Anda di halaman 1dari 6

Linggir Alveolar

Setelah ekstraksi gigi, linggir alveolar umumnya akan mengalami penurunan tinggi dan
perubahan morfologi. Dalam jangka panjang, akan terjadi kehilangan progresif dari kontur
linggir alveolar sebagai akibat remodeling fisiologis dari tulang. Kehilangan gigi dalam jangka
panjang secara langsung berhubungan dengan pengurangan volume tulang pada pasien
edentulus.
Bentuk linggir alveolaris
Linggir alveolar yang lebar dan lereng sejajar ( bentuk U atau square ) akan mendapatkan
retensi dan stabilisasi yang baik pada gigi tiruan. Bentuk linggir sisa atau tajam ( bentuk V)
menyebabkan tidak dapat menahan tekanan dibandingkan dengan linggir alveolar yang lebar.
Bentuk linggir sisa disertai adanya undercut bentuk jamur dapat memberikan retensi yang baik.
Tapi dapat menimbulkan rasa sakit pada saat membuka dan memasang gigi tiruannya, bentuk
linggir alveolar perlu dilakukan perbaikan secara bedah

Etiologi perubahan struktur anatomi pada jaringan lunak dan jaringan keras
(Matthew et al, 2001)
1.Hilangnya tulang alveolar
Perubahan luas dapat terjadi pada morfologi rahang setelah gigi hilang. Tulang rahang
terdiri dari tulang alveolar dan tulang basal. Tulang alveolar dan jaringan periodontal mendukung
gigi, dan saat gigi hilang, tulang alveolar dan jaringan periodontal akan diresorbsi. Tulang
alveolar berubah bentuk secara nyata saat gigi hilang, baik dalam bidang horizontal dan vertikal.
Pada daerah posterior mandibula, tulang yang hilang kebanyakan dalam bidang vertikal. Setelah
terjadi resorbsi secara fisiologis, struktur tulang rahang yang tinggal disebut dengan istilah
residual ridge. Tulang yang ada setelah tulang alveolar mengalami resorbsi disebut dengan tulang
basal. Tulang basal tidak berubah bentuk secara nyata kecuali ada pengaruh lokal.
Struktur anatomi yang lain dapat menjadi lebih menonjol, genial tubercle dan perlekatan
ototnya dapat menonjol pada pasien yang mengalami resorbsi alveolar mandibula yang luas.

Daya pengunyahan pada pasien dengan gigi tiruan akan diteruskan melalui gigi dan akan diserap
oleh jaringan pendukung gigi ( periodontium dan tulang alveolar ). Pada pasien yang edentulous,
daya akan digunakan oleh gigi tiruan dan akan diteruskan melalui mukosa mulut ke tulang yang
ada dibawahnya. Oleh karena itu, gigi tiruan harus terpasang dengan baik, sehingga trauma pada
mukosa dan mulut dapat dihindari.

Proses Resorpsi Linggir Alveolar


Penyembuhan pada minggu-minggu awal setelah ekstraksi gigi telah dipelajari secara
histologi pada hewan dan manusia. Ketika gigi dicabut, soket gigi yang kosong yang terdiri
dari tulang kortikal (secara radiografik terlihat sebagai lamina dura) ditutupi oleh ligamen
periodontal yang terputus, dengan sejumlah epitel mukosa yang tertinggal di bagian korona.
Segera setelah ekstraksi soket gigi akan diisi dengan darah dari pembuluh darah yang terputus,
yang mengandung protein dan sel-sel yang rusak.
Sel-sel yang rusak bersama dengan platelet memulai serangkaian peristiwa yang akan
mengarah pada pembentukan jaringan fibrin, kemudian membentuk gumpalan darah atau
koagulum dalam 24 jam pertama. Gumpalan ini bertindak sebagai matriks yang mengarahkan
perpindahan sel mesenkimal dan growth factors. Neutrofil dan makrofag masuk ke daerah
luka dan melawan bakteri serta sisa jaringan untuk mensterilkan luka.
Dalam beberapa hari koagulum mulai rusak (fibrinolisis). Setelah 2 sampai 4 hari
jaringan granulasi secara bertahap menggantikan koagulum. Jaringan vaskular dibentuk antara
akhir minggu pertama dan minggu kedua. Bagian marginal dari soket ekstraksi ditutupi oleh
jaringan ikat muda yang kaya pembuluh darah dan sel inflamasi.
Dua minggu pascaekstraksi, pembuluh kapiler yang baru berpenetrasi ke pusat koagulum.
Ligamen periodontal yang tersisa mengalami degenerasi dan menghilang. Epitel berprolifeasi
melewati permukaan luka tetapi luka biasanya belum tertutup terutama pada kasus gigi posterior.

Pada soket yang kecil, epitelisasi dapat berlangsung sempurna. Tepi dari soket alveolar diresorpsi
oleh osteoklas. Fragmen tulang nekrosis yang lepas dari pinggiran soket pada saat ekstraksi akan
diresorpsi.
Pada minggu ketiga, koagulum akan hampir terisi penuh oleh jaringan granulasi yang
matang. Tulang trabekula muda yang berasal dari osteosid atau tulang yang belum terkalsifikasi
terbentuk di seluruh tepi luka dari dinding soket. Tulang ini terbentuk dari osteoblas yang berasal
dari sel pluripotensial ligamen periodontal yang bersifat osteogenik. Tulang kortikal dari soket
alveolar mengalami remodeling sehingga terdiri dari lapisan yang padat. Tepi dari puncak
alveolar akan diresorpsi oleh osteoklas. Pada saat ini, luka akan terepitelisasi secara sempurna.
Pada minggu keempat, luka mengalami tahap akhir penyembuhan. Sementara itu deposisi
dan resorpsi tulang terjadi pada soket. Antara minggu keempat dan kedelapan setelah ekstraksi,
jaringan osteogenik dan tulang trabekular dibentuk dan diikuti oleh proses pematangan tulang.
Proses remodeling akan berlanjut selama beberapa minggu. Tulang masih mengalami sedikit
kalsifikasi, sehingga akan terlihat radiolusen pada gambaran radiografik.Pada gambaran radiografik,
proses pembentukan tulang tidak terlihat menonjol hingga minggu ke enam pascaekstraksi.

Meskipun deposisi tulang dalam soket akan berlangsung selama beberapa bulan,
tinggi tulang tidak akan setingkat dengan tinggi tulang koronal dari gigi tetangga karena
pembentukan tulang trabekular hanya mencapai tepi soket ekstraksi, sedangkan resorpsi
tulang oleh osteoklas terjadi pada permukaan dari sisa linggir.

Inilah kombinasi yang menghasilkan porositas yang berbeda pada puncak dari sisa
14

linggir tulang alveolar.

Gambar : Gambaran radiografik penyembuhan luka ekstraksi: (A) Sebelum ekstraksi gigi,
(B) Setelah dua minggu, (C) Setelah satu bulan, (D) setelah dua bulan, (E) Setelah empat bulan (F)
Setelah Enam bulan, (G) Setelah 8 bulan. (Rajesndran. Shafers textbook of oral phatology 6th ed.
Elseiver :India, 2010:599-601)

Resorpsi setelah kehilangan gigi menunjukkan suatu pola yang dapat


diprediksi. Aspek labial dari crest alveolar merupakan sisi utama dari resorpsi, yang
pertama kali mengalami pengurangan lebar dan kemudian tinggi tulang. Penelitian
menunjukkan bahwa ada pengurangan tinggi dan lebar tulang sebagai hasil kombinasi
dari resorpsi permukaan dengan hilangnya bundel tulang yang pada awalnya terletak
dalam tulang alveolar dengan posisi yang tepat, berdekatan dengan ligamentum
periodontal yang berisi sejumlah besar serat Sharpey's. Kehilangan tulang terjadi pada
bidang vertikal dan horizontal.
Penyembuhan soket pascaekstraksi gigi menunjukkan kemajuan yang lebih
cepat pada maksila bila dibandingkan dengan mandibula karena jumlah pembuluh
darah yang lebih banyak sehingga menyebabkan pola resorpsi tulang yang lebih
cepat.

Gambar : Penurunan tinggi linggir alveolar setelah ekstraksi dari kaninus dan premolar satu
kiri bawah. (Rose LF, Rosenberg E. Bone grafts and growth and differentiation factor for regenerative
theraphy : a review. Prac Proced Aesthet Dent 2001; 13(9): 725-34).

Gambar : Dinding bukal soket gigi insisivus centralis kiri atas kolaps dua bulan pasca ekstraksi. Cangkok
tulang dibutuhkan jika pasien ingin memasang implan. (Rose LF, Rosenberg E. Bone grafts and growth and
differentiation factors for regenerative theraphy: a review. Prac Proced Aesthet Dent 2001; 13(9): 725-34).

Matthew et al., Surgical aids to Prosthodontics,Including Osseintegrated Implant in


Pedlar J., et al 2001, Oral and Maxillofacial Surgery. Edinberg. Churchill Livingstone

Stephens W., Preprosthetic Oral and Maxillofacial Surgery in Donoff B., 1997 Manual
of Oral and Maxillofacial Surgery. St. Louis Mosb