Anda di halaman 1dari 12

LABORATORIUM TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI


UPN VETERAN JAWA TIMUR

Praktikum

: Uji Inderawi

Nama

: Meyta Chita Sari

Percobaan

: Uji Perbandingan Jamak

NPM/Semester

: 1233010029/VII

Tanggal

: 19 November 2015

Romb/Grup

: 1/H

Pembimbing : Dr.Dra.Jariyah,MP

NPM/Teman Praktek : Ardian Devi, Sita Rizky


Mega Nuzulia

LAPORAN RESMI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Untuk mengevaluasi suatu produk pangan maupun non-pangan, seringkali
dilakukan pembandingan dengan produk yang sudah ada atau produk dari produsen lain,
apalagi di masa sekarang ini, persaingan industri menjadi semakin ketat terutama industri
pangan. Di dalam evaluasi sensori terdapat uji pembandingan untuk membantu
permasalahan tersebut. Melalui evaluasi sensori, dapat menilai perlunya perubahan dalam
formulasi, mengidentifikasi potensi pengembangan, menentukan apakah optimasi telah
diperoleh, mengevaluasi produk pesaing, dan memberikan data yang diperlukan bagi
promosi produk.
Uji pembandingan yang biasa dilakukan adalah uji pembandingan pasangan dan
uji pembandingan jamak. Pada dasarnya kedua uji ini akan membandingkan suatu produk
dengan produk lain namun lebih spesifik pada kelebihan pada tiap aspek yang diuji. Uji
pembandingan pasangan digunakan apabila contoh yang dibandingkan hanya satu,
sedangkan jika lebih dari satu makan digunakan uji pembandingan jamak. Untuk cara
penilaian, kurang lebih sama untuk kedua uji. Contoh yang diuji dibandingkan pada contoh
baku, apakah lebih baik atau kurang baik, misal pada kemanisan, aroma, warna, dan
sebagainya. Dengan adanya uji ini, maka dapat disimpulkan bagaimana kelebihan dan
kekurangan

suatu

produk,

sehingga

menentukan

pengambilan

keputusan

untuk

pengembangan produk, tentu saja dengan maksud agar produk tersebut lebih baik dan bisa
menyaingi produk lain.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui teknik-teknik pengujian
perbandingan jamak terkait dengan cara penyajian, pengolahan data, hingga penarikan
kesimpulan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada
populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti. Sampel
ditentukan oleh peneliti berdasarkan pertimbangan masalah, tujuan, hipotesis, metode dan
instrument penelitian, disamping pertimbangan waktu, tenaga, dan pembiayaan. Secara
umum sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik
populasi. Ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan yang penting
manakala jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian yang menggunakan
analisis kuantitatif. Bagi data kuantitatif tentu saja teknik pengolahan datanya
menggunakan statistik. Apabila analisis yang digunakan statistik, hendaknya disebutkan
metode dan jenis statistiknya, misalnya deskriptif atau inferensial, sedangkan berbicara
tentang jenis statistiknya, misalnya persen, rata-rata, korelasi, analisis varians atau yang
lainnya (Darmawan, 2013).
Alat pengumpulan data (angket) berfungsi mewakili peneliti untuk menanyakan dan
merekam jawaban responden, sehubungan dengan informasi atau keterangan yang
hendak dikumpulkannya. Dalam hubungan ini, responden berfungsi sebagai pemberi
keterangan tentang yang ditanyakan oleh peneliti melalui angket yang disusun dan
disebarkannya. Item pertanyaan merupakan bagian angket yang meminta pengisian atau
jawaban dari responden. Isian jawaban responden itulah yang hendak dikumpulkan oleh
peneliti. Petunjuk pengisian merupakan bagian angket yang berfungsi menjelaskan kepada
responden tentang cara pengisian jawaban pada item pertanyaan (Faisal, 1981).
Pengujian organoleptik menggunakan metode free choice proffiling. Metode ini
biasanya digunakan untuk produk yang belum ada kriteria sensorinya, sehingga tujuannya
mengumpulkan data dari deskripsi panelis terlatih. Pemilihan metode ini meliputi analisis
penampakan, warna, sensori aroma dan rasa. Hal ini dilakukan untuk memperoleh
deskripsi dari panelis terhadap kesan penampakan, warna, aroma dan rasa. Untuk
mengurangi kebiasan hasil uji organoleptik maka panelis diminta beristirahat sebentar
diantara pencicipan sampel dengan minum air putih untuk menghilangkan kesan rasa
yang masih melekat dimulut (Koesoemawardani, 2007).
Atribut sensori adalah karakteristik mutu suatu produk yang akan diuji, misalnya
aroma, flavor, rasa, warna, kerenyahan, dll. Sebelum memulai analisis sensori perlu
ditentukan dahulu atribut-atribut apa saja yang menggambarkan mutu produk yang
diharapkan. Cara pengujian sensori adalah dengan menggunakan indra manusia, bisa
dengan dilihat untuk atribut warna, dengan dibaui untuk atribut aroma, dicicipi untuk atribut
rasa, dan diraba untuk atribut tekstur (Setyaningsih, 2010).
Tekstur adalah properti sensorik dan, dengan demikian, hanya manusia (atau
binatang dalam hal makanan hewan) dapat memahami dan menjelaskan. Tekstur hanya
dapat mendeteksi dan mengukur parameter fisik tertentu yang kemudian harus ditafsirkan
dalam hal persepsi sensorik. Beberapa contoh parameter sensorik kekerasan, ketegasan,
kelembutan berada pada skala resistansi makanan untuk kekuatan tekan yang diterapkan.
Namun, masih belum diketahui secara pasti apakah manusia bereaksi terhadap stres fisik
atau ketegangan, dan bagaimana mensimulasikan dengan instrumen tingkat regangan
tinggi berpengalaman dalam mulut, pertimbangan yang sangat penting dengan bahan
viskoelastik (yakni sebagian besar produk makanan). Sulit untuk dibedakan skala yang
batas-batas adalah antara keras dan tegas, dan lembut. Beberapa sensorik parameter
lainnya, misalnya creaminess dan juiciness, mungkin tidak mudah untuk dibedakan.
Beberapa peneliti mendefinisikan creaminess terkait dengan ketebalan (yang tergantung

pada fisik viskositas) dan juiciness (yang tergantung pada kekuatan fisik gesekan)
(Szczesniak, 2002).
Pada uji perbandingan jamak atau majemuk, contoh yang akan diperbandingkan
lebih dari satu macam. Dua atau lebih contoh disajikan secara bersamaan untuk kemudian
diperbandingkan dengan contoh baku. Pada uji perbandingan jamak jumlah panelis yang
dipergunakan 515 orang panelis terlatih dan 1520 orang untuk panelis agak terlatih.
Hasil penilaian

dari

panelis

terhadap produk dikonversikan

dalam

bentuk skor.

Selanjutnya data dari setiap parameter tersebut diuji dengan menggunakan sidik ragam
atau analisis sebaran (Budijanto, 2010).
Uji perbandingan jamak dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana atribut mutu
(rasa, warna, penampakan, aroma, kekenyalan dan ekstensibilitas) dari sampel jika
dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan uji hedonik dilakukan untuk mengetahui tingkat
kesukaan panelis terhadap semua atribut mutu untuk masing-masing formula. Selain
kedua uji tersebut dilakukan pengujian oleh

panelis untuk menilai urutan atribut mutu

terhadap sampel mulai dari yang paling penting hingga kurang penting. Uji ini ditujukan
untuk melihat bagaimana penerimaan panelis terhadap atribut mutu apa yang menurut
mereka paling penting dari sampel yang diujikan (Mariyani, 2008).
Ada dua pendekatan untuk mengembangkan produk makanan: pendekatan
berorientasi proses dan pendekatan berorientasi konsumen. Pendekatan berorientasi
proses awalnya mengacu pada proses di mana berbagai bahan yang sistematis bervariasi
untuk membuat sejumlah produk yang berbeda. Produk produk ini kemudian dinilai oleh
panelis dari semua kategori konsumen. Yang dinilai adalah keinginan konsumen serta
berbagai atribut produk. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan analisis varians
(ANOVA), regresi dan/atau analisis permukaan respon untuk mendapatkan produk yang
optimal dengan pengoptimalan formulasi. Keuntungan dari pendekatan berorientasi proses
adalah untuk mengontrol parameter teknis dan dapat mengatur sebuah formulasi yang
optimal (Le, 2012).
Evaluasi sensori dilakukan dengan sampel tertentu sebagai kontrol dan beberapa
sampel lain sebagai contoh untuk diuji dengan metode uji perbandingan jamak
menggunakan beberapa panelis. Perbedaan signifikan diantara keseluruhan kontrol dan
sampel control dievaluasi dengan multiples comparison tables. Parameter yang biasa diuji
adalah dari segi rasa, aroma, warna, tekstur, tergantung dari kebutuhan dan tujuan penguji
melakukan analisa sensori tersebut (Salehifar, 2007).
Metode inferensi beberapa statistik dipisahkan menjadi dua jenis utama, multiple
confidence, interval metode dan metode uji multiple. Untuk prosedur pengujian multiple
telah disarankan beberapa jenis properti, tes dianjurkan harus mempunyai beberapa tipe
dalam rangka untuk memberikan perlindungan yang memuaskan terhadap keputusan yang
salah. Beberapa dari mereka didasarkan pada keputusan teoritis konsepsi, sementara
yang lain didasarkan pada probabilitas membuat keputusan yang salah. Kita mempelajari
prosedur multiple test dan kita menggunakan jenis yang paling umum terhadap kesalahan
jenis pertama dengan meminta tes untuk melihat kemungkinan kecil untuk menolak setiap
hipotesis yang benar (Holm, 1979).
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat Pratikum

Pratikum uji indrawi percobaan uji perbandingan jamak dilaksanakan pada tanggal
19 November 2015 di Laboratorium Uji Inderawi Program Studi Teknologi Pangan Fakultas
Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur.
3.2 Alat dan Bahan
a Alat
- Piring saji
- Sendok kecil/garpu
- Kuesioner , label
b
-

Bahan
Sosis ayam

3.2 Prosedur Kerja


a Diagram Alir
Menyiapkan alat dan bahan
Penyaji menyajikan sampel
Panelis diminta untuk menguji atau menlai sampel yang diuji sesuai dengan profil mutu
sampel yang diujikan
Melakukan tabulasi data dan data dikonversikan dalam bentuk skor
b Cara Penyajian
Sampel disajikan secara bersamaan (sampel baku dengan sampel yang diuji) dan
disajikan

secara

acak.

Dalam

memberikan

penilaian

panelis

diminta

untuk

membandingkan sampel yang diujikan dengan sampel baku. Sampel yang digunakan
adalah sosis ayam dengan merk Bernadi, Fodi, Best Chicken, Vida, dan Champ. Sampel
diletakan pada pring saji dan setiap sampel disajikan diberi kode 3 (tiga) digit yang
berbeda. Dalam pengujian ini menguji aroma, warna, tekstur dan rasa.
c Cara Penilaian
Panelis terlebih dahulu mengamati sampel baku, kemudian sampel yang diujikan
dibandingkan dengan sampel baku, dan hasilnya diisikan dalam kuesioner. Panelis
diminta untuk menilai berdasarkan dengan profil mutu sampel yang diujikan

d Cara Analisis
Data uji perbandingan pasangan dan uji perbandingan jamak yang diperoleh
ditabulasi, kemudian dilakukan analisis dengan Anova dan apabila hasil Fhitung > Ftabel
uji Perbandingan Jamak menggunakan uji lanjut uji Tukey.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1) Pengujian Tekstur
Hasil praktikum untuk uji perbandingan jamak pengujian tekstur dapat dilihat pada
Tabel 1, sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Data Uji Perbandingan Jamak Pengujian Tekstur
Panelis
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

241
4
4
4
2
5
5
5
4
1
5
4
5
5
1
4
5
2
2
5
4

Penilaian Tekstur Sosis


574
465
672
5
1
2
4
4
3
4
4
4
5
2
4
2
2
3
3
3
4
1
4
2
2
4
4
1
4
2
4
4
3
2
4
5
4
4
5
3
4
4
4
2
3
1
3
2
4
4
2
1
2
1
1
2
3
1
2
2
3
5
4

385 = Bernardi (baku)


241 = Fody
574 = Champ

Keterangan :

672 = Vida
465 = Best Chicken
One-way ANOVA: Tekstur versus Sampel
Source
Sampel
Error
Total

DF
3
76
79

S = 1,277

SS
11,44
123,95
135,39

MS
3,81
1,63

F
2,34

R-Sq = 8,45%

P
0,080

R-Sq(adj) = 4,83%

Grouping Information Using Tukey Method


Sampel
A
C
D
B

N
20
20
20
20

Mean
3,800
3,200
3,100
2,750

Grouping
A
A
A
A

Means that do not share a letter are significantly different.


Tukey 95% Simultaneous Confidence Intervals
All Pairwise Comparisons among Levels of Sampel
Individual confidence level = 98,97%

Dari data yang sudah diperoleh diatas, uji perbandingan jamak yang dilakukan oleh 20
orang panelis dengan sampel 5 merk sosis ayam diperoleh hasil untuk pengujian tekstur yaitu
menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada masing-masing sampel yang diujikan. Hal ini
ditunjukkan oleh nilai peluang (P) yang lebih besar dibandingkan dengan 0,05 (P>0,05). Setelah
itu dilakukan uji lanjut dengan metode BNJ (Tukeys). Dan untuk sampel sosis B (sosis Champ)
memiliki tekstur yang paling baik diantara sampel sosis lainnya.
Menurut penelitian Prabowo,dkk (2013) sosis dengan penambahan bit 5% memiliki
tekstur yang sedikit lebih buruk dibandingkan sosis tanpa penambahan bit (R). Hal ini
dikarenakan panelis lebih menyukai sosis dengan tekstur yang lebih lembut. Semakin banyak
penambahan bit maka sosis yang dihasilkan semakin lunak dan lembut. Sedangkan sosis
dengan penambahan bit 10% dan 15% memiliki tekstur yang sama.

2) Pengujian Aroma
Hasil praktikum untuk uji perbandingan jamak pengujian aroma dapat dilihat pada
Tabel 2, sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Data Uji Perbandingan Jamak Pengujian Aroma
Panelis
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

241
5
4
4
4
5
5
2
5
5
5
4
2

Penilaian Aroma Sosis


574
465
2
3
3
2
4
2
4
4
4
4
2
4
3
4
5
4
3
3
4
4
5
4
3
4

672
1
4
4
4
4
1
1
3
4
4
5
3

13
5
14
4
15
4
16
4
17
1
18
4
19
1
20
4
Keterangan :

2
1
4
4
2
5
4
3

4
5
2
2
3
5
2
4

4
4
4
1
4
4
5
5

385 = Bernardi (baku)


241 = Fody
574 = Champ
672 = Vida
465 = Best Chicken

One-way ANOVA: Aroma versus Sampel


Source
Sampel
Error
Total

DF
3
76
79

SS
4,54
117,35
121,89

MS
1,51
1,54

F
0,98

P
0,407

S = 1,243
R-Sq = 3,72%
R-Sq(adj) = 0,00%
Grouping Information Using Tukey Method
Sampel
A
C
B
D

N
20
20
20
20

Mean
3,900
3,600
3,350
3,300

Grouping
A
A
A
A

Means that do not share a letter are significantly different.


Tukey 95% Simultaneous Confidence Intervals
All Pairwise Comparisons among Levels of Sampel
Individual confidence level = 98,97%

Dari data yang sudah diperoleh diatas, uji perbandingan jamak yang dilakukan oleh 20
orang panelis dengan sampel 5 merk sosis ayam diperoleh hasil untuk pengujian aroma yaitu
menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada masing-masing sampel yang diujikan. Hal ini
ditunjukkan oleh nilai peluang (P) yang lebih besar dibandingkan dengan 0,05 (P>0,05). Setelah
itu dilakukan uji lanjut dengan metode BNJ (Tukeys). Dan untuk sampel sosis D (sosis Vida)
memiliki aroma ayam yang paling kuat diantara sosis lainnya.
Menurut penelitian Prabowo,dkk (2013), sosis dengan penambahan bit 5%, 10% dan
15% memiliki aroma yang cenderung sama dengan sosis kontrol (R) karena masih memiliki
aroma khas sosis nabati seperti pada sampel kontrol (R). Oleh karena itu, penambahan bit tidak
mempengaruhi aroma dari sosis nabati.
.
3) Pengujian Rasa
Hasil praktikum untuk uji perbandingan jamak pengujian rasa dapat dilihat pada
Tabel 3, sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil Data Uji Perbandingan Jamak Pengujian Rasa


Penilaian Rasa Sosis
Paneli
s
241
574
465
672
1
5
3
4
2
2
4
3
4
4
3
2
4
3
4
4
5
4
5
5
5
5
4
4
4
6
5
1
2
4
7
5
2
5
4
8
5
3
4
5
9
5
3
4
4
10
5
4
4
4
11
5
4
5
4
12
5
4
5
5
13
5
2
4
4
14
4
3
4
5
15
5
4
2
4
16
5
4
5
4
17
4
4
5
5
18
5
4
5
4
19
1
2
4
5
20
5
3
5
4
Keterangan :
385 = Bernardi (baku)
241 = Fody
574 = Champ
672 = Vida
465 = Best Chicken

One-way ANOVA: Rasa versus Sampel


Source
Sampel
Error
Total

DF
3
76
79

S = 0,9212

SS
17,450
64,500
81,950

MS
5,817
0,849

F
6,85

R-Sq = 21,29%

P
0,000

R-Sq(adj) = 18,19%

Grouping Information Using Tukey Method


Sampel
A
D
C
B

N
20
20
20
20

Mean
4,5000
4,2000
4,1500
3,2500

Grouping
A
A
A
B

Means that do not share a letter are significantly different.


Tukey 95% Simultaneous Confidence Intervals
All Pairwise Comparisons among Levels of Sampel
Individual confidence level = 98,97%

Dari data yang sudah diperoleh diatas, uji perbandingan jamak yang dilakukan oleh 20
orang panelis dengan sampel 5 merk sosis ayam diperoleh hasil untuk pengujian rasa yaitu
menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada masing-masing sampel yang diujikan. Hal ini
ditunjukkan oleh nilai peluang (P) yang lebih kecil dibandingkan dengan 0,05 (P<0,05). Setelah
itu dilakukan uji lanjut dengan metode BNJ (Tukeys). Dan untuk sampel sosis B (sosis Champ)
memiliki rasa yang paling baik diantara sampel sosis lainnya.

Menurut penelitian Prabowo,dkk (2013), sosis dengan penambahan bit 5%, 10% dan
15% memiliki rasa yang sama dengan sosis kontrol dengan nilai berkisar 4,16-4,28. Hal ini
dikarenakan rasa bit yang tidak terlalu dominan. Oleh karena itu, penambahan bit tidak
mempengaruhi aroma dari sosis nabati.

4) Pengujian Warna
Hasil praktikum untuk uji perbandingan jamak pengujian warna dapat dilihat pada
Tabel 4, sebagai berikut:
Tabel 4.Hasil Data Uji Perbandingan Jamak Pengujian Warna
Panelis

241
1
4
2
2
3
4
4
4
5
4
6
5
7
5
8
5
9
1
10
5
11
5
12
5
13
5
14
4
15
4
16
5
17
4
18
5
19
5
20
3
Keterangan :

Penilaian Warna Sosis


574
465
2
5
1
4
2
4
5
3
1
4
2
4
1
4
2
4
5
1
2
4
1
4
5
3
2
4
1
5
5
2
1
5
1
5
1
4
1
4
5
2

385 = Bernardi (baku)


241 = Fody
574 = Champ
672 = Vida
465 = Best Chicken

One-way ANOVA: Warna versus Sampel

672
1
1
2
5
2
1
2
3
5
1
2
4
1
2
5
2
1
2
2
4

Source
Sampel
Error
Total

DF
3
76
79

S = 1,337

SS
54,94
135,95
190,89

MS
18,31
1,79

R-Sq = 28,78%

F
10,24

P
0,000

R-Sq(adj) = 25,97%

Grouping Information Using Tukey Method


Sampel
A
C
D
B

N
20
20
20
20

Mean
4,200
3,750
2,400
2,300

Grouping
A
A
B
B

Means that do not share a letter are significantly different.


Tukey 95% Simultaneous Confidence Intervals
All Pairwise Comparisons among Levels of Sampel
Individual confidence level = 98,97%

Dari data yang sudah diperoleh diatas, uji perbandingan jamak yang dilakukan oleh 20
orang panelis dengan sampel 5 merk sosis ayam diperoleh hasil untuk pengujian warna yaitu
menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada masing-masing sampel yang diujikan. Hal ini
ditunjukkan oleh nilai peluang (P) yang lebih kecil dibandingkan dengan 0,05 (P<0,05). Setelah
itu dilakukan uji lanjut dengan metode BNJ (Tukeys). Dan untuk sampel sosis B (sosis Champ)
memiliki warna yang paling baik diantara sampel sosis lainnya.
Menurut penelitian Prabowo,dkk (2013), berdasarkan penilaian panelis, sosis dengan
penambahan bit 5% dan 10% memiliki nilai yang cenderung sedikit lebih baik dari R (sosis
tanpa penambahan bit) dan mendekati agak lebih baik dari R. Semakin tinggi konsentrasi bit
maka semakin tinggi pula intensitas warna yang dihasilkan.

BAB V
KESIMPULAN
Uji perbandingan jamak parameter tekstur diperoleh hasil tidak berbeda nyata (P>0,05)
antara sampel satu dengan sampel lainnya .
Uji perbandingan jamak parameter aroma diperoleh hasil tidak berbeda nyata (P>0,05)
antara sampel satu dengan sampel lainnya
Uji perbandingan jamak parameter rasa diperoleh hasil berbeda nyata (P<0,05) antara
sampel satu dengan sampel lainnya.
Uji perbandingan jamak parameter warna diperoleh hasil berbeda nyata (P<0,05) antara
sampel satu dengan sampel lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Budijanto, Slamet. dkk. 2010. Penentuan Umur Simpan Seasoning menggunakan Metode
Accelerated Shelf-Life Testing (A SLT) dengan Pendekatan Kadar Air Kritis. Jurnal
Teknologi Pertanian, Vol.11 (2): 71 77.
Darmawan, Deni. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Faisal, Sanapiah. 1981. Dasar dan Teknik Menyusun Angket. Surabaya. Usaha Nasional.
Holm, Sture. 1979. A Simple Sequentially Rejective Multiple Test Procedure. Jurnal Scand J
Statist 6: 65-70, 1979. Chalmers University of Technology, Goteborg.
Kosoemawardani, Dyah. 2007. Analisis Sensori Rusip dari Sungai Liat Bangka. Jurnal
Teknologi dan Industri Hasil Pertanian, Vol.12 (2): 36-44.
Le, M.T., et al. 2012. Question on IPM: A Case Study on Lemon Juice. Journal of Integrating on
Sensory Evalusation, Vol.1 (1): 29-37.
Mariyani, Neny. 2008. Studi Pembuatan Mie Kering Berbahan Baku Tepung Singkong dan
Mocal (Modified Cassava Flour). Jurnal Sains Terapan, Vol.1 (3): 1-8.
Prabowo, D.H.,M.A.M.Adriani,Edhi N.2013. Pengaruh penambahan bit (beta vulgaris l.)
Sebagai pewarna alami dan bahan pengisi terhadap karakteristik fisikokimia dan
sensori sosis nabati. Jurnal Teknosains Pangan Vol.2 No.4
Salehifar, M. Shahedi, M. 2007. Effects of Oat Flour on Dough Rheology, Texture and
Organoleptic Properties of Taftoon Breads. Jurnal Agric. Sci. Technol. (2007) Vol. 9:
227-234. Islamic Republic of Iran.
Setyaningsih, Dwi., Anton Apriyantono dan Maya Puspita Sari. 2010. Analisa Sensori untuk
Industri Pangan dan Agro. Bogor. IPB Press.
Szczesniak, Alina Surmacka. 2002. Texture is a Sensory Property. Food Quality and
Preference, Vol.13 (1): 215225.