Anda di halaman 1dari 10

Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

AlhamduliLLah, puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Menyaksikan
segalanya, Maha Pengawas Yang Selalu hadir tanpa pernah absen, Maha Pendamping Yang tiada
pernah berpisah dalam pemukiman maupunbepergian, Yang selalu mendorong kaum cerdik
cendekiawan untuk mengamati ciptaan-Nya di alam malakut-Nya, di langit dan bumi-Nya yang
sarat dengan tanda-tanda kebesaran ayat-ayat-Nya, yang mengandung pengertian dan
pelajaran.

Salawat dan salam bagi junjungan kita Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga beliau
yang mulia dan terhormat, sebanyak bilangan gumpalan awan dan curahan hujan dan sebanyak
bilangan hembusan angin yang menggerakkan pepohohan.

Ammâ ba’du: Saya berpesan, terutama kepada diri saya sendiri dan kepada anda
sekalian para sahabatku tercinta semoga kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Yang Maha
Penguasa atas seluruh penguasa, Penyebab dari semua sebab, Yang Tiada Tuhan yang patut
disembah selain Dia, dan tiada suatu tujuan hakiki kecuali kepada-Nya.

Sesungguhnya, orang yang berbahagia itu ialah yang selalu bersandar diri kepada-Nya,
dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya, meletakkan dirinya di dalam kuasa dan kekuatan-
Nya, berserah diri dan tunduk sepenuhnya kepada qudrat dan iradat-Nya. Bersungguh-sungguh
meletakkan harapan dan keinginan kepada apa yang ada di sisi-Nya.

Adapun orang yang sengsara dan terjauhkan dari segala keberuntungan adalah yang
berpaling dari Allah, tiada ingat kepada-Nya, bahkan selalu mengikuti bisikan hawa nafsunya
dan mengutamakan dunianya di atas akhiratnya.

Maka pesan saya pertama-tama, hendaklah anda sekalian selalu bertawakal kepada Allah
dan percaya sepenuhnya kepada jaminan-Nya, seraya merasa tenteram dalam naungan-Nya,
selalu mohon pertolongan-Nya dalam segala urusan, bersandar kepada-Nya dalam segala hal,
serta meletakkan harapan dan keperluan dalam lingkup kemurahan dan kurnia-Nya semata-
mata.

Dan hendaklah anda sekalian memeutuskan segala harapan dan keinginan dari apa saja
berada di tangan orang-orang lain, tidak menunjukkan sedikit pun ketamakan untuk
memperoleh apa pun pemberian dari mereka. Namun, sekiranya ada seseorang
memberikan hadiah secara ikhlas, terimalah oleh kalian pemberian itu dengan penuh
rasa terima kasih kepadanya dan berdoalah untuknya. Nikmatilah seperlunya atau
sedekahkanlah kepada orang lain sekiranya tidak kalian perlukan. Meskipun demikian,
sekiranya ada keraguan tentang kebaikan sumber perolehan sesuatu yang di hadiahkan
kepada kalian, tolaklah dengan cara yang santun.

Mementingkan solat & Zikir

Hendaklah anda sekalian senantiasa bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kelima


shalat fardhu seraya memenuhi segala persyaratannya. Shalat adalah tiang agama dan
diumpamakan bagai kepala dalam susunan anggota tubuh.

Adapun sebaik-baik cara pemeliharaannya adalah dengan mengerjakannya pada awal


waktu dan sedapat mungkin dalam berjemaah. Sedangkan yang paling utama dan
menentukan diterimanya solat itu ialah dengan menghadirkan hati di dalamnya di sertai
dengan penuh kekhusyu’an. Alangkah buruknya bagi seseorang yang sedang bersolat,
apabila anggota-anggota tubuhnya tengah bermunajat dengan Tuhannya, sedangkan
hatinya berkelana kesana sini memikirkan ehwal dunianya.

1
Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

Tetap membaca zikir Ketika dalam Perjalanan Jauh

Allah Swt. dengan kemurahan-Nya juga telah mneyediakan keringinan bagi hamba-
hamba-Nya dalam melaksanakan solat, iaitu solat qasar dan jama’ (yang dibolehkan ketika
sedang dalam perjalanan jauh). Maka manfaatkanlah kemudahan seperti itu (sesuai dengan
persyaratan dan) pada tempatnya masing-masing kerana Allah Swt. amat suka kemudahan-Nya
dinikmati, sebagaimana juga kewajipan-kewajipan-Nya di penuhi. Walaupun demikian,
hendaklah kalian tetap melaksanakan semua zikir yang biasa kalian laksanakan setiap hari,
sebagaimana yang kalian lakukan di saat sedang tidak bepergian. Oleh sebab itu, hendaklah
kalian secara konsisten dan tekun senantiasa memelihara bacaan-bacaan Al-Quran dan pelbagai
wirid yang biasa kalian lakukan dalam keseharian kalian. Jangan sekali-kali meninggalkannya.
Kalaupun tidak dapat dilaksanakan secara sempurna akibat kesibukan dalam perjalanan,
gantikanlah pada kesempatan lain, jika itu termasuk amalan yang dapat diganti (di-qadha’).
Atau jika tidak termasuk amalan yang dapat di-qahda’ maka yang demikina itu termasuk dalam
keringanan yang diberikan Allah Swt bagi orang musafir, sebagaimana disabdakan oleh Nabi
Saw.:” Apabila seseorang Mukmin dalam keadaan bepergian, atau sedang sakit, maka Allah Swt.
memerintahkan kepada malaikat-Nya agar mencatat baginya segala amalnya seperti ketika
diamalkannya pada saat-saat ia bermukim dan dalam keadaan sihat wal-afiat”. Ini tentunya
merupakan anugerah Allah serta rahmat dan kemudahan-Nya.

Alhamdulillah. Puji syukur ke hadirat-Nya, betapa besar rahmat dan kesayangan-Nya terhadap
hamba-hamba-Nya!

Kesucian Lahir Batin

Dan hendaklah kalian – disamping memeperbanyakkan zikir kepada Allah Swt pada setiap
saat- demikian juga, yang tidak kalah pentingnya, ialah menjaga kesucian batin,d alam erti
kebersihan hati dari buruk sangka, dendam dan dengki terhadap sesama muslim atau melakukan
penipuan terhadap mereka. Demikian juga hendaklah kalian selalu memperhatikan kesucian
lahiriah di setiap saat. Yakni mensucikan diri dari hadas dan najis. Tentang ini, Allah Swt telah
mewahyukan kepada Nabi Musa (a.s): “Apabila sesuatu musibah menimpa dirimu, pada saat
tubuhmu tidak sedang dalam keadaan suci, maka janganlah menyalahkan selain dirimu sendiri”.

Lakukanlah zikir-zikir secara rutin pada waktu pagi dan sore, kerana zikir adalah
benteng dari gangguan syaitan dan penangkal dari berbagai keburukan. Dalam kitab Al-
Adzhâr (karya An-Nawawi.-Peny) cukup banyak teks zikir yang di anjurkan, terutama
ketika sedang dalam perjalanan jauh, ketika naik dan turun dari kenderaan dan juga
pada saat memasuki kota tempat tujuan dan lain-lain sebagainya. Usahakanlah agar
mendapatkan kitab tersebut, lalu hafalkanlah bacaan-bacaan yang tertera didalamnya,
dan selanjutnya kerjakanlah dengan tekun.

Menghias Diri Dengan Akhlak Yang Baik

Hendaklah anda sekalian selalu mengutamakan kebersihan hati, kedermawanan dan kasih
sayang kepada setiap muslim, serta sikap bersahabat dan ramah tamah kepada siapa saja yang
bersahabat dengan kalian. Berupayalah agar kalian selalu membantu setiap muslim dalam
memenuhi kebutuhannya, sama seperti mencukupi keperluan diri kalian sendiri. Tanamkanlah
dalam diri kalian, kepedulian dan rasa keinginan untuk selalu menyenangkan hatinya. Jangan
pula merasa malu atau segam memberikan nasihat dan bimbingan, demi kebaikan akhiratnya.
Sebab, perasaan malu untuk melakukan hal seperti itu, sebetulnya bukan malu, melainkan sifat
pengecut yang oleh setan dinamakan malu, semata-mata untuk menyenangkan hati orang-orang
yang lemah imannya.

2
Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

Senantiasa Berakhlak Mulia

Dengan siapa saja kalian bersahabat, utamakanlah budi pekerti yang baik dan sikap
lemah lembut kerana semua keluhuran akhlak itu bertumpu pada kelembutan budi dan sikap
lapang dada serta mengutamakan kepentingan para sahabat. Dan hendaklah seorang mukmin
itu berwatak cepat ridhanya dan lambat amarahnya. Bahkan ciri khas dari sifat utama seorang
Mukmin Kâmil (mukmin yang sempurna) ialah tidak akan mudah marah kerana sesuatu yang
bekenaan langsung dengan diri peribadinya, melainkan semata-mata kerana sesuatu yang
menyangkut pelanggaran terhadap hak tuhannya. Kalaupun seorang mukmin marah kerana
sesuatu yang berkenaan dengnan hak peribadinya, maka keimanan yang bersemayam di dalam
hatinya akan segera meredam kemerahannya itu. Seorang laki-laki pernah berkata kepada Nabi
Saw.: “Ya Rasullallah! Berilah aku nasihat!” Maka beliau pun bersabda : “Jangan marah!”
(Ucapan itu beliau ulang-ulang sampau beberapa kali).

Dan hendaklah anda sekalian selalu bersikap tawâdhu iaitu dengan memandang kepada
sesama kaum Mukminin dengan pandangan pengnagungan dan penghormatan dan kepada diri
sendiri dengan perasaan rendah hati.

Demikian pula hendaknya kalian selalu bersikap tulus ikhlas iaitu dengan senantiasa
mengharapkan keredhaan Allah an pahala-Nya semata-mata, pada setiap kali melakukan suatu
kebaikan ataupun meninggalkan suatu keburukan sebab barang siapa melakukan suatu perintah
Allah Swt. akan tetapi dalam hatinya ingin mendapatkan kedudukan di sisi manusia atau
mencar-cari pujian atau menginginkan harta kekayaan mereka, maka ia sudah termasuk
kelompok orang yang berbuat riya”. Sedangkan sifat riya’ dalam beramal akan membatalkan
amal itu sendiri serta melenyapkan pahalanya.

Memilih Sahabat Yang Berakhlak Baik

Upayakanlah agar kalian selalu bersahabat dengan orang-orang yang berakhlak mulia,
agar dapat meneladani perilaku baik mereka dan sekaligus menggali keuntungan dari perbuatan
dan ucapan mereka. Biasakanlah pula untuk berkunjung kepada mereka yang masih hidup dan
menziarahi mereka yang sudah tiada, dengan penuh keikhlasan, penghormatan dan
penghargaan. Agar dengan demikian diperoleh manfaatnya dan rasa limpahan keberkahan Allah
kepada kalian dengan perantaraan mereka itu. Pada zaman ini, memang sedikit sekali manfaat
yang dapat diperoleh dari orang-orang saleh, kerana kurangnya penghormatan dan lemahnya
husnuzzhan (persangkaan yang baik) terhadap mereka.

Itulah sebabnya kebanyakan orang di zaman sekarang tidak memperoleh keberkahan dari
orang-orang soleh itu, an tidak bisa menyaksikan pelbagai peristiwa menakjubkan yang berasal
dari kedudukan mereka yang telah beroleh karâmah (penghormatan dan pemuliaan) dari Allah
Swt. Sedemikian rupa, sehingga mereka mengira bahawa pada zaman ini sudah tidak ada lagi
orang-orang yang disebut sebagai ‘wali’.Dugaan yang demikian itu tidak benar sama sekali,
Alhamdullillah, para wali itu masih cukup banyak, yang tampak maupun yang tersembunyi.
Namun tak ada yang bisa mengenali identitas mereka itu, kecuali orang-orang yang telah
mendapatkan anugerah cahaya kebenaran dan kebesaran Allah dalam hatinya dan mereka yang
selalu berhusnuz-zhan terhadap mereka.

Menjauhkan Diri Dari Orang-Orang Yang Berperilaku Buruk

Hindarilah orang-orang yang berakhlak buruk dan bermoral rendah. Jauhilah


pergaulan dengan mereka kerana dengan menjadikan mereka itu sahabat kalian, maka hanya
kerugian dan malapetaka yang akan kalian alami, di dunia maupun di akhirat. Pergaulan seperti
itulah yang membengokkan sesuatu yang sudah lurus dan yang lebih parah lagi mengakibatkan
rosaknya hati dan agama. Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh seorang penyair : Yang

3
Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

berkudis takkan menjadi sihat kembali akibat bergaul berdekatan dengan yang sihat, namun
yang sihat mudah ketularan penyakit akibat bergaul berdekatan dengan yang berkudis.

Memelihara Hati Dan Lidah

Peliharalah hati kalian masing-masing dati niatan atau bisikan-bisikan hati yang
tercela dan bersihkanlah dari noda-noda akhlak yang buruk dan berupayalah mencegah
keterlibatan setiap anggota tubuh kalian dalam kegiatan bermaksiat atau berdosa.
Lebih-lebih lagi dalam menjaga dan memeilahara lidah dari pembicaraan-pembicaraan
yang terlarang atau yang sia-sia; terutama yang bersifat umpatan atau gunjingan
terhadap sesama muslim. Begitu besar dosa pengunjingan (ghibah) sehingga dinyatakan
bahawa dosanya lebih besar daripada dosa perzinaan.

Jangan sekali-kali berkata bohong. Sebab kebohongan sangat bertentangan


dengan keimanan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis nabi Saw.:
“Barangsiapa ingin mengutuk dirinya sendiri, silakan ia berkata bohong”.

Sungguh, bahaya yang ditimbulkan oleh lidah itu amat besar sekali, demikian
pula cara mengendalikannya tidaklah mudah. Maka, barangsiapa mendapatkan taufik
(pengarahan dan pemudahan dari Allah Swt.) untuk bisa memelihara lidahnya, sungguh
ia telah meraih bagian keberuntungan yang amat besar!.

Membaca Al-Quran Secara Rutin

Hendaklah kalian membiasakan diri dengan sering-sering membaca Al-Quran


dengan penuh kekhusyu’an dan kehadiran hati, di samping menekuni ertinya (tadabbur)
dan mengikuti kaedah-kaedah bacaannya (tartîl). Perbanyakkanlah pula – secara
khusus-bacaan Surah Yassin, demi memperoleh berbagai kebaikan dan menangkal
berbagai keburukan.

Menghindari Kekenyangan

Jangan sekali-kali memenuhi perut kalian dengan makanan berlebihan.


Kekenyangan mengakibatkan kekerasan hati serta kemalasan dalam beribadat, di
samping menghalangi hati dari penyiksaan cahaya-cahaya Iiahi dan menjauhkan dari
pengaruh positif yang diharapkan dari amalan ibadat dan zikir.

Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umroh

Hendaklah kalian bersungguh-sungguh dalam menetapkan niat untuk


menunaikan ibadah haji (segera setelah memiliki kemampuan untuk itu), guna
mengunjungi ka’abah, BaituLLâh Al-aHarâm dan melaksanakan manasik haji,
mengagungkan syi ‘ar-syi ‘ar-Nya dan menziarahi makam Nabi-Nya: Muhammad Saw.
Dan hendaklah kalian dalam hal ini, benar-benar memfokuskan niat dan tujuan dengna
tulus ikhlas hanya untuk ibadah semata-mata, tidak untuk tujuan apa pun selain itu.
Jangan sekali-kali mencampur adukkan niat-nat mulia ini dengan suatu tujuan yang
lain; seperti ingin berniaga atau berwisata.

Dan ketika sedang dalam ibadah haji, hendaklah sering-sering melakukan tawaf
mengelilingi Ka’abah, rumah Allah. Sebab, orang yang mengerjakan tawaf, bagaikan
seorang yang sedang menyelam di dalam samudra rahmat Allah Swt. Maka hendaklah

4
Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

kalian tidak menyia-yiakan saat-saat yang baik itu. Penuhilah hati kalian dengan
pengagungan terhadap kebesaran Allah Swt., Sang Pemilik ‘rumah’ yang kini kalian
sedang berada di hadapannya. Jangan pula menyibukkan hati kalian dengan apa pun
juga, terkecuali dengan tilawat Al-Quran, zikir dan doa-doa lain yang telah dianjurkan.
Dna janganlah menyia-yiakan waktu kalian dengan berbagai aktivitas yang tidak
bermanfaat. Hendaklah kallian dengan sungguh-sungguh dan konsisten mengerjakan
berbagai zikir, bacaan dan doa-doa yang biasa diucapkan secara khusus ditempat-
tempat tawaf, sa ‘i dan lain-lain yang bekaitan dengan Ibadah Haji. Selain itu, alangkah
baiknya bila kalian juga menaruh perhatian khusus untuk menyaksikan tempat-tempat
bersejarah yang memiliki nilai sangat agung.

Perbanyak pula Umroh, bila ada kesempatan untuk itu, terutama pada bulan suci
Ramadhan. Sebab, satu kali umroh pada bulan Ramadhan, pahalanya sepadan dengan
pelaksanaan ibadah haji bersama Rasulallah saw.

Dan hendaklah kalian lebih-lebih menjaga kesopanan yang tinggi selama berada
di Tanah Suci (Al-Haramain) dan bersikap ramah tamah dan santun terhadap penduduk
setempat. Hargailah kemuliaan yang mereka peroleh kerana bertetangga dengan
Rasulallah Saw iaitu dengan cara selalu berbaik sangka terhadap mereka khususnya, dan
terhadap kaum Muslimin pada umumnya.

Kalaupun kalian adakalanya menyaksikan atau mendengar di sana, sesuatu yang


tidak berkenan di hati, sebaiknya bersikap menahan diri dan bersabar, serta tidak perlu
memberikan komentar yang negatif. Akan tetapi jika mampu mengatakan yang benar,
ungkapkanlah hal itu. Sebab, ajaran islam tidak membolehkan seseorang mukmin
berdiam diri menghadapi suatu yang bathil kecuali dalam keadaan terpaksa, dan
meyakini ketidakmampuannya untuk mencegah. Dan alangkah bahagianya orang yang
telah mempu memusatkan niat secara bulat dalam pengabdiaannya kepada Allah, tanpa
terpengaruh oleh perilaku buruk yang melanda orang-orang di zaman sekarang, yang
bertentangan dengan perilaku para salaf saleh. “Dan barang siapa diberi petunjuk oleh
Allah, maka dialah yang benar-benar mendapat petunjuk, dan barang siapa yang di
sesatkan-Nya, maka tak akan ada baginya seorang pemimpin pun yang memberi
petunjuk kepadanya “ (QS.:18:i7)

Selain itu, hendaklah kalian tidak menyia-yiakan kesempatan untuk beramal dan
berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya selama berada di Kota Makkah, mengingat
bahawa setiap amal kebaikan yang dilakukan disana akan dilipat gandakan pahalanya
sampai seratus ribu kali kelipatan. Penggandaan pahala seperti ini sebetulnya
disebutkan dalam sebuah hadis Rasullulah Saw. Khusus berkaitan dengan ibadat shalat.
Akan tetapi sebagian ulama memahaminya sebagai sesuatu yang bersifat umum,
meliputi semua amal kebaikan yang dilandasi niat yang ikhlas dan murni demi meraih
keridhaan Allah semata-mata.

Namun perlu diingat, baawa sebagaimana amal-amal kebaikan di kota suci


Makkah di lipat-gandakan pahalanya oleh Allah, demikian juga sebaliknya perbuatan-
perbuatan maksiat di sana pun akan dilipat-gandakan dosa-dosanya. Sedemikian rupa,
sampai-sampai sebagian ulama salaf mengatakan; tidak ada suatu tempat di mana ‘niat
melakukan maksiat’ saja akan menghadapi tuntutan,s elain kota Makkah. Dalilnya,
menurut mereka adalah, firman Allah Swt. dalam Surat Al-Hajj: 25, “Barang siapa
bermaksud didalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan
kepadanya sebahagian siksa yang pedih”.
5
Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

Abdullah Bin Abbas (r.a) pernah berkata : “Bagiku lebih baik melakukan
perbuatan dosa sebanyak tujuhpuluh kali di suatu tempat (selain Makkah), daripadanya
melakukannya satu kali di Makkah”.

Semoga Allah selalu menjaga kota suci itu, menambah keagungan dan
kehormatannya serta kebesaran dan kemuliaannya!

Diriwayatkan bahawa ketika Rasullullah Saw. Melaksanakan ibadah haji, beliau


mengenderai seekor unta berpelana usang, berlapis kain yang harganya tidak mencapai
empat dirham. Dan ketika pulang, beliau bersabda, “Ya Allah, jadikanlah ini haji
mabrur, tidak tersisip didalamnya perasaaan riya’ atau ingin ketenaran.”

Demikian pula Umar bin Khattab r.a., selesai melakukan tawaf di Ka’bah, ia
mencium Hajar Aswad lalu menangis, kemudian berkata : “Demi Allah, aku sedar
bahawa engkau ini batu, tidak bisa membawa manfaat ataupun mudarat. Kalau saja
tidak kerana aku pernah menyaksikan Rasullullah saw. Melakuka seperti ini (yakni
mencium Hajar Aswad), niscaya aku tidak akan melakukannya. Kemudian ia menoleh ke
belakang dan melihat Ali bin Abi Talib (karramallahu wajhah). Maka Umar pun berkata
kepadanya: “Hai Abu’l-Hasan (julukan Ali bin Abi Thalib r.a.), di sinilah tempat
mencucurkan air mata.” Tetapi Ali r.a. berkata kepadanya, “Sesungguhnya Hajar-Aswad
ini, wahai Amirul-Mukminin, bisa membawa manfaat dan mudarat. Kerana ketika Allah
Swt. , mengambil ikrar anak-cucu keturunan Adam s.a. dan berkata kepada mereka,
“Bukankah Aku ini tuhan kalian?’, Ia menuliskan suatu tulisan (yang berisi ikrar mereka
itu) lalu menyimpannya di dalam batu ini. Maka batu ini pun bersaksi bagi siapa-siapa
yang menciumnya (atau menyentuhnya) dengan keyakinan yang benar.”

Seorang laki-laki bertemu dengan Abdullah bin Umar r.a. ketika sedang
mengerjakan tawaf lalu mengutarakan suatu keperluan kepadanya. Tapi Abdullah tidak
menghiraukannya, sampai berjumpa lagi dengannya setelah itu, dan berkata
kepadanya: “Saya tahu bahawa anda telah kecewa ketika saya tidak mengindahkan
pembicaraan anda saat itu. Tidakkah anda mengetahui bahawa kita ini-pada saat
bertawaf-sedang berhadapan dengan Allah Swt?! bagaimana pun juga keperluan anda
itu telah terkabulkan!”

Pada suatu ketika, Ali bin Al-Husain r.a. (cucu Rasullullah Saw) melihat Hasan Al-
Basri di Masjid’l Haram sedang bercerita dihadapan orang banyak. Ia pun berhenti lalu
berkata kepadanya, “Wahai hasan, adakah anda telah rela sepenuhnya dan menyiapkan
diri menyongsong kematian?”
“Tidak!” jawab Hasan Al-Basri.
“Lalu, ilmu anda untuk dihisab?”
“Tidak!” jawab Hasan lagi.
“Apakah Allah Swt.memiliki ‘rumah’ yang menjadi tujuan manusia dari berbagai
penjuru selain ‘rumah’ ini?” tanya Ali bin Husain lagi.
“Tidak!”
“Kalau begitu, mengapa anda menyibukkan orang-orang dengan mendengarkan
cerita-cerita anda itu sehingga mereka terhalang dari melakukan tawaf?”
Mendengar itu,Hasan Al-Basri segera meninggalkan tempat itu dan tidak pernah
lagi bercerita selama berada di Kota Makkah.

6
Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

Thawus berkata, “Aku pernah menyaksikan Ali Zain’l-Abidin Ibn’l-Husain (cucu


Rasullullah saw.) di tengah malam, sedang shalat di Al-Hijr (berhadapan dengan
Ka’bah). Aku mencuba mendekatinya seraya bergumam dalam hati: “Ini seorang saleh
dari keluarga Rasullullah Saw. Moga-moga saya mendengar sesuatu yang bermanfaat
dari beliau. Lalu kudengar beliau berdoa dalam sujudnya: “Ya Allah, hamba-Mu yang
peminta-minta ini berada di halaman rumah-Mu, hamba-Mu yang miskin di halaman
rumah-Mu; hamba-Mu yang fakir di halaman rumah-Mu!’ Sejak itu, tak pernah lagi do’a
yang kupanjatkan untuk meminta sesuatu yang kumulai dengan kalimat-kalimat itu,
kecuali pasti terkabul.”

Diriwayatkan bahawa ketika Ali Zain’i-Abidin r.a. memulai ihramnya dan hendak
mengucapkan talbiyah (yakni, Labbaik Allahumma Iabbaik, yang berarti: Aku di sini
memenuhi panggilan-Mu, ya Allah) tiba-tiba seluruh tubuhnya bergemetaran, dan
wajahnya pucat pasi, kemudian ia terjatuh dari kenderaannya dalam keadaan pengsan.
Ketika ditanyakan kepadanya setelah itu, “Mengapa demikian?” ia menjawab, “Aku
amat khuatir dan takut bila mengucapkan talbiyah, akan dikatakan
kepadaku:”Kedatanganmu tak diterima!”

Salim putera Abdullah bin Umar pernah berada di dalam bangunan Ka’bah
bersama dengan Hisyam bin Abdul Malik, yang ketika itu menjabat sebagai Amir
(walikota Madinah). Kepada Salim, Hisyam bertanya:”Mintalah apa saja keperluanmy
dariku!”
“Aku pun merasa malu meminta sesuatu dari siapa pun selain dari Allah SWT.,
sementara aku berada di-rumah-Nya.”
Kemudian setelah mereka berdua keluar Ka’bah, Hisyam berkata lagi: “Sekarang
kita sudah berada diluar Ka’bah. Ajukanlah keperluanmu!”
“Yang anda maksud keperluan duniawi atau ukhrawi?” tanya Salim.
“Aku tidak memiliki sesuatu kecuali dunia.” Jawab Hisyam.
“Aku tidak pernah meminta dunia dari Dia yang menciptakannya; bagaimana
mungkin aku memintanya dari selain-Nya?!”

Pada suatu ketika, Hasan Bin Ali (cucu Rasullulah Saw) lewat di depan Thawus
yang sedang mengisi Majlis Ilmu di suatu kelompok besar di dalam masjid’l-Haram. Ia
langsung mendekati Thawus dan membisikkan kepadanya, “Jika pada saat ini anda
merasa bangga dengan diri anda, segeralah bangkit dan tinggalkanlah tempat ini!”
Mendengar itu, Thawus pun segera bangkit dan meninggalkan majlis itu.

Wuhaib bin Ward mengisahkan: “Pada suatu malam, aku sedang melakukan tawaf
di sekeliling ka’bah, ketika tiba-tiba mendengar suara yang berasal dari balik tirai
penutup Ka’abah : “Aku mengeluh kepadamu, wahai Jibril, dari ucapan-ucapan sia-sia
dan pengunjingan kelompok-kelompok manusia yang bertawaf di sekelilingku. Jika
mereka tidak mahu berhenti dari perbuatan mereka itu, aku benar-benar akan bergetar
sekeras-kerasnya, sehingga batu-batu di sekitarku akan berguguran dan kembali ke
tempat asalnya.”

Diriwayatkan oleh seorang dari kalangan orang-orang soleh, “Aku pernah melihat
seorang laki-laki sedang melakukan tawaf dan sa’i dikelilingi beberapa pemuda yang
mengawalnya dan mendorong-dorong orang –orang yang berada di sekelilingnya.
Beberapa waktu setelah itu, aku melihatnya lagi di kota Baghdad, sebagai pengemis
yang meminta-minta dari para pejalan. Maka aku pun bertanya kepadanya:”Mengapa
keadaan anda seperti ini?” Katanya: “Dahulu aku telah berlaku sombong di suatu
7
Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

tempat yang seharusnya manusia bersikap rendah hati, maka Allah telah menghinakan
diriku di tempat yang biasanya orang-orang berlaku sombong”.

Seorang lainnya dari mereka menceritakan pengalamannya: “Aku pernah melihat


seorang fakir di dalam Masjid’l Haram, yang tampak jelas di wajahnya tanda-tanda
kesalahan, sedang duduk di atas sejadahnya. Ketika itu aku kebetulan membawa
sejumlah wang, yang segera aku letakkan di atas sejadahnya sebagai sedekah, seraya
berkata kepadanya: “Semoga anda bisa menggunakan ini sekadar keperluan anda”.

Tetapi ia segera berkata-kata kepadaku: “Hai, sesungguhnya aku telah membeli


tempat ini hanya demi Allah semata-mata, dengan harga beribu-ribu dan kini anda
hendak mengusirku dari sini?’ Bersamaan dengan ucapannya itu, ia menepiskan
sejadahnya dan segera bangkit dan pergi meninggalkan tempatnya. Sungguh, tidak
pernah aku melihat seseorang sedemikian mulianya ketika ia beranjak pergi. Dan tidak
pernah pula ada orang yang sedemikian hinanya lebih daripada diriku sendiri ketika
berusaha memungut kembali wangku yang berhamburan.”

Ibrahim Bin Ad-han mengisahkan bahawa apda suatu malam fi musim penghujan,
keadaan tempat bertawaf di sekitar Ka’bah sunyi sepi dari manusia. Aku pun bertawaf
seraya berdoa : “Ya Allah, berikanlah aku ‘ishmah( penjagaan penuh dari Allah Swt)
agar aku tidak lagi berbuat pelanggaran terhadap-Mu!” Tiba-tiba terdengar suara
berseru: “Wahai Ibrahim! Engkau meminta ‘ishmah-Ku sementara hamba-hamba-Ku
seluruhnya meminta hal yang sama. Padahal, jika aku memberikannya kepada kalian
semua, siapa lagi Aku akan memberikan anugerah-Ku dan kepada siapa pula akan Ku-
berikan ampunan-Ku?”.

Pada suatu hari, Al-Hasan sedang berwukuf di A’rafah, di tengah terik matahari
yang menyengat, ketika seorang laki-laki berkata kepadanya, “Tidakkah sebaiknya anda
beralih saja ke tempat yang teduh?”. Dengan terheran-heran Al- Hassan berkata,
“Apakah aku kini sedang berada di bawah terik matahari? Sungguh aku teringat satu
dosa yang pernah aku lakukan, sehingga aku tidak lagi merasa kan panasnya terik
matahari!” padahal, waktu itu, pakaiannya telah basah kuyup kerana peluh yang
seandainya diperas, nescaya akan mengalir. Sedangkan dosa yang ia maksud itu mungkin
hanya merupakan selintas fikiran yang tercetus begitu saja, yang seandainya terjadi
atas orang selainnya, tentu tidak dianggapnya sebagai dosa yang sekecil apa pun. Oleh
sebab itu, perhatikanlah betapa besar penghormatan dan pengagungan mereka dari
kalangan salaf itu terhadap Tuhan mereka dan betapa jauhnya mereka dari perbuatan
maksiat kepada-Nya!

Telah disampaikan pula kepada kami, tentang seorang dari kalangan shalihin itu,
yang memungut tujuh buah batu dari padang “Arafah, kemudian meminta kesaksian
dari ketujuh batu itu, bahasanya ia benar-benar telah bersaksi dengan kesaksian
bahawa ‘tiada tuhan selain Allah’, Pada malam harinya, ia bermimpi seolah-olah berdiri
di hadapan Allah Swt. untuk dihisab. Lalu jatuhlah vonnnis atas dirinya agar ia dibawa
keneraka. Namun didalam pelaksanaannya, setiap kali ia sampai di depan salah satu
pintu dari ketujuh pintu neraka itu, datanglah sebuah batu menutupi rapat-rapat pintu
itu. Ia pun menyedari sepenuhnya, bahawa batu-batu itulah yang telah pernah minta
kesaksiannya atas tauhidnya kepada Allah swt. Kemudian datanglah syahadat La Iiaha
IllaLLah yang membuat pintu syurga terbuka lebar untuknya.

8
Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

Dikisahkan dari Ali bin Al-Muwaffaq, katanya: “Pada suatu malam setelah wukuf
di Arafah, aku bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit, lalu yang satu berkata
kepada temannya : “Tahukah betapa banyak orang yang telah melaksanakan ibadah haji
pada tahun ini?”
“Tidak”, jawab temannya itu.
“Jumlah mereka enamratus ribu orang”.
“Lalu, tahukah berapa dari mereka yang diterima hajinya?”
“Tidak!”
“Hanya enam orang sahaja!”
Kata Ibnul-Muwaffaq selanjutnya, “Aku merasa amat sedih, dan bergumam dalam
hatiku: “Di mana aku, di antara keenam orang itu?!” Namun pada malam menjelang
Hari Raya Idul-Adh-ha aku bermimpi lagi, dan melihat kedua malaikat itu turun lagi.
Salah satu dari keduanya bertanya kepada yang lain: “Tahukah bagaimana keputusan
Tuhan kita?” “Tidak!” jawab temannya. “Sungguh Allah Swt. telah menetapkan,
mengikutkan sebanyak seratus ribu orang kepada setiap orang dari keenam orang yang
diterima hajinya (sehingga keseluruhan enam ratus ribu orang diterima haji mereka
semuanya).” “Begitulah,” kata Ali ibn Al Muwaffaq selanjutnya, “Ketika aku terjaga,
hatiku diliputi kegembiraan sedemikian rupa sehingga tak dapat kulukiskan dengan
kata-kata. Dan beberapa tahun kemudian, aku berkesempatan lagi melaksanakan
ibadah haji, lalu memikirkan tentang orang-orang yang tidak diterima hajinya. Maka
aku pun berdoa, “Ya Allah, aku rela menghadiahkan pahala hajiku kepada siapa-siapa
yang tidak Kau terima hajinya.” Pada malam itu, aku tidur dan bemimpi seakan-akan
melihat Allah Swt berfirman kepadaku: ‘Hai Ali, adakah engkau hendak menjadikan
dirimu lebih dermawan dari aku? Sedangkan Aku lah yang telah menciptakan para
dermawan, dan Aku-lah yang paling berhak memberikan kemurahan kepada segenap
penghuni alam semesta. Sungguh aku telah menyerahkan siapa-siapa yang tidak Ku-
terima hajinya, kepada mereka yang Ku-terima (sehingga semua mereka diterima
hajinya)!”

Demikianlah kisah-kisah dalam Penutup ini tidak terlepas kaitannya dengan


wasiat-wasiat sebelumnya. Bahkan bagi seorang pembaca yang arif tentunya dapat
lebih luas lagi menyimpulkan pelbagai aturan dan adab sopan santun darinya, yang
kiranya patut diamalkan dalam pelbagai keadaan.

Demikian pula, di dalam membicarakan tentang kiprah para salaf dalam


perjalanan hidup mereka, terdapat banyak sekali contoh da tauladan serta kepuasan
tersendiri yanf dapat dirasakan oleh setiap orang yang bersuluk menuju akhirat. Sebab,
mereka itu adalah sosok-sosok teladan yang patut diteladani. Disamping itu, seseorang
hanya bisa menyedari tentang kekurangan-kekurangan dirinya sendiri ketika ia
mengetahui tentang kesungguhan perjuangan para salaf itu dalam merintis perjalanan
menuju keridhaan Allah Swt. diakhirat.

Adapun seorang yang hanya menyaksikan kiprah orang-orang pada zaman ini,
yang lebih banyak diliputi berbagai kelalaian dan penyia-yiaan waktu mereka, sedikit
sekali kemungkinannya untuk memperoleh pelajaran yang bermanfaat. Bahkan lebih
buruk lagi mereka merasa berbangga diri atas perbuatan mereka, ataupun
berperangsangka buruk terhadap para tokoh salaf itu. Kedua-dua sikap seperti itu pasti
menimbulkan keburukan.

Kesimpulannya: orang yang berbahagia itu ialah yang mampu mengikuti teladan
para pendahukunya yang baik-baik dan selalu menuntut dirinya sendiri agar menempuh
9
Wasiat-2 :: Habib Abdullah al--Hadad

jalan mereka yang lurus. Dang dengan ini pula, selesailah wasiat ini dengan
mengucapkan syukur kepada Allah Swt. atas taufiq-Nya.

10