Anda di halaman 1dari 15

A Teori Belajar Sosial (Albert Bandura)

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational


learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru
dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Albert Bandura
lahir

tanggal

Desember

berkebangsaan Kanada.

1925

di

Mundare

Alberta

Ia seorang psikolog yang terkenal

dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri.
Ekperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo
Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku
agresif dari orang dewasa disekitarnya.
Teori pembelajaran sosial ini adalah perkembangan utama
dari tradisi teori pembelajaran prilaku (Behaviorisme). Berbeda
dengan penganut Behaviorisme, Teori Bandura menjelaskan
perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang
berkesinambungan
lingkungan.

antara

Kondisi

kognitif,

lingkungan

perilaku
sekitar

dan

pengaruh

individu

sangat

berpengaruh pada pola belajar sosial ini. Misalnya seorang yang


hidup dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi, maka dia
cenderung menyenangi judi, atau sekitarnya menganggap bahwa
judi itu tidak jelek.
Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang
dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral
terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku
(modeling).

Teori

ini

juga

masih

memandang

pentingnya

conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang


individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang
perlu dilakukan.
Bandura sebagai seorang behavioris moderat penemu teori
social learning/ observational learning, setiap proses belajar
terjadi dalam urutan tahapan peristiwa (4 unsur utama) dan

berakhir dengan penampilan atau kinerja (performance) tertentu


sebagai hasil/ perolehan belajar seorang siswa. yang meliputi:
Fase Perhatian (attentian)
Memberikan perhatian pada orang yang ditiru. Sebagai
pengamat orang tidak dapat belajar melalui observasi
kecuali kaku ia memperhatikan kegiatan-kegiatan yang
diperagakan oleh model itu sendiri dan benar-benar
memahaminya.
kejelasan,

Mencakup

keterlibatan

peristiwa

perasaan,

peniruan
tingkat

(adanya

kerumitan,

kelaziman, nilai fungsi) dan karakteristik pengamatan


(kemampuan

indera,

minat,

persepsi,

penguatan

sebelumnya).
Fase Pengingat (retention)
Seorang pengamat harus dapat mengingat apa yang yang
telah dilihatnya. Dia harus mengubah informasi yang
diamatinya
mengubah
menyimpan
pengkodean

menjadi

bentuk

simbol-simbol
dalam

gambaran
verbal,

ingatannya.

simbolik,

mental,

dan

atau

kemudian

Mencakup

pengorganisasian

kode
pikiran,

pengulangan simbol, pengulangan motorik.


Reproduksi motorik (reproduction)
Yaitu proses peniruan adalah mengubah ide gambaran,
atau ingatan menjadi tindakan. Mencakup kemampuan
fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
Peneguhan/Motivasi (reinforcement/motivation)
Mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap
diri sendiri.
Prinsip-prinsip yang Mendasari Teori Belajar Sosial

Adapun prinsip-prinsip yang mendasari teori belajar sosial


yang dikemukakan oleh Bandura, yaitu:
1)

Prinsip faktor-faktor yang saling menentukan


Bandura menyatakan bahwa diri seorang manusia pada
dasarnya adalah suatu sistem (sistem diri/self system). Sebagai
suatu sistem bermakna bahwa perilaku, berbagai faktor pada diri
seseorang,

dan

lingkungan

orang

peristiwa-peristiwa
tersebut,

secara

yang

terjadi

bersama-sama

dalam
saling

bertindak sebagai penentu atau penyebab yang satu terhadap


yang lainnya. Berikut ini dijelaskan interaksi berbagai faktor
pembentuk sistem diri (self sistem) pada sebuah bagan (Gambar
2.2).

Keterangan :
P

= Singkatan dari Personal atau kepribadian seseorang

B = Singkatan dari Berhavior atau perilaku seseorang

= Singakatan dari Environment atau lingkungan luar

Sistem yang saling terkait seperti yang ditampilkan dalam bagan


di atas menggambarkan ketiga faktor yaitu: faktor kepribadian
(Personal), faktor perilaku (Behavior), dan faktor lingkungan
(Environment). Sepasang anak panah yang berlawanan arah
pada setiap faktor tersebut menunjukkan bahwa setiap faktor
tersebut dapat mempengaruhi atau dapat bersifat sebagai
penentu terhadap faktor-faktor lainnnya secara timbal balik.
Sebagai contoh, Seorang anak bernama Andi adalah
pribadi yang memiliki harapan-harapan dan nilai-nilai di samping
gaya

pribadi

tantangan

atau

kepribadian

intelektual

disekitarnya

atau

(P/Personal).

tertentu,

berinteraksi
Sebagai

suka

tantangan-

dengan

konsekuensinya

orang
Andi

melanjutkan pendidikan di sebuah universitas. Karena Andi suka


dengan

perkuliahan

menunjukkan

prilaku

di

universitas

(B/Behavior)

tersebut,

yang

positif

maka
dan

Andi
penuh

semangat dalam mempelajari dan mempraktekkan berbagai


mata kuliah yang ia ambil. Rekan-rekan yang ada di tempat kerja
Andi dan kelompok tutorial, juga keluarga serta orang-orang di
sekitar Andi yang mengetahui kepribadian Andi (P/Personal) akan
bereaksi dengan reaksi-reaksi tertentu (E/Environment), misalnya
keramahan serta kekaguman akan kemampuan Andi membagi
waktu antara kerja, rumah tangga, kuliah, dan bermasyarakat.
Mereka juga bereaksi (E/Environment) terhadap perilaku Andi
(B/Behavior). Jika Andi melakukan suatu perbuatan aneh atau
yang tidak disangka-sangka (B/Behavior), maka mereka akan
bereaksi terhadap perbuatan Andi itu. Reaksi mereka itu
(E/Environment), secara timbal balik mempengaruhi prilaku Andi

(B/Behavior), disamping berdampak

pada

kepribadian

Andi

(P/Personal). Jika mereka berhenti bersikap ramah terhadap andi


(E/Environment), misalnya karena Andi terlalu sibuk belajar dan
bekerja sehingga ia melupakan keluarga atau teman-temannya,
Andi

mungkin

akan

menjadi

murung

(P/Personal),

karena

keluarga atau teman/tetangganya mulai acuh karena tidak


diperhatikan. Jadi, diri Andi adalah suatu sistem dan faktor-faktor
di dalam atau di luar dirinya (pribadi, prilaku, lingkungan),
berdampak satu terhadap lainnya.
2)

Kemampuan

untuk

membuat

atau

memahami

simbol/tanda/lambang
Bandura menyatakan bahwa orang memahami dunia
secara simbolis melalui gambar-gambar kognitif, jadi orang lebih
bereaksi terhadap gambaran kognitif dari dunia sekitar dari pada
dunia itu sendiri. Artinya, karena orang memiliki kemampuan
berfikir dan memanfaatkan bahasa sebagai alat untuk berfikir,
maka hal-hal yang telah berlalu dapat disimpan dalam ingatan
dan hal-hal yang akan datang dapat pula diuji secara simbolis
dalam pikiran. Perilaku-perilaku yang mungkin diperlihatkan akan
dapat diduga, diharapkan, dikhawatirkan, dan diuji cobakan
terlebih dahulu secara simbolis, dalam pikiran, tanpa harus
mengalaminya secara fisik terlebih dahulu. Karena pikiran-pikiran
yang merupakan simbul atau gambaran kognitif dari masa lalu
maupun

masa

depan

itulah

yang

mempengaruhi

atau

menyebabkan munculnya perilaku tertentu.


3)

Kemampuan berpikir ke depan


Selain dapat digunakan untuk mengingat hal-hal yang
sudah pernah dialami, kemampuan berpikir atau mengolah
simbol tersebut dapat dimanfaatkan untuk merencanakan masa
5

depan. Orang dapat menduga bagaimana orang lain bisa


bereaksi terhadap seseorang, dapat menentukan tujuan, dan
merencanakan tindakan-tindakan yang harus diambil untuk
mencapai tujuan-tujuan tersebut. Inilah yang disebut dengan
pikiran ke depan, karena biasanya pikiran mengawali tindakan.
4)

Kemampuan untuk seolah-olah mengalami apa yang dialami


oleh orang lain
Orang-orang, terlebih lagi anak-anak mampu belajar
dengan

cara

memperhatikan

orang

lain

berperilaku

dan

memperhatikan konsekuensi dari perilaku tersebut. Inilah yang


dinamakan belajar dari apa yang dialami orang lain.
5)

Kemampuan mengatur diri sendiri


Prinsip

berikutnya

dari

belajar

sosial

adalah

orang

umumnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilaku


mereka sendiri. Seberapa giat orang bekerja dan belajar, berapa
jam orang tidur, bagaiamana bersikap di muka umum, apakah
orang mengerjakan pekerjaan kuliah dengan teratur, dsb, adalah
contoh prilaku yang dikendalikan. Perilaku ini tidak dikerjakan
tidak selalu untuk memuaskan orang lain, tetapi berdasarkan
standar dan motivasi yang ditetapkan diri sendiri. Tentu saja
orang akan berpengaruh oleh perilaku orang lain, namun
tanggung jawab utama tetap berada pada diri sendiri.
6)

Kemampuan untuk berefleksi


Prinsip terakhir ini menerangkan bahwa kebanyakan
orang

sering

melakukan

refleksi

atau

perenungan

untuk

memikirkan kemampuan diri mereka pribadi. Mereka umumnya


mampu memantau ide-ide mereka dan menilai kepantasan ideide tersebut sekaligus menilai diri mereka sendiri. Dari semua
6

penilaian diri sendiri itu, yang paling penting adalah penilaian


terhadap beberapa komponen atau seberapa mampu mereka
mengira diri mereka dapat mengerjakan suatu tugas dengan
sukses.
Konsep-Konsep

Penting

dalam

Kepribadian

menurut

Bandura
1)

Sistem Diri (Self System)


Bandura

(dalam

Friedman

dan

Schustack,

2008:276)

mengajukan sebuah konsep yang memiliki peran penting dalam


kepribadian, yang ia sebut dengan self-system, satu set proses
kognitif

yang

individu

gunakan

untuk

mempersepsi,

mengevaluasi, dan meregulasi prilakunya sendiri agar sesuai


dengan lingkungannya dan efektif dalam mencapai tujuan yang
ingin dicapai. Oleh karena itu, individu tidak hanya dipengaruhi
oleh proses reinforcement eksternal yang disediakan lingkungan,
tetapi juga oleh ekspektasi, reinforcement, pikiran, rencana,
tujuan atau proses internal dari diri. Aspek kognitif yang aktif
dalam diri individu sangat penting dalam pembelajaran. Selain
berespon terhadap reinforcement langsung dengan mengubah
prilaku di masa depan, orang dapat berpikir dan mengantisipasi
pengaruh

dari

konsekuensi

lingkungan.

yang

mungkin

Individu
akan

dapat

timbul

mengantisipasi

dari

perilakunya

sehingga mereka memilih tindakan berdasarkan respon yang


dihadapkan dari lingkungan dan masyarakat.
Walaupun

teori

pembelajaran

klasik

mengasumsikan

bahwa prilaku seseorang berubah sepanjang waktu karena


pengaruh langsung dari reinforcement dan hukuman melalui
hubungan stimulus-respons, teori Bandura menyatakan bahwa
pengaruh reinforcement sebelumnya akan terinternalisasikan
7

dan perilaku berubah karena berubahnya pengetahuan dan


ekspektasi seseorang (Friedman dan Schustack, 2008:276).
Pendekatannya memberikan peranan penting pada apa yang
disebutnya dengan human agency. Kapasitas seseorang untuk
mengontrol perilakunya, dan juga mengontrol proses berpikir
internal dan motivasinya. Pengetahuan bahwa prilaku tertentu
(oleh orang lain atau diri sendiri), pada situasi tertentu,
mendapatkan reinforcement
berharap

bahwa

perilaku

di masa lalu membuat individu


yang

sama

akan

mendapatkan

reinforcement pada situasi yang sama (atau serupa) di masa


depan. Maka pendekatan ini menggunakan kekuatan pendekatan
pembelajaran dan kognitif terhadap kepribadian.
2)

Efikasi Diri (Self Efficacy)


Menurut Friedman dan Schustack, (2008:283) self-efficacy
adalah ekspektasi keyakinan (harapan) tentang seberapa jauh
seseorang mampu melakukan satu perilaku dalam suatu situasi
tertenu.

Self-efficacy

yang

positif

adalah keyakinan

untuk

mampu melakukan perilaku yang dimaksud. Tanpa Self-efficacy


(keyakinan tertentu yang sangat situasional), orang bahkan
enggan mencoba melakukan suatu perilaku. Menurut Bandura
(dalam Friedman dan Schustack, 2008:283) menyatakan selfefficacy menentukan apakah kita akan menunjukkan perilaku
tertentu, sekuat apa kita dapat bertahan saat menghadapi
kesulitan atau kegagalan, dan bagaimana kesuksesan atau
kegagalan dalam satu tugas tertentu mempengaruhi perilaku
kita di masa depan.
Jika seseorang tidak yakin dapat memproduksi hasil yang
mereka inginkan, mereka akan memiliki sedikit motivasi untuk
bertindak. Sebagai contoh, dalam satu penelitian, para lulusan

bisnis diminta menemukan dan menggunakan aturan manajerial


untuk menstimulasi suatu organisasi. Sebagian partisipan diberi
tahu bahwa keterampilan yang dibutuhkan bersifat bawaan jika
Anda tidak memiliki keterampilan, Anda tidak bisa berhasil.
Partisipan ini menurunkan ekspektasi hasil yang akan mereka
raih dan tidak menunjukkan performa yang baik. Partisipan lain
diberi tahu keterampilan yang dibutuhkan dapat diperoleh
dengan latihan; para partisipan ini membuat target yang
menantang

dan

mengembangkan

strategi

organisasi

yang

sukses.
Menurut Friedman dan Schustack (2008:283) menyatakan,
keyakinan

tentang

self-efficacy

adalah

hasil

dari

jenis

informasi, yaitu: (1) pengalaman kita dalam melakukan perilaku


yang diharapkan atau perilaku yang serupa (kesuksesan dan
kegagalan di masa lalu); (2) melihat orang lain melakukan
perilaku

tersebut

atau

perilaku

yang

kurang

lebih

sama

(vicarious experience); (3) persuasi verbal (bujukan orang lain


yang

bertujuan

untuk

menyemangati

atau

menjatuhkan

performa); dan (4) apa perasaan kita tentang perilaku yang


dimaksud (reaksi emosional).
Bandura juga telah mempraktekkan konstruk self-efficacy dalam
bidang kesehatan. Self-efficacy terkait dengan aspek fisiologis
kesehatan. Orang yang tidak memiliki self-efficacy mengalami
stress yang berdampak pada kesehatan dan sistem imunnya.
Self-efficacy

juga

terkait

dengan

potensi

individu

untuk

berperilaku sehat, orang yang tidak yakin bahwa mereka dapat


melakukan suatu perilaku yang dapat menunjang kesehatan
akan cenderung enggan mencoba.
3)

Regulasi Diri (Self Regulation)


9

Menurut Friedman dan Schustack (2008:284) menyatakan,


regulasi diri adalah proses dimana seseorang dapat mengatur
pencapaian dan aksi mereka sendiri, menentukan target untuk
diri mereka, mengevaluasi kesuksesan mereka saat mencapai
target tersebut, dan memberi penghargaan pada diri mereka
sendiri karena telah mencapai tujuan tersebut. Konsep selfefficacy

adalah

elemen

penting

dari

proses

ini,

yang

mempengaruhi pilihan target dan tingkat pencapaian yang


diharapkan.
miliki,

yang

berperilaku

Yang juga penting adalah skema yang individu


mendasari
dalam

bagaimana

lingkungannya.

orang

memahami

Konstruk

regulasi

dan
diri

menitikberatkan pada kontrol internal (interpersonal) perilaku


kita. Proses regulasi diri memiliki relevansi yang luas terhadap
banyak bidang, terutama bidang kesehatan dan pendidikan,
yang merupakan bidang di mana pemahaman yang lebih baik
mengenai bagaimana orang melatih kontrol perilaku mereka
sendiri

akan

berdampak

pada

meningkatnya

keberhasilan

masyarakat dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

B Teori Belajar Sosial (Vygotsky)

10

Vygotsky

merupakan

salah

seorang

tokoh

konstruktivisme, beliau adalah seorang sarjana Hukum, tamat


dari Universitas Moskow pada tahun 1917.
Teori pembelajaran sosial Vygotsky, menekankan pada
aspek sosial dalam pembelajaran. bahwa proses pembelajaran
akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas
yang belum dipelajari, namun tugas-tugas tersebut masih
berada dalam jangkauan mereka yang disebut Zone of
Proximal Development, yaitu daerah tingkat perkembangan
sedikit di atas daerah tingkat perkembangan seseorang saat
ini.
Vygotsky juga menekankan pada pengaruh budaya. Inti
teori

Vigotsky adalah menekankan interaksi antara aspek

internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya


pada lingkungan sosial pembelajaran
Teori

Konstruktivisme

ini

didefinisikan

sebagai

pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta


sesuatu makna dari apa yang dipelajari. kontruktivisme lebih
memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun
atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada
pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya.
Vygotsky

menekankan

pentingnya

memanfaatkan

lingkungan dalam pembelajaran. Lingkungan sekitar siswa


meliputi orang-orang, kebudayaan, termasuk pengalaman
dalam lingkungan tersebut. Orang lain merupakan bagian dari
lingkungan (Taylor, 1993), pemerolehan pengetahuan siswa
bermula dari lingkup sosial, antar orang, dan kemudian pada
lingkup individu sebagai peristiwa internalisasi (Taylor, 1993).

11

Vygotsky

menekankan

pada

pentingnya

hubungan

antara individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan


pengetahuan yang menurut beliau, bahwa interaksi sosial
yaitu interaksi individu tersebut dengan orang lain merupakan
faktor terpenting yang dapat memicu perkembangan kognitif
seseorang.
Vygotsky berpendapat bahwa proses belajar akan terjadi
secara

efisien dan efektif

kooperatif

dengan

apabila

anak-anak

lain

anak

belajar secara

dalam

suasana

dan

lingkungan yang mendukung (supportive), dalam bimbingan


seseorang yang lebih mampu, guru atau orang dewasa.
Dengan hadirnya teori konstruktivisme Vygotsky ini, banyak
pemerhati

pendidikan

pembelajaran
interaction,

yang

kooperatif,

model

mengembangkan

model

pembelajaran

model

pembelajaran
kelompok,

dan

peer
model

pembelajaran problem solving.


Berkaitan

dengan

pembelajaran,

Vygotsky

mengemukakan empat prinsip seperti yang dikutip oleh


(Slavin, 2000: 256) yaitu:
(1)

pembelajaran sosial (social leaning). Pendekatan

pembelajaran yang dipandang sesuai adalah pembelajaran


kooperatif. Vygotsky menyatakan bahwa siswa belajar melalui
interaksi bersama dengan orang dewasa atau teman yang
lebih cakap;
(2)

ZPD (zone of proximal development). Bahwa siswa

akan dapat mempelajari konsep-konsep dengan baik jika


berada dalam ZPD. Siswa bekerja dalam ZPD jika siswa tidak
dapat

memecahkan

masalah

12

sendiri,

tetapi

dapat

memecahkan masalah itu setelah mendapat bantuan orang


dewasa

atau

temannya

(peer);

Bantuan

atau

support

dimaksud agar si anak mampu untuk mengerjakan tugastugas atau soal-soal yang lebih tinggi tingkat kerumitannya
dari pada tingkat perkembangan kognitif si anak.
(3)

Masa Magang Kognitif (cognitif apprenticeship).

Suatu proses yang menjadikan siswa sedikit demi sedikit


memperoleh kecakapan intelektual melalui interaksi dengan
orang yang lebih ahli, orang dewasa, atau teman yang lebih
pandai;
(4)

Pembelajaran

Termediasi

(mediated

learning).

Vygostky menekankan pada scaffolding.Siswa diberi masalah


yang kompleks, sulit, dan realistik, dan kemudian diberi
bantuan secukupnya dalam memecahkan masalah siswa.
Inti teori
aspek

Vigotsky adalah menekankan interaksi antara

internal

dan

eksternal

dari

pembelajaran

dan

penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut


teori Vigotsky, fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi
social

masing-masing

individu

dalam

konteks

budaya.

Vigotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa


bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun
tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya
atau

tugas-tugas

itu

berada

dalam

zona

of

proximal

development mereka.
Tingkat perkembangan yang dimaksud terdiri atas empat tahap yaitu sebagai
berikut:
Pertama, more dependence to others stage, yakni tahapan di mana
kinerja anak mendapat banyak bantuan dari pihak lain seperti teman-teman

13

sebayanya, orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan lain-lain. Dari sinilah
muncul

model

pembelajaran

kooperatif

atau

kolaboratif

dalam

mengembangkan kognisi anak secara konstruktif.


Kedua, less dependence external assistence stage, di mana kinerja
anak tidak lagi terlalu banyak mengharapkan bantuan dari pihak lain, tetapi
lebih kepada self assistance, lebih banyak anak membantu dirinya sendiri.
Ketiga, Internalization and automatization stage, di mana kinerja anak
sudah lebih terinternalisasi secara otomatis. Kasadaran akan pentingnya
pengembangan diri dapat muncul dengan sendirinya tanpa paksaan dan arahan
yang lebih besar dari pihak lain. Walaupun demikian, anak pada tahap ini
belum mencapai kematangan yang sesungguhnya dan masih mencari identitas
diri dalam upaya mencapai kapasitas diri yang matang.
Keempat, De-automatization stage, di mana kinerja anak mampu
mengeluarkan perasaan dari kalbu, jiwa, dan emosinya yang dilakukan secara
berulang-ulang, bolak-balik, recursion. Pada tahap ini, keluarlah apa yang
disebut dengan de automatisation sebagai puncak dari kinerja sesungguhnya.
Dengan demikian dalam proses untuk mencapai pemahaman pada
mulanya anak diberikan bantuan/bimbingan untuk mencapai perkembangan
yang optimal, setelah itu secara bertahap bantuan itu dikurangi sampai
akhirnya tidak diberikan sama sekali, sehingga anak secara independen dapat
memahami apa yang mereka pelajari.
Konsep penting dalam teori vygotsky :
1. Zona of Proximal Development (ZPD) Pembelajar sebagai
mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani
siswa

dalam

upayanya

membangun

pengetahuan,

pengertian dan kompetensi.


Dalam interaksi sosial dikelas, ketika terjadi saling tukar
pendapat antar siswa dalam memecahkan suatu masalah,
siswa yang lebih pandai memberi bantuan kepada siswa

14

yang mengalami kesulitan berupa petunjuk bagaimana


cara

memecahkan

masalah

tersebut,

maka

terjadi

scaffolding, siswa yang mengalami kesulitan tersebut


terbantu oleh teman yang lebih pandai. Ketika guru
membantu secukupnya kepada siswa yang mengalami
kesulitan dalam belajarnya, maka terjadi scaffolding.
Konsep

ZPD

perkembangan

Vigotsky

berdasar

pengetahuan

siswa

pada

ide

ditentukan

bahwa
oleh

keduanya yaitu apa yang dapat dilakukan oleh siswa


sendiri dan apa yang dilakukan oleh siswa ketika mendapat
bantuan orang yang lebih dewasa atau teman sebaya yang
berkompeten.
2. Scaffolding adalah memberikan dukungan dan bantuan kepada seorang
anak yang sedang pada awal belajar, kemudian sedikit demi sedikit
mengurangi dukungan atau bantuan tesebut setelah anak mampu
memecahkan problem dari tugas yang dihadapinya (Baharuddin dan
Wahyuni, 2010). Scaffolding merupakan suatu istilah yang ditemukan oleh
seorang ahli psikologi perkembangan-kognitif masa kini, Jerome Bruner,
yakni suatu proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anakanak melalui zona perkembangan proksimalnya
Dialog adalah alat yang penting dalam ZPD. Vygotsky memandang anakanak kaya konsep tetapi tidak sistematis, acak, dan spontan. Dalam dialog,
konsep-konsep tersebut dapat dipertemukan dengan bimbingan yang
sistematis, logis, dan rasional.

15