Anda di halaman 1dari 15

UJI TOKSISITAS AKUT (LD50)

1. Tujuan percobaan
Adapun tujuan yang diharapkan dalam praktikum ini adalah :
a. Untuk mengetahui dosis suatu obat yang menimbulkan kematian 50% dari
hewan percobaan.
b. Untuk melihat tingkat klasifikasi suatu obat.
2. Tinjauan Pustaka
Toksisitas adalah suatu keadaan yang menandakan adanya efek
toksik/racun yang terdapat pada bahan sebagai sediaan single doseatau
campuran. Toksisitas akut ini diteliti pada hewan percobaan yang menunjukkan
evaluasi keamanan dari kandungan kimia untuk penggunaan produk rumah
tangga, bahan tambahan makanan, kosmetik, obat-obatan, dan sediaan biologi.
Uji toksisitas akut adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui
nilai LD50 dan dosis maksimal yang masih dapat ditoleransi hewan uji
(menggunakan 2 spesies hewan uji). pemberian obat dalam dosis tunggal dan
diberikan melalui 2 rute pemerian (misalnya oral dan intravena).
Hasil uji LD50 dan dosisnya akan ditransformasi (dikonversi) pada
manusia. (LD50 adalah pemberian dosis obat yang menyebabkan 50 ekor dari
total 100 ekor hewan uji mati oleh pemerian dosis tersebut)
Uji toksisitas dilakukan untuk mendapatkan informasi atau data tentang
toksisitas suatu bahan (kimia) pada hewan uji. Secara umum uji toksisitas dapat
dikelompokkan menjadi uji toksisitas jangka pendek/akut, dan uji toksisitas
jangka panjang. Uji toksisitas akut dimaksudkan untuk mendapatkan informasi
tentang gejala keracunan, penyebab kematian, urutan proses kematian dan
rentang dosis yang mematikan hewan uji (Lethal dose atau disingkat LD50)
suatu bahan. Uji toksisitas akut merupakan efek yang merugikan yang timbul
segera sesudah pemberian suatu bahan sebagai dosis tunggal, atau berulang yang
diberikan dalam 24 jam.
Uji toksisitas akut dirancang untuk menentukan atau menunjukkan
secara kasar median lethal dose (LD50) dari toksikan. LD50 ditetapkan sebagai
tanda statistik pada pemberian suatu bahan sebagai dosis tunggal yang dapat

menyebabkan kematian 50% hewan uji. Jumlah kematian hewan uji dipakai
sebagai ukuran untuk efek toksik suatu bahan (kimia) pada seke lompok hewan
uji. Jika dalam hal ini hewan uji dipandang sebagai subjek, respon berupa
kematian tersebut merupakan suatu respon diskretik. Ini berarti hanya ada dua
macam respon yaitu ada atau tidak ada kematian.
Quantal respon , yaitu jumlah respon pada sekelompok hewan uji terhadap dosis
tertentu suatu obat atau bahan. Pengamatan terhadap efek ini dilakukan untuk
menentukan jumlah respon dari suatu respon diskretik (all or none response)
pada suatu kelompok hewan uji. Jumlah respon tersebut dapatn100%, 99%,
50%, 20%, 10%, atau 1%. Respon yang bersifat diskret itu dapat berupa
kematian, aksi potensial, dan sebagainya.
Lethal Dose 50 adalah suatu besaran yang diturunkan secara statistik, guna
menyatakan dosis tunggal sesuatu senyawa yang diperkirakan dapat mematikan atau
menimbulkan efek toksik yang berarti pada 50% hewan percobaan setelah
perlakuan. LD50 merupakan tolak ukur kuantitatif yang sering digunakan untuk
menyatakan kisaran dosis letal. Ada beberapa pendapat yang menyatakan tidak
setuju, bahwa LD50 masih dapat digunakan untuk uji toksisitas akut. Namun ada
juga beberapa kalangan yang masih setuju, dengan pertimbangan:
a. Jika lakukan dengan baik, uji toksisitas akut tidak hanya mengukur LD 50, tetapi
juga memeberikan informasi tentang waktu kematian, penyebab kematian, gejala
gejala sebelum kematian, organ yang terkena efek, dan kemampuan pemulihan
dari efek nonlethal.
b. Hasil dari penelitian dapat digunakan untuk pertimbangan pemilihan design
penelitian subakut.
c. Tes LD50 tidak membutuhkan banyak waktu.
d. Hasil tes ini dapat langsung digunakan sebagai perkiraan risiko suatu senyawa
terhadap konsumen atau pasien.
Pada dasarnya, nilai tes LD 50 yang harus dilaporkan selain jumlah hewan yang
mati, juga harus disebutkan durasi pengamatan. Bila pengamatan dilakukan dalam
24 jam setelah perlakuan, maka hasilnya tertulis LD 50 24 jam. Namun seiring
perkembangan, hal ini sudah tidak diperhatikan lagi, karena pada umumnya tes LD 50

dilakukan dalam 24 jam pertama sehingga penulisan hasil tes LD 50 saja sudah
cukup untuk mewakili tes LD50 yang diamati dalam 24 jam. Bila dibutuhkan, tes ini
dapat dilakukan lebih dari 14 hari. Contohnya, pada senyawa tricresyl phosphat,
akan memberikan pengaruh secara neurogik pada hari 10 14, sehingga bila diamati
pada 24 jam pertama tidak akan menemukan hasil yang berarti. Dan jika begitu
tentu saja penulisan hasil harus deisertai dengan durasi pengamatan. Ada beberapa
hal yang dapat mempengaruhi nilai LD50 antara lain spesies, strain, jenis kelamin,
umur, berat badan, gender, kesehatan nutrisi, dan isi perut hewan percobaan.
Teknis pemberian juga mempengaruhi hasil, antara lain waktu pemberian, suhu
lingkungan, kelembaban, sirkulasi udara. Tidak luput kesalahan manusia juga dapat
mempengaruhi hasil ini. Sehingga sebelum melakukanpenelitian, ada baiknya kita
memeperhatikan faktor faktor yang mempengaruhihasil ini. Secara umum,
semakin kecil nilai LD50, semakin toksik senyawa tersebut. Begitu pula sebaliknya,
semakin besar nilai LD50, semakin rendah toksisitasnya. Hasil yang diperoleh
(dalam mg/kgBB) dapat digolongkan menurut potensi ketoksikan akut senyawa uji
menjadi beberapa kelas, seperti yang terlihat pada tabel berikut (Loomis (1978)) :
No
1
2
3
4
5
6

KELAS
Luar biasa toksik
Sangat toksik
Cukup toksik
Sedikit toksik
Praktis tidak toksik
Relatif kurang

LD50 (mg/KgBB)
1 atau kurang
1 50
50 500
500 5000
5000 15000
lebih dari 15000

berbahaya

Menurut Farmakope Indonesia persyaratan yang harus dipenuhi agar dapat


menggunakan Farmakope Indonesia ini adalah :
1. Menggunakan seri dosis dengan pengenceran berkelipatan tetap

2. Jumlah hewan percobaan / jumlah biakan jaringan tiap kelompok harus


sama.
3. Dosis diatur sedemikian rupa sehingga memberikan efek daro 0-100% dan
perhitungan dibatasi pada kelompok percobaan yang memberikan efek dari
0-100%.
Rumus :
m = a b ( Pi 0,5
Keterangan :
m =

log LD50

log dosis terendah yang menyebabkan kematian 100% tiap

kelmpok
b =

beda log dosis yang berurutan

Pi = jumlah hewan yang mati yang menerima dosis sebanyak i dibagi


jumlah hewan seluruhnya yang menerima dosis i

Uji toksisitas akut ini biasanya menggunakan hewan uji mencit dari kedua
jenis kelamin. Hewan uji harus sehat dan berasal dari satu galur yang jelas.
Menurut Weil penelitian uji toksisitas akut ini paling tidak menggunakan 4
peringkat dosis yang masing-masing peringkat dosis menggunakan paling
sedikit 4 hewan uji. Dosis dibuat sebagai suatu peringkat dengan kelipatan
logaritmik yang tetap. Dosis terendah merupakan dosis yang tidak menyebabkan
timbulnya efek atau gejala keracunan, dan dosis tertinggi merupakan dosis yang
menyebabkan kematian semua (100%) hewan uji. Cara pemberian obat atau
bahan yang diteliti harus disesuaikan pada pemberiannya pada manusia,
sehingga dapat mempermudah dalam melakukan ekstrapolasi dari hewan ke
manusia.
Dalam uji toksisitas akut, penentuan LD50 dilakukan dengan cara
menghitung jumlah kematian hewan uji yang terjadi dalam 24 jam pertama

sesudah pemberian dosis tunggal bahan yang diteliti menurut cara yang
ditunjukkan oleh para ahli. Namun demikian, kematian dapat terjadi sesudah 24
jam pertama karena proses keracunan dapat berjalan lambat. Gejala keracunan
yang muncul sesudah 24 jam menunjukkan bahwa bahan obat atau bahan itu
mempunyai titik tangkap kerja pada tingkat yang lebih bawah sehingga gejala
keracunan dan kematian seolah-olah tertunda (delayed toxicity). Oleh karena itu
banyak ahli berpendapat bahwa gejala keracunan perlu diamati sampai 7 hari,
bahkan juga sampai 2 minggu.
Sediaan yang akan diuji dipersiapkan menurut cara yang sesuai dengan
karakteristik bahan kimia tersebut, dan tidak diperbolehkan adanya perubahan
selama waktu pemberian. Untuk pemberian per oral ditentukan standar volume
yang sesuai dengan hewan uji.
Dosis efektif 50% adalah dosis suatu obat yang dapat berpengaruh terhadap 50%
dari jumlah hewan yang diuji, sedangkan, dosis lethal 50% adalah, dosis suatu obat
atau bahan kimia yang dapat menyebabkan kematian sampai 50% dari jumlah
hewan yang diuji.
Tujuan dilakukannya uji toksisitas akut adalah untuk menentukan potensi
ketoksikan akut dari suatu senyawa dan untuk menentukan gejala yang timbul pada
hewan percobaaa. Data yang dikumpulkan pada uji toksisitas akut ini adalah data
kuantitatif yang berupa kisaran dosis letal atau toksik, dan data kualitatif yang
berupa gejala klinis.
Bahan racun adalah

semua

bahan

kimia

yang

dapat

menyebabkan

kerusakan/kesakitan pada makhluk hidup. Sebagai akibat dari kerusakan tersebut


ialah adanya gangguan pada struktur anatomi dan fisiologik dari jaringan yang
menderita, bahkan dapat menimbulkan kematian. Semua bahan kimia mungkin
akan beracun bila diberikan berlebihan atau rute pemberian yang tidak lazim.
Terlalu banyak oksigen murni, air ataupun garam dapat menyebabkan kematian
Tetapi hal tersebut tidak dapat digunakan sebagai pegangan, karena bahan yang
biasanya disebut racun sperti sianida, arsen dan sebagainya tidak dapat dikatakan
tidak beracun, sehingga kita harus menyatakan bahwa semua bahan kimia akan
beracun bila diberikan secara tidak proporsional.

3. Bahan dan Alat

a. Bahan
Hewan percobaan
: anak ikan lele
Obat yang diberikan : ekstrak dengan berbagai konsentrasi atau fenol dengan

berbagai konsentrasi (0,04%, 0,02%, 0,01%, 0,005%, 0,0025%, 0.00125%)


Aquades.

b. Alat
Beaker glass
Stopwatch

4. Cara Kerja
a. Siapkan fenol dengan berbagai konsentrasi di dalam beaker glass.
b. Siapkan anak ikan 10 ekor, masukkan kedalam masing-masing beaker glass, dan
mulai hitung waktunya.
c. Lakukan pengamatan selama 1,5-2 jam.
d. Hitung berapa jumlah ika yang mati dan jumlah ikan yang hidup.
e. Tabelkan dan hitung LD50 nya.
5. Hasil dan Pembahasan
a. Hasil dan perhitungan
Tabel hasil semua kelompok :

Dosis
0.04 %
0.02 %
0.01 %
0.005 %
0.0025%
0.00125%
Kontrol

Jumlah Hewan
Perkelompok
10
10
10
10
10
10
10

Jumlah Hewan
Mati
Hidup
10
0
10
0
10
0
10
0
10
0
0
10
0
10

Pi
1
1
1
1
1
0
0
Pi = 1

Perhitungan LD50 :
Rumus :

m = a b ( Pi 0.5 )
Data :
1

Log dosis terendah yang mnyebabkan kematian 100% tiap kelompok ( a )=

2
3

0.0025% , Log 0.0025 = -2.602


Beda log dosis yang berurutan ( b ) = log 0.04 - log 0.02 = 0.301
Jumlah hewan yang mati yang menerima dosis sebanyak i dibagi jumlah
hewan seluruhnya yang menerima dosis i
( Pi ) = Pi = ( 1 + 0 ) = 1
m

= a b ( Pi 0.5 )

Log LD50 = -2.602 0.301 ( 1 0.5 )


= -2.602 0.301 ( 0.5 )
= -2.602 0.150
= -2.752
Anti Log
LD50

= -2.752
= 1.770 x 10-3 mg/Kg BB

Contohsoal :
Jumlah

Jumlah

Jumlah

Dosis

hewan

hewan yang

hewan yang

500 mg/kgBB
250 mg/kgBB
125 mg/kgBB
62,5 mg/kgBB
31,25 mg/kgBB

seluruhnya
10
10
10
10
10

mati
10
8
5
2
0

hidup
0
2
5
8
10

Pi
1
0.8
0.5
0.2
0
Pi = 2.5

a b ( Pi 0,5 )

log 500 ( log 500 log 250 ) ( 2.5 0.5 )

2.699 ( 0.301 ) ( 2 )

log LD 50

2.699 0.602

log LD 50

2.097

m
log LD 50

LD 50

=
=

Antilog 2.097

125.026 mg/kgBB

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Dosis

hewan

hewan yang

hewan yang

500 mg/kgBB
250 mg/kgBB
125 mg/kgBB
62,5 mg/kgBB
31,25 mg/kgBB

seluruhnya
10
10
10
10
10

mati
10
10
8
2
0

hidup
0
0
2
8
10

m
log LD 50

log LD 50

a b ( Pi 0,5 )

log 250 ( log 500 log 250 ) ( 2 0.5 )

2.398 ( 0.301 ) ( 1.5 )

2.398 0.452

Pi
1
1
0.8
0.2
0
Pi = 2

log LD 50

LD 50

1.946
=

Antilog 1.946

88.308 mg/kgBB

b. Pembahasan
Percobaan uji toksisitas akut LD50, objek yang digunakan adalah ikan
lele sebanyak 10 ekor. 10 ekor ikan lele di masukkan kedalam beaker glass
yang berisi fenol dengan konsentrasi 0.005 %. Pengamatan ini dilakukan
selama 1,5. Pada awal ikan lele dicelupkan ke dalam larutan fenol, ikan
masih dalam keadaan seperti biasa. Setelah menit ke 13 beberapa ikan lele
sudah mulai melayang layang, dan pada menit ke 21 semua ikan lele mati.
Sementara untuk konsentrasi fenol 0.00125 %

tingkat kematian tidak

terjadi, dan pada konsentrasi fenol 0.04 % tingkat kematian ikan lele lebih
cepat.
Pada beaker glass yang diberi larutan kontrol, ikan lele yang berada di
dalam larutan tersebut bertahan hidup dengan baik. Sementara pada beaker
glass yang berisi larutan fenol konsentrasi 0.005% ikan lele yang berada
didalamnya tidak bertahan lama dan pada menit ke 21 ikan tersebut mati
100%. Hal ini membuktikan bahwa larutan fenol tersebut mengandung
senyawa-senyawa fenol merupakan senyawa organik yang mempunyai sifat
racun ( toksik ). Apabila senyawa ini mencemari perairan maka akan
membuat rasa dan bau tidak sedap, dan pada nilai konsentrasi tertentu dapat
menyebabkan kematian organisme di perairan tersebut.Oleh karena itu pada
konsentrasi larutan fenol 0.04% lebih cepat terjadi kematian pada ikan lele di
bandingkan pada konsentrasi fenol 0.0025%.
c.

6. Kesimpulan
1. Toksisitas adalah suatu keadaan yang menandakan adanya efek toksik/racun
yang terdapat pada bahan sebagai sediaan single doseatau campuran.
2. Uji toksisitas akut adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui nilai
LD50 dan dosis maksimal yang masih dapat ditoleransi hewan uji
(menggunakan 2 spesies hewan uji). pemberian obat dalam dosis tunggal dan
diberikan melalui 2 rute pemerian (misalnya oral dan intravena).
3. Dosis efektif 50% adalah dosis suatu obat yang dapat berpengaruh terhadap
50% dari jumlah hewan yang diuji, sedangkan, dosis lethal 50% adalah,
dosis suatu obat atau bahan kimia yang dapat menyebabkan kematian sampai
50% dari jumlah hewan percobaan.
4. Semakin kecil nilai LD50, semakin toksik senyawa tersebut. Begitu pula
sebaliknya, semakin besar nilai LD50, semakin rendah toksisitasnya.
5. Dari percobaan dapat dilihat tingkat toksisitas akut LD50 yang terjadi pada
ikan lele yang dicelupkan pada larutan fenol konsentrasi 0.04% lebih cepat
terjadi. Hal ini dipengaruhi oleh senyawa fenol yang bersifat racun ( toksik ).
Dapat di lihat perbandingan dengan menggunakan larutan kontol, yaitu air
saja. Pada larutan kontrol tidak ada ikan lele yang mati. Pada konsentrasi
kecil, yaitu 0.00125 % tingkat kematian ikan lele termasuk rendah, tidak
mencapai 50%. Dari pengamatan kelompok kami, dapat kami simpulkan
bahwa pengaruh senyawa fenol akan menyebabkan rusaknya suatu
organisme bahkan apabila dalam konsentrasi tinggi akan menyebabkan
kematian organisme tersebut. Semakin banyak larutan fenol yang diberikan,
atau semakin besar konsentrasi fenol yang diberikan maka akan semakin
cepat dan tinggi tingkat toksisitas yang terjadi pada organisme tersebut.
6.

10

DAFTAR PUSTAKA
Donatus IA. 2001.Toksikologi Dasar. Yogyakarta: Laboratorium Farmakologi dan
Toksikologi Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada;
Atmojo, D.D. 2009. Uji ToksisitasAkut Penentuan LD50 Ekstrak Valerian Valeriana
officinalis) terhadap Mencit BAL B/C.
http://ilmualambercak.blogspot.com/2013/03/uji-toksisitas-akut.html
http://ilmu-kefarmasian.blogspot.com/2013/04/uji-toksisitas.html

Toksisitas akut

11

Pembahasan
Toksisitas adalah suatu keadaan yang menandakan adanya efek toksik / racun yang
terdapat pada bahan sebagai sediaan single dose atau campuran. Toksisitas akut ini
diteliti pada hewan percobaan yang menunjukkan evaluasi keamanan dari kandungan
kimia untuk penggunaan produk rumah tangga, bahan tambahan makanan, kosmetik,
obat-obatan, dan sediaan biologi.
Uji toksisitas akut dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang gejala keracunan,
penyebab kematian, urutan proses kematian dan rentang dosis yang mematikan hewan
uji (LD50) suatu bahan. Pemberian obat dalam dosis tunggal dan diberikan melalui 2
rute pemberian (misalnya oral dan intravena). Hasil uji LD50 dan dosisnya akan
ditransformasi (dikonversi) pada manusia.Uji toksisitas akut merupakan efek yang
merugikan yang timbul segera sesudah pemberian suatu bahan sebagai dosis tunggal,
atau berulang yangdiberikan dalam 24 jam.
Uji toksisitas akut dirancang untuk menentukan atau menunjukkansecara kasar median
lethal dose (LD50) dari toksikan. LD50 ditetapkan sebagai tanda statistik pada
pemberian suatu bahan sebagai dosis tunggal yang dapat menyebabkan kematian 50%
hewan uji. Jumlah kematian hewan uji dipakai sebagai ukuran untuk efek toksik suatu
bahan (kimia) pada sekelompok hewan uji.
Menurut Weil penelitian uji toksisitas akut ini paling tidak menggunakan 4 peringkat
dosis yang masing-masing peringkat dosis menggunakan palingsedikit 4 hewan uji.
Dosis dibuat sebagai suatu peringkat dengan kelipatanlogaritmik yang tetap. Dosis
terendah merupakan dosis yang tidak menyebabkantimbulnya efek atau gejala
keracunan, dan dosis tertinggi merupakan dosis yangmenyebabkan kematian semua
(100%) hewan uji.
Cara pemberian obat atau bahan yang diteliti harus disesuaikan pada pemberiannya
pada manusia,sehingga dapat mempermudah dalam melakukan ekstrapolasi dari hewan
kemanusia.Dalam

uji

toksisitas

akut,

penentuan

LD50

dilakukan

dengan

caramenghitung jumlah kematian hewan uji yang terjadi dalam 24 jam pertamasesudah
pemberian dosis tunggal bahan yang diteliti menurut cara yangditunjukkan oleh para
ahli. Namun demikian, kematian dapat terjadi sesudah 24 jam pertama karena proses

12

keracunan dapat berjalan lambat.Data yang dikumpulkan pada uji toksisitas akut ini
adalah datakuantitatif yang berupa kisaran dosis letal atau toksik, dan data kualitatif
yang berupa gejala klinis. Kerja suatu obat dapat dipengaruhi oleh konsentrasi obat,
spesies hewan, fator endogen (usia, berat badan, jenis kelamin, kesehatan hewan), diet
terkait dengan komposisi pakan, cara pemberian, temperatur serta musim.
Pada praktikum kali ini dilakukan uji ketoksikan akut yang merupakan uji keamanan
terhadap paracetamol. Melalui uji ini akan diperoleh nilai LD50, sehingga dapat dilihat
sebagai potensi ketoksikan relatif suatu obat dan dipergunakan sebagai acuan dalam
penentuan dosis untuk uji toksisitas. Selain diperoleh nilai LD50 dapat dilihat gejala
klinisyang memberikan informasi tentang waktu kematian, penyebab kematian, gejala
gejala sebelum kematianyang ditimbulkan karena pengaruh pemberian dosis tunggal
oral paracetamol terhadap mencit putih.
Mencit putih dipilih karena hewan ini dapat dikembangbiakkansecara seragam, mudah
didapat, relatif murah,sangat mudah ditangani, sensitif terhadap obat dengandosis kecil,
terdapat banyak data toksikologi tentangjenis hewan ini, serta secara luas digunakan
untuk ujitoksisitas akut.
Terdapat 3 metode yang paling sering digunakan untuk menentukan LD50 yaitu metode
grafik Lithfield & Wilcoxon, metode kertas grafik probit logaritma Miller dan Tainter,
dan metode rata-rata bergerak Thompson-Weil yang didasar-kan pada kekerabatan
antara peringkat dosis dan persentase hewan yang menunjukan respon. Sedangkan data
kualitatif yang diperoleh meliputi penampakan klinis, morfologis, dan mekanisme efek
toksik.
Adapun cara kerja pada praktikum ini pertama melakukan pemilihan hewan uji,
pengelompokkan hewan uji, tata cara pemberian dosis sediaan uji, pengamatan, analisis
hasil dan evaluasi. Pada pengelompokkan hewan uji masing masing kelompok terdiri
dari 5 mencit yaitu satu kontrol negatif dan empat mencit masing masing diberi
perlakuan dosis paracetamol secara per oral dengan dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB,
1000 mg/kgBB, 2000 mg/kgBB. Amati gejala klinis yang timbul, catat jumlsh mencit
yang mati dalam waktu 24 jam, gunakan data seluruh kelompok untuk menghitung
LD50.

13

Hasil uji toksisitas akut pada penelitian pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa pada
kelompok kontrol terjadi kereaktifan terhadap aneka rangsangan dengan tanda tanda
ketoksikan pasif. Pada kelompok dosis 250 mg/kgBB terjadi Kereaktifan terhadap
aneka rangsangan dengan tanda ketoksikan pasif, Refleks Serebral & Spinal dengan
tanda ketoksikan lemah, gerakan dengan tanda keterpaksaan gerak. Pada dosis 500
mg/kgBB Kerektifan terhadap aneka rangsangan dengan tanda pasif, Refleks Serebral &
spinal dengan tanda ketoksikan lemah, gerakan dengan tanda keterpaksaan gerak,
peristiwa perut dengan tanda kontraksi. Pada dosis 1000 mg/kgBB Kerektifan terhadap
aneka rangsangan dengan tanda pasif, Refleks Serebral & spinal dengan tanda
ketoksikan lemah, gerakan dengan tanda keterpaksaan gerak, peristiwa perut dengan
tanda kontraksi, kelopak mata dengan tanda ptosis. Pada dosis 2000 mg/kgBB
Kereaktifan terhadap aneka rangsangandengan tanda pasif, Refleks Serebral & spinal
dengan tanda lemah, gerakan dengan tanda keterpaksaan gerak, perisiwa peru dengan
tanda kontraksi, konsistensi tinja dengan tanda tidak berbentuk warna hitam, kelopak
matadengan tanda ptosis.
Pada hasil data penelitian kematian inimenunjukkan bahwa pada kelompok kontrol,
dosis I, dosis II, dan dosis III tidak menimbulkan responkematian pada hewan,
sedangkan

pada

kelompok

dosisIV

(dosis

tertinggi)

ditemukan

respon

kematian.Sehingga % kematian pada dosis I, II, III yaitu 5% dan dosis IV yaitu 95%.
Parasetamol dalam dosis normal, tidak menyakiti permukaan dalam perut atau
mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus arteriosus pada janin. Parasetamol
relatif aman digunakan, namun pada dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati dan
dapat menimbulkan kematian. Risiko kerusakan hati ini diperparah apabila pasien juga
meminum alkohol. Overdosis bisa menimbulkan mual, muntah dan anoreksia.
Penanggulangannya dengan cuci lambung, juga perlu diberikan zat-zat penawar (asam
amino N-asetilsistein atau metionin) sedini mungkin, sebaiknya dalam 8-10 jam setelah
intoksikasi. Wanita hamil dapat menggunakan Parasetamol dengan aman, juga selama
laktasi walaupun mencapai air susu ibu. Interaksi pada dosis tinggi memperkuat efek
antikoagulansia, dan pada dosis biasa tidak interaktif.(Tjay, 2002)
Mekanisme Toksisitas yaitu pada peningkatan dosis parasetamol berarti meningkatkan
keberadaan zat beracun parasetamol di sel sasaran, Pada dosis terapi, salah satu

14

metabolit Parasetamol bersifat hepatotoksik, didetoksifikasi oleh glutation membentuk


asam merkapturi yang bersifat non toksik dan diekskresikan melalui urin, tetapi pada
dosis berlebih produksi metabolit hepatotoksik meningkat melebihi kemampuan
glutation untuk mendetoksifikasi, sehingga metabolit tersebut bereaksi dengan sel-sel
hepar dan timbulah nekrosis sentro-lobuler. Oleh karena itu pada penanggulangan
keracunan Parasetamol terapi ditujukan untuk menstimulasi sintesa glutation. Dengan
proses yang sama parasetamol juga bersifat nefrotoksik.
Mekanisme kerja obat dapat dipengaruhi oleh konsentrasi obat, spesies hewan, faktor
endogen (usia, berat badan, jenis kelamin, kesehatan hewan), diet terkait dengan
komposisi pakan, cara pemberian, temperatur serta musim. Pada hasil percobaan,
persamaan garis antara log dosis Vs % kematian diperoleh nilai r : 0,774. LD 50 (dosis
letalis 50, dosis letal 50) merupakan dosis yang menyebabkan 50% dari hewan
percobaan mati. LD50 pada Persamaan Garis antara Log Dosis Vs % Kematian
diperoleh1259,992 mg/kg.Pada hasil percobaan, Probit antara Log Dosis Vs Probit
diperoleh nilai r : 0,774. Pada Probit antara Log Dosis Vs Probit diperoleh1259,9012
mg/kg. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai letal dosis suatu zat, tingkat
kematian hewan percobaan semakin tinggi.

15