Anda di halaman 1dari 12

TUGAS AKHIR

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN


PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR TBK

WILDAN AFRIZAL
AKUNTANSI
12354

UNIVERSITAS GADJAH MADA


2012

AKTIVA

2008

2007

Aktiva Lancar
Kas dan setara kas

10,78

15,27

1,57

0,76

5,27

6,80

0,43

0,38

1,02

0,49

0,24

0,28

15,30

14,04

Uang muka dan jaminan

0,67

0,80

Pajak dibayar di muka

1,16

0,54

Beban tanaman ditangguhkan

0,15

0,09

Biaya dibayar di muka dan aktiva lancar lainnya

0,23

0,25

36,87

39,75

Tagihan pajak penghasilan

0,20

0,16

Piutang plasma - bersih

1,01

0,79

Aktiva pajak tangguhan - bersih

0,57

0,56

Penyertaan jangka panjang dan uang muka untuk pembelian investasi

0,41

0,06

9,13

11,12

4,02

5,04

24,21

27,49

1,42

1,60

11,32

10,35

Aktiva tidak berwujud - bersih

6,56

0,00

Aktiva tidak lancar lainnya

4,22

3,03

63,13

60,25

100,00

100,00

Investasi jangka pendek


Piutang Usaha bersih
Pihak ke tiga
Pihak yang mempunyai hubungan istimewa
Bukan Usaha
Pihak ke tiga
Pihak yang mempunyai hubungan istimewa
Persediaan Bersih

Jumlah aktiva lancar


Aktiva Tidak Lancar

Tanaman perkebunan
Tanaman menghasilkan setelah dikurangi akumulasi amortisasi
Tanaman belum menghasilkan
Aset tetap - setelah dikurangi akumulasi penyusutan
Beban ditangguhkan - bersih
Goodwill - bersih

Jumlah Aktiva Tidak Lancar


Jumlah Aktiva

KEWAJIBAN DAN EKUITAS

2008

2007

Kewajiban Lancar
Hutang bank jangka pendek dan cerukan

19,28

19,30

5,43

4,05

6,1861

5,93

0,16

0,23

Pihak ketiga

1,15

1,700

Pihak yang mempunyai hubungan istimewa

0,52

0,41

Beban masih harus dibayar

2,78

4,00

Hutang pajak

1,51

1,67

Hutang obligasi - bersih

2,46

4,12

Hutang bank

1,53

1,91

Hutang sewa

0,02

0,02

41,07

43,38

13,14

2,31

Hutang obligasi - bersih

5,02

9,96

Hutang sewa

0,02

0,02

Jumlah pinjaman jangka panjang

18,18

12,31

Kewajiban pajak tangguhan - bersih

4,76

5,11

Estimasi kewajiban imbalan kerja

2,47

2,45

Kewajiban tidak lancar lainnya

0,25

0,00

25,68

19,86

0,01

0,01

11,77

12,58

2,21

3,17

Hutang trust receipts


Hutang Usaha
Pihak ketiga
Pihak yang mempunyai hubungan istimewa
Bukan usaha

Pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun

Jumlah Kewajiban Lancar

Kewajiban Tidak Lancar


Pinjaman jangka panjang - setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo
dalam waktu satu tahun
Hutang bank

Jumlah Kewajiban Tidak Lancar


Goodwill - bersih
Hak minoritas atas aktiva bersih anak perusahaan
EKUITAS
Modal saham - nilai nominal Rp100 per saham
Modal dasar - 30.000.000.000 saham

Modal ditempatkan dan disetor penuh


Agio saham

3,78

3,97

-2,93

-3,54

Laba yang belum terealisasi atas investasi efek - bersih

0,46

0,51

Selisih perubahan ekuitas anak Perusahaan

3,97

5,42

Selisih kurs atas penjabaran laporan keuangan

0,49

0,09

Modal proforma

0,00

0,21

Telah ditentukan penggunaannya

0.15

0,18

Belum ditentukan penggunaannya

13.30

16,64

Modal saham yang diperoleh kembali

0,00

-2,49

21,46

24,20

Selisih nilai transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali

Saldo laba

Jumlah Ekuitas Bersih


JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS

100,00

Analisis penjualan
Secara umum, proporsi aktiva PT Indofood Sukses Makmur Tbk tidak berubah secara
signifikan. Hanya ada beberapa pos yang mengalami perubahan. Untuk pos utama aset
lancar dan aset tidak lancar mengalami perubahan proporsi sekitar 3%. Untuk pos aktiva
lancar proporsinya turun sebesar kenaikan proporsi aktiva tidak lancar.
Di dalam pos aktiva lancar sendiri proporsi kas mengalami penurunan sekitar 4,5% dan
ada kenaikan proporsi dalam investasi jangka pendek sebesar 0,8%, serta akun piutang
dan persediaan juga proporsinya naik. Bisa dikatakan bahwa perusahaan pada tahun
2008 sedang melakukan investasi sekuritas tambahan, membeli kembali inventori dan
tingkat perputaran kas pada debitor yang agak macet karena kita ketahui bahwa tahun
2008 merupakan tahun terburuk dalam dasawarsa terakhir karena dunia pada saat itu
sedang mengalami krisis global. Meskipun tidak terlalu berpengaruh secara signifikan
terhadap industri konsumsi di Indonesia karena memang Indonesia pertumbuhan
ekonomi diukur dari segi konsumsi, maka imbasnya bagi perusahaan manufaktur seperti
PT Indofood ini tidak terlalu besar. Untuk aktiva tidak lancar mengalami kenaikan
sebesar proporsi penurunan aktila lancar. Kenaikan terbesar dari pos aktiva tidak lancar
adalah dari aktiva tidak berwujud. Aktiva ini mengalami kenaikan sekitar 6% dari posisi
semula 0%.
Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya bahwa penurunan aktiva lancar juga
sebagian dialihkan oleh perusahaan untuk memperluas investasi. Hal ini dibuktikan
dengan naiknya nilai uang muka investasi secara cukup signifikan. Perubahan yang

paling signifikan adalah naiknya proporsi aktiva tidak berwujud sebesar 6% dari proporsi
total aktiva. Aktiva tidak berwujud ini terdiri dari merek-merek dagang atas produk yang
diproduksi oleh Indolakto, yang timbul sehubungan dengan transaksi akuisisi. Merekmerek tersebut diantaranya adalah Indomilk, Cap Enaak, Tiga Sapi, Crima, Kreme dan
Indoeskrim. Pengakuan aset tidak berwujud ini sesuai dengan harga perolehan dan
nilainya diamortisasi setiap tahun. Piutang plasma dan tagihan pajak mengalami
kenaikan namun dalam proporsi yang kecil. Untuk beberapa pos mengalami penurunan
karena memang nilainya diamortisasi atau didepresiasi, misalnya untuk pos tanaman
yang menghasilkan dan aktiva tetap termasuk peralatan, mesin, gedung, dll.
Untuk pos pasiva, kondisi dari hutang lancar mengalami penurunan sekitar 2%
sedangkan untuk pos utang jangka panjang proporsinya naik secara cukup tajam, yaitu
6%. Sedangkan untuk modal berkurang proporsinya sekitar 3%. Untuk utang lancer,
beberapa pos mengalami kenaikan seperti utang trust, utang pada pihak ke tiga untuk
mendanai hal-hal di luar operasi perusahaan dan perusahaan pun mencari kreditur yang
benar-benar bisa dipercayai dan telah menjadi mitra dengan perusahaan.
Utang yang mengalami penurunan antara lain utang obligasi karena memang setiap
tahun perusahaan harus membayar cicilan bunga dan pokok pinjaman yang jatuh
tempo. Begitu juga dengan utang bank dan utang pajak yang harus segera dilunasi
karena tempo pembayarannya telah jatuh. Utang-utang accrual pun proporsinya
berkurang karena setiap tahun juga perusahaan harus membayar biaya-biaya
operasional dan biaya-biaya lainnya.
Di sisi lain, utang jangka panjang malah bertambah secara signifikan proporsinya
antara lain utang bank yang naik sekitar 8,8%. Perusahaan mungkin menilai bahwa
utang bank yang tersisa pada tahun 2007 adalah hampir nol, maka mungkin biasanya
bank menawari kredit lagi atau mungkin hal ini pertimbangan dari manajer pula untuk
lebih memilih kredit di bank dan segera melunasi obligasi-obligasi jangka panjang yang
sudah jatuh tempo. Nilai dari hak minoritas perusahaan otomatis turun karena pada
tahun 2008 perusahaan telah melakukan buyback atas sebagian sahamnya dan
mungkin juga karena pelaku sentimen dari pasar yang khawatir mengenai krisis global
sehingga mereka para pemilik saham minoritas pada akhirnya banyak yang melepas
sahamya. Perusahaan terlalu berani dalam keadaan krisis global lebih mendanai
dengan

utang. Tapi,

mungkin

juga

hal

ini

dipengaruhi

oleh

turunnya

harga

saham. Namun, turunnya harga saham indofood tidaklah sevolatil industri yang lain.

Modal perusahaan juga secara umum mengalami penurunan. Hal ini bisa dilihat dari
modal disetor proporsinya mengalami penurunan meskipun saham treasury sudah dijual
lagi kepada publik, namun dapat diketahui dari agio saham yang mengalami penurunan
bisa mengindikasikan bahwa perusahaan mengalami disagio. Jika tidak, maka memang
proporsi kenaikannya sangat tidak sebanding dengan proporsi kenaikan utang jangka
panjang.

Analisis HPP dan siklus penjualan per produk


Penjualan mengalami kenaikan 39,27% dan diikuti dengan naiknya HPP sebesar 40%.
Hal ini mengindikasikan bahwa harga-harga bahan baku sedang mengalami kenaikan
dan berbagai macam faktor lainnya. Sehingga kenaikan penjualan ini bukan menjadi
tolak ukur kenaikan penjualan namun kenaikan penjualan ini sebagai dampak dari inflasi
dan meningkatnya HPP. Namun demikian, laba kotor masih naik sebesar 35%. Secara
umum, beban usaha juga meningkat sebesar 23%. Namun, peningkatan beban ini
masih di bawah laba kotor sehingga laba usaha naik 50% dari tahun 2007. Penghasilan
atau beban lain-lain inilah yang menyebabkan EBT turun karena memang penyebab
utamanya adalah kerugian selisih mata uang asing. Perlu diketahui bahwa utang
perusahaan juga dalam bentuk dolar. Oleh karena itu, dalam pelunasannya sepanjang
krisis global 2008 mungkin saja mengalami kerugian yang luar biasa. EBT hanya naik
27,35%. Pajak penghasilan juga bertambah karena memang banyak kenaikan di sisi
yang berhubungan dengan pajak, misalnya gaji dan upah. Laba bersih hanya naik 5%
akibat adanya hak pemegang saham minoritas akibat adanya penjualan kembali saham
treasuri. Namun, secara umum, kondisi operasi perusahaan masih dalam keadaan
cukup baik karena masih ada kenaikan pada laba bersih.

Analisis rasio
No

Jenis Rasio

1Rasio Lancar
2Rasio Cepat

Tahun 2007
Perhitungan
11.809.129
12.888.677
6.901.789
12.888.677

Tahun 2008
Hasil
0,92
0,54

Perhitungan
14.598.422
16.262.161
7.154.424
16.262.161

Hasil
0,89
0,44

3Periode penagihan
1.792.286,5
piutang
27.858.304/360
Jumlah hari untuk
3.576.708,5
4menjual persediaan
21.232.761/360
Total Utang terhadap
18.791.384
5Ekuitas
7.190.549
Utang jangka
5.902.707
6panjang
7.190.549
terhadap ekuitas
7Kelipatan Bunga
2.876.440
dihasilkan
710.615
Tingkat
980.357
8Pengembalian
23.035.744
atas Aktiva
Jenis Rasio
Tahun 2007
No
Perhitungan
9Margin Laba Kotor
10Margin Laba Operasi
11Margin laba sebelum
pajak
12Margin Laba Bersih
13Perputaran Kas
14Perputaran piutang
usaha
15Penjualan terhadap
persediaan
16Perputaran Modal
Kerja
17Perputaran Aktiva
Tetap
18Perputaran Total
Aktiva
19Rasio Harga
terhadap Laba
20Imbal Hasil Laba
21Harga Terhadap nilai
buku
22Return On Equity

6.625.543
27.858.304
2.876.440
27.858.304
2.041.409
27.858.304
980.357
27.858.304
27.858.304
3.168.426
27.858.304
1.792.286,5
27.858.304
3.576.708,5
27.858.304
(535)
27.858.304
13.384.937,5
27.858.304
23.035.744
2.575
115
115
2.575
2.575
100
980.357
6.115.817,5

23,16 hari
60,64 hari
2,61
0,82
4,05
0,043
Tahun 2008
Hasil
0,24
0,10
0,073
0,035
8,79
15,54
7,79
Tidak ada
2,08
1,21
22,39
0,045
25,75
0,16

2.198.241,5
38.799.279/360
5.116.803,5
29.822.362/360
26.432.369
8.498.749
10.170.208
8.498.749
4.341.476
1.157.562
1.034.389
34.650.580

Perhitungan
8.976.917
38.799.279
4.341.476
38.799.279
2.599.823
38.799.279
1.034.389
38.799.279
38.799.279
4.404.629,5
38.799.279
2.198.241,5
38.799.279
5.116.803,5
38.799.279
(1.371.643,5)
38.799.279
21.446.804
38.799.279
34.650.580
2.325
120
120
2.325
2.325
100
1.034.389
7.844.649

20,39hari
61,77 hari
3,11
1,19
3,75
0,029

Hasil
0,23
0,11
0,067
0,027
8,81
17,65
7,58
Tidak ada
1,81
1,12

19,38
0,052
23,25
0,13

18.791.384
23Rasio Total Utang

29.706.895

26.432.369
0,63

39.594.264

0,67

Rasio lancar perusahaan dalam dua tahun terakhir menunjukkan kondisi yang tidak
likuid. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan perusahaan dalam menutupi hutang lancar
dengan kewajiban lancar adalah tidak memenuhi syarat. Apalagi rasio ini turun dari 0,92
menjadi 0,89 pada tahun 2008 sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa kenaikan pada utang
lancar dan kondisi aktiva lancar juga naik namun kenaikan pada penyebut akan lebih
cenderung mengurangi secara signifikan nilai rasio lancar ini.
Begitu juga dengan rasio cepat perusahaan yang mengalami penurunan yang signifikan
dari 0,54 menjadi 0,44 pada tahun 2008. Rasio cepat 0,5 menunjukkan bahwa kondisi
perusahaan dalam memenuhi utang lancar benar-benar jauh di bawah kondisi cukup, yaitu
kondisi normal ketika rasio cepat adalah 1.
Kondisi ini juga diperparah dengan penurunan jumlah kas yang dimiliki perusahaan.
Periode penagihan piutang secara umum turun dari 23 hari menjadi 20 hari. Hal ini cukup
mengisyaratkan perkembangan yang bagus karena akan lebih meningkatkan kinerja dan
operasi perusahaan. Namun jumlah hari untuk menjual persediaan malah bertambah 1 hari dari
60 hari menjadi 61 hari. Hal ini akan berdampak pada kinerja penjualan serta dapat
menghambat proses produksi karena perusahaan harus mempertimbangkan rasio ini untuk
mengestimasi barang yang harus diproduksi terutama dalam segi kuantitas agar produksi
perusahaan sejalan dengan permintaan.
Total utang terhadap ekuitas dari tahun 2007 ke tahun 2008 adalah naik menjadi 3,61.
Hal ini menandakan bahwa sebagian besar modal perusahaan sebagian besar didanai dari
utang dan jumlah utang adalah 3 kali lipat lebih banyak daripada total ekuitas. Jadi perusahaan
juga sangat berisiko untuk membayar beban bunga dan pokok pinjaman apalagi ketika
perusahaan mempunyai kreditor lebih dari 1. Kecuali ketika memang keadaan perusahaan
memungkinkan untuk menambah utang maka hal ini tidak akan menjadi masalah.
Apalagi proporsi utang jangka panjang juga sudah melebihi proporsi ekuitas dengan
rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas yang sudah mencapai 1,19. Dalam keadaan krisis
global, hal ini akan sangat berbahaya bagi perusahaan selain terancam masalah kurs juga
terancam operasi macet dan gulung tikar karena banyak pokok pinjaman dan bunga yang
mungkin jatuh tempo dan nilai kas sendiri pun turun. Rasio solvabilitas menunjukkan bahwa
perusahaan sebagian besar pendanaannya berasal dari utang. Memang sebenarnya kebijakan

perusahaan untuk meningkatkan utang adalah untuk memenuhi SIMP, tapi dalam hal ini
sebaiknya perusahaan tetap menjaga rasio solvabilitas agar perusahaan dalam hal ini akan
tetap mampu untuk melunasi jangka panjangnya.
Apalagi dengan turunnya rasio kelipatan bunga dihasilkan. Ini menandakan pula bahwa
perusahaan dengan menambah utang jangka panjang malah akan semakin membebani kondisi
perusahaan. Dengan turunnya rasio kelipatan bunga dihasilkan, hal ini mengindikasikan bahwa
kemampuan perusahaan untuk membayar bunga yang setiap periode tertentu harus dibayar
adalah menurun. Pembayaran bunga juga menggunakan kas, bukan menggunakan laba.
Apalagi kas perusahaan mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan
tahun 2007. ROA turun dari 4,3% menjadi 2,9%. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat
penggunaan atas aktiva untuk mencapai tujuan perusahaan turun.
Sepertinya perusahaan telah menambah dalam jumlah yang signifikan total aset,
termasuk aset tidak lancar. Namun hal ini malah menurunkan kinerja perusahaan atas
penambahan aset tersebut. Margin laba secara umum mengalami penurunan kecuali laba kotor
yang meningkat 1%. Hal ini mengindikasikan bahwa kemungkinan pemegang saham untuk
menerima dividen adalah menurun, dan secara umum akan berimbas kepada sentimen pasar
saham yang akan menilai kinerja perusahaan menurun dan bisa berdampak terhadap harga
saham perusahaan. Rasio perputaran piutang 15 kali sedangkan perputaran kas hanya 8 kali.
Hal ini mengindikasikan ketidakseimbangan antara piutang dengan penerimaan kas sampai
menjadi kas kembali. Dapat disimpulkan bahwa dalam hal ini banyak piutang yang masih belum
bisa ditagih dan setiap kali ada transaksi yang berhubungan dengan penambahan piutang
sebanyak 2 kali, transaksi atas penerimaan kas baru bisa dilakukan 1 kali. Hal ini akan
mengganggu sekali tentunya untuk operasi perusahaan dan memenuhi kebutuhan lain akan
kas.
Perusahaan mengambil keputusan utang mungkin juga disebabkan oleh kondisi seperti
ini, kekurangan kas karena perputaran dari kas menjadi kas adalah sangat lama dan hanya
setengah dari perputaran piutang. Rasio penjualan terhadap persediaan 7 kali mengindikasikan
bahwa perusahaan harus membeli bahan baku persediaan tujuh kali dalam satu periode. Rasio
ini turun 0,23 mengindikasikan bahwa perusahaan mengurangi intensitasnya untuk membeli
persediaan. Perputaran modal kerja adalah nol karena tidak adanya modal kerja disebabkan
total aktiva lancar kuran dari utang lancar. Hal ini mengindikasikan bahwa segala aset lancar
yang dimiliki perusahaan hanya bisa didedikasikan untuk membayar utang jangka pendeknya,
itu pun masih belum mencukupi karena perusahaan dalam keadaan illiquid. Perputaran aktiva
tetap dibandingkan dengan tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 0,2. Hal ini

mengindikasikan bahwa kegunaan aktiva tetap mengalami penurunan Mungkin hal ini
disebabkan kenaikan aktiva tetap sebagai penyebut meskipun kenaikan terhadap penjualan
perusahaan.
Hal ini terjadi juga pada perputaran total aktiva. Idealnya, naiknya total aktiva diikuti juga
oleh naiknya penjualan dalam rasio yang berbeda sehingga dapat meningkatkan rasio
perputaran aktiva. Rasio 2 menunjukkan bahwa total aktiva tidal lancar yang digunakan dalam
penjualan adalah baru 2 kali. Sedangkan untuk penggunaan aktiva secara keseluruhan adalah
baru 1 kali lebih, itupun nilai rasionya menurun. Rasio harga terhadap laba menunjukkan tingkat
apresiasi investor terhadap kondisi perusahaan. Nilai itu turun cukup signifikan 3 poin dari
tahun 2007. Selain karena turunnya harga saham, juga sekali lagi disebabkan oleh krisis global.
Sedangkan imbal laba terhadap saham adalah mengalami kenaikan dari 45% menjadi 52%. Ini
berarti terkandung pesan bahwa setiap lembar saham yang dimiliki investor, akan mendapatkan
pengembalian sebesar 45% dan nilai ini naik pada 2008 menjadi 52%. Oleh karena itu, masih
banyak para investor yang masih tertarik untuk membeli saham perusahaan dan terbukti
perusahaan menjual saham dan mendapat keuntungan dari penjualan tresury.
Harga terhadap nilai buku adalah 25 pada tahun 2007 dan menurun 23 pada tahun
2008. Nilai ini mencerminkan bahwa harga pasar saham adalah 25 kali harga nominalnya.
Sekiranya perusahaan mau melakukan stocksplit untuk bisa lebih meningkatkan kinerja
sahamnya, tidak akan menjadi masalah. Namun pada tahu 2008, nilai ini turun 2 poin. ROE
juga turun 3% yang berarti bahwa kontribusi modal ekuitas terhadap laba adalah turun 3%.

kesimpulan

kesimpulan yang bisa saya berikan adalah buy,hal ini dkarenakan prospek perusahaan yang
bagus dan nilai penjualannya yang meningkat,meskipun peningkatan yang terjadi tidak lah
besar,tetapi saham PT indofood sukses makmur ini perlu diperhatikan oleh para calon investor
yang berniat menanamkan modalnya pada PT Indofood Sukses Makmur Tbk .dengan prospek
yang cerah,PT Indofood Sukses Makmur juga menjadi market leader di bidangnya,yang mana
ini

menguntungkan,dikarenakan

jika

suatu

perusahaan

menjadi

market

sektornya,maka harga saham perusahaan tersebut cenderung naik,dan jarang turun.

leader

di