Anda di halaman 1dari 9

Glukosa darah merupakan karbohidrat dalam bentuk monosakarida yang terdapat dalam

darah.( Baron, 1984). Organ organ yang berpengaruh dalam metabolisme glukosa antara
lain hati dan pankreas. Glukosa darah berada dalam keseimbangan dan mengatur secara
hormonal yaitu hormon teroid, hormon insulin, hormon efineprin dan hormon pertumbuhan. (
Ganong, 1990 )
Jumlah glukosa dalam darah tergantung kepada keseimbangan antara jumlah yang masuk
dan yang keluar. Glukosa masuk ke dalam darah dari tiga macam sumber, yaitu :
a. Makanan yang mengandung hidratarong. Setelah dicerna dan diserap, jenis makanan ini
merupakan sumber glukosa tubuh yang paling penting.
b. Glukogen, glikogen disimpan dalam otot dan heper, dan dapat dipecah untuk melepas
glukosa.
c. Sebagian asam amino dipecah oleh heper untuk menghasilkan glukosa. (Beck,2011 )
Insulin tidak diperlukan untuk terjadinya salah satu diantara ketiga proses ini. Setelah
glukosa masuk ke dalam darah, insulin diperlukan untuk memungkinkan glukosa
meninggalkan darah dan masuk ke dalam jaringan. Pada orang non diabetik, glukosa yang
meninggalkan aliran darah digunakan lewat dua cara , yaitu :
a.
Energi segera bagi semua jaringan.
b.
Energi simpan sebagai glikogen dalam heper dan otot, serta lemak di dalam jaringan
adipose. ( Beck, 2011 )
Kadar glukosa darah yang diketahui dapat membantu memprediksi metabolisme yang
mungkin terjadi dalam sel dengan kandungan gula yang tersedia. Jika kandungan glukosa
dalam tubuh sangat berlebihan maka glukosa tersebut akan mengalami reaksi katabolisme
secara enzimatik untuk menghasilkan energy. Namun jika kandungan glukosa tersebut di
bawah batas minimum, maka asam piruvat yang dihasilkan dari proses katabolisme bisa
mengalami proses enzimatik secara anabolisme melalui glukoneogenesi untuk mensintesis
glukosa dan memenuhi kadar normal glukosa dalam darah ( plasma darah ) yaitu 65 110
mg/dl ( 3,6 6,1 mmol/ L ). (Murray, 2003 )
Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kadar glukosa di dalam
darah. Kadar glukosa darah diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa dialirkan melalui
darah adalah sumber utama energi untuk sel sel tubuh. Umumnya kadar glukosa darah
berada pada kadar 70 110 mg/dl. (Price, 2005 ). Metabolisme glukosa yang tidak normal
dapat menyebabkan hiperglikemia ( bila kadar gula darah berada pada kadar tinggi ( > 110
mg/dl )) dan hipoglikemia ( bila kadar glukosa darah terlalu rendah ( < 70 mg/dl )).
Metode pengukuran kadar glukosa :
a. Metode kimia. Prinsip pemeriksaan ini, yaitu proses kondensasi glukosa dengan akromatik
amin dan asam glasial pada suasana panas, sehingga terbentuk senyawa berwarna hijau
kemudian diukur dengan fotometri.
b. Metode enzimatik.
1. Metode glukosa oksidase. Prinsip pemeriksaan ini adalah enzim glukosa oksidasi
mengkatalisis reaksi oksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan hidrogen peroksida yang
terbentuk bereaksi dengan phenol dan 4 amino phenazone dengan bantuan enzim
peroksidase menghasilkan quinoneimine yang berwarna merah muda dan dapat diukur
dengan fotometer pada = 546 nm.
2. Metode hexokinase.( Down, 2000 )

Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai
sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam, glukosa terdapat dalam
buah-buahan dan madu lebah. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah
atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70-100 mg / 100 ml darah. Glukosa darah ini dapat
bertambah setelah kita makan makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah
itu, jumlah glukosa darah akan kembali pada keadaan semula. Pada orang yang menderita
diabetes mellitus atau kencing manis, jumlah glukosa darah lebih besar dari 130 mg / 100 ml
darah.
Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat
glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan
ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi
untuk sel-sel tubuh. Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit
sepanjang hari: 4-8 mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan
biasanya berada pada level terendah pada pagi hari, sebelum orang makan. Diabetes mellitus
adalah penyakit yang paling menonjol yang disebabkan oleh gagalnya pengaturan gula darah.
Meskipun disebut "gula darah". Selain glukosa, kita juga menemukan jenis-jenis gula
lainnya, seperti fruktosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya tingkatan glukosa yang
diatur melalui insulin dan leptin.
Jumlah glukosa dalam darah tergantung kepada keseimbangan antara jumlah yang
masuk dan yang keluar. Glukosa masuk ke dalam darah dari tiga macam sumber, yaitu :
a) Makanan yang mengandung hidratarong. Setelah dicerna dan diserap, jenis makanan ini
merupakan sumber glukosa tubuh yang paling penting.
b) Glukogen, glikogen disimpan dalam otot dan heper, dan dapat dipecah untuk melepas
glukosa.
c) Sebagian asam amino dipecah oleh heper untuk menghasilkan glukosa.
Bila level gula darah menurun terlalu rendah, berkembanglah kondisi yang bisa fatal
yang disebut hipoglisemia. Gejala gejalanya adalah perasaan lelah, fungsi mental yang
menurun, rasa mudah tersinggung, dan kehilangan kesadaran. Bila levelnya tetap tinggi, yang
disebut hiperglisemia, nafsu makan akan tertekan untuk waktu yang singkat. Hiperglisemia
dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah-masalah kesehatan yang berkepanjangan
pula yang berkaitan dengan diabetes, termasuk kerusakan pada mata, ginjal, dan saraf.
Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk mempertahankan
keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam darah dimonitor oleh pankreas. Bila
konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh,
pankreas melepaskan glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di lever (hati). Kemudian
sel sel ini mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini disebut glikogenolisis). Glukosa
dilepaskan ke dalam aliran darah, hingga meningkatkan level gula darah. Apabila level gula
darah meningkat, entah karena perubahan glikogen, atau karena pencernaan makanan,
hormon yang lain dilepaskan dari butir-butir sel yang terdapat di dalam pankreas. Hormon
ini, yang disebut insulin, menyebabkan hati mengubah lebih banyak glukosa menjadi
glikogen. Proses ini disebut gliogenosis, yang mengurangi level gula darah. Diabetes mellitus

tipe 1 disebabkan oleh tidak cukup atau tidak dihasilkannya insulin, sementara tipe 2
disebabkan oleh respon yang tidak memadai terhadap insulin yang dilepaskan (resistensi
insulin). Kedua jenis diabetes ini mengakibatkan terlalu banyaknya glukosa yang terdapat di
dalam darah.
4.3. Diabetes Melitus
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis
atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan
kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh,
dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.
Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu
dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula
dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis
yang mengandung gula (glukosa), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut.
Patofisiologi Diabetes Melitus
1) Diabetes Tipe I
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel b pankreas telah
dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan
dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial
(sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap
kembali semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam
urin (glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam
berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi).
2) Diabetes Tipe II
Terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi
insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus
pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu
rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes
tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan demikian insulin menjadi tidak
efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah
harus terdapat peningkatan insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa
terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan
dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun jika sel-sel b tidak
mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan
meningkat dan terjadi diabetes tipe II.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabetes tipe II,
namun terdapat jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi
badan keton. Oleh karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II.

Meskipun demikan, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut
lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. Akibat intoleransi
glukosa yang berlangsung lambat dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan
tanpa terdeteksi, gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas,
poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang tidak sembuh-sembuh, infeksi dan pandangan yang
kabur.
3) Diabetes Gestasional
Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilannya.
Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormone-hormon plasenta. Sesudah
melahirkan bayi, kadar glukosa darah pada wanita yang menderita diabetes gestasional akan
kembali normal.
4.4. Metode Pengukuran Kadar Glukosa
Dalam pengukuran kadar glukosa, terdaat beberapa metode yang bisa digunaka, antara lain :
a) Metode kimia.
Prinsip pemeriksaan ini, yaitu proses kondensasi glukosa dengan akromatik amin dan
asam glasial pada suasana panas, sehingga terbentuk senyawa berwarna hijau kemudian
diukur dengan fotometri.
b) Metode enzimatik.
c) Metode glukosa oksidase.
Prinsip pemeriksaan ini adalah enzim glukosa oksidasi mengkatalisis reaksi oksidasi
glukosa menjadi asam glukonat dan hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan
phenol dan 4 amino phenazone dengan bantuan enzim peroksidase menghasilkan
quinoneimine yang berwarna merah muda dan dapat diukur dengan fotometer pada = 546
nm.
d) Metode hexokinase.
4.5. Persiapan Pasien Secara Umum
Berbagai persiapan penderita yang perlu diberitahukan secara baik dan mendetail pada
penderita antara lain :
1. Persiapan pasien untuk pengambilan spesimen pada keadaan basal/dasar :
a) Untuk pemeriksaan tertentu pasien harus puasa selama 8 12 jam sebelum diambil darah.
b) Glukosa Puasa, TTG (Tes Toleransi Glukosa), Glukosa kurva harian, Asam Urat, VMA,
Renin (PRA).
c) Trigliserida, Gastrin, Aldosteron, Homocystine, Lp (a), PTH intact puasa 12 jam.
d) Apo AB dan Apo B dianjurkan puasa 12 jam.
2. Pengambilan spesimen sebaiknya pagi hari antara pukul 07.00 09.00.
3. Menghindari obat-obatan sebelum spesimen di ambil.
a) Untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 4-24 jam sebelum
pengambilan spesimen.

b) Untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 48-42 jam sebelum
pengambilan darah.
c) Apabila pemberian pengobatan tidak memungkinkan untuk di hentikan, harus di
informasikan kepada petugas laboratorium.
4. Menghindari aktifitasfisik/olahraga sebelum spesimen di ambil.
Aktifitas fisik berlebihan akan menyebabkan terjadinya perubahan pada komponen
darah dan spesimen lain, sehingga dapat mempengaruhi ke paramater yang akan diperiksa.
5. Memperhatikan efek postur.
Untuk menormalkan keseimbangan cairan tubuh dari pisisi berdiri ke pisisi duduk,
dianjurkan pasien duduk tenang sekurang-kurangnya 15 menit sebelum di ambil darah.
6. Memperhatikan variasi diurnal ( perubahan kadar analit sepanjang hari)
Pemeriksaan yang di pengaruhi variasi diurnal perlu di perhatikan waktu pengambilan
darahnya, antara lain pemeriksaan ACTH, renin dan aldosteron.

Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting


yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa
merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk
alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan
(Wikipedia, 2007).
Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosamonosakarida yang
mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung
gugus -CHO). Lima karbon dan satu oksigennya membentuk cincin yang disebut
"cincin piranosa", bentuk paling stabil untuk aldosa berkabon enam. Dalam
cincin ini, tiap karbon terikat pada gugus samping hidroksil dan hidrogen kecuali
atom kelimanya, yang terikat pada atom karbon keenam di luar cincin,
membentuk suatu gugus CH2OH. Struktur cincin ini berada dalam
kesetimbangan dengan bentuk yang lebih reaktif, yang proporsinya 0.0026%
pada pH 7 (Wikipedia, 2007).

Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat di mana-mana dalam biologi.


Kita dapat menduga alasan mengapa glukosa, dan bukan monosakarida lain
sepertifruktosa, begitu banyak digunakan. Glukosa dapat dibentuk
dari formaldehida pada keadaan abiotik, sehingga akan mudah tersedia bagi
sistem biokimia primitif. Hal yang lebih penting bagi organisme tingkat atas
adalah kecenderungan glukosa, dibandingkan dengan gula heksosa lainnya,
yang tidak mudah bereaksi secara nonspesifik dengan
gugusamino suatu protein. Reaksi ini (glikosilasi) mereduksi atau bahkan
merusak fungsi berbagai enzim. Rendahnya laju glikosilasi ini dikarenakan
glukosa yang kebanyakan berada dalam isomer siklik yang kurang reaktif. Meski
begitu, komplikasi akut sepertidiabetes, kebutaan, gagal ginjal, dan kerusakan
saraf periferal (peripheral neuropathy), kemungkinan disebabkan oleh glikosilasi
protein (Wikipedia, 2007).

Dalam respirasi, melalui serangkaian reaksi terkatalisis enzim,


glukosateroksidasi hingga akhirnya membentuk karbon dioksida dan air,
menghasilkan energi, terutama dalam bentuk ATP. Sebelum digunakan, glukosa
dipecah dari polisakarida (Wikipedia, 2007).
Glukosa dan fruktosa diikat secara kimiawi menjadi sukrosa. Pati, selulosa,
danglikogen merupakan polimer glukosa umum polisakarida). Dekstrosa
terbentuk akibat larutan D-glukosa berotasi terpolarisasi cahaya ke kanan.
Dalam kasus yang sama D-fruktosa disebut "levulosa" karena larutan levulosa
berotasi terpolarisasi cahaya ke kiri (Wikipedia, 2007).

Gula terdapat dalam dua enantiomer (isomer cermin), D-glukosa dan L-glukosa,
tapi pada organisme, yang ditemukan hanya isomer D-isomer. Suatu karbohidrat
berbentuk D atau L berkaitan dengan konformasi isomerik pada karbon 5. Jika
berada di kanan proyeksi Fischer, maka bentuk cincinnya adalah enantiomer D,
kalau ke kiri, maka menjadi enantiomer L. Sangat mudah diingat, merujuk pada
D untuk "dextro, yang merupakan akar bahasa Latin untuk "right" (kanan),
sedangkan L untuk "levo" yang merupakan akar kata "left" (kiri). Struktur
cincinnya sendiri dapat terbentuk melalui dua cara yang berbeda, yang
menghasilkan glukosa- (alfa) dan (beta). Secara struktur, glukosa- dan -
berbeda pada gugus hidroksil yang terikat pada karbon pertama pada cincinnya.
Bentuk memiliki gugus hidroksil "di bawah" hidrogennya (sebagaimana
molekul ini biasa digambarkan, seperti terlihat pada gambar di atas), sedangkan
bentuk gugus hidroksilnya berada "di atas" hidrogennya. Dua bentuk ini
terbentuk bergantian sepanjang waktu dalam larutan air, hingga mencapai
nisbah stabil : 36:64, dalam proses yang disebut mutarotasi yang dapat
dipercepat (Wikipedia, 2007).
Glukosa merupakan hasil fotosintesis pada tumbuhan dan beberapa prokariota.
Glukosa juga terbentuk dalam hati dan otot rangka dari pemecahan
simpanan glikogen (polimer glukosa) serta disintesis dalam hati dan ginjal dari
zat antara melalui proses yang disebut glukoneogenesis (Wikipedia, 2007).
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia, yang
menyediakan 4 kalori (17 kilojoule) energi pangan per gram. Pemecahan
karbohidrat (misalnya pati) menghasilkan mono- dan disakarida, terutama
glukosa. Melalui glikolisis, glukosa segera terlibat dalam produksi ATP, pembawa
energi sel. Di sisi lain, glukosa sangat penting dalam produksi protein dan dalam
metabolisme lipid. Karena pada sistem saraf pusat tidak ada metabolisme lipid,
jaringan ini sangat tergantung pada glukosa (Wikipedia, 2007).

Glukosa diserap ke dalam peredaran darah melalui saluran pencernaan.


Sebagian glukosa ini kemudian langsung menjadi bahan bakar sel otak,
sedangkan yang lainnya menuju hati dan otot, yang menyimpannya
sebagai glikogen ("pati hewan") dansel lemak, yang menyimpannya
sebagai lemak. Glikogen merupakan sumber energi cadangan yang akan
dikonversi kembali menjadi glukosa pada saat dibutuhkan lebih banyak energi.
Meskipun lemak simpanan dapat juga menjadi sumber energi cadangan, lemak
tak pernak secara langsung dikonversi menjadi glukosa. Fruktosa dan galaktosa,
gula lain yang dihasilkan dari pemecahan karbohidrat, langsung diangkut ke hati,
yang mengkonversinya menjadi glukosa (Wikipedia, 2007).
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena
mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam,
glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah. Darah manusia normal
mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70-100
mg tiap 100 ml darah. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita makan
makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah glukosa
darah akan kembali pada keadaan semula. Pada orang yang menderita diabetes
mellitus atau kencing manis, jumlah glukosa darah lebih besar dari 130 mg per
100 ml darah (Poedjiadi, 1994).
Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada
tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa
serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah
adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Umumnya tingkat gula darah
bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari: 4-8 mmol/l (70-150
mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level
terendah pada pagi hari, sebelum orang makan. Diabetes mellitus adalah
penyakit yang paling menonjol yang disebabkan oleh gagalnya pengaturan gula
darah. Meskipun disebut "gula darah", selain glukosa, kita juga menemukan
jenis-jenis gula lainnya, seperti fruktosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya
tingkatan glukosa yang diatur melalui insulin dan leptin (Wikipedia, 2007).
Bila level gula darah menurun terlalu rendah, berkembanglah kondisi yang bisa
fatal yang disebut hipoglisemia. Gejala-gejalanya adalah perasaan lelah, fungsi
mental yang menurun, rasa mudah tersinggung, dan kehilangan kesadaran. Bila
levelnya tetap tinggi, yang disebut hiperglisemia, nafsu makan akan tertekan
untuk waktu yang singkat. Hiperglisemia dalam jangka panjang dapat
menyebabkan masalah-masalah kesehatan yang berkepanjangan pula yang
berkaitan dengan diabetes, termasuk kerusakan pada mata, ginjal, dan saraf
(Wikipedia, 2007).
Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk mempertahankan
keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam darah dimonitor
oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk
memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan glukagon, hormon
yang menargetkan sel-sel di lever (hati). Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen
menjadi glukosa (proses ini disebut glikogenolisis). Glukosa dilepaskan ke dalam

aliran darah, hingga meningkatkan level gula darah. Apabila level gula darah
meningkat, entah karena perubahan glikogen, atau karena pencernaan
makanan, hormon yang lain dilepaskan dari butir-butir sel yang terdapat di
dalam pankreas. Hormon ini, yang disebut insulin, menyebabkan hati mengubah
lebih banyak glukosa menjadi glikogen. Proses ini disebut gliogenosis, yang
mengurangi level gula darah. Diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh tidak
cukup atau tidak dihasilkannya insulin, sementara tipe 2 disebabkan oleh respon
yang tidak memadai terhadap insulin yang dilepaskan ("resistensi insulin").
Kedua jenis diabetes ini mengakibatkan terlalu banyaknya glukosa yang terdapat
di dalam darah (Wikipedia, 2007).

Beck, Mary.E. 2011. Ilmu Gizi dan Diet, Hubungannya dengan Penyakit Penyakit Perawatan dan Dokter.
Yogyakarta : Andi Yogyakarta
Dawn B, Marks. 2000. Dasar Dasar Kimiawi dan Biologis Biokimia. Dalam : Biokimia Kedokteran Dasar.
Jakarta : EGC
Ganong, WF. 1994. Fisiologi Kedokteran Edisi 14. Jakarta : EGC
Murray, RK. 2003. Harpers Biochemistry. Edisi ke 25. Karolina SK, penerjemah. Jakarta : EGC
Syabatini, Annisa. 2010. Analisa Campuran Dua komponen Tanpa Pemisahan dengan Spektofotometer.
Pontianak : UNLAM Press
[Anonim]. 2004. Gula dan Lemak Darah. Yayasan Spiritia: Jakarta.
[Anonim].
2007)

2007. Glukosa. http://id.wikipedia.org/wiki/Glukosa(22 Desember

[Anonim].
2007. Gula
Darah.http://id.wikipedia.org/wiki/Gula_darah (22 Desember 2007)
[Anonim]. 2007. Hukum Beer-Lambert. http://www.chem-is-try.org (22 Desember
2007).
[Anonim].
2007. Pengenalan
Kepada
Glukosa.http://dianais82.tripod.com/id1.html (22 Desember 2007).
[Anonim].
2007. Spectrophotometer
Absorbsi
UV/VIS.http://sentrabd.com/main/info/Insight/Spectrophotometer.htm (22
Desember 2007).
Anna Poedjiadi, 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta.
Girinda A. 1989. Biokimia Patologi. Bogor: IPB

Sentot Budi Raharjo, KIMIA berbasis EKSPERIMEN 3 (Jakarta: Platinum,2008)H.280