain yang dilakukan di hadapan perawat

Mulai membantu pasien berinteraksi dengan satu orang (pasien, perawat


atau keluarga)

Bila pasien sudah menunjukkan kemajuan, meningkatkan jumlah interaksi


dengan dua, tiga, empat orang dan seterusnya.

Memberi pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh
pasien

Mendengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan


orang lain. Mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau
kegagalannya. Memberi dorongan terus menerus agar pasien tetap
semangat meningkatkan interaksinya.

2. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga


a. Tujuan:
Setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat pasien isolasi sosial
b. Tindakan:
Melatih Keluarga Merawat Pasien Isolasi sosial
Tahapan melatih keluarga agar mampu merawat pasien isolasi sosial di rumah
meliputi:
1) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2) Menjelaskan tentang:

Masalah isolasi sosial dan dampaknya pada pasien

Penyebab isolasi sosial

Cara-cara merawat pasien dengan isolasi sosial, antara lain:


15

Membina hubungan saling percaya dengan pasien dengan cara


bersikap peduli dan tidak ingkar janji

Memberikan semangat dan dorongan kepada pasien untuk bisa


melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain yaitu dengan
tidak mencela kondisi pasien dan memberikan pujian yang wajar

Tidak membiarkan pasien sendiri di rumah

Membuat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan pasien

3) Memperagakan cara merawat pasien dengan isolasi sosial


4) Membantu keluarga mempraktekkan cara merawat yang telah dipelajari,
mendiskusikan yang dihadapi
2.2 Terapi Aktivitas Kelompok
2.2.1 Definisi kelompok
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan 1 dengan yang
lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama (stuart dan Laraia, 2001).
Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus ditangani
sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif, kesamaan,
ketidaksamaan, kesukaan, dan menarik (Yolam, 1995 dalam stuart dan laraia, 2001).
Semua kondisi ini akan mempengaruhi dinamika kelompok, ketika anggota kelompok
memberi dan menerima umpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi
dalam kelompok.
2.2.2 Tujuan dan Fungsi Kelompok
Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang
lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif. Kekuatan kelompok ada
pada konstribusi dari setiap anggota dan pimpinan dalam mencapai tujuannya.
Kelompok berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman dan saling
membantu satu sama lain, untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. Kelompok
merupakan

laboraturium

tempat

untuk

mencoba

dan

menemukan

hubungan

interpersonal yang baik, serta mengembangkan perilaku yang adaptif. Anggota


kelompok merasa dimiliki, diakui, dan dihargai eksistensi nya oleh anggota kelompok
yang lain.
2.2.3 Jenis Terapi Kelompok
1. Terapi kelompok
Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam
rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu.
17

Fokus terapi kelompok adalah membuat sadar diri (self-awareness), peningkatan


hubungan interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya.
2. Kelompok terapeutik
Kelompok terapeutik membantu mengatasi stress emosi, penyakit fisik
krisis, tumbuh kembang, atau penyesuaian sosial, misalnya, kelompok wanita hamil
yang akan menjadi ibu, individu yang kehilangan, dan penyakit terminal. Banyak
kelompok terapeutik yang dikembangkan menjadi self-help-group. Tujuan dari
kelompok ini adalah sebagai berikut:
a. mencegah masalah kesehatan
b. mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok
c. mengingatkan kualitas kelompok. Antara anggota kelompok saling
membantu dalam menyelesaikan masalah.
3.

Terapi Aktivitas Kelompok


Wilson dan Kneisl (1992), menyatakan bahwa TAK adalah manual, rekreasi,
dan teknik kreatif untik menfasilitasi pengalaman seseorang serta meningkatkan
respon sosial dan harga diri. Aktivitas yang digunakan sebagai erapi didalam
kelompok yaitu membaca puisi, seni, musik, menari, dan literatur. Terapi aktivitas
kelompok dibagi menjadi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi
kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas
kelompok stimulasi realita, dan terpi aktivitas kelompok sosialisasi.
Terapi

aktivitas

kelompok

stimulasi

kognitif/persepsi

melatih

mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulud yang pernah dialami,


diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi
adaptif. Terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori digunakan sebagai stimulus
pada sensori klien. Terapi aktivitas kelompok orientasi realita melatih klien
mengorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar klien. Terapi aktivitas
kelompok sosialisasi untuk membantu klien melakukan sosialisasi dengan individu
yang ada disekitar klien.
2.3 Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi
Terapi aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS) adalah upaya memfasilitasi kemampuan
sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial.
Tujuan :
Tujuan umum TAKS yaitu klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok
secara bertahap. Sementara tujuan khususnya adalah
1. Klien mampu memperkenalkan diri
2. Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok
19

3. Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok


4. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topic percakapan
5. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada orang lain
6. Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok
7. Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAKS yang telah
dilakukan

21

BAB III
PELAKSANAAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI
3.1 Aktivitas Dan Indikasi
Aktivitas TAK sosialisasi dilakukan tujuh (7) aktivitas yang melatih kemampuan klien
dalam meningkatkan kemampuan klien dalam membina hubungan sosial secara bertahap
dalam 7 sesi. Klien yang mempunyai indikasi

TAK sosialisasi adalah klien dengan

gangguan sebagai berikut berikut:


1. Klien menarik diri yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal
2. Klien kerusakan komunikasi verbal yang telah berespon sesuai dengan stimulus
3.2 Tugas Dan Wewenang
1. Tugas Leader dan Co-Leader
-

Memimpin acara; menjelaskan tujuan dan hasil yang diharapkan.

Menjelaskan peraturan dan membuat kontrak dengan klien

Memberikan motivasi kepada klien

Mengarahkan acara dalam pencapaian tujuan

Memberikan reinforcemen positif terhadap klien

2. Tugas Fasilitator
-

Ikut serta dalam kegiatan kelompok

Memastikan lingkungan dan situasi aman dan kondusif bagi klien

Menghindarkan klien dari distraksi selama kegiatan berlangsung

Memberikan stimulus/motivasi pada klien lain untuk berpartisipasi aktif

Memberikan reinforcemen terhadap keberhasilan klien lainnya

Membantu melakukan evaluasi hasil

3. Tugas Observer
-

Mengamati dan mencatat respon klien

Mencatat jalannya aktivitas terapi

Melakukan evaluasi hasil

Melakukan evaluasi pada organisasi yang telah dibentuk (leader, co leader, dan
fasilitator)

4. Tugas Klien
-

Mengikuti seluruh kegiatan

Berperan aktif dalam kegiatan

Mengikuti proses evaluasi

23

3.3 Peraturan Kegiatan


1. Klien diharapkan mengikuti seluruh acara dari awal hinggga akhir
2. Klien tidak boleh berbicara bila belum diberi kesempatan; perserta tidak boleh
memotong pembicaraan orang lain
3. Klien dilarang meninggalkan ruangan bila acara belum selesai dilaksanakan
4. Klien yang tidak mematuhi peraturan akan diberi sanksi :
-

Peringatan lisan

Dihukum : Menyanyi, Menari, atau Menggambar

Diharapkan berdiri dibelakang pemimpin selama lima menit

Dikeluarkan dari ruangan/kelompok

25

3.4 Teknik Pelaksanaan


TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI SESI 1
Tema

: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi

Sasaran

: Pasien gangguan jiwa dengan isolasi sosial

Hari/ tanggal : Jum'at, 13 November 2015


Waktu

: 09.00 WIB

Tempat

: Di Halaman Depan Ruang Kutilang RSJ Dr. Radjiman


Wediodiningrat Lawang

Terapis:
1. Leader

: Sardi Muhamad

2. Co Leader

: Rika Dwi Fatmawati

3. Fasilitator 1

: Wahyuni Jayanti

4. Fasilitator 2

: Novi Susanti

5. Observer

: Anita Febrianti

A. Tujuan

Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap, nama


panggilan, asal dan hobi.

B. Sasaran
1. Kooperatif
2. Tidak terpasang restrain
3. Sehat jasmani
C. Nama Klien
1. A. Mubarok
2. M. Soleh
3. Misyanto
4. Deddy
5. M. Solekan
6. M. Yusuf
.
D. Setting
Terapis dan klien berdiri membentuk lingkaran

27

E. MAP
L
K

K
K

K
F

Keterangan :
L : Leader
C: Co Leader

O : Observer

F : Fasilitator

K : Klien

F. Alat
-

Kertas karton

Tali rafia

Bola

Spidol

Lembar Observasi

Speaker dan Handphone

G. Metode
Metode yang digunakan

adalah permainan lempar bola dengan musik

untuk

menentukan giliran untuk melakukan perkenalan diri, dengan menyebutkan nama,


alamat asal dan hobi.
H. Langkah-Langkah Kegiatan
Persiapan :

Terapis Menyiapkan tempat dan alat untuk kegiatan TAK

Terapis mengingatkan kontrak klien TAK

Memberikan dan membantu klien memasang name tag

Orientasi :

29

1. Salam terapeutik

Leader mengucapkan salam terapeutik, memulai kegiatan dengan doa

Leader memperkenalkan seluruh tim Terapis

2. Evaluasi/Validasi

Leader menanyakan perasaan klien saat ini

Leader menanyakan apakah sudah bisa berkenalan dengan teman lainnya.

3. Kontrak

Leader menjelaskan tujuan kegiatan

Leader membuat kontrak waktu kegiatan TAK selama 45 menit

Leader menjelaskan aturan main yaitu :


Setiap klien harus mengikuti kegiatan TAK dari awal sampai akhir
Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus minta ijin pada
pemimpin TAK

Tahap Kerja

Leader menjelaskan dan meminta klien membentuk lingkaran dengan bantuan


fasilitator

Musik diputar dan Leader meminta klien untuk meleparkan bola ke arah klien
yang lain dengan dimulai oleh Leader

Leader memberi contoh cara memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama,


alamat dan hoby

Memulai permainan :
a. Lagu dimulai dengan dipimpin leader kemudian klien melemparkan bola
ke klien lain hingga lagu berhenti
b. Klien yang berada dalam gerbang ketika lagu berhenti diminta untuk
memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, alamat dan hobi.
Kemudian nama, alamat, dan hobi.
c. Permainan dimulai lagi, ulangi lagi a dan b hingga semua pemain
mendapat giliran untuk memperkenalkan diri

Tahap Terminasi
1. Evaluasi :

Leader mengemukakan kesimpulan setelah kegiatan selesai

Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok

2. Rencana Tindak Lanjut :

31

Menganjurkan tiap klien untuk berlatih memperkenalkan diri pada orang lain
di kehidupan sehari-hari

Memasukkan kegiatan memperkenalkan diri ke dalam jadwal harian klien

3. Kontrak yang akan datang :

Leader

mengakhiri kegiatan dengan membuat kontrak waktu untuk

pertemuan berikutnya

Leader menutup kegiatan dengan berdoa

Leader mengucapkan salam

33

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ( TAK ) SESI 2


Tema

: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi

Sasaran

: Pasien gangguan jiwa dengan isolasi sosial

Hari/ tanggal : Sabtu, 14 November 2015


Waktu

: 09.00 WIB

Tempat

: Di Halaman Depan Ruang Kutilang RSJ Dr. Radjiman


Wediodiningrat Lawang

Terapis:
1. Leader

: Sardi Muhamad

2. Co Leader

: Rika Dwi Fatmawati

3. Fasilitator 1

: Wahyuni Jayanti

4. Fasilitator 2

: Novi Susanti

5. Observer

: Anita Febrianti

A. Tujuan

Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok:


o

Memperkenalkan diri sendiri: nama lengkap, nama panggilan, asal


dan hobi

Menanyakan diri anggota kelompok lain: nama lengkap, nama


panggilan, asal dan hobi.

B. Sasaran
1.

Kooperatif

2.

Tidak terpasang restrain

3.

Sehat jasmani

C. Nama Klien
1. A. Mubarok
2. M. Soleh
3. Misyanto
4. Deddy
5. M. Solekan
6. M. Yusuf
D. Setting

35

Terapis dan klien duduk bersama membentuk lingkaran


E. MAP

Keterangan :
L : Leader
C : Co Laader

O : Observer
F : Fasilitator

K : Klien

F. Alat
-

Kertas karton

Bola

Spidol

Lembar Observasi

Bola

G. Metode
Metode yang digunakan modifikasi permainan dengan lagu ampar-ampar pisang untuk
menentukan urutan dalam berkenalan.
H. Langkah-Langkah Kegiatan
Persiapan :

Terapis Menyiapkan tempat dan alat untuk kegiatan TAK

Terapis mengingatkan kontrak klien TAK

Memberikan dan membantu klien memasang name tag

37

Orientasi :
1.

2.

3.

Salam terapeutik

Leader mengucapkan salam terapeutik, memulai kegiatan dengan doa

Leader memperkenalkan seluruh tim Terapis

Evaluasi/Validasi

Leader menanyakan perasaan klien saat ini

Leader menanyakan apakah sudah berkenalan dengan teman lainnya.

Kontrak

Leader menjelaskan tujuan kegiatan

Leader membuat kontrak waktu kegiatan TAK selama 45 menit

Leader menjelaskan aturan main yaitu :


Setiap klien harus mengikuti kegiatan TAK dari awal sampai akhir
Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus minta ijin pada
pemimpin TAK

Tahap Kerja

Leader menjelaskan dan meminta klien membentuk lingkaran dengan bantuan


fasilitator

Leader memimpin klien untuk menyanyikan lagu cuklak-cublak suweng sambil


memutar bola ke arah kiri

Klien yang memegang bola saat lagu berhenti mendapat giliran untuk
berkenalan dengan anggota kelompok yang adadi sebelah kanannya dengan
cara:
o

Memberi salam

Menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi

Menanyakan nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi

Dimulai oleh leader sebagai contoh

Ulangi tahap diatas hingga semua klien mendapat giliran

Beri pujian untuk setiap keberhasilan dengan memberi tepuk tangan.

Tahap Terminasi
1. Evaluasi :

Leader mengemukakan kesimpulan setelah kegiatan selesai

Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok


39

2. Rencana Tindak Lanjut :

Menganjurkan tiap klien untuk berlatih berkenalan dengan orang lain di


kehidupan sehari-hari

Memasukkan kegiatan memperkenalkan diri ke dalam jadwal harian klien

3. Kontrak yang akan datang :

Leader

mengakhiri kegiatan dengan membuat kontrak waktu untuk

pertemuan berikutnya

Leader menutup kegiatan dengan berdoa

Leader mengucapkan salam

41

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) SOSIALISASI SESI 3


Tema

: TAK Sosialisasi

Sasaran

: Pasien gangguan jiwa dengan Isolasi Sosial

Hari/ tanggal : Senin, 16 November 2015


Waktu

: 09.00 WIB

Tempat

: Di Halaman Depan Ruang Kutilang RSJ Dr. Radjiman


Wediodiningrat Lawang

Terapis:
1.

Leader

: Sardi Muhamad

2.

Co. Leader

: Rika Dwi Fatmawati

3.

Fasilitator 1

: Wahyuni Jayanti

4.

Fasilitator 2

: Novi Susanti

5.

Observer

: Anita Febrianti

A. Tujuan

Tujuan umum TAK yaitu klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok
secara bertahap

Tujuan instruksional khusus TAK Sosialisasi Sesi 3 adalah klien mampu bercakapcakap dengan anggota kelompok

B. Sasaran
1.

Kooperatif

2.

Tidak terpasang restrain

3.

Sehat jasmani

C. Nama Klien
1. A. Mubarok
2. M. Soleh
3. Misyanto
4. Deddy
5. M. Solekan
6. M. Yusuf
D. Setting
Terapis dan klien duduk bersama membentuk lingkaran

43

E. MAP

Keterangan :
L : Leader

O : Observer

C : Co. Leader

F : Fasilitator

K : Klien

F. Alat
-

Kursi

Laptop dengan musik yang di tentukan

Lembar Observasi

G. Metode
Metode yang digunakan adalah berinteraksi dengan
H. Langkah-Langkah Kegiatan
Persiapan :

Terapis Menyiapkan tempat dan alat untuk kegiatan TAK

Terapis mengingatkan kontrak klien TAK

Memberikan dan membantu klien memasang name tag

Orientasi :
4. Salam terapeutik

Leader mengucapkan salam terapeutik, memulai kegiatan dengan doa

Leader memperkenalkan seluruh tim Terapis

5. Evaluasi/Validasi

Leader menanyakan perasaan klien saat ini

Leader menanyakan apakah klien telah mencoba berkenalan dengan orang lain

6. Kontrak

45

Leader menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bertanya dan menjawab tentang


kehidupan pribadi

Leader membuat kontrak waktu kegiatan TAK selama 45 menit

Leader menjelaskan aturan main yaitu :


Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta izin
kepada terapis
Lama kegiatan 45 menit
Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

Tahap Kerja

Leader menjelaskan dan memberikan contoh cara bercakap-cakap dengan


anggota kelompok

Leader mengarahkan fasilitator untuk membantu setiap klien mencoba


bercakap-cakap

Memulai permainan :
a

Menyiapkan 9 buah kursi dengan posisi melingkar menghadap keluar,


Menyalakan musik menginstruksikan klien untuk berbaris dan
mengelilingi kursi-kursi tersebut.

Pada saat musik dimatikan, klien harus bergerak cepat untuk


menempati kursi yang disediakan, 2 dari 11 anggota kelompok yang
tidak mendapat kusi untuk diduduki

mendapat giliran untuk

memperagakan cara bercakap-cakap.


c

Ulangi a dan b dengan mengurangi dua kursi sampai semua klien


mendapat giliran

Berikan pujian untuk setiap klien yang melakukan teknik bercakapcakap dengan benar

Tahap Terminasi
1. Evaluasi :

Leader mengemukakan kesimpulan setelah kegiatan selesai

Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAKS

Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok

2. Rencana Tindak Lanjut :

Menganjurkan tiap klien untuk menggunakan dan mempraktekkan bercakapcakap dengan teman lain

3. Kontrak yang akan datang :

47

Leader mengakhiri kegiatan dengan membuat kontrak waktu untuk

pertemuan berikutnya

Leader menutup kegiatan dengan berdoa

Leader mengucapkan salam


TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI SESI 4

Tema

: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi

Sasaran

: Pasien gangguan jiwa dengan isolasi social

Hari/ tanggal : Selasa , 17 November 2015


Waktu

: 09.00 WIB

Tempat

: Di Halaman Depan Ruang Kutilang RSJ Dr. Radjiman


Wediodiningrat Lawang

Terapis:
1.

Leader

: Sardi Muhamad

2.

Co. Leader

: Rika Dwi Fatmawati

3.

Fasilitator 1

: Wahyuni Jayanti

4.

Fasilitator 2

: Novi Susanti

5.

Observer

: Anita Febrianti

A. Tujuan

Tujuan umum :
Klien mampu menyampaikan topic pembicaraan tertentu dengan anggota
kelompok

Tujuan Khusus:
-

Klien mampu menyampaikan topic yang ingin dibicarakan

Klien mampu memilih topic yang ingin dibicarakan

Klien mampu memberi pendapat tentang topic yang dipilih

B. Sasaran
1. Kooperatif
2. Tidak terpasang restrain
3. Sehat jasmani
C. Nama Klien
1. A. Mubarok
2. M. Soleh
3. Misyanto
49

4. Deddy
5. M. Solekan
6. M. Yusuf
D. Setting
Terapis dan klien duduk bersama membentuk lingkaran
E. MAP

K
K

K
L

F
K

O
K

K
K
F

Keterangan :
L : Leader

O : Observer

C: Co. Leader

F : Fasilitator

K : Klien

F. Alat
-

Name tag

Lembar Observasi
G. Metode

Diskusi dan tanya jawab

Bermain peran

H. Langkah-Langkah Kegiatan
Persiapan :

Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada sesi 4 TAKS

Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

Orientasi :
1. Salam terapeutik

Leader mengucapkan salam terapeutik, memulai kegiatan dengan doa


51

Leader memperkenalkan kembali seluruh tim perawat dan memakai papan

nama atau tanda pengenal


2. Evaluasi/Validasi
Leader menanyakan perasaan klien saat ini

Leader menanyakan apakah telah latihan bercakao-cakap tentang topic atau


hal tertentu dengan orang lain

3.

Kontrak

Leader menjelaskan tujuan kegiatan dengan cara menyampaikan, memilih, dan


member pendapat tentang masalah pribadi.

Leader membuat kontrak waktu kegiatan TAK selama 30 menit

Leader menjelaskan aturan main yaitu :


Setiap klien harus mengikuti kegiatan TAK dari awal sampai akhir
Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus minta ijin pada
pemimpin TAK

Tahap Kerja

Memulai permainan :
a. Bernyanyi domikado bersama-sama

dengan menepuk satu tangan

teman disebelahnya secara bergantian dengan posisi duduk melingkar


bersama.
b. Pada saat lagu habis, anggota kelompok yang mendapat bait lagu
terakhir maka klien TAK tersebut wajib menyampaikan satu topik yang
ingin dibicarakan. Dimulai terlebih dahulu dari leader.
c. Tuliskan masalah yang disampaikan pada kertas besar (ditulis oleh
Fasilitator)
d. Ulangi poin a, b, dan c sampai semua klien TAK menyampaikan topik
yang ingin dibicarakan
e. Mulai lagi permainan dengan menyanyikan lagu domikado bersamasama dengan menepuk satu tangan teman disebelahnya secara
bergantian (seperti poin a)
f.

Pada saat lagu habis pada salah satu klien TAK, maka klien tersebut
harus memilih topik yang disukai dan dibicarakan dari daftar yang ada.

g. Ulangi poin e sampai semua klien TAK memilih topic


h. Leader membantu menetapkan topic yang paling banyak dipilih

53

i.

Mulai lagi permainan seperti poin e, pada saat lagu habis pada salah
satu klien TAK , maka klien harus menyampaikan pendapat tentang topic
yang dipilih dan disepakati

j.

Ulangi poin i sampai semua klien TAK menyampaikan pendapatnya

k. Berika pujian untuk setiap keberhasilan klien TAK dengan memberikan


tepuk tangan dan bersorak.
Tahap Terminasi
1.

2.

Evaluasi :

Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok

Rencana Tindak Lanjut :

Menganjurkan tiap klien atau anggota kelompok bercakap-cakap


tentang masalah pribadi dengan orang lain pada kehidupan sehari-hari

Memasukkan kegiatan bercakap-cakap tentang masalah pribadi pada


jadwal kegiatan harian klien

3.

Kontrak yang akan datang :

Menyepakati kegiatan berikutnya, yaitu bekerja sama dalam kelompok

Menyepakati waktu dan tempat TAK sesi selanjutnya

55

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAKS) SESI 5


Tema

: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi

Sasaran

: Pasien gangguan jiwa dengan Isolasi Sosial

Hari/ tanggal : Rabu, 18 November 2015


Waktu

: 09. 00 WIB

Tempat

: Di Halaman Depan Ruang Kutilang RSJ Dr. Radjiman


Wediodiningrat Lawang

Terapis:
1.

Leader

: Sardi Muhamad

2.

Co. Leader

: Rika Dwi Fatmawati

3.

Fasilitator 1

: Wahyuni Jayanti

4.

Fasilitator 2

: Novi Susanti

5.

Observer

: Anita Febrianti

A. Tujuan
1. Tujuan umum

TAKS yaitu klien mampu menyampaikan dan membicarakan

masalah pribadi dengan orang lain


2. Tujuan Khusus TAKS halusinasi Sesi 5:

Klien mampu menyampaikan masalah pribadi

Klien memilih satu permasalahan untuk dibicarakan

Memberi pendapat tentang masalah pribadi yang dipilih

B. Sasaran
1. Kooperatif
2. Tidak terpasang restrain
3. Sehat Jasmani
C. Nama Klien
1. A. Mubarok
2. M. Soleh
3. Misyanto
4. Deddy
5. M. Solekan
6. M. Yusuf

57

D. Setting
Terapis dan klien duduk bersama membentuk lingkaran
E. MAP

L
C

O
K

K
F
Keterangan :
L : Leader

O : Observer

C: Co Leader

F : Fasilitator

K : Klien

F. Alat
-

Name tag

Lembar Observasi
G. Metode

Diskusi dan tanya jawab

Bermain peran

H. Langkah-Langkah Kegiatan
Persiapan :

Terapis Menyiapkan tempat dan alat untuk kegiatan TAKS

Terapis mengingatkan kontrak klien TAKS

Memberikan dan membantu klien memasang name tag

Orientasi :
1.

Salam terapeutik

Leader mengucapkan salam terapeutik, memulai kegiatan dengan doa


59

Leader memperkenalkan kembali seluruh tim Terapis dan memakai papan

nama
2.

Evaluasi/Validasi

Leader menanyakan perasaan klien saat ini

Leader menanyakan apakah telah latihan bercakap-cakap tentang topik/hal


tertentu dengan orang lain

3.

Kontrak

Leader menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu menyampaikan, memilih dan


memberi pendapat tentang masalah pribadi

Leader membuat kontrak waktu kegiatan TAK selama 45 menit

Leader menjelaskan aturan main yaitu :


Setiap klien harus mengikuti kegiatan TAK dari awal sampai akhir
Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus minta ijin pada
pemimpin TAK

Tahap Kerja

Leader menjelaskan dan memberikan contoh cara menyampaikan masalah pribadi


kepada teman lainnya.

Leader menjelaskan dan memberikan contoh cara menyampaikan pendapat


kepada orang lain.

Memulai permainan :
a. Klien dibariskan membentuk lingkaran
b. Tiap klien diberikan 1 sendok makan.
c. Sendok diletakkan dimulut
d. Klien pertama disuruh untuk mengoper kelereng yang dibawanya ke klien lain
yang sendoknya masih kosong.
e. Lakukan operan kelereng terus melingkar mengikuti barisan klien, sampai
ada pasien yang menjatuhkan kelereng
f.

Pasien yang menjatuhkan kelerengnya disuruh untuk menceritakan masalah


pribadinya kepada seluruh klien sedangkan klien lain memberikan tanggapan
atas masalah temannya tersebut

g. Ulangi langkah (d) dan (e) untuk mendapatkan klien selanjutnya.

1.

Tahap Terminasi

Evaluasi :

Leader mengemukakan kesimpulan setelah kegiatan selesai

Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

61

Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok

2.

Rencana Tindak Lanjut :

Menganjurkan tiap klien untuk mengungkapkan setiap masalah yang


dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari

Memasukkan kegiatan bercerita tentang masalah pribadi yang dihadapi


dalam jadwal kegiatan harian klien TAKS

3.

Kontrak yang akan datang :

Leader mengakhiri kegiatan dengan membuat kontrak waktu untuk


pertemuan berikutnya

Leader menutup kegiatan dengan berdoa

Leader mengucapkan salam

63

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ( TAK SOSIALISASI) SESI 6


Tema

: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi

Sasaran

: Pasien gangguan jiwa dengan isolasi sosial

Hari/ tanggal : Kamis, 19 November 2015


Waktu

: 09.00 WIB

Tempat

: Di Halaman Depan Ruang Kutilang RSJ Dr. Radjiman


Wediodiningrat Lawang

Terapis:
1.

Leader

: Sardi Muhamad

2.

Co. Leader

: Rika Dwi Fatmawati

3.

Fasilitator 1

: Wahyuni Jayanti

4.

Fasilitator 2

: Novi Susanti

5.

Observer

: Anita Febrianti

A. Tujuan
Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok:

Bertanya dan meminta sesuai dengan kebutuhan pada orang lain.

Menjawab dan memberi pada orang lain sesuai dengan permintaan.

B. Sasaran
1. Kooperatif
2. Tidak terpasang restrain
3. Sehat jasmani
C. Nama Klien
1. A. Mubarok
2. M. Soleh
3. Misyanto
4. Deddy
5. M. Solekan
6. M. Yusuf
D. Setting
Terapis dan klien duduk bersama membentuk lingkaran

65

E. MAP

L
K

K
C

F
K

Keterangan :
L : Leader

O : Observer

C: Co Leader

F : Fasilitator

K
K : Klien

F. Alat
-

Name tag

Kartu kwartet

Handphone dengan musik yang di tentukan

Lembar Observasi
G. Metode

Dinamika kelompok

Diskusi dan tanya jawab

Bermain peran

H. Langkah-Langkah Kegiatan
Persiapan :

Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada sesi 5 TAKS.

Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

Orientasi :
Pada tahap ini terapis melakukan:
a. Memberi salam terapeutik
1. Salam dari terapis.
2. Klien dan terapis memakai papan nama.
b. Evaluasi/validasi
1. Menanyakan perasaan klien saat ini.
67

2. Menanyakan apakah klien telah latihan bercakap-cakap tentang masalah


pribadi dengan orang lain.
c. Kontrak
1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu dengan bertanya dan meminta kartu
yang diperlukan serta menjawab dan memberi kartu pada anggota
kelompok.
2. Menjelaskan aturan main berikut:

Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta


izin kepada terapis.

Lama kegiatan 45 menit.

Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

Tahap Kerja
a. Terapis membagi empat buah kartu kwartet untuk setiap anggota kelompok.
Sisanya diletakkan diatas meja.
b. Terapis meminta tiap anggota kelompok menyusun kartu sesuai dengan seri
(satu seri mempunyai 4 kartu).
c. Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis berlawanan dengan
arah jarum jam.
d. Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola memulai
permainan berikut.
1. Meminta kartu yang dibutuhkan (seri yang belum lengkap) kepada anggota
kelompok di sebelah kanannya.
2. Jika kartu yang dipegang serinya lengkap, diumumkan pada kelompok
dengan membaca judul dan subjudul.
3. Jika kartu yang dipegang serinya tidak lengkap diperkenankan mengambil
satu kartu dari tumpukan kartu di atas meja.
4. Jika anggota kelompok memberikan kartu yang dipegang pada yang
meminta, ia berhak mengambil satu kartu dari tumpukan kartu di atas meja.
5. Setiap menerima kartu, diminta mengucapkan terima kasih.
e. Ulangi c. Dan d. Jika d.2 atau d.3 terjadi.
f.

Beri pujian untuk setiap anggota kelompok dengan memberi tepuk tangan.
Tahap Terminasi

a. Evaluasi :
1. menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Rencana tindak lanjut:

69

1. Menganjurkan

setiap

anggota

kelompok

latihan

bertanya

meminta,

menjawab, dan memberi pada kehidupan sehari-hari (kerja sama).


2. Memasukkan kegiatan bekerja sama pada jadwal kegiatan.
c. Kontrak yang akan datang :
1. Menyepakati kegiatan berikut, yaitu mengevaluasi kegiatan TAKS
2. Menyepakati waktu dan tempat.
Evaluasi dan Dokumentasi
Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan menggunakan formulir di bawah ini pada saat proses
TAK berlangsung, khusunya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan
klin sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAKS sesi 6, dievaluasi kemampuan verbal klien
dalam bertanya, meminta, menjawab, dan memberi serta kemampuan nonverbal.

71

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ( TAK SOSIALISASI) SESI 7


Tema

: TAK Sosialisasi

Sasaran

: Pasien gangguan jiwa dengan isolasi sosial

Hari/ tanggal : Jum'at, 20 November 2015


Waktu

: 09.00 WIB

Tempat

: Halaman depan Ruang KutilangRSJ Dr. Radjiman


Wediodiningrat Lawang

Terapis:
1.

Leader

: Sardi Muhamad

2.

Co. Leader

: Rika Dwi Fatmawati

3.

Fasilitator 1

: Wahyuni Jayanti

4.

Fasilitator 2

: Novi Susanti

5.

Observer

: Anita Febrianti

A. Tujuan

Tujuan umum TAK Sosialisasi yaitu klien mampu menyampaikan pendapat tentang
manfaat kegiatan kelompok yang telah dilakukan.

Tujuan khusus TAK Sosialiasi yaitu klien mampu berinteraksi kembali dengan orang
lain dan menilai kemampuan positif yang dimilikinya

B. Sasaran
1. Kooperatif
2. Tidak terpasang restrain
3. Sehat jasmani
C. Nama Klien
1. A. Mubarok
2. M. Soleh
3. Misyanto
4. Deddy
5. M. Solekan
6. M. Yusuf
D. Setting
1. Terapis dan klien duduk bersama membentuk persegi empat.
2. Lingkungan yang bersih dan nyaman

73

E. MAP

K
O

K
C

Keterangan :
L : Leader

O : Observer

F : Fasilitator

K : Klien

F. Alat
-

Name tag

Handphone dengan musik yang di tentukan

Lembar Observasi
G. Metode

Dinamika Kelompok

Diskusi dan tanya jawab

H. Langkah-Langkah Kegiatan
Persiapan :

Mengingat kontrak dengan anggota kelompok pada Sesi 6 TAKS.

Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

Orientasi :
1.

Salam terapeutik

Leader mengucapkan salam terapeutik, memulai kegiatan dengan doa.

Leader memperkenalkan kembali seluruh tim Terapis.


75

2.

Evaluasi/Validasi

3.

Leader menanyakan perasaan klien saat ini.

Leader menanyakan apakah telah latihan bekerja sama dengan orang lain.

Kontrak
Leader menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu menyampaikan manfaat enam kali

pertemuan TAKS.

Leader membuat kontrak waktu kegiatan TAK selama 30 menit

Leader menjelaskan aturan main yaitu :


-

Setiap klien harus mengikuti kegiatan TAK dari awal sampai akhir
Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus minta ijin pada
pemimpin TAK.

Tahap Kerja

Memulai permainan :
a. Menyalakan musik dan mengajak seluruh klien bergoyang bersama serta
edarkan bola berlawanan dengan arah jarum jam.
b. Pada saat musik dimatikan, leader menunjuk salah satu klien yang memegang
bola untuk mendapat kesempatan menyampaikan pendapat tentang manfaat dari
enam kali pertemuan yang tela berlalu.
c. Ulangi a dan b sampai semua klien mendapat giliran
d. Berikan pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan member tepuk
tangan.

Tahap Terminasi
1. Evaluasi :

Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

Memberi pujian atas keberhasilan kelompok

Menyimpulkan 6 kemampuan pada 6 kali pertemuan yang lalu

2. Rencana Tindak Lanjut :

Menganjurkan tiap kelompok tetap melatih diri untuk enam kemampuan yang
telah dimiliki, baik di RS maupun di rumah

Memasukkan kegiatan yang telah disepakati ke dalam jadwal kegiatan harian

3. Kontrak yang akan datang :

Leader mengakhiri kegiatan dengan membuat kontrak waktu untuk pertemuan


berikutnya

Leader menutup kegiatan dengan berdoa


77

Leader mengucapkan salam

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Dari hasil uraian pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Terapi

aktivitas

kelompok

sosialisasi

(TAKS)

adalah

upaya

memfasilitasi

kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial.


2. Kelompok merupakan kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan
yang lainnya, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama. Tujuannya
dibentuk kelompok dalam TAK adalah membantu anggotanya berhubungan dengan
orang lain serta merubah perilaku yang destruktif dan maladaptive. Kekuatan pada
kelompok ada pada kontribusi tiap anggota kelompoknya dan pemimpin dalam
mencapai tujuannya.
3. Kelompok berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman dan saling membantu
satu sama lain untuk menemukan cara penyelesaikan masalah. Kelompok
merupakan tempat untuk menemukan hubungan interpersonal yang baik serta
mengembangkan perilaku yang adaptif.
4. Dari 6 peserta di awal TAKS dapat dilihat hasilnya bahwa 5 peserta dapat lulus
TAKS sesi 7. 1 orang peserta memang belum mampu lulus sesi 1 karena
keterbatasan komunikasi verbal dan telah dilakukan terapi individu sebagai tindak
lanjut. Sehingga dari sini, dapat disimpulkan terapi aktivitas kelompok merupakan
solusi untuk memperbaiki hubungan sosial antar individu yang memiliki kesulitan
dalam mengembangkan komunikasi interpersonalnya.
4.2

Saran
1. Sebagai tenaga kesehatan, perawat harus mampu memfasilitasi pasien
dengan isolasi sosial, dimana pasien dengan isolasi sosial membutuhkan
perhatian yang lebih untuk meningkatkan kemampuannya dalam berinteraksi
secara verbal maupun non verbal dalam lingkungan disekitarnya.
2. Sebaiknya TAK dilakukan secara teratur tiap minggu terutama dilakukan di
ruangan perawatan, sehingga dapat mengetahui perkembangan pasien
3. Perlu dilakukan modifikasi ulang untuk melakukan TAKS yang sudah banyak
dilakukan di ruangan, sehingga harapannya dapat meningkatkan hasil yang
maksimal untuk menumbuhkan interaksi antar pasien dalam kelompok.
79

DAFTAR PUSTAKA
Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) untuk 7 Diagnosis Keperawatan
Jiwa Berat bagi Program S1 Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
FMPKJ. 2009. Isolasi Sosial: Menarik Diri. http://fmpkj-samarinda.com/2009/01/isolasisosial-menarik-diri.html. Diakses tanggal 12 September 2010. Pukul 18.00 WIB.
Ircham, R. 2008. Menarik Diri. http://asuhanjiwa.com/2008/09/menarik-diri.html. Diakses
tanggal 25 September 2010. Pukul 15.00 WIB.
Keliat, Budi Anna. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta: EGC
Nasution,

M.

2004.

Gangguan

Alam

Perasaan:

http://repository.usu.ac.id/xmlui/handle/123456789/3580.

Menarik

Diakses

tanggal

Diri.
12

September 2010. Pukul 19.30 WIB.


Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika.
Stuart dan Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Sutrisno. 2008. Menarik Diri. http://trisnoners.com/2008/02/pojok-jiwa.html. Diakses tanggal
12 september 2010. Pukul 19.00 WIB.
Syahbana,

A.

2009.

Laporan

Pendahuluan

Menarik

http://therizkikeperawatan.com/2009/03/laporanpendahuluan-menarik-diri.html.
Diakses tanggal 25 September 2010. Pukul 16.00 WIB

81

Diri.

82

Anda mungkin juga menyukai