Anda di halaman 1dari 35

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

PENGAMATAN KEGIATAN PENGEBORAN PERSIAPAN


LUBANG LEDAK PEMBONGKARAN OVER BURDEN PT.
PAMAPERSADA NUSANTARA

Disusun Oleh :
NISFY SIBYANNUR

DBD 111 0038

DARWIS MANTO

DBD 111 0133

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN


TINGGI UNIVERSITAS PALANGKARAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2015

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat

dan

anugerahNya

PENGAMATAN
LEDAK

sehingga

KEGIATAN

PEMBONGKARAN

proposal

kerja

PENGEBORAN
OVER

praktik

dengan

PERSIAPAN

BURDEN

PT.

judul

LUBANG

PAMAPERSADA

NUSANTARA dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.


Pada penyusunan laporan kerja praktik nantinya, penyusun melakukan
pengamatan pada rancangan pengeboran secara aktual dan plan. Penyusun tidak lupa
mengucapkan terima kasih kepada para dosen selaku pembimbing kerja praktik yang
akan kami laksanakan.
Penyusun berharap proposal kerja praktik ini dapat bermanfaat baik bagi
pembaca pada umumnya dan penyusun khususnya. Dengan penjelasan yang
dipaparkan oleh penyusun, diharapkan pembaca dapat mengetahui kegiatan
pengeboran lubang ledak pada PT. PAMAPERSADA NUSANTARA.

Palangka Raya, Oktober 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dalam proses penambangan, pengeboran merupakan salah satu faktor
penting sebagai tahap awal sebelum peledakan dilakukan untuk pemberaian
batuan, terutama pada batuan keras. Keberhasilan peledakan sangat tergantung
dari proses pengeboran, dimana karakteristik batuan yang dibor sangat
berpengaruh terhadap kinerja alat bor yang digunakan. Dengan tujuan untuk
menyediakan lubang tembak bagi proses peledakan maka pengeboran
mempunyai peranan yang sangat penting, sehingga target produksi dapat
tercapai. Oleh sebab itu proses pengeboran lubang ledak harus dipersiapkan

1.2

dengan baik.
Maksud dan Tujuan
Adapun maksud pembuatan proposal kerja praktik dengan judul
PENGAMATAN KEGIATAN PENGEBORAN PERSIAPAN LUBANG
LEDAK PEMBONGKARAN OVER BURDEN PT. PAMAPERSADA
NUSANTARA.antara lain :
1. Melakukan pengamatan terhadap proses atau tahapan kegiatan pengeboran
di PT. PAMAPERSADA NUSANTARA
2. Melakukan pengamatan terhadap metode pengeboran yang diterapkan di PT.
PAMAPERSADA NUSANTARA.
3. Melakukan

pengamatan

keberhasilan pengeboran.

terhadap

faktor-fakor

yang

mempengaruhi

4. Melakukan pengamatan terhadap peralatan dan perlengkapan yang


digunakan di PT. PAMAPERSADA NUSANTARA.
Sedangkan

tujuan

daripada

pembuatan

proposal

dengan

judul

PENGAMATAN KEGIATAN PENGEBORAN PERSIAPAN LUBANG


LEDAK

PEMBONGKARAN

OVER

BURDE

PT.

PAMAPERSADA

NUSANTARA adalah :
1. Untuk mengetahui proses atau tahapan kegiatan pengeboran di PT.
PAMAPERSADA NUSANTARA.
2. Untuk mengetahui terhadap metode pengeboran yang diterapkan di PT.
PAMAPERSADA NUSANTARA.
3. faktor-fakor yang mempengaruhi keberhasilan pengeboran.
4. Untuk mengetahui peralatan dan perlengkapan yang digunakan di PT.
PAMAPERSADA NUSANTARA.
1.3

Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dikaji dalam pengamatan dan penyusunan
laporan kerja praktik dengan judul PENGAMATAN KEGIATAN PENGEBORAN
PERSIAPAN LUBANG LEDAK PEMBONGKARAN OVER BURDEN PT.

PAMAPERSADA NUSANTARA. nantinya sebagai berikut :


1. Bagaimana proses atau tahapan kegiatan pengeboran

di

PT.

PAMAPERSADA NUSANTARA ?.
2. Metode pengeboran seperti apa yang diterapkan di PT. PAMAPERSADA
NUSANTARA?.
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses pengeboran ?

4. Peralatan
1.4

dan

perlengkapan

apa

yang

digunakan

pada

kegiatan

pengeboran ?.
Batasan Masalah
1. Pengamatan dilakukan di PT. PAMAPERSADA NUSANTARA.
2. Skill operator dianggap sama.
3. Tidak membahas masalah ekonomis khususnya biaya yang digunakan pada
kegiatan pengeboran.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengeboran (Drilling)
2.1.1

Defenisi Pengeboran

Dalam suatu operasi peledakan batuan, kegiatan pemboran


merupakan pekerjaan yang pertama kali dilakukan yang bertujuan untuk
membuat sejumlah lubang ledak dengan geometri dan pola yang sudah
ditentukan pada massa batuan, yang selanjutnya akan diisi dengan
sejumlah bahan peledak untuk diledakkan.
2.1.2

Prinsip Pengeboran
Hampir dalam semua bentuk penambangan, batuan keras diberai
dengan pengeboran dan peledakan. Pengeboran dan peledakan dibutuhkan
di sebagian besar tambang terbuka dan tambang bawah tanah. Jika batuan
sangat lemah, hancur atau terlapukkan, batuan dapat diberai tanpa
menggunakan bahan peledak.
Pada kegiatan penambangan, kinerja pengeboran adalah untuk
menyediakan lubang tembak sebagai tempat bahan peledak disebut
pengeboran produksi (production drilling). Pengeboran juga dilakukan di
tambang terbuka untuk kegunaan lain, yaitu selama eksplorasi untuk
mendapatkan contoh dari lubang bor dan selama masa persiapan tambang
(development) untuk penirisan, kestabilan lereng, dan test pondasi. Hanya
pada fase produksi tambang terbuka, metode pengeboran yang dipakai
merupakan suatu hal yang unik dan khusus.
Terdapat dua faktor utama dalam pengembangan alat bor batuan.
Pertama, perkembangan mekanisme pengeboran dan sifat metalurgi
komponen pengeboran, drill steel, batang bor dan mata bor. Kedua,

meningkatnya pengetahuan tentang proses dasar dari fragmentasi batuan


dan pemakaian energi dalam pengeboran batuan yang efektif.
2.1.3

Klasifikasi Metode Pengeboran


Suatu klasifikasi metode pengeboran dapat dibuat dengan beberapa
kriteria, diantaranya meliputi ukuran lubang bor, cara mounting, dan tipe
tenaga yang digunakan. Klasifikasi yang umum dipakai untuk semua jenis
pengeboran di penambangan menggunakan beberapa prinsip penetrasi,
seperti pengrusakan batuan, gesekan dan pemotongan batuan. Klasifikasi
alat bor secara umum berdasarkan jenis gerakan gaya adalah:
1. Percussive (batuan dipecahkan oleh tumbukan berulang kali).

Pneumatic rock drill.


Down the hole drill.
Motor drill.
Cable tool churn drill.
2. Attritive (batuan digerus oleh kekuatan abrasi).

Diamond rill.
Chilled shot atau Calyx drill.
3. Rotative-cutting (batuan dipotong atau diserut).

Auger drill.
4. Rotative-shearing (batuan dipecahkan oleh kekuatan baji atau
gesrean).

Drag-bit drill.
Rotary-percussive drill.
5. Rotary-Crushing (batuan dipecahkan akibat tekanan vertikal baji).

Heavy rotary drill.


2.1.4

Metode dan Komponen Pengeboran


Secara umum metode pengeboran dapat diklasifikasikan menjadi
tiga, yaitu:

1. Pengeboran Rotari.

Rotary crushing.
Rotary cutting.
Auger drilling.
2. Pengeboran Perkusi.
3. Pengeboran Rotari-Perkusi.

Top Hammer:
a. pneumatic air compressor.
b. portable air compressor.
c. hydraulically operated self contained carrier.
Terdapat empat komponen utama yang ada di semua metode
pengeboran, yaitu:
1. Feed
2. Rotation

3. Percussion
4. Flushing
Keselarasan antara gaya-gaya percussion, rotation, cutting, dan
gaya feed menyebabkan bit dapat melakukan penetrasi ke batuan. Metode
pengeboran rotary seperti yang digunakan di pit Batu Hijau,
memanfaatkan komponen feed, rotation dan flushing serta dengan
meningkatkan gaya feed dan torsi rotation. Dalam memilih alat bor, perlu
diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
1. Diameter lubang ledak
2. Kedalaman lubang ledak/dimensi dan geometri jenjang
3. Jenis batuan
4. Kondisi lapangan dan jalan masuk
5. Fragmentasi dan produksi yang dibuthkan dan ditentukan
6. Biaya pengeboran
7. Peraturan-peraturan yang harus dipatuhi

2.1.5

Teori Penetrasi
2.1.5.1 Komponen-komponen Sistem Operasi

Terdapat 4 komponen fungsional utama dalam suatu sistem


pengeboran, yaitu:
Alat bor/drill (sumber energi).
Batang bor/rod (energy transmitter).
Mata bor/bit (energi applicator).
Sirkulasi fluida.
Komponen-komponen ini berhubungan dan pemakaian
energi dari system pengeboran dalam pengrusakan batuan dengan
urutan sebagai berikut:
1.

Alat bor adalah penggerak utama, mengkonversikan energi dari


bentuk awal (fluida, listrik, pneumatic, atau motor bakar)
menjadi energi mekanik untuk menggerakkan sistem.

2.

Batang

bor

(atau

drill

steel,

batang,

atau

pipa),

mentransmisikan energi dari penggerak utama atau sumber


energi ke bit/mata bor atau applicator.
3.

Mata bor adalah pemakai energi dalam sistem, merusak batuan


secara mekanik untuk mencapai suatu penetrasi .

4.

Fluida membersihkan lubang, mengontrol debu, mendinginkan


bit/mata bor, dan sewaktu-waktu menstabilkan lubang.
Dalam mesin bor komersial, perhatian harus difokuskan

terhadap tingkat kehilangan energi dalam transmisi. Hal ini

menyebabkan diperkenalkannya down hole (in the hole) drill dan


roller bit rotary. Alat ini menggantikan transmisi energi dengan
transmisi fluida atau secara elektrik, yang biasanya akan
meningkatkan energi pada mata bor/bit dan pengeboran menjadi
lebih cepat.
2.1.5.2 Pengeboran Rotari Perkusi
Mesin bor dengan prinsip rotari perkusi dibagi dalam dua
bagian besar yaitu:
1.

Top Hammer
Ada dua gerakan dasar, perkusi dan rotary yang
digerakkan dari luar lubang bor dan ditransmisikan ke mata
bor melaui shank adaptor dan drill steel.

2.

Down the hole hammer


Gerakan perkusi dilakukan langsung ke bit sedangkan
rotari digerakkan dari luar lubang bor. Piston penggerak
perkusi menggunakan energi pneumatic sedangkan rotasi dapat
dengan energi pneumatic atau hidrolik. Keuntungan mesin bor
rotasi perkusi adalah:
1. Dapat digunakan untuk membor batuan dari lunak hingga
keras.
2. Diameter lubang sangat bervariasi.

3. Sangat versatile bisa berbagai kondisi operasi dan sangat


mobil.
4. Hanya perlu satu operator.
5. Mudah perawatan.
6. Biaya investasi tidak tinggi.
7. Tergantung kepada aplikasi lapangan, mesin bor rotasi
perkusi dapat digunakan di permukaan atau bawah tanah.
Bor rotasi perkusi merupakan kombinasi dari gerakangerakan berikut:
Perkusi, impak yang dilakukan berulang oleh tiupan dari
piston membangkitkan gelombang kejut yang ditransmisikan
ke bit melaui drill steel (adaptor hammer) atau langsung ke
bit (Down the hole hammer).
Rotasi, dengan gerakan ini mata bor diputar agar impak yang
dihasilkan mengenai batuan pada posisi yang berbeda.
Feed/thrust load, dalam upaya memelihara kontak antara bit
dengan batuan, thurst load harus diberikan ke batang bor.
Flushing, tiupan udara bertekanan untuk mengeluarkan
serpihan/cutting hasil pengeboran ke luar lubang bor.

2.1.6

Perlengkapan Metode Pengeboran Rotari-Perkusi


2.1.6.1 Integrated Drill Steels
Integral drill steels terdiri dari shank adaptors, batang bor,
dan mata bor yang telah terpasang menjadi satu. Pada umumnya
integral drill steels digunakan pada jenjang yang relatif rendah
dengan diameter lubang bor antara 22 41 mm.
2.1.6.2 Extension Drill Steels
Extension Drill Steels terdiri dari empat komponen utama
yang dapat dipisahkan satu sama lain. Komponen utama tersebut
adalah:
a.

Shank Adaptors
Shank adaptors adalah bagian tangkai yang digunakan
untuk mentransmisikan energi utama dari piston ke batang bor,
kemudian dilanjutkan ke batang bor. Shank adaptors terdapat
di dalam mesin bor dan dihubungkan oleh coupling ke batang
bor pertama.

b.

Batang Bor
Berdasarkan bentuknya batng bor terbagi menjadi lima
tipe, yaitu: Light Hexagonal Extention Rod, Standard
Hexagonal Extention Rod, Standard Round Hexagonal Rod,
Round MF-Extention, Round Double-Thread Extention Rod.

c.

Coupling
Coupling dapat digunakan untuk menghubungkan
batang bor yang satu dengan yang lainnya sampai kedalaman
lubang bor yang diinginkan.

d.

Mata Bor
Mata bor merupakan pengguna energi terakhir dari
mesin bor yang langsung mengenai batuan.

2.1.7

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pengeboran


Kinerja

suatu

mesin

bor

dipengaruhi

oleh

faktor-faktor

karakteristik material yang di bor, rock drillability, geometri pemboran,


umur dan kondisi mesin bor, dan ketrampilan operator.
2.1.7.1 Karakteristik Material
Sifat batuan yang berpengaruh pada penetrasi dan sebagai
konsekuensi pada pemilihan metode pemboran, yaitu : kekerasan,
kekuatan, elastisitas, plastisitas, abrasivitas, tekstur, struktur dan
karakteristik pembongkaran.
a. Kekerasan
Kekerasan adalah tahanan dari suatu bidang permukaan
halus terhadap abrasi. Kekerasan dipakai untuk mengukur
sifat-sifat teknis dari material batuan dan dapat juga dipakai
untuk menyatakan berapa besarnya tegangan yang diperlukan
untuk menyebabkan kerusakan pada batuan. Kekerasan batuan

merupakan suatu fungsi dari kekerasan, komposisi butiran


mineral, porositas, dan derajat kejenuhan serta merupakan hal
yang utama harus diketahui, karena setelah mata bor
memenetrasi

batuan,

maka

akan

menentukan

tingkat

kemudahan pemborannya. Kekerasan batuan diklasifikasikan


dengan skala Fredrich Van Mohs (1882).
Tabel 2.1 Kekerasan Batuan dan Kekuatan Batuan
Kuat tekan batuan
Klasifikasi

Skala Mohs
(MPa)

Sangat keras

+7

+200

67

120 200

Kekerasan sedang

4.5 6

60 120

Cukup lunak

3 4.5

30 60

Lunak

23

10 30

Sangat lunak

12

- 10

Keras

b. Kekuatan
Kekuatan mekanik suatu batuan adalah suatu sifat dari
kekuatan terhadap gaya luar, baik itu kekuatan statik maupun
dinamik. Pada prinsipnya kekuatan batuan tergantung pada
komposisi

mineralnya.

Diantara

mineral-mineral

yang

terkandung di dalam batuan, kuarsa adalah mineral yang

terkompak dengan kuat tekan mencapai lebih 500 MPa,


sehingga semakin tinggi kandungan kuarsa, akan memberikan
kekuatan semakin meningkat.
c. Elastisitas
Sifat elastisitas batuan dinyatakan dengan modulus
elastisitas atau modulus Young (E), dan nisbah Poisson ().
Modulus elastisitas merupakan perbandingan antara tegangan
normal dengan regangan relatifnya, sedangkan nisbah Poisson
merupakan nisbah kesebandingan antara regangan lateral
dengan regangan aksial. Modulus elastisitas sangat tergantung
pada komposisi mineralnya, porositas, jenis perpindahan dan
besarnya beban yang diterapkan.
d. Plastisitas
Plastisitas batuan merupakan perilaku batuan yang
menyebabkan deformasi tetap setelah tegangan dikembalikan
ke kondisi awal, dimana batuan tersebut belum hancur. Sifat
plastik tergantung pada komposisi mineral penyusun batuan
dan dipengaruhi oleh adanya pertambahan kuarsa, feldspar dan
mineral lain.
e. Abrasivitas

Abrasivitas adalah sifat batuan untuk menggores


permukaan material lain, ini merupakan suatu parameter yang
mempengaruhi keausan (umur) mata bor dan batang bor.
Kandungan kuarsa dari batuan biasanya dianggap dapat
dipercaya untuk mengukur keausan mata bor.
f. Tekstur
Tekstur suatu batuan menunjukkan hubungan antara
mineral-mineral

penyusun

batuan,

sehingga

dapat

diklasifikasikan berdasarkan dari sifat-sifat porositas, ikatan


antar butir, bobot isi dan ukuran butir. Tekstur juga
mempengaruhi

kecepatan

pemboran.

Jika

butirannya

mempunyai bentuk lembaran, seperti pada batuan schist,


pemboran akan lebih sulit dibanding jika butirannya berbentuk
bulat seperti batu pasir. Sedangkan batuan yang mempunyai
bobot isi rendah, lebih porous, akan mempunyai tingkat pecah
rendah sehingga akan lebih mudah jika di bor.

g. Struktur geologi
Struktur geologi seperti patahan, rekahan, kekar, bidang
perlapisan berpengaruh pada penyesuaian kelurusan lubang

ledak, aktivitas pemboran dan kemantapan lubang ledak.


Adanya rekahan-rekahan dan rongga-rongga dalam batuan
seperti pada batu gamping sering mempersulit kerja pemboran,
karena batang bor dapat terjepit.
h. Karakteristik Pecahan
Karakteristik pecahan (breaking characteristics) dapat
digambarkan seperti perilaku batuan ketika dipukul. Tiap-tiap
tipe batuan mempunyai karakteristik pecah yang berbeda dan
ini berhubungan dengan tekstur, komposisi mineral dan
struktur. Karakteristik pecahan dari masing-masing tipe batuan
dinyatakan dalam koefisien Los Angleles. Nilai ini dapat
dipakai untuk menentukan mudah tidaknya suatu batuan untuk
dihancurkan.
2.1.7.2 Drilabilitas Batuan (Rock Drillability)
Drilabilitas batuan adalah indikator mudah tidaknya mata
bor melakukan penetrasi ke dalam batuan. Drilabilitas batuan
merupakan fungsi dari sifat batuan seperti komposisi mineral,
tekstur, ukuran butir dan tingkat pelapukan. Drilabilitas dari
bermacam-macam batuan dapat diperoleh dengan mengalikan
kecepatan
drilabilitas.

pemboran

dalam

Barre granite

dengan

faktor

Rumus hubungan antara kecepatan putar pemboran dalam


Barre granite dengan rock drill output power dan diameter lubang
bor adalah sebagai berikut :
P

d
0.25

V = 31

...............................................(3.1)

Dengan :
V = Kecepatan pemboran dalam Barre granite (m/menit)
P = Rock drill output power (KW)
D = Diameter lubang bor (mm)
2.1.7.3 Geometri Pemboran
Geometri pemboran meliputi: diameter lubang ledak,
kedalaman lubang ledak, kemiringan lubang ledak dan pola
pemboran.
a.

Diameter Lubang Ledak


Penentuan lubang ledak yang ideal yang ideal
tergantung pada beberapa faktor, seperti :
1. Volume massa batuan yang akan dibongkar.
2. Tinggi jenjang dan konfigurasi isian.
3. Tingkat fragmentasi yang diinginkan.
4. Mesin bor yang tersedia

5. Kapasitas alat muat yang akan menangani material hasil


peledakan.
b.

Kedalaman Lubang Ledak


Kedalaman

lubang

ledak

disesuaikan

dengan

ketinggian jenjang yang direncanakan. Pada prinsipnya


kedalaman lubang ledak harus lebih besar dari tinggi jenjang.
Adanya kelebihan lubang ledak (subdrilling) dimaksudkan
untuk mendapatkan lantai jenjang yang relatif rata.
c.

Kemiringan Lubang Ledak


Arah lubang ledak dapat miring maupun tegak. Arah
penjajaran lubang bor pada jenjang harus sejajar untuk
menjamin keseragaman burden dan spasi dalam geometri
peledakan.
Keuntungan lubang ledak tegak antara lain :
1. Untuk tinggi jenjang yang sama, panjang lubang ledak
lebih pendek

jika dibandingkan dengan lubang ledak

miring.
2. Kemungkinan terjadinya lontaran batuan lebih kecil.
3. Lebih mudah dalam pengerjaannya.
Sedangkan kerugian lubang ledak tegak antara lain :
1. Penghancuran sepanjang lubang ledak tidak merata.

2. Lebih banyak menghasilkan bongkahan pada daerah


stemming.
3. Menimbulkan tonjolan pada lantai jenjang (toe).
4. Menimbulkan retakan kebelakang (back break).
Secara teoritis, lubang ledak miring akan menghasilkan
fragmentasi yang lebih seragam dibandingkan dengan lubang ledak
tegak. Namun pada kenyataannya pembuatan lubang ledak dengan
kemiringan yang sama sangat sulit sehingga jarak burden dan spasi
bagian atas akan bebeda dengan bagian bawah dan fragmentasi
yang dihasilkan menjadi tidak seragam.
Pada peledakan dengan lubang ledak tegak, bagian lantai
jenjang akan menerima gelombang tekan yang lebih besar
dibandingkan dengan gelombang yang dipantulkan ke bidang
bebas, akibatnya lantai jenjang menjadi tidak rata. Pada lubang
ledak miring, gelombang tekan yang diteruskan ke bidang bebas
lebih besar dibandingkan yang diterima latai jenjang sehingga akan
memberikan hasil lantai yang relatif lebih rata.
2.1.7.4 Umur dan Kondisi Mesin Bor
Prestasi kerja suatu alat sangat ditentukan oleh manajemen
peralatan, kondisi kerja, dan kondisi alat itu sendiri. Alat yang baru
tidak akan produktif apabila manajemen dan penjadwalannya tidak
tepat, terutama untuk alat yang umur pakainya sudah cukup lama.

Alat yang sudah lama digunakan biasanya kemampuannya


dalam kegiatan pemboran akan menurun sehingga sangat
berpengaruh terhadap kecepatan pemboran. Kecepatan pemboran
juga dipengaruhi oleh umur mata bor. Untuk menilai kondisi dari
suatu alat dapat dilakukan dengan mengetahui keempat faktor di
bawah ini :
a. Kesediaan mekanik (Mechanical availability, MA)
Merupakan suatu cara untuk mengetahui kondisi
mekanik yang sesungguhnya dari alat yang dipergunakan.
Kesediaan mekanik (MA) ini menunjukakan kesediaan alat
secara nyata karena adanya waktu akibat masalah mekanik.

MA=

W
x100%
W R)

..............................................(3.2)

Dimana
W = Jam kerja alat (menit).
R = Jumlah jam perbaikkan (menit).
b. Kesediaan fisik (Physical Availability, PA)
Merupakan keadaan fisik dari alat yang dipergunakan
dalam operasi. Faktor ini berpengaruh dari segala waktu akibat
semua permasalahan yang ada.

W S
PA=

(W R S)

X 100 %

........................................(3.3)

Dengan :
S = Jumlah jam menunggu alat, (menit).
T = Jumlah jam yang tersedia, (W + R + S), (menit).
c. Penggunaan kesediaan (Use of availability percent, UA)
Menunjukkan berapa persen waktu yang dipergunakan
oleh suatu alat untuk beroperasi pada saat alat tersebut dapat
dipergunakan.

UA=

W S

x 100 %

...............................................(3.4)

Nilai kesediaan pemakaian (UA) biasanya memperlihatkan


seberapa efektif suatu alat yang tidak sedang rusak dapat
dimanfaatkan.
d. Penggunaan efektif (Effective Utilization, EU)
Menunjukkan berapa persen dari seluruh waktu kerja
yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk bekerja produktif.
Istilah ini sama dengan efisiensi kerja.

EU=

W
W R S

x 100 %.........................................(3.5)

2.1.7.5 Ketrampilan Operator


Keterampilan operator dapat diperoleh dari latihan dan
pengalaman kerja, dan ini sering agak sulit untuk dinilai secara
kuantitatif kecuali hanya berdasarkan cacatan historis dari kinerja
dan attitude tiap operator.
2.1.8

Pola Pengeboran
Pada umumnya ada dua macam pola pemboran lubang ledak yaitu:
2.1.8.1 Pola Pemboran Sejajar (Paralel)
Pola pemboran sejajar dibagi atas dua bentuk pola yaitu :
a.

Pola Sejajar Bujur Sangkar (Parallel Square Pattern)


Dalam pola parallel square pattern, jarak burden dan spasi
dalam datu baris yang sama.

b.

Pola Sejajar Persegi Panjang (Parallel Rectangular Pattern)


Dalam pola parallel rectangular pattern jarak spasi dalm satu
baris lebih besar dari jarak burden.

Bidang

Keterangan
= Lubang Bor

S
B

b). Rectangular Pattern

= Spasi

Spasi = Burden

a). Square Pattern


Bidang Bebas

= Burden

Keterangan :
= Lubang Bor

= Burden

= Spasi

Spasi > Burden

Gambar 2.1 Pola pemboran sejajar (pararel)


2.1.8.2 Pola Pemboran Selang-Seling (Staggered Pattern)
Pola pemboran selang-seling dibagi atas dua bentuk pola yaitu:
a.

Pola Selang-Seling Bujur Sangkar (Staggered Square Pattern)


Pola staggerd square pattern hampir mirip dengan square
pattern dimana jarak burden dan spasi dibuat sama besar, tetapi
posisi lubang bor dibuat selang-seling berbentuk segi tiga.

b.

Pola Selang-Seling Persegi Panjang (Staggered Rectangular


Pattern)

Pada pola ini, posisi lubang bor tetap dibuat selang-seling


tetapi jarak burden yang digunakan tidak sama dengan jarak
spasi.
Bidang Bebas

Keterangan :

= Lubang Bor
B

= Burden
= Spasi

a). Pola Selang-seling Bujur Sangkar


Spasi = Burden
Bidang Bebas
B

Keterangan :
= Lubang Bor

B
S

b). Pola Selang-Seling Persegi Panjang

= Burden
= Spasi

Spasi > Burden

Gambar 2.2 Pola Pemboran Selang-Seling (Staggered Pattern)

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Pengambilan Data

1. Observasi (Pengamatan)
Metode ini dilakukan dengan pengamatan langsung proses kegiatan
pengeboran di PT. PAMAPERSADA NUSANTARA.
2. Metode Interview (Wawancara)
Metode ini dilakukan dengan interview (wawancara) dengan pihak terkait di
PT. PAMAPERSADA NUSANTARA.
3. Metode Pustaka
Metode ini dilakukan dengan studi literatur yang menyangkut PT.
PAMAPERSADA NUSANTARA. maupun yang berkenaan dengan topik
yang dibahas yaitu tentang proses pengeboran.
3.2 Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktek
Setelah disesuaikan dengan jadwal akademik, maka jadwal kegiatan kerja
praktek yang kami usulkan adalah dua bulan. Terhitung dari tanggal 1
November 2015 sampai dengan 31 Desember 2015. Susunan langkah kerja
yang diusulkan :

Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian Kerja Praktik

Jadwal pelaksanaan
No

Kegiatan

Minggu
1

Administrasi

dan

orientasi

lapangan

Pengumpulan referensi dan data

Pengolahan data

Konsultasi dan bimbingan

Penyusunan dan
pengumpulan draft laporan

BAB IV
PENUTUP
Dengan adanya proposal Kerja Praktik dengan judul PENGAMATAN
KEGIATAN PENGEBORAN PERSIAPAN LUBANG LEDAK PEMBONGKARAN
OVER BURDEN PT. PAMAPERSADA NUSANTARA yang kami ajukan,
sekiranya dari perusahaan dapat menerimanya.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini banyak terdapat
kekurangan atau kekeliruan, untuk itu dimohon adanya saran konstruktif untuk
perbaikan dan penyempurnaan pelaksanaan Kerja Praktek (KP) ini.
Dan apabila judul yang kami ambil tidak sesuai dengan keadaan perusahaan
saat ini ataupun ada permasalahan lain sehingga judul kerja praktik kami tidak
diterima, maka kami berharap agar perusahaan dapat memberikan kami masukanmasukan lain untuk kegiatan Kerja Praktik.

LAMPIRAN
RENCANA PENYUSUNAN ISI LAPORAN KERJA PRATEK
KATA PENGANTAR
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Maksud dan Tujuan
1.3. Rumusan Masalah
1.4. Batasan Masalah
BAB II DASAR TEORI
2.1. Teknisi Pengeboran Pada Tambang Batubara.
2.2. faktor-faktor yang mempengarhui kegiatan pengeboran.

2.3. Metode Peledakan Yang Digunakan


BAB III TINJAUAN UMUM
3.1. Sejarah Singkat Perusahaan
3.2. Keadaan Dan Kondisi Area Atau Pit Lokasi Tambang
3.3. Lokasi Dan Kesampaian Daerah
3.4. Instrument Yang Digunakan
3.5. Metode Penelitian
BAB IV ANALISA DATA DAN EVALUASI
4.1. Data Yang Diperlukan
4.2. Metode Pengolahan Data Yang Di Gunakan
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Keterangan :
*

: ISI/PEMBAHASAN disesuaikan dengan pihak perusahaan

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


A DATA PRIBADI
Nama lengkap

: NISFI SYBIYANNUR

Tempat tanggal lahir : Samuda Kota, 06 Februari 1993


Alamat

: Jl. Yos Sudarso 1 Palangka Raya


Kel. Menteng Kec. Jekan Raya, Palangka Raya

Jenis kelamin

: Laki-laki

Kewarganegaraan

: Indonesia

Agama

: Islam

Identitas

: KTP (6202110602930001)

No HP

: 085787929999

Alamat Email

: nisfi.sybiyannur@yahoo.com

B DATA PENDIDIKAN
2008-2011

: SMA Negeri 1 Samuda

2005-2008

: MTs Negeri 1 Samuda

1999-2005

: SDN 1 Lempuyang

C PENGALAMAN ORGANISASI
2005-2008

:-

1995 2005

:-

D PENGALAMAN BEKERJA
JUN 2013 DES 2013

:-

Demikian Daftar Riwayat Hidup ini saya buat dengan sebenarnya.


Palangka Raya, Januari 2015

(Binsar Lammartua Sihombing)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


A DATA PRIBADI
Nama lengkap

: DARWIS MANTO

Tempat tanggal lahir : Teluk Jolo, 08 Nopember 1992


Alamat

: Jl. ANGGREK NO. 103D


Kel. LANGKAI Kec. PAHANDUT, Palangka Raya

Jenis kelamin

: Laki-laki

Kewarganegaraan

: Indonesia

Agama

: Kristen Protestan

Identitas

: KTP (6271010811920006)

No HP

: 0857 5497 8788

Alamat Email

: .com

B DATA PENDIDIKAN
2007-2010

: SMK Negeri 1 Palangka Raya

2004-2007

: SMP Negeri 2 Muara Teweh

1998-2004

: SDN Melayu 11 Muara Teweh

C PENGALAMAN ORGANISASI

D PENGALAMAN BEKERJA

Palangka Raya,

Oktober 2015

(DARWIS MANTO)