Anda di halaman 1dari 11

MENINGITIS

dr. Fakhrurrazy, M.Kes, Sp.S


SMF Ilmu Penyakit Saraf FK UNLAM / RSUD Ulin Banjarmasin

DEFINISI
Meningitis adalah sebuah inflamasi dari membran pelindung yang
menutupi otak dan medula spinalis yang dikenal sebagai meninges. Inflamasi dari
meningen dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau mikroorganisme lain
dan penyebab paling jarang adalah karena obat-obatan. Meningitis dapat
mengancam jiwa dan merupakan sebuah kondisi kegawatdaruratan. Klasifikasi
meningitis dibuat berdasarkan agen penyebabnya, yaitu meningitis bakterial,
meningitis viral, meningitis jamur, meningitis parasitik dan meningitis non
infeksius.1,2

EPIDEMIOLOGI
Meskipun meningitis adalah suatu penyakit yang harus dilaporkan di
banyak negara, insiden sebenarnya masih belum diketahui. 2 Sekitar 600.000
kasus meningitis terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya,
dengan 180.000 kematian dan 75.000 gangguan pendengaran
yang berat. Setidaknya 25.000 kasus baru meningitis bakterial
muncul tiap tahunnya di Amerika Serikat, tetapi penyakit ini jauh
lebih sering ditemukan di negara-negara sedang berkembang.
Sekitar 75% kasus terjadi pada anak-anak dibawah usia 5 tahun.3

PATOFISIOLOGI

Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di


organ atau jaringan tubuh yang lain. Virus atau bakteri menyebar secara
hematogen sampai ke selaput otak, misalnya pada penyakit faringitis, tonsilitis,
pneumonia, bronchopneumonia dan endokarditis. Penyebaran bakteri atau virus
dapat pula secara perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan yang ada
di dekat selaput otak, misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis, trombosis
sinus kavernosus dan sinusitis. Penyebaran kuman bisa juga terjadi akibat trauma
kepala dengan fraktur terbuka atau komplikasi bedah otak.4
Invasi kuman-kuman ke dalam ruang subaraknoid menyebabkan reaksi
radang pada pia dan arakhnoid, CSS (Cairan Serebrospinal) dan sistem
ventrikulus. Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang
mengalami hiperemi; dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel
leukosit polimorfonuklear ke dalam ruang subarakhnoid, kemudian terbentuk
eksudat. Dalam beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan
dalam minggu kedua sel-sel plasma. Eksudat yang terbentuk terdiri dari dua
lapisan, bagian luar mengandung leukosit polimorfonuklear dan fibrin sedangkan
di lapisaan dalam terdapat makrofag.5
Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan
dapat menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi neuronneuron. Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino-purulen
menyebabkan kelainan kraniales. Pada meningitis yang disebabkan oleh virus,
cairan serebrospinal tampak jernih dibandingkan meningitis yang disebabkan oleh
bakteri.5

RIWAYAT PENYAKIT
Meningitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, riketsia, jamur, cacing dan
protozoa. Penyebab paling sering adalah virus dan bakteri. Meningitis yang
disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan meningitis penyebab
lain karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak yang disebabkan oleh
bakteri maupun produk bakteri lebih berat. Infectious Agent meningitis purulenta
mempunyai kecenderungan pada golongan umur tertentu, yaitu golongan
neonatus paling banyak disebabkan oleh E.Coli, S.beta hemolitikus dan Listeria
monositogenes. Golongan umur dibawah 5 tahun (balita) disebabkan oleh
H.influenzae, Meningococcus dan Pneumococcus. Golongan umur 5-20 tahun
disebabkan

oleh

Haemophilus

influenzae,

Neisseria

meningitidis

dan

Streptococcus Pneumococcus, dan pada usia dewasa (>20 tahun) disebabkan oleh
Meningococcus, Pneumococcus, Stafilocccus, Streptococcus dan Listeria.
Penyebab meningitis serosa yang paling banyak ditemukan adalah kuman
Tuberculosis dan virus. Meningitis yang disebabkan oleh virus mempunyai
prognosis yang lebih baik, cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Penyebab
meningitis virus yang paling sering ditemukan yaitu Mumpsvirus, Echovirus, dan
Coxsackie virus , sedangkan Herpes simplex , Herpes zooster, dan enterovirus
jarang menjadi penyebab meningitis aseptik (viral).6,8

GEJALA KLINIS
Meningitis akut memiliki trias klinik, yaitu demam, nyeri kepala hebat,
dan kaku kuduk; tidak jarang disertai kejang umum dan gangguan kesadaran.

Tanda Brudzinski dan Kernig juga dapat ditemukan serta memiliki signifikansi
klinik yang sama dengan kaku kuduk, namun sulit ditemukan secara konsisten.
Diagnosis meningitis dapat menjadi sulit jika manifestasi awal hanya nyeri kepala
dan demam. Selain itu, kaku kuduk tidak selalu ditemukan pada pasien sopor,
koma, atau pada lansia.7
Meningitis karena virus ditandai dengan cairan serebrospinal yang jernih
serta rasa sakit penderita tidak terlalu berat. Pada umumnya, meningitis yang
disebabkan oleh Mumpsvirus ditandai dengan gejala anoreksia dan malaise,
kemudian diikuti oleh pembesaran kelenjer parotid sebelum invasi kuman ke
susunan saraf pusat. Pada meningitis yang disebabkan oleh Echovirus ditandai
dengan keluhan sakit kepala, muntah, sakit tenggorok, nyeri otot, demam, dan
disertai dengan timbulnya ruam makopapular yang tidak gatal di daerah wajah,
leher, dada, badan, dan ekstremitas. Gejala yang tampak pada meningitis
Coxsackie virus yaitu tampak lesi vasikuler pada palatum, uvula, tonsil, dan lidah
dan pada tahap lanjut timbul keluhan berupa sakit kepala, muntah, demam, kaku
leher, dan nyeri punggung.8
Meningitis meningokokal harus dicurigai jika terjadi perburukan kondisi
yang sangat cepat (kondisi delirium atau sopor dalam hitungan jam), terdapat
ruam petechiae atau purpura, syok sirkulasi, atau ketika ada wabah lokal
meningitis. Ruam petechiae muncul pada sekitar 50% infeksi meningokokal,
manifestasi tersebut mengindikasikan pemberian antibiotik secepatnya. Meningitis
pneumokokal sering didahului oleh infeksi paru, telinga, sinus, atau katup jantung.
Etiologi

pneumokokal

juga

patut

dicurigai

pada

pasien

alkoholik,

pascasplenektomi, lansia, anemia bulan sabit, dan fraktur basis kranium.

Sedangkan etiologi H. influenzae biasanya terjadi setelah infeksi telinga dan


saluran napas atas pada anak-anak.7
Etiologi lain sangat tergantung pada kondisi medik tertentu. Meningitis
setelah prosedur bedah saraf biasanya disebabkan oleh infeksi stafilokokus.
Infeksi HIV, gangguan myeloproliferatif, defek tulang kranium (tumor,
osteomyelitis), penyakit kolagen, kanker metastasis, dan terapi imunosupresan
adalah kondisi yang memudahkan terjadinya meningitis yang disebabkan
Enterobacteriaceae, Listeria, A. calcoaceticus, dan Pseudomonas.7
Tanda-tanda serebral fokal pada stadium awal meningitis paling sering
disebabkan oleh pneumokokus dan H. influenza. Meningitis dengan etiologi H.
influenza paling sering menyebabkan kejang. Lesi serebal fokal persisten atau
kejang yang sulit dikontrol biasanya terjadi pada minggu kedua infeksi meningen
dan disebabkan oleh vaskulitis infeksius, saat terjadi sumbatan vena serebral
superfisial yang berujung pada infark jaringan otak. Abnormalitas saraf kranial
sering terjadi pada meningitis pneumokokal, karena invasi eksudat purulen yang
merusak saraf yang melalui ruang subaraknoid.7

DIAGNOSIS
Untuk menentukan diagnosis meningitis dilakukan tes laboratorium. Tes
ini memakai darah atau cairan sumsum tulang belakang. Cairan sumsum tulang
belakang diambil dengan proses yang disebut pungsi lumbal ( lumbar puncture
atau spinal tap). Sebuah jarum ditusukkan pada pertengahan tulang belakang, pas
di atas pinggul antara L3 dan L4 atau L4 dan L5. Jarum menyedap contoh cairan
sumsum tulang belakang. Tekanan cairan sumsum tulang belakang juga dapat

diukur. Bila tekanan terlalu tinggi, sebagian cairan tersebut dapat disedot. Tes ini
aman dan biasanya tidak terlalu menyakitkan. Namun setelah pungsi lumbal
beberapa orang mengalami sakit kepala, yang dapat berlangsung beberapa hari.9

DIAGNOSIS BANDING
Abses serebri, encephalitis, neoplasma, subarachnoid hemorrhage. 10
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis meningitis ditegakkan melalui analisis CSS, kultur darah,
pewarnaan CSS, dan biakan CSS. Pada prinsipnya, pungsi lumbal harus
dikerjakan pada setiap kecurigaan meningitis dan/atau ensefalitis. Pada
pemeriksaan darah, meningitis bakterialis disertai dengan peningkatan leukosit
dan penanda inflamasi, dan kadang disertai hipokalsemia, hiponatremia, serta
gangguan fungsi ginjal dengan asidosis metabolik. Pencitraan otak harus
dilakukan secepatnya untuk mengeksklusi lesi massa, hidrosefalus, atau edema
serebri yang merupakan kontraindikasi relatif pungsi lumbal. Jika pencitraan tidak
dapat dilakukan, pungsi lumbal harus dihindari pada pasien dengan gangguan
kesadaran, keadaan immunocompromised (AIDS, terapi imunosupresan, pascatransplantasi), riwayat penyakit sistem saraf pusat (lesi massa, stroke, infeksi
fokal), defisit neurologik fokal, bangkitan awitan baru, atau papil edema yang
memperlihatkan tanda-tanda ancaman herniasi.7,11

Tabel 1. Perbandingan karakter cairan serebro-spinal pada jenis meningitis yang


berbeda7,11

TATALAKSANA
Meningitis Virus
Kebanyakan kasus meningitis virus self-limited. Pasien hanya perlu terapi
suprotif dan tidak perlu terapi spesifik. Manajemen antivirus untuk meningitis
herpes simplex masih kontroversial. Acyclovir (10 mg/Kg IV setiap 8 jam) untuk
meningitis HSV-1 dan HSV-2. Ganciclovir diberikan dengan dosis induksi 5
mg/Kg IV setiap 12 jam untuk 21 hari dan dosis maintenance 5 mg/Kg setiap 24
jam.10
Meningitis Fungal
Meningitis Cryptococcal adalah infeksi oportunistik mayor untuk pasien
AIDS . Terapi inisial pada kasus ini, amphotericin B (0,7-1 mg/Kg/hari IV)
selama 2 minggu, dengan atau tanpa flucytosine (100 mg/Kg per oral) dibagi
dalam 4 dosis. Fluconazole diberikan untuk terapi konsolidasi (400 mg/hari

selama 8 minggu); itraconazole merupakan pilihan alternatif jika intoleransi


fluconazole. Pada meningitis candida dapat diberikan inisial terapi amphotericin B
(0,7 mg/Kg/hari). 10
Meningitis Bakteri
Pilihan antibiotik empirik harus berdasarkan epidemiologi lokal, usia
pasien, dan adanya penyakit yang mendasari atau faktor risiko penyerta.
Antibiotik empirik bisa diganti dengan antibiotik yang lebih spesifik jika hasil
kultur sudah ada. Durasi terapi antibiotik bergantung pada bakteri penyebab,
keparahan

penyakit,

dan

jenis

antibiotik

yang

digunakan.

Meningitis

meningokokal epidemik dapat diterapi secara efektif dengan satu dosis


ceftriaxone intramuskuler sesuai dengan rekomendasi WHO. Namun WHO
merekomendasikan terapi antibiotik paling sedikit selama 5 hari pada situasi
nonepidemik atau jika terjadi koma atau kejang yang bertahan selama lebih dari
24 jam.7
Tabel 2. Terapi empirik pada meningitis bakterialis7

Tabel 3. Terapi antibiotik spesifik pada meningitis bakterialis7

Meningitis Tuberkulosis
Tabel 4. Guideline pemberian obat anti TB1

PROGNOSIS
Prognosis meningitis tergantung kepada umur, mikroorganisme spesifik
yang menimbulkan penyakit, banyaknya organisme dalam selaput otak, jenis

meningitis dan lama penyakit sebelum diberikan antibiotik. Penderita usia


neonatus, anak-anak dan dewasa tua mempunyai prognosis yang semakin jelek,
yaitu dapat menimbulkan cacat berat dan kematian.12
Pada meningitis Tuberkulosa, angka kecacatan dan kematian pada
umumnya tinggi. Prognosa jelek pada bayi dan orang tua. Angka kematian
meningitis TBC dipengaruhi oleh umur dan pada stadium berapa penderita
mencari pengobatan. Penderita dapat meninggal dalam waktu 6-8 minggu.13
Penderita meningitis karena virus biasanya menunjukkan gejala klinis
yang lebih ringan,penurunan kesadaran jarang ditemukan. Meningitis viral
memiliki prognosis yang jauh lebih baik. Sebagian penderita sembuh dalam 1 2
minggu dan dengan pengobatan yang tepat penyembuhan total bisa terjadi.12

DAFTAR PUSTAKA
1. Huldani. Diagnosis dan Penatalaksanaan Meningitis Tuberkulosis.
Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat, 2012. Referat.
2. Logan S, MacMahon E. Viral meningitis. British Medical Journal
2008;336:36-40
3. Ritarwan K. Diagnosis dan Penatalaksanaan Meningitis Otogenik. Majalah
Kedokteran Nusantara 2006;39(3):253-260
4. Soegijanto, S., 2002. Ilmu Penyakit Anak: Diagnosa dan Penatalaksanaan,
Edisi Pertama. Salemba Medika, Jakarta.
5. Harsono, 2011. Buku Ajar Neurologi Klinis, Edisi Pertama. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
6. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinik Dasar. Jakarta: Penerbit Dian
Rakyat, 2012.
7. Meisadona G, Soebroto AD, Estiasari R. Diagnosis dan Tatalaksana
Meningitis Bakterialis. CDK 2015;42(1):15-19

8. Soedarto, 2004. Sinopsis Virologi Kedokteran. Airlangga University Press,


Surabaya.
9. Ellenby MS, Tegtmeyer K, Lai S, and Braner D. Lumbar Puncture. The
New England Journal of Medicine 2006;355(13)
10. Hasbun R, Bronze MS. Meningitis. 2015 [cited 2015 November 18].
Available from: URL:http://emedicine.medscape.com
11. Baehr M, Frotscher M. Diagnosis Topik Neurologi DUUS: Anatomi,
Fisiologi, Tanda, Gejala, Ed.4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC,
2010.
12. Nelson, 2010. Ilmu Kesehatan Anak. Kedokteran EGC, Jakarta.
13. Harsono, 2003. Kapita Selekta Neurologi, Edisi Kedua. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.