Anda di halaman 1dari 9

Laporan PTK2

Kinetika

NAMA

: Andri Wiyoga

NIM

: {2010430002}

JURUSAN

: Teknik Kimia

Reaksi

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH


JAKARTA

Laporan PTK 2

Kinetika Reaksi
I.

II.

Prinsip
Perubahan kecepatan suatu reaksi kimia sebanding dengan konsentrasi ion setiap reaksi dan
produk pada waktu tertentu
Maksud Dan Tujuan
Menentukan kecepatan reaksi spesifik antara K 2S2O8 dengan KI pada variasi konsentrasi

pada temperature kamar.


Menentukan energi aktivasidari suatu reaksi kimia antara K 2S2O8 dengan KI pada variasi
temperature.

III.

Teori Percobaan
Menurut hukum aksi masa, laju reaksi kimia pada suhu tertentu dinyatakan sebagai
banyaknya zat yang bereaksi per satuan waktu, bergantung hanya pada konsentrasi zat yang
mempengaruhin lajunya. Zat yang mempengaruhi laju biasanya adalah suatu zat pereaksi atau
lebih, kadang salah satu hasil zat reaksi dan kadang suatu suatu katalis yang tidak muncul
dalam dalam persamaan kimia menyeluruh yang diseimbangkan. Ketergantungan laju pada
konsentrasi sebagai keseimbangan langsung, dimana konsentrasi muncul dala pangkat nol,
satu, atau dua. Pangkat konsentrasi ini disebut ordo reaksi terhadap zat ini. (Rosenbarg,
1992)
Daya (laju) suatau reaksi kimia sama dengan hasil kali massa aktif (konsentrasi)
pereaksi dan koefisien afinitas (tetapan kecepatan) dengan setiap massa aktif meningkat
sampai daya tertentu. Daya tertentu tersebut tidak harus angka-angka bulat dan tidak
disimpulkan dari persamaan reaksinya. Hukum Gulberd dan Waage tersebut dikenal sebagai
hukum aksi massa. Kinetika Reaksi
Suatu laju reaksi ditentukan oleh sifat-sifat dari senyawa yang bereaksi, suhu serta
konsentrasi dari reaktan-reaktan yang ada. Suhu yang meningkat akan diikuti atau akan
menyebabkan kecepatan reaksi akan semakin cepat. Berdasarkan kenyataan yang ada terdapat
beberapa reaksi yang apabila terjadi kenaikan suhu 100C dapat meningkatkan laju reaksi
sebesar dua kalinya. Bila konsentrasi meningkat akan dapat pula mempercepat laju reaksi,
akan tetapi beberapa reaksi ordo nol, konsentrasi tidak berpengaruh. Hal ini dikarenakan sifat
reaksi tersebut jika ditambah suatu apapun reaksi tidak dapat dipercepat. (Sukarjo, 1999)
Jika suatu zat dipanaskan, pertikel-partikel zat tersebut menyerap energi kalor. Pada
suhu yang ebih tinggi molekul bergerak lebih cepat sehingga energi kinetiknya bertambah.

Peningkatan energi kinetik menyebabkan kompleks teraktivasi lebih cepat terbentuk, karena
energi aktivasi mudah terlampaui, dengan dewnikian reaksi berlangsung lebih cepat
(Suroso,2002)
Pada umumnya reaksi-reaksi berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Ada
reaksi yang berlangsung sangat cepat, misalnya reaksi penetralan asam oleh basa dan reaksi
peledakan dinamit. Ada juga reaksi yang berlangsung sangat lambat sehingga seakan-akan
tidak berjalan sama sekali, misalnya reaksi antara hidrogen dengan oksigen. Campuran kedua
zat ini dapat disimpan untuk waktu yang cukup lama. Sebelum dapat teramati hasil realsinya,
yaitu air. Untuk dapat menyatakan lambat atau cepatnya suatu reaksi, dikemukakan konsep
Kecepatan Reaksi (Laju Reaksi, Kinetika Reaksi). Kecepatan reaksi didefinisikan sebagai
perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi per satuan waktu. Suatu reaksi akan
berlangsung dengan cepat, jika tabrakan molekul-molekul dari zat yang bereaksi banyak dan
sering terjadi. (Anonim, 2006) Kinetika Reaksi
Dalam ilmu kimia, laju reaksi menunjukan perubahan konsentrasi zat yang terlibat
dalam reaksi setiap satuan waktu. Konsentrasi pereaksi dalam suatu reaksi kimia semakin
lama semakin berkurang, sedangkan hasil reaksi semakin lama semakin bertambah
(Anderton,1997)
Untuk mempercepat laju rekaksi ada 2 cara yang dapat dilakukan yaitu memperbesar
energi kinetik suatu molekul atau menurunkan harga Ea. Kedua cara itu bertujuan agar
molekul-molekul semakin banyak memiliki energi yang sama atau lebih dari energi aktivasi
sehingga tumbukan yang terjadi semakin banyak (Ryan,2001)
Penyelidikan tentang reaksi yang bertujuan untuk menentukan hukum laju dan
konstanta laju, seringkali dilakukan pada beberapa temperature. Idealnya langkah pertama
untuk mengenali semua produknya, dan untuk menyelidiki ada tidaknya antar hasil sementara
dan reaksi samping. (Atkins,1999)
Suatu reaksi kimia ada yang berlangsung cepat dan ada pula yang berlangsung
lambat. Cepat rambatnya suatu reaksi dinyatakan sebagai laju reaksi atau kecepatan reaksi.
Pengertian kecepatan reaksi atau laju reaksi itu sendiri adalah besarnya perubahan
konsentrasi/jumlah zat-zat dalam reaksi kimia tiap satuan waktu. Laju reaksi dinyatakan
dalam satuan konsentrasi (mol per liter) dan bukan jumlah mol, agar laju reaksi tidak
dipengaruhi oleh skala reaksi. Jika pereaksi ditingkatkan volumenya 2x, jumlah mol akan
meningkat 2x pula, namun konsentrasinya tetap sama. Dari pernyataan tersebut menunjukan
bahwa semakin tinggi konsentrasi HCl maka waktu yang dibutuhkan untuk melarutkan logam
Mg akan semakin sedikit, karena laju reaksi berbanding terbalik waktu dan berbanding lurus

dengan konsentrasi. Fakto-faktor yang mempengaruhi jumlah tumbukan atau kecepatan


reaksi adalah konsentrasi, luas permukaan zat, temperatur
Penambahan katalis, katalis adalah zat kimia yang dapat mempercepat reaksi dan zat
ini tidak ikut berubah pada akhir reaksi.
Dalam percobaan kali ini menggunakan larutan HCl dengan konsentrasi 1,0 M dapat
melrutkan logam Mg dengn waktu 466 detik, 1.2 M HCl 410 detik,1.4 M HCl 310detik, 1,6
M HCl dengan waktu 245 detik, 1,8 M HCL dengan waktu 186detik, 2.0 M HCl dengan
waktu 136 detik.
Penentuan standart deviasi digunakan untuk mengetahui besarnya nilai yang
menyimpang. Dalam praktikum ini, didapat, SD II > SD I, artinya bahwa ordo reaksinya
adlah dua. Untuk menentukan orde reaksi dapat digunakan garis regresi didapat dengan
menghubungkan titik-titik antara 1/t dan konsentrasi. Dengan adanya garis regresi dapat
diketahui kevalitan data yang telah diperoleh. Kinetika Reaksi
Faktor yang mempengaruhi kinetika reaksi
1. Konsentrasi reaktan.
Karena persamaan laju reaksi didefinisikan dalam bentuk konsentrsi reaktan maka dengan
naiknya konsentrasi maka naik pula kecepatan reaksinya. Artinya semakin tinggi konsentrasi
maka semakin banyak molekul reaktan yang tersedia denngan demikian kemungkinan
bertumbukan akan semakin banyak juga sehingga kecepatan reaksi meningkat.
2. Tekanan.
Reaksi yang melibatkan gas, kecepatan reaksinya berbanding lurus dengan kenaikan tekanan
dimana faktor tekanan ini ekuivalen dengan konsentrasi gas.
3. Orde reaksi.
Orde reaksi menentukan seberapa besar konsentrasi reaktan berpengaruh pada kecepatan
reaksi. Orde suatu reaksi ialah jumlah semua komponen dari konsentrasi persamaan laju. Jika
laju suatu reaksi kimia berbanding lurus dengan pangkat satu konsentrasi dari hanya satu
pereaksi Maka reaksi itu dikatakan sebagai reaksi orde pertama. Jika laju reaksi itu
berbanding lurus dengan pangkat dua suatu pereaksi
Maka reaksi itu disebut reaksi orde kedua. Dapat juga disebut orde teerhadap masing-masing
pereaksi misalnya : dalam persamaan terakhir itu, laju reaksi itu adalah orde pertama dalam A
dan orde pertama dalam B atau orde kedua secara keseluruhan. Suatu reaksi dapat berorde
ketiga atau mungkin lebih tinggi lagi, tetapi hal itu sangat jarang.
4. SUHU

Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu dinaikkan. Dengan menaikkan
suhu maka energi kinetik molekul-molekul zat yang bereaksi akan bertambah sehingga akan
lebih banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea. Dengan demikian
lebih banyak molekul yang dapat mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain kecepatan
reaksi menjadi lebih besar. Secara matematis hubungan antara nilai tetapan laju reaksi
(k) terhadap suhu dinyatakan oleh formulasi ARRHENIUS:
k = A . e-E/RT
dengan naiknya suhu, bukan hanya molekul molekul lebih sering bertabrakan tetapi mereka
juga bertabrakan dengan dampak yang lebih besar karena mereka bergerak lebih cepat. Pada
suhu yang ditinggikan, persentase tabrakan yang mengakibatkan reaksi kimia akan lebih besar,
karena makin banyak molekul yang memiiki kecepatan lebih besar dank arena memiliki
energy yang cukup untuk bereaksi.
5. KATALISATOR
Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud memperbesar
kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami
perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai
kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi.
Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan
jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang
baru. Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi dapat
berlangsung lebih cepat.
Suatu katalis diduga mempengaruhi kecepatan reaksi dengan salah satu jalan:
1. Dengan pembentukan senyawa antara (katalisis homogen)
2. Dengan adsorpsi (katalisis heterogen)
Pembentukan senyawa antara (katalisis homogen).Terdapat banyak contoh reaksi homogen
dalam larutan yang laju reaksinnya ditingkatkan dengan adannya zat katalitik.
Tanpa hadirnya katalis, diperlukan waktu berminggu minggu untuk menghasilkan etil asetat
dengan rendaman maksimal.Dengan hadirnya katalis asam, rendaman maksimal dicapai dalam
beberapa zat. Sekali lagi, katalis tidak menambah banyaknya etil asetat yang dapat diperoleh
pada kesetimbangan, karena laju reaksi maju dan reaksi balik ditingkatkan dengan sama
banyak.
Adsorpsi. Banyak zat padat yang bertindak sebagai katalis, dapat mengikat cukup banyak
kuantitas gas dan cairan pada permukaan mereka berdasarkan adsorpsi. Dalam beberapa hal

naiknya kereaktifan ini dapat disebabkan oleh naiknya konsentrasi molekul yang teradsorpsi,
mereka berjejalan pada permukaan zat padat sedangkan dalam keadaan gas, mereka terpisah
jauh satu sama lain. Dalam hal hal lain, gaya tarik antar molekul zat padat dan molekul zat
cair atau gas yang teradsorpsi mengakibatkan molekul yang teradsorpsi menjadi aktif secara
kimia.
Tidak perlunya dalam suatu campuran reaksi yang teradsorpsi dengan kuat dalam katalis dapat
berlaku sebagai penghambat dengan mengurangi luas permukaan yang tersedia.
6. Pelarut.
Banyak reaksi yang terjadi dalam larutan dan melibatkan pelarut.Sifat pelarut baik terhadap
reaktan, hasil intermediate, dan produknya mempengaruhi laju reaksi. Seperti sifat solvasi
pelarut terhadap ion dalam pelarut dan kekuatan interaksi ion dan pelarut dalam pembentukan
counter ion.
7. Radiasi elektromagnetik dan Intensitas Cahaya.Radiasi elektromagnetik dan cahaya
merupakan salah satu bentuk energi. Molekul-molekul reaktan dapat menyerap kedua bentuk
energi ini sehingga mereka terpenuhi atau meningkatkan energinya sehingga meningkatkan
terjadinya tumbukan antar molekul
8. Pengadukan.
Proses pengadukan mempengaruhi kecepatan reaksi yang melibatkan sistem heterogen.
Seperti reaksi yang melibatkan dua fasa yaitu fasa padatan dan fasa cair seperti melarutkan
serbuk besi dalam larutan HCl, dengan pengadukan maka reaksi akan cepat berjalan.
Kinetika kimia adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari laju dan mekanisme reaksi
kimia.Besi lebih cepat berkarat dalam udara lembab daripada dalam udara kering; makanan
lebih cepat membusuk bila tidak didinginkan; kulit bule lebih cepat menjadi gelap dalam
musim panas dari pada dalam musim dingin.Ini merupakan tiga contoh yang lazim dari
perubahan kimia yang kompleks dengan laju yang beraneka menurut kondisi reaksi

IV.

Alat Dan Bahan


Alat :
1. Erlenmeyer
2. Isolasi plastik
3. Stopwatch
4. Gelas ukur
5. Pipet ukur
6. Flash shaker

7. Pipet tetes
8. Labu ukur
Bahan :
1.
2.
3.
4.
5.
V.

Aquadest
KI
K2S2O8
Na2S2O3
Amilum

Prosedur Kerja
Buat larutan KI 0.05 N, K2S2O8 0.05 N, dan 0.05 N
Buat larutan dalam Erlenmeyer dengan perbandingan ( variasi konsentrasi )
Keempat sampel di shaker dengan flash shaker hingga terjadi perubahan warna menjadi

hijau.
Larutan dalam Erlenmeyer dengan perbandingan ( variasi temperature)
Keempat sampel dipanaskan diatas waterbath hingga terjadi perubahanwarna menjadi
hijau.

VI.

Data Pengamatan
Data variasi konsentrasi
Erlenmeyer
1
2
3
4

Waktu ( detik )
846
1078
773
1436

Menentukan harga X
X = V Na2S2O3 x N Na2S2O3
V K2S2O8 x N K2S2O8
Maka
: X1 = 0.5
X2 = 0.5
X3 = 0.5
X4 = 0.5
Menentukan harga K dari percobaan

2.303
1
x log
t
1x

K=
Maka

K1 = 0.000819
K2 = 0.000643
K3 = 0.000897
K4 = 0.000483

Tabel variasi temperature


T(K)
293
308
323
338

t
405
244
108
100

Log t
2.6075
2.3874
2.0334
2.0000

Tabel variasi temperatur


3
2.5

Tabel variasi
temperatur

f(x) = 1458x - 2.38


R = 0.94

Linear (Tabel variasi


temperatur)
Linear (Tabel variasi
temperatur)

1.5

Linear (Tabel variasi


temperatur)

1
0.5
0
0

Ea grafik

= 2.303 x R x tg
= 2.303 x 0.967 x 1458
= 3246.97

= Log t -

Maka

= C1 = - 2.3686

Ea grafik
2.303 x R x T
C2 = - 2.3464
C3 = -2.4805
C4 = -2.3136

1/T
0.00341
0.00325
0.00310
0.00296

Ea praktek = 2.303 x RT x (log t C )


Maka
= Ea praktek 1 = 3246.96
Ea praktek 2 = 3246.99
Ea praktek 3 = 3246.94
Ea praktek 4 = 3246.93
Ea praktek = 3246.96 + 3246.91 + 3246.94 + 3246.93
4
= 3246.955
% error

Ea grafikEa praktek
x 100
Ea grafik

=
=

3246.963246.955
x 100
3246.96

= 0.00015 %
VII.

Pembahasan
Kinetika reaksi

menyatakan seberapa cepat atau seberapa lambat suatu proses

berlangsung. Laju juga menyatakan besarnya perubahan yang terjadi dalam satu satua waktu.
Satuan waktu dapat berupa detik, menit, jam, hari atau tahun. Reaksi kimia adalah proses
perubahan zat pereaksi menjadi produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka
jumlah zat peraksi semakin sedikit, sedangkan produk semakin banyak. Laju reaksi
dinyatakan sebagai laju berkurangnya pereaksi atau laju terbentuknya produk.

VIII.

Kesimpulan
Dari percobaan tersebut didapat nilai Ea grafik sebesar 3246.955k dengan persentasi
error mendekati 0 %, bias dikatakan Ea grafik yang didapat valid, hal ini didukung dengan
reagent yang masih segar dan perlakuan yang telah memenuhi syarat dari faktor faktor yang
mempengaruhi kinetika reaksi.

IX.

Daftar Pustaka

Atkins, P.W., 1997, Kimia Fisika Jilid 2, Erlangga, Jakarta.


Brady, James, 1999, Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta.
Http://www.scribd.com/