Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kualitas suatu mineral tergantung kepada proses pengolahannya. Proses pengolahan
mineral dimulai pada tahap crushing atau pernghancuran. Tujuan proses crushing adalah
untuk mereduksi ukuran material. Pereduksian bijih dimaksudkan untuk melepaskan mineral
berharga dari mineral pengotornya. Mineral pengotor bukan berarti tidak berharga, namun
bukan menjadi prioritas utama dalam pengolahan. Tahap selanjutnya adalah konsentrasi.
Konsentrasi merupakan pemisahan mineral berharga dengan mineral pengotornya
berdasarkan sifat yang dimiliki material. Tahapan konsentrasi ini, digolongkan menjadi
empat cara. Cara pertama adalah memisahkan material berdasarkan densitas (specific
gravity), dikenal dengan gravity separation. Cara kedua adalah memisahkan material
berdasarkan kemagnetannya (magnetic), dikenal dengan magnetic separation. Cara ketiga
adalah memisahkan material berdasarkan kelistrikannya (electric), dikenal dengan electric
separation. Dan yang terakhir adalah flotasi atau pemisahan berdasarkan suka atau tidak
suka air.
Zeolit dan bentonit merupakan mineral non logam yang kurang dieksplorasi
keberadaannya. Kurang pengetahuannya sumber daya manusia (SDM) yang ada membuat
kurang tereksposnya mineral ini. Oleh karena itu penulis membuat makalah mengenai
kominusi, konsentrasi dan mineral zeolit serta bentonit, untuk mengenali proses pengolahan
mineral serta untuk menggali pengetahuan mengenai mineral zeolit dan bentonit.
1.2 Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah :
1. Mengetahui proses kominusi,
2. Mengetahui proses konsentrasi mineral,
1

3. Memenuhi tugas ujian akhir mata kuliah pegolahan mineral smester 3,


4. Mengetahui pengolahan mineral zeolit dan bentonit.
1.3 Rumusan masalah
Rumusan masalah pada makalah ini terpusat pada mekanisme proses konsentrasi dan
aplikasi mineral zeolit serta bentonit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengolahan mineral
Pengolahan mineral merupakan suatu proses pemisahan mineral berharga dari
mineral tidak berharga atau yang tidak diinginkan. Metode yang digunakan untuk
memisahkan mineral adalah metode mekanik, dengan mempertimbangkan sifat fisik
mineral. Dari proses pengolahan mineral diperoleh konsentrat sebagai mineral berhga dan
tailing sebagai mineral tidak berharga.
Secara teknis , pengolahan mineral bertujuan untuk menyediakan produk atau
konsentrat sesuai dengan permintaan atau kebutuhan. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai
maka mineral layak ditambang dan diproses apabila memiliki kadar mineral berharga lebih
besar dari kadar minimumnya, memiliki kandungan air kurang dari kandungan air
maksimumnya, ukuran partikel yang melebihi kuruan minimumnya, serta gangue mineral
yang lebih sedikit dari nilai maksimumnya.

Secara ekonomis pengolahan mineral bertujuan mendapatkan keuntungan sebesarbesarnya, dengan kehilangan mineral berharga sekecil-kecilnya, atau mengambil semua
mineral berharganya dengan produksi sebesar-besarnya.
Operasi dasar pengolahan mineral dapat dilihat dari skema berikut ini:

KOMINUSI
KONSENTRASI
MINERAL

Dalam pengolahan mineral dikenal dua buah skema neraca bahan yang dapat menentukan
efektif atau tidaknya suatu operasi. Berikut skema neraca bahan bahan berikut penjelasannya :

FEED

FEED

PENGOLA

KONSENTRA

TAILIN

TAILIN

KONSENTRA
KONSENTRA

KONSENT

KONSENT

NERACA BAHAN 1

NERACA BAHAN 2

Input = Output

Intput = Output

Fedd

= Konsentrat+ Tailing

=K

F + T2 = K1 + T1

K1

= K2 + T1

= K2 +T2

Berdasarkan persamaan diatas apabila diterapkan pada satu jenis mineral maka akan
menghasilkan persamaan baru sebagai berikut :
F.f = K. k + T.t
3

F . f = K2 . k2 + T1 . t1
F . f + T2 . t2 = K1 . t1 + T1 . t1
K1 . k1 = K2 . k2 + T2 . t2

Keterangan rumus :
f = kadar mineral berharga diumpan (%)
k = kadar mineral berharga dikonsentrat (%)
t = kadar mineral berharga ditailing (%)
k1 & k2 = kadar mineral berharga dikonsentrat 1 dan 2
t1 & t2

= kadar mineral berharga ditailing 1 dan 2

F = massa umpan (Kg)


K = massa konsentrat (Kg)
T = massa tailing (Kg)
Berdasarkan persamaan diatas maka dapat dicari parameter efektifitas pengolahan
suatu mineral berupa :
1.

2.
3.

Recovery=

massa mineral berhargadalam konsetrat


x 100
massa mineralberharga dalam umpan

Recovery=

K xk
x 100
Fx f

Kadar=

massa mineralberharga dalam konsentrat


x 100
massa mineral berharga dalamumpan

nisbah konsentrasi(NK )=

massaumpan
massa mineral berharga

nisbah konsentrasi(NK )=

F
K

Dikatakan suatu operasi pemisahan mineral memiliki efektifitas tinggi apabila suatu
operasi pengolahan mineral memiliki nilai recovery yang tinggi, kadar yang tinggi, serta nilai nisbah
konsentrasi yang kecil.
4

Contoh soal :

Pada proses penggerusan, operasi dilakukan sesuai dengan sirkuit pada gambar. Jika pada
umpan classifier mengandung over size 30% dan over flow mengandung 90% under size,
sedangkan under flow mengandung 90% over size. Hitung Rasio beban edar pada sirkuit
penggerusan tersebut.
Jawaban :
Ratio beban edar dapat dihitung dengan skema seperti berikut :
Dengan rumus persamaan :
[F+BE]out from ballmill = F + [BE]produk under dan overflow
BE ab
=
F ca

Ratio beban edar = [F+BE] = [F] + [BE]


30% [F+BE] = 10[F] + 90[BE]
BE ab
=
F ca
BE 3010
=
F 9030
BE 1
=
F 3
Sehingga ratio beban edar (BE) adalah 1/3 Feed
2.2 Kominusi
Kominusi merupakan proses pengecilan ukuran atau biasa disebut dengan
penggerusan. Tujuan dari kominusi adalah untuk membebaskan mineral berharga dari
gangue, menyiapkan ukuran yang sesuai dengan ukuran operasi konsentrasi, mengekspos
5

permukaan mineral berharga (kecuali proses hydrometalurgy), serta untuk memenuhi


keinginan konsumen.
Proses kominusi didasarkan pada gaya yang digunakan untuk menghancurkan
material. Ada tiga buah gaya yang dipergunakan pada proses kominusi, diantaranya
kompesi, impact, dan abrasi. berikut tabel gaya pada kominusi :

GAYA

UMPAN
SIFAT
UKURAN

KETERANGAN

Kompresi
Impact

Energi

yaang

digunakan

hanya

sebagian lokasi
Energi yang digunakan berlebihan,
bekerja pada seluruh baian.
Bekerja hanya pada daerah sempit

Abrasi

keras

1 cm- 1 m

keras

1m

Lunak-

(permukaan atau terlokalisasi).

keras

1m 2 m

GAYA

ALAT

PRODUK

SIFAT

METODE

Kompresi

Jaw
Roll
Gratory

Sedang
Ukuran sangat

Pembebanan

Bijih ditekan

lambat

antara 2 buah

Hammer

sedang
ukuran sangat

Pembebanan

benda
Bijih dipukul,

cepat

dibanting oleh

Pembebanan

benda keras
Bijih terkikis

lambat

karena

Impact

mill

sempit

impactor
Abrasi
atrittion

/ ball

lebar

sangat halus

mill
rod mill

digesek pada
permukaan.

pada proses kominusi dikenal suatu istilah penting yang disebut dengan reduction
ratio. Reduction ratio adalah nilai rasio ukuran awal terhadap ukuran produk, dan
perpengaruh pada kapasitas produksi dan energi produksi suatu operasi.
feed
limiting recutionratio ( LRR )=
produk
Keterangan :

feed = ukuran terbesar feed


6

produk = ukuran terbesar produk


Didalam proses kominusi juga terdapat energi yang digunakan untuk mengecilkan
material atau mineral.
E=E 2E1=

P
M

dE=k d drd
1
x dd
n
d

dE=K

Dari ketiga persamaan energi diatas dapat dicari persamaan energi dengan jumlah n
yang bebeda :

dE K

1
dd
d1

a) KicksLaw
Dimana n = 1

dE K

12

1
dd
d1

K ln 1

E 2 E 1 K ln 2 ln 1
Dikalikan dengan tanda (-)

E 2 01 K - ln 2 ln 1

E 2 K ln

d1
d2

E K ln

d1
d2

b) Bonds law
Dimana n = 1,5

dE K

dE K

1
dd
d1
1
dd
d 1,5

E 2 E1 K

E 2 0 K

E 2 K

d2

2
d1

E K

2
d2

2
d1

c) Rittingers Law
Dimana n = 2

dE K

dE K

1
dd
d1
1
dd
d2

1
2
E 1 K
d

1
1
E 2 E1 K

d 2 d1
1
1
E 2 0 K

d 2 d1
1
1
E 2 K

d 2 d1

1
1

E K

d2 d1

Berdasarkan persamaan-persamaan diatas didapat pula persamaan baru :

E=K b

1
1

d2 d 1

P
=K b
m

P
=K b
m

1
1
)
( 100
0

W i=K b

W i=

1
1

d 2 d1

1
( 100
)

Kb
10

A. Pengertian Crushing
Kominusi adalah proses pereduksi ukuran butir atau meliberasi bijih atau mengambil
mineral berharga dari pengotornya. Crushing adalah salah satu proses kominusi yang
bertujuan untuk mereduksi ukuran bijih dengan cara dihancurkan. Crusher adalah alat
pemecah batuan yang banyak digunakan oleh perusahaan-perusahan tambang untuk
memecahkan batuan-batuan alam dari ukuran besar menjadi kecil. Proses crusher dibagi
menjadi dua, yaitu : Primary Crusher dan Secondary Crusher.

a. Primary Crusher
Merupakan tahap penghancuran yang pertama, dimana umpan berupa
bongkah-bongkah besar yang berukuran +/- 84 x 60 inchi dan produkta berukuran
4 inchi. Beberapa alat untuk primary crushing antara lain :
1. Jaw Crusher
Alat ini mempunyai dua jaw, yang satu dapat digerakkan (swing jaw) dan yang
lainnya tidak bergerak (fixed jaw). Berdasarkan porosnya jaw crusher terbagi dalam
dua macam, yaitu
a. Blake Jaw Crusher, dengan poros di atas
b. Dodge Jaw Crusher, dengan poros di bawah
Perbandingan Dodge dengan Blake Jaw Crusher, yaitu :
a. Ukuran produkta pada Blake Jaw lebih heterogen dibandingkan dengan Dodge
Jaw yang relatif seragam
b. Pada Blake Jaw porosnya di atas sehingga gaya yang terbesar mengenai
partikel yang terkecil
c. Pada Dodge Jaw porosnya di bawah sehingga gaya yang terbesar mengenai
partikel yang terbesar sehingga gaya mekanis dari Dodge Jaw lebih besar
doibandingkan dengan Blake Jaw
d. Kapasitas Dodge Jaw jauh lebih kecil dari Blake Jaw pada ukuran yang sama
e. Pada Dodge Jaw sering terjadi penyumbatan

10

2. Gyratory Crusher
Crusher jenis ini mempunyai kapasitas yang lebih besar jika dibandingkan dengan
jaw crusher. Gerakan dari gyratory crusher ini berputar dan bergoyang sehingga
proses penghancuran berjalan terus menerus tanpa selang waktu. Berbeda dengan jaw
crusher yang proses penghancurannya tidak continue, yaitu pada waktu swing jaw
bergerak ke belakang sehingga ada material-material yang tidak mengalami
penggerusan.
Macam-macam gyratory crusher :
a. Suspended Spindel Gyratory Crusher
b. Pararell Pinch Crusher
Perbedaan utama jenis ini dari suspended spindel, terletak pada gerakan crushing
head-nya. Gerakan crushing head pada prarell pinch menghasilkan bentuk cone yang
tajam dengan puncak dalam keadaan menggantung sehingga menghasilkan gerakan
berputar yang dapat menghancurkan umpan sepanjang daerah permukaan crushing
head.
Bentuk-bentuk head dan concave pada gyratory crusher adalah :
a. Straight head and concave
b. Curved head and concave
Kedua jenis head dan concave ini perbedaanya hanya pada permukaannya, yaitu
yang pertama adalah rata dan yang kedua melengkung.
Kapasitas gyratory crusher lebih besar disbanding dengan jaw crusher pada
ukuran umpan yang sama. Oleh Taggart, kapasitas gyratory dihitung dengan
rumus :
T = 0,75So (L-G)
dimana :
T = kapasitas, ton/jam
G = gape, inch
So = open set, inch
Kapasitas gyratory crusher tergantung pada :
11

a. sifat alamiah material yang dihancurkan, seperti kekerasan, keliatan dan


kerapuhan
b. permukaan concave dan crushing head terhadap umpan akan mempengaruhi
gesekan antara material dengan bagian pemecah (concave dan head)
c. Kandungan air, seting, putaran dan gape
Perbedaan antara gyratory dan jaw crusher adalah :
a. Pemasukan umpan, jaw crusher pemasukannya tidak kontinyu sedangkan
gyratory kontinyu
b. Gyratory alatnya lebih besar dan bagian-bagiannya tidak mudah dilepas
c. Kapasitas gyratory lebih besar dari jaw crusher, karena pemasukan umpan
dapat kontinyu dan penghancurannya merata
d. Pemecahan pada jaw lebih banyak tekanan, tetapi pada gyratory crusher gaya
geseknya lebih besar walaupun ada gaya tekannya. Pada gyratory kalau
berputarnya cepat, produkta yang dihasilkan relatif kecil.

b. Secondary Crushing
Merupakan tahap penghancuran kelanjutan dari primary crushing, dimana
umpan berukuran lebih kecil dari 6 inchi produkta berukuran 0.5 inchi. Beberapa
alat untuk secondary crushing antara lain :
1. Jaw Crusher (kecil)
2. Gyratory Crusher (kecil)
3. Cone Crusher
Alat ini merupakan secondary crusher yang penggunaannya lebih ekonomis. Cone
crusher hampir sama dengan gyratory crusher, perbedaannya terletak pada :
a. crushing surface terluar bekerja sedemikian rupa sehingga luas lubang
pengeluaran dapat bertambah
b. crushing surface terluar bagian atasnya dapat diangkat sehingga material yang
tidak dapat dihancurkan dapat dikeluarkan
Macam-macam cone crusher :
12

a. Simon Cone Crusher


Alat ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
- standart crusher type, yaitu untuk mereduksi umpan yang berukuran kasar
- short head crusher type, yaitu untuk mereduksi umpan berukuran halus
b. Telsmith Gyrasphere Crusher
Crushing head dari alat ini berbentuk bulat (sphere) yang terbuat dari baja dengan
cutter shell bergerak naik turun. Dalan cone crusher crushing head adalah rata dan
perbandingan antara tinggi dengan diameternya 1 : 3. Unpan dari cone crusher
harus dalam keadaan kering karena jika basah akan mengakibatkan choking.

4. Hammer Mill
Hammer mill dipakai dalam secondary crusher untuk memperkecil produk dari
primary crushing dengan ukuran umpan yang diperbolehkan adalah kurang dari
satu inch. Alat ini merupakan satu-satunya alat yang berbeda cara
penghancurannya dibandingkan alat secondary crushing lainnya. Pada hammer
mill proses penghancuran menggunakan shearing stress, sedangkan pada
secondary crushing lainnya menggunakan compressive stress.

13

5. Roll Crusher
Alat ini terdiri dari dua silinder baja dan masing-masing dihubungkan pada as
(poros) sendiri-sendiri. Silinder ini hanya satu saja yang berputar dan lainnya
diam, tapi karena adnya material yang masuk dan pengaruh silinder lainnya maka
silinder ini ikut berputar juga. Putaran masing-masing silinder tersebut
berlawanan arah sehingga material yang ada diatas roll akan terjepit dan hancur.
Bentuk dari roll crusher ada dua macam, yaitu :
a. Rigid Roll
Alat ini pada porosnya tidak dilengkapi dengan pegas, sehingga kemungkinan
patah pada poros sangat besar. Roll yang berputar hanya satu saja, tapi ada juga
yang keduanya berputar.
b. Spring Roll
Alat ini dilengkapi dengan pegas sehingga kemungkinan porosnya patah sangat
kecil sekali. Dengan adanya pegas maka roll dapat mundur dengan sendirinya bila
ada material yang sangat keras, sehingga tidak dapat dihancurkan dan material itu
akan jatuh.
Dari gambar diatas diketahui diameter roll (D) dan diameter material (d), gaya
normal (N), gaya tangensial (T) dan resultante (R) dari gaya normal dan gaya
tangensial, nip angle (n), setting (s). Jika resultan arahnya ke bawah maka
material akan dapat dihancurkan karena terjepit oleh roll.
Persamaan komponen-komponen vertikal dari gaya normal dan gaya tangensial
menggambarkan batas kondisi untuk crushing.

B. PengertianGrinding
Grinding merupakan salah satu proses dalam kominusi yang bertujuan untuk
memperhalus/mengurangi ukuran partikel bijih mineral. Tahap grinding dilakukan karena
setiap bijih mineral yang telah dihancurkan masih dalam bentuk yang kasar. Dengan
memalui tahap ini, bijih akan dihaluskan menjadi serpihan kecil dan akan lebih mudah
dipisahkan dengan slag/mineral pengotornya.
Didalam proses grinding ini, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prosesnya.
Yaitu :
Mesin harus memiliki kapasitas yang besar agar dapat menampung banyak bijih
mineral.
Menghasilkan ukuran bijih dengan ukuran tertentu yang diinginkan.
Hasilnya dapat langsung dikeluarkan dari mesin setelah mencapai ukuran tertentu.
Mesin hanya dapat menggiling mineral yang mudah hancur.
Bahan yang melalui proses grinding harus mempunyai titik beku yang rendah dan
mudah peka dengan panas jenis kalor.

Alat-alat Grinding
Dalam proses grinding, ada beberapa alat gerus yang dapat dibedakan sebagai berikut :
14

Ball Mill
Ball mills merupakan salah satu contoh mesin grinding
yang paling umum digunakan. Alat ini berbentuk seperti
silinder yang lumayan besar .Dibagian dalam alat ini
terdapat banyak bola yang terbuat dari logam keras
dengan ukuran yang berbeda-beda. Ball mills biasanya
dioperasikan pada closed circuit dengan pembagian
terpisah.

Alat ini bergerak dengan cara berputar. Ketika silinder raksasa berputar, bola-bola logam
yang ada di dalamnya akan menggelinding, sehingga bijih material yang dimasukkan akan
hancur terlindas oleh bola-bola tersebut.
Mesin ini tidak bias berputar terlalu cepat. Karena jika berputar terlalu cepat, bola-bola
tersebut tidak akan menggelinding, melainkan malah akan menempel pada sisi silinder dan
mengikuti arah putaran silinder. Jika itu terjadi, bijih mineral tidak akan hancur dengan sempura.
Ball mil dapat dioperasikan untuk
penghalusan bijih dalam kondisi yang basah.
Ball mill juga digunakan
secara primer
maupun sekunder. Untuk pengoperasian primer,
bijih yang dimasukan kurang lebih berukuran
50-100mm. Sedangkan untuk pengoperasian
sekunder,, bijih yang digiling berukuran 2050mm.Tujuannya agar mendapatkan produk
yang dihasilkan sebesar ~45m.

Rod Mill
Rod mill mampu mereduksi feed dengan ukuran 50 mm menjadi produk dengan
ukuran 300 m. Rasio reduksi biasanya antara 15: 1 s.d. 20:1.
Ciri khusus dari rod mill adalah panjang cylindrical shell-nya antara 1,5 dan 2,5
kali diameternya.
Mill dengan panjang 6,4 m, diameternya tidak boleh lebih dari 4,57 m. Rod mills
dengan diameter lebih dari 4,57 m dengan panjang 6,4 m dapat digunakan dengan motor
1640 kW.
Daya yang dibutuhkan untuk kapasitas tertentu dapat diperkirakan dengan

persamaan Bond :

a) Centre peripheral discharge mill


15

Pada centre peripheral discharge mill, feed dimasukkan dari kedua ujungnya ke
dalam trunnions dan hasilnya dikeluarkan melalui port sirkumferen pada bagian tengah
shell. Mill ini dapat digunakan untuk penghalusan basah atau kering dan banyak dipakai
dalam menyiapkan pasir-pasir khusus dalam jumlah besar.

b) End peripheral discharge mill


Pada end peripheral discharge
mills, feed dimasukkan dari salah satu
ujungya ke trunnion dan produk dikeluarkan
dari ujung lainnya. Mill ini digunakan
umumnya untuk penghalusan kering dan lembab.

c) Overflow Mill
Pada Overflow Mill umpan
dimasukkan melalui sebuah trunnion dan
dikeluarkan melalui yang lainnya. Jenis
mill ini hanya digunakan untuk
penghalusan basah fungsi dasarnya
adalah untuk mengkonversi produk
crushing plant menjadi ball-mill feed.
Diameter overflow trunnion lebih
besar 10-20 cm dari bukaan umpan untuk membuat aliran yang tinggi.
Untuk rods ini digunakan baja karbon tinggi. Jumlah penghalusan yang optimal
diperoleh jika volumenya 35 % dari shell. Pemakaian rod tergantung kepada karakteristik
mill feed, kecepatan penggilingan, panjang rod, dan ukuran produk; normalnya berkisar
antara 0,1-1,0 kg baja per ton bijih untuk penghalusan basah, dan kurang dari itu untuk
penghalusan kering.
Rod mills normalnya bekerja antara 50 dan 65% dari kecepatan kritisnya.

Pebble Mill
Penggilingan bahan di pabrik jatuh dengan
kehadiran bola logam atau media lain tanggal kembali
ke 1800-an. Sejak saat itu, Metso
dan pendahulunya perusahaan, MPsi, Sala, Marcy,
Hardinge, Kennedy Van Saun (KVS), Denver
Peralatan, Allis Chalmers, Boliden
Allis, dan Dominion Teknik, telah dirancang dan
16

diproduksi lebih dari 8.000


pabrik grinding.
pebble mills cocok untuk:
Bola pabrik untuk penggunaan
media logam
Pebble pabrik untuk
penggunaan media batu keramik
atau alam
baik tahap tunggal grinding
regrinding
Kedua tahap dalam dua tahap
sirkuit grinding
Manfaat utama dari pebble
mills:
Lebih dari 100 tahun
pengalaman
operasi otomatis menghemat daya
Software yang sesuai dengan sirkuit yang paling rumit dan kompleks bijih
Fitur utama dari pebble mills:
Ukuran berkisar dari 5 ft x 8 ft dengan 75 HP sampai 30 ft x 41 ft dan sebanyak 30.000 HP
Ukuran Umpan adalah 80% melewati 1/4 "(6mm atau lebih halus) untuk bijih keras dan 80%
melewati 1" (25mm atau lebih halus) untuk bijih lembut
Produk ukuran biasanya 35 mesh atau lebih halus
Operasi
pebble mills beroperasi baik di sirkuit terbuka atau tertutup. Operasi sirkuit terbuka paling
digunakan ketika:
lain tahap penggilingan berikut pabrik
Rasio Pengurangan kecil
Bahan Pakan sudah baik dan satu melewati pabrik menghasilkan hasil yang diinginkan
Produk kontrol ukuran yang tidak material kritis dan kebesaran dapat ditoleransi dalam produk
Dimana ukuran kontrol produk akhir adalah penting, sirkuit tertutup gerinda adalah ofoperation
metode yang paling efisien. Produksi produk berkualitas tinggi dengan biaya yang lebih rendah
membenarkan investasi modal tambahan. Umum flowsheets penggilingan basah meliputi:
Buka sirkuit
tertutup sirkuit dengan hidro siklon
tertutup sirkuit dengan layar bergetar
variasi tahap Dua di atas memanfaatkan dua pabrik di seri
Biarkan insinyur kami meninjau spesifikasi Anda dan merekomendasikan sirkuit yang optimal
untuk aplikasi Anda
Aplikasi
17

pebble mills grinds bijih dan bahan lainnya untuk ukuran produk khas dari 35 mesh atau lebih
halus.

Autogenous Mill
Autogenous Mills merupakan alat grinding yang bekerja tanpa menggunakan media
grinding untuk menghancurkan material. Alat ini tidak memiliki bola-bola baja ataupun
batang-batang logam penghancur seperti alat grinding lainnya. Alat ini menggunakan media
partikel itu sendiri yang dimasukan kedalam. Saat silinder berputar, partikel-partikel material
yang berada di dalamnya saling bertumbukan satu sama lain, sehingga partikel-partikel
tersebut akan hancur dengan sendirinya.
Autogenous seluruhnya, bijih dari tambang dapat masuk langsung ke dalam mill. Seluruh
muatan mill adalah bijih dari tambang dan saling gerus.
Autogenous sebagian, muatan mill berupa bongkah-bongkah besar bijih dicampur dengan
bijih yang telah diremuk dengan alat lain. Pada mill ini bongkah-bongkah besar bertindak
sebagai media gerus.
Semi Autogenous, bijih dari tambang dicampur
dengan media gerus, bola baja pejal. Jadi isi mill
adalah bijih dari tambang langsung masuk mill
dan tercampur dengan media gerus yang sudah
ada dalam mill.

2.3 Konsentrasi
Konsentrasi merupakan tahapan kedua dari proses pengolahan mineral. Konsentrasi adalah
proses pemisahan material berharga dari material pengotornya (gangue). Konsentrasi merupakan
puncak dari benefisasi. Konsentrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat fisiknya. Berikut
tahapan konsentrasi :
KONSENTRASI
Gravity Separator

Pemisahan berdasarkan sifat fisik


berat jenis (densitas) material.

Magnetic Separator

Pemisahan berdasarkan sifat fisik


kemagnetannya material.

Electric Separator

Pemisahan berdasarkan sifat fisik


kelistrikannya material.

Flotation

Pemisahan berdasarkan sifat fisik


suka atau tidak suka terhadap
suatu cairan.

18

Dari skema diatas dapat disimpulkan bahwa tahapan konsentrasi dibagi menjadi empat
proses dengan memanfaatkan sifat fisik material yang akan diolah. Sifat fisik ini merupakan
dasar sifat yang dimiliki oleh setiap mineral.
1. Gravity separation
Proses konsentrasi gravitasi adalah pemisahan mineral berdasarkan perbedaan berat jenis
dalam suatu media fluida, jadi sebenarnya juga memanfaatkan perbedaan kecepatan
pengendapan mineral-mineral yang ada. Konsentrasi gravitasi memanfaatkan perbedaan densitas
dari mineral-mineral yang akan dipisahkan.
Proses konsentrasi gravitasi masih digunakan saat ini terutama untuk endapan plaser
seperti timah, emas, pasir besi dan lain-lain. Metode ini dilakukan berdasarkan perbedaan berat
jenis (BJ) antara mineral berharga dengan mineral gangue. Mineral-mineral bijih (berharga)
memiliki berat jenis yang tinggi, sedangkan mineral tidak berharga berat jenisnya rendah.
Konsentrasi

gravitasi

banyak

digunakan

di

industri

karena

peggunaanya

mudah,sederhana,murah dan hemat energi


Pemisahan mineral berdasarkan berat jenisnya dilakukan dalam suatu medium fluida,
dengan menggunakan perbedaan kecepatan pengendapan. Berdasarkan gerakan fluida, ada tiga
cara pemisahan secara gravitasi :
1. Fluida tenang. Contoh : DMS atau HMS (Dense atau Heavy Medium Separation).

19

2. Gerak fluida horizontal. Contoh : sluice box, meja goyang (shaking table), spiral
concentrator.

Shaking Table (MejaGoyang)

spiral concentrator
3. Aliran fluida vertikal. Contoh : jigging.

20

Konsentrasi gravitasi pada mineral-mineral yang mempunyai perbedaan massa jenis yang
mencolok sehingga terjadi kelompok mineral dengan massa jenis tinggi dan kelompok mineral
dengan massa jenis rendah dan salah satu dari kelompok mineral tersebut akan menjadi
konsentrat dan yang lainnya menjadi mineral gangue.
Jika jumlah partikel (mineral) di dalam fluida relatif sedikit, maka akan terjadi
pengendapan bebas (free settling). Tetapi jika jumlah partikelnya banyak, gerakannya akan
terhambat sehingga terbentuk stratifikasi yang terdiri dari tiga tahap, antara lain sebagai berikut:
1. Hindered settling classification.
Hindered settling classification adalah klasifikasi pengendapan terhalang.
2. Differential acceleration.
Differential acceleration terjadi pada awal pengendapan, partikel yang berat
mengendap lebih dahulu.
3. Consolidation tricklin
Consolidation tricklin terjadi pada akhir pengendapan, partikel-partikel kecil
berusaha mengatur diri di antara partikel-partikel besar sesuai dengan berat jenisnya.
Proses konsentrasi gravitasi menghasilkan tiga produk, yaitu:
1. Konsentrat (concentrate) yaitu yang terdiri dari kumpulan mineral berharga dengan kadar
tinggi.
2. Amang (middling) yaitu konsentrat yang masih kotor atau masih bercampur dengan tailing.
3. Ampas (tailing) yaitu mineral-mineral pengotor yang harus dibuang.
Kriteria Konsentrasi (KK) merupakan besaran yang dapat digunakan untuk memprediksi
apakah operasi konsentrasi berdasarkan gravitasi dapat dilakukan dengan mudah atau sulit, bisa
ditentukan dengan menggunakan persamaan yang Taggart rumuskan secara empiris sebagai
berikut:
21

Kriteria Konsentrasi ( KK )=

B '
R '

Dimana :
B : Ber at jenis mineral berat
R : Berat jenis mineral ringan
' : Berat jenis media

Kriteria Konsentrasi (KK) :


a) Bila KK > 2,5 atau KK < -2,5 :Pemisahan mudah dilakukan pada berbagai ukuran sampai
ukuran yang halus sekalipun ( sampai 200mesh).
b) Bila KK = 2,5 - 1,75 :Pemisahan berlangsung efektif sampai ukuran 100 mesh.
c) Bila KK = 1,75 - 1,50 :Pemisahan masih memungkinkan sampai ukuran 10 mesh, tetapi
sukardilakukan.
d) Bila KK = 1,50 - 1,25 :Pemisahan masih memungkinkan sampai ukuran 1/4 inchi, tetapi
sukardilakukan.
e) Bila KK < 1,25 :Proses relatif tidak mungkin, masih bisa mungkin dengan modifikasi
perbedaangaya berat.
Selain rumus kriteria konsentrasi ada pula rumus settling ratio ( nisbah pengendapan dengan
rumusnya yaitu :
r 1 2 '
=
r 2 1 '

dimana :
r 1 = Jari-jari (diameter) min. ringan
r 2 = Jari-jari (diameter) min. berat
1 = berat jenis mineral ringan
2 = berat jenis mineral berat

22

'

= berat jenis media.

n= 0,5 Stokes
n= 1 Newton
Free settling ratio

' = 1 (medium air)

Hindered settling ratio ' 1 (medium bukan air, tetapi suspensi)

Equal Settling :
Butiran mineral yang berbeda ukurannya, mengendap dengan kecepatan yang sama
Contoh:
Galena dan kwarsa dalam air (7 & 2,5)
n

r 1 2 '
=
r 2 1 '

r1
71
=
r 2 2,51

(
(

r1 6
=
=4
r 2 1,5
Maka jika diameter kwarsa besarnya sama dengan empat kali diameter galena maka
partikel-partikel kwarsa dan galena akan mengendap dengan kecepatan pengendapan yang sama
di dalam media air, sehingga sulit dipisahkan. Agar dapat dipisahkan maka selang ukuran harus
diperkecil.
Sedangkan jika medianya adalah media berat dengan berat jenis = 3, maka :
r 1 2 '
=
r 2 1 '

r1
73
=
r 2 2,53

23

r1
4
=
=8
r 2 0,5

Maka selang ukuran menjadi semakin lebar agar tidak terjadi equal settling.

Efek-efek yang mempengaruhi pemisahan :


1) Frekuensi stroke
2) Selang ukuran mineral-mineral yang akan dipisahkan
3) Ukuran, bentuk, BJ mineral
4) Densitas, ukuran bed, tebal bed
5) Ukuran lubang screen
6) Kecepatan hydraulic water

Perangkat yang sering digunakan pada proses konsentrasi gravitasi antara lain : shaking
table (meja goyang), jig, panning, sluice box, humprey spiral atau hydrocyclone.
2. Magnetic Separation
Magnetic Separator adalah pemisahan partikel didasarkan atas gerak gerik partikel di
medan magnet dan sifat kemagnetan dari partikel itu. Cara ini dipakai karena di alam ada
material yang bila diletakkan dimedan magnet maka dia akan tertarik. Secara umum yang tertarik
magnet disebut magnetik mineral dan yang tidak tertarik magnet disebut non-magnetik mineral.
Adalah proses konsentrasi yang memanfaatkan perbedaan sifat kemagnetan (magnetic
susceptibility) yang dimiliki mineral. Sifat kemagnetan bahan galian ada 3 (tiga) macam, yaitu :

Ferromagnetic, yaitu bahan galian (mineral) yang sangat kuat untuk ditarik oleh medan magnet.
Misalnya magnetit (Fe3 O4).

Paramagnetic, yaitu bahan galian yang dapat tertarik oleh medan magnet. Contohnya hematit
(Fe2 O3), ilmenit (Se Ti O3) dan pyrhotit (Fe S).

Diamagnetic, yaitu bahan galian yang tak tertarik oleh medan magnet. Misalnya : kwarsa (Si O2)
dan feldspar [(Na, K, Al) Si3 O8].
24

Jadi produk dari proses konsentrasi yang berlangsung basah ini adalah Mineral-mineral magnetik
sebagai konsentrat dan Mineral-mineral non-magnetik sebagai ampas (tailing).
Peralatan yang dipakai disebut magnetic separator yang terdiri dari :
1. Induced roll dry magnetic separator.
2. Wet drum low intensity magnetic separator yang arah aliran dapat : concurrent,
countercurrent, dan counter rotation
Sedang letak magnetnya bisa Suspended magnets, Suspended magnets with continuous removal
dan Cobbing drum.
Pada drum magnetic separator, proses pemisahanya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu Cara
kering dan Cara basah.
Sedangkan berdasarkan kekuatan medan magnet, magnetic separator dibagi menjadi dua, yaitu :
1. High Intensity Magnetic Separator (20.000 Gauss)
2. Low Intensity Magnetic Separator (1000 Gauss)
Prinsip kerjanya adalah mengenai material yang akan dipisahkan diberi muatan dengan beberapa
cara, yaitu charging (memberi muatan) dengan kontak, charging dengan induksi konduktif dan
charging dengan ion bombardment.
proses pemisahan tergantung dari pada pining factor (Fi / Fc).1

jika Fi / Fc > 1 maka partikel terlempar

jika Fi / Fc < 1 maka partikel menempel


Entrapment Ratio:
Entrapment ratio adalah rasio gaya magnet terhadap gaya sentrifugal, gaya gravitasi dan
gaya drag. Enrapment ratio dinyatakan dalam persamaan berikut :
ER= Fm/( Fc+Fg+Fd)
Jika partikel mineral memiliki nilai entrapment ratio lebih daripada satu, ER>1, maka
partikel tersebut akan tertarik dan tetap nempel dipermukaan drum separator.
3. Electro Separation
Electro separation

merupakan

proses

konsentrasi

pemisahan

mineral

dengan

menggunakan perbedaan electrical conductivity atau dengan menggunakan perbedaan sifat


konduktor (mudah menghantarkan arus listrik) dan non-konduktor.
25

Elektro Separator
Proses pemisahan mineral dengan cara ini dilakukan berdasarkan
dengan kemampuan relatif konduktivitas mineral dalam menerima muatanmuatan listrik yang telah diatur.Biasanya, proses electro separation dilakukan
tanpa air atau dengan cara kering. Pinning ratio merupakan parameter yang
digunakan pada alat konsentrasi elektroseparator.Elektro separator
sendiri adalah alat konsentrasi yang memisahkan material dengan
perbedaan sifat kelistrikan. Pinning ratio adalah parameter acuan
mineral

apakah

menempel

pada

rotor

atau

tidak

pada

elektroseparator,Pinnig ratio dinyatakan dalam persamaan :

e
3
( )
2
dv R
Fi 6 E
=

Fc k

Pada hasilnya yaitu :

Fi
>1
Fc

: partikel tertolak rotor

Fi
<1
Fc

: partikel tertarik rotor

Fi
=1
Fc

: partikel yang tak pengaruh,jatuh bebas, disebut

mineral middling

Dalam proses electro separator ini, mineral yang akan diolah dibagi 2
berdasarkan sifat kelistrikannya , yaitu :
1. Mineral Konduktor
Mineral ini mengandung muatan positif (+), sebab mineral ini melepas
atau mengalirkan elektron menuju rotary pada mesin dan elektron tersebut
akan diteruskan ke bumi saat di grounded.
26

Contoh-contoh mineral konduktor adalah magnetit, kasiterit,limenit,


molibdenit, wolframit, galena, pirit
2. Mineral non-konduktor
Mineral ini mengandung muatan negatif (-) sebab mineral ini tidak
melepaskan elektron pada saat proses grounded sehingga mineral ini tetap
menempel pada rotary pada mesin.
Contoh-contoh mineral non- konduktor adalah siderit, apatit, garnet, biotit,
zeolit, tormalin, zircon, barit, gypsum, corundum, olivin, hornblende,
muscovit, fluorit
Sedangkan untuk midling dibagi menjadi 2 jenis , yaitu :
1. Gravitional Midling
Midling jenis ini dapat langsung jatuh ke dalam wadah karena rotor pada
mesin berputar terlalu cepat, disamping middling ini tidak sempat untuk
menerima elektron selain itu jatuhnya midling ini juga dipengaruhi oleh gaya
berat serta mineral konduktor terhalang oleh mineral yang bersifat nonkonduktor.
2. Ionical Charge Middling
Middling jenis ini telah menerima elektron namun middling ini belum
sempat memindahkan elektron yang telah diterima ke rotor pada mesin
sehingga middling ini akan langsung jatuh.
Biasanya , hal ini terjadi karena proses pengumpanan tidak satu lapisan.
Floatibility/kemampuan apung adalah kemampuan suatu mineral untuk dapat
diapungkan.

Alat-alat dalam Electro Separation


Secara umum, bagian- bagian dari Electro Separator adalah sebagai berikut :
1. Feeder (pengatur umpan)
Biasanya, alat ini terletak di dalam hooper. Alat ini berfungi untuk mengatur agar
umpan yang masuk ke dalam rotor hanya 1 lapis saja dan tidak berlapis. Ujung dari
hooper sendiri dapat diatur sedemikian rupa agar tempat jatuhnya mineral tepat dengan
garis singgung dari rotor itu sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari lentingan
minera;
2. Hooper
27

Alat utama untuk menampung umpan (feed) . Alat ini biasanya dilengkapi dengan
pemanas untuk mengeringkan umpan, karena biasanya di dalam keadaan basah ,
pemisahan secara electrostattic tidak berjalan dengan baik.
3. Rotor (rotary)
Suatu alat dengan bentuk silinder yang berotasi pada porosnya, serta terhunbung
dengan bumi , sehingga rotor mempunyai muatan positif (+).
4. Brush(sikat)
Untuk membersihkan mineral-mineral yang bersifat non- konduktor yang masih
menempel pada rotor
5. Elektroda
Merupakan alat yang terdiri atas elektroda kawat dan focussing electrode dan
merupakan penghasil dari ion bombardement
6. Splitter
Komponen ini berfungsi sebagi pemisah produk ( mineral konduktor dan nonkonduktor , serta middling)
7. Rectifier
Komponen peningkat tegangan listrik
Pada umunya, jenis-jenis peralatan yang dipakai dalam proses pemisahan ini ada 2, yaitu

1. Electro-dynamic separator

Electro-dynamic separator
1. Electro-static separator
- Plate electro-static separator

28

Plate electro-static separator


Screen electro-static separator

Screen electro-static separator

Prinsip Kerja Electro Separator


Ada beberapa mekanisme pemisahan yang dapat dilakukan pada Electro Separation
diantaranya adalah :
1. Electro-dynamic separtion
Disebut juga dengan High Tension Separation. Proses ini akan diawali tahap
Corona, yaitu dengan mengionisasi udara yang berada di ionizing electrode .
Proses Corona akan menghasilkan suatu elektro, dimana mineral yang akan diolah
menuju rotor akan melewati 2 medan listrik, yaitu medan listrik pada Corona dan medan
Elektrostatis. Selain itu, akan dilakukan pula proses penembakan elektron terhadap setiap
mineral yang lewat.
Feed (umpan) mineral yang dijatuhkan diatas rotor akan mengalami prose
grounded atau dihubungkan dengan bumi, dan dari pengaruh putaran rotor pada mesin
akan membawa mineral dari daerah medan listrik menuju daerah Corona (ionisasi udara
di sekitar ionizing electrode ). Elektron dapat dihasilkan dari meda Corona ini.
Mineral-mineral yang telah melewati daerah ini akan menerima muatan negatif (-)
yang dihasilkan dari prose Corona tersebut.Untuk mineral- mineral yang bersifat
konduktor,

muatan-muatan negatif (-) yang terkandung di dalamnya akan dialirkan

kembali ke bumi melalui rotor dengan prose grounded.

29

Akibatnya , terjadi gaya saling tolak-menolak antara mineral- mineral dengan


rotor karena mempunyai muatan yang sejenis. Selain adanya gaya tolak- menolak ,
mineral-mineral tersebut juga dapat terlempar karena pengaruh dari gaya sentrifugal dari
putaran rotor sehingga mineral-mineral tersebut dapat jatuh ke dalam wadah yang telah
disediakan.
Pada proses ini, mineral- mineral yang diolah akan mengalami penambahan
muatan negatif (-) dari elektron dan terionisasi. Jika mineral tersebut bersifat konduktor
(mudah menghantarkan listrk), maka mineral tersebut akan bermuatan positf karena
elektron-elektron yang terkandung di dalamnya sudah dialirkan ke bumi melalui proses
grounded . Namun, jika mineral tersebut bersifat non-konduktor dimana elektron tidak
dapat disalurkan ke bumi maka mineral tersebut akan tetap bermuatan negatif (-) dan
mineral tersebut akan tetap menempel pada rotor
2. Electro-static separtion
Pada dasarnya prose Electro-static separtion hampir sama dengan proses Electrodynamic separation , namun yang membedakan disini adalah tidak terdapatnya proses
Corona pada Electro-static separation.
Proses pemisahan diawali dengan mineral yang medan listrik yang dialiri melalui
rotor , saat mineral umpan menyetuh permukaan rotor, secara otomatis mineral akan
terinduksi sehingga mineral akan mengandung muatan listrik.
Mineral yang bersifat konduktor akan mengandung muatan yang sama dengan
muatan pada rotor , oleh karena itu mineral tersebut akan tertolak dari permukaan rotor
dan akan tertari oleh elektroda.
Ada 2 mekanisme pemisahan pada Electro-static separtion, yaitu:
- Mekanisme pemuatan partikel
Mekanisme ini melibatkan mineral yang berbeda, setelah itu mineralmineral tersebut akan ditembak menggunakan elektron , serta diinduksi oleh
medan listrik dengan cara dilewatkan pada suatu medan Corona
- Mekanisme pada permukaan yang di-grounded
Mekanisme dengan metode grounded akan melibatkan gabungan beberapa
gaya yaitu gaya-gaya listrik, sentrifugal (putaran pada rotor) serta gaya gravitasi
(gaya tarik bumi) . Dalam hal ini gaya gesek (drag) dapat diabaikan

Flotasi adalah suatu proses pemisahan suatu zat dari zat lainnya pada suatu cairan /
larutan berdasarkan perbedaan sifat permukaan dari zat yang akan dipisahkan, dimana zat
yang bersifat hidrofilik tetap berada fasa air, sedangkan zat yang bersifat hidrofobik akan
terikat pada gelembung udara dan akan terbawa ke permukaan larutan dan membentuk
30

buih, sehingga dapat dipisahkan dari cairan tersebut.


Secara sederhana, flotasi merupakan proses pemisahan satu mineral atau lebih, dengan
mineral lainnya melalui cara pengapungan.
Terdapat tiga fase pada proses flotasi yang
dilakukan dalam media air, yaitu:
Fase padat
Fase cair
Fase udara
Flotability (daya apung) adalah kemampuan butiran mineral untuk dapat
mengapung yang ditentukan oleh tendensi (hasrat) dari butiran mineral untuk melekat
(mengikat diri) pada gelembung udara yang relatif besar dan kemudian mengapung
kepermukaan cairan pulp.
Daya apung suatu butiran mineral tergantung pada sifat permukaan butiran
mineral tersebut dapat dikontrol dan diubah-ubah dalam proses flotasi dengan
mempergunakan reagen kimia yang berbeda-beda.
Pada proes ini, mineral dapat dibedakan menjadi beberapa bagian
Mineral yang tidak senang Air (Hidrophobik) adalah mineral yang mudah melekat
pada gelembung udara pada cairan. Mineral ini umumnya mineral yang
dikehendaki.
Mineral Senang Air (Hidrophilik) adalah mineral yang tidak mudah melekat pada
gelembung udara pada cairan.
Dengan mendasarkan sifat mineral tersebut maka mineral yang satu dengan
lainnya dapat dipisahkan dengan gelembung udara.
Prinsip Flotasi :
Penempelan partikel (mineral) pada gelembung udara
Gelembung mineral harus stabil.
31

Ada sifat Float dan Sink


Syarat Flotasi :
1. Ada gelembung udara dalam cairan (0.5 1)
2. Ukuran partikel harus halus dan disesuaikan dengan butiran mineral (48 50 #)
3. Derajat liberasi yang tinggi
4. Feed dalam bentuk pulp (lumpur)
5. Ada sudut kontak yang baik, yaitu sekitar 60 90. Ini berarti usaha adhesinya
besar, sehingga udara dapat menempel pada permukaan mineral, yang
mengakibatkan mineral dapat mengapung. Sudut kontak merupakan sudut yan
dibentuk antara gelembung udara dengan mineral pada suatu titik singgung. Sudut
kontak mempengaruhi daya kontak antara biji dengan gelembung udara. Untuk
melepaskan gelembung dan mineral dibutuhkan usaha adhesi.
6. pH Kritis. pH kritis ini merupakan pH larutan yang mempengaruhi konsentrasi
kolektor yang digunakan dalam pengapungan mineral.
Faktor- faktor yang mempengaruhi flotasi :
Ukuran partikel.
Ukuran partikel yang besar membuat partikel tersebut cenderung untuk
mengendap, sehingga susah untuk terflotasi.
pH larutan.
Partikel cenderung mengendap pada pH yang tinggi.
Surfaktan.
Fungsi surfaktan adalah kolektor yang merupakan reagen yang memiliki gugus
polar dan gugus non polar sekaligus. Kolektor akan mengubah sifat partikel dari
hidrofil menjadi hidrofob.
Bahan kimia lainnya, misalnya koagulan.
Penambahan koagulan dapat mengakibatkan ukuran partikel menjadi lebih besar.
Laju udara
Laju udara berfungsi sebagai pengikat partikel yang memiliki sifat permukaan
hidrofobik, persen padatan. Untuk flotasi pada partikel kasar, dapat dilakukan
dengan persen padatan yang besar demikian juga sebaliknya. Besar laju
32

pengumpanan, berpengaruh terhadap kapasitas dan waktu tinggal. Laju udara


pembilasan, berfungsi untuk mengalirkan konsentrrat ke dalam lounder.
Ketebalan lapisan buih
Ukuran gelembung udara
Dengan adanya perbedaan sifat permukaan (Hidrophobik dan Hidrophilik) tadi,
perlu ada suatu reagen kimia untuk merubah permukaan mineral. Reagen kimia yang
digunakan pada proses flotasi terdiri dari :
Kolektor (Collector): suatu bahan kimia organik yang gunanya untuk merubah
sifat permukaan mineral yang tadinya senang air menjadi tidak suka air. Hal ini,
bila mineral yang senang air itu, mineral yang diinginkan. Contoh :solar, sabun.
Modifier : bahan kimia an-organik yang fungsinya mempengaruhi kerja kolektor.
Frother (Pembusa) : suatu zat untuk menstabilkan gelembung-gelembung udara
dalam air, contohnya : deterje
Syaratsyarat alat flotasi :
Mempunyai penerima pulp dan pengeluaran konsentrat.
Dapat menghasilkan atau ada aliran udara yang dapat dimasukan ke dalam sistem
tersebut.
Feed harus dalam bentuk pulp.
Sel flotasi berfungsi untuk menerima pulp dan dilakukan proses flotasi.
Berdasarkan cara pemasukan udaranya, jenis sel dibedakan menjadi:
1. Agitation Cell
Alat ini jarang digunakan, sebab adanya perkembangan dengan diketemukannya
sub aeration cell. Udara masuk ke dalam cell flotasi, karena putaran pengaduk.
2. Sub Aeration Cell
Udara masuk akibat hisapan putaran pengaduk. Alat ini paling praktis, sehingga
banyak digunakan.
3. Pneumatic Cell
Alat ini jarang sekali digunakan, udara langsung dihembuskan ke dalam cell
33

4. Vacum and Pressure Cell


Udara bisa masuk karena tangki dibuat vakum oleh pompa penghisap dan udara
dimasukkan oleh pompa injeksi.
5. Cascade Cell
Udara masuk karena jatuhnya mineral
Syarat cell :
1. Pulp tidak mengandap (dilengkapi dengan alat agitasi)
2. Ada pengatur tinggi pulp
3. Ada daerah yang relatif tenang sehingga butiran yang menempel gelembung udara
mudah naik ke permukaan
4. Konstruksi dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi short circuit
5. Mempunyai resirkulasi dan pengeluaran middling.
6. Harus mempunyai penerimaan pulp dan pengeluaran busa yang menumpuk
7. Mempunyai permukaan bebas untuk gelembung-gelembng yang sudah
mengandung mineral, sehingga tidak mempengaruhi agitasi
8. Harus dilengkapi dengan pengeluaran froth.
Langkah-langkah Flotasi :
1. Liberasi, analisis pendahuluan
Agar mineral dapat terliberasi, maka perlu dilakukan crushing atau grinding yang
diteruskan dengan pengayakan atau classifying. Ini dimaksudkan agar ukuran butir
mineral dapat seragam, sehingga proses akan lebih sukses atau berhasil. Analisis
pendahuluan dilakukan dengan menggunakan mikroskop, sehingga dapat dilihat
derajat liberasinya dan kadar dari mineral tersebut. Diupayakan dalam tahap ini
juga dilakukan desliming, sebab slime akan mengganggu proses flotasi.
2. Conditioning
Conditioning adalah membuat suatu pulp agar nantinya pulp tersebut dapat
langsung dilakukan flotasi. Preparasi ini sebaiknya disesuaikan dengan liberasi
dalam proses basah, maka conditioning juga harus dilakukan pada proses basah.
Pada tahap pengkondisian, reagent yang diberikan adalah modifier, collector dan
terakhir frother.
34

3. Proses flotasi
Proses ini ditandai dengan masuknya gelembung udara ke dalam pulp.

Flotasi tata letak sirkuit


Flotasi desain sirkuit bervariasi dalam kompleksitas tergantung terutama pada
jenis mineral, tingkat pembebasan mineral berharga, kelas (kemurnian) dari produk dan
nilai produk. Biasanya tahap kasar pertama akan terdiri 10-40% dari total volume kasar
dan akan menghasilkan kelas konsentrat yang baik dengan tetapi hanya pemulihan
menengah. Tahap kasar kedua terdiri dari 60-90% dari total volume kasar dan dirancang
untuk memaksimalkan pemulihan.
Scavenger cells akan memiliki volume sel sama dengan tahap kasar total dan disertakan
ketika mineral sangat berharga sedang dirawat atau pemulihan yang sangat tinggi
diperlukan.
Cleaner cells digunakan untuk memaksimalkan nilai dari konsentrat akhir. Khas waktu
retensi bersih adalah 65-75% dari itu untuk flotasi kasar dan akan berada pada lebih
rendah padatan persen. Sel Kurang per bank daripada untuk tugas kasar dapat digunakan.

Proses flotasi

Reactor Cell Flotation System (RCS)


The RCSTM (Reactor Cell System) mesin flotasi menggunakan hak paten yang dilindungi
DVTM (Deep Vane) Mekanisme. Karakteristik pola aliran adalah:

Pola aliran lumpur radial


Cepat dinding tangki.
aliran Primer kembali ke bawah impeller.
resirkulasi atas Sekunder.

Flotasi ditingkatkan karena:


kontak partikel-gelembung maksimum dalam mekanisme dan tangki.
35

padatan Efektif suspensi selama operasi dan re-suspensi setelah shutdown.


dispersi udara yang efektif di seluruh volume sel lengkap.

Fitur (Reactor Cell System) RCSTM


zona bawah Aktif untuk suspensi padat optimal dan partikel - kontak gelembung.
zona atas dengan turbulensi berkurang untuk mencegah partikel - separasi bubble.
permukaan sel Diam untuk meminimalkan partikel re-entrainment.
Edaran tangki dengan entri bubur tingkat rendah dan keluar untuk meminimalkan
bubur arus pendek.
Otomatis tingkat kontrol oleh katup panah.
sumber terpisah udara tekanan rendah.
cross-flow ganda launders buih internal.
Aplikasi: Mayoritas tugas flotasi mineral.
Sel Sistem DR Flotasi
Reaktor Sel Sistem Flotasi Mesin adalah pilihan yang lebih disukai untuk
banyak aplikasi flotasi mineral. Desain DR dapat ditentukan untuk aplikasi
tertentu, terutama di mana partikel kasar de-slimed harus ditangani seperti di kaca
dan kalium pengolahan.

Flotasi Sistem DR - Desain


tangki aliran Buka dengan kotak menengah dan debit
Dekat bawah terletak impeller / diffuser
sumber terpisah udara tekanan rendah
Tingkat kontrol dengan bendung atau panah katup (otomatis sebagai pilihan)
Resirkulasi baik
arah impeller Reversible rotasi
Kolom Sel Sistem Flotasi
Kolom pekerjaan flotasi
pada prinsip dasar yang sama
seperti mesin mekanik seperti
RCSTM. Namun, dalam kolom
flotasi tidak ada mekanisme
mekanik. Pemisahan terjadi
dalam bejana dari aspek rasio
tinggi dan udara dimasukkan ke
dalam bubur melalui spargers.

36

Dalam kasus-kasus tertentu seperti tugas pembersihan


atau penanganan yang sangat halus kolom partikel flotasi
akan menawarkan keuntungan sebagai berikut:
Kolom flotasi Metso

Peningkatan kinerja metalurgi


Rendah konsumsi energi
Kurang lantai daerah
Kurang pemeliharaan
Peningkatan kontrol

Aplikasi untuk kolom flotasi :


Tembaga
Grafit
Timbal
Fosfat
Zinc
Coal
Besi
Fluorspar

2.4 Zeolit
Zeolit merupakan senyawa alumino-silikathidrat terhidrasi dengan unsur utama yang
terdiridari kation alkali dan alkali tanah terutama Ca, K dan Na, dengan rumus umum (LaAlbSic
O2.nH2O) dimana L adalah logam. Sifat umum dari zeolit adalah kristal yang agak lunak dengan
warna putih coklat atau kebiru-biruan. Senyawa kristalnya berwujud dalam sruktur tiga dimensi
yang tak terbatas dan memiliki rongga-rongga yang saling berhubungan membentuk saluran ke
segala arah dengan ukuran saluran tergantung dari garis tengah logam alkali ataupun alkali tanah
yang terdapat pada srukturnya. Dimana rongga-rongga tersebut akan terisi oleh air yang disebut
air kristal.
Jadi, zeolit merupakan senyawa alumino silikat terhidrasi yang terdiri dari tetrahedral (Si, Al)
dan dikelilingi oleh atomatom O dalam ikatan tiga dimensi.Mineral zeolit yang paling umum
dijumpai adalah (Na,K)2O, Al2O3. 10 SiO2. 8H2O.Perbandingan antara atom Si dan Al yang
bervariasi akan menghasilkan banyak jenis atau spesies zeolit yang terdapat di alam. Penggunaan
zeolit pada umumnya didasarkan pada sifat-sifat kimia dan fisika zeolit, seperti penyerap,
penukar kationdan katalis.
Unit Penyusun Zeolit
37

Proses Pembentukan Zeolit


Secara geologi, zeolit ditemukan dalam batuan tufa dari reaksi antara batuantufa asam
berbutir halus dan bersifat riolitik dengan air pori atau air meteoric (air hujan). Zeolit terbentuk
dari hasil sedimentasi debu vulkanik yang telah mengalami proses alterasi. Ada empat proses
sebagai gambaran awal terbentuknya zeolit, yaitu proses sedimentasi debu vulkanik pada
lingkungan danau yang bersifat alkali, prosesalterasi, proses diagenesis dan proses hidrotermal.
Preparasi zeolit dinyatakan sebagai berikut. Zeolit tidak dapat langsung digunakan saat baru
pertama kali diambil dari alam. Zeolit perlu diaktivasi.Aktivasi zeolit dibagi menjadi dua ,namun
sebelumnya zeolit harus digrinding hingga <100# :
- Fisika

: melalui proses kalsinasi yaitu pemanasan hingga 300-400oC yang

bertujuan agar semua senyawa jenuh menguap


- Kimia
: aktivasi ini bertujuan untuk menghasilkan luas permukaan yang lebih
luas melalui pembentukan struktur berpori dan juga untuk menghilangkan senyawasenyawa pengotor. Caranya dengan perlakuan HCl (Asam Klorida) atau dengan
NH4NO3 (Amonium Nitrat)

1.Proses sedimentasi
Pada tahap ini, terbentuk karena proses sedimentasi, yakni meliputi pelapukan,dapat
berupa pelapukan fisik maupun pelapukan kimia. Erosi dan transportasi terutama dilakukan oleh
media air. Proses pengendapan terjadi jika energi transport sudah tidak mampu mengangkut
detritus tersebut. Kerangka tektonik pada suatu proses sedimentasi adalah sebagai kombinasi
antara adanya penurunan (subsiding), keadaan stabil dan pengangkatan (rising) dari elemenelemen tektonik di daerah batuan asal dan daerah pengendapan.
2.Alterasi
Alterasi merupakan perubahan komposisi mineralogi batuan (dalam keadaan padat) karena
pengaruh suhu dan tekanan yang tinggi, dan tidak dalam kondisi isokimia menghasilkan mineral
lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam. Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder
pembentukan batuan. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan
38

pada struktur tertentu yang memungkinkan masuknya air meteoric untuk dapat mengubah
komposisi mineralogy batuan.
3. Proses Diagenesis
Diagenesis merupakan proses fisika, kimia dan biologi yang secara umum mengubah
sedimen menjadi batuan sedimen. Diagenesis kemungkinan berlanjut bekerja setelah sedimen
menjadi batuan, mengubah tekstur dan mineraloginya. Proses diagenesis material organik yang
diakibatkan oleh proses biologis lebih dominan terjadi dalam sedimen yang baru terendapkan
(recently deposited) dan biasa terjadi pada kedalaman hingga 2 km serta temperatur maksimal 75
C Prosesdiagenesis.
a.Kompaksi
Kompaksi adalah proses yang menyebabkan volume sedimen berkurang. Ini dihasilkan oleh
tekanan penutup (overburden), yang diakibatkan oleh berat dari sedimen dan batuan di atasnya.
Tekanan ini mengakibatkan penyusunan kembali butiran dan pengeluaran fluida, hal ini
menghasilkan pengurangan porositas batuan sedimen. Kemungkinan tingkat kompaksi
merupakan fungsi dari ukuran butir, bentuk butir, pemilahan, porositas awal dan jumlah fluida
yang terdapat dalam sedimen.
b.Rekristalisasi dan pelarutan
Rekristalisasi adalah proses dimana kondisi fisika dan kimia menyebabkan
pengorientasian kembali kristal lattice pada butir mineral. Rekristalisasi bekerja melalui
pelarutan dan presipitasi dari fase mineral yang terdapat pada batuan. Ketikafluida melewati
batuan atau sedimen, komponen pada sedimen yang tidak stabil karena tekanan, pH, dan
temperatur akan mengalami pelarutan. Kemudian material yang terlarut itu akan mengalami
transportasi dan akan terpresipitasi pada pori-pori sedimen yang memiliki kondisi yang berbeda.

c.Sementasi
Sementasi adalah proses di mana terjadi presipitasi kimia pada pembentukankristal baru,
terbentuk didalam pori-pori sedimen atau batuan yang mengikat satu butir dengan butir lainnya.
Semen yang umum yaitu kuarsa, kalsit dan hematit.
d.Autigenesis
Autigenesis (neocrystalitation) adalah proses saat fase mineral baru mengalami
kristalisasi di dalam sedimen atau batuan selama proses diagenesis maupun setelahnya. Mineral
baru terbentuk melalui reaksi di dalam fase yang terdapat dalam sedimen atau batuan, dan juga
muncul karena presipitasi dari material yang masuk melalui fase fluida, atau dihasilkan dari
kombinasi sedimen primer dan material yang masuk. Beberapa yang tergolong dalam fase
autogenesis, silikat seperti kuarsa, carbonat seperti kalsit dan dolomite, evaporate mineral seperti
gypsum dan oksida seperti hematite.

39

e.Replacement
Replacement yaitu proses ketika mieral baru menggantikan (secara kimia danfisika)
kondisi dalam pada endapan mineral. Replacement mungkin bersifat :
a.Neomorphic, yang mana butiran yang baru memiliki fase yang sama
dengan asalnya atau polimorpisme dari fase asalnya.
b.Pseudomorfic, yang mana fase baru merupakan tiruan dari bentuk eksternaldari fase
yang digantikan tetapi fasenya berbeda,
c.Allomorphic, yaitu replacement dalam bentuk fase baru yang biasanya berbeda bentuk
kristalnya dan menggantikan sepenuhnya fase sedimentasal.Fase replacement sama
beragamnya dengan fase autigenesis, tetapi fase replacement yang penting yaitu
dolomite, opal, kuarsa dan ilite.
f.Bioturbasi adalah aktifitas biologis yang terjadi dekat permukaan, termasuk
burrowing, boring
dan pencampuran sedimen oleh organisme. Pada beberapa kasus proses ini dapat
meningkatkan kompaksi, menghancurkan laminasi dan perlapisan.Selama proses
bioturbasi beberapa organisme mempresipitasikan material yang berfungsi sebagai
semen.
4. Proses hidrotermal
Produk akhir dari proses diferensiasi magmatik adalah suatu larutan yang disebut larutan
magmatik yang mungkin dapat mengandung konsentrasi logam yang dahulunya berada dalam
magma. Larutan magmatik ini yang juga disebut larutan hidrotermal banyak mengandung logamlogam yang berasal dari magma, yang sedang membeku dan diendapkan di tempat-tempat sekitar
magma yang sedang membeku tadi. Larutan yang makin jauh dari magma, akan makin
kehilangan panasnya.
Dalam perjalanan menerobos batuan, larutan hidrotermal akan mendepositkan mineralmineral yang dikandungnya di rongga-rongga batuan dan membentuk deposit celah (cavity
filling deposit) atau melalui proses metasomatik membentuk deposit pergantian (replacement
deposit). Berikut adalah penjelasan umum tentang macam macam deposit;
a. Deposit hipotermal.
Secara umum deposit hipotermal atau deposit replasemen terjadi pada kondisi suhu
dan tekanan tinggi, pada daerah lebih dekat dengan batuan intrusifnya.
b. Deposit epitermal.
Deposit epitermal atau deposit celah adalah deposit yang lebih banyak terjadi
didaerah dengan suhu dan tekanan rendah yang terletak agak jauh dari batuan
intrusifnya.
A. Aplikasi Zeolit
Secara umum zeolit alam maupun zeolit sintetis memiliki nilai ekonomi yang bisa
dikatakan tinggi, hal ini mengingat dari mineral zeolit yang jika diolah lebih lanjut akan dapat
dimanfaatkan secara optimum. Zeolit mempunyai banyak kegunaan, dimana setiap kegunaan
yang dimiliki tentunya tidak terlepas dari sifat sifat unik yang dimilikinya, sifat-sifat unik
tersebut meliputi dehidrasi, adsorben, penyaring molekul, katalisator dan penukar ion. Adapun
kegunaan dari zeolit adalah,untuk peningkatan unsur hara tanah, penjernih air, pembersih limbah
pabrik, pakanternak, dll.
B. Fungsi Zeolit
- Zeolit sebagai agen pendehidrasi
40

Kristal zeolit normal mengandung molekul air yang berkoordinasi dengankation penyeimbang.
Zeolit dapat didehidrasi dengan memanaskannya. Padakeadaan inikation akan berpindah posisi,
sering kali menuju tempat dengan bilangan koordinasi lebih rendah. Zeolit terdehidrasi
merupakan bahan pengering (drying agents) yang sangat baik. Penyerapan air akan
membuat kation kembali menuju keadaan koordinasi tinggi. Contohnya yaitu :
Mengingat sifat zeolit yang dapat menyerap gas CO2, maka zeolit dapatdimanfatkan untuk hal
pencemaran udara dan air. Pencemaran tidak hanyaterjadi karena adanya partikel yang tidak
diinginkan tetapi dapatdisebabkan pula oleh kadar oksigen yang menurun.
- Zeolit sebagai penukar ion
Kation Mn+ pada zeolit dapat ditukarkan oleh ion lain yang terdapat pada larutan yang
mengelilinginya. Dengan sifat ini zeolit-A dengan ion Na+ dapat digunakan sebagai pelunak air (
water softener) dimana ion Na+ akan digantikan oleh ion Ca 2+ dari air sadah. Zeolit yang telah
jenuh Ca2+ dapatdiperbarui dengan melarutkannya ke dalam larutan garam Na+ atau K+
murni.Contohnya yaitu:
1. Zeolit-A sekarang ditambahkan ke dalam deterjen sebagai pelunak air menggantikan
polipospat yang dapat menimbulkan kerusakan ekologi.
2. Zeolit juga digunakan untuk mengurangi tingkat pencemaran logam beratseperti Pb, Cd, Zn,
Cu2+, Mn2+, Ni2+ pada lingkungan. Modifikasi zeolit sebagai adsorben anion seperti NO3-,
Cl,dan SO - telah dikembangkan melalui proses kalsinasi zeolit-H pada suhu 550 C.
4

- Zeolit sebagai adsorben


Zeolit yang terdehidrasi akan mempunyai struktur pori terbuka dengan
internal surface area besar sehingga kemampuan mengadsorb molekul selain air semakin
tinggi. Ukuran cincin dari jendela yang menuju rongga menentukan ukuran molekul yang dapat
teradsorb. Sifat ini yang menjadikan zeolit mempunyai kemampuan penyaringan yang sangat
spesifik yang dapat digunakan untuk pemurnian dan pemisahan. Contohnya yaitu:
Zeolit dapat digunakan sebagai adsorben zat warna brom dan untuk pemucatan minyak sawit
mentah.
- Zeolit sebagai katalis
Aktivitas katalitik dari zeolit terdeionisasi dihubungkan dengan keberadaan situs asam yang
muncul dari unit tetrahedral [AlO4] pada kerangka. Situsasam ini bisa berkarakter asam
Bronsted maupun asam Lewis. Zeolit sintetik biasanya mempunyai ion Na+ yang dapat
dipertukarkan dengan proton secara langsung dengan asam, memberikan permukaan gugus
hidroksil (situsBronsted). Jika zeolit tidak stabil pada larutan asam, situs Bronsted dapatdibuat
dengan mengubah zeolit menjadi garam NH4 + kemudian memanaskannya sehingga terjadi
penguapan NH3 dengan meninggalkan proton. Contohnya yaitu:
Zeolit digunakan sebagai katalisator pada proses gasifikasi batubara,terutama batubara yang
berkadar belerang dan atau nitrogen tinggi. Penggunaan zeolit dapat membantu untuk
memperoleh gas batubara yang bersih karena zeolit tersebut dapat menyerap unsur-unsur
pengotor. Caralain dalam proses gasifikasi batubara, terutama batubara insitu, yaitudengan
menghembuskan gas oksigen (oksigen cair) ke dalam endapantersebut.
2.5 Bentonit
Bentonit adalah clay yang sebagian besar terdiri dari montmorillonit dengan mineral-mineral seperti
kwarsa, kalsit, dolomit, feldspars, dan mineral lainnya. Montmorillonitmerupakan bagian dari kelompok smectit
41

dengan komposisi kimia secara umum(Mg,Ca)O.Al2O3.5SiO2.nH2O. Nama monmorilonit itu sendiri berasal
dari Perancis pada tahun 1847 untuk penamaan sejenis lempung yang terdapat di MonmorilonPrancis yang
dipublikasikan pada tahun 1853 1856. Bentonit berbeda dari clay lainnya karena hampir seluruhnya (75%)
merupakan mineral montmorillonit. Mineral montmorillonit terdiri dari partikel yang sangat kecil sehingga hanya
dapat diketahui melalui studi mengunakan XRD (X-RayDifraction). Berdasarkan kandungan alumino silikat
hidrat yang terdapat dalam bentonit, maka bentonit tersebut dapat dibagi menjadi dua golongan :
Activated clay, merupakan lempung yang mempunyai daya pemucatan yang rendah
b. Fullers earth, merupakan lempung yang secara alami mempunyai sifat
daya serap terhadap zat warna pada minyak, lemak, dan pelumas.

Bentonit

Bentonit terbentuk dari abu vulkanik, yang sifat materialnya tidak menyerap terhadap air. Secara umum
terjadinya endapan bentonit dialam terbagi menjadi empat yaitu :
Terjadi karena pelapukan batuan
Faktor yang mempengaruhi pelapukan batuan adalah komposisi kimiawi mineral batuan induk, dan
kelarutannya dalam air. Mineral-mineral utama dalam pembentukan bentonit adalah plagioklas, kalium-feldspar,
biotit, muskovit, serta sedikit kandungan senyawa alumina dan ferromagnesia. Secara umum, faktor yang
mempengaruhi pelapukan batuan ini adalah iklim, jenis batuan, relief, dan tumbuh-tumbuhan yang
berada di atas bantuan tersebut. Pembentukan bentonit sebagai hasil pelapukan batuan dapat juga disebabkan
oleh adanya reaksi antara ion-ion hidrogen yang terdapat di dalam air, dan di dalam tanah dengan persenyawaan
silikat yang terdapat di dalam air dan batuan.
Terjadi karena proses Hidrotermal
Proses batuan mempengaruhi alternasi yang sangat lemah, sehingga mineral-mineral yang kaya akan
magnesium, seperti biotit cenderung membentuk mineral klorit. Kehadiran unsur-unsur logam alkali dan alkali
tanah (kecuali kalium), mineral mika, ferromagnesia, feldspar, dan plagioklas pada umumnya akan membentuk
monmorilonit, terutama disebabkan karena adanya unsur magnesium. Larutan hidrotermal merupakan larutan
yang bersifat asam dengan kandungan klorida, sulfur, karbon dioksida, dan silika. Larutan alkali ini selanjutnya
akan terbawa keluar dan bersifat basa, dan akan tetap bertahan selama unsur alkali tanah tetap terbentuk sebagai
akibat penguraian batuan asal dan adanya unsur alakali tanah akan membentuk bentonit
Terjadi karena proses transformasi
42

Proses transformasi (pengabuan) abu vulkanis yang mempunyai komposisi gelas akan menjadi mineral
lempung yang lebih sempurna, terutama pada daerah danau, lautan, dan cekungan sedimentasi. Transformasi dari
gunung berapi yang sempurna akan terjadi apabila debu gunung berapi diendapkan dalam cekungan seperti danau
dan air. Bentonit yang terjadi akibat proses transformasi pada umumnya bercampur dengan sedimen laut lainnya
yang berasal dari daratan, seperti batu pasir dan danau.
Terjadi karena proses pengendapan batuan
Proses pengendapan bentonit secara kimiawi dapat terjadi sebagai endapan sedimen dalam suasana basa (alkali),
dan terbentuk pada cekungan sedimen yang bersifat basa, dimana unsur pembentuknya antara lain: kabonat, silika,
fosfat, dan unsur lainnya yang bersenyawa dengan unsur alumunium dan magnesium Sedangkan berdasarkan
tipenya, bentonit dibagi menjadi dua, yaitu :
Tipe Wyoming
Na bentonit memiliki daya mengembang hingga delapan kali apabila dicelupkan ke dalam air, dan tetap
terdispersi beberapa waktu di dalam air. Dalam keadaan kering berwarna putih atau cream, pada keadaan basah
dan terkena sinar matahari akan berwarna mengkilap. Perbandingan soda dan kapur tinggi, suspensi koloidal
mempunyai pH: 8,5-9,8, tidak dapat diaktifkan, posisi pertukaran diduduki oleh ion-ion sodium (Na+).
Mg
Tipe bentonit ini kurang mengembang apabila dicelupkan ke dalam air, dan tetap terdispersi di dalam air,
tetapi secara alami atau setelah diaktifkan mempunyai sifat menghisap yang baik. Perbandingan kandungan Na
dan Ca rendah, suspensi koloidal memiliki pH: 4-7. Posisi pertukaran ion lebih banyak diduduki oleh ion-ion
kalsium dan magnesium. Dalam keadaan kering bersifat rapid slaking, berwarna abu-abu, biru, kuning, merah dan
coklat. Penggunaan bentonit dalam proses pemurnian minyak goreng perlu aktivasi terlebih dahulu.
Penambangan Bentonit
Kebanyakan endapan bentonit terdapat dekat dengan permukaan tanah atau ada yang sudah tersingkap
akibat proses pelapukan, oleh karena itu penambangan dilakukan dengan cara penambangan terbuka sistim
jenjang. Berdasarkan kondisi geologi pada daerah potensial mengandung endapan bentonit yang umumnya
berada pada daerah perbukitan sedang dengan variasi daerah daratan rendah maka metode penambangan yang
dapat diterapkan adalah Tambang terbuka. Hal ini didasarkan atas pertimbangan teknis dan ekonomis sesuai
dengan daerah setempat. Prinsip penambangan tambang terbuka ini adalah mengupas lapisan tanah penutup yang
dimulai dari bagian atas perbukitan menuju daerah lereng perbukitan tersebut terutama sampai endapan bentonit
tersingkap dan muncul dipermukaan bumi. Adapun tahap kegiatan penambangan menggunakan metode tambang
terbuka ini adalah :
Tahap Pembabatan ( C l e a r i n g )
Pada tahap ini pekerjaan yang dilakukan adalah pembersihan lahan yang merintangi pekerjaan selanjutnya. Hal ini
misalnya pembuatan jalan masuk tambang, pembuatan parit air untuk menyalurkan air yang akan keluar dari
tambang, menuju daerah yang relatif rendah, penebangan pohon-pohon besar dan kecil, semak-semak dan
pembuatan lahan sebagai tempat penumpukan ataupun tempat pembuangan tanah penutup. Lahan yang dipilih
umumnya tidak jauh dari kegiatan penambangan.
Tahap Perintisan ( P i o n e e r i n g )
Pada tahap ini pekerjaan yang umumnya dilakukan adalah kelanjutan dari pekerjan pembabatan. Dalam pekerjaan
ini hal yang penting adalah pembuatan dan perencanaan jalan masuk dan jalan keluar tambang. Tujuannya adalah
untuk memperlancar kegiatan penambangan terutama kelancaran alat mekanis yang akan bekerja secara optimal.
Tahap Pengupasan Tanah Penutup ( S t r i p p i n g )
Pada tahap ini perkerjaan yang dilakukan adalah pengupasan lapisan tanah penutup dan langsung memindahkan
pada tempat yang telah disediakan. Pekerjaan ini harus dilakukan secara optimal sehingga tidak mengganggu
43

aktifitas penambangan selanjutnya. Hasil pengupasan tanah penutup ini jika diperlukan dapat dibuang pada daerah
bekas penambangan sebagai upaya menjaga lahan agar tetap seimbang demi kelestarian lingkungan. Pada akhir
penambangan nanti, dapat dilakukan upaya reklamasi berupa penanaman pohon.
Tahap pembongkaran ( L o o s e n i n g )
Pada tahap ini dapat juga dikatakan sebagai tahap kegiatan penambangan dimana endapan bahan galian bentonit
yang telah muncul ke permukaan bumi digali oleh alat mekanis maupun alat tradisional. Jika diperlukan produksi
besar maka alat mekanis dapat dipertimbangkan pemakaiannya sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain mudah dan
praktis pemakaiannya, pemakaian alat mekanis secara ekonomis dapat memberikan keuntungan secara tepat.
Peralatan mekanis yang dapat dipakai untuk menunjang kegiatan penambangan bentonit antara lain adalah Back
Hoe, Power Shovel, Bulldozer dan Claim Shell. Sedangkan pemakaian alat tradisional adalah sekop dan cangkul.
Tahap Pembuatan ( L o a d i n g )
Pada tahap ini perkerjaan yang dilakukan adalah pemuatan hasil penggalian yang telah dilakukan oleh peralatan
mekanis dan tradisional. Bentonit yang telah digali dan dimuat selanjutnya diangkut dengan Dump Truck menuju
ke tempat penampungan sementara (Stock Pile) maupun langsung menuju gudang yang telah disediakan.
Pekerjaan pemuatan dan penggalian diusahakan sinkron untuk mencapai hasil yang optimal. Peralatan mekanis
yang umumnya dipakai adalah Bulldozer dengan berbagai tipe dan kapasitas daya angkutnya. Pemilihan alat
angkut disesuaikan dengan kondisi lapangan dan produksi yang akan dihasilkan oleh perusahaan tambang
Tahap Pengangkutan
Pada tahap ini pekerjaan yang dilakukan adalah mengangkut bahan galian ke tempat yang telah disediakan baik
stock pile maupun gudang. Peralatan mekanis yang lazim dipakai adalah Dump Truck dengan berbagai variasi
daya angkutnya.
Proses pengolahan Bentonit
Hasil bentonit dari tambang yang berupa bongkahan diangkut dengan truk menuju pabrik pengolahan
dengan melalui beberapa proses yaitu penghancuran, pemanasan, penggilingan dan pengayakan. Untuk
pengecilan ukuran, digunakan temperatur 480 F. tujuan pengeringan adalah mengurangi kadar air rata-rata 30%
menjadi kadar air rata-rata sebesaar 8%. sedangkan penggerusan dan pengemasan, umumnya bentonit digerus
sampai 200 mesh dengan micro grider dan untuk mendapatkan - 200 mesh digunakan classifier.Teknik
pengolahan bentonit untuk keperluan sebagai berikut :A. Pembuatan Urea Molasses Block (Makanan Tambahan
Untuk Ternak)bahan utama yang diperlukan antara lain mollasses (tetes tebu) sebagai sumber energi, pupuk urea
sebagai sumber nitrogen (protein) dan bahan pengisi berupa dedak padi, dedak gandum, bungkil kelapa, bungkil
biji kapuk, sebagai bahan pengeras dipakai bentonit, tepung batugamping dan sebagai bahan tambahan dipakai
garam dapur dan mineral campuran.Proses pengolahan adalah sebagai berikut :
Cara Dingin
Cara ini hanya digunakan dengan mencampur mollasses dan urea dengan bahan lain sebagai bahan pengisi,
pengeras dan bahan tambahan lainnya sampai adonan menjadi merata kemudian dipadatkan dengan cetakan.
Cara ini digunakan apabila mollasses yang diolah relatif sedikit.
Cara Hangat
Mula-mula mollasses dipanaskan sampai suhu antara 400 C dan 500 Setelah tercapai kondisi suhu tersebut maka
dicampur dengan urea, bahan pengisi pengeras dan bahan tambahan lainnya. Setelah adonan menjadi rata
kemudian dicetak dan dipadatkan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan.
Cara Panas
Pembuatan makanan ternak dengan cara panas dilakukan apabila jumlah mollasses (tetes tebu) dan bahan pengisi
dipanaskan sampai suhu 1000 C - 1200 C selama 10 menit. Setelah adonan didinginkan sampai suhu 700 C maka
44

adonan dicampur dengan urea dan bahan pengeras lainnya kemudian dituangkan ketempat percetakannya dan
adonan tersebut diaduk terus agar tidak mengeras. Jumlah bentonit yang dicampurkan ke dalam adonan adalah
sebanyak 2 - 6 % dari jumlah adonan.
Pemanfaatan Bentonit
Bentonit banyak sekali bermanfaat bagi kebutuhan manusia terutama dalam kebutuhan dunia industri, adapun
pemanfaatan bentonit antara lain :
Karena bentonit mempunyai sifat Bleaching Eath . Bentonit yang mempunyai poripori mineral yang besar akan menyaring dan menyerap mineral-mineral pengotor
pada minyak kelapa sawit setengah jadi. Pada akhirnya minyak kelapa sawit /
minyak goreng akan murni dan bening.
a. Pencegah pembocoran bendungan
Karena mineral bentonit akan mengembang saat didalam air, para engineer
menggunakan bentonit untuk menambal kebocoran pada dam atau bendungan yang
akan merekat kuat pada dinding dam dan akan mengembang menutup lubang.
b. Pemurnian alcohol
Prosesnya sama dengan pemurnian minyak goreng yang menggunakan sifat
bleaching eath dari bentonit.Namun penyaringan alcohol ini dengan fenol yang
tidak dapat lolos dari penyaringan dari pori-pori bentonit.
c. Campuran pakan ternak
Setelah digiling dicampurkan makan ternak agar makanan ternak tidak bau
d. Cetakan untuk casting
Karena bentonit mempunyai daya ikat yang baik serta tahan terhadap temperature
tinggi.Bentonit juga mempunyai daya tahan yang cukup baik.Cetakan bentonit
untuk casting ini sering disebut brekbond
e. Penghilang bau bak sampah
Bahan dari tong sampah yang biasanya pada restoran menggunaka bentonit karena
bentonit dapat menyerap mineral-mineral yang berbau yang dihasilkan sampah.
f. Bahan lumpur bor saat drilling
Bentonit yang digunakan Ca-bentonit . Melalui pertukaran ion, sehingga terjadi
perubahan menjadi Na-bentonit dan diharapkan terjadi peningkatan sifat reologi
dari suspensi mineral tersebut Agar mencapai persyaratan sebagai bahan lumpur
sesuai dengan spesifikasi standar, perlu ada penambahan polimer. Hal itu dapat
dilakukan melalui aktivasi bentonit untuk bahan lumpur bor. Lumpur bentonit
diletakkan agar material yang sudah dibor tidak merusak mata bor drilling

45

BAB III
KESIMPULAN
kesimpulan yang didapat dari makalah ini adalah
1. Pengolahan mineral adalah sutu proses pemisahan antara mineral berharga dengan mineral
tak berharga(gangue). dengan menggunakan metode pemisah secara mekanik (tidak ada
perubahan massa, dan kimia) untuk menghasilkan suatu produk berharga / bijih dalam
bentuk umpan menjadi konsentrat (mineral berharga) dan tailing (mineral tidak berharga).
2. Gravity concentration adalah proses pemisahan anatara mineral berharga dan mineral tak
berharga berdasarkan perbedaan berat jenis atau density. Gravity concentration mempunyai
beberapa alat yang digunakan seperti humprey spiral, shaking table, sluice box dan jig
dengan mekanisme yang berbeda-beda.

46

3. Magnetic separator merupakan peralatan yang digunakan untuk memisahkan Mineralmineral magnetik dengan Mineral non-magnetik.
4. electro separation adalah suatu proses pemisahan partikel dalam suatu mineral berdasarkan
sifat perbedaan kelistrikannya. Dalam electro separation berdasarkan konduktivitasnya dapat
dibedakan menjadi electrodynamic separation dan electrostatic separation.
5. Proses flotasi dengan reagen kimia terdapat modifier, kolektor dan frother. Flotasi sendiri
merupakan suatu proses pemisahan mineral berharga dengan gangue berdasarkan perbedaan
sifat permukaan(hidrofilik atau hidrofobik).
6. Terdapat berbagai kegunaan yang didapat dari mineral bentonit seperti pada bidang limbah

industry, daan pertanian sedangkan zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal
alumino silikat yang terhidrasi dengan mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam
kerangka tiga dimensi.

47