Anda di halaman 1dari 8

EKSTRAKSI ALUMINA (Al2O3) DARI LUMPUR

06 NOVEMBER 2013
LOLA MUSTAPALOKA
1113016200049
ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari ekstraksi alumina (Al2O3)
dari lumpur. Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode gravimetri.
Hasil dari percobaan ini menunjukan bahwa pada metode 1 kadar Al2O3 dalam lumpur
sebesar 8%, pada metode 2 kadar Al2O3 dalam lumpur sebesar 6% dan ekstraksi
alumina lebih efektif dengan pelarut basa dibandingkan pelarut asam.
Kata kunci: ekstraksi, alumina, lumpur, massa konstan dan kadar Al2O3.

PENDAHULUAN
Aluminium adalah logam putih, yang liat dan dapat ditempa; bubuknya berwarna
abu-abu. Alumunium adalah trivalen dalam senyawa-senyawanya. Ion-ion alumunium
(Al3+) membentuk garam-garam yang tak berwarna dengan anion-anion yang tak
berwarna. Halida, nitrat, dan sulfatnya larut dalam air; larutan ini memperlihatkan reaksi
asam karena hidrolisis. (Vogel I, 1985 : 266)
Satu-satunya oksida aluminium adalah alumina, Al2O3. Meskipun demikian,
kesederhanaan ini diimbangi dengan adanya bahan-bahan polimorf dan terhidrat yang
sifatnya bergantung kepada kondisi pembuatannya. Terdapat dua bentuk anhidrat,
Al2O3, yaitu - Al2O3 dan - Al2O3. Logam-logam trivalensi lainnya (misalnya Ga, Fe)
membentuk oksida-oksida yang mengkristal dalam kedua struktur yang sama.
Keduanya mempunyai tatanan terkemasrapat ion-ion oksida tetapi berbeda dalam
tatanan kation-kationnya. (Albert, 1989 : 289)
Alumunium oksida atau alumina merupakan komponen utama dalam Bauksit
yaitu bijih alumunium yang utama. Selain dari mineral, alumina juga dapat diekstraksi
dari bahan lumpur. Tanah atau lempung adalah akumulasi partikel mineral yang ikatan
partikelnya lemah, yang terbentuk karena pelapukan dari batuan. Ikatan lemah tersebut
disebabkan oleh pengaruh karbonat/oksida yang tersenyawa diantara partikel, atau
karena adanya bahan organik. Umumnya di dalam tanah mengandung alumina (Al2O3)

dan silika (SiO2) dalam jumlah yang dominan selain oksida logam lainnya dari
golongan alkali, alkali tanah, dan sedikit logam transisi. Ekstraksi alumina dari lumpur
harus memperhatikan keberadaan dan sifat alumina serta senyawa lainnya, sehingga
proses ekstraksi dapat berlangsung efektif dan menghasilkan alumina dengan kemurnian
yang tinggi. (Prananto, 2012)
Kebanyakan sampel yang dianalisis dalam kuliah pendahuluan analisis kuantitatif
adalah zat-zat yang dapat larut di dalam air. Akan tetapi, secara umum dapat dikatakan
bahwa bahan-bahan yang terdapat di alam, seperti bijih dan produk-produk logam,
misalnya paduan (alloy), harus diolah secara khusus agar dapat dilarutkan. Mengingat
bahwa tiap bahan dapat menimbulkan masalah spesifik, ada dua metode yang paling
lazim digunakan dalam melarutkan sampel, yakni (1) pengolahan dengan asam klorida,
nitrat, sulfat, atau perklorat; dan (2) pelelehan bersama suatu fluks asam atau basa,
diikuti dengan pengolahan dengan air atau asam. (Day, 2001 : 5)
Alumunium oksida tidak dapat bereaksi secara sederhana dengan air seperti
natrium oksida, magnesium oksida, dan tidak dapat larut dalam air. Walaupun masih
mengandung ion oksida, tetapi terlalu kuat berada dalam kisi padatan untuk bereaksi
dengan air. Alumunium oksida mengandung ion oksida, sehingga dapat bereaksi dengan
asam seperti pada natrium atau magnesium oksida. Dalam hal ini, alumunium oksida
menunjukan sisi basa dari sifat amfoternya. Alumunium oksida dapat juga menunjukan
sifat asamnya, dapat dilihat dalam reaksi dengan basa. (Putra, 2010)

METODOLOGI
Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini meliputi botol semprot, corong,
desikator, gelas kimia 250 mL, gelas ukur 15 mL, hot plate, kertas saring, kaca arloji,
magnetic stirer, neraca analitik, oven, spatula, statif, termometer, dan water bath.
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini meliputi akuadest, KBr, kertas
pH indikator universal, larutan HCl 2 M, larutan NaOH 2 M dan lumpur kering.
Langkah kerja
Pada percobaan ini digunakan 2 buah metode. Pada metode 1, mula-mula timbang
2,5 gram lumpur kering yang sudah dikasinasi (dipanaskan dalam oven dan
ditambahkan KBr). Kemudian masukan pada gelas kimia 250 mL dan tambahkan 15

mL larutan NaOH 2 M, lalu aduk dengan magnetic stirer selama 30 menit. Pisahkan
endapan dengan kertas saring, lalu pindahkan filtrat ke gelas kimia lain. Tambahkan
HCl 2 M hingga pH 8 (gunakan indikator universal). Panaskan larutan tersebut
hingga suhu 70 C hingga terbentuk endapan, kemudian dinginkan larutan hingga
suhu kamar dan pisahkan endapan yang terbentuk. Cuci endapan dengan aquadest
hingga pH air hasil cucian netral, kemudian endapan dipanaskan dalam oven selama
15 menit pada suhu 110 C. Lalu dinginkan dalam desikator, kemudian timbang
berat endapan. Ulangi pemanasan hingga didapat berat konstan, dan catat massa
endapan akhir yang diperoleh.
Pada metode 2, mula-mula ditimbang 2,5 gram lumpur yang sudah dikasinasi dan
tempatkan pada gelas kimia 250 mL. Kemudian tambahkan 15 mL larutan HCl 2 M.
Tutup gelas kimia dengan kaca arloji, aduk dan panaskan dengan magnetic stirer
selama 30 menit. Pisahkan endapan dengan kertas saring, lalu pindahkan filtrat ke
dalam gelas kimia lain. Kemudian tambahkan NaOH 2 M hingga pH 8 (gunakan
indikator universal). Pisahkan endapan yang terbentuk dan cuci dengan akuadest
hingga pH air pencucian netral, kemudian endapan dipanaskan dalam oven selama
15 menit pada suhu 110 C. Lalu dinginkan dalam desikator, kemudian timbang
berat endapan. Ulangi pemanasan hingga didapat berat konstan, dan catat massa
endapan akhir yang diperoleh.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Metode 1
No

Reaksi

2,5 g lumpur + 15 mL NaOH 2 M

Filtrat + HCl 2 M

Filtrat + HCl 2 M (panaskan) 70 C

Hasil Pengamatan
Terbentuk suspensi coklat keabuan
pH larutan 8
Endapan coklat muda

Penimbangan Ke-

Massa

0,40 gram

0,20 gram

0,20 gram

Massa konstan : 0,20 gram

Metode 2
No

Reaksi

Hasil Pengamatan

2,5 g lumpur + 15 mL HCl 2 M

Terbentuk suspensi

Filtrat + NaOH 2 M

pH larutan 8, terbentuk endapan

Endapan + akuadest

pH larutan 7

Penimbangan Ke-

Massa

0,15 gram

0,15 gram

Massa konstan : 0,15 gram

Pada percobaan kali ini, praktikan melakukan ekstraksi alumina (Al2O3) dalam
lumpur. Sebelum diekstraksi, lumpur harus dikasinasi terlebih dahulu untuk mengubah
struktur alumina yang terdapat dalam lumpur agar menjadi fasa yang lebih stabil pada
temperatur ruang. Pada metode 1, pelarut yang digunakan untuk melarutkan lumpur
ialah NaOH 2 M. Alumina akan larut dalam suasana basa sebagai natrium aluminat.
Al2O3(s) + NaOH(aq) + 3 H2O(l)

2 Na[Al(OH)4](aq)

Alumina diendapkan dengan penambahan HCl sampai pH 8, hal ini dikarenakan


pH 8 merupakan pH optimum untuk pengendapan alumunium. Endapan yang
didapatkan kemudian dicuci dengan akuadest untuk mengurangi garam NaCl yang
terbentuk.
Pada metode 2, tidak jauh berbeda dengan prinsip kerja pada metode 1. Hanya
saja HCl digunakan sebagai pelarut dan NaOH sebagai pengendap. Pada metode 1,
massa endapan konstan yang didapat sebesar 0,20 gram sehingga kadar Al2O3 dalam
lumpur yang diperoleh sebesar 8%. Dan pada metode 2, massa endapan konstan yang
didapat sebesar 0,15 gram dengan kadar Al2O3 dalam lumpur yang diperoleh sebesar
6%. Dari kedua metode yang digunakan pada percobaan ini dapat dilihat bahwa
ekstraksi alumina lebih efektif dengan pelarut basa, hal ini dapat dilihat dari kadar
alumina yang dihasilkan lebih besar bila dibandingkan ekstraksi dengan pelarut asam.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan maka diketahui:
Pada metode 1 kadar Al2O3 dalam lumpur sebesar 8%, pada metode 2 kadar Al2O3
dalam lumpur sebesar 6%.
Ekstraksi alumina lebih efektif dengan pelarut basa dibandingkan pelarut asam.
DAFTAR PUSTAKA
Albert, Cotton F dan Geoffrey Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia
Day R.A dan A.L Underwood. 2001. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga
Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Bagian I. Jakarta: Kalman Media Pusaka
Prananto, Yuniar Ponco et all. 2012. Diktat Praktikum Kimia Anorganik.
http://prananto.lecture.ub.ac.id/files/2011/12/Diktat-Praktikum-Kimia-Anorganik2012.pdf [06 November 2014] 22.53
Putra,

Andika.

2010.

Chapter

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20022/4/Chapter%20II.pdf
[07 November 2014] 17.30

LAMPIRAN
Perhitungan
Metode 1:
Kadar Al2O3 =
=

100%
,

100%

= 8%

Metode 2:
Kadar Al2O3 =
=

100%
,

= 6%

100%

II.

Gambar langkah kerja