Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

EKSPRESI GEN YANG DITENTUKAN OLEH JENIS KELAMIN

Disusun oleh:
Listya Dwi Anggarsari
Aldila Kemas Agusta
Ainun Nasikah
Nia Umi Nuzullaila
AjengS ulistyowati
Deliya Minianur

13304241002
13304241007
13304241008
13304241017
13304241021
13304241023

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Maret, 2015
Ekspresi Gen yang Ditentukan Oleh Jenis Kelamin
A. TUJUAN
Mengetahui ekspresi gen autosom yang kenampakkan fenotipnya ditentukan oleh
jenis kelamin.
B. LATAR BELAKANG

Gen yang dipengaruhi jenis kelamin adalah gen autosomal yang


membedakan antara laki-laki dan perempuan karena dipengaruhi oleh faktor
lingkungan internal yaitu perbedaan antara kadar hormon kelamin laki-laki dan
perempuan.
Sifat yang diturunkan oleh gen dikenal sebagai sifat atau karakter yang
menurun dan dipengaruhi oleh jenis kelamin. Salah satu contoh sifat menurun
pada manusia dipengaruhi oleh jenis kelamin adalah panjang jari telunjuk (Agus,
Rosana dan Sjafaraeman.2013).
Menurut Suryo, seseorang memiliki jari telunjuk yang lebih pendek dari
jari manis, sedangkan Stern menyatakan sifat menurun tersebut lebih banyak
ditemukan pada laki-laki dibanding perempuan. Karakter panjang jari telunjuk
ditentukan oleh sepasang gen, yaitu gen T dan gen t. Gen T adalah gen yang
menentukan jari telunjuk yang lebih pendek dari jari manis, sedangkan gen t
adalah gen yang menentukan jari telunjuk sama atau lebih panjang dari jari manis.
Laki-laki dan perempuan yang bergenotipe TT akan memiliki jari telunjuk yang
lebih pendek dari jari manis, sedangkan laki-laki dan perempuan yang bergenotipe
tt akan memiliki jari telunjuk lebih panjang dari jari manis. Perbedaan fenotipe
akan terlihat pada orang yang bergenotipe heterozigot (Tt). Laki-laki yang
heterozigot akan mamiliki jari telunjuk yang lebih lebih pendek dari jari manis,
sedangkan perempuan yang heterozigot akan memiliki jari telunjuk yang panjang
dari jari manis (Agus, Rosana dan Sjafaraenan.2013).

C. TINJAUAN PUSTAKA
Gen adalah segmen segmen DNA, bahwa DNA adalah suatu polimer yang
terdiri dari empat jenis monomer yang berbeda yang dinamkan nukleotida.
Penurunan sifat sifat herediter memiliki basisi molekuler yaitu raplikasi persis
DNA, dan menghasilkan salina salinan gen yang dapat diteruskan dari orang tua
ke keturunannya. Pada hewan dan tumbuhan, pengiriman gen dari generasi ke
generasi selanjutnya ini dilakukan oleh sperma dan ovum (telur yang belum
dibuahi). Setelah sperma bersatu (sel telur tunggal) maka gen dari kedua orang
tuanya hadir dalam nucleus dari telur yang telah dibuahi tersebut.DNA dari suatu

sel eukarotik dibagi lagi menjadi kromosom di dalam nucleus tersebut (Campbell,
2000).
Apabila kita meletakkan tangan kanan atau kiri kita pada suatu alat
dimana terdapat sebuah garis mendatar yang sedemikian rupa sehingga ujung jari
manis menyentuh garis tersebut, maka dapat kita ketahui apakah jari telunjuk kita
akan lebih panjang atau lebih pendek dari jari manis. Pada kebanyakan
orang,ujung jari telunjuk tidak akan mencapai garis itu, berarati bahwa jari
telunjuk lebih pendek dari jari manis.jari telunjuk pendek disebabkan oleh gen
yang dominan pada orang laki laki dan resesif pada orang perempuan (Suryo,
2004).
Kecuali gen gen terangkai kromosom kelamin dikenal pula gen gen yang
dipengaruhi oleh seks dan gen gen yang dibatasi seks. Maka kita akan mengenal
sesuatu sifat yang disebabkan oleh gen gen yangdipengaruhi seks (sex influenced
genes) (Hartati, 2006).
Konsep atau gen satu polipeptida merupakan hipotesis yang menjelaskan
tentang ekspresi gen. Hipotesis ini menetapkan bahwa setiap gen akan mengkode
untuk menghasilkan satu rantai polipeptida. Polipeptida atau protein ini turut
mengambil bagian dalam suatu seri reaksi biokimia yang kemudian pada akhirnya
menghasilkan fenotipe yang nyata (Suryo,1984).Seperti diketahui kromosom ada
dua jenis yaitu AUTOSOM dan GONOSOM. Yang dimaksud dengan sifat
autosomal ialah sifat keturunan yang ditentukan oleh gen pada autosom. Gen ini
ada yang dominan dan ada yang resesif. Oleh karena laki-laki dan perempuan
mempunyai autosom yang sama, maka sifat keturunan yang ditentukan oleh gen
autosomonal dapat dijumpai pada laki-laki maupun perempuan (Suryo,1986).
Jenis kelamin (seks) kita merupakan salah satu Karakter fenotip kita yang
lebih nyata. Meskipun perbedaan anatomis dan fisiologis antara pria dan wanita
banyak, dasar kromosom seksnya sedikit lebih sederhana. Pada manusia dan
manusia

lain,

seperti

pada

lalat

buah,

ada

dua

varietas

kromosom

seks,dilambangkan dengan X dan Y. Seseorang yang mewarisi dua kromosom X, satu dari
masing-masing orang tuanya, biasanya berkembang menjadi perempuan.Seorang
Pria biasanya berkembang dari sebuah zigot yang mengandung satu kromosom X dan
satu kromosom Y. Ketika meiosis terjadi di dalam testis, kromosom X dan Y
berperilaku sama seperti kromosom homolog, meskipun kromosom-kromosom

tersebut hanya homolog sebagian dan hanya mengalami sedikit pindah silang
satu dengan yang lainnya. Di samping peranannya dalam menentukan jenis
kelamin, kromosom seks, terutama kromosom X, memiliki gen-gen untuk banyak
karakter yang tidak berkaitan dengan seks. Pada manusia, istilah terpaut seks
biasanya menunjuk pada karakter-karakter yang terpaut kromosom X. Jika suatu
sifat terpaut seks disebabkan oleh alel resesif, maka seorang anak perempuan akan
memperlihatkanfenotipenya hanya jika dia merupakan homozigot. Karena anak
laki-laki hanya memiliki satu lokus, istilah homozigot dan heterozigot tidak
memiliki arti untuk menggambarkan gen-gen terpaut seks.(Hal 286-287Kromosom-Kromosom Seks (Campbell, Neil.1999).
Mary F.Lyon

(1962) berpendapat

bahwa kromatin

kelamin

itu

sesungguhnya adalah salah satu sepasang kromosom-X yang mengalami piknosa


(mengembun)

setelahpembelahanmitose.

Kromosom-X

yang

mengalami

perubahan ini dapat yang berasal dari ibu atau ayah dan kehilangan aktivitas
genetiknya.
Hipotesa Lyon
Berdasarkan hipotesa itu, maka banyaknya kromatin kelamin yang dapat
dijumpai pada suatu individu adalah sama dengan banyaknya kromosom-X yang
dimiliki oleh individu itu dikurangi dengan satu. Orang perempuan normal adalah
XX, maka ia memiliki 1 kromatin kelamin. Sebaliknya orang laki-laki adalah XY.
Kromatin kemin tidak hanya berguna untuk membedakan sel-sel yang
berasal dari individu pria atau wanita pada orang normal saja, tetapi kerapkali
dapat menolong memberikan diagnosa terhadap berbagai macam kelainan
kromosom

kelamin

pada

manusia.

(Hal

172-Hipotesa

Lyon.

Suryo

(2008).Genetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University)


Kebotakan dapat disebabkan faktor eksternal seperti makanan dan
gangguan penyakit pada kulit kepala. Namun dapat juga disebabkan oleh faktor
genetik. Gen pembawa sifat botak adalah salah satu contoh gen yang dipengaruhi

oleh jenis kelamin. Gen adalah faktor penentu yang menentukan sifat-sifat fisik
makhluk hidup. Gen diturunkan oleh orang tua kepada anaknya.
Pada kasus kepala botak, gen yang membawa sifat kepala botak
ekspresinya dipengaruhi oleh jenis kelamin. Artinya orang yang membawa gen
kepala botak tidak dengan sendirinya menjadi botak tergantung jenis
kelaminnya. Kepala botak pada perempuan hanya terjadi bila si perempuan
memiliki sepasang gen kepala botak yang didapat dari ayah dan ibunya.
Sedangkan pada laki-laki akan botak cukup dengan satu gen saja.
Genotip adalah sifat dasar pada individu yang tidak tampak dan tidak
berubah-ubah karena faktor lingkungan (misalnya gen kepala botak genotipnya
adalah BB atau Bb). Fenotip adalah sifat keturunan yang dapat dilihat warna,
bentuk dan ukurannya (misalnya seorang laki-laki dengan genotip Bb & BB
memiliki fenotip kepala botak). Alel adalah anggota dari sepasang gen yang
membawa sifat berlawanan. Misalnya alel B (huruf besar) memiliki pengaruh
kepala botak, sedangkan alel b (huruf kecil) membawa sifat kepala normal. Maka
B dan b adalah sepasang alel.
Genotof dan Fenotif Kepala Botak
Genotif
BB
Bb
Bb

Fenotif pada
Laki-laki
Botak
Botak
Normal

Fenotif pada
Perempuan
Botak
Normal
Normal

Gen kepala botak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Seorang laki-laki yang
memiliki pasangan gen BB dan Bb akan berkepala botak. Namun seorang
perempuan baru akan botak bila memiliki pasangan gen BB. Jadi gen kepala
botak (B) bersifat dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan bersifat
resesif (kalah dominan daripada gen b).
Seorang laki-laki botak dengan genotip Bb bila kawin dengan perempuan
normal dengan genotip bb akan memiliki anak dengan peluang genotip Bb (50%)

dan bb (50%), sehingga peluang anak laki-laki untuk botak adalah 50% dan anak
perempuan botak 0 %. Peluang untuk kebotakan karena faktor genetik lebih besar
pada laki-laki dibanding pada perempuan (Suryo (2008). Genetika. Yogyakarta :
Gadjah Mada University)
Menurut Suryo (2004), gen kepala botak juga berlaku pada telunjuk :
Genotip

laki laki

TT

telunjuk pendek

Tt

telunjuk pendek
tt

telunjuk

perempuan
telunjuk pendek
telunjuk panjang
panjang

telunjuk

panjang.
Andai kata seorang laki laki bertelunjuk panjang kawin dengan seorang
perempuan bertelunjuk pendek (keduanya homozigotik), maka semua anaknya
laki laki bertelunjuk panjang, sedangkan semua ank perempuannya bertelunjuk
pendek. Semua sifat keturunan atau kejadian yang diterangkan di muka
ditentukan oleh gen gen yang terdapat pada autososm. Selain gen gen itu dikenel
pula gen gen yang terdapat pada kromosom kelamin. Gen gen yang demikian ini
disebut gen gen terangkai kelamin atau dalam bahasa inggrisnya : sex linkage.
Biasanya gen dominan memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki laki /
jantan maupun perempuan / betiana. Baru dalam keadaan homozigotik reseif,
pengaruh dominan ini tidak akan menampakkan diri dalam fenotip (Suryo, 2004).
Menurut ilmuwan, pertumbuhan jari jari tangan manusia berbeda-beda
tergantung kadar hormon testosteron dan estrogen di dalam rahim saat bayi
dikandung ibunya. Kadar testosteron yang tinggi diyakini mendukung
perkembangan bagian otak yang berhubungan dengan kemampuan matematika
dan pandang ruang. Hormone itu pula yang menyebabkan jari manis tumbuh lebih
panjang. Estrogen juga mendorong efek yang sama pada bagian otak namun yang
berhubungan dengan kemampuan verbal. Namun, hormone ini juga mendukung
pertumbuhan jari telunjuk sehingga lebih panjang daripada jari manis (Anonim,
2008).
Rasio panjang jari tangan kedua dan jari keempat (2D:4D) sering
dikaitkan dengan kecemasan. Penelitian pada mahasiswa pengantar psikologi

Universitas Texas dan masyarakat umum menunjukkan bahwa seorang laki-laki


dengan rasio panjang jari tangan kedua dan jari keempat (2D:4D) yang lebih besar
(lebih feminim) cenderung mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi jika
dibandingkan dengan laki-laki dengan rasio panjang jari tangan kedua dan jari
keempat (2D:4D) yang lebih kecil (lebih maskulin). Berbeda halnya pada
perempuan yang menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara
rasio panjang jari tangan kedua dan jari keempat (2D:4D) dengan tingkat
kecemasan (Mulyana. 2011 vol 3 no.5)

D. METODE PERCOBAAN
1. Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 2 Maret 2015 pukul
13.00-14.30 WIB. Percobaan ini bertempat di Laboratorium ZoologiFakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.
2. Alat dan Bahan
- Kacapembesar (loupe)
- Alattulis
3. Cara Kerja
Membuat garis datar pada halaman kosong buku praktikum.

Meletakkan tangan kanan pada kertas tersebut, dimana ujung jari


manis menyentuh garis.

Membuat tanda dimana letak jari telunjuk (dibawah, diatas atau tepat
pada garis)
danjugamengukurpanjangjaritelunjukdanjarimanisdenganmenggunakan
Menentukan bagaimana kemungkinan genotip yang dimiliki pada
masing-masing individu anggota kelompok.

E. HASIL DAN PEMBAHASAN


Praktikum genetika ini dilaksanakan pada hari Selasa, 2 Maret 2015
dengan topik Ekspresi gen yang ditentukan oleh jenis kelamin. Tujuan dari
praktikum ini adalah mengetahui ekspresi gen autosom yang ditentukan oleh jenis
kelamin. Alat dan bahan yang digunakan adalah penggaris, alat tulis dan kertas
atau halaman kosong buku praktikum. Langkah kerja yang dilakukan selama
praktikum, antara lain membuat garis datar pada halaman kosong buku praktikum,
lalu meletakkan tangan kanan pada kertas tersebut, dimana ujung jari manis
menyentuh garis, kemudian membuat tanda dimana letak jari telunjuk (dibawah,
diatas atau tepat pada garis) dan juga mengukur panjang jari telunjuk dan jari
manis dengan menggunakan penggaris, setelah itu menentukan bagaimana
kemungkinan genotip yang dimiliki pada masing-masing individu anggota
kelompok.
Apabila kita meletakkan tangan kanan atau kiri pada sebuah alas, dimana
terdapat sebuah garis mendatar sedemikian rupa sehingga ujung jari manis
menyentuh garis tersebut. Maka akan di dapatkan hasilnya, yaitu apakah jari
telunjuk kita akan lebih panjang atau pendek daripada jari manis. Pada
kebanyakan orang, ujung jari telunjuk tidak akan mencapai garis itu, berarti dapat
dikatakan bahwa jari telunjuk lebih pendek di bandingkan dengan jari manis.
Panjang jari manis merupakan contoh dari kasus gen-gen yang dipengaruhi oleh

jenis kelamin. Pada laki laki, jari telunjuk yang lebih pendek dari jari manis
ditentukan oleh gen dominan, sedangkan pada perempuan ditentukan oleh gen
resesif.
Berbedanya genotip pada setiap orang, dan adanya peranan gen seks pada
percobaan kali ini memberikan gambaran pada kita bahwa tidak hanya gen yang
terdapat pada genosom. Hal ini terjadi sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Gun, G (2006), bahwa terjadilah aliran informasi genetika yang terdapat dalam
setiap sel makhluk hidup yang dikemas dalam suatu bentuk materi genetik yang
dikenal sebagai asam deoksiribunukleat (DNA). Kode genetik yang ada di dalam
DNA menentukan bagaimana protein disusun. Proses ekspresi gen merupakan
aspek yang fundamental dalam setiap organisme.
Selain gen-gen yang terdapat pada kromosom kelamin dikenal pula gengen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Sifat akan tampak dikedua jenis
kelamin, tetapi salah satu jenis kelamin menampakkan ekspresi yang lebih besar
dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. keadaan yang demikian disebut
dengan sex influence genes atau biasa disebut dengan gen yang dipengaruhi jenis
kelamin (Suryo, 2008).
Tabel hasil Pengamatan :
No
1

Nama
ListyaDwiAnggarsari

PanjangJari (cm)
2D : 7,5 cm

Rasio
0,94

AldilaKemasAgusta

4D : 8 cm
2D : 6,5 cm

0,93

AinunNasikah

4D : 7 cm
2D : 7 cm

0,97

Nia UmiNuzulaila

4D : 7,2 cm
2D : 6,7 cm

1,03

AjengSulistyowati

4D : 6,5 cm
2D : 7 cm

1,07

DeliyaMinianur

4D : 6,5 cm
2D : 6,5 cm

0,93

5
6

4D : 7 cm

Gambar diatas menunjukkan hasil pengamatan tentang rasio panjang jari tangan kedua
dan jari tangan keempat pada kelompok kami. Praktikan pertama, yaitu listya dwi anggarsari jari
telunjuknya lebih pendek daripada jari manisnya (telunjuk pendek) dan rasio panjang jari tangan
kedua dengan jari tangan keempat (2D:4D) adalah sebesar 0,94. Menurut teori telunjuk pendek
pada perempuan kemungkinan genotipnya adalah TT dan rasio digit lebih kecil(2D:4D), yang
artinya listya adalah orang yang lebih maskulin.
Praktikan yang kedua adalah aldila kemas agusta, dia mempunyai jari telunjuk yang lebih
pendek dari jari manisnya atau disebut dengan telunjuk pendek, menurut teori kemungkinan

genotipnya adalah TT. Kemudian rasio panjang jari tangan kedua dan jari tangan keempat aldila
lebih kecil (2D:4D), berdasarkan teori berarti aldila adalah orang yang lebih maskulin.
Praktikan yang ketiga adalah nia umi nuzulaila, dia mempunyai jari telunjuk yang lebih
panjang daripada jari manisnya atau disebut dengan telunjuk panjang, menurut teori
kemungkinan genotipnya adalah Tt/tt. Kemudian rasio panjang jari tangan kedua dan jari tangan
keempat Nia lebih besar (2D:4D), berdasarkan teori berarti Nia adalah orang yang lebih
feminim.
Praktikan yang keempat adalah Ainun Nasikah, dia mempunyai jari telunjuk yang lebih
pendek dari jari manisnya atau disebut dengan telunjuk pendek, menurut teori kemungkinan
genotipnya adalah TT. Kemudian rasio panjang jari tangan kedua dan jari tangan keempat Ainun
lebih kecil (2D:4D), berdasarkan teori berarti Ainun adalah orang yang lebih maskulin.
Praktikan kelima adalah Deliya Minianur, dia mempunyai jari telunjuk yang lebih pendek
dari jari manisnya atau disebut dengan telunjuk pendek, menurut teori kemungkinan genotipnya
adalah TT. Kemudian rasio panjang jari tangan kedua dan jari tangan keempat Deliya lebih kecil
(2D:4D), berdasarkan teori berarti deliya adalah orang yang lebih maskulin.
Praktikan yang terakhir adalah Ajeng Sulistyowati, dia mempunyai jari telunjuk yang
lebih panjang daripada jari manisnya atau disebut dengan telunjuk panjang, menurut teori
kemungkinan genotipnya adalah Tt/tt. Kemudian rasio panjang jari tangan kedua dan jari tangan
keempat Ajeng lebih besar (2D:4D), berdasarkan teori berarti Ajeng adalah orang yang lebih
feminim.
Menurut ilmuwan, pertumbuhan jari jari tangan manusia berbeda-beda tergantung kadar
hormon testosteron dan estrogen di dalam rahim saat bayi dikandung ibunya. Kadar testosteron
yang tinggi diyakini mendukung perkembangan bagian otak yang berhubungan dengan
kemampuan matematika dan pandang ruang. Hormone itu pula yang menyebabkan jari manis
tumbuh lebih panjang. Estrogen juga mendorong efek yang sama pada bagian otak namun yang
berhubungan dengan kemampuan verbal. Namun, hormone ini juga mendukung pertumbuhan
jari telunjuk sehingga lebih panjang daripada jari manis (Anonim, 2015).
F. KESIMPULAN

Panjang jari telunjuk dibandingkan dengan jari manis tersebut merupakan


gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Biasanya gen dominan tersebut
memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki maupun perempuan. Akan
tetapi, dalam keadaan homozigotik resesif, pengaruh dominan itu tidak akan
menampakkan diri dalam fenotip.
Pada kelompok kami semua praktikannya adalah perempuan dimana ada 2
orang yang telunjuknya panjang yaitu Ajeng dan Nia. Sedangkan yang lain
telunjukknya pendek semua yaitu Aldila, Ainun, Listya dan Deliya. Telunjuk
pendek menunjukkan gen homozigot dominan pada perempuan sedangkan
telunjuk panjang menunjukkan gen homozigot resesif atau gen Heterozigot
dominan.

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, G.M. & Evardone, M., 2009. Anxiety, Sex-linked Behavior, and Digit Ratios. Arch
Sex Behav, 38(3), pp.442-45.
Campbell, Neil.1999. BiologiCampbell Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Campbell. 2000. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Evardone, M., 2006. Sex Differences In Anxiety: Testing A Prenatal Androgen Hypothesis Using
Behavioral And Physiological Markers. pp.20-21.
Mulyana. 2011. Rasio Panjang Jari Kedua dan Keempat. Mandala of Health. Vol.5, No. 3
Suryo. 2004. Genetika. Yogyakarta: UGM.
Suryo.2008.Genetika. Yogyakarta :GadjahMada University.