Anda di halaman 1dari 14

Makalah Tata Kelola Perusahaan

Mengenai Pengungkapan Dan Transparansi


Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

Disusun oleh:
Dani Rachmat S.K.
Farisan W.
Miranti
Novita Wardhani

PROGRAM EKSTENSI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS INDONESIA
TAHUN AJARAN 2015/2016

STATEMENT OF AUTHORSHIP
Kami yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas
terlampir merupakan murni hasil dari pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada
pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini belum/tidak pernah dasajikan/digunakan sebagai bahan makalah/tugas
mataajaran lain kecuali makalah/tugas ini saya kumpulkan dapat diperbanyak
dan dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.
Nama

: Farisan Wanaputra

NPM

: 1406645304

Tanda Tangan :

Nama

: Miranti

NPM

: 1406645701

Tanda Tangan :

Nama

: Novita Wardhani

NPM

: 1406645872

Tanda Tangan :

Nama

: Dani Rachmat S.K

NPM

: 1406645134

Tanda Tangan :

Mata Ajaran

: Tata Kelola Perusahaan

Judul Makalah/Tugas

: Pengakuan Dan Transparansi

Tanggal

: 19 November 2015

Dosen

: Desi Adhariani S.E., Ak., M.Si.

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

DAFTAR ISI
Statement Of Authorship................................................................................ 2
Daftar Isi......................................................................................................... 3
Landasan Teori ............................................................................................... 4
OECD Prinsip V............................................................................................. 4
Perkembangan Pengungkapan dan Transparansi di Indonesia ...................... 5
Perbandingan Peraturan Bapepam dengan OECD Prinsip V ......................... 7
Pembahasan dan Analisis Kasus .................................................................... 8
Profil Perusahaan ........................................................................................... 8
Kronologi Kasus ............................................................................................ 9
Keterkaitan Kasus dengan OECD Prinsip V................................................ 11
Keterkaitan Kasus dengan Peraturan Bapepam ........................................... 11
Kesimpulan dan Saran.................................................................................. 13
Daftar Pustaka .............................................................................................. 14

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

LANDASAN TEORI

OECD PRINSIP V: KETERBUKAAN DAN TRANSAPARANSI


Pada prinsip ke-5 ini ditegaskan bahwa kerangka kerja corporate
governance harus memastikan bahwa keterbukaan informasi yang tepat waktu dan
akurat dilakukan atas semua hal yang material yang berkaitan dengan perusahaan,
termasuk di dalamnya keadaan keuangan kinerja, kepemilikan dan tata kelola
perusahaan. Prinsip Keterbukaan dan Transparansi terbagi atas 6 sub prinsip
yaitu:
A. Keterbukaan harus meliputi, namun tidak terbatas pada, informasi material
atas:
1. Keuangan dan hasil operasi perusahaan
2. Tujuan perusahaan
3. Kepemilikan sahan mayoritas dan hak suara
4. Kebijakan remunerasi untuk dewan komisaris dan direksi, dan
informasi tentang anggota dewan komisaris, termasuk kualifikasi,
proses seleksi, perangkapan jabatan dan independensinya.
5. Transaksi dengan pihak terkait (afiliasi)
6. Faktor-faktor risiko yang dapat diperkirakan
7. Hal-hal

yang berkaitan dengan

karyawan

dan pemangku

kepentingan lainnya
8. Struktur dan Kebijakan tata kelola khususnya berkaitan dengan isi
dari pedoman atau kebijakan tata kelola perusahaan dan
penerapannya
B. Informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai dengan standar
akuntansi yang berkualitas tinggi dan keterbukaan keuangan dan non
keuangan.
C. Audit tahunan harus dilakukan oleh auditor yang independen, kompeten
dan memenuhi kualifikasi, dalam rangka menyediakan jaminan/kepastian
eksternal dan objektif kepada pengurus dan pemegang saham bahwa

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

laporan keuangan perusahaan menyajikan secara wajar dalam semua hal


yang material,posisi keuangan dan kinerja perusahaan.
D. Auditor eksternal harus bertanggung jawab kepada pemegang saham dan
melaksanakan tugasnya terhadap perusahaan dengan menjaga/secara
profesional selama melakukan audit.
E. Media penyebaran informasi harus memberikan akses informasi yang
relevan bagi pengguna secara sama (equal), tepat waktu dan biaya yang
efisien.
F. Kerangka corporate governance harus mengarah dan mendorong
terciptanya ketentuan mengenai analisa atau saran dari analisis, pedagang
perantara efek, pemeringkat dan pilihan lainnya yang relean dengan
keputusan investor, tidak mengandung benturan kepentingan yang material
yang mungkin mempengaruhi inegritas analisa yang diberikan.
PERKEMBANGAN PENGUNGKAPAN DAN TRANSPARANSI DI
INDONESIA
Berdasarkan pada Jurnal Corporate Governance, Disclosure and Its
Evidence in Indonesia yang dibuat oleh Siddharta Utama, pengungkapan pada
emiten di Indonesia pada awalnya berdasarkan pada PP no. 64 tahun 1999 tentang
Laporan Tahunan. Menurut peraturan tersebut pengungkapan hanya boleh
dilakukan oleh perusahaan listed saja, sehingga akhirnya muncul peraturan baru
yang mengharuskan semua perusahaan, termasuk yang tidak listed harus diaudit
dan diungkapkan laporan keuangannya apabila memiliki nilai aset atau aset bersih
melebihi Rp. 25.000.000.000. Selain itu, tertera juga dalam peraturan BapepamLK VIII.G.2. pengungkapan laporan tahunan meliputi:
1. Deskripsi umum, yang berisi profil perusahaan, produk, sistem organisasi
dan lainnya.
2. Deskripsi khusus, yang berisi mengenai informasi saham, nilai aset,
kebijakan dividen, dan lainnya.
3. Ringkasan mengenai data keuangan yang meliputi perbandingan penjualan
selama 5 (lima) tahun, laba kotor, laba operasi, laba bersih, EPS, dan
analisa laporan keuangan lainnya.

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

4. Diskusi dan analisis manajemen, yang berisi tentang analisis dan informasi
yang berpotensi material yang terjadi sejak laporan tahun lalu.
5. Laporan Keuangan, penyajian laporan keuangan berdasarkan standar yang
berlaku.
Kemudian Herwidiyatmo mengusulkan agar detail pengungkapan harus
sesuai dengan standar internasional, seperti hal-hal yang menyangkut kepentingan
minority shareholder. Agar tidak terjadi adanya benturan kepentingan maka
dibutuhkan persetujuan oleh pemilik saham minoritas. Penerapan ini pertama kali
diikuti oleh 22 perusahaan yang listed dan pedoman yang digunakan berdasarkan
peraturan Bapepam, Regulasi Industri, dan Standar akuntansi yang berlaku umum.
Dalam perkembangan pengungkapan laporan tahunan pada bank di
Indonesia, terutama bank sentral (Bank Indonesia), pengungkapan tidak hanya
ditujukan pada publik saja, namun juga diungkapkan di bank-bank yang
beroperasi di Indonesia. Informasi yang diungkapkan adalah : 1) Informasi umum,
yang berisi mengenai profil emiten (struktur, produk, pemilik dan lainnya); 2)
Laporan Keuangan 2 tahun terakhir, yang berisi laporan audit, neraca, laporan
rugi laba, laporan perubahan modal, arus kas, komitmen dan kontijensi, dan
catatan atas laporan keuangan; 3) Hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu berisi
analisis kredit, persentase kredit nasabah, kredit relasi, kredit yang kolektif, dan
loan dari dalam dan luar negeri.
Berdasarkan studi, skor (level) pengungkapan perusahaan listed yang ada
di Indonesia masih dibawah 60%. Hal ini berarti syarat-syarat pemenuhan
pengungkapan berdasarkan peraturan Bapepam-LK masih rendah, dan dibutuhkan
perhatian khusus mengenai hal ini. Lebih menarik, ternyata auditor memainkan
peran juga dalam menentukan skor (level) pengungkapan ini. Skor pengungkapan
akan makin rendah pada saat emiten berganti dengan auditor yang baru. Dalam
hal ini, pengungkapan dalam laporan keuangan merupakan hal yang penting
dalam menunjukkan identias perusahaan yang sebenarnya.

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

PERBANDINGAN

PERATURAN

BAPEPAM-LK

X.K.6

TENTANG

PENYAMPAIAN LAPORAN EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK


DENGAN PRINSIP OECD NOMOR 5
Berdasarkan Prinsip OECD no 5, tranparansi pengungkapan perusahaan meliputi
seluruh elemen, yaitu laporan keuangan dan hasil operasi perusahaan, tujuan
perusahaan, kepemilikan saham mayoritas dan hak suara, transaksi dengan pihak
terkait, faktor-faktor risiko yang dapat diperkirakan, hal-hal penting berkaitan
dengan karyawan dan para stakeholder lainnya, dan struktur dan kebijakan tata
kelola khususnya berkaitan dengan isi dari pedoman atau kebijakan tata kelola
perusahaan dan penerapannya. Baik itu hal yang bersifat keuangan maupun nonkeuangan.
Merujuk pada peraturan Bapepam-LK X.K.6, pengungkapan laporan bagi emiten
adalah sebagai berikut:
a. Ketentuan umum
b. Ikhstisar data keuangan penting
c. Laporan Dewan Komisaris
d. Laporan direksi
e. Profil perusahaaan
f. Analisis dan pembahasan manajemen
g. Tata kelola perusahaan
h. Tanggung jawab sosial perusahaan
i. Laporan keuangan tahunan yang diaudit
j. Tanda tangan dewan komisaris dan direksi
Hampir semua elemen sudah sesuai dengan prinsip OECD yang ke-5.

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

PEMBAHASAN DAN ANALISIS KASUS

Profil Perusahaan
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) merupakan sebuah perusahaan
yang menjadi penyedia utama gas bumi dan memiliki dua bidang usaha yaitu
distribusi atau penjualan gas bumi dan transmisi atau transportasi gas bumi yang
melalui jaringan pipa yang tersebar di seluruh wilayah usaha. Usaha distribusi
meliputi pembelian gas bumi dari pemasok dan penjualan gas bumi melalui
jaringan pipa pipa distribusi ke pelanggan rumah tangga, dan komersial.
Sedangkan usaha transmisi merupakan kegiatan pengangkutan (transportasi) gas
bumi melalui pipa transmisi dari sumber-sumber gas ke pengguna industri.
Perusahaan ini dirintis sejak 1859 ketika masih bernama Firma LJN
Enthoven & Co. Kemudian perusahaan tersebut diberi nama NZ Overzeese Gasen
Electriciteit Maatschapij (NZ OGEM) oleh pemerintah Belanda pada tahun 1950.
Pada tahun 1958, pemerintah Indonesia mengambil alih kepemilikan perusahaan
dan mengubah namanya menjadi Penguasa Perusahaan Peralihan Listrik dan Gas
(P3LG). Seiring dengan perkembangan pemerintahan Indonesia, pada tahun 1961
status perusahaan berubah menjadi BPU-PLN.
Pada tanggal 13 Mei 1965, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
19/1965, perusahaan ditetapkan sebagai perusahaan negara dan dikenal sebagai
Perusahaan Gas Negara (PGN). Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
27 tahun 1984, perseroan tersebut berubah status hukumnya dari Perusahaan
Negara (PN) menjadi Perusahaan Umum (Perum). Setelah itu, status perusahaan
berubah dari Perum menjadi Perseroan Terbatas yang dimiliki oleh negara
beradasarkan Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1994 dan Akta pendirian
perusahaan No. 486 tanggal 30 Mei 1996. Seiring dengan perubahan status
perserosn yang berubah menjadi perusahaan terbuka, anggaran dasar perusahaan
diubah dengan Akta Notaris No. 5 tanggan 13 November 2003, yang antara lain
berisi tentang perubahan struktur permodalan. Pada tanggal 5 Desember 2003,
Perseroan memperoleh pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar
Modal untuk melakukan penawaran umum saham perdana kepada masyarakat

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

sebanyak 1.296.296.000 saham, yang terdiri dari 475.309.000 dari divestasi


saham Pemerintah Republik Indonesia, pemegang saham perseroan dan
820.987.000 saham baru. Sejak saat itu, nama resmi perseroan diganti menjadi PT
Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Saham perusahaan telah tercatat di Bursa
Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tanggal 15 Desember 2003 dengan
kode transaksi perdagangan PGAS.
Kronologi Kasus
Kasus bermula ketika terjadi penurunan harga saham PT. PGN yang
signifikan dimana pada tanggal 8 Januari 2007 harga pembukaan perdagangan
Rp.10.850,- per lembar saham, dan pada harga penutupan perdagangan jatuh ke
harga Rp. 7.400,-per lembar sahamnya (31,8 %). Kemudian pada tanggal 11
Januari 2007 transaksi harga perdagangan dibuka pada Rp. 9.650,-per lembar
saham dan pada harga penutupan perdagangan jatuh kembali ke posisi Rp. 7.400,per lembar sahamnya atau terjadi lagi penurunan sebesar (23,36 %). Atas
penurunan saham yang tidak wajar tersebut kemudian memicu adanya investigasi
oleh pihak pengawas pasar modal. Kemudian ditemukan indikasi bahwa PT. PGN
terlambat menyampaikan informasi yang material yakni koreksi atas rencana
besarnya volume gas yang akan dialirkan, yaitu mulai dari (paling sedikit) 150
MMSCFD menjadi 30 MMSCFD. Selain itu, juga dinyatakan bahwa tertundanya
gas in (dalam rangka komersialisasi) yang semula akan dilakukan pada akhir
Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007.
Permasalahan yang terjadi adalah karena informasi yang terlambat di
release tersebut ternyata telah diketahui oleh pihak manajemen PT. PGN.
Informasi tentang penurunan volume gas sudah diketahui oleh manajemen PGN
sejak tanggal 12 September 2006 serta informasi tertundanya gas in sejak tanggal
18 Desember 2006. Namun baru diberitahukan pada 11 Januari 2007. Kedua
informasi tersebut di atas dikategorikan sebagai informasi yang material dan dapat
mempengaruhi harga saham dibursa efek. Hal tersebut tercermin dari penurunan
harga saham pada tanggal 12 Januari 2007.
Atas dugaan adanya transaksi yang tidak wajar maka pihak BEI
memutuskan untuk mensuspend saham PT. PGN pada tanggal 15 Januari 2007.

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

Kemudian BEI meminta bantuan BAPEPAM untuk menindaklanjuti kasus


tersebut. Bapepam pun mulai melakukan penyelidikan terkait dengan penurunan
harga saham yang tidak wajar tersebut. Berdasarkan pemeriksaan yang telah
dilakukan melalui review atas dokumen-dokumen dan terhadap jajaran direksi PT.
PGN, akuntan publiknya, dan koordinator pelaksana proyek dan manajer proyek
SSWJ. Bapepam-LK memperoleh bukti bahwa PGAS telah melakukan
pelanggaran terhadap Ketentuan Undang-Undang Pasar Modal dan Peraturan
Nomor X.K.1. tentang Keterbukaan Informasi Yang Harus Segera Diumumkan
Kepada Publik dan Bapepam-LK juga melakukan pemeriksaan atas transaksi
saham PGAS yang dilakukan oleh Perusahaan Efek Anggota Bursa. Atas
pelanggaran tersebut PT. PGN dikenai sanksi sebesar Rp. 35.000.000,00 atas
keterlambatan penyampaian keterbukaan informasi selama 35 hari atas
pelanggaran Pasal 86 Undang-Undang Pasar Modal Jo. Peraturan Bapepam
Nomor X.K.1. tentang Keterbukaan Informasi Yang Harus Segera Diumumkan
Kepada publik. Dan juga memberikan sanksi denda sebesar Rp. 5.000.000.000,00
kepada direksi dan mantan direksi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk yang
menjabat pada periode Juli 2006 sampai dengan Maret 2007 atas pelanggaran
tentang pemberian keterangan yang secara material tidak benar yang melanggar
Pasal 93 Undang-Undang Pasar Modal.
Selanjutnya Bapepam kembali melanjutkan pemeriksaan terhadap para
jajaran direksi PT. PGN terkait dengan adanya dugaan kasus Insider Trading.
Berdasarkan pemeriksaan tersebut telah terbukti adanya insider trading yang
dilakukan oleh orang dalam PT. PGN yaitu Adil Abas (mantan direktur
pengembangan), Nursubagjo Prijono, WMP Simanjuntak (mantan Direktur Utama
dan sekarang Komisaris), Widyatmiko Bapang (mantan sekretaris perusahaan),
Iwan Heriawan, Djoko Saputro, Hari Pratoyo, Rosichin, dan Thohir Nur Ilhami
yang melakukan transaksi saham pada periode 12 September 2006 sampai dengan
11 Januari 2007. Atas pelanggaran tersebut para pelaku dikenai sanksi
administratif dan denda total sebesar Rp. 2.800.000.000,00.

10

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

Keterkaitan Kasus dengan Prinsip V OECD: Keterbukaan dan Transparansi


OECD nomor 5 mengungkapkan transparansi perusahan, bahwa
perusahaan harus terbuka mengenai masalah apapun yang terjadi di perusahaan.
Tidak hanya masalah, ekspektasi yang baik dan buruk pun harus dijelaskan secara
terbuka pada pemangku kepentingan perusahaan.

Dalam kasus diatas, PGN

menutupi masalah penundaan proyek mereka, yang mana apabila diungkapkan


maka akan menurunkan nilai saham. Pada kenyataan yang sebenarnya beberapa
pemilik saham sudah menjual sahamnya karena sebagian dari mereka sudah
mengetahui masalah tersebut. Orang yang mengetahui hal ini disebut insider
trading. Orang yang mengetahui masalah perusahaan sehingga dia tahu benar
bahwa perusahaan akan mengalami penurunan nilai di masa yang akan datang.
Pengetahuan ini tentunya tidak diketahui seluruh pihak pemegang saham, karena
PGN takut kalau sampai masalah ini terdengar kepada pemegang saham lain maka
pemegang saham lain akan ikut menjual sahamnya dan menurunkan nilai pasar
PGN.
Pelanggaran atas aturan OECD nomor 5 benar-benar terlihat disini yaitu
tidak transparan pada seluruh pemegang saham. Pertanyaan yang tepat untuk
kasus ini adalah dimana peran komisaris? Atau sebelumnya bagaimana peran
audit internal?. Seharusnya dalam hal seperti ini audit internal harus menjadi
whistle-blower dalam penundaan proyek ini. Proyek ini bukan hanya proyek
jutaan rupiah, tapi proyek triliunan rupiah. Berarti PGN juga melanggar
pengungkapan informasi material disini.
Keterkaitan Kasus dengan Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor: Kep431/BL/2012

tentang Penyampaian

Laporan

Tahunan

Emiten

atau

Perusahaan Publik.
Pada Keputusan Ketua Bapepam-LK No. KEP-431/BL/2012 yang
mengatur tentang Penyampaian Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik,
pada poin nomor 2 tentang bentuk dan isi laporan tahunan, laporan tahunan wajib
memuat uraian yang membahas dan menganalisis laporan keuangan dan informasi
penting lainnya dengan penekanan pada perubahan material yang terjadi dalam
tahun buku, yaitu paling kurang mencakup tinjauan operasi per segmen operasi

11

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

sesuai dengan jenis industri Emiten atau Perusahaan Publik, antara lain mengenai
produksi, yang meliputi proses, kapasitas, pendapatan dan perkembangannya serta
profitabilitas. Dalam kasus tersebut dapat terlihat PT. PGN telah melakukan
pelanggaran peraturan tersebut dengan sengaja melakukan penahanan informasi
material mengenai perkembangan proyek volume gas dan komersialisai yang
berpengaruh terhadap penurunan nilai sahamnya. Hal ini menyebabkan pihak
orang dalam yang telah mengetahui informasi tersebut melakukan tindakan yang
menguntungkan dirinya sendiri yaitu melakukan penjualan sebelum harga saham
tersebut turun atau insider trading padahal aktivitas insider trading merupakan
aktivitas yang sangat dilarang karena akan merugikan pemegang saham yang lain.
Oleh karena itu, atas pelanggaran yang dilakukan PT. PGN berhak dikenai sanksi
baik administrasi maupun denda oleh Bapepam.

12

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan :
1. PT. PGN telah secara jelas melanggar OECD Prinsip V dan juga Keputusan
Ketua Bapepam Nomor: Kep-431/BL/2012 tentang Penyampaian Laporan
Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik karena dengan sengaja menunda
penyampaian informasi material sehingga menurunkan kualitas Transparansi
dari perusahaan.
2. Atas keterlambatan penyampaian tersebut menyebabkan pihak orang dalam
perusahaan melakukan Insider Trading yang diketahui merupakan sebuah
pelanggaran baik OECD Prinsip V maupun peraturan Bapepam karena
merugikan pemegang saham yang lain.
3. Tingkat transparansi perusahaan go public yang ada di Indonesia masih
tergolong rendah karena masih terdapat banyak kasus terkait dengan
transparansi perusahaan.

Saran :
1. Perusahaan terutama yang sahamnya telah listed di bursa saham sebaiknya
meningkatkan kesadaran akan transparansi yang baik sesuai diatur pada
pedoman OECD maupun peraturan Bapepam.
2. Bapepam sebaiknya memberikan aturan yang lebih mengikat bagi para
emiten mengenai ketentuan penyampaian informasi dan transparansi guna
menghindari munculnya permasalahan seperti PT. PGN

13

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)

DAFTAR PUSTAKA

OECD. 2004. OECD Corporate Governance Principles.


https://angelinasinaga.wordpress.com/2013/04/26/tinjauan-terhadap-ptperusahaan-gas-negara-tbk/
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._Perusahaan_Gas_Negara

14

Analisis Kasus PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)