Anda di halaman 1dari 12

BAB I

1.1 Pendahuluan
Uang merupakan sesuatu benda yang diterima secara umum oleh masyarakat,
sehingga untuk melakukan transaksi ekonomi tidak mengalami kesulitan, karena salah satu
fungsi dari uang adalah sebagai standart nilai, maka seluruh barang atau jasa dinilai dengan
satuan uang. Uang merupakan unsur terpenting dalam suatu sistem perekonomian modern.
Kehadiran uang sudah melembaga dalam masyarakat, sehingga segala aktivitas masyarakat
dipengaruhi, diukur dan banyak ditentukan oleh uang. Dengan adanya uang, transaksi yang
dilakukan oleh manusia menjadi lebih mudah, cepat, dan tidak terlalu dibatasi lagi oleh
dimensi waktu.
Peranan uang dalam perekonomian antara lain dapat meningkatkan efisiensi baik bagi
produsen, konsumen dan kegiatan ekonomi pada umumnya. Dalam perkembangannya, jumlah
uang yang beredar yang ada di Indonesia tidak tertutup kemungkinan untuk mengalami
kenaikan atau penurunan jumlah uang beredar. Gejala bertambahnya jumlah uang beredar
merupakan fenomena ekonomi, karena berkaitan dengan fungsi uang sebagai alat tukar, yang
semakin dibutuhkan pada saat perekonomian semakin berkembang. Ekonomi yang tumbuh
dan berkembang mempunyai konsekuensi meningkatkan transaksi, yang membutuhkan uang
guna mempermudah proses pembayaran.
Di Indonesia, jumlah permintaan uang tiap tahunnya selalu mengalami perubahan.
Terutama pada jumlah uang kuasi, yang meliputi tabungan, giro dan deposito baik yang dalam
bentuk rupiah maupun dalam bentuk valuta asing. Dengan adanya kenaikan dan penurunan
jumlah uang kuasi tersebut, mengakibatkan terjadinya fluktuasi terhadap kondisi likuiditas
perekonomian Indonesia. Jumlah uang beredar diluar kendali dapat menimbulkan
konsekuensi atau pengaruh yang buruk bagi perekonomian secara keseluruhan. Konsekuensi
atau pengaruh yang buruk dari kurang terkendalinya jumlah uang beredar tersebut antara lain
dapat dilihat pada kurang terkendalinya perkembangan variable-variabel ekonomi utama,
yaitu tingkat produksi (output) dan harga.
Peningkatan jumlah uang beredar yang berlebihan dapat mendorong peningkatan
harga melebihi tingkat yang diharapkan sehingga dalam jangka panjang dapat mengganggu
pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila peningkatan jumlah uang beredar rendah maka
kelesuan ekonomi akan terjadi. Apabila hal ini berlangsung terus menerus, kemakmuran
masyarakat secara keseluruhan akan mengalami penurunan. Kondisi tersebut antara lain
melatar belakangi upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas-otoritas moneter
dalam mengendalikan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Kegiatan mengendalikan

jumlah uang beredar tersebut lazimnya disebut kebijakan moneter, yang pada dasarnya
merupakan salah satu bagian integral dari kebijakan ekonomi makro yang ditempuh oleh
otoritas moneter.

BAB II
2.1. Permintaan Uang Menurut Klasik
Teori ini sebenarnya adalah teori mengenai permintaan dan penawaran akan uang,
beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori ini adalah pada hubungan antara
penawaran uang atau jumlah uang beredar dengan nilai uang atau tingkat harga. Hubungan
dua variable dijabarkan lewat konsepsi teori mereka mengenai permintaan akan uang.
Perubahan akan jumlah uang beredar atau penawaran uang berinteraksi dengan permintaan
akan uang dan selanjutnya menentukan nilai uang. Teori permintaan uang ini disampaikan
oleh David Ricardo, Irving Fisher, dan Marshall.
2.1.1

Permintaan Uang Menurut David Ricardo


Teori permintaan uang menurut David Ricardo adalah teori kuantitas sederhana. David

Ricardo mengatakan bahwa nilai tergantung dari jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Jumlah uang beredar dirumuskan:
M=P k

Dimana:
M : Money (jumlah uang yang beredar)
P : Tingkat harga barang/jasa yang ditukarkan
k : Konstanta yang menunjukkan persentase jumlah uang tunai yang dipegang terhadap
pendapatan
Dari persamaan tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak uang yang beredar akan
berakibat pada turunnya nilai uang. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Bertambahnya uang yang
beredar menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan permintaan. Di lain sisi, jumlah unit
barang yang tersedia di pasar tidak bertambah ataupun kalau bertambah tidak sebanding
dengan pertambahan permintaan akibatnya terjadi kelebihan permintaan. Adanya kelebihan
permintaan ini akan berakibat pada kenaikkan harga. Bila harga barang naik, maka nilai uang
akan turun dengan kondisi normal.
2.1.2

Permintaan Uang Menurut Irving Fisher


Menurut Fisher seperti yang diuraikan dalam bukunya Transaction Demand Theory of

the Demand for Money, uang merupakan alat pertukaran. Fisher merumuskan teori kuantitas
uang dengan sangat sederhana. Teori ini didasarkana kepada falsafah hukum say, yaitu bahwa
perekonomian selalu dalam keadaan full employment. Menurutnya, jika transaksi antar
penjual dan pembeli, maka akan terjadi pertukaran uang dengan barang/jasa sehingga nilai

dari uang yang ditukarkan pasti sama dengan barang/jasa yang diperoleh. Teori permintaan
uang menurut Irving Fisher adalah nilai uang sangat dipengaruhi oleh jumlah uang yang
beredar, kecepatan peredaran uang dan jumlah barang yang diperdagangkan. Secara
matematis dapat dituliskan seperti berikut.
MV =PT
Dimana:
M : Jumlah uang yang beredar (penawaran uang)
V : Tingkat kecepatan perputaran uang (velocity), yaitu berapa kali uang berpindah tangan
dari satu permilik kepada pemilik lain dalam satu periode tertentu
P : Harga barang/jasa yang ditukarkan
T : Jumlah (volume) barang/jasa yang menjadi objek transaksi
Dalam versi lain, jumlah atau volume barang yang diperdagangkan (T) diganti dengan
output rill (O) sehingga persamaannya berubah menjadi:
MV =PO=Y
Dalam teori permintaan uang ini, Irving Fisher mengasumsikan bahwa keberadaan
uang pada hakikatnya adalah flow concept dimana keberadaan uang atau permintaan uang
tidak dipengaruhi oleh suku bunga, akan tetapi besar kecilnya uang akan ditentukan oleh
kecepatan perputaran uang tersebut.1
2.1.3

Permintaan Uang Menurut Marshall


Menurut kaum Cambridge yang diwakili oleh Marshall dan Pigou, uang adalah

merupakan alat penyimpan kekayaan (store of wealth) dan bukan sebagai alat pembayaran.
Teori permintaan uang menurut Cambridge menyatakan bahwa permintaan uang tunai
dipengaruhi oleh tingkat bunga, jumlah kekayaan yang dimiliki, harapan tingkat bunga
dimasa yang akan datang dan tingkat harga. Namun dalam jangka pendek, faktor-faktor
tersebut bersifat konstan atau berubah secara proporsional terhadap pendapatan. Jadi, mereka
menyatakan bahwa keinginan seseorang untuk memegang uang tunai secara nominal adalah
proporsional terhadap pendapatan nominal. Teori permintaan uang menurut Marshall adalah
melihat hubungan antara jumlah uang dan pendapatan nasional. Tinggi rendah nilai uang
bergantung pada jumlah uang yang disimpan untuk persediaan kas.Secara matematis dapat
ditulis sebagai berikut.
d

M =k Y
Dimana:
1 Nurul Huda dkk., Ekonomi Makro Islam:Pendekatan Teoritis (Jakarta; Kencana, 2008) , h.
81-82.

Md: Jumlah permintaan uang


k

: Kkonstanta yang menunjukkan persentase jumlah uang tunai yang dipegang terhadap
pendapatan

: Pendapatan nasional
Teori permintaan uang menurut Fisher didasarkan kepada pendekatan transaksi

(transaction approach), sedangkan teori permintaan uang menurut Cambridge didasarkan


kepada pendekatan kebutuhan masyarakat memegang uang tunai (cash balance approach).2
2.2. Permintaan Uang Menurut Keynes
Keynes menerangkan mengapa seseorang memegang uang kas
berdasarkan kegunaan uang. Dalam teorinya tentang permintaan akan
uang kas, Keynes membedakan antara motif transaksi (dan berjaga-jaga)
serta spekulasi.3 Seseorang memerlukan uang karena dia akan melakukan
transaksi dan untuk berjaga-jaga (kalau sakit, terkena musibah dan
sebagainya yang pada akhirnya merupakan kegiatan transaksi). Selain itu
orang mau memegang uang karena motif spekulasi, dalam hal ini
dilakukan bertujuan untuk memperoleh hasil dari uang yang dipegang
maksimum, dengan cara mengkombinasikan uang yang dipegang dengan
bentuk kekayaan lainnya.
2.3. Permintaan Uang Untuk Transaksi, Berjaga-Jaga, Dan Spekulasi
2.3.1.
Permintaan Uang Untuk Transaksi
Individu atau perusahaan memerlukan uang kas untuk mebelanjai transaksi karena
mereka pikir bahwa pengeluaran ini sering terjad terlebih dahulu dari uang masuk (dari
pendapatannya). Pengeluaran ii seringkali tidak bisa diperkirakan terlebih dahulu, sehingga
sangay diperlukan adanya uang kas di tangan. Meskipun seandainya pengeluaran dan
penerimaan itu dapat diperkirakan dengan tepat, namun uangkas di tangan tetap diperlukan.
Sebab, penerimaan yang diharapkan mungkin tidak diterima, atau pengeluaran untuk transaksi
yang sangat penting perlu dilakukan sebelum penerimaan datang, atau mungkin suatu
transaksi yang memberikan keuntungan besar sangat menarik untuk dilakukan sebelum
penerimaan datang dan sebagainya.
Keynes menyatakan bahwa permintaan uang kas untuk transaksu ini tergantung dari
pendapatan. Makin tinggi tingkat pendapatan, makin besar keinginan akan uang kas untuk
2 Nurul Huda dkk., Ekonomi Makro Islam:Pendekatan Teoritis, h. 82-83.
3 Boediono. Pengantar Ilmu Ekonomi: Ekonomi Moneter. (Yogyakarta:
1985). Hal: 28.

transaksi. Seseorang atau masyarakat yang tingkat pendapatannya tinggi, biasanya melakukan
transaksi yang lebih banyak dibandingkat seseorang atau masyarakat yang pendapatannya
lebih rendah. Penduduk yang tnggalnya dikota besar cenderung melakukan transaksi yang
lebih besar dari penduduk yang tinggal di kota kecil (atau pedesaan). Ketergantungan
permintaan uang untuk transaksi terhadap pendapatan dapat dilihat dari gambar berikut.

Permintaan uang untuk transaksi (rill) ditinjukkan dengan L 1. Meskipun hubungan


antara permintaan uang untuk transaksi dengan pendapatan rill

( YP )

digambarkan dengan

garis lurus (L1). Namun dalam kenyataannya tidak lurus demikian. Dari sini jelas bahwa
Keynes mengikuti jejak kaum klasik (paling tidak Marshall) bahwa permintaan uang untuk
transaksi tergantung dari pendapatan. Namun, Keynes bebeda dengan kaum klasik dalam hal
penekanan pada motif spekulasi dan peranan tingkat bunga dalam menentukan permintaan
uang untuk spekulasi.
2.3.2.

Permintaan Uang Untuk Berjaga-Jaga

2.3.3.

Permintaan Uang Untuk Spekulasi

Dalam perekonomian modern sebagian dari harta rumah tangga disimpan dalam
bentuk harta-harta keuangan seperti saham, obligasi atau ditabung dalam bentuk deposito.
Harta keuangan ini mereka simpan untuk memperoleh pendapatan, yang biasanya diukur
sebagai persentase harta keuangan tersebut. Dalam penyimpanan dana seperti itu setiap
indivisu dan rumah tangga dalam perekonomian selalu menghadapi pilihan berikut:
memegang uang atau melepaskan uang itu untuk mebeli harta-harta keuangan.
Suku bunga merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pilihan
tersebut. Untuk mengetahui bagaimana suku bunga akan mempengaruhi pilihan tersebut,
misalkan dua suku bunga yang sangat berbeda tingkatnya: sangat rendah dan sangat tinggi.

Pada suku bunga yang rendah masyarakat akan lebih suka memegang uang dan membeli
harta-harta keuangan. Mereka akan merasa bahwa hasil (pendapatan dari bunga) tidak cukup
menarik, oleh karenanya, masyarakat akan merasa rugi memegang uang karena tidak
menghasilkan pendapatan.
Uang yang diminta masyarakat untuk digunakan dalam kegiatan seperti yang
diterangkan diatas dinakan permintaan uang untuk spekulasi. Oleh karena suku bunga
merupakan faktor utama yang menentukan apakah uang tersebut tetap disimpan atau dibelikan
harta-harta keuangan, maka sifat permintaan uang untuk tujuan spekulasi dapat dinyatakan
dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
M DS =f (r)
Dimana

M DS adalah permintaan uang untuk spekulasi dan r adalah suku bunga. Pada ketika

suku bunga tinggi, masyarakat akan mengganti uang dengan harta-harta keuangan, maka nilai
M DS adalah rendah. Dan pada ketika suku bunga rendah, masyarakat lebih suka memegang
uang dan ini menyebabkan

M DS

tinggi.

2.4. Permintaan Uang Menurut Umer Chapra


Persamaan money demand dalam Chapra (1996) menjelaskan salah satu variabel yang
belum pernah digunakan dalam teori permintaan uang yaitu variabel social values, terlihat
pada persamaan dibawah ini:
Md=f (Ys , S , )

Dimana, Ys menunjukkan barang dan jasa yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan dan
investasi produktif dan tentunya tidak bertentangan dengan nilai Islam. Sementara itu, S
menunjukkan seluruh moral, nilai-nilai sosial dan institusi (termasuk zakat) yang
mempengaruhi alokasi dan distribusi sumber dan dapat membantu meminimasi Md bukan
hanya untuk konsumsi yang mencolok dan investasi yang tidak produktif, namun juga tujuantujuan pencegahan dan spekulasi. Sementara menunjukkan tingkat suku keuntungan atau
kerugian dalam suatu sistem yang mana tidak membolehkan penggunaan tingkat suku bunga
sebagai intermediasi keuangan.4
Di sini, Umer Chapra terlihat menambahkan satu komponen yakni S dan menjadikan r
sebagai , sebagai bentuk pelarangan riba. Namun demikian, sebenarnya, Ys pun dibatasi
dengan tidak bertentangan dengan nilai Islam.
Dalam penelitiannya Umer Chapra belum dapat membuktikan secara empiris
persamaan diatas, dan dalam hipotesisnya mengenai pengaruh social values terhadap jumlah
4 Muhammad Umer Chapra ,Monetary Management in an Islamic Economy. Dalam Jurnal Islamic
Economic Studies. Vol. 4, No. 1, December 1996.

permintaan uang tidak dijelaskan apakah berpengaruh negatif pada jangka panjang atau
jangka pendek.

Dimana dalam transaksi tidak ada unsur untuk konsumsi yang bermewah-mewah atau
menunjukkan status atau simbol dan kegiatan yang tidak bermanfaat. Dan investasi yang
dilakukan haruslah yang produktif, sedangkan untuk impor yang dilakukan adalah untuk
memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dicukupi oleh negara sendiri. Kegiatan yang spekulatif
dalam persamaan permintaan uang Islam adalah kegiatan yang tidak diperbolehkan.5
2.5. Teori Kuantitas Modern
Pandangan Friedman mengenai faktor-faktor yang menentukan permintaan uang
dalam perekonomian dikenal sebagai teori kuantitas modern. Nama yang demikian diperoleh
sebagai akibat dari judul tulisan Friedman pada ketika mengemukakan pandangan tersebut,
yaitu: The Quantity of Money A Restatement. Pandangan ini merupakan reaksi atas
pandangan Keynes mengenai faktor-faktor yang menentukan permintaan uang, yang tidak
5 Ebrinda Daisy Gustiani, Ascarya, Jaenal Effendi, "Analisis Pengaruh Social
Values Terhadap Jumlah Permintaan Uang Islam Di Indonesia, Buletin Ekonomi Moneter
dan Perbankan, April 2010, h. 527-528.

disetujui sepenuhnya oleh Friedman. Pandangan Keynes yang menyatakan bahwa suku bunga
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi permintaan uang dapat diterima oleh
Friedman. Bahkan dalam segi ini, Friedman lebih menyempurnakan lagi analisis Keynes
dengan melihat bukan saja kepada suku bunga obligasi, tetapi suku bunga aset lain seperti
simpanan tetap. Disamping itu, Friedman menyebutkan pula beberapa penentu permintaan
uang lain yang tidak dianalisis oleh keynes. Walaupun demikian, Friedman masih tetap
menyokong pandangan Klasik yang pada hakikatnya berpendapat bahwa permintaan uang
adalah proporsional dengan pendapatan nasional.
Untuk menunjukkan perbedaan di antara golongan klasik, Keynes dan teori kuantitas
modern, ada baiknya apabila terlebih dahulu disimpulkan perbedaan di antara permintaan
uang dari segi teori kuantitas dan permintaan uang menurut padangan Keynes. Sesudah itu,
baru ditunjukkan persamaan dan perbedaan dari keduanya teori ini dengan teori kuantitas
modern.
Apabila diperhatikan kembali pandagan Klasik mengenai faktor yang menentukan
permintaan uang dapat dilihat bahwa permitaan uang untuk membayar transaksi merupakan
satu-satunya faktor yang menentukan permintaan uang. Jumlah uang yang diperlukan adalah
proporsional dengan nilai transaksi atau pendapatan nasional yang dicapai dalam suatu
periode. Pandangan klasik dapat dinyatakan dalam persamaan aljabar berikut:
D

M =kY

atau

M D=

1
Y
V

Keynes mempunyai pendapat yang sedikit berbeda, yaitu disamping permintaan uang untuk
tujuan membiayai transaksi, Keynes menekankan pula peranan pemegangan uang untuk
berjaga-jaga dan untuk spekulasi sebagai faktor yang mempengaruhi permintaan uang.
Pandangan Keynes dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:
M D =kY + h(r )
Nilai kY ditentukan oleh permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga, sedangkan nilai
h(r) ditentukan oleh kebutuhan uang untuk spekulasi.
Dalam teori kuantitas modern seperti yang dikemukakan Friedman, permintaan uang
ditentukan oleh faktor-faktor berikut: tingkat harga, suku bunga, obligasi, suku bunga
equities, modal fisikal dan kekayaan.
Teori permintaan uang Klasik dan Keynes menekankan kepada permintaan uang
nominal. Pandangan ini berbeda dengan teori Friedman menekankan kepada permintaan uang
riil atau real balances. Mengenai peranan harga dalam menentukan permintaan uang,
Friedman berpendapat bahwa memegang uang adalah salah satu cara untuk menyimpan
kekayaan. Cara-cara yang lain adalah menyimpan dalam harta keuangan (financial assets)

seperti obligasi, deposito tetap dan saham, menyimpan harta tetap (tanah dan rumah), dan
human wealth. Pada ketika inflasi, nilai uang akan merosot dan mendorong masyarakat
mengurangi pemegangan uang dan menggantikannya dengan pemegangan harta keuangan
atau harta tetap.
Masyarakat dapat menyimpan harta keuangan terutama dalam bentuk obligasi dan
ekuiti. Dalam membuat pilihan apakah akan tetap memegang uang atau menggantikan uang
itu dengan pemilikan obligasi dan ekuiti, suku bunga sangat penting peranannya. Suku
bungan yang tinggi mendorong orang membeli lebih banyak obligasi dan ekuiti dan
mengurangi pemegangan uang. Berarti permintaan uang berkurang apabila suku bunga
obligasi dan ekuiti meningkat. Keadaan yang sebaliknya akan menambah permintaan uang.
Modal fisikal dapat menghasilkan pendapatan (seperti menyewakan rumah) dan
memiliki harta fisikal merupakan alternatif kepada menyimpan kekeyaan berupa uang.
Apabila modal fisikal mendatangkan hasil yang lumayan, masyarakat akan cenderung
mengurangi pemegangan uangnya. Dengan demikian permintaan uang akan berkurang. Akan
tetapi, apabila modal fisikal tidak menghasilkan pendapatan yang cukup, orang akan lebih
suka memegang uang dan meningkatkan perintaan ke atas uang.
Pendapatan dan kekayaan merupakan dua faktor penting lain yang mempengaruhi
permintaan uang. Pendapatan akan menentukan kemampuan masyarakat untuk berbelanja.
Semakin banyak pendapatan dan kekayaan, semakin banyak pula tinkat perbelanjaan. Ini
berarti, semakin tinggi pendapatan dan kekayaan, semakin banyak pula permintaan uang
untuk transaksi.
Berdasarkan kepada faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang diatas, teori
permintaan uang yang didasarkan kepada teori kuantitas modern seperti yang dikembangkan
oleh Friedman, dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:
M D =f ( P ,r , fFC , Y )
Dimana MD adalah permintaan uang nominal, P adalah tingkat harga, r adalah suku bunga,
fFC adalah tingkat pengembalian modal dari modal fisikal, dan Y adalah pendapatan dan
kekayaan. Apabila dipertimbangkan pula pandangan Friedman mengenai perlunya
memperhatikan permintaan uang riil, maka persamaan permintaan uang perlu dinyatakan
secara berikut:
MD
=f ( P , t , Y ' )
P
Dimana MD/P adalah permintaan uang riil, P adalah tingkat kenaikan harga, r adalah suku
bunga untuk obligasi, ekuiti dan tingkat pengembalian modal untuk modal fisikal, dan Y
adalah nilai pendapatan dan kekayaan riil.

Apabila dibandingkan pandangan Keynes dengan pandangan Friedman, persamaan


penting dari kedua teori itu adalah keduanya berpendapat bahwa permintaan uang bukan saja
ditentukan oleh kebutuhan membiayai transaksi, tetapi juga oleh faktor-faktor lain. Yang
penting dari faktor ini adalah keinginan untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk suku
bunga. Keynes menekankan tentang suku bunga obligasi, manakala Friedman menekankan
kepada suku bunga obligasi, suku bunga ekuiti dan tingkat pengembalian modal harta fisikal.
Walaupun terdapat persamaan pendapat ini, Friedman berbeda pendapat dengan Keynes
mengenai kesensifan permintaan uang ke atas perubahan suku bunga. Menurut Friedman,
perubahan-perubahan dalam suku bunga tidak akan banyak menimbulkan perubahan ke atas
permintaan uang, sedangkan Keynes berpendapat perubahan suku bunga sangat
mempengaruhi permintaan uang.
Dibandingkan dengan permintaan uang yang diterangkan oleh ahli ekonomi klasik
seperti yang disimpulkan dari teori kuantitas, teri permintaan uang Friedman adalah sama
dengan pandangan klasik dalam hal sifat hubungan di antara pendapatan nasional dengan
permintaan uang. Walaupun Friedman berpendapat bahwa terdapat banyak faktor yang
menentukan permintaan uang, tetapi hubungan di antara permintaan uang dengan pendapatan
nasional masih bersifat proporsional. Dalam bentuk yang lebih disederhanakan, teori
permintaan uang Friedman dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:
MD
=f ( P , r ) . Y '
P
Dimana Y adalah pendapatan nasional rill. Menurut pendapat Friedman, nilai f(P,r) adalah
cukup stabil dan tidak banyak berubah. Perubahan harga dan suku bunga tidak akan banyak
mempengaruhi nilainya. Sebagia akibat dari keyakinan ini, seperti juga dengan yang diyakini
oleh ahli-ahli ekonomi klasik, Freiedman berpendapat bahwa permintaan uang adalah
proporsional dengan pendapatan nasional riil.6

6 Sadono Sukirno, Makroekonomi Modern: Perkembangan Pemikiran dari Klasik Hingga


Kenesian Baru (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000), h. 417-420

BAB III
3.1. Kesimpulan