Anda di halaman 1dari 25

USAHA KESEHATAN MASYARAKAT

MINI PROJECT

Tanggal

05 September 2015

Kode Kegiatan

F7

Uraian Kegiatan :

Upaya

Penjaringan

dan

Penyuluhan

Mengenal

Pencegahan, Pengobatan dan Komplikasi Penyakit


Hipertensi untuk peserta Posyandu Lansia Flamboyan
di

Kelurahan

Rambipuji

Kecamatan

Rambipuji

Kabupaten Jember.

BAB I
PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensi yang terus

meningkat

sejalan

dengan

perubahan

gaya

hidup

seperti

merokok,

obesitas,aktivitas yang menurun, dan stress psikososial. Hampir di setiap negara,


hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling sering
dijumpai (WHO, 2000).
Di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4% penghuni bumi
mengidap hipertensi dengan perbandingan 26,6% pria dan 26,1% wanita. Angka
ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta
pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di
negara sedang berkembang, temasuk Indonesia (WHO, 2000).
Penelitian berskala nasional dilakukan oleh perhimpunan hipertensi
Indonesia pada tahun 2002 di Jawa,Sumatra,Kalimantan,Sulawesi dan Bali. Dari
3080 subjek dewasa umur 40 tahun atau lebih yang berobat pada praktik dokter,
didapatkan prevalensi hipertensi 58,89% dan sebanyak 37,32% pasien tanpa
pengobatan antihipertensi. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang
dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2004 mendapatkan prevalensi
hipertensi di Pulau Jawa mencapai 41,9%.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, Hipertensi
menjadi urutan ke-4 dari 10 besar penyakit di Semarang pada tahun 2009. Kasus

hipertensi pada tahun 2009 dikota Semarang terjadi sebanyak 2063 kasus
(12,85%). Prevalensi hipertensi pada usia muda dikota Semarang terjadi sebanyak
164 kasus (6,01%). Dari 164 kasus tersebut, sebanyak 6-10% sudah mengalami
komplikasi seperti penyakit jantung, ginjal dan lain-lain. Meskipun prevalensinya
rendah hal ini bisa saja menjadi masalah kesehatan yang serius karena akan
mengakibatkan komplikasi yang berbahaya jika tidak terkendali dan tidak
diupayakan pencegahan dini faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kejadian
hipertensi pada remaja.
Penderita Hipertensi di Indonesia, yang diperiksa di Puskesmas secara
teratut sebanyak 22,8% sedangkan yang tidak teratur sebanyak 77,2%.
Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, kasus tertinggi
hipertensi terdapat di kota Semarang yaitu sebanyak 67,101 kasus (19,56%).
Tertinggi kedua adalah Kabupaten Klaten yaitu sebesar 10,49%
Hipertensi atau tekanan darah tinggi seringkali muncul tanpa gejala,
sehingga disebut sebagai silent killer. Secara global, tingkat prevalensi hipertensi
di seluruh dunia masih tinggi. Lebih dari seperempat jumlah populasi dunia saat
ini menderita hipertensi. Namun sebaliknya, tingkat kontrol tekanan darah secara
umum masih rendah (Bakri, 2008). Kalau saja hipertensi tidak mengundang
segudang risiko komplikasi, barangkali permasalahannya menjadi lebih
sederhana. Masalahnya, tekanan darah di atas normal yang tidak ditangani dengan
baik akan merembet kepada komplikasi yang lebih berat. Hipertensi bisa
menyebabkan berbagai macam penyakit, diantaranya ialah penyakit gagal ginjal
(Bakri, 2008).
Penyuluhan hipertesi dilakukan didaerah ngamping dikarenakan masih
kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan tekan darahnya ke
pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan 5 pasien
hipertensi, didapatkan sebagian besar dari mereka enggan untuk melakukan
kontrol karena takut untuk memeriksakan penyakitnya ke puskesmas. Hal ini yang
perlu digaris bawahi dari hal tersebut yaitu timbulnya masalah tentang ketidak
teraturan penderita hipertensi dalam melakukan kontrol di pelayanan kesehatan.
1.2

Pernyataan Masalah
1. Angka kejadian hipertensi pada usia lanjut sangat tinggi

2. Tigkat pengetahuan peserta posyandu lansia flamboyan

Kecamatan

Rambipuji mengenai hipertensi masih sangat kurang


3. Metode yang tepat untuk menyebarkan informasi mengenai hipertensi
kepada masyarakat masih sulit dilakukan secara efektif
1.3

Tujuan

1.3.1

Tujuan Umum
Memberikan pengertian dan kesadaran kepada masyarakat mengenai

pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap pengertian dan pengenalan penyakit


hipertensi, dimana penulis mengambil temah pencegahan, pengobatan dan
komplikasi hiperensi sebagai materi penyuluhan
1.3.1

Tujuan Khusus

1. Memberikan pengertian mengenai hipertensi


2. Memberikan pengertian mengenai pembagian hipertensi
3. Memberikan pengetahuan mengenai penyebab terjadinya hipertensi
4. Memberikan edukasi mengenai akibat yang dapat ditimbulkan dari
penyakit hipertensi
5. Memberikan edukasi mengenai cara penecegahan dan pengobatan
hipertensi
1.4

Manfaat
Penulis berharap hasil penjaringan dan penyuluhan ini dapat meningkatkan

kesadaran masyarakat mengenai bahaya dari penyakit hipertensi sehingga


kedepannya dapat dilakukan upaya pencegahan sampai nantinya mengurangi
resiko komplikasi dari penyakit hipertensi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

PENGERTIAN
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana

tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg.
3

( Smith Tom, 1995 ) Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan


tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan
diastolic sama atau lebih besar 95 mmHg ( Kodim Nasrin, 2003 ). Hipertensi
dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 104 mmHg,
hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan
hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini
berdasarkan peningkatan tekanan diastolic karena dianggap lebih serius dari
peningkatan sistolik.
2.2 ETIOLOGI
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2
golongan besar yaitu :
1. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya
2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit
lain
Hiperrtensi primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita hipertensi,
sedangkan 10 % sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun
hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian
telah menemukan beberapa factor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.
Factor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang
tuanya adalah penderita hipertensi
b. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah
umur

( jika umur bertambah maka TD meningkat ), jenis

kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) dan ras (

ras

kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )


c. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi
adalah konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ),
4

kegemukan atau makan berlebihan, stress dan pengaruh lain


misalnya

merokok,

minum

alcohol,

minum

obat-obatan

( ephedrine, prednison, epineprin )


2.3 PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol konnstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar
dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke
bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan
ketakutan dapat mempengaruhirespon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin,
meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua factor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi.
Untuk pertimbangan gerontology. Perubahan structural dan fungsional
pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah
yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,
hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos
5

pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya
regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang
kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung
( volume sekuncup ), mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan
tahanan perifer.
2.4 TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter
yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan
gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari
pertolongan medis.
2.5. Faktor-faktor Risiko Hipertensi
Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dikontrol
1). Usia
Faktor usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi karena dengan
bertambahnya usia maka risiko hipertensi menjadi lebih tinggi. Insiden hipertensi
yang makin meningkat dengan bertambahnya usia, disebabkan oleh perubahan
alamiah dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon.
Hipertensi pada usia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri
koroner dan kematian prematur.
Semakin bertambahnya usia, risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga
prevalensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian
sekitar 50% di atas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan
serta tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
2). Jenis kelamin

Faktor jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya penyakit tidak menular


tertentu seperti hipertensi, di mana pria lebih banyak menderita hipertensi
dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk peningkatan darah
sistolik.
Wanita dipengaruhi oleh beberapa hormon termasuk hormon estrogen
yang melindungi wanita dari hipertensi dan komplikasinya termasuk penebalan
dinding pembuluh darah atau aterosklerosis. Arif Mansjoer mengemukakan bahwa
pria dan wanita menopause memiliki pengaruh sama pada terjadinya hipertensi. 8
Ahli lain berpendapat bahwa wanita menopause mengalami perubahan hormonal
yang menyebabkan kenaikan berat badan dan tekanan darah menjadi lebih reaktif
terhadap konsumsi garam, sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah.
Terapi hormon yang digunakan oleh wanita menopause dapat pula menyebabkan
peningkatan tekanan darah.
3). Riwayat keluarga
Keluarga dengan riwayat hipertensi akan meningkatkan risiko hipertensi
sebesar empat kali lipat. Data statistik membuktikan jika seseorang memiliki
riwayat salah satu orang tuanya menderita penyakit tidak menular, maka
dimungkinkan sepanjang hidup keturunannya memiliki peluang 25% terserang
penyakit tersebut. Jika kedua orang tua memiliki penyakit tidak menular maka
kemungkinan mendapatkan penyakit tersebut sebesar 60%.1
Faktor Risiko yang Dapat Dikontrol
1). Konsumsi garam
Garam dapur merupakan faktor yang sangat berperan dalam patogenesis
hipertensi. Garam dapur mengandung 40% natrium dan 60% klorida. Orang-orang
peka natrium akan lebih mudah mengikat natrium sehingga menimbulkan retensi
cairan dan peningkatan tekanan darah.9 Garam memiliki sifat menahan cairan,
sehingga mengkonsumsi garam berlebih atau makan-makanan yang diasinkan
dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadai melalui
peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah.

Sumber natrium yang juga perlu diwaspadai selain garam dapur adalah
penyedap masakan atau monosodium glutamat (MSG) yang mempertinggi risiko
terjadinya hipertensi.
2). Konsumsi Lemak
Kebiasaan mengkonsumsi lemak jenuh berkaitan dengan peningkatan
berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga
meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan
darah.
Penggunaan minyak goreng lebih dari satu kali pakai dapat merusak ikatan
kimia pada minyak, dan hal tersebut dapat meningkatkan pembentukan kolesterol
yang berlebihan sehingga dapat menyebabkan aterosklerosis dan hal yang memicu
terjadinya hipertensi dan penyakit jantung.8
3). Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan
hipertensi, sebab rokok mengandung nikotin. Di otak, nikotin akan memberikan
sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau adrenalin yang akan
menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat
karena tekanan darah yang lebih tinggi.
Tembakau memiliki efek cukup besar dalam peningkatan tekanan darah
karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Kandungan bahan
kimia dalam tembakau juga dapat merusak dinding pembuluh darah.
Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam
darah. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung
dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan
jaringan tubuh lainnya.
Merokok juga diketahui dapat memberikan efek perubahan metabolik
berupa peningkatan asam lemak bebas, gliserol, dan laktat yang menyebabkan
penurunan kolesterol High Density Lipid (HDL), serta peningkatan Low Density
Lipid (LDL) dan trigliserida dalam darah. Hal tersebut akan meningkatkan risiko
terjadinya hipertensi dan penyakit jantung koroner.
5). Obesitas

Obesitas merupakan suatu keadaan di mana indeks massa tubuh lebih dari
atau sama dengan 30. Obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi karena
beberapa sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak pula suplai darah yang
dibutuhkan untuk memasok oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Hal ini
mengakibatkan volume darah yang beredar melalui pembuluh darah akan
meningkat sehingga tekanan pada dinding arteri menjadi lebih besar.
Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung dan
kadar insulin dalam darah. Peningkatan kadar insulin menyebabkan tubuh
menahan natrium dan air. Kincaid-Smith mengusulkan bahwa obesitas dan
sindrom resistensi insulin berperan utama dalam patogenesis gagal ginjal pada
pasien hipertensi atau disebut juga nephrosclerosis hypertension.
Obesitas dapat menyebabkan hipertensi dan penyakit kardiovaskular
melalui

mekanisme

pengaktifan

sistem

renin-angiotensin-aldosteron,

peningkatkan aktivitas simpatis, peningkatan aktivitas procoagulatory, dan


disfungsi endotel. Selain hipertensi, timbunan adiposa abdomen juga berperan
dalam patogenesis penyakit jantung koroner, sleep apnea, dan stroke.
6). Kurangnya aktifitas fisik
Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada orang
yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai frekuensi denyut
jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih
keras pada setiap kontraksi. Makin keras usaha otot jantung dalam memompa
darah, makin besar pula tekanan yang dibebankan pada dinding arteri sehingga
meningkatkan tahanan perifer yang menyebabkan kenaikkan tekanan darah.
Studi epidemiologi membuktikan bahwa olahraga secara teratur dapat
menurunkan tekanan darah sekitar 6-15 mmHg pada penderita hipertensi.
2.6 Komplikasi Hipertensi
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab
kerusakan organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan
tekanan darah pada organ, atau karena efek tidak langsung, antara lain adanya

autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stress oksidatif, down regulation,


dan lain-lain.6
1). Otak
Stroke merupakan kerusakan target organ pada otak yang diakibatkan oleh
hipertensi. Stroke timbul karena perdarahan, tekanan intra kranial yang meninggi,
atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan
tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri di otak
mengalami hipertropi atau penebalan, sehingga aliran darah ke daerah-daerah
tersebut akan berkurang. Arteri-arteri di otak yang mengalami arterosklerosis
melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma.
2). Kardiovaskular
Infark

miokard

dapat

terjadi

apabila

arteri

koroner

mengalami

arterosklerosis atau apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran darah


yang melalui pembuluh darah tersebut, sehingga miokardium tidak mendapatkan
suplai oksigen yang cukup. Kebutuhan oksigen miokardium yang tidak terpenuhi
menyebabkan terjadinya iskemia jantung, yang pada akhirnya dapat menjadi
infark.
Beban kerja jantung akan meningkat pada hipertensi. Jantung yang terusmenerus memompa darah dengan tekanan tinggi dapat menyebabkan pembesaran
ventrikel kiri sehingga darah yang dipompa oleh jantung akan berkurang yang
akhirnya dapat menimbulkan komplikasi gagal jantung kongestif.
3). Ginjal
Penyakit ginjal kronik dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat
tekanan tinggi pada kapiler-kepiler ginjal dan glomerolus. Kerusakan glomerulus
akan mengakibatkan darah mengalir ke unit-unit fungsional ginjal, sehingga
nefron akan terganggu dan berlanjut menjadi hipoksia dan kematian ginjal. Hal
tersebut terutama terjadi pada hipertensi kronik.
4). Retinopati
Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah
pada retina. Makin tinggi tekanan darah dan makin lama hipertensi tersebut
berlangsung, maka makin berat pula kerusakan yang dapat ditimbulkan. Kelainan
lain pada retina yang terjadi akibat tekanan darah yang tinggi adalah iskemik optik

10

neuropati atau kerusakan pada saraf mata akibat aliran darah yang buruk, oklusi
arteri dan vena retina akibat penyumbatan aliran darah pada arteri dan vena retina.
Penderita hypertensive retinopathy pada awalnya tidak menunjukkan gejala, yang
pada akhirnya dapat menjadi kebutaan pada stadium akhir.
2.7 Penatalaksanaan Hipertensi
Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan morbiditas dan
mortalitas kardiovaskular, mencegah kerusakan organ, dan mencapai target
tekanan darah < 130/80 mmHg dan 140/90 mmHg untuk individu berisiko tinggi
dengan diabetes atau gagal ginjal.6
Penatalaksanaan Non Farmakologis
Penatalaksanaan non farmakologis dalam penanganan hipertensi adalah
dengan memodifikasi gaya hidup. Pada hipertensi derajat I, pengobatan secara
non farmakologis dapat mengendalikan tekanan darah sehingga pengobatan
farmakologis tidak diperlukan atau pemberiannya dapat ditunda. Jika obat
antihipertensi diperlukan, pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai
pelengkap untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik.17 Modifikasi
gaya hidup yang dianjurkan dalam penanganan hipertensi antara lain :
1). Mengurangi berat badan bila terdapat kelebihan (BMI 27)
Penerapan pola makan seimbang dapat mengurangi berat badan dan
menurunkan tekanan darah. Berdasarkan hasil penelitian eksperimental,
pengurangan BB sekitar 10 kg menurunkan tekanan darah 2-3 mmHg per kg berat
badan.4
2). Olahraga dan aktifitas fisik
Olahraga isotonik seperti berjalan kaki, jogging, berenang dan bersepeda
berperan dalam penurunan tekanan darah. Aktivitas fisik yang cukup dan teratur
membuat jantung lebih kuat dan dapat memompa darah lebih banyak dengan
usaha minimal, sehingga gaya yang bekerja pada dinding arteri akan berkurang.
Hal tersebut berperan pada penurunan Total Peripher Resistance yang bermanfaat
dalam menurunkan tekanan darah.
3). Mengurangi asupan garam
Pembatasan asupan garam sampai 60 mmol per hari atau dengan kata lain
konsumsi garam dapur tidak lebih dari seperempat sampai setengah sendok teh

11

garam per hari. Penderita hipertensi dianjurkan menggunakan mentega bebas


garam dan menghindari makanan yang sudah diasinkan. Pedoman diet
merekomendasikan orang dengan hipertensi harus membatasi asupan garam
kurang dari 1.500 miligram sodium sehari.
4). Diet rendah lemak jenuh
Lemak dalam diet meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis yang
berkaitan dengan kenaikan tekanan darah, sehingga diet rendah lemak jenuh atau
kolesterol dianjurkan dalam penanganan hipertensi.
5). Diet tinggi serat
Serat banyak terdapat pada makanan karbohidrat seperti kentang, beras,
singkong dan kacang hijau, serta sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat dapat
berfungsi mencegah penyakit tekanan darah tinggi karena serat kasar mampu
mengikat kolestrol maupun asam empedu dan selanjutnya membuang bersama
kotoran.
6). Tidak merokok
Tekanan darah akan turun secara perlahan dengan berhenti merokok.
Selain itu merokok dapat menyebabkan obat yang dikonsumsi tidak bekerja secara
optimal.
9). Istirahat yang cukup
Istirahat merupakan suatu kesempatan untuk memperoleh energi sel dalam
tubuh. Istirahat dapat dilakukan dengan meluangkan waktu. Yang dimaksudkan
dengan istirahat adalah usaha untuk mengembalikan stamina tubuh dan
mengembalikan keseimbangan hormon dalam tubuh.
Penatalaksanaan Farmakologis
Penatalaksanaan dengan obat antihipertensi bagi sebagian besar pasien
dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai dengan
umur, kebutuhan, dan usia. Dosis tunggal lebih diprioritaskan karena kepatuhan
lebih baik dan lebih murah. Sekarang terdapat obat yang berisi kombinasi dosis
rendah dua obat dari golongan berbeda yang terbukti memberikan efektivitas
tambahan dan mengurangi efek samping. Jenis-jenis obat antihipertensi untuk
terapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan oleh JNC VII yaitu diuretika
(terutama jenis Thiazide atau Aldosteron Antagonist), beta blocker, calsium

12

channel blocker, angiotensin converting enzyme inhibitor, dan angiotensin II


receptor blocker. Diuretika biasanya menjadi tambahan karena meningkatkan efek
obat yang lain. Jika tambahan obat kedua dapat mengontrol tekanan darah dengan
baik minimal setelah satu tahun, maka dicoba untuk menghentikan obat pertama
melalui penurunan dosis.4,6

BAB III
METODE
3.1Sasaran
Sasaran pada penyuluhan dan penjaringan ini adalah lansia di Posyandu
Flamboyan, Kelurahan Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember.
3.2Metode Pelaksanaan
Penulis memilih bentuk penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan sebagai
mini project dengan judul Upaya penjaringan dan penyuluhan mengenai
pencegahan, pengobatan dan komplikasi hipertensi yang dilanjutkan dengan
diskusi dan pemeriksaan sehingga efektif dalam menyampaikan maksud penulis
terhadap peserta penyuluhan.
1
2

Tanggal : 05 September 2015


Waktu : 09.00 WIB 12.30 WIB

13

Tempat : Posyandu Lansia Flamboyan


4 Peserta : Peserta posyandu lansia flamboyan

3.3Kerangka Konseptual

14

Posyandu

Kurangnya Pengetahuan Masyaakat mengenai penyakit Hi

Puskesmas

Mengadakan Penyuluhan Mengenal pencegahan, pengobatan dan komplikasi hipertensi seluruh peserta posyandu lansia di w

Kader
Kader Posyandu dapat menyebarkan informasi yang didapat dari semina

Masyarakat
Kesadaran masyarakat mengenai komplikasi dari hipertensi yang

15

3.4Kerangka Operasional

16

Identifikasi masalah
Masalah yang ditemukan
Melalui pengenalan
kasu penyakit
terbanyakmengenai Hipertensi masih kurang
Pengetahuan
masyarakat
Kader Posyandu, Petugas kesehatan( perawat, dokter)

Akar Masalah

Alternatif Pemecahan Masalah

Peran Kader

Peran Masyarakat
Peran TENAKES PKM
Peran tokoh Masyarakat

17

1. Penyuluhan pencegahan, pengobatan


dan komplikasi penyakit hipertensi
dilanjutkan diskusi dengan peserta
psoyandu lansia
2. Monitoring dan evaluasi dengan petugas
kesehatan dan kader kesehatan setiap
kegiatan posyandu berikutnya mengenai
masalah dan keberhasilan sosialisasi
penyakit Hipertensi
3. Tenaga Kesehatan Puskesmas
meningkatkan pengetahuan tentang
pengenalan, pencegahan, pengobatan
dan komplikasi penyakit hipertensi
melalui diskusi kasus dan deteksi dini
penyakit hipertensi.

3.5Hasil dokumentasi dan pelaksanaan

18

BAB IV
HASIL
19

4.1Profil Komunitas
Berdasarkan laporan program pembinaan usia lanjut Puskesmas Rambipuji
di posyandu flamboyan, jumlah sasaran usia lanjut (usila) di Posyandu
Flamboyan, Puskesmas Rambipuji, Kelurahan Rambipuji, Kecamatan Rambipuji,
Kabupaten Jember yaitu sasaran pra lansia usia 45-59 tahun berjumlah 78 orang, 3
orang berjenis kelamin laki-laki dan 75 orang berjenis kelamin perempuan
sedangkan sasaran lansia usia 60 keatas berjumlah 191, 85 berjenis kelamin lakilaki dan 126 berjenis kelamin perempuan.
4.2 Data Kesehatan Masyarakat
Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan saat kegiatan posyandu lansia di
Posyandu flamboyan tanggal 5 september didapatkan dari 78 peserta posyandu
yang pra lansia 2 laki-laki menderita hipertensi dan 18 perempuan menderita
hipertensi sedangkan dari 191 peserta posyandu lansia 21 laki-laki menderita
hipertensi dan 63 perempuan juga menderita hipertensi.

BAB V
PEMBAHASAN

20

Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Lansia Flamboyan, Kelurahan


Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember dimana peserta merupakan
seluruh

peserta posyandu lansia flamboyan Posyandu yang hadir pada saat

kegiatan pengobatan dan penyuluhan Mengenal pencegahan, pengobatan dan


komplikasi hipertensi. Peserta posyandu lansia tampak antusias mengenai materi
yang diberikan karena banyaknya penderita hipertensi pada usia lanjut baik
dengan atau tanpa komplikasi dan adanya pengetahuan baru mengenai
pencegahan, pengobatan dan komplikasi hipertensi.
1

Monitoring
Monitoring yang dilakukan pada saat kegiatan rutin yang dilakukan

psoyandu lansia flamboyan. Dimana setiap orang yang melakukan pemeriksaan,


semuanya di catat dalam buku catatan pelaporan pasien, sehingga para petugas
kesehatan bisa mengkontrol buku catatn tersebut. Monitoring dilakukan dengan
pengukuran vital sign dan pemeriksaan fisik standard.
Pendekatan kepada peserta dilakukan melalui penyuluhan dan diskusi,
terlihat bahwa peserta tampak antusias dan lebih leluasa bertanya kepada
narasumber. Setelah diadakan penyuluhan ini, peserta tampak lebih paham
mengenai hipertensi dan diharapkan kedepannya semakin memperlihatkan tandatanda bahaya yang mungkin timbul sehingga tidak terlambat mendapatkan
penanganan di instalansi kesehatan.
2

Evaluasi
Dari hasil kegiatan penyeluhan terkait hipertensi dapat di evaluasi dengan

bekerjasama antara petugas kesehatan dengan kader dalam setiap kegiatan rutin
posyandu lansia. Dan melihat perkembangan dari status kesehatan terkait masalah
hipertensi dan menyesuaikan dengan data kesehatan pada kegiatan sebelumnya
apakah ada perkembangan ke lebih baik seperti misalnya tekanan darah yang
terkontrol.

BAB VI
DISKUSI
1. Pembahasan
21

Pada lanjut usia terdapat peningkatan insidensi penyakit tidak menular


yang merupakan penyakit degeneratif, penyakit gangguan metabolisme, dan
psikososial. Menurut riskesdas tahun 2007 terdapat tujuh masalah kesehatan yang
paling banyak pada lansia yaitu hipertensi 63,5%, katarak 41,9%, stroke 31,9%,
jantung 19,2%, gangguan emosional 23,2%, dan diabetes mellitus 3,4%.
Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya melakukan
pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu factor tingginya prevalensi penurunan
kualitas kesehatan di masa senja. Pentingnya menjaga kesehatan sejak dini dngan
melakukan control kesehatan berkala dan pola hidup sehat perlu digalakkan oleh
petugas kesehatan.
2. Pemberian Penyuluhan
Tujuan dari pemberian penyuluhan adalah meningkatkan pengetahuan bagi
masyarakat. Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengetahuan (kognitif)
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang
(overt behavior). Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak
didasari pengetahuan.
Ada beberapa langkah atau proses sebelum orang mengadopsi perilaku
baru. Pertama adalah awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari
stimulus tersebut. Kemudian dia mulai tertarik (interest). Selanjutnya, orang
tersebut akan menimbang-nimbang baik atau tidaknya stimulus tersebut
(evaluation). Setelah itu, dia akan mencoba melakukan apa yang dikehendaki oleh
stimulus (trial). Pada tahap akhir adalah adoption, berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya. Dengan mendapatkan informasi yang
benar, diharapkan lansia mendapat bekal pengetahuan yang cukup untuk dapat
melaksanakan pola hidup sehat sehingga dapat mencegah terjadinya penyakitpenyakit tidak menular sedangkan bagi yang sudah menderita dapat menurunkan
risiko terjadinya progresivitas penyakit dan terjadinya komplikasi.

22

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
1. Hipertensi meningkat seiring peningkatan jumlah usia.
2. Masih kurangnya kesadaran dan kemauan masyarakat untuk rutin
memeriksakan kesehatan, terutama tekanan darah ke pusat kesehatan
terdekat. Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko
hipertensi.

Hal ini menyebabkan kesadaran masyarakat untuk

memeriksakan tekanan darah secara rutin ketenaga kesehatan masih


kurang.
3. Penerapan pola hidup sehat pada lansia

dapat mencegah dan

mengatasi penyakit hipertensi pada lansia di wilayah kerja puskemas


Ambarawa.

23

2. Saran
1. Tenaga kesehatan dan kader proaktif untuk mengajak masyarakat
berkunjung ke posyandu lansia sehingga secara rutin dapat
mendeteksi secara dini penyakit-penyakit tidak menular pada lansia.
2. Lansia yang menderita hipertensi dirujuk ke puskesmas untuk
dilakukan penanganan lebih lanjut.
3. Tenaga kesehatan dan kader secara kontinyu memberikan penyuluhan
tentang penerapan pola hidup sehat pada lansia.

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Sheldon G. Sheps. Mayo Clinic Hipertension (Terjemahan). Jakarta: Intisari


Mediatama; 2005. p: 26, 158.
2. Brashers, Valentina. 2004. Aplikasi Klinis Patofisiologi: Pemeriksaan &
Manajemen, Ed 2 (Terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
3. Arif Mansjoer, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I : Nefrologi dan
Hipertensi. Jakarta: Media Aesculapius FKUI; 2001. p: 519-520.
4. Hendi. Hipertensi dan Rosella [internet]. c2008 Feb 21 [cited 2011 Oct 7].
Available

from:

http://rohaendi.blogspot.com/2008/02/hipertensi-dan-

rosella.html
5. M. Yogiantoro. Hipertensi Esensial. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI; 2006. p: 599-601.
6. Leny Gunawan. Hipertensi : Tekanan darah tinggi. Yogyakarta: Percetakan
Kanisus; 2001.
7. Nurlaely Fitriana. Hipertensi pada Lansia [internet]. c2010 [cited 2011 Nov
18]. Available from: http://nurlaelyn07.alumni.ipb.ac.id/author/
8. I Made Astawan. Cegah Hipertensi dengan pola makan. IPB [internet]. c2011
[cited 2011 Nov 22]. Available from: http://indonesiamedia.com/
9. Chris OCallaghan. At a Glace : Sistem Ginjal (Terjemahan). Jakarta:
Penerbit Erlangga; 2010. p: 78-80.
10. H.H. Gray, K.D.Dawkins, J.M.Morgan, I.A. Simpson, Kardiologi : Lecture
Notes Ed 4 (Terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga; 2005.

25