Anda di halaman 1dari 40

TUPOKSI PEMERINTAH DALAM HAL PENGAWASAN

PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN


PT. NEWMONT NUSA TENGGARA
PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT KAB. SUMBAWA BARAT

PENDAHULUAN
United Nations Environment Programme (UNEP, 1999) menggolongkan
dampak- dampak yang timbul dari kegiatan pertambangan sebagai berikut :
Kerusakan habitat dan biodiversity pada lokasi pertambangan
Perlindungan ekosistem/habitat/biodiversity di sekitar lokasi
pertambangan.
Perubahan landskap/gangguan visual/kehilangan penggunaan
lahan
Stabilisasi site dan rehabilitasi
Limbah tambang dan pembuangan tailing
Kecelakaan/ terjadinya longsoran fasilitas tailing
Peralatan yang tidak digunakan , limbah padat, limbah rumah
tangga
Emisi Udara
Debu

LANJUTAN
Perubahan Iklim
Konsumsi Energi
Pelumpuran dan perubahan aliran
Sungai
Buangan air limbah dan air asam tambang
Perubahan air tanah dan kontaminasi
Limbah B3 dan bahan kimia
Pengelolaan bahan kimia, keamanan, dan pemaparan bahan
kimia di tempat kerja
Kebising
Radiasi
Keselamatan dan kesehatan kerja
Toksisitas logam berat
Peninggalan budaya dan situs arkeologi
kesehatan masyarakat dan pemukiman disekitar tambang
Sumber : Balkau F. dan Parsons A. , 1999

Amanah Konstitusi : UUD 1945


Hak Masyarakat atas Lingkungan Hidup yang Baik & Sehat
Sesungguhnya masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan Lingkungan
Hidup udara, tanah dan air -- yang baik dan sehat. Hak tersebut dijamin
dalam UUD dan peraturan perundang-undangan lainnya

1) UUD 1945 Pasal 28 H ayat (1): Setiap


orang berhak hidup sejahtera lahir
dan batin, bertempat tinggal dan
mendapatkan lingkungan hidup yang
baik dan sehat ...
2) Pasal 65 UU 32/2009: Setiap orang
berhak atas lingkungan hidup yang
baik dan sehat sebagai bagian dari
hak asasi manusia

Agar hak tersebut terpenuhi, maka wajib dipastikan segala


kegiatan perekonomian dilakukan secara berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan
Pasal 33 ayat 4 UUD 1945:
Perekonomian
nasional diselenggarakan berdasar atas
demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga
keseimbangan kemajuan dan kesatuan
ekonomi nasional

PROFIL PT. NEWMONT NUSA TENGGARA


PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT) adalah perusahaan
pertambangan batubara di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa
Tenggara Barat, beroperasi berdasarkan persetujuan dari Menteri
Lingkungan Hidup dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor : KEP-41/MENLH/10/1996 Tentang ANDAL, RKL dan RPL Terpadu
Pertambangan Tembaga-Emas di batu Hijau dan Fasilitas Penunjangnya
PT. Newmont Nusa Tenggara tanggal 2 Oktober 1996 dan Persetujuan
Menteri Pertambangan dan Energi Nomor: 3126/0115/SJ.T/1997 Tentang
ANDAL, RKL dan RPL PLTU, PLTD dan SUTT di Kecamatan Jereweh,
Kabupaten Sumbawa, Propinsi NTB tanggal 20 Agustus 1997. PT.
Newmont Nusa Tenggara adalah perusahaan pertambangan umum
dengan status permodalan campuran, Asing (56%) dan Dalam Negeri
(44%).
PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) merupakan perusahaan patungan
Indonesia yang sahamnya dimiliki oleh Nusa Tenggara Partnership
(Newmont & Sumitomo), PT Pukuafu Indah (Indonesia) dan PT Multi
Daerah Bersaing. Newmont dan Sumitomo bertindak sebagai operator PT
NNT.

Dalam melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pemegang


IUP, pemerintah daerah memiliki beberapa instansi teknis yang memiliki
tupoksi terkait dengan pengawasan dan pembinaan pelaksanaan kegiatan
usaha pertambangan mineral dan batubara, diantaranya ;
1. Dinas Pertambangan Dan Energi / Dinas ESDM
2. Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan.
3. Dinas Kehutanan.
Namun diantara ketiga instansi tersebut diatas, yang paling memiliki
peran adalah Dinas Pertambangan Dan Energi / Dinas ESDM dan BLHK.
Catatan : Pasca terbitnya UU No. 23 tahun 2014 Tentang Pemerintahan
Daerah, maka hampir semua Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) dari
Distamben Kabupaten di seluruh indonesia di ambil alih oleh dinas ESDM
Provinsi.

Berdasarkan Peraturan Bupati Sumbawa Nomor 18 Tahun 2008 tentang


rincian tugas, fungsi dan tata kerja Dinas Pertambangan Dan Energi
Kabupaten Sumbawa menyebutkan bahwa dinas pertambangan dan
energi menyelenggarakan fungsi :
a. Penyusunan perencanaan bidang pertambangan dan energi;
b. Perumusan kebijakan teknis bidang pertambangan dan energi;
c. Pelaksanaan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang
pertambangan dan energi;
d. Pembinaan, koordinasi, pengendalian dan fasilitasi pelaksanaan
kegiatan bidang pengembangan energi dan kelistrikan, pengusahaan
mineral, geologi dan sumber daya mineral;
e. Pelaksanaan kegiatan penatausahaan dinas pertambangan dan energi;
f. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh bupati sesuai dengan
tugas dan fungsinya.

Unsur Pelaksana adalah Bidang, terdiri dari :


a. Bidang Pengembangan Energi dan Kelistrikan, terdiri dari :
1) Seksi Minyak dan Gas ;
2) Seksi Kelistrikan;
3) Seksi Pengembangan Energi Alternatif.
b. Bidang Pengusahaan Mineral, terdiri dari:
1) Seksi Produksi dan Keselamatan Kerja;
2) Seksi Teknik dan Lingkungan;
3) Seksi Bina Usaha.
c. Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral, terdiri dari:
1) Seksi Pengelolaan Air Tanah;
2) Seksi Geologi Tata Lingkungan;
3) Seksi Survey dan Informasi Bahan Galian.

BADAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEBERSIHAN


TUGAS POKOK
Badan Lingkungan Hidup mempunyai tugas melaksanakan penyusunan
dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang lingkungan hidup,
kebersihan dan pertamanan
FUNGSI
Badan Lingkungan Hidup merupakan unsur pendukung tugas Kepala
Daerah di bidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan

Susunan organisasi Badan Lingkungan Hidup Kab. Sumbawa Barat ialah sebagai
berikut :
a. Kepala Badan;
b. Sekretariat, terdiri dari 3 Subbagian, yaitu :
1. Subbagian Umum dan Kepegawaian;
2. Subbagian Keuangan;
3. Subbagian Koordinasi Penyusunan Program.
c. Bidang Pemantauan dan Pemulihan Lingkungan Hidup, terdiri dari 2
subidang :
1. Subbidang Pemantauan dan Pengawasan Lingkungan;
2. Subbidang Pemulihan Lingkungan.
d. Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup, terdiri dari 2 subbidang, yaitu ;
1. Subbidang Pengkajian dan Analisa Dampak Lingkungan.
2. Subbidang Hukum dan Perizinan.
e. Bidang Kebersihan dan Pertamanan, terdiri dari 2 subbidang, yaitu ;
1. Subbidang Kebersihan.
2. Subbidang Pertamanan
f. Kelompok Jabatan Fungsional
Sumber ; Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 6 Tahun 2009

1. Undang-undang No. 19 Tahun 2004 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah


Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undangundang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi Undang-undang
2. Undang-undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan & Pengelolaan Lingkungan
Hidup
3. Undang-undang No. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Minerba
4. Undang=undang 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
5. Peraturan Pemerintah No. 76 Tahun 2008 Tentang Rehabilitasi Dan Reklamasi Hutan
6. Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi Dan Pasca Tambang
7. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 Tentang Izin Lingkungan
8. Kepmen Kehutanan Dan Perkebunan Nomor : 146/Kpts-ii/1999 Tentang Pedoman
Reklamasi Bekas Tambang Dalam Kawasan Hutan.
9. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 70/Menhut-ii/2008 Tentang Pedoman Teknis
Rehabilitasi Hutan Dan Lahan.
10. Permen Esdm No. 18 Tahun 2008 Tentang Reklamasi Dan Penutupan Tambang
11. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P. 4/Menhut-ii/2011 Tentang
Pedoman Reklamasi Hutan
12. Peraturan Menter! Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor: 07 Tahun 2014 Tentang
Pelaksanaan Reklamasi Dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan
Mineral Dan Batubara

PENJELASAN TERKAIT PEMBUANGAN LIMBAH PT NEWMONT NUSA


TENGGARA
P.T. NNT membuang limbah sisa olahan dengan menggunakan sistem
Submarine Tailing Disposal (STD), dan sedikitnya 110.000 ton tailing setiap harinya
dibuang ke dasar laut Teluk Senunu Kecamatan Sekongkong Kabupaten Sumbawa
Barat.
P.T. NNT memilih alternatif untuk kegiatan pembuangan limbah (dumping
tailing) di dasar laut didasarkan kepada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 92
Tahun 2011 terkait perpanjangan ijin pembuangan limbah/dumping tailing di dasar laut
oleh PTNNT, perpanjangan izin tersebut diterbitkan KLH pada tanggal 5 Mei tahun 2011.
Direktur Utama PTNNT Martiono menjelaskan bahwa pada tahun 1999 PT.NNT
telah melakukan dua kajian mengenai pembuangan limbah/tailing, yaitu :
1.Pembuangan tailing di darat
2.Pembuangan limbah di laut
Dari kedua kajian yang dilakukan tersebut, maka yang dipilih adalah
pembuangan tailing di laut, pembuangan tailing tersebut disalurkan melalui pipa
sepanjang 3,2 km dari pantai ke kedalaman sekitar 100 meter di bawah permukaan laut
dan diharapkan akan mengendap di dasar laut dengan kedalaman 3000 meter,

Izin pembuangan tailing yang dikeluarkan pada tanggal 8 Mei tahun


2007 didasarkan kepada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep.
236/2007 yang berlaku 4 (empat) tahun dan berakhir tanggal 8 Mei tahun 2011
merupakan rekomendasi dari Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (selanjutnya
disebut KSB) tahun 2007 , dimana dalam rekomdasi tersebut ditetapkan jumlah
maksimum pembuangan tailing mencapai 58.400.000 metrik ton pertahun.

menurut Martiono, P.T. NNT memilih alternatif pembuangan limbah (dumping


tailing) di dasar laut didasarkan kepada :
1. Untuk membuang tailing di darat harus membuat DAM, sedangkan tahu
daerah itu adalah daerah gempa yang kalau terjadi gempa kemungkinan
DAM nya bocor itu bisa mencemari lingkungan, sedangkan daerah ini
adalah daerah yang sudah berpenduduk.
2. Didasarkan kepada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 92
Tahun 2011 mengenai perpanjangan ijin pembuangan limbah/dumping
tailing di dasar laut oleh P.T. NNT, perpanjangan izin tersebut diterbitkan
KLH pada tanggal 5 Mei tahun 2011. Izin yang peroleh pada tahun 2011
adalah merupakan runtunan dari izin-izin yang sudah diberikan
sebelumnya, yaitu tahun 1999 dan , tahun 2007. dengan Surat Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep. 236/2007.

3. Pemerintah dalam hal ini KLH, setiap mengeluarkan perpanjangan ijin


baru itu, mereka memperketat persyaratan-persyaratan teknis yang harus
dilakukan oleh NNT agar tidak mencemari lingkungan, yaitu :
a) Izin sebelumnya, ditentukan baku mutu air itu 1 PPN, untuk ijin yang baru
itu ditentukan 0,5 PPN;
b) izin lama untuk jumlah yang ditempatkan di laut itu satu tahun 58, 4 juta,
pada ijin yang baru kita hanya diperbolehkan 51,4 juta.
c) keasaman, dari ijin yang baru, tingkat keasaman harus dijaga pada PH
yang kira-kira basah, karena kalau airnya asam juga akan mengganggu
lingkungan
4. Pembuangan tailing bukan di laut dangkal akan tetapi dibuang pada
kedalaman 3000 sampai dengan 4000 meter dan jarak dari pantai kirakira 3,2 kilo meter.

Menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup (LH) KSB, Hirawansyah Atta, S.H., dalam
surat keputusan yang dikeluarkan Menteri Negara Lingkungan Hidup tanpa disertai tembusan
kepada Pemerntah KSB, Selanjutnya Kepala Badan Lingkungan Hidup (LH) KSB, Hirawansyah
Atta, S.H., menyatakan keputusan tersebut mengandung kejanggalan, sebab apabila mengacu
kepada undang Nomor 18 tahun 1999 tentang tata cara pengelolaan limbah B3, pada Pasal 47
dinyatakan : Bahwa daerah punya kewenangan
Yang sangat mengherankan bagi Pemda sekarang ini ialah surat perpanjangan ijin
tailing telah terbit tanpa melalui mekanisme yang benar, dimana yang semestinya P.T. NNT
melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat terlebih dahulu. Karena
limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dinilai menimbulkan dampak pencemaran
terhadap lingkungan. Dan SK yang dikeluarkan sejak 5 Mei 2011 masa berlakunya berlangsung
selama 5 tahun, padahal tahun sebelumnya hanya berlaku 4 tahun. Dengan jumlah volume
tailing untuk tahun 2011 sekitar 51,1 juta matrik ton (kering) per tahun
Sungguh ironis jika dalam World Ocean Conference di Manado tahun 2009, Teluk
Senunu masuk dalam kawasan Coral Triangle Initiative tapi Newmont membuang tailing ke
dalamnya dengan restu pemerintah pusat.

Menjelang berakhirnya tenggang waktu pembuangan limbah P.T. NNT, Pemerintah


Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, menurunkan tim khusus memantau
pembuangan tailing atau limbah tambang PT Newmont Nusa Tenggara di palung laut Teluk
Senunu. Tim tersebut bertugas memastikan apakah P.T. NNT mematuhi kebijakan Pemerintah
Kabupaten Sumbawa Barat untuk tidak membuang tailing selama rekomendasi perpanjangan
izin tailing belum dikeluarkan, Selain itu Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat,
melalui suratnya bernomor 660/114/BLHKSB/V/2011 telah menghimbau P.T. NNT untuk tidak
menempatkan tailingnya di teluk Senunu terhitung mulai tanggal 9 Mei 2011, penghentian
penempatan tailing itu dilakukan sampai batas waktu yang tidak ditentukan . Dalam surat itu
dijelaskan alasannya antara lain,
1. adanya aspirasi dari masyarakat KSB dan elemen pemerhati lingkungan yang menolak
penempatan tailing PTNNT di perairan Teluk Senunu.
2. Penempatan tailing P.T. NNT di Teluk Senunu sangat merugikan masyarakat dan Pemda
KSB,
3. bahkan hasil kajian yang dilakukan oleh Badan Pemantau Lingkungan Hidup dan Perairan
Daerah (BPLHPD) Mataram yang menyatakan telah terjadi peningkatan kadar arsen di
perairan Selat Alas sebesar 0,2 persen.

Namun karena pihak perusahaan sudah mengantongi izin perpanjangan, meskipun dengan
istilah yang berbeda, yaitu dumping dari Kementerian Lingkungan Hidup meskipun tanpa
rekomdasi dari Bupati KSB, aktivitas pembuangan tailing masih terus berlangsung sampai
dengan sekarang. Berdasarkan izin pembuangan limbah ini, Newmont diperbolehkan

membuang limbah tambang (tailing) sebanyak 148.000 ton/hari ke laut. Jumlah itu setara
dengan 22 kali lipat sampah harian DKI Jakarta. Dalam satu tahun limbah tambang Newmont
mencapai 51.1000.000 ton dan akan berlangsung hingga tahun 2020.

Atas dasar hal tersebut di atas, Pemerintah Sumbawa Barat, Bupati KSB KH Zulkifli
Muhadli melayangkan somasi (sebagai pendahuluan) kepada Menteri LH dan PT.NNT
Pemda menganggap kementerian terkait tidak menghargai hak dan kewenangan
Pemda dalam konteks otonomi daerah
Selain upaya tersebut di atas, Bupati KSB akan mengajukan permohonan yudisial
review kepada Mahkamah Agung (MA). Hal itu dilakukan terkait dengan diterbitkan izin
dumping limbah PT.Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), di teluk Senunu, Desa Tongo,
Kecamatan Sekongkang, oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH),

Menanggapi hal tersebut, Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pengelolaan B3, Limbah
B3, dan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Masnell yarti Hilman,.menyatakan,
bahwa :
1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 92 Tahun 2011 telah memperketat syarat
batas toksikologi dan geomorfologi. batas jumlah tailing (limbah tambang emas) yang
semula 160.000 metrik ton kering per hari menjadi 140.000 metrik ton kering per hari.
2. Batas toksikologi tembaga (Cu) dari konsentrasi 2 ppm (part per million) menjadi 0,5
ppm.
3. Newmont wajib menambah titik pantau di Selat Alas (Labuan Lalar dan Keruak) dan Teluk
Senunu untuk kandungan logam pada jaringan otot ikan dasar minimal satu tahun sekali.
4. Pengkajian kondisi ekologi pesisir (biota kerangkerangan) di daerah pesisir selatan dan
barat Sumbawa Barat tiap tahunnya.
5. KLH juga mewajibkan Newmont memantau dampak sosial-ekonomi akibat pembuangan
tailing terhadap nelayan, mengecek kesehatan warga, termasuk pemantauan terhadap
logam berat di dalam tubuh manusia di sekitar lokasi Proyak batu Hijau.

Menurut Deputi IV menteri LH kepada pansus tailing DPRD KSB dijelaskan bahwa :
1. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2010 tentang lingkungan hidup,
daerah tidak memiliki hak dalam masalah perijinan pembuangan atau penempatan
tailing
2. Daerah hanya memiliki hak untuk melakukan pengawasan dan memberi rekomendasi
jika ada dampak yang ditimbulkan dari aktifitas tersebut. Artinya Pemda punya ruang
untuk melakukan evaluasi atas ijin pembuangan yang diberikan LH.
3. Di klausul ijin yang berlaku selama 5 tahun itu juga disebutkan tentang evaluasi per
tahun.

Seiring berjalannya kegiatan pertambangan, dampak eksternalitas dari


kegiatan tersebut semakin meluas, baik terhadap lingkungan, ekonomi, maupun
kehidupan sosial lainnya. Masyarakat lingkar tambang di Desa Tongo Sejorong,
dan beberapa sentral pemukiman di lingkar tambang, kini sudah tidak dapat
menjalankan kegiatan pertanian secara normal, dikarenakan praktek
pertambangan yang rakus air dan berakibat pada kekeringan lingkungan sekitar.
Para nelayan di pesisir pantai Sumbawa Barat seperti Pantai Benete,
Labu Lalar, Poto Tano, tidak lagi dapat memperoleh ikan dari perairan mereka.
Para nelayan di kabupaten Lombok Lombok Timur yang menggantungkan
penghidupan mereka terhadap potensi perikanan selat alas, mengaku
kehilangan sejumlah besar hasil tangkap akibat perairan mereka tercemar
tailing.

Masyarakat telah melakukan protes sejak kegiatan Pertambangan Batu


Hijau. Kejadian ini menyebabkan puluhan orang ditangkap dan satu orang
meninggal akibat premanisme.
Protes terus meluas sampai dengan saat ini. Terakhir camp-camp
pekerja tambang Newmont yang sedang melakukan kegiatan ekplorasi di
Wilayah Dodo Rinti Kabupaten Sumbawa Besar dibakar massa, sebagai sikap
menolak kehadiran PT. NNT di wilayah penghidupan mereka. Puluhan orang
ditembaki aparat, 2 orang mengalami luka serius dan sebanyak 19 warga
diajukan persidangan dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Darurat

PENILAIAN BERDASARKAN AMDAL & PROPER


STATUS PENAATAN PERIODE 2012-2013

A. Dokumen Lingkungan/Izin Lingkungan


Kegiatan operasi penambangan PT. Newmont Nusa Tenggara didukung dokumen
analisis dampak lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan dan rencana
pemantauan lingkungan kegiatan terpadu pertambangan tembaga emas di batu
hijau dan fasilitas penunjangnya, Berdasarkan KepMen LH Nomor : Kep 41 /
MENLH/10/1996 oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Tanggal 2 Oktober 1996.,
serta memiliki dokumen perijinan lingkungan lainnya meliputi izin pembuangan air
limbah, izin TPS limbah B3 dan izin pengoperasian incinerator

B. Pengendalian Pencemaran Air


Pengelolaan air limbah dari areal pertambangan sudah dilakukan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Tahapan awal adalah melakukan kajian pola aliran permukaan
yang masuk ke areal tambang. Kajian dimaksudkan untuk menetapkan titik penaatantitik penaatan air limbah yang akan dibuang ke lingkungan. Saat ini PLTU memliki
sistem pendingin yang sudah memiliki izin pembuangan air limbah ke laut No. 479 Tahun
2008 yang akan berakhir pada tanggal 28 Juli 2013 dan Izin pembuangan air limbah
IPAL D No. 22,23,24,25 dan 43 Tahun 2012 yang diterbitkan oleh Bupati Sumbawa Barat
untuk lokasi Townsite, Landfill, Trakindo, Benete dan MMA. Air limbah yang dibuang
melalui semua lokasi titik penaatan sudah dilakukan pengujian laboratorium eksternal
setiap 1 (satu) bulan sekali. Hasil analisasi menunjukkan bahwa air limbah yang dibuang
tersebut telah memenuhi baku mutu air limbah yang ditetapkan.

C. Pengendalian Pencemaran Udara


Upaya pengendalian pencemaran udara dilakukan untuk mengurangi pencemaran dari aktivitas
penambangan maupun aktivitas penunjang kegiatan penambangan. Dilakukan penyiraman jalanjalan tambang untuk mengurangi polusi debu. Hasil pengukuran udara ambient setiap 6 bulan
sekali masih memenuhi baku mutu kualitas udara yang ditetapkan. Sedangkan untuk kegiatan
penunjang operasional seperti pembangkit listrik telah dilakukan pengelolaan sesuai ketentuan
yang berlaku

D. Pengelolaan limbah B3
PT. Newmont Nusa tenggara merupakan salah satu perusahaan
pertambangan tembaga dan emas yang beroperasi di Indonesia. Dalam
operasionalnya perusahaan menghasilkan beberapa jenis limbah baik itu
limbah domestik maupun yang termasuk kategori limbah bahan berbahaya
dan beracun (B3). Limbah B3 dominan yang dihasilkan diantaranya adalah
tailing, pelumas bekas, fly ash dan bottom ash. Khusus untuk tailing
perusahaan melakukan pengelolaan dengan metode dumping/penempatan
tailing di dasar laut teluk senunu. Kegiatan ini telah memiliki izin dari
Kementerian Lingkungan Hidup berupa KepMen LH No. 92 Tahun 2011

Sebagai sebuah perusahaan tambang terintergrasi PT.NNT melakukan beberapa


kegiatan pengelolaan limbah B3:
1. Penyimpanan sementara limbah B3
Limbah B3 yang dihasilkan disimpan terlebih dahulu sebelum dilakukan pengelolaan
lanjutan, terdapat 18 shelter penyimpanan sementara limbah B3 sebagai titik awal limbah
dihasilkan sebelum limbah ditransfer ke Gudang penyimpanan utama yang berlokasi di
Benete dengan izin dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 171 Tahun 2013
2. Pemanfaatan minyak pelumas bekas dan abu batubara
PT. NNT melakukan pemanfaatan limbah B3 sebagai perwujudan dari metode 3R
(reuse, recycle, rcovery). Limbah yang dimanfaatkan antara lain minyak pelumas bekas
sebagai bahan substitusi solar dalam peledakan (ANFO) serta sebagai bahan bakar di PLTU.
Sebagian abu batubara (fly ash dan bottom ash) dari PLTU juga dimanfaatkan sebagai
bahan campuran pembuatan beton dan paving block. Kegiatan pemanfaataan tersebut
telah dilengkapi dengan izin : KepMen LH No. 489 Tahun 2009 (izin ANFO), Kep Men LH No.
36 Tahun 2011 (Izin Pemanfaatan pelumas bekas di PLTU Benete) Kep Men LH No. 179
Tahun 2010 (izin pemanfaatan abu batubara). Dalam upaya melakukan 3R PT.NNT
juga melakukan inovasi untuk memperpanjang masa pakai pelumas bekas dengan
melakukan penyaringan menggunakan alat bernama kidney loop

3. Penimbunan abu batubara


Fly ash dan bottom ash yang dihasilkan dari PLTU ditimbun di area penimbunan khusus
kategori II (Secure Landfill Single Liner) yang memiliki izin dari KLH Kep Men LH No. 110
Tahun 2010
4. Pengolahan limbah B3 medical di insinerator
PT.NNT dalam operasional di site memiliki rumah sakit yang menghasilkan limbah medis
yang dikelola dengan metode thermal menggunakan insinerator yang juga memiliki izin Kep
Men LH No. 127 Tahun 2009
5. Pembuangan/dumping tailing
Tailing merupakan limbah dari pengolahan bijih di pabrik pengolahan. Tailing tersebut
dialirkan dari pabrik dengan menggunakan pipa khusus (pipa darat) sepanjang 7 km ke
bibir pantai dan selanjutnya disambung dengan pipa laut sepanjang 2 km ke teluk senunu.

REKOMENDASI
Seharusnya pemerintah pusat yang di wakili oleh Kementerian LH melibatkan dan
mengkomunikasikan kepada pihak pemda dan masyarakat terkait rencana
penerbitan perijinan pembuangan limbah, hal ini untuk menghindari terjadinya
konflik.
Perlu dilakukan sosialisasi terkait pembuangan limbah, dimana pihak perusahaan dan
pemerintah (daerah dan pusat) memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait
jenis, volume dan dampak pembuangan limbah.
Pemerintah daerah seharusnya dapat meredam emosi Masyarakat agar tidak
bertindak anarkis dan melakukan pengrusakan terhadap aset perusahaan.
Harus ada sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam hal
pembinaan, dan pengawasan pengelolaan lingkungan pertambangan yang dilakukan
oleh PT. Newmont Nusa Tenggara