Anda di halaman 1dari 30

SUSPENSI OBAT MAAG

Disusun Oleh:
Yayu Setyaningsih (13334741)
Nita Dwi Lestari (13334742)

Dosen :
Rachmi Hutabarat, M.Si, Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
2014

1 |Sediaan Semi Solid dan Liquid

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayahNya
makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Teknologi Sediaan Semi Solid.
Makalah yang berjudul Suspensi Obat Maag" ini menjelaskan tentang hal-hal yang
berkaitan mengenai sediaan suspensi yang ditujukan untuk pengobatan maag, mulai dari
definisi, komposisi suspensi, hingga formulasi suspensi baik yang sudah mengalami
pengujian maupun yang baru dirancang oleh penulis guna memperkaya formulasi sediaan
terkait. Penulisan makalah ini, diharapkan dapat memberikan referensi untuk merancang
suatu formulasi atau pra formulasi sediaan suspensi obat maag dengan membandingkan hasilhasil dari pengujian formula yang sudah ada.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis
berharap kritik dan saran dari para pembaca berkaitan dengan makalah ini guna memperbaiki
makalah dan mengembangkan isinya agar makalah ini dapat lebih bermanfaat lagi bagi para
pembaca. Atas perhatiannya, penulis ucapkan terimakasih.

Jakarta,

November 2014

Penulis

2 |Sediaan Semi Solid dan Liquid

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.. ii
Daftar Isi..... iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.
2.
3.
4.

Latar Belakang....
Rumusan Masalah........................
Tujuan..
Manfaat....

1
1
1
2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Maag............. 3
Suspensi........................ 4

Definisi....... 4

Keuntungan Suspensi.... 5

Kerugian Suspensi.......... 5
o Stabilitas Suspensi 6
2.3.1 Ukuran Partikel.. 6
2.3.2 Kekentalan/Viskositas.. 6
2.3.3 Jumlah Partikel/Konsentrasi. 6
2.3.4 Sifat/Muatan Partikel 6
2.4 Kriteria Suspensi yang Baik. 7
2.5 Komponen Suspensi Obat Maag. 7
2.5.1 Zat Aktif Sukralfat. 7
2.5.2 Bahan Tambahan Suspensi.. .. 8
2.5.2.1 Bahan Pensuspensi/Suspending Agent... .. 8
2.5.2.2 Bahan Pembasah (Wetting agent)/Humektan . 9
2.5.2.3 Pemanis 10
2.5.2.4 Pewarna, Pewangi dan Perasa.. 11
2.5.2.5 Pengawet... 12
2.5.2.6 Antioksidan... 12
2.5.2.7 Pendapar.. 13
2.5.2.8 Acidifier 14
2.5.3 Flocculating Agent 14
2.5.3.1 Surfaktan.. 14
2.5.3.2 Polimer Hidrofilik.14
2.5.3.3 Clay... 15
2.5.3.4 Elektrolit... 15
2.6 Sistem Pembentukan Suspensi..15
2.6.1 Sistem Flokulasi...15
2.6.2 Sistem Deflokulasi. 16
2.7 Evaluasi Suspensi. 16
2.6.1 Evaluasi Fisika... 16
2.6.2 Evaluasi Kimia... 20
2.6.3 Evaluasi Biologi. 20
o
o

3 |Sediaan Semi Solid dan Liquid

BAB III METODOLOGI... 21


3.1 Formula. 21
3.2 Cara Pembuatan... 21
BAB IV PEMBAHASAN... 23
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan... 25
5.2 Saran..... 25
Daftar Pustaka.... v

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Sakit maag adalah nama penyakit yang sering kita dengar dan merupakan salah satu

gangguan pada sistem pencernaan kita yang menimbulkan rasa nyeri di lambung. Masyarakat
Indonesia masih menganggap remeh dan sering mengabaikan penyakit ini. Berdasarkan hasil
riset Brain dan Co dengan PT. Kalbe Farma tahun 2010 bahwa 5 dari 10 pekerja di Indonesia
mengalami gangguan maag. Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia menjaga kesehatan
lambungnya, menyebabkan jumlah penderita penyakit maag mengalami grafik kenaikan. Di
penjuru dunia saat ini penderita maag mencapai 1,7 miliar (Malau 2014).
4 |Sediaan Semi Solid dan Liquid

Obat sakit maag yang banyak beredar di pasaran adalah golongan antasid dan obat
penghambat produksi asam dalam berbagai bentuk sediaan seperti tablet kunyah, serbuk
(puyer) dan sediaan cair yang umumnya berupa suspensi. Obat maag dalam bentuk sediaan
cair atau suspensi lebih nyaman digunakan daripada tablet kunyah ataupun puyer karena lebih
mudah untuk dikonsumsi, meskipun waktu penggunaannya sama seperti bentuk sediaan yang
lain dari golongan antasid yaitu satu atau dua jam sebelum makan.
Sediaan obat yang beredar di pasaran harus memenuhi persyaratan mutu dan berkualitas
baik agar menunjang tercapainya efek terapeutik dari obat tersebut. Sediaan suspensi yang
sering memiliki kendala dari segi stabilitas yang perlu diperbaiki agar efek terapeutik dari zat
aktif dapat tercapai sesuai harapan. Oleh karena itu, formula baru perlu dirancang guna
meningkatkan nilai stabilitas dari suspensi dengan membandingkan kekurangan dan
kelebihan dari beberapa formula yang telah mengalami pengujian.
1.2

Rumusan Masalah
Bagaimanakah rancangan formulasi sediaan obat maag yang diharapkan lebih baik dari

formulasi suspensi yang telah mengalami pengujian, terutama dari segi ketahanan stabilitas
suspensinya.
1.3

Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
a) Mengetahui kekurangan dan kelebihan sediaan suspensi sebagai obat maag dari
sediaan lain.
b) Mengetahui karakteristik suspensi yang baik sebagai obat maag.
c) Mengetahui bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sediaan suspensi obat
maag.
d) Mengetahui kekurangan dan kelebihan dari formulasi suspensi obat maag yang telah
mengalami pengujian.
e) Merancang formula baru sediaan suspensi obat maag yang diharapkan dapat
memperbaiki kekurangan dan mempertahankan kelebihan dari formulasi yang sudah
ada.

1.4

Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan terkait sediaan suspensi obat

maag dan formulasinya, serta dapat memperbaiki rancangan formulasi yang sudah ada.

5 |Sediaan Semi Solid dan Liquid

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Maag
Penyakit pada lambung antara lain adalah sakit maag (gastritis), dispepsia dan

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Penyakit maag diakibatkan oleh asam lambung
yang berlebihan, sehingga dinding lambung tidak kuat menahan asam lambung sehingga
menimbulkan luka. Dispepsia disebabkan oleh berbagai penyebab antara lain gangguan daya
gerak saluran cerna bagian atas dan adanya waktu pengosongan lambung yang terlambat
serta stres psikis. GERD merupakan gangguan sebagai akibat terjadinya refluks
gastroesophageal. Gejala khas GERD adalah rasa panas di dada, rasa tidak nyaman waktu
menelan, dan rasa sakit waktu menelan. Kepastian diagnosa terhadap penyakit lambung dapat
dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium.

6 |Sediaan Semi Solid dan Liquid

Adapun penyebab dari penyakit ini dibedakan menjadi dua macam yaitu dikarenakan
zat eksternal dan internal. Zat eksternal adalah zat dari luar tubuh yang dapat menyebabkan
korosif atau iritasi lambung. Sedangkan zat internal adalah pengeluaran zat asam lambung
yang berlebihan dan tidak teratur. Adapun gejala lain yang bisa terjadi adalah karena stres
yang berkepanjangan dapat mengakibatkan produksi asam lambung berlebih. Kondisi-kondisi
penyebabnya antara lain :
1. Penyebab zat eksternal yang menyebabkan iritasi dan infeksi.
2. Penyebab zat internal (adanya penyebab meningkatnya asam lambung yang berlebihan).

Gambar 1. Anatomi Lambung Normal Manusia

Gambar 2. Anatomi Ulkus Peptikum

2.2

Suspensi
2.2.1 Definisi

7 |Sediaan Semi Solid dan Liquid

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus
dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan
tidak boleh cepat mengendap, jika dikocok perlahan-lahan, endapan harus segera
terdispersi kembali. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas
suspensi. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok
dan mudah dituang. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik dan ditempat sejuk.
Penandaan pada etiket harus juga tertera kocok dahulu. (FI edisi III).
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak melarut dan
terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa atau sediaan padat terdiri dari obat
dalam bentuk serbuk halus, dengan atau tanpa zat tambahan yang akan terdispersikan
sempurna dalam cairan pembawa yang ditetapkan. Yang pertama berupa suspensi jadi,
sedangkan yang kedua berupa serbuk untuk suspensi yang harus disuspensikan lebih
dahulu sebelum digunakan. (Fornas Edisi 2).
Suspensi oral adalah sediaan cair yang menggunakan partikel-partikel padat
terdispersi dalam suatu pembawa cair dengan flavouring agent yang cocok yang
dimaksudkan untuk pemberian oral. Suspensi topical adalah sediaan cair yang
mengandung partikel-partikel padat yang terdispersi dalam suatu pembawa cair yang
dimaksudkan untuk pemakaian pada kulit. Suspensi otic adalah sediaan cair yang
mengandung partikel-partikel mikro untuk pemakaian di luar telinga. (USP XXVII,
2004).
2.2.2 Keuntungan Suspensi
a) Baik digunakan untuk pasien yang sukar menerima tablet/kapsul, terutama
b)
c)
d)
e)

anak-anak.
Homogenitas tinggi.
Bisa digunakan untuk partikel/bahan obat yang tidak larut.
Mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.
Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan dapat

dibuat dalam sediaan suspensi.


f) Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan,
karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.
g) Stabil secara kimia karena suspensi tidak mengalami perubahan secara kimia
karena bahan aktifnya tidak larut sehingga tidak berinteraksi dengan
pelarutnya.
h) Kerjanya lebih cepat dibandingkan sediaan padat.
2.2.3 Kerugian Suspensi

8 |Sediaan Semi Solid dan Liquid

a) Tidak praktis dibawa bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya
puyer, tablet dan kapsul.
b) Keseragaman dan keakuratan dosis tidak dapat dibandingkan dengan sediaan
tablet.
c) Efektifitas formulasi sulit dicapai karena dalam pembuatannya lebih sulit
dibandingkan tablet.
d) Terjadinya sedimentasi zat atau bahan obat yang tidak terlarut.
e) Sediaan suspensi harus dikocok terlebih dahulu untuk memperoleh dosis yang
diinginkan.
f) Pada saat penyimpanan, kemungkinan terjadi perubahan sistem dispersi
(cacking, flokulasi-deflokulasi) terutama jika terjadi fluktuasi/perubahan
temperatur.
g) Ketepatan dosis lebih rendah daripada bentuk sediaan larutan.
h) Aliran menyebabkan sukar dituang.
i) Jika membentuk cacking akan sulit terdispersi kembali sehingga
homogenitasnya turun.
j) Kestabilan rendah akan terjadi pertumbuhan kristal (jika jenuh), degradasi dan
lain-lain.
2.3

Stabilitas Suspensi
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara

memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut
merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang
mempengaruhi stabilitas suspensi, diantaranya adalah sebagai berikut :
2.3.1 Ukuran Partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta
daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan
perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang
dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran
partikel maka semakin kecil luas penampangnya (Lachman,2008).
2.3.2 Kekentalan / Viskositas
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut,
makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat
dibuktikan dengan hukum STOKES.
2.3.3 Jumlah Partikel/Konsentrasi

9 |Sediaan Semi Solid dan Liquid

Apabila di dalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel
tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan
antara partikel tersebut (Lachman,2008). Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya
endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar
kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.
2.3.4 Sifat/Muatan Partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran
bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi
interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan
tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak
dapat mempengruhi (Lachman,2008).
Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer,
homogeniser, colloid mill dan mortar. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat
dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut ke dalam cairan tersebut.
Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan
pensuspensi), umumnya bersifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).
2.4

Kriteria Suspensi yang Baik


Menurut RPS

18th

ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi dalam formulasi suspensi

yang baik, yaitu partikel yang terdispersi harus memiliki ukuran yang sama dimana partikel
ini tidak mengendap dengan cepat dalam wadah, sedimen harus tidak membentuk endapan
yang keras atau endapan tersebut harus dapat terdispersi kembali dengan usaha yang
minimum dari pasien, serta produk harus mudah untuk dituang, memiliki rasa yang
menyenangkan dan tahan terhadap serangan mikroba. Menurut pdf. Liberman, suspensi yang
ideal atau suspensi yang diinginkan harusnya memiliki :
a) Idealnya bahan-bahan terdispersi harus tidak mengendap dengan cepat pada dasar
wadah. Bagaimanapun juga dikatakan termodinamika tidak stabil sebagai cenderung
mengendap. Oleh karena itu, seharusnya siap didispersikan kembali membentuk
campuran yang seragam dengan penggocokan sedang dan tidak membentuk cake.
b) Sifat fisika seperti ukuran partikel dan viskositasnya tetap harus tetap konstan
selama penyimpanan produk.
c) Viskositasnya memungkinkan untuk mudah mengalir dari wadah (mudah dituang).
Untuk penggunaan luar, produk harus cukup cair tersebar secara luas melalui daerah
yang diinginkan dan tidak boleh terlalu bergerak.

10 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

d) Suspensi untuk pemakaian luar sebaiknya cepat kering dan memberi lapisan
pelindung yang elastis dan tidak cepat hilang.
e) Harus aman, efektif, stabil, elegan secara farmasetik selama penyimpanan.
f) Suspensi kembalinya harus menghasilkan campuran yang homogen dari partikel
obat yang sama yang dipindahkan secara berulang-ulang.
2.5

Komponen Suspensi Obat Maag


2.5.1 Zat Aktif Sukralfat
Sukrafalt atau Sukrose hydrogen sulphate basic almunium salt, Sukrosa octakis
(hydrogen sulphate) alumunium complex.
Karakteristik
Pemerian
: Serbuk putih, praktis tidak laut dalam air dan sebagian besar pelarut
organik, larut dalam asam dan basa.
Penggunaan : Sukralfat digunakan pada pengobatan lambung dan duodenal ulcers.
Dosis yang direkomendasikan 1 gram empat kali sehari.
(Martindale edisi 28).
Penggunaan
a) Penggunaan terapi
Terapi dan profilaksis residif dari ulcus duodenum dan ulcus ventrikuli,
refluksesofagitis.
b) Farmakodinamik
Efek-efek : garam alumunium basa suatu sakarosa yang disulfatisasi, pada pH asam
membentuk gel yang dapat berikatan dengan protein, pelindung mukosa
utuh, penghalang bagi ulkus, inaktivasi pepsin, peningkatan pembebasan
prostaglandin.
c) Farmakokinetik
Hanya 1-2% yang mengalami absorpsi.
Efek samping : obstipasi, efek samping lain senyawa aluminium.
Kontraindikasi : insufisiensi ginjal.
Interaksi

: berkurangnya absorpsi golongan tetrasiklin, fenitoin, sulpirid, asam


ursodeoksikolat dan asam kenodeoksikolat, simetidin, ranitidin,
norflokasasin, siprofloksasin, sediaan teofilin retard, warfarin (dapat
dihindari dengan pemberian interval waktu dua jam).

(Farmakologi dan Toksikologi edisi 3).


2.5.2 Bahan Tambahan Suspensi
2.5.2.1 Bahan Pensuspensi/Suspending Agent
11 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

Berfungsi untuk memperlambat pengendapan, mencegah penurunan


partikel, dan mencegah penggumpalan resin dan bahan berlemak. Cara kerjanya
dengan meningkatkan kekentalan. Kekentalan yang berlebihan akan mempersulit
rekonstitusi dengan pengocokan. Suspensi yang baik mempunyai kekentalan
yang sedang dan partikel yang terlindung dari gumpalan/aglomerasi. Hal ini
dapat dicapai dengan mencegah muatan partikel, biasanya muatan partikel ada
pada media air atau sediaan hidrofil.
Bahan pensuspensi/ Suspending Agent yang digunakan dalam formula suspensi
sukralfat adalah CMC Na
Kelarutan : larut dalam air (pada semua temperatur), memberikan larutan
jernih, praktis tidak larut dalam pelarut organik.
pH : 1 % larutan dalam air mempunyai pH 6 8,5. Stabil pada range pH 510.
Viskositas musilago CMC Na menurun drastis pada pH<5 atau pH>10. Musilago
lebih peka terhadap perubahan pH daripada metilselulosa.
Stabilitas : terhadap panas, CMC Na dapat disterilisasi dalam keadaan kering
dengan mempertahankan suhu pada 160o C selama 1 jam, tetapi akan terjadi
penurunan viskositas secara perlahan-lahan dan sifat-sifat larutan yang dibuat
dari bahan yang telah disterilkan memburuk. Sterilisasi larutan dengan
pemanasan juga menyebabkan penurunan viskositas, tetapi hal ini tidak terlalu
dipermasalahkan. Bila suatu larutan dipanaskan dalam autoklaf pada 125 o C
selama 15 menit dan dibiarkan menjadi dingin, viskositas menurun sekitar 25%.
Karenanya, bila menghitung jumlah CMC Na yang akan dipakai dalam sediaan
yang akan disterilkan hal ini harus dipertimbangkan.
OTT : CMC Na adalah anionik, maka tidak tersatukan dengan kationik seperti
akriflavine, gentian violet, thiamin, Pharmagel A, germisida kuarterner, alkaloid,
hampir semua antibiotik dan logam berat (seperti Al, Zn, Hg, Ag, Fe), CMC Na
juga tidak tersatukan dengan larutan asam kuat, FeCl3 (garam-garam besi yang
larut air), alumunium sulfat dan banyak elektrolit.
Keamanan : CMC Na adalah zat yang non toksik.
Kegunaan : CMC Na digunakan untuk suspending agent dalam sediaan cair
(pelarut air) yang ditujukan untuk pemakaian eksternal, oral atau parenteral. Juga
dapat digunakan untuk penstabil emulsi dan untuk melarutkan endapan yang
terbentuk bila tinctur yang mengandung resin ditambahkan ke dalam air. Untuk

12 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

tujuan tersebut 0,25%1% atau 0,5%2% CMC Na dengan derajat viskositas


medium umumnya mencukupi.

2.5.2.2 Bahan Pembasah (Wetting agent)/Humektan


Digunakan untuk menurunkan tegangan permukaan bahan dengan air
(sudut kontak) dan meningkatkan dispersi bahan yang tidak larut. Bahan
pembasah yang biasa digunakan adalah surfaktan yang dapat memperkecil sudut
kontak antara partikel zat padat dan larutan pembawa. Surfaktan kationik dan
anionik efektif digunakan untuk bahan berkhasiat dengan zeta potensial positif
dan negatif. Sedangkan surfakatan nonionik lebih baik untuk pembasah karena
mempunyai range pH yang cukup besar dan mempunyai toksisitas yang rendah.
Konsentrasi surfaktan yang digunakan rendah karena bila terlalu tinggi dapat
terjadi solubilisasi, busa dan memberikan rasa yang tidak enak.
Bahan pembasah bekerja dengan menghilangkan lapisan udara pada
permukaan zat padat, sehingga zat padat dan humektan lebih mudah kontak
dengan pembawa. Contoh: gliserin, propilen glikol, polietilen glikol dan
lainlain.
Bahan Pembasah (Wetting agent)/Humektan yang digunakan dalam
formula suspensi sukralfat adalah gliserin.
karakteritik fisika : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,kental, cairan
higroskopis, rasa manis kira-kira 0.6x manisnya sukrosa Kelarutan : dapat campur
dengan air dan dengan etanol (95%)p, praktis tidak larut dalam kloroform, dalam
eter p, dan dalam minyak lemak.
karakteristik kimia : Gliserin murni tidak mudah teroksidasi pada kondisi
penyimpanan biasa tetapi membusuk pada keadaan panas. Campuran gliserin
dengan air, etanol dengan propilenglikol merupakan campuran kimia yang stabil.
Gliserin membentuk kristal pada temperatur rendah, kristal tidak akan melebur
sampai suhu 20C. Inkompatibilitas dengan oksidator kuat (kromium trioksid,
potasium klorat/potasium permanganat). Kontaminan besi di dalam gliserin dapat
menimbulkan penggelapan warna dalam campuran yang mengandung fenol,
salisilat dan tanin.
keterangan tambahan : Gliserin dapat berfungsi sebagai antimikroba,
sweetening agent, humektan, emolient, plastisizer agent, tonicity agent, solvent.
13 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

2.5.2.3 Pemanis
Berfungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Masalah yang perlu
diperhatikan pada perbaikan rasa obat adalah usia dari pasien, dimana anak-anak
lebih suka sirup dengan rasa buah-buahan, orang dewasa lebih suka sirup dengan
rasa asam, orang tua lebih suka sirup dengan rasa agak pahit seperti kopi dan
sebagainya. Keadaan kesehatan pasien, penerimaan orang sakit tidak sama
dengan orang sehat. Rasa yang dapat diterima untuk jangka pendek mungkin saja
jadi tidak bisa diterima untuk pengobatan jangka panjang. Rasa obat bisa berubah
dengan waktu penyimpanan. Pada saat baru dibuat mungkin sediaan berasa
enak, akan tetapi sesudah penyimpanan dalam jangka waktu tertentu
kemungkinan dapat berubah. Selain halhal tersebut. yang harus diperhatikan
dari perbaikan rasa adalah zat pemanis yang dapat menaikkan kadar gula darah
ataupun yang memiliki nilai kalor tinggi, sehingga tidak dapat digunakan dalam
formulasi sediaan untuk pengobatan penderita diabetes. Catatan :
b) pemanis yang biasa digunakan : sorbitol, sukrosa 2025%;
c) sebagai kombinasi dengan pemanis sintetis : siklamat 0,5%, sakarin 0,05%;
d) kombinasi sorbitol : sirupus simplex=30% b/v, 10% b/v ad 2025% b/v total;
e) pH>5 dipakai sorbitol, karena sukrosa pada pH ini akan terurai dan
menyebabkan perubahan volum;
f) sukrosa dapat menyebabkan kristalisasi.
Bahan pemanis yang digunakan dalam formula suspensi sukralfat adalah sirupus
simplex.
Pembuatan : Larutkan 65 bagian sakarosa dalam larutan metil paraben 0.25%
b/v secukupnya hingga diperoleh 100 bagian sirop.
Pemerian : Cairan jernih, tidak beerwarna.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, ditempat sejuk.
(Farmakope Indonesia Edisi 3, Hal 567)

2.5.2.4 Pewarna, Pewangi dan Perasa


Pewarna dan pewangi harus serasi, diantaranya sebagai berikut.
Asin

: Butterscoth, Mafile, Apricot, Peach, Vanili, Wintergreen mint.

Pahit : Wild cherry, Walnut, Chocolate, Mint combination, Passion fruit.


14 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

Manis : Buah-buahan berry, Vanili.


Asam : Citrus, Licorice, Root beer, Raspberry.
Bahan perasa yang digunakan dalam formula suspensi sukralfat adalah Menthol
0.2 g, Peppermint royal 2.0 g.
Menthol
Pemerian : Hablur berbentuk jarum atau prisma; tidak berwarna; bau tajam
seperti minyak permen; rasa panas dan aromatic diikuti rasa dingin.
Kelarutan : Sukar larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol (95%), dalam
kloroform P, dan dalam eter P; mudah larut dalam parfin cair P, dan dalam
minyak atsiri.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik; ditempat sejuk.
Khasiat dan kegunaan : Korigen dan antiiritan.
(Farmakope Indonesia Edisi 3, Hal 362)

2.5.2.5 Pengawet
Pengawet sangat dianjurkan jika dalam sediaan mengandung bahan alam,
atau bila mengandung larutan gula encer (karena merupakan tempat tumbuh
mikroba). Selain itu, pengawet diperlukan juga bila sediaan dipergunakan untuk
pemakaian berulang (multiple dose).

Pengawet yang sering digunakan,

diantaranya :
a) metil/propil paraben (2 : 1 ad 0,10,2 % total),
b) asam benzoat/Na-benzoat,
c) chlorbutanol/chlorekresol (untuk obat luar/mengiritasi),
d) senyawa

ammonium

(amonium

klorida

kuarterner) OTT

dengan

metilselulosa.
Bahan perasa yang digunakan dalam formula suspensi sukralfat adalah Propil
paraben 0.5%.
Nama lain : Nipagin
Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa.
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 3.5 bagian etanol (95%) P,
dalam 3 bagian aseton P, dalam 140 bagian gliserol P, dan dalam 40 bagian
minyak lemak, mudah larut dalam larutan alkali hidroksida.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
15 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

Khasiat dan kegunaan : Zat penawet.


(Farmakope Indonesia Edisi 3, Hal 535)

2.5.2.6 Antioksidan
Antioksidan jarang digunakan pada sediaan suspensi, kecuali untuk zat
aktif yang mudah terurai karena teroksidasi. Antioksidan bekerja efektif pada
konsentrasi rendah. Cara kerjanya dengan memblokir reaksi oksidatif yang
berantai pada tahap awal dengan memberikan atom hidrogen. Hal ini akan
merusak radikal bebas dan mencegah terbentuknya peroksida. Hal yang perlu
diperhatikan dalam memilih antioksidan :
a) efektif dalam konsentrasi rendah,
b) tidak toksik, tidak merangsang dan tidak membentuk hasil antara (sediaan)
yang berbahaya,
c) segera larut atau terdispersi pada medium,
d) tidak menimbulkan warna, bau, dan rasa yang tidak dikehendaki,
e) dapat bercampur (compatible) dengan konstituen lain pada sediaan.
Beberapa antioksidan yang lazim digunakan adalah golongan kuinol
(contoh : hidrokuinon, tokoferol, hidroksikroman, hidroksi kumeran, BHA,
BHT), golongan katekhol (contoh : katekhol, pirogalol, NDGA, asam galat),
senyawa mengandung nitrogen (contoh : ester alkanolamin turunan amino dan
hidroksi dari p-fenilamin diamin, difenilamin, kasein, edestin), senyawa
mengandung belerang (contoh : sisteina hidroklorida) dan fenol monohidrat
(contoh : timol).

2.5.2.7 Pendapar
Berfungsi untuk mengatur pH, memperbesar potensial pengawet dan
meningkatkan kelarutan. Dapar yang dibuat harus mempunyai kapasitas yang
cukup untuk mempertahankan pH. Pemilihan pendapar yaitu dengan pendapar
yang pKa-nya berdekatan dengan pH yang diinginkan Pemilihan pendapar harus
mempertimbangkan inkompatibilitas dan toksisitas. Dapar yang biasa digunakan
antara lain dapar sitrat, dapar posfat, dapar asetat.
Tabel Dapar Farmasetik

Jenis Dapar

pKa

16 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

Penggunaan

Dapar Fosfat

pKa1 = 2.15
pKa2 = 7.20
Dapar Sitrat
pKa1 = 3.128
pKa2 = 4.761
pKa3 = 7.20
Dapar asetat
pKa = 4,74
Dapar karbonat pKa1 = 6,34
pKa2 = 10,36
Dapar borat
pKa = 9,24

Sediaan oral, parenteral


dan optalmik
Sediaan oral, parenteral
dan optalmik
Sediaan oral
Sediaan oral
Sediaan optalmik

2.5.2.8 Acidifier
Berfungsi untuk mengatur pH, meningkatkan kestabilan suspense,
memperbesar potensial pengawet dan meningkatkan kelarutan. Acidifier yang
biasa digunakan pada suspensi adalah asam sitrat.

2.5.3 Flocculating Agent


Floculating agent adalah bahan yang dapat menyebabkan suatu partikel
berhubungan secara bersama membentuk suatu agregat atau flok. Floculating agent
dapat menyebabkan suatu suspensi cepat mengendap tetapi mudah diredispersi
kembali. Flokulating agent dapat dibagi menjadi empat kelompok yaitu sebagai
berikut.
2.5.3.1 Surfaktan
Surfaktan ionik dan non ionik dapat digunakan sebagai floculating agent.
Konsentrasi yang digunakan berkisar 0.001 sampai 1% b/v. Surfaktan non ionik
lebih disukai karena secara kimia lebih kompatibel dengan bahan-bahan dalam
formula yang lain. Konsentrasi yang tinggi dan surfaktan dapat menghasilkan
rasa yang buruk, busa dan caking.
2.5.3.2 Polimer Hidrofilik
Senyawa-senyawa ini memiliki bobot molekul tinggi dengan rantai karbon
panjang termasuk beberapa bahan yang pada konsentrasi besar berperan sebagai
suspending agent. Hal ini disebabkan adanya percabangan rantai polimer yang
membentuk struktur seperti gel dalam sistem dan dapat teradsorpsi pada
permukaan partikel padat serta mempertahankan kedudukan mereka dalam
bentuk sistem flokulasi. Polimer baru seperti xantin gum digunakan sebagai
flokulating agent dalam pembuatan sulfaguanidin, bismut sub karbonat, serta obat
17 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

lain. Polimer hidrofilik yang berperan sebagai koloid hidrofil yang mencegah
caking dapat juga berfungsi untuk membentuk flok longgar (floculating agent).
Penggunaan tunggal surfaktan atau bersama koloid protektif dapat membentuk
suatu sistem flokulasi yang baik. Pada proses pembuatan perlu diperhatikan
bahwa pencampuran tidak boleh terlalu berlebihan karena dapat menghambat
pengikatan silang antara partikel dan menyebabkan adsoprsi polimer pada
permukaan satu partikel saja kemudian akan terbentuk sistem deflokulasi.

2.5.3.3 Clay
Clay pada konsentrasi sama dengan atau lebih besar dari 0.1% dilaporkan
dapat berperan sebagai floculating agent pada pembuatan obat yang
disuspensikan dalam sorbitol atau basis sirup. Bentonit digunakan sebagai
floculating agent pada pembuatan suspensi bismut subnitrat pada konsentrasi
1.7%.
2.5.3.4 Elektrolit
Penambahan elektrolit anorganik pada suspensi dapat menurunkan
potensial zeta partikel yang terdispersi dan menyebabkan flokulasi. Pernyataan
Schulzhardy menunjukkan bahwa kemampuan elektrolit untuk memflokulasi
partikel hidrofobik tergantung dari valensi counter ionnya. Meskipun lebih efektif
elektrolit dengan valensi tiga lebih jarang digunakan dari mono. Di-valensi
disebabkan adanya masalah toksisitas. Penambahan elektrolit berlebihan atau
muatan yang berlawanan dapat menimbulkan partikel memisah masing-masing
dan terbentuk sistem flokulasi dan menurunkan kebutuhan konsentrasi surfaktan.
Penambahan NaCl dapat meningkatkan flokulasi. Misalnya suspensi sulfamerazin
diflokulasi dengan natrium dodesil polioksi etilen sulfat, suspensi sulfaguanidin
dibasahi oleh surfaktan dan dibentuk sistem flokulasi oleh AlCl 3. Elektrolit
sebagai flokulating agent jarang digunakan di indusri.
2.6

Sistem Pembentukan Suspensi


2.6.1 Sistem Flokulasi
Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah, cepat mengendap
dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali.
Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi adalah :
1. Partikel merupakan agregat yang bebas.
2. Sedimen terjadi cepat.

18 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

3. Sedimen terbentuk cepat.


4. Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi
5.

kembali seperti semula.


Ujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi terjadi cepat dan
diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata.

2.6.2 Sistem Deflokulasi


Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap dan akhirnya
membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk cake yang keras
dan sulit tersuspensi kembali.
Secara umum sifat-sifat dari partikel deflokulasi adalah :
1. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
2. Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing partikel mengendap terpisah
dan ukuran partikel adalah minimal.
3. Sedimen terbentuk lambat.
4. Akhirnya sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi
lagi.
5. Ujud suspensi menyenangkan karena zat tersuspensi dalam waktu relatif
lama. Terlihat bahwa ada endapan dan cairan atas berkabut.
2.7

Metode Pembuatan
2.7.1 Metode Dispersi
Serbuk yang terbagi halus, didispersi didalam cairan pembawa. Umumnya
sebagai cairan pembawa adalah air. Dalam formulasi suspensi yang penting
adalah partikel partikel harus terdispersi betul di dalam air, mendispersi serbuk
yang tidak larut dalam air, kadang kadang sukar. Hal ini di sebabkan karena
adanya udara, lemak dan lain lain kontaminan pada permukaan serbuk .
2.7.2 Metode Presitipasi
Dengan pelarut organik dilakukan dengan zat yang tidak larut dalam
air,dilarutkan dulu dalam pelarut organik yang dapat dicampur dengan air, lalu
ditambahkan air suling dengan kondisi tertentu. Pelarut organik yang digunakan
adalah etanol, methanol, propilenglikol dan gliserin. Yang perlu diperhatikan
dengan metode ini adalah control ukuran partikel, yaitu terjadinya bentuk
polimorf atau hidrat dari kristal.

2.8

Evaluasi Suspensi
2.8.1

Evaluasi Fisika
a) Uji bau, warna dan rasa.
Pemeriksaan organoleptik yang dilakukan meliputi bau, warna dan rasa.
b) Distribusi ukuran partikel.

19 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel :

metode mikroskopik merupakan metode langsung yang sering digunakan


pada penentuan ukuran partikel terutama sediaan suspensi dan emulsi,

metode pengayakan, menggunakan 1 seri ayakan standar yang telah


dikalibrasi oleh National Bureau of Standards. Ayakan sering digunakan
untuk pengklasifikasian/membagibagi ukuran partikel. Ayakan yang
tersedia dengan ukuran 90 m5 m, dibuat dengan teknik photoetching
& electroforming,

metode sedimentasi ukuran partikel pada subsieve range dapat


diperoleh melalui sedimentasi gravitasi berdasarkan hukum Stokes,

metode penentuan volume partikel instrumen yang populer digunakan


untuk penentuan volume partikel adalah coulter counter dengan prinsip
kerja dari alat ini adalah ketika partikel tersuspensi dalam cairan melewati
lubang kecil

c) Homogenitas (FI III, hal 33).

Homogenitas dapat ditentukan berdasarkan jumlah partikel maupun


distribusi ukuran partikelnya dengan pengambilan sampel pada berbagai
tempat (ditentukan menggunakan mikroskop untuk hasil yang lebih

akurat).
Jika sulit dilakukan atau membutuhkan waktu yang lama, homogenitas

dapat ditentukan secara visual.


Pengambilan sampel dapat dilakukan pada bagian atas, tengah atau bawah.
Sampel diteteskan pada kaca objek kemudian diratakan dengan kaca objek

lain sehingga terbentuk lapisan tipis.


Partikel diamati secara visual.
Penafsiran hasil : suspensi yang homogen akan memperlihatkan jumlah
atau distribusi ukuran partikel yang relatif hampir sama pada berbagai
tempat pengambilan sampel (suspensi dikocok terlebih dahulu).

d) Volume sedimentasi dan kemampuan redispersi.


Karena kemampuan meredispersi kembali merupakan salah satu pertimbangan
utama dalam menaksir penerimaan pasien terhadap suatu suspensi dan karena
endapan yang terbentuk harus dengan mudah didispersikan kembali dengan
pengocokan sedang agar menghasilkan sistem yang homogen, maka pengukuran

20 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

volume endapan dan mudahnya mendispersikan kembali membentuk dua


prosedur yang paling umum.
Prinsip : perbandingan antara volume akhir (Vu) sedimen dengan volume asal
(Vo) sebelum terjadi pengendapan. Semakin besar nilai V u, semakin baik
suspendibilitasnya.
Cara pengujian dilakukan dengan memasukkan sediaan ke dalam tabung
sedimentasi yang berskala (volume yang diisikan merupakan volume awal/V o),
setelah beberapa waktu/hari diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi,
ukur volume akhir (Vu) dan hitung volume sedimentasi (F).
Penafsiran hasil :

Bila F=1 dinyatakan sebagai Flocculation equilibrium merupakan sediaan


yang baik. Demikian bila F mendekati 1.

Bila F>1 terjadi Floc sangat longgar dan halus sehingga volume akhir lebih
besar dari volume awal. Maka perlu ditambahkan zat tambahan.

Formulasi suspensi lebih baik jika dihasilkan kurva garis yang horizontal atau
sedikit curam.

e) Bj sediaan dengan piknometer (FI IV, hal 1030).


Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, penetapan bobot
jenis digunakan hanya untuk cairan, dan kecuali dinyatakan lain, didasarkan pada
perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25C terhadap bobot air dengan
volume dan suhu yang sama. Bila suhu ditetapkan dalam monografi, bobot jenis
adalah perbandingan bobot zat di udara pada volume dan suhu yang sama. Bila
pada suhu 25 C zat berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang telah
tertera pada masing-masing monografi, dan mengacu pada air pada suhu 25 C.
Gunakan piknometer bersih, kering dan telah dikalibrasi dengan menetapkan
bobot piknometer dan bobot air yang baru dididhkan, pada suhu 25 C.
Atur hingga suhu zat uji lebih kurang 20 C, masukkan ke dalam piknometer.
Atur suhu piknometer yang telah diisi hingga suhu 25C.
Buang kelebihan zat uji dan timbang.
Kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot piknometer yang telah diisi.
Bobot jenis adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot zat dengan
bobot air dalam piknometer. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi,
keduanya ditetapkan pada suhu 25 C.
21 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

f) Sifat aliran dan viskositas dengan viskometer Brookfield.


Viskometer Brookfield merupakan viskometer banyak titik dimana dapat
dilakukan pengukuran pada beberapa harga kecepatan geser sehingga diperoleh
rheogram yang sempurna. Viskometer ini dapat pula digunakan baik untuk
menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton maupun non-Newton
g) Volume terpindahkan (FI IV , hal 1089).
Uji ini dilakukan sebagai jaminan bahwa larutan oral dan suspensi yang
dikemas dalam wadah dosis ganda, dengan volume yang tertera pada etiket tidak
lebih dari 250 ml yang tersedia dalam bentuk sediaan cair atau sediaan cair yang
dikonstitusi dari bentuk padat dengan penambahan bahan pembawa tertentu
dengan volume yang ditentukan, jika dipindahkan dari wadah asli akan
memberikan volume sediaan seperti yang tertera pada etiket. Caranya:
pilih tidak kurang dari 30 wadah,
untuk suspensi oral, kocok isi 10 wadah satu per satu,
untuk suspensi rekonstitusi, serbuk dikonstitusikan dengan sejumlah pembawa
seperti yang tertera pada etiket, konstitusi 10 wadah dengan volume pembawa
seperti yang tertera pada etiket diukur secara seksama dan campur,
tuang isi perlahanlahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah
dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari 2,5 kali volume yang diukur,
penuangan dilakukan secara hati-hati untuk menghindari pembentukan
gelembung udara pada waktu penuangan dan diamkan selama 30 menit,
jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran,
dimana volume rata-rata yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100%
dan tidak satu pun volume wadah yang kurang dari 95%.
jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100%, tetapi tidak ada satupun
wadah yang volumenya kurang dari 95%,
jika B adalah tidak lebih dari satu wadah volume kurang dari 95% tetapi tidak
kurang dari 90% dari volume yang tertera pada etiket, lakukan pengujian
terhadap 20 wadah tambahan,
volume rata-rata yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100% dan
tidak lebih dari satu dari 30 wadah volume kurang dari 95%, tetapi tidak
kurang dari 95%.
h) Penetapan pH (FI IV , hal 1039).
22 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

i) Kadar air (hanya untuk suspensi kering).


j) Penetapan waktu rekonstitusi (hanya untuk suspensi kering).
2.8.2 Evaluasi Kimia
a) Keseragaman sediaan, berupa uji keseragaman kandungan untuk suspensi
dalam wadah dosis tunggal.
b) Penetapan kadar (sesuai monografi masing-masing).
c) Identifikasi (sesuai monografi masing-masing).
d) Penetapan kapasitas penetralan asam (KPA) hanya untuk sediaan suspensi
antasida (FI IV, hal 942).
2.8.3 Evaluasi Biologi
a) Uji potensi (untuk antibiotik) (FI IV, hal 891-899).
b) Uji batas mikroba (untuk suspensi antasida) (FI IV , hal 847-854).
c) Uji efektivitas pengawet (FI IV, hal 854-855).

BAB III
METODOLOGI
3.1

Formula

23 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

Nama

F1

Bahan

F2

F3

F4

Sukralfat 500

Sukralfat

Sukralfat

Sukralfat 500

500 mg

mg

Zat Aktif

Sukralfat 10 g

Antacid

Suspending

Gom xanthan

Xantan Gum

mg
Na CMC 5

5 gram
Avicel

agent

0.3%

4.0 g
Dimeticon Oil

mg
Sorbitol 35

1%
Gliserol

4.2 g

mg
Magnesium

10%

Wetting agent

Potassium

Pendapar

Citrate 4.0 g

F5

Formulasi

CMC Na 5 mg
Gliserin 30 mg
Magnesium

karbonat 15

karbonat 20 mg

mg
Sirup

Pemanis

Aspartame 1.5 g

Sakarin 1%

sorbitol

Sakarin 1%

10%

Perasa

Pewarna

Menthol 0.2 g
Peppermint

Menthol 2 mg
Peppermint

royal 2.0 g
Rose white 2.0

royal 20 mg
Rose white 20

g
Mixed colour

and pounceau

4R 0.03 g
Flocculating

Polisorbat 80

agent

0.5 g
Methyl

Chlorhexidum

Pengawet

3.2

0.03 gram
Nipagin P 0.05
gram
Nipagin M 0.1

Sodium metyl

Methyl

Methyl

paraben

Paraben 1 g
Sodium Propyl

paraben
Propil

paraben
Propil

0.01 mg/ml
Propil

Paraben 1%

paraben

paraben

paraben 0.1

gram
ad 100 ml

ad 5 ml

ad 100 ml

mg/ml
ad 5 ml

suspensi

suspensi

suspensi

suspensi

Methyl
paraben 0.01
mg/ml
Propil paraben
0.1 mg/ml
ad 5 ml
suspensi

Cara Pembuatan
Aquades yang akan digunakan sebagai fase pendispersi dididihkan, kemudian
didinginkan dalam keadaan tertutup.
Bahan aktif dan eksipien ditimbang.
Bahan pensuspensi yang akan digunakan (yang dalam formula adalah CMC Na)
dikembangkan dengan cara dibuat dispersi stok hidrokoloid dengan menaburkan
serbuk CMC Na secara perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit ke dalam mortir

24 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

yang telah diisi air panas. Setelah semua serbuk CMC Na terbasahi, lalu aduk
dengan cepat.
Pemanis yang digunakansakarin 0.05%.
Jika digunakan pembasah, maka bahan aktif dihaluskan dengan penambahan sedikit
demi sedikit pembasah sampai homogen dalam mortir dan pindahkan.
Agen pensuspensi yang telah dikembangkan, ditimbang sesuai dengan jumlah yang
tertera dalam formula kemudian ditambahkan ke dalam bahan aktif yang telah
dibasahi kemudian diaduk sampai homogen.
Masukkan eksipien lain (pendapar, pengawet, antioksidan, dan lainlain yang telah
dilarutkan dalam beberapa bagian air sesuai dengan kelarutannya ke dalam
campuran tersebut diatas, sambil terus diaduk sampai homogen.
Setelah itu, pemaniss, pewarna, flavour ditambahkan dan adkan dengan air (untuk
eksipien berupa bahan pewarna dan flavour dibuat larutan stok terlebih dahulu
sebelum ditambahkan pada campuran bahan).
Suspensi dimasukkan ke dalam botol yang telah dicuci, dikeringkan dan ditara 100
ml.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Formula
Formula I didapat dari jurnal yang membahas mengenai stabilitas suspensi dalam
beberapa suspending agent. Suspending agent yang digunakan pada jurnal adalah
hidroksietilselulosa, gom xanthan dan karboksimetilselulosa. Dan dari hasil yang didapat,
25 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

meskipun pada jurnal tidak dituliskan secara pasti zat-zat tambahan lain dalam suspensi,
tetapi diperoleh hasil yang membuktikan bahwa gom xanthan dalam jumlah 0,3% memiliki
viskositas tertinggi dari suspending agent yang lain dalam bahan aktif sukralfat. Hal ini juga
membuktikan bahwa stabilitas sukralfat dalam gom xanthan adalah yang terbaik dari agen
pensuspensi lain yang digunakan dalam penelitian.
Formula 2 didapat dari jurnal yang membuat percobaan formulasi suspensi antasid
tanpa basis sorbitol untuk mencapai stabilitas dengan menggunakan gom xanthan dan
alginate pada berbagai konsentrasi. Seperti halnya pada sukralfat, penggunaan gom xanthan
sebanyak 0.4% dengan bahan aktif antasid untuk membentuk suspensi juga memberikan hasil
yang optimal dalam setiap aspek parameter evaluasi dan kriteria stabilitas dibandingkan
formulasi yang lain.
Formula 3 didapat dari jurnal yang membahas mengenai karakteristik agen pensuspensi
dalam meningkatkan suspendabilitas sediaan suspensi sukralfat. Pada jurnal ini formula
dituliskan lebih jelas daripada jurnal sebelumnya. Disini, gom xanthan sebagai suspending
agent yang telah dinyatakan memiliki kemampuan dalam menjaga kekentalan suspensi
terbaik pada percobaan sebelumnya, dibandingkan kembali dengan bahan suspending agent
yang lain, seperti CMC Na dan karboksimetilselulosa. Hasil yang didapat CMC Na memiliki
kemampuan untuk mengentalkan atau sebagai pengental terbaik dalam suspensi.
Formula 4 diperoleh dari jurnal yang memformulasikan sukralfat dengan beberapa agen
pensuspensi, seperti hidroksipropil metilselulosa K4M, metil selulosa 4000, Carbopol 934
dan mikrokristalin selulosa Avicel RC 591. Formulasi terbaik diperoleh dengan
memformulasikan 1% Avicel + 10% gliserol+ 10% sirup sorbitol dalam 100 ml suspensi
sukralfat. Dari formula tersebut diperoleh suspensi yang cepat mencapai homogenitas, mudah
terdispersi kembali apabila terjadi sedimentasi dan tahan dalam penyimpanan selama 6 bulan.
Pada formula 5 diperoleh dari jurnal yang membahas mengenai kemampuan tertinggi
dari metil paraben dan propil paraben yang dapat digunakan sebagai pengawet pada suspensi
sukralfat. Dan hasil yang diperoleh dari percobaan tersebut adalah jumlah terbaik yang dapat
digunakan sebagai pengawet untuk metil paraben sebanyak 0.01 mg/ml dan propil paraben
0.1 mg/ml. Dimana bahan pengawet ini dipilih untuk diuji karena memiliki spektrum
antimikroba yang luas dengan stabilitas yang baik, sehingga paling sering digunakan dalam
mengontrol pertumbuhan bakteri. Metil paraben dan propil paraben digunakan bersama-sama
agar menghasilkan aktivitas yang sinergis.
Formula 6 merupakan formula yang penulis rancang sebagai hasil perbandingan
beberapa formula yang diperoleh dari jurnal. Pada formula ini zat aktif sukralfat akan dibuat
26 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

suspensi sebanyak 5 ml. Suspending agent yang digunakan adalah CMC Na karena memiliki
kemampuan mengentalkan atau sebagai zat pengental terbaik, sehingga mampu memberikan
nilai yang tinggi terhadap stabilitas suspensi. Sedangkan, pendapar yang digunakan dipilih
magnesium karbonat daripada dapar sitrat karena kemampuan untuk menetralisir asam dari
magnesium karbonat sangat baik. Umumnya pada penderita penyakit maag lambung teriritasi
akibat adanya produksi asam lambung tanpa disertai keberadaan makanan dalam lambung.
Hal ini membuat asam lambung jadi mengiritasi dinding lambung dan menimbulkan luka
pada lambung. Oleh karena itu, sebaiknya sediaan obat lambung tidak bersifat asam.
Pengawet yang digunakan adalah metil paraben dan propil paraben dengan jumlah yang
sesuai dari hasil formula ke-5.

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Suspensi sukralfat terbaik diperoleh dengan menggunakan agen pensuspensi berupa

CMC Na dan pendapar magnesium karbonat yang memiliki kemampuan mengikat asam
terbaik, serta pengawet propil paraben yang sesuai sebagai antimikroba berspektrum luas.
27 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

5.2 Saran
Dalam membuat formulasi suspensi sukralfat sebaiknya dipilih agen pensuspensi yang
mampu memberikan stabilitas terbaik pada sediaan, pendapar yang mengikat asam dengan
baik dan perasa yang disesuaikan. Sehingga diharapkan sediaan yang terbentuk akan cukup
stabil dan tidak bersifat asam, terkait dengan fungsinya sebagai obat maag.

PERTANYAAN
1. Yeyen
Alasan pemakaian CMC Na dibandingkan Avicel 1%?
Jawab : CMC Na digunakan untuk suspending agent dalam sediaan cair (pelarut air) yang
ditujukan untuk pemakaian eksternal, oral atau parenteral. Juga dapat digunakan untuk
penstabil emulsi dan untuk melarutkan endapan yang terbentuk bila tinctur yang mengandung
resin ditambahkan ke dalam air. Untuk tujuan tersebut 0,25%1% atau 0,5%2% CMC Na
dengan derajat viskositas medium umumnya mencukupi. CMC Na juga memiliki kemampuan
28 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

mengentalkan atau sebagai zat pengental terbaik, serta memberikan nilai yang tinggi terhadap
stabilitas suspensi.

2. Rio
Mengapa menggunakan metilparaben dan propylparaben sebagai pengawet?
Jawab : Metil dan propil paraben dapat digunakan sebagai pengawet karena spectrum
antimikroba yang luas dengan stabilitas yang baik. Metil paraben dan propil paraben
digunakan bersama-sama agar menghasilkan aktivitas yang sinergis.
3. Dian
Kenapa menggunakan peppermint royal dan menthol sebagai bahan perisa, apakah
tidak berpengaruh dilambung?
Jawab : Menthol
Pemerian : Hablur berbentuk jarum atau prisma; tidak berwarna; bau tajam seperti
minyak permen; rasa panas dan aromatic diikuti rasa dingin.
Penggunaan menthol disini untuk menimbulkan rasa dingin pada lambung, dan
menimbulkan aroma menthol, sehingga mengurangi rasa mual pada saat
mengkosumsi obat maag.

DAFTAR PUSTAKA
1. Malau, F.B., dkk. Pemeriksaan Mutu Tablet Kunyah Antasida yang Mengandung
Famotidin yang Beredar di Apotek Kota Medan. repository.usu.ac.id.
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III .
Jakarta: Depkes RI.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Formularium Nasional Edisi 2.
Jakarta : Depkes RI.
4. USP 27NF 22. 2004. United States Pharmacopeia and The National Formulary.
Rockville (MD) : The United States Pharmacopeial Convention.
5. Leon Lachman. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi 2. Jakarta : Universitas
Indonesia.
29 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d

6. JP. FPS. MCPP, W. H. Howorth. 1982-1983. Martindale (The Extra Pharmacopoeia)


edition 28. Departemen of Pharmaceutical Science.
7. Schmitz, Gery dan Hans Lepper. 2003. Farmakologi dan Toksikologi Edisi 3. Jakarta :
Buku Kedokteran ECG.
8. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.
Jakarta: Depkes RI.
9. Dziubinski, M, dkk. 2004. Study of Suspensio Stability. www.uvrup.sk/pc. Diakses
tanggal: 28 Oktober 2004.
10. Goel, Achhrish, dkk. 2013. Stabilization of Antacid Formulation without Sorbitol.
ijesh.com/wp-content/uploads/2013/07/Sorbitol.pdf. Diakses tanggal : 1 Juli 2013.
11. Reddy, Dastagiri, dkk. 2014. Preparation and Characterization of Sucralfate Suspension
Containing Different Suspending Agents

for Improving Suspendability. www.

ijrps.pharmascope.org. Diakses tanggal : 9 Agustus 2014.


12. S. El-Samaligy, dkk. 1994. Formulation and Evaluation of Sucralfate Suspension. Journal
Egyptian

Journal

of

Pharmaceutical

Sciences

1994.

Vol

35.

http://cabdirect.org/abstracts/19960310659.html.
Kamble, R.M, dkk. 2010. Simultaneous Determination of Preservatives (Methyl Paraben
and Propyl Paraben) in

Sucralfate Suspension Using High Performance Liquid

Chromatography. www.e-journals.net. Diakses ta

30 | S e d i a a n S e m i S o l i d d a n L i q u i d