Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

TELAAH KASUS ETIKA BISNIS


Makalah ini disusun dalam rangka Ujian Tengah Semester
Mata Kuliah Etika Bisnis dan Profesi
Kelas CA
Dosen Pengajar
Prof. Dr. Unti Ludigdo, Ak.

Disusun oleh:
Abdul Muiz Maulana

115020301111014

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

DAFTAR ISI

I.

Kasus I: ETIKA DALAM PRODUKSI DAN PEMASARAN

Kasus Etika Pemasaran Online 1


A.
B.
C.
D.
II.

Deskripsi Kasus 1
Telaah Kasus
1
Kesimpulan dan Solusi Permasalahan
Referensi 4

Kasus II: ETIKA DALAM HUBUNGAN KARYAWAN DAN PERUSAHAAN

Kasus PT Freeport Indonesia tentang upah pekerja


A.
B.
C.
D.
III.

Deskripsi Kasus 5
Telaah Kasus
5
Kesimpulan dan Solusi Permasalahan
Referensi 9

Kasus III: ETIKA DALAM PERTANGGUNG JAWABAN PERUSAHAAN

Kasus Penggelapan Pajak PT Asian Agri Group (AAG)


A.
B.
C.
D.

Deskripsi Kasus 10
Telaah Kasus
11
Kesimpulan dan Solusi Permasalahan
Referensi 17

10

16

KASUS I
ETIKA DALAM PRODUKSI DAN PEMASARAN:
Kasus Etika Pemasaran Online
A. Deskripsi Kasus
Pemasaran Online adalah model pemasaran yanga disebar luaskan melalui media
internet. Akhir akhir ini, seiring dengan maraknya situs-situs jejaring social seperti
Facebook, muncul pula berbagai toko online yang memasarkan produknya dan juga
menjual produknya secara online. Antusiasme masyarakat cukup tinggi dengan dibukanya
toko online ini. Namun, masalah mulai muncul. Apakah etis bagi perusahaan yang
memasarkan dan juga menjual produknya secara online? Apakah iklan produk yang
ditampilkan di website tidak memanipulasi pelanggan?
Untuk itu, saya mencoba menelaah etika dalam pemasaran online. Disini saya
mengambil perusahaan toko online jagungturbo.com. Jagungturbo.com merupakan
salah satu toko online yang menyediakan dan menjual barang-barang original, meskipun
skala perusahaan masih kecil dan kurang terkenal, namun situs ini menjual produk
berkualitas tinggi, produk unik dan menarik dengan harga yang terjangkau. Salah satu
merk yang dijual disini adalah CROCS, sepatu impor dengan logo buaya yang memiliki
banyak penggemar. Harga rata rata crocs adalah sekitar Rp400.000,- namun harga yang
ditawarkan disini biasanya mencapai harga Rp300.000,-.
Situs ini memberikan kepercayaan yang sangat tinggi bagi konsumen karena
selain memiliki testimony dari para pembeli yang telah berhasil melakukan transaksi
secara online, perusahaan ini juga menjamin barang yang dijualnya adalah barang
original. Apabila konsumen mendapati produk yang diterima tidak original, maka
perusahaan akan mengembalikan uang yang sudah dikirim oleh konsumen.
B. Telaah Kasus
Menurut saya, pemasaran ataupun penjualan yang dilakukan perusahaan secara
online adalah etis. Dari kasus di atas, dapat mengambil unsur-unsur etis yang dilakukan
oleh jagungturbo.com antara lain :
Dari segi produk, etika sudah terpenuhi. Disini, perusahaan tersebut menjual dan
menyediakan barang yang berguna bagi masyarakat dan dapat memuaskan
masyarakat. Produk yang dijual juga memiliki merk yang terkenal dan sudah

dipercaya oleh masyarakat.


Dari segi harga, perusahaan ini memberikan harga yang lebih murah dan dapat
dijangkau oleh masyarakat. Perusahaan ini juga tidak mengambil margin yang
1

terlalu tinggi sehingga menguntungkan para pembeli. Biaya yang dibebankan


kepada produk tersebut juga tidak terlalu tinggi. Harga di toko biasa sekitar
Rp350.000,- hingga Rp700.000,- namun di toko online ini harga berkisar antara

Rp300.000,- hingga Rp 450.000,-. Jauh lebih murah dari harga toko biasa.
Dari segi tempat/distribusi, perusahaan ini memberikan pelayanan lebih cepat dan
juga kemudahan dalam bertransaksi. Konsumen hanya tinggal duduk dan
mentransfer uang sambil menunggu barang dikirim. Selain itu, keutuhan dan

keamanan barang yang dikirim dijamin oleh perusahaan.


Dari segi iklan, perusahaan ini mengiklankan produknya di website tanpa
menjelekkan produk lain. Iklan yang ditampilkan juga sesuai dengan barang yang
akan dijual kepada pembeli. Iklan tersebut juga memberikan beberapa informasi
yang dibutuhkan pembeli dan sesuai dengan kenyataan (tidak membohongi
pembeli).
Perusahaan ini juga menggunakan prinsip prinsip etika bisnis yang dikemukakan

oleh Sony Keraf (1998) dalam menjalankan usahanya. Prinsip etika bisnis yang dijunjung
antara lain :

Prinsip Kejujuran
Prinsip kejujuran dilakukan dengan cara perusahaan tidak melebih
lebihkan informasi produk yang dipasarkan dan dijual. Selain itu, perusahaan juga
akan mengirimkan barang yang diminta konsumen sesuai dengan kesepakatan
sehingga tidak terjadi penipuan. perusahaan juga tidak membohongi konsumen
dengan menjual barang yang tidak original atau cacat. Perusahaan justru menjual
barang asli sesuai dengan apa yang diklankan.

Prinsip Saling Menguntungkan


Prinsip Saling Menguntungkan disini maksudnya menguntungkan kedua
belah pihak, baik konsumen maupun perusahaan. dilihat dari segi konsumen,
konsumen mendapatkan barang yang original, bermerk dan berkualitas dengan
harga yang lebih murah, pelayanan yang lebih cepat, lebih efektif dan efisien.
Dari segi perusahaan, perusahaan jelas mendapat keuntungan dari hasil penjualan.
Jadi jelaslah bahwa satu sama lain mendapatkan keuntungan.

Prinsip Integritas Moral


Perusahaan menjaga nama baiknya dengan cara menjamin keaslian barang
yang dijual. Apabila ternyata konsumen mendapati barang yang dibeli tidak asli /
original maka perusahaan akan mengembalikan uang konsumen yang telah
ditransfer. Hal tersebut membuat perusahaan mendapatkan kepercayaan dari para
konsumen.

C. Kesimpulan dan Solusi Permasalahan


Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah bahwa pemasaran yang dilakukan
secara online adalah etis. Alasannya adalah karena :
Menjunjung etika pemasaran yang ada. Seperti etika pemasaran dari sisi produk,
menyediakan produk yang berkualitas sehinnga bermanfaat bagi masyarakat. Dari
sisi harga, pemasaran yang dilakukan secara online menjual barangnya dengan
harga yang lebih murah dibandingkan harga di toko biasa. Dari sisi
tempat/distribusi, pemasaran dan penjualan online memberikan pelayanan yang

lebih cepat dan juga menjamin keamanan dan keutuhan barang.


Iklan yang ditampilkan tidak berlebih lebihan dan menipu konsumen.
Perusahaan menampilkan iklan sesuai dengan kenyataan dan sama dengan apa
yan diiklankan. Selain itu, kebanyakan iklan yang dipampang di website tidak
menjelekkan produk lain. Hanya menyampaikan keunggulan produknya saja.
Selain itu, perusahaan yang memasarkan produknya secara online juga

menjunjung prinsip prinsip etika bisnis. Antara lain prinsip kejujuran, yaitu tidak
membohongi konsumen dengan informasi informasi yang ada di iklan. Selain itu,
barang yang dijual dan dipasarkan berkualitas tinggi meskipun terkadang tidak bermerk
dengan harga yang lebih murah. Selanjutnya adalah prinsip saling menguntungkan.
Maksudnya menguntungkan kedua belah pihak, baik konsumen maupun perusahaan.
Untuk solusinya disini saya hanya memberikan sedikit saran terhadap perusahaan
toko online yakin:

Hendaknya para perusahaan yang memasarkan produknya secara online tetap


menjunjung prinsip prinsip etika dalam berbisnis sehingga konsumen tetap
percaya kepada perusahaan.

Bagi para pelanggan, hendaknya teliti sebelum membeli. Periksa dengan teliti
perusahaan yang akan kita beli produknya, jangan sampai kita tertipu dan justru
merugikan diri sendiri.

D. Referensi
Ethics and the conduct of business. Edisi 5th. Karangan John R. Boatright. Pearson
International Edition. 2007
Business Ethichs (concept & case). Karangan Manuel G. Velasquez.
http://www.csrbusinessindonesia.com/2009/08/membangun-csr-berbasismasyarakat_13.html diakses pada tanggal 4 November 2015.
http://blog.beswandjarum.com/rezamf/tanggung-jawab-sosial-perusahaan.html
diakses pada tanggal 6 November 2015.

KASUS II
ETIKA DALAM HUBUNGAN KARYAWAN DAN PERUSAHAAN:
Kasus PT Freeport Indonesia tentang Upah Pekerja

A. Deskripsi kasus
PT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan perusahaan afiliasi dari FreeportMcMoRan Copper & Gold Inc.. PT Freeport Indonesia menambang, memproses dan
melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas dan perak.
Beroperasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika Provinsi Papua, Indonesia.
Kami memasarkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak ke seluruh
penjuru dunia.
Ada pernyataan kuat bahwa telah terjadi distorsi etika dan pelanggaran
kemanusiaan yang hebat di Papua. Martabat manusia yang seharusnya dijunjung tinggi,
peradaban dan kebudayaan sampai mata rantai penghidupan jelas dilanggar. Itu adalah
fakta keteledoran pemerintah yang sangat berat karena selama ini bersikap underestimate
kepada rakyat Papua. Gagasan yang menyatakan mendapatkan kesejahteraan dengan
intensifikasi nyatanya gagal.
Ironisnya, dua kali pekerja Freeport melakukan aksi mogok kerja untuk menuntut
hak normatifnya soal diskriminasi gaji, namun dua kali pula harus beradu otot.
Keuntungan ekonomi yang dibayangkan tidak seperti yang dijanjikan, sebaliknya kondisi
lingkungan dan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan terus memburuk dan menuai
protes akibat berbagai pelanggaran hukum dan HAM.
B. Telaah Kasus
PT Freeport Indonesia merupakan jenis perusahaan multinasional (MNC),yaitu
perusahaan internasional atau transnasional yang berkantor pusat di satu negara tetapi
kantor cabang di berbagai negara maju dan berkembang.
Mogoknya hampir seluruh pekerja PT Freeport Indonesia (FI) tersebut disebabkan
perbedaan indeks standar gaji yang diterapkan oleh manajemen pada operasional Freeport
di seluruh dunia. Pekerja Freeport di Indonesia diketahui mendapatkan gaji lebih rendah
daripada pekerja Freeport di negara lain untuk level jabatan yang sama. Gaji sekarang per
jam USD 1,5USD 3. Padahal, bandingan gaji di negara lain mencapai USD 15USD 35
per jam. Sejauh ini, perundingannya masih menemui jalan buntu. Manajemen Freeport
bersikeras menolak tuntutan pekerja, entah apa dasar pertimbangannya.
Biaya CSR kepada sedikit rakyat Papua yang digembor-gemborkan itu pun tidak
seberapa karena tidak mencapai 1 persen keuntungan bersih PT Freeport Indonesia.

Malah rakyat Papua membayar lebih mahal karena harus menanggung akibat berupa
kerusakan alam serta punahnya habitat dan vegetasi Papua yang tidak ternilai itu. Biaya
reklamasi tersebut tidak akan bisa ditanggung generasi Papua sampai tujuh turunan.
Undang-undang yang telah dilanggar PT Freeport:

PT Freeport Indonesia telah melanggar hak-hak dari buruh Indonesia (HAM)


berdasarkan UU No. 13/2003 tentang mogok kerja sah dilakukan. PT Freeport
Indonesia telah melanggar pasal:
a) Pasal 139: Pelaksanaan mogok kerja bagi pekerja/buruh yang bekerja pada
perusahaan yang melayani kepentingan umum dan atau perusahaan yang
jenis kegiatannya membahayakan keselamatan jiwa manusia diatur
sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kepentingan umum dan atau
membahayakan keselamatan orang lain.
b) Pasal 140: (1) Sekurang-kurangnya dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja
sebelum

mogok

kerja

dilaksanakan,

pekerja/buruh

dan

serikat

pekerja/serikat buruh wajib memberitahukan secara tertulis kepada


pengusaha dan instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan
setempat. (2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu)
sekurang-kurangnya memuat: (i) Waktu (hari, tanggal, dan jam) dimulai
dan diakhiri mogok kerja. (ii) Tempat mogok kerja. (iii) Alasan dan sebabsebab mengapa harus melakukan mogok kerja. (iv) Tanda tangan ketua dan
sekretaris

dan/atau

masing-masing

ketua

dan

sekretaris

serikat

pekerja/serikat buruh sebagai penanggung jawab mogok kerja. (3) Dalam


hal mogok kerja akan dilakukan oleh pekerja/buruh yang tidak menjadi
anggota serikat pekerja/serikat buruh, maka pemberitahuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) ditandatangani oleh perwakilan pekerja/buruh
yang ditunjuk sebagai koordinator dan/atau penanggung jawab mogok
kerja. (4) Dalam hal mogok kerja dilakukan tidak sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), maka demi menyelamat kan alat produksi dan aset
perusahaan, pengusaha dapat mengambil tindakan sementara dengan cara:
(i) Melarang para pekerja/buruh yang mogok kerja berada dilokasi kegiatan
proses produksi, atau (ii) Bila dianggap perlu melarang pekerja/buruh yang
mogok kerja berada di lokasi perusahaan.

Pasal 23: Setiap orang berhak atas pekerjaan, berhak dengan bebas memilih
pekerjaan, berhak akan terlaksananya hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya yang
sangat doperlukan untuk martabat dan pertumbuhan bebas pribadinya, melalui
usaha-usaha nasional maupun kerjasama internasional, dan sesuai dengan

pengaturan sumber daya setiap negara.


PT Freeport Indonesia melanggar UU No. 11/1967 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Pertambangan yang sudah diubah dengan UU No. 4/2009.
Selain bertentangan dengan PP 76/2008 tentang Kewajiban Rehabilitasi dan

Reklamasi Hutan, telah terjadi bukti paradoksal sikap Freeport (Davis, G.F.,et.al., 2006).
Kestabilan siklus operasional Freeport merupakan barometer penting kestabilan politik
koloni Papua. Induksi ekonomi yang terjadi dari berputarnya mesin anak korporasi
raksasa Freeport-McMoran tersebut di kawasan Papua memiliki magnitude luar biasa
terhadap pergerakan ekonomi kawasan, nasional, bahkan global.
Sebagai perusahaan berlabel MNC (multinational company) yang otomatis
berkelas dunia, apalagi umumnya korporasi berasal dari AS, pekerja adalah bagian dari
aset perusahaan. Menjaga hubungan baik dengan pekerja adalah suatu keharusan. Sebab,
di situlah terjadi hubungan mutualisme satu dengan yang lain. Perusahaan membutuhkan
dedikasi dan loyalitas agar produksi semakin baik, sementara pekerja membutuhkan
komitmen manajemen dalam hal pemberian gaji yang layak.
Pemerintah dalam hal ini pantas malu. Sebab hadirnya MNC di Indonesia
terbukti tidak memberikan teladan untuk menghindari perselisihan soal normatif yang
sangat mendasar. Kebijakan dengan memberikan diskresi luar biasa kepada PT Freeport
Indonesia, previlage berlebihan ternyata sia-sia. Berkali-kali perjanjian kontrak karya
dengan PT Freeport Indonesia diperpanjang meskipun bertentangan dengan UU Nomor
11/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan dan sudah diubah dengan UU
Nomor 4/2009 tentang Minerba. Alasan yang dikemukakan hanya klasik hanya untuk
menambah kocek negara. Padahal tidak terbukti secara signifikan sumbangan PT Freeport
Indonesia benar-benar untuk negara. Kalimat yang lebih tepat

sebetulnya adalah

sumbangan Freeport untuk negara Amerika bukan Indonesia. Justru negara ini tampak
dibodohi luar biasa karena PT Freeport Indonesia berizin penambangan tembaga, akan
tetapi menggali pula bahan mineral lain, seperti emas, perak, dan konon uranium. Bahanbahan itu dibawa langsung ke luar negeri dan tidak mengalami pengolahan untuk
7

meningkatkan value di Indonesia. Dan lebih ironisnya PT Freeport Indonesia tidak listing
di bursa pasar modal Indonesia, apalagi Freeport-McMoran sebagai induknya.
Keuntungan berlipat justru didapatkan oleh PT Freeport Indonesia dengan hanya sedikit
memberikan pajak PNBP kepada Indonesia atau sekadar PPh badan dan pekerja lokal
serta beberapa tenaga kerja asing (TKA). Karena PT Freeport Indonesia memiliki pesawat
dan lapangan terbang sendiri, jumlah pasti TKA itu tidak akan bisa diketahui oleh pihak
imigrasi.
Kasus PT. Freeport Indonesia ditinjau dari berbagai teori etika bisnis :
Teori etika utilitarianisme
Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti bermanfaat. Menurut teori
ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus
menyangkut bukan saja

satu dua orang melainkan masyarakat sebagai

keseluruhan.
Berdasarkan teori utilitarianisme, PT.Freeport Indonesia dalam hal ini
sangat bertentangan karena keuntungan yang di dapat tidak digunakan untuk
mensejahterakan masyarakat sekitar, melainkan untuk Negara Amerika.
Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah
pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu
perbuatan atau perilaku.
Teori Hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena berkaitan
dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama.
Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama,
karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.
Dalam kasus ini, PT Freeport Indonesia sangat tidak etis dimana kewajiban
terhadap para karyawan tidak terpenuhi karena gaji yang diterima tidak layak
dibandingkan dengan pekerja Freeport di Negara lain. Padahal PT Freeport Indonesia
merupakan tambang emas dengan kualitas emas terbaik di dunia.
C. Kesimpulan dan Solusi Permasalahan
Dari pembahasan dalam bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa PT Freeport
Indonesia telah melanggar etika bisnis dimana, upah yang dibayar kepada para pekerja
8

dianggap tidak layak dan juga telah melanggar UU Nomor 11/1967 tentang KetentuanKetentuan Pokok Pertambangan yang sudah diubah dengan UU Nomor 4/2009 tentang
Minerba. Karena PT Freeport Indonesia berizin penambangan tembaga, namun mendapat
bahan mineral lain, seperti emas, perak, dan konon uranium. Selain bertentangan dengan
PP 76/2008 tentang Kewajiban Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, telah terjadi bukti
paradoksal sikap Freeport (Davis, G.F., et.al., 2006).
Solusi atas permasalahan yang saya berikan yakni sebaiknya pemerintah
Indonesia dalam hal ini menteri ESDM, melakukan renegosiasi ulang terhadap PT
Freeport Indonesia. Karena sudah begitu banyak sumber daya alam yang ada di Papua
,tetapi masyarakat papua khususnya dan Negara Indonesia tidak menikmati hasil dari
kekayaan alam yang ada di papua. Justru pihak Amerika lah yang mendapat untung dari
kekayaan alam yang ada di papua. Atau kalau tidak dapat dinegosiasi ulang dan hak para
pekerja tidak terpenuhi, lebih baik pemerintah menasionalisasi PT Freeport Indonesia
supaya masyarakat papua khususnya dan Indonesia dapat menikmati sumber daya alam
yang ada di bumi Indonesia.
D. Referensi
http://www.scribd.com/doc/18575776/ETIKA-BISNIS

diakses

pada

tanggal

November 2015.
http://www.radarjogja.co.id/ruang-publik/10-opini/22973-menyoal-etika-bisnisfreeport.html diakses pada tanggal 6 November 2015.
UU Nomor 11/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan yang sudah
diubah dengan UU Nomor 4/2009 tentang Minerba.
PP 76/2008 tentang Kewajiban Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan.
UU No. 13/2003 tentang mogok kerja sah dilakukan.
http://irsan90.wordpress.com/2011/11/03/etika-bisnis-dan-contoh-kasus/ diakses pada
tanggal 6 November 2015.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/06/06/12430369/Ini.Tanggapan.Freeport
.soal.Ancaman.Mogok.Lagi diakses pada tanggal 6 November 2015.

KASUS III
ETIKA DALAM PERTANGGUNG JAWABAN PERUSAHAAN:
Kasus Penggelapan Pajak PT Asian Agri Group (AAG)

A. Deskripsi Kasus
Asian Agri adalah perusahaan yang berbasis di Indonesia dengan pengelolaan
perusahaan kelapa sawit berkelas dunia. Asian Agri merupakan salah satu produsen
minyak kelapa sawit terbesar di Asia dengan kapasitas produksi per tahun mencapi 1 juta
ton. Saat ini, Asian Agri mengelola 28 perkebunan minyak kelapa sawit dan 19 pabrik
pengilangan minyak kelapa sawit dengan wilayah operasional yang berada di tiga
provinsi di pulau Sumatra, Indonesia, dengan areal konsesi seluas 100.000 Ha dan areal
plasma seluas 60.000 Ha diantaranya dikembangkan oleh para petani kecil di bawah
Plasma/Skema KKPA.
Asian Agri menerapkan kebijakan anti pembakaran lahan, manajemen
pengendalian hama yang terintegrasi, pelestarian kelembapan tanah dan praktik-praktik
ramah lingkungan lainnya. Asian Agri yakin dapat melaksanakan prinsip-prinsip kelapa
sawit lestari (sustainable palm oil) dalam operasionalnya, yaitu menerapkan standar kerja
tertinggi, menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar, dan melaksanakan sistem
manajemen lingkungan. Petani plasma sebagai rekan Asian Agri, memegang peranan
penting dalam kegiatan bisnis Asian Agri, dimana kunci kesuksesanya terletak pada
komunikasi dan kerjasama yang berkelanjutan.
Asian Agri Group, melalui anak perusahaannya PT. Inti Indosawit Subur (PT. IIS),
menjadi anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) pada bulan Februari 2006
dan berkomitmen penuh untuk menerapkan Prinsip dan Kriteria RSPO dalam rantai
produksinya untuk memproduksi minyak sawit lestari. Asian Agri bertekad untuk
memberikan produk dengan kualitas terbaik bagi pelanggannya, dan memenuhi standar
tertinggi serta sertifikasi yang ada. Kelapa sawit adalah produk yang sangat serba guna
dengan penggunaan mulai dari produk makanan dan bahan-bahan masakan, kosmetik,
perlengkapan mandi, minyak pelumas, serta biofuel. Oleh karena harganya yang
kompetitif dan daya guna yang tinggi, kelapa sawit menikmati pangsa pasar yang paling
tinggi di pasar minyak konsumsi dunia.
Sukanto Tanoto adalah pendiri dari RGE (Royal Golden Eagle), sebuah
perusahaan global yang bergerak di sektor pengelolaan sumber daya alam dengan kantor
yang berada di Singapura, Hong Kong, Jakarta, Beijing dan Nanjing. Beliau memulai
bisnis pertamanya lebih dari 40 tahun yang lalu dengan memasok suku cadang untuk
industri minyak dan konstruksi. Sebagai seorang pengusaha yang visioner, Sukanto
Tanoto masuk kebisnis kayu lapis pada tahun 1967. Dengan kesuksesannya dibisnis ini,
10

beliau kemudian mendirikan bisnis lainnya, seperti kelapa sawit, kehutanan, pulp dan
kertas serta pembangkit tenaga listrik. Saat ini, RGE adalah group global dengan aset
lebih dari 15 miliar US Dolar, tenaga kerja lebih dari 50.000 karyawan dan pabrik di
Tiongkok, Indonesia dan Brazil serta kantor penjualan di seluruh dunia. Bisnis ini
meliputi empat area operasional, yaitu pulp dan kertas (APRIL Asia Pacific Resources
International Holding Ltd dan Asia Symbol), kelapa sawit (Asian Agri dan Apical), rayon
dan pulp khusus (Sateri International) serta energi (Pacific Oil & Gas).
Asian Agri sebagai perusahaan terbesar di Indonesia sudah sepantasnya membayar
kewajibannya kepada negara berupa pajak. Pajak merupakan sumber penerimaan negara
disamping penerimaan dari sumber migas dan non migas. Dengan posisi yang sedemikian
penting itu pajak merupakan penerimaan strategis yang harus dikelola dengan baik oleh
negara. Direktorat Jenderal Pajak dibawah Departemen Keuangan Republik Indonesia
dari tahun ke tahun telah banyak melakukan berbagai kebijakan untuk meningkatkan
penerimaan pajak sebagai sumber penerimaan negara.
Di negara berkembang seperti Indonesia, pajak masih sebagai penerimaan
terbesar. Namun masih ada beberapa pengusaha di Indonesia yang menghindarkan diri
dari pajak atau melakukan penyelewengan pajak. Penghindaran diri dari pajak ini bisa
saja disebut dengan pelanggaran Undang-undang dan risikonya dapat merugikan negara.
Masih banyak terjadi kasus penggelapan pajak yang lolos dari jerat hukum dan kasusnya
mengambang dikarenakan aparat penegak hukum di Indonesia tidak tegas dalam
menegakkan keadilan dan berusaha menyiasati hukum dengan segala cara yang tidak lain
dan tidak bukan tujuannya adalah untuk melindungi tersangka mafia pajak. Asian Agri
merupakan perusahaan yang terjerat kasus pajak, untuk itu kelompok kami akan
membahas kasus yang terjadi di Asian Agri.
B. Telaah Kasus
PT Asian Agri Group (AAG) adalah salah satu induk usaha terbesar kedua di
Group Raja Garuda Mas, perusahaan milik Sukanto Tanoto. Selain PT Asian Agri Group,
terdapat perusahaan lain yang berada di bawah naungan Group Raja Garuda Mas, di
antaranya: Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL), Indorayon,
PEC-Tech, Sateri International, dan Pacific Oil & Gas. Secara khusus, PT Asian Agri
Group memiliki 200 ribu hektar lahan sawit, karet, kakao di Indonesia, Filipina,
Malaysia, dan Thailand. Di Asia, PT Asian Agri Group merupakan salah satu penghasil
11

minyak sawit mentah terbesar, yaitu memiliki 19 pabrik yang menghasilkan 1 juta ton
minyak sawit mentah.
Terungkapnya dugaan penggelapan pajak oleh PT Asian Agri Group, bermula dari
aksi Vincentius Amin Sutanto (Vincent) membobol brankas PT Asian Agri Group di Bank
Fortis Singapura senilai US$ 3,1 juta pada tanggal 13 November 2006. Vincent saat itu
menjabat sebagai group financial controller di PT Asian Agri Group yang mengetahui
seluk-beluk keuangannya. Perbuatan Vincent ini terendus oleh perusahaan dan dilaporkan
ke Polda Metro Jaya. Vincent diburu bahkan diancam akan dibunuh. Vincent kabur ke
Singapura sambil membawa sejumlah dokumen penting perusahaan tersebut. Dalam
pelariannya inilah terjadi jalinan komunikasi antara Vincent dan wartawan Tempo.
Pelarian Vincent berakhir setelah pada tanggal 11 Desember 2006. Ia
menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya. Namun, sebelum itu, pada tanggal 1 Desember
2006 Vincent sengaja datang ke KPK untuk membeberkan permasalahan keuangan PT
Asian Agri Group yang dilengkapi dengan sejumlah dokumen keuangan dan data digital.
Salah satu dokumen tersebut adalah dokumen yang berjudul AAA-Cross Border Tax
Planning (Under Pricing of Export Sales), disusun pada sekitar 2002. Dokumen ini
memuat semua persiapan transfer pricing PT Asian Agri Group secara terperinci.
Modusnya dilakukan dengan cara menjual produk minyak sawit mentah (Crude Palm
Oil) keluaran PT Asian Agri Group ke perusahaan afiliasi di luar negeri dengan harga di
bawah harga pasar untuk kemudian dijual kembali ke pembeli riil dengan harga tinggi.
Dengan begitu, beban pajak di dalam negeri bisa ditekan. Selain itu, rupanya perusahaanperusahaan luar negeri yang menjadi rekanan PT Asian Agri Group sebagian adalah
perusahaan fiktif.
Pembeberan Vincent ini kemudian ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyerahkan
permasalahan tersebut ke Direktorat Pajak karena memang permasalahan PT Asian Agri
Group tersebut terkait erat dengan perpajakan. Menindaklanjuti hal tersebut, Direktur
Jendral Pajak, Darmin Nasution, kemudian membentuk tim khusus yang terdiri atas
pemeriksa, penyidik dan intelijen. Tim ini bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Kejaksaan Agung. Tim khusus tersebut
melakukan serangkaian penyelidikan termasuk penggeladahan terhadap kantor PT
Asian Agri Group, baik yang di Jakarta maupun di Medan.
Berdasarkan hasil penyelidikan tersebut (14 perusahaan diperiksa), ditemukan
Terjadinya penggelapan pajak yang berupa penggelapan pajak penghasilan (PPh) dan
pajak pertambahan nilai (PPN). Selain itu, pada tahun pajak 2002-2005, terdapat Rp. 2,62
triliun penyimpangan pencatatan transaksi berupa penggelembungan biaya perusahaan
12

hingga Rp 1,5 triliun. Hal ini mendongkrak kerugian transaksi ekspor sebesar Rp 232
miliar dan mengecilkan hasil penjualan sebesar Rp 889 miliar. Lewat modus ini, Asian
Agri diduga telah menggelapkan pajak penghasilan untuk badan usaha senilai total Rp 2,6
triliun. Perhitungan SPT Asian Agri yang digelapkan berasal dari SPT periode tahun
2002-2005. Hitungan terakhir menyebutkan penggelapan pajak itu diduga berpotensi
merugikan keuangan negara hingga Rp 1,3 triliun.
Dari rangkaian investigasi dan penyelidikan, pada bulan Desember 2007 telah
ditetapkan 8 orang tersangka, yang masing-masing berinisial ST, WT, LA, TBK, AN, EL,
LBH, dan SL. Kedelapan orang tersangka tersebut merupakan pengurus, direktur dan
penanggung jawab perusahaan. Di samping itu, pihak Depertemen Hukum dan HAM juga
telah mencekal 8 orang tersangka tersebut.
Terungkapnya kasus penggelapan pajak oleh PT Asian Agri Group tidak terlepas
dari pemberitaan investigatif Tempo baik koran maupun majalah dan pengungkapan
dari Vincent. Dalam konteks pengungkapan suatu perkara, apalagi perkara tersebut
tergolong perkara kakap, mestinya dua pihak ini mendapat perlindungan sebagai whistle
blower. Kenyataannya, dua pihak ini di-blaming. Alih-alih memberikan perlindungan,
aparat penegak hukum malah mencoba mempidanakan tindakan para whistle blower ini.
Vincent didakwa dengan pasal-pasal tentang pencucian uang karena memang dia,
bersama rekannya, sempat mencoba mencairkan uang PT Asian Agri Group. Bahkan
Vincent telah divonis dan dihukum 11 tahun penjara. Sementara itu, pesan pendek (SMS)
Metta Dharmasaputra wartawan Tempo disadap aparat penegak hukum, print-out-nya
beredar di kalangan pers. Pemberitaan investigatif Metta Dharma saputra dan
komunikasinya dengan Vincent sempat menjadi urusan Dewan Pers, bahkan nyaris
diproses secara pidana. Selain itu, pemberitaan Tempo juga di-blaming melalui riset di
bidang komunikasi publik oleh dosen Fisipol UGM atas pesanan PT Asian Agri Group
yang menyatakan bahwa pemberitaan-pemberitaan seputar kasus penggelapan pajak
tersebut tidak mencari solusi yang komprehensif. Sedangkan P3-ISIP UI yang
melakukan riset serupa atas pesanan PT Asian Agri Group menyimpulkan bahwa pers
(pemberitaan Tempo) cenderung melakukan bias dan keberpihakan yang secara etis patut
direnungi. Bisa jadi hasil-hasil riset tersebut sebagai legitimasi untuk memperkarakan
Tempo. Apa yang dialami Vincent dan Tempo tersebut sebenarnya merupakan cermin
buram bagi perlindungan saksi di Indonesia selama ini. Kejadian ini bukanlah yang
pertama dialami para pengungkap fakta. Tetapi kejadian berulang yang tujuannya tidak
lain adalah untuk menutupi kejahatan yang sesungguhnya. Para pengungkap fakta
13

semacam ini sering mengalami berbagai bentuk kekerasan intimidasi dan teror, bahkan
diperkarakan secara hukum baik perdata maupun pidana. Lihat saja misalnya kasus
Udin, kasus Endin Wahyudi, kasus Ny Maria Leonita, kasus Romo Frans Amanue, dan
banyak lagi. Jangan sampai apa yang dialami Vincent dan Tempo tersebut menjadi alat
untuk membungkam pengungkapan kasus yang sesungguhnya, dalam hal ini dugaan
penggelapan pajak oleh PT Asian Agri Group.
Analisis kasus:
Berdasarkan pembahasan kasus di atas, penggelapan pajak dan tindak pidana
pencucian uang adalah hal-hal yang bisa didakwakan kepada Asian Agri Group. Pada
umumnya, kejahatan pencucian uang tidak berdiri sendiri dan terkait dengan kejahatan
lain. Kegiatan pencucian uang adalah cara untuk menghapuskan bukti dan menyamarkan
asal-usul keberadaan uang dari kejahatan yang sebelumnya. Dalam kasus ini,
penggelapan pajak dapat menjadi salah satu mata rantai dari kejahatan pencucian uang.
Kuatnya dugaan tindak pidana pencucian uang oleh Asian Agri Group semakin
didukung fakta-fakta yang diperoleh lewat penelusuran Tempo. Investigasi wartawan
Tempo memperlihatkan adanya transaksi mencurigakan melalui perbankan untuk
mengalirkan uang hasil penggelapan pajak Asian Agri Group ke afiliasinya di luar negeri
yang ternyata adalah perusahaan fiktif. Catatan/profile transaksi keuangan yang tidak
beres dan adanya transaksi dengan perusahaan fiktif merupakan bukti permulaan yang
bisa digunakan untuk membuat terang dugaan tindak pidana pencucian uang. Tindakan
tersebut dianggap merugikan keuangan negara secara keseluruhan sebesar Rp 1,3 triliun
dari 14 perusahaan.
Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk
manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan seharihari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang profesional.
Salah satu penyimpangan etika bisnis ialah penggelapan pajak yang notabene merupakan
suatu penghasilan terbesar di negri ini selain ekspor barang dan hal lain. Pajak merupakan
suatu bentuk pungutan yang dilakukan negara untuk membiayai kebutuhan negara itu
sendiri dengan azas transparan dan demokratis. Artinya pajak harus bersifat secara apa
adanya namun dilindungi hukum dan ketentuan agar azas keadilan dapat ditegakkan.
Dalam kasus tersebut, banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya kasus
pelanggaran etika profesi akuntansi, mulai dari kurangnya tanggung jawab dan
pemahaman akan apa sebenarnya aturan-aturan maupun etika yang harus dijalankan oleh
pelaku akuntansi dalam profesinya, kurangnya pengawasan dari pihak-pihak terkait,
14

adanya kesempatan dan beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga
mendukung adanya penyalahgunaan profesi tersebut.
Berikut ini adalah beberapa prinsip kode etik yang telah dilanggar oleh PT. Asian
Agri, yaitu:
1. Tanggung jawab profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai perusahaan yang wajib
membayar pajak setiap tahun, PT. Asian Agri tidak melaksanakan tanggung jawab
tersebut dengan benar. Penyimpangan telah perusahaan lakukan selama 4 tahun.
Salah satunya adalah pengeluaran dana pribadi yang seharusnya tidak dimasukkan
ke dalam biaya perusahaan. Pada akhirnya menjadi alasan perusahaan untuk tidak
membayar pajak yang seharusnya dibayarkan kepada Negara.
2. Prinsip Kepentingan Publik
PT Asian Agri Group dianggap tidak mementingkan kepentingan publik
karena Pt Asian Group lebih mementingkan perusahaan dan anak perusahaannya
untuk mengambil keuntungan dengan tidak membayar pajak selama 4 tahun
tersebut.
3. Standar teknis
Setiap perusahaan harus melakukan jasa professionalnya sesuai dengan
standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya
dan dengan berhati-hati, perusahaan harus mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan penugasan sesuai dengan standar teknis selama penugasan tersebut
sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. Beberapa penyimpangan dalam
kasus ini, antara lain PT Asian Agri Group menjual produk kepada perusahaan
afiliasi Asian Agri di luar negeri dengan harga yang sangat rendah, sehingga
perusahaan tidak membayar pajak sesuai dengan yang ditentukan oleh Dirjen
Pajak. Oleh karena itu, pada perhitungan laporan laba rugi yang tidak sesuai
dengan kondisi sebenarnya.

C. Kesimpulan dan Solusi Permasalahan


Permasalahan etika terkait akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen
melibatkan pihak akuntan profesional di dalam internal perusahaan. Didalam kasus yang
15

terjadi, peran akuntan dalam perusahaan sangat nyata bahwa mereka juga turut ambil
bagian pada operasi perusahaan yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Prinsip-prinsip yang seharusnya dipegang teguh oleh akuntan telah dilanggar.
Analisis Kasus Asian Agri juga merupakan cermin sempurna bagi penegak hukum
kita. Kasus tersebut menggambarkan sebagian dari mereka tidak sungguh-sungguh
menegakkan keadilan, tetapi ada usaha menyiasati hukum dengan segala cara. Tujuannya
untuk melindungi orang kaya yang diduga melakukan kejahatan. Persepsi itu muncul
setelah petugas Kepolisian Daerah Metro Jaya bersentuhan dengan kasus dugaan
penggelapan pajak Asian Agri, salah satu perusahaan milik taipan superkaya, Sukanto
Tanoto. Kejahatan ini diperkirakan merugikan negara Rp 1,3 triliun. Polisi mengusut
Vincentius Amin Sutanto, bekas pengontrol keuangan perusahaan itu, hingga akhirnya
dihukum 11 tahun penjara pada Agustus lalu. Padahal dia adalah whistle blower yang
membongkar dugaan penggelapan pajak dan pencucian uang oleh Asian Agri. Pemerintah
mestinya berterima kasih kepada mereka.
Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan beberapa anggota direksi Asian Agri
sebagai tersangka kasus pidana pajak. Upaya ini juga akan mencegah pengusaha lain
melakukan penyelewengan, sehingga tujuan pemerintah mendongkrak penerimaan pajak
tercapai. Perusahaan ini diduga menyembunyikan hasil penghematan pajak ke berbagai
bank di luar negeri. Inilah yang mestinya diprioritaskan dibanding membidik orang yang
justru membantu membongkar dugaan penggelapan pajak.
Maka dapat disimpulkan bahwa banyak sekali penyebab terjadinya kasus
pelanggaran etika profesi akuntansi, mulai dari kurangnya tanggung jawab dan
pemahaman akan apa sebenarnya aturan-aturan maupun etika yang harus dijalankan oleh
pelaku akuntansi dalam profesinya, kurangnya pengawasan dari pihak-pihak terkait,
adanya kesempatan dan beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab yang mendukung
adanya penyalahgunaan profesi tersebut, padahal harusnya hal-hal tersebut tidak patut
terjadi, melihat betapa berat perjuangan rakyat terutama dalam hal pembayaran pajak
maupun hal lain yang kemudia diselewengkan.

D. Referensi
Ronald F. Duska, & B.S. Duska (2005). Accounting Ethics. Blackwell Publishing.
K. Bertens (2000). Pengantar Etika Bisnis. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Keraf, A. Sonny (2005). Etika Bisnis. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
http://www.sukantotanoto.net/id/asian-agri diakses pada tanggal 7 November 2015.

16

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/247378-empat-modus-asian-agri-kemplangpajak diakses pada tanggal 7 November 2015.


http://economy.okezone.com/read/2014/01/09/320/924056/dirjen-pajak-aset-asianagri-sudah-diamankan diakses pada tanggal 7 November 2015.
https://harianggarahamdan.wordpress.com/2013/09/21/analisa-kasus-pajak-pt-asian-

agri-group/ diakses pada tanggal 7 November 2015.

17