Anda di halaman 1dari 8

Kiki Taurista / NIM.

140341808621/Pascasarjana

REKAYASA GENETIKA

Pengertian Rekayasa Genetika

Rekayasa genetika adalah manipulasi sifat genetik suatu organisme dengan cara
mengintroduksi atau mengeliminasi gen-gen tertentu (Micklos, dkk., 1990).

Rekayasa genetika adalah manipulasi genetik dalam sel untuk menghasilkan sesuatu sifat
yang dikehendaki, kadang-kadang disebut teknologi rekombinan DNA (Rasmussen, dkk.,
1990).

Rekayasa genetika adalah teknik menguah konstitusi genetik sel atau individu dengan cara
pemindahan selektif, insersi, atau dengan cara modifikasi gen baik yang individual maupun
yang berupa perangkat gen (Klug, dkk., 1990).

Bahwa pada rekayasa genetika ada manipulasi atas materi genetik dengan cara menambah
atau menghilangkan gen tertentu. Dengan demikian, tanpa manipulasi atas materi genetik
dengan cara seperti tersebut, sesuatu macam bioteknologi seperti kultur jaringan, bahkan
kultur sel, tidak layak dikategorikan sebagai teknologi rekayasa genetika.

Berbagai fenomena genetik alami, jika dicermati, sebenarnya menjadi model alami dari
teknologi rekayasa genetika. Fenomena genetik alami itu antara lain crossing over, gene pick
up, transduksi, insersi, delesi, translokasi (transposisi), fusi, dan fisi. Pada berbagai fenomena
genetik alami itu terjadi pemutusan, penyambungan, serta perpindahan bagian materi genetik
yang dapat berakibat terjadinya oenambahan atau peniadaan sesuatu atau beberapa gen.

Proses Rekayasa Genetika

Terdapat berbagai teknik yang digunakan dalam rekayasa genetika, misalnya, transfer vektor,
injeksi mikro, fusi protoplas, dan elektroforasi. Selain itu dikenal pula teknik kopresipitasi
kalsium fosfat dan endositosis, serta teknik proyektil mikro.
1) Transfer Vektor
Transfer vektor merupakan cara memasukkan suatu gen ke sel baru dengan
menggunakan pembawa (carrier) khusus. Transfer semacam ini memanfaatkan
proses alami seperti yang terjadi pada transfer DNA oleh bakteri dan virus. Vektorvektor yang dignakan untuk memasukkan gen ke dalam suatu sel baru adalah
1

Kiki Taurista / NIM. 140341808621/Pascasarjana

plasmid, bakteriofag, dan kosmid atau cosmid. Selain vektor-vektor tersebut, dikenal
juga macam vektor yang disebut shuttle vectors atau vektor ulang-alik.
Vektor-vektor tersebut adalah molekul DNA. Sebagai vektor suatu molekul DNA
harus memiliki sifat-sifat seperti di bawah ini:
a. molekul DNA itu harus mampu melakukan replikasi sendiri maupun replikasi
segmen dNA yang diinsersikan bebas dari replikasi kromosom sel inang dengan
cara membawahi suatu ori.
b. molekul DNA itu mengandung sejumlah tapak pemutusan enzim restriksi khusus
yang bermanfaat untuk insersi segmen-segmen DNA.
c. molekul DNA itu membawahi suatu penanda yang dapat dimanfaatkan (biasanya
antara lain berupa gen-gen yang bertanggung jawab terhadap resistensi) untuk
identifikasi sel-sel inang yang mengandungnya.
d. molekul DNA itu mudah terbebas kembali dari sel inang.
Sifat-sifat lain vektor yang diharapkan antara lain:
a. berat molekul rendah
b. adanya kemampuan untuk memberikan sifat fenotip yang dipilih dengan segera
pada sel inang.
Populasi adalah kumpulan dari individu-individu yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan dan induk, dengan kata lain populasi adalah kumpulan dari individuindividu yang sejenis (satu spesies). Ikatan dari induk yang menghubungkan antar
anggota pada populasi yang sama selalu ada, tetapi perkawinan selalu tidak ada
pada organisme yang reproduksinya secara aseksual. Sebuah populasi, di sisi lain,
memiliki keberlangsungan dari generasi ke generasi, lebih dari itu, konstitusi
genetik dari sebuah populasi dapat berubah, berevolusi, lebih dari beberapa
generasi.
Plasmid
Contoh plasmid misalnya pSC101(58 M dal), ColEl (4,2 M dal), dan RSF2124 (7,4
M dal). Rincian ketiga plasmid itu ditunjukkan pada Tabel 1.

Kiki Taurista / NIM. 140341808621/Pascasarjana


Tabel 1. Rincian Sifat dari Tiga Plasmid yang Terbentuk Secara In Vivo pada E. coli
Plasmid

Ukuran (M Tapak

pSC101

dal)
5,8

tunggal Penanda

untuk Inaktivasi insersi

untuk endonuclease seleksi transforman


Xho L, Eco R1, Resisten tetrasiklin

dari
Reistens

Rvu II, Hind II,

tetrasiklin

Hpa I, Hind III,


Col El

4,2

Bam HI, Sal I


Eco RI

Imunitas

RsF 2124

7,4

Eco RI, Bam HI

colicin E1
Resistensi ampisilin

terhadap Produksi
E1
Produksi

colicin
colicin

E1

Bakteriofag
Yang banyak digunakan dalam teknologi DNA rekombinan pada E.coli adalah fag .
Seluruh gen fag sudah diidentifikasi dan dipetakan, urutan-urutan genom secara
keseluruhan juga sudah diketahui. Bakteriofag lain yang juga digunakan sebagai
vektor adalah M13 yang berupa DNA unting tunggal.
Kosmid
Kosmid adalah vektor yang dibangun/dibuat di laboratorium memanfaatkan uruturutan cos dan fag yang berguna untuk pemasukan/pengumpulan kromosom ke
dalam kepala fag dan yang memanfaatkan pula urut-urutan (bagian tengah kosmid)
untuk fungsi resistensi terhadap antibiotik serta replikasi.
Vektor ulang-alik (shuttle vectors)
Yaitu vektor-vektor yang dapat digunakan untuk memasukkan molekul DNA
rekombinan ke dalam dua atau lebih macam sel makhluk hidup yang berbeda. Dalam
rumusan lainnya adalah vektor pengklon yang dapat bereplikasi di dalam dua atau
lebih makhluk hidup inang. Contohnya pada Gambar 1 berikut.
2) Injeksi mikro, fusi protoplas, elektroforasi, kopresipitasi kalsium fosfat dan endositosis,
serta proyeksi mikro
Pada injeksi mikro digunakan jarum mikroskopis untuk memasukkan DNA melalui
membran sel sasaran, termasuk ke dalam inti sel.

Kiki Taurista / NIM. 140341808621/Pascasarjana

Gambar 1. Vektor ulang alik yEp24 pada khamir dan E. coli


(Ressel, 1992 dalam Corebima, 2000)

Pada fusi protoplas terjadi pelarutan dua membran sel dari sel-sel yang berbeda
sehingga dua sel dapat digabung menjadi satu, contoh yang dikemukakan misalnya
fusi antara sel-sel yang dikultur dengan protoplas bakteri yang mengandung DNA
eksogen. Pada fusi protoplas juga digunakan liposom. Pemanfaatan liposom sebagai
suatu sistem transformasi dan transfeksi disebut sebagai lipofeksi.
Pada teknik elektroforasi digunakan listrik untuk menciptakan lubang kecil di
membran sel yang akan dimanfaatkan untuk pemindahan DNA ke dalam sel.
Teknik kopresipitasi kalsium fosfat dan endositosis, butiran-butiran kopresipitasi
kalsium fosfat dan DNA masuk ke dalam sel melalui endositosis fagositosis.
Pada teknik proyektil mikro, DNA ataupun RNA ditembakkan ke dalam sel. Teknik
tersebut untuk memasukkan asam nukleat ke dalam sel tumbuhan memanfaatkan
kecepatan tinggi. Teknik proyektil mikro tidak dibutuhkan kultur sel ataupun
perlakuan jaringan resipien.
Prosedur Dasar Teknologi DNA Rekombinan
4

Kiki Taurista / NIM. 140341808621/Pascasarjana

Pembuatan fragmen DNA dengan bantuan enzim nuklease retriksi

Segmen-segmen tersebut digabung ke molekul DNA lain dengan bantuan vektor.

Vektor yang sudah terinsersi segmen DNA ditransfer ke suatu sel inang.

Segmen-segmen DNA yang diklon dapat diambil dari sel inang, dimurnikan, dan dianalisis.

Sel-sel inang yang mengandung DNA rekombinan mewariskannya kepada seluruh sel
turunan, menghasilkan suatu populasi sel-sel yang identik yang semuanya membawahi uruturutan yang diklon.

Secara potensial DNA yang diklon dapat ditranskripsikan, RNAd-nya dapat ditranslasikan,
serta produk-produk gennya diisolasi dan dikaji.

Peran Enzim Endonuklease Retriksi

Enzim endonuklease retriksi digunakan untuk memotong molekul DNA unting ganda pada
urutan pasangan nukleotida spesifik yang dikenal sebagai tapak retriksi.

Enzim tersebut dibagi menjadi dua kelompok atau tipe, antara lain, tipe I akan mengenali
suatu urutan pasangan nukleotida yang spesifik pada DNA dan selanjutnya memotong DNA
pada suatu tapak tidak spesifik jauh dari urutan tadi. Enzim tipe I ini tidak terlalu bermanfaat
untuk pembentukan molekul DNA rekombinan. Enzim endonuklease retriksi tipe II juga
mengenal suatu urutan pasangan nukleotida spesifik pada DNA, tetapi tipe tersebut
memotong DNA justru di dalam urutan tadi sehingga sangat bermanfaat untuk pembentukan
molekul DNA rekombinan.

Seleksi Klon Rekombinan

Southern mengembangkan suatu metode untuk mendeteksi fragmen-fragmen di dalam sel


agarose yang komplementer dengan urutan RNA atau DNA tertentu. MEtode tersebut dikenal
sebagai Southern Blotting (dapat dilihat pada Gambar 2), yang kemudian dikembangkan
untuk menganalisis RNA dan protein yang dikenal dengan Nothern dan Western Blotting.

Pada intinya teknik blotting adalah mentransfer makro molekul dari gel yang berarti mereka
telah dipisahkan secara elektroforesis ke permukaan suatu membran.

Kiki Taurista / NIM. 140341808621/Pascasarjana

Gambar 2. Bagan teknik Southern blotting


(http://nptel.ac.in/courses/102103016/module3/lec28/3.html)

Manfaat dan Risiko Rekayasa Genetika


Manfaat

Manfaat rekayasa genetika dapat dilihat dalam kaitannya dengan analisis genetik, diagnosis
molekuler atas penyakit manusia, terapi gen, sidik jari DNA, serta bioteknologi.
1) teknik rekombinan DNA untuk kepentingan analisis genetik, memungkinkan pengadaan
suatu kumpulan klon yang meliputi keseluruhan klon dan pemetaan genetik maupun fisik
yang lengkap, serta memungkinkan penerapan urutan nukleotida dan keseluruhan
kromosom.
2) diagnosis molekuler atas penyakit manusia, contohnya atas Thelessemia dan sickle cell
anemia.
3) terapi gen
Secara operasional digunakan dalam bidang kedokteran untuk menangani kelainankelainan menurun dengan mengganti gen cacat dengan salinan gen normal. Persyaratan
terapi gen sebagai berikut.
a. gen harus diisolasi dan ditransfer
b. cara transfer gen yang efektif harus ada
6

Kiki Taurista / NIM. 140341808621/Pascasarjana

c. jaringan target harus dapat tercapai


d. terapi gen tidak boleh menyakiti pasien.

4) sidik jari DNA


RFLP sudah digunakan untuk membedakan salinan gen yang normal dari yang mutan dan
dapat digunakan sebagai penanda genetik, karena polimorfisme tersebut diwariskan
dalam pola kodominan. Kelompok urutan nukleotida yang berulang tandem dalam lokuslokus (disebut pula VNTR atau variable number tandem repeats) merupakan pola pita
yang digunakan sebagai penanda genetik. Pola pita yang dihasilkan tatkala urutan VNTR
dipotong dengan menggunakan enzim endonuklease restriksi dan divisualisasikan dengan
southern blotting itulah yang dikenal sebagai sidik jari DNA. RFLP tersebut ekuivalen
dengan sidik jari konvensional karena pola pita yang dihasilkan berbeda-beda dari orang
per orang.
Bioteknologi di Bidang Pertanian

Menurut Micklos dan Freyer, kesulitan analitis genetis tanaman disebabkan oleh: (1)
pertumbuhan tanaman yang lambat dan umur pergantian generasi yang lama, (2) besarnya
genom tanaman, termasuk banyaknya kromosom poliploid, dan (3) dimilikinya dinding sel.
Oleh karena itu, penelitian dilakukan terutama untuk sifat-sifat yang dikendalikan oleh gen
tunggal, namun masalahnya kebanyakan sifat dikendalikan oleh banyak gen. Misalnya,
tumbuhan memerlukan nitrogen (fiksasi nitrogen) untuk membuat protein. Fiksasi N
dikendalikan oleh lebih dari 15 gen yang berbeda dalam sistem bakteri/tanaman. Gen-gen itu
harus diletakkan dalam pada sisi/tempat tertentu dalam kromosom tanaman agar dapat
berfungsi.

RUJUKAN
Corebima, A.D. 2000. Rekayasa Genetika. Hand out tidak dipublikasikan.
PERTANYAAN DAN JAWABAN
1) Apa perbedaan jenis-jenis enzim endonuklease restriksi?
Ezim endonuklease restriksi tipe I akan mengenali suatu urutan pasangan nukelotida
yangspesifik pada DNA dan selanjutnya memotong DNA pada suatu tapak tidak spesifik jauh
7

Kiki Taurista / NIM. 140341808621/Pascasarjana

dari urutan. Enzim endonuklease restiksi tipe I tidak terlalu bermanfaat untuk pembentukan
molekul DNA rekombinan. Enzimendonuklease restiksi tipe II suatu urutan pasangan
nukleotida spesifik pada DNA namun tipe ini memotong DNA di dalam urutan.
Enzimendonuklease restriksi tipe II memeliki suatu sumbu simetri yang melewatititik tengah
urutan pengenalan. Dalam urutan basa 5 3pada unting DNA sama dengan urutan basa 5
3 pada komplementernya.
2) Apa perbedaan antara teknik elektroporasi dengan teknik proyektil mikro?
Pada teknik elektroforasi digunakan listrik untuk menciptakan lubang kecil di membran sel
yang akan dimanfaatkan untuk pemindahan DNA ke dalam sel. Sedangkan pada teknik
proyektil mikro, DNA ataupun RNA ditembakkan ke dalam sel. Teknik tersebut untuk
memasukkan asam nukleat ke dalam sel tumbuhan memanfaatkan kecepatan tinggi. Teknik
proyektil mikro tidak dibutuhkan kultur sel ataupun perlakuan jaringan resipien.