Anda di halaman 1dari 19

tehnik pemeliharaan larva udang vannmei (litopanaeus

vannamei)
KATA PENGANTAR
Hamdan Wasyukran Lillah, Shalatan Wasalaman Lirasulillah, sehingga penulis dapat menyelesaikan
magang dengan baik berjudul Tehnik Pemeliharaan Larva Udang Vannamei (Litopanaeus Vannamei)
di Instalasi Pembenihan Udang (IPU) Gelung Balai Budidaya Air Payau Kecamatan Penarukan,
Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Pada laporan ini dijelaskan tentang tehnik pemeliharaan larva dari
penebaran naupli sampai packing serta pengangkutannya.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari bimbingan, pengarahan, bantuan dan kerjasama dari
berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak dan ibu sekeluarga yang telah selalu memberikan semangat dan bimbingan.
2. K.H.R. Ach.Fawaid Asad Syamsul Arifin selaku pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah
Sukorejo Situbondo yang telah memberikan ijin magang di IPU Gelung, BBAP Situbondo
3. Ir. Abdul Muqsith selaku direktur dan seluruh stafnya
4. Bapak Eko Sutrisno, S.Pi selaku koordinator Instalansi Pembenihan Udang Gelung, Balai Budidaya
Air Payau Situbondo.
5. Bapak Susetyo Pramujo S.Pi selaku Dosen Pembimbing lapangan.
6. Bapak Didit Krisdianto S.Pi selaku Dosen Pembimbing magang.
7. Bapak Sujipno, H. Nawawi, Edi Muktar dan segenap karyawan beserta karyawati Instalansi
Pembenihan Udang Gelung, Balai Budidaya Air Payau Situbondo, Jawa Timur.
8. Nyimas dan Ratri dari STP Jakarta, Fathur, Fajar dari APERIK Ibrahimy beserta teman-teman baik
dari APS, SMK Suboh dan SMK Arsyibaruna yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penyusunan laporan ini,sehingga penulis
mengharap kepada segenap pembaca untuk memberikan koreksi yang konstruktif dalam tehnik
pemeliharaa larva udang vannamei.dengan demikian kesempurnaan akan tercapai. Semoga laporan
ini dapat berguna dan bermanfaat dalam menambah pengetahuan bagi penyusun pada khususnya
dan pembaca pada umumnya.
Situbondo, 28 Maret 2011
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN I
KATA PENGANTAR II
DAFTAR ISI III
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Alasan memilih judul 2
1.3 Tujuan 2
1.4 Manfaat 3
1.5 Tempat dan Waktu 3
1.6 Metode 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1 Biologi Udang Vannamei 4
2.1.1 Morfologi 4
2.1.2 Klasifikasi 5
2.1.3 Siklus Hidup 5
2.1.4 Perkembangan Larva Udang Vanamei 6
2.1.5 Tingkah Laku Makan 7
2.1.6 Sifat Udanng Vannamei 8
2.2 Sarana Pokok dan Penunjang Hatchery 8
2.2.1 Sarana Pokok 8
2.2.1.1 Bak Pemelliharaan Larva 8
2.2.1.2 Bak Kultur Pakan Alami 9
2.2.1.3 Instalasi System Aerasi 9
2.2.1.4 Tenaga Listrik 9
2.2.1.5 Sarana Pengadaan Air Laut 9
2.2.2 Sarana Penunjang 10
2.3 Pemeliharaan Larva Udang Vannamei 10
2.3.1 Persiapan Bak 11
2.3.2 Peyediaan Telur 12
2.3.3 Penebaran Nauplius 13
2.3.4 Penyediaan Pakan 13
2.3.5 Pengelolaan Kualias Air 14
2.3.6 Penerapan Bioscurity 16
2.3.7 Pengendalian Penyakit 16
2.4 Pemanenan 17
2.5 Pengangkutan 17
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 18
3.1 Pemeliharaan Larva 18
3.1.1 Persiapan Bak 18
3.1.2 penebaran Naupli 18
3.2 Pengelolaan dan Pengamatan Kualitas Air 20
3.3 Pengelolaan Pakan 23
3.3.1 Pakan Alami 23
3.3.2 Pakan Buatan 24
3.4 Pengamatan Pertumbuhan 26
3.5 Penerapan Bioscurity 30
3.6 Pengendalian Penyakit 30
3.7 Panen dan Pengangkutan 31
3.7.1 Panen 31
3.7.2 Pengangkutan 32
BAB IV Kesimpulan dan Saran 34
4.1 Kesimpulan 34
4.2 Saran 34
DAFTAR BACAAN 35

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Vannamei (Litopaneus vannamei) merupakan udang asli perairan amerika latin, sejak 4 dekade
terakhir budidaya udang ini mulai merebak dengan cepat kekawasan asia seperti Taiwan, cina, dan
malaisia, bahkan kini di Indonesia(hilman 2006)
Udang vannamei masuk keindonesia pada tahun 2001. Pada mei 2002 pemerintah memberi izin
kepada dua perusahaan swasta untuk mengimpor induk udang vannamei sebanyak 2000ekor, selain
itu juga mengimpor benur sebanyak lima juta ekor dari Hawaii serta 300.000 ekor dari amerika latin.
Induk dan benur tersebut kemudian dikembangkan oleh hatchery pemula, sekarang usaha tersebut
telah dikomersialkan dan berkembang pesat karena peminat udang vannamei semakin meningkat
(Hilman 2006)
Produksi benur udang vannamei dirintis sejak awal tahun 20003 oleh sejumlah hatchery terutama
Situbondo dan Banyuwangi (Jawa Timur). Budidaya ujicoba sudah dilakukan dengan memperoleh
hasil yang cukup memuaskan, setelah melalui serangkaian penelitian dan kajian, akhirnya pemerintah
secara resmi melepas udang vannamei sebagai varietas unggul pada 12 juli 2001 melalui SK Mentri
KP. No 41/2001.
Kehadiran udang vannamei diakui sebagai penyelamat dunia pertambakan udang di Indonesian.
Petambak mulai bergairah kembali begitu juga dengan para operator pembenih udang. Operator
mulai membenihkan udang vannamei untuk memenuhi kebutuhan petambak. Awal mula
pembudidayaan udang vannamei dilakukan di Jawa Timur dan memperoleh keuntungan yang cukup
memuaskan sehingga petambak di luar Jawa Timur sangat antusias untuk membudidayakan
terhadap udang vannamei, Bahkan hampir 90% petambak mengganti komoditas udang windu
menjadi udang vannamei. Hal ini dikarenakan produksi udang windu pada saat itu yang sedang
berkembang mengalami penurunan karena serangan penyakit dan virus terutam bercak putih ( White
Syndrome Virus)
Dengan semakin banyaknya petambak udang vannamei maka diperlukan prosedur dan proses
budidaya yang benar bagi para hatchery baik dari guna memenuhi permintaan para petambak
khususnya petambak udang vannamei. Dengan demikian diharapkan produktivitas udang vannamei
dapat diangkat
Untuk melaksanakan usaha perikanan budidaya yang berkelanjutan, maka penerapan tatacara
budidaya yang bertanggung jawab harus dimulai dari kegiatan pembenihan sampai dengan
pembesarannya. Benih yang bermutu dicirikan antara lain : pertumbuhan cepat, ukuran seragam
sintasan tinggi,adaptif terhadap lingkungan pembesaran, bebas parasit dan tahan terhadap penyakit,
efisien dalam menggunakan pakan serta tidak mengandung residu bahan kimia dan obat-obatan
yang dapat merugikan manusia dan lingkungan. Agar dihasilkan benih yang bermutu, maka dalam
kegiatan usaha pembenihan harus mendapatkan teknik pembenihan sesuai dengan standard an
prosedur pembenihan yang baik.untuk itu perlu adanya Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB)
yang dapat digunakan sebagai acuan para pelaku usaha pembenihan udang dalam menghasilkan
benih yang bermutu.
1.2 Alasan Memilih Judul
I. Mengingat udang vannamei (Litopeneus vannamei ) lebih tahan terhadap penyakit daripada udang
windura

II. Karena udang vannamei mudah di budidayakan dan dipasarkan


III. Kehadiran udang vannamei diakui sebagai penyelamat dunia para petambak Indonesia
IV. Permintaan benur udang vannamei belum tercukupi di seluruah Indonesia
1.3 Tujuan
1. Untuk mendapat pengetahuan dan ketarampilan tentang memproduksi naupilus udang vannamei
yang berkualitas.
2. Untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan produksi naupilus
3. untuk membandingkan antara teori teknik pembenihan udang vannamei dengan keadaan
dilapangan.
1.4 Manfaat
1. Dapat memperoleh gambaran secara langsung tentang lingkungan kerja yang sebenarnya,
meningkatkan pengetahuan dan mempraktekan secara langsung bagaimana cara memproduksi
naupilus yang berkualitas.
2. Dapat menambah wawasan terhadap masalah masalah di lapangan, sehingga dapat memahami
dan memecahkan tentang produksi naupilus Litopenaus vannamei yang berkualitas dengan cara
memadukan antara teori yang diterima dengan kenyataan yang ada dilapangan.
3. Dapat membandingkan antara teori yang telah didapat selama perkuliahan dengan praktek
produksi di lapangan usaha perikanan pembenihan.
1.5 Waktu dan Tempat
Magang ini telah dilaksanakan mulai tanggal 17 Pebruari sampai dengan 28 Maret 2011 dan
bertempat di Instalasi Pembenihan Udang (IPU) Gelung, Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo
1.6 Metode
Praktek ini dilaksanakan dengan metode sebagai berikut:
a. Observasi
Pengamatan ini dilakukan dengan cara berpartisipasi aktif dengan mengikuti setiap kegiatan kerja
dilapangan.
b. Wawancara
Wawancara dilakungan diluar jam kerja atau pada waktu senggang baik dengan teknisi atau
karyawan yang dianggap berkompeten.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Pemeliharaan Larva Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)
2.1 Biologi Udang Vannamei
2.1.1 Morfologi
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang
(biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Vannamei memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas
berganti kulit luar atau eksoskeleton secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang vannamei sudah
mengalami modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut.
1.Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam lumpur (burrowing).
2.Menopang insang karena struktur insang udang mirip bulu unggas.
3.Organ sensor, seperti pada antena dan antenula.
a.Kepala (thorax)
Kepala udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua pasang maxillae. Kepala
udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxillipied dan lima pasang kaki berjalan
(periopoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxillipied sudah mengalami modifikasi dan berfungsi
sebagai organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada chepalothorax yang
dihubugka oleh coxa. Bentuk periopoda beruas-ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada
yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Di antara coxa
dan dactylus, terdapat ruang berturut-turut disebut basis, ischium, merus, carpus, dan cropus. Pada
bagian ischium terdapat duri yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies penaeid
dalam taksonomi.
2. Perut (abdomen)
Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan sepasang
uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas (Haliman, R.Wdan Adijaya, D.S, 2005). Untuk lebih
jelasnya bisa dilihat dari gambar 1 berikut ini :

Gambar 1. Morfologi udang vannamei (Haliman, R.W dan Adijaya, D.S 2005)
2.1.2 Klasifikasi
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) klasifikasi udang vannamei (Litopenaeus vannamei)
adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Sub kingdom : Metazoa
Filum : Artrhopoda
Sub filum : Crustacea
Kelas : Malascostraca
Sub kelas : Eumalacostraca
Super ordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Sub ordo : Dendrobrachiata
Infra ordo : Penaeidea
Super famili : Penaeioidea
Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei
2.1.3 Siklus Hidup
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) udang vannamei bersifat noktural, yaitu melakukan
aktifitas pada malam hari. Proses perkawinan ditandai dengan loncatan betina secara tiba-tiba. Pada
saat loncatan tersebut, betina mengeluarkan sel-sel telur. Pada saat besamaan, udang jantan
mengeluarkan sperma sehingga sel telur dan sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung
sekitar 1 menit. Sepasang udang vannamei dapat menghasilkan 100.000-250.000 butir telur yang
menghasilkan telur yang berukuran 0,22 mm. Siklus udang vannamei meliputi stadia naupli, stadia
zoea, stadia mysis, dan stadia postlarva.
2.1.4 Perkembangan Stadia larva Udang Vannamei
Stadia larva dalam budidaya udang vannamei adalah sebagai berikut :
a) Stadia Naupli
Udang masih belum memiliki sistem pencernaan sempurna dan masih memiliki cadangan makanan
berupa kuning telur sehingga udang masih belum membutuhkan makanan dari luar. Menurut
Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini, larva berukuran 0,32 - 0,58 mm. Sistem
pencernaannya belum sempurna dan masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur
sehingga pada stadia ini larva udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar.
Menurut Elovaara, A.K (2001) fase naupli dimulai dari pengeraman sampai hari ke-2 yaitu N1 sampai
N2.
b) Stadia Zoea
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) stadia selanjutnya adalah stadia zoea, stadia ini
terjadi setelah naupli ditebar di bak pemeliharaan sekitar 15-24 jam. Larva sudah berukuran 1,05 3,30 mm. Pada stadia ini, benih udang mengalami moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea
2, zoea 3. Lama waktu proses pengantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya (mysis) sekitar 4
- 5 hari. Pada stadia ini udang dapat diberi pakan alami berupa artemia. Menurut Elovaara, A.K
(2001) fase zoea dimulai dari hari ke-2 sampai hari ke-4 yaitu Z1, Z2, Z3.
c) Stadia Mysis
Menurut Haliman RW dan Adijaya D (2005) pada stadia ini, benih sudah menyerupai bentuk udang
yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini
sudah mampu menyantap pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50 4,80 mm. Stadia ini memiliki 3 substadia, yaitu mysis 1, mysis 2, mysis 3 yang berlangsung selama 3
- 4 hari sebelum masuk pada stadia post larva. Menurut Elovaara, A.K (2001) fase mysis dimulai dari
hari ke-5 sampai hari ke-10 yaitu M1, M2, M3.
d) Stadia Post larva
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini benih udang sudah tampak seperti
udang dewasa dan sudah mulai bergerak lurus ke depan.
Fase larva udang vannamei dapat dilihat dari gambar 2 berikut :
Gambar 2. Fase larva udang vannamei

2.1.5 Tingkah Laku Makan


Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005), udang merupakan golongan hewan omnivora atau
pemakan segala. Beberapa sumber pakan udang antara lain udang kecil (rebon), fitoplankton,
cocepoda, polyhaeta, larva kerang, dan lumut.
Udang vannamei mencari dan mengidentifikasi pakan menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran
dengan bantuan organ sensor yang terdiri dari bulu-bulu halus (setae) yang terpusat pada ujung
anterior antenula, bagian mulut, capit, antena, dan maxillipied.Untuk mendekati sumber pakan, udang
akan berenang menggunakan kaki jalan yang memiliki capit. Pakan langsung dicapit menggunakan
kaki jalan, kemudian dimasukkan ke dalam mulut. Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil masuk ke
dalam kerongkongan dan oesophagus. Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan
dicerna secara kimiawi terlebih dahulu oleh maxillipied di dalam mulut.
2.1.6 Sifat Udang Vannamei
Dalam usaha pemeliharaan larva udang vannamei, perlu adanya pengetahuan tentang sifat udang
vannamei, menurut Haliman, R.W dan Adijayam D.S (2005), beberapa tingkah laku udang vannamei
yang perlu kita ketahui antara lain :
a.Aktif pada kondisi gelap (sifat noktunal)
b.Dapat hidup pada kisaran salinitas lebar (euryhaline)
c.Suka memangsa sesama jenis (sifat kanibal)
d.Tipe pemakan lambat, tapi terus-menerus (continuo feeder)
e.Menyukai hidup di dasar (bentik)
f.Mencari makanan lewat organ sensor (chemoreceptor)
2.2 Sarana Pokok dan Penunjang Hatchery
2.2.1 Sarana Pokok
2.2.1.1 Bak pemeliharaan larva
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak pemliharaan adalah bak unuk pemliharan larva. Untuk
membangunnya perlu diperhatikan bentuk dan ukurannya.
a.Bentuk
Larva udang tidak memerlukan bentuk bak yang spesifik. Bak dapat berbentuk segi empat, bulat, atau
oval. Yang penting sesuai dengan biaya yang tersedia dan agar bentuk pekarangan tetap indah. Bak
larva sudut-sudutnya tidak mati, agar sisa-sisa metabolisme, sisa-sisa makanan, larva yang mati, dan
kotoran lainnya tidak terkumpul pada bagian ini. Dasar bak memiliki kemiringan 2% kearah
pembuangan,agar mudah dikeringkan dan dibersikan. Sedang dinding harus licin, agar kotoran, jamur
atau parasit tidak menempel serta mudah dibersihkan.
b. Ukuran
Baik bak yang berukuran besar maupun yang kecil keduanya sama baiknya. Karena keduanya dapat
digunakan untuk menghasilkan postlarva (PL) jual. Namun, dari kedua ukuran itu ada keuntungan
dan kerugiannya. Bak basa akan menciptakan kondisi air media yang stabil seperti suhu dan
salinitasnya, tetapi sering mendapat serangan penyakit. Dengan demikian ukuran yang ideal adalah
yang kapasitasnya 10-20 ton; tingginya 1,2-1,5 m; panjang dan lebarnya masing-masing 4 m dan 2,5
m.
2.2.1.2 Bak kultur pakan alami
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak kultur pakan alami dapat dibuat dari kayu yang dilapisi
plastik atau semen. Ukuran bak yang baik 10% dari ukuran kapasitas bak pemeliharaan, yaitu
panjangnya 2 m; lebar 2 m; tinggi 0,6 m. Bak sebesar itu sudah cukup untuk memenuhi satu siklus
pemeliharaan pada bak pemeliharaan yang berkapasitas 10 ton.
2.2.1.3 Instalasi Sistem Aerasi
Oksigen terlarut (DO) merupakan faktor pembatas bagi sebagian besar organisme aquatik, menurut
Heryadi, D dan Sutadi (1993) bahwa oksigen yang terlarut saling berkaitan dengan parameterparameter kualitas air lainya, oleh karena itu kandungan okigen harus stabil. Untuk menjaga
kestabilan oksigen terlarut di air media, maka perlu alat yang menyuplai oksigen. Kalau hanya
mengandalkan difusi dan fotosintesis Skletonema costotum akan kurang mencukupi. Alat yang biasa
di digunakan adaah blower yang dilengkapi dengan slang, batu aerasi, dan kran pengatur udara.
2.2.1.4 Tenaga Listrik
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) tanpa energi listrik, kegiatan operasional tidak dapat berjalan
sesui rencana. Energi listrik digunakan sebagai penggerak blower, pompa celup, dan penerangan
karenanya tenaga listrik disalur selama 24 jam. Sumber energi listrik diperoleh dari mesin genset atau
PLN. Namun yang baik didatangkan dari PLN bila ditinjau dari tegangannya maupun kebersihannya.
Jika digunakan genset akan muncul asap sisa pembakaran dan tumpahan solar yang akan
mengganggu kehidupan larva.
2.2.1.5 Sarana Pengadaan Air Laut

1. Pompa air
Pompa air digunakan untuk pengambilan air baik untuk pengambilan air laut maupun untuk
mengalirkan air dari bak penampungan air laut ke bak pengendapan, kemudian dari bak
pengendapan ke ruang Ozonisasi yang kemudian dialirkan ke tandon, dan yang terakhir dari tandon
ke bak pemeliharaan.
2. Bak penampungan air laut
Bak penampungan ini terdiri dari berbagai bak yang menggunakan sistem gravitasi. Bak yang
digunakan diantaranya adalah bak batu, dan bak ijuk, arang, pasir.
3. Bak Pengendapan
Bak ini digunakan untuk mengendapakan partikel yang lolos dari proses filter pressure.
4. Tandon
Bak yang digunakan untuk menampung air setelah dilakukan beberapa threatment, dimana air
tersebut dipakai untuk persediaan. Tandon yang ada terdiri dari 2 tandon, hal tersebut dikarenakan
agar pergantian air dapat berlangsung setiap hari, karena untuk mengisi penuh 1 tandon dibutuhkan
waktu 1 hari.
5. Bak penampungan 1
Air dari hasil budidaya dialirkan ke bak penampungan ini dan selanjutnya diproses oleh protein
skimmer.
6. Bak penampungan 2
Bak penampungan ini digunakan untuk menampung air yang telah diproses (BBAP Situbondo, 2006).
2.2.2 Sarana Penunjang
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) yang merupakan sarana penunjang yaitu saringan,
termometer, salinometer, pompa celup, ember, wadah penetasan Artemia sp.
2.3 Pemeliharaan Larva Udang Vannamei
Pada pembenihan udang, pemeliharaan larva merupakan aspek terpenting dalam pengoperasian
sebuah hatchery. Kegiatan pemeliharaan larva dimulai dari stadium nauplius hingga mencapai
stadium post larva (PL) yang dikenal sebagai benih udang atau benur yang sudah menyerupai udang
dewasa. Termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan seperti persiapan bak pemeliharaan, penebaran
nauplius, penyediaan dan pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, pengendalian penyakit dan
proses pemanenan (Heryadi D dan Sutadi 1993).
2.3.1 Persiapan Bak
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) persiapan bak meliputi :
a. Sanitsi Bak
Bak pemeliharaan yang akan digunakan harus disucihamakan sehingga bebas dari penyakit.
Caranya, bak dikeringkan (dijemur), kemudian dasar dan dinding bak disikat. Agar lebih steril
gunakan zat-zat kimia seperti klorin dengan dosis 100 ppm, KMnO4 (kalium permanganat) 10 ppm,
dan formalin 50 ppm.
b. Perlakuan air media
Air media, umumnya dibeli pada penjual khusus yang menyediakan jasa penyaluran air laut. Air laut
yang dibutuhkan adalah air yang berkadar garam 29-31 permil, dan bebas bahan pencemar.
1) Sterilisasi tahap I
Sebelum dipakai, air laut diberi perlakuan dengan menggunakan zat-zat kimia agar bebas dari
bakteri, protozoa, jamur, dan mikroorganisme lainnya. Setelah air laut ditampung dalam bak
ditambahkan kaporit 30 ppm (30 g/m3 air).
Setelah itu tambahkan natrium tiosulfat sebanyak 10-12,5 ppm, kemudian biarkan proses tersebut
berlangsung selama 24 jam sambil tetap diaerasi.
Apabila air laut sudah netral kembali, tambahkan EDTA sebanyak 10 ppm (10g/m3), dibiarkan selama
24 jam sambil diaerasi. Langkah berikutnya menyimpan endapan sampai air jernih dan steril. Cara
lain yang dapat ditempuh yaitu dengan memindahkan air yang sudah jernih tersebut ke bak lain
dengan menggunakan pompa celup.
2) Sterilisasi tahap II
Sterilasasi air laut tahap kedua dilakukan pada saat air sudah dalam kondisi jernih dan dilakukan 2-3
hari sebelum larva ditebar. Pada tahap ini masih digunakan EDTA sebanyak 8 ppm yang dimasukan
ke air media. Setelah itu ditambah antibiotic, misalnya Erytromycyn sebanyak 1 ppm (1g/m3).
Antibiotik berfungsi untuk menghilangkan bakteri dan protozoa, sedangkan untuk menghilangkan
jamur dapat ditambahkan Trefflan sebanyak 0,1 ppm (0,1ml/m3). Dengan demikian zat kimia tersebut
diberikan dalam waktu yang sama dengan urutan, EDTA, antibiotik, dan trefflan.
c. Perlakuan terhadap organisme
Walaupun bak dan air media sudah bebas panyakit, justru organisme yang ditebar yang membawa
penyakit. Karenanya, organisme yang akan dipelihara sebaiknya diberi perlakuan dahulu sebelum

ditebar.
Apabila usahanya dimuai dari telur, maka telur diberi perlakuan dengan meggunakan probobiotik
dengan tujuan untuk menekan bakteri-bakteri pathogen dibak pemeliharaan larva.
d. Memeriksa Aerasi
Sehari sebelum penebaran, aerasi perlu di cek apakah penyebaran gelembung dari batu aerasi
sudah rata. Untuk mengetahuinya, hidupkan blower lalu kran udara dibuka. Bila gelembung udara
yang dihasikan sama rata berarti aerasinya baik. Aerasi ini juga meningkatkan kandungan oksigen
sehingga gas-gas beracun akan menguap keluar.
2.3.2 Penyediaan Telur
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) cara untuk mendapatkan telur udang penaeid :
a. Menyewa Induk
Menyewa induk udang di Jawa Timur sudah lazim dilakukan oleh para pembenih. Harga sewa induk
sepasang sekitar Rp 25.000,00. Sistem ini cukup menguntungkan pihak penyewa dan yang
menyewa.
Bagi penyewa dengan mengeluarkan biaya sewa masih biasa memperoleh keuntungan, karena
sekali berelur bias sebanyak 600.000-700.000 butir/induk. Daya tetas telur (hatching rate) ditingkat
pembenihan antara 70-80%
b. Membeli Telur
Membeli telur udang memang menjanjikan keuntungannya dari pada membeli nauplius karena
harganya lebih murah. Namun resikonya juga lebih besar, karena daya tetas telur dan kesehatan
induknya belum diketahui.
2.3.3 Penebaran Nauplius
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) sebelum naupli ditebar ke dalam bak perlu diperhatikan
salinitas, kondisi naupli, dan suhu air media. Ciri naupli yang sehat, gerakannya sangat aktif terutama
jika kena sinar. Dan bila terjadi perbedaan suhu dan salinitas, maka dilakukan proses penyesuaian
yang dikenal dengan proses aklimatisasi.
Aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara, air media yang di dalam bak dialirkan ke dalam baskom
yang berisi naupli dengan menggunakan dengan menggunakan slang plastik yang berdiameter kecil,
sehingga aliran airnya hanya sebesar benag jahit. Untuk penurunan kadar garam sebesar 1 permil
diperlukan waktu antara 15-30 menit. Apabila salinitas antara air media pada bak pemeliharaan sudah
sama dengan air media pada baskom naupli, maka proses akilmatisasi salinitas dianggap selesai.
Setelah aklimatisasi selesai naupli ditebarkan ke dalam bak pemeliharaan dengan menjungkirkan
baskom yang berisi naupli perlahan-lahan. Padat tebar nauplii yang aman berkisar 100-150 ekor/L.
2.3.4 Penyediaan Pakan
Jenis pakan yang diberikan pada larva udang vannamei selama proses pemeliharaan yaitu pakan
alami dan pakan buatan. Pakan alami yang biasa diberian pada larva uadang vannamei yaitu
Skeletonema costatum dan Artemia sp. Pakan alami ini sangat dibutuhkan pada stadium akhir
napulius (N-6) atau awal stadium zoea. Sedangkan pakan buatan mulai diperlukan ketika larva
memasuki stadium zoea.
Pakan buatan ini ada yang dijual dalam bentuk kalengan maupun bungkusan.
Dosis pakan yang diberikan pada larva tidak dihitung berdasarkan jumlah populasi larva, tetapi diukur
dengan satuan ppm, sebab larva membutuhkan pakan yang tersedia setiap saat. Yang dimaksud
dengan ppm adalah gram/ton volume air media yang jika pakan berbentuk tepung, sedangkan yang
cair ml/ton. Dosis terebut hanya untuk pakan buatan, sedangkan untuk dosis pakan alami yaitu
sel/cc/hari atau individu /ekor larva/hari.
Pemberian pakan dilakukan setiap 4-6 kali/hari dengan selang waktu 4-5 jam. Larva suka makan
pada malam hari maka pemberian pakan pada malam hari lebih baik dari pada siang hari, yaitu pukul
05.00, 10.00, 15.00, 20.00 dan pukul 24.00.
Pemberian pakan dilakukan dengan cara dimasukkan kedalam saringan yang kemudian dimaukkan
ke dalam ember yang berisi air tawar. Setelah itu saringn diremas-remas sampai pakan yang ada
dalam saringan habis, kemudian ditambahkan pakan alami. Pakan yang berada dalam ember yang
berisi air tadi langsung ditebar ke dalam bak pemeliharan (Heryadi D dan Sutadi, 1993)
2.3.5 Pengelolaan Kualitas Air
Menurut Elovaara, A.K (2001) temperatur air untuk optimalkan pertumbuhan dan transisi dari satu
larva ke larva berikutnya adalah 280C, sedangkan salinitas adalah 26-30 dan pH sekitar 8,0, namun
pH 7,8 sampai 8,4 sudah cukup.
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993), dalam pengelolaan kualitas air ada beberapa perlakuan agar
air media tetap sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva, diantaranya :
1. Penyimponan
Penyimponan dilakukan agar sisa-sisa pakan buatan maupun sisa-sisa metabolisme larva dapat

dikeluarkan sehingga tidak terjadi penumpukan dan pembusukandalam air media.


Penyimponan dapat dilakukan setelah larva mencapai stadium mysis, frekuensinya 2 hari sekali,
waktunya setelah 2 jam pemberian pakan. Cara menyimpon adalah sebagai berikut :
Blower dimatikan,setelah itu slang yang akan digunakan utuk menyedot air diisi air penuh dan
dipasang saringan pada salah satu ujungnya.
Kemudian slang dimasukkan kedalam bak dan ujungnya yang dilepas tutupnya sehingga air keluar
dengan sendirinya.
2. Pengaturan cahaya
Untuk stadium naupli dan zoea, keduaya bersifat planktonis yang aktif berenang di permukaan air.
Bagi kedua stadium ini diusahakan agar suasana bak pemeliharaan gelap dengan cara menutup bak.
Apabila larva sudah masuk stadium post larva, bak pemeliharaan lebih sering dibuka dalam upaya
penyesuaian lingkungan. Parameter kualitas air untuk budidaya udang vannamei dapat dilihat dari
Tabel 1, berikut :
Tabel 1. Parameter kualitas air untuk budidaya udang vannamei
Parameter Kualitas Air Batasan yang dianjurkan
DO 5,0 9,0
Karbondioksida 20 ppm
pH 7,0 8,3
Salinitas 0,5 35 ppt
Clorda 300 ppm
Sodium 200 ppm
Total Hardness (as CaCO3) 150 ppm
Calcium Hardness (as CaCO3) 100 ppm
Magnesium Hardness (as CaCO3) 50 ppm
Total Alkalinitas (as CaCO3) 100 ppm
Uninoized Ammonia (NH3) 0,03 ppm
Nitrit (NO2) 1 ppm
Nirat( NO3) 60 ppm
Hidrogen Sulfida (H2S) 2 ppb
Klorin 10 ppb
Kadmium 10 ppb
Kromium 100 ppb
Kopper 25 ppb
Lead 100 ppb
Merkuri 0,1ppb
Zinc 100 ppb
Suhu 28 32 0 C
Total Iron 1,0 ppm
Sumber : Elovaara, A.K (2001)
Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) selain pengukuran parameter-parameter tersebut
dilakukan pergantian dan penambahan air secara sirkulasi dengan cara melihat air secara visual, bila
dipermukaan air telah banyak mengandung gelembung-gelembung busa yang telah menumpuk dan
gelembung tersebut tidak dapat pecah kembali ini diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah
terjadi banyak perombakan-perombakan gas di dalam air. Pengisian air pada awal penebaran naupli
adalah sekitar 30% dari kapasitas wadah, saat stadia zoea ditambah sampai 70%, stadia mysis 80%
dan stadia post larva 100%.
Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008), Pergantian air dilakukan setelah mencapai stadia
mysis 3 sampai PL 5 berkisar 10-30% dan PL 5 sampai dengan panen 30-50% dari volume wadah
yang terisi.
2.3.6 Penerapan Bioscurity
Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008), tindakan pencegahan penyakit dilakukan dengan
penerapan biosecurity dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat) sebanyak 1,5 ppm yang
ditempatkan pada awal pintu masuk sebelum memasuki dan akan memasuki ruangan.
2.3.7 Pengendalian Penyakit
Menurut Ghufron M.H Kordik K (2006) penyakit adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan
gangguan pada fungsi atau struktur dari alat-alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Pada dasarnya penyakit yang menyerang udang datangnya melalui
tiga faktor yaitu kondisi lingkungan (kualtas air), kondisi inang (Udang) dan jasad organisme/penyakit.
Udang vannamei juga bukan spesies yang tahan terhadap berbagai macam penyakit, oleh karena itu
perlu penerapan sitem budidaya terbaik agar kualitas udang yang dihasilkan lebih baik. Sedangkan

menurut Elovaara, A.K (2001) penyakit yang menyerang udang vannamei yaitu infectious hypodemal
and hematopoietic necrosis virus (IHHNV), Reo-like virus (REO), and Taura Syndrome virus (TSV ).
Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2005), gejala klinis penyakit udang yaitu : bercak putih
oleh virus, kematangan cepat 2-3 hari, berenang ke dekat pematang kemudian mati, kepala kuning
oleh virus YHV, kerusakan organ limfoid dan insang, serangan MBV mengakibatkan kerdil, penyakit
bercak putih dicirikan dengan bagian kepala berukuran kecil.
2.4 Pemanenan
Pemanenan benur dilakukan mulai pada stadia PL10 atau ukuran PL telah mencapai 1 cm dan yang
telah memenuhi kriteria-kriteria benur yang siap dipanen. Caranya adalah membuka saluran
pembuangan yang telah diberi saringan di dalamnya agar air yang keluar tidak deras dan benur tidak
ikut keluar. Sebelum hal tersebut dilakukan terlebih dahulu mengurangi ketinggian air hingga 6-10 cm
sehingga benur mudah ditangkap dengan menggunakan serok. Setelah ketinggian air mencapai 5 cm
hentikan penyerokan dan buka saringan, sehinga sisa benur akan keluar bersama air tersebut.
Langkah berikutnya adaptasi salinitas, penghitungan, dan pengemasan (Heryadi D dan Sutadi 1993).
2.5 Pengangkutan
Menurut Heryadi D dan Sutadi (1993) pengangkutan benur ummnya dilakukan dengan cara tertutup
dan terbuka. Pengangkutan cara tertutup disenangi karena pengirimannya dapat dilakukan dengan
menggunakan bus, kereta api, pesawat udara, dan kendaraan lainnya. Cara ini membutuhkan es,
kantong pastik, tabung oksigen dan kardus Styrofoam.
Kunci keberhasilan dalam pengangkutan cara tertutup adalah suhu dan kepadatan. Dalam
pengangkutan diusahakan agar suhu tetap rendah, oleh karena itu setelah plastik diikat, maka bagian
luarnya digantungkan plastik berisi es. Untuk daerah tropis suhu yang dianggap aman adalah 18-20 0
C.
Kepadatan yang aman dalam pengankutan cara tertutup yaitu 4.000-6.000 ekor /kantong. Setiap
kantong diisi dengan 4 liter air dengan perbandingan oksigen dan air 5:1. Pengangkutan dengan cara
ini akan aman jika lama perjalanan maksimum 6 jam.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Pemeliharaan Larva
3.1.1. Persiapan Bak
Bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva udang vannamei (Litopanaeus vannamei) di IPU
Gelung BBAP Situbondo ini berbentuk bulat dan berkapasitas 35 ton serta memiliki kemiringan 20cm
ke arah pembuangan. Sebelum digunakan sebagai tempat pemeliharaan larva, bak terlebih dahulu
harus dibersihkan dari kotoran yang menempel pada bak tersebut. Bak dibersihkan dengan cara
dicuci menggunakan deterjen, seluruh permukaan dinding dan dasar bak digosok dengan
menggunakan spon dan scoring pad untuk menghilangkan kotoran yang menempel di bak, kemudian
dibilas dengan air tawar sampai bersih setelah itu siram dengan clorin sebanyak 500 ml dicampur air
tawar sebanyak 10 lt ke seluruh permukaan bak yang berfungsi untuk membersihkan bak dari
penyakit yang masih tersisa di bak pemeliharaan sebelumnya dan biarkan hingga kering. Apabila bak
akan digunaan, maka bak dan perlengkapan lainnya dicuci kembali dengan deterjen.
Setelah persiapan selesai, maka bak sudah siap digunakan untuk pemeliharaan larva. Setelah itu bak
diisi air laut sebanyak 35 ton atau separuh dari kapasitas bak dengan menggunakan filter ukuran 10.
Tahapan selanjutnya air pada bak di treatmen menggunakan larutan trevlan sebanyak 0,25 ppm yang
berfungsi untuk membunuh penyakit yang menempel pada tubuh larva, kemudian aerasi dinyalakan
dan disterilisasi selama 1-2 hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993) yang
menyatakan bahwa sebelum dipakai, air laut diberi perlakuan dengan menggunakan zat-zat kimia
agar bebas dari bakteri, protozoa, jamur, dan mikroorganisme lainnya.
3.1.2. Penebaran Naupli
Naupli yang akan ditebar adalah naupli yang berasal dari hatchery BBAP Situbondo desa Pecaron.
Penebaran naupli dilakukan pada malam hari, hal ini dilakukan dengan harapan untuk menghindari
fluktuasi suhu yang terlalu tinggi terhadap lingkungan. Naupli yang sudah dihitung kemudian diseser
dengan menggunakan saringan, ditempatkan terlebih dahulu kedalam ember kecil yang sudah diberi
air laut kemudian naupli dibilas menggunakan formalin sebanyak 1 ml yang bertujuan untuk
menghilangkan jamur dan bakteri yang terdapat pada naupli.
Sebelum naupli ditebar kedalam bak pemeliharaan larva perlu dilakukan aklimatisasi suhu dan
salinitas, hal ini bertujuan agar naupli yang ditebar tidak mengalami stress. Aklimatisasi dilakukan
dengan cara meletakkan ember yang berisi naupli di atas permukaan air pada bak pemeliharaan

larva, kemudian bak tersebut dialiri air sampai penuh dengan menggunakan slang kecil dan biarkan
naupli keluar dengan sendirinya dari baskom supaya tidak stress, hal ini sesuai dengan pendapat
Heryadi, D dan Sutadi (1993), yang menjelaskan bahwa aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara,
air media yang di dalam bak dialirkan ke dalam baskom yang berisi naupli dengan menggunakan
slang plastik yang berdiameter kecil, sehingga aliran airnya hanya sebesar benang jahit.
Proses aklimatisasi selesai ditandai dengan mengumpulnya naupli kepermukaan air dalam bak
pemeliharaan. Setelah penebaran dilakukan, bak pemeliharaan ditutup dengan plastik transparan
tembus cahaya agar suhu tetap stabil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5, dan Gambar
6 serta padat penebarannya dapat dilihat pada Tabel 2 :

Gambar : 5 dan 6 penebran naupli


Bak Jumlah penebaran Volume air (ton) Padat penebaran (ltr)
1 2.500.000 20 ton 125 ekor
2 2.500.000 20 ton 125 ekor
3 2.500.000 20 ton 125 ekor
4 2.500.000 20 ton 125 ekor
7 2.500.000 20 ton 125 ekor
Tabel 2: Padat Penebaran Naupli
Sumber: IPU Gelung BBAP Situbondo (2011)
Dari proses aklimatisasai yang dilakukan maka naupli tidak mengalami stress pada saat ditebar.
Sedangkan dari tabel diatas diketahui bahwa rata-rata kepadatan penebaran naupli adalah 125
ekor/liter, hal ini sesuai dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993) bahwa padat tebar naupli
yang aman berkisar 100-150 ekor/L.
3.2. Pengelolaan dan Pengamatan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air pada saat masa pemeliharaan larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP
Situbondo dilakukan dengan cara pengukuran kualitas air dan pergantian air (water exchange). Hal ini
sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa selain
pengukuran parameter-parameter tersebut dilakukan pergantian dan penambahan air secara sirkulasi
dengan cara melihat air secara visual, bila dipermukaan air telah banyak mengandung gelembunggelembung busa yang telah menumpuk dan gelembung tersebut tidak dapat pecah kembali ini
diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah terjadi banyak perombakan-perombakan gas di dalam
air.
Pengelolaan kualitas air dimaksudkan untuk meningkatkan atau menjaga kualitas air supaya tetap
dalam keadaan yang sesuai bagi pertumbuhan udang. Pergantian air ini dilakukan pada saat
memasuki stadia mysis 3 berkisar 10-30%, hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan
Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa pergantian air dilakukan setelah mencapai stadia mysis
3 sampai PL 5 berkisar 10-30% dan PL 5 sampai dengan panen 30-50% dari volume wadah yang
terisi. Hal ini dilakukan berdasarkan pengamatan jika warna air sudah tampak keruh dan banyak
terdapat busa. Pergantian air ini dimaksudkan untuk mengurangi kandungan bahan organik sehingga
tidak menimbulkan penyakit pada larva. Pergantian air ini dilakukan dengan cara mengurangi volume
air sedikit demi sedikit melalui pipa pembuangan.
Selain itu dilakukan monitoring kualitas air yang dilakukan setiap hari yaitu pada pagi hari, parameter
air yang dilakukan secara rutin adalah sebagai berikut :
a. Suhu
Suhu merupakan salah satu parameter fisika pada kualitas air. Pengukuran suhu pada bak larva ini
dilakukan dengan alat termometer yang telah terpasang pada tali diantara aerasi. Pengukuran suhu
air dilakukan setiap hari pada waktu pagi secara rutin dengan tujuan agar selama pemeliharaan larva
proses metabolisme dan metamorfosis larva lancar. Suhu pada pemeliharaan larva berada pada
kisaran 30C 33C. Suhu pada kisaran ini merupakan suhu yang cukup optimal bagi pertumbuhan
larva udang vannamei. Hal ini sesuai dengan pendapat Haliman dan Adijaya (2003), suhu optimal
pertumbuhan udang antara 26-32C. Suhu berpengaruh langsung pada metabolisme udang, pada
suhu tinggi metabolisme udang dipacu, sedangkan pada suhu yang lebih rendah proses metabolisme
diperlambat. Bila keadaan seperti ini berlangsung lama, maka akan mengganggu kesehatan udang
karena secara tidak langsung suhu air yang tinggi menyebabkan oksigen dalam air menguap,
akibatnya larva udang akan kekurangan oksigen. Dalam pemeliharaan larva, suhu air dipertahankan
dengan cara menutup bak dengan menggunakan plastik agar suhu air dapat terjaga pada kondisi

yang sesuai bagi pertumbuhan udang.


b. Derajat Keasaman (pH / potential of hydrogen)
Pengukuran pH di IPU Gelung Balai Budidaya Air Payau Situbondo ini menggunakan alat pH meter.
Pengukuran ini dilakukan dengan cara mengambil sampel pada bak larva dan diukur di laboratorium.
Pengukuran pH ini dilakukan pada waktu pergantian stadia saat pergantian air karena kondisi bak
yang berada dalam ruangan (hatchery), pH pada bak larva cenderung stabil yaitu berada pada
kisaran 8,0 8,5. Hal ini sesuai dengan pendapat Elovaraa, A.K (2001) yang menyatakan bahwa pH
untuk budidaya udang vannamei adalah sekitar 7,0 8,5. Nilai pH yang stabil dikarenakan kondisi
bak larva berada dalam ruangan tertutup (hatchery) hal ini bertujuan agar udang dapat tumbuh
dengan cepat. Selain itu dengan pH yang stabil daharapkan nafsu makan udang tetap tinggi. Apabila
nilai pH tidak terjaga dengan baik maka secara tidak langsung akan mengakibatkan penurunan
kualitas air. Hal ini juga berpengaruh pada aktifitas udang yang menyebabkan menurunnya tingkat
pertumbuhan dan terganggunya metabolisme udang secara perlahan akan menggangu kesehatan
udang.
c. Salinitas
Pengukuran salinitas ini dilakukan pada pagi hari saat pergantian air dengan menggunakan
refraktometer. Hal ini bertujuan agar salinitas air yang baru tidak telalu jauh dengan salinitas air yang
lama. Salinitas yang terdapat pada bak larva cenderung stabil pada kisaran 30 34 ppt. Kestabilan
salinitas ini diharapkan udang dapat tumbuh dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Elovaraa,
A.K (2001) menyatakan bahwa salinitas berada pada kisaran 0,5 35 ppt. Hal ini mengakibatkan
energi lebih banyak terserap untuk proses osmoregulasi dibandingkan untuk pertumbuhan.
d. Alkalinitas
Pengujian alkalinitas (CaCO3) ini dilakukan pada waktu pergantian stadia saat pergantian air secara
titrimetri. alkalinitas berada pada kisaran 100-120 ppm. Pada kisaran ini kandungan alkalinitas yang
terdapat pada bak pemeliharaan masih dalam keadaan normal. Hal ini sesuai dengan pendapat
Elovaraa, A.K (2001) bahwa alkalinitas yang optimal bagi udang vannamei adalah lebih besar dari
pada 100 ppm. Selain itu dua fungsi penting alkalinitas, yaitu sebagai sumber karbon untuk
fotosintesis dan sebagai sistem penyangga (buffer) perubahan pH. Alkalinitas ini jika terlalu tinggi
akan menyebabkan udang mengalami kekerasan kulit sehingga dalam pertumbuhannya sulit dan jika
melakukan moulting akan berlangsung lama sehingga udang akan menguras tenaga lebih banyak.
e. Bahan Organik (BO)
Bahan organik merupakan salah satu parameter kimia pada kualitas air yang perlu diuji. Penggunaan
pakan pada pemeliharaan larva secara berlebihan dan hasil ekskresi merupakan beberapa penyebab
bahan organik pada bak pemeliharaan meningkat. Pelaksanaan pengujian BO dilakukan setiap
pergantian stadia pada saat pergantian air secara titrimetri. Nilai kandungan BO pada bak
pemeliharaan berada pada kisaran 70 110 ppm. Pada kisaran ini kandungan BO pada bak larva
masih dalam keadaan aman. Pergantian air merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
mengurangi kandungan bahan organik yang terdapat dalam bak pemeliharaan. Hal ini dilakukan agar
kandungan bahan organik tidak berubah menjadi senyawa beracun yang dapat mengakibatkan larva
terserang penyakit.
Selama pemeliharaan larva pemantauan kualitas air merupakan salah satu faktor yang sangat
penting dalam pemeliharaan larva.
3.3. Pengelolaan Pakan
Pemberian pakan ini dilakukan untuk memacu pertumbuhan larva udang vannamei, adapun jenis
pakan yang diberikan yaitu :
3.3.1. Pakan alami
Jenis pakan alami yang diberikan pada larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP Situbondo yaitu
Chaetoceros dan Artemia Pemberian pakan alami fitoplankton Chaetoceros diberikan mulai stadia
zoea 1 yaitu dimana larva
sudah mulai kehabisan persediaan kuning telur ( egg yolk ) dan diberikan sampai stadia PL 3. Hal ini
sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa pemberian
Chaetoceros sp dilakukan mulai dari stadia zoea 1 mysis 3, sedangkan pada stadia naupli belum
diberikan pakan dikarenakan pada stadia ini larva udang putih vannamei masih memanfaatkan kuning
telur sebagai pensuplai makanan. Pemberian Chaetoceros ceratos bertujuan untuk meningkatkan anti
body yang sangat dibutuhkan oleh larva udang vannamei terutama pada fase-fase transisi seperti dari
stadia naupli ke stadia zoea, yang mana pada fase ini sering dikenal dengan istilah zoea syndrome
atau zoea lemah, yaitu larva kelihatan lemah dan tubuh kotor yang dapat menyebabkan mortalitas
hingga 90%. Selain itu, Chaetoceros mampu menekan laju pertumbuhan bakteri Vibrio harveyi
selama proses pemeliharaan larva. Kultur Chaetoceros dilakukan dengan 3 cara, yaitu skala
laboraturium, skala semi massal (Intermediate) dan skala Massal. Pemberiannya dilakukan dengan

cara memompa Chaetoceros langsung ke bak pemeliharaan dengan slang.


Artemia salina merupakan pakan alami jenis zooplankton yang diberikan pada larva udang mulai dari
stadia larva mysis 3 post larva. Pemberian nauplius artemia dikarenakan banyak mengandung nilai
nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh larva udang seiring dengan peningkatan nilai usaha
pemeliharaan larva dalam masalah kualitas larva. Di samping itu, nauplius artemia merupakan
zooplankton yang bergerak aktif sehingga dapat merangsang dan meningkatkan nafsu makan larva
udang.
Sebelum diberikan, dilakukan dekapsulasi pada cyste artemia menggunakan bahan kimia yaitu klorin
1000 ml dan soda api 500 ml dengan perbandingan 2 : 1. Klorin dapat melarutkan senyawa
lipoprotein pada cangkang telur artemia yang banyak mengandung Heamatin yang dapat
mempercepat pengikisan cangkang artemia, sedangkan soda api berfungsi untuk melunakkan
cangkang. Selama proses dekapsulasi diusahakan suhu tidak lebih dari 40C karena dapat
menyebabkan artemia terbakar dan mati. Setelah proses dekapsulasi selesai artemia ditetaskan
dalam conical tank selama 1 24 jam dan diberi aerasi. Artemia yang sudah menetas diberikan
dengan cara ditebar keseluruh permukaan air dengan menggunakan gayung. Dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa pemberian pakan alami (Chetoceros dan Artemia) dilakukan sebayak 2 kali sehari
dengan dosis yang berbeda sesuai dengan stadia dan kepadatan larva.Untuk lebih jelasnya lihat
table 4.
3.3.2. Pakan Buatan
Pakan buatan yang akan diberikan disaring terlebih dahulu dengan menggunakan saringan. Jenis
pakan yang digunakan adalah Rotemia, Rotefire, Frippak 1 CAR, Frippak 2CD, flak ultra0, ultra1dan
2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 9:
Gambar: Jenis pakan buatan di IPU Gelung BBAP Situbondo

Pakan yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam saringan pakan dan diaduk den sampai
merata kemudian diberikan dengan cara ditebar menggunakan gayung. Untuk dosis pemberian
pakan dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:
Stadia Jenis pakan Jumlah pakan Frek Waktu
Naupli 5-6 Chaetoceros Min.50.000 sel/ml/hari 1 15.00
Zoea1 Chaetoceros
P.Buatan Min.50.000 sel/ml/hari
0,5 ppm/pemberian 2
8 07.00 & 15.00
07.00,10.00,13.00,16.00, 19.00,22.00,01.00,04.00
Zoea2 Chaetoceros
P.Buatan Min.50.000 sel/ml/hari
1 ppm/pemberian 2
8 07.00 & 15.00
07.00,10.00,13.00,16.00, 19.00,22.00,01.00,04.00
Zoea3 Chaetoceros
P.Buatan Min.150.000 sel/ml/hari
1ppm/pemberian 2
8 07.00 & 15.00
07.00,10.00,13.00,16.00, 19.00,22.00,01.00,04.00
Mysis1 Chaetoceros
P.Buatan Min.150.000 sel/ml/hari
1ppm/pemberian 2
8 07.00 & 15.00
07.00,10.00,13.00,16.00, 19.00,22.00,01.00,04.00
Mysis2 Chaetoceros
P.Buatan Min.100.000 sel/ml/hari
1ppm/pemberian 2
8 07.00 & 15.00
07.00,10.00,13.00,16.00, 19.00,22.00,01.00,04.00
Mysis3 Chaetoceros
P.buatan

Artemia Min.50.000sel/ml/hari
1ppm/pemberian
20 induk/ml/hari 2
8
2 07.00 & 15.00
07.00,10.00,13.00,16.00, 19.00,22.00,01.00,04.00
07.30 & 15.30
MPL-PL1 Chaetoceros
P.buatan
Artemia Min.50.000sel/ml/hari
1,5ppm/pemberian
20 induk/ml/hari 2
8
2 07.00 & 15.00
07.00,10.00,13.00,16.00, 19.00,22.00,01.00,04.00
07.30 & 15.30
PL2-5 P.buatan
Artemia 1,5-2ppm/pemberian
60 induk/ml/hari 8
2 07.00,10.00,13.00,16.00, 19.00,22.00,01.00,04.00
07.30 & 15.30
PL6-10 P.buatan
Artemia 2-4ppm
80 induk/ml/hari 8
2 07.00,10.00,13.00,16.00, 19.00,22.00,01.00,04.00
07.30 & 15.30
Table 4: Dosis dan waktu pemberian pakan
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pemberian pakan buatan dimulai dari stadia zoea sampai PL
dan dilakukan sebanyak delapan kali sehari dengan dosis yang berbeda pada setiap stadia. Dengan
pemberian pakan ini maka larva udang vannamei dapat mengalami pertumbuhan.
Pemberian pakan buatan bersamaan dengan pemberian probiotik sanolife yang mengandung bakteri
Bacillus licheniformis, Bacillus Subtilus, Bacillus Pumilus. Pemberian Bacillus ini untuk menguraikan
bahan-bahan organik berupa sisa pakan dan kotoran yang berada di media pemeliharan agar tidak
menjadi racun. Pemberian probiotik ini diberikan setiap hari pada saat memasuki stadia zoea sampai
post larva. Untuk dosis dan waktu pemberian dapat dilihat pada Tabel 5:
Tabel 5: Dosis dan Waktu Pemberian Probiotik
Stadia Dosis(ppm) Waktu
Zoea 1 10.00
Mysis 1,5 10.00
PL1-PL5 2 10.00
Sumber: Data Primer (2009)
Dari tabel di atas dapat diketahi bawha pemberian probiotik mulai diberikan pada stadia zoea sampai
PL dan dilakukan satu kali sehari dengan dosis yang disesuaikan pada setiap stadia larva.
3.4. Pengamatan Pertumbuhan
Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap hari dengan cara mengambil sampel langsung dari bak
pemeliharaan dengan menggunakan beaker glass, kemudian diarahkan ke cahaya untuk melihat
kondisi tubuh larva. hal ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan larva, gerakan, dan sisa
pakan. Sedangkan pengamatan mikroskopis dengan cara mengambil beberapa ekor larva dan
dilakukan pengamatan menggunakan alat mikroskop, pengamatan ini dilakukan untuk melihat dan

mengamati morfologi tubuh larva, keadaan parasit, pathogen yang menyebabkan larva terserang
penyakit. Dengan mengetahui perkembangan larva maka juga dapat menentukan perubahan stadia,
gerakan aktif juga menandakan bahwa larva tersebut baik.
Dari hasil pengamatan maka dapat diketahui perkembangan larva dari setiap stadia yaitu:
1). Stadia naupli
Stadia ini memiliki ciri-ciri yaitu badan berbentuk bulat telur, beranggota badan tiga dan masih
memiliki cadangan kuning telur hal ini sesuai dengan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S
(2005), yang menjelaskan bahwa stadia naupli masih memiliki cadangan makanan berupa kuning
telur sehingga pada stadia ini larva udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar.
Secara visual stadia naupli terlihat seperti laba-laba kecil dengan gerakan renang tersedat-sedat, lalu
berhenti sesaat kemudian melanjutkan renang. Pembagian tubuh atas karapas dan abdomennya
belum terlihat jelas dimana naupli 1 badan berbentuk bulat telur dengan tiga pasang anggota tubuh,
naupli 2 pada ujung antena pertama terdapat satae yang panjang dan pendek, naupli 3 terdapat dua
buah furtcel mulai tampak jelas dengan masing-masing tiga duri, tunas maxillped mulai tampak,
naupli 4 masing-masing furtcel mulai tampak jelas terdapat empat buah duri, antena kedua beruasruas, naupli 5 tonjolan pada maxilliped suah mulai jelas, naupli 6 perkembangan satae semakin
sempurnadan duri pada fortcel tumbuh makin panjang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 11 berikut :

N1 N2 N3

N6 N5 N4
Gambar: perkembangan naupli
2). Stadia zoea
Stadia naupli akan berubah menjadi stadia zoea setelah ditebar pada bak pemeliharaan sekitar 15-24
jam. Pada stadia ini zoea akan mengalami ganti kulit (moulting) hal ini sesuai dengan pendapat
Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005), yang menjelaskan bahwa pada stadia ini benih udang
mengalami moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2, zoea 3. Lama waktu proses
pergantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya sekitar 4-5 hari. Secara visual stadia ini memiliki
ciri yang khas, yaitu terlihat adanya kotoran yang enempel pada ekor dan berenang maju. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 12 dan untuk perkembangannya dapat dilihat pada Tabel 6:

Z1 Z2 Z3
Gambar12: Stadia zoea
Tabel 6: Ciri-ciri stadia zoea pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei)
Stadia Ciri-ciri yang menonjol
Zoea1
Badan pipih dan karapas mulai nyata, mata mulai tampak, alat pencernaan makanan mulai jelas.
Zoea 2 Mata mulai bertangkai dan pada karapas sudah terlihat rostrum.
Zoea 3 Sepasang uropoda mulai berkembang, ruas-ruas perut mulai tumbuh.
Sumber: Data Primer (2009)
3). Stadia Mysis
Pada stadia ini larva sudah hampir menyerupai bentuk udang yang bercirikan sudah terlihat ekor
kipas (uropoda) dan ekor (telson). Ukuran larva berkisar antara 3 4,5 mm. Pada stadia ini
berlangsung selama 3-4 hari dimulai dari stadia mysis 1-3 sebelum memasuki stadia post larva (PL),
gerakannya mundur kebelakang. Hal ini sesuai dengan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S
(2005) pada stadia ini, benih sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat
ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap pakan
fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50 - 4,80 mm. Stadia ini memiliki 3
substadia, yaitu mysis 1, mysis 2, mysis 3 yang berlangsung selama 3 - 4 hari sebelum masuk pada
stadia post larva. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat Gambar 13dan pada Tabel 7 berikut :

M1 M2 M
Gambar 13: stadia mysis
Tabel 7: Ciri-ciri stadia mysis pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei)
Stadia Ciri-ciri yang menonjol
Mysis 1 Bentuk badan sudah menyerupai udang dewasa
Mysis 2 Tunas kaki renang (pleopoda) mulai tampak nyata tetapi belum beruas-ruas
Mysis 3 Tunas kaki bertambah panjang dan beruas
Sumber: Data Primer (2011)
4). Stadia Post Larva
Pada stadia ini akan tampak jelas seperti udang dewasa. Larva sudah mulai bergerak aktif lurus ke
depan serta mempunyai sifat karnivora dimulai dari post larva (PL 1) sampai dengan panen benur.
Hal ini sesuai denan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini benih udang
sudah tampak seperti udang dewasa dan sudah mulai bergerak lurus ke depan. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Gambar 14 berikut:

Gambar Stadia Post Larva


Berdasarkan pengamatan pada tingkat kelangsungan hidup larva udang (Survival Rate/SR) larva
udang vannamei di IPU Gelung BBAP Situbondo didapatkan data seperti pada Tabel 8 di bawah ini :
Tabel 8. Tingkat Kelangsungan Hidup Larva
Stadia Bak Vol. bak Jumlah tebar/ton J.larva sampling estimasi SR%
PL3 1 27 2.500.000 1.080.000 43,20%
PL3 2 27 2.500.000 1.026.000 41,04%
PL3 3 27 2.500.000 1.328.000 53,12%
PL3 4 27 2.500.000 1.674.000 66,96%
PL3 7 27 2.500.000 1.242.000 45,68%
Sumber: data primer (2011)
Dari table di atas diketahui bahwa kepadatan larva pada setiap bak mengalami penurunan hal ini
terjadi akibat adanya mortalitas pada larva.
3.5. Penerapan Biosecurity
Penerapan biosecurity dalam kegiatan pemeliharaan larva sangat diperlukan untuk mengurangi
resiko penyebaran penyakit dari satu tempat ke tempat lain. Tindakan penceghan dengan penerapan
bioscurity dilakukan dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat) sebanyak 1 ppm yang
ditempatkan pada awal pintu masuk ruangan, hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan
Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa tindakan pencegahan penyakit dilakukan dengan
penerapan biosecurity dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat) sebanyak 1,5 ppm yang
ditempatkan pada awal pintu masuk sebelum memasuki dan akan memasuki ruangan.
Dengan penerapan biosecurity ini maka diharapkan dapat meminimalisir bibit penyakit yang masuk ke
area pembenihan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 15 berikut :

Gambar 15: Biosekuritas pada IPU Gelung BBAP Situbondo


Sumber: Data Primer (201
3.6. Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit pada larva udang vannamei dilakukan dengan prinsip dasar yaitu tindakan
pencegahan dan pengobatan. Dengan melakukan pencegahan diharapkan agar larva tidak sampai
terserang penyakit yang dapat mengakibatkan mortalitas dan kualitas menurun. Pencegahan penyakit

dapat dilakukan dengan pemberian probiotik.


Stadia yang paling rawan dalam pemeliharaan larva yaitu pada saat memasuki stadia zoea, jenis
penyakit yang sering mewabah adalah jenis zoothamnium sp dari golongan protozoa, menyerang
ketika stadia mysis-1 dengan gejala gerakan lemah, kebanyakan larva berada di atas permukaan air,
namun selama praktek tidak ditemukan adanya penyakit pada larva udang. Hal ini tidak sesuai
dengan pendapat Elovaara, A.K (2001) yang menyatakan bahwa penyakit yang menyerang udang
vannamei yaitu infectious hypodemal and hematopoietic necrosis virus (IHHNV), Reo-like virus
(REO), and Taura Syndrome virus (TSV ). Protozoa disebabkan oleh air media dan peralatan yang
kurang steril. Kurang sterilnya peralatan dimungkinkan pencucian menggunakan air tawar yang belum
ditrietment terlebih dahulu. Tindakan untuk mengurangi populasi protozoa tersebut dengan
melakukan pergantian air dan pemberian obat (treflan) sesuai dengan dosis yang dibutuhkan
3.7 Panen dan Pengangkutan
3.7.1. Panen
Waktu pemanenan dapat dilakukan kapan saja tergantung keinginan pembeli, pada pemeliharaan
larva untuk siklus ini pemanenan dilakukan pada malam hari sekitar pukul 19:00. Pemanenan benur
dilakukan dengan mengurangi volume air hingga mencapai 50% dari daya tampung bak melalui pipa
goyang atau pipa pengeluaran dan pipa saringan bagian dalam, air yang keluar ditampung dengan
menggunakan ember saringa yang berukuran 300, kemudian benur diseser dan ditampung dalam
baskom bersaring, hal ni sesuai dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993), yang menyatakan
bahwa caranya adalah membuka saluran pembuangan yang telah diberi saringan di dalamnya agar
air yang keluar tidak deras dan benur tidak ikut keluar.
Setelah benur bekurang, pipa saringan bagian dalam dilepas untuk dipanen secara total. Langkah
selanjutnya yaitu disaring kembali dengan saringan rangka besi berukuran 50x70 cm, dan airnya
dialirkan melalui saluran pembangan serta ditampung dalam ember bersaring. Setelah dipanen,
dilakukan sampling dengan menggunaka takaran yang telah diperitungkan kepadatannya. Setelah
proses sampling selesai kemudian benur dikemas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 17
berikut :

Gambar 16: Pemanenan dan Penghitungan Benur


Sumber: Data Primer (2011)
3.7.2. Pengangkutan
Pengankutan yang dilakukan di IPU Gelung BBAP Situbondo adalah pengangkutan cara tertutup,
yaitu dengan menggunakan kantong plastik yang ditempatkan dalam sterofom kemudian diberi es
untuk menurunkan suhu hal ini sesuai dengan pendapat Heryadi D dan Sutadi (1993), yang
menyatakan bahwa pengangkutan benur ummnya dilakukan dengan cara tertutup dan terbuka,
pengangkutan cara tertutup disenangi karena pengirimannya dapat dilakukan dengan menggunakan
bus, kereta api, pesawat udara, dan kendaraan lainnya. Cara ini membutuhkan es, kantong pastik,
tabung oksigen dan kardus Styrofoam.
Tujuan dari penurunan suhu yaitu agar selama dalam perjalanan benur tidak aktif. Pengaruh suhu
terhadap benur adalah, jika suhu dari air yang ada dalam kantong meningkat maka akan
meningkatkan metabolisme dari benur. Dengan meningkatnya metabolisme dari benur maka sisa
metabolisme atau ekskresi akan tinggi. Jika hal ini terjadi dalam kurun waktu yang lama maka akan
mangakibatkan terjadinya penurunan kualitas air sehingga dapat mempengaruhi benur yang ada
dalam media tersebut.
Kepadatan benur dalam kantong disesuaikan dengan permintaan pembeli dan jarak pengiriman
benur. Kepadatan benur untuk jarak dekat (lokal) yaitu 1000 ekor/liter. Kemudian diberi oksigen dan
diikat kuat dengan menggunakan karet gelang. Perbandingan antara air dan oksigen adalah 1 : 2, hal
ini untuk menjaga ketersediaan oksigen selama pengangkutan. Setelah itu kantong plastik
dimasukkan ke dalam kotak sterofoam. Pengiriman dilakukan dengan menggunakan alat transportasi
darat yaitu mobil pick up ke daerah Situbondo, Banyuwangi, Jember, Gresik, Tuban, Lamongan,
Sumenep, Rembang, Yogyakarta dan Purworejo.
Sedangkan prosedur pengangkutan jarak jauh (luar pulau) perlakuanya sama dengan pengiriman
jarak dekat, hanya saja kepadatannya ditingkatkan menjadi 4.000 8.000 ekor/kantong dan suhu air
yang dipakai sebagai media benur tidak sama. Suhu air untuk sistem pengangkutan benur jarak
jauh/luar pulau harus lebih rendah yaitu 27oC. Secara langsung keadaan ini berhubungan dengan
proses metabolisme serta reaksi kimia dalam tubuh larva udang yang semakin menurun sehingga
menyebabkan larva bergerak pasif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 17 berikut

Gambar 17 : Proses Packing (Data Primer, 2011)


Pengemasan benur untuk konsumen luar pulau dilakukan dengan menggunakan truk yang dilakukan
dengan pesawat terbang. Daerah pemasaran luar pulau adalah wilayah Tarakan dan Kalimantan
Timur.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Kegiatan magang yang dilakukan di Instalasi Pembenihan Udang (IPU) Gelung di Kecamatan
Panarukan Kabupaten Situbondo. Dari tanggal 17 februari 28 Maret 2011. Dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Pemberian probiotik sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan media yang digunakan.
2. Udang menjadi kanibal,pada saat takaran kurang dan telat dalam pemberian pakan pada udang
3. Perkembangan udang di pengaruhi oleh jenis dan dosis,pakan yang di berikan,dan juga kualitas air
yang baik.
4. Chaetoceros merupakan pakan alami yang paling menguntungkan bagi pemeliaharan udang
vannamei selain sesuai dengan standart chaetoceros mempunyai satu sel dan mengandung UFA.
4.2. Saran
1. Perlu pengadaan induk sendiri untuk mendukung kegiatan pembenihan sehingga kualitas benur
yang akan ditebar ataupun untuk dijual tetap terjaga.
2. Pemeriksaan kualitas air pada seksi larva sebaiknya dilakukan setiap hari untuk keberhasilan
pembenihan.
3. Ketersediaan pakan dan kualitasnya tetap terjaga.
4. Perlu adanya kedisiplinan, tangggung jawab dan kerjasama yang baik dalam bekerja.

DAFTAR BACAAN
Elovaara A. K, 2001. Shrimp Forming Manual Practical For Intensife Commercial Shrimp Production.
United States Centre of America, 2001
Hendz 314.2010. Pemelliharaan Larva Udang Vannamei. Diperoleh dari :
http://en.wikipedia.org/wiki/Penaeus_vannamei (Tanggal akses : 14 Januari 2010)
Subaidah s dkk.Juknis Pembenihan udang vannamei di BBAP Situbondo.Kementrian Kelautan dan
Perikanan,Direktorat Jendral Perikanan Budidaya,BBAP Situbondo.
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) tehnik pembenihan udang vannamei (litopanaeus
vannamei) skala rumah tangga.

http://yuddypodey.blogspot.com/2011/04/tehnik-pemeliharaanlarva-udang-vannmei.html

diakses pada 13 oktober 2014, at 06.10 PM