Anda di halaman 1dari 23

PENDAHULUAN

Perdarahan postpartum masih merupakan salah satu dari penyebab utama


kematian ibu dalam persalinan. Semua wanita yang mengalami kehamilan
menjelang 20 minggu masa gestasi atau lebih mengalami resiko perdarahan
postpartum. Meskipun tingkat kematian maternal telah menurun drastis di negaranegara berkembang, perdarahan post partum tetap menjadi penyebab utama
kematian maternal.1
Perdarahan post partum adalah kehilangan darah melebihi 500 ml yang
terjadi setelah bayi lahir. Perdarahan primer (perdarahan pasca persalinan dini)
terjadi dalam 24 jam pertama, sedangkan perdarahan sekunder (perdarahan masa
nifas) terjadi setelah itu. Etiologi perdarahan postpartum ialah atonia uteri,
retensio plasenta, trauma jalan lahir, inversio uteri, ruptur uteri, dan gangguan
sistem pembekuan darah. Faktor predisposisi yang harus dipertimbangkan ialah
riwayat perdarahan pasca persalinan sebelumnya, multiparitas, perdarahan
antepartum, dan partus lama.2
Angka terjadinya retensio plasenta 1% dari seluruh persalinan (Estman,
1961). Penelitian yang dilakukan WHO (1992) di daratan Australia dijumpai
sekitar 17% wanita mengalami perdarahan postpartum, sedangkan penelitian BKS
Panfin (1981) di Jawa Tengah didapatkan angka kejadian berkisar 0,22% dan
penelitian Bryma (1986) pada Pusat Rujukan RS Pringadi Medan didapatkan

angka kejadian sebesar 3,06%. Pada tahun yang sama Santoso dkk mendapatkan
2,40% Di RS dr. Soetomo Surabaya. 3
Tingginya angka kematian ibu karena banyak penderita yang dikirim dari
luar dengan keadaan umum yang sangat jelek dan anemis, dimana tindakan
apapun kadang tidak menolong. Umumnya retensio plasenta dapat dicegah,
sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu.

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Plasenta
Plasenta berbentuk bundar atau oval dengan diameter 15-20 cm dan tebal
2-3 cm serta beratnya 500-600 gram. Umumnya plasenta akan terbentuk pada usia
kehamilan kira-kira 16 minggu dimana ruang amnion telah mengisi seluruh
kavum kotiledon serta 200 foetal kotiledon.1
Pada umumnya plasenta terletak di depan atau di belakang dinding uterus
ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas
korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berinsersi. Apabila
terdapat hubungan antara tali pusat dengan plasenta yang biasanya di tengah
disebut insersio sentralis, bila agak ke pinggir disebut inserio lateralis dan bila di
pinggir plasenta disebut insersio marginalis. Kadang-kadang tali pusat berada di
luar plasenta, dan berhubungan dengan plasenta melalui selaput janin disebut
insersio velamentosa.1
Umumnya plasenta berbentuk lengkap pada kehamilan 16 minggu
dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri.2
Plasenta terdiri atas 3 bagian : 4
1. Bagian janin (fetal portion), terdiri dari korion frondosum dan vili. Vili
dari plasenta yang matang terdiri atas:

Vili korialis

Ruang-ruang interviler. Darah ibu yang berada dalam ruang


interviler berasal dari arteri spiralis yang berada di desidua basalis.

Pada bagian permukaan janin, uri diliputi oleh amnion yang


kelihatan licin.

Bagian maternal (maternal portion), terdiri atas desidua kompakta


yang terbentuk dari beberapa lobus dan kotiledon (15-20 buah).

2. Tali pusat, merentang dari pusat janin ke uri bagian permukaan janin,
panjangnya rata-rata 50-55 cm, sebesar jari (diameter 1-2,5 cm). Terdiri
dari 2 arteri umbilicus dan 1 vena umbilicus.
Fungsi Plasenta
Adalah mengusahakan janin tumbuh dengan baik. Untuk pertumbuhan ini
dibutuhkan adanya penyaluran zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari
ibu ke janin dan perkembangan CO2 serta sampah metabolisme janin ke peredaran
darah ibu. 1, 4

Nutrisasi

: Alat pemberi makanan pada janin.

Respirasi

: Alat penyalur zat asam dan pembuang CO2.

Ekskresi

: Alat pengeluaran sampah metabolisme.

Produksi

: Alat menghasilkan hormon-hormon.

Imunisasi

: Alat penyalur bermacam-macam antibodi ke janin.

Pertahanan

: Alat yang menyaring obat-obatan dan kuman-kuman


yang bisa melewati uri.

Mungkin banyak lagi fungsi lain yang belum, diketahui.

Definisi
Retensio plasenta adalah keadaan apabila plasenta belum lahir - 1 jam
setelah janin lahir, dimana seharusnya plasenta lepas dalam 6 15 menit setelah
janin lahir spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.2
Angka Kejadian
Di RSUD Dr. Soetomo selama 2 tahun (1984-1985) didapatkan 439
penderita dengan perdarahan post partum, dari 8484 persalinan atau angka
kejadian 5,2 %. 5
Berdasarkan penyebabnya diperoleh sebaran sebagai berikut :

Kelainan darah

0,5

0,8 %

Laserasi jalan lahir

5%

Retensio plasenta

16

17 %

Sisa plasenta

23

24 %

Atonia Uteri

50

60 %

Patofisiologi
Pada pelepasan plasenta selalu terjadi perdarahan karena sinus maternalis
di tempat insersinya pada dinding terbuka. Biasanya perdarahan tersebut tidak
banyak sebab kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menekan pembuluhpembuluh darah yang terbuka, sehingga lumennya tertutup, kemudian pembuluh
darah tersumbat bekuan darah.

Secara alamiah pelepasan dan pengeluaran plasenta disebabkan oleh


kekuatan dari kontraksi dan retraksi uterus serta kekuatan mengejan dari ibu,
maka akan terjadi penciutan dari kavum uteri yang akan mengakibatkan plasenta
terlepas dari uterus sampai mencapai bagian proksimal vagina yang akan
menimbulkan refleks mengejan sehingga plasenta akan lahir.6
Pada keadaan dimana kontraksi, retraksi serta pengejanan yang tidak baik,
maka plasenta tidak dapat terlepas dari dinding uterus atau apabila plasenta sudah
lepas dari dinding uterus tetapi tidak dapat dilahirkan, maka akan terjadi retensio
plasenta.6
Pada keadaan dimana endometrium mengalami kemunduran atau
kecacatan maka pada saat hamil untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dari janin
plasenta akan mengadakan implantasi yang luas serta menembus dinding uterus
lebih dari biasanya dan dapat mencapai zona desidua basalis atau lebih lagi
mencapai miometrium bahkan sampai perimetrium. Hal ini dapat menyebabkan
terjadinya plasenta akreta, inkreta atau perkreta yang dapat menyebabkan
terjadinya retensio plasenta.7
Jenis Retensio Plasenta 8
Plasenta adhesive adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta
sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki
sebagian lapisan miometrium.
Plasenta

inkreta

adalah

implantasi

mencapai/memasuki miometrium.

jonjot

korion

plasenta

hingga

Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus


lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri,
disebabkan oleh konstriksi ostium uteri. Plasenta sudah lepas tetapi belum
keluar karena atonia uteri dan akan menyebabkan perdarahan yang banyak.
Atau karena adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim akibat
kesalahan penanganan kala III yang akan menghalangi plasenta keluar.
Bila plasenta belum lepas sama sekali maka tidak akan terjadi perdarahan,
tapi bila sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan dan ini
merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. Plasenta mungkin juga tidak
keluar karena kandung kemih atau rektum penuh karena itu keduanya harus
dikosongkan. 4
Tabel 1. Gambaran dan Dugaan Penyebab Retensio Plasenta 9
Gejala
Konsistensi uterus
Tinggi fundus
Bentuk uterus
Perdarahan

Separasi akreta parsial


Kenyal
Sepusat
Discoid
Sedang-Banyak

Plasenta inkarserata
Keras
2 jari dibawah pusat
Agak globuler
Sedang

Tali pusat
Ostium uteri
Separasi plasenta

Terjulur sebagian
Terbuka
Lepas sebagian

Terjulur
Konstriksi
Sudah lepas

Syok

Sering

Jarang

Faktor Predisposisi

Plasenta akreta
Cukup
Sepusat
Discoid
Sedikit/Tidak
ada
Tidak terjulur
Terbuka
Melekat
seluruhnya
Jarang sekali
kecuali akibat
inversion oleh
tarikan
kuat
pada tali pusat

Ada beberapa faktor predisposisi yang dapat mempengaruhi terjadinya


retensio plasenta pada ibu : 3
1. Umur
2. Paritas
3. Jarak antara kehamilan
4. Umur kehamilan
5. Kontraksi uterus yang lemah
6. Riwayat obstetrik
7. Implantasi plasenta
8. Kesalahan pada pengelolaan persalinan kala III
Manifestasi Klinik
Apabila sebagian plasenta lepas akan terjadi perdarahan karena uterus
tidak dapat berkontraksi serta retraksi dengan baik pada batas antara dua bagian
tersebut. Dapat terjadi syok hipovolemik dengan tanda menurunnya kesadaran
ibu, anemia, tekanan darah menurun disertai nadi yang cepat dan kecil bahkan
sulit diraba . 2
`
Diagnosis
Untuk mendiagnosis suatu retensio plasenta dapat didasarkan atas plasenta
yang belum lepas dalam waktu 30 menit atau lebih setelah berakhirnya kala II
persalinan. Diagnosis retensio plasenta ini dapat ditegakkan dengan 2 cara :

a. Tes separasi untuk mengetahui apakah plasenta sudah lepas dari dinding
uterus atau belum. Test ini dilakukan dengan cara perasat Kustner,
Strassman dan Klein.
b. Pemeriksaan dalam untuk mengetahui penyebab retensio plasenta.
Tes separasi untuk mengetahui plasenta telah lepas dari tempatnya
implantasinya. 5,6
1. Perasat Kustner, tangan kanan penolong menegangkan atau menarik sedikit
tali pusat, sedangkan tangan kiri menekan perut ibu di daerah atas simfisis.
Apabila tali pusat masuk kembali ke dalam vagina berarti plasenta belum
lepas dari implantasinya.
2. Perasat Strassman, tangan kanan penolong menegangkan atau menarik sedikit
tali pusat,

sedangkan tangan kiri mengetuk-ngetuk daerah fundus uteri.

Apabila terasa getaran pada tali pusat berarti plasenta belum lepas, tetapi bila
tidak terasa getaran pada tali pusat berarti plasenta telah lepas dari dinding
uterus.
3. Perasat Klein, Penderita disuruh mengejan maka tali pusat akan turun ke
bawah. Apabila pengejanan dihentikan dan tali pusat masuk ke dalam vagina
berarti plasenta belum terlepas dari dinding uterus.
Ketiga perasat ini dilakukan 6-15 menit setelah anak lahir dan setelah
tampak tanda-tanda plasenta telah lepas. 6
Penatalaksanaan
Apabila plasenta belum lahir - 1 jam setelah bayi lahir, apalagi bila
terjadi perdarahan, maka plasenta harus segera dikeluarkan. Cara mengeluarkan

plasenta bisa dengan cara tarikan pada tali pusat, manual plasenta dan apabila
tidak berhasil dan terjadi perdarahan yang hebat maka sebaiknya dilakukan
histerektomi. 7
Ada beberapa cara untuk melahirkan plasenta : 7
1. Perasat Pastore, penolong berdiri di sebelah kiri pasien. Fundus diangkat
dengan jari-jari tangan kanan. Jika plasenta lepas, fundus uteri dipijat
secara hati-hati. Bila timbul kontraksi uterus, fundus uteri didorong secara
perlahan-lahan dan hati-hati ke bawah tangan kanan maka plasenta setelah
lepas akan bersamaan dengan tali pusat ditarik secara hati-hati untuk
melahirkan plasenta
2. Perasat Brandt Andrews, penolong menunggu beberapa menit setelah
anak lahir, kandung kencing dikosongkan

terlebih dahulu. Dilakukan

palpasi pada dinding uterus tanpa melakukan pijatan untuk menimbulkan


kontraksi uterus. Tali pusat dipegang dekat vulva dengan tangan kiri
penolong, kemudian tangan kanan diletakkan di atas perut ibu yaitu di atas
simfisis sehingga permukaan palmar jari-jari tangan terletak di permukaan
depan rahim, kira-kira pada perbatasan segmen bawah dan badan rahim.
Dengan melakukan tekanan ke arah atas belakang, maka badan rahim akan
terangkat apabila plasenta sudah lepas, maka tali pusat tidak tertarik ke
atas. Kemudian tekanan di atas simfisis diarahkan ke bawah belakang ke
arah vulva. Pada saat ini dilakukan tarikan ringan pada tali pusat untuk
membantu mengeluarkan plasenta. Yang selalu tidak dapat dicegah ialah

bahwa plasenta tidak dapat dilahirkan seluruhnya, tapi sebagian masih


ketinggalan yang harus dikeluarkan dengan tangan.
3. Perasat Crede, dilakukan apabila dalam keadaan yang memaksa seperti
bila terjadi perdarahan sedang plasenta belum lahir. Uterus dipijat seperti
memeras air jeruk agar plasenta lepas dari implantasinya pada dinding
uterus. Tapi cara ini sekarang sudah ditinggalkan karena menyebabkan
perdarahan pasca persalinan sebagai akibat kemungkinan plasenta yang
tidak lahir lengkap dan juga bahaya terjadinya inversio uteri. Cara ini
dapat juga menimbulkan rasa nyeri keras dan kemungkinan akan terjadi
syok.
4. Pengeluaran plasenta secara manual, pengeluaran plasenta dengan
tangan kini dianggap cara yang paling baik. Sebelumnya persyaratan
aseptik harus dipenuhi kemudian tangan kanan penolong dimasukkan ke
dalam uterus dengan menelusuri tali pusat secara obstetric hand tangan
itu sampai pada plasenta dan mencari tepi plasenta, sedangkan tangan kiri
menahan fundus uteri dari luar agar fundus tidak naik ke atas. Plasenta
dilepaskan dari dinding uterus secara tumpul dengan menggunakan sisi
ulnar tangan kanan secara berangsur-angsur. Setelah dirasakan yakin
bahwa plasenta telah lepas dari dinding uterus, maka plasenta digenggam
dengan tangan yang berada dalam uterus dan setelah timbul kontraksi dari
uterus tangan dikeluarkan dari uterus dengan hati-hati.
Bila perdarahan banyak diberikan transfusi darah dan diberikan obatobatan uterotonik dan antibiotika.

10

Biasanya plasenta yang dilahirkan secara manual sering tidak lengkap


sehingga untuk mengeluarkan sisa plasenta perlu dilakukan tindakan kuretase dan
diharapkan sisa plasenta yang ada di dalam miometrium akan diserap. Apabila
tindakan ini gagal misalnya terjadi perdarahan yang hebat sebaiknya usaha untuk
mengeluarkan plasenta secara manual dihentikan lalu dilakukan histerektomi.
Indikasi histerektomi adalah ;

Umur penderita sudah tua dan tidak menginginkan anak lagi.

Perdarahan yang terjadi tidak dapat diatasi lagi.

Terapi konservatif gagal.

Plasenta akreta komplit, plasenta inkreta atau plasenta perkreta.

Prognosis
Tergantung dari :

Pengetahuan/pengalaman penolong penderita sebelum dirujuk biasanya


penderita sudah jatuh dalam keadaan syok.

Keadaan penderita saat masuk RS.

Lama terjadinya retensio plasenta.

Komplikasi yang terjadi.

Komplikasi
1. Syok hipovolemik
2. Inversio uteri

11

Pencegahan
Cara terbaik untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum adalah
memimpin persalinan kala II dan kala III secara lege artis. Beberapa ahli
menganjurkan pemberian uterotonika secara rutin dengan alasan kala III menjadi
lebih pendek, darah yang keluar pada persalinan berkurang dan frekuensi terjadinya
perdarahan postpartum menjadi berkurang.5

LAPORAN KASUS

I.

Identitas
Nama

: Ny. Q

Umur

: 31 tahun

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Pendidikan

: SD

Agama

: Islam

12

II.

Suku

: Banjar

Alamat

: Ds. Kahelaan km 23 RT 001 Kec. Sei Pinang

MRS

: Tanggal 16 Maret 2015, Jam 15.10 Wita

NO RMK

: 30.04.12

Anamnesa
Autoanamnesa

: 16 maret 2015, Jam 15.10 Wita

Keluhan Utama

: Tembuni tidak lepas

Riwayat Penyakit Sekarang :


Os merupakan kiriman Bidan dengan P4A0 + retensio plasenta.
Sekitar jam 10.40 wita pasien melahirkan bayi perempuan dengan berat
4000 gram. Dilakukan penegangan tali pusat terkendali oleh bidan.
Setelah ditunggu 30 menit plasenta tidak juga lepas maka dilakukan
plasenta manual oleh bidan sebanyak 3 kali, tapi tidak berhasil kemudian
pasien dirujuk oleh bidan ke rumah sakit. Terapi yang sudah diberikan
bidan = inj. Oxytosin/IM 2amp, oxytosin 2 Amp/inf RL 500 ml. infuse
yang sudah masuk 3 kolf
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengaku tidak ada hipertensi, asma maupun kencing manis.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien mengaku tidak ada keluarga yang menderita darah tinggi,
asma maupun kencing manis.
Riwayat Haid :

13

Menarche usia 12 tahun, siklus haid teratur setiap bulan ( 30 hari) ,


lama haid 1 minggu, tidak ada nyeri yang berlebihan selama haid.
Riwayat Perkawinan :
Penderita menikah 1 kali pada tahun 2002 (kurang lebih 13 tahun), usia
kawin 18 tahun.
Riwayat Obstetri :
P4A0 :
I.

2004/Rumah/Bidan/Aterm/Spontan BK/Perempuan/3300 gr/Hidup

II.

2012/gemelli/25 minggu/spt BK/mati

III.

2015/Rumah/Bidan/Spontan BK/Perempuan/4000gr/hidup

Riwayat KB :
Penderita menggunakan KB suntik
Riwayat Antenatal Care :
Penderita rutin periksa kehamilan ke bidan kampung
HPHT: 05 Juni 2014
Partus : 12 Maret 2015
III.

Pemeriksaan Fisik
Status Present :
Keadaan Umum
Tanda Vital

:
:

Tampak kesakitan, kesadaran kompos mentis


TD= 110/80 mmHg

Nadi = 80 kali/menit
RR = 18 kali/menit
T = 36,5 C

14

Kepala Leher

Tidak ada edema, konjungtiva anemis,

sklera

tidak ikterik, diameter pupil 3 mm/3 mm,


refleks cahaya +/+, isokor
Thoraks :
Jantung :

I : Iktus tidak terlihat

P : Thrill tidak teraba


P : Tidak ada pembesaran jantung
A : S1 dan S2 tunggal
Paru :

I : Bentuk simetris

P : Fremitus raba simetris


P : Sonor/sonor
A : Suara nafas vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen

Sesuai status ginekologi

Ekstremitas

Pitting edema (-/-), parese (-/-), akral hangat

Status Ginekologi
I

: Perut tampak menonjol, plasenta di depan vulva

P : Fundus uteri teraba setinggi pusar


IV.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Hematologi 15-07-2014 (14:46:32) :
JenisPemeriksaan
Hemoglobin
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit

HasilPemeriksaan
11,6
24,24
3,28
31,6
246

15

Nilai Normal
12,0-16,0
4.000-10,500 /ul
3,90-5,50 juta/ul
35-45 vol %
150-450 ribu/ul

RDW-CV
MCV
MCH
MCHC
CT
BT
GDS
SGOT
SGPT
V.

12,8
96,2
35,4
36,7
4,30
2,30
124
38
42

11.5-14,7 g/dl
80,0-97,0 fl
27,0-32,0 pg
32,0-38,0 %
70-105 mg/dl
0-46 U/l
0-45 U/l

Diagnosis
P4A0, post partum dengan retensio plasenta

Observasi
Sikap :

Pasang infus RL

Manual plasenta

Konsul dr. Konsulen (04.30 Wita).


Advis :

Lakukan plasenta manual

Antibiotik ceftriaxon 2x1 gram/iv

Konsul dr. Konsulen (15.00 Wita)


Melaporkan plasenta manual sudah berhasil dilakukan, curiga tidak lengkap.
Advis : Drip Oksitosin, rencana kuretase
Follow up
Tanggal 17/03/2015 . Jam 06.30 Wita :
S :

Perdarahan (+)

O :

TD=120/80 mmHg

16

N =89 kali/menit
RR= 20 kali/menit
T= 36,7oC
A :

P4A0 post partum spontan BK post manual plasenta

P :

Pro kuretase hari ini


Drip oksitosin
Ceftriaxon 2x1 gram (IV)
Infus RL 20 tetes/menit

Tanggal 18/03/2015, Jam 06.30 Wita :


S :

Perdarahan pervaginam (<)

O :

TD = 110/80
N = 78 kali/menit
RR = 20 kali/menit
T = 36,4o C

A :

P4A0 post kuretase a/I retensio plasenta H1

P :

IVFD RL 20 tetes/menit
Metylergoetrin 3x1 tab
Metronidazol 3x1 tab
Ciprofloxacin 3x1 tab

17

PEMBAHASAN

Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang melebihi 500 cc dalam 24


jam setelah anak lahir. Salah satu penyebab dari perdarahan postpartum adalah
retensio plasenta yaitu tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau
melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir.2
Pada kasus ini penderita datang dengan perdarahan pervaginam setelah 1
jam melahirkan oleh karena plasenta belum lepas dan tampak menggantung di
depan vulva. Selain itu pada pemeriksaan fisik juga didapatkan perut tampak
menonjol oleh karena plasenta yang belum keluar dan fundus uteri teraba setinggi
pusat menandakan bayi sudah lahir dan fundus uteri tidak ikut tertarik pada saat
perenggangan tali pusat terkendali dan percobaan manual plasenta yang dilakukan
oleh bidan penolong persalinan.
Penderita didiagnois P4A0 dengan retensio plasenta. Salah satu faktor
predisposisi retensio plasenta adalah multiparitas dimana pada pasien ini telah

18

empat kali melahirkan dan anak kedua meninggal dan terjadi retensio plasenta,
yang apabila penanganan kala III tersebut kurang baik akan mengakibatkan
kerusakan endometrium. Kerusakan endometrium dapat mengakibatkan plasenta
berimplantasi lebih luas sehingga plasenta sulit dilahirkan.7
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah dilakukan plasenta manual untuk
mengeluarkan plasenta dan berhasil tetapi plasenta yang keluar belum lengkap
sehingga diberi drip oksitosin untuk memacu kontraksi uterus guna mengeluarkan
sisa plasenta. Karena curiga plasenta yang keluar belum lengkap maka dilakukan
kuretase.
Pada pasien ini diberikan infus RL sebanyak 1 cc/menit. Infus RL berguna
untuk menggantikan elektrolit yang keluar bersama darah. Pasien juga diberikan
antibiotik ceftriaxon 2x1 gr untuk mencegah infeksi yang terjadi oleh karena
retensio plasenta tersebut.
Prognosis dari pasien ini dubia ad bonam karena penatalaksanaan yang
dilakukan sesuai dengan protap yang berlaku dan telah dilakukan kuretase guna
mengeluarkan sisa plasenta yang belum keluar. Sehingga komplikasi berupa
infeksi akibat sisa plasenta tidak akan terjadi.

19

PENUTUP

Telah dilaporkan sebuah kasus atas nama Ny. Q, usia 31 tahun datang
dengan keluhan plasenta belum lahir setelah 1 jam melahirkan. Berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis P 4A0 postpartum Spt bk
dengan retensio plasenta. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah plasenta
manual, pemberian infus dan antibiotik ceftriaxon serta drip oksitosin. Pada
pasien ini tidak terjadi komplikasi, sehingga pasien diperbolehkan pulang.

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Winjkosastro, Hanifa. Plasenta dan Likuor Amnii. Dalam : Ilmu Kebidanan.


Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : 1999 ; 66-75
2. Martohoesodo, S dan Nadir Abdullah. Gangguan Dalam Kala III Persalinan.
Dalam : Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Jakarta : 1999 ; 653-660.
3. Wicaksono, Bambang. Retensio Plasenta. Lab UPF Obgsgyn FK-UNDIP,
Semarang. 1994
4. Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri jilid 1 ed 2. EGC. Jakarta : 1998 ; 298300.
5. Prabowo, Raden Prayitno. Perdarahan Postpartum. Dalam : Ilmu Bedah
Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: 2000 ;
188-189.
6. Winjkosastro, Hanifa. Pimpinan Persalinan. Dalam : Ilmu Kebidanan. Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: 1999 ; 198-20.

21

7. Suyono, et all . Abnormalitas Pada Kala III Persalinan. Dalam : Obstetri


Williams Ed 18. EGC, Jakarta: 1995 ; 481-485.
8. Saifuddin, et all. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: 2001; 178181.

22