Anda di halaman 1dari 7

RUANG PUBLIK POLITIS

(Komunikasi Politis dalam Masyarakat Majemuk)

F Budi Hardiman

"Segala tindakan yang menyangkut hak orang-orang lain yang maksimnya tak
sesuai dengan kepublikan adalah tak adil." (Immanuel Kant)

Bangsa kita sedang memasuki tahapan sejarah yang sangat penting dengan
melangsungkan pemilihan presiden secara langsung. Namun, ini baru awal.
Sangatlah dini mengklaim sukses pemilu sebagai sukses demokratisasi.
Pemahaman demokrasi di negara-negara yang sedang melangsungkan
transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi seperti negara kita bersifat
minimal. Demokrasi dimengerti sebagai pemilihan umum yang berlangsung
fair. Demokrasi minimalis ini mengabaikan proses di antara pemilihan
umum yang satu dan pemilihan umum yang lain. Namun, jika bertolak dari
konsep demokrasi itu sendiri, kita tak dapat berhenti pada sikap minimalis.
Demokrasi per definitionem, seperti dirumuskan secara padat dalam bahasa
Jerman, adalah regierung der regierten (pemerintahan dari mereka yang
diperintah). Jika demikian, menyerahkan kepercayaan begitu saja kepada
para pelaku dalam sistem politik hasil pemilihan umum-eksekutif, legislatif,
dan yudikatif-tidak akan memenuhi definisi itu. Mereka yang diperintah
harus mendapatkan akses pengaruh ke dalam sistem politik. Jika
demokrasi ingin maksimal, celah di antara dua pemilihan umum harus diisi
dengan partisipasi politis warga negara dalam arti seluas-luasnya. Dalam
demokrasi maksimal inilah konsep ruang publik menduduki tempat sentral.
Bila demokrasi tidak sekadar dipahami formalistis, ia harus memberikan
kemungkinan kepada warga negara mengungkapkan opini mereka secara
publik. Ruang atau, katakanlah, panggung tempat warga negara dapat
menyatakan opini, kepentingan, serta kebutuhan mereka secara diskursif
dan bebas tekanan itu merupakan inti ide ruang publik politis. Konsep
ruang di sini bukanlah metafora, melainkan real, sejauh kita tidak
memahaminya sebagai ruang geometris yang terukur dan berciri fisis.
Ruang sosial terbentuk lewat komunikasi, yakni, seperti dikatakan Hannah
Arendt, suatu lingkup bagi suatu "aku" untuk menyatakan "kesiapaannya"
di hadapan suatu "kamu" sehingga suatu tindakan bersama suatu "kita"
menjadi mungkin. Dalam teori-teori demokrasi klasik dikenal konsep
volonte generale (kehendak umum), yaitu keputusan publik yang
mencerminkan kepentingan seluruh rakyat. Konsep kuno yang berasal dari
Jean-Jacques Rousseau ini tetap dianut dalam praktik-praktik
parlementarisme modern meski konsep itu lahir dari masyarakat berukuran
kecil yang relatif homogen: masyarakat kanton Swiss. Sulit membayangkan
realisasi volonte generale dalam sebuah masyarakat majemuk dengan
keragaman orientasi nilai dan gaya hidup dalam era globalisasi pasar dan
informasi dewasa ini. Ide tentang ruang publik politis dapat menjelaskan
relevansi konsep klasik itu di dalam masyarakat kompleks seperti
masyarakat Indonesia.

Apa itu ruang publik politis?


Dalam masyarakat majemuk dewasa ini, suatu identifikasi "kedaulatan
rakyat" dengan "perwakilan rakyat" dalam Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menjadi semakin sulit karena
sistem politik "hanyalah" salah satu subsistem di antara subsistem lain di
dalam sebuah masyarakat kompleks. Karena itu, konsep kedaulatan rakyat
harus ditafsirkan secara baru. Jika parlemen hanyalah salah satu
subsistem masyarakat kompleks, kedaulatan rakyat seharusnya
dibayangkan melampaui sistem perwakilan itu, yang merupakan intensitas
interaksi diskursif di antara berbagai subsistem di dalam masyarakat
majemuk. Dengan kata lain, kedaulatan rakyat adalah "totalitas bentuk"
dan "isi komunikasi" tentang persoalan-persoalan publik yang berlangsung,
baik di dalam sistem politik (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) maupun di
dalam masyarakat luas. Jika interpretasi ini dapat diterima, ruang publik
politis yang berfungsi baik dan kedaulatan rakyat adalah satu dan sama.
Konsep ruang publik politis merupakan pemahaman baru atas konsep
kedaulatan rakyat agar konsep ini dapat diterapkan di dalam masyarakat
kompleks di era globalisasi ini. Dalam karya awalnya, Strukturwandel der
Oeffentlichkeit (Perubahan Struktur Ruang Publik), Juergen Habermas
menjelaskan ruang publik politis sebagai kondisi-kondisi komunikasi yang
memungkinkan warga negara membentuk opini dan kehendak bersama
secara diskursif (1). Pertanyaannya sekarang, kondisi-kondisi manakah
yang diacu oleh Habermas? Pertama, partisipasi dalam komunikasi politis
itu hanya mungkin jika kita menggunakan bahasa yang sama dengan
semantik dan logika yang konsisten digunakan. Semua warga negara yang
mampu berkomunikasi dapat berpartisipasi di dalam ruang publik politis
itu. Kedua, semua partisipan dalam ruang publik politis memiliki peluang
yang sama untuk mencapai suatu konsensus yang fair dan memperlakukan
mitra komunikasinya sebagai pribadi otonom yang mampu bertanggung
jawab dan bukanlah sebagai alat yang dipakai untuk tujuan-tujuan di luar
diri mereka. Ketiga, harus ada aturan bersama yang melindungi proses
komunikasi dari represi dan diskriminasi sehingga partisipan dapat
memastikan bahwa konsensus dicapai hanya lewat argumen yang lebih
baik. Singkatnya, ruang publik politis harus "inklusif", "egaliter", dan "bebas
tekanan" (2). Kita dapat menambahkan ciri-ciri lain: pluralisme,
multikulturalisme, toleransi, dan seterusnya. Ciri ini sesuai dengan isi
konsep kepublikan itu sendiri, yaitu dapat dimasuki oleh siapa pun.

Di manakah lokus ruang inklusif, egaliter, dan bebas tekanan itu di dalam
masyarakat majemuk? Jika kita, seperti analisis Habermas, membayangkan
masyarakat kompleks dewasa ini sebagai tiga komponen besar, yaitu sistem
ekonomi pasar (kapitalisme), sistem birokrasi (negara), dan solidaritas sosial
(masyarakat), lokus ruang publik politis terletak pada komponen solidaritas
sosial. Dia harus dibayangkan sebagai suatu ruang otonom yang
membedakan diri, baik dari pasar maupun dari negara. Dalam era
globalisasi pasar dan informasi dewasa ini, sulitlah membayangkan adanya
forum atau panggung komunikasi politis yang bebas dari pengaruh pasar
ataupun negara. Kebanyakan seminar, diskusi publik, demonstrasi, dan
seterusnya didanai, difasilitasi, dan diformat oleh kekuatan finansial besar,
entah kuasa bisnis, partai, atau organisasi internasional dan seterusnya.
Hampir tak ada lagi lokus yang netral dari pengaruh ekonomi dan politik.
Jika demikian, ruang publik politis harus dimengerti secara "normatif":
ruang itu berada tidak hanya di dalam forum resmi, melainkan di mana saja
warga negara bertemu dan berkumpul mendiskusikan tema yang relevan
untuk masyarakat secara bebas dari intervensi kekuatan-kekuatan di luar
pertemuan itu. Kita menemukan ruang publik politis, misalnya, dalam
gerakan protes, dalam aksi advokasi, dalam forum perjuangan hak-hak
asasi manusia, dalam perbincangan politis interaktif di televisi atau radio,
dalam percakapan keprihatinan di warung-warung, dan seterusnya.
Berbeda dari demokrasi dalam masyarakat yang berukuran relatif kecil dan
homogen, demokrasi di dalam masyarakat kompleks yang berukuran
gigantis seperti masyarakat kita tidak dapat berfungsi secara memuaskan
hanya dengan mengandalkan kinerja para wakil rakyat dalam DPR/MPR.
Subjek kedaulatan rakyat dalam masyarakat majemuk tidak boleh dibatasi
pada aktor-aktor parlementer. Subjek itu seharusnya adalah para aktor
dalam ruang publik politis, dan mereka adalah apa yang kita sebut
masyarakat sipil. Mereka terdiri atas perkumpulan, organisasi, dan gerakan
yang terbentuk spontan untuk menyimak, memadatkan, dan menyuarakan
keras-keras ke dalam ruang publik politis problem sosial yang berasal dari
wilayah privat (3). Masyarakat sipil bukan hanya pelaku, melainkan juga
penghasil ruang publik politis. Seperti diteliti oleh J Cohen dan A Arato,
ruang publik politis yang dihasilkan para aktor masyarakat sipil itu
dicirikan oleh "pluralitas" (seperti keluarga, kelompok nonformal, dan
organisasi sukarela), "publisitas" (seperti media massa dan institusi
budaya), "privasi" (seperti moral dan pengembangan diri), dan "legalitas"
(struktur hukum dan hak-hak dasar) (4).

Fungsi ruang publik politis

Di dalam rezim Soeharto, negara mengintervensi pembentukan opini publik


dengan alasan pemeliharaan stabilitas nasional, mengawasi media massa
secara ketat demi keamanan nasional, menstigma para oposan, dan
merintangi pembentukan spontan kelompok-kelompok politis. Pemerintah
saat itu membenarkan politik represifnya dengan alasan bahwa negara
sudah diperlengkapi dengan DPR/MPR untuk kanalisasi aspirasi publik,
sementara lembaga perwakilan ini berada di bawah dominasi eksekutif.
Masih basah dalam ingatan kita bagaimana pada setiap pemilihan presiden
terjadi kor setuju yang jadi ritual bagi terpilihnya kembali Soeharto untuk
kesekian kalinya. Tak boleh ada beda pendapat. Aklamasi dipersiapkan
sebelumnya. Negara Orde Baru adalah sebuah sistem administrasi otoriter
yang merintangi pembentukan ruang publik politis dengan menciptakan
publik semu yang bertindak seolah-olah mewakili volonte generale. Negara
Orde Baru tidak hanya tidak memiliki sambungan pada sumber loyalitas
dan legitimitasnya, melainkan juga kekurangan sensibilitas terhadap
masalah sosial yang nyata dihadapi. Tak adanya sambungan inilah yang
menyebabkan rakyat menarik kembali legitimitas pemerintahan Soeharto
lewat gerakan reformasi. Reformasi tak lain dari membangun jaringan yang
menyambungkan sistem politik dengan sumber legitimitasnya: rakyat.
Dalam negara hukum demokratis, ruang publik politis berfungsi sebagai
sistem alarm dengan sensor peka yang menjangkau seluruh masyarakat.
Pertama, ia menerima dan merumuskan situasi problem sosio-politis.
Melampaui itu, kedua, ia juga menjadi mediator antara keanekaragaman
gaya hidup dan orientasi nilai dalam masyarakat di satu pihak dan sistem
politik serta sistem ekonomi di lain pihak. Kita bisa membayangkan ruang
publik politis sebagai struktur intermedier di antara masyarakat, negara,
dan ekonomi. Organisasi-organisasi sosial berbasis agama, lembaga
swadaya masyarakat, perhimpunan cendekiawan, paguyuban etnis,
kelompok solidaritas, gerakan inisiatif warga, dan masih banyak lainnya
dalam ruang publik memberikan isyarat problem mereka agar dapat dikelola
oleh negara.

Ruang publik berfungsi baik secara politis jika secara "transparan"


memantulkan kembali persoalan yang dihadapi langsung oleh yang terkena.
Transparansi itu hanya mungkin jika ruang publik tersebut otonom di
hadapan kuasa birokratis dan kuasa bisnis. Tuntutan normatif ini tentu
sulit didamaikan dengan fakta bahwa media elektronik dan cetak di
masyarakat kita kerap menghadapi dilema yang tak mudah dipecahkan di
hadapan tekanan politis maupun pemilik modal. Namun, itu tak berarti
bahwa para pelaku ruang publik menyerah saja pada imperatif pasar dan
birokrasi. Tanpa memenuhi tuntutan normatifnya, ruang publik hanya akan
menjadi "ekstensi" pasar dan negara belaka. Tentu sulit membayangkan
ruang publik sebagai ruang bebas kuasa. Sebaliknya, ruang publik politis
justru merupakan jaringan kekuasaan yang sangat kompleks karena setiap
bentuk perhimpunan dalam masyarakat kita membentuk ruang publiknya
sendiri yang ingin mendesakkan kebutuhannya. Kita dapat memakai hasil
analisis Habermas untuk membedakan dua tipe ruang publik politis dalam
masyarakat kita (5). Tipe pertama-sebut saja "ruang publik autentik". Ia
adalah ruang publik yang terdiri atas proses komunikasi yang
diselenggarakan oleh institusi nonformal yang mengorganisasikan dirinya
sendiri. Komunikasi di sini terjalin secara horizontal, inklusif, dan diskursif.
Para aktor dalam tipe pertama ini berasal dari publik itu sendiri, hidup dari
kekuatan mereka sendiri, dan berpartisipasi dalam diseminasi, multiplikasi,
dan proteksi ruang publik. Gerakan mahasiswa yang mendorong reformasi
adalah contoh tipe pertama ini. Dalam gerakan inilah kita menyaksikan
lahirnya ruang publik politis di negeri kita. Para aktor ruang publik autentik
memiliki kepekaan atas bahaya-bahaya yang mengancam hak-hak
komunikasi kita sebagai warga negara dan menentang setiap upaya
merepresi kelompok-kelompok minoritas dan marjinal. Perkembangan
ruang autentik ini akan banyak ditentukan oleh civic courage dan civic
friendship yang tumbuh di antara warga negara. Ini tampak, misalnya,
dalam keberanian sebuah media menyiarkan, menerbitkan, atau
menayangkan berita yang menjadi hak publik untuk mengetahuinya, tetapi
menohok kepentingan pemodal ataupun birokrasi: dalam gerakan
pemberantasan korupsi misalnya. Multiplikasi aktor ataupun lembaga yang
memiliki civic virtues seperti ini merupakan syarat pembentukan ruang
publik autentik. Tipe kedua-"ruang publik tak autentik". Ia adalah kekuatan
pengaruh atas keputusan para pemilih, konsumen, dan klien untuk
memobilisasi loyalitas, daya beli, dan perilaku mereka lewat media massa.
Berbeda dari yang pertama, para aktor di sini hanya "memakai" ruang
publik yang sudah ada dengan bantuan sumber-sumber dari luar mereka,
yakni uang dan kuasa. Partai politik dan asosiasi bisnis dalam masyarakat
kita tercakup dalam tipe kedua ini. Ruang publik macam inilah yang
dominan di dalam masyarakat yang menjalankan kesehariannya. Setelah
gerakan mahasiswa ikut mendorong delegitimasi rezim Soeharto di tahun
1998, ruang publik yang terbuka segera diduduki oleh kekuatan pasar dan
birokrasi. Menumbuhkan ruang publik berarti tidak hanya multiplikasi
ruang publik autentik, melainkan juga terus mengontrol kiprah para pelaku
ruang publik tak autentik. Masyarakat harus membebaskan diri dari
budaya bungkam ke budaya kritis, dari indeferensi ke partisipasi politis,
dari watak massa ke komunitas. Di dalam negara hukum demokratis, media
massa merupakan kekuatan keempat setelah eksekutif, legislatif, dan
yudikatif. Media massa dapat berfungsi secara benar dalam ruang publik
politis jika otonom tidak hanya dari negara dan pasar, melainkan juga dari
para aktor ruang publik itu sendiri. Ia harus mampu menetralkan pengaruh
uang dan kekuasaan yang dapat memanipulasi ruang publik politis. Ia
memang tak mungkin lepas sama sekali dari para aktor tipe kedua, tetapi ia
dapat dan seharusnya menangkap dan melontarkan suara-suara yang
mencerminkan kepublikan seluas-luasnya.

Komunikasi antara ruang publik dan sistem politik

Sudah dikatakan di atas bahwa reformasi tak lain daripada upaya


membuka kanal-kanal komunikasi politis dalam masyarakat majemuk.
Sementara dalam revolusi bisa saja sistem negara berubah, dalam reformasi
sistem negara hukum yang telah ada diradikalkan secara komunikatif.
Reformasi tak lain daripada menyingkirkan rintangan komunikasi politis
antara sistem politik (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) dan ruang publik
politis. Menurut Habermas, negara hukum modern berciri demokratis jika
terjadi komunikasi politis intensif antara ruang publik dan sistem politik (6).
Habermas, menurut hemat saya, berhasil menjelaskan suatu persoalan
besar yang dicari para aktivis sosial dan politis di dalam masyarakat kita,
yaitu bagaimana menyambungkan aspirasi masyarakat luas, korban,
minoritas, dan seterusnya yang diwakili oleh organisasi nonformal dengan
sistem politik. Model diskursivitas antara ruang publik dan sistem politik
dapat menjelaskan itu. Dalam ruang publik politis, masyarakat sipil
melangsungkan diskursus publik dalam berbagai bentuk dan isi. Pluralisme
keyakinan dan pendapat ini sering berkontroversi satu sama lain, dari yang
memiliki niveau yang rendah sampai yang tinggi. Suara-suara dalam ruang
publik politis berciri anarkis dan tak terstruktur. Ruang publik politis
adalah lokus baik bagi komunikasi yang manipulatif maupun komunikasi
yang tak terbatas. Meski demikian, bukan berarti bahwa suara-suara itu
dapat diterima begitu saja sebagai opini publik. Andaikata semua suara
memiliki akses dalam proses pengambilan keputusan publik tanpa
saringan, kiranya pemerintahan semacam itu tidak hanya buruk, melainkan
juga dapat dianggap tak ada. Di sini kita bisa membayangkan adanya dua
macam filter dalam prosedur demokratis: filter dalam ruang publik politis
itu sendiri dan filter sistem politik. Suatu opini memiliki kualitas sebagai
opini publik jika lolos dari filter ruang publik. Publik pembaca dan
pendengar bisa saja dimanipulasi ataupun diintimidasi untuk menerima
sebuah opini, tetapi opini macam itu tetap akan dipersoalkan
autentisitasnya selama publik tetap mendapat akses untuk menguji
kesahihannya. Segala yang terbukti sebagai hasil manipulasi dan
intimidasi-jika pengujian publik dibuka-tidak dapat dihitung sebagai opini
publik. Tentu saja manipulasi dan intimidasi bisa sangat terancang secara
sistemis, seperti misalnya dalam rezim Nazi atau rezim komunis. Namun,
sekali "sistem dusta" ini terbongkar dan terbuka di mata publik, segala
keyakinan yang selama rezim teror itu dipegang teguh dalam pemerintahan
demokratis akan terbukti sebagai manipulasi. Tidak dapat disangkal bahwa
kekuasaan sosial dan kerap juga kekuasaan politis ikut bermain
menentukan proses penyaringan opini dalam ruang publik politis itu. Tidak
hanya ada figur-figur berpengaruh, melainkan juga lembaga- lembaga yang
disegani dan memiliki kekuasaan. Namun, sekali lagi, selama peranan
kekuasaan ini dapat diperiksa secara publik, opini yang dipengaruhi oleh
kekuasaan itu tidak imun terhadap kritik publik. Kita menyaksikan sendiri
dalam masyarakat kita bagaimana korupsi hanya bisa dibasmi jika publik
ikut berperan sebab korupsi-seperti juga dusta dan rahasia-
menyembunyikan diri dari sorotan publik. Rapat atau longgarnya filter
dalam ruang publik itu banyak ditentukan oleh publik itu sendiri. Semakin
kritis dan vital suatu masyarakat, semakin rinci publik dalam masyarakat
itu mengembangkan filternya. Koran-koran yang provokatif memang
dibiarkan, tetapi jika provokasi politis dikenali sebagai provokasi belaka,
koran-koran macam itu akan ditinggalkan dan gairah mencari sensasi akan
berimigrasi ke bidang-bidang lain, misalnya seni, gaya hidup, atau erotisme.
Jika publik itu cerdas, akan terjadi seleksi rasional di antara argumen-
argumen dengan kemenangan argumen yang lebih baik, yang lalu mendapat
kualitas sebagai opini publik. Karena komunikasi publik mengikuti norma
argumen yang lebih baik, kualitas suara akan lebih menentukan daripada
kuantitasnya. Apakah sebuah argumen yang lebih baik akan mendapatkan
mayoritas suara atau tidak, akan banyak ditentukan oleh kualitas publik
itu sendiri. Perjuangan mendapat pengakuan publik itu akan memasuki
tahap politisnya jika suatu opini publik masuk ke dalam filter sistem politik.
Dalam sistem politik terdapat juga suatu publik. Publik di sini memiliki
kualitas berbeda daripada publik dalam ruang publik politis. Berbeda dari
yang terakhir ini, publik dalam sistem politik tersebut kuat karena
kedekatan akses mereka dalam pengambilan keputusan publik: wakil
rakyat, presiden, kabinet, lembaga yudikatif, dan seterusnya.

Filter sistem politik terdiri dari sistem atau prosedur hukum: konstitusi dan
produk perundang-undangannya. Prosedur legal ini dapat diasalkan dari
hasil komunikasi politis sebelumnya antara ruang publik politis dan sistem
politik. Dengan kata lain, filter sistem politik tersebut juga tidak boleh
dijauhkan dari pengujian diskursif publik. Opini publik yang masuk ke
dalam filter itu dan meraih mayoritas di dalam sistem legislatif akan
berubah kualitasnya menjadi keputusan publik: produk hukum. Bahasa
sehari-hari yang digunakan dalam ruang publik politis diterjemahkan ke
dalam bahasa hukum yang bersifat resmi. Suatu masyarakat majemuk yang
memiliki ruang publik politis yang vital dapat kita sebut sebagai masyarakat
kuat. Masyarakat kuat semacam ini harus diimbangi dengan pemerintahan
yang kuat juga. Suatu masyarakat yang memiliki gairah demokratisasi yang
kuat, tetapi sistem politiknya lemah, tak akan sanggup menyaring desakan
kekuasaan massa yang masuk untuk memaksakan kehendaknya. Ini terjadi
dalam "anarkisme". Sebaliknya, suatu sistem politik yang otonom dari
masyarakatnya dan cenderung berjalan menurut logika kekuasaannya akan
melenyapkan ruang publik politis itu. Ini terjadi dalam totalitarianisme.
Sebuah negara hukum demokratis harus memiliki masyarakat yang kuat
maupun kepemimpinan yang kuat. Sistem politik tidak boleh menjadi
independen dari ruang publik politis. Ia harus terus mendapatkan makanan
dan hidupnya dari ruang publik itu karena dari situ pulalah ia meraih
sumber loyalitas dan legitimitasnya. Pemerintahan yang kuat dalam arti ini
adalah pemerintahan yang mampu memperlancar komunikasi politis antara
sistem politik dan masyarakat sipil dalam ruang publik politis. Ide tentang
ruang publik politis, sebagaimana diulas di atas, dapat merekonstruksi
konsep klasik tentang kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat bukanlah
demokrasi langsung dalam arti aksi-aksi massa untuk memaksakan
kehendak kepada sistem politik. Di dalam negara hukum demokratis batas-
batas antara negara dan masyarakat harus dihormati, tetapi batas-batas itu
tidak boleh dijaga terlalu kaku. Respek terhadap batas-batas antara
masyarakat dan negara harus disertai upaya-upaya untuk mencairkan
proses komunikasi di antara keduanya. Pemahaman tentang ruang publik
politis mengambil jarak terhadap ide demokrasi langsung. Jika kita
menerima ide ruang publik politis, kita harus menerima suatu model
demokrasi representatif sebagaimana biasanya dilaksanakan dalam negara-
negara hukum modern. Namun, demokrasi representatif itu berada dalam
kontrol publik dengan jaringan-jaringan kerjanya. Kontrol publik lalu
bersifat tidak langsung, yaitu lewat dikursivitas. Diskursivitas antara ruang
publik politis dan sistem politik itulah realisasi ide kedaulatan rakyat di
dalam masyarakat majemuk.

Catatan:

1. Lihat Habermas, J, Strukturwandel der Oeffenlichkeit, STW, Frankfurt


aM, 1990, hlm 38
2. Lihat Budi Hardiman, F, Demokratie als Diskurs, (tesis tak
diterbitkan), Munich, 1996, hlm 15
3. Lihat Habermas, J, Faktizitaet und Geltung, Shurkamp, Frankfurt aM,
1992, hlm 443
4. Budi Hardiman, hlm 52
5. Bdk Habermas, J, Strukturwandel der Oeffentlichkeit, STW, Frankfurt
aM, 1990, hlm 28
6. Lihat Budi Hardiman, hlm 57

F Budi Hardiman Pengajar Program Magister Filsafat STF Driyarkara dan


Doktor Hukum di Universitas Pelita Harapan