Anda di halaman 1dari 28

SELF

LAPORA POTENTI
N
AL

Oleh :
MASRURO AMALIA

3713100008

FADLILLAH NUR RAHARJO

3713100022

BIMAKURNIA SEPTADI
FARID HENDRA PRADANA
NUR MUHAMMAD ZAIN

3713100023
3713100033
3713100043

DIMAS RAHFADITYA PRADANA 3713100052

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015

Daftar Isi

COVER..................................................................................... 1
DAFTAR ISI............................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN................................................................3
1.1........................................................................................ L
atar Belakang....................................................................3
1.2........................................................................................ R
umusan Masalah................................................................3
1.3........................................................................................ T
ujuan................................................................................. 3
1.4........................................................................................ M
anfaat...............................................................................3
BAB II DASAR TEORI..................................................................4
2.1........................................................................................ P
engertian Metode SP..........................................................4
2.1.1........................................................................................ P
otensial Spontan..............................................................5
2.1.2........................................................................................ P
otensial Elektrik...............................................................6
2.2. Penerapan Metode SP........................................................6
2.3. Teknik Pengukuran.............................................................7
2.4. Resistivitas Batuan............................................................9
BAB III METODOLOGI PENELITIAN...............................................11
3.1 Alat dan Bahan
...............................................................................................
11
3.2 Langkah Kerja
...............................................................................................
11
3.3 Skema Kerja
...............................................................................................
12
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN..................................13
4.1 Tabel Data Hasil Percobaan................................................13
4.2 Grafik Hasil Percobaan .....................................................14
4.3 Pembahasan.....................................................................14
4.3.1
Interpretasi
Kualitatif
...............................................................................................
14

4.3.2
Interpretasi
Kuantitatif
...............................................................................................
18
BAB V KESIMPULAN..................................................................22
DAFTAR
ISI
...............................................................................................
23
LAMPIRAN
...............................................................................................
24

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Metode SP adalah metode geofisika dengan prinsip kerja mengukur
tegangan statis pada alam yang berada pada titik-titik di permukaan
tanah. Metode ini merupakan metode yang paling sederhana karena
hanya memerlukan alat ukur tegangan dan elektroda khusus yang
dinamakan porous pot. Sehingga kita dapat mmeroleh informasi bawah
tanah melalui pengukuran tanah tanpa menginjeksikan arus listrik
melalui permukaan tanah.
Porous pot yang digunakan ada 2 buah yakni porous pot pertama
digunakan sebagai base (elektroda tetap) dan porous pot yang kedua
digunakan sebagai rover (elektroda bergerak). Porous pot yang kedua
dipindahkan ke titik-titik secara berurutan sepanjang lintasan yang
sudah ditentukan dengan jarak lintasan 100m dan jarak masingmasing titik 5m.
Mengetahui sumber yang dapat menyebabkan terjadinya perbedaan
potensial sangat penting untuk mengurangi noise. Pengolahan data
biasanya dilakukan dengan membuat peta potensial dengan elektrode
base dan elektrode rover. Dalam melakukan survey SP perlu dilakukan
pengamatan pada daerah pengukuran sehingga dapat mengetahui
penyebab terjadinya perbedaan beda potensial.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang timbul pada praktikum ini adalah apa saja
yang perlu diperhatikan dalam melakukan survey SP dan bagaimana
cara melakukan survey SP.
1.3. Tujuan
3

Tujuan dilakukan praktikum ini adalah untuk mengetahui hal-hal


yang perlu diperhatikan dalam melakukan survey SP dan cara
melakukan survey SP.

1.4. Manfaat
Setelah dilakukan praktikum SP diharapkan kelompok kami dapat
memahami hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan survey
SP dan cara melakukan survey SP.

BAB II
DASAR TEORI

2.1. Pengertian Metode SP


Metode SP adalah metode yang pasif, beda potensial alami yang
dihasilkan oleh suatu material geologi di suatu daerah survey diukur
diantara dua titik elektroda di permukaan tanah. Beda potensial yang
terukur mulai dari beberapa milivolt hingga lebih dari satu volt. Positif dan
negatif harga beda potensial adalah faktor yang penting di dalam
interpretasi anomali SP.
Pada tabel 1. ditampilkan beberapa tipe umum untuk anomali SP
dan sumber geologi yang menghasilkan anomali tersebut. Tetapi sebagai
tambahan, geometri dari struktur geologi dapat juga memberikan anomali
SP, sehingga sumber-sumber pada tabel berikut hanya digunakan sebagai
petunjuk.
Tabel 2.1. Sumber dan tipe umum anomaly SP

Potensial alami terdiri dari dua komponen, komponen pertama


bernilai konstan dan tak berarah, sedangkan komponen berikutnya
berfluktuasi dengan waktu. Komponen konstan berhubungan dengan
proses elektrokimia sedangkan komponen variabel berhubungan dengan
variasi dari berbagai proses, seperti induksi arus bolak balik akibat adanya
petir dan medan magnetik bumi. Di dalam eksplorasi mineral kedua
komponen
tersebut
dikenal
dengan
nama mineral
potensial dan backgroud potentials.
2.1.1. Potensial Spontan
Potensial alami dapat terjadi akibat adanya perbedaan material,
konsentrasi larutan eletroktrolit dan atau adanya suatu aliran fluida.
Beberapa
kejadian
lain
adalah
terbentuknya
potensial
spontan (spontaneous potentials) seperti akibat adanya perbedaan
mineralisasi, reaksi elektrokimia, aktivitas geotermal, dan bioelektrik yang
dihasilkan oleh tumbuhan. Interpretasi bawah permukaan dapat dilakukan
dengan memetakan potensial spontan tersebut.
Terdapat beberapa teori yang menjelaskan proses terjadinya
potensial spontan dari mineral. Pengukuran lapangan mengindikasikan
bahwa beberapa mineral harus berada di dalam zona oksidasi agar
anomali SP dapat muncul ke permukaan. Teori ini menjelaskan bahwa
badan bijih befungsi sebagai sel galvanic yang menghasilkan beda
potensial. Deskripsi teori ini dapat diperhatikan pada gambar 1 berikut.

Gambar 2.1. Zona oksidasi sulfide yang berfungsi sebagai sel galvanic

2.1.2. Potensial Elektrik


Terdapat tipe potensial elektrik yang diketahui yaitu :
1. Potensial elektrokinetik, disebabkan oleh aliran fluida.
2. Potensial difusi, diakibatkan oleh pergantian larutan ionic dengan
konsentrasi berbeda.
3. Potensial Nernst, terjadi ketika larutan yang berada di antara kedua
konduktor yang sama memiliki konsentrasi yang berbeda.
4. Potensial mineral, dihasilkan dipermukaan
dengan permukaan medium lain.

akibat

kontaknya

Tabel 2.2. Tipe potensial elektrik

2.2. Penerapan Metode SP


Self Potential umumnya berhubungan dengan perlapisan tubuh
mineral sulfide (weathering of sulphide mineral body). Aktivitas
elektrokimia dan mekanik adalah penyebab dari Self Potential (SP) di
permukaan bumi. Salah satu faktor pengontrol dalam proses ini adalah air
tanah. Potensial ini juga berhubungan erat dengan pelapukan yang terjadi
pada mineral, variasi sifat batuan, aktivitas biolistrik dari material organik,
korosi, perbedaan suhu dan tekanan dalam fluida di bawah permukaan
dan fenomena-fenomena alam lainnya (Telford,1990).
6

Pengukuran Self Potential sangatlah sederhana, hanya menggunakan


elektroda non-polar yang berhubungan ke multimeter yang memiliki
impedansi input lebih besar dari 108 ohm, digunakan untuk mengukur
dalam jangkauan mili-volt yaitu kurang lebih 1mV. Elektroda dibuat
sedemikian rupa sehingga bagian bawah bersifat porous yang di
dalamnya diberi cairan elektrolit, yang berfungsi sebagai kontak antara
permukaan tanah yang akan diukur dengan elektroda tembaganya.
Bentuk penampang melintang dari elektroda non-polarnya (John, 2004).
Perbedaan potensial dihasilkan di dalam bumi atau di dalam batuan
yang teralterasi oleh kegiatan manusia maupun alam. Potensial alami
terjadi akibat ketidaksamaan atau perbedaan material-material , dekat
larutan elektrolit dengan perbedaan konsentrasi dan karena aliran fluida
di bawah permukaan. Hal lain yang mengakibatkan terjadinya Self
Potential di bawah permukaan bumi yang mana dipetakan untuk
mengetahui informasi di bawah permukaan, Self Potential dapat
dihasilkan oleh perbedaan mineralisasi, reaksi (kegiatan) elektromkimia,
aktivitas geothermal dan bioelektrik oleh tumbuh-tumbuhan (vegetasi).
(Suhanto,2005).
2.3. Teknik Pengukuran
Pengukuran dengan metode SP cukup sederhana, dua elektroda
porous-pot dihubungkan dengan multimeter dengan precisi tinggi dengan
input impedansi lebih dari 10 8 ohms dan kemampuan mengukur hingga
ketelitian 1 mV. Tiap elektroda dibuat dari plat tembaga yang berada di
dalam larutan jenuh tembaga sulfat yang dapat berhubungan dengan
tanah dan menghasilkan listrik (gambar C.1). Selain itu, eletroda seng di
dalam larutan jenuh seng sulfat atau elektroda perak di dalam larutan
jenuh perak klorida, dapat digunakan untuk menggantikan tembaga dan
larutan tembaga sulfat.
Terdapat dua teknik pengukuran di lapangan, yaitu metode
potensial gradien dan metode potensial amplitudo.

Gambar 2.2. Elektroda Porous Pot

Metode potensial gradien menggunakan dua elektoda yang terpisah


secara tetap dengan jarak 5 m atau 10 m. Hasil pengukuran perbedaan
potensial dibagi dengan spasi elektroda menghasilkan potensial gradien.
Titik pergukuran adalah titik tengah diantara kedua elektroda tersebut.
Kedua elektoda berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Pada metode
pengukuran ini yang perlu diperhatikan adalah pencatatan polaritas
potensial.
Pada metode potensial amplitudo, satu elektroda dibiarkan menjadi
titik tetap di base station yang berada diluar daerah mineralisasi dan
mengukur perbedaan potensial diantara kedua elektroda. Sedangkan
elektroda lainnya selalu berpindah sesuai lintasan pengukuran (leapfroged). Metode ini menghindari problem polaritas dan akumulatif error.
Tetapi yang perlu diperhatikan adalah menjaga suhu larutan elektrolit
pada elektroda yang berpindah-pindah agar tetap sama dengan suhu
pada elektroda di base station. Koefisien suhu untuk tembaga-tembaga
sulfat, sekitar 0,5 mV/0C sedangkan untuk elektroda perak-perak klorida
sekitar 0,25 mV/0C.

Gambar 2.3. (A) metode potensial gradient dan (B) metode potensial amplitudo.

Sensitivitas metode SP, untuk kedalaman maksimun adalah sekitar 60


100 meter, tergantung kedalaman badan bijih dan sifat overburdennya.
Pengukuran SP dapat juga dilakukan di atas air dengan tujuan pengukuran
potensial streaming. Elektroda ditempatkan di tempat khusus sehingga
elektroda tersebut dapat terhubung dengan air tanpa kehilangan larutan
elektrolit dari dalam pots. Metode ini hanya dapat dilakukan jika terdapat
aliran arus (vertikal ataupun horizontal) meskipun sangat sedikit (Ogilvy,
1969).
Hasil pengukuran digrafikkan antara jarak (m) dengan hasil
pengukuran (mV). Jika gradien hasil pengukuran memperlihatkan gradien
yang tinggi (negatif ke positif yang tinggi) terhadap zero level dapat
dijadikan sebagai indikator anomali (titik infleksi), lihat gambar berikut.

Gambar 2.4. Potensial diri dan gradien potensial diri sepanjang


penampang melintang tubuh bijih.
Hasil dari survei potensial ini disajikan dalam bentuk peta
isopotensial, dan interpretasi dilakukan terhadap daerah anomali dengan
menggunakan penampang melintang yang memotong daerah anomali.

2.4 Resistivitas Batuan


Setiap batuan memiliki karakteristik tersendiri tak terkecuali dalam
hal sifat kelistrikannya. Salah satu sifat batuan tersebut adalah resistivitas
(tahanan jenis) yang menunjukkan kemampuan bahan tersebut untuk
menghantarkan arus listrik. Semakin besar nilai resistivitas suatu bahan
maka semakin sulit bahan tersebut menghantarkan arus listrik, begitu
pula sebaliknya.
Terdapat jangkauan nilai kelistrikan dari setiap batuan yang ada dan
hal ini akan membantu dalam penentuan jenis batuan berdasarkan harga
resistivitasnya atau sebaliknya. Gambar dibawah ini menunjukkan nilai
jangkauan tersebut berdasarkan setiap jenis batuan menurut Palacky.
Sebagai contohnya, untuk clays memiliki nilai 5 100 m. Nilai ini tidak
hanya bergantung pada jenis batuan saja tetapi bergantung pula pada
pori yang ada pada batuan tersebut dan kandungan fluida pada pori
tersebut.

10

Gambar 2.5. Rentang resistivitas batuan menurut Palacky.


Tabel 3. Resistivitas Batuan

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan


11

Alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Self


Potensial adalah 2 buah porous pot, satu buah multimeter, bubuk CuSO 4 ,
kabel sepanjang 150m, tali rafia, sekop dan akuades.

3.2. Langkah Kerja


1.
2.
3.
4.

Disiapkan alat dan bahan praktikum.


Diukur lapangan dan dibuat line dengan jarak 5m sebanyak 20 titik.
Dibuat lubang pada setiap titik untuk ditanam porous pot.
Dilarutkan bubuk CuSO4 dengan akuades sampai keadaan
terjenuhkan. Larutan ini berfungsi sebagai larutan penghantar

elektroda.
5. Dimasukkan larutan CuSO4 yang sudah jadi kedalam kedua porous
pot.
6. Dilakukan kalibrasi terhadap dua porous pot hingga nilai voltase
stabil dengan nilai tidak lebih dari +5mV dan -5mV.
7. Dilakukan pengukuran pada porous pot dari dua titik yang berbeda
yakni pada potensial base dan potensial rover.
8. Dicatat nilai voltase pada setiap titik sampai benar-benar stabil.

3.3. Skema Kerja

12

Gambar 3.1. Skema praktikum SP

BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
13

4.1 Tabel Data Hasil Percobaan


Tabel 1. Data Hasil Percobaan
No

Time

Jarak

Hasil Pengukuran (mV)

17:10

-32,4

17:12

10

-30,8

17:14

15

-17,4

17:16

20

-32,4

17:18

25

-32,3

17:19

30

-33

17:20

35

-38,4

17:22

40

-32,6

17:24

45

-40,6

10

17:26

50

-43,8

11

17:28

55

-36,6

12

17:30

60

-39,2

13

17:31

65

-49,2

14

17:33

70

-47,8

15

17:34

75

-46,2

16

17:39

80

-59,4

17

17:41

85

-48,6

18

17:43

90

-54,9

19

17:45

95

-40,2

Tabel 2. Data Hasil Kalibrasi yang Dilakukan di Awal Percobaan


No

Time

Hasil Pengukuran (mV)

17:06

4,6

4.2 Grafik Hasil Percobaan

14

Grafik SP Pengukuran
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

-10
-20
-30
mV
-40
-50
-60
-70
Meter

Gambar 1. Grafik SP Hasil Pengukuran

4.3 Pembahasan
4.3.1. Interpretasi Kualitatif
Pada praktikum ini digunakan 2 buah porous pot sebagai
elektrodanya dengan metode yang dipakai pada praktikum kali ini yaitu
Fix Base. Metode Fix Base merupakan metode pengukuran dimana satu
porous pot diletakkan di base dan satu porous pot diletakkan di titik-titik
pengukuran guna mendapatkan beda potensial yang dicari. Pada metode
tersebut hanya diperlukan kalibrasi alat satu kali saja. Nilai kalibrasi yang
diperoleh oleh kelompok kami yaitu 4,6 mV.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa elektroda yang
digunakan pada praktikum ini yaitu porous pot. Porous pot merupakan
perangkat khusus pengganti elektroda logam yang berfungsi sebagai
penghubung antara alat ukur atau injeksi arus dengan tanah yang
melewati kabel. Berbeda dengan elektroda pada umumnya yang
sebagaian besar terbuat dari logam, porous pot terbuat dari bahan nonlogam. Hal tersebut karena dalam pengukuran nilai SP berupa potensial
dari dalam bumi, jika menggunakan elektroda yang terbuat dari logam
akan mengakibatkan yang terukur adalah beda potensial dari elektroda
logam karena bahan logam akan memicu polarisasi di sekitarnya.
Porous pot berisi tembaga yang digantung sebagai elektroda dalam
larutan CuSO4 yang jenuh. Pemasangan porous pot dilakukan seperti
15

halnya elektroda pada umumnya. Porous pot ditanam kurang lebih 7080% dari ketinggiannya, dengan terlebih dahulu membasahi titik
pengukuran dengan menggunakan air dan ditunggu selama kurang lebih
satu jam sehingga didapatkan titik pengukuran yang lembab. Hal tersebut
dilakukan agar porous pot dapat bekerja dengan optimal.
Berikut model lintasan yang kami pakai dalam praktikum SP ini :

Gambar 2. Kontur Hasil Pengukuran SP yang didapatkan dari Software Surfer

16

Gambar 3. Lintasan Percobaan

Lokasi yang digunakan pada praktikum ini terletak pada samping


gedung Robotika ITS dengan panjang lintasan sebesar 100 meter. Jarak
antar porous potnya yaitu 5 meter sehingga akan didapatkan data
sebanyak 19 data. Praktikum dimulai sejak pukul 17:06 WIB dan selesai
pada 17:45 WIB. Berikut grafik hasil pengukuran SP yang didapatkan :

Grafik SP Pengukuran
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

-10
-20
mV

-30
-40
-50
-60
-70
Meter

Gambar 4. Hasil Pengukuran SP (mV) vs Jarak dari Base

17

Grafik di atas merupakan grafik hasil pengukuran SP yang telah


dilakukan. Melalui grafik yang dihasilkan dapat dilakukan interpretasi
bahwa nilai beda potensial yang terjadi pada daerah percobaan tidaklah
konstan dengan begitu dapat diketahui bahwa pada daerah percobaan
terjadi aktivitas-aktivitas tertentu yang dapat mengakibatkan terjadinya
fluktuasi beda potensial. Akan tetapi dengan data hasil percobaan saja
tidak cukup untuk dapat mengetahui penyebab terjadinya perubahan
beda potensial yang terjadi. Namun, yang kita ketahui bahwa perubahan
nilai beda potensial terjadi disebabkan karena perubahan suhu, gerakan
akar pohon, organisme bawah tanah, hingga keterdapatan kandungan air
dan beberapa faktor lain. Sedangkan, hasil pengukuran yang berupa nilai
negatif (-) dikarenakan lokasi pengukuran merupakan daerah yang kering
dan diketahui bahwa daerah pengukuran merupakan bekas pembangunan
dan di sekitar lokasi adalah daerah pembuangan.
Berikut ini digunakan Software ZondSP2D untuk membantu
interpretasi apa yang terkandung dibawah permukaan titik-titik yang
dilakukan percobaan. Sehingga dapat terlihat dari gambar dibawah ini,
menurut nilai ohm meter yang dimodelkan, diketahui dengan nilai sekitar
800 m adalah nilai resistivitas dari alluvial, dengan nilai sekitar 100 m
bisa berarti merupakan clay atau dapat pula berupa air tanah, sedangkan
dengan nilai sekitar 1000 m merupakan nilai resistivitas dari pasir.

Gambar 5. Hasil interpretasi menggunakan softwre ZondSP2D

18

Gambar 6. Hasil interpretasi menggunakan softwre ZondSP2D

4.3.2. Interpretasi Kuantitatif


Interpretasi kuantitatif yang dilakukan pada percobaan ini guna
mendapatkan perkiraan kedalaman dari anomali (h dan H) atau
perubahan potensial dan sudut dari penyebarannya ( ), yang
didapatkan dari rumus berikut :

Sebelum mencari parameter-parameter tersebut, terlebih dahulu


dilakukan penghalusan pada data (smoothing) dengan menggunakan
fungsi polinomial agar interpretasi data dapat dilakukan dengan lebih
mudah. Penghalusan data dilakukan dengan menggunakan software
MatLab, berikut hasilnya :

19

Tabel 3. Data hasil smoothing dengan menggunakan software MatLab.


x

Hasil Smoothing
Pol 6

Pol 3

-33,24336094

-30,50984279

10

-26,30935829

-29,0982684

15

-25,50764656

-28,60171552

20

-27,76931018

-28,8991409

25

-31,0477623

-29,86950129

30

-34,12668423

-31,39175345

35

-36,43959788

-33,34485411

40

-37,90107136

-35,60776004

45

-38,74955752

-38,05942798

50

-39,40186569

-40,57881468

55

-40,31926634

-43,0448769

60

-41,88522889

-45,33657137

65

-44,29479257

-47,33285486

70

-47,45557028

-48,91268412

75

-50,90038561

-49,95501588

80

-53,71154281

-50,33880691

85

-54,45672992

-49,94301395

90

-51,13655487

-48,64659376

95

-41,14371472

-46,32850308

Berikut grafik hasil dari dilakukannya smoothing data :


20

Grafik SP Hasil Smoothing dengan Pol Orde 6


0

10

15

20

25

30

35

40

45

50

55

60

65

70

75

80

85

90

95

-10
-20
mV

-30

f(x) =

-40

Vmi
n+ 0x^5 - 0.07x^4 + 1.09x^3 - 8.01x^2 + 24.36x - 50.6
- 0x^6
Origin
(0,0)

-50
-60

Vma
x

Meter

Gambar 5. Hasil Smoothing dengan Menggunakan Polynomial Orde 6

Grafik SP Hasil Smoothing dengan Pol Orde 3


0

10

15

20

25

30

35

40

45

50

55

60

65

70

75

80

85

90

95

-10
-20
mV

-30
-40

Vmi
n - 0.58x^2 + 3.01x - 32.96
f(x) = 0.02x^3
Origin
(0,0)

-50

Vma
x

-60
Meter

Gambar 6. Hasil Smoothing dengan Menggunakan Polynomial Orde 3

Setelah dilakukan smoothing pada data, didapatkan grafik dari hasil


percobaan yang lebih sederhana. Dari grafik hasil smoothing tersebut
21

akan dilakukan interpretasi secara kuantitatif yaitu guna mendapatkan


parameter kedalaman ujung atas anomali (h), kedalaman ujung bawah
anomali (H), dan kemiringan dari arah penyebaran anomali ( ). Dengan
keterangan parameter-parameter lain yang digunakan yaitu X0 : jarak
Vmax dan Vmin; Xs : jarak simetris yaitu jarak dari titik origin (0,0) ke titik
yang mempunyai amplitudo yang sama tetapi berlainan tanda; Xmax :
jarak dari titik origin ke titik yang memunyai voltase maksimum; Xmin :
jarak dari titik origin ke titik yang mempunyai voltase paling minimum.
Sehingga, dengan rumus yang diberikan di atas maka didapatkan tabel
data sebagai berikut :

Pol 6
Pol 3

X0

Xs

Xmax

Xmin

Teta

35

45

35

35

35

42

-0,42143

35

32,403
7

42

-0,74066

32,5

45

30

Dari tabel tersebut didapatkan bahwa kedalaman ujung atas anomali (h)
berada pada kedalaman 32,4037 35 meter, kedalaman ujung atas
anomali (H) berada pada kedalaman 42 meter, dan sudut penyebaran
anomalinya yaitu -0,42143 -0,74066o.

BAB V

22

16

15

KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data yang telah
disimpulkan dari praktikum SP ini bahwa :

dilakukan,

maka

dapat

Variabel-variabel yang memengaruhi nilai SP tidak dapat diketahui


hanya berdasarkan data SP saja, perlu dilakukan survey yang lain.
Penggambaran daerah lokasi pada pengambilan data SP sangatlah
penting, sehingga hasil pengukuran yang didapatkan dapat
dikorelasikan dengan keadaan sekitar.
Nilai SP menunjukkan negatif (-) menandakan bahwa daerah
pengukuran merupakan daerah yang kering sedangkan nilai SP yang
positif menunjukkan daerah tersebut lebih lembab atau basah.
Dalam melakukan survey SP perlu dilihat lokasi di sekitar lintasan
yang mungkin dapat memengaruhi hasil data yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA

Darjanto, Totok dan Syafrizal; Eksplorasi Endapan Bahan Galian (Modul


Pelatihan), Dirjen Pertambangan Umum dan LPM ITB, 1997
23

Hendrajaya, L., dan Arif, I. 1988. Geolistrik Tahanan Jenis. Laboratorium


Fisika Bumi. Jurusan FMIPA. ITB. Bandung.
John W, Sanders. 2004. Detectivy Seepage Through a Natural Moraine
Dam using The Self Potensial Method. New York: University Press.
Notosiswono, Sudarto. Syafrizal. Heriawan, M. Nur; Teknik Eksplorasi
(Buku Ajar), Jurusan Teknik Pertambangan ITB, 2000
Reynolds, John. 1997. An Introductions to Applied and Enviromental
Geophysics. Singapore: John Willey and Sons.
Suhanto, E dan Bakrun. 2005. Penyelidikan Geolistrik Tahanan Jenis di
Daerah Panasbumi Pincara Kabupaten Masamba Sulawesi Utara.
Pemaparan Hasil Kegiatan Lapangan Subdit Panasbumi.
Sulistijo, Budi; Geofisika Cebakan Mineral I (Catatan Kuliah), Program Studi
Teknik Pertambangan, 2003
Telford,W, M, Geldart,L, P, Sheriff,R ,E, & Keys,D, A. 1990. Applied
Geophysics.
Cambridge
University
Press.
New
York.
London.Melbourne.

LAMPIRAN

Pengambilan Data Titik Base Titik 20

24

25

26

27

28